Anda di halaman 1dari 105

PASANGAN (JADI) JADIAN

by:Lusi Wulan













Part*1

Malam,memutar otak.
Priyayi memekik. Bibirnya membuka, matanya berbinar. "Ya, ya, ya.... Sewakan kamar! Ide
bagus," gumam Priyayi. Matanya tetap mengikuti jalannya film South Kensington yang DVD-nya
ia sewa tadi dalam perjalanan pulang ke rumah, tapi konsentrasinya terpecah sudah.
Apa pasal cewek manis ini sampai memekik "Sewakan kamar"?
Dimulai dari keinginan Priyayi yang telah terpendam sekian lama. Lama-lama status keinginan
tersebut memuncak menjadi impian besar. Dan menurutnya sekarang inilah saatnya impian itu
harus mulai diungkapkan kepada pihak-pihak yang diperkirakan mampu dan akan menjadi
sponsor untuk mewujudkan impiannya tersebut dalam jangka waktu relatif cepat.
Mau tahu apa impian Priyayi itu?

Benua Eropa.
Memang sih orangtua Priyayi termasuk dalam golongan orang kaya yang mampu pergi ke
belahan bumi mana saja kapan saja.
Jadi ke Eropa bukanlah hal yang sulit diwujudkan. Sekarang masalahnya yang diimpikan Priyayi
lebih dari sekedar berangkat, check-in hotel, keliling kota, jalan-jalan ke tempat wisata, beli
cendera mata kemudian pulang.
Yang diinginkan gadis itu adalah keliling di negara-negara besar Eropa dalam rentang waktu
yang tidak terbatas. Kalau di-rating mulai dari 1 sampai 5, dengan 1 adalah berminat dan 5
adalah bosan, maka rating yang diinginkan Priyayi adalah 5. Oke, 4 tak apa-apalah(4 adalah
tidak ada lagi tempat menarik bagiku).
Dia mengincar kota-kota besarnya, menikmati hotel, kafe, restoran, tempat clubbing, dan
perawatan kecantikan. Semua dengan fasilitas kelas satu. Terlebih, Priyayi kepingin banget
belanja di butik-butik desainer kelas dunia, langsung di kota asal mereka. Ia mengincar Milan,
London, Paris sesuai dengan yang dibacanya di majalah-majalah atau yang ia tonton di jaringan
TV kabel.
"Haaa?" Mamanya melongo mendengar penuturan anak perempuannya." Kamu gila atau
apa,Nak?"
"Ih...., Mama,biasa aja deh!"
"Mana bisa dianggap biasa?! Kalau satu-dua minggu dan cuma jalan-jalan sih nggak apa-apa,
mama dan papamu bayarin semua, tapi ini.....?! Buang-buang duit namanya! Mendingan
dialokasikan untuk sesuatu yang lebih penting atau untuk kegiatan sosial," oceh Mama.
"Ma, nanti aku tambahin pake tabunganku. Nggak sekarang kok, masih beberapa tahun lagi."
"Kenapa nggak Mama dan Papa saja yang nambahin?" celetuk Papa angkat bicara.
Sebenarnya jawabannya sudah bisa ditebak. Papa hanya ingin menyindirnya. Mama
mengangguk-angguk tanda mendukung.
"Potong warisan deh..."
Kontan mama dan papanya tergelak,
"Yakin amat ada warisan buatmu," seloroh Mama.
"Yakin donk, kalian memang kadang suka bikin sebal, tapi kalian masih tetap orangtua yang baik
dan peduli terhadap anak-anaknya," sahut Priyayi, ada unsur merayu didalamnya.
"Berarti setengah pembayaran rumahmu dan membayar penuh mobilmu tanpa memotong
warisan," timpal mamanya penuh kemenangan.
Papa merangkul bahu anaknya dan bertukas," Karena kami sebagai orangtua terlalu baik, kami
akan membayari tiket pesawat pulang-perginya."
"Ditambahi biaya hotel dan jajan seminggu juga nggak apa-apa, Pa?" usul Mama seraya
tersenyum bak malaikat penuh ampunan. Papanya ikut-ikutan. Priyayi tambah manyun. Yaah.....
Memang nggak bisa berharap banyak dari orangtuanya.
Papa lantas menyeletuk,"GIRL, kenapa nggak coba minta kakekmu?"
Priyayi memutar bola matanya, bibirnya menguncup meniup udara dari rongga paru-paru. Well.
Semua orang didunia tahu kakek yang tinggal bersama orangtua Priyayi adalah sumber harta
dan kasih sayang bagi Priyayi. Hubungan mereka sangat dekat, sang kakek memanjakan
cucunya, sang cucu memuja kakeknya. Dan sejauh ini, imbas materi yang diperoleh Priyayi
adalah rumah besar di pusat kota beserta isinya yang dibayar berdua dengan orangtua Priyayi
dan dua kartu kredit dengan limit yang tinggi. Tentu saja ada persyaratan yang harus dipenuhi
Priyayi. Tak ada yang persen gratis di dunia ini!

Lantaran si kakek sudah memberi banyak, Priyayi merasa tidaklah etis dan tidaklah tahu diri
kalau minta yang lebih besar lagi. Terlebih, kakeknya pasti nggak akan mengizinkan dia
bepergian sendirian sejauh itu dengan waktu selama itu. Percaya deh!
Jadi, beberapa hari ini dia memutar otak bagaimana memperoleh uang eksta dengan cepat,
selain dari gaji tentunya. Lalu putaran otak berhenti pada film South Kensington tadi. Rupert
Everett yang mewarisi rumah besar beserta perabotan antik bernilai tinggi mengalami kesulitan
finansial sehingga menyewakan kamar-kamar di rumahnya kepada orang lain dan menjual satu
per satu koleksi perabotan antiknya.
Berhubung Priyayi nggak punya perabotan bernilai tinggi, tercetus ide di kepalanya menyewakan
satu kamar kosong di rumahnya.
Priyayi mengusap-usap dagunya seraya berpikir, hemm..... Lebih aman kalau diiklankan ke
orang-orang yang kekenal terlebih dahulu. Ia lantas bangkit mengambil kertas, bolpoin,
kalkulator, dan mulai mengalkulasi.
















Part*2



"Jadi barang-barangmu sekarang di mana?"
"Di motor."
"Haaah....?! Dan motormu sekarang di parkiran luar?"
Jagad menjawab dengan anggukan. Priyayi memutar bola matanya. Gemas.
"Nggak mikir apa, ada yang mengambil buntelanmu itu? Kok nggak dititipin di loker barang sih!
Sambil mengomel, Priyayi meraih ponsel dan menghubungi pos scurity agar ada yang
mengawasi barang-barang di atas motor berplat F 58xx xx (tidak dicantumkan untuk umum, demi
keamanan!).
"Berat. Sori ya," sahut Jagad enteng.
"Kenapa mendadak banget sih? Kamu nggak kasih kesempatan buatku berpikir, tahu!"

Jagad mengira hidangan gado-gado dan es kelapa muda di depan Priyayi mampu meredam
omelannya, ternyata bak mercon yang disulut api mulai dari ekor sampai kepala terus terbakar
nggak berhenti-henti, bret bret bret.... dhuarr! Dhuarr!
Refensi dari Jagad, kalau mau beli mercon, beli merek Priyayi, dijamin mengglegar, mant......
"Atau kamu sengaja ya bikin aku nggak sempat berpikir selain mengiyakan permintaanmu karena
kamu tahu aku nggak mungkin tega menelantarkan seorang teman tidur di jalan?"
Dengar.... mengglegar, kan?
"Jagad!"
"Oh, anu, nggaklah. Aku udah memutar otak sebisa mungkin nggak ngrepotin kamu. Tapi apa
daya duit nggak bisa balik karena kepake buat renovasi, udah bayar full enam bulan."

Ceritanya, rumah milik teman Jagad tempat ia menyewa kamar mulai hari ini direnovasi dan ia
harus mengungsi untuk sementara.
"Kebetulan sekali kamu nyewain kamarmu, karena kalau teman sendiri kan bayarnya ngga
seketat nyewa di orang asing, bisa nunggak gitu....."
Priyayi langsung nyolot." Mau enaknya aja!"
".....Dan bisa diskon.....," imbuh Jagad nggak tahu diri nggak sadar asal-muasal, hehe. Priyayi
tambah sewot. Raut mukanya jelas-jelas menyiratkan penolakan.
"Yi, kalau aku ada budget lebih, suer aku ngekos beberapa bulan. Pulang pergi ke rumah ortu
biayanya sama dengan ngekos, berat...."
"Kenapa nggak ikut temanmu pemilik rumah itu?"
"Dia numpang di rumah saudaranya. Nggak mungkin, kan?"
"Dia harus bertanggung jawab atas nasibmu donk."

Jagad menepikan rambut yang jatuh di dahinya. "Penginnya dia juga begitu, tapi kemampuannya
terbatas, Yi. Aku udah bersyukur banget selama ini dia nggak pernah ambil keuntungan dariku."
Priyayi menghela napas berat." Aku pinjemin kamu duit buat kos."
"Aku nggak punya simpanan sama sekali, Yi. Maklum baru diterima kerja dan cicilan motor."
dah ah ngantuk.......



Part*3



Jagad belum sebulan mengajar di international junior high school untuk mata pelajaran
matematika. Math teacher, begitu murid-muridnya memanggil.
"Duh, kamu mengenaskan banget sih," celetuk Priyayi sinis.
Jagad tersenyum kecut." Memang, Ke mana aja kamu selama ini?"
Tak urung Priyayi nyengir.
Jagad memandang Priyayi sungguh-sungguh." Yi, kita udah berteman baik. Aku pasti bayar
nanti....., aku nggak akan lari ke mana-mana kok."



Priyayi menatap tajam temannya itu. Mimiknya mulai berubah. Ahli penyirat wajah
menerjemahkan Priyayi mulai luluh dan mempertimbangkan keadaan darurat Jagad.
"Kalau kamu khawatir soal Jimmy," tambah Jagad menyakinkan hati Priyayi." Boleh nunggak,
nggak ada potongan harga."
"Ayolah, Yi, kita kan berteman baik...."
"Kamu udah bilang tadi," seloroh Priyayi ketus.
"Sadar nggak Yi, Tuhan telah memberimu kesempatan untuk berbuat baik guna menambah
amalmu di dunia yang fana ini....?"
Mendengar itu, dengusan Priyayi bertambah keras. Akhirnya Jagad mengubah strateginya. Ia
berdeham dan menyetel mimik muka menerawang dengan mata dibuat sayu. Wajahnya jadi jauh
dari cakep, tapi yang penting bisa menakhlukkan hati Priyayi.
"Masih inget nggak saat kamu bertengkar hebat dengan kakekmu, kamu dalam keadaan kalut,
kamu berlari tapi nggak ada tempat untuk berlari, siapa yang akhirnya mau menyisihkan tempat
untukmu tidur di malam hujan lebat itu....?"



Priyayi angkat tangan, mengalah. Atas nama kemanusiaan dan kisah baik diantara mereka.
"Fine, fine!" Ia berdiri dan merapikan pakaiannya. "Hari ini Mbak yang bersih-bersih rumah dan
cuci baju datang, aku akan minta tolong dia buat bersihin kamar belakang. Ada beberapa barang,
nanti aku atur."
Priyayi segera meninggalkan kafeteria di Area Olahraga dan bermain, kembali ke kantor yang
terletak di area samping. Jagad memekik girang berhasil menaklukkan hati Priyayi. Ia berdiri
menyusul Priyayi dan merangkulkan lengan ke bahu temannya.
Thanks, boddy!"
Priyayi melepaskan rangkulan Jagad, risi. "Apaan sih? Dilihat banyak orang, tahu!"
next.....





Part*4



"Dia menerima kamu?"
Jagad mengangguk. Kontan dua temannya bereaksi antara takjub dan sangsi dengan keputusan
Priyayi meskipun hanya untuk sementara. Oya, mereka semua saling mengenal.
"Kamu yakin kuat?" tanya Tio setengah bergurau setengah serius.
Jagad menyeringai. "Kuat dong! Aku kan sudah menekan Yayi supaya kasih bunga setengahnya.
Dia nggak bisa rugi banyak kok, kalau renovasinya cepat, mungkin bisa kelar tiga-empat
bulanan, dan dia dapat pahala karena menolong teman kesusahan,
hehe....."
Icang, teman yang satu lagi nimbrung sambil mencibir." Yayi sih bakal tekor pahalanya nolongin
golongan hitam kayak dirimu, hahaha...."
Tio ikut ngakak kemudian berujar," Yang kumaksud bukan kuat itu, tapi kuat menahan iman
serumah dengan makhluk berlawanan jenis yang oke macam Yayi."
Jagad nyengir." Buddy, kayak nggak kenal Yayi aja. Dia kan..." Jagad diam sesaat,".... teman
kita."
Icang menyeringai." Kalau teman lantas nggak tergoda, begitu? Kamu tuh sok naif atau nggak
normal?"
Tio menimpali," Semua pria Indonesia akan bilang Yayi adalah cewek cantik dan menyenangkan,
dan semua pacar Indonesia akan ketir-ketir kalau pasangannya serumah dengan cewek seperti
Yayi."



"Hei, aku cowok yang setia pacar," tangkis Jagad. Icang merangkul bahu Jagad." Man, kamu
harus membuka segala kemungkinan. Dan satu saat kamu menghadapi kemungkinan ini: kalian
lagi santai di rumah, hubungan kalian makin akrab, bahu-membahu,saling curhat,saling canda.
Intinya kalian hampir nggak berjarak. Dia mengenakan celana pendek,tank top,duduk malas di
sofa,menyelonjorkan kaki,kedua tangannya diangkat ditekuk di belakang kepala, kemudian dia
merasa ngantuk,matanya dipejamkan,pakaiannya tersingkap,bahasa tubuhnya
rileks,lemas,dan....tidak ada siapa-siapa selain kalian berdua. Pacarmu lagi menjengkelkan,
pacarnya juga entah dimana...."
Jagad mengedikkan bahu." Bisa kuatasi."
Icang dan Tio bersiul kemudian menyeringai lebar. Seringai khas lelaki.



"Kita membicarakan Yayi, man....Yayi!" seloroh Tio.
Alkisah mereka membentuk satu lingkaran besar pertemanan. Dan kalau sesama teman pria
berkumpul dengan topik bahasan teman-teman cewek, mayoritas lebih suka menyorot Priyayi.
Apa yang baru darinya, apa yang dilakukan, dan apa yang dia bicarakan selagi hang out dengan
salah satu atau lebih dari mereka.



Bukannya pacar-pacar mereka atau teman-teman cewek lain nggak ada yang secantik Priyayi,
namun secara otomatis tanpa dikomando, atas kemauan sendiri merek mengikutsertaan hal-hal
seputar Priyayi dalam Minutes Meeting mereka. Bisa jadi disebabkan pembawaan cewek itu yang
easy going dan gampang nyambung dengan obrolan mereka dan juga gampang direcoki alias
dimintai tolong mulai dari hal-hal nggak penting sampai hal serius. Plus, well, penampilannya
tentu saja.

"Kalian terlalu mendramatisir," gumam Jagad mengomentari ocehan teman-temannya.
Sementara itu, di rumah Priyayi, tepatnya di pantry, Yasmin tak kalah kaget dengan kata-kata
yang barusan keluar dari mulut Priyayi.
What? Jagad? Dia kan cowok!"
Priyayi melengos, menjawab sinis." Oh ya? Cowok, ya? Makasih sudah memberitahu...."
Yasmin nyengir kecut." Maksudku, apa nggak lebih baik terima cewek aja, terhindar dari
tanggapan miring dan supaya pacarmu nggak mencak-mencak."



Priyayi mengempaskan tubuhnya di kursi pantry, wajahnya cemberut. Semula dia juga berpikiran
sama dengan yang diutarakan sahabatnya itu. Nggak cuma Jimmy yang bakal mencak-mencak,
keluarganya pasti akan bereaksi sama, bahkan lebih angker. Masalahnya......
"Jagad kemarin tiba-tiba nongol lengkap dengan barang-barangnya, katanya cuma beberapa
bulan, dia nggak punya duit dan hanya ke aku dia bisa memohon keringanan."
"Katanya mau cari duit banyak...." Yasmin mempertanyakan tujuan awal Priyayi menyewakan
kamar.
"Iya sih, tapi kamu tahu kan aku orangnya nggak tegaan...."
"Terus, Jimmy sudah tahu?"















part*5
By:Lusi Wulan
Post:Min_Sofhie



Depan komputer, sehabis petang......
Barusan Jimmy menelepon Priyayi, menanyakan jam berapa mau dijemput di kantor. Uh....
Untunglah cowok itu nggak ngambek lagi. Baru hari keempat__itu pun karena Jimmy hendak
mampir ke rumahnya__ Priyayi ngomong ke pacarnya itu kalau Jagad menyewa kamar di
rumahnya untuk, Priyayi ngakunya, dua bulan. Jimmy sudah tahu siapa Jagad karena pernah
diperkenalkan padanya.
Jimmy sebal bukan main. Bayangin, pacarnya serumah dengan cowok lain!
Maka, dimulailah pengajuan alasan berlogika dari Priyayi.
"Dia baru sebulan kerja, belum ada simpanan untuk pengeluaran tak terduga." poin satu.
"Nggak perlu cemburu, dia udah punya pacar. Pacarnya lebih lama dari kita." poin dua.
"Dia penganut monogami, aku juga."Poin tiga.
"Kamu pacarku, aku mencintai kamu." Poin keempat. Lumayan menyentuh.
"Ini kan rumahku, jadi aku berhak ngapain aja." Yang ini cuma di dalam hati Priyayi doang.
Jujur, reaksi Jimmy bukan faktor pemberat bagi Priyayi mengenai hidup berbagi atap dengan
seseorang atau siapa saja, bukan hanya Jagad. Semenjak tahun kedua kuliah, Priyayi
memutuskan masih satu kota. Kakeknya harus meneruskan memegang usaha Area Olahraga
(dulu belum ditambahi embel-embel bermain) yang didirikan sang kakek sebagai bayarannya.
With all my pleasure, kata Priyayi. Dia terlalu menghormati dan menyayangi kakeknya. Maklum,
waktu itu tempat tersebut nggak mampu kasih keuntungan besar, makanya anak-anaknya, yakni
Papa Priyayi dan Om Gito, nggak ada yang mau meneruskan usaha itu. Cucu yang sudah cukup
umur adalah kakak beradik Restu Priyayi. Restu memilih menjadi pialang saham. Jadilah Priyayi
yang didaulat untuk bekerja di sana.
Nah, sejak saat itu, Priyayi menikmati yang namanya tinggal sendiri, yang dapat diartikan
kebebasan privasi seluas-luasnya. Memang sih para teman, handai taulan, pacar sering
bertandang, tapi pada akhirnya mereka pulang dan Priyayi kembali memperoleh waktu
pribadinya.
Sedangkan sekarang..... Hmmm.... Geraknya jadi nggak bisa semau-maunya. Nggak ada lagi
acara berkeliaran pakai pakaian dalam, nyanyi-nyanyi histeris tanpa peduli kunci nada, vibrasi,
dan picth control, menari jingkrak-jingkrak kayak monyet mulai disudut depan sampai dapur,
kentut dengan nada dasar C, G, semua huruf deh, ahh.... Nggak bisa lagi sekarang. Oya, juga
nggak lagi leluasa melakukan adegan bermanjaan dengan Jimmy, perpelukan di sofa depan TV.
Ruang gerak sih masih sama, tapi macam gerak itu yang sekarang lebih terbatas. Bermanjaan di
rumah Jimmy juga nggak mungkin mengingat cowok itu serumah dengan orangtua dan
saudaranya.



Oke, bisa aja Priyayi tetap melakukan "Ritual-ritual" tersebut, toh dia yang punya rumah,
tapi....JAIM DONG AH!
Sebagai penghiburan diri, berkali-kali ia berkomat-kamit dalam hati kalau semua itu hanya
berlangsung beberapa bulan, nggak sampai setengah tahun kok. Selanjutnya, kalau penyewanya
cewek, dia bisa bertingkah lebih longgar, walaupun untuk adegan bermanjaan dengan Jimmy
tetap harus disensor.
Jadilah Priyayi sekarang memilih pulang malam. Kalau nggak ngendon di kantor, ya pergi jalan
dulu dengan Jimmy atau dengan teman lain. Kecuali kalau dirinya lagi capek berat.
Priyayi merenung, aku yang punya rumah, kok malah aku yang menghindar ya.



























Part*6

--
Di rumah, peace man....

Sesampainya di rumah, Priyayi nggak langsung masuk kamar seperti malam-malam biasanya.
Jarum jam menunjuk celah antara angka sepuluh dan sebelas tapi dia belum merasa capek.
Iseng dia melongok kamar Jagad. Tumben, jam segini pintu kamar Jagad masih terbuka, gumam
Priyayi dalam hati. Iseng dia menghampiri dan melongokkan kepala di ambang pintu kamar. Ada
dua tas plastik besar entah berisi apa teronggok di lantai.
"Hei, tumben masih melek."
Jagad yang sedang jongkok membelakangi pintu menoleh." Iya, lagi cari celana renang nih."
"Besok mau renang?"
"He-eh, sama anak-anak." Jagad meneruskan pencarian celana renangnya.
Priyayi menyimpulkan dua tas plastik itu pastilah untuk anak-anak tersebut. Mereka adalah anak-
anak kurang mampu yang diajar Jagad tanpa dipungut bayaran. Jagad dan beberapa teman
relawan, baik itu sesama pengajar atau bukan, mengajar anak-anak dari permukiman kumuh
yang tidak mengenyam pendidikan formal di sekolah setiap sore sampai malam. Biasanya setiap
kelompok anak dipegang dua orang, masing-masing mengajar tiga kali dalam seminggunya.
Karena sudah dilakukan lumayan lama, jaringan mereka mulai tersebar di beberapa titik daerah,
seiring dengan bertambahnya relawan dan donator.
"Perlu dibantu nyari nggak?"Priyayi beranjak masuk, duduk berselonjor di lantai.
"Halah, nggak usah. Terima kasih atas basa-basinya," sahut Jagad.
Priyayi nyengir." Daripada kamu begadang cuma karena celana renang? Lagian aku tahu celana
renangmu kok, garis-garis vertikal cokelat-kuning kayak lapis legit."



Dulu Jagad membeli " lapis legit" itu tatkala jalan ramai-ramai, termasuk dengan Priyayi. Dan
Priyayi-lah yang memilih si "lapis legit" dan diiyakan oleh teman-temannya. Waktu itu mereka
kompak ngerjain Jagad, memilih corak yang norak dengan harga yang mahal! Tampang mereka
sok serius dan penuh perhatian, benar-benar teman titisan dari surga!
"Iya, kalian menyesatkan waktu itu," timpal Jagad, masih bersungut-sungut kalau ingat kejadian
itu. Priyayi terbahak.
"Salah sendiri jadi orang gampang dipengaruhi, hehehe....," sahut Priyayi celingukan, siapa tahu
matanya menangkap "lapis legit" itu.
"Yi, minta alamatmu dong, aku mau minta Mama ngirim kelengkapan surat untuk arsip
personalia," ujar Jagad sambil menyodorkan kertad dan bolpoin kepada Priyayi.
"Ortumu tahu kamu tinggal di rumahku? Dan Mila?" tanya Priyayi menuju pertanyaan inti. Mila
adalah pacar Jagad.



"Eits, jangan sampai deh! Ibarat nyamuk minta disemprot Baygon, cari mati. Aku cuma bilang
pindah sementara ke rumah teman, titik." Jagad kemudian membalikkan badan ke arah Priyayi.
"Jimmy sejauh ini gimana?"
"Nggak usah dipikirin. Dia nyantai aja kok," jawab Priyayi, berbohong.
"Oya, selama aku disini, biar aku aja yang bersih-bersih rumah, jadi kamu nggak perlu bayar
orang."
"Ah, nggak usah, emang apaan...."
"Suer, Yi. Aku rela kok, hitung-hitung membayar yang setengahnya dengan jasa," timpal Jagad
sungguh-sungguh.

---

"Iya, aku tahu niat baikmu, tapi kasihan si Mbak itu, nanti penghasilannya berkurang, cuma cuci
baju dan masak doang," sahut Priyayi coba berkelit. Gila aja, masa teman sendiri disuruh bersih-
bersih rumah!
Masih dengan sungguh-sungguh, Jagad berkata, "Yi, jangan pernah terlintas kalau aku hanya
manfaatin kamu ya."
"Santai aja. Aku tahu resikonya berteman ama orang susah, salah satunya ya begini ini, hehe....,"
timpal Priyayi nyengir. Jagad mencibirkan bibir.
Mereka melanjutkan obrolan sampai hampir jam dua pagi. Saat itu sempat terselip dalam benak
Priyayi, mungkin punya teman serumah nggak seburuk yang dikira.
--

Tapi selipan pikiran itu segera berubah lagi begitu Priyayi bangun enam jam kemudian,
menikmati enaknya menelentangkan badan disofa hanya dengan kaus tipis dan celana pendek
tipis berenda. Dan terutama, dia bisa mengundang Jimmy datang. Dalam kondisi badan lesu saat
akhir pekan begini, malas rasanya kalau harus keluar sekadar ingin ketemu pacar. Tapi bajunya
nggak seperti ini dong....
















Part*7

--
Meringkuk, capek tapi cinta.

Jagad jalan berjingkat melewati ruang tengah, takut membangunkan Priyayi yang tidur meringkuk
di sofa. Kali ini sendirian. Televisi masih menyala. Bajunya sudah berganti kaus butut.
Dalam perjalanan pulang tadi, Jagad agak ragu antara pulang atau tidak. Dia nggak enak
seandainya pulang dan mendapati Priyayi tengah berasyik-masyuk dengan cowoknya. Dia
bakalan menjadi pengganggu privasi orang lain. Tapi kalau nggak pulang, dirinya malas
mengungsi ke tempat lain.
"Ah, pulang ajalah. Nanti mataku kututup rapat," gumam Jagad menetapkan keputusan.
Ternyata Jimmy memang sudah nggak ada. Doanya untuk nggak perlu jalan merem setibanya di
rumah terkabul.
Pelan-pelan Jagad mematikan layar televisi, lalu membetulkan letak tangan kanan Priyayi yang
mengulur terkulai ke lantai. Dirasakan tangan Priyayi agak panas. Perlahan Jagad meraba
kening Priyayi.
Wah, anak ini demam. Sebaiknya gimana, ya? Diselimutin dan dibiarkan tidur di sofa sampai
pagi? Kasihan juga. Dibangunin? Kasihan tidurnya berganggu. Dibopong ke kamar? Halah, film
banget!

--

Akhirnya Jagad membangunkan Priyayi agar pindah ke kamar, tapi sebelumnya Jagad
menyodorkan obat penurun demam dan segelas air putih.
"Aku demam, ya?" gumam Priyayi ketika dibangunkan.
Wah parah..., nggak bisa merasakan badannya sendiri, pikir Jagad.
"Jimmy udah pulang, belum?" tanya Priyayi bergumam saat merebahkan diri di tempat tidur
dituntun Jagad.
Haa? Dia nggak tahu cowoknya pulang?
"Udah," jawab Jagad.
"Oh ya, tadi pamit ding." Priyayi bergumam dengan mata terpejam." Kacau, marah-marah melulu.
Apa salahnya membantu teman. Dia juga bermanis-manis ke teman ceweknya. Capek di hati....,
tapi aku cinta...." Priyayi meracau sebelum akhirnya benar-benar terlelap.
Jagad tertegun sesaat setelah menyelimuti Priyayi.

Menjelang siang, menghibur.

Keesokan pagi, menjelang siang tepatnya, Priyayi bangun dari tidur tanpa menyisakan
kejengkelannya semalam. Karena nyawanya belum sepenuhnya terkumpul, jadi dia belum sadar
seratus persen.
"Hemm..." Priyayi berjalan tersaruk keluar dari kamar. Hidungnya mengendus-endus.
"Baunya sedap..." Maksud Priyayi aroma masakan di pantry. Ia duduk di depan meja pantry,
dagunya ditopang kedua tangan yang tegak dia atas siku. Sesekali matanya terpejam. Rambut
pendeknya mencuat berantakan. Ia tetap setia dengan potongan rambut ala Natalie Imbruglia di
video klip Torn.
"Masih demam?" tanya Jagad memerhatikan wajah Priyayi yang lesu.
"Nggak, tapi kepala pening, tenggorokan sakit, kayaknya mau flu."
"Nah, ini aku masak sup ayam, bagus untuk flu." Jagad menyodorkan sepanci sup ayam panas
lengkap dengan mangkok dan sendok untuk Priyayi.
"You're angel of the morning, buddy," ujar Priyayi. " Emm.... Enak, Gad," komentarnya pada
suapan pertama.
Sejenak mereka tidak mengeluarkan suara, asyik dengan isi mangkok masing-masing. Apalagi
ada telur mata sapi segala. Ada nasi, tapi Priyayi nggak terbiasa makan terlalu berat di pagi hari,
jadi dia melewatkan bagian nasi.
"Yi, aku minta maaf...., gara-gara aku, Jimmy marah...."
Priyayi mengangkat muka. " Dari mana kamu tahu Jimmy marah?"
"Semalam kamu bergumam-gumam begitu."
"Ow."Priyayi berusaha mengingat. " itu kan lagi ngaco, nggak usah digubris."
Jagad beranggapan sebaliknya, justru kalau seseorang berada di bawah kesadaran, dia akan
mengeluarkan apa yang tersimpan di dalam pikirannya tanpa dibuat-buat.
"Yi, kalau dia sulit menerima...."
Priyayi memotong," kan aku pernah bilang, nggak usah dipikirin. Kemarin Jimmy lagi banyak
pikiran, jadinya sensitif gitu." Lagi-lagi Priyayi sedikit memanipulasi fakta.
"Aku tetap aja merasa bersalah keberadaanku di sini menambah bad mood Jimmy, sekecil apa
pun."
"Gad, kalau nggak di sini, kamu mau di mana? Nambah pikiran ortumu? Saudaramu? Kamu
bilang mereka udah kerepotan tanpa kamu ngerecokin mereka. Selama aku bisa bantu, ya aku
akan bantu. Kalau memang aku nggak sanggup bantu, ya aku akan bilang apa adanya. Lagi pula
kamu sudah kasih bantuan yang nggak sedikit untuk aku." Priyayi menyenggolkan sikunya ke
lengan Jagad, mencoba membesarkan hati temannya itu.
















part*8



Dibuat dingin, pagi-pagi

Memang nggak gampang "menyelundupkan" cowok di rumah, apalagi dalam hitungan bulan.
Antipasi beberapa titik yang memiliki potensi bikin runyam karena salah paham telah dilakukan.
Misalnya nih, mewanti-wanti keluarga Priyayi dan teman-teman untuk tidak datang tanpa
pemberitahuan terlebih dahulu. Priyayi berdalih kalau sekarang ia jarang di rumah, banyak
kerjaan, banyak urusan,dsb. Dan dia jadi lebih sering setor muka ke rumah orangtuanya, jadi
mereka nggak perlu datang ke rumahnya. Mereka sih heran karena Priyayi jadi mendadak
perhatian gini, namun Priyayi berlagak merasa nggak ada yang berbeda. Sok nggak sensitif!
Lantaran mereka semua hidup di alam, maka berlakulah hukum alam, salah satunya adalah
manusia boleh berencana, tetap Tuhan-lah yang menentukan. Jadi, selalu ada satu-dua hal
meleset di luar rencana. Pasangan yang pakai kontrasepsi aja bisa kebobolan, apabila yang
bukan pasangan. Lho, kok gini analoginya?! Maksudnya, meski kita melakukan tindakan prevetif,
kadang tetap kecolongan juga.
"Daah...., nek." Priyayi melambaikan tangan lunglai, selunglai badannya, melepas kepergian
Yasmin di halaman rumah. Pagi ini mereka janjian untuk jogging bareng, tapi berhubungan
gerimis, mereka sepakat membatalkannya. Yasmin mengajaknya ke gym sebagai alternatif
olahraga pagi itu.
"Ke Jim? Ngapain pagi-pagi ke tempat Jimmy?!" Priyayi telmi, otaknya masih beku kena hawa
pagi.
"Dudul! GYM, ji, way, em!" Yasmin mengeja huruf g, y, dan m dengan perhafalan bahasa Inggris.
Priyayi menolak ikut. Buain udara dingin diiringi rintik air hujan menghanyutkan Priyayi untuk
ogah bergerak ke mana-mana. Hanya ada satu keinginan di benaknya:tidur di balik selimut,
aah....
Balik ke dalam rumah, Priyayi baru menyadari bahwa Jagad tidur di sofa. " Ya ampun, posenya
jelek amat sih," gumam Priyayi iseng sembari menyeret langkah ke kamar.
Priyayi sempat terlelap sampai suara berisik di halaman sedikit membangunkan. Sedikit, masih
kalah sama buaian dua alam yang sedang indah-indahnya, alam semesta dan alam mimpi.
Dan barulah suara ketiga yang mampu merenggut paksa Priyayi untuk tersadar dan terbangun.
Bukan hanya melek, tapi mendelik. Karena pertama, suara itu berupa lengkingan. Kedua,
lengkingan itu keluar dari pita suara mamanya. Ketiga, mamanya melengking di... ruang tengah!
YAYIIIIIKK!!
jagad gerapan terbangun, liar biasa kaget. Remote control jatuh ke lantai. Selimutnya melorot. Ia
sampai tersedak ludahnya sendiri. Matanya melotot. Priyayi menghambur keluar.
"MAMA! Kok bisa masuk?!"
Hanya mamanya dan beberapa tetua keluarga Priyayi yang menyebut nama panggilannya
dengan penekanan "k" di belakang, sepertinya kalau si "k" itu tidak ikut terucap, maka akan
menjadi semacam ganjalan di tenggorokan mereka yang berpotensi kian buruk dengan menjelma
jadi semacam gondong.
"Pintunya nggak dikunci, udah Mama ketok-ketok sampai jari bengkak!" jawab Mama kemudian
nggak mengunci kembali pintu tadi.
"Ini siapa, Yik?!"
"Biasa aja dong Ma suaranya.....," celetuk Priyayi lirih.
"Gimana mau biasa, pagi-pagi ada laki-laki tidur di rumah anak perempuanku!"
"Anu, Tante...." Jagad bingung mau berkata apa, Blank. Blocking.

--

Priyayi segera menyahut. " Ini Jagad. Emm.... Saudaranya Yasmin..." Mata Priyayi dan Jagad
bertemu. Oke, terserah, kupasrahkan hidupku padamu, Yi. Kata Jagad dalam hati.
"Kok ada di sini?"Selidik Mama, matanya masih belum bisa mengecil.
"Mm....keluarganya Yasmin lagi ada arisan keluarga besar empat generasi. Terus.... Itu....
Rumahnya nggak muat untuk mereka bermalam."
Jagad memandang Priyayi tak berkedip. Takjub temannya itu bisa merimprovisasi cerita bak
pendongeng. Arisan empat generasi? Ide brilian!
"Emang nggak diinapin di hotel?" Mama yang tahu kondisi Yasmin termasuk dalam kategori
kaya.
Sambil mencoba mencari jawaban yang masuk akal sekaligus menenangkan diri, Priyayi
beranjak ke pantry membuat minuman. " sebagian. Jagad datang bermalaman, terus numpang di
sini bareng Yasmin, cuma tadi Yasmin ke gym. Kopi atau teh, Ma?"
"Kopi, pake krimer."
Sekali lagi Mama Priyayi melirik Jagad. Segera Jagad melemparkan senyum, kaku, kemudian
segera membereskan sofa supaya si Mama bisa duduk. Tapi beliau memilih duduk di bangku
pantry. Jagad permisi ke belakang.
"Ada apa pagi-pagi kemari, Ma?"
"Mama ada jadwal syuting di jalan dekat sini, tapi diundur, nunggu hujan berhenti. Jadi daripada
bengong di sana, Mama mampir kemari."
"Kweni mana?" Kweni adalah asisten mamanya.
"Stand by di sana. Adegan Mama sih dikit, tapi soal molot dan ditunda begini yang bisa bikin
seharian."

---

Setahun terkhir ini mama Priyayi menjadi pemain sinetron. Sebelumnya, ia ibu rumah tangga dan
desainer tas tangan. Sebelumnya lagi, maksudnya semasa masih lajang, beliau bekerja menjadi
desainer tas tangan untuk satu merek terkenal di Indonesia kala itu. Tapi semenjak menikah dan
memiliki anak, ia berhenti bekerja lalu hanya mendesain dan membuat untuk perorangan. Karena
bersifta eksklusif, tentu harga yang dipatok juga eksklusif.

Lantad ibunya nyasar ke dunia sinetron karena diajak oleh pelanggannya, seoramg produser
sinetron yang lantas menjadi teman baik. Peran pertamanya sih cuma figuran.
"Mereka butuh pemain ibu-ibu yang karakter wajahnya elegan, glamor, tapi nggak arogan," itu
kata mama Priyayi. Percaya deh, Ma!
Nah, semenjak merambah dunia baru, meskipun nggak pernah menjadi pemeran
utama___nggak ada tempat luas untuk tokoh tua di sinetron, kan?___ beliau tidak lagi
mendesain tas.
Mama kemudian ke kamar kecil. Buru-buru Priyayi menuju kamar Jagad. Di pojok belakang, ia
melihat jemuran pakaian Jagad. Wah, bahaya! Disambarnya semua jemuran dan di bawa ke
kamar Jagad.
"Nih, jemurannya disembunyiin dulu. Basah lagi, kena hujan. Eh, sandal dan sepatumu, umpetin
dulu," intruksi Priyayi kepada Jagad dengan suara berbisik.
"Gad, kamu taruh apa aja di kamar mandi?"
Jagad menggeleng. Priyayi mengembuskan napas lega.
"Sampai jam berapa mamamu di sini, Yi?" suara Jagad ikut berbisik.
"Sampai dia dipanggil ke lokasi, dan itu nggak tahu jam berapa. Yang jelas aku telepon Yasmin
dulu. Kamu mendingan ngacir hari ini."
Jagad mengangguk. "Yi, sorry banget jadi kucing-kucingan gini."

---

Priyayi mengibaskan tangan. " Masih mending, daripada anjing-anjingan."
Jagad nyengir mendengar jawaban iseng Priyayi.
"Yayiiik...." suara Mama keras memanggil. Jantung Priyayi kembali dag-dig-dug. Ia bergegad
keluar kamar. Bersamaan dengan Priyayi menutup pintu kamar dari luar, mamanya nongol.
"Lagi ngapain?"
"Eengg.....angkat jemuran. Yuk, ke depan aja, Ma." Priyayi menarik tangan mamanya menjauhi
kamar Jagad.
"Sinetron apa sih, Ma? Berapa episode? Pemeran utamanya siapa? Priyayi menghujani
mamanya pertanyaan dengan maksud membelokkan perhatian mamanya.
"Biasanya strategi itu selalu berhasil. Mamanya menggebu-gebu berceriya tentang sinetron yang
dibintanginya.
Bukan. Mama Priyayi nggak pernah jadi bintang di sinetron-sinetron. Yang benar cuma itu main
aja!


















Part*9

Sejak kemudian, di kamar

Yasmin cekikikan sementara Priyayi terkapar telentang di atas kasur.
"Untung banget Mama keburu di telepon suruh balik. Kamunya nggak datang-datang, huh!"
Yasmin menyeringai. "Iyalah, ada cowok cakep di gym. Bodinya mengagumkan."
"Kenalan?" tebak Priyayi. Yasmin menganggukdengan mata mengerjap-ngerjap. Priyayi
mencibir.
"Mana Jagad sekarang?" tanya Yasmin, melepas jaket kaus dan ikut rebahan.
"Ada, dia tadi mau cabut, eh Mama ditelepon....., ya udah nggak jadi. Tahu nggak, saking ingin
menghindari perhatian Mama, Jagad jalannya berjingkat-jingkat dan di kamar mandi itu nggak
kedengaran suara air. Cuci muka doang kali."
"Jangan-jangan mo kentut aja ditahan," celetuk Yasmin. Keduanya nyengir.
"Jadi...." Yasmin menyenggol lengan Priyayi. " Udah bisa berbagi ruang nih?"
"Ih, bukan berarti yee!" Priyayi langsung bangun dari rebahannya. "Nggak! Well, memang sih ada
enaknya juga, tapi jauh lebih enak tinggal sendiri. Bebaaass..."
"Meski yang serumah denganmu itu aku?"
"Uuh.... Apalagi kamu! Kamu kan malas mandi, menjijikkan!"
"Sialan." Yasmin melempar bantal ke Priyayi.
"Eh omong-omong soal menjijikkan...." Priyayi memelankan suaranya. "Kemarin di kamar mandi,
itunya Jagad ketinggalan."
"Itunya?" Yasmin ikut bangun." Apanya?"
"Itu....celana dalamnya." Kali ini suara Priyayi berbisik. Yasmin menyeringai.
"Di depannya ada tulisan Buddy. Padahal dia kan kerap ku panggil Buddy...." Priyayi geleng-
geleng kepala. Yasmin ngakak keras.
"Sempat-sempatnya baca tulisannya. Kamu pegang-pegang, ya?" ejek Yasmin.
Priyayi bergidik." Ih, amit-amit. Yang belum dipakai aja ogah megang, apalagi yang udah di
pakai.... Hiih...."
"Hahaha... Kok tahu yang itu udah dipakai?" pancing Yasmin tertawa lebar.
Muka Priyayi memerah. Bukannya menjawab, Priyayi memukul Yasmin dengan guling.
"Ukurannya apa? L atau XL? Huahahaha....." Yasmin makin terpingkal.
Terdengar suara ketukan di pintu kamar." Aku buat nasi goreng!" seru Jagad. "Les't have
breakfast, buddies!"
Priyayi dan Yasmin kompak tergelak keras.

