Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Farmakognosi adalah ilmu yang mempelajari pengetahuan dan
pengenalan obat yang berasal dari tanaman dan zat-zat aktif lainnya,
termasuk yang berasal dari dunia mineral dan hewan. Saat ini, peranan
ilmu farmakognosi sangat banyak diperlukan terutama dalam sintesis
obat.
Tidak semua tanaman dapat dijadikan sebagai bahan obat.
Tanaman-tanaman yang dijadikan obat tentu saja adalah tanaman yang
memiliki kandungan atau zat-zat yang dapat bermanfaat bagi kesehatan
dan kesembuhan tubuh.
Salah satu zat aktif yang banyak ditemukan di alam dan juga di
tumbuhan adalah glikosida. Glikosida adalah zat aktif yang termasuk
dalam kelompok metabolit sekunder. Secara umum, arti penting glikosida
bagi manusia adalah untuk sarana pengobatan dalam arti luas yang
beberapa diantaranya adalah sebagai obat jantung, pencahar, pengiritasi
lokal, analgetikum dan penurunan tegangan permukaan.
B. RUMUSAN MASALAH
Berikut rumusan masalah dari penulisan makalah ini :
1. Apa yang dimaksud dengan glikosida?
2. Bagaimana sifat dan pembagian glikosida?
3. Bagaimana biosintesis glikosida ?
4. Apa saja contoh simplisia yang mengandung glikosida antrakoinon,
glikosida sianogenik dan glikosinolat ?
C. TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan glikosida.
2. Untuk mengetahui sifat dan pembagian glikosida.
3. Untuk mengetahui biosintesis glikosida.
4. Untuk mengetahui contoh simplisia yang mengandung glikosida
antrakoinon, glikosida sianogenik dan glikosinolat.




















BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI GLIKOSIDA
Glikosida merupakan senyawa yang terdiri atas dua bagian
senyawa, yaitu senyawa gula (glikon) dan senyawa bukan gula
(aglikon/genin). Kedua senyawa ini dihubungkan oleh sebuah ikatan yang
berupa jembatan oksigen-glikosida (diocsin), jembatan nitrogen-glikosida
(adenosine), jembatan sulfur glikosida (sinigrin), maupun jembatan
karbon-glikosida (barbaloin).
Glikosida berbentuk kristal atau amorf. Umumnya mudah larut
dalam air atau etanol encer (kecuali pada glikosida resin). Oleh karena
itu, banyak sediaan-sediaan farmasi mengandung glikosida umumnya
diberikan dalam bentuk ekstrak, eliksir ataupun tingtur dengan kadar
etanol yang rendah.
STRUKTUR GLIKOSIDA
O
Aglikon dari glikosida terdiri dari banyak jenis senyawa kimiawi.
Senyawa-senyawa kimiawi tersebut meliputi senyawa-senyawa alkoholik
fenolik, isotiosianat, nitril sianogenetik, turunan antrasen, flavonoid dan
fenolik, flavonoid dan steroid. Bagian aglikon atau genin terdiri dari
berbagai macam senyawa organik, seperti triterpena, steroid, antrasena,
GLIKON AGLIKON
maupun senyawa-senyawa yang mengandung gugus fenol, alkohol,
aldehid, keton dan ester.
Jembatan glikosida yang menghubungkan glikon dan aglikon ini
sangat mudah terurai oleh pengaruh asam, basa, enzim, air, dan panas.
Bila kadar asam atau basa semakin pekat, ataupun bila semakin panas
lingkungannya, maka glikosida akan semakin cepat terhidrolisis. Pada
saat glikosida terhidrolisis maka molekul akan pecah menjadi dua bagian
yaitu glikon dan aglikon. Dalam bentuk glikosida, senyawa ini larut dalam
pelarut polar seperti air. Namun, bila sudah terurai maka aglikonnya tidak
larut dalam air melainkan larut dalam pelarut organik nonpolar. Fungsi
glikosida, Secara umum arti penting glikosida bagi manusia adalah untuk
sarana pengobatan dalam arti luas yang beberapa diantaranya adalah
sebagai obat jantung, pencahar, pengiritasi lokal, analgetikum dan
penurunan tegangan permukaan. Fungsi glikosida :
Fungsi glikosida sebagai cadangan gula temporer
Proses pembentukan glikosida merupakan proses detoksikasi
Glikosida sebagai pengatur tekanan turgor
Proses glikosidasi untuk menjaga diri terhadap pengaruh luar
yang mengganggu
Glikosida sebagai petunjuk sistematik Penggunaan glikosida
dimana beberapa diantara glikosida merupakan obat yang sangat
penting, misalnya yang berkhasiat kardiotonik, yaitu glikosida dari
Digitalis, Strophanthus, Colchicum, Conyallaria, Apocynum dan
sebagainya yang berkhasiat laksatifa atau pencahar seperti
Senna, Aloe, Rheum, Cascara Sagrada dan Frangula yang
mengandung glikosida turunan antrakinon emodin.
