Anda di halaman 1dari 20

EDISI REVISI

METODE PENDIDIKAN ISLAM KLASIK


Khairuddin YM : 08 PEDI 1237

A. Pendahuluan
Menurut ajaran Islam, manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT
yang paling dimuliakan oleh-Nya melebihi makhluk-makhluk yang lainnya.
Sedangkan dijelaskan Allah dalam al-Qur’an yang artinya :” Dan
sesungguhnya telah kami muliakan untuk anak Adam. Kami angkat mereka di
daratan dan dialutan. Dan kami berikan rezeqi yang baik-baik dan kami
loebihkan mereka denngan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan
makhluk yang lain yang telah Kami ciptakan”. (al-Israa : 70).1
Kelebihan manusia dari makhluk lainnya adalah mempunyai akal dan
daya kehidupan yang dapat membentuk peradaban. Manusia adalah makhluk
yang selalu menginginkan kesempurnaan baik secara lahir maupun bathin.
Untuk mencapai kesempurnaannya manusia dituntut untuk bergaul dengan
orang lain dan alam semesta yang senantiasa berubah-ubah, sehingga dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan mempertahankan kehidupannya.
Usaha-usaha untuk menemukan diri ini disebut “belajar”.
Untuk kebutuhan belajar ini, diperlukan pengaruh dari luar. Pengaruh
ini oleh Iman Santoso, disebut dengan istilah “pendidikan”.2 Karena
pendidikan adalah suatu yang esensial bagi manusia, melalui pendidikan,
manusia bisa belajar mempelajari alam semesta demi mempertahankan
kehidupannya, karena pentingnya pendidikan, Islam menempatkan pendidikan
pada kedudukan yang sangat tinggi sesuai dengan firman Allah (dalam surat
al-Mujadalah :1):
1
Dpartemen Agama Republik Indonesia, al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang : CV.
Toha Putra, 1989), h. 435
2
Slamet Imam Santoso, Pendidikan Di Indonesia Dari Masa Ke Masa, (Jakarta : CV. Haji
Mas Agung, 1987), h. 52

1
“ Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman diantara
kamu dan orang-orang yang diberi pengetahuan berupa derajat”.3
Sejarah perkembangan pendidikan Islam, telah muncul seiring
perkembangan itu sendiri, di mana kehadirannya telah menanamkan nilai-nilai
ajaran Islam. Seiring perkembangan Islam dan terbentuknya Masyarakat
Islam, mesjid-mesjidpun mengembangkan peranannya menjadi pusat
pengembangan pendidikan Islam yang dalam pelaksanaannya dikembangkan
dalam bentuk halaqah (learning Circle).
Sistem4 pendidikan bagi umat Islam mengoperasikan bidang
kegamaan, spiritusl, sosial dan politik. Sistem nilai Islam tersebut telah
menciptakan beberapa perbedaan dasar antara sistem pendidikan Islam dan
modern baik di Timur maupun di Barat.5
Pendidikan Islam di Indonesia telah berlangsung sejak masuknya Islam
ke Indonesia. Menurut catatan sejarah, masuknya Islam ke Indonesia dengan
damai, berbeda dengan daerah-daerah lain yang kedatangan Islam dilalui lewat
peperangan, seperti Mesir, Irak, Parsi dan beberapa daerah lainnya.6
Sejarah pendidikan sesungguhnya telah berlangsung sepanjang sejarah
dan perkembangan sosial budaya manusia dipermukaan bumi. Begitu juga
halnya dengan sejaran pendidikan Islam pada hakikatnya tidak terlepas dari
sejarah Islam dan umatnya. Dalam perjalanan sejarah yang panjang,
pendidikan Islam telah melalui berbagai zaman dan berbagai daerah, artinya
bahwa pendidikan Islam terus mengalami perubahan dan perkembangan sejak
zaman permulaan Islam dikembangkan oleh Rasulullah SAW., sampai zaman
sains dan tekhnologi sekarang ini.

3
Dpartemen Agama Republik Indonesia, al-Qur’an…h. 910
4
Dalam terminology pendidikan Islam
5
Mansour Ahmad, Islamic Education, (New Delhi : Qazi Publishers Distributors, 1994), h. 4
6
Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional Di Indonesia,
(Jakarta Timur: Prenada Media, 2004), h. 3

2
Di masa perkembangan yang melewati beberapa periode, pendidikan
Islam telah melahirkan berbagai pemikiran dari kalangan tokoh-tokoh
pendidikan Islam yang muncul dari para tokoh dan umat Islam, dari zaman ke
zaman yang mengalami perubahan dan perkembangan, akan tetapi pada
umumnya pemikiran itu berkaitan dengan hal-hal yang membicarakan tentang
prinsip azas dan tujuan pendidik, peserta didik, media materi (kurikulum),
metode, lembaga-lembaga pendidikan Islam serta latar belakang lingkungan
sosial ekonomi, politik dan fisik yang mempengaruhi proses pendidikan Islam.

