Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I
PENDAHULUAN

Metastasis merupakan kemampuan suatu jaringan tumor yang menempel
serta hidup dan berkembang lebih lanjut pada jaringan tubuh lain. Misalnya
kanker payudara dapat bermetastasis hingga ke paru-paru dan menyebabkan
gangguan proses pernapasan.
Struktur paru merupakan tempat yang paling sering terjadi metastasis pada
pasien dengan penyakit keganasan, dan biasanya rongga thoraks merupakan
tempat utama terdeteksi suatu metastasis paru, pada penderita tumor yang banyak
memiliki akses pembuluh darah. Sebagai contoh, tumor tumor yang dapat
bermetastasis ke paru antara lain: Ca ginjal, osteosarcoma, choriocarsinoma,
melanoma, teratoma testis, dan Ca tiroid. Kebanyakan, metastasis paru berasal
dari tumor payudara, kolorektal, prostat, bronchial, leher kepala, dan Ca ginjal.
Adanya metastasis paru merupakan tanda bahwa penyakit yang diderita
telah menjalar, dan membuat prognosis menjadi buruk. Tingkat kematian
tergantung kepada keadaan tumor primernya.
Metastasis paru juga memperlihatkan adanya suatu keganasan dalam suatu
penyakit. Namun, tidak ada kaitannya baik pria maupun wanita, insiden pada
keduanya tidak berbeda terlalu jauh. Insiden terjadinya tumor, meningkat sesuai
umur, begitu juga frekuensi metastasis paru. Bahkan pada anak anak pun dapat
kita lihat adanya metastasis paru, seperti pada wilms tumor.

Jalur metastasis bisa melalui aliran darah, aliran limfe maupun proses
terlepas langsung menempel pada tempat tertentu. Metastasis hanya terjadi pada
tumor ganas. Tumor jinak tidak pernah bermetastasis.

Metastasis paru ini umumnya terjadi karena output dari jantung kanan dan
system limfatik yang mengalir melewati pembuluh darah paru. Awalnya fragmen
tumor terlepas dari fokus primernya melalui vena, dan terbawa sebagai emboli
tumor ke paru melalui sirkulasi sistemik. Mayoritas fragmen ini akan tersangkut
pada arteri kecil dan arteriol, di mana pada tempat tersebut, fragmen tumor
tersebut dapat berproliferasi dan meluas ke parenkim paru akhirnya akan
membentuk nodul. Biasanya nodul ini terletak pada ruang subpleura maupun di
dasar paru daripada di apeks paru, karena pada bagian bagian basal inilah banyak
aliran darah.
Jarang sekali emboli tumor tetap berada pada daerah interstisial
perivaskular, dan menyebar sepanjang saluran limfatik yang berada di hilus
maupun perifer paru. Mekanisme ini biasanya terjadi pada pasien dengan
limfangitis karsinomatosa. Yang kedua, juga jarang terjadi, mekanisme
berlangsung secara retrograde, menyebar dari kelenjar getah bening hilus melalui
saluran limfe.
2

Nodul pada paru merupakan manifestasi yang paling umum dari
neoplasma sekunder paru. Nodul biasanya terbentuk dari emboli tumor yang
tumbuh karena invasi tumor kapiler. Emboli tumor mengalir melalui vena
sistemik dan arteri pulmonalis, dan akhirnya akan menyangkut di pembuluh darah
kecil paru, kemudian menyebar ke seluruh paru. Nodul pada paru biasanya
multiple, sferis dan bervariasi ukurannya. Biasanya metastasis yang terjadi
melalui arteri bronkialis, pembuluh limfe paru, dan aspirasi transbronkial, juga
yang menembus lubang pada pleura jarang terjadi.
Limfangitis karsinomatosis paling sering terjadi disebabkan oleh Ca
mammae, paru, usus, pancreas, maupun prostat. Biasanya hal ini sebagai hasil dari
metastasis secara hematogen ke kapiler kapiler paru, dan juga invasi ke saluran
limfe paru perifer. Penyebaran retrograde dari nodulus di hilus, mediastinal,
maupun invasi langsung dari saluran limfe diafragma sangat jarang terjadi.
Metastasis endobronkial, yang jarang terjadi juga berhubungan dengan tumor
mammae, colon dan ginjal seperti juga melanoma dan sarcoma.

