Anda di halaman 1dari 8

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Alfa Firdaus, ST, MT.

PENGANTAR EKONOMI 1


Bab 13
Memaksimumkan Laba


Pada pembahasan-pembahasan sebelumnya, terutarna Bab 5 dan Bab 6, telah
dipelajari bahwa dalam teori ekonomi mikro tujuan perusahaan adalah mencari laba (profit).
Secara teoritis laba adalah kompensasi atas risiko yang ditanggung oleh perusahaan. Makin
besar risiko, laba yang diperoleh harus semakin besar. Laba atau keuntungan adalah nilai
penerimaan total perusahaan dikurangi biaya total yang dikeluarkan perusahaan. Jika laba
dinotasikan , pendapatan total sebagai TR, dan biaya total adalah TC, maka


= TR - TC
(7.1)


Perusahaan dikatakan memperoleh laba kalau nilai 1t positif (1t > 0) di mana TR >
TC Laba maksimum (maximum profit) tercapai bila nilai 1t mencapai maksimum. Yang
menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara perusahaan menghitung laba maksimum?
Ada tiga pendekatan penghitungan laba maksimum yang akan dibahas dalam bab
ini.
Pendekatan totalitas (totality approach)
Pendekatan rata-rata (average approach)
Pendekatan marjinal (marginal approach)

1. Pendekatan Totalitas (Totality Approach)
Pendekatan totalitas membandingkan pendapatan total (TR) dan biaya total (TC).
Pendapatan total adalah sarna dengan jumlah unit output yang terjual (Q) dikalikan harga
output per unit. Jika harga jual per unit output adalah P, maka TR = P.Q. Pad a saat
membahas teori biaya, kita telah mengetahui bahwa biaya total (TC) adalah sama dengan
biaya tetap (FC) ditambah biaya variabel (VC), atau TC = FC + Vc. Dalam pendekatan
totalitas, biaya variabel per unit output dianggap konstan, sehingga biaya variabel adalah
jumlah unit output (Q) dikalikan biaya variabel per unit. Jika biaya variabel per unit adalah v,
maka VC = v.Q.
Dengan demikian,

= PQ - (FC + vQ)
(7.2)

Persamaan (7.2 ) dapat dipresentasikan dalam bentuk Diagram 7.1. Dalam diagram
tersebut kita melihat bahwa pad a awalnya perusahaan mengalami kerugian, terlihat dari
kurva TR yang masih di bawah kurva TC Tetapi jika output ditambah, kerugian makin kecil,
terlihat dari makin mengecilnya jarak kurva TR dengan kurva TC Pada saat jumlah output
mencapai Q*, kurva TR berpotongan dengan kurva TC yang artinya pendapatan total sama
dengan biaya total. Titik perpotongan ini disebut titik impas (break event point, disingkat
BEP). Setelah titik BEP, perusahaan terus mengalami laba yang makin membesar, dilihat
dari posisi kurva TR yang di atas kurva TC


PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Alfa Firdaus, ST, MT.
PENGANTAR EKONOMI 2

Implikasi dari pendekatan totalitas adalah perusahaan menempuh strategi penjualan
maksimum (maximum selling). Sebab makin besar penjualan makin besar laba yang
diperoleh. Hanya saja sebelum mengambil keputusan, perusahaan harus menghitung
berapa unit output harus diproduksi (Q*) untuk meneapai titik impas. Kemudian besarnya Q*
dibandingkan dengan potensi permintaan efektif. Jika persentasenya 80%, maka untuk
meneapai BEP perusahaan harus menjangkau 80% potensi perrnintaan efektif. Makin kecil
Q* dan atau makin kecil persentase Q* terhadap potensi permintaan efektif dianggap makin
baik, sebab risiko yang ditanggung perusahaan makin kecil.



Diagram 7.1
Kurva TR dan Te (Pendekatan Totalitas)







Cara menghitung Q* dapat diturunkan dari Persamaan (7.2).

= P.Q* - ( FC + v.Q*)
(7.3)

Titik impas tercapai pada saat sama dengan nol.

0 = P.Q*- FC - v.Q*
= P.Q* - v.Q* - FC
= (P-v).Q* - FC

Q* =
) ( V P
FC

(7.4)


PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Alfa Firdaus, ST, MT.
PENGANTAR EKONOMI 3

Contoh Kasus:
Emilia adalah seorang dosen di kata Jambi. Sebagai seorang ibu rumah tangga yang
kreatH, dia merencanakan menambah penghasilan keluarga dengan menjual jajanan anak-
anak berupa permen coklat hasil olahannya sendiri. Produknya dipasarkan ke beberapa
sekolah dasar yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Jumlah permintaan potensial (dilihat
dari jumlah murid yang diberi uang jajan) adalah 1.000 orang per hari. Untuk mewujudkan
rencananya, dia hams membeli alat-alat produksi dan mesin cetak sederhana seharga Rp5
juta. Biaya produksi per biji permen coklat Rp250,00. Harga jual per biji Rp500,00.

