Anda di halaman 1dari 31

AL-QURAN DAN RANCANG BANGUN MASA DEPAN

PERADABAN MANUSIA



:

Dewan hakim yang kami hormati
Hadirin yang kami cintai
Napoleon, seorang orientalis berkebangsaan Perancis mengatakan The principle of Quran
with alone of tracking can lead man to happiness, Al-Quran adalah prinsip dan merupakan
satu-satunya kitab suci yang dapat menghantarkan kepada kepulauan nan bahagia.
Ungkapan tersebut hadirin, mengisyaratkan kepada kita bahwa Al-Quran laksana lampu
penerang hati dalam menembus liku-liku perjuangan yang panjang membentang. Al-Quran
adalah laksana benteng yang kokoh dalam mengcaunter tipuan dan godaan syetan. Al-
Quran laksana jimat penyelamat dari kesesatan hidup dan kehidupan. Pendek kata Al-
Quran adalah satu-satunya kitab suci yang berisi petunjuk dan kebahagiaan serta
senantiasa relevan dengan perkembangan dan situasi zaman. Oleh karena itu Rasul
mengatakan:

bacalah dan kajilah Al-Quran karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai penolong
Dalam rangka menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia, pada
kesempatan berbahagia ini kami akan membahas tentangAL-QURAN DAN RANCANG
BANGUN MASA DEPAN PERADABAN MANUSIA, dengan rujukan surat yunus ayat 57:


Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat
bagi orang-orang yang beriman.
HadirinAyat tadi dalam ilmu balaghah termasuk yang
meginformasikan sekaligus menegaskan bahwa sungguh telah datang kepada manusia Al-
Quran yang memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus dan mengeluarkan manusia
dari kegelapan. Lalu apakah fungsi dan peran Al-Quran itu hadirin dalam merancang
bangun peradaban manusia? Ayat tadi sebagaimana ditafsirkan oleh Imam Ali Ash-Shabuni
dalamShafwatut Tafasir, menjelaskan ada empat fungsi diturunkannya Al-Quran yaitu:
Pertama,

Al-Quran sebagai pelajaran dari Tuhan yang Maha


pengajar. Berkaitan dengan hal tersebut, Imam Al-Ghazali dalam Jawahir al-
Quran mengatakan seluruh cabang ilmu pengetahuan baik yang datang terdahulu maupun
kemudian, baik yang teah diketahui maupun belum, semuanya bersumber dari Al-Quranul
karim. Sebagai bukti bukankah karena Al-Quran diturunkan dengan menggunakan bahasa
arab telah mendorong lahirnya ilmu tata bahasa yang kemudian kita kenal dengan ilmu
nahwu dan sharaf, bukankaj karena Al-Quran diturunkan dengan menggunakan bahasa
indah, retoris dan puitis dan argumentatis telah mendorong lahirnya ilmu retorika dan
sastra yang keudian kita kenal dengan ilmu balaghah dan mantiq, bukankah karena kita
diperintahkan untuk membaca Al-Quran dengan baik dan benar telah mendorong lahirnya
ilmu qiroaat yang kemudian kita kenal dengna ilmu tajwid.
Bukankah karena Al-Quran menceritakan proses penciptaan manusia dan alam telah
mendorong lahirnya ilmu kehidupan yang kemudian kita kenal dengan biologi,
bahkan bukankah karena Al-Quran menceritakan karakteristik dan seluk beluk
masyarakat terdahulu telah mendorong lahirnya ilmu kemasyarakatan yang kemudian kita
kenal dengan sosiologi. Dengan demikian hadirin seluruh ilmu pengetahuan itu bersumber
dari Al-Quran.
Kedua,

, Al-Quran sebagai obat penyakit


bathin seperti penyakit syirik, ragu dan bodoh. Kenapa Al-Quran berfungsi sebagai obat
penyakit bathin bukan penyakit zhahir? Jawabannya hadirin penyakit zhahir memang
berbahaya jika tidak diobati, tapi jauh lebih berbahaya jika kita punya penyakit tapi tidak
diobati, betul hadirin? Dengan demikian penyakit asma, jantung, tumor memamng
berbahaya dan dapat merusak tubuh manusia, tapi penyakit sombong, iri hati, dengki,
frustasi, korupsi, haus kursi, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan jabatan dan
popularitas diri jauh lebih berbahaya dan dapat merusak tatanan hidup masyarakat dan
bangsa. Oleh karena itu hadirin, Al-Quran turun dengan memberikan perintah dan
larangan, janji dan ancaman, dan memerintah kepada manusia untuk mentaatinya dan
mengamalkan seluruh isinya. Dengan mengamalkan Al-Quran Insya Allah segala penyakit
hati akan terkikis habis dari diri kita. Pantas kalau Abu Farida Muhammad Ijat dalam
bukunya Aliz Nafsaka bil Quranmengatakan Al-Quran adalah obat yang sempurna bagi
segala penyakit baik penyakit zhahir maupun bathin.
Ketiga, , Al-Quran berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia dari
kesesatan. Al-quran diturunkan Allah untuk memberikan petunjuk kepada manusia,
membimbing dan membawanya kepada keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.
Berkaitan dengan hal tersebut, Prof.Dr.Quraish Syihab dalam Wawasan Al-quran
mengatakan seluruh ayat yang ada dalam Al-quran seluruhnya berisi ajaran yang relevan
dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Mampu memberikan solusi terhadap berbagai
permasalahan manusia baik yang bersifat ibadah ritual maupun sosial termasuk di
dalamnya tentang etika kenegaraan.
Oleh karena itu, kalau manusia sudah mampu memahami isi Al-Quran, menjadikan
petunjuk kehidupan, serta mengamalkannya dalam hidup keseharian maka prilakunya
dipastikan tidak bertentangan dengan ajaran Tuhan dan berselisih dengan tuntutan agama,
siapaun dia dan apaun profesinya. Seorang pejabat kalau sudah menjadikan Al-Quran
sebagai petunjuk hidupnya dia tidak akan berbuat korupsi meskipun rakyat tidak tahu,
seorang pedagang kalau sudah menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk hidupnya dia tidak
akan curang mengurangi timbangan meskipun pembeli tidak mengerti, seorang suami
kalau sudah menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk hidupnya dia tidak akan berbuat
selingkuh meskipun sedang sendiri. Demikian pula seorang pemuda dan pemudi yang
sedang asyik memadu kasih kalau sudah menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk hidupnya
dia tidak akan berbuat macam- macam mskipun keadaan mendukung, senyap dan sepi,
betul hadirin?
Keempat,

, Al-Quran berfungsi sebagai rahmat bagi insan nan


beriman. Artinya kalau Al-Quran sudah kita baca isinya, dipahami ajarannya serta
diamalkan petunjuknya maka ia akan menciptakan ketenangan bagi kita, jauh dari rasa
resah dan gelisah, siap menghadapi berbagai problematika hidup dan kehidupan serta
mampu menghantarkan kita kepada kebahagiaan baik dunia maupun di akhirat. Rasul
pernah berjanji:

Barangsiapa yang menjadikan Al-Quran sebagai imamnya, maka ia akan membawanya
kepada surga, sebaliknya barangsiapa yang menjadikan makmumnya maka akan
mendorongnya ke jurang api neraka.
Dengan demikian, Al-Quran merupakan firman Allah SWT yang berfungsi sebagai
pelajaran, obat, petunjuk dan rahmat dalam merancang bangun peradaban manusia untuk
menggapai kebahagiaan baik di dunia, terlebih lagi di akhirat. Sejarah telah membuktikan
bahwa Al-Quran dahulu pernah melakukan perubahan-perubahan fundamental terhadap
peradaban manusia yang tiada taranya. Al-Quran mula-mula menjumpai bangsa Arab
sebagai penyembah berhala, pemuja batu, dan pemuji kayu. Namun dalam jangka waktu
kurang dari seperempat abad, penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah SWT
menguasai seluruh jazirah Arabia, setelah penyembah-penyembah berhala disapu bersih
dari seluruh Jazirah Arabia. Al-Quran menyaptu bersih segala kepercayaan takhayul dan
menggantinya dengan agama yang paling rasional. Pada masa itu Bangsa Arab sering
membanggakan dirinya karena kebodohannya, berubah menjadi bangsa yang cinta ilmu
pengetahuan, mereka disulap dengan tongkat wasiat Al-Quran, karena di dalamnya
terdapat sumber ilmu pengetahuan. Hal demikian adalah akibat langsungdari ajaran Al-
Quran. Di samping itu Al-Quran juga membangun manusia dari tingkat yang paling rendah
ke tingkat peradaban paling tingi, hanya dalam jangka waktu relative singkat.
Oleh karena itu, dalam rangka menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk dan pedoman hidup
kita menuju peradaban manusia yang Qurani, mari kita baca Al-Quran, kita pahami isinya,
kita renungkan maksudnya dan kita amalkan ajarannya. Sehingga dengan cara ini kita
mampu hidup bahagia baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun Negara dan
bangsa. Dan Allah pun akan menganugerahkan keberkahan kepada kita semua penduduk
bangsa ini. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Araf ayat 96:


096. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan
(ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Hadirin wal hadirat Rahimakumullah
Dengan demikian dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa Al-Quran merupakan firman
Allah SWT yang berfungsi sebagai pelajaran, obat, petunjuk dan rahmat dalam merancang
bangun peradaban manusia untuk menggapai kebahagiaan baik di dunia, terlebih lagi di
akhirat. Untuk itu kewajiban kita, saya, saudara dan seluruh kita bangsa Indonesia
melaksanakan apa-apa yang telah digariskan oleh Al-Quran agar peradaban manusia di
negara Indonesia dapat berjaya kembali di masa sekarang maupun di masa yang akan
datang. Amin.
Itulah yang dapat kami sampaikan, mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan.



























IPTEK, WARISAN DAN KEBUDAYAAN YANG TERABAIKAN



.

