Anda di halaman 1dari 6

1. Penatalaksanaan yang dilakukan segera terhadap bayi Ny.

A
Pernapasan spontan, jaga bayi tetap kering dan hangat, kotak antara kulit bayi
dengan kulit ibu sesegera mungkin.
1. Membersihkan jalan nafas
a) Sambil menilai pernafasan secara cepat, letakkan bayi dengan handuk di atas
perut ibu (IMD)
b) Bersihkan darah/lendir dari wajah bayi dengan kain bersih dan kering/ kassa
c) Periksa ulang pernafasan
d) Bayi akan segera menagis dalam waktu 30 detik pertama setelah lahir jika tidak
dapat menangis spontan dilakukan :
letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat
gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher bayi ekstensi
bersihkan hidung, rongga mulut, dan tenggorokan bayi dengan jari tangan yang
dibungkus kassa steril
tepuk telapak kaki bayi sebanyak 2-3x/ gosok kulit bayi dengan kain kering dan
kasar
2. Perawatan tali pusat
Setelah plasenta lahir dan kondisi ibu stabil, ikat atau jepit tali pusat.
celupkan tangan yang masih mggnakan sarung tangan ke dalam klorin 0,5%
untuk membersihkan darah & sekresi tubuh lainnya
bilas tangan dengan air matang /DTT
keringkan tangan (bersarung tangan)
letakkan bayi yang terbungkus diatas permukaan yang bersih dan hangat
ikat ujung tali pusat sekitar 1 cm dr pusat dengan menggunakan benang DTT.
Lakukan simpul kunci/ jepitkan
Jika menggunakan benang tali pusat, lingkarkan benang sekeliling ujung tali
pusat dan lakukan pengikatan kedua dengan simpul kunci dibagian Tali Pusat
pada sisi yang berlawanan
Lepaskan klem penjepit dan letakkan di dalam larutan klorin 0,5%
Selimuti bayi dengan kain bersih dan kering, pastikan bahwa bagian kepala bayi
tertutup

3. Mempertahankan suhu tubuh
Dengan cara :
Keringkan bayi secara seksama
Selimuti bayi dengan selimut/kain bersih, kering dan hangat
Tutup bagian kepala bayi
Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusukan bayinya
Lakukan penimbangan setelah bayi mengenakan pakaian
Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat
4. Pencegahan infeksi
Memberikan obat tetes mata atau salep diberikan 1 jam pertama bayi lahir yaitu
eritromysin 0,5%/tetrasiklin 1%. Yang biasa dipakai adalah larutan perak nitrat/
neosporin & langsung diteteskan pada mata bayi segera setelah bayi lahir. BBL sangat
rentan terjadi infeksi, sehingga perlu diperhatikan hal-hal dalam perawatannya.
Cuci tangan sebelum dan setelah kontak dengan bayi
Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang blm dimandikan
Pastikan semua peralatan (gunting, benang tali pusat) telah di DTT, jika
menggunakan bola karet penghisap, pastukan dalam keadaan bersih
Pastikan semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang digunakan untuk bayi
dalam keadaan bersih
Pastikan timbangan, pipa pengukur, termometer, stetoskop dan benda-benda
lainnya akan bersentuhan dengan bayi dalam keadaan bersih (dekontaminasi
setelah digunakan)

2. Berdasarkan pelayanan kesehatan obstetri neonatal essensial dasar , tahun 1999,
yang tergolong kegawatan neonatus adalah :

Kasus gawat darurat obstetri adalah kasus obstetri yang apabila tidak segera
ditangani akan berakibat kematian ibu dan janinnya. Kasus ini menjadi penyebab utama
kematian ibu janin dan bayi baru lahir. (Saifuddin, 2002)
Kegawat daruratan neonatal adalah situasi yang membutuhkan evaluasi dan
manajemen yang tepat pada bayi baru lahir yang sakit kritis ( usia 28 hari)
membutuhkan pengetahuan yang dalam mengenali perubahan psikologis dan kondisi
patologis yang mengancam jiwa yang bisa saja timbul sewaktu-waktu
Yang tergolong dalam kegawatan neonatus adalah asfiksia. Asfiksia Neonatorum
adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur
setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini
berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan atau segera
lahir
Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal sebagai
ABC resusitasi, yaitu;
1. Memastikan saluran terbuka
a. Meletakkan bayi dalam posisi kepala defleksi bahu diganjal 2-3 cm.
b. Menghisap mulut, hidung dan kadang trachea.
c. Bila perlu masukkan pipa endo trachel (pipa ET) untuk memastikan saluran
pernafasan terbuka.
2. Memulai pernafasan
a. Memakai rangsangan taktil untuk memulai pernafasan
b. Memakai VTP bila perlu seperti : sungkup dan balon pipa ETdan balon atau mulut
ke mulut (hindari paparan infeksi).
3. Mempertahankan sirkulasi
a. Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara
b. Kompresi dada.
c. Pengobatan
3. Asfiksia Neonatus ditandai oleh
a. Tidak bernafas atau nafas menggap-menggap atau pernapasan lambat (kurang
dari 30 per menit )
b. Pernapasan tidak teratur, dengkuran atau retraksi (perlekukan dada)
c. Tangisan lemah atau merintih
d. Warna kulit pucat atau biru (sianosis)
e. Tonus otot lemas atau ekstremitas lemah
f. Denyut jantung tidak ada atau lambat (bradikardi) (kurang dari 100x/menit)

