Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH PRESENTASI KASUS LANGSUNG

BELLS PALSY







Disusun oleh :
Mutia Oktavia
110103000098

Pembimbing :
dr. Fitriani Nasution, Sp.S

KEPANITRAAN KLINIK
SMF NEUROLOGI RSUP FATMAWATI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2014

BAB 1
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
No. RM : 01302840
Nama : Ny. Fitri Amelia
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 37 tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Suku : Sunda
Status Perkawinan : Sudah menikah
Alamat : Jl. KH. M. Usman Rt 002 Rw 06 Depok
Pendidikan : Sarjana
Masuk RS : 07 Juni 2014
Pengambilan Data : 08 Juni 2014

II. ANAMNESIS
(Dilakukan autoanamnesis tanggal 08 Juni 2014)
a. Keluhan Utama
Pasien mengeluh mulut mencong sejak 2 hari yang lalu SRMS.

b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD RS Fatmawati dengan keluhan mulut mencong
sejak 2 hari SMRS. Keluhan tersebut dirasakan tiba-tiba saat pasien

bangun tidur. Pasien mengaku sebelumnya pasien sudah mulai merasakan
adanya nyeri ringan pada gigi kanannya 3 hari sebelum keluhan muncul.
Keluhan tersebut disertai dengan mata kanan tidak bisa menutup rapat saat
tidur, mata kanan sering berair dan perih, dan dahi kanan tidak bisa
berkerut, alis kanan tidak bisa terangkat, dan sulit berkumur saat
menggosok gigi. Pasien mengaku tidur dengan kipas yang diarahkan dan
sering mengendarai motor jauh tidak pakai helm dan terpapar angin.
Setelah keluhan tersebut muncul pasien langsung pergi ke klinik
terdekat dan dokter langsung merujuk pasien ke RS Fatmawati. Namun
saat diperiksa diklinik ditemukan bahwa tekanan darah pasien tinggi.
Pasien mengaku tidak pernah mengalami keluhan mulut mencong
sebelumnya dan keluhan kelemahan tangan dan kaki satu sisi sebelumnya.
Keluhan gangguan dalam merasakan makanan atau pengecapan,
kelemahan badan satu sisi, baal atau kesemutan satu sisi, bicara pelo, sulit
menelan, tersedak saat minum, pandangan kabur tiba-tiba, gangguan
pendengaran tiba-tiba disangkal pasien.
Keluhan batuk, pilek, sakit tenggorok, sakit kepala terus menerus,
demam, muntah tanpa mual, kejang, pingsan, penurunan kesadaran
sebelum keluhan disangkal pasien.
Riwayat kepala terbentur dan kecelakaan sebelumnya disangkal
pasien. Riwayat nyeri telinga, keluar cairan dari telinga, penurunan
pendengaran, operasi telinga sebelumnya disangkal pasien. Riwayat
menderita herpes zoster diwajah dekat telinga sebelumnya disangkal
pasien.

c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.
Riwayat kepala terbentur dan kecelakaan sebelumnya disangkal pasien.

Riwayat nyeri telinga, keluar cairan dari telinga, penurunan pendengaran,
operasi telinga sebelumnya disangkal pasien. Riwayat Hipertensi
sebelumnya disangkal pasien, pasien baru tahu sekarang kalau mempunyai
darah tinggi. Riwayat kolesterol dan asam urat tinggi disangkal pasien.
Riwayat stroke sebelumnya disangkal. Riwayat alergi dan sedang dalam
penggunaan obat rutin disangkal pasien. Riwayat menderita herpes
zosterdi wajah dekat telinga sebelumnya disangkal pasien.

d. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga pasien yang menderita keluhan yang serupa dengan
pasien. Penyakit hipertensi, jantung, diabetes melitus, kolesterol, dan
alergi pada keluarga disangkal.

e. Riwayat Kebiasaan
Riwayat minum alkohol, merokok disangkal. Pasien mengaku tidur
dengan kipas yang diarahkan dan sering mengendarai motor jauh tidak
pakai helm dan terpapar angin.

