Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. KONDISI UMUM
Industri Kecil dan Menengah (IKM) mempunyai kedudukan yang
strategis dalam perekonomian nasional. Hal tersebut dapat dilihat dari
jumlah unit usaha yang besar, menyerap tenaga kerja, ragam produk sangat
banyak, pengisian wilayah pasar yang luas, sumber pendapatan bagi
masyarakat luas serta tahan terhadap berbagai krisis yang terjadi. Dengan
karakteristik seperti di atas apabila IKM ini berhasil ditumbuh-kembangkan
tentunya akan memberikan andil yang sangat besar dalam mewujudkan
ekonomi nasional yang tangguh, dan maju yang berciri kerakyatan.
Pada akhir RPJMN 2005 2009, IKM telah memberikan kontribusi
terhadap PDB sektor industri sebesar 32% dan berkembang menjadi pelaku
ekonomi yang makin berbasis iptek dan berdaya saing. PDB IKM tumbuh
rata-rata 4% lebih dengan kontribusi sebesar Rp. 214 trilyun. Populasi IKM
70 % masih terkonsentrasi di pulau Jawa. Hal ini disebabkan oleh
ketersediaan sarana infrastruktur yang baik, sumber daya manusia serta
daya beli masyarakat yang semakin meningkat.
Pengembangan IKM pada tahun 2005 2009 dilakukan dengan
pendekatan perkuatan kewirausahaan dan peningkatan produktivitas yang
dilakukan melalui program pengembangan klaster, pengembangan OVOP
(One Village One Product), revitalisasi UPT (Unit Pelayanan Teknis),
kompetensi inti daerah, dan lain-lain. Program tersebut dilakukan melalui
kegiatan-kegiatan pengembangan Inkubator, pelatihan-pelatihan, informasi
akses permodalan, bantuan mesin peralatan, restrukturisasi mesin /
peralatan, promosi dan pemasaran termasuk website, penghargaan,
peningkatan standardisasi, dan lain-lain.
Perkembangan IKM sangat dipengaruhi oleh berbagai kondisi baik
dari tataran global, nasional, lintas sektor dan internal. Dari tataran global
perkembangannya dipengaruhi oleh berlakunya AFTA, AC-FTA, dan
beberapa FTA yang akan berlaku. Potensi masuknya barang-barang impor
tersebut akan berdampak pada kinerja industri dalam negeri, khususnya
dalam mempengaruhi penjualan yang berujung pada penurunan produksi
2
dan berakhir pada pengurangan tenaga kerja. Membanjirnya produk China di
pasar domestik, menyebabkan usaha produk TPT menurun dari 57% pada
tahun 2005 menjadi 23% pada tahun 2008 (Badan Pusat Statistik, 2008).
Industri besi baja, tekstil dan produk tekstil (TPT), kimia anorganik dasar,
furnitur dan lampu hemat energi menjadi lima sektor yang dikhawatirkan
terkena dampak paling serius akibat pemberlakuan perjanjian ACFTA ini.
Selain itu, ACFTA dipastikan mengancam kelangsungan industri yang
selama ini berbasis pasar dalam negeri, dan dampaknya memicu
meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang diprediksi
mencapai 7,5 juta orang secara nasional. Banyaknya produk luar yang
masuk ke dalam negeri dengan harga lebih murah, lebih bervariatif dan
kompetitif menyebabkan banyak pengusaha industri kecil yang beralih
menjadi pedagang karena tidak mampu bersaing dengan produk luar.
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyatakan fenomena peralihan
kalangan industri kecil dan menengah (IKM) sektor tekstil dan produk tekstil
(TPT) ke sektor perdagangan sebagai imbas perdagangan bebas atau free
trade agreement (FTA) ASEAN-China sangat mungkin terjadi. Industri TPT
skala IKM sangat rentan beralih, karena imbas FTA memungkinkan harga
barang impor khususnya dari China lebih murah, sehingga industri IKM lebih
memilih membeli barang impor asal China, kemudian menjualnya. Sebelum
pelaksanaan FTA berlangsung, banyak industri sektor TPT yang kalah
bersaing bahkan sampai tutup. Setidaknya pada tahun 2008, API mencatat
ada 155 pabrik tutup dan pada tahun 2009 sebanyak 271 perusahaan tutup,
yang umumnya bergerak dibidang benang rajut, garmen dan perusahaan-
perusahaan TPT berorientasi pasar domestik. Mengenai permasalahan daya
saing produk TPT lokal yang masih rendah, hal itu tidak terlepas dari
masalah-masalah di dalam negeri yang belum terselesaikan seperti
infrastruktur energi listrik, gas, suku bunga yang tinggi, mahalnya biaya
penanganan kontainer di pelabuhan (THC), tenaga kerja dan lain-lain.
Dalam tataran nasional, yang mempengaruhi perkembangan IKM
adalah adanya otonomi daerah dan pengurangan subsidi baik BBM maupun
TDL. Menurut UU No. 22 Tahun 1999 otonomi daerah adalah kewenangan
daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat
setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai
3
dengan peraturan perundang-undangan. Kewenangan daerah mencakup
kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan
dalam bidang politik kuar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter
dan fiskal, agama serta kewenangan bidang lain (Pasal 7 UU No. 22 Tahun
1999). Disamping pemerintah daerah juga dituntut untuk memiliki kewajiban
dalam mengembangankan bidang-bidang koperasi, industri dan
perdagangan, penanaman modal, tenaga kerja, kesehatan, pendidikan dan
kebudayaan, pertanian, perhubungan, pertanahan, lingkungan hidup (Pasal
11). Secara lengkap disebutkan bahwa dalam upaya meningkatkan taraf
kesejahteraan rakyat kepala daerah berkewajiban mewujudkan demokrasi
ekonomi dengan melaksanakan pembinaan dan pengembangan koperasi,
usaha kecil dan menengah, yang mencakup permodalan, pemasaran,
pengembangan teknologi, produksi, dan pengolahan serta pembinaan dan
pengembangan sumberdaya manusia. Untuk melaksanakan peran dan
kewajibannya pemerintah daerah menggunakan sumber pendanaan
pembagunan daerah yang diatur dalam UU No. 25 tahun 1999. Sumber
pendanaan tersebut antara lain akan diperoleh dari pendapatan asli daerah,
dan aperimbangan, pinjaman daerah, dan lain-lain penerimaan yang sah.
Pendapatan asli daerah (PAD) merupakan sumber keuangan daerah yang
digali dari dalam wilayah daerah yang bersangkutan. Saat ini, daerah
mengandalkan sumberdaya alam sebagai sumber utama PAD di samping
berbagai pajak daerah dan sumber penghasilan lainnya. Dalam era otonomi
daerah ini, kewenangan pemerintah pusat dalam hal pengelolaan
sumberdaya berdasarkan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun
2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Pemerintah Daerah sebagai
daerah otonom, dinyatakan hanya terbatas pada kebijakan yang bersifat
norma, standar, kriteria, dan prosedur dengan ketentuan pelaksanaannya :
Mempertahankan dan memelihara identitas dan integritas bangsa dan
negara,
Menjamin kualitas pelayanan kualitas umum karena jenis pelayanan
tersebut dan skala nsional,
Menjamin keselamatan fisik dan non-fisik secara sentra baggi semua
warga negara,
Manjamin supermasi hukum nasional.
4
Perubahan sistem nasional ini, akan memiliki implikasi terhadap
pelaku bisnis kecil dan menengah. Beberapa daerah dalam rangka
meningkatkan otonomi daerah, berbagai pungutan-pungutan baru dikenakan
pada IKM, sehingga biaya transaksi menjadi meningkat. Jika kondisi ini tidak
segera dibenahi, maka akan menurunkan daya saing IKM. Permasalahan
lainnya, semangat kedaerahan yang sempit, kadang menciptakan kondisi
yang kurang menyenangkan bagi pengusaha yang berhasil dari luar daerah
tersebut.
Faktor yang terganggu dengan adanya kenaikan Bahan Bakar
Minyak (BBM) dan Tarif Dasar Listrik (TDL) pada IKM adalah produksi,
distribusi maupun pemasarannya. Dari sisi produksi mereka semakin
kesulitan mendapatkan bahan baku dan kesulitan dalam proses produksi
karena mahalnya harga BBM. Dari sisi distribusi akan tersendat karena
naiknya biaya transportasi. Sedangkan dari sisi pemasaran akan semakin
sulit mendapatkan konsumen karena lemahnya daya beli masyarakat.