3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Paru
Paru-paru adalah organ pada sistem pernapasan (respirasi) dan
berhubungan dengan sistem peredaran darah (sirkulasi). Fungsinya adalah
menukar oksigen dari udara dengan karbon dioksida dari darah. Paru-paru terdiri
dari organ-organ yang sangat kompleks. Bernapas terutama digerakkan oleh otot
diafragma (otot yang terletak antara dada dan perut). Saat menghirup udara, otot
diafragma akan mengerut, ruang yang menampung paru-paru akan meluas. Begitu
pula sebaliknya, saat menghembuskan udara, diafragma akan mengembang dan
paru-paru akan mengempis mengeluarkan udara.
Akibatnya, udara terhirup masuk dan terdorong keluar paru-paru melalui
trakea dan tube bronchial atau bronchi, yang bercabang-cabang dan ujungnya
merupakan alveoli, yakni kantung-kantung kecil yang dikelilingi kapiler yang
berisi darah. Di sini oksigen dari udara berdifusi ke dalam darah, dan kemudian
dibawa oleh hemoglobin.
Selama hidup paru kanan dan kiri lunak dan berbentuk seperti spons dan
sangat elastic. Jika rongga thorax dibuka volume paru akan segera mengecil
sampai 1/3 atau kurang. Paru-paru terletak di samping kanan dan kiri
mediastinum. Paru satu dengan yang lain dipisahkan oleh jantung dan pembuluh-
pembuluh besar serta struktur lain di dalam mediastinum. Masing-masing paru
berbentuk kerucut dan diliputi oleh pleura visceralis, dan terdapat bebas di dalam
cavitas pleuralis masing-masing, hanya dilekatkan pada mediastinum oleh radix
pulmonalis.

Setiap paru-paru memiliki :
a. Apeks : tumpul, menonjol ke atas ke dalam leher sekitar 2,5cm di atas
clavicula
b. Permukaan costo-vertebral : menempel pada bagian dalam dinding dada
c. Permukaan mediastinal : menempel pada pericardium dan jantung
d. Basis pulmonis : terletak pada diafragma
Batas-batas paru :
a. Apeks : atas paru (atas costae) sampai dengan di atas clavicula
b. Atas : dari clavicula sampai dengan costae II depan
c. Tengah : dari costae II sampai dengan costae IV
d. Bawah : dari costae IV sampai dengan diafragma




4

1. Pulmo Dexter/Paru Kanan
Pulmo dexter sedikit lebih besar dari pulmo sinister dan dibagi oleh fissura
obliqua dan fissura horizontalis pulmonis dexter menjadi tiga lobus : lobus
superior, lobus medius, dan lobus inferior. Fissura oblique berjalan dari pinggir
inferior ke atas dan ke belakang menyilang permukaan medial dan costalis sampai
memotong pinggir posterior sekitar 6,25cm di bawah apex pulmonis. Fissura
horizontalis berjalan horizontal menyilang permukaan costalis setinggi cartilage
costalis IV dan bertemu dengan fissure obliqua pada linea axillaris media.Pulmo
dexter mempunyai sepuluh segmen, yaitu tiga buah segmen pada lobus superior,
dua buah segmen pada lobus medial, dan lima buah segmen pada lobus inferior.
Tiap-tiap segmen ini terbagi lagi menjadi belahan-belahan yang bernama lobules.
Di antara lobules satu dengan yang lainnya dibatasi oleh jaringan ikat yang
berisi pembuluh darah, getah bening, dan saraf. Dalam tiap lobules terdapat
sebuah bronkeolus. Di dalam lobules, bronkeolus ini bercabang-cabang yang
disebut duktus alveolus. Tiap duktus alveolus berakhir pada alveolus yang
diameternya antara 0,2-0,3mm.
Segmen pulmo dexter :
a. Lobus superior :
- Segmen apicale
- Segmen posterior
- Segmen anterior
b. Lobus medius :
- Segmen lateral
- Segmen medial
c. Lobus inferior :
- Segmen apicobasal
- Segmen mediobasal
- Segmen anterobasal
- Segmen laterobasal
- Segmen posterobasal
Hilus pulmonalis dexter terdiri dari :
a. A. pulmonalis dextra
b. Bronchus principales dextra : bronchus lobaris superior, medius dan
inferior
c. Vv. Pulmonalis dextra
d. Nodule lymphideus




