Anda di halaman 1dari 45

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di penghujung abad lalu, Indonesia mengalami perubahan besar yaitu proses
reformasi ekonomi dan demokratisasi dalam bidang politik. Tidak begitu
lama kemudian, tepatnya pada tahun 2000, para pimpinan dunia bertemu di
New York dan menandatangani Deklarasi Milennium yang berisi
komitmen untuk mempercepat pembangunan manusia dan pemberantasan
kemiskinan. Komitmen tersebut diterjemahkan menjadi beberapa tujuan dan
target yang dikenal sebagai Millennium Development Goals (MDGs). MDGs
adalah sebuah paradigma pembangunan yang berpihak pada pemenuhan hak-
hak dasar manusia dan akan menjadi landasan pembangunan di abad
millennium. Pencapaian sasaran MDGs menjadi salah satu prioritas utama
bangsa Indonesia. Pencapaian tujuan dan target tersebut bukanlah semata-
mata tugas pemerintah tetapi merupakan tugas seluruh komponen bangsa
(Bappenas, 2008).

Komitmen Indonesia untuk mencapai tujuan MDGs mencerminkan komitmen
negara untuk menyejahterakan rakyatnya sekaligus menyumbang pada
kesejahteraan masyarakat dunia. Berkenaan dengan itu maka MDGs
merupakan acuan penting dalam penyusunan dokumen Rencana
2

Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025, Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009 dan 2010-
2014, Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahunan, dan dokumen Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) (Bappenas, 2011).

Dalam memenuhi komitmen tersebut Indonesia menghadapi tantangan global
yang tidak ringan. Perdagangan bebas, harga minyak yang masih meningkat
yang diikuti oleh subsidi BBM yang semakin membengkak, perubahan iklim
dan pemanasan global dan dampaknya pada harga pangan yang semakin
mahal, mewarnai dinamika sosial dan ekonomi pembangunan nasional
(Bappenas, 2011).

Gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang ingin dicapai melalui
pembangunan kesehatan adalah masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai
oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan sehat dan berperilaku hidup
sehat, memiliki kemampuan untuk mengjangkau pelayanan kesehatan yang
bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat yang setinggi-
tingginya di seluruh republik Indonesia. Gambaran masyarakat di Indonesia
di masa depan atau visi yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan
tersebut dirumuskan sebagai INDONESIA SEHAT 2015.

Indonesia Sehat 2015 merupakan rumusan yang dibuat dalam rangka
mewujudkan Tujuan Pembangunan Milenium (Milennium Development
Goals) bidang kesehatan. Melihat komitmen dari berbagai bangsa terkait
MDGs, pembangunan kesehatan di Indonesia juga menitikberatkan sasaran
terhadap acuan yang digarap pada MDGs. Sehingga visi Indonesia 2015
3

dengan misi yang dirumuskan dalam empat komponen misi pembangunan,
telah merumuskan tujuan kebijakan pembangunan kesehatan melalui paket
program MDGs. Sehingga dalam makalah ini kami mengangkat topik
mengenai menuju Indonesia sehat 2015/ Millenium Development Goals yang
akan membahas secara rinci mengenai sasaran, waktu dan target yang terukur
mengenai delapan paket rumusan pembangunan (Bappenas, 2008).

1.2 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1. Mengetahui sejarah singkat MDGs di dunia dan di Indonesia.
2. Mengetahui tujuan, target, dan indikator delapan rumusan pembangunan
dalam MDGs.
3. Mengetahui pencapaian sasaran, strategi, dan status pencapaian MDGs di
Indonesia.










4



BAB II
ISI

2.1. Sejarah singkat MDGs
Belakangan ini sering disuarakan kembali istilah MDGs. MDGs adalah
kependekan dari Millennium Development Goals atau bila diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia berarti Sasaran Pembangunan Millennium.
Millenium Development Goals (MDGs) pada dasarnya mewujudkan
komitmen internasional yang dibuat di Perserikatan Bangsa-Bangsa Dunia
pada konferensi Summits dan global sepanjang tahun 1990-an, seperti KTT
Dunia untuk Anak, Konferensi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua 1990
di Jomtien, Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan 1992 di
Rio de Janeiro, dan KTT Dunia untuk Pembangunan Sosial 1995 di
Copenhagen. Kemudian, pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium
Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) bulan September 2000 di New York,
sebanyak 189 negara anggota PBB yang sebagian besar diwakili oleh kepala
pemerintahan, termasuk presiden Indonesia, sepakat untuk menandatangi
Deklarasi Milenium yang diadopsi dari komitmen sebelumnya. Deklarasi
Milenium inilah yang berisi Millenium Development Goals (MDGs)
(Supriyadi A, 2009).
Deklarasi ini menghimpun komitmen para pemimpin dunia yang tidak
pernah ada sebelumnya untuk menangani isu perdamaian, keamanan,
5

pembangunan, hak asasi dan kebebasan fundamental dalam satu paket.
Dalam konteks inilah, negara-negara anggota PBB kemudian mengadopsi
Tujuan Pembangunan milenium (Millennium Development Goals/MDGs).
Setiap tujuan memiliki satu atau beberapa target beserta indikatornya. MDG
menempatkan pembangunan manusia sebagai fokus utama pembangunan,
memiliki tenggat waktu dan kemajuan yang terukur. MDG didasarkan pada
konsensus dan kemitraan global, sambil menekankan tanggung jawab
negara berkembang untuk melaksanakan pekerjaan rumah mereka,
sedangkan negara maju berkewajiban mendukung upaya tersebut (Asmanto P,
2008).

2.2. Tujuan , target, dan indikator MDGs

MDGs terdiri dari 8 tujuan, 20 target, serta 60 indikator. Berikut ini adalah isi
MDGs secara keseluruhan : (Supriyadi A, 2009)

Gambar 1. Delapan Tujuan MDGs
6

A. Tujuan 1 : Mengentaskan Kemiskinan Ekstrim dan Kelaparan
Target 1a: Menurunkan proporsi penduduk yang hidup di bawah garis
kemiskinan menjadi setengahnya antara 1990-2015.
o Indikator:
1.1. Proporsi pendapatan penduduk di bawah $ 1 (PPP) per hari
1.2. Rasio Kesenjangan Kemiskinan
1.3. Kontribusi kuantil pertama penduduk berpendapatan
terendah terhadap konsumsi nasional.

Target 1b: Menyediakan seutuhnya Pekerjaan yang produktif dan
layak, terutama untuk perempuan dan kaum muda.
o Indikator:
1.4. Laju Pertumbuhan PDB per orang dipekerjakan
1.5. Rasio pekerjaan terhadap populasi
1.6. Proporsi pekerja yang hidup dengan kurang dari $1 per-hari/
pekerja miski
1.7. Proporsi pekerja yang memiliki rekening pribadi dan anggota
keluarga bekerja terhadap jumlah pekerja total/ pekerja
rentan.
Target 1c: Menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan
menjadi setengahnya antara tahun 1990 dan 2015
Indikator :
1.8 Prevalensi berat badan anak di bawah usia lima tahun
1.9 Proporsi penduduk di bawah tingkat diet konsumsi minimum
(2.100 kkal/per kapita/hari).
7

B. Tujuan 2. Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua
Target 2a: Memastikan bahwa pada 2015 semua anak di manapun,
laki laki maupun perempuan akan bisa menyelesaikan pendidikan
dasar secara penuh.
Indikator:
2.1 Rasio partisipasi pendidikan dasar
2.2 Proporsi murid mulai kelas 1 yang mencapai kelas terakhir
primer
2.3 Melek Huruf-anak usia 15-24 tahun, perempuan dan laki-laki

C. Tujuan 3: Mendukung Kesetaraan Gender dan Memberdayakan
Perempuan
Target 3a: Menghapus perbedaan gender dalam pendidikan dasar dan
menengah pada 2005, dan di semua jenjang pendidikan paling lambat
tahun 2015 .
Dengan Indikator:
3.1 Rasio anak perempuan terhadap anak laki-laki di pendidikan
primer, sekunder dan tersier.
3.2 Proporsi perempuan dalam upah kerja di sektor non-pertanian
3.3 Proporsi kursi dipegang oleh perempuan di parlemen nasional
Yang menjadi indikator utama adalah rasio anak perempuan terhadap
anak laki-laki di pendidikan dasar, lanjutan dan tinggi. Disini
Indonesia tampaknya sudah mencapai target, dengan rasio 100% di
8

sekolah dasar, 99,4% di sekolah lanjutan pertama, 100,0% di sekolah
lanjutan atas, dan 102,5% di pendidikan tinggi.