Untuk menghadapi perkembangan dan tantangan yang muncul saat
ini dan mendatang, Kementerian Perindustrian melakukan restrukturisasi
organisasi karena struktur organisasi yang ada selama ini tidak sesuai lagi
dengan kondisi yang ada. Restrukturisasi organisasi di lingkungan
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) itu dilakukan dengan merombak
struktur birokrasi serta pergantian pejabat eselon I,II,III dan IV. Perombakan
struktur organisasi dan pejabat dilakukan untuk menjawab tantangan masa
kini yang tidak boleh dipandang remeh. Alasan perombakan, untuk
menjawab tantangan masa kini karena sudah lebih dari 25 tahun struktur
organisasi Kementerian Perindustrian tidak berubah, sementara masalah
yang dihadapi sudah sangat berbeda. Restrukturisasi organisasi dan
pergantian pejabat di Kemenperin itu dilakukan sesuai dengan amanat
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2009 tentang
Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara serta Peraturan Presiden
Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas dan
Fungsi Eselon I. Dalam struktur baru tersebut, terjadi penambahan unit
eselon I dari tujuh menjadi sembilan eselon I. Namun penambahan unit
5
eselon I itu tidak secara signifikan menambah jumlah pejabat maupun staf
didalamnya karena tetap mengedepankan efisiensi organisasi.
Perkembangan IKM dari tahun 2005-2009 terlihat pada tabel 1.1.
Perkembangan unit usaha IKM dari tahun 2005-2009 telah mengalami
kenaikan sebesar 836.282 unit atau mengalami pertumbuhan sebesar
6.25%. Kenaikan terbesar terjadi pada tahun 2006, sebanyak 298.550 unit
usaha berkembang dalam waktu 1 tahun antara tahun 2005 samapi 2006.
Sedangkan untuk tenaga kerja dalam waktu 4 tahun telah menyerap tenaga
kerja sebesar 972.316 orang atau mengalami laju pertumbuhan sebesar
3.26%. Penyerapan tenaga kerja terbesar terjadi pada tahun 2008 yaitu
sebesar 358.341 orang. Nilai investasi yang terserap selama 5 tahun
sebesar 45 triliun. Sedangkan nilai produksi dan nilai bahan baku mengalami
kenaikan sebesar 183 triliun dan 23 triliun.

TABEL 1.1 PERKEMBANGAN IKM TAHUN 2005-2009
2005 2006 2007 2008
2009
*)
1 Unit Usaha (IKM) 2.918.956 3.217.506 3.438.454 3.542.129 3.755.238 6,25
2 Tenaga Kerja (Org) 7.101.538 7.371.257 7.632.931 7.991.272 8.073.854 3,26
3 Nilai Investasi (Triliun Rp) 178 216 221 227 223 5,84
4 Nilai Produksi (Triliun Rp) 321 425 487 498 504 11,95
5 Nilai Bahan Baku (Triliun Rp) 130 136 142 147 153 4,1
6 Nilai Tambah (Triliun Rp) 173 194 210 198 214 5,49
7 Ekspor (US$ Juta) 8.465 9.453 10.603 12.137 12.275 9,74
NO Uraian
Tahun
LP (%)


1.2. POTENSI DAN PERMASALAHAN

Permasalahan utama di dalam sektor industri menyangkut struktur
industri yang belum kokoh dan berkeadilan. Dalam hal keterkaitan hulu hilir,
lemahnya struktur industri nasional ditunjukkan oleh masih tingginya
komponen impor bahan baku/bahan penolong yang digunakan industri
nasional. Sebagai contoh, produk elektronika yang banyak kita ekspor
ternyata 90% dari bahan baku dan bahan penolong yang digunakan adalah
6
impor. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tambah yang dihasilkan di dalam
negeri masih kecil. Padahal nilai tambah inilah yang memberi kontribusi
dalam pembangunan ekonomi nasional. Lemahnya hubungan hulu hilir ini
juga ditunjukkan pada belum terbangunnya industri hilir sehingga ekspor kita
masih didominasi produk sektor primer, tanpa melalui proses penambahan
nilai didalam negeri terlebih dahulu. Artinya, bahan baku diekspor dalam
bentuk bahan mentah daripada dalam bentuk setengah jadi yang bernilai
tambah lebih tinggi seperti minyak sawit (CPO), karet, coklat, rotan, kayu,
hasil-hasil laut, bahan mineral seperti tembaga, nikkel, dan aluminium.
Dengan demikian Indonesia secara potensial mengalami dua kerugian, yakni
kehilangan perolehan tambahan devisa yang lebih besar, dan kurangnya
pasokan bahan baku bagi industri pengolahan dalam negeri sebagaimana
yang terjadi pada produk-produk pertanian. Lemahnya struktur industri
nasional juga karena belum terbangunnya jaringan pemasok
bahan/komponen/sub-assembly kepada industri besar penghasil barang jadi
(original equipment manufacturer, OEM). Sehingga sering dikatakan belum
ada keterkaitan antara industri besar dan industri kecil dan menengah.
Dalam rangka memperkuat struktur industri, upaya membenahi IKM
(industri kecil dan menengah) terus dilakukan untuk mengatasi tantangan
klasik seperti lemahnya akses ke bahan baku, terbatasnya jaringan
pemasaran, kurang tersedianya dana sebagi modal usaha, aplikasi teknologi
masih sederhana dan kurangnya tenaga kerja terampil. Sumber bahan baku
lokal sangat potensial, namun IKM sering menghadapi kendala
ketersediaannya baik jumlah, kualitas maupun penyerahan (delivery).
Beberapa akses IKM je bahan baku juga telah dibantu. IKM di bidang
kerajinan mebel ukiran di Jawa Tengah yang menghadapi masalah pasokan
kayu jati difasilitasi dengan membentuk pusat distribusi pengadaan bahan
baku dengan melibatkan BUMN, asosiasi industri dan masyarakat
kehutanan. Hal yang sama juga telah dilakukan pada IKM pengecoran
logam yang juga menghadapi masalah baku (skrap) dan bahan bakar
(kokas) dengan mempertemukan para pemasok skrap dan importer batu
bara. Terkait dengan pemasaran, terus dilakukan upaya promosi baik di
dalam maupun di luar negeri yang bekerja sama dengan instansi terkait dan
kalangan perhotelan di Jakarta, Yogyakarta dan Bandung agar dapat
menyediakan satu wahana (counter) untuk produk kerajinan. Demikian pula
7
koordinasi dengan perbankan nasional ditingkatkan sehingga penyaluran
kredit bagi pertumbuhan IKM semakin meningkat.
Penduduk Indonesia yang besar tidak saja merupakan modal tumbuhnya
IKM juga sebagai peluang bagi pasar IKM, tetapi tingkat pendidikan,
keterampilan, produktivitas dan disiplin rendah serta tidak meratanya
penyebaran penduduk dan pendapatan. Daya saing industri manufaktur
merupakan isu pembangunan ekonomi yang penting dalam era globalisasi.
Tidak hanya di pasr internasional, di pasar dalam negeri produk impor
secara leluasa bersaing langsung dengan produk manufaktur dalam negeri.
Hanya jika produk manufaktur dalam negeri mampu unggul dalam
persaingan di pasar, semua tenaga dan daya yang telah digunakan untuk
menghasilkannya mendapat imbalan ekonomi. Secara makro, kemampuan
yang tinggi dalam bersaing akan membantu penciptaan lapangan kerja dan
menyehatkan neraca perdagangan. Sebagaimana telah diidentifikasi dalam
RJMN 2004-2009, daya saing industri manufaktur nasional belum banyak
berkembang karena dihadapkan pada berbagai masalah. Permasalahan
tersebut antara lain lemahnya keterkaitan hulu dan hilir (struktur), tingginya
kandungan impor, lemahnya penguasaan teknologi, rendahnya kulaitas
SDM, minimnya peran industri kecil dan menengah, kurang kondusifnya
iklim usaha dan investasi yang ditandai oleh layanan umum yang buruk.