B. Pembahasan
Pada dasarnya proses pendidikan sebenarnya telah berlangsung
sepanjang sejarah berkembang dengan perkembangan sosial budaya manusia
dipermukaan bumi. Sejarah pendidikan Islam dan sejarah para tokoh-tokoh
pendidikan Islam dapat dikatakan berada dalam periode-periode sejarah Islam
itu sendiri. Secara garis besar Harun Nasution membagi sejarah Islam dalam
tiga periode, yaitu : periode klasik7, pertengahan8 dan modern kontemporer.9
Sistem pendidikan adalah suatu pola menyeluruh dalam lembaga-
lembaga formal, agen-agen dan organisasi yang memindahkan pengetahuan
dan warisan kebudayaan yang mempengaruhi pertumbuhan sosial, spiritual
dan intelektual individu manusia. Sistem pendidikan Islam merupakan satu
kesatuan yang terdiri dari beberapa unsur pendukung terlaksananya kegiatan
7
Zaman klasik berlangsun sejak aal kemajuan Islam (650-1000 M), hingga masa disintegrasi
(1000 M-1250 M) yaitu dari zaman Nabi Muhammad SAW., sampai runtunya bani Abbasiyyah.
8
Zaman pertengahan berlangsung dari zaman kemunduran (1250-1500 M), masa ketiga kerjan
Mongol Utsmani dan Safawi (1500-1700 M), dan masa kemunduran II (1799-1800 M) yang sejak
runtuhnya bani Abbsiyyah ssampai antara abad 17 dan 18 Hijriyah Pada Abad pertengahan ini yang
banyak berperan dalam bidang pendidikan adalah Sulthan Mahmud II, beliau terkenal dengan pelopor
pembaruan pendidikan.
9
Zaman Modern (kontemporer)/zaman pembaruan, berlangsung dari tahun 1800 hingga
sekarang, yang ditandai dengan pergolakan dan kebangkitan Umat Islam diseluruh dunia. Pada zaman
modern ini yaitu sejak abad 18 H, 19 H sampai sekarang. Pola pembaharuan pendidikan dirintis oleh
Muhammad bin Abdul al-Wahab, kemudian dicanangkan kembali oleh Jamaluddin al-Afgani dan
Muhammad Abduh (akhir abad -19 H). dalam pembabakan ini sifatnya harus muthlak demikian. Akan
tetapi pembabakan ini dimaksudkan untuk mempermudah memahami dari sehi sejarah secara
kronologis.

3
pendidikan Islam, seperti lembaga pendidikan, kurikulum, media, guru, anak
didik (peserta didik) dan metode pembelajaran yang digunakan. Masing-
masing unsur tersebut saling terkait dan saling mendukung demi terlaksananya
kegiatan sistem pendidikan Islam adalah :
a. Lembaga Pendidikan
Pada masa klasik ada lembaga pendidikan Islam yang digunakan
sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan pendidikan Islam. Lembaga-
lembaga pendidikan tersebut ntara lain :
1. Maktab atau Kuttab
Maktab, atau tempat-tempat untuk mengajar menulis, terdapat di
dunia Arab bahkan sebelum Islam. Maktab sesungguhnya merupakan
sebuah tempat untuk belajar membaca maupun menulis, yang terletak
di rumah guru di mana para murid berkumpul untuk menerima
pelajaran. Di sana juga terdapat bentuk-bentuk maktab lainnya, dimana
stelah datangnya Islam, secara khusus diberikan pelajaran tentang al-
Qur’an dan agama.10 Maktab-maktab seperti itu, misalnya milik Abul
Qasim al-Balkhi di Julfa (w. 723;105 H), memiliki 300 murid. Guru-
guru di maktab disebut Mu’allim atau pengajar.
Maktab merupakan tempat untuk memperoleh pendidikan dasar
pada awal Islam hampir disemua kota-kota atau desa. Disamping
pelajaran al-Qur’an dan agama, puisi, menunggang kuda, berenang,
pribahasa terkenal, ilmu hitung, tata bahasa, adab-adab juga diajarkan
keterampilan menulis indah. Maktab-maktab itu terdapat di Spanyol,
Sisilia, Afrika dan Timur Tengah, meskipun kandungan kurikulumnya

10
Ibnu Khaldun, Muqaddimah, h. 398 ; al-Baladhuri, h. 147 ; Hitti, The History of the Arabs,
Ibnu Batuta, Tuhfat ul-Nazar, Vol I, h. 213 ; Syalaby, History of Muslim Education, h. 16-23 dalam
Mehdi Nekosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat Deskripsi Analisis Abad Keemasan
Islam, Terjemahan dari judul asli : History of Islamic Origins of Western Education A D. 1800-1350,
with an Introduction to Medieval Muslim Education, penerjemah : Joko S. Kahar dan Supriyanto
Abdullah (Surabaya : Risalah Gusti, 2003), h. 62

4
berbeda-beda dan disesuaikan dengan kebutuhan sosial budaya dan
latar belakang setempat.11
Sebelum datangnya Islam, kuttab (tempat untuk memberi
pelajaran rendah) telah ada di negeri Arab, meskipun belum
termasyhur. Fungsinya tidak jauh berbeda dengan kuttab yang ada pada
masa Islam. Kuttab pada masa Arab Pra Islam, merupakan lembaga
pendidikan tingkat dasar terutama untuk belajar menulis dan
membaca12 Ahmad Syalabi membagi dua jenis kuttab. Jenis pertama
adalah kuttab yang dijadikan sebagai tempat belajar menulis dan
membaca huruf Arab, belajar puisi dan sastra. Mengajar menulis dan
membaca ini dikerjakan oleh guru-guru di rumahnya masing-masing.
Boleh jadi mereka menyediakan dalam rumahnya sebuah kamar untuk
menerima pelajar-pelajar yang hendak belajar menulis dan membaca.
Kuttab dari jenis ini kebanyakan berdiri sendiri dan terpisah dari kuttab
jenis lain. Kuttab jenis pertama ini telah lahir pada masa permulaan
Islam dan sebagian gurunya dari kalangan orang non-muslim. Jenis
kedua adalah kuttab yang disediakan untuk mengajarkan al-Qur’an al-
Karim dan pokok-pokok agama Islam.13 Kuttab jenis kedua ini belum
lahir pada masa permulaan Islam, karena pada permulaan Islam hanya
ada beberapa orang anak yang belajar al-Qur’an dan ajaran Islam
dengan menyelusup ke dalam lingkaran pelajaran orang-orang tua di
Mesjid, seperti yang dilakukan oleh Ali Ibnu Abi Thalib dan Abdullah
Ibnu Abbas. Adapun anak-anak yang lain belajar al-Qur’an dari orang
tuanya atau guru-guru khusus untuk keluarga.14
11
Mehdi Nekosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat Deskripsi Analisis Abad
Keemasan Islam, Terjemahan dari judul asli : History of Islamic Origins of Western Education A D.
1800-1350, with an Introduction to Medieval Muslim Education, penerjemah : Joko S. Kahar dan
Supriyanto Abdullah (Surabaya : Risalah Gusti, 2003), h. 63
12
Ahmad Syalaby, Sejarah Pendidikan Islam, judul asli; Tarikh at-Tarbiyah al-Islamiyah,
terjemahan Muchtar Jahja dan M. Sanusi Latief (Jakarta : Bulan Bintang, 1973), h. 33
13
Ibid, h. 35
14
Ibid, h. 41

