Anda di halaman 1dari 151

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU


POLITIK
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI




PENYUSUN:
Y U S A R


i

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum Warrahmatulahi Wabarakatuh

Alhamdulilahi Robbil Alamin, segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT
yang telah melimpahkan taufik, hidayah, dan inayah-Nya kepada diri tim
penulis sehingga dapat menyusun naskah Modul Sosiologi Remaja untuk
Bidang Ilmu Sosiologi.
Penulisan modul ini ini dimaksudkan sebagai upaya untuk memenuhi
pengayaan bahan ajar, khususnya dalam Mata Kuliah Sosiologi Remaja.
Dalam penyusunan modul ini, tim penulis menerima banyak bantuan,
bimbingan, dorongan atau motivasi, sehingga naskah modul ini dapat
terwujud. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, dengan penuh kerendahan
hati izinkanlah penulis menyampaikan penghargaan, rasa hormat, dan terim
kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan
dukungan moril maupun pemikiran dan support rujukan yang sangat berguna
bagi penulis. Ungkapan terima kasih dan penghargaan khususnya penulis
sampaikan kepada:
1. Yang saya banggakan, para mahasiswa Program Studi Sosiologi,
khususnya peserta Mata Kuliah Sosiologi Remaja
2. Segenap Civitas Akademika di lingkungan Program Studi Sosiologi
FISIP-Unpad
3. Kepada para ilmuwan sosiologi yang menaruh perhatian kepada
pengkajian kehidupan remaja, teorisi terdahulu yag menyumbangkan
teori-teori sosiologi yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas
karya-karyanya yang telah terpublikasikan.
Semoga Allah SWT membalas kebaikan dan ketulusan semua pihak.
ii

Akhir kata, semoga Modul Ajar Mata Kuliah Sosiologi Remaja ini
dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi mahasiswa dan pihak-pihak
yang memerlukannya. Amin yaa Robbal Alamin ..
Alhamdulillahi Robbil Alamin,
Wassalamualaikum Warrahmatulahi Wabarakatuh

Bandung, Maret 2014

Tim Penyusun











KEGIATAN BELAJAR 1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA
-1

KEGIATAN BELAJAR 1 : KONSEP DASAR MENGENAI REMAJA

Kajian mengenai kehidupan remaja dapat dikatakan masih jarang
dikaji oleh para ahli sosiologi. Para ahli sosiologi lebih banyak
memandang masyarakat secara umum; dan seringkali mengandaikan
bahwa masyarakat adalah dunia orang dewasa. Jika ditelaah lebih lanjut,
masyarakat dalam ranah kognisi para ilmuwan adalah orang dewasa
berjenis kelamin laki-laki. Dalam hal ini, cara pandang para ahli adalah
melihat pada berbagai jenis sistem, dunia sosial, atau interaksi yang
terjadi dalam ranah dunia orang dewasa. Adapun kajian mengenai
kehidupan remaja seringkali dinyatakan sebagai ranah kajian psikologi,
khususnya psikologi perkembangan.
Sosiologi remaja hadir guna mengisi minat kajian para sosiolog,
sekaligus juga mengiringi perkembangan kehidupan remaja yang kian
berkembang. Konsep-konsep dasar mengenai remaja dan kenyataan
yang melingkupinya perlu diterangkan pada awal materi. Oleh karena itu,
pada Kegiatan Belajar 1, modul ini berisi hal-hal yang sangat mendasar
mengenai konsep remaja.
Susunan dari modul Kegiatan Belajar I ini adalah sebagai berikut:
I. PENGERTIAN REMAJA
A. Remaja
1. Batasan Fisik-Usia
2. Status, Peran, dan Hubungan Dependen Terhadap
Keluarga
B. Remaja: Sifat Alamiah dan Konstruksi Sosial
C. Remaja Sebagai Subbagian Dari Masyarakat
II. RIWAYAT SOSIOLOGI REMAJA
III. LANDASAN ILMIAH DALAM SOSIOLOGI REMAJA
IV. BERPIKIR GLOBAL DAN LOKAL
V. RINGKASAN
VI. LATIHAN SOAL
-2

Kegiatan Belajar 1 ini dimaksudkan untuk membuka pandangan
mahasiswa dalam memandang remaja. Diharapkan mahasiswa mendapat
pandangan kebaruan dan mampu secara jernih memahami remaja dari
aspek sosiologis. Selain membuka pandangan mahasiswa, Kegiatan
Belajar 1 pun berupaya mendudukkan kajian remaja dalam ranah
sosiologi, yakni remaja sebagai konstruksi sosial daripada memandang
remaja dari sisi biologis (umur), perkembangan kejiwaan individu, ataupun
isu kenakalan remaja semata.
Guna menambah wawasan dan pengetahuan, pada Kegiatan
Belajar 1 ini ditambahkan juga subbagian mengenai berpikir global dan
lokal. Tidak dapat dihindari bahwa kehidupan remaja adalah bagian dari
globalisasi dan globalisme sekaligus menjadi perhatian di tingkat lokal.
Oleh karenanya, subbagian ini menjadi penghubung antara mahasiswa
dengan kondisi di tingkat global dan juga lokal.


KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-1

I. PENGERTIAN REMAJA
A. Remaja
Setiap manusia yang berusia dewasa pasti mengalami masa
remaja. Setiap hari jutaan remaja di berbagai wilayah di muka bumi ini
melakukan aktivitasnya sehari-hari dengan cara yang sama ataupun
berbeda. Remaja laki-laki maupun remaja perempuan hidup dalam
suasana sosial yang membedakan mereka dari golongan usia di atas dan
di bawahnya. Fenomena remaja merefleksikan adanya suatu golongan
yang berdiri sendiri sekaligus terikat dengan lingkungan sosial di
sekitarnya.
Kajian mengenai remaja masih sangat minim diminati oleh para
ahli sosial, khususnya sosiologi. Umumnya para ahli sosiologi lebih tertarik
untuk mengkaji hal-hal yang makro, yakni keseluruhan struktur ataupun
institusi yang diasumsikan sebagai dunia manusia dewasa. Dalam konteks
pembangunan suatu masyarakat, kajian mengenai remaja dapat dikatakan
strategis, karena diasumsikan remaja memiliki waktu dan kesempatan
yang lebih panjang ketimbang golongan usia di atasnya (Yusar, 2009). Hal
ini dapat dipahami, bahwasanya para ahli sosiologi umumnya telah
berusia dewasa; sehingga minat untuk mempelajari remaja menjadi
minim, lebih larut pada alam pemikiran dewasa yang dimiliki oleh para ahli
tersebut. Oleh karena itu terdapat suatu bias paradigma bahwa
masyarakat adalah satu kesatuan utuh yang terdiri dari manusia dewasa.
Beberapa konsep mengenai remaja seringkali tidak dapat
dipisahkan dari suatu naungan yang diistilahkan sebagai kaum muda
(youth). Batasan mengenai remaja sendiri memiliki setidaknya 2 (dua)
sudut pandang, yakni batasan secara fisik-usia, dan hubungan dengan
generasi di atasnya dalam konteks satu keluarga. Adapun batasan-
batasan tersebut diuraikan sebagai berikut:
KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-2

1. Batasan Fisik-Usia
a. WHO (1989) menyatakan bahwa remaja adalah golongan
manusia berusia 10-19 tahun, kaum muda adalah manusia
dengan golongan usia 15-24; dan usia muda adalah manusia
berusia 10-24 tahun.
b. Kartono (1990) menyatakan bahwa remaja adalah golongan
manusia berumur 12-21 tahun, yang terdiri atas remaja awal
(12-15 tahun); remaja pertengahan (15-18 tahun); dan remaja
akhir (18-21 tahun)
c. United Nations - Division for Social Policy and Development
(1995; dalam Yusar, 2001) adalah golongan berusia 15-24
tahun. Kaum muda atau youth age itu sendiri terbagi atas dua
golongan, yaitu teenagers (13-19 tahun) dan young adults (20-
24 tahun).
d. Kemenkes RI (2010) menyatakan bahwa remaja adalah
golongan manusia berumur 10-19 tahun dan belum kawin.
e. UNESCO (2010) menyatakan bahwa remaja adalah kelompok
manusia yang berusia 15-35 tahun
Dari batasan di atas, terdapat suatu kecenderungan yang dinamis
dalam mengkonsepsikan usia remaja. Dinamika tersebut juga
menunjukkan adanya pergeseran usia remaja, terutama dari usia 20an
menjadi 30an.

2. Status, Peran, dan Hubungan Dependen Terhadap Keluarga
a. Andres dan Wynn (2010), remaja adalah golongan berusia
muda yang masih menetap, tdak memiliki keluarga batih sendiri,
dan masih bergantung kepada orang tuanya
KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-3

b. Yusar (2012), remaja merupakan golongan berusia muda
dengan pola-pola produksinya berada di tangan orang tua.
Batasan tersebut di atas, merupakan kelanjutan secara kualitatif
terhadap pergeseran umur remaja. Oleh karena itu, pandangannya
lebih diarahkan pada pola-pola produksi, yakni remaja adalah
golongan yang tidak memiliki posisi dalam pola-pola produksi.
Berbeda dengan masa lalu, hingga tahun 1930an, di dunia barat,
setiap manusia hanya memiliki masa remaja yang singkat. Pada usia 12-
15 tahun, setelah lulus dari sekolah lanjutan, dalam life-spannya, pada
usia 16 tahun, manusia telah memiliki peran-peran dalam produksi dan
menikah pada usia sekitar 18 tahun. Bagaimana dengan di Indonesia,
hingga tahun 1980an, usia kawin pertama umumnya bagi kelas menengah
adalah 20 tahun. Dengan demikian, masa remaja hanya dijalani selama 4-
8 tahun saja. Keluarga dari seorang perempuan yang berusia 15-16 pada
tahun 1950an, mulai merasa waswas dan khawatir anak gadis mereka
tidak mendapat jodoh. Baik keluarga maupun si gadis merasa cemas
mendapat predikat jomblo dari lingkungan sekitarnya. Namun kini, banyak
manusia berusia di atas 25 tahun yang tidak lagi merasa cemas atau
bahkan tidak memiliki bayangan untuk menikah. Berbagai faktor penyebab
perlu diidentifikasi atas terjadinya pergeseran tersebut. Bagaimana
dengan masa kekinian? Diasumsikan masa remaja lebih panjang daripada
masa sebelumnya, karena berbagai hal yang akan dikaji lebih jauh dalam
bab-bab berikutnya. Perhatikan diagram I.1. berikut mengenai lama waktu
remaja yang dialami oleh laki-laki dan perempuan berdasar periode.




KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-4

Diagram I.1.
Durasi Masa Remaja Antara Laki-laki dan Perempuan Berdasar
Periode Tahun
sumber: disarikan dari berbagai sumber

Dalam meninjau kehidupan remaja, perlu dipahami bahwa remaja
bukanlah sesuatu yang tunggal. Corak hidup remaja sangat beragam dan
dapat diperhatikan dalam berbagai cara untuk membedakan golongan-
golongan kaum muda. Secara subyektif remaja memberi ciri dalam
kehidupannya dengan membentuk nilai-nilai, ide-ide, ritual-ritual, simbol-
simbol, kebiasaan-kebiasaan, dan sistem kepercayaan. Karena itu perlu
mempelajari perbedaan pola-pola kehidupan, pilihan, dan selera yang
menegaskan perbedaan golongan-golongan kaum muda (Clarke et al.,
1975; dalam Yusar, 2012).



0
2
4
6
8
10
12
14
16
1931-1950 1951-1970 1971-1990 1991-2010
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-5

B. REMAJA: SIFAT ALAMIAH DAN KONSTRUKSI SOSIAL
Sungguhpun kajian mengenai remaja merupakan kajian yang relatif
baru dalam sosiologi, bukan berarti pada masa lalu tidak terdapat remaja.
Ditilik melakui rentang waktu, remaja pada masa kekinian memiliki corak
kehidupan yang relatif berbeda dengan masa sebelumnya. Sungguhpun
demikian, dalam mengkaji remaja dapat dikategorikan pada dua aspek
besar, yakni sifat alamiah dan konstruksi sosial, sebagai berikut:
1. Sifat Alamiah
Remaja merupakan usia di mana hormon-hormon reproduksi mulai
berjalan. Di sini terdapat perkembangan hormon genital yang
menjadikan laki-laki dan perempuan, secara fisik tampak berbeda.
Sifat alamiah remaja dapat ditelusuri melalui pendekatan anatomi,
faal tubuh, dan juga psikologi (klinis).
2. Konstruksi Sosial
Dalam melihat remaja sebagai konstruksi sosial, terdapat 5 cara
pandang/paradigma yang umum dalam sosiologi, yakni:
a. Fakta Sosial (Struktural Fungsional dan Konflik)
Keberadaan remaja tidak dapat dipisahkan dari cara pandang
masyarakat terhadap pola-pola produksi dan reproduksi yang
terdapat dalam masyarakat itu sendiri. Dalam hal ini, remaja
merupakan hasil dari alam pikiran manusia untuk menyatakan
suatu golongan tertentu yang memiliki status dan perannya
yang khas dalam masyarakat. Remaja menjadi berbeda karena
adanya sistem yang mengharuskan mereka menjadi remaja.
Pembentukan golongan remaja dapat disebabkan karena
adanya struktur dan fungsi-fungsi golongan dalam masyarakat,
atau karena adanya pertentangan yang dipandang terjadi dalam
masyarakat tersebut.
KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-6

b. Definisi Sosial
Masa pencarian jati diri adalah sebuah proses konstruksi sosial
yang ditentukan oleh masyarakat guna menyiapkan remaja
menjadi dewasa. Dalam proses pencarian jati diri tersebut juga,
remaja mengkonstruksikan berbagai cara/teknis guna
menggambarkan dirinya dengan tepat. Pencarian jati diri
tersebut secara ringkas merupakan interrelasi antara seorang
individu remaja dengan kelompok masyarakatnya yang lebih
besar.
Konstruksi sosial juga dibangun oleh remaja kekinian untuk
memandang dirinya. Remaja dipandang memiliki otonomi yang
luas untuk menjalani dan mengembangkan hidup yang berbeda
dengan golongan lainnya.
c. Perilaku Sosial (Behavioralisme)
Remaja melakukan pengulangan aktivitas hidupnya yang ia nilai
berharga/bermanfaat. Pengulangan aktivitas tersebut
dikarenakan ia berinteraksi dengan berbagai tipe individu
remaja lain dan mengambil keputusan untuk melakukan
pengulangan aktivitas hidup yang dipandang paling sesuai bagi
dirinya.
d. Kritik
Pandangan kritik lebih serupa dengan fakta sosial, namun lebih
emansipatoris. Pandangan ini memandang bahwa remaja
digerakkan oleh suatu sistem yang memaksa mereka untuk
tunduk dan berlaku seperti yang diharapkan oleh sistem,
dengan mengabaikan kehendak bebas dan menjadi bentuk
perbudakan yang lebih halus karena adanya komodifikasi
budaya.
KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-7

e. Postmodern
Memandang bahwa remaja berada dalam kekangan sistem dan
mencari jalan keluar dengan membentuk gaya-gaya remaja
baru ataupun pengulangan dari masa lalu yang dicampur
dengan masa kekinian. Remaja terbentuk secara sosial karena
modernisme pada akhirnya gagal memenuhi janji
modernitasnya.

C. REMAJA SEBAGAI SUBBAGIAN DARI MASYARAKAT
Mengacu pada Harris dan Moran (1996; dalam Mulyana dan
Rahmat, 1997), dalam setiap masyarakat selalu terdapat sub-
submasyarakat yang memiliki pola kehidupan yang berbeda dari
keseluruhan masyarakat tersebut. Dari sub-sub masyarakat tersebut
terdapat dari mikro-mikro masyarakat yang juga memiliki pola kehidupan
yang berlainan daripada sub-sub masyarakat di atas. Meski berbeda, baik
submasyarakat maupun mikromasyarakat merupakan satu kesatuan
dalam struktur sebuah masyarakat . Dalam kaitannya dengan remaja,
dapat dikatakan bahwa remaja merupakan sub dari sebuah masyarakat,
dan dalam kehidupan remaja tersebut, terdapat pola-pola mikro
masyarakat. Seperti dalam ilustrasi pada gambar I.1. di bawah.












KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-8

Gambar I.1.
Remaja Dan Masyarakat


Sumber: dailymail.co.uk

Pada gambar di atas, remaja merupakan bagian dari masyarakat.
Refleksikan pada diri Anda, benarkah Anda merupakan bagian dari
masyarakat yang lebih luas? Meski tidak disadari dan seringkali seorang
remaja tidak berinteraksi dengan unsur masyarakat, dalam komposisi
penduduk, remaja tetaplah bagian dari masyarakat yang lebih luas. Jika
disusun dalam skema maka remaja sebagai bagian dari masyarakat dapat
dilihat seperti pada gambar I.2. sebagai berikut:







KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-9

Gambar I.2.
Ilustrasi Masyarakat-Submasyarakat-Mikromasyarakat-Individu















Pertanyaan kemudian muncul, mengapa perlu menaruh perhatian
terhadap kehidupan sosial kaum remaja? Sebelum menjawab pertanyaan
tersebut, perlu kita perhatikan komposisi penduduk dunia berdasarkan
usia. Berdasar data profil demografi, penduduk dunia pada awal tahun
2013 berjumlah 6,77 milyar jiwa, dengan jumlah penduduk berusia remaja
sebanyak 1,19 milyar jiwa. Seperti tertuang dalam tabel I.1 berikut





Masyarakat Luas
Submasyarakat
(golongan remaja)
Subgolongan remaja
Sub dari
subgolongan
remaja
Individu
remaja
KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-10

Tabel I.1.
Komposisi Penduduk Dunia Tahun 2013 Berdasar Usia
Struktur
Usia
(tahun)
Laki-laki Perempuan Jumlah Persentase
Dari Populasi
Dunia
0 14 953.496.513 890.372.474 1.843.868.987 26
15 24 614.574.689 579.810.490 1.194,385.179 16,8
25 54 1.454.831.900 1.426.721.773 2.881.553.673 40,6
64 291.435.881 305.185.398 596.621.279 8,4
>65 257.035.416 321.753.746 257.035.416 8,2
Total 3.571.374.399 3.202.090.135 6.773.464.534 100
Sumber: World Population Profile, 2013

Dari 1,19 milyar tersebut kelak akan menggantikan golongan usia di
atasnya dalam memelihara bumi. Ditambah dengan naiknya usia dari
golongan di bawahnya (struktur usia 0 14 tahun), hal ini tidak dapat
diabaikan begitu saja, karena remaja merupakan penerus kehidupan
manusia di muka bumi ini. Tentu tidak dapat dipungkiri bahwa dari 1,19
milyar jiwa remaja tersebut tidak memiliki pola kehidupan yang sama.
Sangat mungkin terjadi berbagai perbedaan dalam kehidupan remaja,
berkait dengan struktur sosial, institusi, stratifikasi, dan juga cara hidup.
Meskipun demikian Abercrombie dan Ward (1988; dalam Yusar, 2012)
menyatakan bahwa secara umum, kehidupan remaja dapat
diklasifikasikan pada tiga ciri utama, yakni:
1. Pertemanan sebaya
2. Maraknya budaya santai yang tidak bekerja/tidak produktif.
3. Adanya kepedulian terhadap gaya
Ketiga ciri nomotetik tersebut dapat dijadikan pedoman dalam mengkaji
remaja secara sosiologis. Sungguhpun bersifat nomotetik, sangat terbuka
adanya kemungkinan fenomena ideografik berkait dengan perbedaan-
perbedaan pada lingkup pertemanan sebaya, budaya santai yang masing-
KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-11

masing berbeda, dan juga perbedaan dalam gaya. Seperti ilustrasi berikut
dalam tabel I.2.
Tabel I.2.
Nomotetik dan Ideografik Pada Kehidupan Remaja
Nomotetik Ideografik
Pertemanan
sebaya
Banyak-
sedikit
Sama
strata
atau
lintas
strata
Sama
atau
beda
jenis
kelamin
Seumur
atau tidak
Terhubung
secara
emosional
atau tidak
Sama etnis
atau tidak
Budaya
santai
Bermain
di mall
Bermain
di
jalanan
Bermain
game
online
Penyendiri Groovy Menganggur
Gaya Punk Dandy Religius Nerd Gothik Hip-hop
Sumber: Disarikan dari berbagai sumber

II. RIWAYAT SOSIOLOGI REMAJA
Pada awalnya sosiologi remaja tidak merupakan suatu bagian
tersendiri namun berada di bawah kajian sosiologi keluarga. Pada tataran
tertentu, terdapat kaitan yang erat antara keluarga dengan remaja dari
perspektif sosiologi, jika dilihat dari batasan-batasan yang tertuang pada
subbagian awal dari modul ini. Banyak kajian mengenai remaja yang
berperspektif psikologi sosial dan juga masalah sosial. Kedua perspektif
tersebut mendominasi kajian-kajian mengenai remaja. Dominasi tersebut
ditunjukkan dengan banyaknya tulisan ilmiah mengenai psikologi
perkembangan remaja dan masalah kenakalan-kenakalan remaja.
Sungguhpun demikian, perkembangan remaja dan kenakalan-kenakalan
remaja hanyalah salah satu aspek dalam kehidupan sosial kaum remaja.
Perkembangan masyarakat kontemporer memberikan makna
tersendiri bagi pengembangan keilmuan (state of the art), khususnya
dalam sosiologi. Terdapat kecenderungan untuk mengkaji remaja melalui
paradigm-paradigma dalam sosiologi dan melepaskannya dari naungan
sosiologi keluarga. Sejak tahun 1980 hingga kini, upaya dalam mengkaji
KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-12

kehidupan remaja semakin banyak dilakukan terutama berkaitan dengan
globalisasi dan media. Terlebih situasi masyarakat pasca Perang Dunia II
yang memiliki harapan yang sama bagi kaum muda, yakni sekolah dan
bekerja. Adapun para sosiolog lainnya, memandang bahwa remaja
memiliki keunikan hidupnya karena waktu senggang yang mereka miliki.
Dari waktu senggang tersebut, interaksi yang khas, bakat-bakat kreatif,
dan penciptaan-penciptaan hidup baru semakin terbuka dan mendorong
remaja untuk semakin otonom dalam mengatur hidupnya (Videnovica,
2010). Dalam penelitian mengenai remaja, waktu luang merupakan issue
penting karena berkaitan pula dengan perilaku beresiko. Beberapa kajian
menunjukkan keterkaitan pemanfaatan waktu luang dengan perilaku
menyimpang (devian), seperti penyalahgunaan alkohol, narkotika,
kekerasan, dan lain sebagainya (Hawdon, 1999; Hirschi, 2002; Osgood
dan Anderson, 2004). Saat waktu yang digunakan untuk aktivitas sekolah
dan/atau keluarga dipandang sebagai faktor protektif, di sisi lain,
longgarnya struktur dalam pertemanan sebaya tanpa pengawasan orang
tua, khususnya dalam penggunaan waktu luang yang tidak jelas
tujuannya, hal ini dipandang sebagai faktor beresiko (Barnes et al, 2007).
Untuk memberi kesan bahwa kaum muda merupakan suatu
golongan yang berbeda, membutuhkan pembuktian melalui susunan
karakteristiknya yang dimiliki oleh suatu golongan tersebut, meliputi :
1. Estetika, kaum muda memiliki sebuah perbedaan gaya dan selera
yang menampilkan personal appearance dirinya dan suatu bakat
artistik yang tertampilkan secara kreatif dan spontanitas. Nilai-nilai
yang mereka anut termasuk mencakupi tekanan pada kelompoknya,
sebuah rasa kepemilikan dan secara kolektif membagi kesenangan.
Keberadaan budaya kaum muda juga diperlihatkan karena
perbedaannya atas budaya yang lain.
KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-13

2. Moralitas, merupakan tekanan yang sangat kuat dalam pembebasan
terhadap berbagai pengekangan dan atas sebuah kesalahan yang
berkaitan dengan pencarian kesenangan. Dalam wilayah seksualitas
dapat ditemukan sebuah aspek kehidupan yang mana individu untuk
menampilkan dirinya dan orang lain dengan sebuah kebebasan dan
kejujuran yang utuh. Terdapat sebuah kombinasi antara individualisme
(budaya kaum muda menegaskan otonomi dari tiap-tiap individu yang
memiliki hak untuk bertingkahlaku menurut caranya) dan
kolektivisme (individu-individu tergabung ke dalam sebuah
pengalaman bersama). Intinya adalah pada pencarian identitas diri.
(Tittley, 1999; dalam Yusar, 2012).
Perbedaan remaja terhadap generasi di atasnya juga dicirikan
karena industrialisasi dan faktor hubungan sosial baru pada masyarakat
modern. Industrialisasi dan faktor-faktor hubungan sosial-psikologi pada
masyarakat industri modern menyebabkan terbentuknya fenomena
subkultur-subkultur kaum muda untuk beberapa argumen berikut :
1. Ketajaman division of labour (pembagian kerja) memisahkan
keluarga dari proses-proses produksi modern dan administrasi.
Dengan revolusi di bidang industri, timbul sebuah struktur institusi
yang menyediakan ruangan bagi kaum muda.
2. Dengan pembagian tenaga kerja, muncul sebuah peningkatan
spesialisasi yang membawa individu memerlukan pendidikan.
Kaum muda terpisah dari proses-proses industri oleh hukum
ketenagakerjaan anak-anak.
3. Peningkatan mutu obat-obatan modern dan nutrisi menuntun pada
meningkatnya jumlah kaum muda.
4. Peningkatan kompleksitas masyarakat modern berarti bahwa
perbedaan individu-individu menuntun pada kehidupan yang sangat
KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-14

berlainan satu sama lain. Hal ini menyebabkan kaum muda menjadi
mandiri dan berkuasa penuh membentuk norma-norma dan pola-
pola perilaku yang terbebas dari orang dewasa.
5. Sosialisasi dalam masyarakat modern terkarakterisasi oleh
tingginya derajat ketidak berlanjutan dan ketidaktetapan. Hal
tersebut menghasilkan individu yang tidak secara baik terintegrasi
dan suatu periode waktu dibutuhkan mereka untuk mampu
menyempurnakan proses sosialisasi - suatu periode untuk
menemukan jati dirinya, termasuk kenakalan dan kejahatan (Tittley,
1999; dalam Yusar, 2012).
Menurut Marx (1968), kaum muda seringkali tersisihkan dari
masyarakat luas karena mereka menempati posisi marjinal atau
teralienasi dalam konteks kapital. Epstein (1998) melihat bahwa kaum
muda saat ini tengah teralienisasi dari kegiatan produksi. Epstein (1998)
kemudian melanjutkan bahwa ada dua sisi yang mengkategorisasikan
alienisasi tersebut, yaitu :
1. pandangan struktural, dikarenakan oleh suatu masyarakat telah
tersusun berdasarkan posisi struktur golongan yang dapat terlihat
dalam masyarakat. Dalam pandangan ini, kaum muda secara
progresif dijauhkan dari beberapa aspek yang penting atas
keberadaan sosial mereka oleh masyarakat dan organisasi
ekonomi dalam masyarakat tersebut. Sekolah dan bekerja telah
menjadi acuan baku yang menambah ketidakberartian dan
ketidakberdayaan kaum muda karena hanya sedikit meminta
kemampuan intelektual dan kreativitas dalam mengembangkan
dirinya.
2. Pandangan psikologis, dikarenakan perasaan tak terpengaruh
yang dirasa oleh individu dalam situasi tertentu. Hal ini disebabkan
KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-15

adanya perasaan manusia atas ketidakmampuan dan
ketidakberdayaan.
Pandangan lain dari Lury (1998), bahwa subkultur generasi muda
muncul menanggapi kondisi-kondisi perubahan ekonomi yang
menghasilkan suatu masa ketika kontradiksi antara nilai-nilai tradisional,
seperti puritanisme, tanggung jawab, sikap hemat versus nilai-nilai baru
seperti hedonisme dan konsumsi spektakuler masyarakat makmur
menjadi semakin tajam.
Ide baru mengenai budaya remaja memberikan pandangan positif
terutama dalam melihat peran mereka sebagai agen perubahan dalam
masyarakat. Kaum muda harus dipandang sebagai subyek aktif yang
terlibat dalam perkembangan masyarakat di mana mereka bernaung atas
kreasi-kreasi yang mereka ungkapkan. Disintegrasi antara generasi muda
dengan golongan tua yang memegang teguh kebudayaannya tidak dapat
dielakkan karena tuntutan pembentukan identitas baru kaum muda yang
secara ekstrem berbeda dengan generasi-generasi terdahulunya. Dalam
hal ini kesenjangan antar generasi menjadi suatu hal yang lumrah terjadi
dan perpecahan kebudayaan dalam suatu masyarakat pun dapat
dipandang sebagai hal yang normal. (Tittley, 1999).

III. LANDASAN ILMIAH DALAM SOSIOLOGI REMAJA
Dalam setiap kajian ilmiah, diharapkan tidak lepas dari pola 5W +
1H. Pada pengertian mengenai sosiologi remaja ini, diuraikan 5W +1H ini,
sebagai berikut:
W
1
(what) : Apa itu remaja?
W
2
(who) : Siapakah yang dimaksud dengan remaja?
W
3
(why) : Mengapa mengkaji remaja?
W
4
(when) : Kapan seseorang dikatakan remaja dan kapan kajian
dilakukan?

KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-16

W
5
(where)
: Di mana kajian mengenai remaja dilakukan dan spesifik
sasaran kajian?
H (how) : Bagaimana mengkaji remaja dari perspektif sosiologi?

Selain ke-5W tersebut, terdapat opsi sebuah W tambahan (W
6
) yakni
work. W
6
tersebut berkaitan erat dengan H (how). Work dimaksudkan
meliputi aktivitas teoritis, metode penelitian yang dilakukan mengenai
remaja, dan juga praktik-praktik pengembangan remaja. Secara ilustratif,
penjelasan mengenai 5W + 1 H dengan penambahan W
6
tersaji dalam
tabel I.3 berikut:
Tabel I.3.
Ilustrasi Pendekatan Ilmiah Dalam Sosiologi Remaja
W
1

(what)
: Remaja menunjuk pada kategori umur biologis dan mental,
yakni
a. Biologis: usia 15-24 tahun
b. Mental : dikategorikan sebagai transisi dari masa
kanak-kanak menuju dewasa
c. Sosial: hubungan dengan generasi di atasnya dalam
konteks pola produksi dan reproduksi

W
2

(who)
: Golongan manusia yang berumur 15-24 tahun yang
dikategorikan sebagai transisi menuju manusia dewasa

W
3

(why)
: Dalam kehidupan remaja termuat hal berikut:
1. Remaja merupakan penerus kehidupan
2. Agen perubahan yang strategis dalam masyarakat
3. Kompleksitas kehidupan remaja kekinian
4. Remaja sebagai produsen budayanya sendiri
5. Remaja sebagai konsumen budaya
6. Sifat pertemanan sebaya
7. Waktu luang

W
4

(when)
: 1. Sinkronik, mengkaji remaja pada satu periode waktu
saja
2. Diakronik, mengkaji remaja pada masa silam dan kini
3. Interaktif, mengkaji remaja pada masa silam dan
kekinian untuk dihubungan antar periodenya
KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-17

W
5
(where)
: Lokasi kajian: desa, kota, tempat umum, tempat privat,
sekolah, taman bermain, jalanan, trotoar

H
(how)
: Pendekatan teoritis: Struktur-Fungsi, Konflik,
Interaksionalisme Simbolik, Kritik, Pertukaran, Feminisme,
Postkolonialisme, postmodernisme, sosiolonguistik, dll

W
6
(work)
: 1. Pendekatan penelitian: kualitatif, kuantitatif, appraisal
2. Sifat penelitian: deduktif-induktif
3. Pengembangan: appraisal, pemberdayaan, treatment
Sumber: disarikan dari berbagai sumber dan gagasan penulis

Dari pola 5W + 1H tersebut di atas, para peneliti, khususnya
mengenai remaja dapat mengelaborasi lebih jauh subyek kajiannya. Tentu
saja tidak seluruh aspek mengenai dapat dikaji dalam satu rangkaian
kajian atau penelitian. Namun pola 5W + 1H ini mengarahkan para
pengkaji untuk mencari tahu apa-apa yang belum diketahui, baik oleh
dirinya maupun oleh masyarakat pada umumnya.
Para peminat kajian mengenai remaja dapat melakukan kajiannya
yang bersifat makro maupun mikro dengan berpegang pada pola 5 W + 1
H tersebut. Berkaitan dengan dinamika kehidupan remaja yang terjadi
saat ini, para sosiolog dapat mengembangkan kajian-kajian mengenai
remaja dan kehidupannya, berdasar pada paradigma-paradigma yang
dimiliki oleh disiplin sosiologi.

