Anda di halaman 1dari 20

Etika Bisnis dan Profesi

Pembahasan Kasus Kartu Merah Buat 10 Kap Papan Atas dan


Pembahasan Kasus PT. Great River International Tbk









Oleh :
Satria Manda Sari 22 2011 048
Tri Septi Wulandari 22 2011 065
Meriza Agustia 22 2011 087

Dosen Pembimbing :
Betri Sirajuddin,SE.,Ak.CA




FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2014
Soal Kasus Etika Profesi Halaman 170 Tentang Kartu Merah Buat 10
Kap Papan Atas
1. Coba Anda identifikasi, pelanggaran prinsip etika apa saja yang dilakukan oleh 10 kap
tersebut, serta jelaskan alasannya!
2. Menurut anda, apakah fungsi BPKP? Apa perbedaan BPKP dengan BPK dilihat dari
fungsinya?
3. Coba anda cari dan pelajari mekanisme dari badan peradilan profesi yang ada dibawah
organisasi IAI!
4. Bagaimana pendapat anda tentang kontroversi putusan yang telah diambil oleh BP2AP
terhadap 10 KAP dihadapkan dengan keberatan yang disampaikan oleh Direktur
Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai DJLK Depkeu kepada ketua MK IAI?













Pembahasan Kasus Etika Profesi Halaman 170 Tentang Kartu Merah
Buat 10 Kap Papan Atas
1. Pelanggaran yang dilakukan oleh 10 KAP tersebut yaitu :
1. Pelanggaran yang dilakukan oleh Andi Iskandar dan rekan
Transparansi serta kejujuran dalam pengelolaan lembaga yang merupakan salah
satu derivasi amanah reformasi ternyata belum sepenuhnya dilaksanakan oleh salah
satu badan usaha milik negara, yakni PT Kereta Api Indonesia. Dalam laporan
kinerja keuangan tahunan yang diterbitkannya pada tahun 2005, ia mengumumkan
bahwa keuntungan sebesar Rp. 6,90 milyar telah diraihnya. Padahal, apabila
dicermati, sebenarnya ia harus dinyatakan menderita kerugian sebesar Rp. 63
milyar.
Kerugian ini terjadi karena PT Kereta Api Indonesia telah tiga tahun tidak dapat
menagih pajak pihak ketiga. Tetapi, dalam laporan keuangan itu, pajak pihak
ketiga dinyatakan sebagai pendapatan. Padahal, berdasarkan standar akuntansi
keuangan, ia tidak dapat dikelompokkan dalam bentuk pendapatan atau asset.
Dengan demikian, kekeliruan dalam pencatatan transaksi atau perubahan keuangan
telah terjadi di sini.
Di lain pihak, PT Kereta Api Indonesia memandang bahwa kekeliruan pencatatan
tersebut hanya terjadi karena perbedaan persepsi mengenai pencatatan piutang
yang tidak tertagih. Terdapat pihak yang menilai bahwa piutang pada pihak ketiga
yang tidak tertagih itu bukan pendapatan. Sehingga, sebagai konsekuensinya PT
Kereta Api Indonesia seharusnya mengakui menderita kerugian sebesar Rp. 63
milyar. Sebaliknya, ada pula pihak lain yang berpendapat bahwa piutang yang
tidak tertagih tetap dapat dimasukkan sebagai pendapatan PT Kereta Api Indonesia
sehingga keuntungan sebesar Rp. 6,90 milyar dapat diraih pada tahun tersebut.
Diduga, manipulasi laporan keuangan PT Kereta Api Indonesia telah terjadi pada
tahun-tahun sebelumnya. Sehingga, akumulasi permasalahan terjadi disini.