5
2. Mesjid Dan jami’
Pada masa Islam klasik, mesjid mempunyai fungsi yang jauh
lebih besar dan bervariasi dibanding fungsinya yang sekarang. Dulu,
disamping sebagai tempat ibadah, masjid juga menjadi pusat kegiatan
sosial dan politik umat Islam.15 Jami’ adalah mesjid yang digunakan
sebagai tempat melaksanakan ibadah sholat Jum’at, sedangkan Mesjid
adalah mesjid yang lebih kecil yang hanya digunakan sebagai tempat
ibadah harian yang lain, kecuali sholat dan khutbah Jum’at.
Mesjid Jami’ termasuk lembaga pendidikan tertua di dunia Islam
yang digunakan sebagai tempat pengajaran humaniora dan ilmu-ilmu
agama. Para guru sering mengajar dua bidang ini sekaligus sejak abad
ke-2 atau ke-8.16
3. Darul Hikmah Darul Ilmi
Darul al-Hikmah ini muncul pada waktu bercampurnya berbagai
bangsa dan peradaban pada masa Daulah Abbasiyyah dan pada masa
bangkitnya gerakan intelektual yang mendorong orang-orang Islam
untuk memperoleh ilmu pengetahuan zaman kuno. Tujuan utamanya
adalah mengumpulkan dan menyalin ilmu-ilmu pengetahuan asing,
terutama ilmu pengetahuan orang Griek dan falsafah mereka ke dalam
bahasa Arab untuk dipelajari. Sedangkan Dar al-Ilmi didirikan oleh
kerajaan Fatimiyyah pada abad ke IV H, pada lembaga pendidikan ini
di pelajari ilmu falsafah, ilmu-ilmu orang Yunani, di samping
mempelajari ilmu-ilmu Islam.
4. Madrasah

15
Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam Kajian atas Lembaga-lembaga
pendidikan edisi Revisi, (Bandung: Cipta Pustaka Media, 2007), h. 44
16
George Makdisi, Cita Humanisme Islam Panorama Kebangkitan Intelektual dan Budaya
Islam dan Pengaruhnya terhadap Reinesans barat, terjemahan dari judul asli : The Rise Of Humanism
in Classical Islam and The Christian West, Penerjemah : A. Syamsu Rizal & Nur Hidayah, ( Jakarta
:PT. Serambi Ilmu Semesta, 2005), h. 89

6
Langkah perkembangan lembaga pendidikan tinggi Islam
berikutnya di bawah patronase wazir Nidham al-mulk, sekitar tahun
1064. Bangunan baru yang disebut madrasah ini mengambil masjid
Khan sebagai model. Madrasah (dalam bentuk klasiknya) dapat disebut
sebagai akademi (college) sebagaimana kita kenal sekarang.17
Madrasah mempunyai perpustakaan yang tergabung dalam bangunan
yang sama. Walaupun perpustakaan telah terdapat di istana dan rumah-
rumah bangsawan dan hartawan, perpustakaan sebagai bagian dari
masjid-akademi adalah hal yang jarang.
Madrasah merupakan satu jenis lain dari lembaga pendidikan
Islam, dan mulai muncul pada akhir abad ke IV Hijriah 18 Madrasah
merupakan hasil evolusi dari mesjid sebagai lembaga pendidikan dan
Khan sebagai tempat tinggal mahasiswa. Madrasah menempati
langkah ketiga dari satu garis perkembangan, dengan urutan : masjid,
ke masjid-Khan, kemudian ke madrasah19 madrasah merupakan
lembaga pendidikan Islam per excellence sampai pada priode modern
dengan diperkenalkannya lembaga-lembaga pendidikan modern,
seperti universitas.20 Madrasah pertama kali yang didirikan di
Indonesia adalah Madrasah Adabiyah (Adabiyah School) didirikan di
Padang pada tahun 1909 oleh Abdullah Ahmad. Selanjutnya pada
tahun 1916 didirikan Madrasah School (sekolah agama) dan dalam
perkembangan berikutnya menjadi Diniyah School dan nama Diniyah
School inilah akhirnya berkembang dan terkenal.21

