Anda di halaman 1dari 11

GIGI TIRUAN LEPASAN KERANGKA LOGAM RAHANG BAWAH

Program Studi Ilmu Prostodonsia


Kelompok Ilmu Kedokteran Gigi




Nama : Suriansyah Tenggara
NIM : 13/ 357063/ PKG/ 850

Pembimbing :
drg. Endang Wahyningtyas., M.S., Sp. Pros (K)





PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER GIGI SPESIALIS
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
BAB I
PENDAHULUAN


Disain gigi tiruan rangka logam diuraikan dalam buku-buku teks yang ada. Di
Indonesia gigi tiruan akrilik lebih banyak dibuat dibandingkan dengan gigi tiruan rangka
logam, sehingga belum terbiasa pada waktu membuat gigi tiruan rangka logam, disainnya
tidak memanfaatkan keunggulan bahan logam.
Pemakaian gigi tiruan mempunyai tujuan bukan hanya memperbaiki fungsi
pengunyahan, fonetik, dan estetik saja, tetapi juga harus dapat mempertahankan kesehatan
jaringan tersisa. Untuk tujuan terahir ini selain erat kaitannya dengan pemeliharaan
kebersihan mulut, juga bagaimana mengatur agar gaya-gaya yang terjadi masih bersifat
fungsional atau mengurangi besarnya gaya yang kemungkinan akan merusak.
Gigi tiruan berujung bebas (distal extension) mempunyai lebih banyak masalah
dibandingkan dengan gigi tiruan sebagian lepasan bersandaran ganda (all tooth supported).
Klasifikasi Kennedy yang berdasarkan topografi daerah tidak bergigi memasukkan daerah
tidak bergigi berujung bebas sebagai kelas yang pertama (Kelas-1). Hal ini menunjukkan
bahwa gigi tiruan berujung bebas lebih banyak mempunyai masalahmasalah yang
memerlukan penanganan istimewa. Masalah utama pada gigi tiruan ujung bebas ialah gigi
tiruan tidak stabil. Gigi tiruan yang tidak stabil dapat menyebabkan resopsi lingir alveolar
berjalan lebih cepat, atau ungkitannya dapat menimbulkan kelainan periodontal pada gigi
kodrat yang dipakai sebagai sandaran. Menurut Wyatt (1998) pemakaian gigi tiruan berujung
bebas selama 5 tahun sudah dapat menyebabkan masalah oklusi sebagai akibat
adanyaresorpsi lingir.
Makalah ini membahas disain untuk gigi tiruan berujung bebas. Hal ini karena pada
gigi-tiruan berujung bebas paling banyak masalah yang harus diperhatikan. Pemakaian gigi
tiruan harus tetap memperhatikan mempertahankan kesehatan jaringan tersisa disamping
fungsi mastikasi, estetik, dan fonetik.






BAB II
GIGI TIRUAN BERUJUNG BEBAS RANGKA LOGAM


Keuntungan pemakaian bahan logam baja tahan karat (stainless steel) sebagai rangka
gigi tiruan dibandingkan dengan bahan akrilik (metil metakrilat) adalah karena bahan logam
baja tahan karat lebih kuat sehingga dapat dibuat lebih tipis dan sempit tapi tetap bersifat
kaku. Kerugian yang ada secara umum masih dapat diatasi dengan beberapa cara.

2.1 Keuntungan Pemakaian Bahan Logam Baja Tahan Karat Sebagai Rangka (Frame)
Gigi Tiruan
a. Lebih nyaman dipakai (karena dapat dibuat tipis dan sempit)
b. Cukup kaku (rigid) walaupun tipis dan sempit
c. Semua bagian gigi tiruan merupakan satu kesatuan dan homogen
d. Disain bagian-bagian gigi tiruan dapat dibuat maksimal ideal
e. Gaya-gaya yang timbul akibat pengunyahan dapat disalurkan lebih baik
f. Ginggival sulcus lebih sehat (tidak tertutup/teriritasi landasan)
g. Menyalurkan panas lebih cepat

2.2 Kerugian Pemakaian Bahan Logam Baja Tahan Karat Sebagai Rangka (Frame)
Gigi Tiruan
a. Kurang estetik bila logam terlihat
b. Biaya pembuatan lebih tinggi

