Anda di halaman 1dari 29

1

PRESENTASI KASUS


KEJANG DEMAM
KOMPLEKS
et causa BRONKITIS AKUT







Pembimbing:
dr. Dewi Iriani Sp.A


Penyusun:
Laura Estelia
030.08.142








Kepaniteraan Klinik
Ilmu Kesehatan Anak RSUD Koja
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti




2

KATA PENGANTAR


Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya penyusunan presentasi kasus
dengan judul anak dengan Kejang Demam dapat saya selesaikan penyusunannya dalam
rangka memenuhi salah satu tugas sebagai ko-asisten yang sedang menjalani kepaniteraan
klinik ilmu kesehatan anak di Rumah Sakit Umum Daerah Koja periode 4 November 2013
sampai 11 Januari 2014.
Dalam menyelesaikan presentasi kasus ini, saya mengucapkan terima kasih kepada
Dr. Dewi Iriani, Sp.A selaku pembimbing dalam penyusunan presentasi kasus dan sebagai
salah satu pembimbing selama menjalani kepaniteraan ini.
Apabila terdapat kekurangan dalam menyusun presentasi ini, saya akan menerima
kririk dan saran. Semoga presentasi kasus ini bermanfaat bagi kita semua.




Jakarta, Desember 2013



Penyusun


Laura Estelia
030.08.142








3

STATUS OS


I. IDENTIFIKASI

A. Identitas Os
Nama : an. N
Tempat dan Tanggal Lahir : 18 Mei 2008
Umur : 5 tahun 5 bulan
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jl. Warakas I Gg 22 No 2 Rt 005/007
Masuk RSUD Koja : 10 November 2011

B. Identitas Orangtua
Ayah
Nama : Tn. M
Umur : 29 tahun
Agama : Islam
Alamat : Jl. Warakas I Gg 22 No 2 Rt 005/007
Pekerjaan : Buruh

Ibu
Nama : Ny.Y
Umur : 25 tahun
Agama : Islam
Alamat : Jl. Warakas I Gg 22 No 2 Rt 005/007
Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Hubungan dengan orang tua : Anak kandung
Suku bangsa : Betawi


II. ANAMNESIS

Alloanamnesa dengan ibu kandung tanggal 11 November 2013

Keluhan Utama :
Demam sejak 1 minggu SMRS

Keluhan Tambahan :
Demam sejak 1 minggu smrs ,disertai kejang 2x dengan durasi 2 menit ,pada
saat kejang disertai gerakan tangan dan mata mendelik, setelah kejang os
sadar.disertai dengan batuk berdahak 1 minggu SMRS,dan pilek ,tetapi dahak
tidak keluar. , nafsu makan menurun , mual muntahserta diare disangkal.




4

Riwayat Penyakit Sekarang :
Seminggu sebelum masuk rumah sakit pasien mengalami demam dan batuk
berdahak, pilek.. Empat hari sebelum masuk rumah sakit orangtua pasien
memeriksakan pasien ke PUSKESMAS dan mendapatkan obat penurun panas dan
obat pereda batuk. tiga hari sebelum masuk rumah sakit pasien mengalami demam
tinggi pada malam hari. Satu jam sebelum masuk rumah sakit pasien mengalami
kejang sebanyak 2 kali . kejang berdurasi 2 menit. Kejang tidak diawali dengan
aura ,mata mendelik ke atas dan tangan kelojotan. Pada saat kejang pasien
kehilangan kesadaran sepenuhnya, akan tetapi sebelum dan setelah kejang pasien
dalam keadaan sadar.Orangtua pasien tidak memberikan pengobatan apapun dan
pasien langsung dibawa ke Unit Gawat Darurat RSUD Koja.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Penyakit Umur Penyakit Umur Penyakit Umur
Alergi - Difteria - Jantung -
Cacingan - Diare - Ginjal -
Demam
Berdarah
- Kejang
1,5 .
tahun
serta
berulang
2-3 x
dalam
setahun
Darah -
Demam
Thypoid
- Kecelakaan - Radang paru -
Otitis - Morbili - Tuberkulosis -
Parotitis - Operasi - Lainnya -

Pasien pernah mengalami kejang serupa pada umur 1,5 tahun. Kejang bisa
berulang 2 3 x dalam setahun. Kejang diawali dengan demam dan radang
tenggorokan. Orangtua pasien memeriksakan pasien ke puskesmas dan setiap kali
terjadi kejang dan mendapat obat untuk mencegah berulangnya kejang dan obat
penurun panas namun obat kejang tidak diminum secara teratur

Riwayat Penyakit Keluarga :
Kedua orangtua pasien tidak memiliki riwayat kejang demam pada masa kanak-
kanaknya.

Riwayat Kehamilan dan Kelahiran :

KEHAMILAN Morbiditas kehamilan Tidak ditemukan kelainan
Perawatan antenatal Setiap bulan periksa ke bidan
KELAHIRAN Tempat kelahiran Rumah bersalin
5

Penolong persalinan Bidan
Cara persalinan Spontan
Masa gestasi Cukup
Keadaan bayi
Berat lahir 3.2 kg
Panjang badan 50 cm
Langsung menangis

Kesan :
Riwayat kehamilan dan persalinan pasien baik.

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan :
Pertumbuhan gigi : Umur 7 bulan (Normal: 5-9 bulan)
Psikomotor
Tengkurap : Umur 3 bulan (Normal: 3-4 bulan)
Duduk : Umur 6 bulan (Normal: 6 bulan)
Berdiri : Umur 11 bulan (Normal: 9-12 bulan)
Berjalan : Umur 1 tahun (Normal: 13 bulan)
Bicara : Umur 1 tahun (Normal: 9-12 bulan)
Baca dan Tulis : mampu mempergunakan kata2 , menggambar

Kesan :
Pasien tidak mengalami kelainan dalam pertumbuhan dan perkembangan

Riwayat Makanan :

Umur
(bulan)
ASI/PASI Buah / Biskuit Bubur Susu Nasi Tim
0 2 /
2 4 /
4 6 /
6 8 / / /
8 10 / / /
10 12 / / / /


Umur Diatas 1 Tahun

Jenis Makanan Frekuensi Dan Jumlah
Nasi / Pengganti 3 x sehari, 1 centong nasi/kali
Sayur 3 x sehari, 1 mangkuk/kali
Daging 1 x seminggu, 1 potong/kali
Telur 1 x sehari, 1 butir/kali
6

Ikan 4 x seminggu, 1 potong/kali
Tahu 3 x seminggu, 1 potong/kali
Tempe 3 x seminggu, 1 potong/kali
Susu (merk/takaran)
Susu Bendera, 2-3 x sehari, 1/2-2/3
botol susu 500 ml
Lain lain Ayam 4 x seminggu, 1 potong/kali

Kesan :
Kebutuhan gizi pasien terpenuhi dengan cukup baik.

