Anda di halaman 1dari 61

1

BAB I
PENDAHULUAN

Ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat ini sudah berkembang pesat.
Banyak penemuan-penemuan mutakhir yang sudah ditemukan oleh para ilmuwan
guna meningkatkan kualitas hidup manusia. Hasil-hasil dari penelitian tersebut
tentunya masih dapat dikembangkan dan menjadi dasar untuk melaksanakan
praktikum fisika, sehingga penemuan-penemuan yang sudah ada dapat lebih
aplikatif dan berkualitas.
Ilmu fisika merupakan ilmu yang sangat penting dalam kehidupan kita
sehari-hari. Banyak permasalahan-permasalahan di sekitar kita yang dapat
diselesaikan dengan ilmu fisika.
Oleh karena itu untuk lebih memahami suatu konsep fisika, maka
dilaksanakan praktikum fisika yang bertujuan agar mahasiswa :
1. Dapat mengetahui sekaligus menggunakan secara langsung alat-alat praktek di
laboratorium fisika.
2. Dapat membuktikan akan kebenaran teori-teori yang pernah dikemukakan.
3. Dapat lebih mengerti dan mengetahui karakteristik dari beberapa
permasalahan yang ada pada percobaan tersebut.
4. Memiliki sifat kritis dalam menangani suatu permasalahan, sehingga dapat
menyelesaikan masalah tersebut dengan tepat.
5. Memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, sehingga dapat memicu lahirnya
penemuan-penemuan baru.

2

BAB II
PEDOMAN DALAM PELAKSANAAN
PRAKTIKUM DAN CARA PENGOLAHAN DATA

2.1. Saat Mengerjakan Percobaan.
a) Hati-hati
Kebanyakan percobaan fisika tidak berbahaya, tetapi ada yang
berbahaya. Anda juga harus bertanggung jawab atas alat yang mahal
(misal: laser, lensa, dan sebagainya). Alat yang jatuh adalah suatu
kecelakaan akibat kurang waspada. Salah sambung alat elektrik adalah
penyebab lain.
b) Fahami tujuan percobaan
Ingat terus tujuan tersebut, jangan sampai banyak hal yang kecil
membuat anda lupa tentang hal yang besar.
c) Kalau mungkin, kerjakan seluruh percobaan secara kasar dulu
Hasil sementara ini berfungsi untuk menyesuaikan diri dengan peralatan,
dan akan memberikan jangkauan nilai yang akan anda peroleh saat
mengerjakan secara sungguh-sungguh.
d) Rekan pengamatan anda dalam buku ini, bukan pada secarik buram
Data anda adalah bahan yang paling berharga yang anda miliki, dan
harus disimpan dengan baik.
e) Catat ketelitian setiap pengukuran yang anda lakukan. Ini untuk
memungkinkan perhitungan ralat nanti.

3

2.2. Laporan
Urutan Penulisan Dalam Pembuatan Laporan
Lembar persetujuan
Lembar Asistensi
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I : Pendahuluan (latar belakang, maksud dan tujuan pratikum).
BAB II : Kegiatan dalam melaksanakan praktikum (urutan kegiatan,
analisa alat, ralat data, dsb).
BAB III: Percobaan yang anda lakukan (konsultasi dengan pembimbing).
BAB IV: Penutup (kesimpulan dan saran).
Lampiran-lampiran
Kartu Peserta Praktikum (K.P.P).
Data Pengamatan Praktikum.
2.3. Ralat
Dalam suatu percobaan kita selalu melakukan pengukuran pada
besaran (variabel) yang berkaitan. Nilai hasil suatu pengukuran pada
dasarnya merupakan pendekatan dari nilai sesungguhnya. Kita tidak akan
pernah tahu besarnya nilai yang sesungguhnya, yang dapat kita ketahui
apakah suatu nilai pendekatan.
Sebagai contoh bila kita melakukan pengukuran diameter kawat
dengan mikro meter, dari beberapa kali pengukuran akan kita dapatkan hasil
pengukuran yang kadang-kadang sama dan kadang-kadang berbeda.

4

Dengan kata lain yang variasi hasil pengukur, akibatnya kita tidak tahu nilai
yang sebenarnya dari hasil pengukuran kita tersebut.
Selisih antara nilai pengukuran dengan nilai sesungguhnya disebut
sebagai ralat (ketidak pastian pengukuran). Besar kecilnya suatu ralat
menentukan baik tidaknya suatu penafsiran dalam arti fisis suatu percobaan.
Demikian pada suatu pengukuran, harus kita usahakan agar nilai ralat
sekecil mungkin.
2.3.1. Macam - Macam Ralat
Berdasarkan pada faktor-faktor penyebab timbulnya, ralat dapat
digolongkan menjadi 3 macam :
A. Ralat Sistimatis
Ralat Sistimatis merupakan ralat yang tetap, yang disebabkan oleh
faktor-faktor :
1. Alat
a) Kesalahan kalibrasi alat, seperti pembagian skala yang tepat atau
kesalahan posisi nol.
b) Interaksi antara alat dengan yang diukur. Misalnya pengukuran
arus listrik dengan menggunakan amperemeter mempengaruhi
hasil ukur dalam hal ini arus yang terukur bukan nilai
sebenarnya.




5

2. Kesalahan Perseorangan.
Kesalahan ini merupakan kesalahan-kesalahn yang disebabkan oleh
kebiasaan pengamat. Misalnya pembacaan skala yang tidak tegak
lurus (kesalahan pralaks).
3. Kondisi Percobaan.
Ini merupakan kesalahan oleh kondisi percobaan yang tidak sama
dengan kondisi ketika alat dikalibrasikan. Misalnya penimbangan
benda di Malang dengan menggunakan timbangan pegas yang
dikalibrasi di London, maka hasil penimbangan akan salah apabila
tidak dilakukan koreksi terhadap percepatan gravitasi.
4. Teknik Pengukuran Yang Kurang Sempurna.
Kesalahan ini dilakukan karena cara pengukuran yang salah.
Misalnya dalam pengukuran kalor listrik, penetapan selisih suhu
awal dengan suhu kamar tidak sama dengan selisih suhu akhir
dengan suhu kamar.
Ralat-ralat sistimatis seperti diuraikan diatas dapat dihindari dengan
koreksi-koreksi terhadap hasil pengukuran atau dilakukan dengan
menghilangkan penyebab timbulnya ralat.






6

B. Ralat Kebetulan
Ralat Kebetukan merupakan ralat yang ditimbulkan oleh faktor-faktor :
1. Kesalahan menaksir
Pada setiap alat ukur, selalu ada pembagian skala terkecil dan
penafsiran terhadap pembagian skala terkecil dapat berlainan dari
waktu ke waktu oleh bermacam-macam sebab dan pengamat.
2. Kondisi pengukuran yang berfungsi
Dalam pengukuran sering kali kondisi sekitar (pengukuran)
berubah-ubah tetapi dalam sekala yang kecil, sehingga tidak dapat
dirasakan secara langsung oleh pengukur. Misalnya perubahan
tekanan udara oleh suatu pengukuran titik didih air, atau mungkin
perubahan suhu udara sekitar.
3. Gangguan
Gangguan ini merupakan faktor luar yang mempengaruhi
pengukuran alat, maupun obyek ukur. Misalnya dalam pengukuran
arus listrik karena ada getaran dari luar (kendaraan, suara, dll.),
penunjuk jarum aperemeter bergoyang, akibatnya pembacaan arus
ikut berubah-ubah.
4. Definisi
Yang dimaksud ralat jenis ini adalah keadaan obyek ukur yang
dianggap homogen. Misalnya dalam suatu pengukuran diameter
pipa, karena pipanya kurang sempurna mengakibatkan pengukuran
diameter akan berbeda tergantung posisi pengukuran.

