Anda di halaman 1dari 3

Nama : Aldho Bramantyo

NIM : 108103000031

Resensi Novel Perahu Kertas
Judul Buku : Perahu Kertas
Penulis : Dewi Lestari Dee
Penerbit :Bentang Pustaka,
Truedee Pustaka
Sejati
Tahun terbit : 2009
Jumlah Halaman :444 halaman
(gambar diunduh dari http://dee-55days.blogspot.com/)
Novel ini bercerita tentang kisah cinta dua remaja, sekaligus menceritakan tentang
bagaimana mereka menggapai mimpi mereka serta konflik-konflik bagi keduanya. Cerita diawali
dengan Keenan, seorang pemuda, yang akan kembali ke Indonesia untuk melanjutkan kuliah di
Bandung setelah menyelesaikan studi di Amsterdam. Keenan adalah seorang yang cerdas dan
cukup pendiam, tetapi ia selalu berambisi untuk mencapai cita-citanya. Ia bercita-cita menjadi
pelukis, akan tetapi ayahnya tidak menyetujui cita-cita Keenan tersebut.
Selain Keenan, adapun Kugy, seorang remaja perempuan yang sifatnya dapat terbilang
unik dan nyentrik, tetapi merupakan orang yang ceria. Ia sejak kecil bercita-cita menjadi juru
dongeng. Ia mempunyai kebiasaan yang cukup unik sejak kecil yaitu menulis surat dan
melipatnya menjadi perahu kertas, dan menghanyutkannya di aliran air. Ia percaya bahwa surat
itu akan sampai ke Dewa Neptunus, salah satu Dewa Yunani yang menguasai laut.
Keenan dan Kugy dipertemukan ketika mereka akan menjalani kuliah di universitas yang
sama di Bandung. Mereka awalnya dipertemukan oleh Noni dan Eko. Noni merupakan sahabat
Kugy sejak kecil, yang meskipun cerewet, tetapi sangat perhatian kepada Kugy. Sedangkan
Eko, pacar Noni, merupakan sepupu Keenan merangkap teman Keenan sejak SD. Mereka
berempat akhirnya menjadi sahabat dekat. Kedekatan Keenan dan Kugy pun tak dapat
terhindarkan, mereka saling bercerita tentang cita-cita masing-masing, dan saling mendukung
satu sama lain.
Berbagai hal terjadi, salah satunya Noni dan Eko yang menjodohkan Keenan dan
Wanda. Berita ini tentu membuat Kugy menjadi tidak nyaman, meskipun Kugy sendiri sudah
memiliki pacar bernama Ojos (Joshua). Akhirnya Keenan dan Wanda sempat menjadi kekasih,
setelah Wanda membantu banyak untuk mengorbitkan lukisan Keenan dan meskipun Keenan
sendiri masih ragu tentang perasaannya. Tetapi hubungan tersebut tidak berlanjut lama karena
Keenan mengetahui bahwa lukisannya terjual karena dibeli Wanda hanya demi menyenangkan
diri Keenan semata, hingga akhirnya hubungan mereka berakhir. Kugy juga saat itu sibuk
menjadi pengajar di Sakolah Alit (sekolah sukarela tempat anak-anak kampung belajar) dan
akhirnya hubungannya dengan Ojos juga berakhir akibat kesibukannya serta perasaannya
terhadap Keenan yang ia sendiri sulit untuk mengungkapkannya.
Keenan dan Kugy berpisah. Keenan memutuskan untuk berhenti kuliah dan pergi ke
Bali, dalam rangka berusaha mencapai cita-citanya. Di sana ia juga bertemu dengan Luhde,
gadis Bali yang pintar dan dewasa. Merekapun semakin dekat seiring hari berlalu, dan akhirnya
jatuh cinta. Sementara itu, Kugy, yang bertengkar dengan Noni akibat perubahan sikapnya,
menjadi fokus kepada kuliah dan berusaha cepat lulus dari kuliah. Akhirnya Kugy lulus dan
bekerja sebagai copywriter di salah satu perusahaan advertising di Jakarta. Di sana ia bertemu
dengan Remi, direktur perusahaan tersebut sekaligus teman kakaknya, yang dengan cepat
mempromosikan Kugy karena ide dan semangatnya yang hebat. Selain itu, ia juga jatuh hati
kepada Kugy sehingga akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih.
Kugy dan Keenan, setelah lama berpisah, bertemu kembali di pertunangan Noni dan
Eko. Ketika bertemu perasaan mereka yang telah lama mereka lupakan bangkit lagi.
Merekapun sempat jalan-jalan berdua ke suatu pantai untuk mengenang masa-masa lalu.
Banyak hal terjadi setelah itu. Luhde, yang akhirnya bertemu Kugy ketika Kugy berlibur di Bali,
menyadari bahwa inspirasi semua lukisan Keenan adalah Kugy dan tidak bisa tergantikan.
Remi, yang ternyata merupakan pembeli pertama lukisan Keenan dulu, sempat melamar Kugy
tetapi akhirnya menyadari kalau cinta Kugy hanya untuk Keenan ketika membaca buku
dongeng Kugy yang di dalamnya terdapat pesan untuk Keenan. Akhir cerita, Keenan dan Kugy
saling mengakui perasaan masing-masing dan akhirnya mereka menjalin cinta.
Menurut saya, novel ini cukup menarik untuk dibaca. Novel ini mengangkat tema
persahabatan dan cinta remaja. Setting tempat cukup banyak, tetapi yang utama antara lain
adalah Jakarta, Bandung, dan Ubud, dan setting waktu novel ini mulai dari tahun 1999 hingga
tahun 2003. Kelebihan novel ini dapat dilihat pada sang pengarang yang menceritakan novel ini
dalam bahasa sehari-hari sehingga mudah dicerna. Masalah-masalah yang timbulpun dapat
tergambar dengan baik sehingga membuat pembaca tidak cepat bosan. Tetapi menurut saya
kekurangan dalam novel ini yaitu setting cerita yang cepat berubah, apalagi ketika kedua tokoh
utama tidak sedang dalam satu tempat yang sama. Terdapat dua tokoh utama dalam novel ini,
yaitu Kugy dan Keenan. Seringkali dalam satu bab, pengarang berselang-seling menceritakan
antara Kugy dan Keenan, sehingga kadang saya perlu berpikir dahulu sampai mana cerita
tokoh tersebut di cerita sebelumnya.
Saya mengetahui Perahu Kertas awalnya dari menonton film yang tayang di bioskop.
Film Perahu Kertas terbagi menjadi 2 sesi, yaitu Perahu Kertas yang tayang mulai bulan
Agustus 2012
1
, dan Perahu Kertas 2 yang tayang mulai bulan Oktober tahun yang sama
2
.
Kedua film tersebut disutradarai oleh Hanung Bramantyo
1,2
. Saya tidak cepat bosan menonton
film tersebut karena film tersebut menceritakan tentang cerita menggapai mimpi, serta konflik
yang timbul cukup rumit sehingga menarik untuk ditonton. Setelah menonton kedua film
tersebut, saya baru mencoba membaca novel asli Perahu Kertas karya Dewi Lestari dan
mencoba membandingkan antara film dan novel.
Dewi Lestari, yang lahir di Bandung pada 20 Januari 1976, menceritakan dalam novel
tersebut bahwa cerita Perahu Kertas ini berawal dari cerita bersambung berjudul Kugy &
Keenan yang dibuatnya tahun 1996 semasa kuliah dan hanya untuk konsumsi keluarga dan
teman terdekatnya. Setelah itu, cerita tersebut tidak sempat terselesaikan. Pada tahun 2007,
sebuah perusahaan content provider ingin mengonversi buku-buku Dee ke dalam bentuk digital
dan diperdagangkan. Dee kemudian menawarkan untuk membuat cerita baru saja, tidak
menggunakan buku yang sudah ada. Dari situlah lahir novel Perahu Kertas yang dibuat dalam
55 hari kerja.
3
Dewi Lestari sendiri pernah menjadi peringkat pertama sebagai Penulis Perempuan
Paling Dikenal di Indonesia tahun 2009. Perahu Kertas merupakan karyanya yang keenam
setelah trilogi Supernova, Filosofi Kopi, dan Rectoverso
3
, namun Perahu Kertas
merupakan novel pertama Dee yang diangkat ke layar lebar.
4
Sebenarnya Dee sendiri ikut
menulis skenario film tersebut, tetapi banyak adegan yang dirasa kurang sesuai dengan novel,
hal yang sering ditemui pada beberapa film lainnya yang dibuat berdasarkan novel.
4