5

2. Pulmo Sinister/Paru Kiri
Pulmo sinister dibagi oleh fissure oblique dengan cara yang sama menjadi
dua lobus : lobus superior dan lobus inferior. Pada pulmo sinister tidak ada fissure
horizontalis.
Segmen pulmo sinister :
a. Lobus superior :
- Segmen apicoposterior
- Segmen anterior
- Segmen lingual superior
- Segmen lingual inferior
b. Lobus inferior :
- Segmen apicobasal
- Segmen antero medial basal
- Segmen laterobasal
- Segmen posterobasal
Hilus pulmo sinister :
a. A. pulmonalis sinistra
b. Bronchus principales sinistra
c. Vv. Pumonalis sinistra
d. Noduli lymphoideus
Pada pulmo sinister terdapat incisura cardiac yang merupakan lengkung
untuk jantung (cardiac notch) dan impression cardiac yang lebih besar, karena 2/3
jantung terletak di pulmo sinistra.

6


Gambar 1. Lobus Paru Dextra dan Sinistra

Gambar 2. Segmen Paru Dextra dan Sinistra
7


Gambar 3. Batas-batas Paru

Gambar 4. Hilus Paru
8


Gambar 5. Gambaran Radiologi Paru Normal


B. Definisi Tumor Paru Sekunder

Keganasan pada paru yang merupakan penyebaran dari proses keganasan
di organ/tempat lain.
Metastasis ke paru melalui:

1. Penyebaran langsung dari pusat primer
Yang melibatkan paru, pleura maupun struktur mediastinum. Penyebaran
seperti ini sering didapati pada tumor thyroid, Ca esophagus, thymoma, dan
keganasan thymus, limfoma, dan tumor ganas sel induk.
2. Penyebaran hematogen
Dari emboli tumor ke arteri paru, atau arteri bronchial. Hal ini biasanya
memperlihatkan adanya nodul pada paru dan umumnya sering pada tumor
tumor primer yang memiliki pembuluh darah.
Tumor ganas anak yang sering bermetastasis ke paru adalah tumor wilms,
neuroblastoma, sarcoma osteogenik, sarkoma Ewing. Sedangkan tumor ganas
pada orang dewasa adalah karsinoma payudara, tumor tumor ganas alat
cerna, ginjal dan testis.
3. Penyebaran melalui saluran limfe
Yang melibatkan paru, pleura, maupun kelenjar getah bening paru. Paru
dapat terkena metastasis akibat sel tumor yang menjalar melalui saluran limfe
yang berasal dari metastasis hematogen, metastasis kelenjar getah bening hilus,
maupun tumor abdomen bagian atas. Penyebaran melalui saluran limfe dari
9

tumor yang berada ekstrathoraks ke kelenjar getah bening paru juga dapat
melalui duktus thorasikus, dengan keterlibatan retrograde kelenjar getah bening
hilus dan parenkim paru. Tumor yang biasanya bermetastasis dengan cara ini
umumnya adalah Ca mammae, abdomen, pankreas, prostat, serviks, dan
thyroid.
Anak sebar melalui saluran limfogen sering menyebabkan pembesaran
kelenjar mediastinum yang dapat mengakibatkan penekanan pada trakea,
esophagus, dan vena kava superior dengan keluhan keluhannya.
Pada anak biasa menetap di saluran limfe peribronkhial atau perivaskular
yang secara radiologik memberi gambaran bronkovaskular yang kasar secara
dua sisi atau satu sisi hemitoraks atau gambaran garis garis berdensitas tinggi
yang halus seperti rambut.
4. Penyebaran melalui ruang pleura
Misalnya invasi tumor primer ke pleura (misalnya thymoma) ataupun Ca
paru.
5. Penyebaran endobronkhial
Dari tumor jalan nafas. Mekanisme metastasis ini jarang terjadi.
Penyebaran ini biasanya terjadi pada pasien dengan Ca bronkhioloalveolar.
Namun dapat dilihat juga pada kanker paru lainnya.