Selanjutnya sinigrin, suatu glikosida dari Sinapis nigra,
mengandung alilisotiosianat suatu iritansia lokal. Gaulterin adalah
glikosida dari gaulteria yang dapat menghasilkan metal salisilat
sebagai analgesik.
Beberapa Hipotesa dan Teori Tentang Adanya Glikosida dalam
Tanaman:
1. Fungsi glikosida sebagai cadangan gula temporer.
Teori Pfeffer mengatakan bahwa glikosida adalah meruapakan
cadangan gula temporer (cadangan gula sementara) bagi tanaman.
Cadangan gula di dalam bentuk ikatan glikosides ini tidak dapat
diangkut dari sel satu ke sel yang lain, oleh karena adanya bagian
aglikon.
2. Proses pembentukan glikosida merupakan proses detoksikasi.
Pada tahun 1915, Geris mengatakan bahwa proses sintesa senyawa
glokosida adalah merupakan proses detoksikasi, sedang anglikonnya
merupakan sisa metabolisme.
3. Glokosida sebagai pengatur tekanan turgor. Teori Wasicky
mengatakan bahwa setelah diadakan percobaan-percobaan pada
tanaman digitalis, ternyata bahwa glikosida mempunyai fungsi
sebagai pengatur tekanan turgor di dalam sel.
4. Proses glikosida untuk menjaga diri terhadap pengaruh luar yang
menggangu. Teori ini menyatakan bahwa proses glikosidasi di dalam
tanaman dimaksudkan untuk menjaga diri terhadap serangan
serangga atau binatang lain dan untuk mencegah timbulnya penyakit
pada tanaman.
5. Glikosida sebagai petunjuk sistimatik. Adanya glikosida didalam
tanaman, meskipun masih sangat tersebar, dapat digunakan sebagai
salah satu cara mengenal tanaman secara sistimatik, baik dari
aglikonnya, bagian gulanya maupun dari glikosidanya sendiri. Sebab
ada beberapa glikosida, aglikon atau gula yang hanya terdapat di
dalam tanaman atau familia tertentu.
6. Menurut hasil penelitian Fuch dan kawan-kawan (1952), ternyata
bahwa didalam waktu 24 jam tidak terdapat perubahan yang berarti
pada kadar glikosida baik ditinjau dari sudut biologi maupun secara
kimiawi. Juga pada tanaman yang ditempatkan pada tempat yang
gelap selama 24 jam, tidak ada perubahan kadar glikosida.

Kegunaan Glikosida, dalam kehidupan tanaman, glikosida memiliki
peran penting karena terlibat dalam fungsi-fungsi pengaturan,
pengaturan, pertahanan diri, dan kesehatan. Glikosida sendiri pada
tanaman terdapat pada daun, biji, kulit, batang, akar, rhizome, bunga dan
buah. Oleh karena terbentuknya dalam tanaman dan merupakan produk
antara maka kadar glikosida sangat tergantung pada aktivitas tanaman
melakukan kegiatan biosintesis. Akan tetapi, kadang-kadang glikosida
juga bisa merugikan manusia, misalnya dengan mengeluarkan gas
beracun HCN pada glikosida sianogenik. Secara umum, arti penting
glikosida bagi manusia adalah sebagai obat jantung, pencahar,
pengiritasi lokal, analgetikum, antiseptik, antirheumatik, dan
antikarsinogenik.
Pada tumbuhan diduga mempunyai kegunaan sebagai berikut.
1. Pelindung terhadap infeksi atau hama penyakit.
2. Cadangan makanan (bila dihidrolisa akan menjadi gula)
misalnya pada perkecambahan biji (glikosida dihidrolisa menjadi
gula dan energi)
3. Mencegah persaingan dari tanaman lain, misalnya Quercus
Pada manusia sebagai berikut :
A. Di bidang Farmasi
1. Bahan obat
a. Obat jantung
b. Digitalis (Digitalis folium)
c. Strophantus (semen)
d. Convalaria, dll
Pencahar
a. Senna
b. Aloe
c. Cascara sagrada
2. Sebagai precursor atau pembawa hormone steroid
B. Sebagai bahan makanan
Contoh: berbagai jenis bahan pangan nabati diketahui
sarat antioksidan. Kuersetin, salah satu antioksidan dari
kelompok flavonoid. Sementara itu, diperkirakan hampir 90
persen flavonoid terdapat sebagai glikosida (mengandung
glukosa pada rantai sampingnya) dan 10 persen sebagai
aglikon (tanpa glukosa pada rantai sampingnya).
