Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN TETAP

TEKNOLOGI BIOMASSA
PEMBUATAN BIOETANOL DARI TETES TEBU

DISUSUN OLEH :
AGUSTIAWAN 0610 4041 1381
ANJAR EKO SAPUTRO 0610 4041 1382
NURUL KHOLIDAH 0610 4041 1393
RAMANTA 0610 4041 1395
RENI AFRIYANI 0610 4041 1396
ROFFINA 0610 4041 1398
SINGGIH EKO PRABOWO 0610 4041 1400


KELAS 6 EGA/ Reguler (Pagi)
DOSEN PEMBIMBING : Ir. Erlinawati, M.T

JURUSAN TEKNIK KIMA
PROGRAM STUDI DIV TEKNIK ENERGI


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2013
PEMBUATAN BIOETANOL DARI TETES TEBU

I. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini, diharapkan mahasiswa mampu:
1. Membuat bioetanol dan mengerti prinsip pembuatan bioetanol
2. Menganalisa produk bioetanol dari tetes tebu
3. Memanfaatkan biomassa menjadi bioetanol

II. ALAT DAN BAHAN
1. Alat yang digunakan
Erlenmeyer
Gelas kimia
Gelas ukur
Termometer
Corong gelas
Labu leher dua
Unit distilasi
Kertas pH
Refraktometer
Selang
2. Bahan yang digunakan
Tetes tebu
Fermipan
Aquadest
Pupuk NPK (Urea)

III. DASAR TEORI
3.1 Tetes Tebu
Molase adalah hasil samping yang berasal dari pembuatan gula tebu (saccharum
officinarum L). Tetes tebu berupa cairan kental dan diperoleh dari tahap pemisahan kristal
gula. Molase tidak dapat lagi dibentuk menjadi sukrosa namun masih mengandung gula
dengan kadar tinggi 50 60%, asam amino dan mineral. Tingginya kandungan gula dalam
molase sangat potensial dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol. (Anonim, 2011)
Molase masih mengandung kadar gula yang cukup untuk dapat menghasilkan
etanol dengan proses fermentasi, biasanya pH molase berkisar antara 5,5 6,5. Molase
yang masih mengandung kadar gula 10 18% telah memberikan hasil yang memuaskan
dalam pembuatan etanol.
Tebu (Saccharum officinarum L) kedudukannya dalam ilmu taksonomi tumbuhan
adalah:
Klasifikasi
Kingdom : Plantea
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Subkelas : Commelinidae
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Sascharum
Spesies : Saccharym officinarum
Sifat fisika dan kimia dari tetes tebu
Bentuk : Kental, cokelat kehitaman
pH : 5,3
Titik beku : - 18
o
C
Titik didih : 107
o
C
Specific gravity : 1.4
Kelarutan dalam air : Sangat larut
Viskositas : 4,323 cp
Panas spesifik : 0,5 kkal/kg
o
C
Densitas : 1,47 gr/mL
3.2 Bioetanol
Etanol merupakan senyawa hidrokarbon dengan gugus Hydroxyl (-OH) dengan 2
atom karbon (C) dengan rumus kimia C
2
H
5
OH. Etanol lebih dikenal dengan Etil Alkohol
berupa bahan kimia yang diproduksi dari bahan baku tanaman yang mengandung
karbohidrat seperti ubi kayu, ubi jalar, sargum, beras, ganyong dan sagu yang kemudian
populer dengan nama bioetanol.
Bahan baku lainnya adalah tanaman atau buah yang mengandung gula seperti tebu,
nira, mangga, nanas, pepaya, anggur, lengkeng dan lainnya. Bahan berserat (selulosa)
seperti sampah organik dan jerami padi pun saat ini telah menjadi salah satu alternatif
penghasil bioetanol. Namun, dari semua jenis tanaman tersebut tetes tebu merupakan
bahan baku yang paling banyak menghasilkan etanol jika diolah.
Bioetanol yang mempunyai grade 90-95% biasanya digunakan pada industri,
sedangkan bioetanol yang mempunyai grade 95 99% atau disebut alkohol teknis
digunakan sebagai campuran untuk miras dan bahan dasar industri farmasi.
Sedangkan grade etanol yang dimanfaatkan sebagai campuran bahan bakar
kendaraan bermotor harus betul-betul kering dan anhydrous supaya tidak menimbulkan
korosi, sehingga etanol harus mempunyai grade tinggi antara 99,6 99,8% (Fuel Grade
Ethanol = FGE). Perbedaan besarnya grade akan berpengaruh terhadap konversi
karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut air.