Apakah rencana di atas layak dilaksanakan? Untuk menjawabnya, kita dapat
menggunakan rumus dalam Persamaan (7.4).

Biaya pembelian alat produksi dan mesin cetak sederhana adalah biaya tetap (FC),
karena besarnya tidak tergantung jumlah produksi. Biaya variabel per unit (v) adalah
Rp250,00 sedangkan harga jual per unit (P) adalah Rp500,00 Untuk mencapai titik impas,
jumlah output (permen coklat) yang harus terjual (Q*) adalah:

Q* = 5.000.000 / (500-250) = 20.000 biji permen.

Untuk mencapai titik impas, permen coklat yang harus terjual 20.000 biji. Apakah
target ini terlalu berat? Sangat tergantung dari optimisme Ibu Emilia. Jika dia bersikap
pesimis, misalnya dengan mengatakan hanya sekitar 10% dari permintaan potensial yang
terjangkau, berarti setiap hari hanya dapat menjual 100 permen. Sehingga 20.000 biji
permen akan terjual dalam waktu 200 hari. Tetapi bila dia yakin minimal 50% potensi pasar
terjangkau atau 500 biji permen coklat per hari, 20.000 biji permen akan terjual hanya dalam
waktu 40 hari. Setelah 20.000 biji permen, penjualan selanjutnya memberi keuntungan
Rp250,00 per biji, karena itu makin banyak permen yang dapat dijual, makin besar laba yang
diperoleh.

Pendekatan totalitas sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari, karena memang
mudah dan sederhana. Namun cara ini memiliki beberapa kelemahan:
a. Dalam praktik sulit membedakan antara biaya tetap dengan biaya variabel. Misalnya
listrik yang digunakan perusahaan ada yang untuk pabrik (dapat menjadi biaya variabel);
ada yang untuk kantor (dapat menjadi biaya tetap). Atau seorang pegawai dalam
perusahaan, terutama perusahaan keluarga, sering bekerja rangkap untuk kegiatan
administratif (biaya tetap) dan produksi (biaya variabel).
b. Pendekatan ini mengabaikan gejala penurunan pertambahan hasil (LDR), yang
menyebabkan baik kurva biaya maupun kurva pendapatan tidak berbentuk garis lurus
(lihat kembali Bab 5 dan Bab 6. Karena itu pendekatan totalitas hanya dapat dipakai bila
usaha yang dianalisis relatif sederhana, dengan skala produksi tidak besar (massal).















PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Alfa Firdaus, ST, MT.
PENGANTAR EKONOMI 4

2. Pendekatan Rata-rata (Average Approach)
Dalam pendekatan ini, perhitungan laba per unit dilakukan dengan membandingkan
antara biaya produksi rata-rata (AC) dengan harga jual output (P). Laba total adalah laba per
unit dikalikan dengan jumlah output yang terjual.

= (P - AC).Q
(7.5)

Dari persamaan ini perusahaan akan mencapai laba bila harga jual per unit output
(P) lebih tinggi dari biaya rata-rata (AC). Perusahaan hanya mencapai angka impas bila P
sarna dengan AC.

Keputusan untuk memproduksi atau tidak didasarkan perbandingan besamya P
dengan AC. Bila P lebih kedl atau sarna dengan AC, perusahaan tidak mau memproduksi.
Implikasi pendekatan rata-rata adalah perusahaan atau unit usaha harus menjual sebanyak-
banyaknya (maximum selling) agar laba (1t) makin besar.

Contoh Kasus:
PT Tani Makmur ingin menanam singkong di Lampung. Produk singkong akan dibeli
di lahan oleh produsen tapioka seharga Rp150,00 per kilogram. Setiap hektar diperkirakan
menghasilkan singkong minimal 25 ton. Berdasarkan studi pendahuluan, biaya produksi
seperti di bawah ini:
a. Biaya persiapan lahan: Rp500.000,00 per hektar.
b. Biaya penanaman dan perawatan (termasuk pupuk dan obat-obatan) serta tenaga kerja:
Rp1.000.000,00 per hektar.
c. Biaya panen (pencabutan, pemotongan): Rp.10,00 per kg.