Penyediaan skema permodalan yang sudah difasilitasi oleh pemerintah
(KUR, CSR, produk perbankan) merupakan kekuatan bagi IKM namun
belum termanfaatkan secara optimal. Kredit Usaha Rakyat (KUR)
merupakan fasilitas pembiayaan yang dapat diakses oleh UMKM dan
Koperasi terutama yang memiliki usaha yang layak namun belum bankable.
Maksudnya adalah usaha tersebut memiliki prospek bisnis yang baik dan
memiliki kemampuan untuk mengembalikan. Tujuan diluncurkannya KUR
adalah untuk mempercepat pengembangan sektor riil dan pemberdayaan
UMKM, untuk meningkatkan akses pembiayaan kepada UMKM dan
Koperasi, dan untuk penanggulangan kemiskinan dan perluasan
kesempatan kerja.
Dari inventarisasi di lapangan, beberapa kendala penyaluran KUR antara
lain:
8
Belum adanya pemahaman yang seragam terhadap skim KUR, baik oleh
para petugas bank di lapangan maupun masyarakat, sehingga mungkin
saja masih ada beberapa penyimpangan dan persepsi yang keliru
tentang KUR, misalnya: tentang ketentuan agunan, persyaratan
administrasi, sumber dana KUR, beroperasinya para calo KUR Mikro
dsb.
Pemenuhan tenaga pemasaran KUR tidak bisa dilakukan seketika oleh
perbankan namun harus dilakukan secara bertahap. Hal ini terjadi
karena pemberian KUR harus dilaksanakan sesuai prinsip kehati-hatian
dalam perbankan sehingga diperlukan kompetensi tenaga kerja yang
sesuai.
Adanya perubahan kondisi makro-ekonomi, misalnya: kenaikan inflasi,
kenaikan suku bunga, dll yang menyebabkan permintaan kredit
menurun.
Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial
perusahaan saat ini telah menjadi konsep yang kerap kita dengar, walau
definisinya sendiri masih menjadi perdebatan di antara para praktisi maupun
akademisi. Sebagai sebuah konsep yang berasal dari luar, tantangan
utamanya memang adalah memberikan pemaknaan yang sesuai dengan
konteks Indonesia. CSR adalah suatu wahana yang dapat dipergunakan
untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Dengan pemahaman
yang demikian, CSR tidak akan disalahgunakan hanya sebagai marketing
gimmick untuk melakukan corporate greenwash atau pengelabuan citra
perusahaan belaka.
Perkembangan pemberian kredit perbankan kepada UMKM, sampai
dengan saat ini masih menunjukkan perkembangan meningkat dengan rasio
pembiayaan setiap tahunnya berkisar antara 49 % - 51% dari total kredit
perbankan atau mencapai Rp 700,8 trilun. Namun demikian, sekitar 52,8%
kredit UMKM tersebut masih diberikan dalam bentuk kredit konsumsi.
Sementara untuk modal usaha, UMKM ternyata masih mengandalkan modal
sendiri atau bantuan kerabat dan belum banyak tersentuh oleh perbankan.
Data BPS 2008 juga menunjukkan bahwa dari 51,3 juta UMKM yang
ada, sekitar 15,42 juta termasuk dalam kategori yang feasible, namun belum
bankable. Dari sisi UMKM, alasannya berkisar disekitar ketidak sanggupan
9
menyediakan agunan (bagi usaha mikro) dan rasa takut bank akan
membebankan suku bunga tinggi (bagi usaha kecil dan menengah). Dari sisi
perbankan, mereka memandang hal lain sebagai penghalang kucuran kredit
ke UMKM. Perbankan melihat bahwa UMKM masih menghadapi
permasalahan kelayakan usaha, baik menyangkut aspek keuangan maupun
aspek pemasaran dan tenaga kerja.

Banyaknya pulau yang tersebar dengan kekayaan SDA juga merupakan
salah satu modal pengembangan IKM, namun infrastruktur yang ada masih
terbatas. Infrastruktur jalan, pelabuhan dan kepabeanan yang bermasalah
bisa memicu biaya tinggi pada proses produksi dan transportasi. Jika
infrastruktur tidak dapat disediakan, maka produk hasil industri tidak dapat
didistribusikan ke daerah lain karena akan memakan biaya lebih besar.
Sayangnya sampai saat ini pembangunan infrastruktur masih menghadapi
banyak kendala sehingga akan menghambat pertumbuhan industri, apalagi
insentif untuk memacu investasi juga belum ada.

Dukungan teknologi tersedia, namun akses IKM terhadap teknologi
masih terbatas. Tidak tersedianya infrastruktur telepon di beberapa wilayah,
menjadi salah satu hambatan bagi industri kecil dan menengah di Indonesia
untuk mengakses internet. Padahal, internet sangat dibutuhkan IKM untuk
mengakses pasar dan mengetahui informasi harga barang. Selain itu, masih
banyak pelaku IKM di daerah yang belum paham cara penggunaan internet
ataupun perangkat elektronik seperti komputer.

Dana APBN/APBD dalam perekonomian nasional berfungsi sebagai
investasi dan stimulus. Dalam kaitannya dengan pembinaan IKM, fungsi
APBN/APBD sebagian besar terkait sebagai investasi baik investasi
infrastruktur maupun non-infastruktur. Dana APBN untuk pembinaan IKM
setiap tahunnya tersedia, namun hasil pembinaan IKM yang telah dicapai
belum optimal. Hal ini terukur dari jumlah IKM yang cepat tumbuh namun
cepat pula hilang dan beralih menjadi pedagang. Beberapa pembinaan IKM
yang telah dilaksanakan antara lain melalui kegiatan pelatihan, workshop
dan magang di perusahaan.

10
BAB II
VISI, MISI DAN TUJUAN

Dalam rangka pengembangan IKM yang lebih berdaya saing global, maka
ditetapkan visi, misi, tujuan, strategi dan program baik jangka pendek maupun
jangka menengah yang dituangkan dalam Rencana Strategis (Renstra) 20102014.

2.1. VISI
Terwujudnya Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang berdaya saing global.

2.2. MISI
1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan SDM berbasis
kompetensi;
2. Mendorong tumbuhnya wirausaha baru IKM;
3. Mendorong peningkatan penguasaan dan penerapan teknologi modern;
4. Mendorong peningkatan perluasan pasar;
5. Mendorong peningkatan nilai tambah;
6. Mendorong perluasan akses ke sumber pembiayaan;
7. Mendorong penyebaran pembangunan IKM di luar Jawa.