Belakang meja kerja, tengah hari

"YAYI, ayo makan siang sama-sama." Kakek Priyayi. Hari ini beliau datang ke kantor untuk
meeting dengan divisi keuangan.
Priyati yang berkonsentrasi pada setumpuk lembaran, mendongakkan kepala." Aduh, maafkan
aku, kek. Aku udah bikin janji ama teman."
"Ya sudah, kakek langsung pulang saja kalau begitu."
"Oke, kek. Hati-hati ya, salam buat orang-orang rumah," sahut Priyayi. Sang kakek tinggal
bersama orangtua Priyayi. Istrinya alias nenek Priyayi sudah wafat empat tahun silam.
Kakek Priyayi ini adalah ayah dari Papa Priyayi. Belasan tahun beliau abdikan sebagai aparat
pemerintahan khusus bidang olahraga dan kepemudaan. Sekitar tiga tahun menjelang pensiun,
beliau mendirikan Area Olahraga ini. Dulu fasilitas pertama yang dibangun adalah kolam renang
dan lapangan basket___masing-masing dilengkapi peralatan___dan kantin untuk pengunjung.
Priyayi bergabung saat menginjak akhir tahun kedua di bangku kuliah. Mama-papanya semula
nggak setuju, takut kuliahnya terganggu, tapi dia berkeras membuktikan kalau dia sanggup.
Sebenarnya dia hanya ikut teman-temannya untuk mengisi libur panjang tengah tahun dengan
bekerja lepas. Banyak teman ceweknya menjadi sales promotion girl (SPG) atau model. Nah, dia
berpikir daripada ikut-ikut mereka, mending "bantu-bantu" di tempat kakeknya, toh ke depannya
dia juga akan berkarier di sana.

--

Priyayi banyak memberi ide segar. Sekarang sudah ada jogging track dan kantin berubah
menjadi kafeteria dengan konsep yang lebih bagus. Lebih cozy, lebih gaul. Selain itu ditambah
juga alat permainan untuk anak-anak macam perosotan, ayunan, dan balok-balok. Misinya untuk
melatih anak menggerkan otot tubuh mereka sejak dini. Selain itu, ia juga melemparkan ide untuk
menerapkan sistem tiket masuk dihitung per jam dan menawarkan paket hemat untuk keluarga
atau rombongan atau pada hati tertentu.
Nggak terasa jarum jam bergerak di angka 12 dan 6. Alias setengah satu. Priyayi hendak
menelepon Jimmy, ternyata ponselnya sudah berbunyi lebih dulu. Jimmy calling.
"Yi, sori, baru bisa menelepon sekarang. Masih meeting nih, kayaknya bakalan lama, jadi nggak
bisa makan siang bareng. I'm sorry."
Priyayi mendesah, sebal. Kenapa nggak dari tadi telepon. Kalau begini, teman-teman kantor
pada cabut, mana lagi nggak bawa mobil pula! Ujung-ujungnya makan di kafeteria.... Uugh.....
Padahal lagi ogah makan di sana!
"Yi...."
"Hmm.... Ya udah, mau kujawab apa lagi," jawab Priyayi pasrah." nanti pulang bisa jemput aku,
kan?"
"Hm... Sebenarnya.... Aku ada janji dengan klien jam lima, nggak tahu sampai jam berapa....."
Priyayi cemberut berat." udah dua minggu lebih kayak begini, kamu benar-benar nggak ada
waktu." suara Priyayi merajuk.
"Yayi.... Aku kan udah bilang...." suara Jimmy berbisik, takut ada yang mendengar.
"Ya, ya, ya!" priyayi dengan gemas mematikan ponsel. Jidatnya berkerut-kerut,bibirnya maju-
mundur-maju. Kesebalannya berlipat ganda.
Kali ini nada SMS masuk. Dari Jimmy.
Sekali lagi maafkan. Demi order besar. Janji setelah ini, aku akan ganti semua. Xoxo
Pryayi mengabaikan SMS yang baru dibacanya itu. Jimmy memang sudah bercerita sedang
menangani klien yang membeli dua unit penthouse sekaligus. Fasilitas yang ditawarkan dari
pihak manajemen adalah memberi pelayanan menyeluruh, mulai dari konsultasi hingga
menyediakan semua detail interior yang telah dipilih. Dan ini adalah bagian tugas Jimmy sebagai
marketing executive.
Priyayi semula ikut antusias. Kekasih hati dapat order gede, komisi pastilah bakalan gede, dia
juga pasti kecipratan. Tapi kemudian antusiasnya menyurut kala tahu siapa yang menjadi klien
besar itu.
Nada SMS masuk. Masih dari Jimmy.
Selama jadwal penuh, mobil jangan sering dipinjamkan temanmu itu, bikin repot sendiri. Talk 2U
soon xoxo
Priyayi mendengus. Yang dimaksud "temanmu" adalah Jagad. Dia mau membalas SMS Jimmy
bahwa Jagad tetap mengantar jemput kalau di minta, namun di urungkan. Malas berseteru lewat
SMS, nggak seru. Lho, kok nggak seru?! Lebih enak berhadapan langsung, lebih jelas apa
maunya. Jelas-jelas langsung mau dihabisi, hehe.

Dalam mobil pinjaman, interogasi

Ups. Jagad menepuk jidat, hampir aja lupa belum titipan Priyayi. Dalam perjalanan pulang
dengan mobil Priyayi karena motornya lagi dipinjem Danu, sobat kentalnya, Jagad menerima
SMS dari di empunya mobil untuk hampir ke minimarket dalam perjalanan pulang. Siap, Bos,
laksanakan!
Drrrt..... Ponsel Jagad bergetar dalam saku celana. Syamila calling.
"Mas, lagi di mana?"
"Di minimarket. Kamu di mana?"
"Masih di kampus. Dari sana, langsung jemput aku ya Mas. Nanti sekalian makan malam ya, aku
pengin soto sapi nih. Oya, nggak usah bawa helm, aku udah bawa."
Syamila,pacar Jagad, mengira Jagad membawa motor. Jagad menimbang sejenak. Priyayi ,au
pakai mobilnya lagi nggak, ya? Ah, mungkin nanti bisa membujuk Mila untuk langsung pulang.
"Ehm.... Ya, Mil. Tapi agak lama, soalnya putar balik."
"Oke, kutunggu. Makasih ya, Mas."
Ketika Jagad sampai di depan kamus, Syamila sudah berdiri di sana, celingukan tidak menyadari
mobil yang di depan mata disopiri oleh Jagad.
Tin, tin. Jagad mengklakson lalu membuka pintu mobil.
"Hai, Mil, ayo!"
Syamila mengerutkan kening.
"Ini mobilnya temanmu, kan?" tanya Syamila saat mobil mulai jalan. Jagad mengangguk.
"Motorku dipinjam untuk survei ke daerah beberapa hari."
"Siapa namanya?"
"Yang pinjam motor?"
"Bukan, yang punya ini."
"Oh..., ehm..., Yayi. Priyayi."
"Ah, ya. Aku jadi inget wajahnya."
Syamila pernah bertemu dengan Priyayi sekali di pesta ulang tahun teman Jagad dan Priyayi.
Syamila masih inget. Di sana. Jagad, Priyayi, dan dua teman berkasak-kusuk tentang kado
kejutan yang mereka rencanakan. Syamila lumayan merasa terabaikan waktu itu.
Jagad melirik Syamila, mencoba membaca gelagat.
"Hanya dia yang kendaraanya fleksibel, yang lain sama sekali nggak bisa. Rumah yang
kutumpangi sekarang jauh dari sekolah, takut telat kalau naik bus. Maklum, tiap hari dapat jatah
ngajar jam pertama." Jagad bertutur panjang... Mencegah munculnya kecurigaan dari Syamila.
Oya, dia hanya memberitahu kalau dirinya tinggal sementara di rumah teman. Dan pacarnya
nggak repot-repot menari detail siapa teman itu. Thank god. Asumsi Syamila bahwa si teman itu
pastilah seorang cowok.
Syamila hanya manggut-manggut sambil iseng menoleh ke belakang. Ada tas plastik transparan
tipis banget, mungkin tas plastik ekonomis keluaran minimarket, kelihatan jelas berisi roti tawar
dan..... Apa itu? Syamila menyipitkan mata menajamkan pandangan. Itu kayak.....
"Pembalut? Tadi kamu beli pembalut wanita di minimarket?" tanya Syamila heran.
Jagad menelan ludah. Ia mengangguk. "Buat.... Itu....eee.... Istrinya teman, tempatnya aku
nyewa kamar sementara itu, tadi SMS nitip beliin itu."
Ooo.... Mereka suami -istri....! Kirain masih single."
Waduh, aku jadi makin ngelantur, ujar Jagad dalam hati. Ia melajukan mobil secepat mungkin
dan menolak makan malam dengan dalih si " istri" membutuhkan pembalut tersebut segera.
Sampai di depan rumahnya, Syamila mengucapkan terima kasih, dan... Masih belum selesai.
"Mas, ajak aku dong ke rumah temanmu itu. Sekadar silaturahmi, gitu."
Waduh.....!

Part*10

Sudut restoran, dalam penantian

Malam ini Priyayi mengajak Jimmy makan malam romantis. Setelah yang kemarin-kemarin
mereka sulit keluar bareng, akhirnya malam ini mereka ketemu juga jadwalnya.
Sejam sudah Priyayi duduk di sudut restoran. Hanya memesan ice lemon tea, memandang
keluar jendela, mengirim SMS, melepon Jimmy. Nggak tersambung juga sampai sejam
berikutnya. Dia memutuskan untuk mengakhiri penantian. Dicarinya nama dalam daftar
phonebook ponselnya. Jagad.
"Gad, bisa jemput aku sekarang?"
Jagad bingung." Jimmy nggak bisa nganterin?"
"Boro-boro nganterin, datang aja enggak."
"Dinner-nya nggak jadi?"
"Nggak ada dinner-dinner-an. Bener-bener nyebelin, nggak ada kabar sama sekali. Tahu nggak
sanggup, asal ya-ya aja...." suara Priyayi bergetar menahan marah.
"Aku kecewa banget. Aku cuma minta waktu sebentar untuk membagi perasaan senang, bukan
berita buruk, kenapa dia masih enggan juga sih!" ucapan Priyayi mulai diselingi isakan.
"Oke, aku berangkat sekarang," sela Jagad sebelum Priyayi menangis keras. Jagad sudah hafal
kalau Priyayi ingin menangis keras, maka nggak peduli seramai apa pun disekelilingnya dan
malu apa pun efek sehabis nangis dilihatin orang-orang, dia pasti tetap menangis keras saat itu
juga.
"Thanks."
"Jangan menangis, oke?"
"Iya!"
Ketika Priyayi menuju pintu keluar restoran dengan langkah lunglai dan wajah super kesal,
seorang greeter cowok menyodorkannya sekuntum bunga mawar.
"Anda secantik mawar ini. Saya menunggu kedatangan anda berikutnya."
"Yeah, I will. You're so sweet. Makasih, Anda membuat hati saya senang." Priyayi membalas
senyuman hangat si greeter.
Agak lama Jagad baru datang. Di jok sebelah kemudi, Priyayi diam membuang pandangan ke
luar jendela mobil. Dia menonaktifkan ponselnya sebagai wujud rasa jengkelnya terhadap Jimmy.
Tahu-tahu mobi sudah berhenti. Tapi.... Ini bukan depan rumah. "Ngapain ke sini?" tanya Priyayi
heran. Mereka ada di parkiran depan Area Olahraga dan bermain.
"Untung ada yang berenang sampai malam, jadi belum tutup," ujar Jagad nggak menjawab
pertanyaan Priyayi.
"Kok tahu?"
Lagi-lagi Jagad nggak menjawab dan bergegas mengeluarkan perbekalan lengkap dengan terpal
alas duduk. Priyayi terheran-heran mengikuti cowok itu. Jagad lalu menghampiri gardu operator
untuk menyalakan lampu sorot lapangan basket, lantas menggelar alas di lapangan basket.
"Ayo, makan," ajak Jagad duduk bersila dan membongkat kotak makanan.
Priyayi tercengang. "Astaga.... Kamu...."
Jagad menarik tangan Priyayi untuk ikut duduk. Diberikannya jaket Priyayi yang ia bawa dari
rumah. "Sori, tadi masuk kamarmu untuk ambil jaket, soalnya kamu pasti kedinginan."
Dengan lahap Jagad makan bakmi goreng seafood. Priyayi ikut makan juga dengan mata tak
lepas dari Jagad, masih terheran-heran.
"Nggak ada bintang di langit, kamu ngelihatin aku melulu," gurau Jagad. Priyayi berlagak
tersedak dan mencibir.

-----

"Kalau sesuai rencanamu, besok lapangan basket ini mulai dirombak, dilengkapi dengan bangku
penonton, papan skor digital, dan akan ada street competition yang aku yakin bakal jadi event
tahunan yang digemari. Jadi, malam ini kamu mengingat lapangan ini untuk terakhir kali. Besok
akan kadi lapangan baru dengan temanku Priyayi sebagai pelaksana. Proyek pertama dan harus
sukses!" tutur Jagad panjang lebar. Napasnya hanya sekali tarik. Hebat.
Priyayi merasa terharu, ini yang tadi hendak dibagi kepala Jimmy. Bahwa kakeknya memberinya
wewenang pertama kali sebagai pelaksana proyek, bukan hanya konseptor seperti yang sudah-
sudah. Ini hal yang berarti bagi Priyayi.
"Aku tahu setiap malam kamu berkutat mengerjakan ini, bikin lay
out,budget,materi,proposal,bolak-balik diubah sampai bikin kamu naik darah....," imbuh Jagad.
Priyayi nyengir, ingat saat kakeknya mematahkan teori dan hitungan yang dikerjakan berminggu-
minggu dengan sekali kedip, semangatnya pun langsung anjlok. Walhasil, di rumah sikap Priyayi
nggak ada baik-baiknya sama sekali. Orang yang nggak punya andil apa-apa ikut terkena nggak
enaknya. Ya, siapa lagi kalau bukan Jagad. Waktu itu Jagad serasa mengalami horror nights
yang entah sampai kapan. Makanya, malam ini dia berbaik hati bikin beginian untuk Priyayi
sebagai wujud rasa syukur penderitaan telah berakhir, hehe.

----

"Jadi, Yi, kamy nggak patut sedih malam ini, kerja kerasmy sudah dihargai setimpal, oke?" Jagad
menepuk bahu Priyayi.
Priyayi mengembangkan senyum. Dia nggak nyangka penghargaan Jagad setinggi ini.
Priyayi menghela napas dalam-dalam. Kenapa bukan Jimmy yang mengatakan ini? Kenapa
bukan dia yang memberi sekuntum mawar? Kenapa harus orang lain yang membuatku merasa
dihargai? Aahh.....

Depan rumah, penantian

"Yi, lihat." Lamunan Priyayi buyar dalam perjalanan pulangadan mengikuti pandangan Jagad.
Jimmy berdiri bersandar pada mobilnya yang terparkir di depan rumah Priyayi.
"Kamu keluar saja, biar kumasukkan mobilmu," cetus Jagad.
Dengan amat enggan Priyayi keluar dari mobil, melangkah mendekati Jimmy. Ada beberapa
putung rokok teronggok di dekat sepatunya, dan di jemarinya sekarang terselip rokok. Mereka
tidak langsung bicara. Jimmy melepaskan tatapan tajamnya dari Jagad sampai menghilang ke
dalam rumah.
"Aku nggak bisa menghubungi HP-mu," kata Jimmy ketus.
"Aku biarin menyala selama dua jam di restoran dan aku nggak menerima telepon atau SMS-mu.
Apa nggak ada sinyal ya di sana?" sindir Priyayi dengan nada dingin.
"Kamu matikan HP-mu selama bersama temanmu itu, agar kalian nggak terganggu dengan
teleponku, hah? Aku udah nunggu sejam di sini, di jalan." Nada Jimmy meninggi.
"Keterlaluan kamu, Jim, kenapa kamu yang nyalahin aku," desis Priyayi. " Kamu yang ingkar
janji, kamu nggak ada kabar sama sekali, kamu yang menelantarkan aku kayak orang bego!
Kamu selalu minta dimaklumi, kamu yang seenaknya!" Priyayi lepas kontrol, matanya berkaca-
kaca.
"Kenapa kamu, Jim?" suara Priyayi berubah lirih. Matanya menatap mata Jimmy. " kamu dulu
nggak begini...."
Jimmy memalingkan muka. Ia kembali bersandar pada mobil. Priyayi juga mengikutinya,
kepalanya menunduk, lelah. Sudah hampir jam 12 malam.
"Maafkan aku, Yi," tukas Jimmy pelan. "Aku terlalu fokus pada proyek ini, sampai kadang
melewatkan sesuatu yang lain. Yang sebenarnya penting bagiku....."
Jimmy meraih telapak tangan Priyayi. "Aku yakin kita punya masa depan bersama. Untuk itu aku
bekerja keras, aku akan melakukan apa aja untuk mewujudkan itu menjadi hal terbaik dalam
hidup kita, Yi."
Dinding hati Priyayi tersentuh kala Jimmy mengucapkan "masa depan bersama". Jimmy sudah
berpikir sejauh itu. Priyayi membalas erat genggaman tangan lelaki itu.

END...
























Part*11

Minggu pagi, Kumala

Acara Priyayi hari Minggu ini adalah bertemu Kumala, Sahabat lamanya yang baru saja tiba di
Jakarta. Karena sudah lama nggak saling cerita, pastilah mereka bakalan menghabiskan waktu
bareng seharian. Itu baru untuk saling cerita. Belum belanja-belanjinya.
"Jadi penasaran kayak apa wujud Jagad sampai bisa membuat Jimmy ketar-ketir." Kumala
menyeringai penuh arti.
"Jimmy ketar-ketir karena kamu serumah, tahuu....," elak Priyayi, mengartikan cengiran Kumala.
"Hei, aku kenal Jimmy sejak masih kecil. Yang kelihatan dari dia adalah pedenya. Bisa jadi waktu
emaknya hamil dia, pedenya lahir duluan, baru kemudian oroknya, hehehe.....," seloroh Kumala.
Ia lalu melanjutkan, "Kalau temanmu serumah itu nggak cukup oke dibandingkan dirinya, Jimmy-
mu itu kupastikan tenang-tenang aja. Lagian kamu ama Jagad kayak pasangan beneran, gantian
pakai mobil, barangku adalah barangmu, gitu ya.....?!"
"Ih, nggaklah!" bantah Priyayi. " Hari ini mobilku dia pakai karena kamu bawa mobil. Mobilmu kan
lebih keren, hehehe....." intensi apa-apa. Waktu itu mereka ngumpul dipesta senang-senang
yang diadakan Kumala. Sekadar info aja, Kumala ini banyak mendapat julukan dari teman-
temannya. Ratu Pesta, Ratu Gaul, Miss Adventure, The Player, Miss Having Fu** (Pelesetan dari
having fun!), semacam itu. Eh, ternyata Jimmy dan Priyayi saling tertarik dan lantas jadian.
"Jadi...." Kumala memelintir ujung rambut kriwil seksinya. "Kayak apa wujudnya?" Matanya
mengerling. Priyayi bergidik melihat gaya temannya itu.
"Diharap untuk mengendalikan libido erotis yang bukan pada waktu dan tempatnya," ejek Priyayi
disusul dengan cengiran Kumala.
"Baiklah, Nona Yang Tidak Ingin Cinta Ternoda oleh Erotisme, ingatkan aku akan hal itu setiap
berbincang denganmu," balas Kumala.

----*

Priyayi mencibirkan bibir, memaklumi prinsip yang dianut Kumala. Selain berpetualang dari satu
tempat ke tempat lain, nona satu itu juga berpetualang dari satu cowok ke cowok satunya lagi,
atau yang satunya lagi, mungkin mengikuti tempat ia berada. Tapi dia memang layak untuk itu.
Bukan hanya karena dia seksi, eksotis dengan kulit sawo matang dan rambut ikal, tapi dia juga
kaya raya. Plus, yang penting adalah menguasai "medan dan teknik". She is the expert, hehe.
"Yang jelas, Mal, aku yang sekarang nggak tenang. Klien yang digembor-gemborkan, yang
dilayaninya habis-habisan sekarang adalah Bianca!"
"Si Nyonya Besar itu....?"Seloroh Kumala.
"Koreksi, dia bukan nyonya lagi, makanya dia melenggang kangkung mendekati Jimmy lagi.
Masa malam kapan lalu itu ponselnya benar-benar nggak bisa dihubungi, katanya sih ada urusan
bisnis yang nggak bisa diganggu...., aku kan jadi berpikir yang terlalu jauh...."
Kumala nggak bisa melontarkan kalimat macam "Jimmy mencintai kamu, dia nggak bakalan
berpaling" kepada teman dihadapannya ini, karena antara Bianca dan Jimmy pernah ada
hubungan serius sebelum kemudian Bianca memilih kawin dengan pengusaha sex-appeal besar
dan matang (Sebagai kata ganti lebih halus untuk istilah lebih tua).
"Lusa Jimmy minta ditemenin ke pesta kantor, mengundang klien besar mereka, makanya hari ini
aku harus cari gaun. Gaunnya harus seksi.... bukan cuma elegan, anggun, apalagi klasik, tapi
yang seksiihh..." tutur Priyayi dengan menyipitkan mata. Dia bertekad tidak mau kalah dengan
klien besar Jimmy, The Big Lady yang pasti hadir.

Malam, terendus

Gaun yang diinginkan Priyayi sudah ditemukan di butik langganan Kumala. Yang awalnya niat
belanja sih Priyayi, tapi yang belanja-belanji justru Kumala. Teteeep...
"Wah, sial," celetuk Kumala seraya menutup flip ponselnya.
"Aku sudah ditunggu teman, aku janji ngajak dia ke bar nanti malam. Gimana ya, kamu nggak
apa-apa pulang naik taksi? Atau ikut kami aja yuk," ujar Kumala.
"Nah taksi aja deh, besok aku harus bangun pagi, ada meeting," jawab Priyayi, kemudian
menyeletuk iseng," New arrival, ha?"
Kumala nyengir." Yeah. Kenalan di Bangkok, terus ngikut ke sini. Katanya pengin tahu Jakarta."
Dan kita tahu itu bullshit. He wants you," seloroh Priyayi tertawa.
Pucuk dicita ulam pun tiba, Jagad menelepon apakah perlu dijemput pas Priyayi hendak
memanggil taksi. Akhirnya mereka balik ke dalam butik untuk menunggu sang penjemput. Bagi
Kumala, ini kesempatan untuk melihat penampakan cowok bernama Jagad.
"Ah, itu dia datang." Priyayi menunjuk kepada Jagad yang baru masuk.
Kumala menyeringai lebat. "Oh, please! No wonder Jimmy is so jealous....."
Priyayi mendelik menyuruh Kumala tutup mulut. Mereka berkenalan kekat ke arah Jagad. Oke,
nggak bermaksud berlebihan, Jagad memang punya modal fisik lumayan, tapi payah di modal
kuangan, hehe.
"Mal, jangan macam-macam," desis Priyayi.
"Hei, relax, girl! Aku nggak ngapa-ngapain," Kumala berkelit seraya mengangkat kedua
tangannya. Isengnya masih berlanjut, "Nyimpen kayak gini di rumah dan nggak diapa-apain?
Ckckck...."
"Sialan. Aku pemilik rumah, dia penyewa, titik." Priyayi menangkup muka Kumala dengan telapak
tangannya dan segera berlari masuk mobil. Tak lupa idahnya menjulur ke arah Kumala.
Di mobil, Priyayi mengamati diam-diam sosok di jok sebelahnya. Apa sih yang dilihat Kumala dari
cowok ini?
Ada SMS masuk. Priyayi merogoh tas meraih ponsel. Dari Kumala.
Sopir di sebelahmu menyadarkanku, cowok Indonesia nggak kalah dari import
Priyayi terkikik. Dibalasnya SMS Kumala.
HBPI yee? Haus Belaian Pria Indonesia

----**

Secara otomatis, Priyayi kembali mengamati jagad yang tenang menyetir. Wajahnya manis khas
Indonesia. Rambutnya hitam, potongannya acak, oke. Bandingkan dengan Jimmy yang lebih
senang rambutnya dipangkas rapi. Dan... Perut Jimmy sedikiiit membuncit, sementara yang di
sampingnya ini rata. Dan keras. Priyayi pernah nggak sengaja menyenggol bagian itu.
"Yi, jadi mampir ke supermarket?"
"Oh, ya, ya," jawab Priyayi gugup. Ia disergap rasa bersalah.
Hah, kerasukan setan apa kok sampai membandingkan dia dengan Jimmy! No way, jangan
pernah berpikir sekali pun...
"Berarti turun sekarang, Bos!"
"Oh, udah sampai ya," celetuk Priyayi baru nyadar.
Tepat saat mereka keluar dari mobil, ada mobil yang diparkiran si seberang hendak keluar.
"Oh My God. Na, lihat." Syamila menjawil lengan temannya supaya melihat lebih saksama ke
depan. Dari balik kaca depan mobil, mereka melihat Jagad dan seorang cewek masuk ke
supermarket. Syamila megap-megap.
"Itu Jagad sama siapa, bo? tanya Nana, teman Syamila di balik kemudi.
Namanya Priyayi. Udah beberapa hari ini Mas Jagad bawa mobil cewek itu, motornya lagi
dipinjam temannya," jelas Syamila.
"Na, kita ikuti mereka," pinta Syamila kemudian.
Nana membelalakkan mata." mereka berselingkuh?"
"Nggak tahu, makanya kita cari tahu."
Berkali-kali Syamila melirik jam yang ada di dashboarg. Lima belas menit serasa semalaman.
"Mil, coba telepon aja," usul Nana.
"Pulsaku habis."
"Nih, pake punyaku." Nana menyodorkan ponselnya.
Syamila menggeleng.
"Ya sudah, labrak aja sekarang. Yuk!" desak Nana berkobar-kobar.
Akhirnya Syamila mengambil ponsel Nana. Dering ketiga, ponsel Jagad diangkat.
"Halo?"
"Hai, Mas, ini Mila pake HP teman," sahut Syamila gugup.
"Oh, kamu Mil. Lagi belajar, ya? Udah makan belum?" Nada suaranya setenang biasanya.
"I, iya. Udah. Masih di rumah sakit, Mas?"
"Nggak. Udah pulang kok."
"Oh." Syamila terdiam.
"Halo? Mil?"
"Oh, eh, ya sudah. Bye." Syamila linglung hingga nggak tahu mesti ngomong apa lagi.
Syamila menyandarkan kepala lemas. "Dia bilang udah pulang...."
Begitu mobil Priyayi keluar, Nana dengan saksama mengikuti, menjaga jarak nggak terlalu jauh
tapi tapi juga nggak terlalu dekat. Pokoknya kayak penguntit di film-film itu lho!
Mobil masuk kompleks permukiman dan berhenti di depan rumah berpagar hijau tua. Priyayi
keluar membuka pagar, mobil masuk carport. Priyayi menutup pagar. Selanjutnya, dada Syamila
seperti ditempel lempeng panas. Nyosss....

Jagad membawa tas plastik, Priyayi mencangklong paper bag besar dan keduanya masuk ke
rumah. Wajah Syamila pias. Jantungnya berdegup kencang.
"Ya ampun, dia tinggal dengan perempuan itu...."
"Haaa?" celetuk Nana.
"Dia sampai sekarang nggak mengiyakan ajakanku ke rumah uang ditumpanginya, yang katanya
suami-istri iru. Suami-istri apaan?! Dia udah bohong ke aku!" Syamila mengomel kesal.
"Belum tentu begitu. Nih, telepon dia lagi." Nana menyodorkan ponselnya.
Syamila menolak. Ia menutup mata dan kuping dulu, setidaknya sampai ujian di kampus besok.
Atau mungkin sampai ujian selesai karena ia ingin mengonsentrasikan diri sepenuhnya pada
ujian terlebih dahulu, kendati sekarang konsentrasinya sudah sedikit terpecah.








Part*12

Ballroom hotel, terasing

Malam ini Priyayi berhasil memukau Jimmy dengan gaun sexy bak Eva Longoria di serial
Desperate Housewives. Tapi jangan senang dulu. Itu sebelum berangkat. Tapi begitu memasuki
ballroom hotel tempat pesta diadakan tetap Bianca-lah sang bintang. Atau sang diva? Ih, kok
mirip acara dagdut?! Intinya dia yang berhasil mencuri semua perhatian undangan.
"Hm... Pasti karena bling-bling itu...." Priyayi menyimpulkan dari kejauhan dengan nada setengah
cemburu setengah sinis. Berlian maksudnya. Mulai dari anting, kalung, cincin, gelang dengan
ukuran ekstra. Priyayi memainkan liontin kalungnya. Hanya bling-bling alias berlian yang
menempel di badannya. Tadi sih Jimmy___another bling-bling___yang menempel, sekarang
merenggang jauh. Senasib dengan pasangan yang hanya sebagai pendamping.
"Pajangan gratis," gumam Priyayi getir menyebut dirinya dan mereka yang senasib. Untunglah
wine yang disuguhkan sangat enak. Kualitas atas. Lumayan bisa mengalihkan kesuntukan
Priyayi.
Selain itu, kesuntukan bertemu wine merangsang sisi otak kreatifnya untuk mengadakan kontes,
yakni kontes Tokoh Yang Paling Membosankan di ruangan ini. Dia lantas memilih-milih "calon-
calon kontestan" yang potensial. Kriterianya tentu aja dari mimik muka, gelagat, dan hasil obrolan
yang menurutnya membosankan. Karena Priyayi ingin jadi pemenangnya, dia harus bertingkah
habis-habisan menjadi yang paling membosankan. Seperti misalnya kalau ditanya profesinya
apa, Priyayi menjawab jadi honorer bagian tata usaha di sebuah sekolah yang paling tidak
kompetitif di seluruh kota. Dan menyinggung cuaca adalah cara membosankan lainya.
"Seharusnya aku pake baju daster nih," gumam Priyayi tambah ngelantur.
Baru ngajak ngobrol tiga orang pilihannya, Priyayi sudah sangat merasa bosan sendiri dan nggak
tahan lagi untuk "mewawancarai" kandidat berikutnya. Hehe, salah sendiri!
"Yayi, kamu bawa mobilku. Aku harus nganter Bianca pulang, dia nggak mungkin nyetir dalam
keadaan mabuk begini." instruksi Jimmy membuyarkan kebengongan Priyayi.
"Acaranya sudah selesai?" tanya Priyayi. Jimmy mengerutkan kening, heran.
"Ohh.... Maksudku... Acaranya akhirnya selesai....!" ralat Priyayi dengan mengubah intonasi dari
pertanyaan menjadi pertanyaan.
Eiit, Jimmy bilang mau antar Bianca?!
"Emang nggak bisa yang lain?" tawar Priyayi. Ia nggak rela cowoknya pergi malam-malam ke
rumah wanita bombastis kayak begitu. Mabuk, pula.

---

Jimmy memegang bahu Priyayi, didekatkan mulutnya di telinga Priyayi. "Dia klien terbesarku.
Aku cuma menjaga keselamatannya."
Priyayi melirik Bianca yang tertunduk lunglai. Dan linglung. Sesekali memanggil nama Jimmy.
Muka Priyayi panas.
Yeah, Priyayi sempat mendengar Bianca akan membeli satu unit lagi untuk usaha baru lounge
and bar. Pastilah Jimmy sebagai konsultan propertinya.
"Oke, biar aku mengikuti kamu sampai rumahnya selanjutnya kita bisa pulang bareng," usul
Priyayi. Jimmy menjauhkan kepala dengan mata menyelidik raut muka Priyayi.
"Well, biar kamu nggak kesulitan pulang....," sambung Priyayi beralasan.
Jimmy menyunggingkan senyum, lalu meraih dagu Priyayi. "Don't worry, i'll be fine. Kamu pulang
aja, terlalu jauh soalnya, satu jam sendiri lho sekali jalan, aku yang mengkhawatirkanmu. I'll see
you tomorrow". Sebagai penutup, Jimmy mengecup hidung mungil Priyayi.
"Sialan, tahu begini, kuhabisin aja semua wine tadi, biar Jimmy kerepotan ngurus diriku, bukan
cewek lain," sesal Priyayi terpikir, andai dirinya dan Bianca sama-sama mabuk, apa benar Jimmy
akan memilih ngurus dirinya.....?
"Uuuughh! Aku cabut dari sini, bikin sinting otak!"

Pagi, mengejutkan

Priyayi memulai hari dengan intesitas tekanan darah yang tinggi. Udah bangun kesiangan, masih
harus mampir ke kantor Jimmy untuk mengembalikan mobil, padahal ada Meeting pagi pula!
Mana ponsel Jimmy susah dihubungi, huh!
Ditambah lagi pagi ini di mulai hal yang sama. Kekamar mandi di menit yang sama dengan
Jagad. Efeknya sama-sama bersungut-sungut, kendati tetap sungut Priyayi yang lebih panjang
karena statusnya di rumah itu. Tapi ada ini yang agak nggak biasa, samak-sama nggak bisa
menghubungi ponsel pacar. Jagad sendiri malah kemarin mengalami "kemacetan" koneksi.
Sampai-sampai mereka mengira ada masalah dengan provider.
Dor, dor, dor! Pintu kamar mandi digedor.
"Buruan! Aku harus nganterin mobil dulu ke kantor Jimmy?" teriak Priyayi.
"Sebentar!" sahut Jagad dari dalam kamar mandi.
"Ini lagi! Biasanya sudah mandi pagi-pagi, sekarang ikut-ikutan kesiangan!" seru Priyayi jengkel.
Hampir sama dengan Priyayi, Jagad juga mengalami kesulitan menghubungi Syamila, sementara
dia belum punya waktu ke rumah pacarnya itu. Lagipula Syamila sedang ujian, biasanya cewek
itu ogah dikunjungin karena bakalan ngurangin waktu belajarnya.

--

Bagaimanapun usahanya untuk buru-buru, Priyayi tet agak kesiangan sampai kantor Jimmy.
Belum lagi dikejar meeting. Dia berlari keluar dari basement parkir hendak menuju ke dalam
kantor untuk memberikan kunci mobil. Tepat di pintu basement, dia menyaksikan Jimmy baru
saja keluar dari mobil.
Itu.... Mobil Bianca....
Priyayi terkesiap. Buru-buru ia menyembunyikan badannya. Nggak sampai sepuluh detik, mobil
itu melesat pergi. Bianca yang duduk di belakang kemudi.
Priyayi menyandarkan badannya di dinding. Lututnya lemas. Ya ampun, apa Jimmy nggak
pulang semalam? Diliriknya arloji. Hampir jam setengah sebelas. Priyayi melangkah gontai









Part*13

Bad day, cemburu

Bianca, Bianca, Bianca.
Nyaris seharian kepala Priyayi dipenuhi nama itu. Dan seringai di wajah perempuan iru kala
memandang Jimmy tadi pas di depan kantor Jimmy. Seringai tadi... Priyayi mengartikan sebagai
seringai puas.
"Huu...uh!" seru Priyayi kesal.
"Nggak pulang, Bu?" sapa salah seorang satpam tiba-tiba. Hari sudah mulai senja.
"Eh...." Priyayi nggak tahu ada satpam lewat di dekatnya.
"Sebentar lahi,"Jawab Priyayi yang berjalan menuju area bermain anak. Ia mendudukkan
pantatnya di ayunan dan mengayunkan pelan-pelan.
Entah berapa menit berlalu, tahu-tahu Jimmy sudah berdiri di sebelahnya. "Mana tasnya?"
Mereka sepakat bertemu di sini. Pagi tadi Jimmy hanya menerima kunci mobil dari office boy
yang dititipi oleh bagian resepsionis. Kontan Jimmy melepon ponsel Priyayi tapi nggak diangkat.
Ke nomor kantor juga begitu. Katanya Priyayi ada tugas luar seharian. Menjelang pukul lima,
baru Priyayi mengangkat telepon dari Jimmy yang kesekian.
"Masih di atas. Lagian pengin cari angin segar sebentar," jawab Priyayi. Jimmy ikut duduk di
ayunan di sebelah Priyayi. Nggak diayun, cuma diduduki.
"Makasih tadi nganterin mobil ke kantor. Kenapa nggak menemuiku, kan bisa kuantar kemari?"
Priyayi nggak langsung menjawab. Ia setia dengan irama ayunannya... Pelan... pelan... pelan....
"Semula ingin begitu. Terus aku melihatmu diantar wanita itu...."ucap Priyayi datar. Wajah Jimmy
menegang. Jadi Priyayi tahu?!
"Kulihat setelanmu masih sepeti semalam," lanjut Priyayi masik dengan nada yang sama.
Pandangannya sendu ke depan, bukan ke samping, ke arah Jimmy.
"Yi, jangan salah paham dulu....," sahut Jimmy. "Aku nggak ngapa-ngapain. Waktu itu dia...."

---

Priyayi mengibaskan tangan. Dalam hatinya menyesal kenapa menyerah semalam, kenapa
dirinya nggak ngotot tetap ikut.
"Aku nggak ada perasaan apa-apa lagi ke dia, Yi, sungguh!" tegas Jimmy meyakinkan Priyayi.
Priyayi memejamkan mata.
"Sudah sejauh ini kita bersama, kenapa kamu masih meragukan kesetiaanku?!" imbuh Jimmy
kesal.
"Jim, kamu dan dia pernah menjalin hubungan cinta, bahkan kamu hampir bertunangan
dengannya...." Priyayi diberitahu oleh Kumala soal itu. Waktu itu Jimmy masih kuliah dan
lumayan dekat dengan Kumala. "Wajar kan kalau keyakinanku goyah kamu bermalam di rumah
mantanmu, yang sedang mabuk, yang kembali mengerjarmu, yang memberi andil luar biasa
dalam kariermu?!"
"Aku percya denganmu yang serumah dengan teman cowok lain berbulan-bulan....," tangkis
Jimmy.
"Dia bukan mantanku, aku nggak pernah ada hubungan cinta sebelumnya! Itu beda, Jim! Kamu
seperti takluk di hadapan wanita itu, dia klienmu, bukan bosmu, bukan kekasihmu lagi!"
"Kamu cemburu?"
"Iya, sekaligus marah! Di pesta aku kayak orang bego, malamnya disuruh pulang sendiri, ponsel
kamu matikan saat kalian berduaan, urrrghh!" seru Priyayi memuntahkan kekesalannya,
kemudian dia berdiri. " Aku nggak jadi pulang. Tiba-tiba aku ingat masih harus menyelesaikan
sesuatu. Pulanglah dulu."
Jimmy ikut berdiri dan memegang lengan Priyayi. "Yi, apa yang..."
"Aku yang akan menghubungi kamu," potong Priyayi. " Itu juga kalau ponselmu aktif...." sindir
Priyayi mengakhiri pembicaraan. Di ruangan kerjanya, ia menelungkupkan wajah di balik meja.

Malam, tak jauh beda

Jadad baru saja sampai rumah, baru selesai meneguk air dingin keluaran kulkas saat SMS
Priyayi masuk yang isinya minta tolong dijemput. Ia hanya mengganti sepatu dengan sandal,
mengambil kunci mobil di kamar Priyayi. Syamila mengawasi tanpa berkedip di dalam mobil milik
kakaknya yang ia parkir di tempat remang taka jauh dari rumah Priyayi. Mulai dari Jagad datang
dengan mengendarai motor, membuka pagar dan pintu rumah dengan yang dibawanya,
menyalakan lampu-lampu, kemudian keluar lagi dengan mengendarai mobil Priyayi.
Sampai kira-kira satu setengah jam kemudian mobil bercat abu-abu tersebut nongol lagi. Dari
pintu kiri, keluar Priyayi untuk membuka pagar. Mobil terparkir, mesin dimatikan, pagar ditutup,
keduanya menghilang di balik pintu rumah.
Hati Syamila serasa diperas-peras sampai tinggal ampas. Sudah sedemikian bertekuk lututkah
dia pada cewek itu? Syamila menelungkupkan wajah di atas setir dan terisak.


















Part*14

jumat pagi, mendung

Priyayi menengadahkan kepala. Mendung makin bikin bad mood aja, apalagi bukan hari libur.
Tapi biasanya hari jumat begini beban kerja sedikit lebih ringan. Dia tetap bertekad lari pagi,
cuma disekitar kompleks rumah doang. Kata kakek, menghirup udara pagi, apalagi diiringi gerak
jasmani, di tengah suasana hati dan kondisi pikiran yang buruk ibarat menghirup oksigen dalam
tabung di ruangan yang penuh asap. Masalah memang nggak akan kelar selama orang tersebut
belum keluar dari ruangan itu, tapi setidaknya bantuan oksigen itu dapat membuatnya berjalan
menuju pintu keluar.
Sejam kemudian Priyayi mulai membenarkan ajaran kakeknya itu (dua puluh menit terakhir ia
menghirup udara pagi yang terkontaminasi aroma bubur ayam alias pesan dua bungkus di bawa
pulang, hehe). Sepulang nanti ada yang perlu dilakukan supaya perasaan buruk yang dirasakan
nggak berlarut-larut.
"Gad! Aku beli bub..." seruan Priyayi di pintu depan seketika terhenti, juga dengan langkah dan
ayunan tangannya. Persis kayak di serial Charmed setiap kali Piper, salah atu penyihir cantik nan
baik hati mengeluarkan ajian freezing. Beku.
"Oh, maaf, nggak tahu kalau ada tamu," sambungnya kemudian, berhasil keluar dari kebekuan.
"Ini Mila," ucap Jagad. Priyayi yang baru mengayun kaki satu langkah kembali berhenti dan
menoleh ke arah sang tamu.
"Kita sudah pernah kenalan," ujar Syamila datar.
"Iya," timpal Jagad belingsatan.

---

Priyayi menahan napas. Terus terang dia sudah lupa wajah Mila itu (Seingatnya, nama lengkap
cewek itu Sarmila deh). Bisa jagi pagi ini pagi bencana bagi Jagad karena sejauh yang dia tahu,
Jagad nggak memberitahu pacarnya perihal keberadaannya di sini. Tapi nggak tahu lagi kalau di
hari-hari terakhir Jagad tinggal di rumah ini, Jagad memutuskan sebaliknya.
"Iya," celetuk Priyayi, menganggukkan kepala dan tersenyum. Syamila hanya mengangguk.
Selanjutnya Priyayi melesat ke dalam.
"Kita bicara di luar," cerus Jagad tak lama setelah Priyayi menghilang ke dalam. "Aku ambil kunci
motor dulu."
Dari balik meja gerak dan mengamati ekspresi muka Jagad diam-diam sambil tangannya
menyuapkan sesendok demi sesendok bubur ayam. Ia segan sekadar memanggil Jagad, apalagi
berkoar soal bubur ayam. Rasarnya kurang pantes deh nawarin bubur ayam ke orang yang (
kelihatannya) lagi bersitegang ama kekasih hati.
"Aku cabut dulu, bubur ayamnya kumakan nanti," pamit Jagad kala melewati Priyayi. Jagad
melajukan motornya ke coffee shop tak jauh dari sana. Belum ada pengunjung karena coffee
shop baru saja buka mungkin sekitar lima belas menitan.

