Anda di halaman 1dari 2

Quoted from Kompas, 26th Oct.

2007

Pergerakan Indonesia Muda

Oleh : Yudi Latief *)

Jika Karl Marx memercayakan perubahan pada perjuangan “kelas” dan Max Weber
mengalamatkanya pada “aliran kultural”, adalah Ortega y Gasset yang memercayai “kaum
muda” sebagai agen perubahan. Pandangan terkahir ini memperoleh perwujudan
historisnya di Indonesia.

“Akhirnya,” tulis Ben Anderson, “saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi
Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh ‘kesadaran pemuda’ ini.”
Mohammad Hatta sebagai pengamat yang terlibat, mengajukan pertanyaan retoris, “Apa
sebabnya pemuda-pemuda, mahasiswa Indonesia, secara aktif ikut berpolitik?”
Lantas ia jawab sendiri, “Kalau mahasiswa Belanda, Perancis, dan Inggris menikmati
sepenuhnya usia muda serba menggembirakan, pemuda Indonesia harus
mempersiapkan diri untuk suatu tugas yang menuntut syarat-syarat lain. Tidak ada
jalan lain yang sudah siap dirintis baginya; tidak ada lowongan pekerjaan yang sudah
disiapkan baginya. Sebaliknya dia harus membangun mulai dari bawah, di tengah-
tengah suasana yang serba sukar, di tengah-tengah pertarungan yang penuh dendam
dan kebencian. Perjuangan kemerdekaan yang berat membayang di depannya,
membuat dia menjadi orang yang cepat tua dan serius untuk usianya.” Bung Hatta
menyodorkan alasan lain yang menggelitik. Fakta bahwa sebagina besar pemimpin kaum
muda ini berasal dari kalangan pegawai tinggi dan kelas berada tidak meyurutkan mereka
untuk berjuang.

Sebaliknya, sikap orang tua mereka yang terpaksa oleh sistem kepegawaian colonial untuk
berdiam diri, berbohong, dan berbicara yang enak-enak saja tentang masalah politik dan
kolonial, memperlihatkan betapa Bapak mereka merupakan lambang ketidakjujuran dan
ketidakberdayaan abadi. Maka, tak segan-segan mereka memberontak-menyempal, “dari
kaum kumpulannya terbuang”.

Katak dalam tempurung

Generasi baru, yang terdidik secara baru, melahirkan kesadaran baru bahwa masa yang
panjang Bumiputera hidup bagai katak dalam tempurung, dan tempurung itu dipercaya
sebagai langit luas. Mereka melihat dengan mata sendiri kesengsaraan yang diderita
massa rakyat dan menyadari sepenuhnya bahwa “senjata” lama dengan impian ratu adilnya
tak lagi memadai sebagai sarana perjuangan. Kaum muda menjebol kelembaman dengan
“menemukan” politik (the invention of politics). Bukan hanya hingga awal abad ke-20
bahasa Melayu-Indonesia tidak memiliki kata yang spesifik untuk “politik”, tetapi yang
lebih penting lewat proses mimikri (penyesuaian) dari subyek-subyek colonial, mereka
mulai merumuskan ideologi politik perjuangan.

Politik dalam kesadaran mereka jauh dari bahasa teori “pilihan rasional” bahwa
rasionalitas kepentingan individual harus dibayar oleh irasionalitas kehidupan kolektif.
Politik dalam konsepsi mereka merupakan usaha resolusi atas problem-problem kolektif
dengan pemenuhan kebajikan kolektif. Mirip pemahaman Aristotelian, politik dipandang
sebagai seni mulia untuk meraih harapan dan memelihara kemaslahatan umum, terutama
kepentingan kaum terjajah, dengan jalan meyubsordinasikan aneka kepentingan partikular
pada kepentingan (kaum terjajah) secara keseluruhan.

Oleh karena itu, betapa pun konflik ideologis berulang kali terjadi, selalu ada usaha untuk
mempertautkan berbagai kepentingan seksional ke dalam suatu kehendak kolektif yang
disebut Antonio Gramsci sebagai historical blog. Salah satu monumen terpentingnya
adalah Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Suatu babak penting dalam perjuangan
kemerdekaan, ketika gugus-gugus pemuda yang terfragmentasi melebur dalam suatu cita-
cita nasionalisme baru dengan rasionalitas dan otosentrisnya sendiri. Hal itu ditempuh
dengan mengkonstruksikan komunitas impian baru (Indonesia), dengan cara keluar dari
jebakan “bahasa” dan “konstruksi” kolonial. Dengan “penemuan” politik yang berkhidmat
pada kemaslahatan bersama itulah, kemerdekaan Indonesia dicapai. Di sinilah letak khitah
politik kaum muda. Manakala elemen-elemen kemapanan meyeru pada “kemujudan” dan
“ego sektoral”, kaum muda menerobosnya dengan menawarkan ide-ide progresif dan
semangat republikanisme.

Panggilan sejarah

Kini sejarah memanggil kembali peran politik kaum muda seperti itu, ketika politik sebagai
seni mengelola republic demi kebajikan kolektif tersisihkan oleh apa yang disebut
Machiavelli sebagai raison d’etat (reason of state) yang berorientasi parokhial. Jika
“politik” sejati memiliki kepedulian untuk mempertahankan kepentingan kolektif melalui
perbaikan otoritas publik, reason of state memprioritaskan kepentingan elit dan
kelompok penguasa dengan mengatasnamakan “kebajikan publik”. Maka, reason of state
adalah seni memerintah dengan menipu rakyat. Kaum muda harus menyelamatkan
kepercayaan rakyat kepada Republik, ketika gelombang demokrastisasi yang mestinya
berorientasi memberdayakan rakyat justru meninggalkan rakyat lalu ditinggalkan rakyat.
Upaya memulihkan kepercayaan kepada insititusi-institusi publik terasa kian genting
dihadapkan pada penetrasi neoliberalisme dan globalisasi. Neoliberlalisme dengan bantuan
asumsi teori “pilihan publik” (public choice) menggangap irasional suatu kepercayaan
terhadap institusi publik dan karena itu secara ketat membatasi peran Negara. Teori-
teori globalisasi menganggap intervensi negara sebagai sesuatu yang anakronitis (sesuatu
yang menyalahi jaman) di tengah gelombang pasar bebas. Alhasil, cita-cita republikanisme
digempur dari dalam dan luar karena aneka kelemahan dalam praktik politik kita, yang
menyimpang dari cita-cita “penemuan politik” oleh kaum muda. Pergerakan Indonesia
muda kembali dinanti. Saatnya kaum muda mempimpin kembali bangsa dan negara keluar
dari kepicikan katak dalam tempurung, mengembalikan politik pada fitrah luhurnya:
memperjuangkan cita-cita dan kebajikan bersama! (bonum commune)

*****

*) Pemikir Kenegaraan dan Keagamaan