2.3 Masalah pada Gigi Tiruan Berujung Bebas
Masalah pada gigi tiruan berujung bebas adalah gigi tiruan tidak stabil, yaitu gigi
tiruan mudah bergeser dan mengungkit. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan
kompresibilitas dukungan (support) antara bagian posterior sadel ujung bebas dengan
bagian anteriornya, dan tidak adanya gigi kodrat di sebelah distal sadel (Keng, 1998).
Perbedaan ini menimbulkan masalah yaitu gigi tiruan berujung bebas selalu tidak
stabil. Gigi tiruan yang tidak stabil selanjutnya juga menimbulkan masalah terhadap
kesehatan jaringan tersisa. Adanya perbedaan kompresibilitas dukungan baik antara
mukosa dengan mukosa, maupun antara mukosa dengan jaringan periodontal gigi
sandaran (yang mempunyai sandaran oklusal), mengakibatkan pada saat gigi artifisial di
bagian sadel tersebut kena tekanan kunyah, sadel/ gigi tiruan akan bergerak
rotasi/mengungkit/tidak stabil. Berapa besar gerak ungkit yang terjadi tergantung pada
besar dan penyebaran tekanan kunyah yang terjadi, berapa besar perbedaan
kompresibilitas dukungan yang ada, serta jarak/panjang sadel.
Tidak adanya gigi penyangga di sebelah distal sadel yang dapat dipakai sebagai
sandaran/retainer juga menyebabkan bagian ujung distal sadel akan lebih bebas bergerak
dibandingkan dengan bagian ujung mesial sadel. Hal ini terjadi karena suatu retainer
pada gigi sandaran dapat berfungsi :
1. Memberi dukungan periodontal terhadap tekanan kunyah yang mengenai gigi tiruan.
Sehubungan dengan tidak ada gigi sandaran dengan jaringan periodontalnya yang
mendukung bagian posterior sadel, sedangkan bagian anterior sadel masih dapat
didukung jaringan periodontal dari gigi sandaran, menyebabkan terjadinya
perbedaan kompresibilitas jaringan pendukung sadel/landasan gigi tiruan, sehingga
pada saat pengunyahan bagian sadel akan mengungkit, dan selanjutnya keseluruhan
gigi tiruan juga akan mengungkit/tidak stabil. Kompresibilitas jaringan periodontal
lebih kecil dibandingkan dengan kompresibilitas jaringan mukosa.
2. Memberi retensi gerong dari gigi sandaran
Ujung tangan retentif yang ditempatkan di daerah gerong gigi sandaran akan
memberi retensi gigi tiruan. Hal ini akan dapat mencegah terangkatnya bagian
posterior sadel ujung bebas pada saat pengunyahan akibat jenis makanan yang
lengket.
3. Mencegah pergeseran sadel/gigi tiruan ke medio-lateral, maupun ke posterior
Tangan retentif yang berada di bagian bukal dan lingual/palatinal gigi sandaran akan
mencegah sadel/gigi tiruan bergeser baik ke arah lateral maupun ke arah medial.
Adanya gigi kodrat yang terletak sebelah distal sadel akan mencegah sadel bergeser
ke arah posterior.