--

Jagad dan Syamila membawa dua mug kopi panas dan duduk di teras. "Aku cuma ingin menjaga
perasaanmu, itu yang paling utama. Dan ini murni inisiatifku, nggak ada syarat atau pengaruh
apa pun dari siapa pun," jelas Jagad.
"Aku sangat kecewa sama kamu, Mas," sahut Syamila. "Aku kecewa kamu menutup-nutupi
sesuatu dariku, aku kecewa kamu malah cari bantuan ke orang lain, sepertinya menjadi pacar
berarti dia orang yang terakhir tahu, orang yang terakhir dimintai bantuan, orang yang nggak
boleh diusik-usik, orang yang hanya boleh tahu beresnya aja, hanya tahu indahnya dunia...."
Syamila menyorongkan badannya ke arah jagad. "Begitu seorang pacar bagimu? Hanya
pajangan, penghias hidupmu? Dangkal sekali!" Syamila kembali bersandar dan membuang
pandangannya.
"Kalau aku nggak mendatangi rumah temanmu itu, kamu pasti berkelit..." sambung Syamila
geram.
Jagad nggak bisa menyangkal. Ada perasaan bersalah melihat Syamila semarah ini.
"Aku paling benci dibohongi." Mata Syamila siap menumpah air, wujud dari kekecewaan
perasaannya. " Dan ini... Rasanya lebih dari itu...., aku merasa.... Dikhianati...."Tutur Syamila
terbata-bata.
"Maaf, Mil. Kadang sesuatu yang kuanggap tindakan yang benar...., maksudku yang bisa
menjaga hubungan kita tetap baik, belum tentu baik di matamu. Aku menghargai hubungan kita
di atas segalanya, Mil. Aku ingin kita senantiasa baik-baik saja. Bertemu, berbincang, bahkan
saling terdiam pun, aku ingin kita lakukan dalam atmosfer cinta, sayng, nggak ada jengkel, sebal,
marah, dan perasaan negatif lainnya." Jagad menjabarkan alasan di balik sikapnya selama ini.
"Kamu seperti mematahkan kakiku yang baik-baik saja!" sahut Syamila dengan raut muka kian
tegang. Ia lantas berdiri.
"Pagi ini aku cuma ingin membuka matamu lebar-lebar bahwa aku nggak sebodoh yang kamu
kira." Sedetik kemudian Syamila berlari ke depan dan mencegat angkutan umum yang lewat.
"Mila! Mil, aku nggak pernah berpikir begitu!" Jagad berteriak seraya berlari menyusul, tapi
Syamila sudah lenyap dibawa angkutan.
Huuuhh.... Gimana ini! Pikir Jagad galau.
















Part*15

Sore, penghiburan

Priyayi duduk termangu di bangku di luar ruang periksa. Kakeknya minta diantar periksa di rumah
sakit karena tiga hari ini dadanya terasa sakit. Lantaran bosan hanya bengong melamun, ia
mencoba menghubungi ponsel Kumala yang sejak tadi nggak aktif.

Aha... Nyambung juga akhirnya....
"Halo, ke mana aja, monyet? Susah banget dihubungi!" sembur Priyayi.
"Sibuk memperpanjang paspoe dan sibuk menjamu tamu jauh, hehe...."
Priyayi memutar bola matanya, sudah hafal dengan tingkah polah Kumala.
"Aku ama Jimmy lagi berantem, menyebalkan. Dia kayak kerbau dicucuk hidungnya ama si klien
tercintanya itu! Ada penghiburan nggak dari kamu?"
"Sialan, emang aku aku wanita penghibut?!" seloroh Kumala. "Ada sih, besok malam
diapartemenku, aku bikin party, nanti ada temanku yang bersedia nge-DJ. Seru deh!"
"Hmm... Boleh juga..." celetuk Priyayi, walaupun bukan itu yang dimaksud dengan penghiburan
tadi.

"Aku udah SMS teman-teman. Tapi besok pagi kamu bantuin aku nyiapin keperluan party yee!"
suara Kumala bersemangat.
"Mal, is it a part of being a very host for your new guy, hah?"
Kumala ngakak. "Oh, darling, you know me too well! Oya, kalau ketemu kakakmu, ingetin lagi ya
buat datang besok, ada omongan bisnis."
Restu, kakak Priyayi adalah pialang saham Kumala.
"Jumat mlam ketemu Restu di rumah? Jangan harap deh, aku nggak janji," celetuk Priyayi.
"eh, ajak juga sopir pribadimu itu ya. Bilangin ke dia, aku bisa membuatnya menjadi tuan
semalam sebagai penghiburan telah menjadi sopir tanpa bayaran akhir-akhir ini," sambung
Kumala menyeringai nakal.

Priyayi hendak membalas Kumala tapi kakeknya keburu nongol dari ruang periksa.
"Gimana, kek?"
"Dikasih resep dan anjuran seperti yang sudah-sudah. Kurangi makanan berlemak, kurangi
beban kerja, harus lebih rutin olahraga."
"Ironis sih. Punya tempat olahraga tapi jarang olahraga!"
Kakek terkekeh." Kakek kan sukanya golf, tempatnya jauh...."
"Huh Kakek, kalau bisa bikin lapangan golf di Area Kakek, pasti udah dibikin!" ledek Priyayi.
"Omong-omong soal golf, hari Minggu mama-papamu menemani Kakek golf bareng dengan
opamu. Kamu mau ikut juga nggak? Kita ke rumah Opa."

Opa adalah sebutan ayah dari Mama Priyayi.
"Boleh, udah lama juga nggak ketemu Opa dan Oma. Restu ikut juga nggak?"
Kakek menggeleng. "Dia malas ketemu omanya yang nggak bosan-bosan nanyain alon istri...."

Priyayi nyengir sambil dalam hatinya menyeletuk pasti Oma bakal kelelahan. Setelah mengejar
Restu dengan pertanyaan itu yang entah kapan Restu mau menjawabnya, Oma pasti gantian
mengejar dirinya yang setipe dengan sang kakek. Kasihan Oma.....

Malam, ajakan Lucifer

Priyati mekangkah gontai ke dalam rumah. Hatinya masih menyimpan kegundahan. Walaupun
dia telah menyibukkan diri seharian, tetap saja pikirannya nggak lepas dari Jimmy. Dan apa yang
telah dilakukan cowok itu. Pfff....
Masuk ke ruang tengah, di atas credenza ada sebuket bunga mawar. Diambilkannya amplop
yang nangkring di sela-sela bunga.
One and only you.... I love you. Jimmy.
Priyayi berdiri terpekur, kemudian berjalan menghampiri kamar Jagad. Dua ketukan, pintu
terbuka. Tampak Jagad sedang mengemasi pakaian.
"Lho, katamu baru pertengahan bulan depan kamarmu selesai renovasi, kok udah berkemas
sekarang?" tanya Priyayi bingung.
"Nggak apa-apa. Aku bisa tidur di ruangan depan yang sudah selesai."
Priyayi beringsut duduk bersila di tepi kasur, matanya mengikuti gerak Jagad.
"Oya, ada kiriman bunga tadi buatmu," tukas Jagad.
Priyayi mengangguk. "Ya. Dari Jimmy. Kami lagi berantem dan bunga itu kayaknya sebagai
permintaan maafnya." Priyayi nyerocos tanpa diminta.
"Kamu maafin?"
Priyayi mengangkat bahu. "Yaahh gitu deh...., tapi nggak dalam waktu dekat ini, masih gondok!"

Jagad menolehkan kepala ke arah Priyayi. " Kenapa sih cewek harus membuang waktu seperti
itu? Kalau ending-nya sama, kenapa harus diulur-ulur waktunya?"
Begini." Priyayi mengeluarkan dalih panjang. "Itu yang disebut Kebijakan dan Kebijaksanaan.
Tingkat hukuman harus disesuaikan dengan tingkat kekesalan yang kita rasakan. Dan itu bukan
membuang waktu, itu adalah bagian dari proses konsekuensi yang harus diterima atas perbuatan
yang tidak berkenan."

Inilah Priyayi, Mahkamah Agung dalam Pengadilan Cinta.
"Hei...." panggil Priyayi kemudian. " Kamu berantem ama pacarmu?"
Jagad mengangguk.
"Ketahuan kamu tinggal di sini?" tebak Priyayi. Jagad lagi-lagi mengangguk.

"Eh, sebenarnya sih kemarahan dia karena aku udah nggak jujur berbulan-bulan, menutup-nutupi
keadaan sebenarnya."
"Bahwa kamu tinggal di sini?"
Jagad mengangguk lagi.
Priyayi manggut-manggut juga, akhirnya paham kenapa Jagad mempercepat jadwal untuk balik
rumah.
"Gad, Kumala mengundang kita datang ke pestanya besok. Mau, kan? Hitung-hitung farewell
party, oke?"
Jagad mengangguk pasrah.
"Pssst..... Dandan ala metroseksual ya, kamu dapat kehormatan berkencan dengan tua rumah,"
goda Priyayi. "Mumpung hubungan dengan tambatan hati dalam masa demisioner, hihi...." imbuh
Priyayi berbisik.
Jagad nyengir. "Lucifer, kamu menang kali ini."



Part*16

Get the party started, Kumala's

"Mana si teman baru?"
"Itu..., yang lagi ngobrol ama Angga."
"Oooh..." semua melongo.
"Mirip David Naif ya, terutama gaya bajunya jo`...."
Geerrr....
"Kirain tadi juga begitu, tapi kok nggak bisa bahasa Indonesia, ternyata cowok impor!"
Geerrr lagi....
Empat cewek dan dua cowok yang berkerumunan di meja bar terkikik. Mereka sedang
ngomongin teman pelancong yang di bawa Kumala. Ada Tio dan Sally yang kebagian meracik
minuman, Ryan yang nge-DJ "nama profesinya DJ Ry), Vina, Yasmin, dan Priyayi kebagian
"mengulurkan tangan" kepada setiap yang datang untuk dimintai sumbangan sukarela.
Berhubung berteman, memang nggak ada tiket masuk dan bisa minum sepuasnya, tapi bukan
berarti gratis abiiis ya. Bagi yang datang dengan botol atau krat atau kudapan minimum harga
yang sekiranya berkenan di tiga cewek tersebut, mereka bebas dari juluran ketiga cewek tadi.

Berhubung beberapa teman mulai berdatangan, mereka segera bubar, hanya Tio dan Sally yang
memang di situ tempat bertugasnya, dan Priyayi yang masih malas bersapa ria. Ia menekuri
sekeliling apartemen. Kumala menerapkan desain minimalis di dalam apartemen studio
berukuran luas ini. Vina, teman mereka sebagai desain interiornya. Sebagai hunian, apartemen
ini memang jadi terkesan lengang apalagi hanya dihuni satu orang. Tapi konsep itu memudahkan
sang pemilik untuk mengadakan pesta seperti malam ini. Lagi pula kan Kumala lebih banyak
pergi daripada ngendon.

"Mana kamar Kumala?"
Priyayi nggak tahu kapan Restu datang, tiba-tiba saja kakaknya sudah ikut duduk di sebelahnya.
"Apa? Kamar?" Priyayi tersentak kaget. Baru aja datang, sudah nanyain kamar!
"Dia yang nyuruh aku langsung ke kamarnya, mau bahas investasinya," jelas Restu mematahkan
kecurigaan adiknya. "Pasti udah mikir ngenes, huuu....," tambah Restu seraya menyentil kepala
adiknya. Priyayi cengar-cengir.
"Ooo.... Tuh...." Priyayi menunjuk sebuah pintu. Restu segera ngeloyor ke sana.

Begitu Priyayi mengembalikan pandangan, Jagad masuk dan berdiri mengedarkan pandangan
mencari sosok yang dikenalnya. Mulut Priyayi menganga. Wow.... Jagad lain banget malam ini.
Dia menuruti instruksi Priyayi untuk berpenampilan ala cowok metroseksual. Rambutnya dibuat
mencuat berantakan persis model rambutnya vokalis Goo Goo Dolls di video klip lagu Iris,
pullover hitam menempel pas di badan, bagian lengan disisingkan asal-asalan sampai siku, jins
agak kebesaran melorot sampai batas pinggang. Vina menyambutnya dengan rangkulan. Jagad
menunjukkan sebotol bir impor. Masih kurang berharga sih, tapi Vina mengampuninya karena
begitulah pesan Priyayi. Vina lantas menunjuk-nunjuk ke arah meja bar, ke arah Priyayi. Priyayi
melambaikan tangan.

"You look great," sapa Priyayi. Jagad tersenyum sembari menyodorkan "sumbangan"nya kepada
Tio. Tangan Priyayi menyentuh lengan Jagad. Hmm.... pullover-nya lembut sekali.
"Ganteng maksudmu?" sahut Jagad. "Atau hot, sexy, adorable...., yummy....?"
Priyayi meringis. "Ouch! Setiap satu kata mengurangi poin great-mu, tauu!"

Jagad nyengir. Matanya mengamati dandanan Priyayi yang mengenakan tank top berdada
rendah dengan punggung terbuka. Roknya menutupi setengah paha saja. Smoky eyes
menegaskan kesekian Priyayi malam ini.
"Bahan handukmu masih lebih besar daripada kedua potong bajumu ini," gurau Jagad
mengomentari. Mereka memesan martini dan wine, kemudian cheers pertamanya.

"Mila minta break," ujar Jagad di sela menghabiskan isi gelas pertamanya. "Dia benar-benar sakit
hati."
"Break or break up?"
Jagad menghela napas. "Di tengah-tengahnya mungkin. Yang jelas dia bilang supaya aku
membiarkan dirinya sendirian dulu, nggak mau dihubungi. Aku tanya sampai berapa lama akan
begitu, dia bilang belum tahu." Jagad mengedikkan bahu. "Yaahhh..... Mungkin lebih baik begitu,
daripada langsung di putus. Aku udah kasih tahu dia, nggak tinggal di rumahmu lagi."

"Tapi luka udah terlanjur tergores, ya?" seloroh Priyayi.
Jagad mengacungkan gelasnya. "Hell, yeah."
"Aku bisa jelasin ke pacarmu tentang apa yang sebenarnya terjadi."
"Ah, nggak perlu. Ini kesalahanku yang nggak jujur ke dia," tampik Jagad.
"Oke, lupakan masalah untuk malam ini. Jangan mabuk dulu sebelum dapat undangan kencan
dari Kumala,"cetus Priyayi sembari memutar tubuh Jagad ke arah Kumala yang datang
menghampirinya.
Jagad bersiul, Priyayi nyengir. Kumala mengenakan mini pants dan kemben menyisakan bahu
dan perut.

"Dengan pakaian itu, kamu lebih bagus daripada dia," bisik Jagad di telinga Priyayi. "sepanjang
yang kutahu, kamu punya otot bagus."
Priyayi menyeringai. "Kamu merayuku di hari terakhir kita serumah, ya?" tanya Priyayi, jarinya
menarik-narik lengan pullover Jagad, berlagak sok menggoda.
"Hemmm..." Jagad menyipitkan mata.
Priyayi terkikik.
"Hellooo, teacher!" sapa Kumala dengan aksen sok Inggris. Mereka bertiga melakukan cheers.
Sambil bersandar pada Priyayi, Kumala terus "menyerang" Jagad.
"Kamu lebih keren daripada yang terakhir kulihat."
"Ada yang mengimingi bakal berkencan dengan tuan rumah yang luar biasa, jadi apa salahnya
tampil all-out," celetuk Jagad mengangkat gelas. Kumala ngakak, sedangkan Priyayi berpikir
pasti Jagad lagi butuh pelarian. Tumben genit begini.
"Well, teacher, you can teach me math-ness, bu i'll teach you madness, first..." ujar Kumala,
tangannya menarik tangan Jagad untuk menikmati musik di hadapan DJ.






part*17

Rumah, oleng

Pfff.... Sampai rumah dengan aman, nggak ada razia polisi di jalan. Well, mungkin ada tapi mobil
Priyayi nggak melewatinya. Priyayi menjawil lengan Jagad, mengisyaratkan untuk keluar dari
mobil. Jagad sudah oleng, meskipun masih bisa berjalan sendiri. Priyayi yang memegang kemudi
pulang. Priyayi sendiri merasa tubuhnya berjalan setengah melayang. Kalau nggak ingat salah
satu sari mereka harus menyetir, bisa jadi Priyayi habis-habisan tadi sebagai pelampiasan rasa
suntuknya mikirin Jimmy. Tapi berhubung Jagad yang kelihatannya jauh lebih suntuk, ya
sudahlah... Dia ngalah....

Bruukk!
Kaki Jagad terantuk sofa, sekalian ia menjatuhkan tubuh di atas sofa. Priyayi mengambil
bongkahan kecil es dari kulkas, menempatkan dalam mangkok dan menyodorkan kepada Jagad.
Ia duduk di sebelah Jagad dan mengulum es batu dalam kegelapan. Hanya lampu teras yang
menerobos jendela menyisakan cahaya tipis.
"Kumala nggak rela waktu kamu ikut pulang," gumam Priyayi.
"Thanks you for everything," gumam Jagad.
"Terima kasih udah sangat baik ke aku selama ini."
Priyayi tersenyum. "Sama-sama, kamu juga begitu kan ke aku."
Jagad mengambil tangan Priyayi dan menggenggamnya. Dan nggak sampai berhenti di situ.
Tangan Jagad menelusuri lengan Priyayi hingga merambah bahu. Karena Priyayi hanya diam
saja, ia meneruskan ke punggung Priyayi. Aroma parfum dan aroma tubuh cowok di sebelahnya
malam ini terasa menggugah penciuman Priyayi. Mungkin karena lagi nggak sadar seratus
persen. Priyayi memejamkan mata.

"Kulitmu sehalus bayi," bisik Jagad di telinga Priyayi. Darah memompa jantung Priyayi lebih
cepat. Dorongan dasar mengabaikan semua. Dalam hitungan detik, bibir mereka bertemu.
Sengatan itu membuat masing-masing menginginkan lebih.

Dan entah siapa membimbing siapa, mereka sampai di tempat tidur Priyayi. Mungkin refleks
instingtif keduanya yang menginginkan space lebih besar. Dan nyaman.
Dan terjadilah.

Pagi, mengejutkan dunia

Dor, dor, dor! Bunyi pintu digedor. Sebenarnya sih, sebelum berubah gedoran, suaranya berupa
ketukan, tuk, tuk, tuk. Karena pintu nggak terbuka juga, akhirnya suara berubah lebih mengentak.

Priyayi terbangun. Pusing langsung menyambutnya. Aduh.... Dia terduduk dengan memegangi
selimut menutupi dada. Dia melirik Jagad yang tidur terlentang di sebelahnya.
Dor, dor, dor!
Mata Priyayi membelalak. Dia nggak sempat mencerna apa yang ia dan Jagad lakukan,
kepanikan keburu menyergapnya.
"Ya ampun! Aduh, aduh!" dia bergegas berdiri, mengabaikan hantaman pusing, kebingungan
mencari baju. Ia membuka lemari dan menyahut kaus dan celana rumah.
"Mereka udah jemput! Mampus, mampus!"
Sesuai rencana, pagi ini keluarga Priyayi minus Restu mengunjungi Oma-Oma Priyayi.

Jagad terbangun oleh suara-suara Priyayi. "Siapa?" Suaranya sangat serak. Tangannya
memegang kepala, hangover, lantas menelungkupkan badan dan menenggelamkan kepala di
bawah bantal. Matanya nggak bisa membuka.
Dor, dor.....
"Iya, iya, sebentar!" Priyayi tergopoh-gopoh membuka pintu.
"Astaga! Baru bangun? Belum apa-apa sama sekali?" tegur Mama kesal.
"Maaf...," sahut Priyayi pelan dan memberikan jalan kepada kedua orangtua dan kakeknya untuk
masuk. Tenggorokannya tercekat.
"Ya sudah, buruan, kamu tunggu," ucap Papa.
"Dandannya di mobil saja." Mama menimpali.
Mereka duduk di sofa depan. Buru-buru Priyayi ke dalam. Ups.... Ia segera menyepak sandal
Jagad ke kolong sofa di ruang tengah. Maklum, nggak ada dinding antar ruang kecuali kamar
tidur dan kamar mandi.
"Cari siapa, Pak, Bu?" suara Papa.
Priyayi mengernyit. Ada tamu?
"Kami mama-papanya Jagad...."
Mata Priyayi membelalak bersamaan dengan mulutnya menganga lebar. Ortunya Jagad?!
Bagaimana bisa?!
"Jagad? Di sini rumah Priyayi, anak saya...."
"Priyayi ya namanya. Jagad memang tinggal sementara...."
"HAAA?" Mama, Papa, dan Kakek Priyayi terkaget-kaget.
Orangtuanya Jagad belum menyadari bahwa Priyayi itu cewek, jadi mereka mengira kagetnya
ketiga orang tersebut disebabkan ketidaktahuan.

"Oh, anak Anda belum memberitahu, ya?"
Bersamaan dengan itu, Priyayi muncul.
"Yayiikk! Coba jelaskan semua ini!" Mamanya berteriak tegang.
"Haaa?" gantian orangtua Jagad melongo kaget.
"Yayik.... Priyayi?" tanya Mama Jagad.
"Ya ampun! Jadi Jagad serumah dengan....." Papa Jagad menunjuk Priyayi kemudian menoleh
kepada orangtua Priyayi.
"Kami tidak tahu. Bapak-ibu juga tidak tahu, kan?"
"Jagad itu pacarmu?" selidik Papa Priyayi.
Priyayi sontak menggeleng. "Nggak. Kami berteman. Jagad menyewa kamar belakang. Teman-
temannya nggak ada yang kasih tumpangan sementara kosnya direnovasi sedangkan ia udah
bayar full dan duitnya nggak bisa balik...."
"Tetap saja nggak bisa begitu!" hardik Mama Priyayi. Si Kakek hanya diam, tapi pandangannya
tajam ke arah cucunya.
"Ma..." rengek Priyayi.
"Duh, kenapa Jagad nggak bilang. Maafkan anak kami.
Maaf....." ujar Papa Jagad merasa malu, kemudian bertanya, " Sekarang mana Jagad? Biar kami
bicara dengannya."

Badan Priyayi panas-dingin. Wajahnya sangat tegang. Hidupku usai hari ini! Bagaimana ini?!
Sekarang Jagad ada di kamanya dan begitu Jagad keluar, akan terlihat dari sudut ini. Apa ku
bilang saja dia menginap di rumah temannya?
"Jagad...." Belum selesai Priyayi ngomong, Jagad keluar dari kamar. Mati sudah!
"Apa ap...." Jagad nerusin ucapannya, berganti dengan melongo karena kaget luar biasa
mendapati siapa saja yang tengah memandangnya nanar.
Ketegangan menyelimuti ruangan.
"Ehh.... Emm...." Priyayi berujar terbata-bata. "Jagad main game semalaman di
komputerku...."JANGAN BOHONG!" Kelima orang berseru berbarengan.



























part*18

----

Menjelang siang, terkuak

Selanjutnya penjelasan yang dapat menggambarkan reaksi lima orang tamu di rumah Priyayi
adalah shock, kaget, melongo, tercengang.... Kelompok arti kata semacam itulah. Dan gambaran
itu masih di selingi dengan komentar: astaga, ya ampun, ya Tuhan dan gelengan kepala serta
tatapan mata bikin panas-dingin mendengar pengakuan Priyayi dan Jagad.
Mama Priyayi melengos, dalam hatinya sangat menyesal dan gregetan karena dulu pernah
kemari dan dikibuli dengan mudahnya oleh putri tercinta. Coba waktu itu Mama nggak langsung
percaya....

Mama dan Papa Jagad merasa wajah mereka nggak berbentuk lagi. Selain malu, mereka seperti
mendapatkan lemparan bumerang, karena awalnya mereka datang untuk memberi kejutan
kepada anaknya yang berulang tahun hari ini. Ternyata malah mereka sendiri yang mendapat
"kejutan" dari sang anak.
Jagad? Dia sampai lupa hari ini adalah hari ulangtahunnya. Ia merasa semua bergerak terlalu
cepat, mulai dari pacarnya yang membekukan hubungan, malam gila-gilaan, tidur dengan Priyayi
yang notabene sahabatnya dan pacar lelaki lain, hingga pagi ini memperoleh kunjungan dari
orangtua yang berujung hunjaman.
Sementara pikiran Priyayi terbelit-belit kayak bola benang yang dimainkan kucing garang, sudah
ruwet harus ditambah terbentur-bentur bikin stres!
"Kalian menikah!" Gantian kakek yang berseru.
"Apaaa?" sergah Priyayi, tercengang. Tiba-tiba Kakek menghampiri Priyayi dan membentuk
gerakan.....
PLAAAKK!
Kakek menampar Priyayi! Saking terkejutnya, semua hanya tercengang menahan napas. Kepala
Priyayi tertunduk dalam-dalam, matanya tidak bisa ditahan untuk tidak basah.
"Udah punya pacar berani tidur dengan laki-laki lain?! Kamu serong, hah?!"
Kakek menggunakan istilah jadul dari kata selingkuh.
"Mana kehormatanmu sebagai perempuan, hah?!"
"Itu cuma kehilafan dan hanya itu. Nggak ada yang lain!" sahut Priyayi meyakinkan Kakek.
"Nggak akan ada yang lain!"
Kakek membentuk gerakan yang sama sekali lagi, tangannya melayang siap menampar. Jagad
secepat mungkin beringsut ke depan Priyayi, menutupi badan Priyayi dari jangkauan tangan
Kakek. "Saya, Kek. Pukul saya, jangan Yayi....."

Lagi-lagi suasana dicekam keheningan. Kakek menatap nanar Jagad. Napasnya tersengal-
sengal. Papa Priyayi segera menenangkan keadaan.
"Sebaiknya pembicaraan ini disudahi dulu," ucap Papa Priyayi. Ia membuka dompet dan
mengulurkan kartu nama kepada Papa Jagad. Mereka bertukar kartu nama.
Celeguk. Priyayi dan Jagad menelan ludah. Melihat papa mereka seperti melihat transaksi bisnis.
"Hari ini Jagad kami pastikan segera pindah. Iya kan, Gad?!" tegas Papa Jagad. Padahal Jagad
memang berencana balik ke kosnya hari ini. Waktunya kalah cepet dengan mereka, rutuk Jagad
dalam hati menyesali.

Setelah orangtua dan Kakek Priyayi pergi, Priyayi permisi kepada orangtua Jagad untuk masuk
ke kamar. Jagad memandang pintu kamar Priyayi dengan khawatir.
"Kenapa bisa ceroboh begini, Gad...." keluh mamanya. Beliau kemudian menyerahkan kotak
bungkusan kepada Jagad. "ini kue ulang tahunmu, bikinan Mama. Selamat ulang tahun."
"Eengg.... Sebentar....," cetus Jagad dan menyusul Priyayi ke kamar.
Orangtua Jagad berpandangan dengan tatapan bingung, bertanya-tanya. Papa Jagad berbisik
kepada istrinya. "Anak zaman sekarang, pacaran dengan yang bukan sulit dibedakan ya, Ma...."
Sementara itu di kamar, Priyayi sesenggukan. "Ini pertama kali Kakek menamparku..."
Jagad mendekati Priyayi dan menyentuh pipi kanan temannya yang tadi ditampar.
"Sakit, ya?"
"Lebih sakit di sini," sahut Priyayi memegang dadanya.
"Maaf ya, Yi...., maafin aku..." Tangan Jagad menyapu keduan pipi Priyayi yang basah.
"Huuuu.... Huuuu....!" Priyayi nangis keras di bahu Jagad. Jagad memeluknya.
Di ruang tengah, orangtua Jagad speechbess.

Larut malam, terjaga

Priyayi duduk menekukkan lutut di atas tempat tidur. Rambutnya yang mulai gondrong sesekali ia
acak-acak. Hmm... Ia bangkit dan keluar kamar, membuka kulkas dan meraih kaleng diet coke.
Matanya beralih ke piring berisi potongan blackforest. Kue ulangtahun Jagad yang ke-24 buatan
mamanya. Semenjak anak pertamanya berumur setahun, mama Jagad memiliki kebiasaan
membuat kue sendiri untuk anak-anaknya kala berulang tahun.

Priyayi menarik kursi pantry dan terpekur di atasnya. Dia memikirkan Jimmy. Dia malu terhadap
dirinya sendiri. Keadaan berbalik menohoknya. Priyayi membuang napas keras-keras. Dari sisi
hati putihnya, dia memutuskan untuk tetap jujur mengakui kesalahannya. Namun, dia juga punya
sisi hati abu-abu dan hitam yang bilang bahwa kalau dia jujur soal itu, hubungannya dengan
Jimmy terancam bubar. Buat apa cari masalah?
Dan Kakek.....
Kakek menolak ditemui Priyayi. Bertemu di kantor pun hanya ngomongin pekerjaan. Yang bikin
dia tersiksa adalah bagaimana Kakek berusaha menghindari kontak mata di antara mereka.
Kakek nggak sudi melihatnya, bahkan demi masalah pekerjaan sekalipun.
Hhh.... Kok bisa aku tidur ama anak itu.... Priyayi bertopang dagu, nggak habis pikir mengenai
malam itu. Dan kenapa juga mesti ketahuan Kakek.... Dirabanya pipi sebelah kanan, teringat
salah atu ganjaran Kakek untuk apa yang telah dia lakukan. Tapi toh itu belum cukup bagi
kakeknya.
Priyayi celingukan. Hhh.... Sepi, nggak ada teman serumah lagi. Situasi balik kayak dulu lagi.
Ada sedikit kekosongan melandanya, tapi ia meyakinkan dirinya besok juga perasaan itu akan
sirna dengan sendirinya.







part*19

Pulang kerja, menjenguk

Sepulang dari kantor, Priyayi langsung melajukan mobilnya ke rumah orangtuanya. Tadi Mama
menelepon memberitahu bahwa Kakek batal ke kantor karena sakit. Meeting yang sudah
terjadwal pun ikutan batal.
"Yik, sebaiknya jangan ketemu Kakek dulu deh. Dia masih.... Emm.... Tahu sendiri kan....," cetus
Mama.
"Aku cuma ingin menjenguk, ingin tahu keadaannya."
"Mama ngerti, Mama cuma khawatir pikiran Kakek kembali nggak tenang kalau bertemu kamu.
Karena sesungguhnya cuma kamu yang Kakek pikirin. Maksud Mama.... Tentang kejadian itu...."
Wajah Priyayi muram. Disodorkannya tas plastik yang dipegangnya kepada Mama. "Buah untuk
Kakek. Bilang aja Mama yang beli, biar dia mau makan. "Lantas Priyayi beranjak mau pergi.
"Yik...."
"Apa, Ma?"
"Mama dan papamu pelan-pelan kasih pengertian dan membujuk kakekmu untuk mau
memaafkan dan melupakan kejadian itu. Tapi tahu sendiri..... Kakekmu keras kepalanya minta
ampun, apalagi yang diributin masalah kehormatan, harga diri, apalah itu...."
"Makasih, Ma, untuk bikin aku nggak makin tersudut."
"Apa un kesalahanmu, selama kamu menyesalinya, mama dan papamu akan menganggap itu
berlalu, cuma sedikit masa lalu. Masih banyak yang lebih baik di depan."
Priyayi menatap mamanya. Di balik keketusan dan kecerewetan, Mama tetaplah seorang ibu
yang takkan tega melihat anaknya sedih terus-terusan. Priyayi memeluk mamanya sebelum
kemudian berlalu pulang.

Di depan rumah ia berpapasan dengan Restu yang baru datang.
"Nah, ini dia tokoh bulan ini. C'mon, i'll treat you. Mama kunci mobilmu?" todong Restu sembari
menggeret adiknya.

Rumah, membawa kesuntukan

Seperti yang sudah Priyayi duga, ngomongan sama kakak satu-satunya malah bikin suntuk
dirinya. Sembari nyetir dengan kecepatan yang nggak diinginkan___yang diinginkan sih bisa
ngebut, tapi apa daya kalau macet gini___Priyayi terngiang komentar nyebelin si kakak tadi.
"... Kayak listrik...., hubungan singkat arus listrik menimbulkan kebakaran. Nah seperti itulah yang
kamu alami. Hubungan pendek memicu kebakaran jenggot semua yang tahu, hehe...."

Huu.....uh.... Priyayi kian bete dengan teori listrik dari Restu yang dilontarkan kepadanya ke kafe
tadi. Belum lagi ditambah celetukan "emang enak jadi cucu kesayangan!".
"Anak itu kapan dewasanya?!" omel Priyayi dan nggak merhatiin kalau dia sudah melewati
rumahnya sendiri.
"Eiiit.... Bodoh!" rutuknya. Dia lantas memundurkan mobilnya. Ternyata di depan pagar sudah
menunggu seseorang, nangkring di atas motornya, menyeringai geli.
"Kok bisa lupa rumah sendiri sih?"
Priyayi meringis. "Ngelamun. Eh, udah lama nunggu?"
"Nggak. Nggak merhatiin. Aku terlarut dalam kesendirian...."
Priyayi terkikik. "Lagi berhati Samsons nih..." Maksud Priyayi adalah grup Musik Samsons.
"Yi, aku mikirin kamu dengan Jimmy. Kalau hubunganmu hancur gara-gara aku, aku bakal
merasa amat sangat bersalah."
Priyayi menghela napas, matanya menerawang ke depan. Mereka duduk bersisian di teras. "aku
belum ketemu, belum bilang apa-apa....."
"Kalau dia ingin menghajarku atau membunuhku, kasih tahu aja alamatku, oke?"
Priyayi tersenyum, kemudian raut mukanya kembali serius. "Aku menimbang-nimbang, mungkin
aku nggak perlu bilang, seperti dia nggak bilang apa-apa soal Bianca. Tapi.... Entahlan, aku
belum tahu harus bagaimana."
"Memang dia beneran ada apa-apa dengan Bianca?"
Priyayi mengedikkan bahu. "Insting wanita." Ia lantas menoleh ke arah Jagad. "Kamu sendiri
dengan Mila gimana?"
"Mmm.... Nggak berharap lagi, Yi. Mungkin lebih baik putus. Lebih baik bagi dia."
"Hah?" Priyayi mengernyit.
"Aku sendiri...., dalam kasusku, aku memutuskan nggak akan bilang soal yang kita lakukan.
Hubunganku udah buruk dan aku nggak mau menambah kebenciannya padaku."

Melihat Priyayi terpekur, Jagad menambahkan. "Jangan kamu samakan dengan hubungan
kalian. Prinsip, cara berpikir, dan caraku memandang hubungan cinta antara aku dan Mila tentu
lain denganmu dan Jimmy."
Priyayi menghela napas, matanya menerawang. "Kalau diingat-ingat.... Yang kemarin itu
kesalahan, kehilafan dan membuat semua jadi kacau. Aku dengan Jimmy dan Kakek, kamu
dengan Mila..."
Jagad memandang Priyayi dan melontarkan pertanyaan dengan hati-hati. " Yayi, apa kamu
terluka? Sakit hati ke aku, soal yang kita lakukan?"
"Kalau aku sakit hati, udah dari tadi aku menendangmu sampai ke neraka," jawab Priyayi.
Jagad meringis, lantas menyenggol siku Priyayi. "Hei, semua kekacauan ini jangan ditambah
dengan ketegangan di antara kita ya, karena cuma itu hal baik yang kupunya selain keluarga."
Priyayi menatap Jagad. "Kalau terus saja terpaku memikirkan dan menyesali itu, kapan kita maju
untuk melanjutkan hidup? Walaupun untuk kesalahan itu berarti kita harus siap menerima
konsekuensinya. Begitu, kan?"












part*20

Matahari terbit, suplai oksigen

Begitu, kan?
Priyayi terngiang omongannya sendiri. Begitukah? Kalau bisa melanjutkan hidup dengan segala
kensekuensinya, lantas kenapa enggan dan belum bertemu Jimmy padahal sudah kangen
setengah mati?
Memikirkan itu, Priyayi menambah kecepatan larinya hingga di belokan dia nyaris bertubrukan
dengan tukang bubur ayam. Masih mending kalau tukangnya, ini gerobaknya, bo!
Priyayi menjerit, si penjual meloncat kaget. Untungnya beliau ini sigap banting setir. Lho, kok
setir?! Mana ada gerobak pake setir?!
"Neng? Neng nggak apa-apa?"
Si penjual sebenarnya yakin Priyayi nggak apa-apa, cuma si neng ini berdiri bengong kelamaan
di depannya.
"Oh, ya, ya. Mau deh, Bang, buburnya, satu bungkus."
"Hhh..... Pikiran error bikin keselamatan terancam nih," gumam Priyayi. Suplai oksigen ternyata
nggak mampu mengurangi ke-error-annya.
Itu ternyata belum seberapa. Sampai di rumah, ponselnya mencatat ada telepon dari rumah
papanya. Ia lantas menelepon balik.
"Kakek masuk rumah sakit, kritis."

ICU, muram

hari kedua di rumah sakit, Kakek masih belum sadar. Beberapa rekan kerja Priyayi yang menjadi
bawahan langsung Kakek datang menjenguk.
Hari ketiga, kala Priyayi hanya berjaga sendirian, ia duduk memandang sedih wajah sang Kakek
yang belum bangun juga. "Kek, jangan mati karena aku...."
Papanya bilang semenjak pulang dari tempat Priyayi waktu itu, kakeknya menjadi murung, sering
nggak mau makan, menolak minum obat, nggak beristirahat teratur, sering uring-uringan, dan
berulang kali mengatakan kekecewaannya kepada Priyayi.
Kepala Priyayi jadi pening. Kakek stres karena dirinya!
Hari keempat Jimmy datang menemui Priyayi di rumah sakit. Ia memang belum tahu sosok-
sosok di keluarga Priyayi, tapi ia tahu Priyayi dekat dengan kakeknya. Mereka berbicara pelan di
koridor depan kamar.
"Jim, maaf aku belum menghubungimu....."
Jimmy menyela, " it's okay. Aku cuma memastikan kamu jangan sampai drop, dan memastikan
kamu bisa mengandalkanku kapan saja."
Priyayi menatap tajam mata Jimmy. Tenggorokannya tercekat, rasanya ingin menangis.
"Makasih banyak."

Priyayi diam untuk melegakan tenggorokannya sebelum berkata lagi. "Jim, sebenarnya ada yang
ingin ku...."
Ucapan Priyayi terinterupsi seruan mamanya di ambang pintu.
"Yik, kakek sadar."
Priyayi bergegas masuk kamar, meninggalkan Jimmy di koridor.
"Kakek manggil kamu," bisik mamanya. Priyayi duduk di tepi tempat tidur, menunduk mendekat
ke wajah Kakek.
"Menikahlah, Kakek baru tenang..." Kakek nggak mengeluarkan suara, hanya gerak mulut yang
diucapkannya dengan susah payah.
Wajah Priyayi menjadi makin pias. Aku punya andil besar menentukan nasib Kakek!
Sebenarnya sempat berkata-kata, dokter dan perawat masuk dan memeriksa Kakek. Priyayi
keluar.
"Jim, kita harus bicara."

Senja, sedih

"Kalau nggak ingat ini di rumah sakit dan kamu yang stres mikirin kakekmu, sudah pasti aku
meledakkan kemarahanku sekarang. Aku marah banget, Yi!"
Keterusterangan Jimmy menjawab keheranan di benak Priyayi akan "ketenangan" Jimmy
menerima hal yang baru saja sampaikan, karena sudah menjadi sifat Jimmy yang menyalurkan
kekesalan secara langsung. Dan kadang.... Ehm.... Berlebihan....
"Sudah cukup pahit kamu tidur dengan laki-laki itu. Tapi ternyata masih ada sentuhan akhir....
Kamu disuruh kawin segala! Ini gila!" Bahasa tubuh Jimmy menunjukkan kegalauan.
"Aku harus ngerokok, ayo keluar."
Priyayi setengah berlari menyusul Jimmy yang ngeloyor keluar kawasan rumah sakit.
"SIAL!"
Priyayi melonjak kaget, sekian menit dalam diam, tiba-tiba Jimmy mengumpat keras.
"Seharusnya aku nggak permitif! Seharusnya aku nggak ngizinin kamu menampung laki-laki itu!"
Tampang Priyayi sudah lebih dari memelas seharian ini.
"Jim...." Priyayi menelan ludah berkali-kali. Dia lelah meminta maaf dan mungkin Jimmy juga
sudah bosan mendengarnya, tapi hanya itu yang bisa Priyayi lakukan sebagai cara menunjukkan
penyesalannya.
Priyayi menghabiskan iced latte yang dipesan di coffe shop seberang rumah sakit, sementara
Jimmy mengisap berbatang-batang rokok.

"Kakek segalanya bagiku. Dia dan Nenek yang mengasuhku saat Papa bertugas ke pelosok
Kalimantan dan Mama menyusul, aku masih SD dan Restu SMA. Restu mungkin sudah kenyang
kasih sayang Mama dan Papa, tapi aku masih sangat kurang. Dia juga sangat berperan
mendamaikan Papa dan Mama yang hampir bercerai. Berkas gugatan sudah di pengadilan dan
akhirnya dicabut. Itu karena Kakek."

Tanpa sadar Priyayi memilin-milin ujung kemejanya sampai kusut. Sekusut wajahnya.
"Dia sangat keras hati. Kekerasan hatinya itu yang menyelamatkan keluargaku...." Priyayi
menatap Jimmy. "Dan aku nyaris bikin dia mati lebih cepat, Jim...."
"Tapi beliau kan sudah sakit...."
"Dan aku membuatnya tambah parah!"
"Maksudku, belum tentu kamu...."
"Pasti aku!" Priyayi menyela. "Ada dua hal yang membuatnya sanggup bertahan hidup dengan
penyakit aterosklerosis1 yang menyerang jantung, yang diidapnya sejak lama, yaitu Nenek dan
aku. Nenek sudah nggak ada...., sekarang tinggal aku."
Priyayi menunduk lesu. "Aku sudah bikin Kakek patah hati."
"Kamu juga bikin hatiku patah," sela Jimmy luar biasa kesal.
"Iya, aku bikin patah hati semua orang. Aku memang kacau...." suara Priyayi nyaris hilang ditelan
perasaan tertekan.

