Anda di halaman 1dari 29

Referat

NONUNION dan
MALUNION
Agustina Dian Setyowati
012095823

Pembimbing :
Letkol CKM dr. Basuki Widodo Sp.OT
Tulang
Tulang adalah jaringan ikat yang
bersifat kaku dan membentuk bagian
terbesar kerangka, serta merupakan
jaringan penunjang tubuh utama

Tulang rawan (kartilago) adalah sejenis
jaringan ikat yang bersifat lentur dan
membentuk bagian kerangka tertentu.


Penggolongan Tulang
1. Tulang panjang
2. Tulang pendek
3. Tulang pipih
4. Tulang tak beraturan
5. Tulang sesamoid
Perkembangan Tulang
Vaskularisasi dan Persarafan
Arteri memasuki tulang dari
periosteum, yaitu :
Arteri periostral yang
memperdarahi substansia
compacta
arteri metafiseal & epifiseal
meperdarahi ujung tulang

Di dekat pertengahan diafisis,
terdapat :
arteri nutriens menembus
substansia compacta secara
miring & memperdarahi
substansia spongiosa &
sumsum tulang
Proses penyembuhan tulang adalah proses
biologis alami yang akan terjadi pada setiap
patah tulang, tidak peduli apa yang telah
dilakukan dokter pada patahan tulang tersebut.
Proses perbaikan fraktur ini beragam sesuai
dengan jenis tulang yang terkena dan jumlah
gerakan di tempat fraktur. Pada tulang tubuler,
dan bila tidak ada fiksasi yang kaku,
penyembuhan dimulai dalam lima tahap yaitu,
pembentukan hematoma, reaksi radang,
pembentukan kalus, konsolidasi, dan
remodelling.



merupakan suatu kegagalan fragmen pada
fraktur untuk menyatu atau menyembuh secara
total dalam waktu 6-9 bulan setelah
kecelakaan/trauma.
Etiologi
PENYEBAB NON-UNION
Cedera Tulang Ahli bedah Pasien
1. Kehilangan
jaringan lunak
1. Persediaan
darah yang
buruk
1. Distraksi 1. Besar
2. Kehilangan tulang 2. Hematoma buruk 2. Pembebatan
yang buruk
2. Tidak bisa jaga
diri
3. Tulang
disampingnya
utuh
3. Infeksi 3. Fiksasi yang
buruk
3. Tidak dapat
digerakkan
4. Interposisi
jaringan lunak
4. Lesi patologik 4. Tidak sabar 4. Pasien yang
sulit
Jenis nonunion
Nonunion hipertrofik
Pembentukan tulang periosteum
berlangsung aktif, sementara tulang yang
baru gagal menjembatani celah fraktur,
sehingga ujung fragmen menebal atau
melebar. Pada akhirnya akan berlanjut ke
penyatuan asalkan fragmen-fragmen tulang
ditempatkan bersentuhan satu sama lain
dan dipertahankan kurang lebih tak
bergerak hingga terjadi proses penciptaan
jembatan tulang.

Nonunion atrofik
Pada kasus ini, pembentukan tulang
tampaknya berhenti sama sekali,
akibatnya tidak akan pernah sembuh
kecuali kalau fragmen-fragmen itu
diimobilisasi dan dicangkok dengan
bone graft.

Jenis
Hipertrofik Nonunion Atrofik Nonunion
Diagnosis
Anamnesis
Physical
examination
Adjunctional
examination
Anamnesa
Dari anamnesa kita dapat mengetahui adanya
riwayat trauma, riwayat tatalaksana yang telah
dilakukan terhadap daerah trauma, dan berapa
lama waktu sejak trauma terjadi hinggs
sekarang. Selain itu, dapat diketahui pula
gejala-gejala serta tanda-tanda khusus yang
ditemukan.

Pemeriksaan fisik
a. Look, cari apakah terdapat:
Deformitas, angulasi, rotasi, pemendekan, atrofi, jaringan
parut, dan hiperpigmentasi.

b. Feel, yang perlu diperhatikan antara lain :
apakah terdapat nyeri tekan. Selain itu diperiksa apakah
terdapat perubahan suhu, oedem, dan pulsasi.

c. Move, untuk mencari:
Krepitasi, terasa bila fraktur digerakkan. Tetapi pada
tulang spongiosa atau tulang rawan epifisis tidak terasa
krepitasi. Pemeriksaan ini sebaiknya tidak dilakukan
karena menambah trauma.

Pemeriksaan penunjang
Gambaran sinar-X
Fraktur dapat terlihat dan tulang pada tiap
sisinya mungkin mengalami sklerosis. Dapat
dibedakan dua macam nonunion:

Bersifat hipertrofik dengan ujung-ujung tulang yang
membesar, menunjukan aktivitas osteogenik (seolah-olah akan
membentuk kalus penghubung).
Bersifat atrofik, tidak ada perkapuran di sekitar ujung tulang.

Tatalaksana
Konservatif
Operatif
Fokus pada 3 tujuan :
1. Memperbaiki
vaskularisasi tulang dan
jaringan lunak pada
daerah fraktur
2. Menstabilkan area
fraktur
3. Menstimulasi
penyembuhan tulang
dengan bone gratf
MALUNION
Malunion adalah proses penyembuhan
fragmen tulang yang disertai
pemendekan, malrotasi, atau angulasi,
yang menyebabkan deformitas kosmetik
dan defisit fungsional tulang, atau
menyebabkan stress kontak terhadap
sendi yang
selanjutnya memicu arthritis
degeneratif.
Prinsip Terapi Malunion

Prinsip terapi malunion adalah
mengembalikan kelurusan dan, pada
ekstremitas, menstabilkan kembali fungsi
mekanik anatomis sebagai penopang berat
badan di antara panggul dan pergelangan
kaki. Sering pula, tujuan ini ditambah
dengan mengoreksi stress kontak sendi
akibat arthritis degeneratif. Meskipun
kelurusan tulang telah dicapai, penderita
tidak akan puas bila disfungsi sendi tetap
ada.

Persiapan Prabedah dan Teknik Bedah
pada Malunion
Osteotomi koreksi paling baik dilakukan
pada area deformitas atau di sekitar area
tersebut, yang dibatasi oleh kedua ujung
fragmen (proksimal dan distal). Faktor
lain yang perlu dipertimbangkan adalah
kondisi soft tissue, riwayat infeksi,
problem fiksasi, dan waktu
penyembuhan tulang. Bila penyulit tidak
ditemukan atau ringan, maka koreksi
deformitas dapat dilakukan.

Manajemen paskabedah
Pada sebagian besar tindakan osteotomi,
setelah rekonstruksi mekanik stabil,
gerakan awal ekstremitas cukup aman dan
diperlukan. Cakupan gerakan yang
ditoleransi, derajat pembebanan, dan batas
penggunaan ekstremitas didasarkan pada
stabilitas rekonstruksi. Sebaiknya tetap
menghindari pembebanan yang berlebihan
hingga penyembuhan terjadi