Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan politik global yang penting barangkali terpenting pad akhir pada abab
ke 20, yakni transisi yang dialami sekitar dari 30 negeri dari sistem politik nondemokrasi ke
sistem politik demokratis yang terjadi antara tahun 1974 dan 1990, serta apa akibatnya yang
langsung.
Awal gelombang ke tiga
Gelombang ke tiga demokratisasi di dunia modern berawal agak tidak masuk akal dan
tidak di sengaja di Lisabon portugal pada hari Kamis, 25 april 1974, jam 00.25 saat sebuah
pemancar radio meyiarkan lagu Grandola Vila Morena siaran itu merupakan aba-aba bagi
satuan militer di Lisbon dan daerah sekitarnya untuk memulai rencana kudeta yang disusun
secara seksama oleh perwira muda yang memipin Moviemento Das forcas Armadas (MFA).
Kudeta ini berhasil dan terlaksana secara efisien, dengan sedikit saja perlawanan dari polisi
keamanan. Satuan satuan militer menduduki gedung-gedung dan kantor-kantor penting,
menjelang siang hari, masa membanjiri jalan-jalan, meyemangati para prajurit, dan
mengalungkan bunga Anyelir pada laras senapan mereka. Menjelang senja Marcello Caetano,
sang diktaktor yang disingkirkan dari kekuasaanya itu, meyerah kepada para pemimpin
portugal yang baru, dan besoknya dia terbang ke tempat pengasingan. Dengan demikian,
tamatlah kediktatoran yang lahir dari kudeta militer serupa di tahun 1926 dan telah dipimpin
selama lebih dari 35 tahun oleh Antonia Salazar, seorang warga sipil yang keras yang
berkolaborasi erat dengan tentara portugal.
Kudeta 25 April itu merupakan merupakan awal yang sangat sulit dipercaya dari suatu
gerakan ke arah demokrasi di seluruh dunia karena kudeta lebih sering menjatuhkan
ketimbang mengantarkan rezim yang Demokratis. Kudeta ini juga merupakan hal yang tidak
disengaja sebuah pemancangan demokrasi, apalagi pemicuan suatu gerakan demokrasi
berskala global, jauh di benak para pemimpin kudeta itu. Berakhirnya pemerintahan diktaktor
tidak menjamin lahirnya demokrasi , namun peristiwa itu telah membebaskan barisan sangat
besar kekuatan publik, sosial, dan politik yang secara efektif telah ditindas semasa
pemerintahan diktaktor itu.





B. Rumusan Masalah
1) Latar belakang sosial dan itelektual Samuel P. Huntington?
2) Mengetahui pemikiran Samuel P. Huntington mengenai demokrasi?
3) Bagaimana proses demokratisasi?
4) Bagaimana ciri Demokratisasi?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari kajian ini adalah :
1. Mengetahui latar belakang sosial dan itelektual Samuel P. Huntington
2. Mengetahui pemikirannya mengenai demokratisasi tentang ciri dan prosesnya
D. Manfaat
Manfaat teoritik
Dari studi ini diharapkan akan mampu mengidentifikasikan pemikiran
Huntington dalam ranah politik kontemporer dan dapat dijadikan kerangka kajian
dalam memetakan pemikiran politik kotemporer.
Manfaat Praktis
a. Studi ini diharapakan akan mampu menambah wawasan keilmuan penulis
khususnya dalam memahami konsepsi pemikiran politik Samuel P.
Huntington
b. Studi ini diharapkan membantu kawan-kawan mahasiswa memahami
pemikiran politik Samuel P. Huntington.














BAB II
BIOGRAFI SAMUEL P. HUNTINGTON

Samuel Phillips Huntington (New York City, 18 April 1927 - Martha's
Vineyard, 24 Desember 2008) adalah seorang ilmuwan politik Amerika Serikat. Ia
adalah Guru Besar sekaligus Ketua Jurusan Ilmu Politik di Universitas Harvard dan
Ketua Harvard Academy untuk Kajian Internasional dan Regional, di Weatherhead
Center for International Affairs.
Pada bulan Januari 2000, Huntington meletakkan jabatannya sebagai direktur
pada Olin nstitute. Selama tahun 1999-2000, ia berkerja untuk meneliti berbagai
perubahan yang menonjol menyangkut persoalan identitas nasional Amerika dan
implikasi-implikasi dari berbagai perubahan ini terhadap peran Amerika di dunia
internasional. Setelah itu, ia mengajar matakuliah dalam bidang kajian, dan mata
kuliah lainnya dalam bidang perbandingan politik dan politik global pasca Perang
Dingin.
Menulis buku The Clash of Civilizations and the Remaking of World
Order (terjemahan Bahasa Indonesia: Benturan Antarperadaban dan Masa Depan
Politik Dunia) yang ditulisnya tahun 1998. Isinya memperkirakan terjadinya
perbenturan antarbudaya, seperti yang kemudian terjadi setelah peristiwa 11
September (pengeboman menara WTC di New York). Berbekal kerangka buku ini
banyak orang melihat perang menumpas terorisme sebagai perbenturan kebudayaan
Barat dan Timur, sesuai kerangka pikir yang dituliskan Huntington. Buku ini
merupakan karya monumentalnya yang menjadi kontroversi dan memicu polemik di
berbagai belahan dunia selama lebih dari tiga tahun.
Bukunya Political Order in Changing Societies yang ditulis tahun 1968, kerap
dilihat sebagai cetak biru model demokratisasi yang mementingkan stabilitas.
Pemikiran ini antara lain kuat memengaruhi model pembangunan politik
di Indonesia dalam era Orde Baru. Bagian lain dari tesis dalam buku itu bahwa
bersama perubahan masyarakat tingkat partisipasi harus juga meningkat, yang perlu
diperhatikan pula oleh para penyusun strategi politik di lapangan.