C. Sebagai sayuran
o Terong
o Pare
o Daun Puding, dll
Cara memperoleh glikosida, Prinsip : glikosida tidak stabil, mudah
terurai terutama dengan air panas sehingga :
1. Enzim dalam simplek harus diinaktivasi dulu dengan cara pemanasan
> 60o C untuk zat termolabil dan 80oC untuk zat yang termostabil.
2. Ekstraksi dengan pelarut yang sesuai, ekstraksi dengan air/ etanol
encer/ methanol
Berikut ini langkah-langkah memperoleh glikosida :
1. Bahan kering dipanaskan dengan suhu >60oC untuk inaktivasi
enzim
2. Hasil pemanasan yang berupa serbuk dibebaskan lemaknya
dengan menambahkan eter/CHCl3/benzene lalu disaring
3. Hasilnya berupa ampas dan filtrate yang mengandung lemak
4. Hasil yang berupa ampas dikeringkan lalu diekstraksi dalam
percolator dengan pelarut etanol 80% atau eter sampai pelarut
tidak berwarna.
5. Hasilnya berupa ampas dan perkalot
6. Hasil yang berupa perkalot dipekatkan dengan menambahkan
Pb Asetat untuk mengendapkan zat organic kecuali glikosida,
setelah disaring
7. Hasilnya berupa endapan dan filtrate dengan Pb Asetat
berlebih
8. Hasil yang berupa filtrate dengan Pb Asetat berlebih
ditambahkan H2S lalu disaring
9. Hasilnya berupa PbS dan filtrate
10. Hasil yang berupa filtrate diuapkan lalu dihasilkan glikosida
B. SIFAT DAN PEMBAGIAN GLIKOSIDA
1. Sifat Glikosida
Karena glikosida mempunyai ikatan dengan gula, maka :
Mudah larut dalam air, yang bersifat netral
Dalam keadaan murni; berbentuk kristal tak berwarna, pahit
Larut dalam alkali encer
Mudah terurai dalam keadaan lembab, dan lingkungan asam
Glikosida gula + non gula
Tidak dapat mereduksi larutan Fehling, tapi setelah dihidrolisa gula
dapat mereduksi larutan Fehling
Dapat dihidrolisa dengan adanya enzim dan air dan asam.
2. Pembagian Glikosida
Klasifikasi banyak dilakukan, sebagaian berdasarkan atas gulanya,
sebagian atas aglikonnya, dan yang lainnya berdasarkan aktifitas
farmakologinya.
a. Pembagian berdasarkan Fergusin :
1. Glikosida sterol (gikosida jantung)
2. Saponin
3. Glikosida antrakinon
4. Glikosida resin
5. Tanin
6. Aneka glikosida (zat aroma, tonika, zat pahit, dan zat warna)
b. Pembagian menurut Gathercoal :
1. Golongan fenol (arbutin, hesperidin, dan lain-lain)
2. Golongan alkohol (salicin, populin, dan lain-lain)
3. Golongan aldehid (salinigrin, amigdalin, dan lain- lain)
4. Golongan glikosida asam (jalapa, gaulterin, dan lain- lain)
5. Golongan antrakinon (rheum, senna, dan lain- lain)
6. Golongan sianophora (glikosida sianogenetik, prunasin,
sambunigrin, dan lain-lain).
7. Golongan tiosianat (sinigrin, sinalbin, dan lain- lain)
8. Saponin (senega, sarsaparilla, dan lain-lain)
9. Glikosida jantung (digitoksin, antropantin, dan lain- lain)
c. Pembagian menurut Claus
Golongan kardioaktif
Golongan Antrakinon
Golongan Saponin
Golongan Sanopora
Golongan Isotiosianat
Golongan Flavonol
Golongan Alkohol
Golongan Aldehid
Golongan Fenol
Golongan lain, termasuk diantaranya zat netral
d. Pembagian Lainnya
1. Glikosida Fenol
Golongan fenol (arbutin)
Golongan Lakton (kumarin)
Golongan Antrakinon (emodin)
Golongan dengan kerangka C6-C3-C6 (flavonoid).