2.3. TUJUAN
Tujuan 1 : Meningkatnya kontribusi IKM terhadap PDB industri
Sasaran Strategis : Meningkatnya produktivitas IKM
Indikator kinerja : Nilai tambah dan nilai investasi

Tujuan 2 : Meningkatnya penyebaran industri di luar jawa
Sasaran Strategis : Tumbuhnya IKM berbasis sumberdaya lokal
Indikator Kinerja : Jumlah unit usaha dan tenaga kerja

Tujuan 3 : Meningkatnya pangsa pasar IKM di dalam dan luar
negeri.
Sasaran Strategis : Meningkatnya promosi dan pemasaran produk IKM
Indikator Kinerja : Nilai produksi dan ekspor



11
2.4. STRUKTUR ORGANISASI

Gambar 2.1 Struktur Organisasi Direktorat Jenderal IKM

Gambar 2.2 Struktur Organisasi Sekretariat Ditjen IKM

Gambar 2.3 Struktur Organisasi Direktorat IKM Wilayah I
12

Gambar 2.4 Struktur Organisasi Direktorat IKM Wilayah II


Gambar 2.5 Struktur Organisasi Direktorat IKM Wilayah III

2.5. TUGAS POKOK DAN FUNGSI
Ditjen IKM mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan
kebijakan dan standardisasi teknis di bidang IKM.
Ditjen IKM menyelenggarakan fungsi:
1. perumusan kebijakan di bidang IKM termasuk penyusunan peta
panduan pengembangan klaster industri kecil dan menengah;
2. pelaksanaan kebijakan di bidang industri kecil dan menengah
termasuk pengembangan klaster industri kecil dan menengah;
13
3. penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang industri
kecil dan menengah;
4. pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang industri kecil dan
menengah; dan
5. pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Industri Kecil dan
Menengah.

2.6. SASARAN STRATEGIS
2.6.1. SASARAN KUALITATIF
1. Meningkatnya kemampuan teknologi, penerapan standardisasi
dan HKI bagi IKM
2. Meningkatnya SDM IKM yang profesional dan kreatif
3. Meningkatnya akses sumber bahan baku bagi IKM
4. Meningkatnya akses sumber pembiayaan bagi IKM
5. Meningkatnya kerjasama kelembagaan dan iklim usaha yang
kondusif
6. Meningkatnya akses pasar dalam dan luar negeri bagi IKM

2.6.2. SASARAN KUANTITATIF
Dari tabel 2.1. terlihat proyeksi perkembangan IKM tahun 2010-
2014. Dalam kurun waktu 5 tahun diharapkan jumlah unit usaha
mengalami pertumbuhan sebesar 3.24% atau sebesar 517.624 unit,
dengan rata-rata pertumbuhan pertahunnya sebesar 129.406 unit.
Tenaga kerja yang diserap diharapkan mengalami pertumbuhan
sebesar 4.34 %, dari 8.755.102 orang pada tahun 2005 menjadi
10.378.056 orang pada tahun 2014. Adapun nilai investasi dalam
waktu 5 tahun dapat meningkat sebesar 84 triliun. Sedangkan untuk
nilai produksi, nilai bahan baku serta nilai tambah diharapkan
mengalami pertumbuhan sebesar 9.63%, 7.27% dan 10.60%. Untuk
nilai ekspor dapat meningkat sebesar US$ 6.076 juta dalam waktu 5
tahun.




14

TABEL 2.1 PROYEKSI PERKEMBANGAN IKM
TAHUN 2010-2014

2010 2011 2012 2013 2014
1 Unit Usaha (IKM) 3.806.566 3.909.343 4.026.624 4.159.502 4.324.190 3,24
2 Tenaga Kerja (Org) 8.755.102 9.147.863 9.462.565 9.816.425 10.378.056 4,34
3 Nilai Investasi (Triliun Rp) 229 244 261 284 313 8,14
4 Nilai Produksi (Triliun Rp) 521 561 609 671 753 9,63
5 Nilai Bahan Baku (Triliun Rp) 156 163 174 188 207 7,27
6 Nilai Tambah (Triliun Rp) 365 398 435 483 546 10,60
7 Ekspor (US$ Juta) 13.503 15.022 16.541 18.06 19.579 9,73
No. Uraian
Tahun
LP (%)

Untuk mencapai proporsi perkembangan IKM di pulau jawa dan
luar pulau jawa 60:40 pada tahun 2014, maka jumlah unit usaha di
pulau jawa harus mengalami pertumbuhan sebesar 0.45%,
sedangkan untuk luar pulau jawa harus mengalami pertumbuhan
sebesar 8.29% sebagaimana terlihat dalam tabel 2.2 dan 2.3.

TABEL 2.2 PROYEKSI PERKEMBANGAN IKM PULAU JAWA
DAN LUAR PULAU JAWA TAHUN 2010-2014

2010 2011 2012 2013 2014
1 Pulau Jawa (Unit) 2.548.634 2.549.487 2.555.973 2.568.010 2.594.514 0,45
2 Luar Pulau Jawa (Unit) 1.257.932 1.359.856 1.470.651 1.591.492 1.729.676 8,29
3 Jumlah (Unit) 3.806.566 3.909.343 4.026.624 4.159.502 4.324.190 3,24
No. Uraian
Tahun
LP (%)







15

TABEL 2.3 PERSENTASE DISTRIBUSI POPULASI IKM DI JAWA
DAN LUAR JAWA TAHUN 2010-2014

2010 2011 2012 2013 2014
1 Jawa 67 65 63 62 60
2 Luar Jawa 33 35 37 38 40
No. Uraian
Tahun


Untuk mencapai proporsi perkembangan IKM di pulau Jawa dan
luar pulau Jawa sebesar 60:40 pada tahun 2014, maka
perkembangan IKM di wilayah I (Sumatera, Kalimantan) harus
mengalami pertumbuhan sebesar 8.29% atau meningkat sebesar
232.436 unit, sedangkan wilayah II (Jawa, Bali) mengalami
pertumbuhan sebesar 0.77% dari tahun 2010 sebesar 2.647.445 unit
menjadi 2.730.380 unit pada tahun 2014, untuk wilayah III (Nusa
Tenggara, Sulawesi, Maluku, Papua) harus mengalami pertumbuhan
8.29% atau sebesar 202.252 unit.

TABEL 2.4 PROYEKSI PERKEMBANGAN UNIT USAHA IKM
BERDASARKAN WILAYAH TAHUN 2010-2014


2010 2011 2012 2013 2014
1 WIL I 619.805 670.025 724.615 784.155 852.241 8,29
2 WIL II 2.647.445 2.656.303 2.671.492 2.693.022 2.730.380 0,77
3 WIL III 539.317 583.015 630.517 682.325 741.569 8,29
Total IKM 3.806.566 3.909.343 4.026.624 4.159.502 4.324.190 3,24
No Wilayah
Tahun
LP (%)








16
BAB III
ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI

3.1 ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI KEMENTERIAN

Dalam rangka mewujudkan pencapaian sasaran-sasaran industri
tahun 2010-2014 telah dibangun Peta Strategi Kementerian Perindustrian
yang mengacu pada Visi 2025, yaitu: Indonesia mampu menjadi Negara
Industri Tangguh pada tahun 2025. Visi ini kemudian dijabarkan ke dalam
Misi membangun industri manufaktur untuk menjadi tulang punggung
perekonomian, yang secara detil dapat dirinci menjadi :
1. Wahana pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat;
2. Dinamisator pertumbuhan ekonomi nasional;
3. Pengganda kegiatan usaha produktif di sektor riil bagi masyarakat;
4. Wahana (medium) untuk memajukan kemampuan teknologi nasional;
5. Wahana penggerak bagi upaya modernisasi kehidupan dan wawasan
budaya masyarakat;
6. Salah satu pilar penopang penting bagi pertahanan negara dan
penciptaan rasa aman masyarakat;
7. Andalan pembangunan industri yang berkelanjutan melalui
pengembangan dan pengelolaan sumber bahan baku terbarukan,
pengelolaan lingkungan yang baik, serta memiliki rasa tanggung jawab
sosial yang tinggi.

Selanjutnya dalam Peta Strategi diuraikan peta-jalan yang akan
ditempuh untuk mewujudkan visi 2025 tersebut. Peta Strategi Kementerian
Perindustrian dapat dilihat pada Gambar 3.1 di bawah ini.

