Anda di halaman 1dari 10

1

BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Angka penyakit karies gigi cenderung mengalami penurunan di negara
yang sudah maju, sedangkan di negara yang sedang berkembang seperti
Indonesia malahan mengalami kenaikan (Gluck dan Morganstein, 1998).
Roesdal (1999) menemukan data 76,92% status indeks karies decay, missing dan
filling (DMFT) pada anak kelompok umur 12 tahun. Departemen Kesehatan
dalam riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2008, melaporkan bahwa 72,1%
penduduk Indonesia mempunyai karies gigi dan 46,5% diantaranya merupakan
karies aktif yang belum dirawat. Berdasarkan hal tersebut dapat diindikasikan
diperlukan strategi untuk mencegah gigi berlubang dan prioritas utamanya
adalah usaha penurunan prevalensi karies.
Sesuai dengan konsep promotif dan preventif, maka dalam rangka
mencegah kejadian karies yang merupakan penyakit paling banyak terjadi dalam
kesehatan gigi, dicanangkan istilah minimal intervention (MI). Minimal
intervention berupa upaya untuk terus menerus mensosialisasikan pentingnya
pencegahan kejadian karies dengan cara antara lain: kontrol ke dokter gigi secara
teratur, mengkonsumsi makanan non kariogenik, dan penggunaan fluorida
sebagai upaya untuk prevensi karies (Adyatmaka, 2000).
Mekanisme fluorida dalam mencegah gigi berlubang diantaranya adalah
dengan cara menghambat proses demineralisasi email pada gigi sehat dan
meningkatkan proses remineralisasi pada gigi yang mengalami karies yang kecil

2

(pit and fissure caries). Senyawa fluorida pada konsentrasi rendah mempunyai
fungsi meningkatkan kristalisasi gigi dan tulang dengan mengubah ion hydroxyl
dalam apatit gigi, membentuk fluorapatit yang lebih resisten terhadap asam.
Pada konsentrasi tinggi, ion fluorida justru akan menyebabkan terjadinya
fluorosis (Fejerskov dkk., 1996). Fluoroapatit lebih optimal jika mineral
pembentuknya yang lain juga terpenuhi yaitu adanya dukungan dari kalsium dan
fosfat.
Perdebatan mengenai pemakaian fluorida dalam pencegahan karies masih
terjadi, terutama mengenai efek samping penggunaan fluorida. Kontroversi
penggunaan fluorida terutama mengenai terjadinya fluorosis, fraktur tulang bayi
lahir cacat, kanker, radang sendi, maupun IQ rendah. Disamping itu beberapa
pendapat menyatakan bahwa penelitian-penelitian pada daerah yang melakukan
fluoridasi dibandingkan dengan daerah yang tidak melakukan fluoridasi
ditemukan data karies yang tidak begitu berbeda yaitu angka DMF-T= 2 untuk
kedua daerah serta angka bebas karies 34% dan 35 % (Fawell dkk., 2006; Yeung,
2008; Breiner, 2009). Sementara masih banyak juga pendapat ahli yang
mendukung penggunaan fluorida baik secara topikal maupun sistemik (Crozier,
2008; Garvin, 2009) bahkan organisasi kesehatan gigi di Amerika (American
Dental Association/ ADA) masih memberikan dukungan penuh bagi
penggunaan fluorida. Penggunaan fluorida akan memberikan efek samping jika
penggunaannya berlebihan. Dosis therapeutic fluorida adalah 0,05 mg/kg
bb/hari untuk anak di bawah usia 6 tahun, untuk usia 6 tahun ke atas kurang
lebih 5-10 mg/hari (Whitford, 1987).