Jika perusahaan menargetkan keuntungan sebesar Rp 1.000.000.000,00 pada musim
tanam mendatang, berapa hektar singkong yang harus ditanam?
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghitung biaya rata-rata per kilogram
singkong, sampai siap dijual di lahan. Karena yang sudah ketahui hanya biaya panen per kg,
kita harus menghitung biaya rata-rata : kilogram persiapan lahan dan penanaman. Dari data-
data di atas diketahui bahwa biaya persiapan lahan, penanaman dan perawatan adalah Rp.
1.500.000,00 per hektar. Jika per hektar lahan menghasilkan 25 ton singkong, maka biaya
rata-rata persiapan, penanaman dan perawatan adalah Rp.60,00 per kilogram. Sehingga
biaya rata-rata per kilogram (AC) adalah Rp.60,00 + Rpl0,00 sama dengan Rp70,00.

Karena harga jual singkong (P) adalah Rp150,00 per kilogram, maka

= (P - AC ).Q
(7.6)

1.000.000.000 = (150 - 70).Q
Q = (1.000.000.000: 80) kg
= 12.500.000 kg
= 12.500 ton

Jumlah singkong yang harus dihasilkan untuk mencapai laba Rpl miliar adalah
12.500 ton. Karena per hektar menghasilkan 25 ton, maka jumlah yang harus ditanam
adalah 500 hektar.



PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Alfa Firdaus, ST, MT.
PENGANTAR EKONOMI 5

Sama halnya dengan pendekatan totalitas, pendekatan rata-rata juga banyak dipakai
karena sederhana. Namun pendekatan ini pun mengabaikan gejala penurunan pertambahan
hasil (LDR). Contoh di atas, menunjukkan bahwa perhitungan AC berdasarkan skala
produksi satu hektar. Padahal banyak perbedaan mendasar antara memproduksi satu hektar
dengan 500 hektar. Pada skala produksi satu hektar atau barangkali sampai sepuluh hektar,
perusahaan tidak mengalami masalah-masalah berarti dikaitkan dengan kebutuhan SDM,
teknologi produksi maupun manajemen. Dalam arti kualitas SDM yang dibutuhkan tidak
perlu tinggi, lahan bisa dikelola dengan eknologi sederhana dan pengelolaan usaha cukup
dengan manajemen keluarga.
Tetapi jika skala produksi ditingkatkan sampai 500 hektar, pengolahan tanah hams
menggunakan peralatan modem, perusahaan membutuhkan insinyur dan tenaga keuangan
yang mampu mengelola usaha bernilai ratusan juta atau miliaran rupiah. Jika perusahaan
harus menggunakan kredit sebagai sumber pendanaan, maka organisasi perusahaan harus
bersifat formal. Dengan kata lain jenis dan kompleksitas kegiatan maupun pembiayaan
makin banyak dan meningkat, jika skala produksi ditambah. Karena itu perhitungan AC yang
akurat seharusnya dalam skala produksi 500 hektar. Angka biaya rata-rata (AC) pada skala
produksi 500 hektar bisa lebih besar atau lebih kecil dari AC pada skala produksi satu
hektar. Jika perusahaan menikmati skala produksi ekonomis (economies of scale), maka
biaya rata-rata ( AC ) akan lebih kedl dari Rp70,00 per kg (AC pada skala produksi satu
hektar). Begitu juga sebaliknya.



































PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Alfa Firdaus, ST, MT.
PENGANTAR EKONOMI 6

3. Pendekatan Marjinal (Marginal Approach)
Dalam pendekatan marjinal, perhitungan laba dilakukan dengan membandingkan
biaya marjinal (MC) dan pendapatan marjinal (MR). Laba maksimum akan tercapai pada
saat MR = Me. Kondisi tersebut bisa dijelaskan secara matematis, gratis dan verbal.

a. Penjelasan Secara Matematis

= TR - TC
(7.7)

Laba maksimum tercapai bila turunan pertama fungsi (n / Q) sama dengan nol
dan nilainya sama dengan nilai turunan pertama TR (OTRI aQ atau MR) dikurangi nilai
turunan pertama TC (TC / Q atau MC).


0

Q
TC
Q
TR
Q



= MR MC = 0






Dengan demikian, perusahaan akan memperoleh laba maksimum (atau kerugian
minimum) bila ia berproduksi pada tingkat output di mana MR = MC.

b. Penjelasan Secara Grafis
Di pembahasan teori biaya produksi, kita telah mengonstruksi kurva biaya total (TC)
yang bentuk kurvanya seperti huruf S terbalik. Kurva pendapatan total (TR) diperoleh
dengan cara mengalikan kurva produksi total (TP) dengan harga jual output per unit (P).
Pada pembahasan teori produksi, telah diketahui bahwa kurva TP berbentuk huruf S. Karena
kurva TR diperoleh dengan cara mengalikan kurva TP dengan sebuah bilangan sebesar nilai
P, maka kurva TR juga berbentuk huruf S. Kurva TR dikurangi kurva TC menghasilkan kurva
laba () seperti tampak pada Diagram 7.2 berikut ini.

