Bukunya yang kemudian berjudul Culture Matters: How Values Shape Human
Progress, yang disuntingnya bersama Lawrence Harrison, dan telah terbit pada bulan
Mei 2000.
Buku terakhirnya adalah Who Are We? The Challenges to America's National
Identity terbit Mei 2004. Dalam buku ini terutama Huntington menyoroti identitas
Amerika sebagai bangsa pemukim bukan imigran, hal ini berbeda dengan kebanyakan
ahli yang melihat Amerika sebagai budaya imigran yang dicangkokkan dari tanah
leluhurnya. Para pemukim dalam interaksinya harus membentuk identitas sendiri.
Selama tahun-tahun selanjutnya, Huntington tetap memfokuskan dirinya pada
persoalan-persoalan identitas nasional, terutama identitas nasional Amerika.






















BAB III
PEMBAHASAN

A. Definisi Demokrasi
Transisi menuju demokrasi antara tahun 1974 dan 1990 merupakan pokok
bahasan Samuel P. Huntington. Langkah pertama untuk memahami subjek ini kita
harus mengetahui definisi demokrasi dan demokratisasi Samuel P. Huntington.
Konsep demokrasi sebagai bentuk pemerintahan berasal dari para filsuf
yunani akan tetapi pemakaian konsep ini pada zaman modern terjadi sejak
dimulainya pergerakan revolusioner dalam masyarakat barat pada akhir abad ke-18.
Pada pertengahan abad ke-20 dalam perdebatan arti demokrasi muncul 3 pendekatan
umum. Sebagai suatu bentuk pemerintahan, demokrasi telah di definisikan sebagai
sumber wewenang bagi pemerintah, tujuan yang dilayani oleh pemerintah, dan
prosedur untuk membentuk pemerintahan. Dalam sistem pemerintahan yang lain
orang menjadi pemimpin karena asal-usul kelahiran, kemujuran, kekayaan,
kekerasaan, kooptasi, pengetahuan yang dimiliki, penunjukan atau ujian. Prosedur
utama demokrasi adalah pemilihan para pemimpin secara kompetitif oleh rakyat yang
mereka pimpin. Rumusan modern ini dikemukakan oleh Schumpeter pada tahun
1942. Dalam studi perintisnya, Capitalism, Socialism, and Democracy, Schumpeter
menyatakan secara rinci kekurangan dari apa yang distilahkannya teori demokrasi
klasik yang mendefinisikan demokrasi dengan istilah-istilah kehendak rakyat [the
will of the people] (sumber) dan kebaikan bersama [the common good] (tujuan).
Setelah meruntuhkan secara efektif pendekatan itu, Schumpeter apa yang ia namakan
teori lain mengenai demokrasi. metode demokratis katanya adalah prosedur
kelembagaan untuk mencapai keputusan politik yang didalamnya individu
memperoleh keputusan untuk membuat keputusan melalui perjuangan kompetitif
dalam rangka memperoleh suara rakyat.