Riwayat Imunisasi :
Ibu pasien mengakui bahwa pasien mendapat imunisasi lengkap baik imunisasi
awal maupun ulangannya dari PUSKESMAS setempat.

Kesan :
Riwayat imunisasi pasien baik.

Riwayat Keluarga :

Ayah Ibu
Nama M Y
Perkawinan Ke Pertama Pertama
Umur Saat Menikah 28 24
Pendidikan Terakhir SMP SD
Agama Islam Islam
Suku Bangsa betawi betawi
Keadaan Kesehatan Baik Baik

Kedua orangtua pasien tidak memiliki riwayat kejang demam pada masa kanak-
kanaknya. Pasien merupakan anak pertama.

Kesan :
Keadaan kesehatan kedua orang tua pasien saat ini dalam keadaan baik.

Riwayat Perumahan dan Sanitasi :
Padat penduduk, ventilasi kurang dan lingkungan kotor. Di lingkungan tempat
tinggal pasien banyak yang mengalami gejala batuk dan pilek.

Kesan :
Kesehatan lingkungan tempat tinggal pasien kurang baik yang memungkinkan
pasien menderita penyakit infeksi.



7

III. PEMERIKSAAN FISIS


Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis

Status Gizi
Berat Badan : 16 kg
Tinggi Badan : 109 cm
LK : 47 cm

Kesan Status Gizi : (BB : BB Sesuai Umur) x 100 %
(16 kg : 19x 100 % = 84,2 %
(TB : TB Sesuai Umur) x 100 %
(109 cm : 118 x 100 % = 92,4 %
BB / TB
(16 : 18 X 100% ) = 88,9%
Status gizi pasien gizi kurang

Tanda Vital
Tekanan Darah : Tidak diperiksa
Nadi : 120 x/menit, reguler, cukup, simetris kanan kiri
Suhu : 38,1 C
Pernapasan : 36 x/menit, teratur, tipe abdomino-thorakal

Kulit : Sawo matang, ikterik (-), sianosis (-), turgor normal,
kelembaban normal, efloresensi primer/sekunder (-)

Kepala dan Leher
Kepala : Normosefali, ubun-ubun normal, rambut warna hitam,
distribusi merata, tidak mudah dicabut
Mata : Pupil bulat isokor, refleks cahaya langsung +/+,
refleks cahaya tidak langsung +/+, konjungtiva
anemis -/-, sklera ikterik -/-
Hidung : Bentuk normal, septum deviasi (-), nafas cuping
hidung -/-, sekret +/+,
Telinga : Membran timpani intak, serumen -/-, tanda chovstek
(-)
Mulut : Bibir merah muda, tidak kering, sianosis (-), trismus (-
), halitosis (-)
Lidah : Normoglossia, warna merah muda, lidah kotor (-),
tremor (-).
Gigi geligi : Caries (-)
Uvula : Letak di tengah
Tonsil : T1/T1, tidak hiperemis
Tenggorokan : Faring tidak hiperemis
Leher : KGB tidak teraba membesar, kelenjar tiroid tidak
teraba membesar, trakea letak normal


8

Thorax
Paru
Inspeksi : Bentuk dada normal, simetris, efloresensi
primer/sekunder dinding dada (-), pulsasi abnormal (-
), gerak pernapasan simetris, irama teratur, tipe
abdomino-thorakal, retraksi (-)
Palpasi : Gerak napas simetris, vocal fremitus simetris
Perkusi : Sonor di semua lapang paru
Auskultasi : Suara napas vesikuler, ronchi -/-, wheezing -/-

Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba, thrill (-)
Perkusi : Redup
Auskultasi : S
I
S
II
reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi : Bentuk datar
Palpasi : Supel
Perkusi : Timpani di semua kuadran abdomen
Auskultasi : Bising usus (+) meningkat

Ekstremitas : Akral hangat, udema (-)

Refleks Patologis : Kaku kuduk (-), Brudzinksy I (-), Brudzinsky II (-).
Kernig (-), Laseque (-)

IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Dilakukan pemeriksaan H2TL pertama kali pada 10/11/2013

Hb : 12,3
Leukosit : 17.400
HT : 36
Trombosit : 265.000

GDS : 131


ELEKTROLIT

Na : 131
K : 3,69
Cl : 98


tanggal 13/11/2013

Hemoglobin : 11,6 g/dl
Lekosit : 5.900 /ul
9

Hematokrit : 35 %
Eritrosit : 4,54
MCV : 78
MCH : 26
MCHC : 33
Basofil : 0
Eosinofil : 4
Batang : 0
Segmen : 47
Limfosit : 43
Monosit : 6
Trombosit : 291.000
LED : 52
RDW : 13.6

SGOT : 12
SGPT : 8


V. PEMERIKSAAN ROENTGEN

Tidak dilakukan pemeriksaan foto roentgen

VI. RESUME

An. N , perempuan usia 5 tahun datang ke IGD dengan keluhan Demam sejak 1
minggu smrs ,disertai kejang 2x dengan durasi 2 menit ,pada saat kejang disertai
gerakan tangan dan mata mendelik, setelah kejang os sadar.disertai dengan batuk
berdahak 1 minggu SMRS,dan pilek ,tetapi dahak tidak keluar. , nafsu makan
menurun , mual muntah serta diare disangkal.
OS sudah mendapatkan obat penurun panas dan obat pereda batuk dari puskesmas
namun, demam tidak kunjung turun. Satu jam sebelum masuk rumah sakit pasien
mengalami kejang sebanyak 2 kali . kejang berdurasi 2 menit. Kejang tidak
diawali dengan aura ,mata mendelik ke atas dan tangan kelojotan. Pada saat
kejang pasien kehilangan kesadaran sepenuhnya, akan tetapi sebelum dan setelah
kejang pasien dalam keadaan sadar. Didapatkan pula riwayat kejang sebelumnya
yang timbul pada saat demam tinggi. Riwayat kejang pertama kali terjadi saat OS
berumur 1,5 tahun.
Dari hasil pemeriksaan fisik tidak didapatkan kelainan.
Hasil laboratorium di temukan adanya leukositosis (17.400) dan hasil lainnya
dalam batas normal.







