Anda di halaman 1dari 3

BAB III

ANALISA KASUS

Seorang anak laki-laki berumur 4 tahun 6 bulan yang beralamat di dalam kota datang
dengan keluhan utama bengkak seluruh tubuh dan keluhan tambahan sesak nafas. Dari keluhan
tersebut yang dapat kita pikirkan adalah penyakit sindroma nefrotik (SN) dan Glomerulonefritis
Akut Pasca Streptococcus (GNAPS).
Dari anamnesis didapatkan bahwa sejak 2 bulan SMRS, penderita demam tidak terlalu
tinggi, turun naik, batuk dan pilek, penderita dibawa berobat ke dokter umum, diberi obat dua
macam berupa amoksisilin dan parasetamol, keluhan penderita mulai berkurang. 2 minggu
setelah itu kelopak mata kanan dan kiri penderita mulai bengkak. Bengkak dirasakan terutama
pada saat bangun tidur dan berkurang saat siang hari. BAB dan BAK biasa.
Kemudian, 2 minggu SMRS penderita mengeluh bengkak mulai menjalar dari kedua
mata hingga ke perut dan kedua tungkai. Sesak nafas tidak ada, demam tidak ada, batuk tidak
ada, pilek tidak ada, kulit bernanah tidak ada, mual muntah tidak ada. BAK penderita biasa,
berwarna kuning dan nyeri saat BAK tidak ada. BAB agak cair, frekuensi 4x/ hari, tiap kali BAB
-1/2 gelas tiap kali BAB, warna kuning, lendir dan darah tidak ada, berlangsung selama 2 hari.
Penderita dibawa ke dokter umum dan disarankan untuk dirawat tetapi keluarga menolak. Sejak
4 hari sebelum masuk rumah sakit, bengkak semakin bertambah, sampai ke kemaluan, sesak
nafas ada ketika os berbaring dan berkurang jika penderita duduk, demam tidak ada, batuk tidak
ada, pilek tidak ada, kulit bernanah tidak ada, mual muntah tidak ada. Frekuensi BAK berkurang
menjadi 2-3 kali/ hari, sebanyak 2-3 sdm, kadang kala hanya menetes, warna kuning keruh,
tidak ada nyeri saat BAK. BAB seperti biasa. Nafsu makan seperti biasa. penderita dibawa ke
dokter umum, dan diberi dua macam obat HCT dan prednison, namun tidak ada perubahan. Lalu
penderita dibawa ke IRD RSMH.
Berdasarkan anamnesis yang didapatkan, semakin mengarah kepada diagnosis SN. Hal
ini karena perjalanan penyakit pada pasien bersifat kronis. Sedangkan pada GNAPS bersifat
akut. Selain itu pada pasien ini tidak terdapat gejala sakit menelan atau infeksi yang mungkin di
sebabkan oleh Streptococcus beta hemolyticus yang merupakan penyebab GNAPS. Pada pasien
ini juga tidak terjadi BAK yang berwarna merah seperti air cucian daging yang merupakan gejala
GNAPS.
Pemeriksaan fisik diperoleh keadaan umum: tampak sakit sedang, kesadaran: CM, TD :
100/70 mmHg, nadi 96 x/m, isi dan tegangan cukup, RR 20 x/mnt, suhu 36,6 C, edema umum
ada. Status gizi pasien berdasarkan data antroprometrik didapatkan status KEP I (BB/TB 80%).
Pada pemeriksaan fisik khusus kepala ditemukan kelopak mata edema. Pemeriksaan fisik thoraks
pada perkusi didapatkan redup pada basal kedua lapangan paru dan pada auskultasi didapatkan
vesikuler melemah pada kedua basal paru. Pemeriksaan fisik abdomen tampak cembung, lemas,
hepar dan lien sulit dinilai, undulasi (+) dan bising usus (+) normal. Pada genetalia ditemukan
edema pada skrotum dan tidak didapatkan pembesaran kelenjar getah bening. Edema juga