2. Pelanggaran yang dilakukan oleh Hans Tuanakotta dan rekan
Pelanggaran yang telah dilakukan oleh KAP Hans Tuanakotta and Mustofa
(Deloitte Touche Tohmatsu's affiliate) adalah melanggar prinsip dasar etika
profesi akuntan, terutama integritas, objektivitas, dan perilaku
profesional. Akuntan publik Hans Tuanakotta & Mustofa ikut bersalah dalam
manipulasi laporan keuangan, karena sebagai auditor independen akuntan publik
Hans Tuanakotta & Mustofa (HTM) seharusnya mengetahui laporan-laporan yang
diauditnya itu apakah berdasarkan laporan fiktif atau tidak.Juga Sdr. Ludovicus
Sensi W sebagai rekan kerjanya. Untuk kasus PT. Kimia Farma, Direksi lama dan
pihak manajemen yang melakukan pelanggaran. Risiko ini berdampak pada
reputasi HTM dimata pemerintah ataupun publik, dan pada akhirnya HTM harus
menghadapi konsekuensi risiko seperti hilangnya kepercayaan publik dan
pemerintah akan kemampuan HTM, penurunan pendapatan jasa audit, hingga yang
terburuk adalah kemungkinan ditutupnya Kantor Akuntan Publik tersebut. Diluar
risiko bisnis, risiko etika yang dihadapi KAP HTM ini cenderung pada
kemungkinan dilakukannya kolaborasi dengan manajemen Kimia Farma dalam
manipulasi laporan keuangan.Walaupun secara fakta KAP HTM terbukti tidak
terlibat dalam kasus manipulasi tersebut, namun hal ini bisa saja terjadi.
Tindakan pemerintah dilakukan dimulai dari Bapepam (Badan Pengawas Pasar
Modal) yang melakukan pemeriksaan laporan keuangan dan menemukan kesalahan
yang terjadi. Lalu ditindaklanjuti oleh BP2AP (Badan Peradilan Profesi Akuntan
Publik) yaitu lembaga non pemerintah yang dibentuk oleh Ikatan Akuntan
Indonesa (IAI) dan pemberian sanksi administratif berupa denda, peringatan
tertulis, pembekuan izin usaha, atau pencabutan izin usaha. Tindakan yang
dilakukan oleh HTM melanggar UU nomor 5 tahun 2011 tentang akuntan publik
(Pasal 55 dan Pasal 56).

3. Pelanggaran yang dilakukan oleh Hendra Winata dan rekan
Kesalahan yang dilakukan akuntan publik dalam kasus di atas adalah kesalahan
dalam proses audit. Hal ini sangat memprihatinkan karena kesalahan yang
dilakukan oleh empat akuntan publik tersebut sangat mendasar.Kesalahan akuntan
publik tersebut tidak mencerminkan Prinsip-prinsip etika profesi yang tertuang
dalam Kode Etik Umum Akuntan Indonesia.Para akuntan tersebut tidak
berkompeten, tidak professional dan tidak bisa menjalankan maupun mematuhi
standar teknis yang ditetapkan.Dikatakan tidak berkompeten karena akuntan
terebut tidak memiliki kompetensi dan ketekunan serta tidak mempertahankan
pengetahuan dan keterampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk
memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa
profesionalnya yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi dan
teknik yang paling mutakhir.Akuntan tersebut juga tidak professional karena tidak
berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan gagal menjauhi
tindakan yang dapat mendiskriditkan profesi.Terakhir, akuntan tersebut tidak
sesuai dengan Standar teknis, yaitu setiap anggota harus melaksanakan jasa
profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional yang
relevan.Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati.
4. Pelanggaran yang dilakukan oleh JohanMalonda dan rekan
Melakukan pelanggaran dengan memanipulasi yang berkaitan dengan laporan audit
atas laporan keuangan konsolidasi PT Great River International Tbk tahun 2003.
Karena menurut BAPEPAM terdapat indikasi penipuan dalam penyajian laporan
keuangan. Pasalnya, Bapepam menemukan kelebihan pencatatan penyajian akun
penjualan dan piutang dalam laporan tersebut. Kelebihan itu berupa penambahan
asset tetap dan penggunaan dana hasil emisi obligasi yang tanpa pembuktian.
Akibatnya Great River mengalami kesulitan arus kas.Perusahaan ini tidak mampu
mebayar utang Rp. 250 Milyar kepada Bank Mandiri dan gagal membayar obligasi
senilai Rp. 300 Milyar.