10

VII. DIAGNOSIS KERJA

Kejang Demam sederhana et causa Bronkitis Akut

VIII. DIAGNOSIS BANDING

1. Meningitis Encephalitis
2. Epilepsi

IX. PENATALAKSANAAN

Rawat inap tirah baring dengan medikamentosa:


IVFD
Cairan KaEn 1B 1500 cc / 24 jam

Sibital loading 200mg dalam NaCl 0,9% 50cc drip dalam 15 menit
12 jam selanjutnya 2 x 40 mg i.v

Inhalasi 3 x /hari ventolin 1 amp + NaCl 0,9% 2 cc
Ceftizoxim 3 x 500 mg i.v

Syrup Fartolin 3 x Cth I
Syrup Paracetamol 3 x Cth I

X. PROGNOSIS

Ad Vitam : Bonam
Ad Functionam : Bonam
Ad Sanationam : Bonam


















11

FOLLOW UP
Bangsal anak

Anamnesis

11/11/2011 12/11/2011 13/11/2011 14/11/2011 15/11/2011
S

Panas (+) naik
turun
Panas (+) naik
turun
Panas (+) naik
turun
Panas (-) naik
turun
Panas (-) naik
turun
Kejang (-) Kejang (-) Kejang (-) Kejang (-) Kejang (-)
Batuk (+)
Pilek (+)
Sesak (-)
Bersin-bersin (+)
Batuk (+)
Pilek (+)
Sesak berkurang
Bersin-bersin
berkurang
Batuk (+)
Pilek (-)
Sesak (-)
Bersin-bersin (-)
Batuk (+)
Pilek (-)
Sesak (-)

Batuk (+)
Pilek (-)
Sesak (-)

Mual (-)
Muntah (-)

Mual (-)
Muntah (-)
BAB (-)
Mual (-)
Muntah (-)
BAB (N)
Mual (-)
Muntah (-)
BAB (N)
Mual (-)
Muntah (-)
BAB (N)
BAK (N) BAK (N) BAK (N) BAK (N) BAK (N)
Nafsu makan
kurang, minum
baik
Nafsu makan
kurang, minum
baik
Nafsu makan
membaik,
minum baik
Nafsu makan
membaik,
minum baik
Nafsu makan
membaik,
minum baik


Pemeriksaan Fisik


SUHU 38.1 C 37,6 C 37.2 C 37.8 C 36.3 C
HR 124 x/mnt 128 x/mnt 124 x/mnt 116 x/mnt 130 x/mnt
RR 38 x/mnt 34 x/mnt 28 x/mnt 28 x/mnt 30 x/mnt
KESADARAN CM CM CM CM CM
KEPALA
Miklrocephali
(LK = 47 cm)
Mikrocephali Mikrocephali Mikrocephali Mikrocephali
Ubun-ubun
normal
Ubun-ubun
normal
Ubun-ubun
normal
Ubun-ubun
normal
Ubun-ubun
normal
MATA DBN DBN DBN DBN DBN
THT
NCH -/- NCH -/- NCH -/- NCH -/- NCH -/-
Sekret +/+ Sekret -/- Sekret -/- Sekret -/- Sekret -/-
MULUT DBN DBN DBN Sariawan (+) Sariawan (+)
KGB DBN DBN DBN DBN DBN
12

PARU
SN Vesikuler SN Vesikuler SN Vesikuler SN Vesikuler SN Vesikuler
Rh -/- Rh -/- Rh +/+ Rh +/+ Rh +/+
Wh -/- Wh -/- Wh -/- Wh -/- Wh -/-
JTG DBN DBN DBN DBN DBN
ABD
Supel Supel Supel Supel Supel
Datar Datar Datar Datar Datar
BU (+) BU (+) BU (+) N BU (+) N BU (+) N
EXT Akral hangat Akral hangat Akral hangat Akral hangat Akral hangat
REFLEKS
Tanda
rangsang
meningeal (-)
Refleks
Fisiologis (+)
Refleks
Patologis (-)
Tanda
rangsang
meningeal (-)
Refleks
Fisiologis (+)
Refleks
Patologis (-)
Tanda
rangsang
meningeal (-)
Refleks
Fisiologis (+)
Refleks
Patologis (-)
Tanda
rangsang
meningeal (-)
Refleks
Fisiologis (+)
Refleks
Patologis (-)
Tanda
rangsang
meningeal (-)
Refleks
Fisiologis (+)
Refleks
Patologis (-)
TERAPI
IVFD Kaen
IB 1500 cc
/24 jam
Ceftizoxim 3
x 500 mg i.v
Sibital
loading
200mg dalam
NaCl0,9%
50 cc drip
dalam 15
menit
12 jam
selanjutnya 2
x 40 mg i.v
Inhalasi
3x/hari
ventolin 1
amp + NaCl
0,9% 2 cc
Syr
Paracetamol 3
x Cth I
Syr Fartolin 3
x Cth I
IVFD Kaen
IB 1500 cc
/24 jam
Anbacim 2 x
50 mg i.v
Sibital
loading
200mg dalam
NaCl0,9%
50 cc drip
dalam 15
menit
12 jam
selanjutnya 2
x 40 mg i.v
Inhalasi
3x/hari
ventolin 1
amp + NaCl
0,9% 2 cc
Syr
Paracetamol
3 x Cth I
Syr Fartolin 3
x Cth I
IVFD Kaen
IB 1500 cc
/24 jam
Anbacim 2 x
50 mg i.v
Sibital 2 x 40
mg i.v
Inhalasi
3x/hari
ventolin 1
amp + NaCl
0,9% 2 cc
Syr
Paracetamol
3 x Cth
Syr Fartolin 3
x Cth I

Rencana EEG
Pasang
Stopper
Anbacim 2 x
50 mg i.v
Inhalasi
3x/hari
ventolin 1
amp + NaCl
0,9% 2 cc
Syr
Paracetamol
3 x Cth
Syr Fartolin 3
x Cth I
Sibital oral 2
x 30 mg

Rencana EEG
Diit Agar

Syr
Paracetamol
3 x Cth
k/p
Syr Fartolin 3
x Cth I
Sibital oral 2
x 30 mg
Xanvit 1 x
Cth I
Rencana EEG
Diit Agar







13

ANALISA KASUS

Pada kasus ini didiagnosa sebagai kejang demam sederhana karena dari anamnesa, hasil
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang laboratorium dapat disimpulkan bahwa kejang
yang terjadi pada pasien ini memenuhi kejang demam menurut Kesepakatan UUK Neurologi
IDAI, Saraf Anak PERDOSSI (2004), yaitu:
Kejang demam yang berlangsung singkat
Umumnya serangan akan berhenti sendiri dalam waktu kurang dari 10 menit
Bangkitan kejang tonik atau tonik-klonik tanpa gerakan fokal
Tidak berulang dalam waktu 24 jam
Pada kasus ini dari anamnesa diketahui bahwa pasien seorang anak perempuan berusia
berusia 5 Tahun datang dibawa ibunya ke IGD dengan keluhan demam 3 hari SMRS,Disertai
keluhan tambahan kejang 1jam SMRS ,kejang dengan durasi kurang dari 10 menit , Ini
merupakan serangan kejang yang ketiga kali dalam waktu 3 tahun. kejang terjadi pada
seluruh tubuh dimana kedua tangan dan kedua kaki kaku, mata mendelik keatas, tidak keluar
busa dari mulut pasien dan lidah tidak tergigit. Saat kejang dan setelah kejang pasien tidak
sadar. Riwayat demam sebelum terjadinya kejang diakui oleh ibu pasien. Riwayat trauma
disangkal. Keluhan batuk, pilek (+), diare, nyeri telinga, dan keluar cairan dari telinga
disangkal.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan suhu yang tinggi 38,0
0
C menunjukkan adanya
demam yang dapat menyebabkan perubahan keseimbangan potensial membran sel neuron
sehingga terjadi kejang.
Different diagnosis pada pasien ini dengan penyakit lain tidak diperlukan misalnya
dengan penyakit meningitis atau encephalitis.Karena dari pemeriksaan fisik tidak ditemukan
adanya tanda rangsangan meningeal yang merupakan bukti bahwa tidak adanya proses
infeksi intrakranial sehingga menyingkirkan diagnosis banding.
Penatalaksanaan pada pasien ini meliputi:
IVFD
Cairan KaEn 1B 1500 cc / 24 jam