3

Terdapat beberapa bentuk sediaan fluorida yang tersedia baik dalam
sediaan topikal maupun sistemik. Sediaan pertama kali adalah water fluoridation
yaitu fluorida ditambahkan dalam air minum dengan konsentrasi 0,7-1 ppm.
Sediaan ini mempunyai kelebihan yaitu bisa menjangkau lapisan masyarakat
yang luas dan mudah dalam aplikasinya. Banyak negara yang sudah berhasil
dalam pelaksanaannya dan masih berlanjut sampai sekarang (Ellwood dkk.,
2008; Anonim, 2008). Keberhasilan di beberapa negara tersebut, tidak bisa
dilakukan di negara berkembang seperti di Indonesia dikarenakan harganya yang
mahal dan keterbatasan tenaga ahli.
Bentuk sediaan lain adalah pemberian tablet fluorida dengan dosis 0,25
mg; 0,5 mg dan 1 mg. Di Indonesia, tablet fluorida diberikan dengan resep
dokter dan diperuntukkan bagi anak dengan risiko karies tinggi dan ibu hamil.
Dalam aplikasinya tablet fluorida mempunyai kekurangan diantaranya adalah
pemberian per oral dapat mengalami first pass metabolism di lambung,
kepatuhan pasien untuk mengkonsumsi tablet fluorida rendah (Ismail, 1994;
Leveret dkk., 1997) serta adanya efek samping yang berhubungan dengan sistem
gastro intestinal misal rasa mual, muntah pada pasien setelah mengkonsumsi
tablet fluorida (Susheela dan Bhatnagar, 2002; National Research Council,
2006).
Menurut Cury dkk. (2004) bentuk sediaan pasta gigi berfluorida juga
merupakan sediaan yang efektif untuk penurunan karies. Di Indonesia
penggunaan pasta gigi mencapai masyarakat luas, hampir semua pasta gigi di
pasaran mengandung fluorida. Dosis terapeutik fluorida dalam saliva adalah 0,1

4

ppm (Ekstrand, 1997), sedangkan dalam setiap kali menggosok gigi fluorida
yang terserap dalam saliva adalah 0,02-0,04 ppm, sehingga masih kurang dalam
pencapaian terapeutik. Konsentrasi fluorida dalam pasta gigi tidak dapat dibuat
dengan dosis yang tinggi (maksimum 1500 ppm dalam 1 tube) dikarenakan
dikhawatirkan adanya fluorida yang tertelan (Anonim, 2001; Cury dkk., 2004).
Disamping konsentrasi fluorida yang terserap dalam saliva yang rendah,
penyebab kurang efektifnya penggunaan pasta gigi berfluorida adalah perilaku
menggosok gigi pada masyarakat masih kurang tepat (Anonim, 2008). Sehabis
disikat seharusnya tidak langsung dikumur agar fluorida dari pasta gigi bisa
terserap optimal oleh gigi (Stemmer, 2011), tetapi pada prakteknya, perilaku
menggosok gigi masyarakat justru langsung berkumur sehingga fluorida dari
pasta gigi terlarut dalam air kumur.
Karena intake fluorida pada masyarakat di Indonesia sangat terbatas,
maka perlu dipertimbangkan bentuk sediaan lain yang cakupannya luas dan
mudah, harga terjangkau serta dosisnya terkendali. Beberapa peneliti yang telah
melakukan uji coba pada bentuk sediaan fluorida terbaru diantaranya air minum
dalam kemasan (AMDK) (Fatmasari dkk., 2007) dengan hasil ditemukan
kestabilan konsentrasi fluorida dalam kemasan gelas setelah penyimpanan
selama 1, 4 dan 8 minggu dan pada sediaan susuk/implan fluor (Widjijono,
2002) yang menghasilkan sistem slow release fluorida. Dalam aplikasinya
ditemukan beberapa kendala diantaranya adalah untuk implan fluorida sangat
sulit dilakukan, terutama pada anak-anak karena orang tua tidak sampai hati

5

melakukan implantasi pada anaknya, sedangkan AMDK mengandung fluorida
mengalami kesulitan dalam pengaturan dosis agar tidak berlebihan.
Perlu dipikirkan suatu inovasi baru lain yaitu sediaan yang aman dan
menyenangkan bagi anak-anak dan dosis bisa dikendalikan sehingga bisa untuk
mengontrol kemungkinan terjadinya fluorosis. Bentuk sediaan ini diharapkan
juga bisa bersifat slow release yaitu mengeluarkan fluorida dalam dosis kecil
secara perlahan karena fluorida dengan pengeluaran lambat dapat mencapai
dosis aman dalam jendela terapeutik (Pak dkk., 1990; Sakhaee dan Pak, 1991;
Toumba, 2001; Featherstone, 2006). Bentuk sebagai sediaan alternatif obat yang
akhir-akhir ini banyak digunakan adalah plester dengan mekanisme pelepasan
zat aktif secara transdermal.
Penggunaan plester (patch) sudah dimulai sejak tahun 1920, awalnya
digunakan untuk mengobati luka kecil pada jari yang teriris pisau, tergores tetapi
kemudian berkembang antara lain nicotine patch, contraceptic patch, analgesic
patch, antibiotic patch (Scheindlin, 2004). Pada aplikasi fluorida secara
transdermal drug delivery (TDD) dalam bentuk sediaan plester (patch), fluorida
akan berdifusi dan diabsorbsi lewat kulit (per kutan) melewati stratum korneum,
menuju pembuluh darah untuk kemudian akan dikirim ke jaringan target yaitu
gigi dan tulang (Aggarwal, 2009). Bentuk sediaan fluor-plester merupakan
sediaan pembawa fluor (delivery) yang diabsorpsi melalui kulit dengan lepasan
lambat dalam jumlah kecil yang diatur melalui difusi kulit.
Bentuk sediaan obat dalam bentuk plester mempunyai beberapa
keuntungan diantaranya adalah dosis obat yang diberikan dapat terkontrol (slow