7

Ralat kebetulan ini akan selalu ada dalam suatu pengukuran (tidak
dengan pengukuran yang berulang-ulang).
C. Ralat Kesalahan Tindakan Pengukuran
Ralat jenis ini terjadi karena kesalahan yang dilakukan oleh pengukur.
Misalnya dalam mencatat waktu ayunan sebanyak 10 ayunan terjadi
kesalahan menghitung hanya sebanyak 9 ayunan.
2.4. Analisa Data
2.4.1. Angka penting
Adalah merupakan angka pengukuran yang diperoleh dari batas
pengukuran pada batas angka perkiraan sampai desimal tertentu, yang
merupakan angka penting dalam percobaan.
Contoh : 1
Pada pembacaan skala termometer celcius ingin diperoleh data pada
ketelitian sampai dua desimal.
Termometer menunjukan angka 37,2537C
Maka angka 3,7 dan 2 masih terbaca dengan tepat, maka disebut angka
pasti, sedangkan angka 5 adalah angka perkiraan atau angka penting,
karena penting sekali dalam perhitungan. Jadi pembacaan termometer
adalah 37,25C.
Contoh : 2
Pembacaan alat ukur ampermeter 8,4246 mA (2 desimal), maka
pembacaan ampermeter adalah : 8,42 mA.


8

Catatan penulisan bilangan angka penting.
1. Jika bilangan itu salah satu dari : 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 maka ditulis
satu angka saja.
2. Jika bilangan itu salah satu dari : 1, 2, 3, dan 3 maka ditulis dua
angka.
2.4.2 Pengoperasian Bilangan
Penulisan ilmiah
Penulisan ilmiah dari hasil ukur suatu pengoprasian bilangan misalnya
pembagian, pengurangan dan perkalian ditulis dengan penulisan
sebagai berikut :
13250 mA ditulis 1,325*10
4
atau bisa ditulis dengan
pembulatan 1,33*10
4
mA.
Pembulatan Angka Penting.
Pembulatan angka penting dengan menentukan hasil ukur, maka
dengan menaikan satu angka atau bilangan itu atau tetap. Jika
dibelakang angka penting adalah angka 5 keatas, tetapi jika angka itu
dibawah angka 5, maka bilangannya ditulis tetap.
2.4.2. Analisa Data Statistik
Penyimpangan yang terjadi karena pengamatan, kondisi alat maupun
kondisi obyek atau situasi tempat (suhu, tekanan, dan kelembaban) dapat
diperhitungkan secara analisa data statistik.
Misal nilai pengukuran data hasil : X
1
, X
2
,X
3
, , X
n
.


9

Maka dapat dianalisa sebagai berikut :
No X1
X
X X X X
1. X1

n
X
i
n

= 1

X X
1

X X
1


2. X2
X X
2

X X
2

3. dst.
i = n Xi
n
X
i
n

= 1

x Xi
i
n

1
x Xi
i
n

1


Dari data dia atas diketahui :
1. Harga rata-rata :
n
X
i
n
X

=
=
1

2. Penyimpangan (deviasi) X = X X (harga mutlak)
3. Rata-rata penyimpangan
n
X X
i
n
X

=
=

1

4. Kesalahan relatif tiap percobaan % 100 x
x
X X
Kr

=
5. Kesalahan relatif rata-rata
n
Kr
i
n
Kr

=
=
1

6. Kesalahan mutlak pengukuran % 100 x
X
X
Km

=

10

7. Penyimpangan standart (deviasi standart) =

=
=

n
x X
i
n
SD
2
1
1

8. Kesalahan yang diperbolehkan = % 100 x
x
SD
Kd =
9. Pengukuran terbaik : x pt = SD
2.5. Grafik
Grafik adalah cara terbaik untuk mempresentasikan data anda, sebab
realisasi antara peubah akan langsung jelas. Kalau seandainya ada satu,
dua titik yang keliru akan langsung kelihatan juga. Teori grafik terlalu
banyak untuk diberikan disini
Beberapa petunjuk saja :
a) Setiap grafik harus diberi judul, juga keterangan lengkap pada setiap
sumbu yaitu peubah dan satuan.
b) Peubah mandiri harus diletakkan di sumbu horisontal, sedangkan
peubah Yang tegantung diberi pada sumbu vetikal. Ini tidak boleh
terbalik, sebab memberi hasil yang aneh. Peubah yang mandiri (x)
adalah peubah yang anda ubah-ubah, sedangkan yang tergantung (y)
adalah peubah yang anda ukur, untuk menyelidiki pengaruh akibat
peubah x. misalnya dalam membuktikan hukum Newton, anda
merubah gaya f dan menyelidiki pengaruhnya terhadap percepatan (a),
dalam hal ini F adalah peubah mandiri, sedangkan (a) adalah peubah
tergantung. Grafik F melawan (a) mempunyai kemiringan 1/m.

11

c) Pilih skala tepat. Buatlah skala sederhana (jangan 3 kotak untuk 5 unit
misalnya). Isilah seluruh lembar dengan titik data. Skala tidak harus
mulai dari nol.
d) Tariklah garis mulus melalui titik data. Jangan sambungkan titik data
dengan garis zig-zag.
e) Usahakan data dalam bentuk sedemikian rupa. Sehingga akan
dihasilkan garis lurus, misalnya kalau realisasi teoritis adalah y = x
2
,
jangan grafikkan x vs y, tetapi x
2
vs y atau lebih baik lagi x vs y


PERCOBAAN YANG DILAKUKAN
3.1. Modulus Puntir Logam
3.1.1. Tujuan Percobaan
1. Menentukan harga modulus puntir logam.
2. Memahami Hukum Hooke untuk puntiran.
3. Membandingkan nilai modulus puntir berbagai logam.
3.1.2. Teori Dasar
Jika sebatang logam mengalami puntiran, maka sudut puntiran
tergantung dari gaya puntir dan lengan gayanya.
Modulus puntir logam dalam hal ini adalah merupakan kekakuan
puntiran bahan logam terhadap nilai gaya, bahan, penampang logam. Jika
suatu batang logam mengalami suatu puntiran maka batang tersebut
disamping mengalami gaya puntir juga mengalami gaya tarik.
Tiap batang mengalami tegangan sebagai gaya persatuan luas terlihat
batang mengalami perpindahan x (cm) sebagai akibat adanya gaya F,
yang besarnya berbanding lurus dengan penampang horizontal. Pada
percobaan modulus puntir terlihat akibat adanya gaya m
12
BAB III
PERCOBAAN YANG DILAKUKAN

Modulus Puntir Logam
Percobaan
Menentukan harga modulus puntir logam.
Memahami Hukum Hooke untuk puntiran.
Membandingkan nilai modulus puntir berbagai logam.
Jika sebatang logam mengalami puntiran, maka sudut puntiran
tergantung dari gaya puntir dan lengan gayanya.
Modulus puntir logam dalam hal ini adalah merupakan kekakuan
puntiran bahan logam terhadap nilai gaya, bahan, penampang logam. Jika
suatu batang logam mengalami suatu puntiran maka batang tersebut
disamping mengalami gaya puntir juga mengalami gaya tarik.
Tiap batang mengalami tegangan sebagai gaya persatuan luas terlihat
batang mengalami perpindahan x (cm) sebagai akibat adanya gaya F,
yang besarnya berbanding lurus dengan penampang horizontal. Pada
percobaan modulus puntir terlihat akibat adanya gaya m
Jika sebatang logam mengalami puntiran, maka sudut puntiran
Modulus puntir logam dalam hal ini adalah merupakan kekakuan
puntiran bahan logam terhadap nilai gaya, bahan, penampang logam. Jika
suatu batang logam mengalami suatu puntiran maka batang tersebut


Tiap batang mengalami tegangan sebagai gaya persatuan luas terlihat
batang mengalami perpindahan x (cm) sebagai akibat adanya gaya F,
yang besarnya berbanding lurus dengan penampang horizontal. Pada
percobaan modulus puntir terlihat akibat adanya gaya mengalami

pergeseran pada batang, dimana batang dianggap homogen. Akibat
geseran puntiran pada piringan gambar percobaan yang dipuntir melalui
piringan terhadap sumbunya, akan mengalami pergeseran sudut puntir.
Maka besarnya modulus puntir adalah:
dimana: N = Modulus puntir logam
L = panjang lengan puntir
F = gaya puntir
r = jari-jari batang
= sudut puntir









13
pergeseran pada batang, dimana batang dianggap homogen. Akibat
geseran puntiran pada piringan gambar percobaan yang dipuntir melalui
piringan terhadap sumbunya, akan mengalami pergeseran sudut puntir.
Maka besarnya modulus puntir adalah:

dimana: N = Modulus puntir logam
L = panjang lengan puntir
F = gaya puntir
jari batang
= sudut puntir
Percobaan : Modulus Puntir



pergeseran pada batang, dimana batang dianggap homogen. Akibat
geseran puntiran pada piringan gambar percobaan yang dipuntir melalui
piringan terhadap sumbunya, akan mengalami pergeseran sudut puntir.