Sibital (fenobarbital) loading 200mg dalam NaCl 0,9% 50cc drip dalam 15 menit
12 jam selanjutnya 2 x 40 mg i.v

Inhalasi 3 x /hari ventolin 1 amp + NaCl 0,9% 2 cc
Ceftizoxim 3 x 500 mg i.v

14

Syrup Fartolin (Salbutamol) 3 x Cth I
Syrup Paracetamol 3 x Cth I

Berdasarkan rumus perhitungan kebutuhan air dan elektrolit harian pada anak didapatkan:







Kebutuhan cairan pada pasien ini dengan BB 16 kg adalah:
= 1000 ml + 50 ml/kgBB
= 1000ml + 50.6
=1000ml+300ml =1300 ml


Dan setiap kenaikan suhu 1
0
c, kebutuhan cairan ditambah 12%. Pada kasus ini didapatkan
suhu badan pasien 38,1
0
c sehingga kebutuhan cairannya menjadi:
= 1300cc +( 1300cc x 12%)
= 1300+ 156= 1456 cc/hari
Jumlah cairan yang diberikan:
Tetesan / menit = Cairan x tetesan makro
Lama pemberian dlm jam x 60 menit
= 1456 x 15
24 x 60
= 15 tpm
Prognosis pasien pada kasus ini adalah baik sebab kejang berlangsung singkat, kurang
dari 10 menit dan langsung berhenti dan tidak ada kejang susulan sesudahnya.Tetapi
prognosis dapat berubah menjadi buruk bila tipe kejangnya adalah kejang demam kompleks
dimana kejang berlangsung lebih dari 15 menit terdapat kejang berulang dalam waktu 24
jam.Prognosis juga diperberat seandainya ada riwayat epilepsy dalam keluarga, tetapi hal ini
tidak ditemukan pada pasien ini.
Berat Badan Kebutuhan air(perhari)
Sampai dengan 10 kg 100 ml/kgBB
11-20 kg 1000 ml + 50 ml/kgBB (untuk tiap kg
diatas 10 kg).
> 20 kg 1500 ml + 20 ml/kgBB(untuk tiap kg
diatas 20 kg).
15

Pada kasus ini tidak terjadi kegawatdaruratan sebab kejang langsung berhenti dalam
waktu kurang dari 10 menit, suhu badan pasien mulai menurun.
Kegawatdaruratan pada pasien kejang demam terjadi bila kejang lebih dari 30 menit
dan tidak berhenti (status konvulsivus). Pasien diberikan obat diazepam 3x 1,5 mg p.0 dan
stesolit 10 mg supp. Jika tidak terdapat kejang berulang lagi maka diberikan dosis
pemeliharaan fenobarbital IV/IM 5-7 mg/ kg BB diberikan 12 jam kemudian. Akan tetapi
apabila didapati kejang berulang maka pasien langsung dirujuk ke ICU.
Kesimpulan pada pembahasan kasus ini bahwa diagnosa kejang demam sederhana dapat
ditegakkan sesuai dengan teori dan tinjauan kasus yang ada.



































16

TINJAUAN PUSTAKA
KEJANG DEMAM

DEFINISI
Berdasarkan Konsensus 1980 yang dilakukan oleh National Institutes of Health (NIH)
Amerika Serikat definisi kejang demam adalah bangkitan kejang yang distimulasi oleh
peningkatan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38
o
C). Kejang terjadi disebabkan oleh suatu
proses ekstrakranial dan bukan merupakan suatu manifestasi dari infeksi susunan saraf pusat
maupun penyakit metabolik yang akut
(1)
.
Pada umumnya kejang demam terjadi pada rentang waktu 24 jam dari awal mulai demam
(2)
.
Pada saat kejang anak kehilangan kesadarannya dan kejang dapat bersifat fokal atau parsial
yaitu hanya melibatkan satu sisi tubuh, maupun kejang umum di mana seluruh anggota gerak
terlibat.Bentuk kejang dapat berupa klonik, tonik, maupun tonik-klonik.Kejang dapat
berlangsung selama 1-2 menit tapi juga dapat berlangsung lebih dari 15 menit
(3)
.
EPIDEMIOLOGI
Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang terjadi pada 2-4 % populasi anak berusia
6-5 tahun dan 1/3 dari populasi ini akan mengalami kejang berulang
(3)
.Kejang demam dua
kali lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan
(4)
.
ETIOLOGI
Etiologi dan patogenesis kejang demam sampai saat ini belum diketahui, akan tetapi umur
anak, tingginya dan cepatnya suhu meningkat mempengaruhi terjadinya kejang
(5)
.Faktor
hereditas juga mempunyai peranan yaitu 8-22 % anak yang mengalami kejang demam
memiliki orangtua yang memiliki riwayat kejang demam pada masa kecilnya
(6)
.
Kejang demam biasanya diawali dengan infeksi virus atau bakteri.Penyakit yang paling
sering dijumpai menyertai kejang demam adalah penyakit infeksi saluran pernapasan, otitis
media, dan gastroenteritis
(1)
.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. dr. Lumantobing pada 297 anak
penderita kejang demam, infeksi yang paling sering menyebabkan demam yang akhirnya
memicu serangan kejang demam adalah tonsillitis/faringitis yaitu 34 %. Selanjutnya adalah
otitis media akut (31 %) dan gastroenteritis (27%)
(7)
.
PATOFISIOLOGI
(5)

Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium
(K+) dan sangat sulit dilalui oleh natrium (Na+).Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron
tinggi dan konsentrasi Na+ rendah.Keadaan sebaliknya terjadi di luar sel neuron.Karena
perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel maka terdapat perbedaan
potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron. Untuk menjaga keseimbangan
17

potensial membran ini diperlukan energi yang berasal dari glukosa yang melalui proses
oksidasi oleh oksigen.
Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1
o
C akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal
10%-15% dan meningkatnya kebutuhan oksigen sebanyak 20%. Akibatnya terjadi perubahan
keseimbangan dari membran sel otak dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion kalium
dan ion natrium melalui membran, sehingga terjadi lepasnya muatan listrik.Lepasnya muatan
listrik yang cukup besar dapat meluas ke seluruh sel maupun membran sel di dekatnya
dengan bantuan neurotransmiter dan menyebabkan terjadinya kejang.
Setiap anak memiliki ambang kejang yang berbeda tergantung dari tinggi rendahnya ambang
kejang seorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu.Pada anak dengan
ambang kejang yang rendah, kejang dapat terjadi pada suhu 38
o
C, sedangkan pada anak
dengan ambang kejang tinggi kejang baru dapat terjadi pada suhu 40
o
C atau lebih.
Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya.Tetapi pada kejang
yang berlangsung lama biasanya disertai terjadinya apnoe sehingga kebutuhan oksigen untuk
otak meningkat dan menyebabkan terjadinya kerusakan sel neuron otak yang berdampak
pada terjadinya kelainan neurologis.
MANIFESTASI KLINIS
Kejang demam dapat dimulai dengan kontraksi yang tiba-tiba pada otot kedua sisi tubuh
anak.Kontraksi pada umumnya terjadi pada otot wajah, badan, tangan dan kaki.Anak dapat
menangis atau merintih akibat kekuatan kontraksi otot.Kontraksi dapat berlangsung selama
beberapa detik atau beberapa menit. Anak akan jatuh apabila sedang dalam keadaan berdiri,
dan dapat mengeluarkan urin tanpa dikehendakinya
(2)
.
Anak dapat muntah atau menggigit lidahnya.Sebagian anak tidak bernapas dan dapat
menunjukkan gejala sianosis
(2)
.
Pada akhirnya kontraksi berhenti dan digantikan oleh relaksasi yang singkat.Kemudian tubuh
anak mulai menghentak-hentak secara ritmis (pada kejang klonik), maupun kaku (pada
kejang tonik).Pada saat ini anak kehilangan kesadarannya dan tidak dapat merespon terhadap
lingkungan sekitarnya
(2)
.
KLASIFIKASI
Klasifikasi kejang demam menurut Livingstone
(8)

A. Kejang Demam Sederhana:
1. Kejang bersifat umum
2. Lamanya kejang berlangsung singkat (kurang dari 15 menit)
3. Usia saat kejang demam pertama muncul kurang dari 6 tahun
4. Frekuensi serangan 1-4 kali dalam 1 tahun
5. Pemeriksaan EEG normal

B. Epilepsi yang Dicetuskan oleh Demam:
1. Kejang berlangsung lama atau bersifat fokal
18

2. Usia penderita lebih dari 6 tahun saat serangan kejang demam yang pertama
3. Frekuensi serangan kejang melebihi 4 kali dalam 1 tahun
4. Pemeriksaan EEG yang dibuat setelah anak tidak demam lagi hasilnya abnormal
Sedangkan menurut Fukuyama kejang demam dibagi menjadi
(9)
:
A. Kejang Demam Sederhana:
1. Riwayat penyakit keluarga penderita tidak ada yang mengidap epilepsi
2. Sebelumnya tidak ada riwayat cedera otak oleh penyebab apapun
3. Serangan kejang demam yang pertama terjadi antara usia 6 bulan-6 tahun
4. Lamanya kejang berlangsung tidak lebih dari 20 menit
5. Kejang tidak bersifat fokal
6. Tidak didapatkan gangguan atau abnormalitas pasca kejang
7. Sebelumnya juga tidak didapatkan abnormalitas neurologis atau abnormalitas
perkembangan
8. Kejang tidak berulang dalam waktu singkat

B. Kejang Demam Kompleks
Kejang demam yang tidak memenuhi kriteria di atas digolongkan sebagai kejang
demam kompleks
Sekitar 80-90 % dari keseluruhan kasus kejang demam adalah kejang demam sederhana
(10)
.
DIAGNOSIS
Diagnosis kejang demam hanya dapat ditegakkan dengan menyingkirkan penyakit-penyakit
lain yang dapat menyebabkan kejang, di antaranya: infeksi susunan saraf pusat, perubahan
akut pada keseimbangan homeostasis air dan elektrolit, dan adanya lesi struktural pada sistem
saraf misalnya epilepsy
(6)
. Diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang yang menyeluruh untuk menegakkan diagnosis ini.
Anamnesis
(1)

1. Kesadaran sebelum dan sesudah kejang (menyingkirkan diagnosis meningitis
encephalitis)
2. Riwayat gangguan neurologis (menyingkirkan diagnosis epilepsi)
3. Riwayat demam (sejak kapan, timbul mendadak atau perlahan, menetap atau naik
turun)
4. Menentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam (infeksi saluran napas, otitis
media, gastroenteritis)
5. Waktu terjadinya kejang, durasi, frekuensi, interval antara 2 serangan kejang
6. Sifat kejang (fokal atau umum)
7. Bentuk kejang (tonik, klonik, tonik-klonik)
8. Riwayat kejang sebelumnya (kejang disertai demam maupun tidak disertai demam
atau epilepsi)
9. Riwayat keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan
10. Trauma

19

Pemeriksaan Fisik
(1)

1. Temperature tubuh
2. Pemeriksaan untuk menentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam (infeksi
saluran napas, otitis media, gastroenteritis)
3. Pemeriksaan reflex patologis
4. Pemeriksaan tanda rangsang meningeal (menyingkirkan diagnosis meningitis,
encephalitis)
Pemeriksaan Penunjang
(1)

1. Pemeriksaan elektrolit, pemeriksaan fungsi hati dan ginjal untuk menyingkirkan
gangguan metabolisme yang menyebabkan perubahan homeostasis apabila pada
anamnesis ditemukan riwayat muntah, diare, gangguan asupan cairan, dan gejala
dehidrasi.
2. Pemeriksaan Cerebro Spinal Fluid (CSF) untuk menyingkirkan diagnosis meningitis
encephalitis apabila anak berusia kurang dari 12 bulan, memiliki tanda rangsang
meningeal positif, dan masih mengalami kejang beberapa hari setelah demam
3. CT Scan cranium pada umumnya tidak diperlukan pada kejang demam sederhana
yang terjadi pertama kali, akan tetapi dapat dipertimbangkan pada pasien yang
mengalami kejang demam kompleks untuk menentukan jenis kelainan struktural
berupa kompleks tunggal atau multipel.
4. EEG pada kejang demam tidak dapat mengindentifikasi kelainan yang spesifik
maupun memprediksikan terjadinya kejang yang berulang, tapi dapat
dipertimbangkan pada kejang demam kompleks.