HADIRIN ROHIMAKUMULLAH
Jeff Zeleski, seorang pakar komunikasi dunia dalam bukunya Spiritualitas Cyberspace
menyatakan : Dewasa ini, perkembangan dunia Informasi dan komunikasi telah mencapai
tahap yang mencenangkan konsekuensinya. Satu sisi melahirkan nilai-nilai positif dan
mampu mengangkat taraf hidup manusia. Namun disisi lain perkembangan informasi baik
melalui media cetak dan elektronika jika tidak dibingkai dengan nilai-nilai agama hanya
akan melahirkan keresahan, kerusakan, bahkan kehancuran bagi manusia.
Hadirin kehawatiran ZaLesski tersebut kini kian terbukti. Kita perhatikan budaya
barat/peradaban jahiliyah kini kian merajalela melalui media dan elektronika sebagai
contoh tayangan-tayangan kekerasan dan sadis semakin merajalela, tontonan-tontonan
magis-mitologis semakin membudaya bahkan hiburan-hiburan erotis seksual liberalis
semakin makmur, membaur bahkan menjamur di tengah-tengah masyarakat. Eksisinya
hadirin, akibat tayangan kekerasan,muncul keributan dalam keluarga, tauran antar pelajar,
perkelahian antar kampong bahkan peperangan antar etnis dan golongan akibatnya
tontonan magis metelogis, lahir masyarakat irrasional, ayat Al-Quran dipermainkan,
bahkan agama diperdagangkan. Akibatnya hiburan erotis dan seksualis. Marak perkosanan
dan perzinahan, bahkan akhir-akhir ini kita digemparkan oleh munculnya praktek seks
bebas yang dilakukan pelajar dan mahasiswa.Nauzubillahi min dzalik.
Itulah hadirin dampak langsung dari penggunaan media cetak dan elektronika yang
mengabaikan nilai-nilai etika. Lalu bagaimanakah Islam melihat fenomena tersebut?
Sebagai jawabannya pada kesempatan ini kami akan membahas tentangIPTEK,
WARIASAN DAN KEBUTUHAN YANG TERGADAIKAN dengan landasan Al-Quran, surat
Al-Hujarat ayat 6 :



Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa
suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas
perbuatanmu itu.(QS. Al-Hujarat : 6)

HADIRIN MAASYIRAL MUSLIMIN RAKHIMAKUMULLAH
Secara Filosofi, ayat tadi merupakan landasan metodis dalam menyikapi derasnya
informasi yang disebarkan media cetak dan elektronika, yaitu Islam memiliki prinsip
akomodatif jika bertentangan dengan ajaran Islam jangan gentar, katakan Tidak! Tidak,
tidak meskipun dengan dalil seni dan kebebasan Pers, sepakat?
Dengan demikian ayat tadi memberikan pelajaran pada kita untuk memperhatikan nilai
moral dan etik, dalam menggunakan media cetak dan elektronika. Namun, sangant
disayangkan hadirin, saat ini yang terjadi adalah fakta sebaliknya, sebagai bukti tidak
sedikit majalah-majalah yang memajang fotoperempuan setengah telanjang. Koran-koran
mengumumkan tempat-tempat mesum dan pelacuran, stasiun-stasiun televise yang
menayangkan senetron adegan ciuman yang ujung-ujungnya menjurus pada perbuatan
mesum, bioskop yang menayangkan adegan ranjang dan hubungan sek, dan situs-situs
porno yang marak merebak, membaur bahkan menjamur ditengah masyarakat bahkan
membudaya seolah-olah telah mendarah daging pada masyarakat kita terutama para
remaja bahkan hadirin akhir-akhir ini kita dikagetkan dengan munculnya majalah play boy
yag menjajah pikiran manusia, sehingga yang terlihat hanyalah pikiran-pikiran jorok dan
hasrat terlarang.
Bahkan akibatnya budaya barat yang disebarkan media cetak dan elektronika membuat
para pemuda semakin terpuruk, sebagai contoh: tidak sedikit anak-anak muda kita yang
terjerumus kedalam mabuk-mabukan, tenggak wiski, brendy, sampeng, bluange, matine,
radikao, mensen, KTI, bir, tidak sedikit anak-anak muda kita mati diujung lidahnya ganja,
morfin, ganja, morfin
Merintih memohon, memanggil ganja dan morfin sampai mati, tanpa iman dan banyak
remaja kita akibat mengkomsumsi minuman keras dan narkoba kini tinggal menunggu
lonceng kematian. Bahkan para pemuda kita terbiasa dengan budaya mesum seks,
protitusi, porno aksi, dan pornografi dan seolah-olah menganggap God is Died, Tuhan telah
mati. Nauzubillahhimin dzalik..
Lalu bagaimanakah sikap kita dalam menghadapi persoalan tersebut? Sebagai jawabannya
kita renungkan firman Allah swt dalam al-Quran surat Ali Imron ayat 104 :




Artinya : Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah
orang-orang yang beruntung. (QS. ali-Imran : 104)

HADIRIN YANG BERBAHAGIA
Imam Ali Ash Shabuni dalam Shafawatut Tafasir menjelaskan ayat tadi :



Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar

Dengan demikian, orang yang mampu menjaga, melestarikan dan menjunjung tinggi
harakat kemanusiaan adalah yang memiliki Iman dan amal Shaleh, fungsi dari
mengimbangi otoritas intelektual. Sebab hadirin, walaupun kita ber otak cerdas,
berwawasan luas, tetapi kita tidak berhati emas, apalagi jika keimanan lepas, kita hanya
tumbuh menjadi manusia hina, biadab, brutal, tidak bermoral, berakhlak bejat bahkan bisa
lebih jahat dan lebih bejat dari binatang.
Murtadha Muthahhari mengatakan, IPTEK yang ada pada orang yang tak beriman bagaikan
sebuah pisau ditangan orang gila, dia bisa menebaskan kemana dia mau. Maka orang yang
beriman tapi tak beriman bisa membunuh, menipu, merampok dan meracuni otak-otak
kita.
Sebaliknya, bila IPTEK digenggam oleh orang beriman, kami yakin akan membawa
kemaslahatan bukan kemudharatan, membawa kesejahtraan bukan kesengsaraan.
Membawa kemajuan bukan kehancuran, membawa ketentraman bukan kekacauan.
Jikalau hal tersebut ysng kita aflikasikan insya allah media cetak dan elektronika yang
mengabaikan nilai-nilai etik dan yang menyebarkan budaya-budaya barat jahiliyyah sedikit
demi sedikit akan tergeser dan tergusur dan akan lahir media cetak dan elektronika yang
siap merespon dan mengelola derasnya arus informasi untuk membentuk wadah akhlakul
karimah dan menjunjung tinggi kebudayaan Islam.
Dari uraian tersebut maka dapat kita simpulkan bahwa saat ini penggunaan media cetak
dan elektronika mulai mengabaikan nilai-nilai etika. Untuk menghadapi persoalan tersebut
umat Islam membutuhkan sumber daya insan yang siap menjadi sumber sifat kebaikan
untuk mengelola informasi menjadi maslahat dan manfaat dalam kehidupan individu,
keluarga, nusa dan bangsa, serta umat manusia. Semoga Allah swt memberkati setiap
usaha dan upaya kita semua. Amin ya Robbal Alamin
Demikianlah yang dapat kami sampaikan mudah-mudahan ada manfaatnya.



KEPEMIMPINAN RASULULLAH SAW, TELADAN
MEMBANGUN MASYARAKAT MADANI





Hadirin Kaum Muslimin Rahimakumullah,
Michael Hart, seorang kolumnis Amerika menulis dengan judul The One Hundred Ranking
of Most Influenting Person in History, artinya seratus tokoh besar yang paling berpengaruh
sepanjang sejarah peradaban manusia. Termasuk di dalamnya ada Adolf Hitler pencetus
gerakan NAZI Jerman, Mahatma Gandhi pencetus gerakan Satya Graha India, Julius Ceasar
pencetus Vini Vidi Vici dan tokoh-tokoh besar lainnya. Ternyata dari sederetan tokoh
tersebut, Michael Hart menempatkan baginda Rasulullah Muhammad SAW pada urutan
pertama sebagai Tokoh yang sangat berpengaruh di dunia. Sehingga kebesaran beliau
diabadikan di dalam Encyclopedia Brittanica sebagai The Most Succesful of all Prophets and
all Religious Personalities sebagai pemimpin yang paling sukses diantara para Nabi, para
pemimpin Agama, dan para pemimpin lainnya dalam membangun peradaban manusia
sedunia.hadirin melihat betapa pentingnya meneladani sikap dan sifat nabi Muhammad
tersebut, khususnya dalam membentuk masyarakat madani maka KEPEMIMPINAN
RASULULLAH SAW, TELADAN MEMBANGUN MASYARAKAT MADANI adalah tema
yang akan kita bicarakan pada kesempatan kali ini, dengan landasan QS. Al-Jumah ayat 2 :


Artinya : Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara
mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan
mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka
sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Hadirin Rohimakumullah,
Menurut Dr. Muhammad Sulaiman Al-Asqori dalam Zubdat at-Tafsir Min Fath al-Qodir,
( ) maksudnya kondisi bangsa arab yang sebagian besar bukan saja tidak mampu
membaca dan menulis tapi tenggelam ke dalam kehidupan jahilyah secara total.
Kebobrokan moral merajalela. Dalam bidang social marak mabuk-mabukan. Dalam bidang
pemerintah., etnis dan golongan yang dikedepankan. Dalam bidang hukum muncul law of
jungle to be politely of people, hukum rimba menjadi peradaban.Orang kaya memangsa yang
miskin. Orang pintar memangsa yang bodoh. Orang kuat menghantam yang lemah. Bahkan
yang paling mengerikan martabat wanita di injak-injak, sehingga setiap lahir bayi wanita
dikubur hidup-hidup tak peduli terdengar jerit, pekik tangis bayi didalam tanah.
Naudzubillah min dzalik.
Dalam kondisi seperti itu Rasul tampil sebagai sosok yang diwarisi dengan jiwa
kepemimpinan, mengemban empat misi utama:
Pertama, misi Tilawah ( ) membaca ayat-ayat Allah, baik ayat Quraniyah
maupun ayat Kauniyah, alam buana ini. Kedua, ( ) Misi
tazkiyah membersihkan segala bentuk kekufuran. Ketiga, misi Talim (
) mengajarkan al-Quran sebagai pedoman reformasi sebab al-Quran is the only
thing that can lead man to happiness, al-Quran adalah satu-satunya buku petunjuk hidup
yang mampu menghantarkan manusia menuju kebahagiaan. Demikian menurut Napoleon,
seorang oreantalis berkebangsaan Prancis. Keempat, ( ) menampilkan sunnah.