6

and sustained released), untuk pasien yang tidak dapat minum obat dalam
bentuk pil, tablet, kapsul maka intake fluor akan terjaga jika menggunakan
bentuk plester yang relatif mudah dalam aplikasinya. Secara sistemik obat yang
diberikan lewat kulit tidak melewati saluran pencernaan sehingga mengurangi
terjadinya iritasi lokal pada lambung (Scheindlin, 2004). Walaupun relatif lebih
mahal dibandingkan sediaan konvensional, sediaan ini menjadi popular
dikarenakan adanya sifat unik yaitu daya absorbsi obat terkontrol, kadar obat
dalam plasma uniform, bioavailabilitas meningkat serta biokompatibilitas
terhadap jaringan bagus atau efek samping berkurang (Aggarwal, 2009).
Pengembangan plester fluorida, merupakan suatu sediaan baru yang
berkontak langsung dengan tubuh manusia dan harus melalui suatu uji
biokompatibilitas (Anusavice, 2009). Aplikasi plester dimulai dari penempelan
di kulit, fluorida menembus lapisan kulit, menuju pembuluh darah kemudian
menuju ke tulang dan gigi. Berdasarkan rute perjalanan fluorida maka harus
dilakukan evaluasi biologis antara lain tes reaksi iritasi kulit dan alergi terhadap
bahan plester, tes sitotoksititas dan uji hemolisa. Fluorida terbukti kompatibel
terhadap jaringan berdasarkan uji sitotoksisitas dan hemolisa (Kasten dkk., 1989;
Widjijono, 2002; Oh dkk., 2004) sedangkan pengaruh plester fluorida terhadap
kulit belum teridentifikasi.
Beberapa syarat obat atau mineral bisa digunakan untuk pengobatan
melewati kulit diantaranya adalah senyawa non ionik, berat atom kurang dari
500, bersifat hidrofilik, mempunyai titik lebur kurang dari 200
0
C, bersifat poten
atau dosis dalam mg/hari. Beberapa syarat diatas dipenuhi oleh natrium fluorida

7

(NaF) yaitu berat atom 41,988, bersifat larut dalam air dan bersifat poten
sehingga diharapkan akan bisa menembus barier pada kulit untuk menuju ke
pembuluh darah. Walaupun ada beberapa syarat yang tidak terpenuhi yaitu
senyawa NaF bersifat ionik, titik lebur yang tinggi (219,62C) serta tidak bisa
larut dalam lemak, tetapi teknologi terkini dapat mengatasi kendala tersebut
dengan cara melalui bantuan beberapa media untuk menembus barier kulit
(Benson, 2005), misalnya dengan penambahan bahan kimia sebagai pemacu
daya tembus (enhancer) serta bantuan arus listrik dengan intensitas rendah
(iontoforesis).
Studi pendahuluan tentang uji transpor NaF dilakukan dengan
menggunakan membran kulit tikus dengan media donor larutan natrium fluorida
dengan konsentrasi 66,67 ppm dan media reseptor larutan dapar fosfat bebas
kalsium dan magnesium 0,1 M pH 7,4. Konsentrasi fluorida yang tertranspor ke
larutan reseptor diukur setelah 15, 30, 60, 120 dan 240 menit menggunakan ion
selective electrode (ISE) spesifik fluorida dengan potensiometer. Hasil studi
pendahuluan menunjukkan adanya fluorida yang berdifusi menembus kulit tikus.
Kadar fluorida yang terdifusi cenderung mengalami peningkatan yaitu 51,8;
54,1; 54,7; 53 dan 55 ppm. Hal ini dapat digunakan sebagai acuan bahwa
fluorida dapat menembus kulit tikus secara pasif.
Daya tembus fluorida relatif sangat kecil, maka perlu ditambah dengan
penggunaan bahan pemacu daya tembus, biasanya menggunakan chemical
enhancer karena bahan kimia relatif lebih praktis dibandingkan dengan
iontoforesis (Goodman dan Barry, 1989). Mekanisme enhancer adalah dengan