14

3.1.3. Alat Percobaan
1. Set percobaan modulus puntir.
2. Batang logam percobaan.
3. Neraca lengan.
4. Beban dan katrol.
5. Jangka sorong dan mikrometer.
3.1.4. Tata Laksana
1. Ukur jari-jari batang logam (r).
2. Ukur panjang batang logam (L).
3. Susun alat seperti gambar di atas dan timbang massa beban (m).
4. Tarik piringan/lengan dengan gaya beban F = m.g, dengan lengan
beban berbeda (R).
5. Ulangi untuk bahan logam yang lainnya (besi, kuningan, dan
tembaga), datakan.
3.1.5. Data Percobaan
a. Batang Aluminium (r = 0,14 cm, L = 47,5 cm, g = 10 cm/det
2
).
No. m (gr) R (cm) F = m.g Sudut puntir () rad.
1 50 42 500 1,0292
2 70 41,9 700 1,1164
3 100 40,9 1000 1,1687
4 120 40,7 1200 1,2036
5 140 40,2 1400 1,2385


15

b. Batang kuningan (r = 0,14 cm, L = 47,5 cm, g = 10 cm/det
2
).
No. m (gr) R (cm) F = m.g Sudut puntir () rad.
1 50 43,2 500 0,9071
2 70 42,7 700 0,9943
3 100 41,5 1000 1,0816
4 120 41,3 1200 1,1339
5 140 41 1400 1,1688
c. Batang tembaga (r = 0,14 cm, L = 47,5 cm, g = 10 cm/det
2
).
No. m (gr) R (cm) F = m.g Sudut puntir () rad.
1 50 43,1 500 0,7501
2 70 42,1 700 1,0292
3 100 41,7 1000 1,099
4 120 41,2 1200 1,1338
5 140 41,1 1400 1,1687

3.1.6. Tugas dan Pertanyaan
1. Turunkan persamaan terpakai untuk menghitung harga modulus
puntir.
2. Apa yang dimaksud dengan batas ambang puntiran terhadap nilai
bahan logam, jelaskan.
3. Tentukan harga modulus puntir percobaan di atas.
4. Gambar grafik hubungan antara modulus puntir (N) terhadap gaya
beban (F) tiap batang.

16

5. Hitung kesalahan relatif tiap percobaan (Kr) dan rata-ratanya.
6. Hitung standart deviasinya (SD).
7. Kesimpulan percobaan di atas.
3.1.7. Lembar Penyelesaian Tugas
1. N=
2LFR
r
4


2. Semakin tinggi batas ambang puntiran, maka semakin besar pula nilai
bahan logam.
3. Rumus:N=
2LFR
r
4


a. Batang Aluminium:






b. Batang kuningan




9
4
10 1,6069
0292 , 1 0,14 3,14
42 500 47,5 2
=


= N
9
4
10 2,0691
1164 , 1 0,14 3,14
41,9 700 47,5 2
=


= N
9
4
10 2,7561
1687 , 1 0,14 3,14
40,9 1000 47,5 2
=


= N
9
4
10 3,1958
2036 , 1 0,14 3,14
40,7 1200 47,5 2
=


= N
9
4
10 3,5788
2385 , 1 0,14 3,14
40,2 1400 47,5 2
=


= N
9
4
10 1,8753
9071 , 0 0,14 3,14
43,2 500 47,5 2
=


= N
9
4
10 2,3675
9943 , 0 0,14 3,14
42,7 700 47,5 2
=


= N
9
4
10 3,0218
0816 , 1 0,14 3,14
41,5 1000 47,5 2
=


= N
9
4
10 3,4422
1339 , 1 0,14 3,14
41,3 1200 47,5 2
=


= N

17
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
4.5
0 500 1000 1500
m
o
d
u
l
u
s

p
u
n
t
i
r
gaya (F)
aluminium
kuningan
tembaga


c. Batang tembaga








4. Grafik antara modulus puntir (N) terhadap gaya beban (F):
4.1.Grafik pada batang aluminium, kuningan dan tembaga










9
4
10 3,8677
1688 , 1 0,14 3,14
41 1400 47,5 2
=


= N
9
4
10 2,2626
7501 , 0 0,14 3,14
43,1 500 47,5 2
=


= N
9
4
10 2,2551
0292 , 1 0,14 3,14
42,1 700 47,5 2
=


= N
9
4
10 2,9883
099 , 1 0,14 3,14
41,7 1000 47,5 2
=


= N
9
4
10 3,4342
1338 , 1 0,14 3,14
41,2 1200 47,5 2
=


= N
9
4
10 3,8775
1687 , 1 0,14 3,14
41,1 1400 47,5 2
=


= N

18

5. Kesalahan relatif (Kr) dan rata-ratanya:
a. Batang aluminium








b. Batang kuningan










64134 , 2
5
10 13,2067

9
=

=
rata rata
N
% 10 6,0837 100%
2,64134
2,64134 - 10 1,6069

10
9
1
=

= Kr
% 10 7,8335 100%
2,64134
64134 , 2 10 2,0691

10
9
2
=

= Kr
% 10 1,0434 100%
2,64134
2,64134 - 10 2,7561

11
9
3
=

= Kr
% 10 1,2099 100%
2,64134
2,64134 - 10 3,1958

9
9
4
=

= Kr
% 10 1,3549 100%
2,64134
2,64134 - 10 3,5788

11
9
5
=

= Kr
% 10 1,8753 100%
2,91491
2,9149 - 10 1,8753

11
9
1
=

= Kr
% 10 2,3675 100%
2,9149
2,9149 - 10 2,3675

11
9
2
=

= Kr
% 10 3,0218 100%
2,9149
2,9149 - 10 3,0218

11
9
3
=

= Kr
% 10 3,8677 100%
2,9149
2,0149 - 10 3,8677

11
9
5
=

= Kr
% 10 3,4422 100%
2,9149
2,9149 - 10 3,4422

11
9
4
=

= Kr
2,9149
5
14,5745
= =
rata rata
N

19

c. Batang tembaga










6. Standart deviasi (SD)
a. Batang Aluminium
No. xi
x | xi- x | | xi- x |
2
1.
2.
3.
4.
5.
1,606910
9

2,069110
9

2,756110
9

3,195810
9

3,578810
9

2,6413410
9

2,6413410
9

2,6413410
9

2,6413410
9

2,6413410
9

1,034410
9

0,572210
9

0,114810
9

0,554510
9

0,937510
9

1,070110
18

0,327510
18

0,013210
18

0,307510
18

0,878910
18




2,9635
5
14,8176
= =
rata rata
N
% 10 2,2626 100%
2,9635
2,9635 - 10 2,2626

11
9
1
=

= Kr
% 10 2,2551 100%
2,9635
2,9635 - 10 2,2551

11
9
2
=

= Kr
% 10 2,9883 100%
2,9635
2,9635 - 10 2,9883

11
9
3
=

= Kr
11
9
4
10 3,4342 100%
2,9635
2,9635 - 10 3,4342
=

= Kr
% 10 3,8775 100%
2,9635
2,9635 - 3,8775

11
5
= = Kr

20

n
x Xi
i
n
SD
2
1

=
=


9
18
10 7207 , 0
5
10 5972 , 2
= = SD


= 2,6413410
9
+ 0,720710
9
= 3,362010
9

= 2,6413410
9
0,720710
9
= 1,920610
9

Maka: 1,920610
9
N 3,362010
9

b. Batang kuningan
No. xi
x | xi- x | | xi- x |
2
1.
2.
3.
4.
5.
1,875310
9

2,367510
9

3,021810
9

3,442210
9

3,867710
9

2,914910
9

2,914910
9

2,914910
9

2,914910
9

2,914910
9

1,039610
9

5,474110
9

1,068710
9

5,273110
9

9,527910
9

1,080710
18

2,996610
18

1,142210
18

2,780510
18

9,078210
18

n
x Xi
i
n
SD
2
1

=
=



9
18
10 8481 , 1
5
10 0782 , 17
=

= SD


SD N N + =
SD N N =

21


= 2,914910
9
+ 1,848110
9
= 4,763010
9

= 2,914910
9
1,848110
9
= 1,066810
9

Maka: 1,066810
9
N 4,763010
9
c. Batang tembaga
No. xi
x | xi- x | | xi- x |
2
1.
2.
3.
4.
5.
2,262610
9