B. Gelombang demokratisasi
Sistem politik yang demokratis tidak hanya terdapat di zaman modern. Pada
banyak daerah di dunia ini, telah berabad-abad lamanya para pemimpin suku selalu
dipilih dan di beberapa tempat lembaga politik demokratis sudah lama terdapat di
tingkat desa. Di samping itu, konsep demokrasi tentu saja sudah dikenal di zaman




kuno. Tetapi demokrasi orang yunani dan romawi tidak mengikut sertakan wanita
budak, dan sering pula kategori kategori kelompok yang lain seperti penduduk asing,
dalam kehidupan politik.
Demokrasi modern bukanlah sekedar demokrasi desa, suku bangsa, atau
negara-kota: demokrasi modern adalah demokrasi negara kebangsaan dan
kemunculannya berkaitan dengan perkembangan negara-kebangsaan. Dorongan
pertama ke arah demokrasi di barat terjadi pada paruh waktu pertama abad ke-17.
Gagasan-gagasan demokrasi dan gerakan demokrasi merupakan suatu ciri yang
penting, walaupun bukan yang utama, dari revolusi inggris. The fundamental Orders
of Connecticut, yang di setujui oleh warga kota Hartford dan kota-kota yang
berdekatan pad 14 januari 1638, merupakan konstitusi tertulis pertama dari
demokrasi modern.
Sebuah gelombang demokratisasi adalah sekelompok transisi dari rezim-rezim
demokratis, yang terjadi dalam kurun waktu tertentu dan jumlahnya secara signifikan
lebih banyak dari pada transisi menuju arah sebaliknya. Sebuah gelombang biasanya
juga mencakup liberalisasi atau demokratisasi sebagian pada sistem-sistem politik
yang tidak sepenuhnya menjadi demokratis. Tiga gelombang demokratisasi telah
terjadi di masa modern. Masing-masing gelombang itu telah mempengaruhi sejumlah
kecil negeri, dan selama masing-masing gelombang itu beberapa transisi rezim terjadi
ke arah yang tidak demokratis.
Gelombang pertama berakar pada revolusi Perancis dan Revolusi Amerika.
Namun kemunculan lembaga-lembaga demokrasi nasional yang sesunguhnya
merupakan fenomena abad ke-19, dalam abad itu, lembaga demokrasi di sejumlah
besar negeri berkembang secara berangsur-angsur sehingga sulit serta subjektif untuk
meyebut suatu waktu tertentu dimana setelah titik waktu itu sistem politiknya dapat di
angap demokratis. Namun Jonathan Sunshine mengemukakan 2 kriteria utama yang
masuk akal untuk menentukan kapan suatu sistem politik di abad ke-19 sudah
mencapai kualifikasi demokrasi yang minimal dalam konteks abad itu, yakni
1. Lima puluh persen laki-laki dewasa berhak meberikan suara
2. Seorang eksekutif yang bertangung jawab yang harus mempertahankan
dukungan mayoritas dalam suatu perlamen yang terpilih atau dipilih dalam
pemilihan umum berjangka.




Gelombang balik pertama bryce berspekulasi tentang masa depan demokrasi,
kecendrungan demokrasi telah semakin mengecil dan berbalik. Perkembangan politik
yang dominan dalam dasarwarsa 1920 dan 1930 adalah pergeseran menjauhi
demokrasi dan gerakan kembali ke bentuk tradisional pemerintahan otoriter atau
diperkenalkanya bentuk-bentuk baru totaliterisme yang berlangsung pada masa, yang
lebih brutal dan lebih luas. Arus baliknya biasanya terjadi di negeri-negeri yang sudah
berbentuk demokrasi pada masa menjelang Perang Dunia I atau sesudahnya, dimana
bukan hanya demokrasinya yang baru akan tetapi dalam banyak kasus, juga
negerinya. Gelombang di balik pertama berawal pada tahun 1922 dengan ditandai
mars di roma dan dicampakannya demokrasi italia yang rapuh dan agak korup secara
mudah oleh Mussolini. Dalam masa satu dasawarsa lebih sedikit, lembaga demokrasi
yang masih muda di Lithuania, Polandia, Latvia dan Estonia digulingkan oleh kudeta
militer.
Gelombang demokratisasi kedua sebuah gelombang demokratisasi yang pendek
mulai muncul pada masa Perang Dunia II. Pendudukan sekutu mendorong lahirnya
lembaga-lembaga demokrasi di jerman barat, Italia, Austria, Jepang, dan Korea.
Sementara tekanan Soviet mematiakn demokrasi yang baru lahir di Cekoslowakia dan
Hongaria. Pada akhir dasarwarsa 1940 dan awal dasarwarsa 1950 turki dan yunani
bergerak ke arah demokrasi. Di amerika latin, semasa perang dunia itu Uruguay
kembali ke sistem demokrasi pada akhir dasawarsa 1940.
Sementara itu, masa awal berakhirnyta kekuassaan Kolonial Barat
mengahasilkan sejumlah negeri baru. Di banyak negeri itu tidak ada upaya nyata
untuk mengadakan lembaga demokrasi. Di beberapa negri itu demokrasi masih
lemah: di Pakistan, misalnya, lembaga-lembaga demokrasi tidak pernah berpengaruh
dan pada tahun 1958 secara resmi dihapus. Malaysia merdeka pada tahun 1957 dan
mempertahankan pemerintahan kuasi-demokrasi kecuali selama masa
pemerintahan darurat yang pendek tahun 1969-1971. Indonesia memiliki bentuk
demokrasi parlementer yang kacau dari tahun 1950-1957. Di sebagian kecil negri baru
india, Sri Langka, Filipina, Israel lembaga demokrasi bertahan selama sekitar satu
dasarwarsa, dan apada tahun 1960 Nigeria, negeri terbesar di Afrika, memulai
kehidupannya sebagai sebuah negri demokrasi.




