Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gagal ginjal kronik (GGK) adalah merupakan menurunnya fungsi ginjal yang
berlangsung lama dan bertahap, sifatnya progresif dengan kreatinin klirens (Sidabutar,
1983). Penurunan atau kegagalan fungsi ginjal berupa fungsi ekskresi, fungsi pengaturan,
dan fungsi hormonal dari ginjal. Sebagai kegagalan sistem sekresi menyebabkan
menumpuknya zat-zat toksik dalam tubuh yang kemudian menyebabkan sindroma
uremia. Terapi pengganti pada pasien GGK dapat mempertahankan hidup sampai
beberapa tahun. Salah satu terapi pengganti adalah Hemodialisis (HD) yang bertujuan
menggantikan fungsi ginjal sehingga dapat memperpanjang kelangsungan hidup dan
memperbaiki kualitas hidup pada penderita gagal ginjal kronik. Pasien Hemodialisa (HD)
rutin diartikan sebagai pasien gagal ginjal kronik yang menjalani tindakan hemodialisi
dengan 2 atau 3 kali seminggu, sekurangkurangnya sudah berlangsung selama 3 bulan
secara continue (Susalit, E, 2003). Pada pasien GGK yang menjalani HD rutin sering
mengalami kelebihan volume cairan dalam tubuh, hal ini disebabkan penurunan fungsi
ginjal dalam mengekresikan cairan. Meskipun pasien GGK pada awal menjalani HD
sudah diberikan penyuluhan kesehatan untuk mengurangi asupan cairan selama
sehari,akan tetapi pada terapi HD berikutnya masih sering terjadi pasien datang dengan
keluhan sesak napas akibat kelebihan volume cairan tubuh yaitu kenaikan melebihi dari 5
% dari berat badan kering pasien (Kresnawan, T, 2001). Faktor dominan yang
mempengaruhi kepatuhan dalam mengurangi asupan cairan belum diketahui dengan
pasti, hal ini dipengaruhi oleh multi faktor yang berperan penting. Berdasarkan data dari
Indonesia Renal Registry, suatu kegiatan registrasi dari Perhimpunan Nefrologi
Indonesia, pada tahun 2008 jumlah pasien hemodialisis (cuci darah) mencapai 2260
orang. Perilaku yang sering terjadi pada pasien yang menjalani hemodialisa adalah
ketidakpatuhan terhadap modifikasi diet, pengobatan, uji diagnostik, dan pembatasan
asupan (Wijaya, 2010). Pengobatan dan terapi sangat di perlukan bagi kesembuhan
penderita GGK. Selain terapi dan pengobatan medis, pendekatan proses keperawatan
secara holistik, bio psiko sosial dan kultural di perlukan dalam penetalaksanaan pasien
GGK. Ada alternative pengobatan secara bio psikososial dengan metode hypnotherapy.
Minat masyarakat untuk mempelajari hypnosis atau hipnotis (seni komunikasi untuk
memengaruhi seseorang) belakangan ini semakin meningkat (Kompas,2009). Sejak tahun
1815, Abbe Jose Castodi de Faria, sudah melakukan penelitian hipnotis secara ilmiah.
Dilanjutkan berbagai tokoh semacam Emile Cou, Dr. James Braid (1848), Milton
Erickson, MD dan sebagainya. Tahun 1955, British Medical Association (sekarang
disebut BHA atau British Hypnotherapy Association) mengesahkan hypnotherapy
sebagai valid medical treatment. Tahun 1958, American Medical Association (AMA)
mensupport hypnotherapy untuk keperluan medis. Setelah 1950, banyak berdiri asosiasi
profesional di berbagai Negara (Ronny, 2010).
Berdasarkan pemaparan diatas, penulis tertarik untuk melakukan literature review
tentang pengaruh hypnotherapy terhadap kepatuhan diit cairan pada pasien gagal ginjal
kronis rawat jalan di instalasi hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Gombong dengan
menggunakan PICOT framework dan quantitative studies. Pembahasan Critical
appraisal meliputi penjelasan tujuan atau pertanyaan yang diteliti dalam jurnal yang
ditelaah, metode, sampel, tempat penelitian, prosedur pengumpulan data, analisa data dan
hasil penelitian dari jurnal yang ditelaah.

B. Rumusan masalah
Pengaruh hypnotherapy terhadap kepatuhan diit cairan pada pasien gagal ginjal
kronis rawat jalan di instalasi hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Gombong.