ditemukan pada daerah pretibia extremitas bawah.
Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin didapatkan Hb 10,7 gr/dl, Ht 36 vol%,
leukosit 16.500 /mm
3
, LED 68 mm/jam, trombosit 710.000 mm
3
, hitung jenis 0/3/2/80/15/0.
Pemeriksaan kimia klinik, BSS 117 mg/dl, kolesterol total 270 mg/dl, asam urat 7,5 mg/dl,
ureum 39 mg/dl, kreatinin 0,4 mg/dl, protein total 4,3 g/dl, albumin 2,0 g/dl, globulin 2,3 g/dl,
natrium 144 mmol/L, kalium 4,3 mmol/ L, kalsium 2,1 mmol/l, LFG 133,4. Pada pemeriksaan
urinalisa, sel epitel 4-6/LPB, leukosit 2-3/LPB, eritrosit 0-1/LPB, silinder (noktah) 0-1/LPB,
protein (++). Pada pemeriksaan sero-imunologi, ASTO (-), CRP (-). Dapat disimpulkan pada
pemeriksaan laboratorium terdapat leukosistosis, hiperkolesterol, hipoproteinemia,
hipoalbuminemia, proteinuria.
Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium, dapat disimpulkan bahwa pasein ini
menderita edema anasarka e.c sindroma nefrotik. Karena memenuhi semua kriteria SN yaitu
proteinuria, edema, hipoalbuminemia, hiperkolesterolemia, dan hipoproteinemia.
Penatalaksanaan pada pasien ini adalah tirah baring, diet protein 24 g/hari dan rendah
garam (1-2 gr/hari), retriksi cairan (30 cc/kgBB/hari) 360 cc/hari, furosemid 2x12 mg,
prednison 30 mg/hari, amoxicilin 3x125 mg, balans cairan/24 jam, dan rencana pemberian
kortikosteroid. Rencana Mantoux test dan rontgen trax. Tirah baring dikarenakan pada pasien
ini terdapat edema anasarka. Diet protein diberikan secukupnya sesuai dengan RDA, karena jika
berlebihan akan menambah beban glomerolus untuk mengeluarkan sisa metabolisme protein dan
dapat terjadi sklerosis glomerolus. Sebaliknya diet rendah protein akan menyebabkan malnutrisi
energi protein dan hambatan pertumbuhan anak. Diet rendah garam diberikan hanya pada saat
pasien edema. Oleh karena pada pasien terdapat edema berat maka dilakukan retriksi cairan (30
cc/kgBB/hari) 360cc/hari dan diberikan furosemid 2x12 mg (dosis 1-2 mg/kgBB/hari).
Balance cairan dilakukan setiap hari untuk melihat perkembangan diuresis pasien. Kortikosteroid
belum dapat langsung diberikan karena harus menunggu hasil test mantoux terlebih dahulu. Jika
hasil didapatkan (+) harus diberikan INH profilaksis terlebih dahulu sebelum diberikan
kortikosteroid. Pada pasien ini direncanakan pemberian kortikosteroid berupa metyl prednisolon
dengan dosis 2 mg/kgBB/hari dibagi menjadi 3 dosis.
Selain itu, juga terdapat rencana pemeriksaan lain berupa rontgen thorax. Rontgen thorax
digunakan untuk melihat apakah terdapat gangguan pada paru-paru berupa efusi pleura yang
sering terjadi pada pasien dengan edema berat.
Prognosis pasien ini adalah quo ad vitam bonam karena SN yang terjadi pada sebagian
besar anak adalah SN lesi minimal yang biasanya berespon terhadap steroid. Walaupun akan
mengalami kekambuhan berkali-kali namun penyakitnya dapat menyembuh sendiri secara
spontan menjelang usia akhir dekade kedua. Quo ad functionam pasien ini dubia ad bonam
karena ternyata dari pengamatan jangka panjang selama 20 tahun terdapat 4-5 % menjadi gagal
ginjal terminal.