Gelombang Balik Kedua menjelang awal dasarwarsa 1960 gelombang kedua
demokrtisasi telah kehabisan tenaga. Menjelang akhir dasarwarsa 1950 perkembangan
politik dan transisi rezim mengambil bentuk yang sangat otoriter. Perubahan saling
dramtis terjadi di Amerika Latin. Pergesaran ke arah otoriterisme dimulai di peru pada
tahun 1962 ketika pihak militer campur tangan untuk mengubah hasil sebuah
pemilahan umum. Tahun berikutnya seorang sipil yang dapat diterima oleh militer
terpilih menjadi prisiden, namun dia digulingkan 1968 secara kudeta militer. Pada
tahun 1964 kudeta militer mengulingkan pemerintah-pemerintah sipil di brasil dan
bolivia. Argetina melakukan hal yang sama pada tahun 1966 dan ekuador, pada tahun
1972. Padda tahun 1973 rezim militer mengambil alih pemerintahan di uruguay dan
cile. Dan menurut sebuah teori militer di brasil, argetina cile serta Uruguay
merupakan contoh suatu sistem politik tipe baru, yaitu otoriterisme birokratis
Gelombang demokrasi ketiga dialetika sejarah kembali menjungkirbalikan
teori ilmu sosial. 15 tahun setelah berakhirnya pemerintahan diktaktor di portugal
pada tahun 1974, pada sekitar 30 negeri di sekitar Eropa, Asia dan Amerika Latin
Rezim-rezim demokrasi mengantikan rezim Otoriter. Di negri lain berlangsung
liberalisasi yang cukup berarti dalam rezim otoriter.di negri lain demokrasi
memperoleh kekuatan dan legimentasi. Gerakan menuju demokrasi, meskipun jelas
ada penolakan dan kemunduran seperti di cina pada tahun 1989, tamapak meyerupai
gelombang pasang global yang hampir tidak tertahankan yang terus bergerak dari satu
kemenangan dari kemenangan berikutnya. Gelombang demokrasi ini pertama kali
menampakan dirinya di Eropa selatan.
Isu-isu demokratisasi mahkamah agung AS meyimak hasil pemeilihan umum
para ilmuan sosial senangtiasa mencoba mengikuti perkembangan sejarah sambil
meyempurnakan teori-teori yang menjelaskan mengapa sesuatu yang telah terjadi
mesti terjadi. Mereka berusaha menjelaskan gerakan yang menjauhi demokrasi pada
dasawarsa 1960 dan 1970. Dengan menujuk pada ketidakcocokan demokrasi bagi
negara-negara miskin, manfaat otoritarisme bagi stabilitas politik dan pertumbuhan
ekonomi dan alasan-alasan mengenai mengapa pembangunan ekonomi itu sendiri
cendrung menghasilakan suatu bentuk Otoritarisme Birokratis yang baru yang lebih
tahan lama.




Apakah isu itu penting? sebagian orang mungkin mengatakan isu itu tidak
penting karena tidak banyak bedanya bagi suatu bangsa atau bagi tetanganya apakah
suatu negeri diperintah secarademokratis atau tidak. Ada kebenaran dari argumen ini
bentuk pemerinathan bukanlah hal penting satu-satunya mengenai suatu negeri, dan
barangkali tidak pula merupakan hal yang paling penting. perbedaan yang jelas antara
ketertiban dan anarki lebih penting daripada perbedaan yang jelas antara demokrasi
dengan kediktatoran.
Pertama demokrasi politik berkaitan erat kebebasan individu. Negara demokrasi
dapat dan pernah melangar hak-hak dan kebebasan individu, dan sebuah negeri
otoriter yang diatur dengan baik boleh jadi memberikan tingkat keamanan dan
ketertiban yang lebih tinggi kepada para warga negaranaya.
Kedua stabilitas politik dan bentuk pemerintahan, sebagaiman telah
dikemukakan merupakan dua variabel yang berbeda namun kedunya salaing
berkaitan. Negara demokartis sering sulit dikendalikan, tetapi secara politik ia jarang
mengunakan kekerasan.
Ketiaga meyebarnya demokrasi berimplikasi dari hubungan internasional.
Sepanjang sejarahnya, negeri-negeri otoriter telah sering melancarkan peperangan
C. Pemikiran Huntington Mengenai Proses Demokratisasi di Negara
Berkembang
Pendefinisian demokrasi Huntington merujuk pada konsep yang dibuat para
Filsuf Yunani, dalam terminologi klasik demokrasi diisentikkan dengan Kehendak
rakyat (the will of the people) sebagai sumber atau legitimasi demokrasi dan kebaikan
bersama 9the common good) sebagai tujuan, namun Schumpeter mencoba
mematahkan teori demokrasi klasik tersebut dengan the another theory of democracy.
Schumpeter mendefinisikan demokrasi lebih sebagais sebuah proses, demokrasi ia
definisikan sebagai prosedur kelembagaan untuk mencapai keputusan poltiik yang di
dalamnya individu memperoleh kekuasaan untuk membuat keputusan melalui
perjuangan kompetitif dalam rangka memperoleh suara rakyat11
Dalam analisis kronologis yang dibuat Huntington, ia mencoba
mendeskripsikan prosesi arus demokratisasi dan arus baliknya12 sebagai berikut :