C. Gejala Klinis
Gejala biasanya muncul pada pasien pasien yang mengalami metastasis
multiple (80 95%). Dyspneu dapat terjadi sebagai akibat dari masa tumor yang
menggantikan jaringan parenkim paru, obstruksi jalan nafas, maupun efusi pleura.
Dyspneu yang tiba tiba berhubungan dengan perkembangan yang cepat dari
suatu efusi pleura, pneumothoraks, maupun perdarahan ditempat lesi.
Walaupun pada metastasis paru pasien dapat dikatakan tanpa gejala akibat
metastasisnya, namun pasien hampir selalu memiliki gejala akibat tumor primer
yang dideritanya. Ketika metastasis paru ditemui tanpa adanya gejala gejala
pada tempat yang diduga pusat tumornya, maka kita harus curiga akan adanya
silent tumor, seperti tumor pankreas maupun kandung empedu.
Pasien dengan limfangitis karsinomatosa biasanya mengalami dyspneu
yang progresif, dan batuk kering. Metastasis endobronkhial biasanya
menyebabkan wheezing atau hemoptosis. Metastasis yang menjalar ke pleura
dapat menyebabkan nyeri pleura, dan metastasis apikal, dapat menyebabkan
sindrom pancoast. Hipertrofi pulmoner osteoarthropati biasanya jarang terjadi.
Pneumothorax merupakan komplikasi yang jarang dengan metastasis paru, kecuali
bagi penderita osteosarkoma sebagai tumor primernya. Pada kasus kasus
sebelumnya, sampai 5% pasien dapat mengalami pneumothorax lebih sering pada
saat menjalani kemoterapi.
10

D. Teknik Pemeriksaan Radiologi

Foto X Ray dada biasanya merupakan pemeriksaan pertama yang
dilakukan untuk mendeteksi adanya metastasis paru. Namun dapat juga metastasis
paru ditemukan secara tidak sengaja waktu dilakukan pemeriksaan dengan foto X
Ray.
Computed Tomography (CT) scan memiliki resolusi yang lebih tinggi
daripada foto X Ray dada, dan dapat memperlihatkan nodul nodul yang lebih
kecil daripada teknik lainnya.
High Resolution CT (HRCT) merupakan pemeriksaan pilihan untuk
memperlihatkan adanya limfangitis karsinomatosis dan penjalarannya.

1. Daerahdaerah pada paru yang sering menjadi tempat metastasis

Kelaianan dapat terlihat baik dengan menggunakan foto polos atau CT.
Penyakit yang bermetastasis ke dada dapat melibatkan satu daerah atau lebih
daerah berikut : paru, pleura, kelenjar limfe, Invasi lokal : tulang.
a. Paru
Setiap keganasan sebenarnya dapat menimbulkan deposit sekunder di
paru. Deposit biasanya tampak sebagai lesi opak bulat, berbatas jelas, multiple
dengan berbagai ukuran pada lapangan paru. CT sangat sensitive dalam
mendeteksi metastasis yang tidak terlihat dengan sinar-X dada dan berguna dalam
memantau respon terhadap kemoterapi. Lesi opak yang hanya berukuran beberapa
millimeter dapat terlihat dengan mudah. Kavitasi kadang terlihat, jika ada
biasanya menunjukkan adanya metastasis dari karsinoma sel skuamosa.
b. Pleura
Metastasis ke pleura sering berasal dari karsinoma payudara, dan tampak
sebagai lesi masa, walaupun manifestasi yang paling sering adalah efusi pleura,
yang menutupi kelainan yang mendasari.
c. Kelenjar Limfe
CT sangat akurat dalam mendeteksi pembesaran kelenjar limfe hilus dan
mediastinum (kelenjar yang berukuran kurang dari 1 cm dan bukan merupakan
metastasis).
Limfangitis karsinomatosa-deposit sekunder pada kelenjar limfe sentral
dapat menyebabkan kongesti limfatik dengan pola pulmonal linear yang menyebar
kearah luar dari kelenjar hilus, garis septum, dan efusi pleura.
d. Invasi lokal
Perikardium yang menyebabkan efusi pericardium yang bersifat ganas ;
kompresi atau obstruksi vena kava superior; paralisis nervus frenikus; tomor
Pancoast.
System skeletal : iga, tulang belakang torakal, bahu.
11

Deposit dapat bersifat litik, misalnya dari payudara, sklerotik dari
pancoast, atau gabungan keduanya.

E. Klasifikasi Gambaran Metastase

Noduler milier, coin lession hingga cannon ball (diameter 3-4 cm)/golf
ball (diameter 4-5 cm)
Limfangitis
Efusi pleura
Intraalveolar dan endobronchial

1. Noduler
Milier contohnya pada : Ca tiroid, paru atau mammae dll.
Cannon ball/golf ball contohnya pada : sarcoma, carsinoma, seminoma,
colon, ginjal.