2,255110
9

2,988310
9

3,434210
9

3,877510
9

2,963510
9

2,963510
9

2,963510
9

2,963510
9

2,963510
9

7,009110
9

7,084410
9

2.474810
9

4,706610
9

9,139510
9

4,192710
18

5,018910
18

6,124610
18

2,215210
18

8,353010
18

n
x Xi
i
n
SD
2
1

=
=



9
18
10 2762 , 2
5
10 9044 , 25
=

= SD


= 2,963510
9
+ 2,276210
9
= 5,239710
9


SD N N =
SD N N + =
SD N N + =

22


= 2,963510
9
2,276210
9
= 0,687310
9

Maka: 0,687310
9
N 5,239710
9
7. Kesimpulan
Untuk batang aluminium didapatkan1,920610
9
N 3,362010
9
.

Untuk batang kuningan didapatkan 1,066810


9
N 4,763010
9
.

Untuk batang tembaga didapatkan 0,687310


9
N 5,239710
9
.

Tembaga memiliki nilai modulus puntir lebih besar dibandingkan
dengan aluminium dan kuningan, karena tembaga meniliki berat jenis
yang lebih besar.


SD N N =

23

BAB 3.2
VISCOSITAS ZAT CAIR

3.2.1. Tujuan Percobaan

1. Memahami hokum Stokes tentang zat cair.
2. Memahami bahwa gaya gesekan yang dialami benda yang bergerak dalam
fluida (gas dan zat cair) berkaitan dengan kekentalan fluida.

3.2.2. Teori Dasar

Jika sebuah bola logam dijatuhkan pada fluida (zat cair) yang diam maka
akan bekerja gaya gesek fluida untuk melawan berat benda yang besarnya
selalu konstan.
Dimana besarnya gaya gesek fluida terhadap bola logam deberikan oleh
Stokes yang besarnya : R = 6...r.V.
Secara garis besar hubungan bola jatuh dalam fluida dengan nilai
viscositas kekentalan) zat cair sebagai berikut :
W = B + R
dimana : W = gaya berat bola
B = gaya pengapung fluida
R = gaya gesek fluida


24

Dari hubungan kesetimbangan ketiga faktor didapat bahwa besarnya harga
viscositas zat cair adalah :


Dimana : n = viscositas zat cair
t = waktu jatuh bola
S = jarak jatuh bola
r = jari-jari bola
R = jari-jari tabung
g = percepatan grafitasi
= massa jenis bola

o
= massa jenis fluida

3.2.3. Alat Percobaan

1. Tabung fluida
2. Jangka sorong
3. Neraca lengan
4. Mikrometer
5. Bola besi (pelor)
6. Aerometer dan tabung gelas
7. Stop wacht.

3.2.4. Tata Laksana

1. Tentukan massa jenis bola dengan menimbang massanya kemudian
mengukur volumenya.
2. Tentukan massa jenis fluida pada aerometer.

2.r
2
.g.t
o

9.S.10,24 r R

25

3. Tentukan jarak S, kemudian jatuhnya bola besi dan ukur waktu
jatuhnya (t).
4. Ulangi untuk jarak S yang berbeda 4 kali lagi.
5. Lakukan untuk tabung yang lainnya, lakukan pengukuran lagi seperti
langkah di atas, datakan.

3.2.5. Data Pengamatan

Olie SAE 10
Massa jenis bola besi = 7,6508 gr/cc
Massa jenis fluida (olie)
o
= 0,87 gr/cc
Jari-jari tabung gelas R = 1,8 cm
Massa bola = 2,05 gr
Jari-jari bola = 0,4 cm
Volume bola = 0,2679 cm
3


No S (cm) t (detik) v = S (1 + 0,24 . r/R)/t (cm/det)
1 10 0,16 17,2222
2 20 0,28 19,6825
3 30 0,39 21,1966
4 40 0,49 22,4943
5 50 0,59 23,3522







26

Olie SAE 40
Massa jenis bola besi = 7,6508 gr/cc
Massa jenis fluida (olie)
o
= 0,9 gr/cc
Jari-jari tabung gelas R = 1,8 cm
Massa bola = 2,05 gr
Jari-jari bola = 0,4 cm
Volume bola = 0,2679 cm
3


No S (cm) t (detik) v = S (1 + 0,24 . r/R)/t (cm/det)
1 10 0,28 9,8413
2 20 0,47 11,7258
3 30 0,68 12,1569
4 40 0,88 12,5253
5 50 0,98 14,0590

3.2.6. Tugas dan Pertanyaan

1. Turunkan persamaan terpakai untuk menghitung nilai viscositas.
2. Apa yang dimaksud dengan viscositas dan apa pula yang dimaksud dengan
nilai SAE, jelaskan perbedaannya.
3. Tentukan harga viscositas dari percobaan.
4. Buat grafik hubungan nilai viscositas () dengan t (waktu), jelaskan.
5. Hitung kesalahan relative tiap percobaan.
6. Hitung standart devisiasinya.
7. Kesimpulan percobaan.


27

3.2.7. Lembar Penyelesaian Tugas

1. Penurunan rumus untuk menghitung nilai viskositas.
W = B + R
Fs (R) = 6...r.V
F
A
(B) =
o
.g.V
b

W = m.g
dimana m = .V
sehingga W =
b
.V
b
.g
F
s
= W-F
A

6...r.V = (
b
V
b
.g)-(
o
.V
o
.g)
6...r.V = V
b
.g.(
b
-
o
)
6...r.V = 4/3..r
3
.g.(
b
-
o
)
sehingga

dimana
sehingga


2. Yang dimaksud dengan nilai viscositas adalah besarnya gaya gesek fluida
zat cair untuk menahan berat benda yang besarnya selalu konstan.
Dan yang dimaksud dengan SAE adalah besarnya harga kekentalan dari
suatu zat cair (fluida).

