Anda di halaman 1dari 4

Poverty in Papua

itoday - Politisi Partai Golkar Priyo Budi Santoso merasa terkejut dengan data kemiskinan yang ada di
Papua, ia tidak habis pikir dengan kondisi kekayaan alam dan APBD yang besar di Papua Kemiskinan bisa
terjadi.

"Ini paradoks sekali. Penduduk hanya 2 juta, wilayahnya luas, kaya raya dan otonomi khususnya besar
sekali. APBD kemarin Rp5 triliun lebih. Pertanyaan adalah kita terkejut angka kemiskinan di sana masih
37 persen," ungkapnya di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (11/11).

Belum sejahteranya Papua, lanjutnya, karena adanya penyimpangan yang dilakukan oleh pemerintah
pusat maupun pemerintah daerah.

"Ini kesalahan pemerintah pusat, tapi juga kesalahan pemerintah daerah, lokal di Papua yang tidak bisa
menyelesaikan payung-payung hukum itu. Belum lagi temuan BPK, mengenai penyimpangan, tarik-
menarik kewenangan antara gubernur dan bupati," jelasnya.

Lebih lanjut Wakil Ketua DPR ini merinci APBD yang dimiliki Papua, menurutnya secara teoritis, dengan
APBD sekian triliun itu jika dibagi setiap warga Papua akan mendapatkan penghasilan sebesar Rp10 juta
per bulan. Jumlah tertinggi apabila dibandingkan dengan penduduk Jawa Timur yang rata-rata Rp2 juta.

"Pertanyaan kedua adalah soal Freeport sebagai perusahaan raksasa di sana. Selama ini Freeport tidak
pernah terdengar cipratannya kepada masyarakat lokal," paparnya.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan perlunya dilakukan audit atas penggunaan
anggaran negara dalam pembangunan daerah otonomi khusus di Pulau Papua. Ini diperlukan lantaran
seolah-olah tidak ada perubahan dan kemajuan di dua propinsi di Papua.

"Banyak sekali surat masuk kepada saya, bahkan seolah-olah Jakarta lalai dan kurang dana," kata SBY di
Istana Presiden, Jakarta, Kamis, 29 Juli 2010.

Padahal, dia mengingatkan biaya pembangunan per kapita dari 33 propinsi yang tertinggi adalah untuk
dua propinsi di Papua, yakni Papua dan Papua Barat. Setelah itu, baru Aceh dan diikuti propinsi lainnya.
Karena itu, SBY heran mengapa belum ada kemajuan di Papua. "Audit harus dilakukan. Bagian mana
yang tidak pas, manajemen, anggarannya, pengawasan atau efisiensinya?"

Menurut dia, sejak 2005, pemerintah pusat sudah mengubah kebijakan dasar terhadap Papua. Kebijakan
yang semula dengan pendekatan keamanan diubah menjadi pendekatan kesejahteraan. Penegakan
hukum mengiringi penegakan kesejahtaraan sejalan dengan meangalirnya dana-dana pembangunan
termasuk dana otonomi khusus.

"Jadi, sudah saatnya kita melihat utuh," kata dia. Dia menekankan jangan sampai kemudian timbul sikap
saling menyalahkan, serta Indonesia menjadi bulan-bulanan LSM baik dari dalam dan luar negeri.

Di tempat terpisah, Menko Perekonomian Hatta Rajasa juga heran dengan Indeks Pembangunan
Manusia di Papua yang sampai saat ini masih saja rendah, meski pemerintah telah mengalokasikan dana
hingga puluhan triliun untuk dua provinsi di Timur Indonesia tersebut. Apalagi, jumlah yang disalurkan
ke Papua adalah tertinggi secara per kapita.

"Seharusnya dana-dana itu cukup," kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa di kantornya, Jalan Wahidin,
Jakarta, Kamis, 29 Juli 2010.

Indeks Pembangunan Manusia merupakan salah satu indikator yang sering digunakan untuk mengukur
kemajuan suatu bangsa. Dengan indeks tersebut, dapat diketahui masyarakat masih terbelakang, miskin
atau sudah maju.

Data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengungkapkan Papua selama ini
memperoleh dana dari pemerintah pusat dala bentuk dana alokasi khusus (DAK), Dana Alokasi Umum
(DAU), Dana Otonomi Khusus, dan Dana Inpres Nomor 5 Tahun 2007 tentang percepatan Pembangunan
Papua dan Papua Barat.