Malam, pernyataan sikap

Jagad meraih ponselnya yang bergetar. Yayi calling.
"Keluarlah, aku ada di luar."
Yayi di luar rumahku? Jagad tergopoh-gopoh keluar rumah. Pri______________
1. Penyakit berupa plak yang menyebabkan penyempitan atau sumbatan di arteri-arteri tubuh,
umumnya menyerang arteri-arteri utama. Beberapa penyakit yang disebabkan ateroskleresis
adalah penyakit jantung koroner dan stroke.
Sumber: Kompas, 14 November 2006. Judul: Aterosklerosis. Oleh: Ujoto Lubiantoro
yayi berdiri bersandar pada pintu mobil, kedua tangannya merapatkan jaket. Alisnya naik.
"Hmm.... Kamu tinggal dalam rumah berantakan begitu?"
Jagad nyengir. "Di dalam nggak begitu berantakan kok. Ada apa malam-malam kemari? Oya,
gimana kakekmu?"
Priyayi membuka pintu mobil. "Kita cari tempat duduk."
"Di dalam mobil.....?" Jagad keheranan.
"Ikut aja dulu."
Mereka sampai di kafe tenda dan duduk berhadapan. Priyayi menceritakan semua yang terjadi
siang tadi, termasuk keputusan besar yang diambilnya. Keputusan Jagad dari
ketercengangannya.
"Oh, ya..... Anu.... Aku blocking, Yi...."
"Mungkin bagi Kakek, lebih baik mati daripada hidup dengan kehormatan tercoreng." Priyayi
menghela napas. "Mengapa kehormatan hanya dilihat dari sisi itu dengan harga mati?"
"Yi, kalau itu konsekuensi yang harus kita tanggung, aku nggak bisa berbuat apa-apa lagi."

Priyayi mendesah. "Bukannya mempermainkan arti perkawinan, tapi mempertaruhkan masa
depan kita seperti ini saja sudah sangat berat...., aku nggak sanggup kalau menjalani perkawinan
secara beneran...."
"Maksudmu?" tanya Jagad.
Priyayi merapikan posisi sesaat. "Aku sudah mikirin ini baik-baik. Kita nikah di hadapan Kakek,
tapi kita tetap berteman...."
"Maksudmu?" Jagang pasang tampang bingung.
"Iya. Kita serumah tapi menjalani hidup masing-masing, kayak dulu."
Jagad manggut-manggut. "Begitu, ya?"
Priyayi menjawab dengan anggukan.
"Sampai berapa lama, Yi?"
"Priyayi terdiam agak lama sebelum menjawab. "Sampai kondisi memungkinkan...." Nada suara
Priyayi menggantung soalnya ia sendiri nggak yakin.
"Emm.... Soal Jimmy....?" celetuk Jagad.
Priyayi mendesah. "Aku udah menyakiti dia. Itu pasti. Aku nangis berhari-hari, tapi rasanya belum
cukup. Nggak akan pernah cukup...."
Jagad menatap Priyayi, dipegangnya bahu cewek disampingnya itu. "Yi...."
"Ya?" Priyayi menoleh.
"We'll be fine."
Priyayi mengatupkan bibir, nggak yakin.





part*21

Mencoba bersikap jantan

Akhirnya Jagad berkunjung ke orangtua Priyayi, menemui mereka termasuk Kakek Priyayi
tentang rencana akan menikahi Priyayi. Jujur dirinya kedes juga. Tapi demi Priyayi. Dan demi
kebaikannya juga. Karena bisa jadi mereka akan membawa masalah ini ke pengadilan dan
menjebloskan ke penjara, hiii.....
Jadi mungkin ini jalan terbaik. Sejelek-jeleknya nasib, paling-paling statusnya jadi nggak single
lagi dan nggak bisa lagi cari cewek lain.
"Saya ingin Kakek, Om, dan Tante tahu bahwa saya beniat tulus dan serius tentang pernikahan
ini. Saya akan bersungguh-sungguh menjalani dan memberikan yang terbaik bagi Kakek, Om,
Tante dan Yayi," tutur Jagad serius.

Keheningan menyergap. Jagad berkeringat dingin dibuatnya, tapi jauh-jauh hari dia sudah
mempersiapkan diri diperlakukan yang terburuk. Intinya sekarang, siapa yang bersalah harus
menanggung akibatnya.
"Andai kalian tidak kepergok, apa kamu akan tetap bertanggung jawab?"
Kakek melontarkan pertanyaan mematikan.
Kenapa mematikan? Karena jawabannya adalah tidak.
Priyayi yang juga ada di sana menundukkan kepala, nggak tega melihat Jagad disudutkan. Tapi
dia sendiri nggak mau mengambil risiko bikin Kakek lebih marah. Jadi dia memilih diam dan
menundukkan kepala.
"Nggak perlu jujur, Gad....., yang penting selamat....," tukas Priyayi dalam hati.
Tidak karena Priyayi juga nggak keberatan___ Yayi lebih memberati pacar yang
dicintainya___apalagi Priyayi nggak hamil. Walaupun dia dan Priyayi sama-sama nggak
menganut gaya hidup one night stand, tapi kalau tanpa sengaja melakukan hal itu, masing-
masing akan menerimanya sebagai kehilafan, nggak perlu diulangi, nggak perlu dilanjutkan,
nggak perlu.... Seperti ini.

Kali ini keheningan yang ada dibarengi dengan tatapan Kakek yang luar biasa tajam. Untung deh
Jagad mengenakan kaus polo tipis, keringatnya jadi nggak meninggalkan bercak.....
"Saya serahkan kepada Yayi. Saya nggak pernah memaksa...."
Tiba-tiba Kakek memotong dengan gusar, membuat Jagad dan yang lain terlonjak tertahan.
"Kamu mau bilang Yayi yang merayumu, yang memaksamu?! Mustahil! Cucuku bukan wanita
gampangan, kamu pasti yang merayunya. Dasar laki-laki hidung belang...."
"Paaa...." Papa Priyayi menenangkan ayahnya yang geram.
Jagad memejamkan mata sesaat. Sumpah dia nggak terima dibilang laki-laki hidung belang.
Oke, tahan emosimu, yang kamu hadapi ini pak tua kesayangan Yayi yang sakit-sakitan...., ucap
Jagad berulang-ulang dalam hati.
"Saya menyayangi Yayi atas nama hubungan apa pun. Masalahnya kalau dia bersikap
sebaliknya, saya nggak bisa memaksakan diri," tukas Jagad dengan nada suara rendah, lebih ke
nada pasrah.
"Saya bukan orang seperti yang Kakek sebutkan. Percayalah. Untuk itu saya datang kemari."

Entah percaya atau nggak, bagi Jagad yang penting dia sudah berusaha menunjukkan sikap
jantan.
Keluar dari rumah orangtua Priyayi, dia bisa melonggarkan isi dadanya sedikit. Huuff.... Dadanya
belum bisa longgar lebih banyak karena memang masih ada satu hal yang mengganjal.
Syamila.
Jagad bingung mesti gimana. Di luar perkiraannya sendiri, yang dituduhkan Syamila menjadi
kenyataan, padahal dulu dirinya mati-matian membantah. Waktu itu memang begitu adanya kok.

Jagad ingin sekali bertemu mantan kekasihnya untuk mengatakan hal itu dan mengatakan bahwa
Mila-lah yang ia cintai. Tapi tentu saja itu perbuatan laki-laki hidung belang___mengutip kata-kata
Kakek Priyayi___ jika seorang laki-laki bilang cinta ke seorang wanita tapi di saat bersamaan
mau menikahi wanita lain. Jagad jelas ogah. Ogah dibilang laki-laki hidung belang.
Apa aku benar-benar berhidung belang, ya.....? Pikir Jagad.
"Hei..." Priyayi menyusul Jagad di depan rumah.
Memandang Priyayi, Jagad memutuskan untuk berkonsentrasi pada apa yang ada di depannya
terlebih dahulu. Yang lain nanti aja dipikirin.
"Sori ya kalau kamu tersudut, jangan dimasukin ke hati," tukas Priyayi.
Jagad ngangkat bahu berujar, "Aku lagi ngaca di spion, mau lihat apa hidungku memang belang."
Priyayi tertawa.
"Yi, lebih baik kalau persiapan pernikahan kita lakukan bareng-bareng, biar kamu nggak
kerepotan sendiri....."
Priyayi cepat-cepat menggeleng. "Udah kubilang, nggak perlu. Aku sendiri sanggup kok."
"Yakin?"
Priyayi mengerjapkan mata." Yakin, Pak."
Jagad menatap Priyayi. " Kenapa sih nggak mau bantuanku?"
Priyayi menggeliat sejenak sebelum menyahuti dengan hati-hati.

"Hmm.... Aku merasa kita kayak.... Pasangan beneran kalau mengurusi itu bersama. Jadi,
bukannya aku nggak menghargai niatmu membantu...., cuma ya itu tadi...., maksudku kita bukan
seperti itu...."

Jagad menyahut. "Oke, aku ngerti kok." ia menjulurkan tangan menepuk lengan Priyayi. "Itu
batasan kita agar nggak kelewat batas lagi."
"You've got my point, buddy."
"Seandainya nanti kamu benar-benar kerepotan, kamu harus bilang, oke?"
Priyayi mengangguk. Dalam hatinya ia bertekad nggak akan meminta Jagad untuk membantu.
No way. Membayangkan mereka berdua bersama-sama membahas soal pernikahan sudah
membuat Priyayi geli dan risi, apalagi kalau di jalani sungguhan. Ih.









part* 22

IBARAT moving picture, yang selanjutnya terjadi adalah gerak gambar yang mengalami
percepatan. Gerak mempersiapkan pernikahan Priyayi dengan Jagad.
Diawali dengan pertemuan orangtua Priyayi dengan orangtua Jagad. Tentunya dengan Priyayi
dan Jagad juga, sumber segala sumber peristiwa. Duduk bersama, melapangkan dada,
menjelaskan, merencanakan langkah selanjutnya, dan melaksanakannya.

Hal terakhir inilah yang menjadi kepusingan tersendiri bagi mama Priyayi. Priyayi menyerahkan
segala urusan persiapan kepada sang mama. Masalahnya adalah Priyayi nggak seratus persen
pasrah begitu saja terhadap keputusan mamanya. Ada saja yang membuat mereka lantas
berdebat berkepanjangan. Inti persoalan utamanya hanya satu, Mama Priyayi menginginkan
perhelatan besar, sedangkan Priyayi menginginkan sebaliknya. Nah, inti satu itu kan membawahi
tetek-bengek kecil lainnya!
Huh, kayak kawin beneran aja dibuat gede-gedean, gerutu Priyayi dalam hati. Lha, padahal
orang-orang memang menganggap begitu, kan?!

Teras belakang, curhat

"Untung kamu bisa datang, Ran. Urat-uratku hampir putus semua ngotot-ngototan terus sama
anak sendiri," keluh mama Priyayi kepada Rani, sang adik perempuan yang rela linta pulau,
buru-buru datang setelah mendengar kehebohan yang dibuat Priyayi. Selain bertujuan untuk ikut
membantu, juga untuk menyaksikan secara langsung gimana kehebohan tersebut. Rani bekerja
di perusahaan PMA yang bergerak di bidang mineral di Sulawesi.
"Yayik itu kan anak perempuanku satu-satunya, satu-satunya kesempatan untuk bikin pesta
perkawinan, masa cuma dirayain sederhana. Anakku nggak mengerti perasaan mamanya satu-
satunya. Sedih...."
Rani mengernyit, pasti akhir-akhir ini kakakku kebanyakan menghafal dialog sinetron dengan
kata "satu-satunya" nih, celetuk iseng Rani dalam hati.

"Ta udah, nanti pas pernikahanku aja kelak, dirayain gede-gedean. Usiaku kan cuma selisih
setahun ama Restu. Anggap aja aku anak sulungmu. Jadi dirimu mewakili ibu kita, oke," hibur
Rani makin iseng.
"Huh, lagakmu, Ran! Kelak, kelak! Kelakuan aja yang ada! Sekarang malah keduluan keponakan
sendiri!" semprot kakaknya itu.
"Satu-satu dululah.... Nanti aku menyusul, tenang aja!" Rani berkelit sambil cengar-cengir.

Kafe, curhat

"Untunglah Tante datang. Aku jadi punya back-up menyakinkan Mama," ujar Priyayi kepada
tantenya. Rani menyeringai karena nada yang sama ia dengar belum lama berselang. Dan
kalimat aja persis, nggak heran deh ibu-anak kadar ngototnya juga persis!
"Siapa bilang aku jadi back-up kamu."
"Hah?"
"Aku jadi penengah aja, oke."
Priyayi langsung cemberut mendengar jawaban tante tercintanya.
"Yi, mamamu cuma ingin menunjukkan kebanggaannya terhadapmu. Cuma caranya aja
begitu....."
Priyayi langsung menampik. "Gimana bisa membanggakan perkawinan karena "kecelakaan"
seperti ini! Heran deh!" tangan Priyayi membentuk tanda kutip saat mengucapkan kata
"kecelakaan". Rani tidak bisa menyembunyikan rasa gelinya.
"Jangan cengar-cengir begitu!" Priyayi makin sewot. Rani makin melebarkan senyum.

"Tahu nggak, leherku sampai capek kebanyakan geleng-geleng kepala mendengar kehebohan
yang kamu buat. Aku terheran-heran bin takjub, Yi! Ternyata kamu bisa juga bikin heboh
keluarga, apalagi membakar jenggot kakekmu, hihihi...."

Priyayi geleng-geleng kepala. "Ya ampun, teganya Tante tertawa di atas penderitaan keponakan
sendiri...."
"Oh, kamu menderita?" Alis kiri Rani naik. "Bukannya kamu di suruh nikah karena mulanya
melakukan perbuatan yang bikin keenakan... Bagian mana yang menderita?" Rani meledek
Priyayi habis-habisan.

Priyayi gemas bukan kepalang. "Hei, tante iseng! Jangan sia-siakan biaya, waktu, dan tenagamu
yang telah tante habisin buat kemari hanya untuk kegiatan iseng macam begini, mending Tante
manfaatin sebaik-baiknya dengan membantuku, setuju?!"
Priyayi menjinjing tasnya dan berdiri.
"Heh, mau kemana? Ngambek, ya?" tanya Rani.
"Ngambekku udah habis dari kemarin-kemarin. Aku harus menghubungi satu orang lagi, daah...."
Priyayi ngeloyor pergi meninggalkan si tante yang garuk-garuk kepala.

Sore, terkaget-kaget

Satu orang dimaksud Priyayi, ia temui di sebuah pusat kebugaran. Sore ini mereka mengambil
kelas taebo. Sebenarnya Priyayi lagi nggak mood membasahi tubuhnya dengan keringat, namun
demi bisa melobi orang satu ini yang gila olahraga, ya apa boleh buat.
Sejam kemudian mereka melakukan "pendinginan" di dalam kafe ber-AC terletak bersebelahan
dengan pusat kebugaran. Di tempat inilah Priyayi bertutur semua.

Yasmin tercengang dengan penuturan Priyayi soal pernikahan tiba-tibanya. Priyayi memang
belum memberitahu teman-temannya. Ia sendiri saja masih dalam tahap "mencoba menerima
kenyataan" yang dirasakan berat.
"Dalam aspek jurnalis ada enam poin utama yang harus diajukan untuk meliput sebuah berita.
Pertama adalah.... Why??" Mata Yasmin membesar.
"Heh, maksudmu 5W dan IH, what, when, where, who, why, how?!" Priyayi segera tanggap apa
yang dimaksud Yasmin. Yasmin mengangguk mantap, sementara Priyayi malah memajukan
bibirna.

Yasmin meringis. " itu yang ada di benakku...."
"Oke, kalau itu maumu." Priyayi menegakkan tubuhnya. "What? Adalah pernikahan sederhana,
nggak usah ada apa-apa dan aku butuh kamu untuk menyakinkan Mama dan membantu
persiapan. Who? Aku dan Jagad. Where? Di rumah saja. When? Mungkin satu-dua bulan lagi...."
"Wow, cepet banget!" sela Yasmin melengking, ia lalu merendahkan suaranya. "Why-nya bukan
gara-gara serumah terus hamil, kan?"
"Nggak, aku sudah periksa...." tangkis Priyayi spontan yang nikin Yasmin tercengang. Mulutnya
menganga. Mulut Priyayi juga menganga menyadari ketololannya telah keceplosan begitu saja.
Ups.
"Astaga! Astaga! Kamu ama Jagad?! Ya ampun! Padahal tadi aku cuma iseng karena nggak
mungkin...."
"Ssst... Pelanin dikit suaranya," sergah Priyayi seraya menutup mulut Yasmin dengan tangannya
untuk meredam reaksi heboh temannya itu.

"Katamu ini bukan keinginan kalian, tapi kok bisa begitu?" celetuk Yasmin yang membuat muka
Priyayi terasa panas.

Semula Priyayi memang menyensor adegan kepergok tidur bersama Yasmin. Ia hanya bercerita
kakek dan ortunya akhirnya tahu Jagad numpang di rumahnya dan sudah dianggap berhubungan
serius. Namun berhubung keceplosan, ya apa boleh buat, Yasmin jadi tahu deh.
"Aku dan Jagad sama-sama mabuk sepulang dari tempat Mala. Waktu itu kami sama-sama ada
masalah. Kakek shock, mogok makan. Mogok minum obat hingga terkapar begitu. Makanya
harus segera direalisakan, takut keadaan Kakek makin buruk."
Yasmin bengong. Priyayi jadi tambah malu dengan reaksi sahabatnya yang kayaknya shock
juga.
"Itu jawaban how-nya....." celetuk Yasmin mengambil kesimpulan.

"Aku sebenarnya malu banget harus cerita ini ke kamu, Yas....."
"Oke, tenang, i won't tell anyone," sahut Yasmin menenangkan. "Aku bersedia kok jadi organizer
kawinanmu."

Mata Priyayi berbinar. "Makasih, Yas! Kamu tahu aja keadaanku. Aku lagi pusing bikin acara
peresmian lapangan basket yang baru, masih harus ditambah skandal ini, hhh...." Priyayi
memeluk Yasmin. "Aku nggak akan ngelupain jasamu yang satu ini, suer!"
"Umm.... Jadi kamu ngelupain jasa-jasamu yang lain, begitu?" seloroh Yasmin manyun. Priyayi
menyeringai.
"Entah kenapa kalau soal itu, tiba-tiba aku terserang amnesia," gurau Priyayi. " You're the best."
"Huh, ngerayu," celetuk Yasmin kemudian bertanya penasaran.
"Jadi, kalian putus dengan pacar masing-masing? Gimana reaksi Jimmy?"
Seketika raut muka Priyayi berubah muram.












part* 23

Simpang jalan, ada kesempatan

Makan nggak enak, tidur nggak ngenyak. Hmm.... Itu tanda orang jatuh cinta apa patah hati, ya?
Yang jelas gejala itu sedang menghinggapi Jimmy yang menderita patah hati hafal. Semua
terasa nggak berkenan. Bawaanya uring-uringan atau sebaliknya, sendu berat. Bianca yang
kemunculannya kembali sempat membuat "goyah'', sekarang nggak memberikan rasa apa-apa
lagi, padahal mantannya itu menambah porsi curahan perhatian dan materi. Mungkin karena
Jimmy sekarang ambruk, jadi nggak perlu goyah lagi.

Jimmy melajukan mobilnya keluar dari parkiran kantor. Jam kerja belum berakhir, laporan juga
belum selesai, tapi Jimmy memutuskan cabut dari kantor. Suntuk tak tertahankan. Biasanya jam
segini, kalau dia lagi berada di depan komputer, dia pasti ber-SMS ria dengan Priyayi untuk
menghilangkan kejenuhan.
Hhuuaahh... Jimmy menyalakan batang rokoknya yang kesekian. Tak berapa lama pikirannya
kembali melayang menjauhi jalanan aspal tempat dia sekarang berada.
Tiba-tiba satu gerakan cepat tepat di depannya tanpa jarak. Jimmy terkesiat kaget. Untung
refleks kaki di atas pedal rem sangat bagus, hingga moncong mobilnya hanya menyentuh badan
orang itu tanpa membuatnya jatuh. Untungnya juga, di belakang mobilnya nggak ada kendaraan
lain. Jimmy dengan sigap keluar dari mobilnya untuk memaki-maki orang yang berdiri kaku
menenangkan jantungnya, tak kalah kaget.
"Jagad....?"
Makian yang siap untuk disemburkan tertelan kembali ke alamnya begitu Jimmy tahu siapa orang
itu.
Jagad juga sama kagetya. "Lho, Jimmy....?"
"Ngapain berlari-lari di tengah jalan? Ceroboh banget?" cecar Jimmy, mengangkat kedua tangan
dengan telapak menghadap ke atas. Ujung alis kiri dan kanannya udah jadi satu!

"Sori-sori! Aku harus ke tempat kejadian secepatnya...."
"Tempat kejadian?" sela Jimmy cepat. Yang terlintas di benaknya adalah Priyayi. Karena tiap
melihat Jagad, yang terkoneksi di otaknya adalah sosok Priyayi.

"Anak didikku dikeroyok preman di ujung jalan sana!"
"Oh." Jimmy gagu sesaat, kemudian berinisiatif, "Ayo kuantar."
Mereka bergegas nail mobil.
"Dia lagi jalan ke tempat sembari kepalanya celingukan mengawasi sepanjang jalan. "Nah, itu
dia!"

Sampai di tempat kejadian, hanya ada seorang bocah lelaki tersungkur babak belur. Entah
berapa preman yang menghajarnya. Dari kepalanya keluar banyak darah.
"Coba aku datang lebih awal....," gumam Jagad sedih sambil meraih tubuh bocah itu. Jimmy
diam tak berkedip.
"Kita harus ke rumah sakit," ujar Jagad seraya melepas jaketnya untuk menekan perdarahan di
kepala. Bocah itu dalam keadaan setengah sadar, matanya sangat redup, mungkin sebentar lagi
pingsan. Berdua mereka membopong bocah itu ke dalam mobil dan membawanya ke rumah
sakit. Kaus yang dikenakan Jagad terkena noda darah. Begitu juga dengan kemeja Jimmy.

"Dia masih anak-anak, masih di bawah umur, kerja di jalanan yang hasilnya nggak seberapa, eh
duitnya dikompas pemalas-pemalas yang nggak punya motivasi hidup secara benar," kata Jagad
dengan geram.

"Dia pintar matematika. Dia tadi pasti dalam perjalanan ke tempat belajar kami," gumam Jagad
sewaktu menunggu dokter memeriksa dan mengobati anak tersebut. Dia pangkuan Jagad ada
buku lecek milik si bocah.
Jagad menoleh ke arah Jimmy. "Terima kasih atas bantuannya. Kamu nggak perlu menunggu di
sini, bisa kutangani sendiri."
"Nggak apa-apa. Kalian butuh tumpangan untuk pulang."
"Sekali lagi, terima kasih banyak."
Mereka kemudian diam, meredakan lelah.
"Jimmy...."
Jimmy menoleh mendengar namanya dipanggil.
"Maaf....," sambung Jagad.
"Maaf?"
"Iya. Untuk semua kekacauan yang terjadi. Kamu dan Yayi."
"Oh." Jimmy termangu sesaat. Kemudian menimpali, "Sori, aku nggak bisa maafin."
"Yaah, aku tahu," sahut Jagad lemah. "Yayi dan aku sepakat untuk tetap hidup masing-masing."
Jimmy menatap Jagad, terkejut. "Apa kamu bilang?"
"Yayi belum bilang?"

Jimmy menggeleng kepala.
Jagad menjelaskan lebih lanjut, "Aku tetap menghuni kamar belakang, seperti dulu. Hubungan
kami nggak berubah, tetap berteman."
"Tetap saja, kan? Kamu dulu juga di kamar yang berbeda, tapi kalian tidur bersama," seloroh
Jimmy sinis.
"Itu kesalahan. Aku nggak akan membiarkan diriku mabuk di rumah Yayi lagi. Lain kali lebih baik
aku tidur di jalan," tutur Jagad dengan nada sungguh-sungguh. "Dia mencintaimu sampai detik
ini. Dia sedang kalut sekarang. Hanya kamu yang bisa menyentuh hatinya, Jim...."

Malam, keputusan hati

Tok, tok.
Priyayi yang baru saja menutup pintu, membukanya kembali. Ia terperanjat Jimmy didepannya
dengan kemeja terkena darah.
"Jimmy! Kamu berdarah! Ya ampun!" Priyayi memegang erat tubuh Jimmy panik.
"Oh, bukan, bukan! Ini darah orang....."
Seketika Priyayi menghentikan segala gerakan. "Apa maksudmu?! Kamu.....?" wajah Priyayi
tegang.
"Oke, biar kujelaskan, tapi biarkan aku masuk."
Jimmy menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Priyayi menghela napas panjang.
"Jadi Jagad nekat mendatangi preman-preman itu sendirian, tanpa ada bantuan, terus kalau dia
yang kepalanya bocor dikeroyok....?" Nada ucapan Priyayi perhatin. Aku kilatan cemburu pada
sorot mata Jimmy.
"Yi, Jagad bilang.... Kalian akan hidup sendiri-sendiri...."
"Oh, eh...., hmm.... Yaaa...." Priyayi tergagap. Dalam hati ia merutuk Jagad yang membuka
rahasia mereka.

"Hei, aku masih cukup pintar untuk nggak menceritakan ke orang lain," celetuk Jimmy membaca
kekhawatiran Priyayi.
Well, semoga Jagad juga lumayan pintar, celetuk Priyayi dalam hati. Ia menepuk-nepuk pipinya
pelan.
"Dia hanya ingin bilang bahwa di antara kalian memang nggak ada perasaan apa-apa," lanjut
Jimmy yang lantas menggeser posisinya hingga bisa meraih tangan Priyayi. "Aku memutuskan
akan tetap mempertahankanmu."

Priyayi terpana dengan yang baru saja didengarnya. "Apa....?" ia menatap mata Jimmy tak
berkedip.
"Aku ingin kamu tetap di sisiku...., paling nggak sampai aku siap untuk merelakan kamu pergi.
Beri aku waktu untuk mempersiapkan perasaanku, Yi."
Bibir Priyayi mengatup rapat, kemudian berkata lirih, "You have my time." Dipeluknya Jimmy.
Rasanya lega sekali.

Menyusuri jalan, lagi-lagi kejutan

"Waahh... Baju-bajunya sooo cute!" Yasmin berseru dengan mata membesar, dan seperti
gerakan refleks, dia membelokkan langkahnya memasuki butik yang terbentang di depan
matanya.
Beberapa langkah di belakangnya, Priyayi direpotkan antara membawa tas-tas belanjaan yang
lumayan berat dan harus menerima panggilan ponsel yang beruntun dia terima siang ini. Priyayi
meninggalkan urusan kantor gara-gara Yasmin memaksanya ikut dalam sebagian urusan
persiapan pernikahannya. Efeknya ia seperti sekarang, telepon dari kantor nggak putus-putus.

"Buat apa kau nyewa kamu kalau aku akhirnya harus ninggalin kerjaan di kantor?!" protes Priyayi
semula. Tapi dia nggak bisa berkutin lantaran Yasmin mengancam akan melepaskan bantuannta
begitu saja.
"Kamu yang rugi besar, aku nggak rugi apa-apa, weeek."
See, nggak bisa berkutik, kan?
Priyayi celingukan memutar arah tubuhnya hingga 360 derajat.
"Huu.... Uuh.... Hilang lagi itu anak, menjengkelkan," gerutu Priyayi.

Sejak tadi Yasmin selalu ngeloyor tanpa membritahu dulu kemana arahnya. Pas ia mau
menelepon Yasmin, matanya menangkap sosok temannya itu di dalam butik baju tidur, beberapa
langkah dari tempatnya berdiri. Yasmin berdiri menghadap ke arahnya sambil mengacung-
ngacungkan sehelai pakaian dari balik kaca. Priyayi menghela napad melepas kejengkelan,
lantas menuju ke arah temannya berada.
"Wiii... Lucu-lucu, Yi!" celoteh Yasmin dengan tampang gemas mematut-matut beberapa model
pakaian.
Priyayi menanggapi datar. "Iya, lucu, tapi ini nggak masuk agenda hari ini."
"Aaah... Kamu kayak sekretaris aja! Ayo, di sebelah sana ada yang sosok untukmu. "Yasmin
menyeret Priyayi dan menunjukkan dua model baju tidur dengan warna dan motif sama.
Berwarna biru langit dengan motif awan putih. Satu model untuk cowok, satunya lagi untuk
cewek.
"Nah, ini cocok untuk kalian berdua. Kelihatan kompak, tidur seranjang dengan motif sama,
hihihi.....," tukas Yasmin penuh semangat. Priyayi melirik nggak tertarik.
"Kamu beli dong, Yi, bagus nih!" desak Yasmin seraya merangkul Priyayi.
"Iiih, Yasmin, kami bukan pasangan. Nggak ada lagi acara tidur seranjang, tahu!" sahut Priyayi
mulai jengkel lagi. Mau tak mau ia jadi membuka rencana rahasianya. Dengan merendahkan
suara ia menambahkan, "Aku dan jagad nggak bisa jadi pasangan sungguhan."

udah ah, capek plus ngantuk. Hoah... Besok aja di lnjt.
part* 24

Mendengar penuturan temannya barusan, Yasmin menunjukkan gejala shock. Gerakan tubuh,
kedipan mata, dan napasnya terhenti seketika.
"Jadi.... Jadi... Ini semua...." suara Yasmin mengambang.
Bruuukk....
"Yasmin!" pekik Priyayi melihat Tasmin terduduk lemas di lantai butik.
"Yas, kamu apa-apaan sih?" omel Priyayi sambil menarik lengan Yasmin untuk berdiri sebelum
orang-orang mengerubuti mereka. Malunya itu lho!
"Aku shock...."
"Iya, tapi berdiri dulu dong."
"Jadi selama ini aku dengan sungguh-sungguh jadi organizer acara yang ternyata nggak
sungguh-sungguh....?"
"Pestanya sungguhan kok. Buktinya kita sebar undangan ke teman-teman. Aku dan Jagad
sungguhan menandatangani surat-suratnya...."
Yasmin mengibaskan tangan. "Ahhh.... Sudahlah...." Ia lantas berdiri dan melenggang keluar
butik. Priyayi ditinggal begitu saja sambil geleng-geleng kepala.

Selama berjalan, Yasmin hanya diam. Priyayi jadi waswas, jangan-jangan Yasmin benar-benar
nggak mau lagi bantu aku. Melewati sebuah kafe, tanpa aba-aba Yasmin nyelonong masuk.
Priyayi tergagap sesaat, nggak habis pikir dengan tingkah Yasmin yang sampai segitunya.
"Oh Tuhan, bantulah aku. Mudahkanlah jalanku, jangan sampai temanku ini ngambek," gumam
Priyayi sebelum menyusul Yasmin masuk ke kafe.
Setelah duduk berhadapan dengan minuman masing-masing, Priyayi membuka suara. "Yas...."
Yasmin memotong, "Aku cuma kaget sebentar, jangan khawatir, aku akan selesaikan semua
urusan ini, tapi kamu ceritakan dulu semuanya. Semuanya. Nggak boleh ada rahasia lagi,
ngerti?"
Fiuuh... Thank god, batin Priyayi.
"Iya, iya. Tapi kamu harus simpan rapat-rapat," jawab Priyayi lantas mulai bercerita.
Selesai Priyayi bertutur, Yasmin geleng-geleng kepala. "Ini hal paling gila yang pernah kudengar
dan aku ikut terlibat di dalamnya....., kamu gila, Jagad gila, Jimmy juga gila....."
Priyayi mengedikkan bahu sambil menyeruput kopinya. "Demi hidup kakek, aku nekat apa aja,
Yas."
Yasmin memajukan badannya menopang pada meja. " Kalau kamu nggak sungguh-sungguh
dengan perkawinan ini, sebaiknya kamu buat semacam perjanjian terlebih dahulu dengan
Jagad."
Priyayi menyerngitkan dahi. "kami udah sama-sama sepakat mengenai segala sesuatunya."
"Maksudku perjanjian resmi, di atas materi, soal harta, hak dan kewajiban, terutama soal harta."
"Ah kamu.... Kebanyakan nonton film!"
"Ih kamu!" Yasmin menunjukkan wajah serius. "Kamu nggak tahu ke depannya kayak apa kan,
apa yang akan menimpa kamu. Perjanjian seperti itu mencegah segala kemungkinan yang bisa
membuatmu mengalami kerugian baik materi atau yang lainnya."
Priyayi menjauhkan wajahnya dengan ekspresi "nggak habis pikir.

"Percaya deh sama aku!" Tutur Yasmin berlanjut. "Tanteku itu pengacara, aku jadi lumayan tahu
soal begituan. Kalau nggak diatur dulu, kadang ada beberapa hal yang secara teknis akan jatuh
ke tangan pasangan.... Hati-hati itu, mengingat kalian bukan pasangan sungguhan, iya kan?"
Kerut-kerut di dahi Priyayi bertambah. Hmm.... Nggak ada ruginya dilakukuan, tapi Jagad nanti
tersinggung nggak, ya?

Makan malam, pasrah

"Sure. Kapan aku harus ke kantor pengacaramu?" sahut Jagad datar menanggapi rencana
Priyayi mengenai perjanjian bersama sebelum menikah.
"Ini sudah?" tanya Jagad menunjuk piring Priyayi. Priyayi mengamat-amati ekspresi Jagad,
apakah ada perasaan tersinggung tersirat di wajahnya.
"Heh?" ulang Jagad.
Priyayi tersadar. "Oh, biar kucuci sendiri."
"Biar aku aja, sekalian."
Malam ini Priyayi mengundang Jagad makan malam ke rumahnya khusus untuk membahas
masalah ini.
"Kamu nggak membahas isinya terlebih dahulu?" tanya Priyayi.
"Aku percaya kamu sajalah," jawab Jagad enteng sambil mencuci piring. Jagad sudah terbiasa
berlaku seperti rumah sendiri di rumah Priyayi.
"Gad, jujur aku nggak enak kalau kamu sepasrah itu. Ini menyangkut hidup dua orang, aku dan
kamu, bukan aku doang."
"Aku percaya yang kamu lakukan juga untuk kebaikanku, jadi santai aja."
"Gad, kamu merasa bersalah kan hingga kamu mau aja di perlakukan apa pun? C'mon, Gad, aku
nggak ingin kamu begitu. Ini bentuk tanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan, bukan
hukuman. Jadi berhenti bersikap kayak pesakitan gitu, please.....," tutur Priyayi menatap Jagad.
"Yi...."
"Kamu bilang aku bisa minta bantuanmu.... Jadi please...."
Jagad menghentikan cuci piringnya, mengelap tangan, menatap Priyayi sesaat, kemudian duduk
di depan gadis itu.
"Ayo kita bikin poin-poinnya."
Priyayi tersenyum dan menyodorkan kertasnya.
"Mulai dari nama? Soal double room, berhak menjalin hubungan dengan orang lain, atau
pembagian tugas beresin rumah?" cetus Jagad nyengir.
Priyayi meninju bahu Jagad pelan. "Yang serius dong!"
"Hmm... Apa ya... Oya, poin dariku gini, selama jadi suami aku nggak perlu bayar sewa kamar
dan semua utang dihapus...."
"Hhh.... Sudahlah, kapasitas otakmu memang terlalu kecil untuk membuat poin-poin yang lebih
bermutu....." gumam Priyayi pasrah.

Pertengahan minggu, melepaskan

Sebulan sudah Jimmy nggak bertemu Priyayi. Ini memang kemauan Jimmy sendiir. Bahkan ia
sudah pesan tiket ke Bali. Dia mau ngabisin waktu di Bali sampai acara besar Priyayi yang
menyedihkan hatinya itu berlalu. Tapi hari ini dia nggak tahan juga ingin bertemu Priyayi, karena
di samping kangen berat ke gadis itu, ada kemungkinan ini akan menjadi pertemuan terakhir.
Pertemuan terakhir?
Jimmy mengembuskan napas panjang. Pandangannya berulang kali diarahkan ke luar jendela
lounge, tepat di jalan orang masuk dan keluar lounge. Pikirannya kembali melayang. Ke Priyayi,
tentunya.

Selama absen menemui Priyayi, terjadi pergolakan di hati Jimmy. Antara rasa cinta dan
keinginan menyerah. Akhir-akhir ini keinginan menyerah itu yang menguasai pikirannya. Dan
malam ini, seminggu sebelum Priyayi mengubah statusnya di mata dunia, sehari sebelum ia
berangkat ke Bali, Jimmy merasa harus bertemu dengan gadis itu. Karena begitu kembali dari
Bali, Priyayi bukan orang yang sama lahi di matanya.
Mungkin aku memang harus mengakhiri semua ini. Jimmy berpikir keras, merasa sangat
bimbang.
"Hai." suara Priyayi memecah lamunan Jimmy. Jimmy tergagap sesaat, kemudian tersenyum dan
berdiri menyambut Priyayi.
"Aku kan sudah pesan untuk nggak dandan cantik," celetuk Jimmy.
"Aku udah nggak dandan kok," tampik Priyayi.
"Berarti kamu memang selalu cantik," timpal Jimmy seraya meraih Priyayi ke dalam pelukannya.
Priyayi tersenyum senang da membalas pelukan Jimmy erat. Jimmy mencium wajah Priyayi
sesaat setelah mereka duduk di sofa lounge.

"Sudah lama kita nggak ketemu, aku kangen," ucap Jimmy lirih. Mereka menjauh sejenak saat
waiter datang mencatat pesanan menu. Setelah waiter pergi, mereka kembali datang
membawakan makanan.
"Besok aku ke Bali," tukas Jimmy sementara kepala Priyayi terkulai di bahunya.
"Ya, aku tahu. Aku akan kehilangan kamu."
"Aku juga akan kehilangan kamu."
"Kamu mau kan kembali kepadaku?" tanya Priyayi, kepalanya mendongak hingga wajahnya dan
wajah Jimmy sangat dekat berhadapan. Jantung Jimmy berdebar. Pertanyaan Priyayi seakan-
akan memberi isyarat bahwa Priyayi juga merasakan kebimbangan Jimmy.
"Nggak perlu bertanya seperti itu...." elak Jimmy menghindari jawaban ya atau tidak.
Tiba-tiba Jimmy berdiri seraya menggaet tangan Priyayi.
"Ayo."
Priyayi melongo. "Lho...." belum sempat bertanya, Jimmy keburu menyeretnya keluar lounge.

"Kita akan jalan-jalan seharian ini, terserah mau ke mana aja," tukas Jimmy dengan
menggenggam erat tangan Priyayi.
"Bener nih?" tanya Priyayi kurang yakin, karena Jimmy bukan tipe orang yang betah ngabisin
waktu berjam-jam seharian dengan berjalan-jalan tanpa tujuan pasti.
Jimmy mengangguk mantap.
"Bener nih, terserah ke mana aja?"
"Iya, Nona! Sekarang Nona manis ingin ke mana?"
Priyayi mengajak cowok itu ke tempat yang dulu sering tidak mau disinggahi Jimmy. Priyayi
menantang Jimmy main boling, sampai pasang taruhan segala. Setelah bosan, Priyayi menyeret
Jimmy ke butik khusus pakaian pria.
"Aku ingin pilihin kamu baju...." Priyayi menuju rak aksesoris...." harus dipaduin ama ini." Priyayi
mengacungkan suspender. Jimmy menepuk dahinya. Oh tidak......
"Ayo di coba!" perintah Priyayi seraya menyeringai. Seumur-umur Jimmy nggak pernah
mengenakan yang namanya suspender meski benda itu jadi tren sepanjang masa sekalipun.
Jimmy bergeming. Priyayi mendorongnya dari belakang.
"Ayo, ini lagi tren lho. Kamu kan udah janji tadi terserah aku hari ini. Ayo, jalan grak!"

Jimmy menggerutu tapi nggak bisa berbuat apa-apa lagi. Priyayi bertepuk tangan begitu Jimmy
keluar dari kamar pas mengenakan baju dan aksesoris yang tadi dipilih Priyayi.
"Awesome! He's my man!" celetuk Priyayi pamer pada salesgirl yang ikut tersenyum.
Dada Jimmy bergemuruh melihat reaksi Priyayi. Yeah, l'm your man but next week you will marry
another man....
"Heh, bengong lagi! Ayo, kita bayar dan cabut lagi," ajak Priyayi menggandeng lengan Jimmy.
Melewari gamezone, Priyayi masuk. Jimmy lagi-lagi menggumam, "Oh tidak....."
"Aku haus, mau beli minum dulu. Kamu main aja sepuasnya," cetus Jimmy berusaha
menghindari desakan Priyayi untuk ikut main aneka game. Priyayi nggak terlalu menggubris
begitu perhatiannya tersedot pada war game yang ada di depannya.
"Angkay senjata, selamatkan dunia!" seru Priyayi `mengangkat senjata dan mulai menggempur
lawan`.
Jimmy tersenyum geli. Matanya tak lepas menatap Priyayi. Inilah alasan kenapa dia berinisiatif
untuk jalan-jalan. Hanya supaya dia bisa uas melihat Priyayi melakukan hal-hal yang disenangi
gadis itu. Belum tentu besok-besok ada hari seperti ini.

Langit sudah gelap kala mereka mengakhiri kebersamaan. Mereka kembali ke tempat mobil
Priyayi diparkir sedari siang tadi.
"Lain kali, kita luangkan waktu sehari sperti ini ya, terserah kamu ingin kemana," tukas Priyayi
sebelum naik ke mobilnya.
Sekali lagi dada Jimmy bergemuruh. Dia cuma tersenyum tipis karena nggak yakin apa akan ada
lain kali. Dan seandainya memang nggak ada lain kali, dia nggak akan mengatakannya
sekarang. Dia nggak ingin merusak akhir kebersamaan hari ini.
"Jim...." panggil Priyayi dari balik kemudi sesaat setelah dia menghidupkan mesin mobil. "we'll be
fine."
Jimmy mengecup kening Priyayi melewati jendela mobil yang terbuka lebar. "Hati-hati."
"Kamu juga. Kalau sudah balik ke Jakarta, langsung telepon aku, oke."
Setelah Priyayi berlalu, Jimmy mengepalkan tangannya keras dan menyepakkan kaki kanannya
ke udara. Mengakhiri kebersamaan dengan indah seperti tadi ternyata bikin dia makin sulit
melepaskan Priyayi.
"Sial."
















part *25

Lokasi syuting, kesiangan

"Sori Ma, sori..." Priyayi nyamperin mamanya yang lagi break. Mamanya melengos, masih tidak
menerima dirinya harus naik taksi membawa tas besar sendirian ke lokasi pagi-pagi sekali.
Sebagai catatan penting, di mama memang paranoid bepergian sendirian.
"Kalau keberatan, bilang dong dari awal! Masa Mama naik taksi sendirian, jalanan masih sangat
sepi. Kamu membiarkan mamamu ini ketakutan!
Umm... Mulai deh... Bahasa sinetron, celetuk Priyayi dalam hati mengomentari ekspresi dan tutur
kata Mama.
"Restu atau Papa nggak ada yang bisa nganterin?" Priyayi duduk sambil mengipas-ngipasi
dirinya dengan lembaran naskah milik mamanya.
"Kakakmu nggak pulang, papamu nggak enak badan, takut sakitnya tambah parah kalau harus
nyetir dengan jarak sejauh ini. Lagi pula itu tugasmu kan, kenapa harus suruh orang lain?
Heran!"