3.3 Proses Distilasi Bioetanol
Produksi etanol/bioetanol (alkohol) dengan bahan baku yang mengandung pati atau
karbohodrat, dilakukan melalui proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut
air.
Tabel 1. Konversi Bahan Baku Tanaman yang Mengandung Pati atau Karbohidrat
dan Tetes Tebu Menjadi Bioetanol
Bahan Baku Kandungan
gula dalam
bahan baku
(kg)
Jumlah hasil
konversi
bioetanol
(liter)
Perbandingan
bahan baku
dan bioetanol
Jenis Konsumsi
Ubi kayu 1000 250 300 166,6 6,5 : 1
Ubi jalar 1000 150 200 125 8 : 1
Jagung 1000 600 700 200 5 : 1
Sagu 1000 120 160 90 12 : 1
Tetes tebu 1000 500 250 4 : 1

Glukosa dapat dibuat dari pati-patian, proses pembuatannya dapat dibedakan
berdasarkan zat pembantu yang digunakan, yaitu hidrolisa asam dan hidrolisa enzim.
Dalam proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut air dilakukan dengan
penambahan air dan enzym, kemudian dilakukan proses peraguan atau fermentasi gula
menjadi etanol dengan menambahkan yeast atau ragi. Reaksi yang terjadi pada proses
produksi etanol/bioetanol secara sederhana ditunjukkan pada reaksi 1 dan 2.
H
2
O
(C
6
H
10
O
5
)n N C
6
H
12
O
6
.................... (1)
Pati Enzyme Glukosa
Menurut Gay Lussac, proses fermentasi alkohol ditunjukkan reaksi berikut:
(C
6
H
12
O
6
)n 2 C
2
H
5
OH + 2 CO
2
........ (2)
Glukosa Yeast (ragi) Etanol
Secara singkat, teknologi proses produksi etanol/bioetanol dapat dibagi menjadi
tiga (3) yaitu persiapan bahan baku, likuifaksi dab sakarifikasi, distilasi dan dehidrasi.
a. Persiapan Bahan Baku
Bahan baku untuk produksi bioetanol bisa didapatkan dari berbagai tanaman, baik
yang secara langsung menghasilkan gula sederhana semisal tebu (sugarcane), gandum
manis (sweet sarghum) atau yang menghasilkan tepung seperti jagung (corn), singkong
(cassava) dan gandum (grain sorghum) di samping bahan lainnya.
b. Liquifaksi dan Sakarifikasi
Kandungan karbohidrat berupa tepung atau pati pada bahan baku singkong
dikonversi menjadi gula kompleks menggunakan enzyme Alfa Amylase melalui proses
pemanasan (pemaukan) pada suhu 90
o
C (hidrolisis). Pada kondisi ini tepung akan
mengalami gelatinasi (mengental seperti jelly). Pada kondisi optimum Enzyme Alfa
Amylase bekerja memecahkan struktur tepung secara kimia menjadi gula kompleks
(dextrin). Proses liquifaksi selesai ditandai dengan parameter di mana bubur yang diproses
berubah menjadi lebih cair seperti sup. Sedangkan proses sakarifikasi (pemecahan gula
kompleks menjadi gula sederhana) melibatkan tahapan berikut:
- Pendinginan bubur sampai mencapai suhu optimum enzyme glukosa amilase
bekerja
- Pengaturan pH optimum enzim
- Penambahan Enzyme Glukosa Amilase secara tepat dan mempertahankan pH
serta suhu pada 60
o