III. PEMERIKSAAN FISIK (pada tanggal 07 Juni 2014)
a Keadaan Umum : tampak sakit ringan
b Kesadaran : compos mentis / GCS E
4
M
6
V
5
= 15
c Sikap : berbaring, duduk dan berdiri
d Koperasi : kooperatif
e Keadaan gizi : BB = 60 kg, TB = 155 cm, BMI = 24.97
f Tekanan darah : kanan 160/100 mmHg kiri 160/100 mmHg
g Nadi : 80 x/menit
h Suhu : 36,2
o
C
i Pernapasan : 16 x/menit

j Pemeriksaan Lokal
Trauma Stigmata : -
Pulsasi Aa. Carotis : Teraba kanan = kiri, regular, equal
Pembuluh Darah Perifer : Capillary refil time < 2 detik
Kelenjar Getah Bening : Tidak teraba membesar
Columna Vertebralis : Lurus ditengah
k Status Generalis
Kulit : Warna sawo matang, sianosis -, ikterik -
Kepala : Normosefali, rambut hitam, distribusi merata
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/-, ptosis -/-,
lagoftalmus -/-, pupil bulat isokor, 3mm/3mm,
RCL +/+, RCTL +/+, bells sign +/-
Telinga : Normotia +/+, membrane timpani intak +/+,
darah -/-, serumen -/-, battle sign -
Hidung : Deviasi septum -, sekret -/-, darah -/-
Tenggorok : Faring hiperemis -, tonsil T1-T1 tenang.
Leher : trakea lurus di tengah, tidak teraba pembesaran
KGB dan kelenjar tiroid.
Jantung : BJ I-II regular, murmur -, gallop -
Paru : vesikular +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
Abdomen : supel, buncit, BU + Normal, Nyeri tekan -, hepar
dan lien tidak teraba
Pemeriksaan Ekstremitas
Atas : akral hangat +/+, edema -/-
Bawah : akral hangat +/+, edema -/-

IV. PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
GCS : E4M6V5 = 15 kompos mentis



Tanda rangsang meningeal
Kanan Kiri
Kaku Kuduk - -
Laseque >70 >70
Kernig >135 >135
Brudzinski I - -
Brudzinski II - -
Saraf-saraf kranialis
N. I Normosmia kanan dan kiri
N. II Acies visus : kesan baik +/+
Visus campus : sama dengan pemeriksa
Funduskopi tidak dilakukan
N. III, IV
dan VI
Ptosis : -/-
Pergerakan Bola Mata : baik ke segala arah
Nistagmus : -/-
Pupil : Isokhor/Isokhor
Bentuk : Bulat/Bulat
Ukuran : 3mm/3mm
RCL +/+, RCTL +/+
Refleks Akomodasi : Baik
N. V Cabang Motorik : Baik/Baik
Cabang Sensorik
Opthalmika : Baik/Baik
Maxilla : Baik/Baik
Mandibularis : Baik/Baik
Refleks kornea : +/+
N. VII Kelopak mata kanan tidak dapat menutup
Pasien tidak dapat mengangkat alis dan mengerutkan
dahi kanan.
Pada saat tersenyum, sudut bibir kanan tidak terangkat.
Gerakan menggembungkan pipi bocor ke kanan.

Sensorik lidah 2/3 depan : baik
Kesan : parese N. VII dekstra perifer dan
lagoftalmus kanan
N. VIII Gangguan pendengaran (-), vestibuler: tidak dilakukan
N. IX dan
X
Motorik : Arcus faring simetris, uvula di tengah
N. XI M.trapezius : atrofi -/-, fasikulasi -/-, mampu melawan
tahanan dari pemeriksa
m. sternokleidomastoideus : atrofi -/-, fasikulasi -/-,
mampu melawan tahanan dari pemeriksa
N. XII Pergerakan Lidah : Deviasi -
Atrofi -, fasikulasi -, Tremor -

Sistem Motorik
Ekstremitas Atas Proksimal Distal : 5 5 5 5 5 5 5 5
Ekstremitas Bawah Proksimal Distal : 5 5 5 5 5 5 5 5
Gerakan Involunter
Tremor : -
Chorea : -
Atetose : -
Mioklonik : -
Tics : -
Trofik : Eutrofi/Eutrofi
Tonus : Normotonus/Normotonus
Sistem Sensorik
Proprioseptif : Baik
Eksteroseptif : Baik
Fungsi Cerebellar dan Koordinasi : Tidak dilakukan
Ataxia :
Tes Rhomberg :
Disdiadokinesia :
Jari-Jari :