V =
x
t

=
2r
2
g(
b
-
f
)
9V

V =
x
t
1+0,24
r
R

t =
x
V

=
2.r
2
.g(
b
-
o
)
9.S(1+0,24r/R)


28

3. Harga viscositas
SAE 10
Poise 0,1372
1,8) / 0,4 . 0,24 (1 x 10 x 9
0,87) - 8 0,16(7,650 x 9,8 x 0,4 x 2
n
2
1
=
+
=
( )
Poise 0,1200
1,8) / 0,4 . 0,24 (1 x 20 x 9
0,87 - 7,6508 0,28 9,8 x 0,4 x 2
n
2
2
=
+

=
Poise 0,1115
1,8) 0,4/ . 0,24 (1 x 30 x 9
0,87) - 8 0,39(7,650 x 9,8 x 0,4 x 2
n
2
3
=
+
=
Poise 0,1050
1,8) / 0,4 . 0,24 (1 x 40 x 9
0,87) - (7,6508 0,49 x 9,8 x 0,4 x 2
n
2
4
=
+
=
Poise 0,1012
1,8) / 0,4 . 0,24 (1 x 50 x 9
0,87) - (7,6508 0,59 x 9,8 x 0,4 x 2
n
2
5
=
+
=
Poise 0,1150
5
0,5749
n
rata - rata
= =
SAE 40
Poise 0,0860
1,8) / 0,4 . 0,24 (1 x 10 x 9
0,9) - (7,6508 0,28 x 9,8 x 0,4 x 2
n
2
1
=
+
=
Poise 0,0722
1,8) / 0,4 . 0,24 (1 x 20 x 9
0,9) - (7,6508 0,47 x 9,8 x 0,4 x 2
n
2
2
=
+
=
Poise 0,0697
1,8) / 0,4 . 0,24 (1 x 30 x 9
0,9) - (7,6508 0,68 x 9,8 x 0,4 x 2
n
2
3
=
+
=
Poise 0,0676
1,8) / 0,4 . 0,24 (1 x 40 x 9
0,9) - (7,6508 0,88 x 9,8 x 0,4 x 2
n
2
4
=
+
=
Poise 0,0602
1,8) / 0,4 . 0,24 (1 x 50 x 9
0,9) - 98(7,6508 x 9,8 x 0,4 x 2
n
2
5
=
+
=

29

Poise 0,0712
5
0,3558
n
rata - rata
= =
4. Grafik hubungan nilai viscositas ) ( dengan t ( waktu )
SAE 10

SAE 40


0.0950
0.1000
0.1050
0.1100
0.1150
0.1200
0.1250
0.1300
0.1350
0.1400
0 0.5 1 1.5
t (detik)

0.0550
0.0600
0.0650
0.0700
0.0750
0.0800
0.0850
0.0900
0 0.2 0.4 0.6 0.8
t (detik)


30

5. Kesalahan relatif tiap percobaan
SAE 10
Kr
1
= % 100
1150 , 0
1150 , 0 1372 , 0

= 19 %
Kr
2
= % 100
1150 , 0
1150 , 0 1200 , 0

= 4 %
Kr
3
= % 100
1150 , 0
1150 , 0 1115 , 0

= -3 %
Kr
4
= % 100
1150 , 0
1150 , 0 1050 , 0

= -9 %
Kr
5
= % 100
1150 , 0
1150 , 0 1012 , 0

= -12 %
SAE 40
Kr
1
= % 100
0712 , 0
0712 , 0 0860 ., 0

= 0,2979 %
Kr
2
= % 100
1712 , 0
1712 , 0 0722 , 0

= 0,0213 %
Kr
3
= % 100
1712 , 0
1712 , 0 0697 , 0

= -0,0299 %
Kr
4
= % 100
1172 , 0
1712 , 0 0676 , 0

= -0,0709 %
Kr
5
= % 100
1712 , 0
1712 , 0 0602 , 0

= -0,2184 %


31

6. Standart deviasinya
SAE 10
No n
n
n n
2
n n
1
2
3
4
5
0.1372
0.1200
0.1115
0.1050
0.1012

0,1150
0,1150
0,1150
0,1150
0,1150
0.0222
0.0051
-0.0035
-0.0099
-0.0138

0.0004932
0.0000256
0.0000124
0.0000989
0.0001906


SD =
n
x Xi
i
n
2
1

=
5
0008206 , 0
= 9 x 10
-3
= 0,1150 9 x 10
-3

= 0,106 0,124
SAE 40
No n
n
n n
2
n n
1
2
3
4
5
0.0860
0.0722
0.0697
0.0676
0.0602

0,0712
0,0712
0,0712
0,0712
0,0712
0.0149
0.0011
-0,0015
-0.0035
-0,0109

0,0002218
0.0000011
0,0000022
0,0000126
0,0001192



32

SD =
n
x Xi
i
n
2
1

=
5
0003570 , 0
= 8 x 10
-3

= 0,0172 8 x 10
-3

= 9 x 10
-3
0,0252
3.2.8. Kesimpulan
Dan dengan bertambahnya nilai SAE maka viscositasnya semakin
besar.
Untuk SAE 10 viskositasnya adalah 0,106 0,124.
Untuk SAE 40 viskositasnya adalah 9 x 10
-3
0,0252.
SAE 40 memilik nilai viskositas lebih besar dibandingkan dengan
SAE 10.



33

BAB 3.3
PEMBENTUKAN BAYANGAN OLEH LENSA POSITF

3.3.1 Tujuan Percobaan
1. Menentukan letak bayangan benda.
2. Menentukan fokus dari lensa positif.
3. Memahami jalannya sinar pada lensa positif.
3.3.2. Teori Dasar

Lensa adalah alat untuk mengumpulkan atau menyebarkan cahaya,
Lensa memiliki dua permukaan dimana salah satu atau keduanya memiliki
permukaan melengkung sehingga dapat membelokkan sinar yang
melewatinya.
Lensa Cembung (konveks) memiliki bagian tengah yang lebih tebal
daripada bagian tepinya. Lensa cembung terdiri atas 3 macam bentuk yaitu
lensa bikonveks (cembung rangkap), lensa plankonveks (cembung
datar) dan lensa konkaf konveks (cembung cekung).
Lensa cembung disebut juga lensa positif. Lensa cembung memiliki
sifat dapat mengumpulkan cahaya sehingga disebut juga lensa
konvergen. Apabila ada berkas cahaya sejajar sumbu utama mengenai
permukaan lensa, maka berkas cahaya tersebut akan dibiaskan melalui satu
titik.


34

Dari gambar di atas, terlihat bahwa sinar bias mengumpul ke satu titik
fokus di belakang lensa. Titik fokus yang merupakan titik pertemuan sinar-
sinar bias disebut fokus utama (F
1
) disebut juga fokus aktif. Karena pada
lensa cembung sinar bias berkumpul di belakang lensa maka letak nya juga
di belakang lensa. Sedangkan fokus pasif (F
2
) simetris terhadap F
1
. Untuk
lensa cembung, letak ini berada di depan lensa.
Untuk lensa tipis, titik focus dari lensa dapat dihitung dari jarak benda,
(S) dan jarak bayangan yang dibentuk (S) dengan persamaan:


'
1 1 1
S S f
+ =

Dimana : f = Jarak fokus lensa
S = Jarak benda dengan lensa
S
I
= Jarak bayangan dengan lensa




'
'
S S
SS
f
+
=

35

3.3.3. Alat-Alat Percobaan
1. Lensa positif
2. Bangku optik
3. Layar
4. Benda
5. Sumber cahaya

3.3.4. Langkah Kegiatan
Susun set percobaan seperti gambar di bawah ini :






Bentuk bayangan benda B oleh lensa L denagn menggeser letak layar T.
Ubah kedudukan benda terhadap lensa dan tentukan lagi bayangan benda 4
kali lagi.
Datakan hasil percobaan dilembar data percobaan.





S
S
lampu Lensa +
layar
Benda

36

3.3.5. Data Percobaan

No
Jarak benda
(S)
Jarak bayangan
( S
`
)
Fokus lensa
(f)
1 71,3 cm 11,2 cm 9,6795 cm
2 61,2 cm 11,3 cm 9,5388 cm
3 51,4 cm 11,1 cm 9,1286 cm
4 41,3 cm 11,2 cm 8,8107 cm
5 31,15 cm 11,35 cm 8,3493 cm

3.3.6. Tugas dan Pertanyaan

1. Tentukan jarak fokus lensa positif!
2. Untuk mencari bayangan suatu benda digunakan 3 sinar istimewa
gambarkan ketiga sinar istimewa itu!
3. Hitung kesalahan relatif tiap percobaan!
4. Tentukan kesalahan standartnya!
5. Jelaskan sifat-sifat dari lensa positif!
6. Tuliskan kesimpulan dari percobaan!







