Anda di halaman 1dari 14

SISTEM PEMBANGKIT TENAGA

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS


(PLTG)


OLEH
NAMA : ANDRE YULANDA MISWAR
BP : 111 091 3049
DOSEN : ADLY HAVENDRI Ir. M,Sc


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK MESIN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2013
BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Sejalan dengan berlangsungnya waktu, sumber daya manusia yang terus bertambah ini akan
menyebabkan suatu peristiwa kebutuhan sumber daya alam yang semakin meningkat. Salah satu
dari kebutuhan yang sangat penting di dunia ini adalah sumber energi listrik, Di mana pada jaman
modern ini bisa dikatakan bahwa segala sesuatu selalu berhubungan dengan yang namanya listrik.
Tidak dapat dipungkiri bahwa semakin sulitnya menyalurkan energi listrik ini dalam jumlah banyak,
terbukti adanya jadwal pemadaman listrik secara bergilir untuk beberapa wilayah guna mengurangi
pemakaian listrik.
Di negara Indonesia sedang dalam proses pemenuhan kebutuhan dari pasokan listrik, sehingga para
ilmuwan dan pihak pemerintah sedang menjalankan suatu solusi dimana akan membangun
Pembangkit Listrik dengan bahan baku yang tidak hanya minyak. Kita tahu bahwa Pembangkit listrik
yang jumlahnya sangat banyak di Indonesia dan mungkin seluruh dunia ialah menggunakan bahan
bakar solar, mengingat bahwa ironisnya solar merupakan SDM yang tidak dapat diperbaharui dan
mulai sedikit keberadaannya. Oleh karena itu, dalam bab selanjutnya akan dibahas mengenai
Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan beberapa kelebihan dan kekurangannya.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat diberikan perumusan masalah sebagai berikut:
1) Seperti apakah Instalasi dsn komponen PLTG?
2) Bagaimana pemanfaatan gas alam untuk Bahan baku PLTG ini?
3) Jelaskan Proses kerja dari Pembangkit Listrik Tenaga Gas!
4) Sebutkan kelebihan dan kekurangan PLTG dibandingkan drngan pembangkit lain!


1.3 Tujuan
Dari rumusan masalah diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pembuatan makalah ini agar dapat
mengetah
1. Gambar Instalasi PLTG dan komponennya.
2. Pemanfaatan Gas Alam yang digunakan untuk Proses PLTG.
3. Proses kerja dari Pembangkit Listrik Tenaga Gas.
4. Keuntungan dan kerugian penggunaan PLTG.

1.4 Manfaat
Penulisan makalah ini disusun agar dapat bermanfaat sebagai berikut:
1) Informasi mengenai Proses Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG).
2) Mengetahui komponen dan instalasi alat sistem pada PLTG.
3) Mendapatkan penjelasan mengenai Proses Konversi Energi dari bahan baku gas menjadi energy
Listrik.
















BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pembangkit Listrik Tenaga Gas
Pusat listrik tenaga gas (PLTG) merupakan sebuah pembangkit energi listrik yang menggunakan
peralatan/mesin turbin gas sebagai penggerak generatornya. Turbin gas dirancang dan dibuat
dengan prinsip kerja yang sederhana dimana energi panas yang dihasilkan dari proses pembakaran
bahan bakar diubah menjadi energi mekanis dan selanjutnya diubah menjadi energi listrik atau
energi lainnya sesuai dengan kebutuhannya.

Adapun kekurangan dari turbin gas adalah sifat korosif pada material yang digunakan untuk
komponen-komponen turbinnya karena harus bekerja pada temperature tinggi dan adanya unsur
kimia bahan bakar minyak yang korosif (sulfur, vanadium dll), tetapi dalam perkembangannya
pengetahuan material yang terus berkembang hal tersebut mulai dapat dikurangi meskipun tidak
dapat secara keseluruhan dihilangkan. Dengan tingkat efisiensi yang rendah hal ini merupakan salah
satu dari kekurangan sebuah turbin gas juga dan pada perkembangannya untuk menaikkan efisiensi
dapat diatur/diperbaiki temperature kerja siklus dengan menggunakan material turbin yang mampu
bekerja pada temperature tinggi dan dapat juga untuk menaikkan efisiensinya dengan
menggabungkan antara pembangkit turbin gas dengan pembangkit turbin uap dan hal ini biasa
disebut dengan combined cycle.