17
Charles Michael Stanton, Pendidikan Tinggi Dalam Islam Sejarah Dan Peranannya Dalam
Kemajuan Ilmu Pengetahuan, Terjemahan dari judul asli : Higher Learning in Islam : The Classical
Period, A.D. 700-1300. Penerjemah : H. Affandi dan Hasan Asari ( Jakarta : PT. Logos Publishing
House, 1994), h. 45
18
Ibid, h. 40
19
Makdisi, dalam Hasan Asari, Op-cit, h.45
20
Hasan Asari, Ibid, h. 51
21
Haidar Putra Daulay, Dinamika Pendidikan Islam, editor. Irwan Saleh Dalimunthe
(Citapustaka Media, 2004), h. 67-68

7
5. Lembaga-lembaga Pendidikan lain, seperti :
Dar al-Qur’an al Hadits, Daarul Kutab (perpustakaan), Al-
Bimaristan (tempat mempelajari ilmu kedokteran secara praktis) dan
lembaga pendidikan Sufi.22
b. Metode Pendidikan Klasik
Metode pendidikan Islam merupakan unsur dari sistem pendidikan
Islam, keberadaannya penting dan memang harus diperhatikan oleh setiap
orang yang terlibat dalam kegiatan pendidikan, baik itu guru maupun
murid sebagai peserta didik. Secara sederhana kata metode dipahami
sebagai suatu cara yang dapat ditempuh untuk mencapai tujuan. Dengan
demikian dapat disebutkan bahwa metode pendidikan Islam adalah segala
cara dan usaha yang sistematis dan pragmatis untuk mencapai tujuan
pendidikan Islam, dengan melalui berbagai aktivitas yang melibatkan guru
sebagai pendidik dan murid sebagai anak didik.
Dalam perjalanansejarah pendidikan Islam, metode pembelajaran
yang diterapkan telah mengalami berbagai perubahan dan pengembangan.
Di antara perkembangan yang terjadi pada metode pendidikan Islam,
adalah yang terjadi diterapkan pada masa Islam klasik. Ahli sejarah
mencatat, setidaknya ada beberapa bentuk metode pendidikan yang
diterapkan yaitu : halaqah, hafalan, munazarah, ,mudzakarah, Imla’ dan
rihlah ilmiah.
1. Halaqah
Bentuk yang paling sederhana pendidikan muslim pada masa
awal adalah duduk melingkar. Ini merupakan pengalaman pendidikan
yang khas dalam Islam dikenal dengan nama Halaqah, yang arti
harfiahnya sebuah perkumpulan yang melingkar (pengkajian yang
dilakukan dengan duduk melingkar). Dinamakan demikian, karena

22
Penjelasan lebih luas tentang lembaga-lembaga pendidikan ini dapat dibaca Hasan Asari,
Menyingkap Zaman Keemasan Islam, Kajian Atas Lembaga-lembaga Pendidikan.

8
guru duduk di tengah-tengah sebuah mimbar atau bantal yang
membelakangi tembok atau tiang, dan para pelajar duduk dengan
membentuk setengah lingkaran di depan guru. Leingkaran tersebut
dibentuk menurut tingkatnya, semakin tinggi tingkat seseorang pelajar,
atau pelajar pengunjung, maka ia duduk paling dekat dengan gurunya.23
Dalam kegiatan berbentuk halaqah, murid yang lebih tinggi,
pengetahuannya duduk dekat dengan Syeikh, sedangkan murid yang
level pengetahuannya lebih rendah duduk sedikit lebih jauh dan mereka
berusaha dengan keras untuk dapat mengubah posisi lebih dekat
dengan Syeikhnya.24
Kegiatan perkuliahan di Halaqah, secara singkat berlangsung
dalam rangkaian kegiatan berikut : Syeikh membuka perkuliahan
dengan membaca basmallah, mengucap shalawat dan salam bagi
Rasulullah. Disertai dengan memberikan dorongan kepada murid
supaya menuntut ilmu, bersifat rendah hati dalam menuntut ilmu, dan
berusaha menjalani hidup yang baik serta berbudi luhur.25 Kemudian
dilanjutkan dengan memberikan penjelasan tentang materi pelajaran
sambil menghubungkannya dengan topik yang telah dibahas
sebelumnya. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Syeikh
biasanya mendiktekan bahan pelajaran (al-Qur’an dan Hadits) kepada
para murid, kemudian menjelaskannya serta menafsirkannya terutama
pada bagian-bagian yang dipandang sukar dari hadits dan al-Qur’an.
Sementara Syeikh memberikan penjelasan, para murid aktif menulis
semua keterangan yang diberikan oleh Syeikh. Sebelum mengakhiri
pembelajaran, Syeikh biasanya mengulang kembali apa yang telah
23
Mehdi Nekosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat Deskripsi Analisis Abad
Keemasan Islam, Terjemahan dari judul asli : History of Islamic Origins of Western Education A D.
1800-1350, with an Introduction to Medieval Muslim Education, penerjemah : Joko S. Kahar dan
Supriyanto Abdullah (Surabaya : Risalah Gusti, 2003),…… h. 60
24
Hasan Asari…..Op-cit, h. 37
25
Ahmad Syalabi,…….h. 384

9
dibacakan dan dijelaskan serta disesuaikan dengan catatan para murid
dengan cara menyuruh seorang murid untuk membaca catatannya.
Kemudian mengakhiri pelajaran dengan membaca do’a.26
Kurikulum lingkaran studi (halaqah) sesuai dengan pengetahuan
dan minat seorang Syekh, tergantung pada pengalamannya, dan biasa
juga pada ijazah (pengakuan) dalam bidang keahliannya. Masa
keterkaitan seorang murid dengan sebuah lingkaran studi (halaqah)
tergantung kepada ketekunan dan trget-targetnya sendiri. Ketika sudah
tidak mencapai titik maksimal dalam belajar pada seorang guru, murid
tersebut dapat beralih kepada guru lain. Sehingga seorang murid bisa
saja menghabiskan masa hidupnya dalam perjalanan, beralih dari
seoran guru (Syekh) ke guru (Syekh) lain yang terkenal.27