5. Pelanggaran yang dilkukan oleh Prasetio Utomo dan rekan
Enron dan KAP Prasetio Utomosudah melanggar kode etik yang seharusnya
menjadi pedoman dalam melaksanakan tugasnya dan bukan untuk dilanggar.
Mungkin saja pelanggaran tersebut awalnya mendatangkan keuntungan bagi
Enron, tetapi akhirnya dapat menjatuhkan kredibilitas bahkan menghancurkan
Enron dan KAP Prasetio Utomo.Dalam kasus ini, KAP yang seharusnya bisa
bersikap independen tidak dilakukan oleh KAP Arthur Prasetio Utomo. Karena
perbuatan mereka inilah, kedua-duanya menuai kehancuran dimana Enron
bangkrut dengan meninggalkan hutang milyaran dolar sedangakn KAP Prasetio
Utomo sendiri kehilangan keindependensiannya dan kepercayaan dari masyarakat
terhadap KAP tersebut, juga berdampak pada karyawan yang bekerja di KAP
Prasetio Utomo dimana mereka menjadi sulit untuk mendapatkan pekerjaan akibat
kasus ini.


6. Pelanggaran yang dilakukan oleh Robert Yogi
Kasus yang terjadi adalah penyimpangan yang dilakukan oleh Bank Century
terhadap laporan keuangan yang dikeluarkan. Laporan keuangan yang dikeluarkan
Bank Century yang dianggap menyesatkan ternyata banyak sekali terjadi kesalahan
yang material.Disini peran auditor sangat dibutuhkan untuk memeriksa laporan
keuangan tersebut. Hasil audit BPK tentang century dianggap menyesatkan antara
lain dikarenakan audit investigasi Badan Pemeriksaan Keuangan memuat dosa
LPS (lembaga penjamin simpanan) yang belum secara resmi menetapkan
perhitungan perkiraan biaya penanganan Bank Century secara keseluruhan. Hal
tersebut dapat muncul karena adanya penghilangan informasi fakta material, atau
adanya pernyataan material yang salah, dan dapat menyebabkan ketidaktepatan
opini yang diberikan oleh akuntan publik karena banyak ditemukan kesalahan yang
material oleh auditor pada saat melakukan pemeriksaan laporan
keuangan.Sehingga, auditor tersebut sulit untuk menemukan bukti-bukti yang rill
dan sulit untuk menerbitkan jenis opini pada Bank Century tersebut.

7. Pelanggaran yang dilakukan oleh Salaki dan salaki
Keterlibatan 10 KAP di Indonesia dalam praktik kecurangan Keuangan. KAP-KAP
tersebut ditunjuk untuk mengaudit 37 bank sebelum terjadinya krisis keuangan
pada tahun 1997. Hasil audit mengungkapkan bahwa laporan Keuangan bank-bank
tersebut sehat. Saat krisis menerpa Indonesia, bank-bank tersebut kolaps karena
kinerja keuangannya sangat buruk.Ternyata baru terungkap dalam investigasi yang
dilakukan pemerintah bahwa KAP-KAP tersebut terlibat dalam praktik kecurangan
akuntansi. 10 KAP yang dituduh melakukan praktik kecurangan akuntansi adalah
Hans Tuanakotta and Mustofa (Deloitte Touche Tohmatsu's affiliate), Johan
Malonda and Partners (NEXIA International's affiliate), Hendrawinata and Partners
(Grant Thornton International's affiliate), Prasetyo Utomo and Partners (Arthur
Andersen's affiliate), RB Tanubrata and Partners, Salaki and Salaki, Andi Iskandar
and Partners, Hadi Sutanto (menyatakantidak bersalah), S. Darmawan and Partners,
Robert Yogi and Partners.

8. Pelanggaran yang dilakukan oleh S.Darmawan dan rekan
Kasus yang terjadi adalah penyimpangan yang dilakukan oleh Bank Century
terhadap laporan keuangan yang dikeluarkan. Laporan keuangan yang dikeluarkan
Bank Century yang dianggap menyesatkan ternyata banyak sekali terjadi kesalahan
yang material.Disini peran auditor sangat dibutuhkan untuk memeriksa laporan
keuangan tersebut. Hasil audit BPK tentang century dianggap menyesatkan antara
lain dikarenakan audit investigasi Badan Pemeriksaan Keuangan memuat dosa
LPS (lembaga penjamin simpanan) yang belum secara resmi menetapkan
perhitungan perkiraan biaya penanganan Bank Century secara keseluruhan. Hal
tersebut dapat muncul karena adanya penghilangan informasi fakta material, atau
adanya pernyataan material yang salah, dan dapat menyebabkan ketidaktepatan
opini yang diberikan oleh akuntan publik karena banyak ditemukan kesalahan yang
material oleh auditor pada saat melakukan pemeriksaan laporan
keuangan.Sehingga, auditor tersebut sulit untuk menemukan bukti-bukti yang rill
dan sulit untuk menerbitkan jenis opini pda Bank Century tersebut.