Hadirin yang berbahagia,
Keempat unsur tersebut merupakan strategi pembangunan Rasulullah saw yang terbukti
berhasil membentuk dan membangun peradaban manusia sedunia. Namun lain halnya
dengan gerakan pembangunan di Negara kita, konsepnya setinggi langit, gaungnya
menggema kemana-mana tapi hasilnya entah kemana. Kenapa? Ini disebabkan krisis figur.
Di era reformasi ini bukan figur-figur pembangun sejati yang muncul, tetapi yang
menjamur adalah oknum-oknum pemimpin yang haus kursi, haus pangkat, jabatan dan
popularitas. Karena kalau pembangunan kehilangan figur tak ubah laksana anak ayam yang
kehilangan induknya. Tak tahu arah kemana ia harus melangkah. Instruksi yang dicita-
citakan tapi destruksi yang dirasakan. Pembangunan tinggal landas yang dicita-citakan tapi
tinggal kandas yang dirasakan. Pembangunan Nasional yang dicita-citakan tapi
penderitaan Nasional yang dirasakan. Akhirnya tetap berada dalam Justifikasi Allah,
tetap dalam kesesatan dan krisis Nasional multi dimensional.
Hadirin dalam kondisi seperti ini tidak satu figur pun yang harus kita tiru dalam
merealisasikan pembangunana masyarakat madani kecuali baginda Rasulullah Muhammad
saw.
Abu Ala al-Maududi dalam The Prophet Islam mengatakan He is the only one example
where all excellences have been blanded in one personality , nabi Muhammad adalah satu-
satunya contoh terlengkap semua keunggulan terkumpul dalam diri seorang pribadi.
Demikian pula hadirin kebesaran beliau dibuktikan oleh sejarah, beliau hidup dalam
keadaan miskin, Allah menawarkan berbagai kesenangan material, harta, tahta, wanita
bahkan jabal uhud siap jadi emas. Beliau menjawab :

kalau demikian ya Allah, apapun yang engkau berikan tidak ada satu pun yang
menyenangkan hatiku, kalau satu saja ummatku yang masuk neraka.

Allahu Akbar. Hadirin, ini bukti sikap pemimpin sejati yang beroreantasikan ummat
sebagaimana kaedah mengatakan :

Kepentingan umum lebih diprioritaskan diatas kepentingan pribadi dan golongan.

Tapi sebaliknya kalau pemimpin yang hanya mengatasnamakan rakyat namun tidak
berorientasikan rakyat, di depan rakyat dia menyanyikan janji-janji manis,
mendendangkan lagu-lagu mesra. Tapi di belakang rakyat dia tidak segan-segan mencekik
dan menghisap darah rakyat. Akibatnya, kita lihat Rumania, ketika dipimpin oleh Nicoulas
Susesco pemimpinnya poya-poya tapi rakyatnya sengsara, Iran ketika dipimpin oleh Reza
Pahlepi pemimpinnya megah, rakyatnya susah, Prancis ketika dipimpin Louis 16 dan Ratu
Maria Antonate pemimpinnya makmur rakyatnya hancur tersungkur, demikian pula Orde
Baru pemimpinnya paling rendah naik BMW rakyatnya paling mewah naik BMM alias
Bemo. Timbul pertanyaan, bagaimana sikap beliau dalam membangun peradaban
masyarakat madani ? untuk mengetahui jawabannya kita renungkan firman Allah dalam
QS. Ali Imron ayat 159 :

Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap
mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri
dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.


Hadirin Rahimakumullah,
Pada ayat tersebut terdapat lima akhlak pemimpin yang di contohkan Rasulullah
Muhammad SAW.
1. dengan lemah lembut dapat menunjukan keluhuran budi, bisa
menarik simpati lawan, membuat segan begi semua lawan.
2. Sifat rosul tidak bengis dan tidak berlaku kasar karena pemimpin yang
berjiwa kotor niscaya akan dictator.
3. pemaaf, yakni mudah untuk memberi ampunan bagi
orang-orang yang bersalah.
4. Rosul sangat senang bermusyawarah, tidak otoriter dan siap
dikeritik ketika keliru.
5. Beliau memiliki komitmen setelah memantapkan
planning dalam suatu kegiatan, lalu bertawakal kepada Allah.
Itulah hadirin sikap dan sifat yang rosul miliki dalam menciptakan peradaban manusia.
Dengan demikian pembangunan di Negara kita ini hanya akan bergulir dengan baik, jika
dalam mekanisme pembangunannya mencontoh kepribadian rosululloh Muhammad saw.
Dan orang yang dapat mencontoh beliau hanyalah orang-orang yang beriman. Semoga kita
sebagai rakyat Indonesia dapat segera menyempurnakan iman kita sehingga berhasilah
kita dalam membentuk dan membangun Negara ini menuju masyarakat madani. Amin ya
robbal alamin.
Itulah yang dapat saya sampaikan,



EKONOMI SYARIAH PENDORONG
PENGUATAN EKONOMI UMAT



} {

Hadirin yang kami hormati.
Dunia semakin cantik dan molek, dihiasi dengan perkembangan sains dan teknologi yang
semakin canggih dan menarik. Akan tetapi permasalahan-permasalahan di setiap lini
kehidupan termasuk didalamnya masalah kemiskinan, telah membuat otak ruwet, mumet
dan jelimet. Bukankah karena miskin seseorang tidak dapat meneruskan pendidikannya
maka ia menjadi bodoh? Bukankah karena miskin seseorang tidak dapat melihat dan
mendengarkan berita-berita terkini (headline news) maka ia menjadi terbelakang?
Bukankah karena miskin seseorang dapat menjual akidahnya maka ia menjadi kufur?
Masalah ini terus dan terus berputar bagaikan lingkaran setan yang seolah-olah tidak ada
pemacahannya, padahal Islam telah memberikan solusi kongkrit, dengan cara Ekonomi
Syariah Pendorong Penguatan Ekonomi Rakyat, sebagaimana yang telah diisyaratkan
oleh Allah di dalam al-Quran surat Al-Baqarah ayat 275 :

{ 553 }

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya
orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang
demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu
sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari
mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang
larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil
riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Hadirin Rohimakumullah.
Firman Allah yang baru kita simak bersama mengisyaratkan agar kita umat Islam memiliki
ekonomi yang kuat. Mari kita kaji secara mendalam. Imam Ibnu Katsir di dalam kitabnya
Tafsir Ibnu Katsir jilid ke-3 menyebutkan, bahwa sebab diturunkannya ayat ini berawal
dari sebuah pertanyaan Saad bin Abi Waqash kepada Saidina Muhammad Rasulullah SAW.
wahai Rasulullah aku memiliki harta yang banyak akan tetapi pewarisku hanya satu
orang anak, maka bolehkah jika aku bersedekah dua pertiganya? Rasul menjawab : tidak
boleh. Bolehkah jika seperduanya? Rasul menjawab : tidak boleh. Bagaimana jika
sepertiganya? Rasul menjawab : tidak boleh seraya melanjutkan perkataannya :

sungguh aku mengharapkan jika engkau dapat warisi keturunan yang kaya dan berharta
dan itulah yang terbaik dari pada engkau mewarisi keturunan yang lemah lagi papa serta
hanya mengharapkan belas kasih orang lain
Kisah ini menjelaskan kepada kita bahwasanya Islam menginginkan agar setiap orangtua
dapat meninggalkan generasi penerus mereka dalam keadaaan yang kuat fisik, kuat mental,
dan kuat perekonomiannya.
Syekh Mustofa al-Maroghi menafsirkan kalimat khoofu alaihim, sebagai suatu
kekhawatiran jikalau anak-anak hidup terlantar dan tersia-sia, kenapa demikian? Karena
telah diketahui bersama bahwa tolak ukur sejahtera tidak sejahteranya seseorang, makmur
tidak makmurnya seseorang dilihat dari keadaan ekonominya, apabila ekonominya baik,
maka apa yang menjadi hajat hidupnya akan mudah untuk didapatkan, akan tetapi jikalau
ekonominya buruk maka secara pasti apa yang menjadi hajat hidupnya akan sulit untuk
terpenuhi.

Hadirin Rohimakumullah.
Dalam dunia ekonomi kita mengenal adanya tiga buah sistem ekonomi. Pertama,sistem
ekonomi sosialis dimana pemerintah secara mutlak mengurus dan mengelola sistem
perekonomian mereka. Kedua, sistem ekonomi kapitalis dimana setiap individu, setiap
wirausahawan berhak untuk mengelola serta mengurus keadaan perekonomian mereka,
sistem ekonomi inilah yang telah membuat jarak yang sangat antara yang kaya dengan
yang miskin dan juga telah mengakibatkan yang kaya semakin kaya dan yang miskin
semakin miskin (the rich richer and the poor poorer). Ketiga, sistem ekonomi Islam dimana
dalam sistem ini yang di angkat kepermukaan adalah niali-nilai ukhuwah dan nilai-nilai
kebersamaan, dengan artian bahwa setiap orang harus saling tolong menolong, yang kaya
menolong yang miskin, yang kuat menolong yang lemah, tidak ada jarak diantara mereka
bahkan mereka merasa bahwa mereka bagaikan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.
Dari penjelasan ini maka timbullah sebuah pertanyaan, bagaimanakah teknis untuk
merealisasikan prinsip ini? Sebagai jawabannya mari kita renungkan firman Allah dalam
surat adz-dzariyat ayat : 19

: { 91 }
Artinya : Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan
orang miskin yang tidak mendapat bahagian.

Hadirin dan hadirat yang kami hormati.
Firman Allah pada ayat ini dengan tegas dan jelas mengisyaratkan kepada kita bahwa
pemberdayaan ekonomi diproyeksikan demi kesejahtraan bersama. Islam menolak keras
sistem ekonomi dalam bentuk monopoli, oligopoli dan ekonomi yang diorientasikan hanya
untuk kepentingan pribadi. Prinsip ini harus kita aplikasikan di negara kita jikalau
kita menginginkan negara kita menjadi negara yang maju dan damai. Apalagi jikalau kita
perhatikan di negara kita Indonesia ini, masih terdapat 37,5 juta jiwa umat manusia yang
berada dibawah garis kemiskinan, lalu berapa banyakkah ummat Islamnya ? ternyata
setelah diteliti oleh lembaga peneiliti di Indonesia, terdapat lebih dari 30 juta jiwa umat
Islam yang berada dibawah garis kemiskinan. Sebuah pertanyaan besar yang ada pada
pikiran kita semua, mengapa umat Islam lebih banyak tenggelam dalam kemiskinan ?
Menurut KH Zarkasih, pertama. Banyak diantara kita yang hanya berorientasi pada
keakheratan saja. Mereka memiliki pemahaman yang sempit terhadap hadits Nabi
Muhammad SAW ad-dunya jiifah dunia ini adalah bangkai yang menjijikkan. Dan ad-
dunya sijnul mukminin dunia adalah penjara bagi umat Islam, pemahaman uang sempit
terhadap kedua hadits ini mengakibatkan pemasalahan-permasalahan duniawi
ditinggalkan dan Islam pada akhirnya identik dengan masalah kemiskinan.
Kedua.Kemunduran ekonomi umat Islam disebabkan dalam melaksanakan kegiatan
ekonomi mayoritas umat Islam masih berpikir dengan corak agraris dan kolot. Padahal
saat ini dunia bisnis membutuhkan orang-orang yang kreatif dan siap untuk saling
berkompetisi dengan yang lainnya.