Jari-Hidung :
Tumit-Lutut :
Rebound Pheomenon :
Hipotoni :
Fungsi Otonom
Miksi : Baik
Defekasi : Baik
Sekresi Keringat : Baik
Refleks-refleks Fisiologis
Bisep : +2 +2
Trisep : +2 +2
Radius : +2 +2
Dinding Perut : + +
Otot Perut : + +
Patela : +2 +2
Aciles : +2 +2
Kremaster : Tidak diperiksa
Sfingter Ani : Tidak diperiksa
Refleks-refleks Patologis
Hoffman Tromner : - -
Babinsky : - -
Chaddock : - -
Gordon : - -
Gonda : - -
Schaeffer : - -
Klonus Lutut : - -
Klonus Tumit : - -

V. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Interpretasi
Hemoglobin 12.1 g/dl 11,7 15,5 g/dl DBN
Hematokrit 36 % 33 45 % DBN

Lekosit 10.1 ribu/ul 5.000 10.000 Meningkat
Trombosit 316 ribu/ul 150 440 ribu/ul DBN
VER 76.7 fl 80.0-100.0 Menurun
HER 26.0 pg 26.0-34.0 DBN
KHER 33.9 g/dl 32.0-36.0 DBN
RDW 13.8 % 11.5-14.5 DBN
SGOT 27 U/l 0 34 U/l DBN
SGPT 20 U/l 0 40 U/l DBN
Ureum 13 mg/dl 20 40 mg/dl Menurun
Kreatinin 0.5 mg/dl 0,6 1,5 mg/dl Menurun
GDP 67 mg/dl 80 100 mg/dl Menurun
GD 2 PP 64 mg/dl 80 145 mg/dl Menurun
Na 141 mmol/L 135 147 mmol/L DBN
K 3.68 mmol/L 3,10 5,10 mmol/L DBN
Cl 109 mmol/L 95 108 mmol/L Meningkat
LED 56.0 mm 0.0 20.0 mm Meningkat
Asam Urat Darah 4.5 mg/dl < 7 DBN
Trigliserida 75 mg/dl < 150 mg/dl DBN
Kolesterol Total 156 mg/dl < 200 mg/dl DBN
Kolesterol HDL 40 mg/dl 34 82 mg/dl DBN
Kolesterol LDL 101 mg/dl < 130 mg/dl DBN












VI. PEMERIKSAAN RADIOLOGIS
CT-Scan kepala














Kesan :
Infark lacunar di kapsula eksterna kanan dan kapsula interna kiri
Tak tampak perdarahan intraparenkimal

VII. RESUME
Datang seorang wanita, 37 tahun, ke IGD RS Fatmawati dengan
keluhan mulut mencong sejak 2 hari SMRS, keluhan dirasakan mendadak
saat bangun tidur, namun diawali dengan nyeri ringan pada gigi kanannya
3 hari sebelumnya. Keluhan disertai dengan mata kanan tidak bisa

menutup rapat saat tidur, sering berair dan perih, dahi kanan tidak bisa
berkerut, alis kanan tidak bisa terangkat, dan sulit berkumur saat
menggosok gigi. Pasien mengaku tidur dengan kipas yang diarahkan dan
sering mengendarai motor jauh tidak pakai helm dan terpapar angin.
Pasien mempunyai darah tinggi yang baru diketahuinya saat diperiksa di
rumah sakit kemarin.
Pemeriksaan Fisik :
KU tampak sakit ringan, kesadaran compos mentis, TD 160/100
mmHg, HR 80 x/menit, RR 16 x/menit, suhu 36,2
o
C
Status generalis : dalam batas normal
Status neurologis : mata didapatkan bells sign +/-, parese N. VII
dekstra perifer dan lagoftalmus kanan
Pemeriksaan penunjang :
Laboratorium : leukositosis, GDP dan GD 2 PP menurun
CT Scan : Infark lacunar di kapsula eksterna kanan dan kapsula
interna kiri

VIII. DIAGNOSIS KERJA
Diagnosis klinis : parese N. VII, hipoglikemia
Diagnosis etiologis : Bells palsy dd/ CVD Stroke Iskemik
Diagnosis topis : N. VII perifer

IX. PENATALAKSANAAN
1. Non medikamentosa
- Tirah baring dan istirahat yang cukup
- Menjelaskan kepada pasien agar menutup matanya dengan plester saat
tidur dan menggunakan helm atau kacamata saat mengendarai motor
untuk mencegah infeksi dan kekeringan pada bola mata.
- Konsul ke rehab medik untuk fisioterapi