IV. BERPIKIR GLOBAL DAN LOKAL
Di mana pun di dunia ini, selalu terdapat remaja baik dalam
pendekatan alamiah (umur) maupun pendekatan konstruksi sosial. Satu
hal yang dapat dilihat mengenai kehidupan remaja adalah, pada tataran
tertentu, remaja membuat ruangan-ruangan bagi diri dan sebayanya untuk
hidup pada suatu periode waktu yang membuat mereka berbeda dengan
generasi di atas maupun di bawahnya.
KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-18

Pada beberapa negara, remaja cenderung menghabiskan
waktunya di sekolah dan di luar rumah setelah sekolah. Pada masa
tersebut, remaja seolah-olah keluar dari lingkungan keluarganya untuk
sekian waktu dan kembali pada keluarganya pada waktu lain. Jadi, pada
satu waktu, remaja tersebut memiliki otonomi untuk mengatur dirinya, di
waktu lain, remaja memiliki ketergantungan pula terhadap keluarganya.
Remaja menggunakan waktu-waktu di luar keluarga tersebut untuk
saling belajar terhadap individu remaja lainnya dalam lingkup sistem yang
sama, misalkan sekolah. Dari lingkup pertemanan itulah kita dapat
membayangkan bahwa remaja seolah-olah sama di manapun. Sebagai
contoh, pada setiap pertemanan remaja terdapat kelompok-kelompok
clique yang didasarkan pada kesenangan bermain gadget. Hal ini terjadi
baik di Indonesia maupun di luar Indonesia. Terjadinya fenomena tersebut
perlu dipahamai sebagai adanya difusi budaya yang diserap dan dijadikan
sikap baku bagi remaja. Fenomena ini terjadi secara dinamis, dalam arti
dapat berubah dan berganti sesuai dengan zaman. Seperti ilustrasi berikut
di bawah ini:











KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-19

Tabel I.4.
Remaja, Kegemaran dan Potensi Idola Kaum Remaja Berdasar
Periode Tahun
Periode Remaja, Kegemaran dan Potensi Idola Kaum Remaja
Musik Olah raga Intelegensi
1990 1994 Pemain band skill :
sweet rock
Basket,
Sepakbola
IPA (fisika dan
matematika)
1995 1999 Pemain band skill:
grunge/alternatif
rock
Basket,
Sepakbola
IPA (fisika dan
matematika)
2000 2004 Pemain band skill:
smooth disco,
nasyid
Basket,
Sepakbola
IPA (fisika)
2005 2009 Boyband

Futsal, Basket IPA (matematika)
2010 - 2014 Smooth jazz Futsal, Basket Agama - Motivasi
2014 - .. . . .

Mengapa terjadi dinamika tersebut? Kehidupan remaja kekinian
tidak lepas dari fenomena besar yang dinamakan globalisasi. Pada masa
kini, proses globalisasi menyebabkan informasi dari berbagai belahan
dunia lebih mudah didapatkan dan memungkinkan untuk diimitasi. Apapun
trend remaja yang sedang terjadi di luar negeri, dapat dengan mudah
diikuti dan dijadikan gaya remaja berkat bantuan media massa yang
berhasil merambah hingga kehidupan privat kaum remaja.
Tentu tidak perlu dibicarakan baik dan buruknya dalam kaca mata
sosiologi. Sosiologi, sebagaimana karakteristik keilmuannya yang non etis
normatif, tidak membicarakan hal yang baik, bagus, buruk, tidak sesuai.
KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-20

Namun sosiologi dapat membingkainya sebagai suatu realitas yang terjadi
dalam masyarakat tanpa bermaksud memberi penilaian terhadap
fenomena yang terjadi tersebut.
Perlu juga dilihat sisi lain dari globalisasi yang seringkali
ditenggarai sebagai bagian dari ekspansi budaya barat. Perlu juga
dicermati, bahwa globalisasi mengikut pada hukum fisika, yakni arus kuat
akan mengalir memasuki arus yang lemah. Tidak hanya ekspansi budaya
barat yang diadopsi oleh remaja masa kini, berbagai budaya yang
dianggap arus kuat juga dapat diadopsi oleh remaja. Budaya Asia Timur
(Jepang, Korea, dan Taiwan) serta budaya Islam juga diminati oleh
remaja di Indonesia, selain dari budaya barat. Mengacu pada Huntington
(1999), saat ini sedang terjadi benturan antara 3 peradaban, yakni barat,
Asia Timur, dan Islam. Ketiga unsur budaya/peradaban tersebut dapat
dilihat secara empiris di sekitar kita dan masuk merasuki alam pemikiran
para remaja, dan bahkan ketiga unsur tersebut secara bersamaan diserap
dan dijadikan sikap atau perilaku sehari-hari pada individu remaja.
Selain globalisasi, remaja pun tidak jarang melakukan perlawanan
terhadap globalisasi, yakni dengan menghidupkan dan mengamalkan
nilai-nilai lokal lingkungannya. Perlawanan terhadap globalisasi seperti ini,
umumnya dinamakan sebagai lokalisasi, gerakan menghidupkan nilai-nilai
budaya lokal.
Proses globalisasi dan lokalisasi seperti ini pada gilirannya
membuat remaja dapat mendefinisikan dirinya seperti apa yang diinginkan
oleh dirinya ataupun orang lain yang berada di sekitarnya. Karenanya,
cara hidup kaum remaja pada masa kekinian betul-betul memiliki corak
yang beragam dan masing-masing corakpun memiliki varian-varian
tersendiri yang menarik untuk dikaji oleh sosiolog.

KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-21

Gambar I.3.
Representasi Globalisasi Dalam Seni Remaja

Sumber: kangrivan.com

Gambar di samping
menunjukkan adanya
serapan unsur-unsur
Islam, barat, dan Asia
Timur pada satu karya
seni. Hal ini dapat
terjadi pada seorang
atau sekelompok
individu pada saat
yang bersamaan,
misalkan pemikiran
barat-sentris dalam
kelompok berteman, pilihan karir, dan gadget. Di saat senggang menonton
Drama Korea atau K-Pop dan menyukai hal-hal yang berbau budaya
Korea atau Jepang, dan di saat lain menyuarakan simbol-simbol lokalitas
dalam pergaulan sehari-hari. Tidak jarang remaja pun anti barat namun
berpemikiran barat-sentris.

V. RINGKASAN
Sosiologi remaja merupakan satu arah baru dalam disiplin sosiologi
dan perkembangan keilmuan disiplin sosiologi yang berkaitan dengan
gejala-gejala umum yang terjadi di dunia saat ini. Sosiologi remaja
berupaya memberikan gambaran mengenai kehidupan remaja yang
kompleks dan dapat dikaji berdasarkan berbagai sudut pandang. Hal ini
juga memberikan keleluasaan terhadap kajian-kajian remaja yang tidak
KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-22

hanya didominasi oleh pendekatan-pendekatan psikologis ataupun
masalah sosial.
Sosiologi remaja hendak mengungkap bahwa remaja merupakan
bagian dari suatu struktur masyarakat yang lebih luas. Dalam struktur
populasi dunia, dapat dilihat bahwa remaja di dunia ini diasumsikan
berjumlah hingga mencapai 1 milyar jiwa yang memiliki makna
kompleksitas dalam kehidupan remaja tersebut. Kelak, remaja akan
menggantikan generasi di atasnya dalam mendiami dan mengelola
kehidupan di muka bumi ini.
Sosiologi remaja pun membuka wawasan bahwa remaja tidak
hanya bersifat alamiah (fisik-faal-mental) semata, melainkan merupakan
konstruksi sosial. Konstruksi ini muncul menanggapi perubahan-
perubahan yang terjadi dalam masyarakat dewasa ini dan juga konstruksi
dari internal remaja dalam memberi arti identitas bagi golongan mereka.


VI. LATIHAN SOAL
1. Berdasar pada aspek nomotetik dan ideografik dalam kehidupan
remaja, amati kehidupan remaja di sekitar Anda dan buatlah
perbandingan ideografiknya.
2. Berdasar pada pola 5W + 1 H, amatilah kehidupan remaja di sekitar
Anda. Lalu jabarkan secara singkat dalam bentuk matriks. Berikan
gagasan Anda mengenai remaja tersebut.





KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-23

RINGKASAN
Mempelajari remaja adalah sama halnya dengan mempelajari
unsur dari masyarakat. Dalam mengonsepsikan remaja dari sudaut
pandang sosiologis, tidak dapat digunakan batasan umur secara fisik
semata, melainkan harus merujuk pada keterkaitannya dengan generasi di
atasnya. Pada satu sisi, mereka otonom untuk mengatur hidupnya, di sisi
lain, golongan ini masih bergantung pada keluarganya. Mengacu pada
populasi dunia, dengan jumlah remaja sebanyak itu dan kompleksitas
kehidupannya yang berbeda dengan generasi di atas dan di bawahnya,
hal ini menyiratkan adanya suatu pembentukan percabangan baru dalam
ranah disiplin sosiologi, yakni sosiologi remaja yang terlepas dari
induknya yakni sosiologi keluarga.
Perhatian para ahli sosiologi terhadap remaja dapat dikatakan
masih sangat minim. Berbagai penelitian menyiratkan bahwasanya
masyarakat adalah dunia orang dewasa (dan pada tataran tertentu
berjenis kelamin laki-laki). Kajian-kajian terhadap remaja baru muncul
pada akhir abad 20 lalu, selaras dengan fenomena globalisasi yang
menjalar ke berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Perhatian terhadap remaja memberikan arti bahwa di dalam
kehidupan remaja sebagai subyek, terdapat hukum-hukum umum
(nomotetik) di dalamnya. Di sisi lain, aspek nomotetik tersebut dapat
dipecahkan menjadi hal-hal yang khusus yang mungkin hanya berlaku
pada suatu masyarakat tertentu (ideografik). Dengan berdasar pada aspek
nomotetik, dapat ditemuakan berbagai variasi dalam kehidupan remaja
yang mungkin tidak disadari sebelumnya oleh para ahli sosiologi atau ilmu
sosial lainnya.
Pada ranah praktis, kajian remaja dapat dikatakan sebagai bahan
mentah untuk terbentuknya teori-teori yang lebih operasional. Teori yang
KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-24

operasional tersebut dapat dijadikan landasan bagi para ahli sosiologi
untuk memberikan rekomendasi atau arahan guna terciptanya kebajikan
sosial dengan remaja sebagai subyeknya. Di sisi lain, memberikan
alternatif seperangkat rekomendasi bagi terciptanya kebijakan
pembangunan dengan menempatkan remaja sebagai subyek aktif dalam
pembangungan. Hal ini dibangun atas asusmsi bahwa remaja memiliki
kesempatan yang lebih panjang daripada generasi di atasnya yang selalu
dijadikan subyek dalam kajian pembangunan.

TUGAS LATIHAN
1. Refleksikanbahwa remaja merupakan konstruksi sosial!
2. Reflekiskan bahwa remaja adalah unsur/bagian dari masyarakat!
3. Refleksikan bahwa remaja merupakan subyek aktif dari
pembangunan!

REFERENSI
Abercrombie, N. dan Warde, A. 1988. Contemporary British Society: A
New Introduction to Sociology, Cambrige: Polity. ISBN:
9780745602257

Barnes, G.M., Hoffman, J.H., Welte, J.W., Farrell, M.P., & Dintcheff, B.A.
2007. Adolescents Time Use: Effects on Substance Use,
Delinquency and Sexual Activity, Journal of Youth Adolescence,
36, 697710.

Brake, M. 1985. Comparative youth culture: The Sociology of Youth
Culture and Youth Subcultures in America, Britain and Canada
Boston MA: Routledge & Kegan. ISBN: 978-0415-05108-8

Grotevant, H. D., & Cooper, R., C., 2005, Individuality and Connectedness
in Adolescent Development. U E. Elisabeth & A. E. Skoe (eds.)
Personality Development in Adolescence: A cross national and life
span perspective. London and New York: Routledge. ISBN: 0-415-
13505-2
KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-25

Harris, P.R., dan Moran, R. T. 1996. Memahami Perbedaan-Perbedaan
Budaya, dalam Mulyana, D. dan Rakhmat, J. (ed). 1997.
Komunikasi antar Budaya. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
ISBN: 979-514-782-0

Hawdon, J., E. 1999. Daily routines and crime: Using routine activities as
measures of Hirschis involvement, Youth and Society, 30, 395
415.
Hendry, L.B., Shucksmith J., Love, J.G., & Glendinning, A. 2005. Young
Peoples Leisure and Lifestyles, London: Routledge. 978-84-690-
7016-1
Hirschi, T. 2002. Causes of Delinquency. Berkeley: University of
California Press. ISBN: 978-0520-01901-0
Huntington, S. 1999. Benturan Antar Peradaban. Jakarta: Gramedia.
ISBN: 978-602-19983-0-4
Kartono. K. 1990. Patologi Sosial. Jakarta: Erlangga. ISBN: 979-421-151-
6
Lury, C. 1998. Budaya Konsumen (terjemahan). Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia. ISBN: 979-461-289-8

Marx, K., 1968. Marxist Social Thought (ed. R. Freedman). New York:
Harvest.

Mulyana, D. dan Rakhmat, J. 1997. Komunikasi Antar Budaya. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya. ISBN: 979-461-289-8

Osgood, D.W., & Anderson, A.L. 2004. Unstructured Socializing and
Rates of Delinquency. Criminology Vol 42, 519549.
World Health Organization. 1989. World Population Profile. New York: UN.
Yusar. 2009. Perahu atau Papan Surfing: Studi Tentang Perubahan
Orientasi Melaut Pada Kaum Muda Masyarakat Nelayan di Daerah
Pariwisata Pantai Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten
Ciamis, Program Pascasarjana UNPAD.

----------. 2012. Pemanfaatan Waktu Luang Kaum Muda Yang Berasal Dari
Golongan Masyarakat Berpenghasilan Rendah Di Kelurahan
KEGIATAN
BELAJAR
1
KONSEP DASAR MENGENAI
REMAJA

I-26

Jamika, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung. Penelitian
Hibah FISIP TA 2012


Sumber lain (internet):

United Nations / Division for Social Policy and Development. 1995.
Definition of Youth. diterbitkan melalui website
http://www.un.org/esa. (Telah dikutip oleh Yusar, 2001).

Tittley, M. 1999. Youth Subcultures and Commitment Level Model.
sebuah essay diterbitkan melalui jaringan internet
http://www.btc.co.za. (Telah dikutip oleh Yusar, 2001; 2009).

Videnovica, M., Pesic, J., dan Plut, D. 2010. Young Peoples Leisure:
Gender Differences, dalam Psihologija ed 43, Zagreb: Serbian
Pscyhological Association. (telah dikutip oleh Yusar, 2012).





KEGIATAN BELAJAR 2
REMAJA DAN SEKSUALITA


-1

KEGIATAN BELAJAR 2 : REMAJA DAN SEKSUALITA

Remaja dan seksualita adalah dua istilah yang beriringan, baik
dalam pandangan psikologi maupun sosiologi. Keterkaitan remaja dengan
seksualita dalam pandangan sosiologi adalah bagaimana konstruksi sosial
terbangun dalam seksualita remaja. Tidak sekedar dari pendekatan
kejiwaan, seksualita sebagaimana remaja, merupakan konstruksi sosial
yang telah berjalan panjang dan diteruskan dari satu generasi ke generasi
berikutnya.
Dalam mengulas mengenai seksualita, pada Kegiatan Belajar 2,
dihadirkan 3 besar tafsir sosial atas seksualita yang menunjuk pada
pembagian jenis kelamin dan keajegan hukum heteroseksual pada
masyarakat. 3 besar tafsir sosial atas seksualita ini mendasrkan pada
bagaimana masyarakat membentuk keberduaan jenis kelamin yang ajeg
dan lestar. Masing-masing dipaparkan oleh Gayle Rubin, Michel Foucault,
dan Judith Butler.
Dalam konteks sosiologi remaja, pemilihan pasangan disajikan
sebagai refleksi atas kenyataan yang ada. Kenyataan ini dapat dikatakan
menyeluruh, bahwasanya pada masa remaja, secara sosial, merupakan
masa mempersiapkan diri dalam menentukan pasangan hidup. Oleh
karena itu, pada Kegiatan Belajar 2, modul ini berisi hal-hal yang sangat
mendasar mengenai konsep remaja dan seksualita.
Susunan dari modul Kegiatan Belajar I ini adalah sebagai berikut:
I. PENGANTAR
II. TAFSIR SOSIAL ATAS SEKSUALITAS SEBAGAI
KONSTRUKSI SOSIAL
A. Seksualita Menurut Gayle Rubin
B. Seksualita Menurut Michel Foucalt: Power-Knowledge
Pleasure dan Seksualitas
C. Seksualita Menurut Judith Butler: Heterosexual Matrix
Versus Performativity
-2

III. SEKSUALITA REMAJA
A. Pemilihan Pasangan Sebagai Konstruksi Sosial
B. Pacaran
C. Gerakan Anti Pacaran
IV. BERPIKIR GLOBAL DAN LOKAL
V. RINGKASAN
LATIHAN SOAL

Kegiatan Belajar 2 ini dimaksudkan untuk membuka pandangan
mahasiswa dalam memandang seksualita remaja. Diharapkan mahasiswa
mendapat pandangan kebaruan dan mampu secara jernih memahami
seksualita remaja dari aspek sosiologis. Selain membuka pandangan
mahasiswa, Kegiatan Belajar 2 pun berupaya mendudukkan bahwa
pemilihan pasangan tidak sekedar pendekatan kejiwaan, emosional, atau
psikologis namun sebagai konstruksi sosial yang dibentuk sejak lama.
Guna menambah wawasan dan pengetahuan, pada Kegiatan
Belajar 12 ini ditambahkan juga subbagian mengenai berpikir global dan
lokal. Tidak dapat dihindari bahwa seksualita remaja kekinian dipicu oleh
adanya globalisasi melaui berbagai media dan yang dapat ditemui oleh
mahasiswa adalah pada tingkatan lokal, yakni bagaimana dinamika yang
terjadi pada seksualita dan masyarakat yang menjadi lebih adaptif
terhadap seksualita remaja. Subbagian ini menjadi penghubung antara
mahasiswa dengan kondisi di tingkat global dan juga lokal.


KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-1

I. PENGANTAR
Telah dikemukakan pada
kegiatan belajar 1, bahwasanya
remaja dapat dipandang dari dua
aspek sifat, yakni alamiah dan
konstruksi sosial. Pada bagian ini,
mengenai seksualitas dan
penyimpangan, sungguhpun terlihat

sebagai gejala yang alamiah, di sisi lain, seksualitas dan penyimpangan
juga dapat dilihat sebagai konstruksi sosial. Lantas mengapakah remaja
berkait erat dengan seksualita? Pandangan psikologi sangat mendominasi
pendekatan mengenai seksualita dan juga penyimpangan. Sangat
banyak, kajian mengenai remaja yang bersumber pada disiplin psikologi,
terutama psikologi perkembangan.
Dalam kegiatan belajar 2 ini dibahas mengenai remaja dan
seksualita berdasarkan cara pandang sosiologis. Hal ini memiliki makna
bahwa seksualita merupakan bagian dari dan dibentuk oleh kehidupan
sosial, ketimbang hanya dari sisi psikologi perkembangan. Sungguhpun
masa usia remaja adalah masa berkembangnya hormon seksualitas, di
sisi lain, masyarakat, melalui nilai-nilai yang dibentuk dan disepakati
umum, membentuk pula pola-pola seksualita yang bersifat general pada
remaja.
Konsep seksualita di sini diartikan tidak hanya pada pemenuhan
kebutuhan seks secara biologis dan naluriah, namun lebih jauh
menjangkau bagaimana pembagian seksual, citra seks, keindahan,
pengharapan, dan keintiman yang dikonstruksikan oleh masyakarat luas
bagi remaja.

KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-2

I. TAFSIR SOSIAL ATAS SEKSUALITAS SEBAGAI KONSTRUKSI
SOSIAL
Seksualita merupakan sebuah konstruksi sosial, bukan sekedar
fakta kromosomik-biologis-anatomis semata. Terdapat 3 pandangan yang
menggugat ortodoksi teoritik tentang seksualita, yakni Rubin (1993),
Foucault (1998) dan Butler (1991, 1993, 1999). Kebanyakan memiliki
paham yang menganggap seksualitas merupakan fenomena biologis,
kenyataan alamiah yang melampaui kenyataan sosial.
Bagi Rubin, Foucault, dan Butler, seksualitas bukan sesuatu yang
tidak berubah, asosial, dan trans-historis. Seksualitas sangat terikat
dengan sejarah dan perubahan sosial. Tidak semata bersumber pada
hormon, kejiwaan, dan hukum Tuhan. Rubin, Foucault dan Butler
menantang paham bahwa seksualitas adalah kekayaan pribadi, yang
bersifat fisiologis dan psikologis.






Michele Foucault

Gayle Rubin

Judith Butler


KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-3

A. SEKSUALITA RUBIN
Rubin (1993; dalam Rubin 2011), seorang antropolog feminis
mengikuti konsep Derrida bahwa there is nothing out of the text. Tidak ada
sesuatu di luar teks. Yang dimaksudkan Derrida adalah bahwa tidak ada
kenyataan yang berada di luar bahasa. Tidak ada kodrat atau konstruk
biologis yang mendahului tanda bahasa. Misalnya, kategori laki-laki
perempuan dengan semua atribut dan peran yang melekat padanya
bukanlah konstruk alamiah. Melainkan adalah produk sejarah, produk
representasi. Perempuan menjadi makhluk kelas dua bukan
karena identitas biologis yang melekat padanya, akan tetapi adalah akibat
pencitraan negatif terhadapnya baik oleh diskursus sains maupun agama.
Makna, menurutnya, tidak pernah hadir dalam satu tanda. Meaning is
never immediately or fully present in any one given sign. Karena makna
tanda bahasa hadir karena perbedaan tanda bahasa itu dengan yang
lain.
Dengan demikian halnya pula dengan tubuh dan seksualitas. Tidak
ada tubuh pra-diskursif. Tidak ada identitas, gender dan seksualitas yang
mendahului wacana. Gender maupun seksualitas tidak berakar pada
biologi; bukan pula kepanjangan dari seks biologis, melainkan adalah
hubungan tanda bahasa. Tidak ada seksualitas yang asli, tidak ada
seksualitas yang mendahului proses pemaknaan. Segala sesuatu, tentu
termasuk didalamnya seksualitas, dikonstruk melalui prosedur logosentris.
Rubin (2011) mendemonstrasikan bagaimana prosedur itu bekerja dalam
ranah seksualitas. Dia menegaskan bagaimana heteroseksualitas
dinaturalisasi dan praktek seksual lainnya diabnormalisasi.
Heteroseksualitas dianggap sebagai the good, the normal, the natural dan
the blessed sexuality, sedangkan yang lain adalah the bad, the abnormal,
the unnatural, dan the damned sexuality.
KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-4


B. SEKSUALITAS MENURUT FOUCAULT : Power-
KnowledgePleasure dan Seksualitas
Seksualitas merupakan salah satu tema besar yang paling banyak
didiskusikan Foucault. Pandangannya yang brilian tentang seksualitas
dapat dilihat diantaranya dalam Herculine Barbine; Being The Recently
Discovered Memoirs of a Nineteenth-Century French Hermaphrodite
(1980), dan trilogi sejarah seksualitasnya yang sangat terkenal; yaitu The
History of Sexuality I: An Introduction; The History of Sexuality II: The Use
of Pleasure (1990), dan The History Of Sexuality III: The Care Of Self
(1990), juga dalam bahan perkuliahannya yang terangkum dalam The Will
to Know (2013) . Dalam buku-buku ini, Foucault menegaskan bahwa
femininitas, maskulinitas dan seksualitas adalah akibat praktek disiplin
atau buah relasi antara pengetahuan dengan kekuasaan.
The History of Sexuality I kemudian menjadi teks emblematik paling
penting dan banyak berpengaruh tentang seksualitas. Secara luas
Foucault menjelaskan bahwa seksualitas bukan sesuatu yang terberi
secara alamiah atau suatu wilayah rahasia yang harus diungkap dan
ditemukan pengetahuan secara bertahap. Seksualitas terbentuk secara
historis, bukan realitas alamiah yang susah dipahami. Artinya seksualitas
adalah sebuah jaringan besar yang di dalamnya terdapat stimulasi tubuh,
intensifikasi kenikmatan, perubahan ke diskursus, formasi pengetahuan
tertentu, penguatan kontrol dan resistensi, yang saling berkaitan satu
sama lain (Foucault, 1990a: 105-106).
Foucault mengidentifikasi empat unit strategis yang selama ini
digunakan untuk mereproduksi dan melipatgandakan diskursus tentang
seksualitas:, yakni 1) the psychiatrisation of perverse pleasure; 2) the
KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-5

socialisation of procreative behaviour; 3) the pedagogisation of childrens
sex dan; 4) the hysterisation of womens body. (Foucault, 1990c).
Yang pertama, diseminasi gagasan tentang keharusan manusia
yang hanya punya satu jenis kelamin atau seks yang. Melalui ilmu
kedokteran, hukum dan pengadilan ditegaskan bahwa setiap orang harus
mempunyai satu jenis kelamin yang jelas (Foucault: 1990a: viii). Jika
seseorang memiliki laki-laki, maka harus maskulin. Sebaliknya, jika
memiliki anatomi perempuan maka harus feminin. Karenanya tidak boleh
ada campur aduk keduanya atau identitas in-between.
Kedua, sosialisasi perilaku prokreatif. Berlawanan dengan
diskursus seksualitas Yunani dan Roma kuno, seksualitas Barat modern
abad XIX, lebih diorientasikan pada tujuan-tujuan prokreatif, bukan
kesenangan. Foucault menyebut model demikian sebagai scientia
sexualis, sedangkan seksualitas Roma kuno yang berorientasi
pada pleasure atau aphrodisia disebutnya sebagai ars erotica.
Tujuan scientia sexualis adalah untuk memaksimalkan kekuatan,
efisiensi, ekonomi tubuh, hubungan konjugal perkawinan dan
heteroseksualitas. Dan heteroseksualitaslah dalam kerangka ini
merupakan bentuk paling sah. Kesenangan seksualitas hanya dibingkai
dalam sangkar emas heteronormativitas. Tidak hanya berhenti disini,
pasangan dibebani dengan tanggungjawab sosial dan medis; yaitu
melindungi keluarga dari penyakit-penyakit patogenik seksualitas. Setiap
kegagalan dalam upaya ini dapat berakibat pada kehancuran tubuh sosial,
yaitu masyarakat.
Ketiga, psikiatrisasi kesenangan. Strategi ini bekerja dengan
mempatologikan semua bentuk penyimpangan dari prinsip-prinsip
seksualitas prokreatif yang normal. Karena itulah sex for
pleasures dikutuk. Kesenangan erotis dianggap abnormal, menyimpang,
KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-6

dan perlu mendapat perawatan. Alasannya adalah karena praktek-praktek
seksual nonprokreatif ini memperlemah tubuh dan menjadikannya rawan
terhadap berbagai macam penyakit. Inilah bedanya seksualitas Barat
modern dan Yunani kuno, dimana homoseksualisme dan penyimpangan
seksual lainnya tidak ditolak berdasar kategori normal atau abnormal
(Foucault, 1990a: 45) melainkan berdasar kuantitasnya, yaitu tidak boleh
jika berlebihan.
Keempat, histerisasi tubuh perempuan. Dalam strategi ini, tubuh
feminin dianalisa dan diintegrasikan ke wilayah praktek medis karena
penyakit yang melekat padanya, dan akhirnya ditempatkan dalam
komunikasi organik dengan tubuh sosial. Tentang hal ini, selangkapnya
Foucault (1990c: 104) menulis:
Tiga proses sekaligus melalui mana tubuh yang femini dianalisa
dikualifikasi dan didiskualifikasiyang terstrukturkan dalam
seksualitas; dimana ia terintegrasikan ke dalam ruang praktek
medis, dengan alasan patologi yang melekat padanya, dimana
akhirnya ia ditempatkan dalam komunikasi organik dengan tubuh
sosial (yang dimaksudkan untuk memastikan kualitasnya), ruang
keluarga (yang menjadi elemen fungsional sekaligus substansional)
dan kehidupan anak (yang dihasilkannya dan digaransinya atas
dasar tanggung jawab biologis-moral yang tidak pernah berakhir
selama pendidikan anak; ibu, dengan image negatif tentang
perempuan cemas, yang membentuk histerisasi yang tampak jelas
ini.

Di sinilah seksualitas perempuan dikonstitusikan sebagai sentral
identitas. Perempuan ditinjau berdasarkan asa biologisnya dan
seksualitas adalah inti dari biologi perempuan. Dalam konteks ini, definisi
tentang seksualitas diperluas. Bukan sekedar having sex melainkan
juga meliputi pengalaman-pengalaman kehamilan, kelahiran dan
menopause. Histerisasi tubuh perempuan ini menuntut adanya aturan
terhadap perempuan dan menjadikan perempuan sebagai objek sah dari
KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-7

intervensi dan kontrol psikologis dan medis. Demikianlah laki-laki dan
perempuan mendapat perlakuan berbeda dari praktek diskursif.
Dan akhirnya, pedagogisasi seksualitas anak. Dalam strategi ini,
praktek seksualitas anak yang berpotensi mendatangkan bahaya
(Foucault, 1990c: 104) diatur sedemikian rupa karena dikhawatirkan dapat
mendatangkan kerusakan fisik dan moral, individu dan kolektif. (Foucault,
1990c: 30). Pendidikan seks alami, aman, dan yang benar bagi anak-
anak menjadi instrumen signifikan dalam pelembagaan heteroseksualitas
sebagai norma atau cara hidup. Lima strategi ini berfungsi dalam kaitan
satu dengan yang lainnya bersifat interaksional dan diarahkan untuk
pengaturan dan penyebaran aphrosidia (kesenangan seksual),
dan enkratia (self control, resistance and combat). Akibat transformasi ini
dalam masyarakat adalah: 1) penekanan baru dari chresis (digunakan
untuk kesenangan) menuju epimeleia (perhatian diri) dan kedua bentuk-
bentuk pelatihan yang langsung diberikan pada pengetahuan atas diri
individu (Mc Houl and Grace, l993: 106).