2.2 Gas alam untuk Bahan Baku PLTG
Pemanfaatan gas alam di Indonesia dimulai pada tahun 1960-an dimana produksi gas alam dari
ladang gas alam PT Stanvac Indonesia di Pendopo, Sumatera Selatan dikirim melalui pipa gas ke
pabrik pupuk Pusri IA, PT Pupuk Sriwidjaja di Palembang. Perkembangan pemanfaatan gas alam di
Indonesia meningkat pesat sejak tahun 1974, dimana PERTAMINA mulai memasok gas alam melalui
pipa gas dari ladang gas alam di Prabumulih, Sumatera Selatan ke pabrik pupuk Pusri II, Pusri III dan
Pusri IV di Palembang.
Karena sudah terlalu tua dan tidak efisien, pada tahun 1993 Pusri IA ditutup,dan digantikan oleh
Pusri IB yang dibangun oleh putera-puteri bangsa Indonesia sendiri. Pada masa itu Pusri IB
merupakan pabrik pupuk paling modern di kawasan Asia, karena menggunakan teknologi karena
menggunakan teknologi tinggi. Di Jawa Barat, pada waktu yang bersamaan, 1974, PERTAMINA juga
memasok gas alam melalui pipa gas dari ladang gas alam di lepas pantai (off shore) laut Jawa dan
kawasan Cirebon untuk pabrik pupuk dan industri menengah dan berat di kawasan Jawa Barat dan
Cilegon Banten.
Sementara itu pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar gas banyak digunakan di pabrik
(peleburan besi dan tekstil) dan hotel. Berarti energi panas yang dibutuhkan di kedua tempat itu bisa
diambil dari panas gas buang dengan menggunakan teknologi gas fired cogeneration. Berdasarkan
sumber panasnya,cogeneration dibagi menjadi dua yaitu:
1. Cogeneration Siklus Topping
Terjadi apabila bahan bakar dipakai langsung untuk memproduksi enrgy listrik, kemudian gas
panasnya digunakan untuk panas/uap proses. Jadi energi listriknya terlebih dahulu diproduksi
kemudian baru panas buangnya dimanfaatkan. Bila cogeneration siklus topping digunakan pada
PLTG, maka gas panas yang digunakan untuk menghasilkan energi listrik pada turbin harus
mempunyai suhu 1600-1700 oF. Hal ini karena akan menghasilkan gas buang dengan suhu 800-900
oF dan gas buang itu akan dimanfaatkan dengan menggunakan Heat Recovery Steam Generation
atau panas proses dengan exchenger yang berfungsi untuk membangkitkan uap proses.

2. Siklus Bottoming
Yaitu pemanfaatan gas buang melalui heart recovery sehingga menghasilkan panas/uap proses.
Selanjutnya digunakan untuk menggerakan turbin uap sehingga dihasilkan energi listrik. Bila PLTG
menggunakan bahan bakar bermutu tinggi seperti bahan bakar sulfur rendah, maka gas buang yang
dihasilkannya bersih sehingga bisa digunakan langsung untuk panas proses. Bila pada pengolahan
gas buang ditambah bahan bakar, sementara bila kapasitas terpasang PLTG turun maka efisiensinya
juga turun dengan demikian volume gas buang meningkatkan hal ini berarti banyak gas buang tak
terpakai.

Selain untuk kebutuhan dalam negeri, gas alam di Indonesia juga di ekspor dalam bentuk LNG
(Liquefied Natural Gas) Salah satu daerah penghasil gas alam terbesar di Indonesia adalah Nanggre
Aceh Darussalam. Sumber gas alam yang terdapat di daerah Kota Lhokseumawe dikelola oleh PT
Arun NGL Company.

2.3 Prinsip kerja dari PLTG
Pusat listrik tenaga gas (PLTG) mempunyai beberapa peralatan utama seperti:
1. Turbin gas (Gas Turbine).
2. Kompresor (Compressor).
3. Ruang Bakar (Combustor).
Prinsip kerja dari sebuah PLTG didasarkan pada siklus Brayton seperti pada diagram (p, v dan t, s)
dibawah ini :

Pada awalnya, udara dimasukkan ke dalam kompresor untuk ditekan hingga temperatur dan
tekanannya naik. Proses ini disebut dengan proses kompresi. Udara yang dihasilkan dari kompresor
akan digunakan sebagai udara pembakaran dan juga untuk mendinginkan bagian-bagian turbin gas.