2. Medikamentosa
- IVFD RL 500 mg/12 jam
- Citicholin 2 x 1000 mg po
- Askardia 1 x 80 mg po
- Captopril 3 x 25 mg
- Prednison 2 x 8 tab
- Ranitidin 2 x 1

X. ANJURAN
Kontrol kembali ke dokter.

XI. PROGNOSIS
Quo Ad vitam : dubia ad bonam
Quo Ad functionam : dubia
Quo Ad sanationam : dubia ad bonam












BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Bells palsy merupakan kelemahan wajah dengan tipe lower motor
neuron yang disebabkan oleh keterlibatan saraf fasialis idiopatik di luar
sistem saraf pusat, tanpa adanya penyakit neurologic lainnya.

2.2. Epidemiologi
Bells palsy menempati urutan ketiga penyebab terbanyak dari paralysis
fasial akut. Insiden Bells palsy di Amerika Serikat setiap tahun sekitar 23
kasus per 100.000 orang, 63% mengenai wajah sisi kanan. Penderita
diabetes mempunyai resiko 29% lebih tinggi, dibanding non-diabetes.
Perbandingan insiden antara laki-laki dan perempuan hampir sama, namun
insiden pada wanita dengan rentang usia 10-19 tahun lebih tinggi disbanding
laki-laki pada kelompok umur yang sama. Penyakit ini dapat mengenai
semua umur, namun lebih sering terjadi pada umur 15-50 tahun. Selain itu
insiden Bells palsy juga meningkat pada kehamilan trisemester ketiga dan 2
minggu pasca persalinan kemungkinan timbulnya Bells palsy, hal ini
dibandingkan dengan wanita yang sedang tidak hamil insidensi meningkat
bahkan mencapai 10 kali lipat.
Insiden Bells palsy di Indonesia dari data yang dikumpulkan dari 4 buah
Rumah sakit di Indonesia didapatkan frekuensi Bells palsy sebesar 19,55 %
dari seluruh kasus neuropati dan terbanyak pada usia 21 30 tahun, dengan
insiden pada wanita lebih sering daripada laki-laki. Pada beberapa penderita
didapatkan adanya riwayat terpapar udara dingin atau angin berlebihan

2.3. Anatomi Nervus Fasialis
Nevus kranialis ke VII disebut juga sebagai nervus fasialis karena
mengandung 4 macam serabut, yaitu :

1. Serabut somato motorik berfungsi untuk mensarafi otot-otot wajah
(kecuali m. levator palpebrae (n.III), otot platisma, stilohioid, digastrikus
bagian posterior dan stapedius di telinga tengah).
2. Serabut visero-motorik (parasimpatis) yang datang dari nukleus
salivatorius superior. Serabut saraf ini mengurus glandula dan mukosa
faring, palatum, rongga hidung, sinus paranasal, dan glandula
submaksilaris serta sublingual dan lakrimalis.
3. Serabut visero-sensorik, yang menghantar impuls dari alat pengecap di
dua pertiga bagian depan lidah.
4. Serabut somato-sensorik, rasa nyeri (dan mungkin juga rasa suhu dan
rasa raba) dari sebagian daerah kulit dan mukosa yang dipersarafi oleh
nervus trigeminus.

Nervus fasialis (N.VII) terutama merupakan saraf motorik yang
menginervasi otot- otot ekspresi wajah. Di samping itu saraf ini membawa
serabut parasimpatis ke kelenjar ludah dan air mata dank ke selaput mukosa
rongga mulut dan hidung, dan juga menghantarkan sensasi eksteroseptif dari
daerah gendang telinga, sensasi pengecapan dari 2/3 bagian depan lidah, dan
sensasi visceral umum dari kelenjar ludah, mukosa hidung dan faring, dan
sensasi proprioseptif dari otot yang disarafinya.

