Anda di halaman 1dari 7

Pemantauan Pelayanan Kebidanan (Kohort dan PWS KIA)

1. Register Kohort

Register kohort adalah sumber data pelayanan ibu hamil, ibu nifas, neonatal, bayi dan
balita dengan tujuan Untuk mengidentifikasi masalah kesehatan ibu dan neonatal yang
terdeteksi di rumah tangga yang teridentinfikasi dari data bidan.
Jenis Register Kohort :
a. Register Kohort Ibu
Register kohort ibu merupakan sumber data pelayanan ibu hamil dan bersalin, serta
keadaan/resiko yang dipunyai ibu yang di organisir sedemikian rupa yang
pengkoleksiaannya melibatkan kader dan dukun bayi diwilayahnya setiap bulan
yang mana informasi pada saat ini lebih difokuskan pada kesehatan ibu dan bayi
baru lahir tanpa adanya duplikasi informasi
b. Register Kohort Bayi
Merupakan sumber data pelayanan kesehatan bayi, termasuk neonatal
c. Register Kohort Balita
Merupakan sumber data pelayanan kesehatan balita, umur 12 bulan sampai dengan 5
tahun

2. PWS KIA (Pemantauan Wilayah Setempat)

PWS KIA adalah alat manajemen untuk melakukan pemantauan program KIA di suatu
wilayah kerja secara terus menerus, agar dapat dilakukan tindak lanjut yang cepat dan
tepat.
Program KIA yang dimaksud meliputi pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu
dengan komplikasi kebidanan, keluarga berencana, bayi baru lahir, bayi baru lahir
dengan komplikasi, bayi, dan balita
Kegiatan PWS KIA terdiri dari :
o Pengumpulan
o Pengolahan
o Analisis
o Interpretasi data
o Penyebarluasan informasi ke penyelenggara program dan pihak/instansi terkait
untuk tindak lanjut

Pengumpulan Data PWS KIA

A. Data Sasaran
Jumlah Seluruh ibu hamil
Jumlah seluruh ibu bersalin
Jumlah ibu nifas
Jumlah seluruh bayi
Jumlah seluruh Pasangan Usia Subur (PUS)

B. Data Pelayanan
Jumlah K1 dan K4
Jumlah persalinan yang ditolong oleh Tenaga Kesehatan
Jumlah ibu nifas yang dilayani 3 kali ( KF 3 ) oleh Tenaga Kesehatan
Jumlah Neonatus yang mendapat pelayanan kesehatan pada umur 6-48 jam
Jumlah neonatus yang mendapat pelayanan lengkap ( KN lengkap )
Jumlah ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dengan faktor resiko/komplikasi yang
di deteksi oleh Masyarakat
Jumlah Kasus komplikasi obstetri yang ditangani
Jumlah Neonatus dengan komplikasi yangg ditangani
Jumlah bayi 29 hari 12 bulan yang mendapat pelayanan kesehatan
sedikitnya 4 kali
Jumlah anak balita (1259 bulan) yang mendapat pelayanan kesehatan
sedikitnya 8 kali
Jumlah anak balita sakit yang mendapat pelayanan kesehatan sesuai standar
Jumlah peserta KB aktif

MANAJEMEN PELAYANAN KEBIDANAN
Defenisi operasional :

1. Ada Standar Manajemen Asuhan Kebidanan (SMAK) sebagai pedoman dalam
memberikan pelayanan kebidanan
2. Ada format manajemen kebidanan yang terdapat pada catatan medik
3. Ada pengkajian asuhan kebidanan bagi setiap klien
4. Ada diagnosa kebidanan
5. Ada rencana asuhan kebidanan
6. Ada dokumen tertulis tentang tindakan kebidnan
7. Ada catatan perkembangn klien dalam asuhan kebidanan
8. Ada evaluasi dalam memberikan asuhan kebidanan
9. Ada dokumentasi utuk kegiatan manajemen kebidanan










Langkah-Langkah dalam Manajemen Pelayanan Kebidanan
Manajemen pelayanan kebidanan tentu saja mengambil sistem manajemen pada umumnya.
Dalam pelayanannya juga melaksanakan aktifitas manajemen yaitu perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, kordinasi dan pengawasan (supervisi dan evaluasi).