C. Judith Butler: Heterosexual Matrix versus Performativity
Butler mengembangkan Teori Performativitas diawal tahun 90-an
melalui karya monumentalnya Gender Trouble dan Bodies That Matter.
Butler menegaskan bahwa gender atau seksualitas adalah struktur imitatif,
atau akibat proses imitasi, pengulang-ulangan dan performativitas.
Konsep performativitas memang sentral dalam pemikiran Butler. Butler
meminjam konsep ini dari teori sastra yang mangkategorikan makna
menjadi dua; yaitu konstantif dan performatif. Makna konstantif adalah
berita atau ekspresi, sedangkan perfomatif adalah makna yang
membentuk kenyataan. Penegasan dari kalimat saya seorang laki-laki di
samping bersifat ekspresif memberitahukan bahwa jenis kelamin saya
KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-8

laki-laki, juga bersifat performatif, yaitu saya laki-laki, oleh karena itu juga
harus bertindak dengan norma-norma laki-laki. Jadi, ada efek konstitutif,
pembentuk kenyataan, dalam performativitas ini.
Menurut Butler, tidak ada identitas gender di balik ekspresi gender.
Adanya perbedaan antara laki-laki dengan perempuan dibentuk secara
performatif; diulang-ulang hingga tercapai identitas yang asli yakni yang
dapat diterima oleh umum (Butler, 1999: 25). Identitas terbentuk secara
performatif melalui berbagai ekspresi itu yang selama ini dianggap
sebagai hasilnya. Kebenaran tentang gender, identitas dan seksualitas
diproduksi dan direproduksi melalui serangkaian tindakan, gestur dan
hasrat yang diartikulasikan dan dilaksanakan sehingga menciptakan ilusi
tentang adanya inti gender yang asli dan alamiah (Butler, 1999: 136).
Demikian juga heteroseksualitas. Bentuk seksualitas ini
direproduksi dan dinaturalkan dengan imitasi yang berulang-ulang
(reiterative imitations), yang beroperasi melalui devaluasi, stigmatisasi dan
abnormalisasi praktek seksual lainnya karena statusnya yang selalu
terancam. Butler (1999: 138) menulis:
Imitasi merupakan inti proyek heteroseksual dan binerisme
gendernya, bahwa drag bukanlah imitasi sekunder yang
mengasumsikan sebuah gender yang asli, melainkan
heteroseksualitas yang hegemonik itu sendiri adalah upaya yang
konstan dan berulang-ulang untuk menyerupai yang diidealkan.
Bahwa imitasi ini harus diulang-ulang, diproduksinya praktek-
praktek yang mempatologikan dan sains yang menormalkan secara
besar-besaran untuk menghasilkan dan membuktikan klaimnya
tentang originalitas dan kelayakan, menegaskan bahwa
performativitas heteroseksual yang sempurna itu selalu dalam
ancaman dan tidak pernah dapat dicapai, bahwa upayanya untuk
menjadi idealisasinya tidak pernah bisa dicapai, dan ia selalu
dihantui wilayah kemungkinan seksual yang harus dikeluarkan dari
norma gender heteroseksual untuk menghasilkannya.
KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-9

.
Gestur, tindakan dan gerak tubuh yang lain bukan sekedar ekspresif, tapi
juga konstitutif. Dengan demikian, yang selama ini kita anggap sebagai
esensi adalah akibat dari kegiatan tubuh dan alat diskursif lainnya. Alat
diksursif yang lain dapat berupa praktek-praktek tubuh seperti mouthrules
atau aturan mulut (Thorogood: 2000). Mouthrules atau apa yang kita
lakukan dan apa yang tidak kita lakukan, dengan mulut kita, dapat
membentuk kontur seksualitas dan gender melalui gagasan tentang
keintiman. Mengidentifikasi perbedaan dan persamaan antara lesbian dan
perempuan heteroseks dalam mouthrules, Thorogood menegaskan
bahwa technology of the mouth adalah salah satu praktek dimana
seksualitas dikonstruk.
Apa yang dimaksudkan Butler dengan materialitas seks? Untuk
menjelaskan konsepnya ini, Butler (1999) melakukan dekonstruksi
terhadap pengertian gender dan seks yang dipikirkan feminisme. Dalam
diskursus-diskursus feminis, ditegaskan bahwa gender adalah konstruksi
sosial, sedangkan seks adalah sebuah fenomena biologis yang tidak bisa
diubah. Cara pandang seperti itu, menurut Butler, mengasumsikan
materialitas seks, yaitu ide bahwa seks adalah konstruk yang berada di
luar sejarah-pemikiran-bahasa. Bagi Butler, seks bukanlah tubuh yang
secara alamiah membangun citra gender tetapi nilai-nilai budaya yang
mengatur bangunan tubuh manusia. Menurut Butler, seks adalah
konstruk ideal yang termaterialisasikan secara paksa melalui waktu. Seks
tidak hanya sekedar fakta sederhana atau kondisi tubuh yang statis
melainkan adalah sebuah proses pengaturan nilai-nilai bangunan tubuh
dalam waktu lama sehingga tercipta nilai-nilai ajeg mengenai seks itu
sendiri . Seks, secara tegas menurut Butler (1993: xiii) , adalah sebuah
pengaturan ideal yang menciptakan nilai tubuh yang dapat diterima (baik
KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-10

laki-laki maupun perempuan). Materialisasi terhadap tubuh ini
berlangsung melalui praktek pendisiplin yang sangat canggih dan laten.
(Butler, 1993: xiii).
Melalui dekonstruksi terhadap seks dan mendemonstrasikan batas
diskursifnya, Butler bermaksud mengusung konsep termaterialisasikannya
tubuh melampuai konsep terkonstruksinya seksualitas yang dipikirkan
Foucault. Tubuh, menurut Butler, bukan sekedar plat yang kemudian
diatasnya dibentuk gender dan seksualitas. Dua unsur itu dimaterialkan
menjadi tubuh. Model konsturksi seks dan gender menurut Butler
mengimplikasikan sebuah kultur atau agensi sosial yang diukir pada
sebuah natur, yang dianggap sebagai permukaan pasif, berada diluar
sejarah sosial.
Kedua, Butler menyerang koherensi yang harus antara identitas
gender dan identitas seksual. Dalam diskursus dominan, setiap orang
diharuskan punya satu identitas gender yang jelas, tanpa friksi, yang
memerlukan koherensi yang harus antara the inside dan outside, antara
genital (the inside) dan gender (pakaian, peran, dan identitas the
outside). Koherensi ini selama ini telah digunakan sebagai dasar untuk
menentukan normal dan abnormalnya seseorang. Bahwa penis tidak
punya pilihan lain selain maskulinitas, dan sebaliknya vagina tidak punya
pilihan selain femininitas.
Seperti gagasan Foucault tentang histerisasi tubuh perempuan,
Butler menegaskan bahwa gender dan seksualitas saling berkaitan dan
saling overlap satu sama lain secara serius. Secara bersama-sama,
gender dan seksualitas berinteraksi untuk menentukan isi dan batas
maskulinitas dan feminitas, dan juga membentuk relasi gender dengan
menetapkan kondisi di mana orang dengan beragam gender berinteraksi.
Pada awalnya mempunyai preferensi seksual memerlukan produksi sosial
KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-11

gender sebagai kategori yang bermakna karena seksualitas sangat terikat
dengan proses diferensiasi gender. Misalkan dalam memilih pasangan,
seseroang tidak memilih pasangan hanya karena pertimbangan seks
anatomis semata. Dalam hal ini masyarakat cenderung memahami seks
anatomis itu sebagai pembawa makna sosial dan kultural yang terkait
sebagai pemilik tubuh laki-laki atau perempuan.
Kecenderungan bahwa orang akan membentuk hubungan
heteroseksual terletak pada konstruksi sosial praktek dan kategori gender
yang hirarkis dan dikotomis (Rubin, 1975: 178; Butler, 1990: 17). Ketika
perbedaan dierotiskan, maka heteroseksualitaspun menjadi daya tarik
bagi jenis kelamin yang berbeda (Connel, 1987: 246). Di antara letak
keterkaitan gender dan seksualitas adalah dibangunnya batas disekitar
tindakan dan identitas gender dengan mobilisasi/labelisasi homoseksual
(Connell, 1987; Steinberg et. Al., 1997).

II. SEKSUALITA REMAJA
A. Pemilihan Pasangan Sebagai Konstruksi Sosial
Dari berbagai pendapat bahwa seksualita merupakan konstruksi
sosial, dalam konteks remaja, bagaimana konstruksi sosial tersebut
terbangun dalam nuansa usia remaja? Kembali pada remaja sebagai
konstruksi sosial, menyangkut aspek-aspek kehidupan sosialnya, maka
seksualita pada remaja pun merupakan konstruksi sosial. Meminjam
konsepsi Butler (1999), seksualita pada masa remaja merupakan imitasi
dan proses pembentukan nilai-nilai yang membentuk material seksualita
remaja yang dapat diterima oleh umum serta dijadikan pedoman bagi
remaja untuk berperilaku.
Banyak remaja yang merasa tidak nyaman saat mendapati dirinya
tidak memiliki pasangan. Dalam lingkungan pertemanannya, remaja
KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-12

tersebut, terutama saat berada di antara remaja lain yang memiliki
pasangan merasa terasingkan dan seolah mendapat stigma bahwa
dirinya tidak laku. Posisi dan perasaan demikian ditanamkan oleh
masyarakat dari generasi ke generasi dan telah terinternalisasi,
khususnya bagi remaja. Terdapat tuntutan tak tertulis bahwa remaja
harus memiliki pasangan, guna mempersiapkan diri mereka kelak saat
membangun keluarga.
Di sisi lain, banyak pula remaja yang merasa nyaman saat tidak
memiliki pasangan. Hal ini pun merupakan bentukan sosial yang
diinformasikan dan diturunkan melalui proses pembelajaran dalam
berbagai bentuk. Misalkan agama melarang pacaran, orang tua
menegaskan untuk belajar yang giat, atau karena lingkungan pertemanan
sesama remaja yang tidak memiliki pasangan.




Sumber: lovesearch.com.au

Ketertarikan dari satu orang remaja terhadap remaja lain (baik
sesama maupun berlainan jenis) merupakan suatu bentuk interaksi tingkat
mikro yang lebih dikenal sebagai hubungan antar 2 orang (diadik) yang
melibatkan unsur emosional dalam interaksinya. Lalu apakah keterarikan
tersebut merupakan hal alamiah? Dalam pendekatan psikologi, hal
tersebut dapat dinyatakan sebagai alamiah sesuai dengan perkembangan
KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-13

fisiologi hormon dan juga kejiwaan. Namun, di sisi lain, ketertarikan itu pun
dapat merupakan konstruksi sosial. Keterarikan dibentuk karena adanya
proses sosialisasi berulang-ulang baik secara langsung atau tidak,
sehingga ketertarikan terhadap lawan jenis (umumnya) adalah suatu hal
yang lumrah.
Secara imajinatif dapat dibayangkan jika pada masa dahulu, jodoh
berada di tangan orang tua. Suka atau tidak, seseorang harus
menerimanya, terlepas dari tertarik pada pasangannya atau tidak. Juga
secara imajinatif, bagi mereka yang telah berpacaran, dari mana mereka
tahu prosedurnya (tertarik, pendekatan, menyatakan, lalu diterima atau
ditolak)? Apakah semuanya dikarenakan insting dari individu tersebut atau
ia mendapat informasi dan belajar dari orang-orang lain di sekitarnya?

B. PACARAN

Sumber: rimanews.com
Sekarang ini banyak remaja
yang sudah mempunyai kekasih, hal
ini sangatlah wajar mengingat pada
fase ini remaja sudah mengalami
yang namanya masa puber yakni
masa dimana seseorang mengalami
mengalami perubahan struktur
tubuh dari anak-anak menjadi
dewasa (Suryanah, 2006:37 ).
Tentu konsepsi ini mengacu pada
konsepsi alamiah-psikologis-
hormonal daripada konstruksi
sosial.


Sumber: weheartit.com
KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-14

Pada masa ini terjadi perubahan yang sangat mencolok dan
membutuhkan penyesuaian diri terhadap tuntutan sosial. Selain
perubahan secara fisik, perubahan kejiwaan atau perubahan secara
emosional juga dialami oleh para remaja yang pada dasarnya sangat
mempengaruhi gairah seksualitas yang muncul dalam berbagai bentuk
seperti mulai tertarik pada lawan jenisnya.
Saling jatuh cinta di kalangan remaja merupakan hal yang
manusiawi karena manusia dalam hidupnya selalu membentuk hubungan
sosial dengan orang lain dimana hubungan sosial ini akan meningkat
seiring dengan pertambahan usia manusia itu sendiri. Pada masa kanak-
kanak awal hubungan sosial yang terbentuk adalah hubungan sosial
dengan keluarga kemudian pada masa kanak-kanak menengah sampai
akhir hubungan sosial yang terbentuk adalah pertemanan dengan sesama
atau lawan jenisnya.
Namun dalam hubungan sosial tersebut terdapat perubahan yang
dramatik yang tadinya hubungan sesama teman dan hubungan orang tua
anak menjadi hubungan mixed jender dan hubungan romantis, hubungan
romantis ini sering juga disebut dengan pacaran (dating). Pacaran dimulai
pada masa remaja dimana terjadi perubahan radikal dari yang tidak
menyukai lawan jenis menjadi lebih menyukai serta ingin diterima,
diperhatikan dan dicintai oleh lawan jenisnya. Sebagaimana yang
diungkapkan oleh Maslow bahwa :
Manusia memiliki beberapa kebutuhan dasar yang harus dipenuhi
secara bertingkat dimana seseorang akan beranjak pada fase
kebutuhan yang lebih tinggi ketika telah memenuhi kebutuhan dasar
yang sekarang. Kebutuhan fisiologis seperti makan, minum, tempat
tinggal termasuk kebutuhan untuk mencintai serta memberi dan
menerima perhatian ( Maslow, 2001:14 ).

KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-15

Aktualisasi rasa cinta dan saling memiliki oleh seseorang yang
dicintai untuk mendapatkan perhatian dan penghargaan orang lain
tercermin dari perilaku-perilaku orang tersebut seperti pegangan tangan
atau berangkulan di depan umum seolah mengumumkan bahwa
keduanya tidak akan terpisahkan dan mengekspresikan cintanya yang
hebat dimana saling menjaga dilambangkan dengan berusaha untuk tidak
saling menyakiti atau melukai perasaan pasangannya.
Pacaran merupakan suatu konsep yang baru dan sudah berakar
dalam kehidupan sosial manusia, sudut pandang mengenai rumusan
pacaran pun berbeda dan sangat beragam baik yang bersifat idealis
maupun yang bersifat pragmatis. Dari sudut pandang idealis, rumusan
pacaran biasanya dilihat dari tujuan pacaran yakni mewujudkan satu
kesatuan cinta antara dua orang kekasih dalam sebuah bahtera rumah
tangga sedangkan dari sudut pandang pragmatis pacaran merupakan
suatu penjajakan antarindividu atau pribadi untuk saling menjalin cinta
kasih (Himawan, 2007:3 ).
Pacaran ( dating ) berarti seorang laki-laki dan seorang perempuan
pergi keluar bersama-sama untuk melakukan berbagai aktivitas yang
sudah direncanakan sebelumnya. Menurut Guerney dan Arthur, pacaran
adalah aktivitas sosial yang membolehkan dua orang yang berbeda jenis
kelamin untuk terikat dalam suatu interaksi sosial dengan pasangan yang
tidak ada hubungan keluarga. Definisi mengenai pacaran dikemukakan
oleh Robert J Havighurst (1980; dalam Widianti, 2006:88)
Pacaran adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan yang
diwarnai dengan keintiman dimana keduanya terlibat dalam
perasaan cinta dan saling mengakui sebagai pacar serta dapat
memenuhi kebutuhan dari kekurangan pasangannya.
Kebutuhan itu meliputi empati, saling mengerti dan menghargai
antarpribadi, berbagi rasa, saling percaya dan setia dalam
rangka memilih pasangan hidup (Widianti, 2006:88 ).
KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-16

Selain itu terdapat 3 ( tiga ) hal penting yang menjadi proses dalam
berpacaran yakni :
a. Proses komunikatif merupakan usaha pensosialisasian diri dan
kelompok terhadap individu atau komunitas lain agar terjalin
hubungan yang erat dan harmonis sehingga memperoleh citra dan
pengakuan eksistensi baik secara de facto maupun de jure.
b. Proses adaptif merupakan suatu usaha penyesuaian setiap individu,
kelompok dengan individu maupun kelompok masyarakat yang lain.
Proses ini bisa berlangsung dalam waktu yang singkat maupun
dalam waktu yang panjang sesuai dengan kadar kemampuan
masing-masing baik secara fisik maupun psikis.
c. Proses interaktif merupakan suatu usaha pembauran kedalam suatu
komunitas tertentu untuk menjadi satu bagian dari komunitasnya
yang baru.
Pacaran terjadi sebagai proses aktualisasi dari komunikasi lahiriah
dan batiniah. Dari proses tersebut berlanjut keproses adaptasi antara dua
individu dalam kerangka saling mencari kesesuaian baik kejiwaan, watak
maupun prinsip-prinsip normatif, seperti agama dan adat. Dalam wilayah
ini akan terjadi dua pilihan alternatif yakni ketika komunikasi dan adaptasi
terdapat kesesuaian dan kesepahaman maka pacaran antara keduanya
akan terus berlanjut sebaliknya ketika jalinan komunikasi dan adaptasi
tersebut terjadi perbedaan (secara prinsip misalnya agama) bisa jadi
proses pacaran pun akan terhenti.
Proses berpacaran pun akan terhenti jika ketertarikan terhadap
seks berubah. Suatu pasangan akan berhenti berpacaran saat orientasi
terhadap pasangannya mengalami kejenuhan atau kebuntuan. Rasa
nyaman dari seseorang terhadap orang lain dapat berubah (baik semakin
besar maupun semakin kecil), pada saat kenyamanan semakin kecil di
KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-17

situlah potensi terjadinya penghentian proses pacaran. Umumnya saat
terjadi penghentian proses berpacaran, masing-masing individu dapat
melanjutkan mencari pasangannya kemudian.
Sebagai konstruksi sosial, pacaran memiliki nilai-nilai yang terikat
dengan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat. Pada dasarnya
masyarakat tidak berkeberatan dengan pacaran yang dilakukan sesuai
dengan nilai-nilai yang berlaku. Namun jika terjadi pelanggaran terhadap
nilai-nilai tersebut, setidaknya pihak yang berpacaran mendapat sanksi
sosial berupa gunjingan, cemoohan, ataupun sanksi lain yang lebih keras,
seperti pengucilan dari lingkungan sosial.
Pacaran pun bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan yang
terjadi dalam masyarakat, demikian pula dengan nilai-nilai di dalam
pacaran tersebut. Sebagai ilustrasi, pada masa terdahulu, dua individu
yang berpacaran diawasi secara ketat oleh masyarakat, misalkan waktu
berpacaran dibatasi hingga pukul 21 malam dan bertempat di rumah pihak
perempuan, tidak di tempat umum. Pada tataran tertentu, hal di atas
masih dilakukan, namun masyarakat telah mengizinkan untuk berpacaran
di tempat umum dengan alasan yang dapat diterima dan telah menjadi
kewajaran (umumnya demi menjaga romansa berpacaran dari kedua
belah pihak).

C. GERAKAN REMAJA ANTI PACARAN
Tidak seluruh remaja menginginkan berpacaran. Pada masa
kekinian terdapat juga remaja yang melakukan gerakan anti pacaran di
dasari oleh keyakinan tertentu. Pada remaja yang taat terhadap agama
Islam misalkan, mereka anti berpacaran dan memilih untuk saling
mengenal terlebih dahulu dan jika cocok, diputuskan untuk menikah.
Pacaran dianggap terlarang dengan menonjolkan sisi-sisi negatifnya,
KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-18

misalkan melakukan hubungan seks pranikah. Apakah benar pacaran
selalu demikian? Bagaimana dengan mereka yang anti pacaran tetapi
selalu berduaan di berbagai kesempatan, apakah hal tersebut tidak dapat
dikatakan sebagai pacaran juga? Tentu saja hal ini dapat menjadi bahan
kajian yang berkaitan antara remaja dengan agama.

Sumber: aulia.com

Gerakan anti pacaran tersebut merupakan konstruksi sosial juga,
yakni nilai-nilai agama dijadikan alat perjuangan untuk melawan gaya
berpacaran yang dianggap sebagai gaya barat-sentris. Dalam kaitannya
antara remaja dengan agama, seksualitas dikonstruksikan ulang sebagai
hal yang sangat tabu untuk dibicarakan terlebih jika dilakukan. Mengacu
pada pendapat Foucault (1999), seksualita yang dimaksudkan adalah
histeria tubuh perempuan sebagai penyebab seksualita berikutnya. Oleh
karena itu, gerakan anti pacaran pada dasarnya adalah aturan terhadap
perempuan dan menjadikan perempuan sebagai objek sah dari intervensi
dan kontrol sosial yang ditinjau dari sudut pandang laki-laki. Kontrol sosial
dibangun melalui pedagogisasi kanak-kanak (Foucault, 1999), yakni
mengajarkan kepada anak-anak (termasuk remaja) bahwa berpacaran
adalah tindakan beresiko dan patut dihindari agar selamat. Di sini, tubuh
KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-19

dimainkan dalam kerangka sexualita scientia; demi kegiatan reproduksi
yang dibingkai oleh agama, tidak untuk ars erotica (Yusar; 2013).
Ditenggarai dalam gerakan anti berpacaran tersebut terdapat nilai
revivalisme (menghidupkan kembali) nilai-nilai ajaran agama. Dari asumsi
tersebut, dalam hal seksualita, remaja tengah berada dalam pusaran
antara globalisme ala barat dengan anti globalisme (yang sebenarnya
adalah globalisme) ala Islam.

III. BERPIKIR GLOBAL DAN LOKAL
Remaja dan seksualita merupakan bagian dari kehidupan manusia
di manapun. Dengan menggunakan pendekatan Mills (1959; dalam
Macionis, ) mengenai imajinasi sosiologis, dapat ditangkap kaitan
pengalaman-pengalaman individu dengan faktor eksternalnya; dalam arti
kata, pengalaman-pengalaman individu remaja sangat berkaitan dengan
lokasi di mana mereka hidup.
Pada era global saat ini, terdapat pemampatan ruang dan waktu.
Maksudnya, fenomena remaja yang terjadi jauh di luar sana dapat dengan
mudah diketahui, dipelajari, dan diadopsi oleh remaja lain yang berjauhan,
sehingga tercipta keseragaman hidup remaja di dunia. Dapat
diimajinasikan bahwa seksualita remaja yang bermukim di kota-kota besar
di Amerika, Russia, Jepang, dan yang lainnya dapat dengan mudah
diadopsi dan dijadikan gaya seksualita remaja di pedesaan Kabupaten
Garut atau Maumere misalnya. Tidak terlepas dan juga bergantung
kuatnya arus informasi mengenai seksualita dari luar tersebut.
Fenomena FTV, K-Drama, roman berlatar Islam nampaknya
sedang digemari oleh remaja Indonesia saat ini, belum lagi
romansa/seksualita barat yang juga masih menjadi acuan baku. Tidak
berbicara benar atau salah, baik dan buruk, fenomena-fenomena tersebut
KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-20

merupakan hasil dari proses globalisasi yang sedang terjadi dan dapat
juga mengubah atau memperkuat pola-pola seksualita remaja. Pada
tataran tertentu, seksualita yang diadopsi juga mempengaruhi nilai dan
norma yang berlaku dalam masyarakat. Masyarakatpun lebih adaptif dan
terbuka terhadap dinamika seksualita yang terjadi pada remaja kekinian.

IV. RINGKASAN
Remaja dengan mengacu pada Kegiatan Belajar 1 adalah bentukan
sosial. Masyarakat mengkonstruksikan remaja sebagai periode hidup
yang berbeda dengan dinamikanya yang khas juga. Remaja adalah
bentukan yang tercipta melalui proses panjang dan terus mendapatkan
keajegannya secara definitif. Tidak salah jika remaja ditinjau dari aspek
alamiah (umur), fisiologis (hormon), dan juga kejiwaan (psike). Jika
mengacu pada remaja sebagai konstruksi sosial, maka berbagai proses
dan dinamika di dalam kehidupan remaja adalah bentukan sosial juga.
Dalam kaitan antara remaja dengan seksualita, seksualita
dikonstruksikan melalui proses yang panjang sehingga tercipta seks (jenis
kelamin) yang ajeg disertai dengan peran dan fungsinya (gender) yang
dikenal saat ini. Adalah suatu kecenderungan umum seksualita manusia
terdiri dari laki-laki dan perempuan yang merupakan pasangan baku
yang normal dan dianggap alamiah.
Pada masa kekinian, pola-pola seksualita yang umum dianut
adalah sexualis scientia yakni pada fungsi seksual yang berkait dengan
reproduksi dan demografi. Ketertarikan terhadap lawan jenis dapat
diartikan sebagai upaya menjalankan fungsi reproduksi yang juga
berkaitan dengan aspek demografi. Meski demikian, pola ars erotica juga
dapat ditemukan namun dianggap tidak normal dan tidak mewakili suatu
perilaku yang dianggap baku dan normal.
KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-21

Seksualita remaja dibangun berdasar pengalaman-pengalaman
masa lalu yang juga berkaitan dengan tekanan faktor eksternal. Pacaran
dan gaya berpacaran adalah konstruksi yang dibangun melalui berbagai
proses mendapatkan informasi, baik secara vertikal (dari generasi di atas)
maupun horizontal (dari lingkup pertemanan sebaya). Adanya dua pihak
yang berpacaran adalah hasil dari imitasi atas perilaku berpacaran yang
dilakukan oleh seseorang di luar dirinya.
Kebutuhan mendapatkan pasangan pada remaja dikonstruksi oleh
masyarakat. Sebagai contoh, saat seseorang remaja tidak memiliki
pasangan, secara langsung ataupun tidak, ia menerima hukuman dari
masyarakat dengan berbagai peristilahan, misalkan jomblo. Karena
adanya hukuman dari masyarakat tersebut, maka remaja perlu
menghindarinya dengan cara mendapatkan pasangan atau memiliki
pacar.
Berpacaran adalah hal yang dianggap lumrah dalam budaya suatu
masyarakat. Dapat dikatakan bahwa seksualita remaja yang umum
berlaku di dunia ini adalah berpacaran sebelum melangkah pada jenjang
berikutnya, yakni perkawinan. Di sisi lain, terdapat juga gerakan anti
berpacaran yang umumnya berkait dengan kepercayaan/keyakinan
tertentu dengan mengedepankan sisi negatif dari berpacaran. Hal ini perlu
diteliti lebih jauh mengenai kebenaran informasi mengenai sisi negatif
tersebut.

LATIHAN SOAL
1. Refleksikan pada kehidupan remaja di sekitar Anda, bagaimana
seksualita yang terdapat pada remaja!
KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-22

2. Refleksikan berbagai gerakan seksualita yang terjadi pada remaja
di sekitar Anda, uraikan berdasar pendekatan dari Rubin atau
Foucault atau Butler!

REFERENSI
Butler, J. 1999. Gender Trouble, Feminism and the Subversion of
Identity. London: Routledge. ISBN: 978-0415-38955-6
_______. 1993. Bodies That Matter, On the Discursive Limits of
Sex, London: Routledge. ISBN: 978-0415-90366-0
_______. 1991. Immitation and Gender Insubordination. Dalam Fuss, D.
(ed.). 1991. Inside/Out: Lesbian Theories, Gay Theories.London:
Routledge. ISBN: 022-647203-5
Butler, J. dan Scott, J., W. (ed). 1992. Feminists Theorize the
Political, New York : Routledge. ISBN: 978-0415-90274-8
Foucault, M. 1980. Herculine Barbine; Being The Recently Discovered
Memoirs of a Nineteenth-Century French Hermaphrodite. Sussex:
The Harvester Press. ISBN: 978-0-394-73862-8
_______. 1997. Discipline and Punish: The Birth of The Prison, London:
AllenLane. ISBN: 978-0679-72469-8
_______. 1990. The History of Sexuality I: An Introduction Middlesex:
Penguin. ISBN: 978-0-3947-4155-0
_______. 1990. The History of Sexuality II: The Use Of Pleasure.
Middlesex. Penguin. ISBN: 978-0394-75122-1
_______. 1990. The History of Sexuality III: The Care Of Self. Middlesex,
Penguin. ISBN: 978-0394741550
______. 2013. The Will to Know. Dalam Graham, A. (ed.) The Will to
Know: Lectures at the College De France 1970-1971 and Oedipal
Knowledge. New York: Palgrave-MacMillan Press. ISBN: 978-1403-
98656-6
KEGIATAN
BELAJAR
2
REMAJA DAN SEKSUALITA

II-23

McHoul, A. dan Grace, W. 1993. A Foucault Primer: Discourse, Power
and The Subject, Melbourne: Melbourne University. ISBN: 978-
0814-75480-1
Rubin, G.S. 2013. Deviation. Durham and London: Duke University Press.
ISBN : 978-0-8223-4971-6
Thorogood N. 2000. Mouthrules And The Construction of Sexual
Identities. Dalam Sexualities. Vol 3 No. 2 hal :165182.
Weedon, C. 1998. Feminist Practice and Poststructuralist Theory,
Monash; Monash University Press. ISBN: 978-0-631-19825-3














KEGIATAN BELAJAR 3-6
TINJAUAN REMAJA
DALAM
PARADIGMA-PARADIGMA
SOSIOLOGI
-1

KEGIATAN BELAJAR 3-6 : TEORI-TEORI YANG RELEVAN DALAM
MEMANDANG KEHIDUPAN REMAJA

Para sosiolog merajut berbagai realita menjadi bermakna dengan
menggunakan teori. Dari realita tersebut dibangun kembali teori
berdasarkan pendekatan teoritis yang digunakan. Dengan menggunakan
suatu pendekatan teoritis, menuntun sosiolog untuk merefleksikan
beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan masalah sosial. Dalam
Kegiatan Belajar 3 ini, Anda akan dituntun untuk menggunakan 5
pradigma yang terdiri dari 19 (sembilan) pendekatan teoritis dalam
sosiologi yang relevan untuk mengkaji kehidupan remaja, yaitu:

I. Paradigma Fakta Sosial (Pertemuan 3)
1. Teori Struktural Fungsional
2. Teori Konflik
II. Paradigma Definisi Sosial (Pertemuan 4)
3. Interaksionalisme Simbolik:
a. Teori Belajar
b. Teori Labeling
4. Fenomenologi
5. Dramaturgi
6. Konstruksi Sosial
III. Paradigma Perilaku Sosial (Pertemuan 5)
7. Behavioral Sociology
8. Pertukaran Sosial
IV. Paradigma Kritik (Pertemuan 6)
9. Teori Kritik
V. Paradigma Postmodern (Pertemuan 6)
10. Teori postmodern

-2

Pada pertemuan ke-3, diketengahkan kehidupan remaja berdasarkan
perspektif Paradigma Fakta Sosial yang berisi 2 teori besar, yakni teori
struktural fungsional dan konflik. Kegiatan belajar 4 mengetengahkan
kehidupan remaja dari perspektif Definisi Sosial dan 3 (tiga) teorinya,
yakni interaksionalisme simbolik, fenomenologi, dan dramaturgi. Pada
kegiatan belajar ke-5 mengetengahkan kehidupan remaja berdasarkan
perspektif Paradigma Perilaku Sosial, yang terdiri dari teori behavioral
sociology dan teori pertukaran. Pandangan kehidupaan remaja
berdasarkan paradigma Kritik, dan Postmodern, diketengahkan pada
pertemuan ke-6.

SKEMA PENYAJIAN MATERI
Dikarenakan teori-teori yang terkandung dalam paradigma-
paradigma sosiologi memiliki percabangan ataupun turunan maka untuk
lebih mudahnya, disusun skema yang dapat menjelaskan rumpun-rumpun
teoritis. Baik percabangan teori ataupun teori turunan tersebut dapat
digunakan untuk mengkaji kehidupan remaja untuk masa kekinian,
bergantung dari tema yang diambil dan cara pandang yang dilakukan.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema-skema berdasarkan
kegiatan belajar seperti berikut.