C hingga proses sakarifikasi (dilakukan dengan melakukan
petesan kadar gula sederhana yang dihasilkan).
c. Fermentasi
Pada tahap ini, tepung telah berubah menjadi gula sederhana (glukosa dan sebagian
fruktosa) dengan kadar gula berkisar antara 5 hingga 12 %. Tahapan selanjutnya adalah
mencampurkan ragi (yeast) pada cairan bahan baku tersebut dan mendiamkannya dalam
wadah tertutup (fermentor) pada kisaran suhu optimum 27 s/d 32
o
C selama kurun waktu 5
hingga 7 hari (fermentasi secara anaerob). Keseluruhan proses membutuhkan ketelitian
agar proses fermentasi bahan baku tidak terkontaminasi oleh mikroba lainnya. Dengan
kata lain, sejak proses persiapan bahan baku, liquifaksi dan sakarifikasi hingga fermentasi
harus pada kondisi bebas kontaminan. Selama proses fermentasi akan menghasilkan cairan
etanol/alkohol dan CO
2
.
Hasil dari fermentasi berupa cairan mengandung alkohol/etanol berkadar rendah
antara 7 hingga 10% (biasa disebut cairan beer). Pada kadar etanol max.10% ragi menjadi
tidak aktif lagi karena kelebihan alkohol akan berakibat racun bagi ragi itu sendiri dan
mematikan aktifitasnya.
d. Distilasi
Distilasi atau penyulingan dilakukan untuk memisahkan alkohol dalam cairan beer
hasil fermentasi. Dalam proses distilasi, pada suhu 78
o
C (setara dengan titik didih alkohol)
etanol akan menguap lebih dulu ketimbang air yang bertitik didih 100
o
C. Kegiatan
penyulingan etanol merupakan bagian terpenting dari keseluruhan proses produksi
bioetanol.
Penyulingan etanol dapat dilakukan dengan 2 cara:
1. Penyulingan dengan teknik dan distilator tradisional (konvensional). Dengan cara
ini kadar etanol yang dihasilkan hanya berkisar antara 20 s/d 30%
2. Penyulingan dengan teknik dan distilator modern kolom bertingkat (reflux).
Dengan cara ini kadar etanol yang dihasilkan mampu mencapai 60 90% melalui 2
tahapan penyulingan.
e. Dehidrasi
Hasil penyulingan berupa etanol berkadar 95% belum dapat larut dalam bahan
bakar bensin. Untuk substitusi BBM diperlukan etanol berkadar 99,6 99,8% atau disebut
etanol kering. Untuk pemurnian etanol 95% diperlukan proses dehidrasi (distilasi
absorben) menggunakan beberapa cara, antara lain:
1. Cara kimia dengan menggunakan batu gamping
2. Cara fisika dengan proses penyerapan menggunakan zeolit sintesis.
Hasil dehidrasi berupa etanol berkadar 99,6 99,8% sehingga dapat dikategorikan
sebagai Fuel Grade Ethanol (FGE).




IV. PROSEDUR PERCOBAAN
4.1 Persiapan Sampel
a. Menyiapkan sampel tetes tebu atau molase.
- Kadar gula yang diinginkan pada tetes tebu/molase < 14 %
Melarutkan 28 Kg (22,5 L) molase dengan 72 liter air, memasukkan ke dalam
fermentor. (Total larutan 94,5 liter)
atau
gula pasir sebanyak 1 kg dilarutkan dalam 7,1 liter air.