Indikator kedua adalah rasio melek huruf perempuan terhadap laki-
laki untuk usia 15-24 tahun. Disini pun, tampaknya kita telah
mencapai target dengan rasio 99,9%. Indikator ketiga adalah
sumbangan perempuan dalam kerja berupah di sektor non-pertanian.
Disini kita masih jauh dari kesetaraan. Nilainya saat ini hanya 33%.
Indikator keempat adalah proporsi perempuan di dalam parlemen,
dimana proporsinya saat ini hanya 11,3%.

D. Tujuan 4. Mengurangi Tingkat Kematian Anak
Target 4a: Menurunkan angka kematian balita sebesar dua pertiganya
antara 1990 dan 2015.
Dengan Indikator:
4.1. Angka kematian balita
4.2. Proporsi anak-anak usia 1 tahun yang diimunisasi campak

E. Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu
Target 5a: Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya
antara 1990 dan 2015.
Indikator :
5.1 Rasio kematian ibu
5.2 Proporsi kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan
terampil
9

Target 5b: Mencapai dan menyediakan akses kesehatan reproduksi
untuk semua pada 2015.
Indikator:
5.3 Prevalensi kontrasepsi
5.4 Tingkat kelahiran remaja.
5.5 Cakupan kehamilan (setidaknya satu kunjungan dan
setidaknya empat dilihat).
5.6 Belum terpenuhi kebutuhan keluarga berencana.

F. Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya
Target 6a: Menghentikan dan mulai membalikkan penyebaran HIV /
AIDS
o Indikator:
6.1 Prevalensi HIV di antara penduduk usia 15-24 tahun.
6.2 Penggunaan kondom pada seks berisiko tinggi.
6.3 Proporsi penduduk berusia 15-24 tahun dengan pengetahuan
yang benar dan komprehensif tentang HIV / AIDS
6.4 Perbandingan kehadiran disekolah anak yatim dan sekolah non-
anak yatim berusia 10-14.
Target 6b: Mencapai akses universal terhadap pengobatan untuk HIV /
AIDS bagi semua orang yang membutuhkannya pada tahun 2010


10

o Indikator:
6.5 Proporsi penduduk dengan infeksi HIV lanjut dengan akses
terhadap obat antiretroviral.
Target 6c: Menghentikan dan mulai membalikkan insiden malaria dan
penyakit utama lainnya.
o Indikator:
6.6 Insidensi dan angka kematian yang terkait dengan malaria
6.7 Proporsi anak-anak di bawah 5 tidur di bawah diperlakukan
insektisida dan kelambu.
6.8 Proporsi anak-anak di bawah 5 dengan demam yang tepat
diobati dengan obat anti-malaria.
6.9 Insiden, prevalensi dan tingkat kematian yang terkait dengan
TBC
6.10 Proporsi kasus TBC yang terdeteksi dan sembuh di bawah
G. Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Target
Target 7a: Memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke
dalam kebijakan dan program negaraserta mengakhiri kerusakan
sumber daya alam
o Indikator pertama adalah proporsi lahan berupa tutupan hutan.
Indikator lain adalah rasio kawasan lindung untuk
11

mempertahankan keragaman hayati dan proporsi rumah tangga
yang menggunakan bahan bakar padat.
Target 7b: Mengurangi laju hilangnya keragaman hayati, dan
mencapai pengurangan yang signifikan pada 2010
o Indikator:
7.1 Proporsi luas daratan ditutupi oleh hutan
7.2 Emisi CO2, total, per kapita dan setiap $ 1 PDB (PPP)
7.3 Konsumsi zat-zat pengurang ozon
7.4 Proporsi stok ikan dalam batas-batas biologis yang aman
7.5 Proporsi dari total sumber daya air yang digunakan
7.6 Proporsi darat dan wilayah laut yang dilindungi
7.7 Proporsi spesies terancam punah
Target 7c: Menurunkan separuh proporsi penduduk yang tidak
memiliki akses yang berkelanjutan terhadap air minum yang aman dan
sanitasi dasar pada 2015
o Indikator:
7.8. Perbaikan proporsi penduduk menggunakan sumber air
minum
7.9. Proporsi penduduk menggunakan fasilitas sanitasi yang baik
Target 7d: Mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan untuk
sedikitnya 100 juta di daerah kumuh di tahun 2020
o Indikator :
7.10. Proporsi penduduk perkotaan yang tinggal di daerah kumuh


12

H. Tujuan 8: Mengembangkan Kemitraan untuk Pembangunan
Target 8a: Mengembangkan lebih jauh lagi terbuka, berbasis
peraturan, dapat diprediksi, non-diskriminatif perdagangan dan sistem
keuangan. Termasuk komitmen terhadap pemerintahan yang baik,
pembangunan dan pengentasan kemiskinan baik nasional dan
internasional
Target 8b: Membantu kebutuhan khusus dari negara-negara kurang
berkembang termasuk tarif dan kuota bebas akses bagi negara
berkembang , ekspor, program peningkatan hutang untuk negara-
negara miskin berutang banyak (HIPC) dan pembatalan utang bilateral
resmi dan lebih murah hati ODA bagi negara-negara berkomitmen
untuk pengentasan kemiskinan
Target 8c: Membantu kebutuhan khusus negara-negara berkembang
dan daratan pulau kecil berkembang Serikat (melalui Program Aksi
untuk Pembangunan Berkelanjutan di Pulau Kecil Mengembangkan
Serikat dan hasil dari kedua puluh dua sidang khusus Majelis Umum)
Target 8d: Secara komprehensif mengusahakan persetujuan mengenai
masalah utang dengan negara-negara berkembang melalui upaya
nasional dan internasional untuk membuat utang berkelanjutan dalam
jangka panjang.
Beberapa indikator yang tercantum di bawah ini dimonitor secara
terpisah untuk negara-negara kurang berkembang (LDCs), Afrika,
negara-negara berkembang yang terkurung daratan dan kepulauan
13

kecil yang sedang bekembang. Official development assistance
(ODA)/Bantuan pembangunan resmi (ODA)
8.1 Net ODA, total dan untuk negara berkembang, sebagai persentase
OECD / DAC donor pendapatan nasional bruto
8.2 Proporsi dari total bilateral, sektor-ODA dapat diperuntukkan
OECD / DAC donor untuk pelayanan sosial dasar (pendidikan dasar,
perawatan kesehatan primer, gizi, air bersih dan sanitasi)
8.3 Proporsi bantuan pembangunan bilateral resmi OECD / DAC
donor yang tidak mengikat
8.4 ODA yang diterima di daratan negara-negara berkembang sebagai
proporsi dari pendapatan nasional bruto mereka
8.5 ODA yang diterima di kepulauan kecil yang sedang bekembang
sebagai proporsi dari pendapatan nasional bruto mereka