Priyayi meringis kecut. "Kan dalam kondisi darurat, Ma."
"Tadi sempat kepikiran nyamperin kamu di rumah, tapu rutenya jadi putar balik....," lanjut Mama
masih dengan nada pedas.
Dalam hati, Priyayi mengucap syukur karena mamanya urung "inspeksi mendadak" ke rumah.
Apa jadinya kalau dia langsung menyeruak masuk dan tahu dirinya tidur di mana, Jagad tidur di
mana....
"Kweni nggak kasih tahu jam berapa Mama berangkat, kupikir yaa... Pagi standar gitu...."
Mama mencibir. "Pagi standar? Standar nasional gitu? Mengada-ada! Sejak kapan kerja beginian
ada waktu standar?!"

Priyayi yang sudah kepanasan kian gerah diomeli. Ia berdiri. "Ih, Mama! Hargai dong niatky
membantu Kweni, membantu Mama. Aku udah berusaha menebus kesalahan dengan langsung
kemari tanpa sempat dandan, ngisi perut, nggak ngantor...." dahi Priyayi berkerut-kerut.
Kemudian ia ngeloyor pergi.
"Mau ke mana?" seru Mama.
"Cari kopi. Pusing!"
Setelah berhasil menyeduh kopi paginya yang diteguk siang ini, kepala Priyayi nggak tegang lagi,
tapi kelopak mata tetap saja minta menutup. Maklum, begadang menyelesaikan kerjaan karena
minggu ini banyak nggak ngantor.
Seseorang berdeham di dekatnya. "Ckckck.... Pengantin baru auranya gelap sekali! Ada apa
gerangan?" sapa Minel, penata rias yang sering bekerja untuk sinetron buatan rumah produksi
milik teman mamanya ini, yang juga menjadi teman baik Kweni. Dan Priyayi nggak perlu waktu
lama untuk berakrab-akrab dengannya.

Priyayi mengarahkan kepalanya ke mamanya sambil menyambar roti isi coklat yang disodori
Minel.
"Omong-omong soal aura gelap, mamamu juga begitu sewaktu tiba tadi. Lebih gelap, pake petir
segala."
"Hahaha...." Priyayi tergelak.
Minel nerusin cerocosnya, "Padahal mamamu itu seharusnya tahu, wajar aja kan kalau pengantin
baru nggak bisa pergi pagi-pagi buta, nggak relaa... Hehe..." Minel mengerlingkan mata kirinya
sambil menyeringai penuh arti, menyenggol lengan Priyayi. Yang disenggol ikut menyeringai
dengan arti yang berbeda.
"Tahu tuh Mama, bawaannya ngajak berantem melulu, gerah kan," gerutu Priyayi.

Sang Mama masih memendam perasaan jengkel, kecewa, nggak puas, bahkan mungkin sakit
hati, dengan anak perempuannya itu menyangkut perhelatan penikahan kapan lalu itu. Beliau
merasa tidak "diorangtuakan," tidak "dinamakan", sedangkan Priyayi merasa mamanya terlalu
berlebihan hingga mengalihkan urusan kepada Yasmin, Rani dan dirinya sendiri.
"Omong-omong soal gerah, aku juga gerah ke kamu. Teganya kawin nggak undang-undang!"
ujar Minel dengan tampanga cemberut.
"Eit, kan udah ada undang-undang, undang-undang perkawinan, hihihi...,"seloroh Priyayi.
Minel mencibir."Mengundang diriku, bo!"
"Kamu dulu juga nggak mengundangku."
"Yeee... Kita kan belum kenal waktu itu, gimana seehh!" sahut Minel.
Priyayi meringis. "Sori, teman, budget terbatas..."
Minel menepuk keras paha Priyayi kemudian menyahut sengit. "Ih, bohong banget sih kamu!
Orang kaya macam kalian, menyebar ribuan undangan nggak akan memengaruhi finansial!"

"Ya udah kalau nggak percaya," balas Priyayi sambil mengusap-usap pahannya bekas dipukul
Minel. Obrolan mereka terinterupsi telepon masuk di ponsel Priyayi. Urusan kantor.
"Nek, lihat dong foto suamimu," pinta Minel saat Priyayi menutup flip ponselnya.
"Foto?" Priyayi gelapan. "Eeengg.... Nggak ada..."
"Hah? Di dompet, di ponsel, nggak punya foto pasangan sendiri? Aneh..." celetuk Minel nggak
percaya.

Priyayi mengacak-acak pelan rambutnya, keki. Yang ada di ponselnya adalah foto Jimmy,
disimpan di salah satu folder ponselnya. Nggak pernah terlintas menyimpan foto Jagad...., nggak
terbayang deh!
"Ya ampyun....! Kamu juga nggak pake cincin kawin!" kritik Minel berlanjut. Priyayi
mengacungkan jari-jari tangan kirinya.
"Kok di tangan kiri sih?"
"Di film-film barat pakainya di sebelah kiri..."
Lagi-lagi Minel menepuk paha Priyayi. "Halooo?! Kamu nggak lagi tinggal di Barat sono!"
"Udah deh, Nek! Dari tadi cuma dikritik kanan-kiri, betehhh!" protes Priyayi, hendak beranjak dari
duduknya. Minel keburu menahannya.
"Jangan ngambek begitu. Ayo cerita dong soal kehidupan baru kalian. Pasti banyak kejutan,
karena pacarannya aja orang-orang pada nggak tahu, tahu-tahu kawin...."
"Nggak ada," jawab Priyayi spontan.
"Hah, nggak? Biasanya bulan-bulan pertama banyak hal yang nggak terduga dari pasangan...."
Priyayi mengangkat bahu dan berjar datar. "Nggak ada. Udah biasa..."
"Hah? Udah biasanya gimana?!" Minel makin penasaran. Priyayi baru sadat kalau dirinya terlalu
jujur menjawab.
"Eeengg... Iya... Udah biasa... Nggak saling ngejutin gitu...." imbuh Priyayi ngawur.
"???"
Tangan Priyayi makin kencang berkipas ria. Gerah..... Malam, tetap gerah

Sampai di depan rumah orangtuanya, Priyayi hendak melepas sabuk pengaman, namun
mamanya segera mencegah.
"Nggak perlu. Mama bisa bawa tasnya."
"Nggak apa-apa, sekalian aku masuk ke dalam..."
"Jam segini mau berdatangan?!" hardik Mama. Priyayi melirik jam digital di dashboard mobilnya.
Masih kam sembilan kok....
Aku kan mau bertemu keluargaku, menjenguk Papa, kakek..."
"Mereka sudah tidur, percuma." Mama bertutur gemas. "Kamu sudah jadi istri orang, jangan
pulang mam kalau nggak ada kepentingan! Apa kata suamimu nanti?!"
Priyayi melongo, bibirnya membentuk huruf O. Ooo... Itu masalahnya.
"Pake bengong pula, sana pulang!" cecar Mama. Priyayi mengangkat tangan, menyerah dengan
kejutekan mamanya seharian ini.
Sambil menyetir, Priyayi memasang hands-free dan menelpon papanya.
"Pa, istrimu sentimen sekaleee ke aku." Priyayi membuka sesi curhat via telepon. Papa tergelak.
Priyayi menyambung. "Dari zaman kapan itu, jengkelnya ke aku nggak abis-abis. Dia masih sakit
hati, ya?"
"Mamamu nggak pernah sakit hati. Dia cuma kesal kamu nggak jemput dia tadi..."
"Tapi masa sampai melarangku masuk rumah! Aku kan ingin menjenguk Papa. Katanya lagi
sakit!"
"Papa nggak apa-apa. Yi. Mamamu cuma merasa nggak enak sama Jagad kalau kamu pulang
terlalu malam.
Priyayi cemberut. "ih, Papa sama aja deh. Pa, bilangin ke istrimu supaya jangan galak-galak ke
anak cewek satu-satunya, oke."

Papa lagi-lagi tergelak, kemudian menyahut dengan suara lebih pelan. "Mamamu lagi mendelik
ke Papa, Papa nggak berani; Yi...." keduanya terkiki.
"Papa payah, sudah lama hidup bareng belum bisa menjinakkan beliau, hihi...."
"Udah sampai di rumah?!" suara Mama tiba-tiba menyerbu pendengaran Priyayi. Bulu kuduknya
seketika berdiri. Ups... Mendapat telepon, ingat "posisi"

Jagad baru saja keluar dari kamar mandi saat ponselnya berbunyi. Lintang calling.
"Kak, weekend ini aku ama Sita ke Jakarta, band-nya pacarku ikut main di ajang Alternative
Alive, nanti nginap di rumahmu ya. Kak Jagad nggak ke mana-mana, kan?"
Jagad agak bimbang. "Emmm... Coa nanti aku ngomong ke Yayi...."
"Kalau Kak Yayi sibuk, nggak apa-apa, yang penting Kak Jagad nggak."
"Eengg.... Bukan itu. Ini kan rumahnya, jadi lebih baik kalau ngomong dulu."
"Kak Jagad kan suaminya, apa perlu bilang dulu?" ada nada heran dalam pertanyaan Lintang.
Jagad terdiam sebelum akhirnya menjawab. "Nanti aku telepon."
"Emang Kak Yayi udah tidur?"
"Eee... I... Ya."
Tepat saat itu, suara mobil Priyayi terdengar masuk carport.
"Nah itu dia datang!"
"Lho, katanya tadi tidur?"
Jagad menepuk jidatnya. Tolol, keceplosan! Umpatnya dalam hati.
"Iyaa... Tadi udah tidur. Aku telepon lagi nanti." Jagad buru-buru menutup ponsel,
menyelamatkan diri investigasi adiknya.

Jagad ke depan membukakan pintu. Priyayi agak kaget melihat Jagad hanya mengenakan
celana boxer malam-malam begini dan "berkeliaran" di dalam rumah. Apalagi dengan rambut
basah begitu.....
"Yi, barusan adikku telepon, weekend ini dia ama sepupuku mau nginap di sini, boleh nggak?"
Jagad membuntuti Priyayi yang berjalan ke pantry untuk mengambil es krim.
?
"Ya bolehlah. Kalau perlu dijemput, pake aja mobilku."
"Makasih, Yi," sahut Jagad lega. Eh, bukannya di bangku pantry untuk menyendok es krim
langsung dari wadahnya, bergantian dengan Priyayi. Perut cowok itu jadi membentuk kotak otot.
Hmm... Gerahnya Priyayi jadi nggak berkurang meski sudah mengonsumsi es krim!

Kamu nggak pake baju begitu untuk merayuku agar mengabulkan permintaanmu, ha?" Priyayi
menyeletuk iseng.
"Berhasil kan dengan pesona dalamku ini..." balas Jagad.
"Awa, aku bisa melihat pipimu memerah...." sambungnya, mendekatkan wajahnya ke arah
Priyayi dan menyeringai nakal.
"Huh, sok keren!" sahut Priyayi sambil melemparkan serbet ke muka Jagad, agak salah tingkah.
"Oya, Yi, pas sodara-sodaraku datang, sebaiknya aku.... Emm... Gabung di kamarmu... Tahu
kan...., supaya mereka nggak...."
"He-eh," sela Priyayi. "Besok pindahin barang harianmu ke kamarku."

Besok setting baru harus disiapkan. Peran yang lain harus dimainkan.
"Oya, tunggu sebentar....,"Tukas Jagad lalu bangkit dari duduknya, berjalan menuju kamarnya.
Dua menit kemudian dia balik ke hadapan Priyayi.
"Nih, Jagad menyodorkan sejumlah uang kepada Priyayi.
"Uang sewa kamar...."
Priyayi tidak langsung menyambar seperti biasanya.
"Hubungan kita seperti biasa, kan?" tambah Jagad.
"Eee..." Priyayi masih ragu-ragu. Tapi pikir punya pikir... Iya, seperti biasa. Nggak ada yang
berubah untuk yang satu ini. Eropa masih akan menunggunya. Priyayi pun menerima uang
tersebut sembari say thank you.
"Oya satu lagi, Yi, kemarin Mama kasih saran...."
Wajah Priyayi berubah serius, menyimak baik-baik. "Apa sarannya?"
"Lebih baik kalau kita, eh maksudku kamu, pasang saluran telepon rumah."
Priyayi beralih duduk di sofa. " kan udah ada HP...."
"Iya sih, tapi telepon rumah pulsanya jauh lebih murah."
"Nggak masalah sih, cuma ngurus tetek bengeknya itu lho... Malasss...."
"Oh, biar aku aja yang handle, pokonya kamu setuju."
"Duitnya perlu kusiapin sekarang?" tanya Priyayi.
"Oh, nggak, biar aku aja," sergah Jagad dengan tangan kanan melambai mengisyaratkan
menolak.
"Nggak dong. Aku kan yang tinggal di sini terus, kalau kamu udah nggak di sini, salurannya
nggak bisa ikut dibawa kan..., biar aku aja yang nanggung, kamu yang urus, oke buddy," sahut
Priyayi kemudian berjalan masuk kamar.
Duk! Hati Jagad serasa disukit mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan Priyayi. Kalau kamu
udah nggak di sini....
Ditariknya napas dalam-dalam. "Inget posisi, Gad, inget....." pesannya pada diri sendiri. Peran
tuan rumah, mengejutkan

"Sukanya musik apa? Rock, pop, jazz, top 40?" tanya Priyayi kepada para saudara ipat di dalam
mobil saat hendak menentukan tempat hang-out mereka malam ini.
"Alternative dong," jawab Lintang lantang.
"Huuu... Ngikut pacaaar! Kalau pacarnya ganti, selera musiknya ganti!" ledek Sita. Lintang
menyentil kepala sepupunya gemas.
"Yang biasa di datangi KakYayi deh," imbuh Sita antusias. Sekadar menyegarkan ingatan, Sita
adalah sepupu Jagad yang masih ABG, yang menemani dan mendampingi Priyayi sewaktu
acara di kediaman orangtua Jagad.
"Sita ngefans kamu, Yi," ujar Jagad berbisik. Priyayi tersenyum geli.
"Katanya gayamu cool abis. Lihat aja potongan rambutnya, maksudku sih menirumu tapi nggak
sukses karena dia keriting..." sambung Jagad menyeringai lebar. Priyayi menoleh kearah Sita
dan ikutan menyeringai geli.
"Hayooo.... Ngomongin aku ya!" seloroh Sita.

Priyayi tiba-tiba punya ide. "Hei, mau nggak ke butik langgananku? Di sana model bajunya cool
abis. Cocok buat Sita."
Sita ragu-ragu menjawab. "Eengg... Mau banget sih, tapi.... Pasti mahal-mahal ya, Kak....?"
Priyayi tersenyum. "Karena Sita belum bisa cari duit sendiri, aku dispensasi deh."
Mata Sita membesar. "Maksudnya... Gratisan?!"
Priyayi mengangguk. Sita bertepuk tangan.
"Huh, dasar kecil-kecil matre, maunya gratisan," olok Lintang mencibir. Sita balas mencibir.

Tepat saat Priyayi menginstrupsikan Jagad untuk mampir ke plaza tempat butik langganan
Priyayi berada___ yang punya butik adalah sahabat mama Priyayi, jadi namanya dan mamanya
masuk dalam daftar pelanggan yang memperoleh diskon___ponsel Priyayi berbunyi. Ia merogoh
tas jinjingnya. Sally calling.
"Nek, besok malam kita ngadain Malam Drama di apartemen Mala."

Yang dimaksud Malam Drama adalah berkumpulnya para cewek di rumah salah satu dari
mereka untuk menonton DvD film-film drama sampai muntah, baik itu drama komedi romantis,
thriller, maupun tragedi. Meskipun sudah muntah, besok-besoknya tetap aja diulangi nggak
pernah kapok, hehe....
"Apa temannya?"
"Hollywood. Sandra Bullock."
"Wah, bagus tuh!"
Ups. Priyayi baru ingat, ia harus berperan sebagai pasangan baru yang tak terpisahkan.
"Emm... Tapi nggak janji deh, Sal, aku lagi kedatangan saudara Jagad di rumah..." Priyayi
memelankan suara, namun masih tertangkap kuping Jagad.

Saat berjalan dari basement parkir menuju ke dalam gedung plaza, Jagad berujar lirih ke
Priyayi," kalau besok ada acara, aku sendiri bisa antar mereka kok."
"Ah, nggak enak dilihat mereka kalau aku keluyuran sendirian," sahut Priyayi lantas lebih
mendekat ke telinga Jagad. "Bahaya kalau mereka kasih laporan pandangan mata ke ortumu,
kita pergi main sendiri-sendiri."
"Dasar!" timpal Jagad nyengir. "Rapi banget kamu bermain...."

Priyayi ikut nyengir sembari mengedipkan sebelah matanya.
Sampai di dalam, Jagad mutusin untuk melihat-melihat pameran tour and travel yang sedang
digelar di atrium depan plaza, sementara Priyayi menggiring "tamu-tamu ABG" berbelanja sesuai
yang ia janjikan.
Semua agen perjalanan yang mengisi pameran itu berlomba-lomba menawarkan paket dengan
harga menarik. Jagad bukannya mau bepergian atau berlibur, tapi tour and travel
mengingatkannya akan seseorang yang sangat berarti.
Ya, Syamila. Gadis itu bekerja paro waktu di agen perjalanan. Kakak perempuannya yang tinggal
berdua bersamanya adalah tour guide di agen tersebut dan berhasil mereferensikan adiknya
mengisi posisi front desk.

Sambil berjalan pelan mengitari stan, Jagad mengenang masa-sama dulu dia mengantar jemput
Syamila dari kampus-kantor-rumah. Urutan perjalanan bisa berubah-ubah tergantung jadwal.
Dan di sela-sela tiga tujuan itu, mereka berdua kerap mampir untuk makan bersama atau
sekadar jalan-jalan. Sederhana memang, tapi waktu itu jagad merasa bahagia.
Lolita Fun Tour dan Travel.
Ini dia. Jagad berhenti di depan stan tersebut. Seorang pegawai sedang melayani pertanyaan
dua orang pengunjung. Dua orang lainnya berdiri melihat-lihat brosur.
Bukan Syamila. Terselip rasa kecewa di benak Jagad karena sebetulnya dia ingin banget melihat
Syamila. Semenjak putus, Syamila menolak dihubungi.

Apa dia sudah berhenti dari tempat ini? Jagad penasaran hendak bertanya kepada pegawai
tersebut. Tapi jagad mengurungkan rasa penasarannya, lalu membalikkan badan untuk
melangkah pergi. Saat itulah Jagad tepat berhadapan dengan Syamila yang belum menyadari
keberadaannya karena berjalan menunduk merapikan gulungan lengan kemejanya.
"Eh..." Syamila hampir menabrak orang yang ada di hadapannya. Ia mendongak dan....
"Hai," sapa Jagad mengangkat telapak tangan kanannya.
Syamila disergap kebengongan yang nggak bisa disembunyikan. Tuhan mewujudkan keinginan
terpendammu, Mim, batin Syamila.
Now what, Mil...?
"Lama nggak bertemu," ujar Jagad memecahkan kebekuan.
Syamila tetap terdiam.
"Lagi tugas?"
Syamila mengangguk. Oke, kuasai dirimu, dorong Syamila pada dirinya sendiri.
"Mau berlibur?" tanya Syamila. Dia merasa gugup dan jantungnya berdegup kencang, sialan.....
"Oh, nggak. Lagi nganter adikki jalan-jalan."
"Mana saudaranya?" Syamila melemparkan pandangan ke sekeliling. Lumayan sebagai dalih
dari keharusan memerhatikan Jagad.
"Oh, eee... Lagi di butik... Emm...." Jagad nggak tahu nama butiknya.".... Di lantai ini juga kok."
"Kok ditinggal, nanti kesasar lagi...." Ucapan halus Syamila untuk mengusir Jagad karena ia
nggak tahan ditatap Jagad senanar ini lebih lama lagi.
"Nggak sendiri, ada Yay... Eee... Yaa... Sama temanku juga," sahut Jagas hampir keceplosan
mengatakan ' Yayi.'
"Aku harus kerja, maaf..."
Jagad mengangguk, begitu Syamila membalikkan badan, jagad memanggil. "Mil...."
Syamila menoleh. "Iya?"
"Senang bisa melihatmu lagi. Aku...."
"Maaf, aku benar-benar harus kerja sekarang. Met jalan-jalan," potong Syamila mengakhiri
pembicaraan dan bergegas kembali ke mejanya, menyibukkan diri dengan pengunjung. Tapi
matanya mengikuti Jagad sampai cowok itu tidak tampak lagi. Syamila mengembuskan napas
panjang seraya mengempaskan punggungnya di sandaran kursi. Rasa rindu dan sakitnya makin
bertambah. Duh.... Malam, mengatur posisi

Pulang dari jalan-jalan, Priyayi mengatur posisi.
"Ini kamar kalian. Tempat tidurnya muat sih untuk dua orang tapi agak mepet." ucap Priyayi di
kamar belakang kepada kedua tamunya di akhir malam.
"Kalau mau longgar, salah satu tidur di kamar depan sama Yayi, aku tidur di sofa," timpal Jagad.
Priyayi melirik ke arah Jagad.
"Nggak usah," sergah Lintang cepat. "Kita di sini aja. Kita nggak mau mengganggu....,"
tambahnya sembari nyengir. Sita terkikik. Priyayi dan Jagad saling melirik dengan arti tersendiri.
Jagad dan Lintang ngobrol di ruang tengah untuk beberapa lama. Sita langsung terlelap begitu
mencium bantal. Priyayi rebahan di kamar. Untuk dua malam ini, dia meliburkan kostum tidurnya
yang berkonsep minimalis. Kayaknya baru terlelap sebentar, ada yang mengetuk pintu
kamarnya. Hah, sudah pagi, ya? Cepet amat, gumam Priyayi dalam hati.
Jagad menggaruk-garuk kepala begitu Priyayi membuka pintu.
"Aku nggak bisa masuk, pintunya dikunci...."
Ups. Priyayi nyengir menyadari kealpaannya." sori...."
Jagad menyeletuk iseng sambil melangkah masuk dan menutup pintu kamar. "Apa kata lapotan
pandangan mata, seorang istri mengunci kamar hingga suaminya dibiarin terlunta-lunta tidur di
luar?"

Priyayi ngakak seraya melempar bantal ke arah Jagad. Is lantas meloncat kembali ke atas
tempat tidur, narik selimut dan meringkuk coba mengabaikan keberadaan Jagad. Sedangkan
Jagad, merebahkan badannya di tempat tidur itu membuat otaknya, memorinya, perasaannya
otomatis berputar mengenai awal mulai ia berada dalam lingkaran hidup yang sekarang dijalani.
Di tempat tidur inilah TKP-nya. Tempat Kejadian Perkara.
"Yi, kayaknya kita, eh, aku harus kasur lipat," ujar Jagad.
"Hemm.... Setuju banget," timpal Priyayi singkat. Dia berkonsentrasi untuk menghipnotis dirinya
tertidur sesegera mungkin.

Sementara itu Jagad masih setia dengan pikirannya yang berkecamuk. Syamila mau di ajak
bicara tadi...., apa dia sudah bersedia kalau aku menghubunginya, ya? Tapi.... Bisa jadi itu cuma
basa-basi..... Hhh....
Jagad mengubah posisi badannya, menghadap Priyayi yang memungginya. Dia menggeser
badannya menjauh hingga benar-benar berada di pinggir tempat tidur. Matanya menerawang.
Hhh... Nggak gampang harus seranjang dengan cewek seperti begini. Andai dulu bisa
mengendalikan diri, nggak sampai "kehilangan kesadaran", nggak berbuat macam-macam....
"Gad...."
Jagad terkesiap kaget dan secepat mungkin membalikkan badan, takut kepergok....
BRUUKK!
Hah! Mata Priyayi seketika membuka dan....
"Jagad!" Priyayi menegakkan punggungnya. Kepala Jagad nongol dari pinggir bawah tempat
tidur, meringis. Priyayi nggak bisa menahan tawa.
"Hahaha... Kok bisa jatuh sih, dodol.... Hahaha!"
Jagad kembali naik ke tempat tidur, duduk bersandar sambil meringis.
"Enak nggak?" tanya Priyayi kemudian....
"Sialan, bukannya tanya sakit nggak....," protes Jagad bersungut-sungut.
"Hehehe.... Abis kasur gede begini, bisa-bisanya jatuh..."
Jagad meringis tengsin. "Heh, tadi kukira sudah tidur, ternyata masih manggil, aku jadi kaget,
tahu.....

Priyayi ikut menyandarkan punggungnya. "Hhh... Nggak bisa tidur nih. Rasanya aneh aja...., dulu
kita di sini dan berakhir.... You know...., rasanya kita ingin mengendalikan semua tapi nggak
bisa....."
Jagad mengangguk-angguk setuju, ternyata Priyayi merasakan hal yang sama. "Aku juga nggak
bisa tidur, di sini...
"Kita memang butuh kasur lipat," gumam Priyayi.
"Yi..."
"Apa?"
Jagad diam sejenak. "Emm... Aku tadi...." ia menggantung kalimatnya, ragu untuk bercerita soal
pertemuannya dengan Syamila. Priyayi memajukan punggungnya, menyimak Jagad lebih
saksama.
"Ah, sudahlah, nggak penting," sambung Jagad akhirnya, lantas bangkit dari tempat tidur, "Aku
mau nonton TV, belum ngantuk."
Priyayi mengangkat bahu, nggak ngerti dengan sikap Jagad barusan.
"Hati-hati jatuh, hihihi....," seru Priyayi meledek. "Tahanan rumah",tanpa daya

Priyayi menunggu siang untuk mandi, menunggu hawa dingin pergi. Selesai mandi, dia langsung
mendekam lagi di kamar.
Tepar, tewas. Ambruk. Itu yang menimpa Priyayi. Penyebabnya? Apa lagi kalau bukan karena
kelelahan. Maraton kerja, memenuhi acara keluarga, jadi tuan rumah, ngumpul bareng teman-
teman, dan kencan dengan Jimmy.

Priyayi sebal. Selain karena merasakan sakit itu sendiri, kesebalan Priyayi adalah karena sikap
Jagad yang menuruti berlebihan, sampai-sampai ia terispirasi menjuluki Jagad memaksanya ke
dokter yang bikin dia harus menelan obat yang kini teronggok di meja. Tekanan darah Priyayi
mengkhawatirkan rendahnya. Mengkhawatirkan Jagad, bukan Priyayi. Priyayi sih udah pernah
seperti itu sebelumnya, jadi nggak begitu cemas. Dan Jagad selalu (dan nggak pernah bosan)
mengingatkan untuk minum obat. Bahkan karena tahu Priyayi malas-malasan, Jagad bela-belain
menghitung jumlah obat yang tersisa.
"Kamu nggak mau sembuh sampai akhirnya ketahuan mama-papamu?"
Iya sih, Priyayi lebih ogah sakit di bawah pengawasan mamanya. Sangat tidak menentramkan
jiwa. Rasanya lebih baik menjual jiwa daripada berada di bawah cengkeraman sang mama, hihi.
"Iya, tapi kalau gini-gini amat, kamu nggak jauh beda ama Mama. Kamu mau disamain ama ibu-
ibu cerewet?" balas Priyayi cemberut.

Saat Yasmin menelepon, Priyayi malah dibuat lebih cemberut.
"Namanya juga suami, wajar dong kalau cemas, hihihi....."
"Kamu sama aja, bikin sebel! Tapi yang lebih sebel, jadi batal ngerayain ultah rame-rame nih.
Sedih....," keluh Priyayi.
Untuk meredakan kebeteannya, Priyayi bermalas-malasan di tempat tidur. Sebentar
memejamkan mata, eh, ketiduran.
Priyayi dibangunkan oleh suara nyaring ponselnya.
"Hai, sayang, aku bebas siang ini. Mau makan siang bareng?"
Suara Jimmy menyusup telinga Priyayi.
Ah ya, Jimmy belum tahu Priyayi tepar. Habisnya, cowok itu nggak menelepon dua hari ini.
"Aku lagi nggak ngantor, tepar, kecapekan."
"Kamu sakit?"
"Iya."
"Kenapa nggak bilang-bilang?" Nada suara Jimmy cemas. Priyayi senang mendengarnya.
"Nggak apa-apa disuruh banyak istirahat. Makanya kamu jangan lupa istirahat, jangan
kebanyakan kerja."
Jimmy tertawa. "Baik, Bu. Terus, jadi ngerayain ultah ama teman-temanmu?"
Priyayi mendesah." Kayaknya nggak jadi, aku nggak boleh ke mana-mana.."
Jimmy termangu begitu telepon ditutup. Dia nggak ke mana-mana.... Kalau begitu aku akan
memberinya kejutan..... Rencana mendadak, persiapan

"Pesta di rumah?" ulang Jagad menirukan Yasmin yang meneleponnya, ngusulin mereka bikin
acara makan-makan di rumah Priyayi untuk merayakan ulang tahun gadis itu. Yasmin bertutur
kepada Jagad mengenai keluhan Priyayi, mulai dari kejengkelannya terhadap Jagad sampai
batalnya hang-out rame-rame di hari ulang tahunnya. Jagad tertawa saat Yasmin bilang Priyayi
menjulukinya "Lifeguard". Bisa-bisanya....

Jagad memang otomatis bereaksi over setiap orang-orang dekatnya sakit. Sudah kebiasaan di
keluarga. Itu yang dilakukan jika Kakak atau adik perempuannya sakit sewaktu mereka masih
tinggal serumah. Dulu saat status mereka masih teman biasa dan nggak serumah, dia nggak
ambil pusing ke Priyayi jika gadis itu sakit. Berhubung sekarang mereka terkondisikan lebih dekat
dan lebih peduli, sikapnya jadi over juga ke Priyayi.
Hemm... Dibikin acara apa ya, biar berkesan nggak cuma kadar makan-makan? Pikir Jagad.
Yasmin bagi-bagi tugas dengan Jagad. Ia mengurus kue tar, minuman, dan kudapan ringan,
sementara Jagad mengurus makan besarnya.
"Yang praktis aja, bisa kamunya nggak kerepotan. Ajak Tio buat bantu-bantu," saran Yasmin.

Saat mereka membereskan tumpukan kertas ulangan murid-muridnya, mata Jagad tertuju pada
satu lembar ulangan paling atas. Di pojok kanan tercantum nama murid: Mila Ramadhani.
"Mila... Pesta barbekyu....! Pikiran Jagad seketika terkoneksi pada ulang tahun Syamila dua
tahun lalu, mereka mengadakan pesta barbekyu di pantai beramai-ramai.
Tiing! Ide acara telah ditemukan!
Jagad lantad menelepon adiknya, Lintang.
"Aduh, Kak, hari jumat aku ada kuliah. Kenapa nggak sabtu aja sih? Lagian Kak Jagad juga
kerja, kan?"
"Ulang tahunnya hari jumat. Aku ngajuin izin. Kamu titip absen aja. Nggak ujian, kan?! Pokoknya
jumat pagi kamu udah di sini, terus kita belanja bareng, oke?"

Jagad menetapkan Lintang sebagai koki di pesta nanti. Dan sepulang kerja dia melajukan
mobil___selama Priyayi sakit, mobilnya dipakai Jagad___ke "rumah" lamanya, menemui mantan
teman serumah sekaligus pemilik rumah itu merangkap sahabat baik, Danu.
"Ini dia, ready to use," ujar Dadnu sembari menyeret alat yang hendak di pinjam Jagad.
"Thankd, buddy!" sahut Jagad menepuk lengan temannya itu.
Lantas bersama Danu, ia mengangkat alat pembakaran untuk barbekyu tersebut ke mobil.

Sebelum datang, Jagad sudah menelepon Danu soal rencananya. Kepada Danu, Jagad memang
terbuka mengenai kehidupan pribadinya. Danu sudah melewati masa Jagad jomblo, bersama
Syamila, sampai kejadian dengan Priyayi yang bikin Danu geleng-geleng kepala.
"Perasaanmu sudah lain nih ke dia?" tanya Danu, menyimpulkan dari kesudian Jagad bikin acara
ulang tahun segala.
Jagad menyeringai. "Nggak. Ini ide sahabatnya. Berhubung aku yang serumah, dan tahunya
teman-teman Yayi kan aku suaminya, jadi otomatis terlibat."
"Ajaklah dia kemari. Kamu kan selalu ngenalin pasanganmu ke aku," celetuk Danu.
"Eee.... Ralat, dia bukan pasanganku...."
Danu tertawa, menepuk jidatnya. "Oke, oke. Maksudku, aku ingin kenal dengan Priyayi. Aku
cuma tahu pas acara pernikahan."
Jagad meringis. "Iya, kalau ada waktu kuajak main kerumahmu."
"Gad, pada akhirnya..... Kamu berharap kalian akan jadi pasangan sesungguhnya nggak?"
Jagad mengangkat bahu. "Nggak tahu, Nu. Hati nggak bisa dipaksa arahnya."
"Dia cantik pas di acara itu," celetuk Danu.
"Oh yeah, dia cantik setiap hati," timpal Jagad. "Dan dia sudah mengambil hati keluarga
besarku." Mereka berdua tertawa.
"Tapi soal hati nggak bisa dipaksa...." tiru Danu. Kemudian dia teringat sesuatu. "Omong-omong
soal hati, Mila pernah menanyakan soal kamu ke aku."
Jagad tertegun. "Dia nanya soal aku? Kapan? Kamu bilang apa?"
"Sudah agak lama. Aku nggak bilang apa-apa."
"Bagus. Makasih." Jagad diam sejenak sebelum menyambung, "Aku nggak sengaja bertemu dia
belum lama ini. Sikapnya sakit banget ya, Nu...."
Danu menepuk punggung Jagad, menenangkan sahabatnya.
"Dia akan baik-baik saja, teman." Persiapan, ceria

Priyayi dkejutkan dengan kedatangan Lintang dan banyaknya belanjaan yang dibawa bareng
Jagad plus cake coklat buatan mama Jagad.
"Selamat ulang tahun, Kak. Ini dari Mama," tukas Lintang seraya memberi ciuman pipi.
"Makasih banyak ya. Tapi..." Priyayi mengernyit bingung dan menunjuk ke banyaknya tas
belanjaan. " ini semua apa?"
Lintang mengarahkan jari menunjuk Jagad. Jagad meringis kemudian menuturkan rencananya.

"Astaga! Jadi malam ini kalian ngadain pesta untukku?" seru Priyayi kegirangan. Tahu-tahu
Priyayi meloncat memeluk Jagad.
"Asyiiik! Thanks you soo much, buddy!"
Belum sempat Jagad membalas pelukan, Priyayi sudah meloncat memeluk Lintang. Yaah....
Bukan rezeki, batin Jagad. Hehe....
"Kamu pasti dihasut kakakmu supaya bolos hanya untuk bantu dia," tebak Priyayi menuduh di
depan Jagad. Lintang hanya cengengesan.
Jagad membalas sengis. "Sok tahu! Lintang cuma ingin ngambil jatah absennya yang belum
pernah diambil..."
"Eee... Sebenarnya udah dua kali...," sela Lintang meralat ucapan kakaknya.
"Nah, dia ingin ngambil jatah selanjutnya....," timpal Jagad membelokkan kekeliruan. Priyayi
mencibir.

"Lintang aku benar-benar nggak tahu lho. Jadi kalau ada apa-apa dengan prestasi akademismu,
kesalahan penuh ada pada kakakmu."
"Tuh, sudah di bikinin pesta, kayak begitu balasannya," seloroh Jagad.

Priyayi ngakak. Dia ceria banget hari ini. Dengan penuh semangat dia ikut membantu-bantu. Dia
juga menelepon Yasmib berkali-kali menanyakan detail makanan dan minuman uang dibeli. Pake
cerewet pula. Yasmin dibuat bete jadinya. Walhasil, dia nggak lagi seratus persen lulus bikin
pesta untuk Priyayi!
"Yi, kamu istirahat sana. Jangan lupa minum obatnya. Kalau nggak istirahat, nanti malam ambruk
lho," tutur Jagad.
Priyayi yang berdiri di samping Lintang di dapur berbisik, "Aku serasa masih tinggal serumah
dengan mamaku."
Lintang terkikik. Priyayi ngelanjutin, "Kamu merasa begitu nggak sih? Mungkin bukan mamamu,
tapi nenekmu barang kali....?"
Lintang makin terkikik. "Iya, bener banget, kak."
"Ayo, bandel, makan dulu," cetus Jagad. "Kita juga makan, Lin.
Kalau nggak begitu, orang satu ini maunya makan nanti pas pesta."

Priyayi mencibir, tapi menurut juga. "Iya, Nek," ledek Priyayi. Lintang tertawa dan ikut menuruti
kata kakaknya.
Di sela makan, Lintang memerhatikan Jagad dan Priyayi yang makan sambil sesekali saling
meledek.
"Kalian pasangan yang ceria ya, jadi iri deh," celetuk Lintang.
Kontan Jagad dan Priyayi menghentikan suapan masing-masing dan melongo.
"Hah?"
"Apa?"
Tanpa ada yang memberi aba-aba, keduanya serempak ingsut menjauh. Jagad berdiri ngambil
minum di kulkas, Priyayi pindah ke depan TV. Giliran Lintang yang melongo tak mengerti.
Dibilang pasangan ceria kenapa jadi pada salah tingkah, ya? Pasangan yang aneh.....



























part* 26

Perayaan, "uji akting"

Beberapa jam kemudian, bersamaan dengan jam pulang kantor, satu dua orang mulai nongol di
rumah Priyayi dan makin bertambah setelah matahari tenggelam. Ada yang langsung dari
kantor___biasanya pasa numpang ngopi atau tidur-tiduran___ada yang pulang dulu atau pergi
memenuhi urusan lain dan agak malam baru datang. Restu masuk dalam golongan terakhir.
Di halaman, Kumala mengolesi ikan dengan bumbu buatan Lintang, kemudian Jagad
membakarnya secara merata.
"Hummm.... Enaak...." komentar Kumala, mencubit sedikit ikan yang selesai dibakar, kemudian
dimasukkan ke mulutnya.
Jagad mendekatkan kepalanya ke Kumala, hidungnya nyungir berlagak mengendus-endus. "Uh,
bau ikan semua. Rugi parfum dong."
"Tak apalah, demi ngerayain ultah sahabat tercinta. Omong-omong, apa kabar kalian? Sebulan
ini aku nggak kontak-kontakan ama Yayi."
"Iya, Yayi pernah ngeluh soal itu."

Kumala meringis, merasa bersalah. "Aku memang nggak punya waktu sebanyak dulu untuk Yayi
dan sahabatku yang lain. Tapi aku berusaha tetap menjadi teman yang baik. So, perkawinan
kalian baik-baik aja, kan? Kalian udah saling menyesuaikan diri?"
Kumala tidak tahu sebanyak Yasmin tahu mengenai hubungan Jagad dan Priyayi setelah
menikah. Jagad tersenyum dan hanya menjawab iya. Kesibukannya membakar ikan bikin orang
lain___ dalam hal ini,Kulama___memaklumi bahwa Jagad tidak bisa ngobrol banyak saat ini.
Jagad malas berbicara hal-hal yang nggak benar-benar ia alami.

"Baguslah," imbuh Kumala. "Gad, mungkin Yayi masih butuh waktu untuk bisa melupakan
Jimmy, jadi bersabar aja, oke."
Jagad terbatuk. Cukup, aku harus menghentikan obrolan ini. Batin Jagad.
"Kamu kemana aja sebulan ini." tanya Jagad membanting arah pembicaraan.

Sambil melayani beberapa teman yang meminta ikan bakar, Kumala menjawab," Ada teman di
Belanda yang marrid. Karena betah di sana, aku puasin tinggalnya. Sekarang gantian aku yang
jadi host beberapa kenalan di Belanda yang ikut ke Indonesia."
Jagad bersiul. "Kamu sebenarnya layak diangkat jadi duta pariwisata."
Kumala tertawa. "Nggak juga. Aku nggak tahu banyak tempat wisata di Indonesia selain Bali dan
Lombok. Ini aku lagi cari-cari tour agent yang bagus untuk mereka."
Jagad menghentikan aktifitasnya. "Eengg.... Aku punya kenalan...., kenal baik, dengan orang
yang kerja di tour agent yang bonafide."
"Oya? Wah kebetulan banget. Aku pusing mesti pilih-pilih."
"Aku bisa nganter kalau kamu mau."
"Perect. Thanks you."
Keduanya tersenyum, tapi masing-masing untuk tujuan yang berbeda.
"Hooiii.... Kuenya datang! Ayo tiup lilin!" Sally berseru masuk ke dalam.
"Sory kawan, jalan macet gila," ujar Vina yang kebagian tugas mengambil pesanan kue tar.
"Hah, ada kue tarnya!" pekik Priyayi nggak nyangka. Nggak ada yang ngasih tahu sih.

Mereka mengelilingi Priyayi dan kue tar besar tersebut. Jagad berdiri disampingnya. Lilin angak
24 ditiup, kue diiris, dan Priyayi bimbang irisan pertama disodorin kepada siapa. Hampir aja
disodorkan ki Restu sebelumnya menyadari semua menatap Jagad. Sang pasangan. Sang
suami. Itu yang tampak di mata orang-orang sedunia.
Sambil menerima irisan kue, Jagad agak kikuk mencium pipi kiri dan kanan Priyayi. Tak ayal
beberapa orang protes.
"Huuu.... Basiiii! Kayak orang yang udah kawin emas aja, cuma cium pipi!"
"Iyaaa. Tunjukin dong gairah pengantin baru!"
"Iya, biar kita termotivasi untuk mengawini pacar kita...."
Celotehan ngga akan berhenti sebelum Priyayi dan Jagad menuruti mereka. Muka Priyayi
bersemu merah, dalam hati mengumpat-umpat seluruh temannya itu. Tangan kanan Jagad
meraih dagu Priyayi, mendongakkan wajah Priyayi agak ke atas dan terasa tangannya menekan
dagu Priyayi agar membuka bibirnya.
"Maaf....," bisik Jagad kemudian mencium bibir Priyayi. Sensasi sengatan menyentak Priyayi.
Tepukan riuh dan siulan menyudahi adegan mereka. Yasmin hanya bisa terpana. Nggak bisa
bersuara, berkedip, dan bergerak menyaksikan.