C. Pencarian Literatur
Strategi pencarian studi berbahasa Inggris yang revelan dengan topik dilakukan
dengan menggunakan Google-Scholar, dimana penulis tidak membatasi tahun jurnal.
Keyword yang digunakan adalah hypnotherapy, gagal ginjal kronis dan kepatuhan asupan
cairan.
Penulis memfokuskan pada artikel fulltext untuk memilih studi yang akan dikritisi
yang sesuai dengan kriteria inklusi dengan menggunakan PICOT framework. Kriteria
inklusi dalam review ini adalah asupan cairan untuk pasien gagal ginjal kronik. Jurnal
yang diperoleh sebanyak 4 artikel, tetapi yang sesuai dengan kriteria inklusi dan yang
akan direview hanya 2 artikel. Critical appraisal dilakukan pada salah satu artikel.





























BAB II
LITERATUR REVIEW

A. Evaluasi Kritis penelitian
Hasil penelitian tentang asupan cairan yang digunakan dalam literatur review ini
semua berupa penelitian kuantitatif dimana 1 penelitian menggunakan eksperimental
semu (quasy experimental) dengan non equivalen control group (control group dan
experimental) menggunakan uji paired sampel t-test dan 1 penelitian lagi menggunakan
deskriptif cross sectional dengan uji chi squre.
1. Safitri, Cokro Aminoto, Arnika Dwi Asti (2012) dalam Pengaruh Hypnotherapy
Terhadap Kepatuhan Diit Cairan Pada Pasien Gagal Ginjal kronis Rawat Jalan Di
Instalasi Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Gombong.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode hypnotherapy terhadap
kepatuhan diit cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani rawat jalan di
Instalasi Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Gombong pada bulan Maret April
2011. Responden adalah pasien gagal ginjal kronik yang menjalani rawat jalan di
Instalasi Hemodialisa di RS PKU Muhammadiyah Gombong, dimana responden yang
digunakan sebanyak 10 orang untuk masing masing kelompok kontrol dan
intervensi. Berat badan kering pada kelompok intervensi yang tertinggi adalah
sebanyak 6 responden (60%) dengan berat badan kering 45-54 kg, sedangkan pada
kelompok kontrol prosentase tertinggi adalah sebanyak 5 responden (50%) dengan
berat badan kering 35-44 kg. Usia responden pada kelompok intervensi yang
terbanyak dengan usia antara 36-50 tahun yaitu 5 responden (50%) sedangkan pada
kelompok kontrol responden terbanyak dengan usia 36-50 tahun yaitu sebanyak 6
responden (60%).
Kelebihan cairan awal responden yang menjalani terapi hemodialisa pada kelompok
intervensi adalah sebanyak 5 reponden (50%) dengan prosentase awal kelebihan
cairan awal 5% dari berat badan kering dan prosentase terendah adalah 5 responden
(50%) dengan kelebihan cairan awal 8% dari berat badan kering, sedangkan
kelompok kontrol prosentase tertinggi adalah sebanyak 5 responden (50%) dengan
prosentase kelebihan cairan awal 8% dari berat badan kering dan prosentase terendah
adalah 5 responden (50%) dengan kelebihan cairan awal 5% dari berat badan kering.
Rata rata kepatuhan diit cairan pada kelompok intervensi dan kelompok kelompok
kontrol terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,01). Pada uji statistik selisih
kepatuhan dengan menggunakan paired sampel t-test diperoleh nilai p=0,01 dimana
nilai p< 0,05 maka Ho ditolak, artinya ada perbedaan yang signifikan antara
kelompok intervensi dan kelompok kontrol mengenai pengaruh hypnotherapy
terhadap kepatuhan diit cairan pada pasien gagal ginjal kronik rawat jalan di RS PKU
Muhammadiyah Gombang.
Kesimpulan yang di dapat dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh metode
hypnotherapy terhadap kepatuhan diit cairan pada pasien gagal ginjal kronik dan ada
perbedaan yang signifikan antara kelompok control dan kelompok intervensi
mengenai pengaruh hypnoterapi terhadap kepatuhan diit cairan pada pasien gagal
ginjal kronik rawat jalan di RS PKU Muhamadiyah Gombong.
2. Sari, Lita Kartika (2009) dalam Faktor- faktor yang berhubungan dengan kepatuhan
dalam pembatasan asupan cairan pada klien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi
hemodialisis di ruang hemodialisa RSUP Fatmawati Jakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti faktor- faktor yang berhubungan
dengan kepatuhan dalam pembatasan asupan cairan pada klien gagal ginjal kronik
yang menjalani terapi hemodialisis. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif
cross sectional. Responden pada penelitian ini diambil dengan teknik accidental
sampling. Kriteria inklusi pada penelitian ini kesadaran baik, klien hemodialisa yang
mengikuti jadwal regular dengan penambahan berat badan > 1,5 kg dan < 1,5 kg
dianatara waktu dialysis, klien hemodialisis dengan jadwal regular diaman pada
anamnesa ditemukan tanda kelebihan asupan cairan : edema, acites, tekanaan darah
tinggi, sesak nafas dan klien yang memiliki riwayat penyakit asma dan hipertensi.
Tempat penelitian nya di Ruang Hemodialisa RSUP Fatmawati Jakarta. Prosedur
pengumpulan datanya dengan cara peneliti membagikan kuesioner langsung kepada
responden yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil dari penelitian menunjukkan
kepatuhan responden yang menjalani terapi hemodialisa,responden yang tidak patuh
lebih banyak dibanding responden yang patuh dalam pembatasan asupan cairan.
Responden yang memiliki pengetahuan baik dalam pembatasan asupan cairan lebih
banyak dibanding responden yang memiliki pengetahuan kurang dan cukup.
Responden yang memiliki sikap positif terhadap pembatasan asupan cairan lebih
banyak dibandingkan klien yang memiliki sikap yang negative. Faktor pendidikan
dan sikap klien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisis memiliki
hubungan yang signifikan terhadap kepatuhan dalam pembatasan asupan cairan.
Faktor pengetahuan, lama menjalani hemodialisis, informasi, dan dukungan keluarga
klien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis tidak memiliki hubungan yang
signifikan terhadap kepatuhan dalam pembatasan asupan cairan
3. Kamaludin Ridlwan, Rahayu Eva (2009) dalam analisa faktor faktor yang
mempengaruhi kepatuhan asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronik dengan
hemodialisis di RS.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor faktor yang
mempengaruhi kepatuhan asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronik dengan
hemodialisis di RSUP Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Metode penelitian ini
menggunakan deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel dalam
penelitian ini sebanyak 51 responden dengan menggunakan total sampling. Tempat
penelitian ini adalah di RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Pengumpulan
data selain menggunakan instrumen kuesioner yang dibagikan langsung kepada
responden, peneliti juga menggunakan lembar angket untuk menganalisa kepatuhan
dalam mengurangi asupan cairan selama 3 hari berturut turut yaitu dengan
menghitung BB post hemodialisis dengan BB pre hemodialisis berikutnya. Hasil dari
penelitian menunjukkan faktor faktor yang tidak mempengaruhi kepatuhan dalam
asupan cairan yaitu faktor usia dan lama menjalani terapi HD sedangkan faktor yang
mempengaruhi adalah faktor pendidikan, konsep diri, pengetahuan pasien,
keterlibatan tenaga kesehatan dan keterlibatan keluarga.