-3


KEGIATAN BELAJAR 3 PARADIGMA FAKTA SOSIAL (7 PENDEKATAN)


















PARADIGMA FAKTA SOSIAL
KONFLIK SOSIAL
STRUKTURAL FUNGSIONAL
FUNGSIONALISME
AWAL: REMAJA
SEBAGAI INVESTASI
SOSIAL
THE CHICAGO
SCHOOL:
MASALAH
KENAKALAN
REMAJA SEBAGAI
DISORGANISASI
SOSIAL
FUNGSIONALISME
PARSON: REMAJA
DAN KONSEP L-I-G-A
FUNGSIONALISME
MUTAKHIR:
REMAJA SEBAGAI
MASALAH FUNGSI
LATEN DAN
FUNGSI MAINFES
REMAJA DAN
KONFLIK KELAS
SUBKULTUR REMAJA
MULTIKULTURALISME:
MASALAH RASIAL DAN
KETIMPANGAN ETNIS
FEMINISME: REMAJA
DAN KONFLIK
GENDER
-4


KEGIATAN BELAJAR 4 PARADIGMA DEFINISI SOSIAL (6 PENDEKATAN)


















PARADIGMA DEFINISI
SOSIAL
FENOMENOLOGI INTERAKSIONISME SIMBOLIK
TEORI
BELAJAR
DRAMATURGI
KONSTRUKSI
SOSIAL/SOSIOLOGI
PENGETAHUAN
TEORI
LABELING
-5

KEGIATAN BELAJAR 5 PARADIGMA PERILAKU SOSIAL (2 PENDEKATAN)



















PARADIGMA DEFINISI
SOSIAL
PERTUKARAN SOSIAL SOCIAL BEHAVIOUR
-6


KEGIATAN BELAJAR 6 PARADIGMA KRITIK (2 PENDEKATAN)










KEGIATAN BELAJAR 6 PARADIGMA POSTMODERN (2 PENDEKATAN TERPILIH)






PARADIGMA KRITIK
ONE DIMENTIONAL MAN
(H. MARCUSE)



INDUSTRI BUDAYA
(T. ADORNO)


PARADIGMA DEFINISI
SOSIAL
KEMBALI KE MASA DEPAN
MENUJU MASA LALU



BUDAYA POP


-7

Melihat dari skema di atas maka terdapat 19 pendekatan dalam
mengkaji kehidupan remaja, yakni:
1. Paradigma Fakta Sosial terdapat 7 pendekatan, terdiri dari:
1) Fungsionalisme awal
2) The Chicago School
3) Fungsionalisme Parsons
4) Fungsionalisme Mutakhir
5) Konflik Kelas
6) Multikulturalisme
7) Feminisme

2. Paradigma Definisi Sosial terdapat 6 pendekatan, terdiri dari:
1) Interaksionalisme Simbolik
2) Teori Belajar
3) Teori Labeling
4) Fenomenologi
5) Dramaturgi
6) Konstruksi Sosial/Sosiologi Pengetahuan

3. Paradigma Perilaku Sosial terdapat 2 pendekatan, terdiri dari:
1) Social Behaviour
2) Pertukaran Sosial

4. Paradigma Kritik terdapat 2 pendekatan, terdiri dari:
1) Industri Budaya
2) One Dimentional Man

5. Paradigma Postmodern terdapat 2 pendekatan, terdiri dari:
1) Budaya Pop
2) Kembali Ke Masa Depan Menuju Masa Lalu

Hal ini memiliki makna bahwa kehidupan remaja memiliki kompleksitas yang
sangat rumit dan sangat wajar jika dijadikan percabangan baru dalam
sosiologi, terlepas dari induknya, yakni Sosiologi Keluarga. Selain itu, remaja
dapat dipandang juga bagaikan masyarakat tersendiri yang berada di tengah-
tengah masyarakat lainnya.


-8

PENUGASAN
Guna menunjang kompetensi, Saudara diwajibkan untuk membentuk
12 kelompok dan memilih 1 pendekatan dari 19 pendekatan yang tersedia.
Setiap kelompok terdiri dari 4 orang dengan tema/topik/judul yang diserahkan
sepenuhnya kepada mahasiswa.
Teknis penugasan adalah sebagai berikut:
1. Menyusun kajian/penelitian kecil dengan remaja sebagai subyek
penelitian (dapat berupa studi literatur, penelitian empiris, atau
eksperimen). Dokumentasi dapat disertakan sebagai penjelas
pemaparan karya tulis.
2. Lokasi kajian/penelitian dan subyek kajian/penelitian bersifat bebas,
diserahkan sepenuhnya kepada mahasiswa.
3. Kesamaan subyek diperkenankan, kesamaan pendekatan teoritis tidak
diperkenankan.
4. Hasil kajian/penelitian diseminarkan dan didiskusikan di depan kelas
pada pertemuan 9 hingga 14. Setiap pertemuan, diselenggarakan 2
(dua) kali seminar di dalam kelas.
5. Susun dalam bentuk makalah yang dikumpulkan sebagai tugas
mandiri berikut sebagai Ujian Akhir Semester (jika Ujian Akhir
Semester tidak diselenggarakan secara tertulis).
6. Penilaian yang sangat tinggi diberikan kepada mahasiswa yang
melengkapi tugas tersebut selayaknya Tugas Akhir/Skripsi (dilengkapi
dengan Usulan Penelitian dan Draft Karya Akhir). Meski demikian, poin
ini bersifat tidak mengikat, menyesuaikan dengan tingkatan semester,
minat pada tema yang diangkat untuk tugas akhir, dan akumulasi
materi perkuliahan teoritis dan metodologis, serta kemampuan
mahasiswa.
7. Konsultasi dapat dilakukan dalam 7 hari per minggu, pukul 08.00
24.00, baik secara langsung bertatap muka ataupun menggunakan
media sosial.







KEGIATAN BELAJAR 3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR PERSPEKTIF
PARADIGMA FAKTA SOSIAL

-1

KEGIATAN BELAJAR 3 : MEMANDANG REMAJA BERDASAR
PARADIGMA FAKTA SOSIAL

Sosiologi adalah ilmu yang memiliki berbagai paradigma. Pada
Kegiatan Belajar 3, materi yang terkandung dalam modul ini adalah
memandang remaja berdasar pada Paradigma Fakta Sosial. Secara
ringkas, paradigma ini memiliki dua buah teori besar, yakni Struktural
Fungsional dan Konflik Sosial. Kehidupan remaja dapat dipandang dari
masing-masing teori tersebut di atas.
Teori Struktural Fungsional maupun Konflik Sosial memiliki turunan
dan variannya masing-masing. Turunan dan varian-varian dari kedua teori
tersebut dapat menjadi alat guna meninjau kehidupan remaja berdasarkan
karakteristik yang tertampil sebagai akibat dari adanya tekanan sistem.
Oleh karena itu, pada Kegiatan Belajar 3, mahasiswa memandang remaja
sebagai bentukan dari sistem sosial yang melingkupinya, baik
berdasarkan pandangan Struktural Fungsional maupun Konflik Sosial.
Susunan dari modul Kegiatan Belajar 3 ini adalah sebagai berikut:
PENGANTAR
I. PARADIGMA FAKTA SOSIAL
1. Pendekatan Struktural Fungsional
1.1. Teori Fungsional Awal: Remaja Sebagai Investasi
Sosial
1.2. The Chicago School: Masalah Kenakalan Remaja
Sebagai Akibat Disorganisasi Sosial
1.3. Fungsionalisme Parsons: Remaja dan Konsep L-I-
G-A
1.4. Fungsionalisme Mutakhir: Remaja Sebagai
Masalah Fungsi Laten dan Fungsi Manifes
1.5. Kritik Terhadap Pendekatan Struktural Fungsional


-2

2. Pendekatan Konflik Sosial
2.1. Marxisme: Remaja dan Konflik Kelas
2.2. Multikulturalisme: Masalah Rasial Dan
Ketimpangan Etnis Pada Remaja
2.3. Feminisme: Remaja dan Konflik Gender
2.4. Kritik Terhadap Pendekatan Konflik Sosial
II. RINGKASAN
LATIHAN SOAL

Kegiatan Belajar 3 ini dimaksudkan agar mahasiswa dapat
memandang dan mengkaji kehidupan remaja berdasarkan pendekatan
Paradigma Fakta Sosial. Mahasiswa dikenalkan cara pandang Struktural
Fungsional dan Konflik Sosial guna menajamkan alur berpikir mahasiswa
dalam memandang remaja. Diharapkan mahasiswa dapat memahami dan
mampu secara jernih memahami remaja dari pendekatan tersebut dan
secara praktik, mampu melakukan kajian baik berdasarkan pendekatan
Struktural Fungsional maupun Konflik Sosial atas remaja.


KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 1

PENGANTAR
Paradigma Fakta Sosial adalah paradigma yang seringkali
digunakan oleh para sosiolog guna membedah suatu fenomena sosial.
Ritzer (2010) menyatakan bahwa paradigma ini dapat dikatakan
meletakkan dirinya pada hukum-hukum umum, sebagaimana halnya
dalam ilmu-ilmu alam. paradigma fakta sosial memusatkan perhatiannya
pada fakta sosial atau struktur dan institusi sosial berskala makro. Model
yang digunakan teoritisi fakta sosial adalah karya Emile Durkheim,
terutama The Rules of Sociological Method dan Suicide (Goodman dan
Ritzer, 2004). Menurut Ritzer (2010), Durkheim menyatakan bahwa fakta
sosial sosial terdiri atas dua tipe, yaitu struktur sosial (social structure) dan
pranata sosial (social institution). Pendahulu Durkheim, August Comte,
Bapak Sosiologi dan pencetus positivisme dalam ilmu-ilmu sosial
memiliki pengaruh besar dalam pengembangan paradigma fakta sosial.

I. PARADIGMA FAKTA SOSIAL
Ciri khas dari paradigma fakta sosial adalah sifatnya makro dan
pola kehidupan manusia ditentukan oleh kekuatan-kekuatan yang berada
di luar dirinya. Paradigma fakta sosial memiliki dua unit teori besar, yakni
struktural fungsional dan konflik. Dalam memandang remaja, paradigma
ini lebih menekankan pada kekuatan-kekuatan dari luar remaja yang
membentuk pola-pola kehidupan remaja secara makro.

1. Pendekatan Struktural Fungsional
Pendekatan struktural fungsional merupakan kerangka kerja
teoritis yang memandang masyarakat sebagai sebuah sistem yang di
dalamnya terdapat bagian-bagian yang terhubung satu sama lain.
Sosiolog menggambarkan bahwa bagian utama dari sistem tersebut
adalah institusi sosial. Institusi sosial dipandang sebagai bidang utama
KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 2

dari kehidupan sosial atau subsistem utama dalam masyarakat yang
terorganisir guna memenuhi kebutuhan dasar manusia (Macionis, 2010:
9). Sebagai contoh, pendekatan struktural fungsional mengkaji kehidupan
remaja sebagai sebuah sistem untuk memastikan keberlangsungan hidup
kaum remaja atau untuk mempersiapkan diri mereka di masa yang akan
datang. Dalam hal ini, teorisi struktural fungsional mengkaji bagaimana
institusi pendidikan memberikan remaja berbagai pengetahuan dan
kecakapan-kecakapan yang kelak mereka butuhkan untuk melanjutkan
hidupnya saat dewasa, yakni untuk bekerja.

1.1. Teori Fungsional Awal: Remaja Sebagai Investasi Sosial
Seabad lalu, pendekatan struktural fungsional mengandaikan
masyarakat sebagai sebuah organisme makhluk hidup. Pengandaian ini
menyediakan seperangkat teori mengenai pembagian kerja (division of
labour) yang digagas oleh Durkheim (1998 [1897]; dalam Yusar, 2001),
yakni sebuah model yang memandang bahwa dalam masyarakat industri,
diperlukan spesialisasi dan kecakapan khusus guna mengisi lapangan
kerja dalam industri.
Perkembangan industri pada abad ke-19 dianggap sebagai awal
mula terbentuknya terminologi remaja. Industri yang membutuhkan
banyak tenaga kerja, menyerap tenaga kerja termasuk anak-anak. Anak-
anak berusia 7-15 tahun adalah bagian dari sistem produksi dalam
industri. Mungkin anda pernah menonton Oliver Twist? Film ini
menggambarkan bagaimana anak-anak menjadi bagian dari sistem
produksi masyarakat kapitalisme awal.
Sejalan dengan itu, negara-negara di Eropa mulai bergerak
menuju negara konstitusi modern yang dilengkapi dengan hukum-hukum
ketenagakerjaan. Atas kebutuhan terhadap skill yang memadai, sekolah-
sekolah mulai dibuka sebagai sarana investasi atas skill yang dibutuhkan
KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 3

untuk industri. Dalam hal ini, anak-anak dilindungi dan tidak masuk dalam
struktur produksi industri secara langsung, namum disiapkan sebagai
investasi tenaga kerja yang memiliki skill lebih tinggi daripada angkatan
kerja sebelumnya. Anak-anak diberikan saluran khusus berupa sekolah
untuk beberapa tahun lamanya. Karena itulah, anak-anak mulai keluar
dari struktur produksi kapitalisme untuk sementara, sebelum mereka siap
untuk mengisi struktur produksi berdasarkan syarat kecakapan yang
disiapkan dalam sekolah.
Keterpisahan anak-anak dari struktur produksi kapitalisme
menyebabkan kepribadian massal anak-anak menjadi berubah. Usia
remaja memiliki tempatnya tersendiri, yakni sebagaicadangan tenaga
kerja yang siap menggantikan angkatan kerja di atasnya. Mereka siap
bekerja saat dinyatakan lulus sekolah dan diberi sertifikat/ijazah sebagai
pengakuan atas kecakapan yang dimilikinya. Kecakapan tersebut memiliki
makna, bahwa seseorang mampu bekerja sesuai dengan spesialisasinya,
sebagaimana yang dibutuhkan oleh industri. Saat orang tersebut diterima,
di atas kertas, ia mampu memajukan industri di mana ia bekerja, dari
sinilah berkembang istilah karir.
Para fungsionalis masa awal memandang masyarakat berada
dalam kondisi baik dan sejahtera. Remaja adalah investasi terbaik dalam
industri yang oleh karenanya perlu disiapkan melalui berbagai bentuk
pendidikan guna membentuk skil-skil yang terspesialisasikan berdasar
pada kebutuhan industri. Oleh karena itu, anak-anak dan remaja
menghabiskan waktunya di sekolah guna membentuk karir mereka di
masa yang akan datang. Tentu saja hal tersebut mengabaikan adanya
anomali dalam kehidupan masyarakat, khususnya remaja, sebab dalam
kenyataannya tidak sedikit anak-anak atau remaja yang tidak masuk ke
dalam sekolah. Mereka ini, menghabiskan waktunya sebagai bagian dari
KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 4

Kekuatan Luar
produksi kapitalisme yang marginal, informal, dan juga sebagai pelaku
kriminal, seperti copet atau pencuri (Macionis, 2010).
Para fungsionalis ini memandang bahwa anomali tersebut
diakibatkan oleh remaja yang lemah dan gagal dalam survival for the fittes
atau tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan (maladjusted). Herbert
Spencer (1820-1903) berpendapat bahwa masalah kenakalan remaja
diakibatkan karena lemahnya kemampuan remaja dalam beradaptasi
dengan lingkungannya, termasuk dengan remaja lain yang bersungguh-
sungguh dalam belajar. Pandangan Spencer tersebut berasal dari
gagasan Darwin yang mempublikasikan idenya tentang evolusi organik
pada tahun 1859. Spencer sebagai Darwinisme Sosial memandang
bahwa hanya individu atau kelompok yang kuatlah yang dapat bertahan
dibandingkan dengan individu atau kelompok yang lemah. Bagi Spencer,
kompetisi yang ketat sangat baik bagi masyarakat karena dapat
memberikan kepastian atas survival of the fittest atau hanya yang kuat
yang mampu bertahan. Ilustrasinya dapat dilihat dalam diagram 3.1 di
bawah:
Diagram 3.1.
Remaja Dalam Lingkup Fungsionalisme Awal










Industri
Pendidikan
Agama
Keluarga
Remaja
Adjusted
Maladjusted
ed
.
Pekerjaan/
Karir
Tidak
bekerja
Kriminal

KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 5

1.2. The Chicago School: Masalah Kenakalan Remaja Sebagai
Disorganisasi Sosial
Tipe kedua dari teori fungsional struktural seringkali disebut
sebagai Chicago School. Disebut demikian karena lahir dan bermula dari
University of Chicago Amerika Serikat, departemen sosiologi pertama
yang berdiri di Benua Amerika. Berbeda dengan pendapat Spencer, The
Chicago School memandang bahwa kenakalan remaja bukan
dikarenakan lemahnya individu remaja melainkan hasil oleh adanya
disorganisasi sosial dalam masyarakat (Park dan Burgess, 1970; dalam
Macionis, 2010:11). Gagasan dari The Chiacago School tersebut dapat
dikatakan mendominasi berbagai kajian mengenai remaja, yakni masalah
kenakalan remaja.
Teori disorganisasi sosial yang dinyatakan oleh The Chicago
School berpendapat bahwa perubahan yang terlalu cepat dalam
masyarakat mengakibatkan beragam masalah sosial, termasuk kenakalan
remaja. Temuan mengenai disorganisasi sosial dengan mudah dapat
ditemukan pada kota-kota industri di Amerika Serikat yang tumbuh dengan
sangat pesat dan dengan masuknya berjuta orang imigran ke kota-kota
tersebut. Kehidupan pertetanggaan tradisional dan pola-pola keluarga
berubah secara cepat menjadi kehidupan yang dicirikan oleh individualitas
yang tinggi. Sekolah-sekolah tidak dapat menampung para pelajar dan
tidak tersedia permukiman yang cukup bagi penduduk.
Orang dewasa sangat berfokus untuk mendapatkan pekerjaan
guna menafkahi anak-anak mereka, dan berkeras agar anak-anaknya
dapat masuk sekolah. Di sisi lain, pada tahun 1910-1930an, ketersediaan
sekolah masih sangat minim, hal ini mengakibatkan banyak anak dan
remaja yang tidak masuk sekolah dan mengisi waktunya untuk bermain di
KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 6

jalanan atau taman kota. Di sinilah anak-anak mulai melakukan berbagai
kenakalan dalam berbagai tingkatan hingga tindakan kriminal.
1

Penyebab segregasi antara remaja yang berhasil terserap
pekerjaan dan berkarir dengan remaja yang tidak terserap dalam
lapangan kerja, bukanlah diakibatkan dari lemahnya individu remaja
tersebut, melainkan disorganisasi sosial masyarakat itu sendiri.
Disorganisasi menciptakan ketiadaan orientasi bagi remaja untuk
menentukan hidup sesuai harapannya dan cenderung untuk bebas
menjalani hidup secara terpisah dari nilai-nilai organisasi masyarakat.
Menjadi remaja nakal adalah pilihan yang harus dihadapi, saat perubahan
yang terlalu cepat memaksa mereka untuk memilih dalam ketiadaan
sarana pendukung yang dibutuhkan oleh sistem masyarakat.
Dalam menghadapi disorganisasi sosial yang terjadi pada kota-kota
industri Amerika Serikat itu, pada tahun 1920-1930an, banyak sosiolog
dari Universitas Chicago yang menjadi aktivitis reformasi. Mereka
membantu dalam penyusunan permukiman lokal, membantu para imigran
belajar bahasa Inggris, dan pada beberapa kasus, para sosiolog
Universitas Chicago membangun pelayanan publik guna mengeliminir
disorganisasi sosial yang terjadi. (Faris, 1967; dalam Macionis, 2010: 11).







1
Untuk pengayaan, ada baiknya Anda menonton film seri The Little Rascals. Film ini merupakan
komedi anak-anak yang berisi tentang kehidupan anak-anak menjelang remaja yang berasal dari
golongan kelas pekerja di perkotaan Amerika Serikat tahun 1930an. Berbagai kreativitas dan
kenakalan dari The Little Rascals terbentuk sebagai hasil kehidupan mereka di luar rumah dan
sekolah, yakni di jalanan dan taman-taman kota.
KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 7

Kekuatan Luar
Diagram 3.2.
Remaja Dalam Lingkup Fungsionalisme Mahzab Chicago











Dari diagram 3.2. di atas dapat dilihat bahwa perubahan dalam
masyarakat menghasilkan dikotomi antara yang remaja yang terintegrasi
dalam keluarga dan lingkungannya dengan remaja yang tidak terintegrasi
dengan keluarga dan lingkungannya. Para teorisi Mahzab Chicago
berpendapat bahwa sistem yang terorganisasi, yakni keluarga dan remaja
yang terintegrasi dengan keluarga dan lingkungannya adalah dapat
terserap dalam lapangan pekerjaan dan memiliki karir yang bagus
daripada mereka yang terkena dampak dari disorganisasi. Hal tersebut
diadopsi oleh para teorisi psikologi perkembangan, khususnya yang
memperhatikan tentang kehidupan remaja dan keluarganya.
Kemampuan adaptasi keluarga terhadap perubahan sosial menjadi
kunci utama berhasilnya remaja melewati masa kritis. Keluarga yang
mampu beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, mampu
membesarkan anak-anak remaja mereka melalui pendidikan yang
membekali remaja dengan skill yang dibutuhkan oleh industri.

Industri
Pendidikan
Perubahan
Sosial
Keluarga Organized
Disorganized
d
Remaja Yang
Terintegrasi
Dengan Keluarga
dan Lingkungan
Keluarga
Remaja Yang
Tidak
Terintegrasi
Dengan Keluarga
dan Lingkungan
Migrasi
KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 8

1.3. Fungsionalisme Parson: Remaja dan Konsep L-I-G-A
Talcott Parsons dapat dianggap sebagai pemindah teori
fungsionalisme awal ke suatu model sistem yang lebih umum dan makro
(Poloma, 2000: 175). Teori sistem yang umum telah mendapatkan
pendukung di hampir seluruh cabang ilmu, baik ilmu alam maupun ilmu
sosial, hal ini mengandung pengertian bahwa Parsons tidak meninggalkan
tradisi yang dibangun oleh fungsionalisme awal, yakni tetap
mengandaikan masyarakat sebagai sebuah organisme, suatu sistem yang
saling terhubung oleh organ-organnya.
Parson berusaha untuk menunjukkan bahwa: 1) sistem itu hidup
dan bereaksi terhadap lingkungan; dan 2) sistem selalu berusaha
mempertahankan kelangsungan pola organisasi serta fungsi-fungsi yang
keduanya berbeda dari lingkungan, dan apada tataran tertentu lebih stabil
daripada lingkungannya (Parsons, 1970: 30-32; dalam Poloma, 2000:
179). Parsons menekankan bahwa sistem yang hidup adalah sistem yang
terbuka, yakni saling mengalami pertukaran dengan lingkungannya.
Parson (1970:35; dalam Poloma, 2000: 180) mengemukakan
bahwa sistem yang hidup memiliki ciri-ciri umum berupa prasyarat atau
functional imperative. Fungsi-fungsi atau kebutuhan-kebutuhan tertentu
harus dipenuhi oleh sistem guna menunjang kelestariannya. Dua pokok
penting yang harus dipenuhi dan termasuk dalam kebutuhan fungsional
adalah: 1) yang berhubungan dengan kebutuhan sistem internal atau
kebutuhan sistem saat berhubungan dengan lingkungannya; dan 2) yang
berhubungan dengan pencapaian sasaran atau tujuan serta sarana yang
diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Berdasarkan dua kebutuhan
tersebut, Parsons menggagas 4 (empat) kebutuhan fungsi primer, yakni:
A. Laten Pattern-Maintenance (L), yakni menunjuk pada bagaimana
sistem dapat menjamin kesinambungan tindakan dalam sistem
sesuai dengan aturan atau norma.
KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 9

B. Integration (I), yakni koordinasi serta kesesuaian bagian-bagian dari
sistem sehingga seluruhnya dapat berjalan secara fungsional.
C. Goal Attainment (G), yakni masalah pemenuhan tujuan sistem dan
penetapan prioritas di antara tujuan-tujuan tersebut.
D. Adaptation (A), yakni menunjuk pada kemampuan sistem dalam
menjamin berbagai hal yang dibutuhkan dari lingkungan serta
mendistribusikan sumber-sumber tersebut ke dalam seluruh sistem.
Dalam mengaplikasikan skema L-I-G-A dari Parsons dalam
mengkaji remaja, perlu ditarik ke tataran yang lebih makro, yakni pada
level masyarakat sebagai sistem. Seperti uraian berikut:
Kasus: Mewujudkan masyarakat yang terbebas dari ancaman HIV dan AIDS
pada remaja.

1. Fungsi L:
Merupakan sistem kultural. Sistem kultural ini ditujukan sebagai upaya
memelihara pola-pola tindakan aktor (individu dari masyarakat) agar
berperilaku sesuai dengan yang diharapkan oleh masyarakat. Masyarakat
menyusun seperangkat aturan yang menjadi pedoman perilaku yang
pantas untuk dilakukan. Pedoman-pedoman berupa aturan juga
melingkupi bagi remaja. Aturan yang menyangkut remaja ini meliputi
aturan kesusilaan, seperti:
- adab berpakaian;
- waktu berpacaran;
- tempat berpacaran;
- larangan berhubungan badan tanpa diikat pernikahan;
- larangan penyalahgunaan narkotika dalam berbagai bentuk
- sanksi terhadap pelanggaran kesusilaan
- sanksi terhadap penyalahgunaan narkotika
Agar aturan tersebut berjalan dengan efektif, diperlukan institusi-institusi
yang menjaga agar aturan di atas dapat berjalan dengan baik. Institusi-
institusi ini terdapat dalam fungsi I.

2. Fungsi I:
Merupakan sistem sosial. Integrasi dilakukan dengan mengendalikan
bagian-bagian yang menjadi komponen dari tujuan masyarakat.
Komponen-kompenen tersebut adalah institusi. Dengan mengendalikan
institusi-institusi dalam masyarakat, maka institusi-institusi tersebut
KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 10

berkoordinasi dalam mencegah terjangkitnya remaja oleh virus HIV,
melalui:
- Institusi keluarga sebagai pembina remaja di rumah
- Institusi sekolah sebagai pembina remaja di sekolah
- Institusi kesehatan sebagai pemantau kesehatan remaja
- Institusi hukum sebagai pemberi sanksi atas pelanggaran
- Institusi agama sebagai pembina moralitas remaja
Masing-masing institusi ini berkoordinasi guna mencapai tujuan yakni
bebas HIV/AIDS. Sasaran yang dituju adalah remaja.

3. Fungsi G:
Merupakan sistem kepribadian. Setiap individu dalam masyarakat
memobilisasi sumber daya guna yang dibutuhkan guna, seperti
peengetahuan dan sikap guna menangkal HIV/AIDS. Setiap individu
memiliki pengetahuan dan sikap yang sama terhadap HIV/AIDS. Dengan
demikian prioritas ditujukan kepada remaja yang diduga sebagai
golongan yang rentan terhadap penyebaran HIV AIDS. Pencapaian tujuan,
dilakukan dengan memperkuat institusi-institusi yang terdapat dalam
fungsi I.

4. Fungsi A
Merupakan sistem tindakan dari perilaku organisme dengan
menyesuaikan diri terhadap lingkungan eksternal dan mengubahnya
secara internal di dalam masyarakat dengan fokus pada remaja.
Penyebaran HIV/AIDS di luar masyarakat dapat dikendalikan dengan
mengaktifkan ketiga fungsi di atas (L-I-G).

Keempat fungsi tersebut tidak dilakukan secara bertahap, melainkan dijalankan
secara serempak dan saling berikatan di antara ke-empat fungsi tersebut. Seperti
yang tergambar dalam skema berikut:











KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 11













Parsons (1970: 44; dalam Poloma, 2000: 183) menekankan saling
ketergantungan dan saling keterhubungan dari masing-masing sistem
tersebut. Parsons juga menyatakan bahwa masyarakat merupakan contoh
dari sistem sosial dan juga merupakan substansi yang paling penting
untuk dianalisa. Dengan demikian, fungsionalisme Parsons, pada tataran
tertentu, sulit untuk dijadikan alat analisa pada sub masyarakat yang khas
seperti remaja. Di sisi lain, jika memandang remaja sebagai keseluruhan,
maka pendekatan Parsons di atas dapat digunakan sebagai upaya
memperoleh kestabilan dalam masyarakat kaum remaja.

1.4. Fungsionalisme Mutakhir: Remaja Sebagai Masalah Fungsi
Laten dan Fungsi Manifes
Sekira tahun 1950an, pendekatan struktural-fungsional mengubah
tekanannya dari aktivis menjadi analis sosial ilmiah. Para sosiolog mulai
mempelajari pola-pola dari fungsi positif (eufunctions) seperti pada remaja.
Dalam mengkaji remaja, menunjukkan fungsi yang diinginkan dan dikenal
Latency -Pattern
Maintenance (L)
(Sistem Kultural
Aturan/Norma)
Integration (I)
(Sistem Sosial -
institusi)
Adaptation (A)
(Sistem Tindakan-
penyesuaian)

Goal Attainment (G)
(Sistem Kepribadian
mobilisasi
pengetahuan)
KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 12

secara luas (fungsi manifes), dan fungsi lain yang tidak diharapkan dan
tidak dikenal secara luas (fungsi laten). Fungsi manifes dari remaja
adalah misalnya sekolah atau pendidikan dapat meningkatkan
kesejahteraan pribadi dan keluargnya kelak; sementara fungsi latennya
adalah memperkuat nilai-nilai budaya kerja individu remaja dan raihan
penghargaan atau promosi (karir). Sosiolog juga menyatakan bahwa
dalam pola-pola masyarakat terdapat fungsi negatif (disfungsi). Sebagai
contoh, salah satu disfungsi pada remaja yang berhasil terserap oleh
lapangan kerja adalah minimnya waktu bersama orang tuanya dan
membentuk keluarg batihnya sendiri secara otonom, tidak memiliki kohesi
dalam kehidupan pertetanggaannya (Macionis, 2010).
Para sosiolog pun menggarisbawahi bahwa sesuatu yang baik
seperti karir dapat mengandung beberapa konsekuensi buruk, yakni
menyingkirkan kawan dengan berbagai cara. Di lain sisi, hal yang
dianggap buruk seperti kemiskinan, pada tataran tertentu memberikan
dampak yang baik bagi masyarakat. Contohnya, terdapatnya golongan
remaja miskin di kota, memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk
mempekerjakan remaja miskin sebagai pelaksana pembersih ruangan
atau yang biasa dikenal sebagai cleaning service (Macionis, 2010).
Lalu bagaimana dengan munculnya subkultur-subkultur remaja
yang dianggap berbeda dari lingkungan masyarakatnya yang lebih besar.
Dalam hal ini, subkultur-subkultur remaja seperti punk, gang motor, grafitti,
dan lain sebagainya adalah bentuk reaksi terhadap adanya anomie
(Yusar, 2001: 32). Anomie dengan mengacu pada konsepsi Durkheim
merupakan menurun atau runtuhnya kewibawaan nilai-nilai atau norma-
norma sosial yang mengikat para anggota masyarakat. Terjadinya anomie
tersebut, menekan para remaja untuk membentuk perilaku-perilaku yang
tertampil, yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya, dan
termasuk pada kenakalan remaja atau kriminalitas.
KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 13


1.5. Kritik Terhadap Pendekatan Struktural-Fungsional
Pendekatan teoritis struktural fungsional telah mempengaruhi
sosiolog untuk waktu yang relaitf lama, yakni lebih dari satu abad namun
pada tahun 1960an mulai tergeser oleh pandangan konflik sosial. Kritik
utamanya adalah struktural fungsional melindungi status quo. Selain itu,
struktural fungsional juga dipandang kurang memberi perhatian pada
pemilahan sosial berdasarkan ras, kelas, dan gender.