9. Pelanggaran yang dilakukan oleh RB Tanubrata dan rekan
Keterlibatan 10 KAP di Indonesia dalam praktik kecurangan Keuangan. KAP-KAP
tersebut ditunjuk untuk mengaudit 37 bank sebelum terjadinya krisis keuangan
pada tahun 1997. Hasil audit mengungkapkan bahwa laporan Keuangan bank-bank
tersebut sehat. Saat krisis menerpa Indonesia, bank-bank tersebut kolaps karena
kinerja keuangannya sangat buruk.Ternyata baru terungkap dalam investigasi yang
dilakukan pemerintah bahwa KAP-KAP tersebut terlibat dalam praktik kecurangan
akuntansi. 10 KAP yang dituduh melakukan praktik kecurangan akuntansi adalah
Hans Tuanakotta and Mustofa (Deloitte Touche Tohmatsu's affiliate), Johan
Malonda and Partners (NEXIA International's affiliate), Hendrawinata and Partners
(Grant Thornton International's affiliate), Prasetyo Utomo and Partners (Arthur
Andersen's affiliate), RB Tanubrata and Partners, Salaki and Salaki, Andi Iskandar
and Partners, Hadi Sutanto (menyatakantidak bersalah), S. Darmawan and Partners,
Robert Yogi and Partners.

10. Pelanggaran yang dilakukan oleh Hadi Susanto
Hadi Sutanto & Rekan yang mengaudit Laporan Keuangan PT. Telkomsel Tahun
Buku 2002- tidak bersedia terasosiasi dengan pekerjaan audit KAP Eddy Pianto
untuk menghindari risiko yang dapat merugikan jika terasosiasi dengan pekerjaan
audit KAP Eddy Pianto dan menolak hasil auditnya untuk diacu dalam pekerjaan
audit KAP Eddy Pianto dalam Form 20-F PT. Telkom karena karena keraguan
kelayakan hak berpraktek KAP Eddy Pianto dihadapan US SEC. Kejadian ini
dianggap melanggar kode etik karena KAP Drs. Hadi Sutanto & Rekan tidak
memiliki kewenangan untuk menilai kualifikasi KAP lainnya (Eddy Pianto) untuk
berpraktek di hadapan US SEC.
Tindakan KAP Drs. Hadi Sutanto & Rekan menyebabkan persaingan tidak sehat
berupa menyebabkan competitive harm dan consumer harm. Bagi KAP Eddy
Pianto, yaitu menimbulkan pernilaian bahwa KAP Eddy Pianto tidak dapat
menyelesaikan dan tidak mampu melakukan pekerjaan audit terhadap Laporan
Keuangan PT. Telkom tersebut. Penilaian tersebut berakibat menurunkan reputasi
KAP second layer (KAP Eddy Pianto) pada umumnya di mata perusahaan
pengguna jasa audit first layer (Drs. Hadi Sutanto & Rekan), sehingga pilihan
perusahaan pengguna jasa audit first layer tetap terkonsentrasi pada KAP first
layer. Hal ini jelas menggambarkan persaingan yang tidak sehat antar KAP.
Kejadian tersebut tidak hanya merugikan KAP Eddy Pianto tapi juga merugikan
PT. Telkom, sebagai pengguna jasa audit terpaksa harus mengeluarkan tambahan
waktu, tenaga, dan biaya yang seharusnya tidak perlu dikeluarkan bila proses
pelaksanaan audit berjalan normal. Kejadian diatas hanya salah satu contoh
pelanggaran kode etik dalam dunia akuntan. Dalam menghadapi keadaan seperti
ini, akuntan perlu untuk terus berpegang pada kode etik profesi akuntan dan bila
kode etik tidak dapat memberikan pengarahan yang jelas maka akuntan harus
kembali pada etika dan nilai-nilai yang Ia percayai.