37

3.3.7. Lembar Penyelesaian Tugas

1. Menentukan focus lensa (f)
'
1 1 1
S S f
+ =
S' S
SS'
+
= f
9,6795
11,2 71,3
11,2 71,3
1
=
+

= f cm
9,5388
3 , 11 2 , 61
11,3 61,2
2
=
+

= f cm
9,1286
1 , 11 4 , 51
1 , 11 4 , 51
3
=
+

= f cm
8,8107
2 , 11 3 , 41
11,2 41,3
4
=
+

= f cm
8,3493
4 , 11 2 , 31
4 , 11 2 , 31
5
=
+

= f cm
( )
9,1014
5
3493 , 8 8107 , 8 1286 , 9 5388 , 9 6795 , 9
=
+ + + +
=
rata Rata
f cm








38

2. Gambar 3 sinar istimewa pada lensa positif




Keterangan :
1. Sinar datang sejajar sumbu utama, dibiaskan melalui titik fokus (F)
2. Sinar datang melalui melalui pusat optis diteruskan
3. Sinar datang melalui titik fokus (F), dibiskan sejajar sumbu utama
3. Menghitung kesalahan relatif
% 100

rata Rata
rata Rata
r
f
f f
K
( )
% 4,58
5
% 9 , 22
% 8,26 % 100
1014 , 9
1014 , 9 3493 , 8
% 3,19 % 100
1014 , 9
1014 , 9 8107 , 8
% 0,29 % 100
1014 , 9
1014 , 9 1286 , 9
% 4,81 % 100
1014 , 9
9,1014 - 9,5388
% 35 , 6 % 100
1014 , 9
1014 , 9 6795 , 9
5
4
3
2
1
= =
=

=
=

=
=

=
= =
=

=
rata rata
r
r
r
r
r
K
K
K
K
K
K




2
1
3

39

4. Menghitung Standard Deviasi (SD)
No

F


F

F F
2
F F
1 9,6795 9,1014 0,5781 0,3342
2 9,5388 9,1014 0,4374 0,1913
3 9,1286 9,1014 0,0272 0,0007
4 8,8107 9,1014 0,2907 0,0845
5 8,3493 9,1014 0,7521 0,5657

4851 , 0
5
1764 , 1
= = SD
9,5865 f 8,6163
SD 9,1014 f
SD f f

=
=

5. Sifat-sifat lensa positif
- Dapat mengumpulkan sinar (konvergen).
- Apabila benda terletak antara O dan F, sifat bayangan: tegak,
maya, diperbesar.
- Apabila benda terletak tepat di F, bayangan terbentuk ditempat
jauh, sebab sisnar - sinar bias merupakan berkas sinar yang sejajar.
- Apabila benda terletak diantara F dan 2F, sifat bayangan: terbalik,
nyata, diperbesar.
- Apabila benda terletak di 2F, sifat bayangan: terbalik, nyata, sama
besar



40

3.3.8. Kesimpulan
a. Lensa adalah benda bening tembus cahaya yang permukaannya
merupakan lensa lengkung bola.
b. Bayangan benda tidak dapat ditangkap layar dengan jelas bila benda
tidak berada dititik fokus lensa.
c. Berdasarkan hasil prcobaan kita dapat mengetahui sifat-sifat lensa
positif, juga jarak fokus lensa dengan jalan menggerakkan benda.
d. Lensa yang dipakai memiliki jarak fokus 8,6163 f 9,5865 cm dari
lensa ke benda.




41

BAB 3.4
KONSTANTA PEGAS

3.4.1. Tujuan Percobaan

1. Menentukan harga konstanta pegas dengan metode pembebanan.
2. Menentukan harga konstanta pegas dengan metode getaran selaras.
3. Menentukan hubungan konstanta pegas dengan periode getar.

3.4.2. Teori Dasar

Bila sebuah pegas digantung vertikal dengan panjang (lo) kemudian
pegas diberi beban dengan massa (m), maka pegas panjangnya menjadi (l), atau
pegas mengalami pertambahan panjang: x = l lo.
Maka harga konstan pegas dapat ditentukan: k = m .
x
g
.
Tetapi jika pegas di gantung vertical ke bawah kemudian pegas diberi
beban dan digetarkan, maka pegas mangalami getaran selaras yang dapat
ditentukan periode getarannya (T).
Periode getar dapat dicari hubungannya dengan waktu : T = 2 .
n
t

dimana t adalah waktu untuk n kali getaran melalui titik setimbang.




42

Maka besarnya konstanta pegas dapat ditentukan dengan persamaan:
Dimana : k = Konstanta pegas
m = Massa beban
T = Periode
g = Konstanta gravitasi bumi (980
2
det
cm
)

3.4.3 Alat Alat Percobaan

1. Statif tegak
2. Pegas/per
3. Stopwatch
4. Rool meter
5. Neraca lengan
6. Beban / massa

3.4.4. Tata Laksana Percobaan

1. Gantungkan pegas dan ukur panjang mula mula (lo).
2. Timbang massa beban (m) dan gantungkan pada pegas.
3. Ukur panjang pegas setelah diberi beban (l).
4. Gantung kembali untuk massa yang berbeda sebanyak 4 kali,
kemudian datakan hasilnya.
5. Ambil massa beban (m) gantungkan pada pegas, beri tanda letak titik
setimbangnya, pegas simpangkan supaya terjadi getaran.

k =
2
2
T
m . . 4



6. Hitung banyaknya getaran (selama beban melewati titik setimbang)
sebanyak n kali dalam t detik.
7. Ulangi untuk simpangan
8. Datakan hasil
3.4.5. Data Pengamatan

Sistem Pembebanan
No m (gr)
1 20
2 40
3 60
4 80
5 100


43
Hitung banyaknya getaran (selama beban melewati titik setimbang)
sebanyak n kali dalam t detik.
Ulangi untuk simpangan simpangan yang berbeda 4 kali.
Datakan hasil hasil percobaan.
Data Pengamatan
Sistem Pembebanan
m (gr) lo (cm) l (cm) x (cm)
19,8 21,5 1,7
19,8 22,7 2,9
19,8 24,4 4,6
19,8 26 6,2
19,8 27,7 7,9
Hitung banyaknya getaran (selama beban melewati titik setimbang)


x (cm)
1,7
2,9
4,6
6,2
7,9

44

Sistem getaran
No m (gr) n (kali) s (detik) T (cm)
1 20 40 15 0,75
2 40 40 17,69 0,8845
3 60 40 20,88 1,044
4 80 40 23,63 1,1815
5 100 40 25,81 1,2905

3.4.6. Tugas dan Pertanyaan

1. Turunkan persamaan untuk menghitung konstannya pegas
berdasarkan teori pembebanan dan teori system getaran.
2. Pada kedua metode yang digunakan, hasil manakah yang paling tepat
digunakan untuk menentukan harga konstanta pegas.
3. Apa hubungannya nilai konstanta pegas dengan nilai elastisitas,
jelaskan arti keduanya.
4. Tentukan harga konstanta pegas sistem pembebanan dan system
getaran, hitung juga harga rata-ratanya.
5. Bandingkan harga kedua sistem.
6. Tentukan kesalahan relatifnya kedua sistem.
7. Hitung standart deviasinya.
8. Kesimpulan percobaan.


45

3.4.7 Penyelesaian Tugas dan Pertanyaan

1. A. Menghitung konstanta dengan teori pembebanan:
k =
m.g
x


dengan, X = X
1
X
0
Dimana:
k = Konstanta pegas
m = Massa beban (gr)
g = Gravitasi (980 cm/dt
2
)
X = Panjang (cm)
B. Menghitung konstanta dengan teori sistim geteran:
k =
4.
2
.m
T
2
dengan T = 2.t/n
Dimana:
k = Konstanta pegas
m = Massa beban (gr)
T = Periode
2. Metode yang paling tepat digunakan untuk konstanta pegas adalah
metode sistem pembebanan karena pada system pembebanan berada
dalam keadaan diam atau setimbang sedangkan metode getaran harus
menghitung periode yang memungkingkan kesalahan lebih besar.