Akses pasar
8.6 Proporsi dari total impor negara maju (dengan nilai dan tidak
termasuk senjata) dari negara-negara berkembang dan negara sedang
berkembang, mengaku bebas dari kewajiban
8.7 Rata-rata tarif yang diberlakukan oleh negara-negara maju pada
produk-produk pertanian dan tekstil dan pakaian dari negara-negara
berkembang
8.8 Dukungan Pertanian perkiraan untuk negara-negara OECD
sebagai persentase dari produk domestik bruto mereka
14

8.9 Proporsi ODA yang disediakan untuk membantu membangun
kapasitas perdagangan.

Debt sustainability Keberlanjutan hutang
8.10 Total jumlah negara-negara yang telah mencapai titik keputusan
HIPC dan jumlah yang telah mencapai penyelesaian HIPC poin
(kumulatif)
8.11 Penghapusan utang berkomitmen di bawah Inisiatif HIPC dan
MDRI
8.12 Utang layanan sebagai persentase dari ekspor barang dan jasa
Target 8e: Dalam kerjasama dengan perusahaan farmasi, menyediakan
akses ke obat-obatan penting yang terjangkau di negara-negara
berkembang
8.13 Proporsi penduduk dengan akses ke obat-obatan penting yang
terjangkau atas dasar yang berkelanjutan

Target 8F: Dalam kerjasama dengan pihak swasta, membangun
adanya penyerapan keuntungan dari teknologi-teknologi baru,
terutama teknologi informasi dan komunikasi.
o Indikator
8.14 Jaringan telepon per 100 penduduk
8.15 Pelanggan telepon seluler per 100 penduduk
8.16 Pengguna internet per 100 penduduk


15

2.3. Capaian Sasaran MDGs di Indonesia
Dari delapan tujuan yang ditetapkan, lima tujuan MDG yaitu MDG 1, 4, 5, 6
dan 7 terkait erat dengan kesehatan. Kesepakatan untuk mencapai MDG
bertujuan meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Untuk Indonesia,
sasaran MDG tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) 2010-2014 dan Renstra Kementerian Kesehatan 2010-
2014 . Untuk mencapai sasaran-sasaran MDG tersebut, perlu kerja keras dan
kerja cerdas, meninggalkan cara kerja yang bersifat bisnis bisaa . Harus ada
inovasi dan terobosan serta fokus pada kegiatan prioritas. Implementasi
kebijakan ini hanya mungkin terjadi bila didukung seluruh jajaran lintas
sektor, pemerintah daerah, seluruh masyarakat, dan stakeholders lainnya
(Sedyaningsih E.R, 2012).
Bappenas melaporkan pada tahun 2011, pencapaian tujuan MDGs dapat
dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, tujuan yang telah berhasil dicapai.
Kedua, tujuan yang menunjukkan kemajuan bermakna dan diharapkan dapat
dicapai pada atau sebelum tahun 2015. Ketiga, tujuan yang masih
memerlukan upaya keras untuk mencapainya.
a) Tujuan-tujuan MDGs yang telah tercapai adalah:
MDG 1, yaitu proporsi penduduk dengan pendapatan kurang dari USD
1,00 (PPP) per kapita per hari.
MDG 3, yaitu rasio APM perempuan terhadap laki-laki SMA/
MA/Paket C dan rasio angka melek huruf perempuan terhadap laki-laki
umur 15-24 tahun.
16

MDG 6, yaitu pengendalian penyebaran dan penurunan jumlah kasus
baru tuberkulosis (TB). Pencapaian ini diindikasikan oleh angka kejadian
dan tingkat kematian, serta proporsi tuberkulosis yang ditemukan, diobati
dan disembuhkan dalam program DOTS.
b) Tujuan-tujuan MDGs yang telah menunjukkan kemajuan signifikan dan
diharapkan dapat tercapai pada tahun 2015 (on-track) adalah:
MDG 1, yaitu terdapat kemajuan yang sangat besar dari indeks
kedalaman kemiskinan, proporsi tenaga kerja yang berusaha sendiri
dan pekerja bebas keluarga terhadap total kesempatan kerja, dan
prevalensi balita dengan berat badan rendah/kekurangan gizi.
MDG 2, yaitu APM SD, proporsi murid kelas 1 yang berhasil
menamatkan sekolah dasar, serta angka melek huruf penduduk usia
15-24 tahun, perempuan dan laki-laki yang semuanya sudah
mendekati 100 persen.
MDG 3, yaitu rasio APM perempuan/laki-laki di tingkat
SD/MI/Paket A, SMP/MTs/Paket B, dan pendidikan tinggi yang
hampir mendekati 100 persen serta kontribusi perempuan dalam
pekerjaan upahan di sektor nonpertanian, dan proporsi kursi yang
diduduki perempuan di DPR yang meningkat.
MDG 4, yaitu penurunan yang sudah mendekati dua pertiga angka
kematian neonatal, bayi, dan balita serta proporsi anak usia 1 tahun
yang mendapat imunisasi campak yang meningkat pesat.
MDG 5, yaitu berupa peningkatan angka pemakaian kontrasepsi bagi
perempuan menikah dengan menggunakan cara modern, penurunan
17

angka kelahiran remaja perempuan umur 15-19 tahun, peningkatan
cakupan pelayanan antenatal baik 1 maupun 4 kali kunjungan, dan
penurunan kebutuhan KB yang tidak terpenuhi (unmet need).
MDG 6, yaitu mengendalikan penyebaran dan penurunan jumlah
kasus baru HIV dan AIDS berupa peningkatan proporsi penduduk
terinfeksi HIV lanjut yang memiliki akses pada obat-obatan
Antiretroviral (ARV). Selain itu, pengendalian penyebaran dan
mulai menurunkan jumlah kasus baru malaria yang diindikasikan
oleh peningkatan proporsi anak balita yang tidur dengan kelambu
berinsektisida belum memadai dalam rangka menurunkan jumlah
kasus baru malaria.
MDG 7, yaitu berupa penurunan konsumsi bahan perusak ozon,
proporsi tangkapan ikan yang tidak melebihi batas biologis yang
aman, serta rasio luas kawasan lindung untuk menjaga kelestarian
keanekaragaman hayati terhadap total luas kawasan hutan dan rasio
rasio kawasan lindung perairan terhadap total luas perairan teritorial
yang keduanya meningkat.
MDG 8, yaitu berupa keberhasilan pengembangan sistem keuangan
dan perdagangan yang terbuka, berbasis peraturan, dapat diprediksi
dan tidak diskriminatif yang diindikasikan oleh rasio ekspor dan
impor terhadap PDB, rasio pinjaman terhadap simpanan di bank
umum, dan rasio pinjaman terhadap simpanan di BPR yang
semuanya meningkat pesat. Selain itu juga keberhasilan dalam
menangani utang untuk dapat mengelola utang dalam jangka panjang
18