2. BPKP menyelenggarakan fungsi :
pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang pengawasan
keuangan dan pembangunan;
perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengawasan keuangan dan
pembangunan;
koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas BPKP;
pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan terhadap kegiatan
pengawasan keuangan dan pembangunan;
penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang
perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan tatalaksana, kepegawaian,
keuangan, kearsipan, hukum, persandian, perlengkapan dan rumah tangga.
Perbedaan BPKP dan BPK :
BPKP merupakan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) yang
bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan berwenang melakukan pengawasan
intern terhadap akuntabilitas keuangan negara atas kegiatan tertentu yang meliputi:
kegiatan yang bersifat lintas sektoral
kegiatan kebendaharaan umum negara berdasarkan penetapan oleh Menteri
Keuangan selaku Bendahara Umum Negara
kegiatan lain berdasarkan penugasan dari Presiden.
Jadi ranah pengawasan pelaksanaan pemerintahan yang menjadi tugas dan
wewenang BPKP hanya pada kegiatan lintas sektoral dan kebendaharaan umum
Negara terlepas dari berdasarkan penugasan dari Presiden.Artinya, salah apabila
BPKP masuk kedalam lembaga-lembaga Negara apalagi mengusulkan pelaksanaan
pemeriksaan atas lembaga-lembaga tersebut.
Sedangkan BPK adalah lembaga negara yang bertugas untuk memeriksa
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Berdasarkan pasal 6, BPK memiliki tugas memeriksa pengelolaan dan
tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah
Daerah, Lembaga Negara lainnya, Bank Indonesia, Badan Usaha Milik Negara, Badan
Layanan Umum, Badan Usaha Milik Daerah, dan lembaga atau badan lain yang
mengelola keuangan negara. Dengan demikian jelas bahwa fungsi pemeriksaan
terhadap entitas/lembaga-lembaga Negara ada pada tugas dan kewenangan BPK.Salah
satunya adalah fungsi pemeriksaan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

3. Badan peradilan di bawah IAI :
Kantor Akuntan Publik
Ketaatan terhadap kode etik adalah tanggung jawab pimpinan KAP dimana
anggota itu bekerja.Managing partner dan partner serta manager KAP
melaksanakan pengawasan terhadap ditaatinya perilaku ini.

Unit Peer Review Kompartemen Akuntan Publik IAI
Di lingkungan Kompartemen Akuntan Publik, usaha pengawasan ini diwujudkan
dalam bentuk "Peer Review" yang penyelenggaraannya dilaksanakan oleh Seksi
Pengendalian Mutu di lingkungan kepengurusan IAI di Kompartemen tersebut.
Pengawasan oleh Unit Peer Review yang khusus dibentuk untuk mengawasi
sesama KAP sampai saat ini belum pernah terlaksana.

Badan Pengawas Profesi Kompartemen Akuntan Publik IAI
Badan ini merupakan unit organisasi yang melaksanakan peradilan pada tingkat
pertama terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh anggota IAI
kompartemen akuntan pendidik.

Dewan Pertimbangan Profesi IAI
Dewan ini berfungsi sebagai peradilan tingkat banding untuk kasus-kasus yang
telah diputuskan hukumnya berdasar keputusan pada tingkat Badan Pengawas
Profesi. Dewan ini melaksanakan peradilan untuk kasus-kasus pelanggaran
lainnya yang tidak berkaitan dengan akuntan publik.

Departemen Keuangan RI
Yaitu Direktorat Jendral Lembaga Keuangan, misalnya Direktorat Pembinaan
Akuntan dan Jasa Penilai. Ia sebagai pemberi ijin praktek Akuntan Publik.
Pengawasan yang dilakukannya pada umumnya untuk menilai apakah KAP yang
diberi ijin telah melaksanakan ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan
keputusan Menteri Keuangan tentang perijinan pembukaan KAP (SK Menkeu
43/KMK 017/1997) tanggal 27 Januari 1997 tentang jasa akuntan publik.