Gelombang panjang demokratisasi pertama
1828 - 1926
Gelombang balik pertama
1922 1942
Gelombang pendek demokratisasi kedua
1943 1967
Gelombang balik kedua
1958 1975
Gelombang demokratisasi ketiga
1974 - .

Dialektika sejarahlah yang menghendaki prosesi gelombang ketiga demokrasi, titik
awal dari arus gelombang ini menurut Huntington adalah masa setelah tumbangnya
diktator Portugal pada tahun 1974, pasca itu tak kurang dari 30 negara di dunia
mengalami pergantian rezim dari rezim otoriter ke rezim demokratis. Gelombang ini
terutama terjadi di Eropa, Asia dan Amerika Latin.
Gelombang pasang demokrasi ini muncul kepermukaan awalnya di Eropa
Selatan, setelah prosesi kejatuhan rezim militer Portugal berlanjut dengan
tumbangnya rezim militer di Yunani, disusul pula kejatuhan rezim otoriter di Spanyol.
Pada awal 70-an gelombang demokrasi mengarah ke Amerika Latin, dimulai dengan
pengunduran pemimpin militer di Ekuador, hal serupa juga terjadi di Peru, pemimpin
militernya juga mengundurkan diri, hal serupa juga terjadi di Bolivia.
Pada proses selanjutnya arus demokratisasi juga nampak di Asia ditandai
dengan terbentuknya pemerintahan baru di India pada tahun 1977, pada tahun 1983
proses yang sama terjadi di Turki, pemerintahan militer Turki yang merebut tahta
pada tahun 1980 mengundurkan diri, dan pemilihan umum berhadil membentuk
pemerintahan sipil. Kemudian di Asia Tenggara arus demokratisasi terasa di Filipina
dengan tumbangnya rezim16 Marcos.
Pada dasawarsa 80-an arus demokratisasi mengguncang dunia komunis,
dimulai di Honggaria pada 1988 dengan dimulainya proses menuju sistem multipartai,




pada tahun 1989 beberapa pemimpin komunis di Uni Sovyet terkalahkan. Itulah
kajian historis Huntington mengenai arus demokratisasi gelombang ketiga tersebut.
Perbedaan bentuk pemerintahan memiliki urgensi dengan pertimbangan
beberapa alasan ; pertama, demokrasi politik berkaitan erat dengan kebebasan
individu. Kedua, stabilitas politik dan bentuk pemerintahan, sebagaimana telah
dikemukakan, merupakan dua variabel yang berbeda, namun keduanya memiliki
keterkaitan. Ketiga, menyebarnya demokrasi berimplikasi bagi hubungan
internasional.
Huntington dalam bukunya juga memberikan gambaran mengenai strategi
bagi para pejuang demokrasi untuk melakukan proses reformasi sistem otoriter13,
beberapa strategi tersebut adalah :
1. Pejuang demokrasi haruslah mengamankan basis politik.
2. Memeprtahankan legitimasi ke belakang
3. Memiliki strategi yang tepat untuk menghadapi kelompok yang konservatif
4. Sedapat mungkin memegang kendali atas prakarsa politik.
5. Memberi dorongan bagi kelompok-kelompok oposisi yang memiliki
keinginan yang kuat pada proses perubahan
6. Menciptakan kesadaran bahwa demokrasi sebagai sebuah kemutlakan dalam
mencapai keadaan yang lebih baik.