2. PENDEKATAN KONFLIK SOSIAL
Pendekatan konflik sosial adalah sebuah kerangka teoritis yang
memandang masyarakat terpilah berdasarkan ketimpangan dan konflik.
Secara umum, teori konflik sosial mengklaim bahwa masalah sosial
muncul karena masyarakat terbagi atas kaum berpunya dan tidak
berpunya.

2.1. Marxisme: Remaja dan Konflik Kelas
Teori konflik kelas merupakan penjelasan atas masalah sosial yang
dikembangkan dari teori Marx mengenai pertentangan kelas. Karl Marx
(1818-1883), seorang filsuf dan aktivis sosial terpukau oleh perkembangan
industri baru yang tercipta. Marx mengkritisir bahwa dalam kehidupan
masyarakat, kemakmuran atau kekayaan dikendalikan oleh sebagian
kecil anggotanya. Karenanya dia merefleksikan, bagaimana mungkin
terjadi sebuah masyarakat yang kaya memiliki banyak anggotanya yang
miskin?
Pemilahan kelas berpunya dan tidak berpunya terjadi dalam
remaja. Kaum Marxis memandang bahwa pada remaja berpunya,
kesempatan lebih terbuka bagi remaja berpunya daripada tidak berpunya.
Pada remaja yang berasal dari golongan berpunya, di atas kertas, mereka
KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 14

memiliki jaminan untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi
dengan fasilitas yang lebih baik. Skill yang dimiliki dari pendidikan juga
menjadikan remaja berpunya lebih unggul dalam karir. Sebaliknya, pada
remaja tidak berpunya, kesempatan mengenyam pendidikan yang lebih
tinggi dan fasilitas yang bagus lebih kecil. Bagi kaum Marxis, mereka inilah
yang akan menjadi kelas pekerja rendahan, dan pada tataran tertentu,
menjadi pelaku berbagai tindak kriminalitas dan kesusilaan.
Dalam kajian mengenai remaja, Marxisme memandang bahwa
remaja merupakan bagian dari masyarakat yang tengah mengalami
alienasi dari sektor produksi. Menurut Marx (1968; dalam Yusar, 2001:34),
kaum muda seringkali tersisihkan dari masyarakat luas karena mereka
menempati posisi marjinal atau teralienasi dalam konteks kapital Pada
masa remaja, sekolah menjadi satu-satunya orientasi dalam hidup remaja
yang menjauhkan dirinya dari struktur-struktur produksi. Dalam sekolah,
remaja diberi pilihan kecakapan-kecakapan yang ditentukan guna mengisi
industri. Hal ini memiliki makna bahwa remaja tidak memiliki pilihan lain
selain untuk mengisi industri dan teralienasi dari gagasan-gagasan,
pemikiran, atau pendiriannya yang orisinil.
Epstein (1998: dalam Yusar, 2012: 12) melihat bahwa kaum muda
saat ini tengah teralienisasi dari kegiatan produksi. Epstein kemudian
melanjutkan bahwa ada dua sisi yang mengkategorisasikan alienisasi
tersebut, yaitu :
a. pandangan struktural, dikarenakan oleh suatu masyarakat telah
tersusun berdasarkan posisi struktur golongan yang dapat
terlihat dalam masyarakat. Dalam pandangan ini, kaum muda
secara progresif dijauhkan dari beberapa aspek yang penting
atas keberadaan sosial mereka oleh masyarakat dan organisasi
ekonomi dalam masyarakat tersebut. Sekolah dan bekerja telah
menjadi acuan baku yang menambah ketidakberartian dan
KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 15

ketidakberdayaan kaum muda karena hanya sedikit meminta
kemampuan intelektual dan kreativitas dalam mengembangkan
dirinya.
b. Pandangan psikologis, dikarenakan perasaan tak terpengaruh
yang dirasa oleh individu dalam situasi tertentu. Hal ini
disebabkan adanya perasaan manusia atas ketidakmampuan
dan ketidakberdayaan.
Epstein (1988:6; dalam Yusar, 2012: 12) menyatakan bahwa berdasarkan
pandangan Marxis, remaja memiliki pengikatan tersendiri dalam
lingkungan sebayanya sebagai akibat dari alienasi atas struktur produksi
kapitalis. Pada gilirannya, alienasi tersebut menimbulkan semangat
perlawanan guna menunjukkan identitas remaja sebagai subkultur dari
masyarakat yang lebih luas.

Perlawanan dari rasa persatuan, merupakan perluasan dari
kekurang percaya dirian terhadap pengendalian diri, keberartian
dirinya, dan kemampuan memahami yang merembes memasuki
jiwa seseorang dan menjadikannya sebagai orientasi hidup. Dalam
konteks pengalaman atas alienasi kaum muda, kata keberartian
merupakan poin yang kritis daripada kedua istilah lain di atas, oleh
karenanya itulah pencarian arti hidup kaum muda terbentuk atau
dengan kata lain mengantar pada pembentukan subkultur kaum
muda (Epstein, 1998: 6; dalam Yusar, 2001: 34).

Dari sudut pandang Marxis, lahirnya sub-sub budaya pada kaum remaja
merupakan hasil dari alienasi yang disandang oleh remaja terhadap sektor
produksi.



KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 16


Sumber: independent.co.uk

Sumber:petersterlacci.com

Keterangan (kiri ke kanan): punk dan harajuku adalah contoh golongan remaja yang
teralienasi dari sektor produksi kapitalisme.

Ikhtisar dari penelitian tesis yang dilakukan Yusar (2010) berjudul
Perahu Atau Papan Surfing senada dengan pandangan Marxis. Dalam
penelitian tersebut, sektor produksi merupakan ranah bagi orang tua.
Moda produksi pada masyarakat yang ditelitinya adalah masyarakat
nelayan. Dari awal tahun 1960an hingga tahun 1990, anak-anak terlibat
dalam struktur produksi, yaitu menjadi tenaga bantu orang tua dalam
mencari dan menangkap ikan di laut. Pada tahun 1960 hingga 1980,
belum terjadi mekanisasi pada alat tangkap (perahu dan jaring) namun
lebih mengandalkan pada penggunaan layar. Nelayan pada saat itu
bergantung pada angin untuk menggerakkan perahunya. Untuk mencari
ikan, orang tua memerlukan bantuan dari anak-anak (baik laki-laki
maupun perempuan) untuk mengarahkan layar, menjaring, dan
mengumpulkan ikan di perahu. Sejak bergulirna motorisasi perahu,
nelayan tidak menggantungkan diri pada arus angin namun terbantu
karena mesin motor perahu.
Dengan perkembangan teknologi motorisasi perahu, anak-anak
tidak lagi dilibatkan dalam struktur produksi penangkapan ikan. Orientasi
orang tua terhadap anak pun berubah dari tenaga bantu di sektor produksi
KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 17

menjadi investasi pendidikan. Dibukanya sekolah di lokasi penelitian,
mendorong orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya sesuai dengan
program pemerintah. Di sisi lain, ketersediaan jenjang sekolah yang belum
memadai (jenjang SMP dan SMA harus ditempuh ke luar dari lokasi
penelitian) membuat anak-anak remaja memiliki waktu luang yang sangat
luas akibat dari alienasi yang dialami mereka atas sektor produksi.
Dibukanya lokasi penelitian sebagai daerah wisata surfing, membuat
remaja berhimpun dan membentuk sub masyarakat baru, yaitu remaja
surfer. Orientasi remaja terhadap laut pun berubah, tidak lagi ingin
melakukan produksi di sektor kenelayanan, melainkan ingin menjadi surfer
selama yang mereka inginkan dan nampak gejala keengganan untuk
menjadi nelayan, meneruskan moda produksi yang ditekuni oleh generasi
di atas mereka.

2.2. Multikulturalisme: Masalah Rasial dan Ketimpangan Etnis
Sosiolog memandang bahwa konflik tidak hanya berdasarkan
pertentangan kelas tetapi juga dari warna kulit dan kebudayaan.
Masyarakat menyematkan warna kulit dan latar budaya dalam suatu
upaya menempatkan orang perorang dalam suatu tatanan hierarki. Teori
multikultur menjelaskan pertentangan dalam remaja meliputi lingkup ras
dan etnis. Pertentangan tersebut dipicu karena adanya ketimpangan atas
ras/etnis dalam pendekatan ekonomi.
Saat ini dapat disaksikan berbagai gaya remaja yang mengacu
pada ras maupun etnis. Hip-hop, Harajuku, Rastafaria, Rave, Gothic,
Nerd, dan lain-lain adalah bentukan dari pertentangan berdasar pada ras
dan etnis. Bagaimana dengan di Indonesia? Meskipun dapat dikatakan
tidak ada dominasi, namun di Indonesia cenderung lebih menyerap gaya-
gaya remaja berdasar ras/etnis yang bersumber dari luar negeri.
KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 18

Munculnya gerakan gaya remaja seperti hip hop atau rastafaria
adalah reaksi atas dominasi ras kulit putih dalam hal ekonomi, hukum, dan
politik. Di Amerika Serikat, kemakmuran cenderung dinikmati oleh ras kulit
putih. Ras lainnya seperti mongoloid, hispanik, dan negrito menempati
posisi berikutnya. Dominasi tersebut menimbulkan budaya sandingan atau
budaya tandingan yang dilakukan oleh remaja. Budaya tandingan ini
merupakan bentuk konflik atas dominasi kulit putih, sekaligus
menunjukkan adanya kesadaran identitas bersama, dari kaum mongoloid
(Asia), hispanik, dan negrito dalam bentuk gaya yang khas menandingi
gaya remaja kulit putih.

Sumber: highnobeity.com

Sumber: pinterest.com

Sumber: heavemedia.com

Sumber: arabamerican.com
Keterangan (kiri ke kanan, atas ke bawah): gaya remaja kulit hitam, latin, arab, dan kulit
putih. Gaya dari keompok kulit hitam, latin, dan Arab tersebut dipandang sebagai perilaku
yang muncul akibat tekanan dari sistem yang mengekang etnis/ras dan pada akhirnya
memunculkan upaya perlawanan terhadap sistem tersebut.

KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 19

Tampilan remaja kulit putih (ras Kaukasoid) nampaknya menjadi
acuan baku bagi remaja di berbagai belahan dunia dan hal ini mendapat
penentangan dalam hal gaya yang ditunjukkan oleh remaja di luar
Amerika. Hegemoni remaja kulit putih diperkuat dengan banyaknya
industri hiburan yang mengedepankan gaya-gaya remaja kulit putih. Di sisi
lain, terdapat upaya perlawanan terhadap gaya kulit putih ini di luar
Amerika, yakni Korean Style. Penentangan juga terjadi dengan label
agama. Untuk Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim, gaya
penentangan tersebut adalah bercirikan gaya remaja muslim


Sumber: gokpop.com

Sumber: triggy.com

Keterangan (kiri ke kanan): Gaya Kpop dan remaja muslim adalah bentuk penentangan
terhadap hegemoni gaya remaja kulit putih Amerika. Kedua gaya dalam gambar di atas
menunjukkan adanya semangat pengakuan atas identitas yang berbeda dari remaja kulit
putih


2.3. Feminisme: Remaja dan Konflik Gender
Feminisme merupakan gerakan politik yang berupaya membangun
kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan. Penggerak feminisme
mengklaim bahwa remaja perempuan adalah pihak yang paling menderita
karena selalu dijadikan obyek pada berbagai media maupun berita.
Remaja perempuan dianggap sebagai pemanis dan hanya dikonsumsi
tubuhnya, bukan kecakapannya yang lain. Hal ini dikarenakan adanya
KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 20

anggapan bahwa masyarakat menempatkan laki-laki sebagai pihak yang
memiliki kuasa di atas perempuan.
Remaja-remaja khususnya perempuan dijadikan sebagai endorser
citra cantik guna menguntungkan pihak pemodal. Pihak pemodal dalam
hal ini adalah media. Dengan dibentuknya konsepsi cantik dengan peraga
para remaja perempuan, dalam pendekatan ini, para penganut feminisme
menganggap terjadi hegemoni kuasa laki-laki guna memenuhi kebutuhan
syahwatnya. Hal ini juga mengacu pada pendekatan yang digagas oleh
Foucault (1999), mengenai histerisasi tubuh perempuan. Di sisi lain, para
remaja menyenangi konsep cantik yang diarahkan oleh media, sehingga
mendorong konsumersisme di kalangan remaja. Oleh karenanya,
kapitalisme di sini dicitrakan sebagai kuasa yang dipegang oleh kaum laki-
laki yang mengeksploitasi remaja perempuan guna akumulasi modal para
kaum laki-laki (kapitalis).

Kritik Terhadap Pendekatan Konflik Sosial
Pendekatan konflik sosial dengan tegas membenturkan dirinya
terhadap cara pandang struktural fungsional. Di satu sisi struktural
fungsional memandang masyarakat berada dalam kondisi setimbang dan
saling terhubung dengan baik, di sisi lain konflik sosial memandang bahwa
masyarakat berada dalam suasana pertentangan. Meskipun demikian,
pendekatan konflik sosial memiliki berbagai keterbatasan.
Kritik yang mengemuka terhadap pendekatan konflik sosial adalah
terlalu melebihkan klaimnya atas keterpilahan dalam masyarakat. Para
pengkritik pendekatan konflik sosial menyatakan bahwa dengan naiknya
kesejahteraan anggota masyarakat hanya sedikit yang menaruh perhatian
pada revolusi kelas yang digagas oleh kaum Marxis.
Kritik kedua yang dialamatkan pada pendekatan konflik sosial
adalah penolakan kaum Marxis terhadap obyektivitas ilmiah dan lebih
KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 21

cenderung pada aktivitas politik. Respon terhadap kritikan tersebut adalah
memang benar bahwa lebih cenderung pada gerakan politik namun
terdapat juga pendekatan-pendekatan teoritis dalam konflik sosial, seperti
halnya struktural-fungsional. Ditambahkan oleh para pengikut pendekatan
konflik sosial, fungsionalisme menghindari kritisisme hanya karena
dukungan mereka terhadap status quo.
Kritik terakhir yang dialamatkan pada pendekatan konflik sosial
(dan sekaligus struktural fungsional) adalah pendekatannya bersifat
makro dengan generalisasi yang luas. Hal tersebut mengabaikan
pengalaman-pengalaman pribadi individu dalam dunia mereka. Kalimat
terakhir di atas kemudian dikembangkan oleh pendekatan teoritis ketiga,
yaitu pendekatan teori interaksionalisme simbolik.

RINGKASAN
Setelah mempelajari 2 (dua) pendekatan teoritis dalam paradigma
fakta sosial yang relevan dalam mengkaji kehidupan remaja, pada intinya
paradigma ini menekankan bahwa sistem yang membentuk perilaku.
Sistem yang berlaku di luar individu memaksa individu untuk berperilaku
seusai dengan sistem atau melawan sistem itu sendiri dengan perilaku
yang adaptif dengan harapan dan keinginan individu.
Kesamaan dari 2 (dua) pendekatan teoritis, yakni struktural
fungsional dan konflik sosial adalah sifat pendekatannya yang makro. Sifat
pendekatan yang makro tersebut seolah tidak memberikan ruang bagi
pengkajian individu remaja dalam hidup di dalam dunia sosialnya. Oleh
karena itu, perlu dibahas kiranya perilaku-perilaku individu tersebut dalam
paradigma berikutnya, yakni Paradigma Definisi Sosial.



KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 22

SOAL LATIHAN
1. Refleksikan bahwa gaya dan perilaku remaja merupakan hasil
tekanan sistem di luar dirinya!
2. Pandang bahwa remaja putus sekolah adalah individu yang tidak
berhasil adaptif terhadap sistem!
3. Pandang kenakalan remaja sebagai hasil dari disorganisasi sosial!
4. Pandang bahwa remaja sebagai unit dari unsur L-I-G-A!
5. Refleksikan bahwa remaja tengah teralienasi dari sistem produksi
kapitalis!
6. Pandang gerakan remaja sebagai bentuk perlawanan terhadap
sistem!
7. Pandang bahwa remaja perempuan merupakan komoditas dalam
sistem kapitalisme!


REFERENSI
Macionis, J.J. 2010. The Social Problems 4
th
Edition. Upper Saddle River,
NJ; Pearson. ISBN: 978-0-205-79135-4

Poloma, M. 2000. Sosiologi Kontemporer (terj). Jakarta: PT. Rajagrafindo
Persada. ISBN:979-421-087-0

Ritzer, G. 2010. Sosiologi: Ilmu Berparadigma Ganda. Jakarta: PT.
Rajagrafindo. ISBN: 979-421-888-0

Ritzer, G. dan Goodman, D.J. 2004. Teori Sosiologi Modern Edisi Keenam
(terj). Jakarta: Kencana Prenada Media Group. ISBN: 979-3465-38-
7

Yusar. 2001. Gaya Hidup Straightedge : Studi Tentang Alternatif Gaya
Hidup Kaum Muda Kelas Menengah Kota Bandung. Jurusan
Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Padjadjaran. Skripsi Tidak diterbitkan.

KEGIATAN
BELAJAR
3
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
FAKTA SOSIAL

III- 23

-------. 2009. Perahu Atau Papan Surfing: Studi Tentang Perubahan
Orientasi Melaut Pada Kaum Muda di Lokasi Pariwisata Pantai
Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis. BKU Sosiologi-
Antropologi Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Tesis
Tidak Diterbitkan.

--------. 2012. Pemanfaatan Waktu Luang Oleh Remaja Siswa Kelas X
Yang Berasal Dari Golongan Masyarakat Berpenghasilan Rendah
Di Kelurahan Jamika, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung.
Penelitian Desentralisasi Perguruan Tinggi. Dibiayai Hibah
Desentralisasi Tahun Anggaran 2012.







KEGIATAN BELAJAR 4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR PERSPEKTIF
PARADIGMA DEFINISI SOSIAL

-1

KEGIATAN BELAJAR 4 : MEMANDANG REMAJA BERDASAR
PARADIGMA DEFINISI SOSIAL

Setelah pada Kegiatan Belajar 3 membahas Paradigma Fakta
Sosial, pada Kegiatan Belajar 4, materi yang terkandung dalam modul ini
adalah memandang remaja berdasar pada Paradigma Definisi Sosial.
Secara ringkas, paradigma ini memiliki empat varian teori besar, yakni
Interaksionalisme Simbolik, Dramaturgi, Fenomenologi, dan Konstruk
Sosial/Sosiologi Pengetahuan..
Masing-masing teori tersebut dapat menjadi alat guna meninjau
kehidupan remaja berdasarkan karakteristik yang tertampil sebagai akibat
dari adanya kehendak subyektif individu remaja untuk membentuk dunia
sosialnya. Oleh karena itu, pada Kegiatan Belajar 4, mahasiswa
memandang remaja sebagai subyek yang aktif membentuk sistem sosial
yang melingkupinya dan sekaligus menjadi produk dari sistem yang ia
ciptakan.
Susunan dari modul Kegiatan Belajar 4 ini adalah sebagai berikut:
PENGANTAR
I. PARADIGMA DEFINISI SOSIAL
1. Teori Interaksionalisme Simbolik
1.1. Teori Belajar: Remaja Dan Lingkungan Sosial
1.2. Teori Labeling: Remaja Dan Label Diri
1.3. Kritik Terhadap Pendekatan Interaksionalisme
Simbolik
2. Dramaturgi
2.1. Perilaku Manusia Sebagai Panggung Pertunjukan
2.2. Kritik Terhadap Pendekatan Dramaturgi
3. Fenomenologi
4. Perspektif Konstruksi Sosial Berger dan Luckmann
II. RINGKASAN
LATIHAN SOAL
-2


Kegiatan Belajar 4 ini dimaksudkan agar mahasiswa dapat
memandang dan mengkaji kehidupan remaja berdasarkan pendekatan
Paradigma Definisi Sosial. Mahasiswa dikenalkan cara pandang teori-teori
yang terhimpun di dalam Paradigma Definisi Sosial guna menajamkan
alur berpikir mahasiswa dalam memandang remaja sebagai subyek yang
aktif membentuk dunia sosialnya. Diharapkan mahasiswa dapat
memahami dan mampu secara jernih memahami remaja dari pendekatan
tersebut dan secara praktik, mampu melakukan kajian remaja
berdasarkan teori-teori yang bernaung dalam paradigma ini.


KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 1


PENGANTAR
Paradigma definisi sosial bersumber dari pemikiran Max Weber yang
menyatakan bahwa tindakan sosial itu adalah tindakan individu sepanjang
tindakannya itu mempunyai makna atau arti subyektif bagi dirinya dan
diarahkan kepada tindakan orang lain. Weber merumuskan Sosiologi sebagai
ilmu yang berusaha untuk menafsirkan dan memahami (interpretative
understanding) tindakan sosial serta antar hubungan sosial untuk sampai
kepada penjelasan kausal. Dalam definisi ini terkandung dua konsep
dasarnya. Pertama konsep tindakan sosial, kedua konsep tentang penafsiran
dan pemahaman. Penafsiran dan pemahaman tersebut dilakukan dengan
metode verstehen guna menerangkan berbagai tindakan sosial. Dalam
memandang kehidupan remaja, pada kegiatan belajar ini diketengahkan 4
(empat) teori yang termasuk dalam Paradigma Definisi Sosial, yaitu
interaksionalisme simbolik, dramaturgi, fenomenologi, dan konstruksi
sosial/sosiologi pengetahuan.

I. PARADIGMA DEFINISI SOSIAL
Paradigma Definisi Sosial memiliki perbedaan yang tajam dengan
Paradigma Fakta Sosial. Beberapa pendapat menyatakan bahwa paradigma
ini adalah merupakan kritik terhadap Paradigma Fakta Sosial yang dianggap
meniadakan kekuatan manusia untuk membentuk hidupnya sendiri. Bagi
par teorisi Definisi Sosial, manusia memiliki kehendak bebas untuk
mementukan berbagai jenis tindakan dan/atau tingkah lakunya secara
subyektif, yang dianggap bermakna bagi dirinya.
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 2


1. Teori Interaksionalisme Simbolik
Interaksionalisme simbolik merupakan kerangka teoritis yang
memandang masyarakat sebagai produk dari interaksi antara individu
dengan individu lainnya. Tujuannya adalah menggambarkan masyarakat
berdasarkan pengalaman-pengalaman mereka dalam dunia sosialnya. Kita
dapat mengaplikasikan pendekatan interaksionalisme simbolik ini melalui 2
(dua) pertanyaan: 1) bagaimana keterlibatan remaja dalam berperilaku dan
2) bagaimana seseorang dapat menyatakan suatu isu mengenai remaja?
Teori interaksionisme simbolis adalah salah satu cabang dalam teori
sosiologi yang mengemukakan tentang diri sendiri (the self) dan dunia
luarnya. Di sini Cooley (1962; dalam Ritzer dan Goldman, 2004)
menyebutnya sebagai looking glass self. Artinya setiap hubungan sosial di
mana seseorang itu terlibat merupakan satu cerminan diri yang disatukan
dalam identitas orang itu sendiri. Hal ini memiliki makna bahwa seseorang
dapat melihat atau mengoreksi dirinya melalui orang lain. Esensi dari teori ini
adalah simbol dan makna. Makna adalah hasil dari interaksi sosial. Ketika
seseorang berinteraksi dengan orang lain, orang tersebut berusaha mencari
makna yang cocok dengan lawan interaksinya. Seeseorang juga berusaha
mengintepretasikan maksud seseorang melalui simbolisasi yang dibangun.
Seperti namanya, teori ini berhubungan dengan media simbol yang
mengiringi interaksi. Simbol yang dimaksud bersifat luas, tidak semata
simbol-simbol tertentu seperti bendera, keris, atau yang lainnya. Yang
dimaksud dengan simbol di sini adalah segala bentuk yang mengiringi
interaksi, misalkan pakaian, roman muka, gestur, intonasi, dan lain
sebagainya.
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 3

Pusat perhatian interaksionisme simbolik adalah pada tingkat mikro.
Interaksionalisme simbolik sangat menekankan pada hubungan antar
manusia dalam tingkat mikro yang di dalamnya menyangkut kesadaran
subyektif dari individu dan dinamika interaksi antar individu. Karena itu, bagi
pengguna teori interaksionisme simbolik, organisasi sosial tidak menentukan
pola-pola interaksi, sebaliknya organsisasi muncul dari proses interaksi.
Akar dari teori interaksionisme simbolik yang merupakan yang
terpenting dalam karya Mead adalah pragmatisme dan behaviorisme.
Pragmatisme adalah pemikiran filsafat yang meliputi banyak hal. Ada
beberapa aspek pragmatisme yang mempengaruhi orientasi sosiologis.
Namun diantara empat aspek itu ada tiga yang penting bagi interaksionisme
simbolik, yakni:
1. Memusatkan perhatian pada interaksi antara aktor dan dunia nyata.
2. Memandang baik aktor maupun dunia nyata sebagai proses dinamis
dan bukan sebagai struktur statis.
3. Arti penting yang dihubungkan kepada kemampuan aktor untuk
menafsirkan kehidupan sosial.
4. Berpendapat bahwa manusia harus dipahami berdasarkan apa yang
harus dilakukan (senada dengan pernyataan Weber mengenai
verstehen).
Pemikiran terpenting dalam interaksionisme simbolik adalah
pemikiran George H. Mead. Menurut Mead dari dunia sosial itulah muncul
kesadaran, pikiran, diri, dan seterusnya atau yang terkenal dalam buku Mead
yaitu Mind, Self, and Society. Menurut Mead dalam tindakan sosial ada 4
(empat) tahapan yang saling berhubungan, yakni: 1) impuls; 2) persepsi; 3)
manipulasi; dan 4) konsumiasi. Mead juga mengatakan bahwa dalam
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 4

tindakan sosial ada mekanisme dasarnya yaitu sikap isyarat. Sikap isyarat ini
bisa berupa isyarat signifikan dan isyarat nonsignifikan.
Isyarat signifikan adalah bahasa yang merupakan fakttor penting
dalam pekembangan khusus kehidupan manusia. Bahasa ini menjadi simbol
signifikan yang membedakan manusia dengan binatang. Bahasa ini punya
fungsi menggerakkan tanggapan yang sama di pihak individu yang berbicara
dan juga di pihak lannya. Isyarat signifikan ini merupakan isyarat yang jauh
lebih efektif dan memadai untuk saling menyesuaikan diri dalam tindakan
sosial menurut Mead daripada isyarat nonsignifikan. Yang paling penting dari
teori Mead ini adalah fungsi lain simbol signifikan, yakni memungkinkan
proses mental dan berpikir. Simbol sisgnifikan ini juga berarti interaksi
simbolik. Interaksi memlaui penggunaan bahasa, memudahkan terjadinya
saling memahami makna yang disampaikan.
Menurut Mead pikiran dalam diri manusia adalah terletak pada proses
sosial. Pikiran merupakan bagian integral dari proses sosial namun proses
sosial ini hadir lebih dulu dari pikiran. Proses sosial hadir terlebih dahulu
daripada pikiran muncul guna membenetuk, menuntun, dan memberikan
arah pikiran.
Dalam konsep pikiran ini juga melibatkan konsep diri. Diri adalah
kemampuan khusus untuk menjadi subjek dan objek. Diri muncul melalui
aktivitas dan antara hubungan sosial. Menurut Mead diri baru muncul saat
pikiran itu berkembang. Mustahil untuk memisahkan keduanya karena diri
adalah proses mental. Diri juga berarti kemampuan untuk menempatkan diri
secara tak sadar pada tempat orang lain dan bertindak seperti yang mereka
lakukan. Sehingga orang dapat memeriksa diri sendiri sebagaimana orang
lain memeriksa diri mereka sendiri.
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 5

Mead merunut asal-usul diri melalui dua tahap dalam perkembangan
anak-anak, yaitu:
1. Tahap bermain (playing). Pada tahap ini anak-anak mengambil sikap
orang lain yang berada di luar permainannya untuk dijadikan sikapnya
sendiri. Tapi mereka tidak paham mengenai pengertian yang lebih
umum dan terorganisir mengenai diri mereka sendiri.
2. Tahap permainan. Dalam tahap permainan anak-anak mengambil
peran orang lain yang masih terlibat dalam permainan sehingga
kepribadian tertentu mulai muncul dan mereka mulai mampu
menentukan apa yang akan mereka kerjakan dalam suatu kelompok
khusus.
Dalam tahap permainan ada konsep pemikiran dari Mead yang terkenal
disebut dengan generalized other. Artinya adalah sikap seluruh anggota
komunitas. Generalized other ini mencerminkan kecenderungan Mead untuk
memprioritaskan kehidupan sosial, karena melalui generalisasi orang lainlah
suatu kelompok dapat mempengaruhi perilaku individu.
Diri menurut Mead juga terdiri dari dua tahap, yakni I dan me. I
adalah aspek kreatif dan tak dapat diprediksi dari diri, dan me adalah
sekumpulan sikap terorganisir orang lain yang diambil oleh aktor. Menurut
pandangan pragmatis I memungkinkan individu hidup nyaman dalam
kehidupan sosial sedangkan me memungkinkan terjadinya perubahan
masyarakat.
Suatu analisa yang lebih terperinci mengenai konsep diri diberikan
dalam model McCall dan Simmons mengenai identitas peran. Identitas-peran
terdiri dari gambaran diri yang bersifat ideal yang dimiliki oleh individu
sebagai orang yang menduduki berbagai posisi sosial. Identitas-peran ini
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 6

diungkapkan secara terbuka dalam pelaksanaan peran, dan tingkat
dukungan sosial yang diterima orang lain akan membantu menentukan
pentingnya suatu identitas-peran tertentu dalam konsep diri seseorang
secara keseluruhan. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap individu memiliki
gambaran idealnya masing-masing yang disesuaikan dengan harapan orang
lain. Misalkan, seorang remaja yang sedang berkuliah, berusaha
menggambarkan dirinya sebagai teman yang baik bagi mahasiswa lainnya;
tidak hanya berkuliah, termasuk saat waktu senggang untuk bermain.
Kasus Bermain Basket
Aye adalah seorang mahasiswi sosiologi yang bertubuh 161 cm. Ia tidak memiliki
kemampuan berolahraga basket, tetapi sangat mahir dalam bermain softball
sewaktu SMP dan SMA. Ia adalah seorang bintang dalam olah raga softball sewaktu
SMP dan SMAnya. Lingkungan dalam pertemanan di kalangan mahasiswa sosiologi
tidak ada yang mahir bermain softball, bahkan asing terhadap permainan tersebut.
Lingkungan pertemanan di kalangan mahasiswa sosiologi lebih menggemari olah
raga basket.
Guna diterima oleh lingkungannya, Aye kemudian mencoba mempelajari permainan
basket berikut aturan-aturan di dalamnya.Aye mulai mempraktikkan
kemampuannya bermain basket bersama kawan-kawannya yang laki-laki. Pada
awalnya, ia merasa kaku karena kemampuan dribblingnya lemah dan sering gagal
dalam memberikan bola. Meski demikian, Aye terus mencoba dan mencoba
sehingga lebih mahir baik dalam driblling, mengumpan, atau shooting. Ia berhasil
menyesuaikan permainannya dengan kawan-kawan laki-lakinya, walau jarang
mencetak angka, Aye sering menerima umpan dan juga sering memberikan assist
bagi kawan-kawannya.
Kerap Aye dan kawan-kawan laki-lakinya tertawa lepas saat terjadi pelanggaran
yang konyol ataupun kesalahan-kesalahan dalam berlatih basket. Artinya ia, secara
penuh diterima sebagai seorang bagian dari kelompok basket. Kini Aye memiliki
gambaran idealnya sendiri sebagai pemain basket putri di himpunan mahasiswanya
daripada sebagai pemain softball dan ia diterima sebagai bagian dari kelompok
pemain basket di himpunan mahasiswa tersebut.

KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 7


1.1. Teori Belajar: Remaja Dan Lingkungan Sosial
Pendekatan teori belajar mengklaim bahwa remaja mempelajari
perilaku dari orang-orang yang berada di sekitarnya, baik yang berusia
remaja, usia di bawahnya, ataupun di atasnya. Sebagai contoh, seorang
remaja yang bergaya gothic dalam suatu lingkungan yang bergaya pakaian
konservatif. Hal yang ingin ditunjukkan oleh pendekatan ini adalah tidak
seorang pun menjadi remaja pemain basket, bergaya gothic, atau berdandan
kasual tanpa mempelajarinya dari orang lain. Seseorang mempelajari
beberapa peran dalam suatu waktu, dan dengan cepat menerapkannya pada
suatu masa menjadi hidupnya sebagai bagian dari identitas sosial mereka.
Mengacu pada boks kasus bermain basket (halaman IV-5), di sana
terjadi suatu proses belajar sosial. Seorang mahasiswi yang tidak mahir
bermain basket mempelajari perilaku dalam bermain basket dari kawan-
kawannya. Dari lingkungan sosial (pertemanan dalam kelompok basket) ia
mencoba beradaptasi dengan permainan tersebut dan mampu melakukan
permainan basket.
Dalam pendekatan teori belajar, setiap manusia selalu mempelajari
perilaku dari orang lain sebagai referensi baginya untuk bertindak dan
berperilaku. Perilaku tersebut disesuaikan dengan asas kepantasan yang
berlaku umum guna diterima sebagai bagian dari suatu kelompok. Proses
mempelajari perilaku ini dapat secara langsung dari orang yang berinteraksi
secara primer dengan dirinya; dan dapat juga proses mempelajari perilaku
tersebut didapat secara tidak langsung, misalkan dari televisi, internet,
ataupun media lainnya.

KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 8

1.2. Teori Labeling: Remaja Dan Label Diri
Pendekatan teori labeling menyatakan bahwa kenyataan dari suatu
situasi bergantung pada pendefinisiannya. Pendekatan interaksionalisme
simbolik menelusuri bagaimana manusia membangun realitas. Sebagai
contoh, remaja punk didefinisikan oleh masyarakat sebagai sebuah tindakan
kelompok yang tidak diinginkan. Perbedaan antara bergaya punk dengan
punk yang sebenarnya seringkali bergantung pada seseorang yang melihat,
siapa yang dilihat, di mana peristiwa berlangsung, dan kapan terjadinya.
Jelas bahwa beberapa faktor berperan dalam pembentukan gagasan secara
bersama dari masyarakat berdasarkan situasi-situasi tertentu.


Sumber: batamtoday.com
Pengamen atau anak
jalanan? Bergantung
pada siapa yang melihat,
siapa yang dilihat,
tempat, dan waktu.

Mengacu pada boks kasus bermain basket (halaman IV-5), seorang
mahasiswi yang sebelumnya tidak memiliki keterampilan bermain basket,
dikarenakan ia terlibat penuh dan menjadi mahir bermain basket, lingkungan
sekitarnya memberikan label bahwa ia adalah seorang pemain basket. Hal ini
ditunjukkan dari perilaku dalam bermain basket tersebut, yakni
kemampuannya bermain. Tentu label ini di dapat dari pertemanannya di
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 9

lingkungan mahasiswa. Bagaimana dengan lingkungan pertemanannya di
SMP dan SMA? Besar kemungkinan mahasiswi tersebut masih dikenal
sebagai bintang dalam olah raga softball.

1.3. Kritik Terhadap Pendekatan Interaksionalisme Simbolis
Pendekatan interaksionalisme simbolis bersifat mikro atau pandangan
dunia nyata dari masalah sosial. Namun dengan menekankan pada
perbedaan persepsi individu, pendekatan tersebut melupakan bagian dari
struktur sosial yang luas, seperti ras dan kelas yang membentuk kehidupan
seseorang. Dengan kata lain, sangat bermakna jika kita memandang remaja
berdasarkan teori belajar dan teori labeling, namun aspek-aspek lain seperti
institusi-insitusi yang ada dalam masyarakat tidak dapat diabaikan dalam
mengkaji kehidupan remaja. Di sisi lain, remaja merupakan bagian dari suatu
masyarakat yang lebih besar dan menyeluruh, oleh karenanya perlu juga
pertimbangan untuk mendudukkan remaja dalam keseluruhan masyarakat.

2. DRAMATURGI
2.1. Perilaku Manusia Sebagai Panggung Pertunjukan
Sosiologi dramaturgi dengan tokohnya yang terkenal yaitu Erving
Goffman sering diibaratkan sebagai sebuah pertunjukkan yang dimainkan
oleh aktor di atas panggung. Pembahasan ini sering dikaitkan dengan
interaksionisme simbolik, di mana terjadinya interaksi dua arah lewat symbol.
Inti pemikiran Goffman adalah diri. Konsep diri milik Mead yakni konsep
tentang aku sebagai I dan aku/kita sebagai ME juga terlihat dalam
pandangan Goffman. Hal ini disebabkan apa yang diharapkan orang tentang
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 10

perilaku seseorang dengan perilaku yang dilakukannya secara spontan.
Seseorang diharapkan untuk tidak ragu dalam berprilaku seperti apa yang
diharapkan dari orang tersebut guna menjaga pencitraan diri yang stabil yaitu
melalui pertunjukan di depan orang banyak (Poloma, 2000; Halverson, 2010).
Dramaturgis menekankan pada impression management, yakni
bagaimana kesan yang dibangun oleh seorang individu dalam menjalankan
peran melalui kesetiaan, kedisiplinan, kehati-hatian atau istilah lainnya jaim.
Seperti konsep the looking glass self. Ketika seorang individu (ego)
bercermin, ada tiga hal yang diperhatikan oleh si individu tersebut:
1. bagaimana ego tersebut melihat dirinya
2. bagaimana orang lain melihat si ego tersebut; dan
3. bagaimana mengembangkan perasaan diri si ego.
Teori diri yang dikembangkan Mead lebih menganggap jika diri
bersikap lebih sosial dan berjangka waktu lama. Berbeda dengan Goffman,
yang menganggap diri bersikap sosial, bahkan individu tidak mengambil
peran orang lain melainkan bergantung pada orang lain untuk melengkapi
citra diri tersebut dan berjangka waktu yang singkat. Mengapa singkat,
karena pada saat individu bermain peran, ia selalu dituntut untuk berganti-
ganti peran sosial yang berlainan dalam satu hari misalnya. Bagi Gofman, diri
bukan merupakan individu melainkan hanya sebuah pinjaman orang lain
kepadanya.
Kasus Pergantian Peran dan Adegan Individu GY (19 tahun) Dalam Satu Hari

GY adalah seorang mahasiswi prodi sosiologi di universitas terbaik di Indonesia.
Dalam kesehariannya ia dikenal oleh teman-temannya sebagai teman yang baik. Di
rumah, keluarganya menganggap bahwa GY adalah seorang anak yang ideal, rajin
membantu memelihara rumah, tertib saat ke kampus, dan juga terlihat rajin dan
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 11

serius dalam belajar.
Berdasarkan pembagian waktu, konfigurasi hdup keseharian GY adalah sebagai
berikut:
Tabel konfigurasi waktu kegiatan GY sehari-hari:

Waktu Peran Lokasi Adegan
04.30 06.00 Pemelihara
rumah
Rumah Tinggal Orang Tua 1. Menyapu,
2. Mengepel
3. Memasak nasi
4. Menyiapkan sarapan

06.00 07.30 Penumpang
Damri
Bus Damri 5. Duduk dengan rapi dan
sopan
6. Menahan Kantuk

07.30 10.00 Mahasiswi Kelas 7. Mendengarkan ceramah
dosen
8. Mengajukan pertanyaan
kepada dosen
9. Mencatat materi kuliah

10.00 16.00 Teman Karib Sekitar Kampus 10. Menceritakan hal-hal
yang ringan,
11. Menggosip,
12. Memberi semangat,
13. Mengajarkan materi
pada teman,
14. Membuat teguh teman

16.00 17.30 Penumpang
Damri
Bus damri 15. Duduk dengan rapi dan
sopan
16. Menahan kantuk
17.30 23.30 Anak Rajin Rumah 17. Menonton TV
18. Mengurung diri di kamar
19. Memainkan gadget,
20. Membuka facebook
21. Mengupdate moment di
path
22. Menggalau di diary


Dibalik anggapan orang-orang tersebut, sesungguhnya GY memiliki konfigurasi hidup
yang kompleks dan berubah dengan cepat dari waktu ke waktu. (Refleksikan dengan
peran dan adegan yang Anda tampilkan dalam hidup sehari-hari).

KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 12

Di dalam dramaturgi terdapat front stage (panggung depan) dan
back stage (panggung belakang). Sebelum sampai pada definisi itu, terdapat
personal front di mana, perlengkapan ekspresif dapat diidentifikasikan oleh
penonton dan diharapkan ada pada diri aktor. Seperti contohnya, seorang
mahasiswi harus tampil cantik saat berkuliah. Selain karena penampilannya,
perlu ditunjang perlengkapan yang dapat menunjukkan peran yang
dimainkan oleh aktor, misalnya tas dan gadget yang memberi nuansa
sebagai remaja yang sedang beranjak dewasa. Setelah itu manner, yakni
peran yang diharapkan dimainkan oleh aktor. Misalnya mahasiswa harus
tampak bersungguh-sungguh saat di dalam kelas.
Front stage merupakan panggung depan di mana seseorang
memainkan peranannya dalam situasi tertentu di depan penonton. Front
stage memiliki karakter di antaranya yang terlembaga atau mewakili
kepentingan organisasi, menetapkan bukan membuat, dan tersembunyi.
Misalnya seorang mahasiswa yang di depan temannya harus nampak optimis
dan menenangkan temannya yang sedang patah hati bahwa semua akan
baik-baik saja pada waktunya. (lihat boks Kasus Pergantian Peran dan
Adegan individu GY pada halaman IV-15)
Back stage merupakan wilayah pertunjukkan yang tidak boleh dilihat
oleh orang dan tidak mungkin dipertontonkan di front stage. Back stage
seseorang yaitu di mana seseorang tidak memainkan perannya atau front
stage nya di manapun ia berada. Misalnya seorang mahasisa yang di
depannya nampak optimis dan menenangkan temannya yang sedang patah
hati namun ketika temannya tersebut tidak ada, di dalam hatinya memiliki
rasa takut jika ia mengalami patah hati. Back stage mahasiswa tersebut yaitu
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 13

saat si mahasiswa tidak memainkan perannya yang harus optimis dan
menenangkan temannya di depan teman-teman lainnya.


Sumber: 500px.com
Frontstage dan Backstage
pada gambar di samping
menganalogikan, mana yang
dapat dilihat oleh penonton
(frontstage) dan mana yang
tidak dapat dilihat oleh
penonton (backstage).
Umumnya, seseorang akan
menampilkan perilaku yang
dapat diterima oleh
masyarakat luas (tataran
frontstage) dan
menyembunyikan perilaku
yang dianggap tidak sesuai
dengan masyarakat (tataran
backstage).

Contoh lain yang dapat direfleksikan oleh penulis pribadi adalah saat
menjadi ketua opspek. Pada bagian front stage, penulis memainkan peranan
sebagai koordinator sekaligus atasan bagi panitia opspek dengan pakaian
yang terlihat formal, rapi, berwibawa, tegas, dan berjarak dengan mahasiswa
baru peserta opspek. Lalu back stage penulis ketika tidak memainkan peran
sebagai ketua opspek, misalnya bebas tertawa bersama kawan-kawan
jurusan lain, bercanda ria dengan tukang kantin, dan bermain kartu dan gitar
saat seluruh peserta sudah meninggalkan kampus.
Salah satu langkah yang paling penting bahwa pelaku maupun
penonton yakin bahwa bagian belakang tidak mudah dimasuki. Bilamana
terdapat pihak luar dan interaksi harus diteruskan (seperti ketika dua
kelompok remaja yang duduk saling berdekatan di dalam suatu resto), maka
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 14

kebijaksanaan itu akan memaksa agar para remaja menjaga pertunjukkan
masing-masing (Poloma, 2000:235).
Back stage maupun front stage tidak terikat dengan tempat dan waktu.
Bisa kapan dan di manapun, sangat bergantung pada kesan yang ingin
dibangun pada situasi tertentu. Selain itu antara back stage dan front stage
dapat dipertukarkan dibalik-balik. Misalnya ketika seorang remaja mahasiswa
sosiologi yang merupakan anak kost, belum tentu front stage mahasiwa
tersebut tertampil saat di kampus, dan belum tentu juga back stage
mahasiswa itu tertampil saat berada di tempat kost. Hal ini tergantung
dengan citra yang ingin dibangun pada situasi tertentu.
Backstage Frontstage

Sumber: koalasplayground.com

Sumber: youtube.com
Keterangan: Dua foto di atas adalah foto artis Korea yakni Han Hyo Joo.

1. Foto kiri (backstage): tercermin seorang Han Hyo Joo sebagai mahasiswi yang
tinggal di asrama kampus dengan pakaian sehari-hari yang sederhana dan tanpa
make up. Khalayak sulit untuk memasuki area backstage Han Hyo Joo karena tidak
menjadi artis, melainkan mahasiswi biasa yang tidak bersifat publik.
2. Foto kanan (frontstage): Han Hyo Joo sebagai artis tampil sebagaimana yang
diinginkan oleh khalayak, dengan riasan yang alami dan melambangkan kecantikan
ideal seorang perempuan muda.

KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 15


Dalam dramaturgi juga terdapat outside yang merupakan wilayah
pertunjukkan di mana penonton sulit untuk memahami situasi. Saya ambil
contoh seorang dosen yang tidak menciptakan jarak dengan mahasiswa.
Dalam hal ini penonton bingung dan sulit memahami situasi. Seorang dosen
yang juga pimpinan program studi dengan pencitraan yang formal tiba-tiba
berprilaku seperti kawan bagi mahasiswa.
Fokus perhatian Goffman bukanlah hanya individu saja namun juga
kelompok atau di sebut dengan tim (Poloma, 2000; Koch, 2012). Selain
membawakan peran secara individu namun aktor sosial juga mampu
mengelola kesan apa yang dibangun terhadap kelompoknya. Kerjasama tim
biasanya menjaga penampilan agar di lihat kompak. Seperti geng motor
yang bekerja sama dan kompak dalam berkonvoi di jalan raya, seperti
pemain band yang bekerja sama dalam suatu grup band yang dengan
kompak memainkan musik dan menjaga harmoni dalam nadanya.

2.2. KRITIK TERHADAP DRAMATURGI
Kritik terhadap pendekatan darmaturgi Goffman adalah dianggap
gagal dalam membahas interaksi. Dramaturgi dipandang lebih tepat dalam
mengkaji tindakan yaitu pemilihan dan pemeliharaan citra atau tindakan yang
dilakukan dalam membangun kesan yang diinginkan pada suatu waktu
tertentu. Suatu hal yang umum dan menjadi konsekuensi sosiologi dalam
ranah mikro-individu.
Goffman dikatakan gagal membahas interaksi, karena kajiannya tidak
mengarah pada bagaimana suatu interaksi dibangun oleh individu-individu
atau kelompok. Goffman lebih menekankan pada tindakan yang dibangun
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 16

pada situasi tertentu. Di sisi lain, pandangannya tentang manusia sebagai
calon bintang merupakan isyarat melawan kaum struktural fungsional yang
memandang bahwa sistemlah yang menciptakan perilaku tertentu bagi
manusia. Bagi Goffman manusia dilingkupi oleh berbagai jenis kesan yang
mereka ciptakan untuk orang lain (Poloma, 2000:248).

3. FENOMENOLOGI
Istilah fenomenologi secara etimologis berasal dari kata fenomena dan
logos. Fenomena berasal dari kata kerja Yunani phainesthai yang berarti
menampak, dan terbentuk dari akar kata fantasi, phantom dan fosfor yang
artinya sinar atau cahaya. Secara harfiah fenomena diartikan sebagai gejala
atau sesuatu yang tampak. Apakah kehidupan remaja merupakan suatu yang
tampak? Tanpa melihat secara langsung pun, kehidupan remaja merupakan
fenomena yang tampak dan ada di sekeliling kita, dengan berbagai varian
dari kehidupan remaja tersebut.
Fenomena dapat dipandang dari dua sudut, yakni: 1) fenomena selalu
menunjuk ke luar atau berhubungan dengan realitas di luar pikiran; 2)
fenomena dari sudut kesadaran diri, karena fenomenologi selalu berada
dalam kesadaran diri. Oleh karena itu dalam memandang fenomena harus
terlebih dahulu menyaring pikiran guna mendapatkan kesadaran yang murni.
Kasus Remaja Berpacaran

AX adalah seorang remaja berusia 24 tahun yang melihat GY (perempuan) dan KW
(laki-laki), remaja berumur 19 dan 18 tahun. GY dan KW ke manapun tampak selalu
berdua, baik dalam acara formal maupun nonformal. AX tertarik untuk mengamati
keberduaan antara GY dan KW. Bagi AX, fenomena tersebut menarik untuk di
amati, karena baik GY dan KW menunjukkan dirinya sebagai pasangan kepada
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 17

khalayak (fenomena yang menunjuk keluar). Di sisi lain, AX juga ingin mengamati,
bagaimana proses keberduaan antara GY dengan KW tersebut terjadi. AX mulai
mencari informasi bagaimana hubungan antara GY dengan KW melalui teman-
teman GY dan KW dan juga berdasar pada pemahaman dirinya, bahwa setiap orang
yang berpacaran, mengikuti suatu prosedur baku, yakni pendekatan, menyatakan,
lalu diterima atau ditolak. Pemahaman AX terhadap prosedur tersebut terdapat
dalam kesadaran dirinya (fenomena ke dalam diri).

Dalam konteks sosiologi, fenomenologi adalah ilmu tentang esensi-
esensi kesadaran dan esensi ideal dari obyek-obyek sebagai korelasi dengan
kesadaran. Fenomenologi juga merupakan sebuah pendekatan filosofis untuk
menyelidiki pengalaman manusia. Fenomenologi bermakna metode
pemikiran untuk memperoleh ilmu pengetahuan baru atau mengembangkan
pengetahuan yang ada dengan langkah-langkah logis, sistematis kritis, tidak
berdasarkan apriori/prasangka, dan tidak dogmatis. Fenomenologi sebagai
metode tidak hanya digunakan dalam filsafat tetapi juga dalam ilmu-ilmu
sosial termasuk dalam mengkaji remaja (Schutz, 1967).
Dalam perkembangannya, fenomenologi tidak lagi berupa wacana
filsafat semata, tetapi menjelma menjadi suatu metode penelitian yang
bersifat naturalistik. Penelitian fenomenologi melibatkan pengujian yang teliti
dan seksama pada kesadaran pengalaman manusia. Konsep utama dalam
fenomenologi adalah makna. Makna merupakan isi penting yang muncul dari
pengalaman kesadaran manusia. Untuk mengidentifikasi kualitas yang
essensial dari pengalaman kesadaran dilakukan dengan mendalam dan teliti
(Smith, et al., 2009: 11). Hal ini sejalan dengan makna atas gagasan Weber
mengenai verstehen. Untuk mendapatkan kejernihan dalam memandang
fenomena, maka fenomenologi tidak sekedar aliran filsafat, tetapi juga
berkembang menjadi prinsip dari metode penelitian. Coraknya adalah
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 18

pendekatan kualitatif, guna menangkap makna-makna yang tertampil dari
fenomena.
Setiap hari manusia sibuk berbagai aktivitas dan dalam aktivitas
tersebut terdapat pengalaman-pengalaman yang dialami hasil dari aktivitas.
Esensi dari pengalaman dibangun oleh dua asumsi:
1. Setiap pengalaman manusia sebenarnya adalah satu ekspresi dari
kesadaran. Seseorang yang mengalami sesuatu peristiwa menyadari
akan pengalamannya sendiri. Pengalaman tersebut bersifat subyektif.
2. Setiap bentuk kesadaran selalu merupakan kesadaran akan sesuatu.
Ketika melihat seorang remaja laki-laki mendapatkan dirinya dilewati oleh
seorang remaja perempuan yang cantik, remaja laki-laki tersebut bertanya-
tanya siapakah ia?, kemudian mengharapkan dapat berkenalan dengan
remaja perempuan tersebut, lalu menginginkan untuk jauh lebih mengenal
dan berbagi rasa dengan remaja perempuan tadi. Itu semua adalah aktivitas
yang terjadi dalam kehidupan remaja sehari-hari dan merupakan sikap yang
natural. Kesadaran diri merefleksikan pada sesuatu yang dilihat, dipikirkan,
diingat dan diharapkan, inilah yang disebut dengan menjadi fenomenologi.
Fenomenologi juga berfokus pada sesuatu yang dialami dalam
kesadaran individu, yang disebut sebagai intensionalitas. Intensionalitas
memiliki makna menggambarkan hubungan antara proses yang terjadi dalam
kesadaran dengan obyek yang menjadi perhatian pada proses itu. Dalam
istilah fenomenologi, pengalaman atau kesadaran adalah kesadaran pada
sesuatu, melihat adalah melihat sesuatu, mengingat adalah mengingat
sesuatu, menilai adalah menilai sesuatu. Sesuatu itu adalah obyek dari
kesadaran yang telah distimulasi oleh persepsi dari sebuah obyek yang real
atau melalui tindakan mengingat atau daya cipta (Smith, et al., 2009: 12).
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 19

Intensionalitas tidak hanya terkait dengan tujuan dari tindakan manusia,
tetapi juga merupakan karakter dasar dari pikiran itu sendiri. Pikiran tidak
pernah pikiran itu sendiri, melainkan selalu merupakan pikiran atas sesuatu.
Pikiran selalu memiliki obyek. Hal yang sama berlaku untuk kesadaran
(Behnke, 2013). Intensionalitas adalah keterarahan kesadaran (directedness
of consciousness). Dan intensionalitas juga merupakan keterarahan tindakan,
yakni tindakan yang bertujuan pada satu obyek.
Menurut Heidegger (Zahavi, 2003: 2) pandangan lain dalam konsep
fenomenologi adalah mengenai:
1. Orang/individu
2. Konteks dunianya (person-in-context)
3. Intersubyektivitas.
Ketiga hal di atas merupakan titik tolak dalam fenomenologi.
Intersubyektivitas berhubungan dengan berbagi peranan (shared), tumpang
tindih peranan (over-lapping, dan hubungan alamiah dari tindakan di dalam
alam semesta. Intersubyektifitas adalah sebuah konsep untuk menjelaskan
hubungan dan perkiraan pada kemampuan mengkomunikasikan pada orang
lain dan membuat rasa yang masuk akal (make sense).
Dari pandangan Heidegger di atas, dalam mengkaji kehidupan kaum
remaja, tidak dapat dilepaskan dari 3 (tiga) konsep di atas. Kajian megenai
kaum muda dengan menggunakan fenomenologi perlu memperhatikan
orang/individu yang terkait dengan dunianya, dan intersubyektivitasnya
sehari-hari. Sebagai contoh, dalam mengkaji kelompok remaja, seorang
peneliti perlu merumuskan siapa saja yang tergolong dalam kelompok
tersebut, bagaimana latar belakang kehidupan mereka, dan bagaimana
peranan individu dalam kelompoknya.
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 20

Kasus Remaja Straightedge (disarikan dan diubah dari buku The Philosophy of Punk
karya Craig OHara tahun 1999 dan Skripsi Yusar berjudul Gaya Hidup Straightedge:
Alternatif Gaya Hidup Kaum Muda Perkotaan Kelas Menengah di Kota Bandung
tahun 2000)

1. Konsep Orang:
a. Ian McKaye adalah seorang remaja kulit putih berumur 18 tahun dari
golongan kelas menengah New York. Perawakannya dapat diidentifikasi
sebagai remaja biasa dengan tinggi 178 cm, cenderung kurus dengan berat
badan 62 kilogram. McKaye merupakan orang yang mudah berteman dan
pendengar yang baik. Ia selalu menyerap perkataan teman-temannya,
termasuk mendengarkan prestasi di bidang kenakalan. McKaye sendiri
bukanlah anak nakal, cenderung berteman dengan para pelajar lain yang
hidup normal layaknya anak-anak kelas menengah kulit putih Amerika.
Kesukaannya pada sejarah mendorongnya untuk mempelajari filsafat Asia
dan tertarik pada gerakan Hare Khrisna sebuah sekte hindu India.
b. Jeff Nelson, sebaya dengan Ian McKaye, berasal dari golongan menengah
kulit putih berpendidikan tinggi. Ayahnya adalah seorang editor surat kabar
setempat dan ibunya seorang perawat di salah rumah sakit di New York.
Tinggi badannya 180 cm, gemar berolah raga atletik, khususnya lempar
cakram. Ia dikenal sebagai orang yang gemar berbicara dan membaca. Tidak
seperti McKaye, Nelson adalah orang yang bertipe kurang sabar dalam
mendengar cerita orang lain, sebaliknya cenderung mendominasi
percakapan.
c. Lyle Preslar, berusia sebaya dengan McKaye dan Nelson, juga berasal dari
golongan kelas menengah kulit putih berpendidikan. Keluarganya sangat erat
namun demokratis. Kendati Preslar sangat cerdas dalam bidang hukum dan
ilmu sosial, keluarganya tetap mengizinkan ia untuk menjadi pemain musik.
Preslar lulus dari Fakultas Hukum dari Rutgers University dan kini bermukim
di New Jersey.
d. Brian Baker, sebaya dengan ketiga orang di atas. Ia berasal dari golongan
kelas pekerja kulit putih. Latar keluarganya kurang begitu diketahui, tetapi ia
adalah seorang siswa Wilson High School, tempat McKaye, Nelson, dan
Preslar bersekolah. Ia seorang pemikir dan penyendiri dan sangat irit dalam
berkata-kata. Namun jika ia berkata, seringkali muncul kata atau kalimat
yang menginspirasi dan tidak diduga sebelumnya.
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 21


2. Konsep Dunia
McKaye menamatkan sekolah menengah atas dengan prestasi yang cukup
mengesankan. Di samping memiliki nilai yang baik untuk fisika dan matematika,
ia pun mengambil kelas lain yakni sejarah dan sastra. Adalah Jeff Nelson, seorang
siswa sejarah yang menjadi teman diskusinya. McKaye dan Nelson sering terlibat
dalam percakapan serius mengenai fenomena di sekitar mereka, seperti
maraknya kehidupan seks bebas dan narkotika. Mereka kemudian membentuk
band bernama The Teen Idles, dengan formasi awal MacKaye pada bas dan
Nelson memainkan drum. Seorang pelajar dari kelas fisika Lyle Preslar yang
memiliki hobi bermain gitar diajak serta untuk berdiskusi mengenai fenomena-
fenomena tersebut. Mereka bertiga tampak serius mendebatkan perlawanan
terhadap kehidupan seks bebas dan narkotika yang menjangkiti remaja Amerika
tahun 1980an. McKaye yang memiliki ketertarikan terhadap gerakan sekte Hare
Khrisna mencoba berekspresi menirukan pola perilaku sekte tersebut, yakni
berkepala botak, vegetarian, tidak melakukan hubungan seks pra nikah.
Ketiganya berusaha melakukan perlawanan dengan musik. Adapun musik yang
dipilih bercorak punk, dikarenakan punk memiliki nilai ideologis daripada musik
rock lainnya.

3. Konsep Intersubyektivitas
Dalam membentuk kelompok band, ketiga orang ini, yakni McKaye, Nelson, dan
Preslar berusaha menciptakan lagu-lagu yang mendukung semangat
perlawanan mereka. Ketiga orang ini akhirnya merekrut pemain bass baru yakni
Brian Baker karena menyanggupi untuk tidak merokok, tidak memakan daging
(vegetarian), tidak melakukan seks bebas, tidak mengkonsumsi alkohol, dan
tidak mengkonsumsi narkotika. Empat orang tersebut segera membagi peranan
dalam bermain musik. Formasi yang terbentuk adalah Ian McKaye sebagai
vokalis, Brian Baker sebagai pemain bass, Lyle Preslar sebagai pemain gitar, dan
Steve Hansgen sebagai pemain drum. Walaupun McKaye memiliki pemahaman
atas sastra, pengalaman-pengalaman dari lingkungan yang didapatkan oleh
Preslar membantu dalam menggambarkan kondisi remaja yang ada. Preslar
yang bermukim di dekat penjagalan ternak, sering melihat ternak-ternak yang
disembelih diperlakukan dengan kasar. Seketika Baker menyatakan pikirannya
bahwa setiap daging hewan (untuk konsumsi) adalah pembunuhan, all meat is
murder. Pengalaman dunia sastra dan pengetahuan atas sekte Hare Krishna
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 22

yang dimiliki oleh McKaye disosialisasikan dalam kelompok band tersebut.
Adapun Baker yang cenderung pendiam, menyatakan bahwa gerakan mereka
adalah ancaman bagi status quo yakni, seks bebas dan narkotika. Keempat
orang tersebut lalu berembuk untuk nama kelompok musiknya dan mengklaim
sebagai bentuk ancaman bagi status quo. Terinspirasi oleh perkataan Baker,
kelompok tersebut berubah nama dari The Teen Idles menjadi Minor Threat.
Empat orang ini saling memberi makna dalam musik mereka. Pengetahuan atas
lingkungan tempat mereka tinggal, pergaulan kaum muda, dan pernyataan
perang terhadap kehidupan seks bebas dan narkotika membawa mereka
menciptakan sebuah lagu berjudul Straightedge. Judul lagu ini menjadi nama
dalam gerakan remaja punk-hardcore, yakni gerakan Straightedge. Adapun nilai-
nilai dari gerakan Straightedge tercermin dari lagu Minor Threat berjudul Out Of
Step, dengan penggalan liriknya sebagai berikut: "Don't smoke/Don't drink/Don't
fuck/At least I can fucking think/I can't keep up/I'm out of step with the world."
Lirik tersebut menyatakan intersubyektivitas antara nilai keyakninan dari masing-
masing individu pemain band Minor Threat terhadap lingkungan luarnya.

(Straightedge merupakan gerakan kaum muda yang digagas oleh pemain band
hardcore amatir. Gerakan tersebut kini telah menjadi gerakan yang cukup besar dan
setidaknya menyebar di 4 (empat benua) yakni Amerika, Asia, Eropa, dan Australia).

Tokoh dalam Fenomenologi yakni Husserl menyatakan bahwa untuk
dapat menangkap fenomena secara jernih perlu dimulai dari serangkaian
reduksi. Reduksi dibutuhkan supaya dengan intuisi kita dapat menangkap
hakekat obyek-obyek. Reduksi-reduksi ini yang menyingkirkan semua hal
yang mengganggu kalau kita ingin mencapai kemurnian atau kejernihan atas
suatu fenomena (wesenschau) (Schutz, 1967). Reduksi tersebut terdiri dari:
Menyingkirkan segala sesuatu yang subyektif. Artinya seseorang
harus bersikap obyetif, terbuka untuk gejala-gejala yang harus diajak
bicara.
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 23

Menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diselidiki dan
diperoleh dari sumber lain.
Menyingkirkan seluruh reduksi pengetahuan. Segala sesuatu yang
sudah dikatakan oleh orang lain harus, untuk sementara dilupakan.
Jika ketiga reduksi tersebut di atas berhasil dilakukan, maka fenomena
secara otomatis memperlihatkan dirinya (fenomin). Susunan reduksi ini
memandu seseorang agar terhindar dari kebingungan, salah arah akibat
asumsi-asumsi dan prekonsepsi-prekonsepsi, dan kembali melihat pada
esensi dari pengalaman atas fenomena yang terjadi.
Berkaitan dengan kehidupan remaja, tidak diragukan lagi bahwa setiap
orang memiliki pandangannya sendiri terhadap kehidupan kelompok remaja.
Pandangan tersebut dapat berasal dari penilaian pribadi (suka/tidak suka),
pengetahuan dari sumber informasi (berita, literatur); dan juga dari perkataan
orang lain. Untuk mencapai kejernihan atas fenomena yang hendak dikaji,
dalam fenomelogi, seluruh input pengetahuan tersebut harus diabaikan.
Pada tataran tertentu, kajian harus dilakukan dengan kepala kosong tanpa
ada distorsi pengetahuan atas obyek yang diteliti.