4. Langkah preventif yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya asfiksia antara
lain:
a. Pemeriksaan selama kehamilan secara teratur yang berkualitas,
b. Meningkatkan status nutrisi ibu
c. Manajemen persalinan yang baik dan benar
d. Melaksanakan Pelayanan neonatal esensial terutama dengan melakukan
resusitasi yang baik dan benar yang sesuai standar.
5. Jelaskan tatalaksana kejang pada bayi usia <1 bulan
Penatalaksanaan
Ada 3 hal yang perlu dikerjakan, yaitu
1. pengobatan fase akut
2. mencari dan mengobati penyebab
3. pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam.
a. Pengobatan fase akut
Penatalaksanaan saat kejang : Sering kali kejang berhenti sendiri. Pada
waktu kejang, yang perlu diperhatikan adalah ABC (Airway, Breathing,
Circulation). Perhatikan juga keadaan vital seperti kesadaran, tekanan
darah, suhu, pernapasan dan fungsi jantung. Suhu tubuh yang tinggi
diturunkan dengan kompres air hangat dan pemberian antipiretik.Obat
yang paling cepat menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan
Intravena (IV). Dosis diazepam IV 0,3-0,5 mg/kgbb/kali dengan kecepatan
1-2 mg/menit dalam waktu 3-5 menit dengan dosis maks 20 mg.Obat
yang praktis dan dapat diberikan oleh orang tua atu dirumah adalah
diazepam rektal (level II-2, level II-3, rekomendasi B). Dosis diazepam
rektal adalah 0,5-0,75 mg/kg atau diazepam rektal 5 mg untuk anak
dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg dengan berat diatas 10
kg. dosis 5 mg untuk anak dibawah usia 3 tahun dan dosis 7,5 mg diatas 3
tahun.
Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum terhenti, dapat
diulang lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval 5 menit.
Bila setelah 2 kali pemberian diazepam rektal masih tetap kejang,
dianjurkan ke rumah sakit. Dirumah sakit dapat diberikan diazepam IV
dengan dosis 0,3 -0,5 mg/kg.Bila kejang tetap belum berhenti berikan
fenitoin dengan dosis awal 10-20 mg/kgbb IV perlahan-lahan 1
mg/kgbb/menit atau kurang dari 50 mg/menit. Bila kejang berhenti dosis
selanjutnya adalah 4-8 mg/kg/hari, dimulai 12 jam setelah dosis awal. Bila
dengan fenitoin kejang tidak berhenti juga maka pasien harus dirawat
diruang intensif. Setelah pemberian fenitoin, harus dilakukan pembilasan
dengan NaCl fisiologis karena fenitoin bersifat basa dan dapat
menyebabkan iritasi vena. Bila kejang telah berhenti, pemberian obat
selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam apakah kejang demam
sederhana atau kompleks dan faktor resikonya.
b. Pemberian Antipiretik
Pemberian antipiretik tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan obat ini
mengurangi resiko terjadinya kejang demam (level I, rekomendasi D),
namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat
diberikan (level III, rekomendasi B). Dosis parasetamol yang digunakan
adalah 10-15 mg/kg/kali diberikan dalam 4 kali pemberian per hari dan
tidak lebih dari 5 kali. Dosis ibuprofen adalah 5-10 mg/kg/kali, 3-4 kali
sehari. Asam asetilsalisilat tidak dianjurkan karena kadang dapat
menyebabkan sindrom Reye pada anak kurang dari 18 bulan.
c. Pemberian Antikonvulsan
Pemakaian diazepam oral dosis 0,3 mg/kg setiap 8 jam pada saat demam
menurunkan risiko berulang kejang pada 30%-60% kasus, begitu pula
dengan diazepam rektal dosis 0,5 mg/ kg setiap 8 jam pada suhu > 38,5C
(level I, rekomendasi A) Fenobarbital, karbamazepin, dan fenitoin pada
saat demam tidak berguna untuk mencegah kejang demam (level II,
rekomendasi
d. Pemberian obat rumat
Pemberian obat rumat hanya diberikan dengan indikasi berikut:
Kejang lama >15 menit
Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah
kejang, misalnya hemiparesis, paresis Todd, cerebral palsy,
retatdasi mental, hidrosefalus.
Kejang fokal
Pengobatan rumatan dipertimbangkan bila: Kejang berulang 2 X
atau lebih dalam 24 jam
Kejang demam 4 X atau lebih pertahun. Sebagian besar peneliti
setuju bahwa kejang demam > 15 menit merupakan indikasi
pengobatan rumat. Kelaian neurologis tidak nyata misalkan
keterlambatan perkembangan ringan bukan indikasi pengobatan
rumat. Kejang fokal atau fokal menjadi umum menunjukkan
bahwa anak mempunyai fokus organik.