TATALAKSANA
(11)

A. Antipiretik dan Atibiotik
Antipiretik diberikan sebagai pengobatan simptomatis terhadap demam. Dapat
diberikan paracetamol dengan dosis untuk anak yang dianjurkan 10-15 mg/kgBB/hari
tiap 4-6 jam atau ibuprofen 5-10 mg/kgBB/hari tiap 4-6 jam.
B. Penanganan Kejang pada Neonatus

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah tersumbat atau tidaknya jalan napas.
Selanjutnya dilakukan pemberian oksigen, dan menghentikan kejang dengan cara:





20

KEJANG

30 menit Luminal IM 20 mg/kg/BB
dalam 5 menit
KEJANG (+)

Ulangi luminal IM 10
mg/kg/BB.Dapat diulangi
lagi jarak 30 menit bila
masih kejang.
KEJANG (+)

Fenitoin bolus IV 20
mg/kgBB dalam 15 ml
NaCl, berikan dalam 30
menit (kecepatan 0.5-1
mg/kgBB/menit)
KEJANG (-)

Bila kejang berulang dalam 2 hari, berikan luminal 5 mg/kg/hari per oral sampai
bebas kejang 7 hari.Bila kejang berulang setelah bebas kejang 2 hari, ulangi
pemberian luminal dari awal.


C. Penanganan Kejang pada Anak

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah tersumbat atau tidaknya jalan napas.
Selanjutnya dilakukan pemberian oksigen, dan menghentikan kejang dengan cara:



21

KEJANG
5 menit Diazepam rectal 0.5
mg/kgBB atau:
Berat badan 10 kg: 5 mg
Berat badan > 10 kg: 10 mg
KEJANG (+)
Ulangi diazepam rektal
seperti sebelumnya.
DI RS
- Cari akses vena
- Periksa laboratorium (darah tepi, Na, Ca, Mg, Ureum, Kreatinin)

KEJANG (+)
Diazepam IV dosis 0.3-0.5 mg/kgBB
(kecepatan 0.5-1 mg/menit)





KEJANG (-) KEJANG (+)
Berikan terapi rumatan Fenitoin bolus IV 10-20
bila penyebab kejang mg/kgBB (dengan
diperkirakan infeksi kecepatan 0.5-1
mg/menit)
intrakranial. Berikan
fenobarbital 8-10 mg/kg
BB/hari, dibagi 2 dosis
Selama 2 hari selanjutnya
4-5 mg/kgBB/hari sampai
resiko kejang tidak ada.



KEJANG (+) KEJANG (-)
Transfer ke ICU Rumatan fenitoin IV 5-7
mg/kgBB/hari 12 jam
kemudian.



22

PROGNOSIS
Penelitian yang dilakukan Tsunoda mendapatkan bahwa dari 188 penderita kejang demam
yang diikutinya selama sekurang-kurangnya 2 tahun dan tanpa pengobatan dengan
antikonvulsan, 97 penderita mengalami kekambuhan
(11)
.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. dr. Lumantobing, dari 83 penderita
kejang demam yang dapat diikuti selama rata-rata 21.8 bulan (berkisar dari 6 bulan-3.5
tahun) dan tidak mendapatkan pengobatan antikonvulsan rumatan, kejang demam kambuh
pada 27 penderita
(7)
.
Secara umum dapat dikatakan bahwa sekitar 1/3 penderita kejang demam akan mengalami
kekakmbuhan 1 kali atau lebih. Kemungkinan kambuh lebih besar bila kejang demam
pertama pada usia kurang dari 1 tahun. 3/4 dari kekambuhan ini terjadi dalam kurun waktu 1
tahun setelah kejang demam pertama, dan 90 % dalam kurun waktu 2 tahun setelah kejang
demam pertama. 1/2 dari penderita yang mengalami kekambuhan akan mengalami
kekambuhan lagi. Pada sebagian terbesar penderita kambuh terbatas pada 2-3 kali. Hanya
sekitar 10 % kejang demam yang akan mengalami lebih dari 3 kali kekambuhan
(7)
.
Anak yang mengalami kejang demam pertama pada usia sebelum 1 tahun kemungkinan
kekambuhan ialah 50 %, dan bila berusia lebih dari 1 tahun kemungkinan kekambuhannya 28
%
(7)
.
Kejang demam sederhana pada umumnya tidak menyebabkan kerusakan otak yang permanen
dan tidak menyebabkan terjadinya penyakit epilepsi pada kehidupan dewasa anak tersebut.
Sedangkan pada anak-anak yang memiliki riwayat kejang demam kompleks, riwayat
penyakit keluarga dengan kejang yang tidak didahului dengan demam, dan memiliki riwayat
gangguan neurologis maupun keterlambatan pertumbuhan, memiliki resiko tinggi untuk
menderita epilepsi pada kehidupan dewasa mereka
(1)
.










23

TINJAUAN PUSTAKA
BRONKITIS AKUT

DEFINISI

Bronkitis akut adalah peradangan pada bronkus disebabkan oleh infeksi saluran nafas
yang ditandai dengan batuk (berdahak maupun tidak berdahak) yang berlangsung hingga 3
minggu.
Sebagian besar bronkitis akut disebabkan oleh infeksi virus dan dapat sembuh dengan
sendirinya, sehingga tidak memerlukan antibiotik. Meski ringan, ada kalanya sangat
mengganggu, terutam jika disertai sesak, dada terasa berat, dan batuk berkepanjangan.
Antibiotik diperlukan apabila bronkitis akut disebabkan oleh infeksi bakteri (pada sebagian
kecil kasus bronkitis akut). Namun dokter masih sering memberikan antibiotik pada
pengobatan bronkitis akut. Padahal antibioyik tidak dapat mempercepat penyembuhan pada
bronkitis akut tanpa komplikasi dan justru pemberian antibiotic yang berlebihan dapat
meningkatkan kekebalan kuman (resistensi) terhadap antibiotic.







24

Bronkitis akut dapat disebabkan oleh :
- Infeksi virus 90% : adenovirus, influenza virus, parainfluenza virus, rhinovirus,
danlain-lain.
- Infeksi bakteri : Bordatella pertussis, Bordatella parapertussis,
Haemophilus influenza , Streptococcus pneumonia , atau bakteri atipik
(Mycoplasma pneumonia , Chalmydia pneumonia , Legionella).
- Jamur
- Non-infeksi : polusi udara , rokok, dan lain lain.

Bronkitis akut paling banyak terjadi pada anak kurang dari 2 tahun,
dengan puncak lain terlihat pada kelompok anak usia 9-15 tahun. Kemudian bronchitis
kronik dapat mengenai orang dengan semua umur namun lebih banyak pada orang diatas 45 tahun.
Lebih sering terjadi di musim dingin (di daerah non-tropis) atau musim hujan
(didaerah tropis).
Bronkitis akut terjadi karena adanya respon inflamasi dari membrane mukosa
bronkus. Pada orang dewasa, bronchitis kronik terjadi akibat hipersekresi mucus dalam
bronkus karena hipertrofi kelenjar submukosa dan penambahan jumlah sel goblet dalam
epitel saluran napas.
Pada sebagian besar pasien, hal ini disebabkan oleh paparan asap rokok. Pembersihan
mukosilier menjadi terhambat karena produksi mucus yang berlebihan dan kehilangan silia,
menyebabkan batuk produktif.