2. Glikosida Alkohol
Alkohol steroid (digitoksin)
Saponin steroid
Alkohol terpen dan Alkohol triterpen
3. Glikosida Sianhidrin (glikosida pada resaceae dan Linanceae)
4. Glikosida Mustard Oil (sinalbin, sinigrin).
Glikosida sering diberi nama sesuai bagian gula yang menempel
didalamnya dengan menambahkan kata oksida. Sebagai contoh,
glikosida yang mengandung glukosa disebut glukosida, yang
mengandung arabinosa disebut arabinosida, yang mengandung
galakturonat disebut galakturonosida, dan seterusnya.
Gula yang sering menempel pada glikosida adalah -D-glukosa.
Meskipun demikian ada juga beberapa gula jenis lain yang dijumpai
menempel pada glikosida misalnya ramnosa, digitoksosa dan simarosa.
Bagian aglikon atau genin terdiri dari berbagai macam senyawa organik,
misalnya triterpena, steroid, antrasena, ataupun senyawa-senyawa yang
mengandung gugus fenol, alkohol, aldehid, keton dan ester.
Secara kimiawi, glikosida adalah senyawa asetal dengan satu
gugus hidroksi dari gula yang mengalami kondensasi dengan gugus
hidroksi dari komponen bukan gula. Sementara gugus hidroksi yang
kedua mengalami kondensasi di dalam molekul gula itu sendiri
membentuk lingkaran oksida. Oleh karena itu gula terdapat dalam dua
konformasi, yaitu bentuk alfa dan bentuk beta maka bentuk glikosidanya
secara teoritis juga memiliki bentuk alfa dan bentuk beta. Namun dalam
tanaman ternyata hanya glikosida bentuk beta saja yang terkandung
didalamnya. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa emulsion dan enzim
alami lain hanya mampu menghidrolisis glikosida yang ada pada bentuk
beta.
GLIKOSIDA SAPONIN
Glikosida saponin adalah glikosida yang aglikonnya berupa
sapogenin. Glikosida saponin bisa berupa saponin steroid maupun
saponin triterpenoid. Saponin adalah segolongan senyawa glikosida
yang mempunyai struktur steroid dan mempunyai sifat-sifat khas dapat
membentuk larutan koloidal dalam air dan membui bila dikocok.
Saponin merupakan senyawa berasa pahit menusuk dan
menyebabkan bersin dan sering mengakibatkan iritasi terhadap
selaput lendir. Saponin juga bersifat bisa menghancurkan butir darah
merah lewat reaksi hemolisis, bersifat racun bagi hewan berdarah
dingin, dan banyak diantaranya digunakan sebagai racun ikan.
Saponin bila terhidrolisis akan menghasilkan aglikon yang disebut
sapogenin. Ini merupakan suatu senyawa yang mudah dikristalkan
lewat asetilasi sehingga dapat dimurnikan dan dipelajari lebih lanjut.
Saponin yang berpotensi keras atau beracun seringkali disebut
sebagai sapotoksin. Menurut SOBOTKA :
1. Saponin merupakan turunan dari hidrokarbon yang jenuh dari
siklopentano perhidrofenantren
2. Juga dapat merupakan turunan yang tak jenuh dari siklopentano
perhidrofenantren.
Glikosida antrakinon,
Golongan glikosida ini aglikonnya adalah sekerabat dengan
antrasena yang memiliki gugus karbonil pada kedua atom C yang
berseberangan (atom C9 dan C10) atau hanya C9 (antron) dan C9 ada
gugus hidroksil (antranol). Adapun strukturnya adalah sebagai berikut.



Senyawa yang pertama ditemukan adalah sena dari tipe
antrakuinon, baik dalam keadaan bebas maupun sebagai glikosida.
Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa produk alam juga
mengandung turunan antrakuinon yang tereduksi, misalnya oksantron,
antranol, dan antron. Termasuk juga produk lain seperti senyawa yang
terbentuk dari dua molekul antron, yaitu diantron. Senyawa-senyawa
ini dapat dalam keadaan bebas (tidak terikat dengan senyawa gula
dalam bentuk glikosida) dapat pula dalam bentuk glikosida dimana
turunan antrakinon tersebut berfungsi sebagai aglikon.
GLIKOSIDA SIONAGENIK
Glikosida sianogenik adalah senyawa hidrokarbon yang terikat
dengan gugus CN dan gula. Beberapa tanaman tingkat tinggi dapat
melakukan sianogenesis, yakni membentuk glikosida sianogenik
sebagai hasil sampingan reaksi biokimia dalam tanaman .Rumus
bangun glikosida sianogenik secara umum dapat dilihat pada gambar.