Hadirin dan hadirat yang kami hormati.
Bagaimanakah konsepsi Islam dalam perekonomian. Mari kita simak bersama firman Allah
dalam surat an-nisa ayat 29 :

{ 91 }

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari
Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang
demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (9) Apabila telah ditunaikan
sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan
ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung (10).

Hadirin rahimakumullah.
Syekh Mustafa al-Maraghi dalam tafisir al-Maraghi menyatakan, bahwa halalnya
perniagaan, transaksi jual beli jika terjadi saling meridhoi antara keduanya, sebaliknya
Islam sangat mengharamkan adanya penipuan, pendustaan dan pemalsuan barang. Hal ini
menunjukkan bahwa ayat ini merupakan dasar dari sebuah sistem ekonomi Islam, dan ayat
ini pula merupakan himbauan pada kita semua agar tidak mencari keuntungan dengan
cara menghisap darah orang lainyakni riba.
Berdasarkan prinsip ini maka dapat dipahami bahwa ekonomi Islam adalah
ekonomi muawanah, terdapat didalamnya sistem ekonomi mudharabah, murabahah,
musyarakah, dan di negara kita alhamdulillah setidaknya telah melaksanakan prinsip ini
seperti adanya bank-bank syariah. Oleh sebab itu, untuk menopang prinsip ini Rasulullah
SAW bersabda :

siapa yang memiliki harta maka bersedekahlah dengan hartanya, siapa yang memiliki
kekuasaan maka bersedekahlah dengan kekuasaannya, siapa yang memiliki ilmu maka
bersedekahlah dengan ilmunya .
Dengan demikian pada akhirnya kami mengajak pada seluruh umat Islam untuk bersama-
sama mengaplikasikan sistem perekonomian Islam, yakni dengan cara pemberdayaan
ekonomi umat, maka secara tidak langsung segala bentuk kebodohan, keterbelakangan,
dan kekufuran akan hilang dengan sendirinya.
Untuk itu marilah kita berdoa kepada Allah semoga kita diberikan kemudahan dalam
aktivitas kita. Amin ya Robbal alamin.























ZAKAT, INFAQ DAN SHODAQOH SOLUSI PEMBERANTASAN
KEMISKINAN





Hadirin Rahimakumullah
Pada umumnya ada tiga konsep yang berkaitan dengan pemanfaatan harta benda. Pertama,
komunis dengan prinsip mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan
individu, tiap-tiap individu tidak memiliki kemerdekaan dan hak kepemilikan sehingga
menguntungkan si miskin namun kerugikan bagi si kaya. Kedua, kapitalisme dengan
prinsip menitik beratkan kepentingan individu di atas kepentingan masyarakat, akibatnya
lahir the rich richer and the poor poorer. Yang kaya semakin, kaya dan yang miskin
semakin miskin:

Yang kuat memakan yang lemah, yang pintar memakan yang bodoh. Homo homoni lupus to
be polity in society, penghisapan manusia terhadap manusia menjadi peradaban. Hadirin
hanya membawa derita dan untaian air mata bagi kaumdhuafa. Dalam polemic tersebut
muncul konsep Islam dengan unsur keseimbangan dalam pemberdayaan:

Agar harta kekayaan tidak hanya bergulir di antara orang-orag kaya di antara kamu
sekalian.
Tapi dirasakan pula oleh kaum dhuafa. Prinsip tersebut diantaranya diaplikasikan melalui
pelaksanaan zakat, wakaf dan infaq. Karena ituntasan itulah Zakat, Infaq, dan shodaqoh
solusi pemberantasan kemiskinan adalah tema yang akan kita uraikan pada kesempatan
kali ini. Dengan landasan surah At-Taubah ayat 103:


Artinya : Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan
dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu
(menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.
Hadirin Maasyral Muslimin Rakhimakumullah
Hadirin Imam Ibnu Jarir mengatakan ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan
permintaan Abu Lubabah beserta kedua temannya kepada Rasulullah Muhammad SAW
seraya berkata: Ya Rasulullah, ini harta benda kami sedekahkanlah atas nama kami dan
mintakanlah ampunan bagi kami!. Rasul menjawab: Aku tidak diperintah Allah untuk
menerima harta sedikitpun. Berkenaan dengan hal tersebut, turunlah perintah Allah untuk
menerimanya sebagaimana terangkai dalam surah At-Taubah ayat 103 tadi terutama pada
kalimat

Kalau kita kaji lebih dalam kalimat

disamping menunjukkan sighat


Amr juga mengisyaratkan agar dibentuk lembaga pengelola zakat, wakaf dan infaq yang
professional dan proporsional. Kenapa demikian? Pertama, karena sadar membayar zakat
itu hanya sedikit. Kedua, mengisyaratkan agar amilin memiliki manajemen yang bagus.
Masa orde baru terbukti karena amilin tidak professional akhirnya zakat bukan
mensejahterakan rakyat tapi zakat menjadi jaket.
Hadiri, apa hikmah zakat bagi seorang muzakki? Ayat tadi menjelaskan : Pertama,
Tathir untuk membersihkan harta dari hak-hak fakir miskin, orang yang tak
berharta, orang yang terbaring di pinggir-pinggir jalan yang tiap hari merasakan pekik
getirnya kehidupan, hanya isak tangis yang ia rasakan. Kedua, membersihkan dari
penyakit rakus, tamak, dan serakah. Penyakit ini hadirin yang harus kita bersihkan, sebab
jika kehidupan manusia dilanda penyakit ini maka akan lahir hartawan berjiwa Qarun,
pengusaha bermental Salabah, penguasa berotak Firaun, fungsinya bukan pelindung
rakyat tapi pemeras, penindas, bahkan perampas hak-hak rakyat. Fungsi yang ketiga,
Taskin maksudnya dengan zakat, wakaf, dan infaq jiwa akan tenang, hati senang
walaupun banyak uang. Amin ya rabbal alamin.
Tapi sebaliknya, jika para aghniya, para konglemerat enggan membayar zakat, enggan
untuk wakaf, dan enggan berinfak maka suatu negara bisa kiamat, walau gedung
bertingkat, walau mobil makin mengkilat, dijamin rakyat sulit berdaulat apalagi jikalau
pejabat sudah jadi penjahat, menyikat uang rakyat, jelas bangsa bisa kiamat. Naudzubillah
mindzalik. Padahal Rasulullah saw telah mengancam :

Bukan termasuk orang mukmin, orang yang hidupnya kenyang sendirian sementara
tetangganya hidup dalam kelaparan
Dengan demikian, orang kaya yang tidak peduli dengan nasib kaum dhuafa, konglomerat
yang acuh terhadap kaum melarat, pejabat yang apriori terhadap nasib rakyat, bukan saja
mencerminkan orang yang jahat, tetapi mencerminkan orang yang tidak beriman dan
orang seperti ini harus minggir dari Negara kita tercinta ini. Sebab Negara kita Indonesi
akan jaya apabila dipimpin oleh orang-orang yang peduli dengan nasib kaum dhuafa.
Oleh karena itu hadirin, semangat zakat, wakaf dan infak wajib kita aplikasikan dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Timbul pertanyaan, kepada siapa zakat itu diberikan?
Sebagai jabannya kita renungkan firman Allah swt dalam al-Quran Surat al-Taubah ayat :
60



Artinya : Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang
miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka
yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah
Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana


Hadirin Rakhimakumullah.
Ayat tersebut diawali dengan dalam ilmu balaghah merupakan yang berfungsi
untuk mensfesifikasikan. Ayat tersebut merupakan deskripsi Allah swt tentang skala
prioritas penerima harta zakat, yaitu orang-orang fakir dan miskin. Lalu
bagaimanakah kaitannya dengan kondisi Bangsa kita saat ini? Prof. Sukirman melaporkan
23 juta lebih penduduk indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, apalagi setelah
terjadinya krisis moneter, marak korban PHK, sulit mencari lapangan kerja, kemiskinan
semakin membengkak. Akibatnya kemiskinan ini dampak langsungnya
adalah dapat menyebabkan kekufuran, akibatnya adalah kemiskinan. Dr. Ismail Raji al-
Faruqi, derektur lembaga pengkajian Islam internasional mengatakan bahwa kemiskinan,
kebodohan, dan keterbelakangan merupakan tiga permasalahan besar yang saat ini, namun
diantara ketiganya kemiskinan merupakan yang paling berbahaya. Sebab kebodohan dan
keterbelakangan itu muncul akibat kemiskinan. Akibatnya, tidak sedikit saudara kita yang
menjual akidah hanya untuk mempertahankan hidupnya. Bahkan akibat kemiskinan tidak
sedikit gadis-gadis kita yang menjual kehormatannya untuk medapatkan sesuap
nasi. Naudzubillah. Hadirin, menurut Dr. Didin Hafifudin, MSc, agar kemiskinan tidak
bertambah dan bertambah, ada tiga hal yang harus kita lakukan berkaitan dengan
kewajiban zakat. Pertama. Kita harus mengeluarkan zakat dan memasyarakatkan gerakan
sadar zakat. Kedua, kita harus membentuk lembaga zakat yang professional. Ketiga, kita
harus memberdayakan zakat untuk membangun kesejahteraan masyarakat.
Oleh karena itu, kita harus menyambut baik usaha pemerintah yang berhasil membuat
Badan Amil Zakat (BAZIS), kita patut mengacungkan jempol dengan usaha pemerintah
yang berhasil membuat peraturan pemerintah No. 34 tahun 99 tentang pengelolaan zakat.
Semoga usaha yang telah dilakukan dapat menyadarkan masyarakat kita untuk taat
mengeluarkan zakat, berwakaf, dan berinfaq sehingga dapat mengurangi kemiskinan dan
mensejahterakan masyarakat kita. Amin ya robbal alamin.