yang diindikasikan oleh rasio pinjaman luar negeri terhadap PDB
dan rasio pembayaran pokok utang dan bunga utang luar negeri
terhadap penerimaan hasil ekspor yang menurun tajam. Keberhasilan
selanjutnya adalah dalam hal pemanfaatan teknologi informasi dan
komunikasi, yang diindikasikan oleh peningkatan proporsi penduduk
yang memiliki jaringan telepon tetap dan telepon seluler.
c) Tujuan-tujuan MDGs yang telah menunjukkan kemajuan namun masih
diperlukan kerja keras untuk mencapainya adalah:
MDG 1, yaitu berupa penurunan hingga setengahnya persentase
penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan nasional.
MDG 5, yaitu berupa penurunan hingga tiga perempatnya angka
kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup.
MDG 6, yaitu mengendalikan penyebaran dan penurunan jumlah
kasus baru HIV dan AIDS berupa penurunan prevalensi HIV dan
AIDS, penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko tinggi, dan
peningkatan proporsi penduduk usia 15-24 tahun yang memiliki
pengetahuan komprehensif tentang HIV dan AIDS, baik laki-laki
maupun perempuan menikah dan belum menikah.
MDG 7, yaitu berupa rasio luas kawasan tertutup pepohonan, jumlah
emisi CO, konsumsi energiprimer per kapita, elastisitas energi,
serta proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap
sumber air minum layak dan fasilitasi sanitasi dasar layak di
perkotaan dan perdesaan.
19

MDG 8, yaitu berupa peningkatan proporsi rumah tangga dengan
akses internet dan kepemilikan komputer pribadi yang belum
memadai.

2.4. Strategi dalam percepatan pencapaian MDGs di Indonesia
Untuk mempercepat pencapaian sasaran MDGs, Presiden telah menetapkan
Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2010 Tentang Program Pembangunan yang
Berkeadilan. Salah satu amanat yang tercantum dalam Inpres tersebut adalah
agar setiap Kementerian/Lembaga, Gubernur, dan Para Bupati/Walikota
mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi, dan
kewenangan masing-masing dalam rangka pelaksanaan program-program
pembangunan yang berkeadilan, antara lain meliputi program pencapaian
Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development GoalsMDGs).
Implementasi dari Inpres No. 3 Tahun 2010 adalah sebagai berikut:
1. Pengintegrasian tujuan, target, dan indikator MDGs ke dalam sistem
perencanaan dan penganggaran Pemerintah baik di tingkat Pusat,
Provinsi, maupun Kabupaten/Kota baik jangka menengah (5 tahunan)
maupun jangka pendek (tahunan);
2. Penyusunan Peta Jalan Percepatan Pencapaian MDGs di Indonesia 2010
2015 yang digunakan sebagai acuan bagi seluruh pemangku
kepentingan dalam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan
mengevaluasi berbagai program dan kegiatan dalam rangka percepatan
pencapaian MDGs;
3. Pembentukan Tim Koordinasi MDGs Nasional di bawah koordinasi
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dengan
20

beranggotakan seluruh Kementerian/Lembaga yang terkait dalam upaya
percepatan pencapaian MDGs. Tugas pokok dari tim tersebut adalah
bertanggung jawab dalam koordinasi perencanaan, pelaksanaan, dan
monitoring-evaluasi pencapaian sasaran MDGs;
4. Penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) percepatan pencapaian MDGs
di 33 Provinsi dengan rangkaian kegiatan sebagai berikut:
a. Penyusunan pedoman teknis Rencana Aksi Daerah (RAD) Provinsi
tentang percepatan pencapaian tujuan MDGs untuk memberikan
panduan bagi daerah, khususnya provinsi dalam menyusun dokumen
rencana aksi percepatan pencapaian target MDGs di daerah,
sehingga dapat dihasilkan dokumen rencana aksi yang jelas,
operasional dan selaras dengan kebijakan nasional;
b. Pelaksanaan fasilitasi penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD)
Provinsi oleh Tim Koordinasi MDGs Nasional kepada Tim
Koordinasi MDGs Provinsi untuk menyamakan persepsi dalam
penyusunan target dan indikator MDGs di tingkat Provinsi dan
Kabupaten/Kota, menyusun langkah-langkah penyusunan RAD
MDGs Provinsi, dan melakukan exercise penyusunan draft RAD
Percepatan Pencapaian Target MDGs di Provinsi termasuk
penyusunan target, sasaran dan indikator;
c. Penyusunan pedoman teknis Definisi Operasional Indikator MDGs
yang berisikan tentang daftar tujuan, target, dan indikator MDGs,
konsep definisi, manfaat, metode perhitungan, dan sumber data
21

yang digunakan untuk menyamakan persepsi sehingga data dan
informasi MDGs dapat dibandingkan antarprovinsi;
d. Penyusunan pedoman teknis Review RAD MDGs Provinsi sebagai
acuan dalam mereview RAD MDGs Provinsi yang sejalan dengan
kebijakan program, dan sasaran MDGs Nasional;
e. Penyusunan pedoman teknis Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan
RAD MDGs Provinsi untuk memastikan pelaksanaan program dan
kegiatan MDGs yang tertuang didalam RAD MDGs Provinsi sesuai
dengan rencana yang ditetapkan, mengidentifikasi dan
mengantisipasi permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan
program percepatan pencapaian MDGs sehingga dapat diatasi, dan
merumuskan langkah tindak lanjut percepatan pencapaian target
MDGs;
5. Penetapan Surat Edaran Kementerian PPN dan Kemendagri Nomor:
0068/M.PPN/02/2012 dan Nomor: 050/583/SJ tentang Percepatan
Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development
Goals) Tahun 2011-2015 antara lain untuk mendorong agar daerah
menyusun program dan kegiatan serta pengalokasian anggaran dalam
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD), Rencana Kerja Satuan
Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Rencana Kerja dan Anggaran Satuan
Kerja Perangkat Daerah agar mengacu pada RAD MDGs dimasing-
masing provinsi untuk percepatan pencapaian tujuan target dan indikator
MDGs.
22

6. Peningkatan dukungan pembiayaan untuk percepatan pencapaian MDGs,
yaitu :
a. Penyusunan kerangka kebijakan pendanaan percepatan sasaran MDGs
melalui Public Private Partnership (PPP) untuk mendorong pihak
swasta bermitra dengan Pemerintah dalam upaya percepatan
pencapaian MDGs;
b. Penyusunan pedoman harmonisasi Pelaksanaan Corporate Social
Responsibilities (CSR) untuk mensinergikan pelaksanaan kegiatan
CSR dengan program dan kegiatan dalam rangka pencapaian MDG
yang mencakup upaya (i) pencapaian keselarasan antara tujuan
pelaksanaan CSR dengan MDG, (ii) keselarasan targeting atau sasaran
kelompok masyarakat, (iii) keselarasan lokasi pelaksanaan CSR
dengan lokasi target pencapaian MDG; dan, (iv) keselarasan indikator
kinerja yang dipakai dalam pencapaian MDG dengan kegiatan CSR;
7. Penyusunan pedoman pemberian insentif bagi daerah untuk mendukung
percepatan pencapaian MDGs sebagai panduan dalam penetapan,
pelaksanaan dan pemantauan pemberian insentif daerah yang memiliki
kinerja baik dalam upaya pencapaian tujuan MDGs.
8. Pelaksanaan diseminasi dan advokasi percepatan pencapaian MDGs
kepada seluruh stakeholders meliputi DPR, organisasi profesi, perguruan
tinggi, media masa, lembaga swadaya masyarakat, Kementerian/Lembaga
di tingkat Pusat, dan SKPD;
9. Pemberian MDGs Award dengan tujuan memberikan apresiasi kepada
para pemangku kepentingan dan pelaku pembangunan yang telah
23