2. Hafalan
Pada masa Islam klasik hafalan memiliki peranan penting
dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini selain dikarenakan daya hafal
bangsa Arab yang kuat, jugs dikarenakan memang hanya hafalanlah
yang efektif digunakan pada masa itu. Ditambah lagi pada masa itu
media simpan ilmu pengetahuan belum memadai jumlah dan
penyediaannya.
Kondisi ini mempengaruhi metode pembelajaran yang
diterapkan dalam kgiatan pendidikan Islam pada masa itu. Dalam
catatan sejarah ditemukan bahwa anak-anak mulai belajar dengan
menghafal bebeapa surat dari al-Qur’an dan kewajiban agama seperti
sembahyang dan puasa.

26
Ahmad Syalabi, ….h. 385
27
Charles Michael Stanton, Pendidikan Tinggi Dalam Islam Sejarah Dan Peranannya Dalam
Kemajuan Ilmu Pengetahuan, Terjemahan dari judul asli : Higher Learning in Islam : The Classical
Period, A.D. 700-1300. Penerjemah : H. Affandi dan Hasan Asari ( Jakarta : PT. Logos Publishing
House, 1994),….h. 158

10
Hafalan merupakan cara yang harus ditempuh seseorang untuk
dapat menguasai secara utuh berbagai tradisi yang diriwayatkan dari
orang Arab terdahulu melintasi abad demi abad, termasuk dua naskah
suci Islam al-Qur’an dan Sunnah, dan ilmu-ilmu keagamaan lainnya.
Abu Hamid al-Gharnathi, orang Spanyol dari Granada (w. 565 H/1169-
1170 M), mengabdikan pemikiran yang sama dalam suatu bait syair
yang ditujukan kepada para pemuda pada masanya :

Pengetahuan terletak dalam hati, bukanlah dalam catatan.


Karenanya jangan tergoda oleh permainan dan kesenangan.
Hafalkan, pahami, dan kerja keraslah untuk meraihnya. Hanya
usaha keras yang kau butuhkan, tidak yang lain.28

Demikian pula ada sebagian ulama Islam yang berpendapat


bahwa belajar itu dimulai dengan menghafal sebelum memahaminya,
seperti yang iungkapkan oleh Ibnu Qutibah al-Dinuri, Permulaan ilmu
adalah diam, kedua mendengar, ketiga menghafal, keempat berpikir
dan kelima menyebarkan.”29 Diya al-Din Ibn –‘Athir mengemukakan
pentingnya penghafalan dalam ingatan agar dapat menemukan kembali
unsur-unsur yang penting pada waktu dibutuhkan. Pengingatan
kembali hanya mungkin terjadi dengan melakukan pengulangan-
pengulangan dan praktek-praktek tertentu untuk memastikan bahwa
materi-materi yang sudah dihafalkan tetap lekat dalam ingatan dan
dapat berfungsi pada waktu yang dibutuhkan.30
Ada dua bentuk hafalan, yaitu hafalan yang terbatas hanya
dengan cara memindahkan bahan bacaan ke dalam hadits dan ahli
leksikografi. Sedangkan hafalan bentuk kedua biasanya dilakukan oleh
28
George A. Makdisi, Cita Humanisme Islam Panorama Kebangkitan intelektual dan Budaya
Islam dan Pengaruhnya Terhadap Reinesans Barat,….h. 323
29
Ibid, h. 123
30
George Makdisi, The Rise Of Humanism in Classical Islam and the Christian West With
Sosial Reference to Scholasticism, (Edinburg : Edinburg University Press, 1990), h. 203

11
para sastrawan dan kaum skolastik yang menghendaki pemahaman
yang leih baik terhadap suatu bahan. Mereka menghendaki tingkat
kemajuan yang lebih tinggi. Jalan menuju kreativitas membutuhkan
perjuangan yang lebih keras untuk mendapatkan bahan pelajaran dan
yang diriwayatkan dari seseorang pakar-proses riwayat- kemudian
melalui proses dirayah, yaitu memahami bahan-bahan yang
disampaikan, dan akhirnya mencapai tahapan ijtihad, yaitu berusaha
seoptimal mungkin dengan segala kemampuan sendiri, untuk
menciptakan gagasan sendiri, dengan bahasa sendiri, dengan gaya yang
menarik, dan diungkap dengan gaya bahasa yang fasih, jelas dan
ringkas (baligh).31
Menghafal sangat penting dalam hal pembelajaran, seseorang
dapat menghafal apabila ada pemahaman terhadap konteks yang
dihafal. Untuk memudahkan cara menghafal, al-Khatib menganjurkan
agar murid selalu duduk pada posisi yang dapat mendengar secara jelas
terhadap apa yang diucapkan guru. Selain itu suasana haruslah tenang
dan mendengarkan dengan seksam apa yang diucapkan guru.32
Pentingnya metode hafalan33 ini juga dirasakan para ilmuan
sebagaimana komentar yang mereka utarakan berikut ini :
1. Qatada as-Sadusi mengatakan ia tidak pernah mendengar sesuatu
tanpa menghafalnya.
2. Al-Hasan Ibn Zin Nun al-Shaghri mengatakan jika kamu tidak
mengulangi sesuatu lima puluh kali, ia tidak akan tersimpan dalam
ingatan.