b. Penambahan Urea dan NPK
Urea dan NPK berfungsi sebagai nutrisi ragi.
- Urea sebanyak 0,5 % dari kadar gula dalam larutan fermentasi (70 gr Urea
untuk 94,5 liter larutan)
- NPK sebanyak 0,1 % dari kadar gula dalam larutan fermentasi (14 gr Urea
untuk 94,5 liter larutan)

a. Penambahan Ragi
Bahan aktif ragi roti adalah Saccharomyces Cereviseae yang dapat
memfermentasi gula menjadi etanol.
- Ragi roti 0,2 % dari kadar gula (28 gr ragi roti diberi air hangat-hangat kuku
secukupnya lalu diaduk perlahan hingga tampak berbusa)

4.2 Proses Fermentasi
Proses pembuatan bioetanol menggunakan bahan baku tetes tebu berbeda dengan
pembuatan bioetanol menggunakan ubi kayu maupun sekam padi yang
memerlukan perisapan bahan baku dan proses liquifaksi dan sakarifikasi
melainkan lengsung masuk ke proses fermentasi. Proses fermentasi dilakukan
dengan melalui tahapan-tahapan yaitu :
a. Memasukkan sampel tetes tebu/molase, urea, NPK, dan ragi ke dalam
fermentor kemudian menutup rapat. Fermentor dihubungkan dengan
penampung yang diisi NaOH untuk menangkap gas CO
2

b. Pada proses fermentasi akan timbul gelembung-gelembung udara, ini adalah
gas CO
2
yang dihasilkan selama proses fermentasi.
c. Selama proses fermentasi mengusahakan suhu tidak melebihi 36
o
C dan pH =
4,5 -5 selama 66 jam = 2,5 hari
d. Tanda fermentasi selesai adalah tidak terlihat lagi adanya gelembung-
gelembung udara. Kadar etanol dalam cairan fermentasi 7-10 %

4.3 Proses Distilasi
Hasil dari proses fermentasi berupa cairan bioetanol berkadar 7-10% tersebut
didistilasiuntuk mendapatkan bioetanol berkadar diatas 90%. Proses distilasi
tersebut dilakukan melalui tahap-tahap yaitu:
a. Menyaring cairan dari bioetanol yang telah difermentasi
b. Mencatat volume cairan bioetanol tersebut
c. Menyiapkan seperangkat unit distilasi
d. Masukkan cairan hasil fermentasi kedalam distilator. Suhu dipertahankan 79C
- 81C. Pada suhu ini etanol sudah menguap, tetapi air tidak menguap.
e. Mengamati dan mencatat suhu tetesan pertama distilat
f. Pada distilasi ini didapat etanol dengan kadar < 95 %. Bila kadar < 95 % maka
distilasi perlu diulangi lagi ( reflux ) hingga kadar etanol = 95 %
g. Bila kadar etanol = 95 %, lakukan proses dehidrasi atau penghilangan H
2
O.
Dengan penambahan kapur tohor atau zeolit sintesis dan didiamkan selama 1
hari.
h. Kemudian distilasi lagi hingga kadar etanol = 99,5 %
i. Setelah distilasi selesai, mencatat volume distilat (bioetanol)

4.4 Analisa Bioetanol
Setelah dilakukan proses distilasi dan didapatkan bioetanol yang berkadar sekitar
90% selanjutnya bioetanol tersebut harus dianalisa. Analisa tersebut berupa
pngukuran pH dan pengukuran indeks bias.
a. Pengukuran pH
1. Mempersiapkan bioetanol dan kertas pH
2. Mencelupkan kertas pH kedalam cairan bioetanol
3. Mencocokkan warna pH yang didapat dengan parameter pH
4. Mencatat harga pH

b. Pengukuran Indeks Bias
1. Mempersiapkan bioetanol dan alat refraktometer
2. Meneteskan sampel (bioetanol) ke alat refraktometer
3. Melakukan pengukuran dan mencatat nilai indeks biasnya