MENGHADIRKAN ISLAM DI TENGAH
MASYARAKAT MAJEMUK


.
} {


HADIRIN MAASYIROL MUSLIMIN RAHIMAKUMULLAH
Rasisme dan diskriminisme merupakan paham yang sangat paradok dengan kemajemukan.
Jammes Monrou dengan doktrinnya American is on America telah menganggap bahwa
bangsa Amerika paling baik dari bangsa lain. Benneto Mussolini dengan ajarannya, Fasisme
Italia merasa bahwa bangsanya lebih mulia dari bangsa lain. Hirohito dengan Fasisme
Jepangnya mencetuskan bahwa bangsanya paling pantas memimpin dunia. Alhasil paham-
paham tersebut tidak menghargai kemajemukan. Samuel Etoo, pemain sepak bola asal
Kamerun pun ikut menjadi salah satu korban rasisme, sehingga jauh-jauh hari Persatuan
Sepakbola Eropa (UEF) mencanangkan program kampanye Lets Kick Racism out of
Football. Dan di Indonesia kita diinggatkan akan kerusuhan Mei 1998, di mana sasaran
utamanya adalah orang-orang Tionghoa, masyarakat secara umum tidak melihatnya
sebagai suatu tindakan biadab. Banyak yang mengutuk, dari luar negeri, Negara-negara
sahabat, lembaga-lembaga PBB maupun lembaga HAM Internasional mengutuk keras rasial
Mei 1998.
Penghargaan dalam Islam tidak berdasarkan ras, suku, keturunan, prestise, tapi
penghargaan dalam Islam berdasarkan amal dan prestasi. Untuk mengetahui lebih dalam
mengenai sikap Islam dan dunia kemajemukan, maka pada kesempatan ini kita bicarakan
MENGHADIRKAN ISLAM DI TENGAH MASYARAKAT MAJEMUK. Dengan rujukan surat
Al-Hujurat, ayat 13 :

Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya
kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi
Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal.

HADIRIN MAASYIROL MUSLIMIN RAHIMAKUMULLAH
Menurut ibnu Asy-Syakir dalam kitab Mubhamat bersumber dari abu bakar bin abu daud,
bahwa ayat ini berkenaan dengan keinginan Rasulullah SAW untuk menikahkan Abi Hindin
kepada seorang puteri dari kalangan Baidhah. BaniBaidhah dengan sinis berkata pada
Rasulullah ya Rasulullah pantaskah kami mengawinkan putri-putri kami kepada budak-
budak kami ? Rasul belum sempat menjawab saat itu, jibril datang menyampaikan surat Al-
Hujurat ayat 13 yang diawali dengan

, Menurut Imam Ali Ash-Shabuni


dalam Shafwat al-Tafsirbeliau menjelaskan :

Artinya : objeknya adalah seluruh manusia.
Bahwa manusia baik laki-laki maupun perempuan walau bercorak suku berlainan bangsa
semuanya memiliki harkat dan martabat yang sama di hadapan Allah SWT. Fungsinya
bukan untuk saling menutup diri, melecehkan, menghina, membangga-banggakan
kelompok, suku bangsa, maupun daerah masing-masing. Sebab dengan tegas Rasulullah
SAW bersabda :

Artinya : Bukan golongan kita, orang yang membangga-banggakan kesukuan dan bukan
golongan kita orang yang mati karena membela, mempertahankan dan memperjuangkan
kesukuan.
Ini berarti kemajemukan tersebut harus kita jadikan jembatan emas


Artinya : Agar kamu saling mengenal, yakni menjalin komunikasi yang harmoni dan
menebarkan cinta kasih serta kasih sayang yang tiada pandang sayang.
Demikian ungkapan Imam Ali Ashobuni dalam Safwat at Tafassir.

HADIRIN WAL HADIRAT RAHIMAKUMULLAH
Timbul pertanyaan, bagaimana sikap kita dalam menyikapi kemajemukan bangsa
Indonesia ini sebagai suatu berkah? Pertama, sebagai umat yang mayoritas mari kita jalin
ukhuwah Islamiyyah di Negara kita ini. Meskipun kita berbeda suku, adat istiadat, maupun
organisasi dan partai pilihan, tapi kalau satu akidah, tidak boleh saling menghina,
memfitnah, mengadu domba, apalagi sampai menumpahkan darah.
Mengingat pentingnya ukhuwah Islamiyah ini, pantas jikalau Rasulullah SAW ketika sedang
sakit keras, namun beliau bangkit berdiri dan berkata tentang pertentangan yang terjadi
antara kaum Aus dan Khazraj :


Artinya : Apakah kamu akan kembali ke dalam tradisi jahiliyah (berpecah belah) setelah
datang penjelasan-penjelasan dan aku masih hadir di antara kalian.

Sikap keras Rasul tersebut hadirin, merupakan realisasi untuk merajut ukhuwah Islamiyah
yang harus kita teladani dalam menyikapi kemajemukan bangsa kita ini. Karena
perpecahan kaum Aus dan Khazraj merupakan symbol bibit perpecahan internal umat
Islam yang saat ini banyak terjadi.
Sebagai bukti, disebabkan perbedaan pendapat masalah furuiyah, berlainan organisasi
yang diperkokoh oleh kepentingan pribadi dan kelompok, lantas pisah partai, putus
silaturrahim, berakhir dengan saling tonjok, saling rampok, bahkan saling bacok.
Naudzubillah.
Kedua, sebagai warga Negara Indonesia, mari kita wujudkan dan kita pelihara ukhuwah
wathoniyah, dengan cara mengamalkan kembali filsafat momentum sumpah pemuda yang
telah diikrarkan oleh bangsa Indonesia terdahulu, bahwa kita satu nusa, satu bangsa dan
satu bahasa.


HADIRIN WAL HADIRAT RAHIMAKUMULLAH.
Jikalau beberapa upaya langkah-langkah ini sudah kita lakukan, mudah-mudahan bangsa
kita akan menjadi bangsa yang selalu menghargai akan adanya perbedaan, sehingga
bangsa kita akan senantiasa mendapatkan keberkahan dalam menjalankan pembangunan
di Negara kita ini, sebagaimana yang Allah janjikan dalam surat Al-Araf ayat 96 :

}
Artinya : Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami
akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan
(ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya..

HADIRIN JAMAAH SYARHIL QURAN ROHIMAKUMULLAH
Dr. Muhammad Sulaiman Al-Asqori dalam Zubdat at Tafsir min Fath al Qadhirmenjelaskan
bahwa jikalau umat manusia beriman dan bertakwa :

Artinya : pasti Allah lapangkan bagi mereka keberkahan dari langit dan Allah lapangkan
keberkahan dari bumi. syaratnya iman dan taqwa.

HADIRIN ROHIMAKUMULLAH
Dari uraian tersebut dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa jikalau segala upaya ttelah kita
lakukan mudah mudahan bangsa kita menjadi bangsa yang bersatu pada sehingga dapat
membentuk Negara yang baldatun toyyibatun warabbul ghafur, amin.
Demikianlah yang dapat kami sampaikan mudah mudahan ada manfaatnya


























REMAJA DAN PEMUDA SEBAGAI ASET MASA DEPAN BANGSA



} {

KAUM MUSLIMIN YANG DIRAHMATI OLEH ALLAH SWT
Alfin Toffler dalam bukunya The Future Shock and The Third Wave, beliau menyatakan, era
milinium merupakan era institusional change, yaitu era menjamurnya berbagai media
komunikasi. Konsekuensinya, pada suatu sisi melahirkan nilai-nila positif, Namun disisi
lain over loading information melahirkandesease of adaftation, penyakit adaptasi.
Penerimaan terhadap unsur-unsur asing tanpa mempertimbangkan baik atau buruknya,
ketika orang barat judi, Remaja dan pemuda kita terlena dengan gaplek dan remi, ketika
orang barat terlena dengan minum-minuman keras, Remaja dan pemuda kita terlena
dengan budaya mabuk-mabukan tenggak wisky, brandy, bahkan yang paling besar dan
mendasar penyakit adaptasi ini melahirkan dehumanisasi, demoralisasi, dan
despritualisasi.
Akibatnya manusia hidup bebas, keras, beringas, ganas bahkan lebih ganas dari binatang
buas, di sinilah pentingnya pembangunan kepribadian yang postif sebagaimana
digambarkan Thomas Hobbes dalam A War of All Agaents, John Lock dalam Social Contrack,
Bruch Spinoza dalam Intelektual Love of God dan lain sebagainya. Karena pentingnya
keperibadian positif, khusunya sebagai seorang muslim, maka pada kesempatan ini, kita
akan membicarakan tentang Remaja Dan Pemuda Sebagai Aset Masa Depan Bangsa.
Dengan rujukan al-Quran surat al-Anfal ayat 24-25 :

{ 52

53 }
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila
Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah
bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya
kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang
tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa
Allah amat keras siksaan-Nya.. (QS. Al-Anfal)

HADIRIN MAASYRAL MUSLIMIN RAHIMAKUMULLAH
Berdasarkan ayat di atas maka dapatlah difahami bahwa dalam membangun Remaja dan
pemuda maka hendaknya dapat membatasi antara dirinya dengan hatinya. Namun, seperti
apakah membatasi antara manusia dengan hatinya? Al-Smarqandi di dalam kitab tafsirnya
Bahr al-Ulum menyebutkan, bahwa yang dimaksud dengan yahulu bain al-mari wa qalbih
adalah :


Artinya : membatasi antara orang mukmin dengan kemaksiatannya yang mengarahkannya
dan mendekatkannya dengan api neraka, serta membatasi antara orang kafir dengan
ketaatannya yang dapat mendekatkannya dengan surga.


Hadirin, penjelasan di atas menunjukkan bahwa seorang yang beriman bisa saja
terjerumus kedalam api neraka jika tidak dapat mengontrol hatinya dari kemaksiatan.
Akan tetapi perlu difahami bersama bahwa arahan berpikir ayat di atas bukan saja
menjurus kepada eksklusivisme Islam sehinga seringkali menafikan civil society yang
sesungguhnya harus terus dibangun.
Lebih detil di dalam ayat selanjutnya, Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsir al-
Misbah menyebutkan bahwa, sendi-sendi bangunan masyarakat akan melemah jika kontrol
sosial melemah. Akibat kesalahan tidak hanya menimpa yang bersalah. Tabrakan tidak
hanya terjadi akibat kesalahan kedua pengendara. Bisa saja yang bersalah hanya seorang,
tetapi kecelakaan dapat beruntun menimpa sekian banyak kendaraan.
Tuntunan Allah swt dan Rasul-Nya telah disyariatkan sedemikian rupa oleh Allah yang
mengetahui kemaslahatan, kebutuhan, sekaligus kecenderungan mereka. Apabila ada yang
melanggarnya maka akan timbul kekacauan, karena yang melanggar telah melakukan
suatu yang merugikan pihak lain. Pada saat itu akan muncul kekacauan, dan akan
lahir instabilitas yang mengakibatkan semua anggota masyarakat yang taat maupun yang
durharka ditimpa krisis.
Karena itu ayat ini berpesan : buatlah prisai antara diri anda dengan ujian dan bencana
dengan jalan memelihara hubungan harmonis dengan-Nya. Laksanakanlah tuntunan-Nya
dengan anjurkan pula orang lain berbuat kebaikan dan menjauhi kemunkaran, karena jika
tidak kita semua akan ditimpa bencana. Dalam konteks ini Rasul saw memperingatkan :
jika ada masyarakat yang melakukan kedurhakaan, sedang ada anggotanya yang mampu
menegur atau menghalangi mereka, tapi dia tidak melakukannya, maka Allah swt akan
menjatuhkan bencana yang menyeluruh kepada mereka.