17

P e r s p e k t i f P r o s e s
P e l a k s a n a a n T u g a s P o k o k
D e p a r t e m e n
P e r s p e k t i f
P e m a n g k u
K e p e n t i n g a n
V
i
s
i


:

I
n
d
o
n
e
s
i
a

m
a
m
p
u

m
e
n
j
a
d
i

n
e
g
a
r
a

i
n
d
u
s
t
r
i

t
a
n
g
g
u
h
p
a
d
a

t
a
h
u
n

2
0
2
5
M
i
s
i

:

M
e
m
b
a
n
g
u
n

i
n
d
u
s
t
r
i

m
a
n
u
f
a
k
t
u
r

u
n
t
u
k

m
e
n
j
a
d
i

t
u
l
a
n
g

p
u
n
g
g
u
n
g

p
e
r
e
k
o
n
o
m
i
a
n
M
e
m
f
a
s
i
l
i
t
a
s
i

p
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

i
n
d
u
s
t
r
i


M
e
m
f
a
s
i
l
i
t
a
s
i

p
r
o
m
o
s
i

i
n
d
u
s
t
r
i
M
e
m
f
a
s
i
l
i
t
a
s
i

p
e
n
e
r
a
p
a
n

s
t
a
n
d
a
r
d
i
s
a
s
i
M
e
n
g
e
m
b
a
n
g
k
a
n

R
&
D

d
i

i
n
s
t
a
n
s
i

d
a
n

i
n
d
u
s
t
r
i
M
e
n
g
k
o
o
r
d
i
n
a
s
i
k
a
n

p
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
u
a
l
i
t
a
s


l
e
m
b
a
g
a

p
e
n
d
i
d
i
k
a
n

d
a
n

p
e
l
a
t
i
h
a
n

s
e
r
t
a

k
e
w
i
r
a
u
s
a
h
a
a
n
M
e
n
g
e
m
b
a
n
g
k
a
n

k
e
m
a
m
p
u
a
n

S
D
M

y
a
n
g

k
o
m
p
e
t
e
n
M
e
m
b
a
n
g
u
n

o
r
g
a
n
i
s
a
s
i


y
a
n
g

P
r
o
f
e
s
i
o
n
a
l

d
a
n

P
r
o
b
i
s
n
i
s
M
e
n
i
n
g
k
a
t
k
a
n

k
u
a
l
i
t
a
s

p
e
r
e
n
c
a
n
a
a
n

d
a
n

p
e
l
a
p
o
r
a
n
P e r s p e k t i f
P e n i n g k a t a n
K a p a s i t a s
K e l e m b a g a a n
M
e
m
b
a
n
g
u
n

s
i
s
t
e
m

i
n
f
o
r
m
a
s
i


i
n
d
u
s
t
r
i

y
a
n
g

t
e
r
i
n
t
e
g
r
a
s
i

&

h
a
n
d
a
l
M
e
m
f
a
s
i
l
i
t
a
s
i

p
e
n
e
r
a
p
a
n
,

p
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

d
a
n

p
e
n
g
g
u
n
a
a
n

K
e
k
a
y
a
a
n

i
n
t
e
l
e
k
t
u
a
l
M
e
n
i
n
g
k
a
t
k
a
n

S
i
s
t
e
m

T
a
t
a

K
e
l
o
l
a

K
e
u
a
n
g
a
n

d
a
n

B
M
N

y
a
n
g

p
r
o
f
e
s
i
o
n
a
l

M
e
m
p
e
r
s
i
a
p
k
a
n

d
a
n
/
a
t
a
u

M
e
n
e
t
a
p
k
a
n

K
e
b
i
j
a
k
a
n

d
a
n

p
r
o
d
u
k

h
u
k
u
m

I
n
d
u
s
t
r
i

M
e
n
e
t
a
p
k
a
n

r
e
n
c
a
n
a

s
t
r
a
t
e
g
i
s

d
a
n
/
a
t
a
u

p
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

i
n
d
u
s
t
r
i

p
r
i
o
r
i
t
a
s

d
a
n

i
n
d
u
s
t
r
i


a
n
d
a
l
a
n

m
a
s
a

d
e
p
a
n
P
e
r
u
m
u
s
a
n
K
e
b
i
j
a
k
a
n
M
e
n
e
t
a
p
k
a
n

p
e
t
a

p
a
n
d
u
a
n

p
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

i
n
d
u
s
t
r
i

M
e
n
g
u
s
u
l
k
a
n

i
n
s
e
n
t
i
f

y
a
n
g

m
e
n
d
u
k
u
n
g

p
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

i
n
d
u
s
t
r
i
M
e
n
i
n
g
k
a
t
k
a
n

k
u
a
l
i
t
a
s

p
e
l
a
y
a
n
a
n

p
u
b
l
i
k
G
a
m
b
a
r

3
.
1

P
e
t
a

S
t
r
a
t
e
g
i

K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

P
e
r
i
n
d
u
s
t
r
i
a
n
1
T
i
n
g
g
i
n
y
a
N
i
l
a
i

t
a
m
b
a
h

i
n
d
u
s
t
r
i

K
o
k
o
h
n
y
a

b
a
s
i
s

i
n
d
u
s
t
r
i

m
a
n
u
f
a
k
t
u
r

d
a
n

i
n
d
u
s
t
r
i

a
n
d
a
l
a
n

m
a
s
a

d
e
p
a
n

m
e
n
j
a
d
i

t
u
l
a
n
g

p
u
n
g
g
u
n
g

p
e
r
e
k
o
n
o
m
i
a
n

n
a
s
i
o
n
a
l
2
T
i
n
g
g
i
n
y
a
p
e
n
g
u
a
s
a
a
n

p
a
s
a
r

d
a
l
a
m

d
a
n

l
u
a
r

n
e
g
e
r
i
K
o
k
o
h
n
y
a
f
a
k
t
o
r
-
f
a
k
t
o
r

p
e
n
u
n
j
a
n
g
p
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

i
n
d
u
s
t
r
i
3
T
i
n
g
g
i
n
y
a

k
e
m
a
m
p
u
a
n

i
n
o
v
a
s
i

d
a
n

p
e
n
g
u
a
s
a
a
n

t
e
k
n
o
l
o
g
i

i
n
d
u
s
t
r
i
4
K
u
a
t
,

l
e
n
g
k
a
p

d
a
n

d
a
l
a
m
n
y
a

S
t
r
u
k
t
u
r

i
n
d
u
s
t
r
i
5
T
e
r
s
e
b
a
r
n
y
a

p
e
m
b
a
n
g
u
n
a
n

i
n
d
u
s
t
r
i
6 M
e
n
i
n
g
k
a
t
n
y
a

p
e
r
a
n

i
n
d
u
s
t
r
i

k
e
c
i
l

d
a
n

m
e
n
e
n
g
a
h

t
e
r
h
a
d
a
p

P
D
B
7
P
e
l
a
y
a
n
a
n
&

F
a
s
i
l
i
t
a
s
i
S
D
M
O
r
g
a
n
i
s
a
s
i

&

K
e
t
a
t
a
l
a
k
s
a
n
a
a
n
I
n
f
o
r
m
a
s
i
P
e
r
e
n
c
a
n
a
a
n
D
a
n
a
M
e
n
g
o
p
t
i
m
a
l
k
a
n