Pada anak anak, bronkitis kronik disebabkan oleh respon endogen, trauma akut saluran
pernafasan, atau paparan allergen atau iritan secara terus menerus. Saluran nafas akan dengan
cepat merespon dengan bronkospasme dan batuk, diikuti inflamasi, oedem, dan produksi
mucus. Apabila terjadi paparan secara kronik terhadap epitel pernafasan, seperti aspirasi yang
rekuren atau infeksi virus berulang, dapat menyebabkan terjadinya bronkitis kronik pada
anak-anak. Bakteri pathogen yang paling banyak menyebabkan infeksi saluran respirasi
bagian bawah pada anak-anak adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenza,
dan Moraxella catarrhalis dapat pathogen pada balita (umur <5 tahun), sedangkan
Mycoplasma pneumoniae pada anak usia sekolah (umur > 5 18 tahun ).



25

Manifestasi Klinis
Gejala utama bronkitis akut adalah batuk-batuk yang dapat berlangsung 2-3 minggu.Batuk bisaatau
tanpa disertai dahak. Dahak dapat berwarna jernih, putih, kuning kehijauan,atau hijau.Selain
batuk, bronkitis akut dapat disertai gejala berikut ini :
1. demam
2. sesak napas
3. bunyi napas mengi atau ngik.
4. Rasa tidak nyaman di dada atau sakit dada.
Gejala bronkitis akut tidaklah spesifik dan menyerupai gejala infeksi salur
an pernafasanlainnya. Bronkitis akut akibat virus biasanya mengikuti gejala gejala infeksi saluran
respiratori seperti rhinitis dan faringitis. Batuk biasanya muncul 3 4 hari setelah rhinitis.Batuk
pada mulanya keras dan kering, kemudian seringkali berkembang menjadi batuk lepas yang
ringan dan produktif. Karena anak anak biasanya tidak membuang lendir tapi menelannya,
maka dapat terjadi gejala muntah pada saat batuk keras dan memuncak. Pada anak yang lebih
besar,keluhan utama dapat berupa produksi sputum dengan batuk serta nyeri dada pada
keadaaan yang lebih berat. Krena bronkitis akut biasanya merupakan kondisi yang tidak berat dan dapat
membaik sendiri, maka proses patologis yang terjadi masih belum diketahui secara jelas karena kurangnya
ketersediaan jaringan untuk pemeriksaan. Yang diketahui adalah adanya peningkatan aktivitas kelenjar mucus
dan terjadinya deskuamasi sel sel epitel bersilia. Adanya infiltrasi lekosit PMN ke dalam dinding serta lumen
saluran respiratori menyebabkan secret tampak purulent. Akan tetapi karena migrasi leukosit ini
merupakan reaksi nonspesifik terhadap kerusakan jalan napas, maka sputum yang purulen
tidak harus menunjukkan adanya superinfeksi bakteri. Pemeriksaan auskultasi dada biasanya tidak khas
pada stadium awal. Seiring perkembangan dan progresivitas batuk, dapat terdengar berbagai macam ronkhi,
suara napas yang berat dan kasar, wheezing ataupun suara kombinasi.
Hasil pemeriksaan radiologist biasanya normal atau didapatkan corakan bronchial. Pada
umumnya gejala akan menghilangdalam 10 -14 hari. Bila tanda tanda klinis
menetap hingga 2 3 minggu, perlu dicurigaiadanya infeksi kronis. Selain itu dapat pula
terjadi infeksi sekunder.Gejala bronkitis akut tidaklah spesifik dan menyerupai gejala infeksi saluran
pernafasanlainnya. Oleh karena itu sebelum memikirkan bronkitis akut, perlu dipikirkan
kemungkinanlainnya seperti pneumonia, common cold , asma akut, eksaserbasi akut bronkitis
kronik danPPOK (Sidney S. Braman, 2006).



26

Diagnosis
Diagnosis dari bronkitis akut dapat ditegakkan bila; pada anamnesa pasien
mempunyaigejala batuk yang timbul tiba tiba dengan atau tanpa sputum dan tanpa adanya
bukti pasienmenderita pneumonia, common cold , asma akut, eksaserbasi akut bronkitis kronik dan
penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).Pada pemeriksaan fisik pada stadium awal biasanya
tidak khas. Dapat ditemukan adanya demam, gejala rhinitis sebagai manifestasi pengiring,
atau faring hiperemis. Sejalan dengan perkembangan serta progresivitas batuk, pada
auskultasi dada dapat terdengar ronki, wheezing, ekspirium diperpanjang atau tanda obstruksi
lainnya.
Bila lendir banyak dan tidak terlalu lengket akan terdengar ronki basah.(Sidney S.
Braman, 2006).Dalam suatu penelitian terdapat metode untuk menyingkirkan kemungkinan pneumonia pada
pasien dengan batuk disertai dengan produksi sputum yang dicurigai menderita bronkitisakut,
yang antara lain bila tidak ditemukan keadaan sebagai berikut: Denyut jantung > 100 kali per menit
Frekuensi napas > 24 kali per menit

Suhu > 38C Pada pemeriksaan fisik paru tidak terdapat focal konsolidasi dan peningkatan suara
napas.Bila keadaan tersebut tidak ditemukan, kemungkinan pneumonia dapat disingkirkandan
dapat mengurangi kebutuhan untuk foto thorax (Sidney S. Braman, 2006).Tidak ada pemeriksaan
penunjang yang memberikan hasil definitif untuk
diagnosis bronkitis. Pemeriksaan kultur dahak diperlukan bila etiologi bronkitis harus
ditemukan untuk kepentingan terapi. Hal ini biasanya diperlukan pada bronkitis
kronis. Pada bronkitis akut , pemeriksaan ini tidak berarti banyakkarena sebagian
besar penyebabnya adalah virus. Pemeriksaan radiologis biasanya normal atau
tampak corakan bronkial meningkat.Pada beberapa penderita menunjukkan adanya
penurunan ringan uji fungsi paru.Akan tetapi uji initidak perlu dilakukan pada penderita yang
sebelumnya sehat. (Sidney S. Braman, 2006).