Setiap tahun pemerintah mengganggarkan dana Otsus yang nilainya terus meningkat. Tahun ini dana
Otsus Papua dianggarkan sebesar Rp13,86 triliun atau lebih tinggi dibandingkan 2008 sebesar Rp12,92
triliun. Sementara dana Inpres tahun ini dialokasikan sebesar Rp8,5 triliun.

Hal berbeda dialami di Papua Barat. Dana Otsus Papua Barat tahun ini dialokasikan sebesar Rp4,2 triliun
sedangkan 2009 sebesar Rp4,3 triliun. Sedangkan alokasi dana Inpres tahun ini sebesar Rp5,8 trliun.

Hatta mengatakan melihat kondisi demikian, pemerintah mengaku bakal mengevaluasi terhadap Inpres
tersebut. Dalam Inpres tersebut pemerintah menekakan pada 5 fokus pengembangan yaitu masalah
ketersediaan pangan, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan keberpihakan pada putra/putri Papua di
berbagai aspek.

"Kalau ada keluhan tentu harus cek, apakah dana tepat sasaran ke situ, atau apakah lebih banyak
services atau pembangunan," ujar Hatta.

Pembangunan Papua mendapat sorotan tajam menyusul terus bergolaknya situasi di pulau besar
tersebut. Warga Papua juga masih jauh tertinggal dari propinsi lainnya. Bahkan, berdasarkan data Badan
Pusat Statistik, angka kemiskinan di Papua juga tergolong tertinggi di Indonesia. Menurut BPS, jumlah
penduduk miskin di Papua malah naik dari 37,08 persen pada Maret 2008 menjadi 37,53 persen pada
Maret 2009.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Selama perut orang Papua belum bisa kenyang, maka selama itu pula orang Papua
akan terus minta merdeka,

--------------------------------------------------------------------------------------------------

JAKARTA - Komitmen Australia untuk mengurangi kemiskinan di provinsi Papua dan Papua Barat
semakin diperkuat dengan adanya kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia Greg Moriarty,
dalam rangka pemberian bantuan untuk Papua dan Papua Barat.

Duta Besar Moriarty menyaksikan penandatanganan antara Gubernur Papua Barnabas Suebu, dan
Gubernur Papua Barat Abraham O. Atururi, untuk program baru yang didanai Pemerintah Australia
untuk meningkatkan kesehatan, pendidikan dan infrastruktur.

"Program baru ini menunjukkan komitmen Australia untuk mengurangi kemiskinan di dua provinsi
termiskin di Indonesia," kata Moriarty dalam keterangan pers yang dikirim kepada okezone, Rabu
(4/5/2011).

"Kami bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia, pemerintah daerah dan kabupaten untuk mencapai
perkembangan yang berkelanjutan di Papua dan Papua Barat," kata Mr Moriarty.

Duta Besar mengunjungi rumah sakit Yowari dan pusat kesehatan terdekat, dimana Pemerintah
Australia bekerja untuk meningkatkan perawatan dan pengobatan untuk orang yang hidup dengan HIV /
AIDS.

"Pencegahan HIV dan layanan kesehatan yang memadai bagi mereka yang hidup dengan HIV/AIDS di
Papua dan Papua Barat telah menjadi fokus utama bagi Australia karena kasus HIV yang dilaporkan di
wilayah tersebut berada di atas rata-rata nasional Indonesia," ujar Dubes Moriarty.

Duta Besar juga bertemu dengan guru dan siswa di Sekolah Dasar Maripi yang kini memberikan
pendidikan berkualitas berkat bantuan dari Australia.

"Ada banyak tantangan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Papua dan Papua Barat, dilihat dari
keragaman geografis, kepadatan penduduk yang rendah dan keterpencilan desa," kata Dubes Moriarty.

"Australia senang dapat bekerja sama dengan UNICEF untuk mendukung pendidikan di provinsi-provinsi
ini. Program pendidikan memberi anak-anak di beberapa daerah miskin dan terpencil kesempatan untuk
menerima pendidikan berkualitas," ujar Dubes Moriarty.

Duta Besar juga mengunjungi masyarakat pedesaan untuk melihat karya fasilitator lokal yang didukung
oleh bantuan Pemerintah Australia melalui program PNPM RESPEK. Para fasilitator membantu
masyarakat mengidentifikasi isu-isu prioritas dan membangun infrastruktur dasar seperti jalan,
jembatan dan sumur.