Pipi Priyayi terasa panas, apalagi Jagad memandangnya seakan-akan ingin memastikan reaksi
biologis yang timbul dalam dirinya. Sialan.
Acara makan-makan berlanjut. Nggak demikian dengan Priyayi. Dia menyelinap masuk kamar
dan berdiri di depan cermin. Adegan ciuman tadi berlangsung cepat. Priyayi nggak sempat
menyiapkan mental dan langsung memegang-megang kedua pipinya meredam panas. Di
meraba bibirnya. Aduh, kenapa jadi begini?
Pintu kamar terbuka pelan. Priyayi kaget dan secepat kilat merain ponsel.
"Eee.... Kakek telepon, ngucapin selamat ulang tahun,"Cetus Priyayi mengajukan alasan palsu
kenapa tadi langsung masuk kamar.

Jagad cuma manggut-manggut. Ada jeda hening. Priyayi masih belingsatan berduaan dengan
Jagad sekarang. Jagad berdiri di belakangnya. "Eengg.... Maaf soal ciuman itu, semua demi...."
"Akting," sahut Priyayi cepat. "Itu akting terberat kita ya," imbuhnya tersenyum. Gugup.
Jagad terdiam beberapa lama sampai akhirnya menjawab, "Ya."
Terdengar suara ketukan di pintu kamar.
"Sori..." Yasmin yang ada di depan pintu. "Ada.... Jimmy."
"Apaaa?" seloroh Priyayi terperangah kaget. Ia langsung menghambur menuju pintu depan
rumah. Jagad bergegas menyusul. Yasmin juga.

Di teras, Jimmy berdiri kaku. Tangan kanannya membawa sebuket mawar. Sebagian besar yang
berada di sana terpana dengan kehadiran Jimmy. Hampir semua tahu dulu Jimmy adalah pacar
Priyayi. Dan setahun mereka tentu saja hubungan mereka berakhir karena pernikahan Priyayi.
Makanya, kalau lantas Jimmy ada di sini, itu adalah sesuatu yang patut dipertanyakan. Ada apa
di balik cerita mereka sesungguhyna? Udah kayak infotaiment aja.....
Hawa panas menerpa sekujur tubuh Jimmy. Saat ini yang ia rasakan adalah malu dan..... Marah.
"Jimmy...," panggil Priyayi saat berdiri di depannya. Jimmy masih mematung. Ia benar-benar
tidak menyangka keriuhan yang ia saksikan.
"Jim...." Priyayi makin mendekat.

Jimmy mengambil napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan diri setenang mungkin. "Wah,
ada pesta ya. Tadi di jalan tiba-tiba teringat kamu ulang tahun hari ini, makanya aku mampir.
Selamat ulang tahun." Jimmy menyodorkan buket mawar kepada Priyayi. Priyayi menatap Jimmy
tanpa berkedip.
"Maaf, mengganggu. Kalau begitu aku pulang dulu, masih ada urusan lain." Jimmy
menganggukan kepala kemudiam berjalan pergi. Priyayi terpaku.
"Ee... Biar aku antar sampai mobil. " Yasmin mengambil inisiatif memecah kekakuan suasana.
"Biar aku aja," sergah Priyayi dan bergegas menyusul Jimmy.
"Baiklan. Ok, everybody, siapa mau cocktail?" Tio, tolong bikinin cocktail buat kita duoongg!" seru
Yasimb berusaha mengembalikan perhatian teman-teman pada pesta.
Di sudut teras, Tio berjalan menuju pantry melaksanakan instrukso Yasmin. Ia menepuk bahu
Jagad yang masih berdiri menatap ke arah pagar. "ayo, teman, bantu aku meracik cocktail." ajak
Tio berusaha mengalihkan perhatian Jagad.
Semetara itu, agak jauh dari rumah, Jimmy dan Priyayi berdiri berhadapan.
"Kamu bilang nggak ada acara apa-apa."
Priyayi menyahut dengan wajah tegang. " waktu aku bilang itu, aku nggak tahu apa-apa."
"Kejutan dari Jagad?" Tanya Jimmy sinis.
"Bukan. Itu ide mendadak teman-teman. Jim, kenap kamu nekat kemari? Aku kan udah bilang
kita bertemu di luara aja. Aku khawatir sewaktu-waktu orang-orang bisa datang...."
Jimmy memotong, " aku hanya ingin menghiburmy yang sakit dan nggak bisa merayakan ulang
tahun. Aku ingin kasih kamu kejutan, tapi... Aku malah terkejut." Nada bicara Jimmy getir. "Aku
hanya ingin membuatmu senang, itu aja."

Jimmy lalu merogoh sakunya, mengeluarkan kotak mungil dan menyodorkan kepada Priyayi.
"Butuh berhari-hari memikirkan hadiah yang tepat untukmu. Nggak mungkin cincinm karena akan
terlalu banyak cincin di jarimu. Kalung juga terlalu mencolok perhatian...."
Hati Priyayi tersentuh mendengar penuturab Jimmy. Jimmy meraih tangannya dan menyerahkan
kotak mungil ke telapak tangan Priyayi.
"Ini gelang. Orang-orang nggak akan merhatiin, kalau itu yang kamu khawatirkan. Terimalah.
Setelah itu aku nggak akan buat kamu khawatir lagi."

Jimmy lalu berbalik menuju mobilnya. Tiba-tiba Priyayi memeluknya erat dari belakang. Jimmy
terenyak.
"Maa. Maafkan aku," ucap Priyayi.
"Niat baik tulus nggak berharga lagi. Aku nggak tahu lagi..." tukas Jimmy lalu melepaskan kedua
tangan Priyayi yang mendekap perutnya, melangkah terus masuk mobil dan menghilang dari
pandangan Priyayi.
Dada Priyayi terasa sesak. Ia tertegun di tengah jalan. Kenapa kamu sekejam iru, Yi.... Rutuknya
menyesal. Ia ingin menangis tapi nggak mungkin sekarang.
"Oke, Yi, kuatkan dirimu malam ini. Jangan bikin suasana tambah runyam. Pasang wajah ceria.
Ceria! Ayo ceria!" Priyayi mendoktrin otak dan sarafnya. Kemudian ia kembali dalam keceriaan
pesta. Pagi, tersadar

Priyayi tiba-tiba terbangun, menegakkan punggung dan nahan napas. Empat, lima, enam detik
kemudian ia meloncat dari tempat tidur....
"Aooww!"
Suara erangan berasal dari lantai tempat Priyayi mendaratkan kaki.
"Upss...." pekik Priyayi tertahan. Di nggak ingat kalau semalam Jagad tidur di kasur lipat ke
kamarnya karena kamar Jagad di pake Lintang.
"Uuh... Lagi-lagi diinjak," protes Jagad.
Priyayi buru-buru merosot ke lantai. "Maaf, nggak sengaja. Sakit, ya?" ia mengurut-urut betis
Jagad, tanpa memikirkan "efeknya" ke cowok itu,
Jagad terpaksa ikut bangun dan menepis tangan Priyayi. Remasan tangan cewek___tanpa
dihalangi lapisan kain pula___di pagi hari adalah stimulus besar. "Udah, sana....."

Priyayi meringis lalu segera ke kamar mandi. Kembali ke kamar, dia tergesa-gesa mengambil
pakaian dari lemari. Saat hendak mencopot kaus, dia baru ingat. Dia menoleh ke arah Jagad
yang kembali tidur. Dengan mengendap-endap, Priyayi menunduk mendekati Jagad. Telapak
tangannya melambai-lambai di depan muka Jagad, memastikan Jagad benar-benar tidur.
Ah, aman, batin Priyayi kemudian kembali ke depan lemari untuk berganti baju. Ia mengenakan
gelang pemberian Jimyy, meraih kunci mobil, dan berjingkat-jingkat menuju pintu.
"Mau ke mana pagi-pagi begini?"
Priyayi terkesiap kaget. Jagad belum tidur! Gagang pintu yanng sudah digenggamnya langsung
dilepas. Ia meringis sekaligus mengkeret. "Eee.... Ke rumah itu.... Eee Yasmin...."
Jagad menegakkan punggung dan mengusap-usap rambutnya.
"Biar kuantar, aku cuci muka dulu sebentar."
"Oh nggak usah! Aku bisa sendiri!" sergah Priyayi.
"Heh, kamu ini masih sakit."
"Nggak, udah nggak apa-apa kok. Bener! Suer!" Priyayi ngotot lengkap dengan jari telunjuk dan
jari tengah membentuk huruf V.
"Udahlah kuantar aja, biar aku nggak khawatir."
"Eee... Sebenarnya aku mau ke rumah.... Jimmy...." Priyayi terpaksa mengaku. Jagad
menghentikan gerakannya merapikan rambut, terdiam.
"Eeengg.... Ada yang harus kuomongin dengan dia...," tambah Priyayi.
Benar dugaanku, pasti ada sesuatu semalam, batin Jagad.
"Kamu kuantar sampai depan rumahnya." Jagad keluar kamar untuk mencuci muka.
Priyayi menghela napas. Dia merasa nggak enak ke Jagad. Tapi sudahlah.... Yang penting aku
bisa ketemu Jimmy secepatnya.....
Diperjalanan, Priyayi nggak bisa nahan penasarannya.
"Tadi setelah aku injak kakimu.... Kamu nggak tidur?"
"Nggak."
Apa?? Priyayi melirik Jagad yang berkonsentrasi nyetir.
"Jadi, kamu tahu.... Aku gant.... Eh, aku ngapain aja?"
"Nggak juga."
Priyayi mengembuskan napas lega. Jadi dia nggak melihatku ganti baju. Priyayi melirik Jagad
sekali lagi. Jaagd balas memandang Priyayi. Priyayi segera membuang muka ke luar jendela.
Jagad berdeham. "Kenapa memangnya? Kamu ganti baju?"
Priyayi spontan noleh memandang Jagad dengan wajah setengah panik. "Jadi, kamu melihatku?"
Jagad nyengir. "Aku kan sudah bilang nggak."
Priyayi memejamkan mata, merasa malu. Aduh, kamu ceroboh sekali, Yi!
Santai aja. Kita toh sudah pernah lebih dari itu kan..."
Priyayi makin memejamkan mata rapat-rapat. Aduh... Ini memalukan!
Jagad nggak bida menahan tawa melihat Priyayi.
Sesuai permintaan Priyayi, Jagad memarkir mobil nggak tepat di depan rumah Jimmy.
"Aku tunggu di sini," cetus Jagad.
"Jangan, kamu pulang aja. Biar nanti Jimmy yang mengantarku."
"Kamu yakin?"
Priyayi mengangguk. Sebenarnya dia nggak yakin.
"Baiklah."
Priyayi turun dari mobil.
"Yi...."
Priyayi menunduk melihat Jagad.
"Tetap berjuang," ujar Jagad seraya ngepalin tangan. Priyayi tertawa dan menirukan Jagad.
"Tetap berjuang. Thanks."
Setelah Priyayi masuk rumah Jimmy, Jagad nunggu beberapa lama untuk memastikan Priyayi
diterima di dalam. Ia tersenyum mengingat ia harus mencium Priyayi di hadapan teman-teman.
Tetap berjuang, kamu sendiri, apa yang kamu perjuangkan sekarang ini, Gad...? Gumam Jagad
bertanya pada diri sendiri. Lebih tepatnya, menyindir.
Jagad melajukan mobil ke arah jalan yang dulu sering dilewati. Agak jauh dari rumah bercat
putih, Jagad berhenti beberapa lama. Tanpa disangka, ada yang keluar dari rumah tersebut dan
membuka pagar.
Dia yang seharusnya kuperjuangkan, batin Jagad miris.
Yang keluar dari rumah dan membuka pagar adalah Syamila. Berbaik hati, harus bahagia

Priyayi menelantangkan badan di atas tempat tidur di kamarnya sendiri. Diangkatnya
pergelangan tangan kanan. Diamat-amatinya gelang emas pemberian Jimmy.
"Hubungan kita melibatkan orang lain, jadi memanf sama nggak mudah tapi bukan berarti nggak
bisa," ujar Priyayi saat ia mendatangi rumah Jimmy pagi-pagi itu. Priyayi sedang mencoba
menyakinkan Jimmy bahwa kedatangan Jimmy waktu iu sebenarnya sangat berarti baginya dan
memastikan cowok itu tidak kecewa pada dirinya, serta mau memaafkannya.
"Kita lihat nanti." Jimmy menanggapi dengan dingin. Dan itu membuat Priyayi gundah.
Sepertinya Jimmy berubah, nggak yakin lagi dengan keputusannya mempertahankan hubungan
ini, pikir Priyayi. Dia tampak siap melepaskan aku... Tapi aku nggak siap....
Kecamuk pikiran Priyayi buyar ketukan di pintu kamarnya.
"Buka aja," jawab Priyayi seraya bangun dan duduk di tempat tidur.
"Aku pinjam mobilmu ya, mau balikin alat barbekyu."
Priyayi mengangguk.
"Thanks."
Beberapa detik setelah Jagad menutup pintu kamarnya....
Tebersit di pikiran Priyayi untuk ikut. Dia bergegas membuka kamar.
"Eeehh!"
Ternyata Jagad masih di depan kamarnya. Nyaris saja Priyayi menubruknya. Keduanya
berhadapan sangat dekat, tapi mereka hanya diam dan saling menatap. Rasanya Jagad ingin
mendorong Priyayi seketika masuk kembali ke kamar dan mereka....
"Eeeh.... Aku mau ikut," cetus Priyayi memecah keheningan sekaligus memecah fantasi Jagad.
"Kenapa mau ikut....?" Jagad diam di tempat dan terus memandangi Priyayi, sampai-sampai
Priyayi harus mendorong badan Jagad agar dirinya bisa lewat.
"Mau ikut ngucapin terima kasih!" seru Priyayi yang berjalan keluar rumah. "Beli pizza dulu ya!"

sekitar sejam kemudian, mereka sampai di depan rumah Danu. Baru pada kunjungan kedua ini
Priyayi memerhatian tempat tinggal Jagad di masa silam ini cukup teduh, banyak tanaman di
halaman depan. Lain dengan halaman rumahnya yang gersang. Baru akhir-akhir ini saja, setelah
Jagad "bergabung" menjadi penghuni, halamannya jadi lebih asri. Mungkin Jagad ketularan hobi
Danu merawat tanaman atau memang hobinya juga begitu. Atau dia cuma terlalu risi dengan
kegersangan halaman rumahya!
"Dia tahu kita," bisik Jagad membuka pagar.
"Dia tahu kita datang?" Priysayi ikut berbisik.
"Ya, tapi bukan itu yang kumaksud. Dia tahu soal rahasia kita."
"Ooo...." Priyayi mengangguk mengerti.
"Kamu punya Yasmin, aku punya dia."
Priyayi berhenti dan menarik lengan baju Jagad, memintanya berhenti juga.
"Dia juga tahu soal aku dan...."
"Oh itu, nggaklah. Maksudku hanya soal kita tidur bareng dan menikah nggak sungguhan.
"Dia tahu kita pernah.... Itu...?" Priyayi sudah merasa malu padahal belum bertemu Danu.
"Aduh, kamu ini...." Jagad mulai lemas. "Aku kan juga butuh teman curhat. Lagian dia maklum,
kita mabuk waktu itu."
"Whatt?! Dia tahu kita mabuk?!" Priyayi berseru tapi dengan suara berbisik. "Aduh, aku kan jadi
malu...."
"Heh, aku nggak protes kamu cerita ke Yasmin! Lagian lebih dimaklumi orang yang nggak saling
cinta tidur bareng dalam keadaan nggak sadar....." suara Jagad nggak berbisik lagi dan itu
membuat Danu bahwa tamu-tamunya sudah datang.
"Wah, wah, kalau cuma untuk ngobrol berdua, ngapain jauh-jauh datang kemari," gurau Danu.
"Tahu nih, Yayi."
"Kok aku sih....?"
Danu tertawa melihat Jagad dan Priyayi saling manyun. "Hei, aku nggak peduli dengan kalian.
Aku cuma menagih pizza yang kamu janjiin, Gad."

Pas mau masuk, ponsel Priyayi berbunyi. Dari Jimmy. Priyayi berdeham. "Kalian masuk aja
dulu."
Jagad dan Danu masuk, membuka bungkusan pizza dan mulai menyantao roti Italia yang sudah
terpotong-potong itu.
"Kamu kelihatan beda sekarang," ujar Danu.
"Beda gimana?"
"Lebih... Emm.... Rumahan, udah jarang ngumpul-ngumpul.
Jagad tertawa. "Sekarang aku harus terlibat dalam keluarga Yayi. Dan teman-temannya."
"Udah punya tanggung jawab gede sekarang, membawa hidup anak orang."
"Nggak juga. Kamu tahu sendiri hubunganku kayak gimana sama Yayi."
"Hubungan kalian memang aneh. Nggak wajar, nggak sehat, tahu nggak?!" komentar Danu.

Jagad menghela napas, menghentikan kegiatan ngunyah-mengunyah. "Jujur, Nu, kadang kalau
melihat Yayi, apalagi kalau ada saudara yang menginap sehingga kami harus sekamar...."
"Satu tempat tidur?!" sela Danu.
"Nggak. Tapi tetap saja kadang ada keinginan.... Yaaahh.... Apalagi kalau ingat dia istri sahku,
berarti aku punya hak, kan...."
"Itulah maksudku nggak sehat tadi," timpal Danu
Jagad memajukan badannya, mendekat ke Danu, dan memelankan suara, "Seperti tadi, dia
hampir menubrukku, tinggal satu dorongan...."
"Heh, kamu nggak berniat maksain kehendak, kan?!"
"Nggaklah!" sahut Jagad sewot. "Emang aku cowok brengsek, apa?!"
"Siapa yang brengsek?" sahut Priyayi berjalan menghampiri mereka. "Semoga bukan aku yang
kalian omongin."
Danu berdeham keras sementara Jagad mengalihkan perhatian dengan permisi ke kamar mandi.
"Jagad bilang kamu sudah ngambil hati keluarga besarnya," ujar Danu saat Jagad ke kamar
mandi.
"Oya? Aki nggak melakukan apa-apa lho," sahut Priyayi herab sendiri. Mulutnya penuh dengan
pizza, nyam, nyam, nyam....
"itu karena kamu menyenangkan."
"Ah, biasa aja, nyam, nyam, nyam....
"Kamu nggak sadar kalau kamu adalah orang yang menyenangkan?"
"Sadar sih, tapi aku nggak mungkin mengakui terang-terangan, he.... he...."
Danu tertawa. Barusan dia mengakui terang-terangan!
"Hooh.... Tidak...." celetuk Priyayi tiba-tiba dengan mulut menganga, padahal baru saja dia
nyuapin pizza ke dalam mulut dengan ukuran maksimal. Walhasil, Danu kehilangan setengah
dari selera makannya karean melihat Priyayi.
"Gimana kalau aku juga ngambil hati Jagad, sama kayak keluarganya itu? Gawat!"
Danu mengernyitkan membaca mimik muka Priyayi. "Kamu ini bercanda atau serius?"
Hahaha! Gelak Priyayi kembali membahana.
"Heh! Nggak sopan di depan orang tertawa keras dengan mulut penuh makanan! Malu-maluin
aja!! Jagad tiba-tiba berseru lantang tepat di belakang kursi Priyayi. Priyayi terkesiap kaget
sampai tersedak. Ia megap-megap kesulitan bernapas sehingga Jagad dan Danu jadi kelabakan.
"Air, air!" ujar Jagad meminta kepada Danu.
Setelah keadaan tenang, Jagad dan Danu baru tergelak menertawakan Priyayi. Hahaha!
"Kelakuan kalian ini...." Danu geleng-geleng kepala "Nggak heran kalian pernah melakukan
sesuatu yang jauh lebih heboh daripada ini...." Wajah Priyayi terasa panas. Ia berdeham. Eh,
tanpa dinyana Jagad yang berdiri di belakang Priyayi duduk, menunduk, merangkulkan tangan ke
leher Priyayi dan menempelkan dagunya ke ubun-ubun Priyayi lantas berujar, "Dia luar biasa...."
Haaah.... Mulut Priyayi menganga. Ia sontak berdiri melepaskan diri dari Jagad yang iseng
banget malam ini. Jagad sampai terhuyung ke belakang dan wajah Priyayi memerah.
"Huuh.... Kalian ngerjain aku! Sebal!"
Jagad terbahak dan mengedipkan sebelah matanya kepada Danu yang ikut tertawa.
Saat hendak berpisah, Danu melongok Priyayi dan Jagad yang berada di dalam mobil. "Kalian
harus bahagia... Dengan cara kalian masing-masing...."
Ucapan terakhir Danu menyentak Priyayi hingga kata-kata tersebut terngiang-ngiang terus
selama perjalanan. Kalian harus bahagia....

Rasanya sudah lama sekali nggak ada yang menyuruhnya untuk hidup bahagia. Seabad yang
lampau Priyayi pernaj membahas tentang kebahagiaan. Waktu itu ada yang bilang cinta yang
menciptakan kebahagiaan. Priyayi sendiri waktu itu berpendapat panjang lebar. Bahwa bahagia
dipisahkan menjadi dua jenis, bahafia yang dangkal dan kebahagiaan mendalam atau hakiki
kebahagiaan dangkal biasanya berkaitan dengan materi seperti bahagia dapat hadiah, dapat
barang bagus. Tapi nggak semua. Materi juga bisa memberikan kebahagiaan mendalam, seperti
uang banyak digunakan menolong kaum papa. Intinya materi sebagai tujuan kebahagiaan
berakhir dangkal. Materi sebagai alat untuk memperoleh kebahagiaan mendalam akan lebih baik.
Kebahagiaan mendalam lebih bersifat emosional dan spiritual, seperti terpenuhinya kebutuhan
akan mencintai dan dicintai, penemuan makna hidup, tercapainya tingkat spiritual yang
diharapkan.

Masalahnya adalah karena manusia hidup di dunia, jadi kadang-kadang ada hal-hal duniawi yang
memengaruhi dan akhirnya kebahagiaan pun terusik. Contohnya, saat seseorang menemukan
apa yang disebut cinta sejati ternyata hanya bertahan beberapa tahun karena "cinta sejati" itu
berpaing kepada yang lain. Nah!
Dan waktu itu Kumala menganggap pendapat Priyayi cuma omong-kosong rumit.
"Bahagia itu ya happy, senang. Kamu senang berarti kamu bahagia."
Hehe. That's simple. Namanya juga Kumala.
Kata orang cinta yang bisa membuat bahagia.... Priyayi melirik Jagad. Jagad nggak bisa
menemukan cinta selama masih bersamaku. Priyayi dihinggapi rasa bersalah.
"Gad, kamu ingin apa?"
"Ha?" Jagad bengong.
"Ayo ngomong aja. Aku ingin bikin kamu bahagia malam ini." tentu saja yang di maksud Priyayi
adalah bahagia yang dangkal, karena itu yang bisa dia berikan sekarang.

Dengan tangan kanan tetap memegang kemudi, tangan kiri Jagad mengulur memegang dahi
Priyayi. "Nggak panas...., kok bisa ngomong aneh begini, ya?"
Priyayi cemberut dan menepis tangan Jagad. "Aaah! Aku cuma ingin berbuat sama setelah kamu
bikin aku happy di ulang tahunku."
"Kamu happy waktu itu?"
Priyayi mengangguk. Well, terlepas dari permasalahannya dengan Jimmy.
Jagad memandang Priyayi kurang yakin, ia hendak bertanya soal Jimmy, tapi... Sudahlah...
"Hmm.... Aku memang lagi ingin sesuatu...."ucap Jagad kemudian.
"Apa?"
"Bisa kita melakukan.... Itu.... Lagi?"
Plakk! Priyayi memukul bagian belakang kepala Jagad dengan telapak tangannya.
"Aduhh! Kekerasan dalam rumah tangga!" seloroh Jagad. Priyayi mencibir dan menggosokkan
kedua telapak tangannya.
Jagad mengarahkan mobil ke sebuah mall, lantas menggiring Priyayi menuju konter pakaian
khusus pria.
"Dari beberapa hari yang lalu aku ingin beli kemeja itu..."
Jagad nunjuk sebuah model kemeja yang digantung, lalu noleh ke Priyayi." Aku bakalan bahagia
banget malam ini kalau bisa beli kemeja itu...."
Priyayi tertawa. "Ya udah, kamu ambil. Aku kan udah janji." keluar dari kamar pas untuk
menunjukkan kemejanya saat dikenakan, tahu-tahu Jagad sudah memadukannya dengan
suspender.
"Pasti keren berdiri di depan murid seperti ini," celetuk Jagad seraya bergaya.

Priyayi mengacungkan dua jempol tangannya. Ada desahan samar keluar dari saluran
pernapasan Priyayi. Ini mengingatkannya pada satu hari menyenangkan yang dihabiskan berdua
dengan Jimmy. Ia ingin Jimmy seperti hari itu untuk seterusnya, bukan hanya sehari....
"Astag! Aku bikin kamu seterpesona itu ya, sampai terbengong-bengong?" seru Jagad keras-
keras. Priyayi yang duduk bengong tersentak.
"Eh, aku mempraktikkan reaksi muridmu melihat kamu sekeren ini, hehe..."
Jagad terbahak. "Aku senang malam ini. Thanks," ucapnya dan mengulurkan tangan memegang
ubun Priyayi.
Priyayi meringis, merasa kikuk kalau suasana mulai mengarah sentimentil seperti ini.... Perhatian
yang sama, tanggapan yang berbeda

"LOLITA Fun Tour and Travel. Ini kantornya," gumam Kumala sedikit mendongakkan kepala
membaca papan nama yang bertengger di atas kompleks tuko. Jagad mengangguk dan
mengajak Kumala masuk. Di memenuhi janjinya menemui Kumala pergi ke kantor agen
perjalanan tersebut.
Di dalam kantor, Jagad celingukan mencari yang di harapkannya. Kumala memiringkan kepala,
heran melihat tingkah Jagad. Sadar diperhatikan Kumala dengan tanda tanya, Jagad meringis.
"Eee.... Cat ruangannya bagus...."
Kumala mengedarkan pandangan pada dinding ruangan. Bercat krem, cat standar sebuah
kantor. Apanya yang bagus? Lebih bagus cat rumahnya Yayi, pikir Kumala. Kumala kembali
memandang Jagad, kali ini dengan pandangan lebih heran. Jagad buru-buru ngalihin
pembicaraan.
"Ada tur yang sesuai nggak?"
"Hemm... Aku udah baca sekilas...." Kumala berpaling pada customer service. "Mbak, bisa minta
info detail paket ini...."
Mumpung Kumala sibuk berbicara dengan salah satu pegawai di meja lobi, Jagad dengan sigap
bertanya pada salah satu front desk.
"Saya teman Syamila...., kok dia nggak kelihatan, ya?"
"Mila nggak masuk hari ini, izin sakit."
"Sakit? Sakit apa? Sudah berapa hari?"
"Baru hari ini. Katanya sih demam. Oya, kakak teman kampusnya?"
"Oh, bukan, teman.... Mmm....teman lama," jawab Jagad sekenanya.

Pikirannya jadi nggak tenang memperoleh kabar Syamila sakit. Dulu saat masih bersama, setiap
Syamila sakit, ia adalah satu-satunya orang yang menemani lantaran kakak satu-satunya yang
tinggal berdua saja dengan Syamila sering tugas berhari-hari meninggalkan Syamila sendirian.
Keluar dari kantor agen perjalanan itu, Jagad beralasan kepada Kumala bahwa dia masih punya
urusan lain, jadi nggak bisa pulang bareng. Dan tanpa pikir panjang dia langsung menuju rumah
Syamila.
"Mas...." Syamila sangat terkejut dengan kedatangan Jagad. Dia nggak siap bertemu Jagad,
apalagi dengan penampilan kacau seperti ini, berpiama dan berwajah kuyu.
"Hai. Maaf, tapi aku dengar kamu sakit...., kakakmu sering nggak ada di rumah...., aku khawatir
kamu sendirian dalam keadaan sakit, jadi aku menjenguk kemari. Kamu sendirian sekarang?"
"Iya, tapi nggak apa-apa, demamnya sudah turun."
"Dari mana Mas tahu aku sakit?"
"Tadi aku nganter teman ke kantormu."
"Oh," gumam Syamila.
Mereka diam berdiri di ambang pintu.
Mungkin datang kemari adalah keputusan yang salah, batin Jagad.
"Eengg.... Maaf aku bikin kamu nggak nyaman," ucap Jagad memecah kebisuan. "Kulihat kamu
baik-baik saja...., kalau begitu aku permisi pulang. Banyak makan dan istirahat, oke." Jagad
membalikkan badan.
"Jangan pergi."
Jagad menoleh.
"Eh, maksudku.... Kamu udah jauh-jauh kemari, masuklah dulu, aku buatin minum," sambung
Syamila mengklarifikasi apa maksud "jangan pergi" yang terlontar tadi.

Jagad menceritakannya kunjungannya ke kantor Syamila, tapi Syamila hanya memberi jawaban
singkat. Dan Syamila nggak bertanya apa pun kepada Jagad.
Semua sudah berubah, batin Jagad sedih. Syamila udah memagari diri tinggi-tinggi darinya.
"Kepalamu sakit?" tanya Jagad melihat Syamila memijit-mijit keningnya.
"Nggak apa-apa. Minum obat juga hilang."
Jagad menatapnya saksama. Syamila jadi makin tak berdaya. Ia berdeham.
"Mas, makasih sudah jenguk kemari. Dan makasih sudah.... Mengkhawatirkanku. Aku
menghargai perhatiannya."
Jagad tersenyum.
"Tapi.... Aku harap.... Jangan seperti ini lagi. Ini bisa...." Syamila ngambil jeda beberapa detik,"....
Membuatku kembali terluka. Maaf...."
Napas Jagad tertahan mendengar kata-kata Syamila.
"Begitu ya.... Aku jadi merasa bersalah dengan semua ini...." Jagad menimpali lemas.
"Nggak," seloroh Syamila. "Jangan merasa begitu. Akulah yang bersalah karena punya sikap
seperti itu.... Maafkan aku...."
Jagad mendesah. "Aku yang minta maaf. Aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu."
"Iya, aku tahu. Maafkan aku."
Sepulang Jagad, Syamila mendesah keras-keras. Matanya berkaca-kaca. Dadanya terasa mau
meledak. Otot-ototnya tegang selama Jagad berada di rumahnya karena berusaha keras
menahan luapan perasaannya yang belum bisa melupakan cowok pti. Tapi di satu sisi, dia juga
nggak bisa melupakan bagaimana Jagad melakukan kebohongan besar dan sangat pantas
dilakukannya.

Syamila menuju kamarnya, mengambil paper bag super besar dari kolong tempat tidur. Isinya
adalah semua barang yang pernah diberikan Jagad untuknya. Keputusannya makin bulat untuk
mengembalikan isi paper bag itu. Balik kaca, asumsi

"Huuh.... Panas banget sore ini. Jam segini matahari masih terang aja."Kumala menggerutu.
Dikenakan topi lebarnya sebelum turun dari mboil. Kacamata gelapnya bertengger setia
melindungi matanya.
Hari ini Kumala balik ke kantor Lolita Fun Tour and Travel. Ada satu kenalan yang mndadak ingin
berganti tujuan wisata karena baru menyadari bahwa dia pernah pergi ke sana beberapa tahun
lalu.
"Huuh.... Cari kerjaan aja. Kalau nggak inget baiknya dia selama aku di negaranya, ogah banget
berpanas-panas dan bermacet-macet di jalan untuk mengurus hal begini." Kumala masih setia
menggerutu.

Hampir setengah jam kemudian, sambil menunggu proses adminitrasi untuknya berlangsung,
Kumala duduk menunggu di kursi lobi menghadap ke jalan.
"Huuh.... Pemandangan yang membosankan," gerutu Kumala sekali lagi. Matanya memandang
tanpa semangat ke jalan yang dilewati kendaraan dan orang-orang berlalu-lalang. Lalu
pandangan terpaku pada satu orang yang sedang lewat.
"Jagad? Ngapain kemari?
Ternyata Jagad cuma lewat doang. Ngapain dia beredar di sini? Pikir Kumala. Tiba-tiba mulutnya
menganga dan matanya membesar.
"Jangan-jangan dia...." Kumala bergegas berdiri. Aku harus cari tahu. Ini menyangkut sahabat
baikku, putusnya menuju pintu keluar cepat-cepat, tak lupa menyambar topinya yang tergeletak
di meja.
"Saya pergi sebentar," pesannya kepasa pegawai yang melayaninya.
"Ke mana, ya?" Kepala Kumala menoleh kanan-kiri sembari berjalan. Saat menoleh ke kanan ke
sebuah kafe, tampak jelas Jagad duduk berhadapan dengan seorang perempuan, karena meja
mereka tepat di sebelah jendela kaca.

Kumala menutup mulutnya yang membuka lebar. "Hoohh....!" dengan sigap dia berbalik.
Tapi.... Aku nggak bisa lihat kalau balik badan begini...., pikir Kumala menyadari ketololannya.
Dia lalu mengenakan topi dan membenamkan kepalanya dalam-dalam, tapi lantas mengangkat
topinya kembali sedikit, soalnya dia kesusahan melihat. Hehe, bodoh. Ditambah kacamata gelap
super lebar, Kumala berharap Jagad nggak mengenalinya saat masuk kafe tersebut.

Dan kayak di film-film, Kumala memilih meja di belakang Jagad dan duduk menghadap lawan
bicara Jaagd. Semua dilakukan hati-hati tanpa menarik perhatian. Saat harus pesan minuman,
dia hanya menunjukkan jari pada buku menu, tidak berani mengeluarkan suara, takut ketahuan.
Soalnya kafenya kecil dan lenggang.
"Untuk topping-nya apa, Kak? Kita ada almond, nuts, dan cokelat."
Aduh, batin Kumala. Ia menggelengkan kepala.
"Makanannya pesan apa?"
Lagi-lagi Kumala menggeleng. Si waiter mengernyitkan dahi.... Merasa janggal dengan kelakuan
wanita bertopi di depannya.
Kumala menyaksikan si perempuan menyerahkan paper bag berukuran besar kepada Jagad.
"Ini Mas, ini semua barang...."
Bersamaan dengan itu, ponsel Kumala berbunyi dengan volume keras. Kumala terlonjak.
Hah, Jagad menoleh! Kumala membalikkan badan dengan cepat sembari tangannya memegang
ponsel untuk dijawab. Posisi duduknya memang jadi aneh, tapi daripada ketahuan.....
Aduh, mampus. Restu telepon! Pasti soal keputusan lepas saham, harus dijawab nih.
"Halo? Mala?" Suara Restu di ujung telepon. Kumala berdiri, melempar uang ke meja untuk
minuman yang nggak sempat diminumnya___melihat wujudnya pun belum___dan melangkah
terburu-buru dengan kepal menunduk.
"Huuh.... Kacau deh!" omel Kumala saat membuka pintu mobil.

Berdasarkan petunjuk-petunjuk yang didapatnya sejauh ini, Kumala berasumsi bahwa Jagad
selingkuh. Sekarang dia bingung bagaimana harus mengatakan ini ke Priyayi.
"Kasihan Yayi. Aku mereka kawin bukan karena keinginan mereka, tapi nggak bisa gini dong."
Kumala bersungut-sungut sambil menyetir. Sampai setengah perjalanan.....
"Hoohhh! Lolita! Tiket tur!" Kumala baru ingat dia belum menyelesaikan urusan di agen tur tadi.
Kacau memang.....























part* 27

Serius, laporan pandangan mata

"Apanya yang jelas?"
"Semuanya." Kumala meloncat ke sofa bergabung dengan Yasmin yang bertengger nyaman.
Sesaat tubuh mereka berguncang dikarenakan dahsyatnya per sofa ditimpa oleh dahsyat pantat
Kumala. Mereka berdua ngobrol serius di apartemen Kumala. Lebih tepatnya, Kumala yang
serius. Yasmin sih berlagak serius,hehe.
"Jagad kasih referensi ke aku untuk pake tour agent itu karena ada ceweknya kerja di sana! Huh,
tahu begitu, aku mana mau, ih!"
Yasmin memainkan kumpulan rambut di tengkuknya. Ingin rasanya ia menjelaskan apa yang
sebenarnya terjadi antara Priyayi dan Jagad, bahwa sebenarnya nggak terjadi apa-apa, sehingga
kupingnya nggak perlu tersiksa mendengarkan ocehan Kumala ini.
"Dari mana kamu tahu cewek itu kerja di sana?"
"Seragamnya. Cewek itu ngasih hadiah gede banget ke Jagad, berarti mereka udah lama
berhubungan!"

Kumala mengelus-elus dagunya. "Apa dia pacar lama Jagad, ya? Hhh.... Kasihan Yayi. Dia udah
susah payah berusaha agar perkawinannya berjalan baik, tapi Jagad malah.... Hhh...." Kumala
menghela napas dengan wajah muram, prihatin dengan hubungan temannya itu.
Yasmin menutupi wajahnya dengan bantal sofa. Duh, Yi, kamu udah menempatkan aku pada
posisi yang nggak enak nih....
Kumala menoleh ke arah Yasmin. "Menurutmu kita harus bagaimana?"
Yasmin menurunkan bantal dari wajah. "Ha....? Oh itu..... Eee.... Kita nggak usah mencampuri
urusan pribadi mereka deh...."
"Nggak bisa!" sergah Kumala berseru kencang, bikin Yasmin melonjak kaget dan mengelus
dada.
"Aku nggak rela Yayi dibohongi terus-terusan."

Yasmin mendesah pasrah. Coba kalau kelak Kumala tahu rahasia itu dan dia tahu kalau aku tahu
tapi nggak memberitahu, dia pasti marah besar.... Tapi kalau aku memberitahu sekarang, Yayi
yang pasti marah.... Inikah rasanya makan buah simalakama....? Atau buahkumalakama....?
"Heh! Bengong melulu!" sentak Kumala kepasa temannya itu. "Pikiranmu lagi nggak di sini, ya?!"
"Iya," sahut Yasmin otomatis. "Eh, nggak! Maksudku, ya kalau gitu bilang aja ke Yayi."
"Tapi.... Aku nggak tega melihat Yayi jadi sedih."
Yasmin menepuk-nepuk bahu Kumala. "Dia nggak akan sedih."
Dahi Kumala berkerut-kerut. "Kamu yakin banget Yayi nggak sedih?"

Yasmin berdeham, nahan senyum, membayangkan gimana menggebu-gebunya Kumala
menyampaikan "laporan pandangan mata" ke Priyayi dan gimana reaksi Priyayi mendengarnya.
"Pasti seru...." gumam Yasmin tanda sadar.
"See....ruu.... Kamu bilang?!" celetuk Kumala, lalu menyentil kepala Yasmin gemas.
"Huuh, apa sih yang ada di otakmu ini?!"

Melabrak, mengaku

Priyayi termangu lama setelah Kumala menyampaikan laporan padangan mata perihal Jagad.
Siapa ya, cewek itu? Apa pacarnya dulu? Pikir Priyayi sibul menebak-nebak.
"Kemarin dia pulang bawa bag jumbo?" tanya Kumala seraya merentangkan kedua tangannya
lebar-lebar, memvisualisasikan ukuran paper bag tersebut.
Priyayi mengangguk.
"Hiih, keterlaluan," celetuk Kumala geram.
"Jagad nggak cerita apa-apa ya," gumam Priyayi kepasa dirinya sendiri tapi terdengar oleh
Kumala.
"Bodoh! Nggak mungkinlah dia cerita, gimana sih!" timpal Kumala.
"Maksudku, aku bisa....." Priyayi menatap Kumala, kemudian mengibaskan tangannya. "Ah,
sudahlah....." ia baru sadar Kumala nggak tahu yang sebenarnya.
"Kok sudahlah?! Kamu harus bertindak dong."
"Iyaaa...." sahut Priyayi malas.
"Hei, ayo kita ke tempat cewek itu, kalau kamu penasaran wujudnya kayak apa," tantang Kumala.

Hati Priyayi tergerak juga, tapi maksudnya berbeda dengan yang dimiliki Kumala. Kalau benar
pacar lamanya, berarti Jagad benar-benar mencintai cewek itu....
Setelah menyelesaikan makan siang, mereka pergi ke kantor Lolita Fun Tour and Travel. Tepat
di depan kantor, Kumala mengajak masuk, tapi Priyayi teringat, kalau benar pacarnya Jagad,
berarti dia tahu aku, nggak enak ah!
Ia menoleh kepada Kumala. "Mal, kamu aja yang masuk, lalu kamu foto diam-diam dengan HP-
mu."
"Halah kamu ini, ngapain kamu repot-repot kemari kalau begitu?!" Kumala gemas dengan
Priyayi. "Kenapa sih nggak masuk aja?"
"Eeee... Aku terlalu gugup...." Priyayi mengarang alasan. Kumala memutar otak matanya, oh....
Please!

Nggak sampai lima belas menit, Kumala nongol di hadapan Priyayi yang menunggu di dalam
mobil. Priyayi menyahut ponsel Kumala. Benar, ini pacar Jagad dulu!
"So....?" celetuk Kumala.
"Well... Eengg...." Priyayi termangu-mangu. Kumala mulai habis kesabaran
Priyayi bergerak kayak kriput, lamban!
"Hah, lihat! Itu dia!" pekik Kumala. Tangan kirinya memukul lengan Priyayi, tangan kanannya
menunjuk ke depan, ke arah seorang cewek yang sedang berjalan keluar.
"Kafe! Dia pasti janjian ama Jagad di sana! Ayo, sebelum terlambat." Kumala membuka pintu
mobil. Priyayi menarik lengan Kumala.
"Duh kamu ini, mau ngapain lagi?!
Kumala menatap Priyayi. "Hah? Masih nanya lagi mau ngapain!" Kumala keluar dari mobil dan
berlari kecil menuju kafe.
Priyayi buru-buru ikut turun dan berteriak "Mal! Ini sama sekali nggak seperti yang kamu kira!"