Secara anatomis bagian motorik saraf ini terpisah dari bagian yang
menghantar sensasi dan serabut parasimpatis, yang terakhir ini sering
dinamai saraf intermedius atau pars intermedius Wisberg. Sel sensoriknya
terletak di ganglion genikulatum, pada lekukan saraf fasialis di kanal
fasialis. Sensasi pengecapan daru 2/3 bagian depan lidah dihantar melalui
saraf lingual korda timpani dan kemudian ke ganglion genikulatum. Serabut
yang menghantar sensasi ekteroseptif mempunyai badan selnya di ganglion
genikulatum dan berakhir pada akar desenden dan inti akar decenden dari
saraf trigeminus (N.V). hubungan sentralnya identik dengan saraf
trigeminus.
Inti motorik nervus VII terletak di pons. Serabutnya mengitari nervus
VI, dan keluar di bagian leteral pons. Nervus intermedius keluar di
permukaan lateral pons, di antara nervus V dan nervus VIII. Nervus VII
bersama nervus intermedius dan nervus VIII memasuki meatus akustikus
internus. Di sini nervus fasialis bersatu dengan nervus intermedius dan
menjadi satu berkas saraf yang berjalan dalam kanalis fasialis dan kemudian
masuk ke dalam os mastoid. Ia keluar dari tulang tengkorak melalui foramen
stilomastoid, dan bercabang untuk mersarafi otot- otot wajah.

2.4. Patofisiologi
Para ahli menyebutkan bahwa pada Bells palsy terjadi proses inflamasi
akut pada nervus fasialis di daerah tulang temporal, di sekitar foramen
stilomastoideus. Bells palsy hampir selalu terjadi secara unilateral. Namun
demikian dalam jarak waktu satu minggu atau lebih dapat terjadi paralysis
bilateral. Penyakit ini dapat berulang atau kambuh. Patofisiologinya belum
jelas, tetapi salah satu teori menyebutkan terjadinya proses inflamasi pada
nervus fasialis yang menyebabkan peningkatan diameter nervus fasialis
sehingga terjadi kompresi dari saraf tersebut pada saat melalui tulang
temporal.
Perjalanan nervus fasialis keluar dari tulang temporal melalui kanalis
fasialis yang mempunyai bentuk seperti corong yang menyempit pada pintu

keluar sebagai foramen mental. Dengan bentukan kanalis yang unik tersebut,
adanya inflamasi, demyelinisasi atau iskemik dapat menyebabkan gangguan
dari konduksi. Impuls motorik yang dihantarkan oleh nervus fasialis bisa
mendapat gangguan di lintasan supranuklear dan infranuklear. Lesi
supranuklear bisa terletak di daerah wajah korteks motorik primer atau di
jaras kortikobulbar ataupun di lintasan asosiasi yang berhubungan dengan
daerah somatotropik wajah di korteks motorik primer. Karena adanya suatu
proses yang dikenal awam sebagai masuk angin atau dalam bahasa inggris
cold. Paparan udara dingin seperti angin kencang, AC, atau mengemudi
dengan kaca jendela yang terbuka diduga sebagai salah satu penyebab
terjadinya Bells palsy. Karena itu nervus fasialis bisa sembab, ia terjepit di
dalam foramen stilomastoideus dan menimbulkan kelumpuhan fasialis
LMN. Pada lesi LMN bisa terletak di pons, di sudut serebelo-pontin, di os
petrosum atau kavum timpani, di foramen stilomastoideus dan pada cabang-
cabang tepi nervus fasialis. Lesi di pons yang terletak di daerah sekitar inti
nervus abdusens dan fasikulus longitudinalis medialis. Karena itu paralisis
fasialis LMN tersebut akan disertai kelumpuhan muskulus rektus lateralis
atau gerakan melirik ke arah lesi. Selain itu, paralisis nervus fasialis LMN
akan timbul bergandengan dengan tuli perseptif ipsilateral dan ageusia (tidak
bisa mengecap dengan 2/3 bagian depan lidah). Berdasarkan beberapa
penelitian bahwa penyebab utama Bells palsy adalah reaktivasi virus herpes
(HSV tipe 1 dan virus herpes zoster) yang menyerang saraf kranialis.
Terutama virus herpes zoster karena virus ini menyebar ke saraf melalui sel
satelit. Pada radang herpes zoster di ganglion genikulatum, nervus fasialis
bisa ikut terlibat sehingga menimbulkan kelumpuhan fasialis LMN.
Kelumpuhan pada Bells palsy akan terjadi bagian atas dan bawah dari otot
wajah seluruhnya lumpuh. Dahi tidak dapat dikerutkan, fisura palpebra tidak
dapat ditutup dan pada usaha untuk memejam mata terlihatlah bola mata
yang berbalik ke atas. Sudut mulut tidak bisa diangkat. Bibir tidak bisa
dicucukan dan platisma tidak bisa digerakkan. Karena lagophtalmos, maka
air mata tidak bisa disalurkan secara wajar sehingga tertimbun disitu.