Kasus: RAVE (Radical Audio Visual
Experience) Pada Remaja Perkotaan

A seorang mahasiswa sosiologi tertarik
untuk mengkaji remaja penggemar RAVE
atau dalam istilah yang umum adalah
dugem (dunia gemerlap). Ia tertarik untuk
mengungkap remaja penggemar RAVE
dengan pendekatan fenomenologi. Dalam
kesehariannya, A memiliki kesan negatif

Sumber: djset.co.uk
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 24

terhadap kelompok remaja penggemar RAVE karena identik dengan kehidupan
malam, mabuk-mabukan, seks bebas, dan penyalahgunaan narkotika. Di sisi lain, A
juga menduga bahwa remaja pelaku dugem adalah kelompok remaja yang berasal
dari golongan kelas menengah atas. Asumsinya ini didasarkan pada untuk masuk ke
dalam club, seseorang harus membayar tiket, membeli makanan dan minuman, dan
juga perlu pengeluaran tambahan jika ingin menikmati minuman beralkohol dan
narkotika.
Selain pandangan pribadinya terhadap kelompok remaja tersebut, A juga
mendapatkan berbagai macam input mengenai kehidupan malam, seperti operasi
kesusilaan yang dilakukan oleh kepolisian, baik di media televisi ataupun surat kabar.
Dari berbagai operasi tersebut, seringkali ditangkap para penggemar RAVE yang
sedang clubbing positif mengkonsumsi narkotika dan juga tertangkap tangan
bersama barang bukti yang ditemukan.
A pun mendapatkan informasi dari orang tua dan teman-temannya untuk
menghindari kehidupan dugem tersebut. Teman-temannya sering berbagi cerita
mengenai berbagai hal dimulai dari tingginya biaya untuk masuk club, pesta pora
minuman keras, peredaran dan konsumsi ecstacy agar tetap bugar dalam menari
diiringi lagu-lagu techno yang dinamis. Dari teman-temannya tersebut juga
didapatkan informasi bahwa dugem merupakan salah satu aktivitas di mana
peredaran narkotika dapat dengan mudah terjadi.
Demi kepentingan studinya, A lalu memutuskan untuk menelitinya dengan cara
pandang fenomenologi. Ia mengikuti pola reduksi yang dinyatakan oleh Husserl, yaitu
menekan pandangan pribadinya terhadap dugem, melupakan informasi dari berita
mengenai dugem, dan menekan informasi dari lingkungan pertemanan dan
keluarganya mengenai kehidupan dugem.
A mulai melakukan observasi di arena clubbing dengan kepala kosong. Ia
mengambil jarak dari peserta yang menari di festival, yakni duduk dekat disk jockey
(DJ) sehingga ia mampu mengamati peserta dugem secara frontal. A juga bercakap-
cakap dengan peserta dugem bernama B, dan mencoba berkenalan lebih baik, guna
mendapatkan informasi yang relevan dari B. B hanya memberikan sedikit informasi
saja dan tidak memenuhi kecukupan informasi yang diinginkan oleh A.
Sambil berbincang, A tetap menjatuhkan pandangan kepada peserta dugem. Dari
tampilannya yang tampak serupa, ditemukan bahwa, para remaja yang melakukan
dugem sangat mungkin tidak seluruhnya berasal dari golongan kelas menengah ke
atas. Dari tampilannya, ada yang berwajah ndeso dengan dandanan yang tidak
berstandar kelas menengah ke atas. A pun mencatat dengan seksama, bentuk-
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 25

bentuk tampilan peserta dugem tersebut dan mendapati bahwa dugaan awal yang ia
miliki tidak sepenuhnya benar.
Dari observasi tersebut, A kemudian mencoba mengalihkan pengamatannya pada
lingkungan fisik. Ia melihat ke arah bartender, terdapat beberapa orang yang sedang
duduk dan menikmati minuman. Terdapat botol-botol minuman yang identik dengan
botol minuman beralkohol produk impor dan juga softdrink. A beranjak dari
tempatnya menuju tempat bartender. Terlihat tiga orang yang sedang bercakap-
cakap sambil menikmati minuman dalam gelas yang tersaji secara artistik. A mencuri
dengar percakapan tersebut dan mendapati bahwa isi percakapannya adalah hal
yang berkaitan dengan aspek hiburan. Ketiga orang tersebut sedang membicarakan
hiburan bagi mereka untuk mengadakan perjalanan ke luar negeri, yakni ke Belanda.
Dari percakapan tadi didengar satu kalimat, Di Amsterdam ada taman bebas buat
make ganja tapi lo jangan coba-coba ke situ, bisa-bisa puyeng dan lo bisa ikutan
mabok. Kaga perlu deh ke situ, nyari penyakit. A menangkap bahwa setidaknya ada
3 orang yang anti terhadap narkoba. Hal ini memberi arti bahwa tidak semua
peserta dugem adalah pengguna narkoba. Di sisi lain, pembicaraan mengenai
rencana perjalanan ke luar negeri menegaskan pandangannya bahwa terdapat
golongan kelas menengah ke atas di dalam aktivitas dugem tersebut.
Hingga berakhirnya aktivitas clubbing pukul 03 pagi. Di hari pertama, A mendapatkan
makna bahwa beberapa pandangannya dan pandangan orang lain tentang dugem
tidak sepenuhnya benar. Hari pertama A simpulkan bahwa dugem merupakan arena
bertemunya berbagai jenis individu hanya untuk mencari suasana huburan semata.
Kecukupan informasi hari pertama menjadi bahan berikutnya untuk ditelusuri lebih
jauh pada hari-hari berikutnya, guna mendapatkan kejernihan terhadap fenomena
dugem tersebut


4. Perspektif Konstruksi Sosial Berger dan Luckmann
Konstruksi sosial merupakan suatu proses pemaknaan yang dilakukan
oleh setiap individu terhadap lingkungan dan aspek di luar dirinya yang terdiri
dari dari 3 (tiga) proses, yaitu:
- Eksternalisasi. Eksternalisasi adalah penyesuaian diri dengan dunia
sosiokultural sebagai produk manusia.
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 26

- Internalisasi. Internalisasi adalah individu mengidentifikasi diri ditengah
lembaga-lembaga sosial dimana individu tersebut menjadi anggotanya
- Obyektivasi. Obyektivasi adalah interaksi sosial dalam dunia
intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami proses
institusionalisasi.
Istilah konstruksi sosial atas realitas (sosial construction of reality)
didefinisikan sebagai proses sosial melalui tindakan dan interaksi yakni
individu menciptakan secara terus-menerus suatu realitas yang dimiliki dan
dialami bersama secara subyektif. (Poloma, 2000:301). Dengan demikian,
individulah yang memiliki kuasa untuk berperilaku, bukan tekanan sistem
seperti yang dikemukakan oleh para teorisi Fakta Sosial.
Konstruksi sosial merupakan sebuah teori sosiologi kontemporer yang
dicetuskan oleh Peter L.Berger dan Thomas Luckman. Dalam menjelaskan
paradigma konstruktivis, realitas sosial merupakan konstruksi sosial yang
diciptakan oleh individu. Individu adalah manusia yang bebas yang
melakukan hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain. Individu
menjadi penentu dalam dunia sosial yang dikonstruksi berdasarkan
kehendaknya. Individu bukanlah korban fakta sosial, namun sebagai media
produksi sekaligus reproduksi yang kreatif dalam mengkonstruksi dunia
sosialnya (Basrowi dan Sukidin, 2002 : 194).
Pendekatan Berger dan Luckmann ini sering juga diisitlahkan sebagai
sosiologi pengetahuan. Sosiologi pengetahuan adalah pengembangan dari
fenomenologi. Aliran fenomonologi mula pertama dikembangkan oleh Kant
dan diteruskan oleh Hegel, Weber, Husserl dan Schutz hingga kemudian
kepada Berger dan Luckman. Jika Weber menggali masalah analisis
pemahaman terhadap fenomena dunia sosial atau dunia kehidupan, Scheler
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 27

dan Schutz menambah dengan konsep life world atau dunia kehidupan yang
mengandung pengertian dunia atau semesta yang kecil, rumit dan lengkap
terdiri atas lingkungan fisik, lingkungan sosial, interaksi antara manusia
(intersubyektivitas) dan nilai-nilai yang dihayati.
Kehidupan sekelompok remaja yang seringkali dianggap sederhana
dan bersifat given pada hakikatnya merupakan fenomena dunia kehidupan.
Di dalam lingkup pertemanan remaja yang hanya terdiri dari 2,3, atau 4
orang, di dalamnya terkandung semesta yang kecil, rumit, dan lengkap.
Sebagai contoh dapat dilihat pada boks mengenai remaja Straightedge pada
halaman IV-13. Walaupun hanya terdiri dari 4 remaja saja, terlibat di
dalamnya adalah lingkungan fisik (Wilson High School, Kota New York,
penjagalan, alat musik, dan lain-lain), lingkungan sosial ( intersubyek dari ke
4 orang tersebut, adanya fenomena masalah sosial di lingkungan
masyarakatnya), dan nilai-nilai yang dihayati (vegetarianisme, tidak merokok,
tidak melakukan hubungan seks bebas, tidak mengkonsumsi alkohol dan
narkotika, nilai relijius dari sekte Hare Khrisna). Bagaimana dengan lingkup
pertemanan diri Anda? Pertanyaan ini adalah sebagai pembuka kesadaran
bagi Anda begitu kompleksnya dunia pertemanan sehari-hari.
Usaha untuk membahas sosiologi pengetahuan secara teroitis dan
sistematis melahirkan karya Berger dan Luckman yang tertuang dalam
buku The Social Construction of Reality, A Treatise in the Sociology of
Knowledge (tafsiran sosial atas kenyataan, suatu risalah tentang sosiologi
pengetahuan). Ada beberapa usaha yang dilakukan Berger untuk
mengembalikan hakikat dan peranan sosiologi pengetahuan dalam kerangka
pengembangan sosiologi yang dapat dikonstruksikan guna mengkaji remaja,
yaitu:
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 28

1. Mendefinisikan kembali pengertian kenyataan dan pengetahuan
dalam konteks sosial. Teori sosiologi harus mampu menjelaskan
bahwa kehidupan remaja itu dikonstruksi secara terus-menerus.
Gejala-gejala sosial sehari-hari remaja selalu berproses, yang
ditemukan dalam pengalaman bermasyarakat. Oleh karena itu, pusat
perhatian diarahkan pada bentuk-bentuk penghayatan kehidupan
sekelompok remaja secara menyeluruh dengan segala aspek (kognitif,
psikomotoris, emosional, dan intuitif). Dengan kata lain, kenyataan
sosial itu tersirat dalam pergaulan sosial remaja yang diungkapkan
secara sosial, dan termanifestasikan dalam tindakan. Kenyataan sosial
semacam ini ditemukan dalam pengalaman intersubyektif para remaja
dalam suatu kelompok. Melalui intersubyektivitas dapat dijelaskan
bagaimana kehidupan remaja tertentu dibentuk secara terus-menerus.
Konsep intersubyektivitas menunjuk pada dimensi struktur kesadaran
umum ke kesadaran individual remaja dalam suatu kelompok khusus
yang sedang saling berintegrasi dan berinteraksi.
2. Menemukan metodologi yang tepat untuk meneliti pengalaman
intersubyektivitas remaja dalam kerangka mengkonstruksi realitas.
Dalam hal ini, memang perlu ada kesadaran bahwa apa yang
dinamakan remaja pasti terbangun dari dimensi obyektif sekaligus
dimensi subyektif sebab remaja itu sendiri sesungguhnya buatan
kultural dari masyarakat (yang di dalamnya terdapat hubungan
intersubyektifitas) dan manusia adalah sekaligus pencipta dunianya
sendiri. Oleh karena itu, dalam observasi gejala-gejala sosial dalam
remaja, perlu diseleksi, dengan mencurahkan perhatian pada aspek
perkembangan, perubahan dan tindakan sosial yang dilakukan oleh
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 29

remaja. Dengan cara seperti itu, dapat dipahami suatu tatanan sosial
atau orde sosial yang diciptakan sendiri oleh remaja dan dipelihara
dalam pergaulan sehari-hari.
3. Memilih logika yang tepat dan sesuai. Peneliti perlu menentukan logika
mana yang perlu diterapkan dalam usaha memahami kenyataan sosial
yang mempunyai ciri khas yang bersifat plural, relatif dan dinamis.
Yang menjadi persoalan bagi Berger adalah logika seperti apakah
yang perlu dikuasai agar interpretasi sosiologi itu relevan dengan
struktur kesadaran umum itu? Sosiologi pengetahuan harus menekuni
segala sesuatu yang dianggap sebagai pengetahuan dalam remaja.
Mengkonstruksikan pandangan Berger dalam kehidupan remaja, perlu
diperhatikan bahwa sosiologi pengetahuan memusatkan perhatian pada
struktur dunia akal sehat (common sense world). Dalam hal ini, kenyataan
sosial remaja perlu didekati dari berbagai pendekatan seperti pendekatan
mitologis yang irasional, pendekatan filosofis yang moralitis, pendekatan
praktis yang fungsional, dan semua jenis pengetahuan (mitologis, filosofis,
dan praktis) tersebut membangun kejelasan atas suatu fenomena yang
masuk akal. Pengetahuan remaja, seperti halnya masayarakat yang
kompleks, selektif dan akseptual menyebabkan sosiologi pengetahuan perlu
menyeleksi bentuk-bentuk pengetahuan yang mengisyaratkan adanya
kenyataan sosial kehidupan remaja. Dari hal tersebut, sosiologi pengetahuan
harus mampu melihat pengetahuan dalam struktur kesadaran individual
remaja, serta dapat membedakan antara pengetahuan (urusan subjek dan
obyek) dan kesadaran (urusan subjek dengan dirinya).
Di samping itu, karena sosiologi pengetahuan Berger ini memusatkan
pada dunia yang masuk akal (common sense), maka perlu memakai prinsip
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 30

logis dan non logis. Dalam pengertian, berpikir secara kontradiksi dan
dialektis (tesis, antitesis, sintesis). Dalam mengkaji remaja, sosiologi
diharuskan memiliki kemampuan mensintesiskan gejala-gejala sosial yang
nampak kontradiktif dalam suatu sistem interpretasi yang sistematis, ilmiah
dan meyakinkan. Kemampuan berpikir dialektis ini tampak dalam pemikiran
Berger, sebagaimana dimiliki Karl Marx dan beberapa filosof eksistensial
yang menyadari manusia sebagai makhluk paradoksal. Oleh karena itu, tidak
heran jika kenyataan hidup sehari-hari pun memiliki dimensi-dimensi obyektif
dan subjektif (Berger dan Luckmann, 1990 : 28-29). Kejelasan paradoks,
dimensi obyektif dan subyektif tersebut dapat dilihat dalam seluruh boks
kasus yang tersaji pada halaman-halaman sebelumnya. Sebagai contoh,
pada boks kasus remaja Rave, A memiliki subyektivitasnya sendiri mengenai
dugem. Adapun obyektivitas yang tertampil adalah dugem tidak sepenuhnya
seperti subyektivitas yang dimiliki oleh A.
Berger dan Luckmann berpandangan bahwa kenyataan itu dibangun
secara sosial, sehingga sosiologi pengetahuan harus menganalisis proses
terjadinya itu. Dalam pengertian individu-individu remaja itulah yang
membangun dunia kehidupan remaja, maka pengalaman individu remja tidak
terpisahkan dengan kelompoknya. Waters mengatakan bahwa they start
from the premise that human beings construct sosial reality in which
subjectives process can become objectivied. ( Mereka mulai dari pendapat
bahwa manusia membangun kenyataan sosial di mana proses hubungan
dapat menjadi tujuan yang pantas). Pemikiran inilah barangkali yang
mendasari lahirnya teori sosiologi kontemporer konstruksi sosial. (Basrowi
dan Sukidin, 2002 : 201)
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 31

Dalam sosiologi pengetahuan atau konstruksi sosial Berger dan
Luckmann, masyarakat (dalam hal ini remaja) dipandang sebagai pencipta
kenyataan sosial yang obyektif melalui proses eksternalisasi, sebagaimana
kenyataan obyektif mempengaruhi kembali remaja melalui proses
internalisasi (yang mencerminkan kenyataan subjektif). Dalam konsep
berpikir dialektis (tesis-antitesis-sintesis), Berger memandang masyarakat
sebagai produk manusia dan manusia sebagai produk masyarakat, begitupun
dengan remaja. Kehidupan kelompok remaja adalah produk remaja dan
remaja adalah produk dari kehidupan masyarakat. Karya Berger ini
menjelajahi berbagai implikasi dimensi kenyataan obyektif dan subjektif dan
proses dialektis obyektivasi, internalisasi dan eksternalisasi.
Salah satu inti dari sosiologi pengetahuan dalam mengkaji kehidupan
remaja adalah menjelaskan adanya dialektika antara diri remaja (the
self) dengan dunia sosiokultural. Proses dialektis itu mencakup tiga momen
simultan (lihat pada halaman IV-26), yakni: eksternalisasi, internalisasi, dan
obektivikasi. Ketiga momen simultan tersebut dalam sosiologi pengetahuan
merupakan aspek nomotetik (hukum umum) yang dapat berguna untuk
menjelaskan bagaimana terbentuknya kelompok-kelompok kaum remaja,
cara perilaku yang tertampil, dan bagaimana hubungan dengan dengan dunia
sosiokulturalnya baik secara internal (di dalam kelompok remaja) maupun
dengan lingkungan eksternalnya (di luar kelompok remaja). Ketiga momen
tersebut dilakukan secara simultan hingga menjadi bagian dari
masyarakatnya yang lebih besar dan terlembagakan.


KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 32

KASUS HARAJUKU
Pada kegiatan belajar 3, dalam perspektif konflik sosial, Harajuku merupakan hasil
dari pertentangan, artinya sebuah akibat dari tekanan struktur yang memaksa
individu. Lalu bagaimana jika harajuku tersebut dipandang dari sudut konstruksi
sosial Berger?

Sumber: tecnomano.com

1. Eksternalisasi (penyesuaian diri
dengan dunia sosiokultural sebagai
produk manusia).

Keiko adalah seorang individu remaja di
Tokyo Jepang berusia 17 tahun. Sebagai
anak dari kelas pekerja, ia menyesuaikan
diri dengan kebijakan negara yang
mengharuskan dirinya menempuh
sekolah, dan juga tuntutan dari keluarga
agar Keiko memiliki kehidupan yang
lebih baik daripada orang tuanya. Ia pun menyesuaikan diri dengan tingginya
standar pendidikan yang berlaku di negaranya, khususnya di sekolah menengah.
Berbagai materi pelajaran, tugas terstruktur, pengulangan materi, tugas mandiri,
dan disiplin di sekolah yang sangat ketat membuat waktu luangnya menjadi sangat
berharga. Di sisi lain, Keiko yang masih muda, membutuhkan berbagai hiburan dan
kesenangan bersama teman sebayanya.
Keiko sendiri bukanlah seorang gadis yang cantik dan percaya diri untuk bermain
sendirian. Ia lebih cenderung sebagai gadis Jepang seperti biasanya yang tidak
berdandan, sederhana, namun memiliki keinginan untuk maju dan ingin menjadi
wanita karir kelak saat ia lulus dari sekolah menengah. Ia berteman bersama 5 (lima
orang pelajar perempuan lainnya, yaitu Shino, Megumi, Mai, Ran, dan Asuka.
Guna mengadaptasikan keinginan pribadi dengan dunia sosiokulturalnya (sekolah),
Keiko menyusun jadwal, waktu yang ia dapat gunakan untuk bersenang-senang di
luar sekolah. Ia memutuskan untuk bergaul bersama teman sebayanya yang satu
sekolah untuk berkumpul dan bersenang-senang di Taman Harajuku, Distrik Shibuya,
Kota Tokyo. Di taman tersebut, mereka berharap dapat bebas berekspresi dan
berdandanan yang bukan pelajar sekolah. Di taman itu juga, Keiko dan teman-
temannya berharap dapat berjumpa dan berteman dengan remaja lain agar
mendapatkan kesenangan bersama.
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 33

Keiko dan teman-temannya memandang bahwa merka harus keluar dari kegiatan
sekolah yang menjemukan, keluarga yang hidup untuk bekerja, setiap hari bangun
pagi, berangkat ke sekolah. Mereka ingin mendapatkan kebebasan berekspresi dan
kebebasan itu mereka pandang ada di dalam pertemanan Harajuku.

2. Internalisasi (mengidentifikasi diri di
tengah lembaga-lembaga sosial
tempat individu tersebut menjadi
anggotanya)

Keiko dan kelima orang temannya
mengidentifikasikan dirinya sebagai
pelajar yang merasa bosan dengan
aktivitasnya di sekolah. Meski bosan, ke-
enam pelajar tersebut tidak dapat
menghindar dari kebijakan negara
Jepang mengenai pendidikan.

Sumber: mibba.com

Enam orang pelajar remaja ini membentuk clique, ke manapun mereka pergi, selalu
bersama. Saat makan siang di sekolah, pulang dari sekolah, atau saat bermain,
mereka selalu bersama. Di manapun, ke-enam orang pelajar remaja ini terlihat
selalu bersama, termasuk saat mereka berada di Taman Harajuku.
Ikatan ke-enam pelajar ini sangat kuat, jika salah seorang tidak ikut bermain, ia
merasa bersalah karena tidak setia sebagai bagian dari kelompok. Di sisi lain, jika
kelompok pertemanan tersebut tidak lengkap, sangat mungkin mereka mencibir
anggotanya yang tidak hadir. Hubungan emosional ini terbentuk dan saling mengikat
di antara ke-enam remaja siswi pelajar ini. Dunia kecil mereka ciptakan, dan isinya
hanyalah ke-enam orang remaja itu.

3. Obyektivasi (interaksi sosial dalam
dunia intersubjektif yang
dilembagakan atau mengalami
proses institusionalisasi).

Hubungan pertemanan yang terjalin
pada ke-enam orang tersebut berjalan
setiap hari dan merupakan sebuah

Sumber: tokyofashion.com
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 34

pengulangan perilaku. Perilaku ini
menjadi terlembagakan dan dijadikan
nilai/acuan baku dalam pertemanan
mereka.
Saat keenam remaja tersebut ingin
menjadi bagian dari kelompok remaja
Harajuku, mereka memandang bahwa
menjadi Harajuku adalah kesempatan
untuk mendapatkan kebebasan atas

Sumber: japantoday.com
tekanan yang mereka alami. Keiko dan kawan-kawannya secara aktif membentuk
sistem dalam pertemanan mereka dan bersetuju untuk membentuk perilaku
kelompok yang berbeda dengan kelompok masyarakat Jepang yang konservatif. Di
dalam kelompok Harajuku, Keiko dan teman-temannya juga secara aktif
menciptakan dunia sosialnya dengan menunggangi dunia sosial yang telah lebih
dahulu terbentuk.

II. RINGKASAN
Setelah mempelajari 4 (empat) pendekatan teoritis dalam paradigma
definisi sosial yang relevan dalam mengkaji kehidupan remaja, pada intinya
paradigma ini membincangkan kuasa manusia/individu untuk membentuk
perilaku dan membangun dunia sosialnya sendiri sebagai reaksi terhadap
sistem sekaligus membentuk sistemnya sendiri berdasarkan tindakan-
tindakan/perilaku-perilaku subyektif mereka. Hal ini berbeda dengan
paradigma fakta sosial yang menekankan bahwa sistem yang membentuk
perilaku.
Sungguhpun Paradigma Definisi Sosial ini sangat komprehensif dalam
memandang individu dalam dunia sosialnya, paradigma ini dianggap belum
dapat menjelaskan secara rinci bagaimana individu-individu remaja dapat
saling terhubung secara erat satu sama lain. Oleh karenanya perlu mengkaji
paradigma berikutnya yang lebih mikor, yakni Paradigma Perilaku Sosial.
KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 35


LATIHAN SOAL
1. Refleksikan dan beri contoh bahwa perilaku remaja merupakan hasil
dari belajar dan juga label dari masyarakatnya yang lebih luas!
2. Observasi secara obyektif kehidupan kelompok remaja yang khas,
buktikan bahwa anggapan Anda sebelumnya terhadap kelompok
tersebut salah!
3. Beri contoh dari lingkungan remaja sekitar Anda yang dapat Anda
konstruksikan sebagai panggung sandiwara!
4. Berikan refeksi bahwa kelompok remaja adalah ciptaan remaja dan
individu remaja dibentuk oleh kelompoknya!

REFERENSI
Basrowi dan Sukidin. 2002. Metode Penelitian Perspektif Mikro: Grounded
theory, Fenomenologi, Etnometodologi, Etnografi, Dramaturgi,
Interaksi Simbolik, Hermeneutik, Konstruksi Sosial, Analisis Wacana,
dan Metodologi Refleksi. Surabaya: Insan Cendekia. ISBN: 978-3-
88985-336-3

Berger, P. dan Luckmann, T. 1990. Tafsiran Sosial Atas Kenyataan Risalah
Tentang Sosiologi Pengetahuan. Jakarta: LP3ES. ISBN: 979-801-
560-6
Halverson, E.R. 2010. The Dramaturgical Process as a Mechanism for
Identity Development of LGBTQ Youth and Its Relationshipto
Detypification. Dalam Journal of Adolescent Research. Vol. XX(X) hal.
134. New York: Sage Publication


Poloma, M. 2000. Sosiologi Kontemporer (terj). Jakarta: PT. Rajagrafindo
Persada. ISBN:979-421-087-0

KEGIATAN
BELAJAR
4
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
DEFINISI SOSIAL

IV- 36

Ritzer, G. 2010. Sosiologi: Ilmu Berparadigma Ganda. Jakarta: PT.
Rajagrafindo. ISBN: 979-421-888-5

Ritzer, G. dan Goodman, D.J. 2004. Teori Sosiologi Modern Edisi Keenam
(terj). Jakarta: Kencana Prenada Media Group. ISBN: 979-3465-38-7

Schutz. A. 1967. The Phenomenology of the Social World. Illinois: Northon
University Press. ISBN: 978-08101-0390-0

Smith, J.A., Flowers, P. Dan Larkin, M. 2009. Interpretative phenomenological
analysis: Theory, method and research. Los Angeles, London, New
Delhi, Singapore, Washington: Sage. ISBN: 978-141-290834-4

Yusar. 2001. Gaya Hidup Straightedge : Studi Tentang Alternatif Gaya Hidup
Kaum Muda Kelas Menengah Kota Bandung. Jurusan Antropologi
Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran.
Skripsi Tidak diterbitkan.

Zahavi, D. 2003. How to investigate subjectivity: Natorp and Heidegger on
reflection. Continental Philosophy Review, 36, 155-176.

SUMBER LAIN
Behnke, E.A. 2013. Edmund Husserl: Phenomenology of Embodiment.
Diterbitkan melalui http://www. http://www.iep.utm.edu/husspemb.
Diakses pada tanggal 3 Februari 2014 pukul 12.30 WIB

Koch, C.E.G. 2012. The Adult Dramaturgy of Youth Hockey: The Myths and
Rituals of the Hockey Family. University Of St. Thomas Minnesota.
Dissertation. Diterbitkan melalui http://ir.stthomas.edu/cgi/viewcontent.
cgi?article. diakses pada tanggal 3 Februari 2014 pukul 12.10 WIB








KEGIATAN BELAJAR 5
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR PERSPEKTIF
PARADIGMA PERILAKU SOSIAL


-1

KEGIATAN BELAJAR 5 : MEMANDANG REMAJA BERDASAR
PARADIGMA PERILAKU SOSIAL

Setelah pada Kegiatan Belajar 3 dan 4 membahas Paradigma
Fakta Sosial dan Definisi Sosial, pada Kegiatan Belajar 5, materi yang
terkandung dalam modul ini adalah memandang remaja berdasar pada
Paradigma Perilaku Sosial. Secara ringkas, paradigma ini memiliki dua
varian teori, yakni Teori Social Behavior dan Teori Pertukaran Sosial.
Keduanya bersifat mikro, yakni memandang interaksi antar individu.
Masing-masing teori tersebut dapat menjadi alat guna meninjau
kehidupan remaja berdasarkan fenomena yang tertampil sebagai akibat
dari adanya interaksi antar individu remaja untuk dalam kehidupan sehari-
harinya. Oleh karena itu, pada Kegiatan Belajar 5, mahasiswa
memandang remaja sebagai subyek yang aktif nerinteraksi dengan
berbagai motif yangmengiringi interaksi tersebut.
Susunan dari modul Kegiatan Belajar 5 ini adalah sebagai berikut:
PENGANTAR
I. PARADIGMA PERILAKU SOSIAL
1. Teori Behavioral Sociology
2. Teori Pertukaran Sosial
II. KRITIK TERHADAP PARADIGMA PERILAKU SOSIAL
III. RINGKASAN
LATIHAN SOAL

Kegiatan Belajar 5 ini dimaksudkan agar mahasiswa dapat
memandang dan mengkaji kehidupan remaja berdasarkan pendekatan
yang lebih mikro yaktiu Paradigma Perilaku Sosial. Mahasiswa dikenalkan
cara pandang teori-teori yang terhimpun di dalam paradigma ini guna
menajamkan alur berpikir mahasiswa dalam memandang remaja sebagai
subyek yang aktif dalam berinteraksi serta motif-motif yang mengiringinya.
Diharapkan mahasiswa dapat memahami dan mampu secara jernih

-2

memahami remaja dari pendekatan tersebut dan secara praktik, mampu
melakukan kajian remaja berdasarkan teori-teori yang bernaung dalam
paradigma ini.


KEGIATAN
BELAJAR
5
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
PERILAKU SOSIAL

V- 1

PENGANTAR
Paradigma Perilaku Sosial merupakan salah satu dari paradigma-
paradigma dalam disiplin sosiologi. Paradigma ini memiliki ciri yaitu
pendekatannya bersifat sangat mikro, tatarannya pada interaksi antar
individu, dan sangat dipengaruhi oleh psikologi sosial. Para penggauna
paradigma ini seringkali membuat eksperimen dalam mengkaji interaksi antar
manusia. Dunia sosial seorang individu diisolasi, sehingga yang nampak
adalah individu dengan individu lainnya. Kedua individu ini secara empiris
melakukan interaksi di antaranya, didasari oleh berbagai motif, yakni
kepentingan kejiwaan dan juga kepentingan yang bersifat ala ekonomi.
Tokoh yang mengembangkan pendekatan perilaku sosial adalah B.F.
Skinner. Skinner mengkritik obyek studi paradigma fakta sosial dan definisi
sosial bersifat mistis, tidak konkrit, dan tidak realistis. Obyek studi sosiologi
yang konkrit realistis adalah perilaku manusia yang nampak serta
kemungkinan perulangannya (behavior of man and contingencies of
reinforcement).
Paradigma perilaku sosial memusatkan perhatiannya kepada
hubungan antara individu dengan lingkungannya. Dalam hal ini lingkungan
terdiri atas :
a) bermacam-macam obyek sosial; dan
b) bermacam-macam obyek non sosial.
Prinsip yang menguasai antar hubungan individu dengan obyek sosial
adalah sama dengan prinsip yang menguasai hubungan antara individu
dengan obyek non sosial. Pokok persoalan sosiologi menurut paradigma ini
adalah tingkah laku individu yang berlangsung dalam hubungannya dengan
KEGIATAN
BELAJAR
5
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
PERILAKU SOSIAL

V- 2

faktor-faktor lingkungan yang menghasilkan akibat-akibat atau perubahan
dalam faktor lingkungan menimbulkan perubahan terhadap tingkah laku.
Bagi paradigma perilaku sosial, individu kurang sekali memiliki
kebebasan. Tanggapan yang diberikan ditentukan oleh sifat dasar stimulus
yang datang dari luar dirinya. Jadi tingkah laku manusia lebih bersifat
mekanik. Beda dengan paradigma definisi sosial yang menganggap aktor
adalah dinamis dan mempunyai kekuatan kreatif di dalam proses
interaksinya. Ada dua teori yang termasuk ke dalam paradigma Perilaku
Sosial, yakni Teori Behavioral Sociology dan Teori Pertukaran Sosial.

