Anda di halaman 1dari 6

Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang

ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena
berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Berkurangnya aliran darah dan
oksigen ini bisa dikarenakan adanya sumbatan, penyempitan atau pecahnya
pembuluh darah. Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu: stroke iskemik maupun
stroke hemorragik.
Berdasarkan lokasinya di tubuh, gejala-gejala stroke terbagi menjadi berikut:
Bagian sistem saraf pusat : Kelemahan otot (hemiplegia), kaku, menurunnya
fungsi sensorik Batang otak, dimana terdapat 12 saraf kranial: menurun
kemampuan membau, mengecap, mendengar, dan melihat parsial atau
keseluruhan, refleks menurun, ekspresi wajah terganggu, pernafasan dan detak
jantung terganggu, lidah lemah. Cerebral cortex: aphasia, apraxia, daya ingat
menurun, hemineglect, kebingungan.
Faktor resiko medis, antara lain Hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi),
Kolesterol, Aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah), Gangguan jantung,
diabetes, Riwayat stroke dalam keluarga, Migrain. Faktor resiko perilaku, antara
lain Merokok (aktif & pasif), Makanan tidak sehat (junk food, fast food),
Alkohol, Kurang olahraga, Mendengkur, Kontrasepsi oral, Narkoba, Obesitas.
Dalam tatalaksana stroke waktu merupakan hal yang sangat penting
mengingat jendela terapinya hanya berkisar antara 3 sampai 6 jam. Tindakan di
gawat darurat untuk stroke akut sebaiknya ditekankan pada hal-hal berikut:
Stabilisasi pasien, Pemeriksaan darah, EKG dan rontgen toraks, Penegakan
diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, Pemeriksaan CT Scan
kepala atau MRI sesegera mungkin.
Untuk pengobnatan umum dapat dipakai patokan 5B: BREATHING, Harus
dijaga agar jalan nafas bebas dan bahwa fungsi paru-paru cukup baik.
Pengobatan dengan oksigen hanya perlu bila kadar oksigen darah berkurang.
BRAIN, Udem otak dan kejang-kejang harus dicegah dan diatasi. Bila terjadi
udem otak, dapat dilihat dari keadaan penderita yang mengantuk, adanya
bradikardi atau dengan pemeriksaan funduskopi, dapat diberikan manitol. Untuk
mengatasi kejang-kejang yag timbul dapat diberikan Diphenylhydantoin atau
carbamazepin. BLOOD, Tekanan Darah dijaga agar tetap cukup tinggi untuk
mengalirkan darah ke otak. Pengobatan hipertensi pada fase akut dapat
mengurangi tekanan perfusi yang justru akan menambah iskemik lagi. Kadar
Hb dan glukosa harus dijaga cukup baik untuk metabolisme otak. Pemberian
infus glukosa harus dicegah karena akan menambah terjadinya asidosis di
daerah infark yang ini akan mempermudah terjadinya udem. Keseimbangan
elektrolit harus dijaga, BOWEL, BowelDefekasi dan nutrisi harus diperhatikan.
Hindari terjadinya obstipasi karena akan membuat pasien gelisah. Nutrisi harus
cukup. Bila pelu diberikan nasogastric tube. BLADDER, BladderMiksi dan
balance cairan harus diperhatikan. Jangan sampai terjadi retentio urinae.
Pemasangan kateter jika terjadi inkontinensia.
Pada kasus ini diberikan infuse manitol sebagai anti udem. Adapun cara
pemberiannya adalah Diuretik osmotic, menurunkan tekanan intrakranial
dengan menaikkan osmolalitas serum sehingga cairan akan ditarik keluar dari
sel otak. Manitol dapat digunakan dengan dosis 0,25-0,5 g/kgBB IV selama 20
menit, tiap 6 jam. Tidak dianjurkan menggunakan manitol untuk jangka
panjang. Manitol diberikan bila osmolalitas serum tidak lebih dari 310 mOsm/ l.
Furosemid 40 mg IV/hari dapat memperpanjang efek osmotik serum manitol.