31
George A. Makdisi, Cita Humanisme Islam Panorama Kebangkitan intelektual dan Budaya
Islam dan Pengaruhnya Terhadap Reinesans Barat,….h. 315-316
32
George Makdisi, The Rise Of Colleges, (Edinburg : Edinburg University Press, 1990), h.
102.
33
George Makdisi, The Rise Of Humanism,… h. 204 and see also, George Makdisi, The Rise
Of Colleges,....h. 100-101

12
3. Al-Ghazali merasakan betapa pentingnya menghafal ketika ia
mengalami buku-bukunya dirampas perampok dalam perjalanan. Ia
mengatakan ambillah semua hartaku, tapi jangan ambil buku-buku
itu. Kejadian ini membuat beliau menghabiskan waktunya selama
tiga tahun untuk menghafal. Melalui hafalannya itu ia tidak takut
lagi untuk bepergian.
4. Ibn al-‘Allaf mengatakan bahwa kertas (buku) adalah tempat yang
tidak baik untuk menyimpan ilmu pengetahuan. Memang diakui
betapa berharganya ilmu pengetahuan, tapi disisi lain dikatakan
bahwa hapalan labih penting lagi.
5. Abu Bakar Ibn al-Anbari mengatakan bahwa ia tidak pernah
mengerti dari buku tapi selalu dari hafalan.
6. Ibn at-Tabban adalah seorang yang buta huruf namun ia melakukan
dakwahnya melalui hafalan.
7. Ibn al-Munna pada usia 40 tahun cidera buta namun lancar
pendengarannya sehingga ia mengajar dari apa yang diperolehnya
lewat hafalan.
Kemampuan hafalan bangsa Arab cukup mengagumkan, hal ini
terlihat dari banyaknya para ulama yang mampu menghafal berbagai
kitab, sya’ir, hadits, maupun yang lainnya. Al-Muntanabbi misalnya,
mampu menghafal buku ukuran polio hanya dengan sekali baca. Badi
al-Zaman al-Hamdani mampu mengulangi ode (sejenis syair) dari lebih
lima puluh syair dari awal hingga akhir setelah sekali dengar. Abu l-
Mahasin al-Ruyani mengatakan jika seandainya karya-karya Syafi’i
musnah terbakar, saya sanggup mengingatnya kembali lewat hafalan.
Adapun waktu yang baik untuk menghafal sebagaimana yang
dilakukan Imam al-Ghazali dan al-Kiya al-Harrasi adalah sebelum

13
Shubuh dan tempat yang baik untuk menghafal adalah ruangan yang
agak jauh dari keributan.34

3. Mudzakarah
Dalam kajian ilmu-ilmu humaniora, istilah mudzakarah paling
sering dalam arti diskusi ilmiah. Dalam suatu mudzakarah beberapa
oang terlibat dalam suatu percakapan tentang suatu tema atau pelajaran
tertentu ; mereka saling bertukar pendapat dan pengetahuan, agar setiap
cendikia yang terlibat memperoleh manfaat, begitu pula orang yang
hadir untuk mendengarkan saja.35
Istilah mudzakarah tidak hanya digunakan dalam satu aspek
saja, tetapi juga sering digunakan sebagai petunjuk percakapan yang
dapat memberikan pertukaran ilmu pegetahuan (seperti seminar).
Mudzakarah juga digunakan sebagai metode mempelajari dan
mengahafal materi studi sastra khususnya ilmu qawa’id an-nahwu.

4. Munazharah
Munazharah merupakan suatu metode pendidikan Islam pada
masa klasik, yaitu dengan cara berdiskusi. Makdisi menjelaskan bahwa
munazharah merupakan suatu cara untuk menambah ilmu pengetahuan
dengan cara mengundang orang lain dan memperdebatkan masing-
masing pendapat yang disertai dengan argumentasi yang dapat
dipertanggungjawabkan. Dalam munazharah, kepasihan lidah
berbicara dan memiliki ilmu yang luas sangat dihandalkan. Perdebatan
(munazharah) juga merupakan alat untuk mencapai kemajuan ilmu
pengetahuan. Makdisi menyebutkan al-Mubarrad menceritakan bahwa
al-Akhfasy lebih tua dari Sibawaih. Setelah sama-sama menguasai ilmu
tata bahasa, al-Akhfasy mencari-cari perdebatan dengan Sibawayhi. Ia
34
The Rise Of Colleges,....h. 101-102
35
George A. Makdisi, Cita Humanisme Islam Panorama,….h. 315-316

14
mengatakan “ saya mendebat anda bahwa tidak ada bahwa selain akal
dalam memperoleh ilmu pengetahuan”. Sibawayh merespon. “apakah
anda menduga bahwa saya meragukan niat anda itu ?” Ar Ibn Marzuq
(w.223 H/837 M) mengikuti suatu perdebatan antara Sibawayh dan al-
Asma’i, yang setelah debat itu Yunus berkomentar, “Sibawayh benar,
tetapi lawannya menenangkannya berkat keahlian balaghahnya”.36
Ahmad Syalabi juga menjelaskan bahwa pada masa klasik
masing-masing murid untuk mengajukan pertanyaan tentang masalah
apapun, karena untuk meminta untuk mengajukan pertanyaan tentang
apa-apa yang dirasanya sukar dipahami. Pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan harus sesuai dengan tata cara yang baik. Murid harus
mengajukan pertanyaan benar-benar karena ingin mendalami ilmu
pengetahuan tersebut, bukan untuk mengotot dan bukan pula karena
ingin dikagumi orang lain, selain itu dalam diskusi murid dilarang
memotong pembicaraan gurunya, yang sedang berbicara atau temannya
yang sedang bertanya kepada gurunya. Para pelajar diberi dorongan
untuk bertanya, tapi dengan syarat bahwa pertanyaan dapat membuka
arena baru serta menunjukkan kematangan ilmu dan kemampuannya
untuk menggunakan fikirannya. Kadang-kadang gurunya justru yang
bertanya. Dalam hal ini dalam memahami satu materi pelajaran yang
telah diberikan kepadanya.37