V. DATA PENGAMATAN
5.1 Data Berat Sampel
Sampel
Berat (kg)
Berat
galon
kosong
Berat
galon +
Sampel
Berat
galon +
Sampel
setelah
pemanasan
Berat
sampel
setelah
distilasi
Berat
distilat
Tetes Tebu 0.5 2.617 2.58 6.8 0.297
Air Gula 0.5 1.658 1.64 5.2 0.306

5.2 Data Volume Sampel
Sampel
Volume (Liter)
Volume
sampel
sebelum
fermentasi
Volume
sampel
setelah
fermentasi
Volume
sampel yang
di distilasi
Volume
distilat
Tetes Tebu 2 1.985 0.3 0.0095
Air Gula 1 0.995 0.3 0.007









5.3 Fermentasi
Bahan
Sifat Fisik
Warna Bau Berat
Harga
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
Tetes
Tebu
Kuning
keruh
Kuning
keruh
Berbau Menyengat Cairan Cairan
Rp
17.000
Gula Putih Putih Tidak Menyengat Padatan Cairan
Rp
13.000
Urea Putih Putih Berbau Tidak Padatan
Padatan
Terlarut

NPK Biru Biru Tidak Tidak Padatan
Padatan
Terlarut

Ragi
Roti
Kuning Kuning Berbau Berbau Padatan
Padatan
Terlarut
Rp
2.000
5.4 Distilasi
Sampel
Sifat Fisik
Warna Bau Bentuk
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
Tetes
Tebu
Kuning Bening Menyengat Berrbau Cairan Cairan
Air Gula Putih Bening Menyengat Berbau Cairan Cairan






5.5 Analisa Bioetanol
Sampel
Analisa
pH Indeks Bias Density (gr/mL) Suhu
(C) Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
Tetes
Tebu
3 4 1.333 1.358 0.8 0.71 85
Larutan
Gula
2 3 1.335 1.354 1.2 0.74 86

VI. PERHITUNGAN
6.1 Menghitung fermentor tetes tebu
CO
2
= gr

V= 2000 mL FERMENTOR V= ml
m = 2117 gr m= gr


Urea = 1.48 gr
NPK = 0.29 gr Ragi = 0.59 gr
Blok diagram Sebelum Fermentasi












Diketahui indeks bias hasil fermentasi 1.333 dengan volume 1980 mL dan massa 2080
gr

Dari grafik di atas dapat dihitung % alcohol dan % air
Alkohol hasil fermentasi = 9.5% x 2080 gr = 197.6 gr
Air hasil fermentasi = 90.5% x 2080 gr = 1882.4 gr
Massa CO
2
= 2119.36 gr (197.6 + 1882.4) gr
= 2119 gr 2080 gr = 39.36 gr

Tabel Neraca Massa
Komponen Input (gr) Output (gr)
Tetes Tebu 2117 -
Ragi 0.59 -
NPK 0.29 -
Urea 1.48 -
CO
2
- 39.36
Alkohol - 197.6
Air - 1882.4
Total 2119.36 2119.36
1.325
1.33
1.335
1.34
1.345
1.35
1.355
1.36
1.365
0 20 40 60 80 100 120
I
n
d
e
k
s

B
i
a
s

% Etanol
Kurva Baku Tetes Tebu
indeks bias
CO
2
= 39.36 gr

V= 2000 mL FERMENTOR V= 1980 mL
m = 2117 gr m = 2080 gr
alkohol = 197.6 gr
air = 1882.4 gr
indeks bias = 1.333
Urea = 1.48 gr
NPK = 0.29 gr Ragi = 0.59 gr
Blok Diagram Setelah Fermentasi

6.2 Meghitung Distilator Tetes Tebu

Top Produk




V = 300 mL
m = 297 gr
= 0.99 gr/mL
indeks bias = 1.333




Bottom
V = mL
m = gr
= gr/mL
Blok Diagram Sebelum Distilasi



V = mL
m = gr
= gr/mL

D
I
S
T
I
L
A
T
O
R


Dari grafik di atas dapat ditentukan % alcohol dan % air bagian A
Alkohol = 9.5% x 297 gr = 28.215 gr
Air = 90.5% x 297 gr = 268.78 gr