Secara keseluruhan, saya menganggap novel Perahu Kertas ini menarik, dan dapat
memberikan beberapa pesan-pesan tentang kehidupan. Salah satu kata-kata yang saya ingat
terdapat pada halaman 404 novel tersebut, ketika Karel (kakak Kugy) berkata kepada Kugy
perihal perasaan Kugy yang sedang berantakan, Kugy, kepala kamu akan selalu berpikir
menggunakan pola harusnya, tapi yang namanya hati selalu punya aturan sendiri. dan pada
halaman 391, ketika Pak Wayan berusaha menghibur Luhde dengan berkata, De, Poyan
percaya hidup ini sudah diatur. Kita tinggal melangkah. Sebingung dan sesakit apapun, semua
sudah disiapkan bagi kita. Kamu tinggal merasakan saja. Dengan itu saya menyadari bahwa
jalan hidup ini memang sudah ditentukan oleh Allah SWT, yang tersisa adalah bagaimana kita
menghadapi dan mencoba mengatasi masalah yang sedang terjadi dalam hidup kita tersebut.

Referensi:
1. Perahu Kertas (2012). Diakses dari http://www.imdb.com/title/tt2343134/ pada
tanggal 4 Mei 2014.
2. Perahu Kertas 2 (2012). Diakses dari http://www.imdb.com/title/tt2668926/ pada
tanggal 4 Mei 2014.
3. Dewi Lestari. Perahu Kertas. Jakarta: Bentang Pustaka, 2009. Hal. 437-440, 443.
4. Cornila Desyana. Ada Kentang di Film Perahu Kertas. Diakses dari Tempo Online,
terbit tanggal 11 Agustus 2012, diakses pada tanggal 4 Mei 2014.