menghasilkan prestasi terbaik dalam upaya mendorong percepatan
pencapaian MDGs di Indonesia dan membangun sistem insentif dan
disinsentif berkesinambungan yang dapat menjadi katalis bagi upaya
percepatan pencapaian MDGs di Indonesia. Kegiatan ini dikoordinasikan
oleh Kantor Utusan Khusus Presiden (KUKP) RI untuk Millennium
Development Goals;
10. Penguatan ketersediaan data dan informasi mengenai indikator-indikator
MDGs untuk memperkuat sistem perencanaan, monitoring, dan evaluasi
kinerja pencapaian MDGs. Kegiatannya merupakan kerjasama antara
Badan Pusat Statistik (BPS) dengan KemenPPN/Bappenas.
11. Dalam lingkup regional, khususnya ASEAN, Indonesia juga berperan
aktif dalam mendukung upaya peningkatan kerjasama MDGs dalam
rangka mengurangi kesenjangan pembangunan di kawasan. Diadopsinya
ASEAN Roadmap for the Attainment of the Millennium Development
Goals selama Keketuaan Indonesia untuk untuk ASEAN pada tahun 2011
mencerminkan komitmen dan kontribusi signifikan Indonesia untuk turut
mendukung penetapan kebijakan regional terkait dengan upaya
percepatan pencapaian MDGs.

Walaupun target MDG-1 yaitu menurunkan prevalensi gizi kurang pada anak
balita dalam posisi on track, namun beberapa provinsi masih menunjukkan
prevalensi gizi buruk dan gizi kurang di atas angka nasional. Di samping itu
ada masalah stunting prevalensinya mencapai 35,8% (Sedyaningsih E.R,
2012).
24

Puskesmas Karang Anyar sebagai sarana kesehatan primer tingkat kecamatan
turut andil dalam mewujudkan target MDGs terkhusus di wilayah kerjanya.
Persentase bayi dan balita dengan gizi buruk mencapai target < 15%, yakni
hanya terdapat dua kasus. Sedangkan, 85% merupakan bayi dan balita yang
timbangannya naik atau dapat dikatakan bergizi cukup dan baik. Program
yang dilakukan oleh Puskesmas Karang Anyar untuk meminimalisasi
kejadian gizi buruk dan gizi kurang pada bayi dan balita sudah banyak
dilakukan diantaranya dengan kegiatan posyandu rutin (penimbangan berat
badan, penyuluhan , dan pemberian makanan tambahan).

Strategi terkait MDG-4 untuk menurunkan angka kematian balita 2/3 dari
kondisi tahun 1990 dalam posisi on track. Harus disadari adanya disparitas
angka kematian anak baik antar Provinsi maupun Kabupaten/Kota, pada anak
yang dilahirkan dari keluarga yang memiliki sosio-ekonomi yang rendah serta
mereka yang tinggal di pedesaan. Kesenjangan ini terkait dengan; kemudahan
masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas; keterbukaan
daerah terhadap pembangunan ekonomi; ketersediaan sumber daya, serta;
kebijakan masing-masing daerah. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah
angka kematian neonatal cenderung stagnan. Faktor infeksi dan masalah gizi
sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup anak. Riskesdas 2007
menunjukkan, penyebab kematian balita sebesar 36% adalah masalah
neonatal (Asfiksia, Berat Badan Lahir Rendah dan Infeksi), 17,2% karena
Diare dan 13,2% oleh Pneumonia (Sedyaningsih E.R, 2012).

25

Di wilayah kerja Puskesmas Karang Anyar pada tahun 2014 dari bulan
Januari sampai dengan Juni tidak ditemukan bayi yang meninggal, sehingga
angka kematian bayi sampai dengan saat ini adalah 0%. Angka ini menurun
dibandingkan tahun 2013, dimana didapatkan 9 bayi meninggal sepanjang
tahun 2013. Program yang dilakukan Puskesmas Karang Anyar untuk
menekan angka kematian bayi adalah dengan ANC terpadu selama bayi
dalam kandungan, pemeriksaan dan kunjungan terhadap bayi baru lahir.

Terkait MDGS-5 yaitu Menurunkan Angka Kematian Ibu, masih diperlukan
kerja keras dan kerja cerdas untuk menurunkan AKI menjadi 102 per
100.000 Kelahiran Hidup. Untuk mengatasi masalah ini, Kementerian
Kesehatan melakukan langkah-langkah yaitu meningkatkan pengetahuan dan
peran aktif keluarga dan masyarakat melalui penerapan buku KIA; Program
Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K); Program rumah
tunggu; Program kemitraan bidan dan dukun; Peningkatan persalinan oleh
tenaga kesehatan dan persalinan di fasilitas kesehatan, serta mengatasi
masalah emergensi melalui Puskesmas PONED dan Rumah sakit PONEK
(Sedyaningsih E.R, 2012).

Sejak tahun 2011 diluncurkan Program Jaminan Persalinan (Jampersal) untuk
percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir (neonatal).
Program ini diperuntukkan bagi ibu hamil yang tidak memiliki jaminan
persalinan (Sedyaningsih E.R, 2012).

26

Angka kematian ibu di wilayah kerja Puskesmas Karang Anyar juga sejak
Januari-Juni 2014 belum ditemukan adanya kasus. Namun sepanjang tahun
2013, terdapat dua ibu yang meninggal karena kehamilan dengan risiko,
yakni kehamilan dengan B21 serta kehamilan dengan ruptur uteri.
Tindakan atau program yang dilakukan oleh Puskesmas Karang Anyar dalam
menekan angka kematian ibu, antara lain dengan pemeriksaan terhadap ibu
hamil dengan ANC terpadu mulai dari K1-K4, ibu bersalin dengan ditolong
oleh bidan sebagai tenaga kesehatan yang ada di setiap desa di wilayah kerja
Puskesmas Karang Anyar, dan ibu nifas dengan pemberian Vitamin A dan
tablet zat besi.

Terkait MDG-6 untuk HIV-AIDS, TB dan Malaria masih dalam posisi off
track. Kemenkes masih menghadapi kendala khususnya pengendalian
penyebaran dan penurunan jumlah kasus HIV-AIDS; Penggunaan kondom
pada kelompok risiko tinggi; Peningkatan pengetahuan tentang HIV-AIDS.
Dalam kata lain, pengetahuan masyarakat tentang HIV-AIDS masih rendah.
Strategi yang dilakukan untuk mencapai target MDG 6 adalah peningkatan
sosialisasi; Peningkatan akses pengobatan HIV-AIDS; Implementasi
program, PMTCT; Pengurangan dampak buruk pada penyalahguna NAPZA
suntik atau Penasun (Sedyaningsih E.R, 2012).

Sementara terkait Pengendalian Malaria, dalam posisi on track karena angka
kejadian malaria per 1000 penduduk menunjukkan kecenderungan menurun.
Sedangkan, untuk pengendalian TB, sasaran menurunkan kasus baru
tuberkulosis justru sudah tercapai (Sedyaningsih E.R, 2012).
27

Program untuk HIV/AIDS di Puskesmas Karang Anyar belum dapat berjalan
karena belum tersedianya prasarana yang mendukung dan hingga saat ini
belum tercatat mengenai penderita HIV/AIDS yang ada di wilayah kerja
Puskesmas Karang Anyar. Sedangkan untuk malaria, tidak pernah ditemukan
kasus dikarenakan Karang Anyar bukan daerah endemis malaria. Oleh karena
itu, dalam setiap pelaporan selalu ditulis nihil.