Mannitol

Obat ini sekarang luas digunakan untuk mengurangi te-
kanan intrakranial. Umumnya sediaan yang digunakan ada-
lah larutan 20 persen mannitol (bm 180). Umumnya diper-
caya bahwa mannitol mempertahankan gradien osmotik an-
tara plasma dan otak, dengan akibat pergeseran cairan
keluar dari otak dan, karenanya, menurunkan TIK. Pem-
buktiannya agak sulit, dan tentu mungkin ada mekanisme
lain dimana mannitol menurunkan TIK. Osmolalitas serum
tidak diperbolehkan diatas 320 osmol/liter, bila mung-
kin, dalam usaha mencegah asidosis sistemik dan gagal
ginjal. Dosis tepat mannitol berragam. Lazimnya diguna-
kan 1-2 g/kg diberikan intravena secepat mungkin. Bila
pasien memperlihatkan perburukan neurologis atau herni-
asi tentorial, mannitol diberikan sesegera mungkin da-
lam perjalanan keruang CT scanner. Pasien harus dalam
kateter Foley terpasang, karena diharapkan terjadi diu-
resis. Dengan penggunaan yang sinambung, mannitol in-
travaskuler akan seimbang dengan diotak dan kadar darah
lebih tinggi yang progresif diperlukan untuk menimbul-
kan respons.
Urea 30 persen (bm 60) dan gliserol 10 persen se-
belumnya digunakan bergantian dengan mannitol pada pe-
makaian kronik. Obat-obat ini mempunyai berat molekul
lebih kecil dan cenderung lebih cepat mencapai keseim-
bangan dengan otak. Urea juga berhubungan dengan insi-
dens yang tinggi dari hemoglobinuria dan pengelupasan
kulit yang berat bila ia terinfiltrasi. Wald dan McLau-
rin melaporkan pemakaian gliserol per oral pada pasien
cedera kepala, namun obat-obat oral tidak dipertimbang-
kan pemakaiannya dalam cedera kepala akut karena bebe-
rapa alasan.







Manitol
Manitol paling sering digunakan diantara obat ini, karena manitol tidak
mengalami
metabolisme dalam badan dan hanya sedikit sekali direabsorpsi tubuli bahkan
praktis
dianggap tidak direabsorpsi. Manitol harus diberikan secara IV.
Indikasi
Manitol digunakan misalnya untuk :
1. Profilaksis gagal ginjal akut, suatu keadaan yang dapat timbul akibat operasi
jantung, luka
traumatik berat, atau tindakan operatif dengan penderita yang juga menderita
ikterus berat
2. Menurunkan tekanan maupun volume cairan intraokuler atau cairan
serebrospinal
Efek samping.
Manitol dapat menimbulkan reaksi hipersensitif.
Sediaan dan dosis
Untuk sediaan IV digunakan larutan 5-25% dengan volume antara 50-1.000ml.
dosis untuk
menimbulkan diuresis ialah 50-200g yang diberikan dalam cairan infus selama
24 jam
dengan kecepatan infus sedemikian, sehingga diperoleh diuresis sebanyak 30-
50ml per jam.
Untuk penderita dengan oliguria hebat diberikan dosis percobaan yaitu 200
mg/kgBB yang
diberikan melalui infus selama 3-5 menit.bila dengan 1-2 kali dosis percobaan
diuresis masih
kurang dari 30 ml per jam dalam 2-3 jam.
Untuk mencegah gagal ginjal akut pada tindakan operasi atau mengatasi
oliguria, dosis total
manitol untuk orang dewasa ialah 50-100g.
Kontraindikasi
Manitol dikontraindikasikan pada penyakit ginjal dengan anuria, kongesti atau
udem paru
yang berat, dehidrasi hebat dan perdarahan intrakranial kecuali bila akan
ilakukan
kraniotomi. Infus manitol harus segera dihentikan bila terdapat tanda-tanda
gangguan fungsi
ginjal yang progresif, payah jantung atau kongesti paru.


Cairan hiperosmoler
Umumnya digunakan cairan Manitol 1015% per infus
untuk "menarik" air dari ruang intersel ke dalam ruang intra-
vaskular untuk kemudian dikeluarkan melalui diuresis. Untuk
memperoleh efek yang dikehendaki, manitol hams diberikan
dalam dosis yang cukup dalam waktu singkat, umumnya
diberikan : 0,51 gram/kg BB dalam 1030 menit.
Cara ini berguna pada kasus-kasus yang menunggu tindak-
an bedah. Pada kasus biasa, harus dipikirkan kemungkinan efek
rebound; mungkin dapat dicoba diberikan kembali (diulang)
setelah beberapa jam atau keesokan harinya













Penatalaksanaan peningkatan tekanan intrakranial pada stroke hemoragik
Peningkatan tekanan intrakranial sebagai akibat adanya volume perdarahan
dan terjadinya edema serebri diatasi dengan osmoterapi yang menggunakan
manitol (0,25-0,5 g/kg tiap 4 jam) dan furosemid (10 mg tiap 2-8jam).
Pemantauan osmolaritas serum dan kadar natrium dilakukan tiap 2 kali sehari
dengan target osmolaritas <310mOsm/L.
Penggunaan sedatif seperti propofol,benzodiazepine atau morfin dengan
paralisis neuromuskular dapat menurunan tekanan intrakranial tetapi
diperlukan pemantauana yang intensif.