2.5. Etiologi
Penyebab adalah kelumpuhan n. fasialis perifer. Umumnya dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
1. Idiopatik.
Sampai sekarang belum diketahui secara pasti penyebabnya yang
disebut bells palsy. Faktor-faktor yang diduga berperan menyebabkan
Bells Palsy antara lain : sesudah bepergian jauh dengan kendaraan, tidur
di tempat terbuka, tidur di lantai, hipertensi, stres, hiperkolesterolemi,
diabetes mellitus, penyakit vaskuler, gangguan imunologik dan faktor
genetic.
2. Kongenital.
Bisa diakibatkan oleh anomali kongenital (sindroma Moebius) atau
trauma lahir (fraktur tengkorak, perdarahan intrakranial .dll.)
3. Didapat
Trauma Penyakit tulang tengkorak (osteomielitis), Proses
intrakranial (tumor, radang, perdarahan dll)
Proses di leher yang menekan daerah prosesus stilomastoideus)
Infeksi tempat lain (otitis media, herpes zoster dll)
Sindroma paralisis n. fasialis familial

2.6. Gejala Klinis
Manifestasi klinik BP khas dengan memperhatikan riwayat penyakit dan
gejala kelumpuhan yang timbul. Pada anak 73% didahului infeksi saluran
napas bagian atas yang erat hubungannya dengan cuaca dingin. Perasaan
nyeri, pegal, linu dan rasa tidak enak pada telinga atau sekitarnya sering
merupakan gejala awal yang segera diikuti oleh gejala kelumpuhan otot
wajah berupa :
Kelopak mata tidak dapat menutupi bola mata pada sisi yang lumpuh
(lagophthalmos).
Gerakan bola mata pada sisi yang lumpuh lambat, disertai bola mata
berputar ke atas bila memejamkan mata, fenomena ini disebut Bell's
sign.

Sudut mulut tidak dapat diangkat, lipat nasolabialis mendatar pada
sisi yang lumpuh dan mencong ke sisi yang sehat.
Selanjutnya gejala dan tanda klinik lainnya berhubungan dengan
tempat/lokasi lesi :
Lesi di luar foramen stilomastoideus : Mulut tertarik ke arah sisi
mulut yang sehat, makanan berkumpul di antar pipi dan gusi, dan
sensasi dalam (deep sensation) di wajah menghilang. lipatan kulit
dahi menghilang. Apabila mata yang terkena tidak tertutup atau tidak
dilindungi maka air mata akan keluar terus menerus.
Lesi di kanalis fasialis (melibatkan korda timpani) Gejala dan tanda
klinik seperti pada (a) ditambah dengan hilangnya ketajaman
pengecapan lidah (2/3 bagian depan) dan salivasi di sisi yang terkena
berkurang. Hilangnya daya pengecapan pada lidah menunjukkan
terlibatnya nervus intermedius, sekaligus menunjukkan lesi di daerah
antara pons dan titik di mana korda timpani bergabung dengan
nervus fasialis di kanalis fasialis.
Lesi di kanalis fasialis lebih tinggi lagi (melibatkan muskulus
stapedius)
Gejala dan tanda klinik seperti pada (a), (b), ditambah dengan adanya
hiperakusis.
Lesi di tempat yang lebih tinggi lagi (melibatkan ganglion
genikulatum)
Gejala dan tanda klinik seperti (a), (b), (c) disertai dengan nyeri di
belakang dan di dalam liang telinga. Kasus seperti ini dapat terjadi
pasca herpes di membran timpani dan konka. Ramsay Hunt adalah
paralisis fasialis perifer yang berhubungan dengan herpes zoster di
ganglion genikulatum. Lesi herpetik terlibat di membran timpani,
kanalis auditorius eksterna dan pina.
Lesi di daerah meatus akustikus interna, Gejala dan tanda klinik
seperti (a), (b), (c), (d), ditambah dengan tuli sebagi akibat dari
terlibatnya nervus akustikus.