Untuk program TB, Puskesmas Karang Anyar sudah memiliki sistem yang
cukup baik. Namun, target penjaringan pasien dengan TB sebesar 70% belum
terpenuhi hingga Mei 2014, baru 24 % yakni dari 1128 pasien suspek TB,
didapatkan 118 pasien dengan BTA (+). Program pengobatan TB bagi pasien
dengan BTA (+) juga sudah berlangsung cukup baik. Didukung pula dengan
Unit PAL yang dimiliki oleh Puskesmas Karang Anyar sebagai prasarana
konsultasi dan edukasi pasien dan keluarganya.

Terkait target MDG-7 yaitu Akses Air Bersih Pada Rumah Tangga, Menkes
menyatakan masih dalam posisi off track. Pencapaian MDG-7 ini sangat
penting bagi kesehatan masyarakat, karena kualitas air dan sanitasi
merupakan faktor risiko berbagai penyakit menular (Endang Rahayu
Sedyaningsih, 2012).

2.5. Ringkasan Status Pencapaian MDGs di Indonesia
A. TUJUAN 1: MENANGGULANGI KEMISKINAN DAN KELAPARAN
Upaya penanggulangan kemiskinan di Indonesia menunjukkan kemajuan
yang berarti dan ini sudah sesuai dengan target MDGs yang ditunjukkan
dengan menurunnya proporsi penduduk yang hidup di bawah garis
28

kemiskinan nasional dari 15,10 persen (tahun 1990) menjadi 12,49 persen
(2011) dan Indeks Kedalaman Kemiskinan dari 2,70 menjadi 2,08 pada
periode yang sama. Laju pertumbuhan PDB per tenaga kerja meningkat
dari 3,52 persen (tahun 1990) menjadi 5,04 persen (tahun 2011). Di
samping itu, terjadi penurunan proporsi penduduk yang menderita
kelaparan dari tahun 1989 ke tahun 2010 yang ditunjukkan dengan
prevalensi balita dengan berat badan rendah dari 31,00 persen menjadi
17,91 persen, serta proporsi penduduk dengan asupan kalori kurang dari
1400 Kkal/kapita/hari dari 17,00 persen (tahun 1990) menjadi 14,65
persen (tahun 2011).

B. TUJUAN 2: MENCAPAI PENDIDIKAN DASAR UNTUK SEMUA
Upaya pencapaian pendidikan dasar untuk semua telah sejalan dengan
sasaran MDGs, hal ini ditunjukkan dengan sudah diterapkannya
pendidikan dasar 9 tahun di Indonesia. Pada tahun 2011, angka partisipasi
murni SD telah mencapai 95,55 persen; proporsi murid kelas I yang
berhasil mencapai kelas VI adalah 96,58 persen; dan angka melek huruf
penduduk usia 15-24 tahun, perempuan sudah mencapai 98,75 persen dan
laki-laki mencapai 98,80 persen.

C. TUJUAN 3: MENDORONG KESETARAAN GENDER DAN
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
Upaya untuk mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
sebagian besar telah mencapai sasaran MDGs tahun 2015. Pada tahun
2011, Rasio APM perempuan/laki-laki di tingkat SD adalah 98,80; di
29

tingkat SMP adalah 103,45; dan di tingkat pendidikan tinggi adalah 97,82.
Rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki pada kelompok usia 15-
24 telah mencapai 99,95 persen pada tahun yang sama.
Sementara sasaran yang sejalan dengan target MDGs adalah untuk rasio
APM perempuan/laki-laki di SMA telah mencapai 101,40 pada tahun
2011. Di bidang ketenagakerjaan, terlihat adanya peningkatan kontribusi
perempuan dalam pekerjaan upahan di sektor nonpertanian, yaitu 36,67
persen pada tahun 2011. Di samping itu, proporsi kursi yang diduduki
perempuan di DPR juga mengalami peningkatan, menjadi 18,4 persen
(2011).

D. TUJUAN 4: MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN ANAK
Upaya untuk menurunkan angka kematian anak sudah sejalan dengan
sasaran MDGs. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan angka kematian
balita dari 97 (tahun 1991) menjadi 44 per seribu kelahiran hidup (tahun
2007); penurunan angka kematian bayi dari 68 menjadi 34 per seribu
kelahiran; dan neonatal dari 32 menjadi 19 per seribu kelahiran.
Sedangkan proporsi anak usia 1 tahun yang diimunisasi campak
meningkat dari 44,50 persen (tahun 1991) menjadi 87,30 persen (tahun
2011).

E. TUJUAN 5: MENINGKATKAN KESEHATAN IBU
Proporsi kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan terlatih telah berhasil
ditingkatkan dari 40,70 persen (tahun 1992) menjadi 81,25 persen (tahun
2011), namun di sisi lain angka kematian ibu baru dapat ditekan dari 390
30

(tahun 1991) menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup (tahun 2007).
Sementara itu angka pemakaian kontrasepsi bagi perempuan menikah usia
15-49 tahun dengan cara modern meningkat dari 47,10 persen (tahun
1991) menjadi 60,42 persen (tahun 2011).

F. TUJUAN 6: MEMERANGI HIV DAN AIDS, MALARIA DAN
PENYAKIT MENULAR LAINNYA
Upaya mengendalikan penyebaran, menurunkan jumlah kasus baru dan
mewujudkan akses terhadap pengobatan HIV dan AIDS masih
memerlukan upaya keras, inovatif, dan kreatif untuk mencapainya.
Prevalensi HIV dan AIDS masih cukup tinggi yaitu 0,30 persen pada
tahun 2011, selain itu akses terhadap ARV sudah mencapai 84,10 persen
dari penduduk terinfeksi HIV dan AIDs lanjut.
Angka kejadian malaria menurun pesat dari 4,68 (tahun 1990) menjadi
1,75 per 1.000 penduduk (tahun 2011). Sementara itu, angka kejadian
Tuberkulosis sudah berhasil mencapai target MDGs 2015 pada tahun 2011
yaitu dari 343 (1990) menjadi 189 kasus per 100.000 penduduk/tahun.

G. TUJUAN 7: MEMASTIKAN KELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP
Sebagian besar sasaran untuk memastikan kelestarian lingkungan hidup
masih memerlukan upaya keras untuk mencapainya. Rasio luas kawasan
tertutup pepohonan terhadap luas daratan menurun dari 59,97 persen pada
tahun 1990 menjadi 52,52 persen pada 2010, sedangkan jumlah emisi CO
meningkat dari 1.377.983 Gg CO2e (2000) menjadi 1.791.372 GgCOe
(2005). Lebih lanjut, proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan
31

terhadap sumber air minum layak meningkat dari 37,73 persen (1993)
menjadi 42,76 persen (2011), sedangkan untuk fasilitasi sanitasi dasar
layak dari 24,81 persen (1993) menjadi 55,60 persen (2011).

H. TUJUAN 8: MEMBANGUN KEMITRAAN GLOBAL UNTUK
PEMBANGUNAN
Sistem keuangan dan perdagangan Indonesia kini semakin terbuka,
berbasis peraturan, dapat diprediksi dan tidak diskriminatif. Hal ini diukur
dari indikator keterbukaan ekonomi yang ditunjukkan dengan peningkatan
rasio ekspor dan impor terhadap PDB dari 41,60 persen tahun 1990
menjadi 45,00 persen tahun 2011. Sedangkan rasio pinjaman luar negeri
terhadap PDB menurun dari 24,59 persen pada tahun 1996 menjadi 8,28
persen pada tahun 2011.