Setelah dikompresi, udara tersebut dialirkan ke ruang bakar. Dalam ruang bakar, udara bertekanan
13 kg/cm2 ini dicampur dengan bahan bakar dan dibakar. Apabila digunakan bahan bakar gas (BBG),
maka gas dapat langsung dicampur dengan udara untuk dibakar, tetapi apabila digunakan bahan
bakar minyak (BBM), maka BBM ini harus dijadikan kabut terlebih dahulu kemudian baru dicampur
dengan udara untuk dibakar. Teknik mencampur bahan bakar dengan udara dalam ruang bakar
sangat mempengaruhi efisiensi pembakaran.

Pembakaran bahan bakar dalam ruang bakar menghasilkan gas bersuhu tinggi sampai kira-kira 1.300
oC dengan tekanan 13 kg/cm2. Gas hasil pembakaran ini kemudian dialirkan menuju turbin untuk
disemprotkan kepada sudu-sudu turbin sehingga energi (enthalpy) gas ini dikonversikan menjadi
energi mekanik dalam turbin penggerak generator (dan kompresor udara) dan akhirnya generator
menghasilkan tenaga listrik.
Ada beberapa macam siklus kerja turbin gas sebagai berikut :
Turbin gas siklus terbuka (open cycle).
Seperti pada proses kerja turbin gas diatas, dimana gas panas yang diekspansi didalam turbin akan
menghasilkan gas bekas (flue gas) dengan temperature yang masih cukup tinggi dan tekanan diatas
sedikit dari tekanan atmosfir, selanjutnya gas bekas ini dibuang atau dialirkan ke udara luar, yang
ditunjukkan seperti pada gambar dibawah.


Turbin gas siklus tertutup (closed cycle).
Seperti pada proses kerja turbin gas diatas, dimana gas panas yang diekspansi didalam turbin akan
menghasilkan gas bekas (flue gas) dengan temperature yang masih cukup tinggi dan tekanan diatas
sedikit dari tekanan atmosfir, selanjutnya gas bekas ini dialirkan ke kedalam penukar panas (heat
rejected) untuk didinginkan dengan menggunakan media pendingin air atau udara hingga
temperaturnya turun dan dialirkan lagi kedalam sisi masuk (suction) kompresor untuk dikompresi
lagi, yang ditunjukkan seperti pada gambar dibawah.

Turbin gas siklus terbuka dilengkapi dengan regenerator.
Seperti pada kedua proses kerja turbin gas diatas, dimana gas panas yang diekspansi didalam turbin
akan menghasilkan gas bekas (flue gas) dengan temperature yang masih cukup tinggi dan tekanan
diatas sedikit dari tekanan atmosfir, selanjutnya gas bekas (flue gas) ini dialirkan kedalam heat
exchanger yang dikenal dengan istilah regenerator dimana didalamnya gas bekas ini digunakan
untuk memanaskan udara keluar kompresor sebelum digunakan sebagai udara pembakaran didalam
ruang bakar (combustion chamber), seperti ditunjukkan pada gambar dibawah.

Turbin gas siklus terbuka dilengkapi dengan intercooler, regenerator dan reheater.
Pada siklus ini baik kompresor maupun turbin gas masing-masing terdiri dari 2 (dua) bagian yang
terpisah dan biasa disebut dengan kompresor tekanan rendah dan kompresor tekanan tinggi serta
turbin gas tekanan rendah dan turbin gas tekanan tinggi. Aliran udara dan gas-gas yang dihasilkan
dapat dijelaskan sebagai berikut, mula-mula udara atmosfir masuk kedalam kompresor tekanan
rendah untuk dikompresi, dari udara tekan yang dihasilkan dialirkan kedalam intercooler untuk
didinginkan hingga menghasilkan temperature dan kelembaban serta tekanan yang diinginkan
dengan menggunakan media pendingin air atau media pendingin lainnya, dari sini udara tersebut
dialirkan kedalam kompresor tekanan tinggi untuk dikompresi lagi hingga menghasilkan temperature
yang tinggi dan tekanan dengan kepadatan yang lebih tinggi. Dari keluaran kompresor tekanan tinggi
udara tersebut dialirkan kedalam regenerator untuk mendapatkan temperature yang lebih tinggi lagi
yang bertujuan untuk memudahkan terjadinya proses pembakaran dengan melalui media pemanas
gas bekas/buang (flue gas) yang memanfaatkan gas bekas hasil dari turbin tekanan rendah.
Selanjutnya udara keluaran dari regenerator dialirkan kedalam ruang bakar utama (primary
combustion chamber) yang menghasilkan proses pembakaran dan dari proses ini dihasilkan gas
panas yang digunakan untuk memutar turbin tekanan tinggi, hasil ekspansi gas panas dari turbin
tekanan tinggi ini berupa gas bekas (flue gas) dialirkan kedalam ruang bakar kedua (secondary
combustion chamber) dan biasa disebut juga dengan reheater chamber yang selanjutnya gas bekas
tersebut digunakan untuk udara pembakaran didalamnya yang mampu menghasilkan gas panas lagi
dan digunakan untuk memutar turbin tekanan rendah, siklus tersebut diatas seperti ditunjukkan
pada gambar dibawah.