2.7. Diagnosa
Anamnesa
o Rasa nyeri
o Gangguan atau kehilangan pengecapan.
o Riwayat pekerjaan dan adakah aktivitas yang dilakukan pada
malam hari di ruangan terbuka atau di luar ruangan.
o Riwayat penyakit yang pernah dialami oleh penderita seperti
infeksi saluran pernafasan, otitis, herpes, dan lain-lain.
Pemeriksaan fisik, Gerakan volunter yang diperiksa, dianjurkan
minimal :
o Mengerutkan dahi
o Memejamkan mata
o Mengembangkan cuping hidung
o Tersenyum
o Bersiul
o Mengencangkan kedua bibir
Pemeriksaan Laboratorium : Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang
spesifik untuk menegakkan diagnosis Bells palsy.
Pemeriksaan Radiologi.
Pemeriksaan radiologi bukan indikasi pada Bells palsy.
Pemeriksaan CT-Scan dilakukan jika dicurigai adanya fraktur atau
metastasis neoplasma ke tulang, stroke, sklerosis multipel dan AIDS
pada CNS. Pemeriksaan MRI pada pasien Bells palsy akan
menunjukkan adanya penyangatan (Enhancement) pada nervus fasialis,
atau pada telinga, ganglion genikulatum.


2.8. Diagnosa Banding
Infeksi herpes zoster pada ganglion genikulatum (Ramsay Hunt
syndrom). Ramsay Hunt Syndrome (RHS) adalah infeksi saraf wajah

yang disertai dengan ruam yang menyakitkan dan kelemahan otot
wajah. Tanda dan gejala RHS meliputi :
o Ruam merah yang menyakitkan dengan lepuh berisi cairan di
gendang telinga, saluran telinga eksternal, bagian luar telinga,
atap dari mulut (langit-langit) atau lidah.
o Kelemahan (kelumpuhan) pada sisi yang sama seperti telinga
yang terkinfeksi.
o Kesulitan menutup satu mata
o Sakit telinga
o Pendengaran berkurang
o Dering di telinga (tinnitus)
o Sebuah sensasi berputar atau bergerak (vertigo)
o Perubahan dalam persepsi rasa
Miller Fisher Syndrom. Miller Fisher syndrom adalah varian dari
Guillain Barre syndrom yang jarang dijumpai. Miiler Fisher syndrom
atau Acute Disseminated Encephalomyeloradiculopaty ditandai
dengan trias gejala neurologis berupa opthalmoplegi, ataksia, dan
arefleksia yang kuat. Pada Miller Fisher syndrom didapatakan double
vision akibat kerusakan nervus cranial yang menyebabkan kelemahan
otot otot mata . Selain itu kelemahan nervus facialis menyebabkan
kelemahan otot wajah tipe perifer. Kelumpuhan nervus facialis tipe
perifer pada Miller Fisher syndrom menyerang otot wajah bilateral.
Gejala lain bisa didapatkan rasa kebas, pusing dan mual.

2.9. Tatalaksana
Istirahat terutama pada keadaan akut
Medikamentosa
o Pemberian kortikosteroid (perdnison dengan dosis 40 -60 mg/hari
per oral atau 1 mg/kgBB/hari selama 3 hari, diturunkan perlahan-
lahan selama 7 hari kemudian), dimana pemberiannya dimulai pada
hari kelima setelah onset penyakit, gunanya untuk meningkatkan
peluang kesembuhan pasien. Dasar dari pengobatan ini adalah

untuk menurunkan kemungkinan terjadinya kelumpuhan yang
sifatnya permanen yang disebabkan oleh pembengkakan nervus
fasialis di dalam kanal fasialis yang sempit.
o Penggunaan obat- obat antivirus . Acyclovir (400 mg selama 10
hari) dapat digunakan dalam penatalaksanaan Bells palsy yang
dikombinasikan dengan prednison atau dapat juga diberikan
sebagai dosis tunggal untuk penderita yang tidak dapat
mengkonsumsi prednison.Penggunaan Acyclovir akan berguna jika
diberikan pada 3 hari pertama dari onset penyakit untuk mencegah
replikasi virus.
o Perawatan mata : Air mata buatan: digunakan selama masa sadar
untuk menggantikan lakrimasi yang hilang atau pelumas digunakan
saat tidur, yaitu dapat digunakan selama masa sadar jika air mata
buatan tidak mampu menyedikan perlindungan yang adekuat.
o Fisioterapi. Sering dikerjakan bersama-sama pemberian prednison,
dapat dianjurkan pada stadium akut. Tujuan fisioterapi untuk
mempertahankan tonus otot yang lumpuh. Cara yang sering
digunakan yaitu : mengurut/massage otot wajah selama 5 menit
pagi-sore atau dengan faradisasi.
o Operasi.
Tindakan operatif umumnya tidak dianjurkan pada anak-anak
karena dapat menimbulkan komplikasi lokal maupun intracranial.
Tindakan operatif dilakukan apabila : tidak terdapat penyembuhan
spontan dan tidak terdapat perbaikan dengan pengobatan
prednison.