1. Teori Behavioral Sociology
Teori ini memusatkan perhatiannya kepada hubungan antara akibat
dari tingkah laku yang terjadi di dalam lingkungan aktor dengan tingkah laku
aktor. Akibat tingkah laku diperlakukan sebagai variabel independen. Hal ini
memiliki arti bahwa teori behavioral sociology berusaha menerangkan
tingkah laku yang terjadi melalui akibat-akibat yang mengikutinya. Konsep
dasar teori ini yang menjadi pemahamannya adalah reinforcement yang
dapat diartikan sebagai ganjaran (reward). Tak ada sesuatu yang melekat
dalam objek yang dapat menimbulkan ganjaran. Sesuatu ganjaran yang tak
membawa pengaruh terhadap aktor tidak akan diulang. Contohnya tentang
makanan sebagai ganjaran yang umum dalam masyarakat. Tetapi bila
sedang tidak lapar maka makan tidak akan diulang. Bila si aktor telah
kehabisan makanan, maka ia akan lapar dan makanan akan berfungsi
sebagai pemaksa.
KEGIATAN
BELAJAR
5
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
PERILAKU SOSIAL

V- 3

Mengacu pada Poloma (2000), saat sekelompok remaja saat
melakukan tindakan kemudian mendapatkan ganjaran berupa hadiah yang
dianggap bernilai, kelompok tersebut akan mengulangi tindakan tersebut
dengan harapan mereka mendapatkan hadiah berikutnya. Pengulangan
tindakan ini dipengaruhi oleh motif kejiwaan, misalkan ingin diakui, dihargai,
dan mendapatkan keuntungan dari tindakan mereka. Sedangkan jika
ganjarannya dianggap tidak bernilai, kelompok remaja tersebut cenderung
tidak mengulangi tindakannya.
Ganjaran tersebut tidak harus berupa hal yang bersifat material-nyata.
Kesenangan dan kebahagiaan juga dapat dikatakan sebagai ganjaran.
Sebagai contoh, sepasang remaja yang berpacaran secara heteroseksual.
Remaja laki-laki merasa senang jika sepulang dari kampus, ia mengantar
remaja perempuan yang menjadi pacarnya. Walaupun, remaja laki-laki
tersebut secara hitungan waktu dan ekonomi menderita kerugian, namun
karena merasa senang, maka ia mengulangi tindakannya, yakni mengantar
pacarnya pulang. Sebaliknya, pada pihak perempuan, karena ia
mendapatkan perhatian, maka ia pun cenderung menerima dan mengulangi
tindakannya, termasuk berani untuk meminta antar pulang kepada pacarnya.
Dalam hal ini dimensi ganjaran tidak bersifat ekonomis, melainkan
kesenangan jiwa. Mengacu pada Siregar (1997), ganjaran tersebut juga
belaku dalam kegiatan-kegiatan hidup remaja yang bersifat hedonis yang
menawarkan sebagai bentuk kesenangan semu sebagai ganjarannya.

KEGIATAN
BELAJAR
5
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
PERILAKU SOSIAL

V- 4

Kasus: Pacaran Antara PT (22) dan CV
(22) Serta Peran Ayah CV

PT adalah seorang remaja yang saat ini
berkuliah di FISIP Universitas X. Ia adalah
seorang yang gemar bermain daripada
belajar. Lingkungan kampusnya berisi
orang-orang yang gemar belajar dan
dapat dikatakan sebagai kutu buku,
rasional, dan tidak suka bermain di
waktu senggang. PT yang gemar
bermain, berjalan ke fakultas lain dan
bertemulah ia dengan CV, remaja

Sumber: talkmen.com
mahasiswi Fakultas Ekonomi di universitas yang sama. Tertarik terhadap CV, PT
mencoba mengenal lebih dekat dan berpacaran dengan CV.
Saat masa penjajagan sebelum berpacaran, PT menyadari bahwa di sekitar CV
terdapat individu-individu lain, seperti keluarga (ayah, ibu, dan satu orang adik),
kelompok pertemanan CV yang terdiri dari 5 orang mahasiswi yang sejurusan
dengan CV di Fakultas Ekonomi. PT memutuskan untuk mengenal juga individu-
individu di sekitar CV (keluarga dan lingkungan pertemanan CV).
Saat bermain ke rumah CV, PT dikenalkan oleh CV kepada kedua orang tuanya dan
sekaligus adiknya. Sambutan dari keluarganya cukup baik. Ayah CV mengajak PT
bercakap-cakap tentang hal-hal yang ringan, kesukaan bermain sewaktu ayah CV
masih muda, dan juga beberapa nasihat moral kepada PT. Sesaat kemudian, ibu CV
juga mempersilahkan PT untuk makan bersama keluarga mereka. PT merasa senang
dengan penerimaan keluarga CV kepadanya. Kepada kedua orang tuanya, PT
berjanji akan menjaga CV dan membina hubungan baik dengan kelurganya.
PT pun menceritakan kejadian penerimaan keluarga CV yang baik tersebut kepada
orang tuanya. Bagi orang tua PT, mereka membebaskan PT untuk berpacaran
dengna CV dengan catatan tidak melanggar norma-norma kepantasan atau
kesusilaan. Dan kedua orang tua PT pun ingin mengenal CV, tanpa ingin menilai baik
atau buruk CV di mata kedua orang tuanya.
PT merasakan kenyamanan lain saat berada di rumah CV, terutama saat berbincang
dengan ayah CV. Ia menyerap berbagai cerita, pengalaman, dan ajaran moral dari
ayah CV. Setiap ia bermain ke rumah CV, ia selalu menyempatkan untuk bertanya
dan berdiskusi dengan ayah CV. Dan setiap itu pula ia menemukan berbagai
KEGIATAN
BELAJAR
5
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
PERILAKU SOSIAL

V- 5

jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya. Di saat PT sedang
mengalami kekalutan atas dirinya, PT merasa bahwa ayah CV adalah sosok yang
cerdas dan mampu memahami dirinya. Ayah CV selalu memberikan jawaban-
jawaban ataupun pemecahan masalah yang selama ini tidak disadari oleh PT.
Semakin PT bertanya, semakin bertambah pengetahuannya. Sebaliknya di sisi CV,
kedekatan antara PT dengan ayahnya, tidak membuat perasaannya terhadap PT
luntur. Rasa sayangnya bertambah, berkat ayahnya, terjadi beberapa perubahan
dalam perilaku PT yang tidak ia senangi, misalkan dari manner. Semakin sering
berbincang dengan ayahnya, sikap PT menjadi semakin tertib dan lebih mampu
menghargai orang lain.
Bagi PT, menjalin hubungan dengan CV, ia mendapatkan dua kebahagiaan dari dua
orang, yakni dari CV dan dari ayah CV. Berbagai keuntungan yang bersifat non-
material ia dapatkan dari kedua orang tersebut. Ia mendapatkan perhatian dari CV
dan juga mendapat pengetahuan filosofi hidup dari ayah CV. Karena itu, ia selalu
berharap dan merindukan untuk selalu berada di sekitar CV dan keluarganya

Dari boks kasus di atas, terdapat reinforcement yang berdampak
positif pada aktor. Aktor untuk kemudian berusaha mengulangi tindakannya
dengan harapan mendapatkan reinforcement berikutnya yang juga
berdampak positif baginya. Reinforcement atau ganjaran yang diterima aktor
tidak bersifat materiil namun memberi makna bagi aktor untuk terus berupaya
mengulangi tindakannya.

2. Teori Exchange
Tokoh utama teori ini adalah George Homans, teori ini dibangun
dengan maksud sebagai reaksi terhadap paradigma fakta sosial, yang
menyerang ide Durkheim secara langsung dari tiga pandangan, yakni :
1. Pandangan tentang emergence. Selama berlangsung interaksi terjadi
fenomena baru yang tidak memerlukan proposisi baru pula untuk
menerangkan sifat fenomena baru tersebut.
KEGIATAN
BELAJAR
5
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
PERILAKU SOSIAL

V- 6

2. Pandangan tentang psikologi. Sosiologi kini telah menjadi disiplin
tersendiri dan terlepas dari pengaruh psikologi. Bagaimanapun, unsur
kejiwaan (psike) dapat menyertai dalam kehidupan sosial masyarakat.
3. Metode penjelasan Durkheim. Fakta sosial tertentu selalu menjadi
penyebab fakta sosial yang lain yang perlu dijelaskan melalui
pendekatan perilaku (behavioral) yang berada dalam ranah psikologi.
Homans berbeda dengan Skinner dalam mengembangkan teori yang
termasuk Paradigma Perilaku Sosial ini. Jika Skinner mengembangkan dari
psikologi sosial, Homans ,melandaskan teori pertukaran pada prinsip-prinsip
transaksi ekonomis yang elementer (Poloma, 2000: 52). Teori pertukaran
mengandaikan bahwa interaksi sosial mirip dengan transaksi ekonomi. Tentu
saja bukan pada sisi profit semata, sebab dalam interaksi sosial,
dipertukarkan hal-hal yang tidak nyata, seperti emosi, kepuasan, kebencian,
dan informasi-informasi. Jika melihat contoh pada boks kasus di halaman 4-5
sebelumnya, dapat dianalogikan bahwa aktor sedang mendapatkan
keuntungan ekonomis, sehingga aktor tersebut berupaya mengulangi
tindakannya. Dalam hal ini, aktor tidak mendapatkan profit, melainkan benefit.
Teori pertukaran yang dikembangkan oleh Homans lebih ditujukan
pada kelompok primer daripada organisasi atau kelompok sekunder yang
lebih besar (Poloma, 2000: 55). Homans (1950:1; dalam Poloma, 2000: 55)
memberi batasan bahwa sejumlah orang yang berkomunikasi tatap muka
antara satu sama lain dalam intensitas yang tinggi dalam jangka waktu
tertentu hanya terdiri dari beberapa orang saja. Hal tersebut menunjukkan
sungguhpun seorang individu remaja memiliki banyak teman, namun
interaksi dengan intensitas yang tinggi hanya berlaku bagi beberapa orang
KEGIATAN
BELAJAR
5
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
PERILAKU SOSIAL

V- 7

saja (Brake, 1985). Dapatkah Anda refleksikan dalam kehidupan Anda
sehari-hari.


Sumber: diubah dari cyberhuman

Keterangan gambar: fenomena yang terjadi di masa sekarang adalah maraknya fasilitas
interaksi sekunder menggunakan berbagai media yang tersedia di dalam perangkat telepon
genggam. Meskipun banyak media interaksi, pada kenyataannya, interaksi yang terjadi
bersifat terbatas, yakni antara seseorang dengan sedikit orang yang dianggap dekat saja.


Keseluruhan materi Teori Exchange secara garis besarnya dapat
dikembalikan pada 5 proposisi George Homans, yaitu 1) proposisi sukses; 2)
proposisi stimulus; 3) proposisi nilai; 4) proposisi deprivasi-satiasi; 5)
proposisi rest-agresi. Isi dari proposisi-proposisi di atas adalah sebagai
berikut :
1. Proposisi Sukses.
Dalam setiap tindakan, semakin sering tindakan tertentu memperoleh
ganjaran, kian kerap ia melakukan tindakan tersebut. (Homans, 1974:
16; dalam Poloma, 2000: 61)
2. Proposisi stimulus.
KEGIATAN
BELAJAR
5
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
PERILAKU SOSIAL

V- 8

Jika di masa lalu, terjadinya stimulus yang khusus, atau seperangkat
stimuli, merupakan peristiwa di mana tindakan seseorang memperoleh
ganjaran, maka semakin mirip stimuli yang ada sekarang ini dengan
yang lalu tersebut, akan semakin mungkin seseorang melakukan
tindakan serupa atau yang mirip dengannya. (Homans, 1974: 22-23;
dalam Poloma, 2000: 62).
3. Proposisi Nilai.
Semakin tinggi nilai suatu tindakan, maka kiang senang seseorang
melakukan tindakan itu. (Homans, 1974: 25; dalam Poloma, 2000: 63)
4. Proposisi Deprivasi-Satiasi
Makin sering orang menerima ganjaran atas tindakannya dari orang
lain, makin berkurang nilai dari setiap tindakan yang dilakukan
berikutnya. (Homans, 1974: 29; dalam Poloma, 2000: 63-64)
5. Proposisi Restu-Agresi (proposisi berlapis dua)
Bila tindakan seseorang tidak memperoleh ganjaran yang
diharapkannya atau malah menerima hukuman yang tidak diinginkan,
maka dia akan marah dan cenderung menunjukkan perilaku agresif
dan perilaku demikan dianggap bernilai bagi orang itu. Bila seseorang
memperoleh ganjaran yang diharapkannya dan bahkan lebih besar
dari yang diperkirakan, atau tidak menerima hukuman dari yang
diperkirakan, maka dia akan senang dan lebih mungkin melaksanakan
perilaku yang disenanginya, dan hasil dari perilaku tersebut akan
menjadi lebih bernilai baginya (Homans, 1974: 37-39; dalam Poloma,
2000: 64-65).

KEGIATAN
BELAJAR
5
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
PERILAKU SOSIAL

V- 9

Bagaimana ke-lima proposisi di atas tersebut dapat dikonstruksikan kepada
remaja? Homans menekankan bahwa proposisi itu saling berkaitan dan
harus diperlakukan sebagai satu perangkat. Masing-masing proposisi hanya
menyediakan sebagian penjelasan. Jika hendak menjelaskan seluruh
perilaku, kelima proposisi teersebut harus dipertimbangkan agar memperoleh
gambaran perilaku secara komprehensif. Hal ini menunjukkan bahwa
Homans berpendapat masyarakat dan lembaga-lembaga sosial itu benar-
benar ada disebabkan oleh pertukaran antar individu di dalam masyarakat.
Akan sulit untuk menyatakan kelima proposisi tersebut secara sekaligus
dalam menerangkan interaksi dalam kehidupan remaja. Oleh karenanya,
dapat dipilah berdasarkan proposisi per proposisi seperti dalam boks kasus-
kasus di bawah ini.

1. Proposisi Sukses
Kasus Proposisi Sukses: Remaja Pengajar dan Pembayar Makan

XY adalah seorang mahasiswa yang pintar dan rajin. Ia berteman dengan KJ. Setiap
habis kuliah, XY diminta oleh KJ untuk menerangkan kembali materi yang telah
dijalani. Tanpa keberatan, XY menerangkannya kepada KJ hingga XY memahami
maksud dari materi tersebut. Untuk membalas jasanya, KJ tidak segan membelikan
makan siang untuk XY. Bagi XY, makan siang adalah sebuah ganjaran, yang
dengannya ia dapat menghemat uang jajan atau dapat dibelikan keperluan yang
lain.
XY memandang bahwa untuk mendapatkan makan siang secara cuma-cuma, salah
satu yang dapat ia jalani adalah dengan mengajarkan materi di kelas kepada KJ.
Diminta atau tidak, XY mengulangi tindakan mengajarnya tersebut kepada KJ dengan
harapan mendapatkan ganjaran berupa makan siang.
Di sisi lain, bagi KJ, berteman dengan XY ia mendapatkan ganjaran berupa
pemahaman atas materi kuliah. Dengan sedikit pengorbanan, yakni membayarkan
makan siang bagi XY, KJ mendapatkan ganjaran berupa ilmu pengetahuan dari KJ. KJ
KEGIATAN
BELAJAR
5
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
PERILAKU SOSIAL

V- 10

berpikir, jika ia selalu membayari XY makan siang, ganjaran yang ia terima meskipun
abstra, akan berlipat-lipat karena pengetahuan yang terus berkembang, sehingga ia
bisa lulus dengan yudisium dengan pujian.




2. Proposisi Stimulus
Kasus Proposisi Stimulus: Lawan Jenis Sebagai Stimulus

PL (21) adalah seorang mahasiswa di sebuah kampus. Ia tergolong mahasiswa yang
labil dalam segi prestasi akademik, terkadang ia pintar, cerdas, dan mudah
memahami materi kuliah, namun kadang juga tidak demikian. PL hanya pintar jika
satu kelas dengan seorang mahasisiwi bernama HS (20). Dalam kehidupan semasa
SMA, PL pernah berpacaran dengan TA, seorang siswi satu kelas dengan PL. Semasa
SMA PL memang tergolong siswa yang cerdas dan berhasil memperoleh berbagai
penghargaan atas prestasinya di bidang akademik, termasuk mendapat kesempatan
untuk mengikuti pertukaran pelajar di Eropa. Kecerdasannya tersebut terpancing
karena ia ingin menunjukkan kualitas dirinya di depan TA.
Setelah lulus dari SMA dan melanjutkan kuliah, hubungan antara PL dengan TA
terhenti. PL mengalami kemunduran dalam bidang akademik di kampus. Ia menjadi
mahasiswa yang biasa-biasa saja, tidak mendapatkan penghargaan apapun atas
prestasinya.
Setelah melihat HS, PL tertarik dan mencoba untuk menjalin hubungan dengannya.
Meski tindakan menjalin hubungan tersebut belum ia lakukan, tindakan PL sewaktu
SMA dan semasa berpacaran dengan TA mulai nampak. Ia menjadi rajin belajar dan
berusaha menampilkan kualitas dirinya, terutama di depan HS. PL yang pada
awalnya lebih banyak pasif di kelas, mulai nampak aktif, terutama saat berada
sekelas dengan HS.




KEGIATAN
BELAJAR
5
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
PERILAKU SOSIAL

V- 11

3. Proposisi Nilai
Kasus Proposisi Nilai: Remaja Pendaki Gunung

BM dan BN adalah dua orang remaja yang kerap mendaki gunung. Setiap akhir
pekan, mereka selalu mendaki gunung yang berada di sekitar kota tempat kedua
remaja tersebut tinggal. Bagi BM dan BN, mendaki gunung adalah suatu kegiatan di
mana mereka dapat menyalurkan emosi, energi, dan keinginan menaklukan hawa
nafsunya. Selain itu, mereka mendapatkan kebahagiaan setelah berhasil mendaki
gunung, mencapai puncak, dan menaklukkan rasa lelah dan ketakutan.
Di kota tempat mereka tinggal, terdapat 4 gunung dengan ketinggian bervariasi,
yakni Gunung A dengan ketinggian 1.200 meter dari permukaaan laut (mdpl),
Gunung B (1.992 mdpl), Gunung C (2.489 mdpl), dan Gunung D (3.332 mdpl). Semua
gunung tersebut telah didaki oleh BM dan BN berkali-kali. Mereka berpendapat jika
hanya mendaki gunung-gunung yang berada di kota mereka saja, dirasakan sudah
tidak lagi menantang dan sedikitnya terdapat kebosanan dari diri BM dan BN.
Mereka merencanakan untuk mendaki gunung di kota tetangganya. Walaupun
hanya memiliki satu gunung, namun ketinggiannya mencapai 3.680 mdpl dengan
jalur pendakian yang relatif lebih berat daripada gunung-gunung yang berada di
kotanya. Selain itu, gunung tersebut, yakni Gunung E merupakan gunung tertinggi
di provinsi mereka tinggal.
BM dan BN merencanakan pada musim kemarau depan untuk mendaki gunung yang
terdapat di kota tetangga. Oleh karena itu, mereka berlatih fisik secara teratur.
Latihan tersebut dilakukan dengan cara berjalan kaki ke manapun, sejauh apapun,
dan selalu membawa carrier berukuran 120 liter yang diisi dengan penuh. Baik BM
maupun BN melakukannya bersama-sama.
Pada waktu yang direncanakan tiba, teman-teman BM dan BN meminta untuk
diantar ke gunung D. Alasannya, BM dan BN sudah mengenal persis gunung
tersebut. Namun BM dan BN menolak permintaan teman-temannya tersebut,
karena Gunung D telah terlalu sering didaki. BM dan BN lebih menyenangi mendaki
gunung yang belum pernah mereka daki, lebih tinggi daripada gunung tertinggi di
kotanya, dan juga menyenangi tantangan baru dengan mendaki Gunung E. Walau
mereka juga merasa senang bahwa teman-temannya memiliki keinginan mendaki
gunung, di sisi lain, BM dan BN rela meninggalkan kesenangan bersama teman-
temannya dan memilih kesenangan lain yang lebih tinggi.

KEGIATAN
BELAJAR
5
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
PERILAKU SOSIAL

V- 12


4. Proposisi Deprivasi Satiasi
Kasus Proposisi Derprivasi-Satiasi: Remaja Pengajar dan Pembayar Makan
Makin sering orang menerima ganjaran atas tindakannya dari orang lain, makin
berkurang nilai dari setiap tindakan yang dilakukan berikutnya

II adalah remaja kelas XII di sebuah SMA Negeri di Kota B. Sejak Kelas IV SD atau
sejak usia 10 tahun, II telah mengikuti sekolah sepakbola dan menunjukkan
bakatnya pada olah raga tersebut. Bakat tersebut ditunjang dengan keseriusan
dirinya berlatih baik di sekolah sepak bola maupun di sekitar rumahnya.
Kemampuannya bermain sepakbola membuat dirinya meraih gelar pemain terbaik
sejak SMP hingga SMA. Ia dipercaya sebagai pemain utama di kelas dan sekolahnya
saat bertanding dalam kegiatan pesta olah raga. Bakatnya yang sangat tinggi,
membuat II dapat mencetak gol di setiap pertandingan. Dalam kegiatan pesta olah
raga antar sekolah, setiap II mencetak gol, pihak sekolahnya memberikan bonus
berupa uang saku sebesar Rp. 25.000 untuk satu pertandingan sebagai ganjaran atas
jasanya mencetak gol ke gawang lawan.
Pemberian bonus tersebut diberikan sejak II duduk di bangku SMP. Setiap kali
mencetak gol, II mendapatkan uang saku. Demikianlah hal tersebut berlaku hingga
ia duduk di kelas XII sekarang. II sangat senang karena ia mendapat tambahan uang
saku sekaligus merasa mendapatkan penghargaan dari pihak sekolah.
Di sisi lain, mencetak gol dan mendapatkan bonus uang saku nampaknya menjadi
hal yang biasa. Ia tidak lagi merasa adanya semacam sensasi kesenangan dan
menganggap bahwa mencetak gol adalah hal yagn wajar dan mudah baginya.
Demikian pula, saat menerima bonus uang saku. II menerima dengan senang namun
tidak sesenang pada saat awal ia menerima bonus tersebut. Baginya mendapatkan
uang saku dari sekolah kini adalah kewajaran saja, sebuah hadiah yang tidak terlalu
mengesankan lagi baginya.







KEGIATAN
BELAJAR
5
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
PERILAKU SOSIAL

V- 13

5. Proposisi Restu Agresi
Kasus Proposisi Sukses: Remaja Audien Pentas Seni

MQ adalah seorang mahasiswa yang gemar menonton pentas seni. Demi
memuaskan kegemarannya tersebut, ia rela meninggalkan waktu belajarnya untuk
menonoton pentas seni, yakni seni musik. MQ sangat menyenangi berbagai jenis
lagu yang ditampilkan di panggung oleh musisi amatir maupun profesional. Walau ia
bukanlah tipe seorang remaja pemain band, MQ adalah penyuka musik yang
ditampilkan di panggung.
Pada bulan lalu, kelompok band favorit MQ bermain di stadion tenis indoor yang
terletak di utara rumahnya. Sebagaimana fans MQ rela mengeluarkan uangnya guna
membeli tiket untuk menonton band tersebut. Ia membeli tiket area festival agar
bisa menyaksikan lebih dekat band favoritnya tersebut.
Saat berada di dalam ruangan, MQ mendapati bahwa kelas festival sudah
sedemikian penuh, tidak ada tempat baginya bahkan untuk berdiri. MQ
mengeluhkan hal tersebut kepada panitia penyelenggara. Namun jawaban dari
panitia tidaklah seperti yang diharapkan MQ, sebaliknya memerintahkan kepada
MQ agar keluar dari area festival dan bahkan mengusirnya ke luar stadion tenis
tersebut. Merasa haknya diabaikan, MQ melakukan protes keras kepada pihak
panitia yang berada di luar stadion dan mengancam akan menerbitkan tulisan
keberatannya di media massa. Agresivitas MQ tersebut semakin menjadi, saat salah
seorang panitia menantangnya dengan menganggap MQ akan menyebarkan
tuduhan dan fitnah kepada panitia. Emosi MQ memuncak, ia membakar spanduk
penyelenggaraan dan diamankan oleh petugas keamanan yang berjaga di stadion
tenis indoor tersebut.

Seminggu setelah MQ gagal menonton band kesayangannya. MQ berniat untuk
menonton band lain di tempat yang sama. Kali ini, MQ tidak membeli tiket tanda
masuk melainkan mencoba jalan lain agar ia dapat masuk ke area pertunjukan tanpa
harus bersitegang dengan panitia. MQ menyadari bahwa jika ia tertangkap, paling
tidak ia harus membayar tiket dan denda. Karenanya, MQ bersiap dengan hal
tersebut.
Ia menyelinap ke bagian teknisi agar dapat masuk ke area pertunjukan sebelum
acara dimulai. Selesai dari ruang teknisi. MQ langsung masuk ke area pertunjukan
dan menunggu hingga waktu pertunjukan di mulai dengan sabar. MQ menonton
KEGIATAN
BELAJAR
5
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
PERILAKU SOSIAL

V- 14

secara langsung sesi check sound dan berbagai bentuk aktivitas para crew dalam
mempersiapkan acara. Hal ini menyenangkan bagi MQ, karena ia dapat melihat
secara langsung kepiawaian, kekompokan para pemain band, meski belum
melakukan pertunjukan.
Saat pertunjukan di mulai, MQ yang sudah berada di area pertunjukan mendekat ke
panggung, sementara penonton lain masih dalam proses memasuki area. Upaya MQ
menyelinap dan mendapatkan tempat tersebut dapat dikatakan sangat berhasil.
Selama pertunjukan, MQ dapat menonton dari jarak dekat band tersebut, tidak
perlu berdesakan dengan penonton lain, tidak ada pemeriksaan tiket, dan tidak
perlu mengeluarkan uang. Bahkan di saat lelah, MQ keluar dari areea festival
menuju tribun. Ia mencari dan mendapatkan tempat duduk baginya untuk
beristirahat.
Meski MQ menanggap tindakannya adalah salah dan melanggar ketentuan, namun
dengan mendapatkan kepuasan menonton band tanpa membayar, hal tersebut
adalah kesenangan tersendiri dan ia anggap sebagai pengalaman yang luar biasa
yang belum tentu dapat dilakukan oleh orang lain.


Satu ciri yang menarik dari Paradigma Perilaku Sosial ini adalah
penggunaan metode eksprimen dalam penelitiannya, tidak seperti halnya
Paradigma Fakta Sosial dan Definisi Sosial yang mengandalkan pada
wawancara dan observasi. Penggunaan metode eksprimen dapat
memberikan kontrol yang ketat atas obyek dan kondisi di sekitarnya yang
diteliti. Metode ini memungkinkan pula untuk membuat penilaian dan
pengukuran dengan tingkat ketepatan yang tinggi terhadap efek dari
perubahan-perubahan tingkah laku aktor yang ditimbulkan dengan sengaja di
dalam eksprimen. Meski demikian, eksprimen yang merupakan suatu metode
penelitian langsung dengan kontrol yang sangat ketat terhadap tingkah laku
aktor, peneliti masih dituntut untuk mengamati perilaku lanjut aktor yang
sedang diteliti. Artinya diperlukan obervasi yang lebih seksama untuk melihat
KEGIATAN
BELAJAR
5
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
PERILAKU SOSIAL

V- 15

dan memperkirakan perilaku lanjutan yang mungkin muncul dari para aktor
yang diteliti.

KRITIK TERHADAP PERILAKU SOSIAL
Paradigma Perilaku Sosial sangat efektif dalam mengkaji interaksi
antar individu dalam lingkup mikro. Sungguhpun demikian terdapat beberapa
kritik yakni pandangannya yang terlalu mengandaikan pertimbangan
pertukaran ekonomis. Dalam kenyataannya, sifat timbal balik (resiprositi) dari
hubungan antar manusia tidak semata didasarkan pada pertimbangan
ekonomis semata. Terdapat hal-hal metafisik dalam interaksi antara individu,
meskipun individu-invidivu tersebut terikat dengan erta. Kritik lainnya adalah
tidak realistis jika melihat hubungan antar individu selalu berada dalam
pertukaran yang seimbang. Pada tataran tertentu, hubungan antar individu
dapat ditandai dengan adanya dominasi dari satu individu terhadap individu
lain. Kritik lainnya terhadap paradigma ini adalah adanya anggapan bahwa
reduksi psikologi dapat menopang teori sosiologi yang dianggap sudah basi.
Sosiologi dengan paradigma-paradigma yang dimilikinya memberikan pilihan
tinjauan atas suatu fenomena, dan sangat mungkin teori-teori yang lahir pada
abad 19 pun tidak serta merta runtuh, namun masih dapat dijadikan alat guna
menganalisis fenomena sosial.

RINGKASAN
Paradigma Perilaku Sosial memiliki ciri yang mikro dan riil yakni
interaksi yang dapat diamati. Pendekatan psikologi dan transaksi ekonomi
menjadi penciri dari tindakan-tindakan atau interaksi antara satu individu
dengan individu yang lainnya. Agar sukar untuk menarik proyeksi ke arah
KEGIATAN
BELAJAR
5
MEMANDANG KEHIDUPAN
REMAJA BERDASAR
PERSPEKTIF PARADIGMA
PERILAKU SOSIAL

V- 16

yang lebih makro, karena sifatnya yang khas dan mendetail, berfokus pada
interaksi sejumlah kecil manusia. Di sisi lain, dengan mengacu pada ciri khas
remaja dari Abrecrombie dan Ward (1988), yakni pertemanan sebaya,
paradigma ini dapat menjelaskan bagaimana pertemanan sebaya tersebut
dapat terbentuk, terutama pertemanan sebaya yang beranggotakan individu
remaja dalam jumlah yang kecil.

SOAL LATIHAN
1. Refleksikan bahwa dalam kelompok remaja terdapat reinforcement
atau ganjaran yang membuat individu remaja mengulangi perilaku
atau tindakannya di dalam kelompok!
2. Refleksikan kelima proposisi Homans tersebut dalam kehidupan Anda
pada saat berkelompok dengan sesama remaja!

REFERENSI
Abercrombie, N. dan Warde, A. 1988. Contemporary British Society: A New
Introduction to Sociology. Cambrige: Polity . ISBN: ISBN:
9780745602257

Brake, M. 1985. Comparative Youth Culture: The Sociology of Youth Culture
and Youth Subcultures in America, Britain and Canada. Boston MA:
Routledge & Kegan Paul. ISBN: ISBN: 978-0415-05108-8

Ritzer, G. (2010). Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta:
PT. Rajagrafindo Persada. ISBN: 979-421-888-5

Siregar, A. 1997. Popularisasi Gaya Hidup: Sisi Remaja dalam Komunikasi
Massa, dalam Ibrahim, I.S. (ed). Ectasy Gaya Hidup. Bandung:
Penerbit Mizan. ISBN: 9789794331187