2.4 Konektor Mayor Gigi Tiruan Sebagian Kerangka Logam Rahang Bawah
Konektor mayor adalah bagian gigi tiruan lepasan yang menghubungkan
komponen pada satu sisi dengan sisi lainnya pada satu rahang. Konektor mayor adalah
komponen utama yang membuat semua elemen terkait secara langsung maupun tidak
langsung.
Konektor mayor harus kaku, nyaman dengan struktur anatomi yang ada tanpa
mengganggu jaringan yang bergerak dan menghindari terjebaknya makanan. Kekakuan
memastikan tekanan yang ada pada satu bagian pada gigi tiruan secara efektif dibagi ke
semua area yang mendukung. Kekakuan juga membuat komponen lain, seperti lengan
retentif untuk lebih efektif.
Konektor mayor tidak boleh menekan mukosa bergerak atau gingiva ketika
pemasangan, pelepasan, atau berfungsi. Margin gingiva tidak boleh digunakan untuk
pendukung gigi tiruan sebagian. Konektor mayor harus sedekat mungkin dengan jaringan
pendukung yang ada. Tulang yang prominen harus dihilangkan untuk menghindari
gangguan pada lokasi dan desain konektor.
Relief pada tulang yang prominen harus dilakukan sebelum pembuatan kerangka
logam. Pengaturan kembali post insersi dapat mengakibatkan pengurangan metal yang
berlebihan dan melemahkan konektor. Banyaknya relief tergantung pada (1) lokasi dan
keparahan tulang yang prominen. (2) jenis jaringan lunak yang melapisi tulang yang
prominen (3) banyaknya dukungan yang disediakan penyangga (4) kualitas dukungan
yang disediakan residual ridge, dan (5) desain konektor mayor.
Konektor Mayor Rahang Bawah
1. Lingual Bar Connector
Lingual bar lebih disukai sebagai konektor mayor pada rahang bawah kecuali
pada pasien dengan dasar mulut yang tinggi, gigi anterior miring ke lingual yang
ekstrem, atau torus pada lingual yang tidak dapat dioperasi. Bila dibuat dengan baik,
lingual bar akan membuat kekakuan yang cukup tanpa mengganggu kontrol plak dan
kesehatan gingiva.
Pada penampang potongan menyilang, lingual bar berbetuk separuh pear dan
paling sedikit tingginya 4 mm. Batas superior harus 3-4 mm dibawah margin
gingiva. Pemilihan lingual bar sebagai konektor mayor membutuhkan jarak 7-8 mm
dari margin gingiva ke dasar mulut. Pengukuran intraoral harus dibuat dan direkam
untuk pembentukan desain akhir. Pasien diinstruksikan untuk menyentuhkan ujung
lidah ke palatum bagian anterior. Probe periodontal diltakkan pada gingiva, lingual
gigi mandibula anterior, dan pengukuran dibuat dari dasar mulut ke margin gingiva.
Pengukuran ini ditransfer pada studi model. Jika kurang dari 7 mm, konektor mayor
lingual plate dapat dipilih. Hal yang sangat penting adalah menentukan lokasi dasar
mulut. Setelah insersi pengurangan batas inferior metal bar akan sangan mengurangi
kekuatan dan kekakuan (batas inferior pada bar paling tebal dan membuat kekakuan
yang tinggi).
Banyaknya relief yang diperlukan didalam lingual bar tergantung kontur
mukosa lingual dan antisipasi gerak fungsional gigi tiruan. Bila ada gerak vertikal
otot lingual, relief minimal diperlukan. Jika ada undercut pada bagian lingual, bagian
ini perlu direlief. Relief ekstra diperlukan pada tulang yang prominen dan pada area
posterior sumbu rotasi pada perluasan distal gigi tiruan. Relief lebih sedikit biasanya
diperlukan pada gigi tiruan dukungan gigi.








2. Lingual Plate
Konektor linguoplate terdiri dari lingual bar dengan plat metal yang meluas
sampai ke bawah cingulum, tetapi tidak lebih tinggi dari 2/3 gigi. Batas superior harus
landai sehingga meluas ke kontak interproximal. Linguoplate diindikasikan pada
pasien dengan frenulum lingual dan dasar mulut yang tinggi (atau ketika efek yang
ditimbulkan resesi yang banyak atau bedah periodontal), adanya torus lingual, atau
ketika gigi anterior rahang bawah perlu diganti pada masa akan datang. Linguoplate
juga perlu untuk menyediakan rentesi tidak langsung ketika semua gigi posterior
hilang (sandaran harus ada paling tidak pada gigi caninus).
Linguoplate mempunyai kerugian menempel pada gigi dan gingiva, yang
dapat memperburuk oral hygene dan meningkatkan kemungkinan karies dan masalah
periodontal.
Permukaan proksimal gigi yang tumpang tindih harus dibentuk ulang untuk
menhindari undercut antar proksimal. Kegagalan pada hal ini akan menghasilkan
adaptasi yang buruk pada plat dan impaksi makanan antara gigi dan batas superior.
Jika plat meluas ke posterior sampai sandaran pada distal gigi tiruan, metal harus
tepaat pada garis survei. Hal ini akan membantu sandaran pada gerakan fungsional.
Jika berada dibawah garis survei, plat tidak akan kontak dengan gigi dan
menimbulkan area dengan impaksi makanan.