Australia akan menyediakan dana bantuan pembangunan sekitar 17 juta dolar Australia atau sekira
Rp157,7 miliar (Rp9,281 per dolar Australia) untuk kedua provinsi di 2010-2011.


Why Papua is still Poverty?

Di sebuah wilayah yang sangat subur dengan kekayaan alam dan tambang yang luar biasa melimpah,
rakyat Papua hidup dibawah garis kemiskinan,dalam kebodohan dan sangat primitif Meski di tanah
leluhurnya terdapat tambang emas terbesar di dunia, orang Papua khususnya yang tinggal di Mimika,
Pegunungan Bintang,Paniai, dan Puncak jaya pura . tapi sangat sungu naas jaya pura termasut daerah
yang penduduknya menderita kemiskinan. Di artikel ini saya akan mejabar kan data kemiskinan daerah
papua dari tahun 2005 hinga 2010. Menurut data BPS pada tahun 2005 tercatat daerah miskin di papua
sekitar 1.028.2 (ribuan)dan pada tahun 2006 tercatat penduduk yang miskin sekitar 816.7(ribuan), dan
pada tahun 2007 tercatat sekitar 793.4 (ribuan),pada tahun 2008 tercatata sekitar 793.4 (ribuan) dan
pada tahun 2009 sekitar 760.3(ribuan) dan pada trahun 2010 tercatat sekitar 761.6 (ribuan).
Secara teori, berdasarkan faktor penyebabnya kemiskinan bisa dikategorikan dalam dua hal, yakni
kemiskinan Struktural dan kemiskinan Alamiah. Kemiskinan Struktural atau bisa disebut Man made
poverty, adalah kondisi kemiskinan yang lebih disebabkan oleh struktur sosial yang ada yang mencakup
tatanan organisasi dan aturan permainan yang diterapkan. Sedangkan Kemiskinan Alamiah banyak
disebabkan oleh rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan sumberdaya alam.
Man made poverty

Untuk Papua, kemiskinan struktural adalah salah satu faktornya. Pejabat yang korup, terjadinya kolusi,
nepotisme serta diskriminasi. Status otonomi khusus dan otonomi daerah yang diterapkan di Papua
sama sekali tidak membawa dampak signifikan, kecuali hanya memperkaya beberapa pribadi yang
mabuk oleh gelimang lembaran rupiah yang mereka terima (Charisma, ed.des-jan08).

Dan ironisnya seperti yang dinyatakan Annie Numberi-istri Freddy Numberi Menteri Kelautan dan
Perikanan (dikutip dari Charisma), mayoritas yang duduk dalam posisi eksekutif dan legeslatif di Papua
adalah justru para pendeta. Padahal untuk Papua nilai APBD yang dikucurkan adalah terbesar ke dua di
Indonesia. Lalu kemana semua uang tersebut ?

Usaha yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat sudah patut. Lalu bagaimana jajaran pemerintah tingkat
daerah ? Seperti kata Gubernur Papua Barnabas Suebu di Den Haag, Sabtu (27/10), diakui adanya
kesalahan leadership, adanya mismanagement dan penyalah gunaan dana yang sangat besar di tingkat
pemerintah daerah sehingga ia menyebutkan sangat mendesak diwujudkannya good governance yang
melayani rakyat dengan sebaik-baiknya.

Kemiskinan Alamiah

Penyebab dominan dari kemiskinan yang lain adalah kondisi dan kualitas sumberdaya manusia yang
rendah. Bisa dikatakan rakyat Papua sangat primitif, tidak tersentuh peradaban dan tidak mengenal
teknologi. Walaupun alam Papua bagai surga dunia, tetapi dengan sumberdaya manusia yang sangat
rendah mustahil mengangkat kesejahteraan mereka. Dan yang terjadi saat ini adalah penindasan hak
rakyat Papua, perampokan kekayaan dan pembodohan.
Disisi lain, Papua menjadi perhatian dunia, kondisi kelaparan di Yahukimo sengaja di blow-up sebagai
komoditas politik untuk mengusung disintegrasi bagi pihak-pihak yang menginginkan melepaskan diri
dari NKRI. Pemerintah Indonesia dianggap hanya mengeruk kekayaan Papua, gagal menangani
kesejahteraan mereka yang di Papua. Bahkan lebih jauh lagi, pemerintah Indonesia dianggap sebagai
menjajah rakyat Papua.