Dalam proses transisi politik negara-negara yang baru saja menuju demokrasi
akan menghadapi beberapa masalah, meliputi; masalah memapankan sistem konstitusi
dan sistem pemilihan yang baru, menyingkirkan kelompok yang anti- prubahan dari
posisi-posisi pemerintahan, mengubah atau mencabut undang-undang yang tidak
relevan dengan arah demokrasi, mengubah sistem yang ada di lembaga-lembaga yang
sedianya menjadi penopang kekuasaan otoriter, seperti polisi rahasia dan militer. Hal-
hal di atas dikelompokkan dalam masalah-masalah kelompok pertama, untuk
masalah-masalah kelompok kedua adalah masalah kontekstual, permasalahan ini
menyangkut watak, mentalitas warga masayrakat, kondisi perekonomian, kondisi
kultural dan realitas historis14, banyak aspek dari kondisi di atas pada negara-negara
tententu tidak mendukung proses demokrasi, seperti di Indoensia, realitas historis




menunjukkan Indonesia memiliki akar sejarah dan budaya yang feodalistik, hingga
akan ikut mempengaruhi proses transisi menuju demokrasi.
Penjelasan gelombang
gelombang demokrasi dan gelombang balik merupakan manifestasi dari suatu
fenomena politik yang lebih umum. Dalam sejarah, peristiwa serupa kadang terjadi
secara simultan di negeri-negeri atau sistem politik yang berbeda. Gelombang panjang
demokrasi pada abad ke-19 meyebar selama waktu yang cukup lama sehingga
gelombang itu dapat dibedakan secar signifikan dengan gelombang demokrasi dan
gelombang balik yang terjadi demikian. Ada 4 faktor yang menelaskan gelombang
semacam ini terjadi.
Peyebab tunggal
Perkembangan yang pararel
Efek bola salju
Nostrum yang paling luas digunakan.
Merosotnya legimentasi dan dilema kinerja
Legimentasi adalah konsep yang sarat emosi yang berusaha dihindari oleh
analisis para politik namun konsep ini penting untuk memahami masalah yang
dihadapi rezim otoriter pada akhir abad ke-20. Pada zaman dulu tradisi agama, hak
raja yang diangap berasal dari dewa atau tuhan, dan rassa hormat masyarakat
merupakan sumber legimentasi bagi pemrintahan yang non demokratis. Masalah
legimentasi yang dihadapi rezim otoriter berbeda-beda menurut ciri rezim tersebut
sistem satu partai yang merupakan suatu produk perkembangaan politik pribumi,
seperti di negeri-negri komunis revolusioner , meksiko, dan republik cina(taiwan),
memiliki landasan legimentasi yang lebih kokoh. Idealisme dan nasionalisme dapat
dipakai secara bersama sebagi alat kontorl untuk meyangga rezim tersebut.
Kalau faktor-faktor lain tetap, legimentasi kebayakan rezim lama kelamaan
menurun manakala berbagai alternatif telah dipilih, janji-janji tidak terealisasi, dan
frustasi berkembang.pada beberapa kasus rezim otoriter benar-benar membangun
mekanisme untuk pergantian pimpinan tertingginya secara teratur dan dengan
demikian sekurang-kurangnya mengadakan pembaharuan yang terbatas. Pda




umumnya maslah legimentasi rezim militer dan sisitem dikatator perorangan pada
tahun 1970-an, khusunya yang diciptakan selama gelombang balik kedua,
berkembang perlahan melalui tiga fase.pergatian rezim demokratis oleh rezim otoriter
disambut gembira oleh publik dengan perasaan yang sangat lega dan persetujauan
yang sangat jelas. Tidak dapat dihindari bahwa kekuatan legimetasi negatif semakin
lama semakin berkurang. Rezim otoriter pda tahun 1960an dan 1970-an nyaris
terpaksa menoleh pada kinerja sebagai salah satu, kalau bukan satu-satunya sumber
utama legimentasi. Dalam beberapa kasus,seperti Peru dan Filipina, para pemeipin
rezim otoriter menjanjikan reformasi ekonomi dan sosial dalam sebagian besar
mereka menjanjikan pertumbuhan dan pembanguanan ekonomi. Namun usaha untuk
mencapai usaha kinerja tersebut menimbulkan apa yang disebut dilema. Melojaknya
minya pada tahu 1973-1974 memicu resesi ekonomi global. Dengan sedikit sekali
kekkecualian, kebijakan yang diamabil pemerintah otoriter dalam menhadapi krisis
minyak dan hutang, sering memperburuk situasi ekonomi, menimbulkan stagnasi,
despresi, inflasi laju pertumbuhan yang rendah atau negatif, bertambah nya jumlah
hutang, atau kombinasi dari kondisi-kondisi ini, sehungga memperlemah lagi
legimentasi rezim itu.Rezim komuni scendrun terlindung dari lonjakan harga minyak
dan perkembangan yang lain dalam perekonomian dunia, meskipun Polandia dan
Hongaria ternyata menangung beban hutang yang cukup besar.
Perkembangan ekonomi dan krisis ekonomi
Hubungan antara perkembangan ekonomi dari satu pihak dengan demokrasi
dan demokratisasi di alain puhak adalah kopleks dan barangkali berbeda-beda menurt
waktu dan tempatnya. Faktor ekonomi mempunyai dampak yang signifikan terhadap
demokrasi yang tidak menentukan. Pada umunya ada korelasi antara tingkat
pembanguan ekonomi dan demokrasi, namun tingakat atau pola perkembangan itu
saja tidak mesti atau tidak memadai mewujudkan demokrasi.dalam jangka panjang
perkembangan ekonomi menciptakan landasan bagi rezim demokratis. Dalam jangka
pendek, pertumbuhan ekonomi sangat cepat dan krisis ekonomi dapat melemahkan
rezim otoriter. Apabila perumbuhan ekonomi berlangsung tanpa krisis ekonomi ,
maka demokrasi berkembang perlahan, seperti yang terjadi di eropa pada abad-19.
Apabila pertumbuhan yang menggoncang atau krisis ekonomi terjadi tanpa mencapai
kemakmuran pada zona transisi, maka rezim otoriter mungkin tumbang, tetapi tidak
pasti apakah mereka akan digantikan oleh rezim demokratis yang dpat bertahan lama.




