Anda di halaman 1dari 3

LALAT TSETSE, PENYEBAB PERANTARA PENYAKIT TIDUR

Lalat tsetse adalah serangga penghisap darah yang


menyebabkan penyakit tidur di kawasan Afrika.
Lalat tsetse / lalat tik tik adalah sejenis lalat yang
hanya ditemukan di Benua Afrika, khususnya Afrika
Tengah. Ada sekitar 20 spesies lebih lalat tsetse yang
sudah diketahui oleh manusia dan semuanya
digolongkan ke dalam genus Glossina. Spesies-
spesies lalat tsetse tersebut digolongkan dalam 3 subgenus berdasarkan habitatnya :
subgenus Morsitans (padang rumput), Fusca (hutan), dan Palpalis (tepi sungai)
Di bagian kepala lalat tsetse terdapat sepasang mata majemuk yang besar, sementara di
atas punggungnya terdapat sepasang sayap transparan. Namun, jika diamati secara
saksama, lalat tsetse memiliki ciri khusus yang tidak ditemukan pada lalat lain. Ciri-ciri fisik
khusus tersebut adalah adanya moncong panjang seperti jarum di kepalanya, tubuh yang
berwarna kemerahan, dan posisi sayap yang terlipat secara
tumpang tindih di atas punggungnya.
Lalat tsetse mengalami metamorfosis sempurna yang terdiri
atas 4 fase : fase telur, larva belatung (maggot), kepompong,
dan lalat dewasa. Jika diamati secara saksama dan
dibandingkan dengan siklus hidup lalat lain, siklus hidup lalat
tsetse bisa dikatakan unik. Contoh keunikan dari siklus hidup
lalat tsetse adalah saat sudah waktunya bertelur, induk lalat
tsetse akan tetap menyimpan telur tersebut hingga menetas
menjadi larva. Larva yang baru menetas tersebut tetap
berada di dalam tubuh induknya dan hidup dengan mengkonsumsi senyawa mirip cairan
susu yang dihasilkan oleh kelanjar induknya.
Jika larva sudah memasuki ukuran tertentu, barulah larva
lalat tsetse keluar dari tubuh induknya dan lahir ke
dunia. Masa hidup larva di luar relatif singkat karena
hanya dalam waktu beberapa jam usai keluar dari tubuh
induknya, larva lalat tsetse segera mencari tempat yang
terlundung untuk berubah menjadi pupa. Masa pupa atau
kepompong berlangsung selama beberapa hari dan
sesuda itu, lalat tsetse dewasa akan keluar. Di fase dewasa ini, lalat tsetse hanya hidup dari
menghisap darah mamalia dan bisa hidup hingga usia 4 bulan.
Lalat ini menyebarkan tidur atau trypanosomiasis yaitu penyakit yang menyerang sistem
saraf dan disebabkan oleh mikroba Trypanosoma. Sebutan penyakit tidur diberikan
karena ketika penyakit ini sudah memasuki tahap lanjut, orang yang terjangkit menjadi
lemas dan mudah tertidur hingga akhirnya meninggal dunia. Selain menyerang manusia,
trypanisomiasis juga menyerang hewan ternak dimana hewan yang terserang akan
mengalami penurunan produktivitas dan kematian.
Metode penyebaran dari penyakit tidur bisa dikatakan mirip dengan metode penyebaran
penyakit penyakit yang memakai serangga sebagai perantaranya semisal malaria. Ketika
lalat tsetse menghisap darah dari orang yang terjangkit penyakit tidur, mikroba
Trypanosoma akan ikut terhisap dan kemudian tinggal di dalam tubuh lalat tsetse. Ketika
lalat yang sama menghisap darah dari orang yang sehat, mikroba Trypanosoma dalam tubuh
lalat tsetse tanpa sengaja ikut masuk ke dalam aliran darah dari orang tersebut sehingga
orang yang bersangkutan pun akhirnya jatuh sakit.
Karena bahaya yang ditimbulkan oleh penyakit tidur, beberapa
metode pemberantasan yang sudah dilakukan mencakup
penyemprotan memakai insektisida, pemusnahan hewan liar yang
bisa menjadi mangsa lalat tsetse, pemasangan jebakan, dan
pelepasan lalat jantan yang steril ke alam liar agar telur hasil
perkawinannya tidak bisa menetas.

Johana Harjono XIPA2 / 14
LEBAH ARTHROPODA MENGUNTUNGKAN
Lebah adalah hewan yang sangat menguntungkan bagi manusia.
Sebagai serangga, ia mempunyai 3 pasang kaki dan 2 pasang
sayap. Lebah di alam berfungsi penting sebagai serangga
penyerbuk utama. Kesukaannya akan nektar dan serbuk sari
membantu tumbuhan untuk terjadinya penyerbukan silang dan
penyerbukan serbuk sari. Dalam penyerbukan buatan tanaman
tertentu, lebah dipelihara dalam kurungan berisi tumbuhan yang
akan disilangkan.
Madu yang dihasilkan oleh lebah disukai oleh banyak hewan,
khususnya beruang. Manusia juga memanfaatkan madu bahan makanan dan obat obatan.
Madu juga digunakan untuk merawat kecantikan kulit, rambut, meredakan radang
tenggorokan, membuat tubuh lebih rileks, dan mengurangi stress, Madu mengandung
vitamin C yang berguna untuk mencegah
penyakit gusi berdarah, kerusakan gigi
maupun tulang persendian. Madu juga
mengandung vitamin B Complex dan
vitamin K yang berguna untuk mencegah
pendarahan. Madu juga mengandung kadar
gula dari buah buahan yang dapat dipakai oleh penderita kencing manis dengan dosis
sedang yaitu tidak berlebihan untuk meminumnya atau sebagai pemanis makanan dan
minuman
Sengat lebah juga bisa bermanfaat bagi manusia, sengat ini dimanfaatkan dalam
pengobatan serupa akupuntur yang dinamakan terapi lebah