HADIRIN RAHIMKUMULLAH
Dalam menemukan Remaja dan pemuda yang sejati di tengah-tengah hiruk-pikuk
kemaksiatan yang dapat menjerumuskan kita ke lembah kenistaan, maka kita harus
menemukan metode yang efektif dalam mengarunginya. Dalam hal ini, Allah swt
mengajarkan dan memerintahkan kepada kita. Sebagaimana firman-Nya di dalam surat ar-
Ruum ayat 60 :

41 }
Artinya : Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali
janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan
kamu. (QS. Ar-Ruum : 60)

HADIRIN RAKHIMAKUMULLAH
Berdasarkan firman Allah di atas, terdapat kata kunci yang paling ditekankan dengan kata
kerja perintah di dalamnya.
Adapun kata kerja perintah yang ada di dalam ayat di atas adalah yang berarti
bersabarlah. Dan dalam hal ini, Abdurrahman bin Nashir al-Suudy menafsirkan kata di atas
dengan sebutan :


Artinya : bersabarlah terhadap apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan terhadap apa
yang dipanjatkan kepada Allah meskipun engkau dapatkan di antara mereka ada yang
membangkang

Penjelasan di atas menunjukkan betapa beratnya untuk menjadi mukmin yang sejati di
dunia ini, hingga Allah memerintahkan untuk selalu bersabar di dalamnya. Apalagi jika
dikaitkan dengan perkembangan zaman yang begitu cepat. Sebuah contoh adalah, saat ini
sebagian anak-anak muda kita terjerumus dan terlena dengan westernisasi, kebarat-
baratan. Orang barat merayakan valentine, kita ikut merayakan valentine. Di bawah sinar
remang-remang, disaat hujan rintik-rintik, angin menghembus sepoi-sepoi basah duduk
berdua. Masya Allah.
Oleh karena itu, langkah apakah yang harus kita lakukan dalam rangka membangun
generasi bangsa yang berpribadian muslim sejati ? Dan siapakah yang berperan di
dalamnya ?
1. Para orang tua, guru, dan pendidik, hendaknya memberikan bekal ilmu dan akhlaq yang
cukup bagi anak-anak, remaja, dan pemuda . Karena dengan ilmu dan akhlaq yang dimiliki,
mereka akan menjadi generasi yang al-qawiy yang kuat bukan generasi yang al-dhaif
atau generasi yang lemah.
2. Para remaja dan pemuda selaku generasi penerus bangsa, agar memiliki itikad yang baik
untuk dididik dan dibina, karena hal tersebut merupakan cikal bakal keberhasilan untuk
mewujudkan terbentuknya remaja dan pemuda yang sejati. Karena apalah arti guru tanpa
adanya murid. Dan apalah yang dapat dikerjakan seorang murid tanpa adanya instruksi
dan bimbingan dari guru. Oleh karena itu, saling take and give akan membuahkan hasil
yang berarti.

HADIRIN RAHIMAKUMULLAH

Dan pada akhirnya, dapat kita simpulkan bersama bahwa jika semua ikhtiyar ini sudah kita
lakukan, mudah-mudahan remaja dan pemuda kita bisa menjadi tumpuan, harapan, dan
cita-cita bagi bangsa kita. Amin Ya Robbal Alamin.
Demikianlah yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan ada manfaatnya :















MEMBANGUN KARAKTER BANGSA PERSPEKTIF AL-
QURAN



} {

WAHAI PENCINTA AL-QURAN YANG DIRAHMATI OLEH ALLAH SWT

Albert Einstein, seorang ilmuan terbesar abad ke-20 menyatakan, Relegion without science
is lame and science without relegion is blind, agama tanpa ilmu adalah pincang dan ilmu
tanpa agama adalah buta. Kalimat ini menunjukkan bahwa, agama tidak hanya mendorong
studi ilmiah, tapi juga menjadikan riset ilmiah yang konklusif dan tepat guna, karena
didukung oleh kebenaran yang diungkapkan melalui agama. Alasannya adalah, karena
agama merupakan sumber tunggal yang menjadikan jawaban pasti dan akurat.
Selain daripada itu, kalimat ini juga menunjukkan bahwa membangun karakter bangsa
tanpa panduan agama tidak dapat berjalan dengan benar, tetapi justru membuang banyak
waktu dalam mencapai hasil tertentu, atau lebih buruk lagi, seringkali tidak memperoleh
bukti yang meyakinkan. Ketika Nabi sampai di Madinah, ia membuat sebuah perdaban baru
yang kemudian memunculkan pengertian bahwa Islam adalah sistem kepercayaan yang
sistemik, tidak hanya berdimensi theological, ritual, dan mistical tetapi juga berdimensi
moral dan intelektual.
Secara termonologi, Al-Quran adalah firman Allah SWT yang di turunkan kepada nabi
besar Muhammad saw, melalui wasilah malaikat jibril as untuk di syiarkan kepada umat
manusia yang salah satu fungsinya adalah huda linnaas petunjuk bagi suluruh umat
manusia di muka bumi ini. Said Nursi sebagai Renaissan of Islam menyatakan, Islam is the
father of all the science and al-Quran is the book of science, Islam adalah bapaknya seluruh
ilmu pengetahuan dan al-Quran adalah kitabnya ilmu pengetahuan. Oleh sebab itulah,
melalui penjelasan ini, maka pada kesempatan yang baik ini, kami akan membahas tentang
MEMBANGUN KEPRIBADIAN BANGSA PERSPEKTIF AL-QURAN dengan rujukan al-Quran
surat Ibrahim ayat 1 :

9 }
Artinya : Alif laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu
mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin
Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS.
Ibrahim)

HADIRIN RAHIMAKUMULLAH
Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, di dalam Tafsir al-Mishbah menjelaskan, bahwa
penjelasan tentang pentingnya al-Quran, disebutkan oleh Allah swt. dengan menggunakan
bentuk jamak untuk kata () yang berarti aneka gelap, sedang () dengan berbetuk
tunggal. Hal ini untuk mengisyaratkan bahwa kegelapan itu bermacam-
macam serta beraneka ragam dan sumbernya pun banyak. berbeda dengan an-nuur atau
cahaya yang menerangai dan tidak pernah memberi gelap.
Penjelasan tentang al-Quran sebagai penerang atau an-nuur, benar-benar menunjukkan
bahwa antara al-Quran dengan membangun karakter bangsa terdapat hubungan yang
saling mengikat. Malik bin Nabi di dalam kitabnya Intaj al-Mustasyriqin wa Atsaruhu fi al-
Firy al-Hadits, menulis Ilmu pengetahuan adalah sekumpulan masalah, serta sekumpulan
metode yang dipergunakan menuju tercapainya masalah tersebut. Ini menunjukkan
bahwa kemajuan membangun karakter bangsa tidak dapat dinilai dengan apa yang
dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur dengan wujudnya suatu iklim
yang dapat mendorong kemajuan pembangunan karakter bangsa itu termasuk al-Quran.
Al-Quran merupakan firman Allah yang tidak mengandung kontradiksi. Al-Quranlah kitab
yang telah diturunkan oleh Allah kepada utusannya sebagai petunjuk. Al-Quran adalah
kitab terakhir dan berada dalam penjagan Allah swt. Oleh sebab itu, membangun karakter
bangsa akan berkembang cepat hanya apabila dituntun oleh al-Quran, dan mengambil
kebenaran darinya. Karena, hanya dengan demikian membangun karakter
bangsa mengikuti jalan Allah. Ketika jalan yang bertentangan dengan agama diambil, para
ilmuan menyia-nyiakan waktu dan sumberdaya, serta menghalangi kemajuan membangun
karakter bangsa. Demikianlah menurut Harun Yahya dalam The Quran Leads the Way to
Science.
Lalu bagaimanakah dinamika keilmuan dalam menwujudkan kepribadian umat Islam saat
ini? Umat islam saat ini mengalami degradasi besar-besaran. Data Badan Penelitian
International menyebutkan, Israel yang notabene Yahudi dalam 1 juta penduduk memiliki
1600 pakar pengetahuan, Amerika yang notabene Nasrani dalam 1 juta penduduk memiliki
160 pakar pengetahuan. Sedangkan Indonesia yang notabene mayoritas muslim terbesar di
dunia, dalam 1 juta penduduk hanya memilki 65 pakar yang muslimnya hanya 6 orang.
Oleh karenanya, dalam bidang membangun karakter bangsa dan teknologi, kita masih jauh
tertinggal oleh bangsa-bangsa lain. Kita jauh tertinggal dengan Amerika yang Protestanis,
kita jauh tertinggal oleh Korea yang Konfusianis Taois, bahkan kita jauh tertinggal oleh
Jepang yang Budhis Taois. Padahal 14 abad yang lalu kita telah diperintahkan untuk
membaca dan membangun karakter bangsa. Bacalah al-Quran supaya hidup teratur,
bacalah alam supaya lahir karya-karya luhur, dan baca diri kita agar hidup tidak takabur,
sebab membaca dalam Islam harus dibarengi dengan serta diimbangi dengan :

Artinya : Dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan


Akan tetapi, untuk dapat memahami dengan jelas dan benar terhadap interpretasi dari
firman-firman Allah di dalam al-Quran, yang menjelaskan tentang korelasi antara al-
Quran dan meciptakan kepribadian bangsa, serta mengambil manfaat darinya untuk
menjadikannya sebagai contoh kepribadian bangsa, maka salah satu yang harus dilakukan
adalah dengan dapat memahami al-Quran secara tekstual terlebih dahulu, yakni
memahami al-Quran dari segi kebahasaan, dan bahasa al-Quran adalah bahasa Arab.
Sebagaimana Allah berfirman di dalam al-Quran surat Thaha ayat 113 :

{ 991 }
Artinya : Dan demikianlah Kami menurunkan Al Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah
menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka
bertakwa atau (agar) Al Quran itu menimbulkan pengajaran bagi mereka. (QS. Thaha)
HADIRIN RAHIMAKUMULLAH
Di dalam kitab Jami al-Bayan an Tawil al-Quran, Imam al-Thabari menjelaskan bahwa
yang dimaksud dengan firman Allah di atas adalah :

Artinya : Apa yang diperingatkan kepada mereka merupakan perintah Allah, hukuman-Nya,
dan ketetapan-ketetapannya terhadap umat-umat sebelum mereka.