Pada bagian B diketahui volume distilat 9.5 ml dengan massa 6.8 gr dan indeks bias 1.358,
jadi dari grafik etanol dapat ditentukan % alcohol dan % air bagian B
Alkohol = 86.4% x 6.8 gr = 5.8752 gr
Air = 13.6% x 6.8 gr = 0.9248 gr











1.325
1.33
1.335
1.34
1.345
1.35
1.355
1.36
1.365
0 20 40 60 80 100 120
I
n
d
e
k
s

B
i
a
s

% Etanol
Kurva Baku Tetes Tebu
indeks bias




V = 300 mL
m = 297 gr
= 0.99 gr/mL
indeks bias = 1.333
alcohol = 9.5%
air = 90.5%



Blok Diagram Setelah Distilasi

Pada bagian C diketahui volume sisa (bottom) yaitu (300-9.5) mL = 290.5 mL dengan
massa 290.195 gr. Jadi dapat dihitung % alcohol dan % air dengan menggunakan neraca
seperti dibawah ini :

Neraca alcohol = % alcohol x a = % alcohol x b + % alcohol x c
9.5% x 297 = 86.4% x 6.8 + %alkohol x 287.595
28.215 = 5.87552 + 287.595 % alcohol
% alcohol = 7.76 x 287.595 gr = 22.31 gr
Neraca Air = % air x a = % air x b + % air x c
90.5% x 297 = 13.6% x 6.8 + % air x 287.595
268.78 = 0.9248 + 287.595 % aia
% air = 92.24 x 287.595 gr = 265.27 gr

Tabel Neraca Massa Distilator Tetes Tebu
Komponen Input (gr)
Output (gr)
Top produk Bottom
Alkohol 28.215 6.8 -
Air 268.78 - 290.2
Subtotal 297 6.8 290.2
Total 297 297

Top Produk
V = 9.5 mL
m = 6.8 gr
= 0.71 gr/mL
indeks bias = 1.358
alcohol = 86.4%
air = 13.6%

D
I
S
T
I
L
A
T
O
R

Bottom
V = mL
m = gr
= gr/mL
m

=


g
r


g
r
/
m
L







V = 300 mL
m = 297 gr
= 0.99 gr/mL
indeks bias = 1.333
alcohol = 9.5% = 28.2 gr
air = 90.5% = 268.78 gr


V = 290.5 mL
m = 287.595 gr
= 0.99 gr/mL
indeks bias = 1.333
alcohol = 7.76% = 22.31 gr
air = 92.24% = 265.24 gr
Blok Diagram Proses Distilasi

6.3 Menghitung fermentor larutan gula
CO
2
= gr

V= 1000 mL FERMENTOR V= ml
m = 1158 gr m= gr


Urea = 0.74 gr
NPK = 0.148 gr Ragi = 0.296 gr
Blok diagram Sebelum Fermentasi



V = 9.5 mL
m = 6.8 gr
= 0.71 gr/mL
indeks bias = 1.358
alcohol = 86.4% = 5.8752 gr
air = 13.6% = 0.9 gr

D
I
S
T
I
L
A
T
O
R

Diketahui indeks bias hasil fermentasi 1.335 dengan volume 995 mL dan massa 1140
gr

Dari grafik di atas dapat dihitung % alcohol dan % air
Alkohol hasil fermentasi = 19.2% x 1140 gr = 218.88 gr
Air hasil fermentasi = 80.8% x 1140 gr = 921.12 gr
Massa CO
2
= 1159.184 gr (921.12 + 218.88) gr
= 1159.184gr 1140 gr = 19.184 gr