BPKP
Berdasarkan Keppres 31/th 1983, wewenangnya adalah melaksanakan pengawa
san terhadap KAP. Dalam melaksanakan tugasnya, BPKP melakukan evaluasi
tentang kepatuhan KAP terhadap perizinan yang diberikan dan terhadap
pelaksanaan tugas profesional akuntan publik.
Selain keenam unit organisasi tadi, pengawasan terhadap Kode Etik
diharapkan dapat dilakukan sendiri oleh para anggota dan pimpinan KAP. Hal ini
tercermin di dalam rumusan Kode Etik Akuntan Indonesia pasal 1 ayat 2, yang
berbunyi :
1) Setiap anggota harus selalu mempertahankan nama baik profesi dan
etika profesi serta hukum negara di mana ia melaksanakan tugasnya.
2) Setiap anggota harus selalu mempertahankan integritas dan obyektifitas
dalam melaksanakan tugasnya. Dengan mempertahankan integritas, ia
akan bertindak jujur, tegas dan tanpa pretensi. Dengan mempertahankan
obyektifitas, ia akan bertindak adil tanpa dipengaruhi tekanan /
permintaan pihak tertentu / kepentingan pribadinya.

4. Kejadian diatas hanya beberapa contoh pelanggaran kode etik dalam dunia
akuntan. Dalam menghadapi keadaan seperti ini, akuntan perlu untuk terus
berpegang pada kode etik profesi akuntan dan bila kode etik tidak dapat
memberikan pengarahan yang jelas maka akuntan harus kembali pada etika
dan nilai-nilai yang Ia percayai..selain itu Kecurangan akuntansi (Fraud) yang
telah dipaparkan diatas menggambarkan bagaimana para akuntan tidak
bertanggung jawab telah melanggar prinsip dasar etika profesi, terutama
integritas, objektivitas, dan perilaku profesional. Akibat dari Kecurangan
tersebut adalah kebangkrutan perusahaan-perusahaan besar tersebut.
Seharusnya sanksi yang dijatuhkan sesuai dengan ketentuan dan disesuaikan
dengan pelanggaran etika yang dilakukan. Sanksi yang ringan tidak akan
memberikan efek jera sehingga kesalahan tersebut bias saja berlanjut. Sanksi
yang dijatuhkan harus setimpal dengan pelanggaran yang dilakukan agar
dapat memberika efek jera bagi tersangka.






Soal Kasus Etika Profesi Halaman 172 Tentang PT. Great River
International,Tbk
1. Coba anda pelajari dan cari rujukan yang sesuai, apakah benar pencatatan atas
penjualan PT Great River telah memenuhi standar akuntansi yang berlaku umum?
2. Menurut Anda, apakah ada hubungan antara kesalahan pencatatan atas laporan
keuangan tersebut dngan kesulitan perusahaan dalam membayar hutangnya?
3. Menurut Anda, apakah benar ada indikasi penipuan yang dilakukan oleh manajemen
perusahaan sebagaimana disinyalir oleh BAPEPAM LK atau hanya sekedar
pelanggaran etika saja?
4. Menurut Anda, apakah Justinus A. Sidharta dapat dikatakan telah melanggar prinsip
atau etika? Kalau ya, prinsip dan etika yang manakah yang telah dilanggar? Kalau
tidak, apa alasannya?
5. Seandainya Anda selaku auditor menemukan keraguan terhadap praktik/metode
akuntansi yang diterapkan oleh perusahaan, ;angkah apa yang harus anda lakukan
untuk memastikan ketepatan penerapan praktik/metode akuntansi tersebut?