Hadirin, memperhatikan penjelasan tersebut, maka jelaslah bahwa al-Quran benar-benar
merupakan landasan contoh kepribadian bangsa buat kita, hal ini juga bisa dilihat dari
ditemukanya kata-kata ilmu dalam berbagai bentuknya di dalam al-Quran yang terulang
sebanyak 854 kali supaya kita dapat belajar membangun pribadi yang dimaksud.
Pada akhirnya kami mengajakWahai saudara-saudaraku orang Semendo ayo kite jadikah
al-Quran kandik pedoman hidup, wahai saudara-saudaraku orang Sunda Hayu urang
sami-sami ngajanten keun al-Quran kanggo tuntunan kahirupan urang, wahai saudara-
saudaraku orang Lampung Lapah gham jadikon al-Quran sebagai pegungan ughi , wahai
saudar-saudaraku orang Solo Sumonggo kulo lan panjenengan dadosaken al-Quran kagem
tuntunangin gesang, wahai saudara-saudaraku orang Prancis Allez utilisez Ial-Quran
pour le guide de notre vivre, wahai saudara-saudaraku orang Jepang Jaa al-Quran wa wa
watashitachi no kyoukashou ni narimashoo.
Demikianlah yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan ada manfaatnya.


















TOLERANSI LINTAS AGAMA
DALAM MEMBANGUN INDONESIA YANG HARMONIS DAN
BERSAHAJA


Kerukunan berbangsa dan bernegara terusik oleh hadirnya intoleransi dalam kehidupan
beragama. Perusakan tempat ibadah umat agama lain yang terjadi di banyak tempat
menegaskan betapa toleransi lintas agama masih menjadi barang mahal nun langka di
negeri kita tercinta, Indonesia. Terlepas apa yang menjadi motif perusakan itu, kita sepakat
bahwa tindakan tersebut seharusnya tidak terjadi di negeri yang menjunjung tinggi
kerukunan dalam beragama. Bukankah anarkisme apalagi menyangkut agama yang
sangat sensitif justru menahbiskan nafsu kebinatangan yang selaiknya dibuang jauh-jauh
dari benak manusia.
Sepertinya, kita perlu melirik falsafah yang konon milik suku Bali (laalla ash-
shawb). Masjid adalah rumah kami, namun digunakan oleh saudara kami yang beragama
Islam. Begitu sikap mereka yang juga diterapkan kepada umat beragama selain Islam.
Ungkapan di atas menggambarkan betapa kerukunan antar umat beragama benar-benar
terlihat dalam keseharian mereka. Tidak ada sikap saling mencurigai apalagi saling
mengintimidasi. Justru, yang hadir di tengah-tengah kehidupan adalah kenyamanan dalam
keragaman. Inilah yang dalam istilah psikologi disebut get comfortable in paradox. Sebuah
kondisi jiwa yang mampu merasakan ketentraman meskipun berada di tengah paradoksal
kehidupan.
Berangkat dari paparan singkat di atas, dalam kesempatan ini, izinkanlah kami
membawakan pensyarahan Al-Qurn dengan judul: Toleransi Lintas Agama, dalam
Membangun Indonesia yang Harmonis dan Bersahaja, dengan landasan Al-Qurn
Surat al-Anm [6] ayat 108 dan Surat al-Mumtahanah [60] ayat 8.
Hadirin rahimakumullah,
Agama adalah perihal yang substansial dalam kehidupan manusia. Sejak pertama
terlahir ke dunia, manusia sudah terikat kontrak ilahiyah untuk mengabdikan diri kepada
Allh SWT. Inilah yang menjadikan manusia (selalu) mencari realitas kebenaran mutlak
yang pada akhirnya akan bertemu dengan Allh SWT. Namun, dalam praktiknya tidak
semua orang diberi hidayah untuk memeluk Islam sebagai agama yang paling diridhai.
Aneka agama yang hadir di tengah-tengah kehidupan adalah bukti ketidaktunggalan hasil
pencarian agama masing-masing insan. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam konteks ini
adalah kedewasaan sikap untuk tidak saling mencela sembahan umat agama lain. Berkaitan
dengan hal ini, Allh SWT berfirman dalam surat al-Anm ayat 108 yang berbunyi:



Artinya: Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain
Allh, karena mereka nanti akan memaki Allh dengan melampaui batas tanpa dasar
pengetahuan. Demikianlah, Kami Jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka.
Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan Memberitahukan kepada
mereka apa yang telah mereka kerjakan. (QS. al-Anm [6]: 108)

Hadirin rahimakumullah,
Mengenai ayat di atas, Ibnu Katsr menjelaskan bahwa Allh melarang umat Islam
untuk memaki tuhan orang-orang musyrik walaupun ada nilai kemaslahatan dalam makian
tersebut. Sebab, akan terdapat mafsadah/kerusakan yang lebih besar yaitu sikap mereka
yang memaki Tuhan orang-orang yang beriman. Dengan adanya larangan tersebut, sikap
saling menghargai antar pemeluk agama seharusnya ditampilkan dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Banyak perkara yang lebih besar yang sebenarnya dapat
diselesaikan bersama, dengan mengesampingkan latar belakang agama.
Tidak dapat dimungkiri bahwa Allh memerintahkan umat Islam untuk mengambil
jarak demarkatif dengan non-muslim. Betapapun demikian, menurut al-Ustdz asy-Syahd
Sayyid Quthb dalam kitabnya at-Tafsr fi Zhillil Qurn, Allh juga mengajarkan kepada
umat Islam agar dalam mengambil jarak tersebut dilakukan dengan beradap, penuh
wibawa, dan penuh harga diri. Hal ini adalah suatu sikap yang sesuai dengan statusnya
sebagai orang-orang yang beriman. Dalam konteks ini, nilai persamaan sebagai manusia
lebih dikedepankan. Sementara, agama boleh dikesampingkan dalam hubungan sosial
karena agama adalah wilayah individual.
Toleransi lintas agama adalah syarat mutlak untuk menjalin kerukunan di tengah
kehidupan bangsa yang beraneka ragam. Pluralitas sendiri sebenarnya adalah sebuah
keniscayaan yang sengaja diciptakan oleh Allh SWT. Dengan adanya keragaman,
khususnya dalam masalah agama, kedewasaan sikap menjadi tuntutan utama. Sebab, jika
hal itu diabaikan maka akan menimbulkan kekacauan (chaos) yang justru merusak tatanan
kehidupan. Dengan hadirnya toleransi yang dalam bahasa Arab dikenal dengan
istilah tasmuh, umat beragama dapat hidup rukun berdampingan.

Hadirin rahimakumullah,
Islam adalah agama yang diturunkan kepada seluruh umat manusia. Islam menjadi
rahmat bagi semua manusia dan semesta alam. Artinya, nilai-nilai kasih sayang dalam
Islam tidak hanya diperuntukkan bagi umat Islam an sich. Lebih dari itu, Islam adalah
agama yang sejak awal bertujuan menciptakan perdamaian dunia. Sikap saling menolong
(tawun), apalagi menyangkut kemaslahatan bersama, bukanlah hal mustahil untuk
dilakukan. Potret kehidupan yang rukun antara umat Islam dan non-muslim ketika Nabi
Muhammad SAW hidup di Madinah menjadi preseden terbaik untuk mengaplikasikan nilai
kerahmatan Islam.
Islam sebenarnya membuka keran yang lebar bagi umatnya untuk berbuat baik
kepada umat agama lain. Betapapun agama mereka berlainan, namun mereka tetaplah
makhluk ciptaan Tuhan yang berhak atas perlakuan baik selama hidup di dunia. Justru,
ketika umat Islam bersikap sinis kepada mereka akan menciderai substansi Islam itu
sendiri. Islam tidak menginginkan orang memeluk agama karena faktor keterpaksaan.
Bukankah sudah jelas bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Berkaitan dengan hal ini,
marilah kita simak firman Allh dalam surat al-Mumtahanah [60] ayat 8, yang berbunyi:



Artinya: Allh tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-
orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari
kampung halamanmu. Sesungguhnya Allh Mencintai orang-orang yang berlaku adil. (QS.
al-Mumtahanah [60]: 8)
Hadirin rahimakumullah,
Dalam Tafsir al-Jallain secara singkat diartikan bahwa dhamr hum dalam ayat di
atas bermakna al-kuffr (orang-orang kafir).



Demikian Ibnu Katsir menerangkan dalam kitab tafsirnya. Maksudnya adalah,
(Allh) tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik kepada orang-orang kafir yang tidak
berniat membunuh dalam agama dan tidak bersekongkol untuk mengusir umat
Islam. Sebagai gambarannya dapat kita cermati dalam kisah berikut. Asma binti Abu Bakar
ash-Shiddq menceritakan bahwa ibunya yang ketika itu masih musyrikah berkunjung
kepadanya, maka ia pergi menemui Rasulullah bertanya: Bolehkah saya menjalin
hubungan dengan ibu saya? Nabi (kemudian) menjawab: Ya! Jalinlah hubungan baik
dengannya. (HR. Bukhari-Muslim)
Kata tabarrhum (

) dalam ayat di atas, menurut M. Quraish Shihab dalam


Tafsir al-Mishbah, berasal dari kata al-birr yang artinya adalah kebajikan yang luas.
Dataran yang terhampar di persada bumi ini dinamai bar, karena luasnya. Dengan
pemahaman tersebut, tercermin izin (justifikasi) melakukan aneka kebajikan bagi non-
muslim, selama tidak membawa dampak buruk bagi umat Islam. Sebagai penegasan,
ternyata Islam membukan jalan untuk berbuatihsn kepada non-muslim. Kebaikan yang
dapat dilakukan sangatlah beragam sebagaimana penjelasan semantik di atas. Dengan
kebaikan yang disebarluaskan tersebut, toleransi akan dapat pula terwujudkan.
Selanjutnya, kata tuqsith (

), berasal dari kata al-qisth, yang berarti adalah


adil. Masih merujuk goresan tinta Quraish Shihab, pakar tafsir dan hukum, Ibnu Arabi
sampai kepada simpulan: Tidak melarang kamu memberi (se)bagian dari harta kamu
kepada mereka. Pertolongan yang boleh diberikan kepada non-muslim tidak hanya berupa
bantuan moril, tetapi dapat berbentuk materiil. Hal ini semakin membuka jalan untuk
bersama-sama berjuang mengentaskan kemiskinan bangsa. Lebih dari itu, konsepsi ini
berdampak positif terhadap kebersatuan bangsa dalam menciptakan perekonomian yang
adil dan berimbang.