46

3. Nilai elastisitas sangat menentukan nilai konstanta pegas yaitu dalam
elastisitas tersebut dapat berubah panjang yang menentukan harga K
sehingga nilai elastisitasnya berbanding dengan K
X =
E A
L F
o
.
.
E =
A
L K
X A
L X K
A
L F
o o
.
.
. . .
= =
4. Konstanta pegas sistem pembebanan dan sistem getaran.
Sistem Pembebanan
K =
X
mg

K
1
=
2
gr/dt 11529,41
7 , 1
19600
7 , 1
980 . 20
= =
K
2
=
2
gr/dt 24 , 3517 1
9 , 2
39200
9 , 2
980 . 40
= =
K
3
=
2
gr/dt 12782,61
6 , 4
58800
6 , 4
980 . 60
= =
K
4
=
2
gr/dt 16 , 12645
2 , 6
78400
2 , 6
980 . 80
= =
K
5
=
2
gr/dt 12405,06
9 , 7
98000
9 , 7
980 . 100
= =
K
rata-rata
=
5
06 , 12405 16 , 12645 61 , 12782 24 , 13517 41 , 11529 + + + +

5
48 , 62879
=
2
gr/dt 89 , 12575 =



47

Sistem Getaran
K =
2
2
T
m . . 4

K
1
=
2
2
2
gr/dt 1402,25
) 75 , 0 (
20 . ) 14 , 3 ( 4
=
K
2
=
2
2
2
gr/dt 2211,97
) 8445 . 0 (
40 . ) 14 , 3 ( 4
=
K
3
=
2
2
2
gr/dt 04 , 2171
) 044 , 1 (
60 . ) 14 , 3 ( 4
=
K
4
=
2
2
2
gr/dt 17 , 2260
) 1815 , 1 (
80 . ) 14 , 3 ( 4
=
K
5
=
2
2
2
gr/dt 11 , 2368
) 2905 , 1 (
100 . ) 14 , 3 ( 4
=
K
rata-rata
=
5
11 , 2368 17 , 2260 04 , 2171 97 , 2211 25 , 1402 + + + +

5
54 , 10413
=
2
gr/dt 2082,71 =
5. Membandingkan kedua harga system
Harga konstanta dalam pegas dalam metode pembebanan dipengaruhi
oleh massa panjang mula mula pegas, setelah diberi beban dan
pertambahan panjang.
Harga konstanta pegas dengan dengan metode getaran selaras
dipengaruhi oleh banyaknya getaran dan waktu yang diperlukan getaran
sebanyak n kali dan periode dikalikan dengan besar kuadrat.

48

Konstanta pegas rata rata dalam sistem pembebanan lebih besar dari
pada sistem getaran.
6. Kesalahan relatif kedua sistem
System Getaran
Kr =
( )
rata rata
rata rata
K
K K

x100%
Kr
1
=
( )
71 , 2082
71 , 2082 25 , 1402
x 100% = -32,67 %
Kr
2
=
( )
71 , 2082
2082,71 - 2211,97
x 100% = 6,21 %
Kr
3
=
( )
71 , 2082
71 , 2082 04 , 2171
x 100% = 4,24 %
Kr
4
=
( )
71 , 2082
2082,71 - 2260,17
x 100% = 8,52 %
Kr
5
=
( )
71 , 2082
71 , 2082 11 , 2368
x 100% = 13,70 %
System Pembebanan
Kr =
( )
rata rata
rata rata
K
K K

x100%
Kr
1
=
( )
89 , 12575
89 , 12575 41 , 11529
x 100% = -8,32 %
Kr
2
=
( )
89 , 12575
89 , 12575 24 , 13517
x 100% = 7,48 %
Kr
3
=
( )
89 , 12575
89 , 12575 61 , 12782
x 100% = 1,64 %


49

Kr
4
=
( )
89 , 12575
89 , 12575 16 , 12645
x 100% = 0,55 %
Kr
5
=
( )
89 , 12575
12575,89 - 12405,06
x 100% = 0,0078 %
7. Menghitung standart deviasinya
Sistem Pembebanan
No K
K
K K
2
K K
1
2
3
4
5
11529,41
13517,24
12782,61
12645,16
12405,06
12575,89
12575,89
12575,89
12575,89
12575,89

-1046,48
941,35
206,72
69,27
-170,83
1095120,4
886139,82
42733,16
4798,33
29182,89
2057974,6

5566 , 641
5
6 , 2057974
= = SD
K = K SD
= 12575,89 + 5566 , 641
= 13217,45
K = K SD
= 12575,89 - 5566 , 641
= 11934,33
11934,33 K 13217,45

50

Sistem Getaran
No K
K
K K
2
K K
1
2
3
4
5
1042,25
2211,97
2171,04
2260,17
2368,11
2082,71
2082,71
2082,71
2082,71
2082,71

-1040,46
129,26
88,33
177,46
285,4
1082557
16708,15
7802,19
31492,05
81453,16
1220012,6

9661 , 493
5
6 , 1220012
= = SD
K = K SD
= 2082,71 + 493,9661
= 2576,676
K = K SD
= 2082,71 - 493,9661
= 1588,744
2576,676 K 1588,744





51

8. Kesimpulan Percobaan

Penggunaan metode yang paling tepat untuk menentukan harga
konstanta pegas adalah dengan system pembebanan.
Nilai regangan dan tegangan pegas mempengaruhi harga konstanta
pegas.
Pada system pembebanan harga K ditentukan oleh massa, gravitasi
dan pertambahan panjang.
Sedangkan pada system getaran, harga ditentukan oleh banyaknya
getaran, massa dan periode.
Semakin berat massa yang dilakukan dalam percobaan system
getaran, maka waktu yang diperlukan semakin banyak sehingga
periodenya juga semakin besar
Makin besar massa yang digunakan maka pertambahan panjang pada
sistem pembebanan akan semakin besar.
Untuk K system pembebanan nilai adalah 11934,33 K 13217,45
Untuk K system pembebanan nilai adalah 2576,676 K 1588,744


52

R
Q
P
Y3
Y1
Y2
LAYAR
S
I
N
A
R
BAB 3.6
DIFRAKSI CAHAYA
3.6.1. Tujuan Percobaan
1. Menentukan panjang cahaya laser.
2. Memahami proses difraksi cahaya oleh celah sempit dan menentukan
lebar celah dan jarak antara celah dengan menggunakan laser He-Ne.

3.6.2. Teori Dasar
Salah satu alat menghasilkan garis spektrum adalah kisi atau celah
sempit yang merupakan sebaris celah yang sangat berdekatan.
Jika seberkas sinar dilewatkan sebuah kisi maka perjalanan
gelombang cahaya terganggu oleh bagian celah yang tak tembus cahaya,
sebagian muka gelombang cahaya diteruskan (seperti gambar).






Percobaan Difraksi Cahaya
Pada gambar terlihat bahwa P, Q, R merupakan celah sempit,
dimana gelombang datang (dari laser) setelah lewat kisi didifraksikan
membentuk muka gelombang baru dengan sudut 1 ; 2 dan seterusnya,

53

muka gelombang baru tersebut merupakan daerah terang dan tak terlihat
merupakan daerah gelap. Untuk daerah terang pertama ke gelap pertama
dikatakan mempunyai orde pertama (n=1) dan seterusnya. Daerah gelap
atau terang kedua mempunyai orde kedua (n=2) dan seterusnya.
Maka panjang gelombang cahaya laser dapat ditentukan dengan
persamaaan sebagai berikut:

Dimana :
= panjang gelombang
d = panjang kisi atau celah (1/999)
= sudut difraksi

`Catatan : Untuk menentukan nilai sudut difraksi

2 2
sin
A Y
Y
+
=

3.6.3. Alat Percobaan
1. Sumber cahaya laser
2. Kisi difraksi
3. Layar dan rool meter
4. Bangku optik
5. Sumber tegangan 220 V




= d Sin
n
(cm)

54

3.6.4. Langkah Kegiatan
1. Susunlah alat seperti pada gambar dibawah ini, laser jangan
dihubungkan dengan sumber tegangan terlebih dahulu.