Dari ketiga terakhir siklus turbin gas diatas secara keseluruhan dimaksudkan untuk menghasilkan
sebuah pusat listrik tenaga gas (PLTG) dengan tingkat efisiensi yang diharapkan lebih tinggi dari
turbin gas siklus terbuka.


2.4 Komponen Utama PLTG
a. Turbin gas (Gas Turbine)
Berfungsi untuk mengubah energi gerak gas menjadi energi putar.








Turbin Gas pada Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG)
b. Kompresor (Compressor)
Berfungsi untuk meningkatkan temperatur dan tekanan udara.
c. Ruang Bakar (Combustor)
Berfungsi untuk membakar bahan bakar dengan menghembuskan udara yang telah dinaikkan
temperatur dan tekanannya di kompresor.
d. Peralatan Pendukung PLTG
Berikut adalah peralatan pendukung yang digunakan dalam kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Gas
(PLTG):
e. Air Intake
Berfungsi mensuplai udara bersih ke dalam kompresor.
f. Blow Off Valve
Berfungsi mengurangi besarnya aliran udara yang masuk ke dalam kompressor utama atau
membuang sebagian udara dari tingkat tertentu untuk menghindari terjadinya stall (tekanan udara
yang besar dan tiba-tiba terhadap sudu kompresor yang menyebabkan patahnya sudu kompresor)
g. VIGV (Variable Inlet Guide Fan)
Berfungsi untuk mengatur jumlah volume udara yang akan di kompresikan sesuai
kebutuhan.
h. Ignitor
Berfungsi penyalaan awal atau start up. Campuran bahan bakar dengan udara dapat menyala oleh
percikan bunga api dari ignitor yang terpasang di dekat fuel nozzle burner dan campuran bahan
bakar menggunakan bahan bakar propane atau LPG.


i. Lube oil system
Berfungsi memberikan pelumasan dan juga sebagai pendingin bearing-bearing seperti bearing
turbin, kompressor, generator. Memberikan minyak pelumas ke jacking oil system. Memberikan
suplai minyak pelumas ke power oil system.
Sistem pelumas di dinginkan oleh air pendingin siklus tertutup.
j. Hydraulic Rotor Barring
Rotor bearing system terdiri dari : DC pump, Manual pump, Constant pressure valve, pilot valve,
hydraulic piston rotor barring. Rotor barring beroperasi pada saat unit stand by dan unit shutdown
(selesai operasi). Rotor barring on < 1 rpm. Akibat yang timbul apabila rotor barring bermasalah ialah
rotor bengkok dan saat start up akan timbul vibrasi yang tinggi dan dapat menyebabkan gas turbin
trip.
k. Exhaust Fan Oil Vapour
Berfungsi utama membuang gas-gas yang tidak terpakai yang terbawa oleh minyak pelumas setelah
melumasi bearing-bearing turbin, compressor dan generator.
Fungsi lain adalah membuat vaccum di lube oil tank yang tujuannya agar proses minyak kembali
lebih cepat dan untuk menjaga kerapatan minyak pelumas di bearing-bearing (seal oil) sehingga
tidak terjadi kebocoran minyak pelumas di sisi bearing.
l. Power Oil System
Berfungsi mensuplai minyak pelumas ke :
- Hydraulic piston untuk menggerakkan VIGV
- Control-control valve (CV untuk bahan bakar dan CV untuk air)
- Protection dan safety system (trip valve staging valve)
Terdiri dari 2 buah pompa yang digerakkan oleh 2 motor AC.

m. Jacking Oil System
Berfungsi mensuplai minyak ke journal bearing saat unit shut down atau stand by dengan tekanan
yang tinggi dan membentuk lapisan film di bearing. Terdiri dari 6 cylinder piston-piston yang
mensuplai ke line-line :
Dua line mensuplai minyak pelumas ke journal bearing.
Dua line mensuplai minyak pelumas ke compressor journal bearing.
Satu line mensuplai minyak pelumas ke drive end generator journal bearing.
Satu line mensuplai minyak pelumas ke non drive end generator journal bearing.