Gambar 6. Metastasis Milier

12


Gambar 7. Cannon ball / coin lesion

Nodul paru merupakan gambaran manifestasi metastasis paru yang umum
didapati. Pada kebanyakan kasus, nodul ini tersebar secara hematogen, sehingga
tempat predominannya berada di dasar paru yang menerima lebih banyak darah
daripada lobus atas paru.
Nodul nodul ini biasanya bertepi jelas dan berbentuk bulat maupun
berlobulasi. Nodul yang berdinding tipis dapat terlihat pada keadaan terdapatnya
darah yang mengelilingi nodul tersebut.
Kavitasi dari metastasis jarang muncul seperti pada tumor primer paru,
namun dapat muncul kira kira pada 5% kasus.kavitasi dapat terlihat sebagai
nodul yang sangat kecil. Namun begitu, struktur kavitas ini berbeda secara
histologis. Kavitasi sering terjadi pada Ca sel skuamosa dan Ca sel transisional,
tapi juga bisa terjadi pada adenokarsinoma, sebagian dari kolon, juga pada
sarkoma.

kavitasi ini juga dapat meningkatkan resiko terjadinya pneumothoraks.
Kalsifikasi pada metastasis, sering terlihat pada sarkoma osteogenik,
chondrosarkoma, synovial sarkoma, Ca tiroid, dan adenokarsinoma mucinosa.

Nodul soliter
Metastasis paru yang soliter jarang terjadi, kira kira hanya sebanyak 2
10% dari seluruh nodul soliter. Lesi primer yang paling sering membuat nodul
soliter yaitu Ca kolon, osteosarkoma, Ca ginjal, testes, maupun Ca mammae. Dan
juga melanoma maligna. Ca kolon, khususnya pada area rectosigmoid,
menghasilkan kira kira sepertiga kasus yang berhubungan dengan metastasis
paru yang soliter. Harus dipikirkan bahwa banyak pasien yang menunjukkan suatu
13

nodul soliter pada foto polos dada, memiliki nodul nodul multiple saat diperiksa
dengan CT, dengan 1 nodul dominan.
Biasanya sulit untuk menghilangkan pemikiran adanya nodul soliter
metastasis dari Ca paru primer pada foto thoraks, maupun CT Scan. Pada HRCT
Scan, kira kira 1,5 x dari nodul nodul metastasis memperlihatkan tepi yang
tidak rata. Nodul nodul tersebut dapat bulat maupun oval, atau dapat pula
memiliki batas yang berlobus lobus. Tepi yang ireguler dengan spikulasi dapat
merupakan akibat dari reaksi desmoplastik maupun infiltrasi tumor pada batas
sekitar daerah limfatik maupun bronkovaskular.

Nodul multiple
Metastasis noduler biasanya terjadi multiple. biasanya nodul nodul ini
bervariasi besarnya, memperlihatkan episode yang berbeda dari emboli tumor,
ataupun tingkat pertumbuhan yang berbeda. Penampakan ini jarang terjadi pada
keadaan penyakit nodular yang jinak, seperti sarkoidosis. Kadang kadang,
semua metastasis berukuran sama. Saat banyak nodul yang terlihat, mereka
biasanya terdistribusi ke seluruh paru. Ketika hanya sedikit terlihat gmabaran
metastasis, maka biasanay tempat predominannya di subpleura.
Jumlah dan ukuran nodul nodul tersebut sangat bervariasi.nodul dapat
terlihat sangat kecil (miliar) dan sangat banyak. Hal seperti ini biasanya dapat kita
lihat pada tumor dengan perdarahan yang baik (seperti Ca tiroid, renal cell Ca,
adenokarsinoma, sarkoma) dan juga dapat memperlihatkan sebaran dari emboli
tumor yang masif.

2. Limfangitis metastase


Gambar 8. Metastasis limfangitis
14

Meskipun penyebaran dipembuluh limfe dapat disebabkan oleh neoplasma
maligna, namun hal ini biasanya mucul dari tumor yang berasal dari mammae,
abdomen, pankreas, paru, atau prostat. Fenomena ini juga disebabkan oleh Ca
paru primer, khususnya small cell Ca dan adenokarsinoma. Biasanya juga
berhubungan dengan pleura.
Gambaran radiologi klasik terdiri dari penebalan septum interlobularis (5
10 mm atau lebih kecil) dan terdapat corakan bronkovaskular yang ireguler.
Gambaran ini mudah dilihat pada lobus bawah pada kedau paru. Komponen
nodular dari penyebaran intraparenkim dapat berhubungan dengan limfangitis
karsinomatosis. Hilus dan mediastinal limfadenopati dapat muncul pada 20 40%
pasien, dan efusi pleura dapat timbul pada 30 50% pasien. Diagnosis dini dari
limfangitis karsinomatosis biasanya sulit dilihat dengan temuan foto thoraks biasa,
yang biasanya ditemukan normal pada 30 50% kasus. Namun dapat didiagnosis
secara dini dengan menggunakan HRCT Scanning.