b
u
d
a
y
a

p
e
n
g
a
w
a
s
a
n
p
a
d
a

u
n
s
u
r

p
i
m
p
i
n
a
n

d
a
n

s
t
a
f
M
e
n
g
o
p
t
i
m
a
l
k
a
n
e
v
a
l
u
a
s
i

p
e
l
a
k
s
a
n
a
a
n

k
e
b
i
j
a
k
a
n

d
a
n

e
f
e
k
t
i
f
i
t
a
s
p
e
n
c
a
p
a
i
a
n

k
i
n
e
r
j
a

i
n
d
u
s
t
r
i
P
e
n
g
a
w
a
s
a
n
,

P
e
n
g
e
n
d
a
l
i
a
n
&

E
v
a
l
u
a
s
i

18
Berdasarkan Visi dan Misi tersebut disusun rencana strategis yang
akan dicapai dalam kurun waktu lima tahun 2010-2014, yakni kokohnya
basis industri manufaktur dan industri andalan masa depan yang menjadi
tulang punggung perekonomian nasional.
Untuk mewujudkan rencana strategis ini, telah ditetapkan proses
yang harus dilakukan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi
Kementerian Perindustrian dan yang dikelompokkan ke dalam : (1)
perumusan kebijakan; (2) pelayanan dan fasilitasi; serta (3) pengawasan,
pengendalian, dan evaluasi yang secara langsung menunjang pencapaian
sasaran-sasaran strategis yang telah ditetapkan, disamping dukungan
kapasitas kelembagaan guna mendukung semua proses yang akan
dilaksanakan. Untuk mendukung pencapaian sasaran strategis
sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya, dijabarkan arah
kebijakan yang menjadi pedoman untuk mencapai sasaran dimaksud.
Kebijakan ini tertuang dalam Rencana Strategis Kementerian
Perindustrian 2010-2014. Pada dasarnya pembangunan sektor industri
diserahkan kepada peran aktif sektor swasta, sementara pemerintah lebih
banyak berperan sebagai fasilitator yang mendorong dan memberikan
berbagai kemudahan bagi aktivitas-aktivitas sektor swasta. Intervensi
langsung Pemerintah dalam bentuk investasi dan layanan publik hanya
dilakukan bila mekanisme pasar tidak dapat berlangsung secara sempurna.
Arah kebijakan dalam Rencana Strategis mencakup beberapa hal pokok
sebagai berikut:
1. Merevitalisasi sektor industri dan meningkatkan peran sektor industri
dalam perekonomian nasional.
2. Membangun struktur industri dalam negeri yang sesuai dengan prioritas
nasional dan kompetensi daerah.
3. Meningkatkan kemampuan industri kecil dan menengah agar terkait dan
lebih seimbang dengan kemampuan industri skala besar.
4. Mendorong pertumbuhan industri di luar pulau Jawa.
5. Mendorong sinergi kebijakan dari sektor-sektor pembangunan yang lain
dalam mendukung pembangunan industri nasional.

19
Seperti telah dikemukakan dalam Bab 2, secara umum dikehendaki
bahwa Visi Pembangunan Industri Indonesia pada tahun 2025 adalah
menjadi Negara Industri Tangguh dengan ciri-ciri seperti yang telah
disampaikan di atas. Untuk mencapai visi tersebut, ditetapkan visi antara
untuk tahun 2020 yaitu Indonesia menjadi negara industri maju baru, dan
visi sampai dengan 2014 yaitu Memantapkan daya saing basis industri
manufaktur yang berkelanjutan (suistainable) serta terbangunnya pilar
industri andalan masa depan dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Tercapainya persebaran industri dengan rasio densitas yang lebih tinggi
2. Terselesaikan penguatan kompetensi inti industri daerah dengan produk
hilir bernilai tambah
3. Penguatan struktur industri dengan kompetensi pelaku hubungan industri
kecil, industri menengah, dan industri besar
4. Tercapai peningkatan industri penunjang komponen
5. Terbangun pilar industri masa depan (agro, telematika, transportasi)
Sesuai dengan Visi tahun 2014 di atas, maka misi lima tahun sampai
dengan 2014 dijabarkan sebagai berikut:
1. Mendorong peningkatan nilai tambah industri;
2. Mendorong peningkatan perluasan pasar domestik dan internasional;
3. Mendorong peningkatan industri jasa pendukung;
4. Memfasilitasi penguasaan teknologi industri;
5. Memfasilitasi penguatan struktur industri;
6. Mendorong penyebaran pembangunan industri ke luar pulau Jawa;
7. Mendorong peningkatan peran IKM terhadap PDB.
Sesuai dengan visi dan misi tersebut, maka telah ditetapkan 7 (tujuh)
sasaran strategis 2014 yang dapat dirinci sebagai berikut:

A. Sasaran Strategis I : Meningkatnya Jumlah industri yang pulih dan kuat,
dengan Indikator Kinerja Utama :
1. Jumlah industri yang berhasil direvitalisasi dan dikuatkan;
2. Besarnya prosentase utilisasi kapasitas terpasang dalam industri;
3. Pangsa pasar produk industri nasional terhadap total pemintaan
dalam negeri.

20
B. Sasaran Strategis II : Bertambahnya investasi di industri-industri yang
mempekerjakan banyak tenaga kerja, dengan Indikator Kinerja Utama :
1. Jumlah Investasi baru di Industri TPT, alas kaki, mainan anak.
2. Jumlah Investasi baru industri jasa pendukung dan komponen
industri yang menyerap banyak tenaga kerja.

C. Sasaran Strategis III : Meningkatnya investasi dan kegiatan pengolahan
SDA di daerah sehingga produk SDA tidak dijual dalam kondisi bahan
mentah, dengan Indikator Kinerja Utama :
1. Tumbuhnya jumlah industri didaerah yang mengolah bahan mentah
menjadi bahan setengah jadi, atau barang jadi.
2. Meningkatkan kontribusi manufaktur diluar pulau Jawa terhadap PDB
nasional;
3. Laju pertumbuhan industri yang memberikan nilai tambah;
4. Kontribusi industri manufaktur terhadap PDB nasional.

D. Sasaran Strategis IV : Semakin lengkap dan dalamnya pohon industri,
dengan Indikator Kinerja :
1. Tumbuhnya Industri Dasar Hulu (Logam dan Kimia)
2. Tumbuhnya Industri Komponen automotive, elektronika dan
permesinan
3. Industri lainnya yang belum ada pada pohon industri

E. Sasaran Strategis V : Meningkatnya penguasaan pasar luar negeri,
dengan Indikator Kinerja Utama :
1. Kuatnya penetrasi ekspor produk industri/jasa indonesia di pasar
ASEAN dan pasar Mitra ASEAN
2. Meningkatnya pangsa pasar ekspor produk dan jasa industri
nasional.

F. Sasaran Strategis VI : Kokohnya faktor-faktor penunjang
pengembangan industri, dengan Indikator Kinerja Utama :
1. Tingkat produktivitas dan kemampuan SDM industri
2. Indeks iklim industri Nasional.


21
G. Sasaran Strategis VII : Meningkatnya peran industri kecil dan
menengah terhadap PDB, dengan Indikator Kinerja Utama :
1. Tumbuhnya industri kecil diatas pertumbuhan eknomi nasional
2. Tumbuhnya industri menengah dua kali diatas industri kecil
3. Meningkatnya jumlah output IKM yang menjadi Out-Source Industri
Besar.

Untuk merealisasikan visi, misi, dan sasaran strategis seperti
diuraikan di atas, diperlukan sumber daya manusia, ketatalaksanaan,
kelembagaan, dan struktur organisasi yang tepat dan efisien.
Organisasi Kementerian Perindustrian yang ada selama lebih dari 30
tahun terakhir relatif tidak berubah sehingga diperkirakan sulit untuk
mewujudkan pencapaian sasaran tersebut di atas. Oleh karenanya
diperlukan kaji ulang terhadap organisasi yang ada disesuaikan
terutama dengan pelaksanaan kebijakan industri nasional (Peraturan
Presiden Nomor: 28 tahun 2008) dan dinamika lingkungan strategis.
Berdasarkan hal tersebut melalui kajian akademis dan serangkaian
Focused Group Discussion (FGD) serta dibahas dengan Kementerian
Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
telah dirumuskan organisasi Kementerian Perindustrian seperti
tertuang pada Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor: 24
Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, Dan Fungsi Kementerian
Negara Serta Susunan Organisasi, Tugas, Dan Fungsi Eselon I
Kementerian Negara tersaji pada Gambar 3.2.