Beberapa ahli berpendapat bahwa seni munazharah lahir dari


dialog-dialog teologis yang berlangsung antara umat Islam dan umat
non muslim (Yahui, Kristen, Majusi). Adapula yang berpendapat
bahwa munazharah bermula dibidang hukum, bagi al-Ghazali
misalnya, yang menyatakan bahwa ini berkaitan erat dengan kebutuhan

36
George A. Makdisi, Cita Humanisme Islam Panorama,….h.329
37
Ahmad Syalabi, ….h.388-389

15
penguasa akan para fuqahai untuk mengisi pos-pos yang berhubungan
dengan hukum.38

Beberapa contoh ulama yang dicatat sebagai ahli munazarah.


Imam Syafi’i, yang terkenal sebagai seorang yang suka melakukan
munazarah untuk mencarikebenaran tentang satu soal tertentu. Sayf al-
Din al-Amidi juga sebagai ilmuan. Ibn Hibbat Allah digambarkan
orang yang paling unggul dalam seni munazarah. Ibn Rahawi dan Ibn
Sultan al-Syaybani.39

Ada fungsi dari munazarah ini yang sangat mendasar yaitu


mengenai pemanfaatan orang yang memiliki keilmuan yang tinggi
yang bisa dijadikan rujukan khususnya bidang keilmuan mulai dari
zaman klasik sampai modern.

5. Metode Dikte (Imla’)


Metode ini dilaksanakan oleh guru dengan cara memberikan
pelajaran dari hafalan, atau dari catatan yang telah ditulisnya lebih
dahulu untuk dibacakan kepada para murid. Pendiktean dilakukan
dengan lambat, yaitu satu-satu alinea atau satu-satu hadits, disertai
dengan menyebutkan sanadnya, dan para murid menuliskan apa yang
di diktekan guru mereka. Setelah guru selesai mendiktekan materi
pelajaran dan memberikan penjelasan atau penafsiran terhadap materi
tersebut serta murid telah selesai mencatatnya dengan baik. Guru
seringkali membacakan apa-apa yang telah didiktekannya. Atau
disuruhnya salah seorang murid untuk membacakannya, lalu dibrikan
pembetulan-pembetulan jika terdapat kesalahan-kesalahan atau
kekurangan-kekurangan pada penulisan para murid. Jika semuanya
telah selesai seringkali guru mencantumkan tanda tangannya pada
38
Hasan Asari, Menguak Sejarah Mencari Ibrah, Risalah Sejarah Sosial-Intelektual Muslim
Klasik (Bandung : Citapustaka, 2006), h. 182
39
Ibid,h. 184

16
catatan murid-muridnya dengan menyebutkan bahwa murid-murid
tersebut telah membacakan catatan itu kepadanya dan telah ditelitinya.
Juga tidak jarang guru memberikan izin kepada muridnya untuk
meriwayatkan atau mengajarkan materi pelajaran itu kepada orang lain
dari hasil dikte-dikte tersebut terwujudlah manuskrip-manuskrip yang
kemudian dicetak, sehingga menjadi kitab-kitab terkenal dikalangan
umat Islam.40
Adam Mez dalam Die Renaisance des Islams, membahas dua
istilah metode yang berkaitan dengan metode instruksi, Imla’ dan
Tadris. Mez menjelaskan bahwa dikte merupakan tingkatan tertinggi
dan fase instruksi. Cara inilah yang digunakan oleh para teolog dan
filolog pada abad ke sembilan. Meskipun demikian, pada abad
kesepuluh, menurut Mez para ahli filologi meninggalkan metode dikte
yang dulunya dikenalkan oleh para teolog. Mereka meninggalkan
metode dikte dan menggantinya dengan cara menjelaskan setiap karya
tulis yang dipelajari, yang dibicarakan oleh seorang siswa “seperti
ketika seseorang menjelaskan buku ringkasan’.41

6. Rihlah Ilmiah42
Rihlah Ilmiyah digunakan untuk setiap perjalanan guna
menuntut ilmu, mencari tempat belajar yang baik, mencari guru yang
lebih bisa memimpin pelajaran dengan baik pula, atau juga perjalanan
seseorang ilmuan ke berbagai tempat, apakah dia secara formal
melakukan aktivitas akademis atau sebaliknya. Dengan demikian rihlah
‘ilmiyah bisa saja mencakup sebuah perjalanan yang memang
direncanakan untuk tujuan ilmiah (belajar, mengajar, diskusi, mencari