Proporsi penduduk yang memiliki telepon seluler meningkat dari 14,79
persen pada tahun 2004 menjadi 103,90 persen pada tahun 2010. Namun
pada tahun 2011 proporsi rumah tangga dengan akses internet baru
mencapai 26,21 persen dan proporsi rumah tangga yang memiliki
komputer pribadi baru mencapai 12,30 persen pada tahun 2011.






32

Tinjauan Status Pencapaian MDGs di Indonesia


33




34

35



36



Untuk mewujudkan tercapainya target MDGs, terutama di bidang kesehatan,
dirumuskanlah INDONESIA SEHAT 2015. Sasaran pembangunan kesehatan
menuju Indonesia sehat 2015 adalah : (Syafrudin, 2009)
a. Perilaku hidup sehat.
Meningkatnya secara bermakna jumlah ibu hamil yang memeriksakan diri
dan melahirkan ditolonh oleh tenaga kesehatan, jumlah bayi yang
memperoleh imunisasi lengkap, jumlah yang memperoleh ASI eksklusif,
jumlah anak balita yang ditimbang setiap bulan, jumlah pasangan usia subur
(PUS), peserta keluarga berencana (KB), jumlah penduduk dengan makan
dengan gizi seimbang, jumlah penduduk yang memperoleh air bersih, jumlah
37

penduduk buang air besar dijamban, jumlah pemukiman bebas vector dan
rodent, jumlah rumah yang mempunyai syarat kesehatan, jumlah penduduk
berolahraga, dan istirahat teratur, jumlah keluarga dengan komunikasi
internal dan eksternal, jumlah keluarga yang menjalankan ajaran agama
dengan baik, jumlah penduduk yang tidak merokok dan tidak minum-
minuman keras, jumlah penduduk yang tidak berhubungan seks diluar nikah
serta jumlah penduduk yang menjadi peserta JPKM.

b. Lingkungan sehat
Meningkatnya secara bermakna jumlah wilayah/kawasa sehat, tempat-tempat
umu sehat, tempat pariwisata sehat, tempat kerja sehat, rumah dan banguna
sehat, sarana sanitasi, sarana air minum,sarana pembungan limbah, serta
berbagai standard an peraturan perundang-undangan yang mendukung
terwujudnya lingkungan sehat.

c. Upaya kesehatan
Meningkatkan secara bermakna jumlah sarana kesehatan yang bermutu,
jangkauan dan cakupan pelayanan kesehatan, penggunaan obat generik dalam
pelayanan kesehatan, penggunaan obat secara rasional, memanfaatkan
pelayanan promotif dan preventif, biaya kesehatan yang dikelola secara
efisien, serta ketersediaan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan.

d. Manajemen pembangunan kesehatan
Meningkatnya secara bermakna sistem informasi pembangunan kesehatan,
kemampuan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi, pembangunan
kesehatan, kepemimpinan dan manajemen kesehatan, peraturan perundang-
38

undangan yang mendukung pembangunan kesehatan, kerjasama lintas
program dan sektor.

e. Derajat kesehatan
Meningkatnya secara bermakna umur harapan hidup, menurunya angka
kematian ibu dan bayi, menurunnya angka kesakitan beberapa penyakit
penting, menurunya angka kecacatan dan ketergantungan serta meningkatnya
status gizi masyarakat, menurunya angka infertilitas. (Syafrudin, 2009)

Untuk dapat mencapai tujuan pembangunan kesehatan dan melandaskan pada
dasar-dasar tersebut diatas, maka penyelenggaraan tersebut diatas, maka
penyelenggaraan upaya kesehatan perlu memperhatikan kebijakan umum yang
dikelompokkan sebagai berikut:
a. Meningkatkan kerjasama lintas sektor
Untuk optimalisasi hasil pembangunan berwawasan kesehatan, kerjasama
lintas sektor merupakan hal yang utama, dan karena itu perlu digalang serta
mantapkan secara seksama, sosialisasi masalah-masalah kesehatan kepada
sektor lain perlu dilakukan secara intensif dan berkala. Kerjasama lintas
sektor haus mencakup pada tahap perencanaan, pelaksanaan dan penilaian
serta melandaskan dengan seksama pada dasar-dasar pembangunan
kesehatan.

b. Peningkatan perilaku, pemberdayaan masyarakat dan kemitraan swasta
Masyarakat dan swasta perlu berperan aktif dalam penyelenggaraan upaya
kesehatan. Dalam kaitan ini perilaku hidup manusia sejak usia dini melalui
berbagai kegiatan-kegiatan penyuluhan dan pendidikan kesehatan, sehingga
39

menjadi bagian dari norma hidup dan budaya masyarakat dalam rangka
meningkatkan kesadaran dan kemandirian untuk hidup sehat. Peran
masyarakat dalam pembangunan kesehatan terutama melalui penerapan
konsep pembangunan kesehatan masyarakat tetap didorong atau bahkan
dikembangkan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan serta kesinambungan
upaya kesehatan.

c. Peningkatan kesehatan lingkungan
Kesehatan lingkungan perlu diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas
lingkungan, lingkungan yang sehat, yaitu keadaan lingkungan yang bebas dari
resiko yang membahayakan kesehatan dan keselamatan hidup manusia.
Upaya ini perlu untuk meningkatkan kemauan dan kemampuan pemerintah
dan masyarakat dalam merencanakan pembangunan berwawasan kesehatan.
Kesehatan lingkungan pemukiman, tempat kerja dan tempat-tempat umum
serta tempat pariwisata ditingkatkan melalui penyediaan serta pengawasan
mutu air yang memenuhi persyaratan terutama perpipaan, penerbitan tempat
pembuangan sampah, penyediaan sarana pembuangan air limbah serta
berbagai sarana sanitasi lingkunan lainnya. Kualitas air, udara dan tanah
ditingkatkan untuk menjamin hidup sehat dan produktif sehingga masyarakat
terhindar dari keadaan yang dapat menimbulkan bahaya kesehatan. Untuk itu
diperlukan peningkatan dan perbaikan peraturan perundang-undangan,
pendidikan lingkungan sehat sejak dari usia muda serta pembakuan standar
lingkungan.


40

d. Peningkatan upaya kesehatan
Penyelenggaraan upaya kesehatan dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu,
dan berkesinambungan, melalui upaya peningkatan kesehatan, pencegahan
penyakit, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan serta upaya
khusus melalui pelayanan kemanusiaan dan darurat atau krisis. Selanjutnya,
pemerataan dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan perlu terus menerus
diupayakan. Dalam rangka mempertahankan status kesehatan masyarakat
selama krisis ekonomi, upaya kesehatan diprioritaskan untuk mengatasi
dampak krisis disamping tetap mempertahankan peningkatan pembangunan
kesehatan. Perhatian khusus dalam mengatasi dampak krisis diberikan kepada
kelompok berisiko dari keluarga-keluarga miskin agar derajat kesehatannya
tidak memburuk dan tetap hidup produktif. Pemerintah bertanggungjawab
terhadap biaya pelayanan kesehatan untuk penduduk miskin.
Setelah melewati krisis ekonomi status kesehatan masyarakat diusahakan
ditingkatkan melaui pencegahan dan pengurangan morbiditas, mortalitas dan
kecacatan dalam masyarakat terutama pada bayi, anak balita, dan wanita
hamil, melahirkan dan masa nifas, melalui upaya peningkatan (promosi)
hidup sehat, pencegahan dan pemberantasan penyakit menular dan serta
pengobatan penyakit dan rehabilitasi. Prioritas utama diberikan kepada
penanggulangan penyakit menular dan wabah cenderung meningkat.