2.10. Komplikasi
Sekitar 5% pasien setelah menderita Bells palsy mengalami sekuele
berat yang tidak dapat diterima. Beberapa komplikasi yang sering terjadi
akibat Bells palsy, adalah (1) regenerasi motor inkomplit yaitu regenerasi
suboptimal yang menyebabkan paresis seluruh atau beberapa muskulus
fasialis, (2) regenerasi sensorik inkomplit yang menyebabkan disgeusia

(gangguan pengecapan), ageusia (hilang pengecapan), dan disestesia
(gangguan sensasi atau sensasi yang tidak sama dengan stimuli normal), dan
(3) reinervasi yang salah dari saraf fasialis.
Reinervasi yang salah dari saraf fasialis dapat menyebabkan (1)
sinkinesis yaitu gerakan involunter yang mengikuti gerakan volunter,
contohnya timbul gerakan elevasi involunter dari sudut mata, kontraksi
platysma, atau pengerutan dahi saat memejamkan mata, (2) crocodile tear
phenomenon, yang timbul beberapa bulan setelah paresis akibat regenerasi
yang salah dari serabut otonom, contohnya air mata pasien keluar pada saat
mengkonsumsi makanan, dan (3) clonic facial spasm (hemifacial spasm),
yaitu timbul kedutan secara tiba-tiba (shock-like) pada wajah yang dapat
terjadi pada satu sisi wajah saja pada stadium awal, kemudian mengenai sisi
lainnya (lesi bilateral tidak terjadi bersamaan).

2.11. Prognosis
Perjalanan alamiah Bells palsy bervariasi dari perbaikan komplit dini
sampai cedera saraf substansial dengan sekuele permanen. Sekitar 80-90%
pasien dengan Bells palsy sembuh total dalam 6 bulan, bahkan pada 50-
60% kasus membaik dalam 3 minggu. Sekitar 10% mengalami asimetri
muskulus fasialis persisten, dan 5% mengalami sekuele yang berat, serta 8%
kasus dapat rekuren.
Faktor yang dapat mengarah ke prognosis buruk adalah palsi komplit
(risiko sekuele berat), riwayat rekurensi, diabetes, adanya nyeri hebat post-
aurikular, gangguan pengecapan, refleks stapedius, wanita hamil dengan
Bells palsy, bukti denervasi mulai setelah 10 hari (penyembuhan lambat),
dan kasus dengan penyengatan kontras yang jelas.
Faktor yang dapat mendukung ke prognosis baik adalah paralisis parsial
inkomplit pada fase akut (penyembuhan total), pemberian kortikosteroid
dini, penyembuhan awal dan/ atau perbaikan fungsi pengecapan dalam
minggu pertama. Kimura et al11 menggunakan blink reflex sebagai
prediktor kesembuhan yang dilakukan dalam 14 hari onset, gelombang R1
yang kembali terlihat pada minggu kedua menandakan prognosis perbaikan

klinis yang positif. Selain menggunakan pemeriksaan neurofisiologi untuk
menentukan prognosis, House-Brackmann Facial Nerve Grading System
dapat digunakan untuk mengukur keparahan dari suatu serangan dan
menentukan prognosis pasien Bells palsy.

























DAFTAR PUSTAKA

Djamil Y, A Basjiruddin. Paralisis Bell. Dalam: Harsono, ed. Kapita
selekta neurologi; Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.2009. hal
297-300.
Lumbantobing. 2007.Neurologi Klinik.Jakarta: Universitas Indonesia.
Weiner HL, Levitt LP. Ataksia. Wita JS, editor. Buku Saku Neurologi. Ed
5. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2001. Hal. 174
Lowis H, Gaharu MN. Bells palsy, Diagnosis dan Tatalaksana di
Pelayanan Primer. J Indon Med Assoc, Volum: 62, Nomor: 1, Januari
2012
Maisel RH, Levine SC. Gangguan Saraf Fasialis. Dalam : Adams dkk.
Boies Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta : Penerbit EGC, 1997 :
139-52