Langkah I : Pengumpulan Data Dasar

Pada langkah ini dilakukan pegumpulan informasi yang akurat dan lengkap dari semua
sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara :
1. Anamnesa
a. Biodata ( Nama, umur, alamat, pekerjaan, agama, pendidikan)
b. Riwayat Menstruasi (menarche, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya darah yang
keluar, aliran darah yang keluar, mentruasi terakhir, adakah dismenorhe, gangguan
sewaktu menstruasi (metrorhagia, menoraghi), gejala premenstrual)
c. Riwayat Kesehatan ( Gambaran penyakit lalu, riwayat penyakit keluarga, riwayat
kehamilan sekarang )
d. Riwayat Perkawinan (kawin berapa kali, usia kawin pertama kali)
e. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas
Jumlah kehamilandan kelahiran : G (gravid), P (para), A (abortus), H (hidup)
Riwayat persalinan : jarak antara dua kelahiran, tempat melahirkan, lamanya
melahirkan,cara melahirkan
Masalah/gangguan kesehatan yang timbul sewaktu hamil dan melahirkan,
Misalnya : Pre-eklampsi, infeksi, dll
f. Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
g. Pengetahuan Klien
2. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital
3. Pemeriksaan khusus (Inspeksi, Palpasi, Auskultasi, Perkusi)
4. Pemeriksaan penunjang (Laboratorium, catatan terbaru dan sebelumnya)

Bila klien mengalami komplikasi yang perlu dikonsultasikan kepada dokter dalam
manajemen kolaborasi bidan akan melakukan konsultasi. Pada langkah pertama ini
dikumpulkan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi
klien. Bidan mengumpulkan data dasar awal yang lengkap. Pada keadaan tertentu dapat
terjadi langkah pertama akan overlap dengan langkah 5 dan 6 (atau menjadi bagian dari
langkah-langkah tersebut) karena data yang diperlukan diambil dari hasil pemeriksaan
laboratorium atau pemeriksaan diagnostik yang lain. Kadang-kadang bidan perlu memulai
manajemen dari langkah 4 untuk mendapatkan data dasar awal yang perlu disampaikan
kepada dokter.

Langkah II : Interpretasi Data Dasar

Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan
interpretasi atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang telah dikumpulkan
diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosa dan masalah yang spesifik.


1. Diagnosa kebidanan
Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan oleh bidan dalam lingkup
praktek kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan.
Standar Nomenklatur Diagnosa Kebidanan :
a. Diakui dan telah disyahkan oleh profesi
b. Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan
c. Memiliki ciri khas kebidanan
d. Didukung oleh clinical judgement dalam praktek kebidanan
e. Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan
Rumusan diagnosa dan masalah keduanya digunakan karena masalah tidak dapat
didefinisikan seperti diagnosa tetapi tetap membutuhkan penenganan. Masalah sering
berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami oleh wanita yang diidentifikasi oleh
bidan sesuai dengan hasil pengkajian. Masalah juga sering menyertai diagnosa.
Sebagai contoh :
- Diagnosa : kemungkinan wanita hamil
- Masalah : wanita tersebut tidak menginginkan kehamilannya.

2. Masalah
Hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman klien yang ditemukan dari hasil pengkajian
atau yang menyertai.
Contoh perumusan masalah :
Masalah Dasar
Wanita tidak menginginkan kehamilan Wanita mengatakan belum ingin hamil
Ibu hamil trimester III merasa takut Ibu mengatakan takut menghadapi persalinan.

3. Kebutuhan
Hal-hal yang dibutuhkan klien dan belum teridentifikasi dalam diagnosa dan masalah
yang didapatkan dengan melakukan analisa data.
Hal-hal yang dibutuhkan klien dan belum teridentifikasi dalam diagnosa dan masalah
yang didapatkan dengan melakukan analisa data.
Contoh kebutuhan :
Kebutuhan Dasar : Ibu menyenangi Binatang
Kebutuhan :
Penyuluhan bahaya binatang terhadap kehamilan
Pemeriksaan TORCH Ibu mengatakan sekeluarga menyayangi binatang

Langkah III : Mengidentifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial

Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan
rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan
antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien bidan
diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa/masalah potensial ini benar-benar terjadi. Pada
langkah ini penting sekali melakukan asuhan yang aman.
Contoh : Seorang wanita dengan pembesaran uterus yang berlebihan. Bidan harus
mempertimbangkan kemungkinan penyebab pemuaian uterus yang berlebihan tersebut,
misalnya:
1. Besar dari masa kehamilan
2. Ibu dengan diabetes kehamilan, atau
3. Kehamilan kembar

Kemudian dia harus mengantisipasi, melakukan perencanaan untuk mengatasinya dan
bersiap-siap terhadap kemungkinan tiba-tiba terjadi perdarahan postpartum yang disebabkan
oleh atonia uteri karena pembesaran uterus yang berlebihan.

Pada persalinan dengan bayi besar, bidan sebaiknya mengantisipasi dan bersiap-siap terhadap
kemungkinan terjadinya distosia bahu dan juga kebutuhan untuk resusitasi. Bidan juga
sebaiknya waspada terhadap kemungkinan wanita menderita infeksi saluran kencing yang
menyebabkan tingginya kemungkinan terjadinya peningkatan partus premature atau bayi
kecil.