22


D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

J
E
N
D
E
R
A
L

I
N
D
U
S
T
R
I

K
E
C
I
L

D
A
N

M
E
N
E
N
G
A
H
S
E
K
R
E
T
A
R
I
A
T

D
I
T
J
E
N
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T
I
N
D
U
S
T
R
I

K
E
C
I
L

D
A
N

M
E
N
E
N
G
A
H

W
I
L
A
Y
A
H

I
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T
I
N
D
U
S
T
R
I

K
E
C
I
L

D
A
N

M
E
N
E
N
G
A
H

W
I
L
A
Y
A
H

I
I
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T
I
N
D
U
S
T
R
I

K
E
C
I
L

D
A
N

M
E
N
E
N
G
A
H

W
I
L
A
Y
A
H

I
I
I
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

J
E
N
D
E
R
A
L

B
A
S
I
S

I
N
D
U
S
T
R
I

M
A
N
U
F
A
K
T
U
R
S
E
K
R
E
T
A
R
I
A
T

D
I
T
J
E
N
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

I
N
D
U
S
T
R
I

M
A
T
E
R
I
A
L

D
A
S
A
R


L
O
G
A
M
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

I
N
D
U
S
T
R
I

T
E
K
S
T
I
L
D
A
N

A
N
E
K
A
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

I
N
D
U
S
T
R
I

K
I
M
I
A

D
A
S
A
R
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

I
N
D
U
S
T
R
I

K
I
M
I
A

H
I
L
I
R
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

J
E
N
D
E
R
A
L


I
N
D
U
S
T
R
I

A
G
R
O
S
E
K
R
E
T
A
R
I
A
T

D
I
T
J
E
N
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

I
N
D
U
S
T
R
I

H
A
S
I
L

H
U
T
A
N

D
A
N

P
E
R
K
E
B
U
N
A
N
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

I
N
D
U
S
T
R
I

M
A
K
A
N
A
N
,

H
A
S
I
L


L
A
U
T
,

D
A
N

P
E
R
I
K
A
N
A
N
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

I
N
D
U
S
T
R
I

M
I
N
U
M
A
N
,

D
A
N

T
E
M
B
A
K
A
U
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

J
E
N
D
E
R
A
L

I
N
D
U
S
T
R
I

U
N
G
G
U
L
A
N

B
E
R
B
A
S
I
S

T
E
K
N
O
L
O
G
I

T
I
N
G
G
I
S
E
K
R
E
T
A
R
I
A
T

D
I
T
J
E
N
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

I
N
D
U
S
T
R
I

A
L
A
T

T
R
A
N
S
P
O
R
T
A
S
I

D
A
R
A
T
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

I
N
D
U
S
T
R
I

M
A
R
I
T
I
M
,

K
E
D
I
R
G
A
N
T
A
R
A
A
N

D
A
N

A
L
A
T

P
E
R
T
A
H
A
N
A
N
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

I
N
D
U
S
T
R
I

P
E
R
M
E
S
I
N
A
N
,

D
A
N

A
L
A
T

M
E
S
I
N

P
E
R
T
A
N
I
A
N
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

I
N
D
U
S
T
R
I

E
L
E
K
T
R
O
N
I
K
A

D
A
N

T
E
L
E
M
A
T
I
K
A
B
I
R
O

P
E
R
E
N
C
A
N
A
A
N
B
I
R
O

K
E
P
E
G
A
W
A
I
A
N
B
I
R
O

K
E
U
A
N
G
A
N
B
I
R
O

H
U
K
U
M

D
A
N

O
R
G
A
N
I
S
A
S
I
B
I
R
O

U
M
U
M

S
E
K
R
E
T
A
R
I
A
T

J
E
N
D
E
R
A
L
G
a
m
b
a
r

3
.

2

S
t
r
u
k
t
u
r

O
r
g
a
n
i
s
a
s
i

K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

P
e
r
i
n
d
u
s
t
r
i
a
n
P
U
S
A
T

P
E
N
D
I
D
I
K
A
N

D
A
N

P
E
L
A
T
I
H
A
N

I
N
D
U
S
T
R
I
P
U
S
A
T

D
A
T
A

D
A
N

I
N
F
O
R
M
A
S
I
P
U
S
A
T

K
O
M
U
N
I
K
A
S
I

P
U
B
L
I
K
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

J
E
N
D
E
R
A
L

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

P
E
R
W
I
L
A
Y
A
H
A
N

I
N
D
U
S
T
R
I
S
E
K
R
E
T
A
R
I
A
T

D
I
T
J
E
N
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

F
A
S
I
L
I
T
A
S
I


I
N
D
U
S
T
R
I

W
I
L
A
Y
A
H

I
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

F
A
S
I
L
I
T
A
S
I


I
N
D
U
S
T
R
I

W
I
L
A
Y
A
H

I
I
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

F
A
S
I
L
I
T
A
S
I


I
N
D
U
S
T
R
I

W
I
L
A
Y
A
H

I
I
I
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

J
E
N
D
E
R
A
L

K
E
R
J
A
S
A
M
A

I
N
D
U
S
T
R
I

I
N
T
E
R
N
A
S
I
O
N
A
LS
E
K
R
E
T
A
R
I
A
T

D
I
T
J
E
N
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

K
E
R
J
A
S
A
M
A

I
N
D
U
S
T
R
I

I
N
T
E
R
N
A
S
I
O
N
A
L

W
I
L
A
Y
A
H

I

D
A
N

M
U
L
T
I
L
A
T
E
R
A
L
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

K
E
R
J
A

S
A
M
A

I
N
D
U
S
T
R
I

I
N
T
E
R
N
A
S
I
O
N
A
L

W
I
L
A
Y
A
H

I
I

D
A
N

R
E
G
I
O
N
A
L
D
I
R
E
K
T
O
R
A
T

K
E
T
A
H
A
N
A
N

I
N
D
U
S
T
R
I

B
A
D
A
N

P
E
N
G
K
A
J
I
A
N

K
E
B
I
J
A
K
A
N

I
K
L
I
M
,

D
A
N

M
U
T
U

I
N
D
U
S
T
R
I
S
E
K
R
E
T
A
R
I
A
T

B
A
D
A
N
P
U
S
A
T

S
T
A
N
D
A
R
D
I
S
A
S
I

P
U
S
A
T

P
E
N
G
K
A
J
I
A
N

K
E
B
I
J
A
K
A
N

D
A
N

I
K
L
I
M

U
S
A
H
A

I
N
D
U
S
T
R
I
P
U
S
A
T

P
E
N
G
K
A
J
I
A
N

I
N
D
U
S
T
R
I

H
I
J
A
U


D
A
N

L
I
N
G
K
U
N
G
A
N

H
I
D
U
P

P
U
S
A
T

P
E
N
G
K
A
J
I
A
N

T
E
K
N
O
L
O
G
I

D
A
N

H
A
K

K
E
K
A
Y
A
A
N

I
N
T
E
L
E
K
T
U
A
L

S
E
K
R
E
T
A
R
I
A
T

I
T
J
E
N
I
N
S
P
E
K
T
O
R
A
T

I
I
N
S
P
E
K
T
O
R
A
T

I
I
I
N
S
P
E
K
T
O
R
A
T

I
I
I
I
N
S
P
E
K
T
O
R
A
T

I
V
I
N
S
P
E
K
T
O
R
A
T

J
E
N
D
E
R
A
L
S
T
A
F

A
H
L
I
S
T
A
F

A
H
L
I
W
A
K
I
L

M
E
N
T
E
R
I
P
E
R
I
N
D
U
S
T
R
I
A
N
M
E
N
T
E
R
I


P
E
R
I
N
D
U
S
T
R
I
A
N
S
T
A
F

A
H
L
I

23

Disamping itu, program-program yang ada di Kementerian Perindustrian
selama ini antara lain: 1) Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah; 2)
Program Peningkatan Kemampuan Teknologi Industri; 3) Program Penataan Struktur
Industri; 4) Program Pembentukan Hukum; 5) Program Pengelolaan Sumber Daya
Manusia Aparatur; 6) Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Negara;
7) Program Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur Negara; 8)
Program Pendidikan Tinggi; 9) Program Pendidikan Menengah; sudah tidak sesuai,
sehingga diperlukan restrukturisasi program dan kegiatan.