Pada gelombang ketiga gabungan tingkat perkembangaanekonomi yang cukup tinggi
dan krisis ekonomi jangka pendek atau kegagalan ekonomi merupakan rumusan
ekonomi yang paling mendukung bagi transisi sistem pemerintahan otoriter ke sistem
pemerintahan demokratis.
Perubahan keagamaan
Ada dua perkembangan dalam agama yang telah mendorong demokratisasi
pada dasawarsa 1970 dan 1980. Ada korelasi tinggi antara agama kristen barat dengan
demokrasi. Demokrasi modern mula berkembang di negeri kristen dan tumbuh paling
pesat disana. Di tahun 1988 agama katolik dan protestan merupakan agama yang
dominan disana. Korelasi tidak membuktikan adnya sebab akibat, namun agama
kristen barat menekankan pada martabat individu dan pemisahan antara gereja dan
negara.agama kristen menawarkan suatu landasan doktrin dan kelembagaan yang
lebih meyakinkan untuk melawan respresi politik.
Singkat kata, kalau saja tidak terjadi perubahan pada perubahan gereja katolik
dan aksi gereja menentang otoratarianisme yang di akibatkannya, maka transisi
menuju gelombang demokrasi ketiga akan lebih sedikit terjadi dan banyak trasisi yang
terjadi akan terjadi lebih kemudian. Di berbagai negri pilihan antara demokrasi dan
otoriterisme difersonifikasikan dalam konflik antara sang kardinal dengan sang
dictator. Sebagai kekuatan yang berpengaruh luas bagi terjadinya demokratisasi pada
dasawarsa 1970 dan 1980, agama katolik berada di urusan kedua setelah
perkembangan ekonomi.
Perkembangan ekonomi
Para teoritikus abad-18 berpendapat bahwa negeri kaya cendrung berbentuk
kerajaan, sedangkan negeri miskin cedrung berbentuk republik atau demokrasi. Untuk
masyarakat agraris hipotesis ini memang masuk akal. Namun industrialisasi
menjungkirbalikan hubungan antara tingkat kemakmuran dengan bentuk
pemerintahan, dan pada abad ke-19 muncul suatu korelasi positif antara kemakmuran
dengan demokrasi. Korelasi ini mengimplikasikan bahwa transisi menuju demokrasi
terutama terjadi di negeri-negeri yang berada pada tingkat perkembangan ekonomi
yang sedang, demokrasi tak mungkin terjadi di negara yang miskin, sedangkan di
negara kaya proses ini sudah terjadi.