Keberadaan glikosida sianogenik pada tanaman memiliki fungsi
penting terhadap kelangsungan hidup tanaman tersebut. Glikosida
sianogenik berperan sebagai sarana protektif terhadap gangguan
predator terutama herbivora. Adanya kerusakan jaringan pada
tanaman akibat hewan pemakan tumbuhan akan menyebabkan
pelepasan HCN yang mengganggu kelangsungan hewan tersebut.
Pada Trifolium repens, keberadaan glikosida sianogenik berfungsi
untuk melindungi kecambah yang masih muda agar tidak dimakan
siput dan keong.
GLUKOSINOLAT
Glukosinolat merupakan metabolit sekunder yang dibentuk dari
beberapa asam amino dan terdapat secara umum pada Cruciferae
(Brassicaceae). Glukosinolat dikelompokkan menjadi setidaknya 3
kelompok, yakni: (1). glukosinolat alifatik (contoh: sinigrin), terbentuk
dari asam amino alifatik (biasanya metionin), (2) glukosinolat aromatik
(contoh: sinalbin), terbentuk dariasam amino aromatik (fenilalanin atau
tirosin) dan (3) glukosinolat indol, yang terbentuk dari asam amino
indol (triptofan). Keragaman jenis glukosinolat tergantung pada
modifikasi ikatannya dengan gugus lain melalui hidroksilasi, metilasi
dan desaturasi. Hidrolilis dari glukosinolat terjadi karena adanya enzim
mirosinase, sehingga menghasilkan beberapa senyawa beracun
seperti isotiosianat, tiosianat, nitril, dan epitionitril. Senyawa-senyawa
tersebut merupakan racun bagi serangga yang bukan spesialis
pemakan tumbuhan Cruciferae, dan merupakan zat penolak makan
bagi ulat kilan, Trichoplusia ni.
GLIKOSIDA SIANOPORA
Glikosida sianopora adalah glikosida yang pada ketika
dihidrolisis akan terurai menjadi bagian-bagiannya dan menghasilkan
asam sianida (HCN).
GLIKOSIDA ISOTIOSIANAT
Banyak biji dari beberapa tanaman keluarga Crucifera
mengandung glikosida yang aglikonnya adalah isotiosianat. Aglikon ini
merupakan turunan alifatik atau aromatik. Senyawa-senyawa yang
penting secara farmasi dari glikosida ini adalah sinigrin (Brassica nigra
= black mustard), sinalbin (Sinapis alba = white mustard) dan
glukonapin (rape seed).
GLIKOSIDA FLAVONOL
Glikosida flavonol dan aglikon biasanya dinamakan flavonoid.
Glikosida ini merupakan senyawa yang sangat luas penyebarannya di
dalam tanaman. Di alam dikenal adanya sejumlah besar flavonoid
yang berbeda-beda dan merupakan pigmen kuning yang tersebar luas
diseluruh tanaman tingkat tinggi. Rutin, kuersitrin, ataupun sitrus
bioflavonoid (termasuk hesperidin, hesperetin, diosmin dan naringenin)
merupakan kandungan flavonoid yang paling dikenal.
GLIKOSIDA ALKOHOL
Glikosida alkohol ditunjukkan oleh aglikonnya yang selalu
memiliki gugus hidroksi. Senyawa yang termasuk glikosida alcohol
adalah salisin. Salisin adalah glikosida yang diperoleh dari beberapa
spesies Salix dan Populus.


GLIKOSIDA ALDEHIDA
Salinigrin yang terkandung dalam Salix discolor terdiri dari
glukosa yang diikat oleh m-hidroksibenzaldehida sehingga merupakan
glikosida yang aglikonnya suatu aldehida.
GLIKOSIDA LAKTON
Meskipun kumarin tersebar luas dalam tanaman, tetapi glikosida yang
mengandung kumarin (glikosida lakton) sangat jarang ditemukan.
Beberapa glikosida dari turunan hidroksi kumarin ditemukan dalam
bahan tanaman seperti skimin dan Star anise Jepang, aeskulin dalam
korteks horse chestnut, daphin dalam mezereum, fraksin dan limettin.
GLIKOSIDA FENOL
Beberapa aglikon dari glikosida alami mempunyai kandungan
bercirikan senyawa fenol. Arbutin yang terkandung dalam uva ursi dan
tanaman Ericaceae lain menghasilkan hidrokuinon sebagai aglikonnya.
Hesperidin dalam buah jeruk juga dapat digolongkan sebagai glikosida
fenol. Uva ursi adalah daun kering dari Arctostaphylos uva ursi (Famili
Ericaceae). Tanaman ini merupakan semak yang selalu hijau
merupakan tanaman asli dari Eropa, Asia, Amerika Serikat dan
Kanada.