3.2. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI KECIL
DAN MENENGAH

Dari 10 (sepuluh) Program dan Kegiatan Kementerian Perindustrian yang
disusun berdasarkan Peraturan Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas No. 5 tahun
2009 tentang Penyusunan Renstra KL 2010 2014, maka Program
Pengembangan IKM tertuang dalam Program IV tentang Program Revitalisasi dan
Penumbuhan IKM.
Sesuai dengan Sasaran Strategis VII, yaitu Meningkatnya peran industri kecil
dan menengah terhadap PDB , maka Program Revitalisasi dan Penumbuhan Industri
Kecil dan Menengah bertujuan untuk merumuskan serta melaksanakan kebijakan
dan standardisasi teknis di bidang pengembangan IKM, meningkatkan nilai tambah
produk primer daerah, memanfaatkan SDA daerah secara optimal, menyebarkan
industri ke berbagai daerah khususnya luar Jawa, meningkatkan daya saing industri
di daerah, meningkatkan nilai tambah sepanjang rantai nilai komoditi, membangun
keunikan yang dimiliki daerah serta membangun kerjasama yang harmonis antar
daerah.

24

Gambar 3.3 Peta Strategi Direktorat Jenderal IKM

Keberhasilan program ini diukur melalui dua indikator kinerja utama (IKU)
sebagai berikut:
1. IKU pertama : Rasio IKM Jawa dan luar Jawa 60:40.
2. IKU Kedua : Kontribusi PDB IKM terhadap PDB Industri sebesar 34 %.

Program ini dilaksanakan melalui fokus kegiatan sebagai berikut :
Kegiatan 1 : Penyebaran dan Pengembangan Industri Kecil dan Menengah di
Wilayah I
Dengan indikator pencapaian yaitu tersusunnya kebijakan dan
program, pelaksanaan kebijakan dan program, penyusunan norma,
standar, prosedur dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan
evaluasi di bidang pengembangan industri kecil dan menengah di
Wilayah I yang mencakup Sumatera dan Kalimantan.
Untuk mewujudkan hasil tersebut, kegiatan ini akan didukung oleh
rencana aksi yaitu:
1. Pengembangan Kewirausahaan;
2. Pengembangan IKM tertentu melalui pendekatan Klaster ;

25
3. Pengembangan Industri Kreatif;
4. Pengembangan IKM melalui pendekatan OVOP;
5. Peningkatan nilai tambah (modernisasi) termasuk jasa
keteknikan.

Kegiatan 2 : Penyebaran dan Pengembangan Industri Kecil dan Menengah di
Wilayah II
Dengan Indikator pencapaian yaitu tersusunnya kebijakan dan
program, pelaksanaan kebijakan dan program, penyusunan norma,
standar, prosedur dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan
evaluasi di bidang pengembangan industri kecil dan menengah di
Wilayah II yang mencakup Jawa dan Bali, Untuk mewujudkan hasil
tersebut, kegiatan ini akan dilakukan melalui rencana aksi pendukung
yaitu :
1. Pengembangan IKM tertentu melalui pendekatan Klaster;
2. Pengembangan Industri Kreatif;
3. Pengembangan IKM melalui pendekatan OVOP;
4. Peningkatan nilai tambah (modernisasi) termasuk jasa keteknikan;
5. Pengembangan Kewirausahaan.

Kegiatan 3 : Penyebaran dan Pengembangan Industri Kecil dan Menengah di
Wilayah III
Dengan indikator pencapaian tersusunnya kebijakan dan program,
pelaksanaan kebijakan dan program, penyusunan norma, standar,
prosedur dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di
bidang pengembangan industri kecil dan menengah di Wilayah III
mencakup Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua.
Untuk mewujudkan hasil tersebut, kegiatan ini akan didukung oleh
rencana aksi yaitu:
1. Pengembangan Kewirausahaan.
2. Pengembangan IKM tertentu melalui pendekatan Klaster;
3. Pengembangan Industri Kreatif;
4. Pengembangan IKM melalui pendekatan OVOP;
5. Peningkatan nilai tambah (modernisasi) termasuk jasa keteknikan.

Kegiatan 4 : Penyusunan dan Evaluasi Program Revitalisasi dan Penumbuhan
Industri Kecil dan Menengah

26
Dengan indikator pencapaian yaitu :
1. Tersusunnya kebijakan pelaksanaan program pembangunan dan
pengembangan serta koordinasi yang diperlukan sesuai kebijakan
DJIKM
2. Tercapainya kualitas perencanaan dan pelaporan
3. Terselesaikannya pelaporan tepat waktu
Untuk mewujudkan hasil tersebut, kegiatan ini akan dilakukan melalui
rencana aksi yaitu:
1. Peningkatan layanan perkantoran dan umum
2. Peningkatan koordinasi, perumusan dan perencanaan, data dan
informasi , evaluasi dan laporan;
3. Peningkatan koordinasi perumusan kebijakan dan kerjasama;
4. Peningkatan layanan administrasi keuangan;
5. Peningkatan kegiatan lintas sektor.
6. Penguatan software, hardware dan brainware.























27
BAB IV
PENUTUP

Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah
2010-2014 disusun dengan mengacu pada Renstra Kementerian Perindustrian.
Renstra 2010-2014 ini merupakan landasan bagi pencapaian Visi, Misi, Tujuan dan
Sasaran Program Revitalisasi dan Penumbuhan IKM 2010 2014.
Untuk mencapai proporsi perkembangan IKM di pulau jawa dan luar pulau
jawa 60:40 pada tahun 2014, maka jumlah unit usaha di pulau jawa harus
mengalami pertumbuhan sebesar 0.45%, sedangkan untuk luar pulau jawa harus
mengalami pertumbuhan sebesar 8.29%. Maka perkembangan IKM di wilayah I
(Sumatera, Kalimantan) harus mengalami pertumbuhan sebesar 8.29% atau
meningkat sebesar 232.436 unit, sedangkan wilayah II (Jawa, Bali) mengalami
pertumbuhan sebesar 0.77% dari tahun 2010 sebesar 2.647.445 unit menjadi
2.730.380 unit pada tahun 2014, untuk wilayah III (Nusa Tenggara, Sulawesi,
Maluku, Papua) harus mengalami pertumbuhan 8.29% atau sebesar 202.252 unit.
Meskipun demikian, masalah utama yang dihadapi dalam mencapai hasil
tersebut diatas adalah sinkronisasi dan harmonisasi program pengembangan IKM
Pusat dan Daerah belum berjalan dengan baik karena pelaksanaan otonomi yang
bersifat egosektoral, sehingga beberapa kebijakan harus dilakukan penyesuaian-
penyesuaian sesuai kebijakan daerah. Oleh karena itu perlu ditingkatkan koordinasi
dan kerjasama yang lebih intensif, dan tentunya secara sinergi dapat
mengembangkan jejaring kerja/kolaborasi dengan semua pihak, instansi terkait,
swasta/LSM, perguruan tinggi, sektor keuangan/perbankan, asosiasi dunia usaha
dan.
Dengan adanya acuan Renstra ini diharapkan dalam kurun waktu 5 tahun,
akan tumbuh IKM baru di berbagai wilayah yang memanfaatkan potensi lokal dan
berdaya saing sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan dapat berperan
dalam perekonomian nasional. Dengan berbagai program yang telah disusun ,
diperlukan dukungan dari berbagai intansi terkait agar harapan dapat terwujud.