Tabel Neraca Massa
Komponen Input (gr) Output (gr)
Larutan Gula 1158 -
Ragi 0.296 -
NPK 0.148 -
Urea 0.74 -
CO
2
- 19.184
Alkohol - 218.88
Air - 921.12
Total 1159.184 1159.184


1.325
1.33
1.335
1.34
1.345
1.35
1.355
1.36
1.365
0 20 40 60 80 100 120
I
n
d
e
k
s

B
i
a
s

% Etanol
Kurva Baku Larutan Gula
indeks bias
CO
2
= 19.184 gr

V= 1000 mL FERMENTOR V= 995 mL
m = 1158 gr m = 1140 gr
alkohol = 218.88 gr
air = 921.12 gr
indeks bias = 1.335
Urea = 0.74 gr
NPK = 0.148 gr Ragi = 0.296 gr
Blok Diagram Setelah Fermentasi




6.4 Meghitung Distilator Larutan Gula

Top Produk




V = 300 mL
m = 306 gr
= 1.02 gr/mL
indeks bias = 1.335




Bottom
V = mL
m = gr
= gr/mL
Blok Diagram Sebelum Distilasi



V = mL
m = gr
= gr/mL

D
I
S
T
I
L
A
T
O
R


Dari grafik di atas dapat ditentukan % alcohol dan % air bagian A
Alcohol = 19.2% x 306 gr = 58.75 gr
Air = 80.8% x 306 gr = 247.25 gr

Pada bagian B diketahui volume distilat 7 ml dengan massa 5.2 gr dan indeks bias 1.354,
jadi dari grafik etanol dapat ditentukan % alcohol dan % air bagian B
Alkohol = 76.8% x 5.2 gr = 3.99 gr
Air = 23.2% x 5.2 gr = 120.64 gr




V = 300 mL
m = 306 gr
= 1.02 gr/mL
indeks bias = 1.335
alcohol = 19.2%
air = 80.8%



Blok Diagram Setelah Distilasi


1.325
1.33
1.335
1.34
1.345
1.35
1.355
1.36
1.365
0 20 40 60 80 100 120
I
n
d
e
k
s

B
i
a
s

% Etanol
Kurva Baku Larutan Gula
indeks bias
Top Produk
V = 7 mL
m = 5.2 gr
= 0.74 gr/mL
indeks bias = 1.354
alcohol = 76.8%
air = 23.2%

D
I
S
T
I
L
A
T
O
R

Bottom
V = mL
m = gr
= gr/mL
m

=


g
Pada bagian C diketahui volume sisa (bottom) yaitu (300-7) mL = 293 mL dengan massa
298.86 gr. Jadi dapat dihitung % alcohol dan % air dengan menggunakan neraca seperti
dibawah ini :

Neraca alcohol = % alcohol x a = % alcohol x b + % alcohol x c
19.2% x 306 = 76.78% x 5.2 + %alkohol x 298.86
58.75 = 3.99 + 298.86 % alcohol
% alcohol = 18.32 x 298.86 gr = 54.75 gr
Neraca Air = % air x a = % air x b + % air x c
80.8% x 306 = 23.2% x 5.2 + % air x 298.86
247.248 = 1.2064 + 298.86 % air
% air = 81.68 x 298.86 gr = 244.10 gr

Tabel Neraca Massa Distilator Larutan Gula
Komponen Input (gr)
Output (gr)
Top produk Bottom
Alkohol 58.75 5.2 -
Air 247.25 - 300.8
Subtotal 306 5.2 300.8
Total 306 306















Top Produk
V = 7 mL
m = 5.2 gr
= 0.74 gr/mL
indeks bias = 1.354
alcohol = 76.8%
air = 23.2%
V = 300 mL
m = 306 gr
= 1.02 gr/mL
indeks bias = 1.335
alcohol = 19.2%
air = 80.8%

V = 293 mL
m = 298.86gr
= 1.02 gr/mL
indeks bias = 1.335
alcohol = 18.32%
air = 81.68%
Blok Diagram Proses Distilasi