Percuma. Mau tak mau Priyayi harus masuk ke kafe itu juga, mulutnya komat-kamit berdoa,
"Tuhan, please jangan bikin skenario yang memalukan untuk diriku...."
Melewati pintu masuk, Priyayi mendapati cewek yang "diburu" Kumala duduk membelakangi
pintu masuk. Kumala duduk di depannya dengan wajah tegang.
"Kamu nggak usah hubungi Jagad lagi!"
Syamila terkejut ada orang asing yang tiba-tiba menyerobot dan yang lebih bikin terkejut adalah
orang itu menyebut nama Jagad. Apa dia.... Pacar baru Jagad?
"Saya nggak menghubungi Mas Jagad lagi."
"Halah, nggak usah berkelit! Kalian pernah bertemu di sini dan...."
"Mal, udah!" bentak Priyayi sembari mendekat dan berdiri di sisi Kumala duduk. "Hai, maaf...."
sapa Priyayi mengangguk kepada Syamila.
Syamila terperanjat kaget. Ini kan Priyayi....!
Kumala terus melabrak. "Heh, dengar baik-baik ya, itu pun kalau kamu belum tahu, Jagad itu
udah kawin!"
"Mala!" seru Priyayi. Ia menoleh ke Syamila yang bertambah shock. "Nggak...."
Kumala memotong. "Iya. Dan ini istrinya." Kumala meraih lengan Priyayi.
"Mala! Sudah! Hentikan!" bentak Priyayi lantang.
Wajah Syamila sudah membeku, sampai-sampai matanya nggak berkedip.
"Maaf, ini semua salah paham....." terang Priyayi yang lagi-lagi disela Kumala.
"Salah paham apanya? Yi...."
"Diam aku bilang!" Priyayi menjerit. Beberapa orang menoleh denga kehebohan yang terjadi.
"Saya yang akan pergi," ujar Syamila berdiri.
"Jangan. Kumohon," cegah Priyayi. "Aku harus ngelurusin ini, Sarmila, please...."
"Syamila. Mila." suara Syamila sangat dingin.
Ups. Salah panggil....
"Mal, tinggalin kami berdua." tampang Priyayi tegang banget ke Kumala. Kumala mengedikkan
bahu lalu ngeloyor keluar.
"Maaf, Mila. Begini...."

Priyayi menuturkan semua dari awal. Eh, ralat, hampie semua, karena tentu saja dia nggak
bercerita tentang tidur bersama dengan Jagad. Priyayi bertekad membantu Jagad meluluhkan
Syamila, jadi menceritakan hal itu jelas nggak akan membuat hati Syamila luluh.
"Kami seperti teman kos. Dia bayar sewa kamarnya dan aku.... Aku tetap menjalin hubungan
dengan pacarky. Namanya Jimmy. Kami sudah pacaran selama dua tahun."
Syamila tertegun. Lama banget dalam posisi diam. Dia nggak menyangka hari ini bakal dapat
kejutan yang nggak pernah terlintad di benaknya dalam versi apa pun.

Priyayi merogoh ponsel dan meletakkannya di sisi meja dekat Syamila. "Bukalah. Yang ada
hanya foto-foto cowok lain, foto Jimmy...."
Syamila menatap Priyayi lekat-lekat. Priyayi meneruskan, "Kamu orang ketiga yang tahu semua
detail ini. Dan kuharap cukup tiga orang saja yang tahu."
Syamila mengigit-gigit bibir bawahnya. Ini semua masih di luar jangkauan otaknya yang
menggambarkan Jagad selama ini. Jagad melakukan ini semua???
"Aku merasa bersalah karena udah nggak adil ke Jagad. Dia juga berhak memperoleh cintanya.
Dan kamu juga berhak memperoleh cintamu...."
Mata Syamila berkaca-kaca. Malam, kembali

Yayi, Yayi.... Jagad sibuk membatin di atas motor dalam perjalanan pulang malam ini. Dia baru
saja bertemu dengan Syamila. Syamila menghubunginya dan mereka terlibat pembicaraan
panjang dan menyentuh.
Syamila bercerita soal insiden kecil di kafe dengan Kumala dan bagaimana akhirnya Priyayi
bercerita juga tentang rahasia besarnya agar Syamila nggak salah paham.
"Sekarang semuanya jelas. Aku memikirkan ini berhari-hari sebelum mengutarakannya. Aku
ingin.... Kembali ke kamu, Ma. Selama ini aku nggak pernah bisa melupakn dirimu."
Jagad memeluk Syamila erat. Hatinya sangat senang walaupun ada satu hal yang mengganjal.
Sesampainya di rumah, Jagad mendapati Priyayi tertidur di sofa di depan televisi yang menyala.
Remote control didekap di dadanya. Jagad membungkuk ke sofa dan dengan hati-hati
menggeser tangan Priyayi guna mengambil remote control. Tapi sedikit gerakan itu ternyata
mampu membangunkan Priyayi. Priyayi membuka mata. Karena terkejut ada satu sosok sangat
dekat dengan jangkauan pandangannya, reflekd dia bangun menegakkan punggung.

"Aduuh!" seru Jagad. Priyayi dengan sukses membenturkan jidatnya ke muka Jagad. Jagad
berdiri terhuyung menutupi mukanya, sementara Priyayi panik.
"Hoohh.... Sori nggak sengaja!" Priyayi bergegas menuju kulkas, mengambil es batu.
Dibungkusnya es itu dengan lap bersih dan didekatkan ke wajah Jagad yang duduk di sofa.
"Biar kukompres," cetus Priyayi merasa bersalah. Jagad menurut.
"Kenapa kamu hobi banget nyakitin aku?" keluh Jagad.
Priyayi nyengir, "Ya, ampun, aku nggak sengaja, tauu!"
"Kalau nggak sengaja, kenapa sering banget?"
Priyayi terkikik Jagd mengeluh dengan nada yang memelas.
"Suer nggak sengaja. Mungkin kosmikmu dan kosmikku nggar sejajar, jadi sering berbenturan."
Jagad tertawa, kemudian meraih kommpresan dari tangan Priyayi. "Yi, makasih kamu ngelurusn
masalah ke Mila."
"Sama-sama. Gimana dia?"
"Kami berbaikan."
Mata Priyayi membesar. "Kalian balik?"
Jagad mengangguk. Priyayi tersenyum lebar, "Wah, selamat ya!"
"Thanks. Tapi Yi...." Jagad diam sejenak mencari kata-kata yang tepat.
Priyayi berubah cemas. "Oh, tidak... Dia nggak minta kamu pindah rumah sekarang, kan?!"
"Nggak, nggak. Hanya saja, Yi, aku tetap nggak jujur soal yang kita lakukan malam itu. Aku takut
membuat dia terluka kedua kali."

Priyayi mendesah. "Yaahh.... Kadang suatu kesalahan yang pernah kita lakukan cukup disimpan
untuk kita saja agar orang lain yang nggak ikut melakukan kesalahan nggak ikut menanggung
perasaan bersalah yang muncul sebagai dampaknya.
Kamu ngerti maksudku, kan?"
Jagad diam bersandar di sofa. Priyayi menoleh, "Aku yang nggak jujur, Gad, karena aku yang
cerita, bukan kamu." Priyayi berusaha mendapatkan optimisme Jagad. "Aku cuma nggak ingin
bahagia sendirian."
Jagad mengangkat senyum, memegang ubun Priyayi seraya berujar dalam hati, semakin kamu
baik kepadaku, rasa bersalahku ke kamu makin nggak mau pergi, Yi.... Siangm dua pria

UH, dimatikan ponselnya dengan malas. Siang ini Priyayi janjian dengan Jimmy untuk makan
bareng di restoran ikan bakar langganan mereka. Sudah beberapa hari ini dia ingin
banget___tingkat keinginannya menyerupai ngidam___menu ikan bakar direstoran tersebut.
Namun Jimmy baru saja menelepon dan mengabarkan bahwa dia bakal datang telat menjemput
Priyayi karena mendadak dipanggil atasannya, padahal Priyayi sudah menunggu di lobi. Ia siap
berlari ke depan kala Jimmy datang (biasanya Jimmy menjemput di pintu masuk, nggak sampai
masuk depan lobi). Karena malas balik ke ruangannya, Priyayi memilih duduk ngelamun di lobi.
"Menunggu tamu, Mbak?" sapa seorang satpam kepada Priyayi yang duduk terpekur di lobi
kantor. Pak Ayub, satpam tertua di kantor ini___bahkan mungkin di dunia(?)___dengan rambut
didominasi putih dan kulit sebentar lagi didominasi keriput. Dia selalu memanggil Priyayi dengan
mbak, panggilan sejak Priyayi magang. Dia ramah kepada siapa saja, terutama kepada Priyayi
yang merupakan keturunan sang pemilik usaha.
Priyayi tersenyum. "Nggak, Pak."
"Nggak makan siang?"
"Rencananya sih mau makan siang, nunggu dijemput.... Teman."
Jawaban yang serbasingkat dengan muka lesu membuat Pak Ayub ikut duduk di dekatnya.
"Maaf, boleh lihat tangan kirinya Mbak Yayi?"
Priyayi bengong. "Haa?" tapi diulurkannya juga.
Pak Ayub mengamati telapak tangan kiri Priyayi yang terbuka. Dimiringkannya sedikir, kemudian
bertutur, "Ada dua pria dalam hati Mbak Yayi sekarang." Dahi Pak Ayub mengernyit.
Mata Priyayi membelalak. Semula dia mengira itu cuma bercanda, tapi dilihatnya Pak Ayub
memasang mimik serius.
"Pak Ayun bisa baca garis tangan, ya? Waaah.... Hebat, nggak nyangka!" ujar Priyayi antusias.
"Meski cuma jadi satpam tapi ilmu harus luas, dan saya tertarik untuk mendalami dan mencapai
tingkat spiritual yang tinggi."
Priyayi manggut-manggut.
"Pokoknya buka mata dan hati lebar-lebar. Pak Ayub kembali membahas. "isi" Priyayi.
"Haa?" semula Priyayi belum nyambung. "Oooh... Saya...." Nah sambungan otaknya kembali
bekerja.
"Salah satu dari mereka adalah pasangan sejati Mbak Yayi. Oleh karena itu, Mbak Yayi harus
buka lebih lebar mata dan hati. Jawabannya ada di sana."

Priyayi melongo, nggak yakin apa ramalan ini benar ditujukan untuknya. Dua pria? Pasangan
sejati? Jawaban....? Halooo....?
"Pikiran Mbak Yayi sedang nggak tenang. Hati-hati jangan sampai stres."
"Tapi...." Belum sempat Priyayi menyelesaikan kalimatnya, HT yang digenggam Pak Ayub
memanggilnya.
"Maaf, Mbak, saya permisi dulu."
Priyayi mengangguk bingung, masih terkesima dengan apa yang baru saja didengar
"Pak Ayub...." panggil Priyayi kemudian. "Makasih ya. Lain kali boleh kan minta nasehatnya
lagi?"
Pak Ayub tersenyum hangat. "Silahkan, kapan saja."
Priyayi termenung.
Jimmy dan Jagad adalah dua pria yang dekat dengan dirinya. Tentu saja Kakek, Papa, dan
Restu juga dekat dengan dirinya namun dalam kasus ini mereka nggak dihitung, ini kan tentang
pencarian pasangan sejati.

"Pasanganku kan udah jelas," gumam Priyayi bingung.
Memang sih Priyayi makin sering memikirkan Jagad akhir-akhir ini, tepatnya sejak Jagad kembali
menjalin hubungan dengan pacarnya. Dia dan Jagad jadi jarang bertemu, makan bersama,
sekadar belanja bareng ke swalayan, apalagi ngobrol panjang. Priyayi sedikit merasa....
Kesepian, tapi dia merasa nggak menempatkan Jagad di hatinya dalam posisi yang sama
dengan Jimmy.
Pikiran Priyayi terbelah sampai-sampai dia nggak sempat ngambek saat Jimmy akhirnya nggak
bisa memenuhu janji makan siang bersama. Kamar Yasmin, apa artinya

"Hah, bener kamu diramal seperti itu? Aneh....," kata Yasmin agak heran.
"Betul, aneh...." Priyayi menimpali setuju.
"Kamu kan cintanya untuk satu orang aja. Dan dinamakan pasangan sejati itu kan yang
keduanya saling cinta. Tapi kenapa di ramalannya ada dua? Berarti....." Yasmin mengacungkan
telunjuknya ke muka Priyayi sambil tersenyum geli. "Kamu cinta theother guy ini, ya? Hayooo....!"
Priyayi langsung menepis. "Ah, itu kan cuma ramalan, diragukan kebenarannya."
"Ih, katamu si pak satpam itu punya pencapaian spiritual yang tinggi, berarti jam terbangnya
sudah tinggi dan tingkat keampuhannya sudah diakui. Kamu kan yang bilang begitu. Iya, kan?
Gimana sih...."

Sebelum Priyayi mulai membantah lagi, Yasmin nyerobot duluan. Dipegangnya pipi Priyayi. "Yi,
ini cuma Yasmin, ayo curahkan isi hatimu yang terdalam...."
Priyayi melengos. "Sumur kali, dalaaamm....!"
Yasmin terkikik dan meneruskan bujukannya. "Ayolah, mungkib membagi ceritamu yang
membagi cinta bisa membuatku merasa jadi wanita lebih baik...., lebih baik darimu, hehe...."
Priyayi memencet hidung temannya itu. "Sembarangan kalau ngomong, aku nggak membagi
cinta, tau! Cuma sesekali kepikiran Jagad, aku jarang ngobrol ama dia akhir-akhir ini....."
"Jadi.... Bener nih?" selidik Yasmin.
"Yasmin, pasang kuping baik-baik, ENG-GAK!"
Yasmin nyengir lebar. "Eh, waktu di ultahmu, aku lihat Jagad mesra banget cium kamu...."
Pipi Priyayi terasa panas diingatkan adegan itu. "Itu akting doang."
"Hmm.... Aku tahu salah tingkah waktu itu, hihihi."
Plukk! Priyayi melempar boneka ke jidat Yasmin. Yasmin makin semangat melanjutkan
ledekannya.
"Maafkanlah.... Karena aku.... Cinta kau dan diaa...." Yasmin menyanyikan lagunya Dhani Ahmad
dengan lantang sambil menyeringai. Priyayi makin gemas dibuatnya dan menggempur Yasmin
dengan boneka, bantal, guling, sandal, sampai kotak makeup.

Malam, telaah

Keakraban. Mungkin itu jawabannya. Aku dan Jagad cuma terlalu akrab aja, sudah tahu
kebiasaan masing-masing, sudah terbiasa berbagi ruang dan privasi. Itu kesimpulan pribadi
Priyayi, meluruskan apa yang telah "dituduhkan" Yasmin kemarin.
Priyayi duduk bersila di atas sofa, pandangannya menyapu langit-langit rumah, berlanjut ke
sudut-sudut di ruang tengah itu. Kalau lagi sendirian malam-malam begini, yang kerap melintas di
benak Priyayi adalh Jagad.
"Itu wajar. Jagad yang tinggal serumah denganku, visualisasiku lebih banyak merekam gambar
Jagad, jadi kalau dia nggak ada otomatis otakku mencari the missing picture, which is Jagad." itu
salah satu argumen dari sisi (sok) logis versi Priyayi yang diutarakan ke Yasmin waktu itu.

Tiba-tiba engsel pintu depan bergerak. Priyayi terperanjat. Jagad pulang! Kok nggak kedengaran
suara motornya.... Aduh gimana nih, aku nggak siap ngobrol sama dia sekarang!
Buru-buru Priyayi merebahkan badannya ke sofa, pura-pura tertidur. Sedetik kemudian, Jagad
nongo. Di ruang tengah. Perlahan Jagad mendekati Priyayi, mengambil remote control yang ada
di genggaman Priyayi.
Aduh bodoh, remotenya ngapain kupegang, batin Priyayi. Ayo cepat pergi!
Sesudah televisi mati, Priyayi merasa lega. Tapi kok....
Bukannya beranjak pergi, Jagad kembali menatap Priyayi yang memejamkan mata sok pulas.
Cowok itu membungkuk, tangannya menjulur perlahan-lahan merapikan poni Priyayi yang
menutupi mata.

Oh My God, mampus aku! Batin Priyayi berseru panik. Priyayi harus menahan diri untuk tidak
bergerak dan tanpa ekspresi sama sekali. Oke, tidur, tidur...., empat, lima, enam.... Priyayi
menghitung detik-detik Jagad memandangi dirinya. Waduh, kalau dia menciumku gimana nih?!
Jantungnya berdegup cepat.
Detik ke-16 Jagad baru beranjan berdiri dan pergi ke kamarnya. Priyayi mengembuskan napas
sangat-sangat lega. Nggak ada ciuman. Emangnya di film? Hehe....

Di kamar, Priyayi meloncat ke atad tempat tidur, menelungkupkan tubuhnya dan membenamkan
mukanya ke atad bantal.
Ngapain Jagad begitu? Apa yang ada di benaknya, ya? Aduh, aku jadi keki.....
Priyayi membolak-balik badannya dengan pikiran sibuk menelaah. "Aku harus melakukan
sesuatu."
Kalau dibiarkan, lama-lama aku dan dia jadi berperilaku kayak suami-istri beneran. Gawat.....
Tawaran, dua tahun

"Tumben, jam segini sudah mongkrong di pantry. Mau berangkat lebih pagi?" sapa Jagad.
"Ada yang lagi kupikirin."
Jagad mendengarkan sambil bikin susu dan ngambil roti cokelat dari kulkas.
"Giman kamu ama pacarmu? So far so good, I hope." Priyayi belum berani menatap mata Jagad,
masih teringat kejadian "mendebarkan tanpa kata" semalam.
"Emm.... Yaa," sahut Jagad sambil ngunyah roti. Benaknya agak heran dengan Priyayi yang
tumben nanyain hubungan dengan pacarnya.
Hmm.... Hubungannya dengan pacar baik-baik aja, kenapa semalam dia.... Hhhh.... Priyayi
menahan pikirannya dan berkata,
"Emmm.... Jagad, aku mau ngajuin tawaran...."
"Tawaran?"
"Iya. Aku mikirin yang dikatakan Danu....., bahwa kita harus bahagia...."
"Itu lagi. Kamu udah jadi peri kebahagiaan sekarang?" celetuk Jagad.
"Hei, nggak usah sesinis itu," protes Priyayi kemudian melanjutkan, "Danu benar. Aku berpikir
kita nggak akan selamanya begini, harus ada tenggat waktu untuk mengakhiri hidup bersama
seperti ini dan kembali menjalani hidup normal bersama pasangan kita."
Jagad diam, nggak memberikan reaksi apa-apa.
"Adik Kakek pernah bercerai, jadi kakek nggak tahu dengan hal itu. Mungkin kita tempuh itu
sebagai solusi."
"Kamu yakin kakek nggak apa-apa? Nggak jatuh sakit lagi?"
Priyayi mengangguk. "Yang jelas kamu sudah menunjukkan pada beliau kamu bertanggung
jawab waktu itu. Untuk selanjutnya, kita berdua yang menjalaninya."
"Kapan?"
"Aku memikirkan angka dua. Dua tahun. Gimana menurutmu?"
"Kamu yakin kakekmu bisa terima?"
"Mmmhh... Kita beri tandanya jauh-jauh sebelum berucap. "Kamu udah berpikir detail,
merencanakan semua dengan sebegitu sungguh-sungguh, ya?"
Priyayi menunduk. Jagad menepuk bahu Priyayi. "You'rw the director, I'm only the actor."

Sebuah pukulan, arti dua tahun

Petang ini hati Priyayi kacau-balau, antara terpukul dan marah. Kepada Jimmy. Yang bikin
dadanya pengap hingga megap-megap saat ini adalah kenyataan bahwa dia nggak berhak
marah kepada cowok itu.
"Dua tahun? Aku belum berpikir sejauh itu," sahut Jimmy.
"Kamu hanya melihat kepentinganmu sendiri tanpa melihat kepentinganku. Kamu nggak tebersit
kan untuk menanyakan apa arit waktu dua tahun bagiku?"

Priyayi duduk termenung dalam kegelapan pantry. Tangannya memainkan kaleng root beer yang
sudah diminum setengahnya dalam hitungan detik. Well,kegelapan dan root beer bisa bikin dia
sedikit tenang.
Priyayi terngiang-ngiang lontaran kalimat Jimmy tadi. Sebelumnya dia memang sudah menduga
Jimmy akan keberatan dengan keputusannya, tapi dia tidak menduga tanggapan Jimmy telak
memukulnya, membuatnya merasa jadi manusia paling egois sedunia.
"Itu sudah menjadi konsekuensimi, Yi, untuk menelan mentah-mentah semua kekecewaan dia.
Kamu sendiri yang memulai gara-gara, kan.... Gadis bodoh....," rutuk Priyayi getir. Dia lalu
melangkah gontai dan mengurung diri di kamar.

Lewat tengah malam, nggak tenang

Jagad bete. Mata dan otaknya enggan diajak untuk istirahat bersama. Bersama siapa? Ya
bersama pemiliknya dong. Jagad pun memutuskan bangun, meraih sebatang rokok dan lighter,
lantas keluar kamar, berjalan ke pojok belakang rumah. Tepatnya ke tempat jemuran.
Sambil jongkok, dia memainkan kepulan asap yang keluar dari hidung dan mulutnya.
Sebenarnya dia nggak merokok. Cuma akhir-akhir ini dia dikelilingi teman-teman perokok disaat
pikirannya suntuk dan perasaannya...., perasaannya seperti daun yang melayang-layang di
udara, tinggal menunggu satu angin kencang untuk membuatnya jatuh dan mendarat di suatu
tempat di bumi ini.

Karena capek jongkok, Jagad ngambil bangku pantry, dibawa ke tempat jemuran dan
melanjutkan aksinya. Hmm.... Sampai di mana tadi? Oya, sampai melayang-layang. Hatinya
sedang nggak tenang, melayang nggak jelas. Ia memang gembira Syamila memberinya
kesempatan untuk bersama lagi. Namun tanpa bisa dia cegah, pikirannya kerap tertuju kepada
rumah. Kepada Priyayi. Bukan hanya saat dia sendiri, bahkan saat berdua dengan Syamila
sekalipun. Dia kan jadi merasa bersalah ke Syamila, meskipun pacarnya itu nggak
menyadarinya.
"Bandel."
Jahad terkesiap kaget mendengar satu suara tiba-tiba menyeruak didekatnya. Tak ayal dia
melonjak bangun dari duduknya dan menjatuhkan rokoknya, dia injak-injak, kepalanya tetap lurus
menghadap Priyayi.
"Telat. Baunya udah ke mana-mana," lanjut Priyayi. Tangannya mengucek-ucek matanya.
"Bukan skenarionya kamu bangun dan celingukan kemari," celetuk Jagad.
"Idih, skenariomu doang! Skenarioku kan lain," kelit Priyayi.
"Selain karena skenariomu, ada apa bangun tengah malam begini?" tanya Jagad.
Priyayi menyandarkan kepala dan tubuhnya ke tembok.
"Tiba-tiba terbangun, terus nggak bisa tidur lagi. Lagi sedih...."

Priyayi menunduk, lagi-lagi mengucek matanya. Kemudian terdengar isakan. Tangan Jagad
menelangkup kedua telinga Priyayi, mendongakkan kepala cewek itu.
"Ya ampun, sampai nangis segala....," komentar Jagad. Isak Priyayi tambah keras
ia menubruk tubuh Jagad dan menangis di dadanya. Huuaaaaaa.....
Hati Jagad terenyuh. Terhadap Priyayi, terhadap dirinya sendiri, terhadap adegan ini. Karena
tangis Priyayi nggak reda juga, tangan Jagad akhirnya merengkuh tubuh dan mengelus kepala
Priyayi. Rambutnya harum sampo dan lembut sekali.
Perlahan Jagad membimbing Priyayi masuk. Lama mereka tidak mengucapkan sepatah kata
pun, Jagad membiarkan Priyayi menangis di sofa.
"Please, bilang sesuatu untuk bikin aku tenang," cetus Priyayi kemudian.
"Sesuatu."
Hahaha.... Priyayi tak urung tertawa dengan air mata yang belum kering dan hidung merah.
Tampak lucu jadinya.
"Udah tenang?" tanya Jagad.
"Bodoh," celetuk Priyayi nyengir.
"Oya, aku tadi beli ikan bakar di resto favoritmu, kamu pengin banget, kan?" ujar Jagad.
Kenapa Jagad yang berbuat hal manis ini? Kenapa bukan Jimmy? Mata Priyayi berkaca-kaca.
"Tadi pas aku datang, kamu udah masuk kamar, udah tidur.
Emm.... Kita makan sekarang aja yuk."
"Gad, kenapa kamu perhatian banget sih?"
"Itu karena aku sudah menganggap kamu bukan orang lain lagi."

Priyayi tertegun mendengar jawaban Jagad. Buru-buru Jagad menjelaskan, "Maksudku, kamu
adalah teman terbaik dan terdekat saat ini yang kutemui setiap hari. Otomatis aku nggak bisa
memalingkan muka dan menutup telinga darimu."
Huuaaaa..... Priyayi kembali menangis keras. Dia kesal kepada Jimmy yang terlalu cuek, kepada
Jagad yang terlalu perhatian.
Jagad jagi nggak enak sendiri. Waduh, apa aku salah jawab, ya.... Seharian, sesuatu yang lain

Priyayi menutup kepalanya dengan bantal. Tujuannya sih menutup telinga dari suara mesin dan
klontang-klonteng bunyi alat-alat yang mengusik tidurnya.
Tapi apa lacur, dia sudah kepalang bangun. Dan Priyayi takkan begitu saja melepad oknum yang
telah menyebabkan tidurnya tidak berjalan sebagaimana mestinya, meski oknum itu udah
memberikan bahu untuk mengangis dan membelikannya makanan yang sudah diidamkannya
sekian lama.
Dengan menyeret kakinya malas, Priyayi membuka pintu depan. Jagad menyeringai
menyaksikan penampakan di hadapannya. Kaus kusut, rambut mencuat ke empat arah mata
angin, bibir cemberut maju, mata sembap, dan pasti belum gosok gigi!
"Emang nggak bisa siangin dikit, ya?! Orang tidur baru sebentar, diganggu, huuuhh!"
"Tuan Putri, lihat dulu jam berapa sekarang," balas Jagad.
Priyayi menjulurkan badan ke dalam menengok jam dinding.... Hehe.... Jam sepuluh. Tapi peduli
amat.
"Pokoknya jangan berisik, oke, Teman Yang Baik?!" Priyayi beringsut ke dalam.
"Hei, pemalas, mau ke mana?"
"Ya tidurlah!"
Jagad gemas ingin merapikan rambut empat arah mata angin Priyayi itu.
"Hei, aku dan anak-anak didikku mau ke tempat latihan skateboard. Kamu belum pernah ke
sana, kan?"
Priyayi menggeleng. "Belum. Kamu bisa?"
"Belum, makanya kita rame-rame mau latihan ke sana. Mau ikut?"
Priyayi mengangguk antusias. "Naik motor ya!"
Jagad memiringkan kepala, raut mukanya heran. Tuan Putri merajuk naik motor? Nggak salah
tuh....
"Bosan setir mobil terus, lagian tarikannya lagi kurang enak, harus ke bengkel," tutur Priyayi
menjawab keheranan Jagad. Yang sebenarnya sih, Priyayi sedang bosan dengan hidupnya!

Bagi Priyayi, seharian itu menjadi hari Mencopot Sementara Segala Beban Pikiran. Naik motor,
menghirup polusi, ditempeli miliaran debu, disengat matahari, bergaul dengan anak-anak
permukiman padat yang menjadi murid jagad, jatuh-bangun dan berteriak-teriak skate, bertemu
para skater, melihat Jagad yang disegani anak didiknya.....
"Awaaass! Minggir semuaaa....!"
Terlambat. Teriakan Priyayi nggak mampu mencegahnya nabraj barisan anak-anak yang sedang
melakukan start. Tabrakan beruntun tak terelakkan.

Akhisah Priyayi berhasil juga memainkan skateboard dan dia langsung sok main di jalan
menurun dengan ngebut. Karena nggak sanggup menghentikan dirinya sendiri, kejadian
berikutnya seperti yang digambarkan tadi.
"Hahaha!"
Gelak tawa riuh terdengar. Mereka pada terbaring bertumpuk-tumpuk dan tergelak senang.
Priyayi berada di antara tumpukan anak-anak. Ia satu-satunya manusia dewasa yang
berkelakuan anak-anak di sana. Jagad menundukkan kepala dengan tangan menutupi matanya,
menunjukkan dia malu mampus sudah mengajak Priyayi.
"Kalian nggak apa-apa?!" tanya Priyayi berseru kepada anak-anak.
"Tidak, Bu!" jawab mereka bersahutan.
"Wuiih.... Mendebarkan!" kata Priyayi menyeringai lebar.
"Asyik, Bu Jagad! Ayo lagi!" seru salah seorang anak yang diamini teman-temannya.
Jagad makin menutupi mukanya. Beberapa skater tertawa melihat. Sedangkan Priyayi tetap
nggak tahu malu.
"Hah, Bu Jagad?! Gad, mereka panggil aku Bu Jagad! Lucu.... Hihihi!"
Jagad menghampiri Priyayi dan menyeretnya ke pinggir. "Ssst..... Kencang-kencang."
"Ups sori. Lupa. Aku lupa segalanya saking asyiknya, hehe....." timpal Priyayi, kemudian siap
beraksi lagi.
"Heh, jangan malu-maluin lagi ya. Kamu membawa nama Jagad di sini."
"Siap, Pak!" sahut Priyayi menyeringai lebar dan berlari kembali ke area lintasan.
Dari tempatnya berdiri, Jagad kembali menikmati tingkah polah Priyayi. " Maann.... Kurasa aku
melakukan kesalahan besar....."




















part* 28

Lain hari, lain sikap

Jagad menggedor pintu kamar mandi.
"Yi, HP-mu bunyi! Mau diterima nggak?"
"Dari siapa?" seru Priyayi.
Jagad meraih ponsel Priyayi yang tergeletak di meja pantry. Ia mendesah membaca nama yang
di layar ponsel.
"Dari Jimmy!"
Priyayi membuka sedikit pintu kamar mandi dan menjulurkan tangan minta ponselnya. Tiga menit
kemudian, dia buru-buru keluar dari kamar mandi, menyudahi mandinya. Handuknya
membungkus rambutnya yang basah, lantas berlari keluar rumah. Mobil Jimmy sudah terparkir di
depan rumah. Priyayi membuka pintu mobil dan duduk di joki kiri. Jimmy menatap nanar pada
rambut Priyayi yang basah. Handuk dikalungkan di leher menutupi pundak.
"Aku harus bilang langsung....," tukas Jimmy membuat jantung Priyayi dag-dig-dug.
"Aku sudah pesen cottage di Pulau Ayer. Kita berangkat Sabtu depan."
Tak ayal mata Priyayi berbinar. "Maksudmu kita berlibur ke sana?"
Jimmy mengangguk. "Temanku sewa cottage di sana, dia bikin acara Hawaiian Night."

Senym Priyayi mengembang sangat lebar. Ternyata Jimmy nggak secuek itu. Dan Jimmy nggak
lagi kecewa perihal tenggat waktu itu. Buktinya, dia memberi Piyayi kejutan manis sepagi ini. Hati
Jimmy memang seluas lautan. Itu yang sangat disukai Priyayi dari pacarnya itu. Ia mencium bibir
Jimmy kemudian memeluk Jimmy erat sebagai ucapan terima kasih dan perasaan terharu.
Dan..... Sedetik Priyayi melepas pelukannya, sebuah mobil yang nggak asing lagi menuju ke
arahnya. Mata Priyayi melotot.
"Mati aku! Mama! Aduh...." Priyayi diserbu kepanikan dan meloncat keluar mobil.
Dari mobil si Mama, keluar Mama dan Kweni. Mamanya menatap tajam Priyayi dan Jimmy yang
masih di belakang kemudi. Apalagi Priyayi berkalungan handuk, rambut acak-acakan, kaus, dan
celana kolor kedodoran.
"Ngapain di dalam situ? Kok nggak ke dalam rumah? Siapa dia?" tanya Mama menyelidik.

Jimmy keluar dari mobil dan menganggukkan kepala ke arah mama Priyayi. Kweni berusaha
mengingat di mana dan kapan permah bertemu cowok itu. Apa pemain sinetron, ya?
Oya, Kweni tadi sempat menangkap siluet tubuh Priyayi melepaskan pelukan dari cowok itu.
Untungg Mama lagi menoleh ke belakanga meraih kotak berisi makanan buat Priyayi di jok
belakang. Kweni bahkan sudah mengambil ancang-ancang mengalihkan perhatian Mama Priyayi
kalau Priyayi berbuat lebih jauh yang bisa bikin Mama mencak-mencak.
"Pagi Tante, saya cuma sebentar," tukas Jimmy.
"Mana suamimu?" tanya Mama.
Priyayi ngelirik Jimmy, melihat reaksinya tatkala dengar kata suamimu." Jimmy melengos.
"Di dalam."
Kweni ingat! Mulutnya menganga lebar, untung nggak sampai keceplosan. Ini cowok yang makan
siang bareng Priyayi dulu! Ya ampun! Apa benar mereka ada apa-apa, batin Kweni penasaran.
Wah, Yayi harus diselamatkan dari situasi ini!
"Ma...." Kweni memanggil Mama Priyayi dengan sebutan Mama.".... Ke dalam yuk, biar mereka
beresin urusan penting mereka. Waktu kita juga mepet, sebentar lagi harus balik ke lokasi."

Kweni menarik___agak paksa___tangan Mama supaya masuk ke rumah. Tepat saat itu, Jagad
keluar.
"Pagi Mama, Kwen," sapa Jagad.
"Hai." Jagad menghampiri kerumunan. Hai-nya Jagad mengarah kepada Jimmy, didendangkan
dengan (sok) akrab. Jimmy dengan kikuk membalas lambaian tangan Jagad. Temperatur tubuh
Priyayi sudah nggak keruan.
"Bener nih, nggak masuk dulu?" tegas Jagad kepada Jimmy. Jagad merapat di samping Priyayi,
sebelah tangannya merangkul bahu Priyayi. Tak pelak Jimmy dan Priyayi kaget. Untung Priyayi
segera tanggap. Maklum, mereka kan sudah mahir berakting spontan dalam segala kondisi.
Sedangkan Jimmy masih melongo.
"Dia terburu-buru banget. Makasih lho, Jim, udah Diusahain," timpal Priyayi. Tubuhnya bergerak
maju agar lepas dari rangkulanan Jagad, tapi tangan Jagad tidak mau lepas. Priyayi merasa
cengkeraman tangan Jagad kian kuat. Sialan.
"Oh ya, tentu." Jimmy menyahut nggak jelas. Raut mukanya merah padam. "Oke, aku permisi
dulu. Mari semua."
Kweni bengong. Si Mama sudah nggak menyelidik lagi. Priyayi menghela napas. Jagad?
Senyum-senyum kecil....

Di dalam rumah, Priyayi menyeret Jagad ke kamar dan menutup pintunya. Dia tidak mau suara
mereka sampai terdengar Mama dan Kweni.
"Ngapain kamu keluar segala tadi?!" protes Priyayi dengan suara tertahan.
"Hei, aku coba menyelamatkan kamu. Mamamu sudah curiga...."
"Terus ngapain pake ngerangkul-rangkul segala, ih!"
"Nggak bisa lihat apa, mamamu itu sudah curiga."
"Mamaku mencurigai semua hal di dunia ini!" tampik Priyayi berang. "Kamu bikin keki Jimmy
deh.....," imbuhnya kesal.
"menurutmu aku nggak keki harus sok mesra denganmu didepan cowokmu itu?" balas Jagad.
Priyayi menggeram. "Hheeergghh.....!!"

Kesalahan besar, rumit

"Aku melakukan kesalahan besar."
"Ke pacarmu?" celetuk Yasmin.
"Bukan. Eh, iya juga sih. Tapi tadi yang kemaksud adalah Yayi."
"Hah?" Yasmin melongo.
"Kurasa aku jatuh cinta sama dia."
"Ke pacarmu?"
"Bukan. Ke Yayi."
"Haaah?!" Yasmin tambah melongo.
"Jangan bikin aku merasa tambah nggak enak dengan reaksimu itu," seloroh Jagad manyun.
Yasmin nyengir.
"Sorry, ma, bukan maksudku, aku cuma kaget."
Secara nggak sengaja keduanya menghela napas bareng, hhh.... Kontan mereka tertawa.
Keduanya sedang berada di teras rumah Yasmin. Jagad menyempatkan diri mampir bertemu
Yasmin sekadar ngeluarin unek-uneknya.
"Hhh.... Apa yang mesti kulakukan?" tanya Jagad muram.
"Hhh.... Iya, apa yang mesti kamu lakukan, ya?" timpal Yasmin ikutan muram.

Jagad memutar bola matanya. Ah, Yasmin, kalau bukan karena dia yang tahu segalanya soal
rahasia ini, Jagad bakalan menempatkan Yasmin di urutan kesekian untuk diajak bicara.
"Ah, aku tahu! Yasmin berseru seraya menjentikkan jari.
"Kamu harus bisa bikin Yayi jatuh cinta padamu."
Jagad tetap muram. "Yas, masalahnya kan...."
Yasmin nyela, "Pacarmu, ya?"
"Dan pacarnya," timpal Jagad lesu.
Yasmin ikutan lesu. "Masalahnya memang rumit...."
"Sudahlah, Yas." Jagad membesarkan hatinya sendiri dan juga Yasmin. "Yayi bilang Santu
besok Jimmy ngajak dia pergi wekend ke Pulau Ayer, ada pantry di sana. Dia happy banget, Yas.
Kalau sudah begitu, nggak ada yang bisa kulakukan lagi, kan?"
"Ya ampun, aku inget!" seloroh Yasmin. "Yayi pernah cerita dia pernah dibaca garis tangannya
dan diramal bahwa ada dua pria di hatinya, salah satunya adalah pasangan sejatinya."
"Jimmy....," celetuk Jagad.
Yasmin nepuk bahu Jagad keras. Jagad sampai meringis di buatnya.
"Heh, belum tentu! Intinya dia juga menempatkan kamu di hatinya. Itu yang penting, betul
nggak?!" tutur Yasmin bersemangat sampai alisnya naik.
"Yas...." Jagad memandang Yasmin. "Makasih sudah menghiburku, aku sangat menghargai
usahamu." Jagad lalu berdiri, siap untuk pergi.
"Lho, Gad....?!" Yasmin melongo, Jagad nggak tergerak dengan penuturannya.
"Oya, Yas, kamu jangan cerita ini ke siapa pun, oke."
"Tapi...."
"Dilarang keras. Ke siapa pun." Jagad mempertegas kata-katanya. Yasmin mengkeret dan
mengangguk.
"Thanks. Aku cuma nggak ingin merusak kebahagiaan Yayi. Kamu juga, kan?"
Lagi-lagi Yasmin mengangguk. Aduh, betapa berat beban hidupku, menjaga rahasia semua
orang di dunia ini..... Weekend, berubah

Hup. Priyayi menjinjing traveling bag yang menggembung menutupi pintu kamar. Tadinya pintu
itu ingin dikuncinya, tapi nggak jadi. Siapa tahu Jagad butuh komputer. Pagi-pagi itu sudah
keluar, pamitnya mau menyiapkan acara kemah bagi anak-anak permukiman padat. Priyayi
teringat acara belajar skateboard. Hmm.... Pasti menyenangkan bagi mereka.
Tin. Suara klakson mobil Jimmy. Priyayi bergegas keluar dan perjalanan menuju Kawaiian Night
dimulai.
Jimmy tersenym menyambut Priyayi, yang dibalas gadis itu tak kalah riangnya. Kesegaran pagi
bersaing dengan kesegaran rona wajah mereka. Itu karena suasana hati mereka juga lagi segar.
Ini adalah perjalanan liburan bersama pertama setelah Priyayi menikah. Jadi, mereka
menyambutnya dengan antusias.
"Yi...."
"Ya...."
"Soal dua tahun itu..., aku nggak keberatan menunggumu. Maaf kalau waktu itu aku emosi.
Setelah kupikir matang-matang apalah arti dua tahun dibanding kehilangan kamu....."
"Ooo.... Jim....that's so sweet...." Priyayi mengerjap-kerjapkan mata, sangat senagn mendengar
akhirnya Jimmy berkata itu.
Sekitar setengah jam perjalanan. Ponsel Priyayi berbunyi. Nomor nggak dikenal +62812xxxxxx
"Priyayi? Istri Jagad?" suara laki-laki.
"Iya, saya Yayi. Ini siapa?"
"Saya Eki, teman Jagad. Begini...., Jagad .... Mmm.... Kecelakaan...."
"Haaahh?! Di mana?! Luka parah nggak?! Sekarang dia di mana?!" pekik Priyayi cemas. Tanpa
sadar dia memajukan tubuhnya. Raut mukanya tegang sehingga Jimmy menoleh
memandangnya.
Si teman memberitahu informasi yang dibutuhkan. Priyayi menutup ponsel. Wajahnya pias.
"Jim, maaf, aku nggak bisa ikut, Jagad di rumah sakit...."
"Kenapa dia?" tanya Jimmy tak urung terkejut.
"Kata temannya dia dikeroyok preman, gara-gara membela anak didiknya. Dia.... Ditusuk...." bibir
Priyayi bergetar. Kedua tangannya menutup muka. Kemudian dia menoleh ke Jimmy. "Jim,
maaf.... Aku harus ke rumah sakit."
"Kuantar kamu ke sana," ujar Jimmy kemudiam. Raut mukanya sangat tegang, tapi Priyayi nggak
menyisakan pikirannya untuk menelaah ekspresi Jimmy.
Pikiran Priyayi kalut. Dia menghubungi orangtua Jagad, lantas menghubungi mama-papanya.
Mereka sepekat nggak memberitahu dulu si kakek.

Selama perjalanan menuju rumah sakit yang lumayan juga jauhnya, Priyayi nggak bisa duduk
dengan tenang, nggak sabar untuk cepat sampai. Jimmy berusaha nggak menampakkan emosi
apa pun.
Sampai di depan rumah sakit, Jimmy membantu menurunkan traveling bag Priyayi.
"Yi, karena banyak keluargamu akan kemari, aku nggak bisa nganter kamu ke dalam...."
Priyayi meremas lengan Jimmy. "It's okay. Makasih ya atas tumpangannya dan maafkan aku,
semuanya nggak sesuai rencana."
Jimmy mengangguk lemah. Ia masuk ke mobil dan sempat melihat Priyayi lari tergesa-gesa ke
dalam lobi rumah sakit. Dada Jimmy sesak.
.... Kejadian barusan menyadarkan Jimmy. "Aku sudah kehilangan kamu, Yi...."
Di rumah sakit, mamanya dan Kweni sudah tiba lebih dulu.
"Yayik," panggil Mama cemas. Ada dua teman Jaagd berada di sana, salah satunya
menyongsong Priyayi.
"Saya Eki. Jagad sedang dioperasi."
"Gimana kejadiannya?"
"Jagad berusaha menolong Lukman, salah satu murid kami, dia sekarang juga sedang dirawat.
Dia nggak sengaja nabrak preman mabuk dengan skateboard. Lukman dihajar, kemudian Jagad
datang, mereka berantem. Lalu datang teman-teman mereka mengeroyok dan ada yang bawa
pisau menusuk Jagad. Lukman lari mendatangi kami."
Priyayi menutup mulutnya dengan tangan. "Ya ampum! Ya ampun....!"
"Dia luka parah," kata Mama sembari merangkul Priyayi. Priyayi hanya bisa berkata "ya ampun"
berkali-kali sementara tangannya memegang dada, shock.
"Dunia anak-anak kami di jalanan memang keras. Kami sebagai pendidik mereka mau tak mau
ikut merasakannya,"tukas Eki serius.