Hadirin rahimakumullah,
Pentingnya membangun bangsa yang harmonis dan bersahaja seharusnya menjadi
kesadaran seluruh elemen bangsa. Dimana hal ini baru dapat diwujudkan ketika seluruh
elemen bangsa dapat berjabat-erat, bersatu-padu, bergandengan-tangan, mewujudkannya
dalam kehidupan bangsa yang ber-bhinneka tunggal ika. Sekat agama yang seringkali
dijadikan pembatas ekstrim hendaknya dihindarkan untuk kebaikan bersama demi
kemajuan bangsa. Dengan demikian, Indonesia akan benar-benar menjadi bangsa yang
harmonis dan bersahaja. Harmonis adalah arti hadirnya kerukunan di tengah
keberagaman. Bersahaja dalam pengertian, berpegang teguh terhadap moralitas dan patut
menjadi teladan bagi bangsa lainnya.
Mengutip apa yang dituliskan oleh Marwan Jafar dalam sebuah opini di Harian
Republika. Kita perlu kembali pada prinsip umum ajaran Islam (maqshid al-syarah)
tentang eksistensi agama lain, yakni pengakuan terhadap nilai-nilai kemanusian dan
keabsahan de facto dan de jure sebagai bagian integral dari sebuah komunitas. Hubungan
muslim dan pemeluk agama lain wajib dipandang sebagai anggota yang memiliki tanggung
jawab terhadap keutuhan komunitas. Dalam konteks ini, toleransi bukan lagi menjadi
sesuatu yang dirindukan namun sudah menjadi bagian kehidupan bangsa. Dengan
demikian maka keharmonisan dalam kehidupan beragama akan terwujudkan.

Hadirin rahimakumullah,
Simpulan yang dapat kita petik dari pensyarahan Al-Qurn di atas adalah sebagai
berikut. Pertama, di tengah kehidupan bangsa yang plural, toleransi menjadi pijakan utama
untuk merajut persatuan dan kesatuan. Ketika toleransi hilang dari tengah-tengah
kehidupan maka yang terjadi adalah sikap saling mencurigai yang berimbas pada
ketidaknyamanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedua, toleransi (tasmuh)
dalam konteks agama Islam adalah bagian dari cara untuk membumikan nilai kerahmatan
Islam kepada semesta alam. Ketika hal ini dapat terwujudkan maka kedamaian (peace) di
bumi tercinta Indonesia akan menjadi sajian utama.
Sebagai penutup, jika toleransi lintas agama dapat terjalin, impian untuk hidup di
tengah bangsa yang harmonis dan bersahaja insy Allh akan segera terwujudkan. Semoga
Allh memberikan kekuatan dan rahmat-Nya kepada kita.mn ya Mujba dui as-siln. []
Wallhu al-muwaffiq ila aqwami ath-tharq. Wa huwa al-hdiy ila shirthil mustaqm.
Keterangan: Naskah boleh digunakan untuk kepentingan apapun, khususnya Musbaqah
Syarhil Qurn dengan mencantumkan sumbernya. Jazakumullh























REMAJA DAN PEMUDA SEBAGAI GENERASI
PENERUS BANGSA



} {

Hadirin Yang Berbahagia .
Masa muda merupakan masa yang penuh dengan harapan, penuh dengan cita-cita dan
penuh dengan romantika kehidupan yang sangat indah. Keindahan masa muda dihiasi
dengan bentuk fisik yang masih kuat, berjalan masih cepat, pendengaran masih akurat,
pikiran masih cermat, kulit wajah indah mengkilat, walaupun banyak jarawat, tetapi tidak
gawat karena masih banyak obat ditoko-toko terdekat, oleh karena itu pantas bila para
pemuda dan para remaja merupakan salah satu penentu maju dan mundurnya suatu
Negara.
Sebab terbukti sejak dahulu kala hingga saat ini dan sampai yang akan datang sesuai
dengan fitrohnya pemuda dan remaja merupakan tulang punggung suatu Negara, penerus
estafet perjuangan terhadap bangsanya. Sebagaimana syekh Mustofa al-Ghalayaini seorang
pujangga Mesir berkata :

Sesungguihnya pada tangan-tangan pemudalah urusan umat dan pada kaki-kaki merekalah
terdapat kehidupan umat
Mengingat betapa pentingnya remaja dan pemuda sebagai generasi penerus bangsa, maka
pada kesempatan yang baik ini kami akan mengangkat tema mengenai Remaja Dan
Pemuda Sebagai Generasi Penerus Bangsa , dengan landasan al-Quran surat an-Nisa
ayat : 9


Artinya : Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)
mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar

Hadirin Maasyiral Muslimin Rakhimakumullah..
Imam Hafidz 'Imaduddin Abu Alfida Ibnu katsir dalam tafsir Alquranul 'Adhim
menyebutkan bahwa menurut riwayat Ibnu Abbas ayat ini turun berkenaan dengan
seorang orang tua yang mewasiatkan kepada anaknya wasiat yang akan membawa
kemudaratan bagi dia. Maka Alah Swt. Memerintahkan kepadanya untuk merubah
wasiatnya kepada ketakwaan kepada Allah dan kebaikan.
Hadirin, jika kita kaji lebih mendalam, ayat tersebut diawali dengan kalimat , secara
semantik :

Istinbatnya, adalah sighat amr, kaedah mengatakan :

pada dasanya setiap perintah menunjukkan kewajiban
Menurut ayat diatas jelas - jelas Allah swt memperingatkan manusia supaya tidak
meninggalkan generasi penerus yang lemah baik fisik, mental ataupun intelektual, karna
ini biasa menyebabkan kemunduran. Apabila generasi muda yang ada sekarang maupun
yang akan datang mempunyai kelemahan dalam hal-hal tersebut. Maka bisa dipastikan
mereka mudah terhanyut dalam gelombang bencana kemerosotan moral yang disebabkan
oleh pergaulan yang semakin bebas serta penyalahgunaan media, karna modal utama
mereka dalam membentengi diri dari bencana tersebut adalah tingkat intelektualitas serta
pemahaman manfaat dan mudharat dari sebuah pergaulan dan media sehingga hal ini
biasa memudahkan remaja dan pemuda dalam proses filtralisasi budaya sehingga mereka
terbebas dari taqlid buta alias terbebas dari budaya ikut-ikutan.Oleh karena itu wajib bagi
kami, saya, saudara dan kita semua merasa takut jika meninggalkan anak-anak, keturunan
dan generasi yang lemah.

Prof. Dr. BJ. Habibi mengatakan setidaknya ada lima kelamahan yang harus kita hindari,
yakni lemah harta, lemah fisik, lemah ilmu, lemah semangat hidup, dan yang sangat
ditakutkan adalah lemah akhlak. Hadirin jika lima kelemahan ini melekat pada generasi-
generasi remaja dan pemuda kita, saya yakin mereka bukan sebagai pelopor pembangunan
melainkan sebagai firus pembangunan, penghambat pembangunan, bahkan penghancur
pembangunan. Padahal hadirin. dinegeri tercinta ini sejarah telah membuktikan sejak
tahun 1908 masa kebangkitan nasional sampai menjelang detik-detik proklamasi
dikumandangkan berbagai organisasi kepemudaan, seperti persatuan pelajar stofia,
Trikoro Dharmo, Jong Islamanten Bond bahkan kita mengenal Budi Utomo tokoh pemuda
kharismatik, mereka semua menjadi The Grand Old Man istilah bung Karno menjadi Stood
Geeber bahkan menjadi The Founding Father pendiri, penggerak yang mampu merebut
kemerdekaan.
Sejarah tersebut mengajarkan kepada kita semua selaku remaja dan pemuda saat ini dan
yang akan datang agar memiliki semangat juang yang tinggi serta tanggung jawab yang
penuh terhadap kelangsungan Nusa Bangsa dan Agama yang kita anut saat ini, sebab
The Young today is The leader tomorrow pemuda hari ini adalah jago-jagonya
pemimpin yang akan datang.
Sebagai contoh bagi remaja dan pemuda sebagai generasi penerus bangsa, mari kita
renungkan firman Allah swt dalam al-Quran surat al-Kahfi ayat : 13
Artinya : Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita Ini dengan benar. Sesungguhnya
mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula
untuk mereka petunjuk.

Hadirin Maasyiral Muslimin Rakhimakumullah .
Imam Ali as-Shabuni dalam kitab Sofwatut tafasir memberikan syarahan terhadap ayat
tersebut dengan redaksi :

yaitu kami kisahkan kepadamu wahai Muhammad berita aneh mereka menurut perjalanan
yang benar tidak ditambah dan tidak dikurangi sedikitpun.
Dengan demikian, ayat tersebut merupakan khabariyyah ilahiyyah, suatu berita dari Allah
swt. Isi beritanya adalah kisah tentang pemuda Ashabul Kahfi. Ashabul kahfi dapat kita
jadikan uswah, terutama bagi remaja dan pemuda selaku generasi penerus bangsa. Ashabul
kahfi merupakan symbol personifikasi pemuda-pemuda beriman dan teguh pendirian, kuat
mempertahankan iman, pemuda-pemuda gagah yang pandai pempertahankan akidah dan
pemuda-pemuda idaman pintar membela keyakinan. Mereka lebih baik mati berkalang
tanah dari pada mati bercermin bangkai.
Oleh sebab itu sebagai remaja dan pemuda selaku generasi penerus bangsa mari kita
singsingkan tangan, langkahkan kaki ke depan berkerja, berkerja dan berkerja. Jika sikap
ini yang diaplikasikan oleh para remaja dan pemuda kita maka Allah akan menjamin
keberkahan bagi bangsa kita tercinta ini. Sebagaimana Dr. Muhammad Sulaiman al-Asqori
dalam zubdat at-Tafsir min Fathil Qadir menjelaskan berkerjalah sesuai dengan
skil masing-masing. Setidaknya ada lima olah yang harus kita kerjakan yakni olah rasa agar
iman melekat, olah rasio agar ilmu meningkat, oleh raga agar badan sehat, oleh usaha agar
ekonomi kuat, dan oleh kinerja agar produktifitas meningkat. Hadirin jikalau lima potensi
ini sudah melakat pada remaja dan pemuda sebagai generasi bangsa maka generasi
penerus bangsa dapat melanjutkan estafet perjuangan yang meraih prestasi gemilang pada
masa yang akan datang.

Hadirin Maasyiral Muslimin Rakhimakumullah .
Dari uraian tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa pemuda merupakan penerus
estafet perjuangan bangsanya maka soyogyanya pemuda harus memiliki semangat juang
yang tinggi serta tanggung jawab yang penuh terhadap kelangsungan Nusa, Bangsa dan
Agam. Hal ini juga menjadi tanggung jawab kita bersama sapaya tidak meninggalkan
generasi penerus yang lemah baik fisik, mental ataupun intelektual.

Hadirin Yang Berbahagia,
Hidup Sendiri tanpa seorang Kekasih
Cukup sekian dan Terimakasih.