8

cara membantu obat dalam menembus struktur lipid dalam stratum korneum
serta berinteraksi dengan protein antar sel (Pathan dan Setty, 2009). Secara
umum bahan kimia sebagai enhancer bersifat iritatif maka dikhawatirkan
menimbulkan reaksi terhadap kulit, maka perlu dipertimbangkan dalam
pemilihannya dengan reaksi minimal.
B. Permasalahan Penelitian
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka dapat ditarik beberapa
permasalahan yang dapat dikaji yaitu:
Permasalahan Primer:
1. Apakah ion fluorida dapat menembus membran kulit tikus menuju ke
larutan CMF-PBS (in vitro)?
2. Apakah semakin lama aplikasi dan semakin meningkat konsentrasi NaF
pada plester dengan enhancer yang ditempelkan pada punggung tikus,
semakin meningkat konsentrasi fluorida dalam plasma darah (in vivo)?
Permasalahan Sekunder:
1. Apakah semakin lama uji transpor pada larutan NaF, makin meningkat
bobot ion fluorida pada larutan CMF-PBS (in vitro)?
2. Apakah semakin lama uji transpor pada larutan NaF dengan enhancer,
makin meningkat bobot ion fluorida pada larutan CMF -PBS (in vitro)?
3. Apakah penambahan enhancer pada larutan NaF berpengaruh terhadap
bobot ion fluorida pada uji transpor secara in vitro?
4. Apakah semakin lama uji transpor dan konsentrasi NaF dalam plester,
semakin meningkat bobot ion fluorida pada larutan CMF PBS (in vitro)?

9

5. Apakah makin tinggi konsentrasi NaF pada plester NaF dengan enhancer
yang diaplikasikan pada kulit tikus, semakin meningkat konsentrasi
fluorida gigi (in vivo)?
6. Bagaimanakah biokompatibilitas jaringan kulit setelah aplikasi plester
NaF dengan enhancer?
C. Keaslian Penelitian
Penelitian tentang sediaan plester dengan membawa fluorida untuk
dihantarkan via kulit menuju pembuluh darah dan gigi belum pernah diteliti.
Penelitian transdermal berupa sediaan plester fluorida pernah dipatenkan, berupa
plester berisi sodium monofluorofosfat (MFP) yang digunakan untuk pengobatan
penyakit tulang (Grodberg, 1994). Plester MFP ini berisi estrogen dikarenakan
juga untuk mengatasi gangguan hormonal. Perbedaannya adalah plester NaF ini
diutamakan untuk memperkuat gigi dengan melewati pembuluh darah. Penelitian
transdermal lainnya adalah plester papaverin HCl oleh Prabhakara dkk. (2010)
yang menggunakan selofan sebagai membran pembatas dan penelitian Murthy
dan Hiremath (2001) menggunakan kulit babi sebagai membran uji in vitro dan
aplikasi pada kulit manusia sehat pada uji in vivo.

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan primer:
a. Menentukan bahwa ion fluorida dapat menembus membran kulit tikus pada
uji transpor secara in vitro

10

b. Menentukan bahwa lama aplikasi dan konsentrasi NaF pada plester dengan
enhancer yang ditempelkan pada punggung tikus mempengaruhi konsentrasi
fluorida dalam plasma darah (in vivo).
2. Tujuan sekunder untuk menentukan bahwa: .
a. Semakin lama uji transpor larutan NaF, makin meningkat bobot ion
fluorida dalam larutan CMF-PBS (in vitro).
b. Semakin lama uji transpor larutan NaF dengan enhancer, makin meningkat
bobot ion fluorida dalam larutan CMF-PBS (in vitro).
c. Penambahan enhancer pada larutan NaF berpengaruh terhadap bobot ion
fluorida pada uji transpor secara in vitro.
d. Semakin lama uji transpor dan semakin meningkat konsentrasi NaF pada
plester NaF dengan enhancer, makin meningkat bobot ion fluorida dalam
larutan CMF-PBS (in vitro).
e. Semakin tinggi konsentrasi NaF pada plester NaF dengan enhancer yang
diaplikasikan pada kulit tikus, semakin meningkat konsentrasi fluorida gigi
(in vivo).
f. Biokompatibilitas jaringan kulit setelah aplikasi plester NaF dengan
enhancer adalah baik.
E. Manfaat
Dengan dihasilkannya sediaan plester yang mengandung fluorida yang
relatif aman, praktis dan fluorida dapat terkirim ke pembuluh darah dan gigi,
maka dapat menjadi sediaan alternatif bagi upaya pencegahan gigi berlubang
pada anak-anak.

Anda mungkin juga menyukai