Pembahasan Kasus Etika Profesi Halaman 172 Tentang PT. Great
River International , Tbk
1. Tidak benar, karena :
Pelanggaran yang terjadi pada kasus PT. Great River International,Tbk yaitu pelanggaran
yang dilakukan oleh seorang akuntan publik bernama Justinus Aditya Sidharta terhadap
Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) berkaitan dengan laporan audit atas laporan
keuangan konsolidasi PT. Great River International,Tbk tahun 2003. Dari hasil
penyelidikan ditemukan adanya indikasi konspirasi dalam penyajian laporan keuangan
Great River tersebut.Dalam laporan tersebut AP yang mengaudit laporan keuangan Great
River menyatakan alasan adanyaoverstatement karena pencatatan untuk akun penjualan
menggunakan metode yang berbeda dari ketentuan yang ada.Namun KAP Johan
Malonda dan rekan membantah pihaknya telah melakukan konspirasi dalam mengaudit
laporan keuangan tahunan Great River. Deputy Managing Director Johan Malonda,
Justinus A. Sidharta menyatakan bahwa selama mengaudit buku Great River, pihaknya
tidak menemukan adanya penggelembungan akun penjualan atau penyimpanan dana
obligasi. Namun di metode pencatatan akuntansi yang dilakukan Great River berbeda
dengan ketentuan yang ada.Metode pencatatan tersebut biasanya bertujuan untuk
menghindari dugaan dumping dan sanksi perpajakan.Selain itu, auditor investigasi juga
menemukan indikasi penggelembungan akun penjualan, piutang, dan asset hingga
ratusan miliar rupiah yang mengakibatkan Great River mengalami kesulitan arus kas dan
gagal membayar utang.Pemeriksaan Bapepam terdapat indikasi penipuan dalam
penyajian laporan keuangan.
sehingga mengakibatkan dampak sebagai berikut :
Great River memiliki kewajiban utang yang telah jatuh tempo kepada karyawan
sebesar Rp 34 miliar dan pihak lainnya.
Great River juga terbukti memiliki utang kepada CV Duta Gemilang sebesar Rp 3,1
juta
Great River memiliki utang kepada PT Jamsostek sebesar Rp 32,5 miliar
Kerugian negara sebesar Rp 315 miliar karena kasus Great River ini. Kerugian negara
ini berasal dari akumulasi dari pembelian obligasi PT Great River senilai Rp 50 miliar
dan pemberian fasilitas kredit modal kerja dan kredit investasi kepada PT Great River
sebesar Rp 265 miliar.
Obligasi oleh Bank Mandiri dinyatakan berstatus default atau gagal, sedangkan
kreditnya macet.