3. Double Lingual Bar
Double lingual bar terdiri dari lingual bar konvensional dan bar kedua yang
lebih sempit yang terletak pada bawah cingulum dan diatas kontak point. Double
lingual bar disarankan ketika retensi tidak langsung harus didapat dari gigi anterior
mandibula dan jarak interproksimal yang lebar karena penyakit periodontal.
Linguoplate akan menyediakan rentensi tidak lansung yang diperlukan tetapi secara
estetik kalah jika metal terlihat melalui jarak interproksimal. Meskipun double lingual
bar dapat menimbulkan hasil estetis yang lebih baik, tetapi juga punya potensi
membuat daerah dengan impaksi makanan dan mengiritasi lidah.
Bentuk dan penempatan inferior bar sama dengan konektor mayor lingual bar.
Batas atas harus bebas dari margin gingiva 3-4 mm. Kemudian double lingual bar
tidak dapat digunakan sebagai pengganti lingual bar konvensional ketika ada dasar
mulut yang tinggi. Bar superior harus ada rest yang dipreparasi paling tidak pada
caninus.


4. Labial Bar
Mayor konektor labial bar hanya dipilih ketika tidak ada konektor mayor yang
lain dapat dipakai. Indikasinya adalah ketika gigi yang tersisa inklinasi ke lingual yang
parah (sering berhubungan dengan defek kongenital atau trauma). Rekontoring,
perawatan ortodontik, atau restorasi dengan mahkota dapat mengkoreksi masalah ini,
tetapi ketika perawatan ini tidak mungkin, labial bar dapat digunakan.
Batas superior dari labial bar harus sedikitnya 3-4 mm dibawah margin gingiva.
Karena labial bar lebih panjang daripada lingual bar, akan sulit untuk menimbulkan
kekakuan yang sama.

















BAB III
KESIMPULAN


Penyebab masalah-masalah yang terjadi pada gigi tiruan berujung bebas adalah
adanya perbedaan kompresibilitas antara jaringan pendukung di bagian posterior sadel
ujung bebas dengan bagian dukungan di anteriornya. Keadaan tersebut, mengakibatkan
gigi tiruan berujung bebas tidak stabil. Dapat dipilih beberapa cara yang sesuai untuk
mengurangi ungkitan gigi tiruan berujung bebas Dapat dipilih beberapa cara yang sesuai
untuk mengurangi pergeseran ke posterior gigi tiruan berujung bebas.
























DAFTAR PUSTAKA


Boucher, L.J.; Renner, R.P. 1982.Treatment of Partially Edentulous Patients. The CV.Mosby
Co.. St.Louis. Toronto. London.

Gibb,C.H.; Mahan, P.E.; Lundeen, H.C.; Brechnan, K.; Walsh, E.K.; Halbrook, W.B. 1981.
Occlusal Forces During Chewing and Swallowing Measured by Sound Transmission.
J.Pros.Dent, 46(4). 443-9.

Giffin, K.M. 1996. Solving Distal Extension Removable Partial Denture Base Movement
Dilemma : A Clinical Report. J.Pros.Dent. 76(4). 347-9.

Henderson, D.; Steffel,V.L. 1973. McCrackens Partial Prosthodontics. 4th ed. The CV.Mosby
Co. St.Louis.

Keng, S.B. 1996. Acrilic Resin Labial Flange for Kennedy Class I Partial Denture : A
Clinical Report. J.Pros.Dent. 75(2) 114-6.

Lee, K. 1996. Double Impressi on Procedure for Removable Partial Denture Retained with
Semi Precission Attachment : A Clinical Report. J.of Pros.Dent. 75(6):583-7

Leupold, R.J. 1966. A Coparative Study of Impression Procedures for Distal Extension
Removable Partial Denture. J.Pros.Dent. 16(4) 708-20.

Machmud, M.; Ardan, R.; Lidan R. 1996. Studi Kasus Pola Distorsi Vertikal Jaringan Lunak
Puncak Lingir Alveolar Berujung Bebas Rahang Bawah. Bagian Prostodonsia FKG.
Univ.Padjadjaran. Bandung.

Margo, A. 1995. Dukungan Gigi Tiruan Sebagian Lepasan. Dalam Buku Ajar Ilmu Gigi
Tiruan Sebagian Lepasan Jilid I. Hipokrates, Jakarta. 134-50.

Navas, M.T.R.; del Campo, M.L.; 1993. A New Free End Removable Partial Denture Design.
J.Pros.Dent 70(2). 176-8.