Metilglikosida yang dihasilkan dari reaksi glukosa dengan metal
alcohol disebut juga metilglukosida. Ada dua senyawa yang terbentuk dari
reaksi ini, yaitu metilDglukosida atau metil--D-glukopiranosida dan
metil--D-glukosida atau metil--D-glukopiranosida. Kedua senyawa ini
berbeda dalam hal rotasi optic, kelarutan serta sifat fisika lainnya. Dengan
hidrolisis, metil glikosida dapat diubah menjadi karbohidrat dan
metilalkohol. Glikosida banyak terdapat dalam alam, yaitu pada tumbuhan.
Bagian yang bukan karbohidrat dalam glikosida ini dapat berupa
metilalkohol, gliserol atau lebih kompleks lagi misalnya sterol. Di samping
itu antara sesama monosakarida dapat terjadi ikatan glikosida, misalnya
pada molekul sukrosa terjadi ikatan -glukosida--fruktosida
C. BIOSINTESIS GLIKOSIDA
Jalan reaksi utama dari pembentukan glikosida meliputi
pemindahan (transfer) gugusan uridilil dari uridin trifosfat (UTP) ke suatu
gula-l-fosfat. Enzim-enzim yang bertindak sebagai katalisator pada reaksi
ini adalah uridilil transferase dan telah dapat diisolasi dari binatang,
tanaman dan mikroba. Sedang gula fosfatnya dapat pentosa, heksosa
dan turunan gula lainnya. Pada tingkat reaksi berikutnya enzim yang
digunakan adalah glikolisis transferase, dimana terjadi pemindahan
(transfer) gula dari uridin difosfat kepada akseptor tertentu (aglikon) dan
membentuk glikosida
a. U T P + Gula-l-fosfat UDP gula + PP1
b. UDP Gula + akseptor Akseptor gula + UDP (glikosida)
Apabila glikosida telah terbentuk, maka suatu enzim lain akan
bekerja untuk memindahkan gula lain kepada bagian monosakarida
sehingga terbentuk bagian disakarida. Enzim serupa terdapat pula dalam
tanaman yang mengandung glikosida lainnya yang dapat membentuk
bagian di-, tri- dan tetrasakarida dari glikosidanya dengan reaksi yang
sama.
D. CONTOH SIMPLISIA
a) Glikosida antrakoinon
Contoh simplisia yang mengandung glikosida antrakoinon
Simplisia yang mengandung glikosida ini antara lain Rhamni
purshianae Cortex, Rhamni Frangulae Cortex, Aloe, Rhei Radix, dan
Sennae Folium. Kecuali itu Chrysa robin dan Cochineal (Coccus cacti)
juga mengandung turunan antrakinon, akan tetapi tidak digunakan
sebagai obat pencahar karena daya iritasinya terlalu keras
(Chrysarobin) sehingga hanya digunakan sebagai obat luar atau hanya
digunakan sebagai zat warna (Cochineal, Coccus Cacti).Tumbuhan
yang mengandung glikosida golongan. ini antara lain sebagai berikut:
1. Simplisia penghasil antrakinon
a. Daun sena, Senna leaf (Sennae Folium)
Asal tumbuhan: Cassia acutifolia DeliIe (Alexandria senna) dan
Cassia angustifolia Vahl. (Tinnevelly senna) (Suku
Leguminosae)
Tempat tumbuh: Untuk C. acutifolia tumbuh liar di lembah
sungai Nil (dari Aswan sampai Kordofan), sedangkan C.
angustifolia tumbuh liar di Somalia, Jazirah Arab, dan India. Di
India Selatan (Tinnevelly) tanaman ini dibudidayakan. Juga
ditanam di Jammu dan Pakistan Barat Laut. Di India tanaman
ini dibudidayakan dengan pengairan.
Kualitas: Daun yang bewarna hijau kebiruan adalah yang
terbaik, sedangkan yang bewarna kuning adalah yang terjelek.
Kandungan kimia: Kandungan aktif utama adalah merupakan
glikosida dimer yang aglikonnya terdiri dari aloe-emodin dan
latau rein. Kadar yang paling besar adalah senosida A dan
senosida B, merupakan sepasang isomer yang aglikonnya
adalah rein-diantron (senidin A dan senidin B). Kandungan lain
yang lebih kecil kadarnya adalah senosida C dan D. Polong
sena (Sennae Fructus, Senna pods) juga mengandung
glikosida aktif, glikosidanya memiliki 10 gugus gula yang
melekat pada inti rein-diantron.