B. Argumen yang logis
Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah usaha yang diarahkan agar
setiap penduduk dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Upaya tersebut
sampai saat ini masih menjadi kendala yang disebabkan masih tingginya masalah
kesehatan, terutama yang berkaitan dengan penyakit yang dapat menghambat
kemampuan seseorang untuk hidup sehat. Penyakit-penyakit tersebut diantaranya adalah
gagal ginjal kronik (GGK) (Depkes RI, 2002). WHO memperkirakan setiap 1 juta Jiwa
terdapat 23 30 orang yang mengalami Gagal Ginjal kronik per tahun. Kasus GGK di
dunia meningkat per tahun lebih 50%. Jumlah pasien penderita penyakit ginjal di
indonesia di perkirakan 60.000 orang dengan pertambahan 4.400 pasien baru setiap
tahunya (Wijaya, 2010). Penatalaksanaan GGK di rumah sakit adalah dengan terapi
hemodialisa, obat obatan anti hipertensi, terapi cairan, terapi diit rendah protein dan
tinggi karbohidrat, pemberian tranfusi darah, dan transpaltasi ginjal. Saat ini, ada
peningkatan jumlah penderita gagal ginjal yang harus melakukan cuci darah yaitu 350 per
juta penduduk.
Pasien Hemodialisa (HD) rutin diartikan sebagai pasien gagal ginjal kronik yang
menjalani tindakan hemodialisi dengan 2 atau 3 kali seminggu, sekurang kurangnya
sudah berlangsung selama 3 bulan secara continue (Susalit, E, 2003). Pada pasien GGK
yang menjalani HD rutin sering mengalami kelebihan volume cairan dalam tubuh, hal ini
disebabkan penurunan fungsi ginjal dalam mengekresikan cairan. Meskipun pasien GGK
pada awal menjalani HD sudah diberikan penyuluhan kesehatan untuk mengurangi
asupan cairan selama sehari, akan tetapi pada terapi HD berikutnya masih sering terjadi
pasien datang dengan keluhan sesak napas akibat kelebihan volume cairan tubuh yaitu
kenaikan melebihi dari 5 % dari berat badan kering pasien (Kresnawan, T, 2001). Faktor
dominan yang mempengaruhi kepatuhan dalam mengurangi asupan cairan belum
diketahui dengan pasti, hal ini dipengaruhi oleh multi faktor yang berperan penting.
Asupan cairan yang berlebih pada pasien gagal ginjal akan memperparah kondisi
pasien gagal ginjal kronik, sehingga perlu diperhatikan faktor yang mempengaruhi dan
mengurangi asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronik. Faktor pendidikan dan
pengetahuan pasien memegang peranan penting dalam mempengaruhi dan
mempengaruhi kepatuhan asupan cairan pada pasien dengan gagal ginjal kronik.
C. Implikasi terhadap Praktik Keperawatan
Penelitian yang ada lebih banyak menggunakan metode deskriptif analitik dengan
rancangan cross sectional. Kedua penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor
faktor apa sajakah yang mempengaruhi dan berhubungan dengan kepatuhan asupan
cairan pada pasien gagal ginjal kronik. Melalui penelitian ini kita dapat mengetahui
faktor apa saja yang berhubungan dan berpengaruhi kepatuhan asupan cairan pada pasien
gagal ginjal kronik, sehingga akan mempermudah dalam perawatan pasien gagal ginjal
kronik.
Peran perawat dalam memberikan intervensi yang holistik sangat mempengaruhi
keberhasilan dalam penanganan kepatuhan asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronik
Perawat diruang hemodialisa juga hendaknya dapat memodikasi penyampaian informasi
kesehatan melalui berbagai media kepada klien dan keluarga dalam upaya promotif dan
preventif karena hal ini sangat erat kaitannya dengan keberhasilan intervensi
keperawatan. Seperti adanya diskusi dan tanya jawab, interaksi yang diharapkan dapat
memberikan umpan balik yang positif dari klien dan keluarga tentang masalah kesehatan
yang sesungguhnya dihadapi oleh klien dan keluarga dalam pelaksanaan anjuran
kesehatan khususnya pembatasan asupan cairan. Selain itu program pembatasan asupan
cairan bagi klien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis hendaknya semakin
diperhatikan seperti mengoptimalkan adanya penyuluhan dan sosialisasi yang lebih
sering mengenai program tersebut, hal ini dikarenakan banyak pasien yang memiliki
pengetahuan kurang mengenai pembatasan asupan cairan. Implikasi riset terkait literature
review ini adalah diharapkan ada penelitian sejenis dengan variabel yang berbeda dari
penelitian ini seperti variabel sensasi haus yang dirasakan oleh klien dan penambahan
variabel lingkungan khususnya variabel iklim dan cuaca yang dapat mempengaruhi
kepatuhan klien gagal ginjal serta perlu dilakukan penelitian analisis multivariat untuk
melihat faktor yang lebih dominan.






B. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini sudah tertulis jelas yaitu untuk mengetahui pengaruh hypnotherapy
terhadap kepatuhan diit cairan pada pasien gagal ginjal kronis rawat jalan di Instalasi
hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Gombong.

C. Studi Literatur
Literatur yang diguanakan dalam penelitian ini relevan dan cukup lengkap. Pembahasan
tentang hasil penelitian sudah menjelaskan bagaimana pengaruh hypnotherapy dapat
meningkatkan kepatuhan diit cairan pada pasien gagal ginjal kronik. Perbandingan hasil antara
kelompok kontrol dan kelompok perlakuan sudah tergambar jelas dan dipaparkan beserta
alasannya dengan menggunakan teori dan penelitian yang telah ada sebelumnya.
Metode pengukuran sudah dijelakan pada penelitian ini, dimana jenis penelitian ini
adalah eksperimen semu (quasy experimental) dengan non equivalen control group (control
group dan experimental) dengan uji paired sample t-test. Penelitian menyarankan untuk
melakukan penelitian selanjutnya dengan skala yang lebih luas.

D. Desain Penelitian
Desain penelitian yang diguanakan berbasis medical bedah, dimana sampel dibagi
menjadi 2 kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, dimana kelompok kontrol
kontrol tidak diberikan hypnotherapy hanya di beri Pendidikan Kesehatan (Penkes) sedangkan
kelompok intervensi menerima perlakuan hypnotherapy.