MR = MC
maksimum atau
Kerugian minimum

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Alfa Firdaus, ST, MT.
PENGANTAR EKONOMI 7


Diagram 7.2
Kurva TR, TC dan Laba (Pendekatan Marjinal)






Pada Diagram 7.2 kita melihat bahwa tingkat output yang memberikan laba adalah
interval Q
1
-Q
5
Jika output di bawah jumlah Q
1
perusahaan mengalami kerugian karena TR <
TC Begitu juga jika jumlah output melebihi Q
5
Interval Q
1
-Q
5
dalam pembahasan teori
produksi disebut sebagai daerah produksi ekonomis (tahap II). Perusahaan akan mencapai
laba maksimum di salah satu titik antara Q
1
-Q
5
Dalam Diagram 7.2 terlihat bahwa laba
maksimum tercapai jika tingkat produksinya adalah Q
3
Secara grafis hal itu terlihat dari kurva
yang mencapai nilai maksimum pada saat output sebesar Q
3


Pada pembuktian secara materna tis telah diketahui bahwa nilai (laba) akan
maksimum bila MR = MC Dalam grafis kondisi itu terbukti dengan membandingkan dua garis
singgung b
1
dan b
2
. Garis singgung b
1
adalah turunan pertama fungsi TR atau sarna dengan
MR. Garis singgung b
2
adalah turunan pertama fungsi TC atau sama dengan MC Kita
melihat garis singgung b
1
sejajar garis singgung b
2
yang artinya MR = MC














PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Alfa Firdaus, ST, MT.
PENGANTAR EKONOMI 8

c. Penjelasan Secara Verbal
Apakah benar perusahaan akan mencapai laba maksimum bila memproduksi di Q
3
?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita mengonsentrasikan diri pada pergerakan kurva lab
a (n) sepanjang interval Q
1
-Q
5
' Pergerakan tersebut kita bagi menjadi tiga sub-interval: Q
1
-
Q
3
' Q
3
' dan Q
3
-Q
5
'

1) Penambahan output sepanjang sub-interval Q
1
-Q
3

Ketika output ditambah dari Q
1
ke Q
2
kurva bergerak naik yang artinya laba
bertambah besar. Bila memperhatikan kurva TR dan TC, terlihat bahwa sudut kecuraman
garis singgung a
l
(MR) lebih besar dari sudut kecuraman garis singgung a
2
(MC). Ternyata
jika output ditambah satu unit, tambahan pendapatan (MR) yang dihasilkan lebih besar dari
tambahan biaya (MC) yang harus dikeluarkan. Karena itu akan lebih menguntungkan bila
perusahaan terus menambah output. Dengan cara penjelasan yang sama dapat dipahami
mengapa kurva bergerak naik sampai jumlah output Q
3
Kalau kita melihat sudut
kemiringan kurva makin mendatar, hal itu menunjukkan terjadinya hukum pertambahan
hasil yang makin menurun (LDR).


2) Pada saat jumlah output Q
3

Pada saat jumlah output Q
3
seperti telah dijelaskan, garis singgung b
l
(MR) sejajar
garis singgung b
2
(MC). Jika output ditambah satu unit, maka tambahan pendapatan (MR)
yang diperoleh sama persis dengan tambahan biaya (MC) yang harus dikeluarkan.

3) Interval Q
3
-0
5

Jika output ditambah dari Q
3
ke Q
4
terlihat bahwa sudut kemiringan garis singgung c
1

(MR) sudah lebih kecil dari sudut kemiringan garis singgung c
2
(MC). Artinya jika output
ditambah satu unit, tambahan pendapatan (MR) yang diperoleh lebih kecil dibanding
tambahan biaya (MC). Dalam kondisi seperti itu perusahaan akan merugi bila terus
menambah output. Terlihat dari gerak menurun kurva
.
Dengan demikian, tingkat output yang membuat perusahaan mencapai laba
maksimum adalah Q3'
Penjelasan di atas dapat diringkas dengan menyatakan:
1. Pada interval Q
1
-Q
3
MR > MC. Karenanya penambahan output akan meningkatkan laba.
2. Pada interval Q
3
-Q
5
MR < MC. Karenanya penambahan output akan menurunkan laba.
3. Pada saat output adalah Q
3
, MR = MC. Perusahaan mencapai laba maksimum.