40
Ibid, h. 386
41
George A. Makdisi, Cita Humanisme Islam Panorama,….h. 337
42
Hasan Asari, Menguak…..h. 198

17
kitab dan lain sebagainya), atau sekedar perjalanan biasa yang
dilakukan oleh orang-orang yang terlihat dalam kegiatan keilmuan.
Selanjutnya Hasan Asari juga menjelaskan tentang praktek
Rihlah Ilmiyah dapat juga ditemukan dalam nas-nas dasar-dasar dasar
agama Islam, baik dalam al-Qur’an maupun hadits.
Abu Hamid al-Ghazali, misalnya, menganjurkan irihlah ilmiyah
dan bahkan memandangnya sebagai pendukung penting yang dapat
membantu keberhasilan seseorang dalam kegiatan menuntut ilmu
pengetahuan. Begitu pula dengan Ibn Khaldun, dia melihat manfaat
yang sangat besar dari praktek ini. Al-Khatib al-Baghdadi juga
memandang rihlah ilmiyah memiliki relevansi yang sangat tinggi,
khususnya dalam bidang hadis, sehingga ia menulis sebuah buku
khusus membahas tema tersebut. Ibn ‘Abd al-Barr juga menyisipkan
sebuah pembahasan mengenai praktek rihlah ilmiyah.
Perkembangan rihlah ilmiyah ini juga ternyata tidak diketahui
secara jelas kapan dimulainya, namun sejarah menunjukkan
bahwasanya pada masa Rasulullah juga sudah ada karena beliau pernah
mengutus sahabat Muaz Ibn Jabal ke negeri Yaman dengan tujuan
sebagai guru.
Rihlah Ilmiyah ini juga memiliki fungsi dalam peradaban
intelektual Islam klasik. Diantara fungsinya ada yang bersifat ilmiyah
dan bahkan lebih luas dari itu, antara lain:
1. Sebagai cara untuk mencari guru yang baik
2. Sebagai sebuah cara untuk memperluas wawasan.
3. Sebagai modus penyebaran ilmu pengetahuan.
4. Sebagai perajut kesatuan peradaban Islam.

C. Kesimpulan

18
Pada masa klasik, pendidikan Islam telah memiliki sistem dan metode
yang baik dan relevan untuk diterapkan pada masa sekarang, dngan terlebi dahulu
melakukian perbaikan pada hal-hal yang tidak sesuai dengan dunia pendidikan.
Perbedaan yang nampak ialah pendidikan Islam pada masa klasik dikenal dan
diterapkan sistem halaqah, dan juga berbagai metode yang telah dijelaskan di atas.
Sistem pendidikan Islam pada periode klasik yang merupakan sistem
pendidikan muslim yang membentuk kepribadian, baik jasmani maupun rohani
dalam rangka membentuk manusia yang mampu mendalami ilmu naqliyah dan
aqliyah. Penyampaian pendidikan ini cukup menarik mulai dari tujuan, gurunya,
muridnya, metode pembelajarannya, serta banyak lagi hal lainnya.
Penggunaan berbagai macam metode dalam pengembangan ilmu
pengetahuan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam yang sesuai dengan al-
Qur’an dan al-Sunnah, sehingga nilai-nilai pendidikan tercapai dengan baik.
Segala macam bentuk sistem dan metode di atas menunjukkan kepada kita
ternyata banyak hal yang perlu digali lebih lanjut serta dipertahankan dan juga
wajib untuk dikembangkan sesuai dengan harapan dari pendidikan Islam itu
sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Syalaby, Sejarah Pendidikan Islam, judul asli; Tarikh at-Tarbiyah al-
Islamiyah, terjemahan Muchtar Jahja dan M. Sanusi Latief , Jakarta : Bulan
Bintang, 1973
Charles Michael Stanton, Pendidikan Tinggi Dalam Islam Sejarah Dan Peranannya
Dalam Kemajuan Ilmu Pengetahuan, Terjemahan dari judul asli : Higher
Learning in Islam : The Classical Period, A.D. 700-1300. Penerjemah : H.
Affandi dan Hasan Asari Jakarta : PT. Logos Publishing House, 1994
Departemen Agama Republik Indonesia, al-Qur’an dan Terjemahannya, Semarang :
CV. Toha Putra, 1989

19
George Makdisi, The Rise Of Colleges, Edinburg : Edinburg University Press, 1990
George Makdisi, The Rise Of Humanism in Classical Islam and the Christian West
With Sosial Reference to Scholasticism, Edinburg : Edinburg University Press,
1990
George Makdisi, Cita Humanisme Islam Panorama Kebangkitan Intelektual dan
Budaya Islam dan Pengaruhnya terhadap Reinesans barat, terjemahan dari
judul asli : The Rise Of Humanism in Classical Islam and The Christian West,
Penerjemah : A. Syamsu Rizal & Nur Hidayah, Jakarta :PT. Serambi Ilmu
Semesta, 2005
Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional Di
Indonesia, Jakarta Timur: Prenada Media, 2004
Haidar Putra Daulay, Dinamika Pendidikan Islam, editor. Irwan Saleh Dalimunthe,
Citapustaka Media, 2004
Hasan Asari, Menguak Sejarah Mencari Ibrah, Risalah Sejarah Sosial-Intelektual
Muslim Klasik , Bandung : Citapustaka, 2006
Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam Kajian atas Lembaga-lembaga
pendidikan edisi Revisi, Bandung: Cipta Pustaka Media, 2007
Ivor K. Hitti, The History of the Arabs, Ibnu Batuta, Tuhfat ul-Nazar, Vol I
Mehdi Nekosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat Deskripsi
Analisis Abad Keemasan Islam, Terjemahan dari judul asli : History of Islamic
Origins of Western Education A D. 1800-1350, with an Introduction to Medieval
Muslim Education, penerjemah : Joko S. Kahar dan Supriyanto Abdullah
(Surabaya : Risalah Gusti, 2003
Mansour Ahmad, Islamic Education, New Delhi : Qazi Publishers Distributors, 1994
Mehdi Nekosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat Deskripsi Analisis
Abad Keemasan Islam, Terjemahan dari judul asli : History of Islamic Origins of
Western Education A D. 1800-1350, with an Introduction to Medieval Muslim
Education, penerjemah : Joko S. Kahar dan Supriyanto Abdullah, Surabaya :
Risalah Gusti, 2003
Slamet Imam Santoso, Pendidikan Di Indonesia Dari Masa Ke Masa, Jakarta : CV.
Haji Mas Agung, 1987

20