Anda di halaman 1dari 2

ketenagalistrikan melingkupi 9 hal berikut [Pedoman Penyusunan Rencana Umum Kete

nagalistrikan. Keputusan Menteri. 2003]:


1) Perencanaan pemenuhan kebutuhan tenaga listrik diawali dengan proyeksi k
ebutuhan (demand) atau ramalan beban tenaga listrik untuk 15 (lima belas) tahun
ke depan di setiap sektor pemakai tenaga listrik, yaitu sektor industri, komersi
al (bisnis), rumah tangga, sosial dan umum (publik) serta pemerintahan. Rencana
pemenuhan kebutuhan tenaga listrik ini dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan ekon
omi daerah setempat, program elektrifikasi dan mempertimbangkan kemungkinan pema
nfaatan captive power kedalam sistem secara keseluruhan atau dari kelebihan supl
ai tenaga listrik yang tersedia. Ada berbagai model pendekatan untuk menyusun pr
oyeksi kebutuhan tenaga listrik yang tersedia antara lain pendekatan ekonometrik
, pendekatan proses, pendekatan time series, pendekatan end use, pendekatan tren
d maupun gabungan dari berbagai model pendekatan perencanaan.
2) Perencanaan pengembangan pembangkitan (generation expansion planning) di
susun berdasarkan asas optimasi atau biaya terendah (least total cost ownership)
dengan memperhatikan ketersediaan sumber energi primer setempat, sifat ragam be
ban, beban puncak, teknologi/jenis pembangkitan, dan faktor eksternal lain yang
perlu diperhatikan, seperti dampak lingkungan hidup dan dampak sosial. Metode op
timasi biaya penyediaan tenaga listrik dan pemilihan teknologi pembangkit harus
memperhatikan ketersediaan energi primer, biaya tetap dan biaya variable. Ada be
rbagai perangkat lunak yang dapat dipergunakan untuk proses optimasi penyediaan
tenaga listrik antara lain piranti lunak Wien Automatic Sistem Planning (WASP).
Piranti WASP ini dapat menghasilkan keluaran (output ) berupa jenis dan kebutuha
n kapasitas pembangkit serta waktu operasi yang paling optimal untuk memenuhi ke
butuhan tenaga listrik.
3) Tingkat kehandalan dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik dengan adanya
cadangan tenaga listrik yang memadai. Hal ini akan menjadi pertimbangan sebagai
kriteria dalam perencanaan ketenagalistrikan. Tingkat cadangan atau kehandalan
ini juga memperhatikan penalti ekonomi yang akan diterima masyarakat apabila ter
jadi pemadaman. Selain itu hendaknya mempertimbangkan faktor kebijakan setempat
yang akan mempengaruhi biaya penyediaan dan tarif tenaga listrik.
4) Mengedepankan ketersediaan energi primer, terutama dari sumber energi ba
ru dan terbarukan. Selain itu juga mempertimbangkan alternatif pilihan teknologi
dan jenis pembangkitan agar dapat tercapai hasil yang optimal pada pemanfaatan
potensi, efisiensi, keekonomian, dan dampak yang tidak merugikan terhadap lingku
ngan sehingga terjamin keberlanjutannya hingga kurun waktu yang dikehendaki.
5) Pemanfaatan sumber energi setempat dan prioritas pemilihan aneka ragam e
nergi yang tersedia dengan urutan prioritas energi terbarukan, bahan bakar gas,
batubara, dan bahan bakar minyak.
6) Perencanaan penyediaan tenaga listrik hendaknya diintegrasikan dengan pe
rencanaan pemanfaatan energi pada sisi pemakaian tenaga listrik, sehingga progra
m-program Demand Side Management, antara lain program pemanfaatan tenaga listrik
untuk tujuan yang produktif dan program hemat energi lainnya merupakan bagian y
ang integral dari proses perencanaan ketenagalistrikan secara keseluruhan.
7) Perencanaan pengembangan sistem transmisi dan distribusi hendaknya dilak
ukan selaras dengan keseimbangan antara kebutuhan dan kapasitas, berdasar pada k
riteria perencanaan yang digunakan.
8) Setelah dibuat proyeksi kebutuhan tenaga listrik suatu sistem tertentu,
disusun prakiraan beban gardu induk yang memberi informasi pertumbuhan kebutuhan
beban sesuai lokasi geografis gardu induk, dapat berupa penambahan kapasitas tr
afo atau pembuatan gardu induk baru, berikut kebutuhan fasilitas jaringan transm
isi dan distribusinya.
9) Bersama dengan pengembangan transmisi, dilakukan juga perencanaan distri
busi. Metode yang dapat digunakan adalah menggunakan faktor elastisitas antara p
anjang Jaringan Tegangan Menengah (JTM) dan Jaringan Tegangan Rendah (JTR) denga
n penjualan energi listrik, dan elastisitas antara penambahan pelanggan dengan t
rafo distribusi