Simplisia serupa yang disebut Bombay, Mecca, dan Arabian
Sennae didapatkan dari tumbuhan liar Cassia angustifolia
yang tumbuh di Arab. Daunnya mirip dengan sena namun
lebih panjang dan lebih sempit. Di Perancis digunakan dog
sennae dan tumbuhan Cassia obovata yang tumbuh di Mesir.
Penggunaan: Sebagai katartika dengan takaran 2 g sekali
pakai. Sering dikombinasi dengan bahan gom hidrokoloid.
Juga digunakan dalam teh pelangsing.
Produk: HerbalaxR
b. Rhamni purshianae Cortex (Cascara bark)
Asal tumbuhan: Kulit kayu dari Rhamnus purshianus DC atau
Frangula purshiana (DC)
Pengumpulan dan penyimpanan. Simplisia adalah kulit kayu
dikumpulkan dari tumbuhan liar pada bulan pertengahan April
sampai akhir Agustus. Kulit diambil memanjang 5-10 cm,
dikeringkan diketeduhan, dihindarkan dari lembab dan hujan,
karena kulit dapat berkapang. Kemudian disimpan paling lebih
dari satu tahun. Dahulu diekspor dalam bentuk simpleks,
namun sekarang dalam bentuk ekstrak.
Identifikasi. Makroskopik dan mikroskopik
Kandungan kimia (Constituents). Kaskara mengandung
senyawa gol. antrakinon 6- 9%, dalam bentuk O-glikosida dan
C-glikosida. Ada empat glikosida primer, yaitu kaskarosida,
yaitu kaskarosida A, B, C, dan D yang berbentuk 0- maupun C
glikosida. Senyawa lainnya a.I. barbaloin dan krisaloin.
Turunan emodin oksantron, yaitu aloe emodin dan krisofanol
baik dalam bentuk bebas maupun glikosida. Juga berbagai
turunan (derivates) diantron lainnya, yaitu palmidin A, B, dan
C.
Simplisia pengganti dari tumbuhan Rhamnus cathartica dan R.
carniolica.
c. Cassia pods (Buah trengguli)
Asal tanaman. Buah yang dikeringkan dari Cassia fistula (suku
Leguminosae). Tumbuhan ini ditanam di Hindia Barat
(Dominika dan Martinique) dan Indonesia.
Bentuk dalam perdagangan. Bubur daging buah dibuat dengan
perkolasi dengan air, diuapkan akan terbentuk bubur.
Kandungan kimia. Bubur kasia mengandung gula 50%, zat
warna, dan minyak atsiri. Bubur ini mengandung rein dan
senyawa mirip senidin. Daun tanaman ini mengandung rein
bebas atau terikat, senidin, senosida A, dan B. Empulur
mengandung barbaloin dan rein, serta Ieukoantosianidin.
Kegunaan. Menurut pengobatan Ayurveda bubur kasia bersifat
antifungi, antibakteri, dan pencahar (laxatives), juga sebagai
antitussive.
d. Rhei Radix (Rhubarb, Chinese Rhubarb)
Asal tanaman. Bagian dalam tanah yang dikeringkan dan
Rheum palmatum L. (suku Polygonaceae) R. officinale atau
hibrida dari dua jenis tanaman ini.
Pengumpulan dan persiapan. Dahulu diperkirakan akar
ditumbuhkan atau ditanam didataran tinggi (lebih dari 3000 m)
dan digali pada musim gugur atau musim semi saat berumur
6-10 tahun. Didekortisasi dan dikeringkan. Akar yang telah
didekortisasi adalah jika seluruh permukaannya disilinderkan
(melingkar) atau jika dipotong secara longitudinal di bagian
planokonvex (datar). Bagian yang digunakan sering
memperlihatkan lubang yang mengindikasikan bahwa akar itu
telah disiapkan untuk dikeringkan.
Obat ini diekspor dari Shanghai ke Tientsin, seringkali melewati
Hong Kong. Kualitas yang lebih bagus dibungkus dalam kotak
kayu kecil yang berisi 280 lb atau 50 kg, dan kualitas yang
lebih jelek dalam tas.
Identifikasi. ldentifikasi secara makroskopi, mikroskopi, dan
kimiawi tercantum dalam Trease & Evans Pharmacognosy
(2002)
Kandungan kimia. Antrakinon bebas sebagai krisofanol, aloe-
emodin, rhein, emodin, dan emodin mono-etileter (physcion).
Senyawa tersebut juga terdapat dalam bentuk glikosida.
Lidah Buaya ( Aloe)
Dalam sistem tata binomial, klasifikasi lidah buaya dijabarkan
sebagai berikut :
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan dengan pembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan bebijian)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan dengan bunga)
Kelas: Liliopsida yakni tumbuhan berkeping satu atau monokotil.