Persiapan yang sederhana adalah dengan bertanya dan mengkaji riwayat kehamilan pada
setiap kunjungan ulang, pemeriksaan laboratorium terhadap simptomatik terhadap bakteri dan
segera memberi pengobatan jika infeksi saluran kencing terjadi.

Langkah IV : Mengidentifikasi dan Menetapkan Kebutuhan yang Memerlukan
Penanganan Segera.

Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan/atau untuk
dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai
dengan kondisi klien. Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses
manajemen kebidanan. Jadi manajemen bukan hanya selama asuhan primer periodik atau
kunjungan prenatal saja, tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan, terus-menerus,
misalnya pada waktu wanita tersebut dalam persalinan. Data baru mungkin saja perlu
dikumpulkan dan dievaluasi. Beberapa data mungkin mengindikasikan situasi yang gawat
dimana bidan harus bertindak segera untuk kepentingan keselamatan jiwa ibu atau anak
(misalnya perdarahan kala III atau perdarahan segera setelah lahir, distosia bahu, atau nilai
APGAR yang rendah).

Dari data yang dikumpulkan dapat menunjukkan satu situasi yang memerlukan tindakan
segera sementara yang lain harus menunggu intervensi dari seorang dokter, misalnya prolaps
tali pusat. Situasi lainnya bisa saja tidak merupakan kegawatan tetapi memerlukan konsultasi
atau kolaborasi dengan dokter. Demikian juga bila ditemukan tanda-tanda awal dari pre-
eklampsia, kelainan panggul, adanya penyakit jantung, diabetes atau masalah medik yang
serius, bidan perlu melakukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter.

Dalam kondisi tertentu seorang wanita mungkin juga akan memerlukan konsultasi atau
kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lainnya seperti pekerja sosial, ahli gizi, atau
seorang ahli perawatan klinis bayi baru lahir. Dalam hal ini bidan harus mampu mengevaluasi
kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa konsultasi dan kolaborasi yang paling
tepat dalam manajemen asuhan klien.

Langkah V : Merencanakan Asuhan yang Menyeluruh

Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh, ditentukan oleh langkah-langkah
sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap diagnosa atau masalah
yang telah dididentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi/data dasar yang tidak
lengkap dapat dilengkapi.

Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah teridentifikasi dari
kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman
antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya,
apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalah-
masalah yang berkaitan dengan sosial-ekonomi, kultural atau masalah psikologis.

Dengan kata lain, asuhan terhadap wanita tersebut sudah mencakup setiap hal yang berkaitan
dengan semua aspek asuhan. Setiap rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua belah
pihak, yaitu oleh bidan dan klien, agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien
merupakan bagian dari pelaksanaan rencana tersebut. Oleh karena itu, pada langkah ini tugas
bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai dengan hasil pembahasan rencana bersama
klien, kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya.

Semua keputusan yang dikembangkan dalam asuhan yang menyeluruh ini harus rasional dan
benar-benar valid berdasarkan pengethuan dan teori yang up to date serta sesuai dengan
asumsi tentang apa yang akan atau tidak akan dilakukan klien.

Rasional berarti tidak berdasarkan asumsi, tetapi sesuai dengan keadaan klien dan
pengetahuan teori yang benar dan memadai atau berdasarkan suatu data dasar yang lengkap,
dan bisa dianggap valid sehingga menghasilkan asuhan klien yang lengkap dan tidak
berbahaya.

Langkah VI : Melaksanakan Asuhan

Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah ke 5
dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bias dilakukan seluruhnya oleh bidan
atau sebagian dilakukan oleh bidan dan sebagian lagi oleh klien, atau anggota tim kesehatan
yang lain. Jika bidan tidak melakukan sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk
mengarahkan pelaksanaannya. (misalnya: memastikan agar langkah-langkah tersebut benar-
benar terlaksana). Dalam situasi dimana bidan berkolaborasi dengan dokter, untuk menangani
klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi
klien adalah bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama yang
menyeluruh tersebut. Manajemen yang efisien akan menyingkat waktu dan biaya serta
meningkatkan mutu dari asuhan klien.

Langkah VII : Evaluasi

Pada langkah ketujuh ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan
meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai
dengan kebutuhan sebagaiman atelah diidentifikasi di dalam masalah dan diagnosa. Rencana
tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaanya. Ada
kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut telah efektif sedang sebagian belum efektif.



Perencanaan dalam Pelayanan

INPUT
- Semua hal yang diperlukan untuk terselenggaranya suatu pelayanan kesehatan
- Tenaga, Dana, Sarana
PROSES
- Semua tindakan yang dilakukan pada waktu menyelenggarakan pelayanan kesehatan.
- Aspek : Tindakan medis dan tindakan Non medis
OUTPUT
- Menunjuk pada penampilan (perfomance) pelayanan kesehatan.
- Penampilan aspek medis pelayanan kesehatan dan penampilan aspek non-medis pelayanan
kesehatan