Selanjutnya mereka diam. Menunggu. Kedua teman Jagad pamit karena masih harus mengurus
persiapan acara perkemahan. Papa Priyayi tiba dua menit kemudian. Kweni menceritakan
kembali kepada beliau tentang apa yang telah terjadi. Priyayi duduk melamun. Mamanya, well....
Sudah naluri dasarnya..., meneliti keadaan anaknya itu. Penampilannya kasual tapi rapi, sandal
santai, jins, kaus, makeup tipis, dan wangi parfum. Masih segar. Aneh...., terutama dengan tas
besarnya itu. Mengingat berita musibah yang menimpa Jaagd sangat mendadak, kayaknya
nggak cukup waktu menyiapkan diri dan berdandan serapi ini. Atau Yayik memang mau
pergi.....? Ke mana dia tanpa suaminya dengan tas sebesar itu....?

Si mama berusaha keras tidak bersikap menyelidik di saar seperti ini, tapi pertahanannya nggak
sekuat imannya.
"Kamu sudah siap dengan pakaian Jagad?" tanya Mama sambil menunjuk tas besar di lantai.
Agak lama otak Priyayi baru bisa nyambung. "Oh.... Itu.... Bukan....! Itu bajuku, aku harus
menginap di sini...." otaknya bereaksi cepat.
"Aku menunggu operasi Jagad selesai, baru balik ke rumah ambil keperluan hariannya,"
tambahnya sigap.
"Lebih baik kamu pulang sekarang, kami nunggu di sini, jadi kalau Jagad sadar, kamu sudah ada
di sini," saran Papa.
Priyayi menganggul. "Kwen, temani aku ya."
Maksudnya, nggak cuma nemenin, tapi juga nganter dia dengan mobil si mama. Untung Mama
nggak mengusut soal dengan apa dia datang. Dan yang pasti, Kweni harus dibuat bungkam di
depan mereka. Foto, tertegun

Baru beberapa jam ditinggal, Priyayi merasakan atmosfer yang sama sekali berbeda kala masuk
rumah. Rumah jadi terasa.... Kosong. Padahal dulu dia terbiasa dengan hal semacam itu.
Sekarang sebaliknya, dia terbiasa berbagi. Berkompromi. Bertukar argumen. Bekerja sama.
Bersama Jagad, sesuatu yang besar menjadi kecil, sesuatu yang kecil menjadi nggak ada. And
he's such handyman. Oya, dan masalah menenangkan dirinya karena stres kerja dan juga
soal.... Jimmy.
Priyayi menghela napas, lantas menuju kamar Jagad. Baru kali ini dia membuka lemari dan
memilah-milah perlengkapan cowok itu. Dia mengambil tas olahraga dan mulai berkemas. Sisir,
gel rambut, deodorant roll-on, parfum. Jagad selalu wangi. Iseng dia membuka laci. Priyayi
tertegun.

Ada foto Jagad dan Syamila berdua, dan foto Syamila seorang diri. Entah datangnya dari mana,
Priyayi merasa dadanya bergemuruh melihat foto-foto tersebut.
"Aduh, kenapa sih aku ini!" Priyayi nepuk kepalanya keras, menyadarkan diri, dan bergegad
membereskna sisa barang lalu berangkat kembali ke rumah sakit dengan mengendarai mobilnya
sendiri.
Beberapa jam kemudian operasi selesai dilaksanakan dan Jagad dipindahkan ke ruang intensif.
Hanya Priyayi yang menunggu di sana. Dia merapikan barang-barang milik Jagad dan baru
menyadari ponsel Jagad bergetar. Ternyata ada beberapa panggilan masuk.
Syamila.
Syamila.
Syamila.
Priyayi menghela napas panjang, tertegun lama sebelum akhirnya memutuskan untuk nelepon
balik Syamila dan menuturkan apa yang terjadi.

Sadar, menunggu

Sepertinya baru sebentatr memejamkan mata, datang perawat ke kamar Jagad. Membersihkan,
ganti perban, mengobati, dan merawat pasien satu ini. Ternyata Jagad sudah sadra lumayan
lama. Priyayi nggak tahu karena tertidur. Jagad dipindah ke kamar perawatan biasa. Priyayi
menghendaki kamar VIp.
Jagad merasa sangat tersentuh mengetahui Priyayi setia menungguinya.
"Sini...." Jagad menyuruh Priyayi mendekat. Priyayi menurut dan menarik kursi, lalu mendekat
duduk di samping Jagad.
"Kamu nggak ingin tahu kejadian yang menimpaku?"
Priyayi menggeleng. "Aku nggak mau dengar. Aku nanti akan mencuri dengar kalau kamu cerita
ke orang lain, oke?"
Jagad kontan tertawa tapi badannya jadi sakit semua.
"Oya, mamamu nanti akan datang," tambah Priyayi.
"Yi, makasih ya sudah nemenin. Itu berarti kamu berkorban dengan membatalkan acara
liburanmu," ucap Jagad menatap Priyayi lekat-lekat.

Priyayi belum pernah melihat Jagad berbicara dan menatapnya sesentimentil ini. Kayak begini
ya, sikap orang yang baru saja sadar dari obat bius, pikir Priyayi.
"Hhh.... Lihatlah dirimu, lebam-lebam dan bekas jahitan.... Sejelek-jeleknya kamu, aku masih
punya rasa belas kasihan," celetuk Priyayi melumerkan suasana sentimentil yang bikin dia
merinding grogo. Hiii....
Jagad meraih tangan Priyayi dan menggenggamnya. "Yi, aku...."
Tepat saat itu, muncul seseorang di ambang pintu. Mengetahui siapa yang datang, Priyayi
secepat kilat menarik tangannya dari genggaman Jagad.
"Mila....," panggil Jagad terkejut.
Priyayi berdiri. "Aku yang nelepon dia."
"Apa?" seloroh Jagad. Terkejut juga.
"Hai, silahkan," ujar Priyayi kepada Syamila. Syamila mengangguk dan mengambil tempat di sisi
seberang Priyayi berdiri dekat pembaringan Jagad.
Syamila dan saling memandang dan tersenyum. "Hai, Mas, aku datang."
Priyayi merasa perutnya mulas. Ia berdeham menatap Syamila. "Maaf. Eee.... Bisa kamu di sini
sampai ibu, eee.... Maksudku mamanya Jagad datang? Kalau kamu nggak repot sih."
"Tentu."
"Eee... Gumam Jagad mau ngomong tapi langsung diserobot Priyayi.
"Makasih ya. Saya harus ke kantor sebentar. Sampai nanti." dengan tergesa-gesa Priyayi meraih
tasnya dan keluar. Mata Jagad mengikuti sampai Priyayi menghilang.

Berdiiri tepat di samping mobilnya, Priyayi berkacak pinggang dan mengumpat dengan sepenuh
hati. "Sialan, sialan! Hiiih... Harus balik ke dalam, sialan!"
Kunci mobilnya ketinggalan. Dengan langkah gontai dia berjalan kembali ke kamar Jagad
dirawat.
Mendekati kamar Jagad, Priyayi menempelkan tubuhnya ke dinding dan kepalanya menjulur ke
ambang pintu yang tidak tertutup sempurna, mengintip apa yang " berlangsung" did dalam
kamar. Dia takut kedatangannya kembali bakal menganggu hal yang seharusnya nggak boleh
diganggu.
Priyayi melihat tangan Syamla terulur ke kening Jagad. Mereka saling tersenyum.
"Gawat, perutku mulas lagi," gumam Priyayi dari balik dinding.
"mbak....? Ada yang bisa saya bantu?"
Priyayi meloncat super kaget. Ups... Seorang perawat memergokinya.
"Mbak cari pasien?"
Priyayi mengangguk spontan. Kalut.
"Atas nama siapa?"
"Yayi...." panggil Jagad heran Priyayi muncul di ambang pintu.
Ternyata Priyayi meloncat ke arah yang salah....
"Oh ,hai," cetus Priyayi melambaikan tangan. Dia noleh ke perawat tadi. "Sus, udah ketemu,
hehe... Terima kasih...." Priyayi meringis ke arah suster. Dengan sangat segan, Priyayi lantas
masuk.
"Kamu diapain suster?"
"Hehe.... Nggak...." Priyayi berdiri rikuh. Syamila dan Jagad memandanginya. "Kunci mobil
ketinggalan...., sori menganggu." Priyayi segera menyambar kunci yang tergeletak di meja.
Tanpa ba-bi-bu dia ngeloyor ke arah pintu.
"Hei," panggil Jagad.
Priyayi berhenti dan noleh. "Ya?"
"Kamu nanti ke sini jam berapa?"
"Eee... Mamamu kan nanti ke sini, jadi... Lebih baik aku... Nggak di sini...."
"Begitu ya... Tapi besok ke sini, kan?"
Priyayi melirik Syamila. Gadis itu membuang muka. "Well, mungkin. Aku harus pergi sekarang."
Wuuusss..... Gelap, menyepi

Peeet.....<maksudnya lampu tiba-tiba padam>
Kontan Priyayi buru-buru bangkit, kaki kanannya menginjka pump shoes yang berserakan di
lantai, dan membuatnya kehilangan keseimbangan....
KROMPYAANGG....!
Lampu kembali menyala. Ada Pak Ayub si satpan senior berdiri dekat saklar dengan bahasa
tubuh waspada. Begitu tahu siapa yang bikin keributan, Pak Ayub mengendorkan
kewaspadaannya.
"Maaf, saya kira sudah nggak ada orang. Tadi Mbak Yayi di mana?"
Priyayi tadi duduk meringkuk di lantai, meja menyembunyikan posisinya dari pandangan,
melamun menghadap jendela kantor yang menyisakn pemandangan senja metropolitan, sekadar
untuk nyepi, merenungkan perasaan yang menyergapnya akhir-akhir ini.
Aturannya aku lega menyaksikan Jagad kembali bersama orang yang dicintai. Tapi aku malas
mulas.... Huuh....
Sampai langit gelap, Priyayi tetap bergeming dengan pikiran terapung.
"Mbak Yayi baik-baik saja?" tanya Pak Ayub memastikan lantaran Priyayi hanya berdiri bengong.
"Oh, eh, iya, baik...." Priyayi memungut tutup gelas yang tadi jatuh tersapu telapak tangannya
saat berusaha menjaga keseimbangan.
"Maaf tadi saya mematikan lampu...."
"Nggak, nggak apa-apa."
Pak Ayub mengangguk kemudian memalingkan badan untuk keluar ruangan.
"Pak Ayub....," panggil Priyayi. Pak Ayub noleh.
"Iya, Mbak?"
"Mmm... Tentang dua pria itu..., ramalannya Pak Ayub...., apa bener saya harus memilik?"
Pak Ayub tertawa. "mungkin nggak harus memilih, cukup membuka hati dan pikiran dengan
jernih, itu akan membimbing seseorang menuju tempatnya."
Priyayi mengusap-usap rambutnya. "itulah masalahnya. Semakin saya membuka hati untuk
menerima segala kemungkinan, kok semakin bikin bingung. Apa saya terlalu lebar membuka,
ya?"
Pak Ayun lagi-lagi tertawa. " mungkin Mbak Yayi hanya perlu waktu."
Priyayi manggut-manggut.
"Dan lebih peka terhadap kata hati sendiri," Pak Ayub menambahkan.
Lagi-lagi Priyayi manggut-manggut. Manggut-manggut nggak ngerti, hehe.
Saat Priyayi beres-beres mejanya bersiap untuk pulang, ada SMS dari Jimmy, meminta dia
bertemu sekarang di kafe. Priyayi berdandan kilat dan berlari-lari keluar gedung.

Malam, keputusan

"Aku ingin putus."
Priyayi yang baru saja mendaratkan pantatnya di kursi di depan Jimmy kontan mendongak,
menatap Jimmy tak berkedip. Mereka terinterupsi dengan waiter yang membawa dua cangkir
kopi untuk merek.
"Aku sudah pesan minuman untukmu, kopi yang biasa kamu pesan. Mau pesan makanan juga?"
tawar Jimmy. Priyayi menggeleng lemah. Ia masih shock.

Jimmy menyesap kopinya. "Pembatalan pergi dengaku ke Ayer merupakan puncak
kecemburuanku. Aku nggak sanggup lagi juka harus mengalami yang lebih dari itu."
Kepala Priyayi tertunduk. "Maaf, aku nggak bermaksud begitu."
"Aku tahu. Kita saling mencintai, tapi aku terus-terusan dicekam perasaan cemburu dan nggak
nyaman. "Jimmy berhenti sejenak, memalingkan pandangan ke luar jendela, kemudian
melanjutkan, "Aku cuma nggak ingin gila, Yi...."

Priyayi bergeming beberapa lama. Matanya menerawang menembus ke dalam isi cangkir di
hadapannya.
"Aku sedih jika harus berpisah denganmu," ucap Priyayi lirih, nyaris berbisik.
"Sampai kapan pun aku nggak siap melepasmu, tapi aku juga nggak sanggup dengan hubungan
seperti ini, jadi, kuharap kamu mengerti."
Mata Priyayi mulai berkaca-kaca.
"Kalau kita memang ditakdirkan bersama, kita pasti bisa bersama. Mungkin.... Mmm.... Dua
tahun lagi seperti yang kamu bilang....?" Jimmy menyunggingkan senyum. Priyayi mengangkat
senyum lemah.
"Aku nggak ingin kita saling menunggu. Aku nggak ingin kita membuang waktu untuk sesuatu
yang mungkin bukan takdir kita. Jalani saja, akan mengarah pada takdir kita sendiri...."
"Oh, Jim... Kamu bikin nangis sekarang," celetuk Priyayi dengan mata berkaca-kaca. "Kebesaran
hatimu yang membuatku jatuh hati dan juga menangis...." Priyayi tidak menahan air matanya
lagi. "Aku cinta kamu, Jim."
"Aku tahu," sahut Jimmy. Dan aku juga tahu kamu mulai mencintai orang lain, Yi....
"Nggak bisakah kamu mengubah keputusanmu ini, Jim? Ini terlalu.... Menyedihkan," rajuk Priyayi
disela isakannya.
"Yi, kupikir inilah yang terbaik buat kita."
Huuu.... Huuuuu.... Priyayi tidak bisa tidak menangis tanpa suara.
"Jim... Boleh aku minta pelukanmu....?"
Jimmy tersenyum dan berpindah tempat ke samping Priyayi.
Huuaaaa..... Priyayi nangis keras di pelukan Jimmy.
Well, malu juga sih dengan adegan begini, tapi tak apalah untuk sesuatu yang akan menjadi hal
terakhir kali, pikir Jimmy miris.
Di masa depan adegan ini akan jadi adegan yang berkelebat di benak dan menjadi memori yang
kayak dikenang.
Jimmy mengantar Priyayi sampai gadis itu menjalankan mobilnya keluar dari pelataran parkir. Ia
lantas berdiri mematung. Selesai sudah. Kamu kalah, Jim! Menghindar, bungkam

Yasmin melambaikan tangan melihat Priyayi celingukan di depan rumah sakit.
"Ya ampun, kamu kok pucat sih? Sakit?" tanya Yasmin begitu Priyayi mendekat.
"Iya, nggak dandan, lagi!" timpal Kumala.
"Semalam kurang tidur, terus tadi bangun kesiangan."
Semalam Priyayi merenungi dan menangisi nasibnya habis-habisan. Sendirian.
Priyayi berbisik ke telinga Yasmin. "Ngapain kamu ngajak Mala segala? Aku kan mau curhat hal
penting rahasia banget...."
Ups. Yasmin meringis. "Tadi ke gym bareng, terus dia maksa ikut aku seharian ini. Maklum, stok
cowoknya lagi kosong. Aku nggak enak dong.... Apalagi dia tahu tujuanku."

"Ngobrol apaan sih, aku nggak denger," seloroh Kumala merangsek di antara teman-temannya.
Wajah Priyayi pucat.
Siang ini Priyayi menjemput Jagad pulang. Dia meng-SMS Yasmin supaya menemuinya di
rumah sakit. Sebelum menemui Jagad, Priyayi ingin banget curhat langsung ke Yasmin soal
pemutusan hubungannya oleh Jimmy semalam.

Tiba di depan kamar Jagad, pintu kamar terbuka. Priyayi melihat ada perawat di dalam dan....
Gawat! Ada Syalala, eh, Syamila! Priyayi buru-buru mundur dan balik badan menjauhi pintu.
"Aduh!"
"Auuuw!"
Priyayi menubruk Yasmin dan Kumala yang tadi berdiri di belakangnya.
"Sssst... Ini rumah sakit, janga berisik," tegur Priyayi berbisik.
"Kita berbisik juga karena kamu," seloroh Kumala.
"Sssst.... Ayo pergi, ada Sya.... Eh, mamanya Jagad." Priyayi menarik kedua temannya menuju
ruang tunggu di lorong agak jauh dari kamar Jagad.
"Kok malah pergi sih?" tanya Kumala heran.
"Eengg.... Perjumpaan anak dan ibu, aku nggak mau ganggu," sahut Priyayi kesal.
Dia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Yasmin. "Ada pacarnya, aku nggak mau ganggu
mereka."
"Ooo. Dari jam berapa dia kemari?"
"Nggak tahu, tadi...."
"Tuh kan, bisik-bisik lagi! Sebal, minggir kalian!" protes Kumala. Ia menarik Yasmin yang duduk
di tengah. Dia sendiri yang lantas menduduki tempat tengah di antara Priyayi dan Yasmin.
Bangkunya memang hanya muat untuk bertiga.
"Nah, sekarang kalian nggak bisik-bisik kalau ngomong."
Yasmin mencibir, priyayi melongo.
"Nih, kalian mau?" Kumala membuka tas dan menyodorkan cokelat berbentuk kepingan kepada
kedua temannya.
Yasmin menggeleng, Priyayi nyeletuk, " Aku nggak nafsu makan apa pun di rumah sakit."
"Ya udah."
Lalu Priyayi menemukan ide guna memecahkan kebuntuan untuk curhat ke Yasmin. Dia meraih
ponsel dan jempolnya mulai memencet huruf demi huruf.
Semalam Jimmy mutusin aku karena nggak tahan pacarn dengan kondisi sekarang. Aku pataj
hati:(
Yasmin membuka ponsel mendengar nada terima SMS. Astaga, Yayi! Dia menoleh ke Priyayi.
Priyayi pura-pura nggak menggubris. Yasmin membalas....
Jadi itu yang bikin kurang tidur? Hmm, cepat atau lambat Jimmy akan mengakhiri hubungan
kalian. Mana sangguplah! Kamu dan Jagad kan akrab. Coba kalau kamu cuek mampus ke
Jagad, Jimmy mungkin masih bisa tahan.
Priyayi membaca SMS balasan Yasmin dan mengetik balasannya.
Huh, kamu sama aja, bikin sedih . Tai mungkin lebih baik begitu ya.

Giliran Yasmin membaca SMS dan mengetik balasan. Sementara Kumala tidak menyadarinya.
Setahunya, kedua temannya sibuk dengan ponselnya masing-masing.
Lebih baik apanya! Kamu nggak dapat apa-apa. Sekarang suami berduaan dengan cewek lain
malah dibiarin. Payah! Pacar nggak, suami nggak! Pengorbanan Jimmy melepasmu akan sia-sia
kalau kamu juga melepas Jagad. Payah, payah, payah!
Membaca balasan Yasmin, Priyayi menoleh dan mendelikkan mata ke arah Yasmin. Giliran
Yasmin yang bergeming, pura-pura nggak menggubris. Priyayi lantas mengetik.
Aku nggak menjalin hubungan dengan Jagad, jadi aku nggak pernah melepas dia, dia aslinya
lepad beban, tau!
"Hah!" Yasmin berseru dengan nada mengolok membaca SMS dari Priyayi.
Kumala setengah melonjak kaget seraya menoleh ke Yasmin kesal. " Ngagetin aja...."
Priyayi meringis geli. Yasmin membalas cepat dan dibaca Priyayi.
Istri yang buruk, menelantarkan suami!
"Apa kamu bilang?" seru Priyayi seraya memandang Yasmin. Kumala bingung tiba-tiba Priyayi
menegur Yasmin.
"Yasmin nggak bilang apa-apa, Yi."
Yasmin mengangguk." Iya, aku dari tadi diam aja. Aneh...."
sahutnya sembari mencibir. Hihihi....
Dengan gemas Priyayi membalas.
Dia bukan suamiku. Dan aku bukan istri yang buruk! Dia sama orang dicintainya, tauuu!
Yasmin membalas.
Memanf kamu nggak mencintai....?!
"Yasmin!" pekik Priyayi. Lagi-lagi Kumala melonjka kaget.
"Astaga Yayi, Yasmin itu cuma selisih satu kursi, nggak usah lantang begitu kalau manggil!"
hardik Kumala berang.
Yasmin terkikik. "Tau tuh, hihihi...."
"Hah! Itu.... Itu....!" tiba-tiba Kumala megap-megap melihat seseorang yang berjalan mendekat.
Priyayi dan Yasmin kontam menoleh ke arah yang dimaksud Kumala.
Priyayi terperangah. Wah, gawat..... Syamila! Kumala kan pernah melabrak dia!

Kumala berdiri siap menyongsong Syamila. Dengan gesit Priyayi berdiri dan nahan badan
Kumala. "Aduh, jangan bikin ribut, please.... Ini rumah sakit."
"Tapi ini keterlaluan, Yi, masa dia tetap nyamperin Jagad!"
Yasmin ikut berdiri, bingung. "Emang siapa dia?"
Di antara kerepotannya menahan Kumala yang mulai naik darah, Priyayi menjawab dengan
suara berbisik. "Itu pacar Jagad."
Mulut Yasmin membentuk huruf O panjang. "Oooo...."
Kumala berseru ke arah Syamila, "Heh, kamu! Ngap..."
Hup. Priyayi membungkam mulut Kumala dengan tangannya lalu menyeret Kumala dengan
paksa, menjauh dari jalan yang akan dilewati Syamila. Hanya Yasmin yang berditi saat Syamila
lewat. Itu pun sudah bikin Syamila agak ngeri, karena Yasmin memandangnya tanpa kedip.
Apalagi kalau Kumala nggak dicegah, bisa-bisa Syamila pingsan dan ikut dirawat karena shock
menghadapi kegarangan Kumal. Sementara itu, Priyayi mendekap erat Kumala di balik tangga.

Beberapa lama kemudian, Yasmin melongok. "Clear!"
Priyayi melepas sekapannya dan menghela napas.... Hahhh.....
Kumala berang. "Aku dizalimi!!"
Hahaha.... Priyayi dan Yasmin tergelak. Apalagi rambut kriwil Kumala awut-awutan. Ketiganya
terkapar di tangga. Orang-orang memandangi mereka dengan tatapan aneh.
"Ayo, jemput Jagad," ajak Priyayi berdiri.
"Iya, sebelum dikira pasien di paviliuv perawatan jiwa yang kabur," timpal Yasmib.
"Hei!" tiba-tiba dari arah belakang, dua orang perawat berseru.
"Lariii....!" Ketiga cewek itu ngibrit kencang, tanpa tahu pasti siapa yang ditegur perawat itu.
"Yas, kamuh bawah Malah pulang ajah," intruksi Priyayi dengan tersengal-sengal karena sambil
berlari. "Kalian belok sanah...."
Mereka berpisah di perempatan lorong.
Priyayi tiba di hadapan Jagad dengan ngos-ngosan. Jagad terheran-heran dibuatnya.
Priyayi meringis. "Takut kamuh kelamaan nungguh, jadih larih-larih, hhh.... hhh....."





part* 29

Ragu, honeymoon

Priyayi menelungkup di meja pantry dengan kepala dibenamkan di antara kedua tangan. Nggak
ada kesibukan lagi di Sabtu malam. Nggak ada Jimmy. Dan Jagad sudah punya dunianya
sendiri. Teman macam Kumlala mengajaknya keluar tapi Priyayi sedang bosan menghabiskan
malam dengan obrolan peribasi dan intens, berdua saja.
Untuk kesekian kali diamatinya brosut yang ditindih tangannya. Brosur paket honeymoon kiriman
oma dan opanya, sebagai hadiah pernikahan Priyayi, beliau membiayai semua biaya
honeymoon. Tinggal si pasangan baru yang menentukan ke mana tujuannya.

Priyayi dilanda keraguan untuk mengajak Jagad. Priyayi punya harapan dengan perjalanan
honeymoon___walaupun dalam pratiknya nggak honeymoon beneran___dia bisa menjalin
hubungan lebih dekat lagi dengan teman serumahnya itu. Maksudnya, menjadi Priyayi berpikir
kenapa nggak sekalian saja jadian beneran sama Jagad.
Tapi.... Masalahnya dia dulu yang menggiring Jagad supaya balik ke Syamila.
"Hhh..... Mana kutahu kalau perasaanku bisa berkembang seperti ini," gumam Priyayi dengan
tampang lesu. Kepalanya lagi-lagi ditangkupkan ke dalam dua tangan di atas meja pantry.
"Yi," panggil Jagad. Karena nggak ada respons, Jagad mendekat dan menyentuh tengkuk Priyayi
setengah melonjak dan mendongak

"Kamu sakit?" tanya Jagad.
"Nggak!" jawab Priyayi spontan sembari merapikan rambut.
Ups, mata Jagad mengarah pada brosut. Buru-buru Priyayi menyambar brosur tersebut dan
bangkit dari duduknya.
"Kenapa menelungkupkan kepala gitu?" Jagad kurang percaya Priyayi kalau sudah menyahur
urusan pengakuan keadaan sakit/tak sakit.
"Oh, lagi mikir kerjaan."

Tahu-tahu tangan kanan Jagad sudah mendarat di dahi Priyayi. Priyayi refleks mengelak dengan
menggenggam tangan Jagad yang terulur itu. Mata bertemu mata. Tangan bertemu tangan.
Sekarang sudah memasuki detik ke-21. Posisi mereka masih seperti tadi. Dada Priyayi berdebar-
debar nggak keruan. Dia merasakan remasan tangan Jagad menguat. Kali ini Priyayi
memutuskan nggak akan mengelak.
Lakukan apa pun yang kamu mau, Gad.... Priyayi membatin.
"Aku....." Jagad menelan ludah.".... Harus pergi sekarang.
Tangan mereka pun terlepas. Jagad memundurkan badannya.
"Jangan lupa kunci pintu. Jangan ketiduran di sofa."
Selepas kepergian Jagad, Priyayi mendesah sekeras-kerasnya. Dilihatnya brosur honeymoon
sekali lagi sebelum akhirnya dilempar ke tempat sampah.

Rumah, pusing

Yasmin menelepon Jagad, yang sedang berada di kamar.
"Yayi cerita nggak?"
"Cerita apa?"
"Yayi putus ama Jimmy. Jimmy yang mutusin."
"Oh ya?" Jagad terkejut.
"Sekarang dia di mana?"
"Katanya pergi ke bar ama Sally."
"Wah, sialan tuh anak, nggak ajak-ajak,"celetuk Yasmin.
"Dia lagi bosan sama kamu."
"Ug, kamu juga sialan."
Jagad meringis, kemudian bertanya ke Yasmin. "Hmm.... Yass, aku mesti gimana di depan dia?"
pura-pura nggak tahu sambil mencing dia untuk cerita....?" Jagad bingung sendiri. "Aku nggak
enak kalau berlagak nggak ada apa-apa, tapi dia emang berlagak nggak ada-apa di depanku."
"Halah, nggak penting. Yang penting itu kesempatan kamu menyatakan perasaanmu ke dia,"
saran Yasmin straight to the point.
"Aku nggak bisa, Yas. Aku masih berhubungan sama orang lain. Aku nggak mau jadi cowok
brengsek, Yas."

Yasmin menghela napas keras, sampai terdengar Jagad di speaker ponselnya. "Kamu usah
brengsek sejak kamu meniduri Yayi, Gad...." Yasmin berujat kalem, sama sekali nggak ada nada
menghardik atau sinis pada suaranya.
"Oh, Yas, kamu bikin aku tak berdaya." Jagad menimpali dengan suara memelas.
"Sat hal yang mesti kamu camkan, Gad...., Yayi nggak akan mau melakukan itu dengan cowok
yang nggak membuatnya merasa nyaman dan berkenan dia hatinya."
"Tapi kamu sama-sama mabuk waktu itu."
"A-a! Dia bisa nyetir mobil sampai rumah dengan selamat malam itu kan. Dia nggak mabuk
mampus. Dia memang di bawah pengaruh alkohol hingga berani melakukan itu tapi dia tahu
siapa yang tidur bersamanya."

Semalaman Jagad memikirkan benar-benar semua ucapan Yasmin di telepon. Pandangan Jagad
menjelejah gelisah ke seluruh kamar dan berhenti di laci meja. Ia buka laci tersebut dan
mengambil foto.
Sekarang aku nggak bisa, Yas....
Yaaahh.... Apa yang bisa diharapkan dari menjadi pasangan jadi-jadian? Yang ada cuma
rekayasa. Andai akhirnya timbul satu rasa yaang nyata...., itu salah sendiri! Aturannya memang
nggak begitu, kan?
Jadi.....
"Itu salahmu sendiri, Gad," gumam Jagad pada dirinya sendiri.

Jauh, terlantar

"Yik, sabtu kamu dan Jagad ke rumah ya, kita makan malam bareng. Sudah lama kita nggak
kumpul-kumpul...."
Priyayi menghela napas. Wajahnya nggak bersemangat. Bukan soal undangan makam
malamnya, melainkan karena dia terpaksa menolak undangan tersebut. Well, kalau datang
sendiri sih dia pasti bisa. Tapi dalam kasus ini, di diwajibkan bersama sang pasangan.
Masalahnya....
"Yik? Halo?"
Sebentar, kita lanjutkan dulu pembahasannya. Masalahnya sudah seminggu Priyayi berjauhan
dengan Jagad. Jagad yang tampak menjauh. Bawaannya sibuk. Banget. Sampai-sampai ngobrol
pun udah nggak pernah. Paling banter sapaan dan basa-basi sedikit di pagi hari. Di malam hari,
kendati Priyayi masih nongkrong di depan TV, Jagad memilih langsung ngeloyr ke kamar.
"Ma, maaf...., kayaknya kami nggak bisa deh. Aku sibuk banget, Jagad juga. Hmm... Mungkin
minggu depan, atau minggu depannya lagi. Lihat nanti deh."
Priyayi menutup flip ponselnya, meraih tas, dan melangkah keluar dari ruang kerjanya. Hari
sudah gelap saat dia melajukan mobilnya ke cafe and bar.
"Hai, Ron. Yang biasa ya."
"Sip. Sendirian aja?" tanya Robby, bartender yang sudah mengenal Priyayi karena seringnya
Priyayi ke tempat ini. Ini memang bar langganan cewek itu sejak zaman culun dulu.
"Ho-oh," jawab Priyayi lesu.
Belakangan ini, sepulang kerja Priyayi selalu mampir ke tempat ini. Kadang sama teman. Kadang
sendiri. Tapi nggak pernaj lagi sama Jimmy. Juga Jagad.

Omong-omong soal Jimmy, sayup-sayup berita yang masuk kuping Priyayi adalah Jimmy
sekarang resmi "jalan" ama Bianca.
Hrrrgghh.....
Ramalan Pak Ayub salah. Dua-duanya bukan pasangan sejatiku. Tapi bukan beliau yang keliru,
melainkan aku sendiri. Aku nggak membuka mata hatiku bahwa selama ini udah mencintai orang
yang sangat dekat dengan keseharianku.... Hhh.... Sekarang dia menjauh bersama orang lain....
Aku bisa apa, coba?
"Ssst.... Masih patah hati?" tanya Robby, melihat Priyayi yang melamun dengan wajah lesu.
Priyayi memang sempat menyinggung sepintad tentang suasana hatinya ke Robby.
Priyayi nyengir. "Masih nih. Beruntun."
"Kayak tabrakan aja."
"Hehe.... Emang. Satu ditabrak cinta lama. Terus langsung ditabrak cinta baru. Well, bukan baru
sih, tapi baru belakngan ini aja menyadarinya. Habis-habisan pokoknya."
"Ouch," celetuk Robby sembari mengepalkan tangan kanannya dan menempelkannya ke dada
kirinya. Lambang berduka.

"Untuk itulah bar diciptakah, menampung orang-orang yang patah hati supaya nggak terlantar di
jalan sebelum ahli jiwa memungut ongkos dari penderitaan mereka, hehe....." tutur Robby.
Priyayi tertawa dan mengacungkan jempol. Tapi ada yang diralat sedikit. Baginya, dia nggak
terlantar di jalan, melainkan di rumah. Hatinya terlantar setiap berada di rumah......













part* 30 (ending)

Sunrise, kompleks apartemen

Kalau di dunia ini hanya ada 100 pria, berapa kira-kira yang setia?
Mungkin hanya lima
Sekitar tiga puluh
Dua puluh saja.
Sepuluh, termasuk saya.

Wow! Priyayi menurunkan majalah wanita 1 terbitan ibukota edisi lama di kamar, dari depan
wajahnya. Kalau 100 perempuan, berapa yang setia, ya?
_______________
1. Sumber : Rahasia Kesetiaan Pria 'Agar Pindah ke Lain Hati,' Femina no 19/xxxII 6-12 Mei
2004

Berhubung lagi iseng sembari nunggu waktu berjalan, Priyayi kembali mengangkat majalah
menutupi wajah, kembali menekuni poin-poin pertanyaan yang ditujukan kepada empat pria dan
harus mereka jawab.

Batas kesetiaan itu di mana sih?
Pada emosi dan hasrat khusus.
Kontak fisik yang intens.
Di hati.
Selama tidak melakukan hal-hal yang melukai perasaan.

Priyayi mencerna perlahan. Oke, mari ditelaah.
Pada emosi dan hasrat khusus.
Seberapa khusus batasan khusus itu? Apakah flirting, sekadar makan bareng, jalan bareng,
nonton bareng, dan aktifitas lain yang mengatasnamakan "Just for having fun" nggak termasuk
dalam term tersebut? Apakah yang dimaksud khusus adalah menjalin hubungan lebih dari
sekadar teman, teman kencan, teman tapi mesra, teman curhat, sahabat, hemm....
Kontak fisik yang intens.
Yang ini sudah jelas. Dalam habitat hidup manusia, fisik akan selalu dinilai pertama, termasuk
untuk urusan ini, urusan tentang batas kesetiaan. Masalahnya seberapa jauh batasan intens
itu....?
Di hati.
Hmm... Nggak melakukan kontak fisik, tapi kalau hatinya dipenuhi sosok lain, berarti dapat
dikatakan nggak setia. Berarti.... Priyayi berpikir-pikir, tingginya intensitas kontak fisik, mungkin
sampai batas tertinggi dari definisi kontak fisik itu, katakan saja tidur bersama, selama nggak
melibatkan hati, belum bisa dikatakn berkhianat. Wah.... Apa betul begitu? Priyayi geleng-geleng
kepala, makin ditelaah makin tambah kacau definisinya.
Selama tidak melakukan hal-hal yang melukai perasaan.
Kalau misalnya ada satu pasangan yang sedang berjalan-jalan, kemudian salah satu
memandang satu sosok lawan jenis yang nggak dikenal semata-mata hanya karena kagum
dengan baju atau sakit hati, berarti.... Sudah dibilang nggak setia.
Grrrh..... Berarti selama ini aku memang termasuk cewek yang nggak setia. Ya ampun....
Sedihnya, pikiran Priyayi berkoar-koar. Raut mukanya jadi muram.
Hhh... Ini bisa membunuhku, aku harus berhenti! Ujar Priyayi dalam hati seraya bangkit dari
tempatnya meringkuk dan melangkah keluar kamar.

Pagi masih gelap saat Priyayi membuka seluruh tirai yang menutupi jendela lebar apartemen.
Semalam Priyayi tidur di apartemen Kumala. Nggak ada siapa-siapa. Dan itu yang lagi
dibutuhkan Priyayi sekarang. Being alone for a while.
Dari ketinggian lantai ini, matahari terbit akan tampak lebih jelas dan cantik. Priyayi menyeret
kursi malas ke dekat jendela menghadap timur, dan dengan secangkir kopi panas plus musik dari
CD chill-out, Priyayi duduk bersiap menyambut munculnya matahari pagi sebelum ke bawah dan
melakukan satu lagi hal favorit setiap berada di apartemen Kumala.
Kumala memang sempurna dalam memilih apartemen. Yang paling Priyayi sukai adalah jendela
sebagai dapat menikmati sunrise dan sunset. Yang kedua adalah taman yang yang dimiliki
apartemen ini. Tamannya indah dengan bunga-bunga yang terawat segar. Dua hal itu sangat
menenangkan, apalagi jika suasana hatinya lagi nggak bagus sperti sekarang ini.

Selain dua itu, hal favorit lain di apartemen itu adalah tentu saja private party, hehe. Eits, tapi itu
nggak menenangkan ya, hanya menghibur saja.

Langit mulai menguning. Priyayi menyesap kopinya perlahan. Hati Priyayi sedang muram. Dia
rindu kebersamaannya dengan Jagad. Seperti dulu. Dia merasa kehilangan. Dia mulai
membenarkan kata-kata Yasmin di SMS dulu: pacar nggak, suami nggak.
Priyayi mengerjap-ngerjapkan mata saat matahari mulai menaik.
Aku kehilangan semua, batin Priyayi miris. Matanya tak lepas memandang keindahan langit pagi
dengan matahari terbit sempurna, seperti telur mata sapi raksasa. ThanKs God, aku bersyukur
punya kesempatan menyaksikan keindahan alam ini.

Priyayi bangkit dari duduknya dan berdiri. Tapi aku kehilangan dia, tuhan. Dia nggak lagi
melihatku ada di sana.... Untuknya..... Pandangan Priyayi kabur oleh titik air mata yang mulai
mengembun di sudur matanya.
Ah, terlalu merusak lagi indah ini. Priyayi segera mengganti bajunya dengan setelan sport lycra
warna pink. Keluar dari apartemen, masuk lift, dan lift mulai turun.

Priyayi mengembangkan senyum begitu tiba di taman kompleks apartemen. Dia berlari dua kali
mengelilingi taman, selebihnya berjalan agar lebih menikmati bunga-bunga yang
menyemarakkan taman.
"Thaks you flowers, you kame the world prettier," ucap Priyayi dan mencium segerombolan
bunga lili.
"And thanks you...., tou make my world prettier...."
Priyayi terkesiap kaget ada suara sangat dikenalnya terdengar tepat di belakangnya.
"Jagad!" seru Priyayi membalikkan badan.
"Pagi...." Jagad tersenyum manis.
"Kok bisa.... Kemari?" tanya Priyayi datar tapi sorot matanya tidak tahu menyembunyikan rasa
gembiranya.
"Kamu yang bilang sendiri, kamu selalu ke taman di pagi hari kalau menginap di tempat Mala."
"Eee.... Maksudku, ada apa sampai kemari? Ada hal penting?"
Jagad mengangguk. "Sangat penting."
Wajah Priyayi berubah tegang."Kakek....?"
"Bukan. Bukan orang lain, tapi aku."
"Kenapa kamu?"
"Minta maaf."
"Minta maaf?" ulang Priyayi heran.
Jagad mengangguk. "Akhir-akhir ini aku nggak banyak bersamamu. Aku.... Harus melepaskan
dan menyelesaikan beberapa hal hingga akhirnya aku benar-benar bisa ngomong ini ke kamu,
Yi."
Priyayi menyimak serius. Jagad meneruskan penuturannya . "Aku sudah kenal kamu, sudah
berteman, sudah pernah tidur bersama, sudah tinggal serumah, sudah menikahimu...., dan
aku.... Sudah mencintaimu..."
Jagad meraih tangan Priyayi yang dilanda kebengongan luar biasa.
"Tapi bodohnya aku belum mengatakan aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Yi."
Priyayi dilanda perasaan bahagia mendengar ungkapan perasaan Jagad, tapi tunggu dulu....
"Aku bilang aku sudah menyelesaikannya. Sudah selesai. Sekarang nggak ada orang lain selain
kamu." Jagad menjawab pikiran Priyayi.
Sontak Priyayi memeluk Jagad erat. "I really miss you, Gad. Aku benci waktu kamu
menjauhiku...."

Jagad mendekap kepala Priyayi. "Maag. Itu kulakukan karena aku ingin mengatakan cintaku
dengan yakin dan tanpa ada beban. Maaf ya, aku nggak akan kosmikku dan kosmikmu
berbenturan," celetuk Priyayi.

Jagad memencet hidung Priyayi . "itu karena kita belum jadian. Kalau udah jadian, kosmik kita
akan jadi serasi." keduanya tertawa.
"So, kita pasangan beneran sekarang, bukan jadi-jadian," celetuk Priyayi bermanja di lengan
Jagad. Jagad nyengir. Dia menundukkan kepala agar bisa mencium bibir Priyayi. Tapi melihat
orang-orang yang berada di taman memerhatikan Jagad dan Priyayi dengan sebegitunya
lantaran dua orang itu berpelukan sepagi ini, mereka jadi mengurungkan niat untuk berciuman.
"Hei, mau melakukan satu hal favorit di apartemen Mala di pagi hari?" Tanya Priyayi
mengedipkan sebelah matanya. Jagad menyeringai lebar.

Sore, capek

"Hhh....capeknya hari ini...." Kumala mengguman sembari membuka pintu apartemennya.
Setelah perjalanan panjang dalam pesawat, nggak ada yang lebih diinginkan selain.... Tiduurrr!
Dilihatnya ruangan berantakan. Piring bekas makanan, gelas-gelad, botol wine kosong....
"Sialan Yayi, nggak rapi-rapi dulu sebelum pergi. Awas ya."
Kumala melenggang berjalan menuju kamarnya. Ia membuka pintu.....
"AAAAAAAAAAA!!!" Kumala menjerit sejadi-jadinya. Tas jinjing terjatuh dari tangannya.
"Apa yang kalian lakukan di atas tempat tidurkuuuuu???!!!"

~SELESAI~