e. Peningkatan sumber daya kesehatan
Peningkatan tenaga kesehatan harus menunjang seluruh upaya pembangunan
kesehatan dan diarahkan untuk menciptakan tenaga kesehatan yang ahli dan
terampil sesuai pengembangan ilmu dan tekhnologi, beriamn dan bertakwa
41

kepada tuhan yang maha esa, seta berpegang teguh pada pengabdian bangsa
dan Negara dan etika prfesi. Pengembangan tenaga kesehatan bertujuan untuk
meningkatkan pemberdayaan atau daya guna tenaga dan penyediaan jumlah
serta mutu tenaga kesehatan dari masyarakat dan pemerintah yang mampu
melaksanakan pembangunan kesehatan. Dalam perencanaan tenaga kesehatan
perlu diutamakan penentuan kebutuhan tenaga di berbagai Negara diluar
negri dalam rangka globalisasi. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
(JPKM), yakni cara pelayanan kesehatan melaui pembayaran secara praupaya
dikembangkan terus untuk menjamin terselenggaranya pemeliharaan
kesehatan yang lebih merata dan bermutu dengan raga yang terkendali. JPKM
diselenggarakan sebagai upaya bersama antara masyarakat, swasta, dan
pemerintah untuk memenuhi kebutuhan biaya pelayanan kesehatan yang terus
meningkat.Tarif pelayanan kesehatan perlu disesuaikan atas dasar nilai jasa
dan barang yang diterima oleh anggot masyarakat yang memperoleh
pelayanan. Masyarakat yang tidak mampu akan dibantu melalui system
JPKM yang disubsidi oleh pemerintah bersamaan dengan itu dikembangkan
pula asuransi sebagai pelengkap / pendamping JPKM. Pengembangan
asuransi kesehatan berada dibawah pembinaan pemerintah dan asosiasi
peransuran. Secara bertahap puskesmas dan rumah sakit milik pemerintah
akan dikelola secara swadana.

f. Peningkatan kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan
Kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan perlu makin ditingkatkan
terutama melalui peningkatan secara strategis dalam kerja sama antara sektor
kesehatan dan sektor lain yang terkait, dan antara berbagai program kesehatan
42

serta antara para pelaku dalam pembangunan kesehatan sendiri. Manajemen
upaya kesehatan yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengendalian
dan penilaian diselengarakan secara sistematik untuk menjamin upaya
kesehatan yang terpadu dan menyeluruh. Manajemen terebut didukung oleh
sistem informasi yang handal guna menghasilkan pengambilan keputusan dan
cara kerja yang efisien. Sistem informasi tersebut dikembangkan secara
komprehensif diberbagai tingkat administrasi kesehatan sebagai bagian dari
pengembangan administrasi modern. Organisasi departemen kesehatan perlu
disesuaikan kembali dengan fungsi fungsi : regulasi, perencanaan nasional,
pembinaan dan pengawasan.

g. Peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan
Penelitian dan pengembangan dibidang kesehatan akan terus dikembangkan
secara terarah dan bertahap dalam rangka menunjang upaya kesehatan,
utamanya untuk mendukung perumusan kebijaksanaan, membantu
memecahkan masalah kesehatan dan mengatasi kendala didalam pelaksanaan
program kesehatan. Penelitian dan pengembangan kesehatan akan terus
dikembangkan melalui jaringan kemitraan dan di desentralisasikan sehingga
menjadi bagian penting dari pembanguna kesehatan daerah.
Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi didorong untuk
meningkatkan pelayanan kesehatan, gizi, pendayagunan obat, pengembangan
obat asli Indonesia, pemberantasan penyakit dan perbaikan lingkungan.
Penelitian yang berkaitan dengan ekonomi kesehatan dikembangkan unutuk
mengoptimalkan pemanfaatan pebiayaan kesehatan dari pemerintah dan
43

swasta, serta meningkatkan kontribusi pemerintah dalam pembiayaan
kesehatan yang masih terbatas.

h. Peningkatan lingkungan sosial budaya
Selain berpengaruh positif globalisai juga menimbulkan perubahan sosial dan
budaya masyarakat yang dapat berpengaruh negatif terhadap pembangunan
kesehatan. Untuk itu sangat diperlukan peningkatan kesehatan sosial dan
budaya masyarakat melalui penungkatan sosio-ekonomi masyarakat, sehingga
dapat mengambil manfaat yang sebesar besarnya sekaligus meminimalkan
dampak negatif dari globalisasi.















44



BAB III
KESIMPULAN

1. Millenium Development Goals (MDGs) merupakan perwujudan dari
komitmen internasional pada konferensi Summits dan global sepanjang tahun
1990-an yang kemudian disepakati dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT)
Milenium Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) bulan September 2000 di New
York oleh sebanyak 189 negara anggota PBB.
2. MDGs terdiri dari 8 tujuan, 20 target, serta 60 indikator.
3. Delapan tujuan pokok MDGs adalah pengetasan kemiskinan dan kelaparan,
pemerataan pendidikan dasar, mendukung persamaan gender dan
pemberdayaan perempuan, mengurangi angka kematian anak, mengurangi
angka kematian ibu, perlawanan terhadsp HIV/AIDS, malaria dan penyakit
menular lainnya, menjamin daya dukung lingkungan hidup, mengembangkan
kemitraan global untuk pembangunan.
4. Pencapaian tujuan MDGs dapat dikelompokkan menjadi tiga. Pertama,
tujuan yang telah berhasil dicapai . Kedua, tujuan yang menunjukkan
kemajuan bermakna dan diharapkan dapat dicapai pada atau sebelum tahun
2015. Ketiga, tujuan yang masih memerlukan upaya keras untuk
mencapainya.
5. Strategi untuk mewujudkan tercapainya target MDGs merupakan
implementasi dari Inpres No. 3 Tahun 2010, dan terutama di bidang
kesehatan, dirumuskanlah INDONESIA SEHAT 2015.
45



DAFTAR PUSTAKA

Bappenas. 2008. Laporan Millenium Development Goals (MDG) Indonesia.
http://www.bappenas.go.id/node/44/942/laporan-millenium-development-
goals-mdg-indonesia/. Diakses tanggal 02 Juli 2014.

Bappenas. 2011. Laporan Millenium Development Goals (MDG) Indonesia..
http://www.bappenas.go.id/laporan-pencapaian-tujuan-pembangunan-
milenium-di-indonesia-2011__20130517105523__3790__0. Diakses
tanggal 02 Juli 2014


Sedyaningsih, Endang Rahayu. 2012. Capai Target MDGs Demi Terwujudnya
Derajat Kesehatan Masyarakat Yang Tinggi. http://www.depkes.go.id/
index.php/berita/press-release/1802-capai-target-mdgs-demi-terwujudnya-
derajat-kesehatan-masyarakat-yang-tinggi.html. . Diakses tanggal 02 Juli
2014.

Supriyadi, A. 2009. MDG,Kesehatan Masyarakat serta keadaannya di Indonesia.
http://recyclearea.wordpress.com/2009/10/05/mdgkesehatan-masyarakat-
serta-keadaannya-di-indonesia/. Diakses tanggal 02 Juli 2014.

Syafrudin, SKM. 2009. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Trans Info Media : Jakarta.


UNV. 2011. Tujuan Pembangunan Milenium. http://www.undp.or.id
/unv/id/resources_mdg.html .Diakses tanggal 02 Juli 2014.

Anda mungkin juga menyukai