2. Menugukur jarak kisi/celah ke layar , sebagai jarak A (cm).
3. Menghubungkan laser dengan sumber tegangan , maka akan terlihat pola
difraksi, tentukan dulu titik orde n=0 (titik tengah), kemudian ukur jarak
Y (cm) yang merupakan jarak titik terang nol ke titik terang pertama
(n=1).
4. Mengulangi kegiatan diatas 4 kali lagi untuk jarak A yang berbeda dan
ukur pusat titik terang berikutnya.
5. Mengkonsultasikan data pengamatan pada pembimbing , datakan.
Catatan :
Jangan sekali-kali mengintip/melihat berkas celah laser secara langsung,
karena dapat merusak retina mata.


LASER
KISI
LAYAR

55

3.6.5. Data Pengamatan
No. n A (cm) Y (cm)
B=
2 2
A Y + (cm)
(cm) Sin
1. 1 353 72,5 360,36 6,70.10
-7
0,2011
2. 1 362 73,5 369,38 6,62.10
-7
0,1989
3. 1 364 75 371,64 6,71.10
-7
0,2018
4. 1 372 76 379,68 6,66.10
-7
0,2001
5. 1 379,5 79 387,63 6,78.10
-7
0,2038

3.6.6. Tugas dan Pertanyaan
1. Tuliskan penurunan rumus
2. Apa kegunaan kisi atau celah pada percobaan, jelaskan.
3. Apa yang dimaksud pola gelap terang yang menunjukan nilai orde
(daerah) pada percobaan.
4. Ukur jarak (cm) yang merupakan jarak titik terang nol ke titik terang
pertama (n=1).
5. Hitung kesalahan relatif tiap percobaan (Kr).
6. Hitung standart deviasi (SD) dan kesalahan mutlaknya (Km).
7. Berapa harga pengukuran terbaik untuk panjang gelombang.
8. Kesimpulan percobaan.





56

3.6.7. Lembar Penyelesaian Tugas
1. Turunan persamaan yang dipakai adalah berkas sinar di datangkan tegak
lurus pada bidang bercelah tinggal. Karena membelokkan arah
perambatan cahaya, maka terbentuk sudut pembelokkan. Dua lintasan
cahaya yang melalui A dan B mempunyai selisih jarak atau panjang
lintasan y dengan beda fase: oleh karena itu s = d sin
dan , maka : Q = n


2. Kegunaan kisi difraksi adalah:
Untuk menghasilkan garis spektrum orde dengan cara melewatkan
seberkas cahaya pada celah sempit, sehingga perjalanan cahaya akan
terganggu dan akan menghasilkan pola difraksi dari sinar tunggal ke
sinar banyak.
3. Pengertian pola gelap terang untuk daerah (orde) adalah
Pola Terang
Apabila dua buah gelombang cahaya bersama-sama sampai pada
titik layar dengan fase yang sama, maka kedua gelombang akan
saling memperkuat dan menghasilkan gelombang cahaya baru
yang terang pada layar.
Pola Gelap
Apabila dua buah gelombang cahaya bersama-sama sampai pada
titik layar dengan fase yang berbeda, maka kedua gelombang
n =
d sin

=
d sin
n

Q =
s


Q =
d sin



57

tersebut akan saling memperkuat dan menghasilkan gelombang
cahaya baru yang gelap pada layar.
4. Perhitungan panjang gelombang pola Difraksi () :
=
n
Sin d .

6
3
10 . 33 , 3
. 10 . 300
1

= = d
=
1
cm 10 . 70 , 6
1
2011 , 0 . 10 . 33 , 3
7
6

=
cm 10 . 62 , 6 .
1
1989 , 0 . 10 . 33 , 3
7
6
2

= =
cm 10 . 71 , 6 .
1
2018 , 0 . 10 . 33 , 3
7
6
3

= =
cm 10 . 66 , 6
1
2001 , 0 . 10 . 33 , 3
7
6
4

= =
cm 10 . 78 , 6
1
2038 , 0 . 10 . 33 , 3
7
6
5

= =
( )
cm 10 . 69 , 6
5
10 78 , 6 6,66 6,71 6,62 6,69
rata rata
7
7

=
+ + + +
=

5. Perhitungan kesalahan relatif tiap percobaan (Kr)
Kr = 100


%
Kr
1 = % 0,15 % 100
10 . 69 , 6
10 . 69 , 6 10 . 70 , 6
7
7 7
=



Kr
2 = % 1,04 % 100
10 . 69 , 6
10 . 69 , 6 10 . 62 , 6
7
7 7
=



Kr
3 = % 0,30 % 100
10 . 69 , 6
10 . 69 , 6 10 . 71 , 6
7
7 7
=




58

Kr
4 = % 0,44 % 100
10 . 69 , 6
10 . 69 , 6 10 . 66 , 6
7
7 7
=



Kr
5 = % 1,34 % 100
10 . 69 , 6
10 . 69 , 6 10 . 78 , 6
7
7 7
=



Kr
rata-rata =
( )
% 0,654 %
5
1,34 0,44 0,30 1,04 0,15
=
+ + + +

6. Perhitungan standart deviasi (SD) dan kesalahan mutlak (Km)
No. rata-rata

n

2

n

1. 6,70.10
-7
6,69. 10
-7
0,01.10
-7
1.10
-18

2. 6,62.10
-7
6,69. 10
-7
0,07.10
-7
5.10
-18

3. 6,71.10
-7
6,69. 10
-7
0,02.10
-7
4.10
-18

4. 6,66.10
-7
6,69. 10
-7
0,03.10
-7
9.10
-18
5. 6,78.10
-7
6,69. 10
-7
0,09.10
-7
8.10
-18

0,22.10
-7
27.10
-18
SD =
n
n
2

=
5
10 . 27
18
= 2,323 x 10
-9

7. Harga pengukuran terbaik
= rata-rata SD
= 6,69. 10
-7
+ 2,323 x 10
-9
= 6,71.10
-7
= 6,69. 10
-7
2,323 x 10
-9
= 6,67.10
-7
6,67.10
-7
6,71.10
-7




59

3.7. Kesimpulan Percobaan

1. Untuk menentukan panjang gelombamg besar percobaan :
Difraksi cahaya yaitu, dimana sinar laser dilewatkan pada sebuah kisi
atau celah sempit maka sebagian diteruskan dan lainnya didifraksikan
meembentuk muka gelombang baru.
Perhitungan dengan formulasi sebagai berikut
n
d

sin
=
2. Proses difraksi cahaya adalah pembiasan suatu sinar dari sumber sinar
yang ditembakkan ke kisi/celah sehingga bayangan pada layar dimana
bayangan tadi membentuk beberapa orde 1, 2, 3, dan seterusnya.
3. Panjang gelombang yang diperoleh dalam percobaan adalah
6,67.10
-7
6,71.10
-7
.




60

BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan:
1. Hasil-hasil yang diperoleh dalam praktikum tidak ada yang sama persis
dengan perhitungan teori.
2. Hasil-hasil yang diperoleh sedikit banyak dipengaruhi oleh berbagai
macam hal, baik itu praktikum sendiri maupun alat yang dipakai, secara
garis besar dapat dikatakan berdasarkan beberapa praktek :
Ketelitian pengamatan praktikum.
Ketelitian alat yang dipakai.
Keadaan dan situasi praktikum.

4.2. Saran-saran

Untuk mendapatkan data yang akurat, dari praktikum tersebut yang akurat,
dari praktikum tersebut yang sesusai dengan yang diinginkan, maka ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
Penguasaan teori dasar
Prosedur kerja
Penguasaan alat yang tepat


61

DAFTAR PUSTAKA

1. Search Zemansky, Fisika Untuk Universitas, Yayasan Buku Dana Indonesia,
Jakarta, New York, Jakarta, 1962.
2. Kasdoen Samsuatmojo Search Zemansky, Fisika Untuk Universitas, Yayasan
Buku Dana Indonesia, Fisika II Listrik, Malang, 1991.
3. Penuntun Praktikum Fisika Dasar, Malang.