6.5 Neraca Ekonomi Bioetanol
Berdasarkan literature diketahui harga 1 liter etanol 96% = Rp 27.500 sedangkan
bioetanol yang berasal dari tetes tebu Rp 432.800/liter dan bioetanol dari air gula Rp
94.268/liter. Jadi hasilnya :
Bioetanol tetes tebu = 0.0095 liter x Rp 432.800/liter = Rp 4111.6
Bioetanol air gula = 0.007 liter x Rp 94.268/liter = Rp 659.876

7 ANALISA PERCOBAAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat dianalisa bahwa percobaan kali ini ialah
pembuatan bioetanol dari tetes tebu dan juga gula. Tetets tebu merupakan biomassa dan
diukur kadar etanolnya. Dalam pembuatannya, tetes tebu difermentasi dengan bantuan ragi
roti dengan cara fermentasi anaerob. Dimana fermentasi ini tidak dapat oksigen pada
fermentor sehingga jamur dan ragi roti dapat berkembang dengan baik. Setelah itu, perlu
adanya penambahan urea dan NPK yang bertujuan sebagai makanan atau nutrisi bagi ragi
untuk berkembang. Ragi roti ini dipakai untuk memfermentasi gula menjadi etanol yang
terlebih dahulu diperlakukan dengan melarutkannya dalam air hangat lalu diaduk dan
dimasukkan ke fermentor yang selanjutnya dilakukan pengadukan lagi. Kemudian
D
I
S
T
I
L
A
T
O
R

dilakukan fermentasi selama 7-14 hari dalam keadaan anerob yang temperaturnya dijaga
pada suhu 27-32C jangan sampai melebihi 36C karena akan merusak ragi roti.
Setelah 7-14 hari, hasil dari fermentasi harus dimurnikan terlebih dahulu dengan
cara dilakukan penyaringan lalu distilasi. Namun, sebelumnya dilakukan pengamatan kadar
pH dan indeks biasnya untuk dilihat sifat fisik dan kimianya dari hasil yang telah
difermentasi yaitu bioetanol. Dari pengamatan didapatkan pH tetes tebu lebih tinggi dari
pH larutan gula. Hal ini disebabkan fermentasi pada tetes tebu lebih baik dari larutan gula.
Selain itu, pada indeks biasnya untuk mengukur kemurnian suatu larutan, dimana larutan
gula lebih tinggi indeks biasnya dibandingkan dengan larutan tetes tebu. Hal ini
menandakan bahwa larutan gula lebih murni dari larutan tetes tebu.
Setelah menganalisa indeks bias dan kadar pHnya lalu dilakukan destilasi dengan
volume destilat larutan tetes tebu ialah 2,080 kg sedangkan larutan gula ialah sebebsar
1,140 kg. dimana pada tetesan pertama tetes tebu pada temperature 85C dan larutan gula
pada temperature 86C. Seetelah itu, dilakukan analisa Ph dan indeks biasnya. Untuk
melihat keekonomisan dari produk yang dibuat maka dilakukan pengamatan neraca
ekonomi dimana didapatkan hasil destilat yang tidak ekonomis karena hasil yang
didapatkan hanya sedikit dengan kadar etanol yang rendah sehingga kurang baik untuk
digunakan.

8 KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Proses dan biaya produksi bioetanol tergolong kurang ekonomis
2. Bioetanol yang dihasilkan memiliki kadar 86,4% (tetes tebu)
3. Bioetanol yang dihasilkan memiliki kadar 76,8% (gula)



DAFTAR PUSTAKA

Jobsheet, 2013. Petunjuk Praktikum Teknologi Biomassa. Palembang: Polsri




GAMBAR PENGAMATAN


Proses fermentasi tetes tebu dan air gula

Proses Distilasi tetes tebu dan air gula

Uji nilai pH Analisa Indeks Bias