2. Menurut saya terdapat hubungan antara kesalahan pencatatan atas laporan keuangan
dengan kesulitan perusahaan dalam membayar hutang, karena dalam kasus ini di
sebutkan menemukan indikasi penggelembungan akun penjualan, piutang dan asset
hingga ratusan miliar rupiah di Great River. Akibatnya, Great River mengalami
kesulitan arus kas dan gagal membayar hutang. Sehingga terjadi laporan keuangan
dengan nominal yang salah sehingga tidak seimbang dengan asset yang di miliki
perusahaan dan terjadi defisit. Jika telah terjadi defisit pada anggaran perusahaan maka
tentu saja kemampuan perusahaan dalam membayar hutang-hutangnya menjadi
berkurang dan perusahaan mengalami kesulitan untuk membayar hutang-hutangnya.
3. Benar adanya indikasi penipuan karena Bapepam menemukan kelebihan pencatatan
atau overstatement penyajian account penjualan dan piutang dalam laporan tersebut.
Kelebihan itu berupa penambahan aktiva tetap dan penggunaandana hasil emisi obligasi
yang tanpa pembuktian.Akibatnya, Great River kesulitan arus kas.Perusahaan tidak
mampu membayar utang Rp 250 miliar kepada Bank Mandiri dan gagal membayar
obligasi senilai Rp 400 miliar.
4.Ya, Kasus PT. Great River International,Tbk , yang melibatkan akuntan publik Justinus
Aditya Sidharta, dianggap telah menyalahi aturan mengenai kode etik profesi akuntan,
terutama yang berkaitan dengan integritas dan objektivitas. Akuntan publik Justinus
Aditya Sidharta dianggap telah melakukan tindak kebohongan publik, dimana dia tidak
melaporkan kondisi keuangan PT Great River International, Tbk secara jujur.Menurut
pengertiannya, integritas dapat berarti kepatuhan terhadap nilai-nilai moral, prinsip-
prinsip, serta nilai-nilai lainnya yang terdapat dalam masyarakat pada
umumnya.Pelanggaran integritas berarti seseorang telah melanggar aturan-aturan yang
telah disepakati secara umum. Sedangkan objektivitas merupakan pernyataan jujur dan
apa adanya terhadap suatu hal. Pelanggaran objektivitas menunjukkan bahwa seseorang
telah berani melakukan tindak kebohongan / kecurangan dalam melakukan suatu
hal.Kedua nilai ini, bersama dengan independensi, merupakan nilai dasar yang harus
dimiliki oleh seorang akuntan publik agar seorang akuntan publik dapat menghasilkan
suatu laporan yang sifatnya akurat dan dapat dipercaya.Tanpa adanya nilai-nilai dasar
tersebut, seorang akuntan publik tidak ada bedanya dengan seorang penjahat yang tidak
bermoral.
5. Prosedur audit adalah metode atau teknik yang digunakan oleh para auditor untuk
mengumpulkan dan mengevaluasi bahan bukti yang mencukupi dan kompeten.
Pembahasan berikut ini akan berfokus pada review beberapa jenis prosedur yang
digunakan oleh para auditor, prosedur ini dapat digunakan untuk mendukung
pendekatan audit top-down maupun pendekatan auditor bottom-up. Auditor akan
mempertimbangkan bagaimana setiap prosedur ini akan digunakan ketika
merencanakan audit dan mengembangkan program audit. Diberikan contoh-contoh
yang sangat luas tetang bagaimana setiap prosedur audit ini digunakan oleh para auditor
dalam konteks mengaudit siklus transaksi spesifik san saldo akun terkait.
Berikut ini adalah sepuluh jenis prosedur audit yang akan dibahas :
1. Prosedur analitis
2. Inspeksi
3. Konfirmasi
4. Permintaan keterangan
5. Perhitungan
6. Penelusuran
7. Pemeriksaan bukti pendukung
8. Pengamatan
9. Pelaksanaan ulang
10. Teknik audit berbantuan komputer.
Pemilihan prosedur audit yang akan digunakan untuk menyelesaikan suatu tujuan
audit tertentu terjadi dalam tahap perencanaan audit. Efektivitas prosedur dalam
memenuhi tujuan audit spesifik dan biaya pelaksanaan prosedur tersebut harus
dipertimbangkan dalam pemilihan prosedur yang akan digunakan.

Prosedur analitis
Prosedur analitis terdiri dari penelitian dan perbandingan hubungan antara
data.Prosedur ini meliputi perhitungan dan penggunaan rasio-rasio sederhana, analitis
vertikal atau laporan persentase, perbandingan jumlah yang sebenarnya.Dengan data
historis atau anggaran, serta penggunaan model matematis dan statistik, seperti analisis
regresi.Analisis regresi ini dapat melibatkan penggunaan data nonkeuangan maupun data
keuangan.Prosedur analitis sering kali meliputi juga pengukuran kegiatan bisnis yang
mendasari operasi serta membandingkan ukuran2 kunci ekonomi yang menggerakan
bisnis dengan hasil keuangan terkait. Prosedur analitis umumnya digunakan dalam
pendekatan top-down untuk mengembangkan harapan atas akun laporan keuangan dan
untuk menilai kelayakan laporan keuangan dalam konteks tersebut.

Inspeksi
Inspeksi meliputi pemeriksaan rinci terhadap dokumen dan catatan, serta
pemeriksaan sumber daya berwujud.Prosedur ini digunakan secara luas dalam auditing.
Inspeksi sering klai digunakan dalam mengumpulkan dan mengevaluasi bukti bottom-up
maupun top-down.

Konfirmasi
konfirmasi adalah bentuk permintaan keterangan yang memungkinkan auditor
untuk memperoleh informasi secara langsung dari sumber independen diluar organisasi
klien. Dalam kasus yang lazim, klien membuat permintaan kepada pihak luar secara
tertulis, namun auditor yang mengendalikan pengiriman permintaan keterangan
tersebut.Permintaan tersebut juga meliputi instruksi berupa permintaan kepada penerima
untuk mengirimkan tanggapannya secara langsung kepada auditor. Konfirmasi
menyediakan bukti bottom-up penting dan digunakan dalam auditing karena bukti tersebut
biasanya objektif dan berasal dari sumber independen.