Tatalaksana
Suatu studi penelitian menyebutkan bahwa beberapa pasien dengan bronkitis akut
sering mendapatkan terapi yang tidak tepat dan gejala batuk yang mereka derita
seringkali berasal dari asma akut, eksaserbasi akut bronkitis kronik atau
common cold. Beberapa penelitian menyebutkan terapi untuk bronkitis akut hanya untuk
meringankan gejala klinis sajadan tidak perlu pemberian antibiotik dikarenakan penyakit ini disebabkan
oleh virus (Sidney S.Braman, 2006).
27


Pemberian Antibiotik
Beberapa studi menyebutkan, bahwa sekitar 65 80 % pasien dengan bronkitis akutmenerima
terapi antibiotik meskipun seperti telah diketahui bahwa pemberian antibiotik sendiritidak efektif (Linder
J, Sim I, 2007). Pasien dengan usia tua paling sering menerima antibiotik dan sekitar
sebagian dari mereka menerima terapi antibiotik dengan spektrum luas (SteinmanM, Sauaia
A, Masseli J,e t a l . 2 0 0 6 ) .
Tren pemberian antibiotik spektrum luas juga dapatdijumpai di praktek dokter
dokter pada umumnya (Steinman M, Landefeld C, Gonzales R,2008).Pada pasien bronkitis akut
yang mempunyai kebiasaan merokok, sekitar 90% menerimaantibiotik, dimana sampai saat ini belum
ada bukti klinis yang menunjukkan bahwa
pasien bronkitis akut yang merokok dan tidak mempunyai riwayat PPOK lebih perlu diberika
nantibiotik dibandingkan dengan pasien dengan bronkitis akut yang tidak merokok.
Terdapat beberapa penelitian mengenai kegunaan antibiotik terhadap pengurangan la
ma batuk dantingkat keparahan batuk pada bronkitis akut.Dalam praktek dokter di klinik,
banyak pasien dengan bronkitis akut yang mintadiberikan antibiotik dan sebaiknya
hal ini ditangani dengan memberikan penjelasan mengenaitidak perlunya penggunaan obat tersebut
dan justru pemberian antibiotik yang berlebihan dapatmeningkatkan kekebalan kuman (resistensi)
terhadap antibiotik (Snow V, Mottur-Pilson C,Gonzales R, 2009).
Namun begitu, penggunaan antibiotik diperlukan pada pasien bronkitis akut yangdicu
rigai atau telah dipastikan diakibatkan oleh infeksi bakteri pertusis
atau seiring masa perjalanan penyakit terdapat perubahan warna sputum. Pengobatan deng
an eritromisin (ataudengan trimetroprim/sulfametoksazol bila makrolid tidak dapat
diberikan) dalam hal inidiperbolehkan.Pasien juga dianjurkan untuk dirawat dalam ruang isolasi
selama 5 hari (SidneyS.Braman, 2006).

Bronkodilator
Dal am s uat u s t udi penel i t i an dar i Cochr ane, penggunaan br onkodi l at or t
i dak direkomendasikan sebagai terapi untuk bronkitis akut tanpa komplikasi. Ringkasan
statistik dari penelitian Cochrane tidak menegaskan adanya keuntungan dari penggunaan -agonists
oralmaupun dalam mengurangi gejala batuk pada pasien dengan bronkhitis akut (Hueston
WJ,2008). Namun, pada kelompok subgrup dari penelitian ini yakni pasien bronkhitis akut
dengangej al a obs t r uks i s al ur an napas dan t er dapat wheezing, penggunaan
28

bronkodilator justru mempunyai nilai kegunaan. Efek samping dari penggunaan agonist antara lain,
tremor, gelisah dan tangan gemetar.
Penggunaanantikolinergik oral untuk meringankan gejala batuk pada bronkitis akut sampai
saat ini belumditeliti dan oleh karena itu tidak dianjurkan (Sidney S. Braman, 2006).

Antitusif
Penggunaan codein atau dekstrometorphan untuk mengurangi frekuensi
batuk dan perburukannya pada pasien bronkitis akut sampai saat ini belum diteliti secara
sistematis.Dikarenakan pada penelitian sebelumnya, penggunaan kedua obat tersebut
terbukti efektif untuk mengurangi gejala batuk untuk pasien dengan bronkitis kronik, maka
penggunaan pada bronkitis akut di perkirakan memiliki nilai
kegunaan.Suatu penelitian mengenai penggunaankedua obat tersebut untuk mengurangi
gejala batuk padacommon cold dan penyakit salurannapas akibat virus, menunjukkan hasil yang
beragam dan tidak direkomendasikan untuk seringdigunakan dalam praktek keseharian (Lee P, Jawad M,
Eccles R, 2008).
Namun, beberapa studi menunjukkan bahwa kedua obat ini juga efektif dalammenurunkan
frekuensi batuk per harinya. Dalam suatu penelitian, sebanyak 710 orang dewasadengan infeksi saluran
pernapasan atas dan gejala batuk, secara acak diberikan dosis tunggal 30mg Dekstromethorpan hydrobromide
atau placebo dan gejala batuk kemudian di analisa secaraobjektif menggunakan rekaman batuk secara
berkelanjutan.Hasilnya menunjukkan bahwa batuk berkurang dalam periode
4 jam pengamatan (Pavesi L, Subburaj S, Porter Shaw K,2009).
Dikarenakan pada penelitian ini disebutkan bahwa gejala batuk lebih banyak
berasaldari bronkitis akut, maka penggunaan antitusif sebagai terapi empiris
untuk batuk pada bronkitis akut dapat digunakan (Sidney S. Braman, 2006).

Agen Mukolitik
Penggunaan ekspektoran dan mukolitik belum memiliki bukti klinis yang menguntungkan
dalam pengobatan batuk pada bronkitis akut dibeberapa penelitian, meskipun terbukti bahwa
efek samping obat minimal.




29

DAFTAR PUSTAKA

1. S, Soetomenggolo; Taslim; Ismail,S. Buku Ajar Neurologis Anak. Cetakan Kedua.
BP. IDAI. Jakarta: 2000; Hal 244-251.
2. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. Buku Kuliah 2. Ilmu Kesehatan Anak. Bagian
IKA FK UI. Jakarta: 1985; Hal 847-855.
3. Mansjoer, A; Suprohaita; Wardhan, W.I; Setiowulan, W. Kapita Selekta Kedokteran.
Jilid 2. Edisi Ketiga. Media Aesculapius. FK UI. Jakarta: 2000; Hal 434-437.
4. Short, Jhon R; Gray, J.P; Dodge, J.A. Ikhtisar Penyakit Anak. Edisi Keenam. Jilid
Dua. Binarupa Aksara. Jakarta: 1994; hal 62-63.
5. Behrman, Kliegman, Arvinka. Nelson. Ilmu Kesehatan Anak. Vol 3. Edisi 15. EGC.
Jakarta: 1999;
6. Pusponegoro, H.D, dkk. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Edisi I. Ikatan
Dokter Anak Indonesia. Jakarta: 2004; Hal 210-211.
7. Accessed on November 24
th
2013 at :
http://aappolicy.aappublication.org/cgi/content/abstract/pediatrics;
8. Accessed on November 24
th
2013 at :
http://www.prodigy.nhs.uk/guidance.asp?gt=febrile%20convulsion
9. Accessed on November 24
th
2013 at :
www.health.nsw.gov.au/fcsd/rmc/cib/circulars/2004/cir2004-66.pdf
10. Committee on Quality Improvement and Subcommitte on Febrile Seizure. Practice
Parameter: Long Term Treatment of The Child with Simple Febrile Seizure.
Pediatrics. 1999; 103:1307-1309.
11. Sastroasmoro, S, dkk, Panduan Pelayanan Medis Departmen Ilmu Penyakit Anak.
Cetakan Pertama. RSUP Nasional Dr Ciptomangunkusumo. Jakarta: 2007; Hal 252