E. Sampel
Responden adalah pasien gagal ginjal kronik yang menjalani rawat jalan di Instalasi
Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Gombong .Teknik pengambilan sampel adalah dengan
total sampel jumlah responden keseluruhan adalah 20 orang dimana jumlah sampel masing
masing kelompok 10 orang untuk intervensi dan kontrol. Kriteria inklusi : pasien gagal ginjal
kronik dari usia 21-75 tahun, pasien yang menjalani rawat jalan di Instalasi Hemodialisa RS
PKU Muhammadiyah Gombong dan pasien yang bersedia menjadi responden.


F. Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di di Instalasi Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah
Gombong.

G. Outcome
Hypnotheray terbukti dapat mempengaruhi kepatuhan diit cairan pada pasien
gagal ginjal kronik.

H. Perlakuan
Pemberian hypnotherapy pada kelompok perlakuan sesuai Standar Operasional
Prosedur Hypnotherapy (SOP Hypnotherapy), sedangkan pada kelompok kontrol hanya di
beri Pendidikan Kesehatan (Penkes).

I. Hasil penelitian
Terdapat pengaruh metode hypnotherapy terhadap kepatuhan diit cairan pada pasien
GGK, dan ada perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi
mengenai pengaruh hypnotherapi terhadap kepatuhan diit cairan pada pasien GGK rawat
jalan di RS PKU Muhammadiyah Gombong.

J. Droup out
Total responden yang diambil adalah 20 orang dan tidak ada droup out.

K. Kesimpulan dan implikasi klinik
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan pengaruh yang signifikan pada
hypnotherapy terhadap kepatuhan diiit cairan pada pasien gagal ginjal kronis, tetapi peneliti
menyarankan untuk selanjutnya agar dilakukan pengaplikasian hasil penelitian ini dalam
skala yang lebih luas.




TUGAS STASE KMB (KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN Tn. ES DENGAN CKD STADIUM V
BERDASARKAN CRITICAL APPRAISAL DAN LITERATUR REVIEW
Effect Hypnotherapy Of Compliance Diet Fluid
In Patient Chronic Renal Failure








OLEH :
KELOMPOK 6
1. I WAYAN JUNIHARTA KUSUMA (13.901.0488)
2. I. B. RENDRA WIDWAM S. (13.901.0490)
3. NI MADE RUPIKAWATI (13.901.0502)
4. NI NYOMAN DARMAYANTI (13.901.0503)
5. NI PUTU AYU PURNAMA D. (13.901.0504)
6. NI PUTU SINTYA PARAMITA (13.901.0505)





PROGRAM STUDI NERS (PROFESI)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA PPNI BALI
DENPASAR
2014
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN


A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil literature review dan critical apprisial yang sudah dilakukan, maka pada
saat dilakukan ronde keperawatan, perawat dapat menyarankan tentang pemberian
hypnotherapy terhadap kepatuhan diit cairan kepada Tn. ES, untuk mengatasi masalah
kelebihan cairan sekaligus meningkatkan efektifitas pengobatan yang diberikan kepada
klien.

B. SARAN
Perlu dilakukan analisa jurnal lain yang terkait dengan intervensi keperawatan pada pasien
dengan CKD, terutama untuk mengatasi masalah keperawatan lain yang muncul pada Tn.
ES seperti pola nafas tidak efektif, intoleransi aktivitas, defisit perawatan diri, dan kondisi-
kondisi yang mungkin muncul pada pasien CKD yang mengalami komplikasi atau memiliki
penyakit penyerta lainnya.












BAB III
CRITICAL APPRAISAL


A. PICOT Framework

Population Intervention Comparation
intervension
Outcomes Time
Pasien gagal ginjal
kronik yang
menjalani rawat
jalan di Instalasi
Hemodialisa RS
PKU
Muhammadiyah
Gombong dari usia
21-75 tahun
dengan jumlah
sampel masing
masing kelompok
10 orang untuk
intervensi dan
kontrol.
Pemberian
hypnotherapy
Kelompok I (n=10)
sebagai kelompok
intervensi, menerima
perlakuan
hypnotherapy
Kelompok II (n=10)
sebagai kelompok
kontrol tidak diberikan
hypnotherapy hanya di
beri Pendidikan
Kesehatan (Penkes)
Kepatuhan diit cairan
pada kelompok intervensi yang
diberikan perlakuan hypnotherapy
sesuai
Standar Operasional Prosedur
Hypnotherapy (SOP
Hypnotherapy), menunjukkan adanya
perbedaan yang bermakna dengan
kelompok kontrol atau
yang hanya di beri Pendidikan
Kesehatan (Penkes)
Pemberian hypnotherapy
diberikan selama 4 kali
dalam sebulan setelah
pasien menjalani
hemodialisis