3. Pleural metastase
Contohnya pada : Ca mammae, Ca gaster dll.

Gambar 9. Efusi pleura metastasis pleura
15

4. Tipe Alveolar/Pnemonic/Peribronchial
Contohnya pada : Ca paru, Ca esofagus, Ca mammae


Gambar 10. Metastase alveolar/pneumonik

F. Beberapa Contoh Gambaran Radiologis Metastasis Pada Paru






Metastasis dari Tiroid tipe miliar

16







Metastasis Karsinoma Paru tipe miliar

Limfangitis karsinomatosa dari kanker
payudara dengan Tension pneumotoraks
kanan dan efusi pleura kiri









17



Unilateral limphangitis karsinomatosa dari
Karsinoma Bronkus di hilus kanan



Unilateral limphangitis karsinomatosa dari
Karsinoma Prostat
18


Tipe Coin Lession / golf ball metastasis dari
karsinoma sel ginjal



Wanita tua, 60 thn dengan riwayat pembedahan
perut sebelumnya. Jantung dan paru-paru dalam
batas normal. Ada dua densitas jaringan lunak di
zona atas pada akhir anterior kanan kosta kedua
19




Laki-laki,70 thn dengan post prostatektomi dan
sedang menjalani terapeutik orkidektomi
bilateral.
Ada beberapa nodul di kedua bidang paru-paru.
Luas kehancuran mulai rusuk pertama yang tepat
dengan hilangnya beberapa korteks lateral.

Kalsifikasi (anak panah) pada metastasis paru
dari condrosarkoma

20




Masa kavitas karena Wegener granulomatosa



Metastasis pulmonal dari carcinoma sel anus
menunjukkan kavitas.
21


Cavitating metastasis pada post total
laryngectomy karena karsinoma sel skuamosa
laringeus 2 tahun sebelumnya.
Frontal dada sinar rontgen diperoleh sebelum
kemoterapi menunjukkan beberapa massa (anak
panah) di kedua paru-paru. Catatan : eksentrik
kecil kavitasi (panah) dari massa di paru kiri atas.



Metastasis pulmonal dari carcinoma sel anus
menunjukkan kavitas (proyeksi lateral,pasien
yang sama dengan gambar sebelumnya)
22




Metastasis pulmonal multiple dari osteosarkoma


Penyebaran yang luas pada metastasis pulmonal

.
G. Diagnosis Banding
Kondisi yang mungkin menjadi diferensial diagnosis nodul soliter
termasuk lesi jinak seperti hamartoma, granuloma (misalnya pada tuberculosis,
histoplasmosis, granulomatosis Wegener), abses pulmonal, infark, fibrosis fokal,
dan neoplasma bronchial primer.
Kondisi yang mungkin menjadi diferensial diagnosis nodul multiple
hampir sama seperti metastasis paru pada nodul soliter, yaitu abses
granulomatosa, infark multiple, dan sarkoidosis.
Dan kondisi yang mungkin menjadi diferensial diagnosis limfangitis
karsinomatosa yaitu edema pulmonal dan fibrosis paru.

23

BAB III
SIMPULAN

1. Tumor paru sekunder atau metastasis pada paru adalah keganasan pada
paru yang merupakan penyebaran dari proses keganasan di organ/tempat
lain.
2. Struktur paru merupakan salah satu tempat yang paling sering terjadi
metastasis.
3. Mekanisme penyebaran metastasis paru meliputi penyebaran langsung dari
pusat primer, penyebaran hematogen, penyebaran melalui saluran limfe,
penyebaran melalui ruang pleura, penyebaran endobronkhial.
4. Gambaran metastasis pada paru bisa berupa:
a. Noduler milier, coin lession hingga cannon ball (diameter 3-4
cm)/golf ball (diameter 4-5 cm)
b. Limfangitis
c. Efusi pleura
d. Intraalveolar dan endobronchial