2.5 Keuntungan dan kerugian penggunaan PLTG
Berdasarkan pembahasan dari subbab 2.1 sampai 2.5 tersebut, dapat disimpulkan beberapa
kelebihan dan kekurangan pembangunan PLTG berbahan baku gas Alam ini. Untuk kelebihannya
adalah sebagai berikut:
1. Pembakaran dengan gas alam akan berlangsung lebih sempurna dibanding dengan minyak bakar
ataupun bahan bakar padat.
2. Peralatan pembakar yang lebih sederhana, sehingga pelayanan dan perawatan menjadi lebih
sederhana.
3. Gas alam diperkirakan tidak mengandung belerang maka temperatur cerobong dapat diturunkan,
sehingga pembakaran tidak menyebabkan asap hitam yang dapat mencemari lingungan sekitar.
4. Peralatan pembakaran untuk gas alam jauh lebih sederhana dibandingkan dengan peralatan
pembakar dari minyak bakar ataupun bahan bakar padat lainnya, yang tidak memerlukan pengabut
dan tidak memerlukan pemanasan, sehingga akan lebih ringan biaya investasinya.
5. Harga bahan baku gas alam rata-rata lebih murah dibanding dengan minyak bakar.
6. Menggunakan bahan bakar dengan gas alam akan lebih awet, karena gas alam tidak mengandung
belerang (S), natrium (Na) dan Vanadium (Va), serta tidak berjelaga, sehingga tidak membawa
banyak kesukaran-kesukaran.
Sedangkan kekurangan daripada pembangunan PLTG ini adalah sebagai berikut:
1. Dari penjelasan subbab 2.1, akan didapatkan suatu tingkat efisiensi rendah. Dengan tingkat
efisiensi yang rendah hal ini merupakan salah satu dari kekurangan sebuah turbin gas dan
perkembangannya.
2. Diperlukan investasi yang lebih besar untuk peralatan pengaturan dan instalsi pengamanannya
karena gas alam jauh lebih berbahaya dibanding dengan minyak bakar.
3. Terkadang sukar untuk mendapatkan air pengisian yang baik kualitasnya.
4. Jaringan setelah keluar dari gardu induk biasa disebut jaringan distribusi, sedangkan jaringan
antara pusat listrik dan gardu induk biasa disebut jaringan transmisi, baik saluran transmisi atau pun
saluran distribusi ada yang berupa saluran udara dan ada yang berupa kabel tanah. Sehingga
terdapat kerugian saluran transmisi menggunakan kabel udara adalah adanya gangguan petir,
mengenai pohon dan habitat lain menyebabkan kerusakan ekosistem.
5. Sulitnya mencari lokasi penambangan gas alam, atau setidak-tidaknya dalam jangkauan ekonomis
untuk transmisi pipa-pipa gas alam.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan pada bab sebelumnya, dapat memberikan kesimpulan sebagai berikut:
1. Pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) merupakan salah satu dari instansi pembangkit listrik oleh
PLN dengan bahan baku gas alam.
2. PLTG adalah sebuah pembangkit energi listrik yang menggunakan peralatan/mesin turbin gas
sebagai penggerak generatornya.
3. Generator utamanya terdiri dari Turbin gas (Gas Turbine), Kompresor (Compressor), dan Ruang
Bakar (Combustor).
4. PLTG menggunakan prinsip kerja dengan siklus Brayton.
5. Terdapat 4 jenis Turbin yang digunakan pada PLTG, yaitu Turbin Gas siklus terbuka, Turbin gas
siklus tertutup, Turbin gas siklus terbuka dengan regenerator, serta Turbin gas siklus terbuka dengan
intercooler, regenerator, dan reheater.

3.2 Saran
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat diberikan saran yaitu sebaiknya PLTG di Indonesia
dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan melihat konsukuensi kelebihan dan kekurangan yang ada,
sehingga diperkirakan pembangunan PLTG tidak sia-sia.






DAFTAR PUSTAKA

Anna's Life & Chemical Engg Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG).htm
Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) _ Jendela Den Ngabei.htm
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG) _ ,My life within.htm