Kebijakan baru sebagai pelaku eksternal
Demokratisasi di suatu negeri mungkin dipengaruhi, atau barangkali
ditentukan, oleh tindakan pemerintah dan lembaga yang berada di luar negeri itu,
seprti yang dikatakan Roberth dall, pada 15 negeri dan 29 negeri demokratis di tahunh
1970, pembentukan rezim demikratisasi yang pertama terjadi selama masa penjajahan
asing atau ketika negeri itu merdeka, jelaslah bahwa pelaku asing boleh jadi juga
mengulinkan rezim demokratis atau mencegah negeri yang senantiasa sudah menjadi
demokrasi untuk mewujudkan demokrasi.
Efek demontrasi atau efek bola salju
Faktor kelima yang ikut mendorong terjadinya gelombang ketiga disebut
dengan istilah yang berbeda yaitu efek demonstrasi, penularan,disfusi, emulasi,efek
bola salju, atau barangkali efek domino. Demokratisasi yang sukses terjadi di suatu
negeri dan hal ini kemudian mendorong demokratisasi di negar lain, baik karena
negeri itu menghadapi maslah yang sama, atau karena demokratisasi yang sukses di
tempat lain yang mengesankan bahwa dapat menjadi obat bagi semua masalah yang
mereka hadapi, karena negeri yang telah mengalami demokratisasi menjadi kuat dan
dipandang sebagai sebuah model dan budaya politik.
C. BAGAIMANA CIRI DEMOKRATISASI
Cara negeri-negeri beralih ke demokrasi berbeda-beda, namun disamping
perbedaan, transformasi , replacement dan transplacement gelombang ketiga juga
memiliki ciri-ciri penting yang sama. Bagaimana cara mewujudkannya? demokrasi
diciptakan dengan cara demokratis. Tak ada cara lain melalui perundingan,
kompromi, dan perjanjian.. demokrasi diciptakan melalui demonstrasi, kampaye dan
pemilihan umum., serta penyelesain perbedaan tanpa kekerasan. Demokrasi di
wujudkan oleh para pemimpin politik didalam pemerintahan dan oposisi yang
memiliki keberanian menentang status quo maupun mengorbankan kepentingan
langsung para pengikutnya demi kebutuhan jangka panjang demokrasi. Demokrasi
diciptakan oleh para pemimpin, pemerintah maupun oposisi, yang dapat menahan diri
sehingga tidak terpancing untuk menggunakan kekerasan terhadap kelompok radikal
di pihak oposisi dan kelompok konservatif di pemerintahan.





BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan latar belakang intelektual, Samuel P. Huntington dapat dikatakan
sebagai pemikir yang memiliki kecukupan pengalamannya berkutat dengan analisis
teoritik dan evaluasi teoritis telah cukup teruji, berbagai unit riset. Di berbagai
universitas terkemuka di Amerika Serikat dan Eropa telah mengindikasikan bahwa
Huntington termasuk pemikir politik yang memiliki dedikasi tinggi bagi
pengembangan ilmu politik. Tidak hanya itu Huntington juga termasuk sebagai aktor
dalam berbagai kebijakan politik pertahanan dan politik luar negeri di Amerika
Serikat, mengingat statusnya sebagai penasehat dan staf pada dewan keamanan
nasional Amerika Serikat.
Karya-karya Huntington telah beredar di hampir seluruh negara, bahkan
bukunya yang terakhir the Clash of Civilizations and Remaking of World Order telah
diterjemahkan dalam 22 bahasa, ini merupakan indikator bahwa pemikiran politiknya
telah dengan luas menjadi bahan referensi dalam ilmu poltiik.
Oleh sebagian pengamat karya-karya Huntington dipilah dalam tiga
kelompok besar, pertama karya-karyanya mengenai strategi dan politik militer dan
pertahanan, kemudian kelompok karya mengenai perbandingan politik dan politik
dalam negeri Amerika Serikat dan terakhir kelompok karyanya mengenai Buku-buku
dalam bidang pembangunan politik dan perkembangan politik di negara dunia ketiga.
Pemikiran politik Huntington mengenai perbandingan politik akan
tergambar dalam bukunya terakhir The Clash of Civilizations and Remaking of world
Order. Ia menggambarkan dunia yang tengah berkontraksi menemukan titik
keseimbangan baru setelah berakhirnya perang dingin antara Amerika Serikat dengan
ideologi kapitalis dan Uni Sovyet dengan ideologi komunis.
Pemikiran politik Huntington akan dapat dijumpai dalam karyanya Political
Order in Changing Societiesdan The Third wave: Democratization in the Late
Twenteith Centurykedua buku tersebut telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia
dengan judul Tertib Politik di dalam Masyarakat yang Sedang Berubah dan
Gelombang Demokratisasi Ketiga, dalam buku Tertib Politik, Huntington mencoba




mengurai mengenai berbagai aspek politik di negara yang masayrakatnya tengah
bertransisi dari kondisi yang tradisional menuju kondisi yang modern, kemudian
proses modernisasi ini menurut Huntington memiliki implikasi yang luas atas
konstruksi politik, terutama menyangkut partisipasi politik dan pelembagaan institusi
politik.
Kemudian dalam buku mengenai demokratisasi Gelombang ketiga,
Huntington, melakukan telaah historis atas kondisi politik dalam negeri di beberapa
negara, terutama di Asia, Amerika latin Afrika, ia menangkap bahwa proses
demokratisasi yang bermula pada tahun 1828 dan memasuki fase ketiga pada tahun
1974 hingga sekarang, ia melihat proses ini sebagai bentuk arus demokratisasi yang
melanda dunia secara luas dan mengakibatkan berjatuhannya rezim pemerintahan
otoriter dan tergantikan rezim yang demokratis.

Anda mungkin juga menyukai