Ordo: Asparagales
Famili: Asphodelaceae
Genus: Aloe
Spesies: Aloe vera L.
Dari klasifikasi lidah buaya di atas, kita bisa menarik kesimpulan
bahwa lidah buaya merupakan tanaman perdu yang basah. Bagian
batangnya bengkok cenderung berbaring dengan ukuran sebesar
jempol manusia dewasa. Adapun bagian daunnya bergerigi dan
mampu mencapai panjang 15 cm. Bagian dalam daun lidah buaya ini
dipenuhi getah dan daging berlendir tanpa warna. Teksturnya kenyal
dan cenderung tebal mudah hancur. Sementara itu, bagian bunga
lidah buaya memiliki bentuk seperti terompet atau bertabung.
Ukurannya berkisar di angka 2 sampai 3 cm. Warna bunga lidah buaya
ini kuning cenderung oranye. Ia tampat bersusun dan berjungkai
mengelilingi bagian tangkai yang sedikit menjulang. Terakhir, bagian
akar lidah buaya yang berserabut dang sangat pendek. Panjangnya
hanya berkisar di angka 30 cm.
b) Glikosida Sianogenik
Simplisia yang mengandung glikosida ini antara lain Almond
(Prunus amygdalus), Shorgum (Shorgum album), Singkong (Manihot
esculenta) dari jenis Linamarin, Singkong (Manihot carthaginensis) dari
jenis lotaustralin, Stone fruits (Prunus sp.), dan Bambu (Bambusa
vulgaris)
.Salah satu tanaman yang mengandung glikosida sianogenik
adalah :
Singkong (Manihot esculenta)
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnollophyta (Tumbuhan berbunga)
Class : Magnollopsida (Berkeping dua / dikotil)
Sub class : Rosidae
Ordo : Euphorbianceas
Genus : Manihot
Spesies : Manihot esculenta crantz
Sinonim : Manihot utilissima
c) Glikosinolat
Contoh simplisia yang mengandung glikosinolat
Simplisia yang mengandung glikosinolat adalah tanaman yang
termasuk dalam family brassicaceae antara lain kubis, kecamba dan
mustard. Salah satu tanaman yang mengandung glikosinolat adalah :
Biji Sawi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Dilleniidae
Ordo: Capparales
Famili: Brassicaceae (suku sawi-sawian)
Genus: Brassica
Spesies: Brassica nigra (L.)
Ciri khas family Brassicaceae (suku sawi-sawian): Famili
Brassicaceae : Tidak mempunyai stipula, bunga majemuk rasemosa,
tidak ada braktea, stamen tetradinamous, pistillum 1 dengan ovarium
superum beruang 2.
Tanaman yang mengandung glikosida saponin ialah
Glicyrrhizae radix, liquorice root, atau radix liquiritiae adalah akar dan
batang bawah tanah tanaman Glycyrrhizae glabra L atau tanaman
Succus liquiritiae L yang berasa manis. Glikosida yang mngandung
glikosida aldehida : Buah vanili yang dipanen adalah buah yang belum
masak , tetapi sudah tumbuh sepenuhnya, yaitu bila ujung atas buah
telah berubah warnanya dari hijau menjadi kuning



BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan dari data yang diperoleh adalah sebagai
berikut:
1. Glikosida adalah senyawa yang terdiri atas dua bagian senyawa,
yaitu senyawa gula (glikon) dan senyawa bukan gula
(aglikon/genin).
2. Sifat-sifat glikosida yaitu mudah larut dalam air, mudah terurai
dalam keadaan lembab, dan lingkungan asam, berbentuk kristal tak
berwarna, pahit, dan dapat dihidrolisa dengan adanya enzim dan
air dan asam. Pembagian glikosida adalah antrakoinon, glikosida
sianogenik dan glikosinolat.
3. Biosentesis glikosida adalah
U T P + Gula-l-fosfat UDP gula + PP1
UDP Gula + akseptor Akseptor gula + UDP
(glikosida)
B. SARAN
Berikut saran kami dari penulisan makalah ini adalah perlu
dilakukan pendelaman pengetahuan mengenai biosentesis glikosida
dan contoh simplisia yang mengandung glikosida karena pengetahuan
ini dapat sangat berguna terutama bagi mahasiswa farmasi yang
bidang mencakup pembuatan sedian obat.
DAFTAR PUSTAKA
1. Gunawan, Didik. 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid 1.
Penebar Swadaya. Jakarta.
2. Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. UI-Press. Jakarta.
3. Tim Dosen. Farmakognosi I. Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam UNHAS. Makassar.
4. http/www. Google.co.id/ glycoside.