Anda di halaman 1dari 9

Bisnis Indonesia, Edisi: 17-AUG-2008

Memilih arbitrase untuk atasi sengketa


Masalah yang timbul dalam praktik governance pada tingkat tertentu dapat memicu ke tingkat sengketa. Seperti
kasus Jamsostek, yang pada awalnya merupakan masalah hubungan tidak harmonis antara dirut dan dewan
komisaris, berkepanjangan hingga sampai tingkat RUPSLB.
Dalam perspektif hukum kejadian ini merupakan hal yang kurang tepat. Terlebih lagi dalam perspektif GCG, kasus
Jamsostek ini mencerminkan contoh governance yang kurang baik.
Demikian juga dengan kasus PT Dirgantara Indonesia yang pada awalnya merupakan masalah manajemen di
perusahaan tersebut, diperburuk oleh faktor krisis moneter, dan berlanjut dengan berbagai gejolak ketidakpuasan
berbagai pihak atas cara penyelesaian yang ditempuh oleh perseroan hingga kasusnya berakhir di MA.
Menyimak kedua kasus di atas, maka sudah selayaknya kasus yang berkaitan dengan praktik governance dapat
diselesaikan melalui jalur di luar pengadilan, yaitu arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa.
Berbagai manfaat praktis dapat diperoleh dengan penyelesaian sengketa melalui arbitrase, antara lain tidak perlu
mengikuti formalitas yang kaku, biaya yang relatif murah, keputusan yang lebih memuaskan karena ditangani oleh
arbiter yang dipilih para pihak berdasarkan keahliannya, dan dari segi bisnis merupakan pilihan yang paling efisien.
Menurut Mariam Darus, lembaga arbitrase ini mempunyai kelebihan dibandingkan lembaga peradilan, yakni jaminan
atas kerahasiaan sengketa para pihak, dan menghindari kelambatan yang diakibatkan oleh aspek administratif.
Menurut Pasal 1 Angka (1) UU No. 30/1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, arbitrase adalah
cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang
dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.
Selanjutnya, Angka (10) Pasal yang sama menyebutkan bahwa Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS) adalah
lembaga penyelesaian sengketa melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan
dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli.
Dengan demikian, UU membuka peluang untuk penyelesaian sengketa yang bersifat perdata melalui jalur di luar
pengadilan, yaitu arbitrase atau APS. Selanjutnya, Pasal 5 Ayat (1) UU Arbitrase & APS, menyebutkan bahwa
"Sengketa yang dapat diselesaikan melalui arbitrase hanya sengketa di bidang perdagangan dan sengketa hak yang
menurut peraturan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa."
Jalur arbitrase
Dalam hubungannya dengan masalah sengketa yang dapat diselesaikan melalui arbitrase, Remy Sjahdeini pernah
berpendapat bahwa sengketa kepailitan merupakan sengketa yang seyogyanya dapat diselesaikan melalui jalur
arbitrase.
Dengan kata lain lembaga arbitrase seharusnya berwenang untuk menyelesaikan sengketa kepailitan, di samping
Pengadilan Niaga. Berdasarkan Keputusan MA, Putusan No. 21 PK/N/1999, ditentukan bahwa perkara kepailitan
tidak dapat diajukan penyelesaiannya kepada arbitrase, karena telah diatur secara khusus dalam UU No. 4/1998
tentang Kepailitan. Sesuai
dengan ketentuan Pasal 180 Ayat (1) UU Kepailitan, yang berwenang memeriksa dan memutus perkara kepailitan
adalah Pengadilan Niaga.
Sejalan dengan hal ini pula, apabila ketentuan dalam Pasal 5 Ayat (1) UU Arbitrase & APS ini dihubungkan dengan
masalah corporate governance, maka sengketa terhadap masalah corporate governance sebagaimana telah
diuraikan, pada dasarnya dapat digolongkan pada jenis sengketa yang kedua.
Dengan demikian, terbuka peluang bagi para pihak yang bersengketa dalam masalah corporate governance untuk
membawa masalah ini ke forum arbitrase, apabila jalur penyelesaian secara internal tidak memperoleh titik temu.
Namun, ada beberapa syarat lain agar suatu sengketa dapat diselesaikan melalui arbitrase. Hal ini merupakan
prasyarat sebagaimana ditentukan dalam Pasal 2 UU Arbitrase & APS yaitu apabila para pihak yang bersengketa
"telah mengadakan perjanjian arbitrase yang secara tegas menyatakan bahwa semua sengketa atau beda pendapat
yang mungkin timbul dari hubungan hukum tersebut akan diselesaikan dengan cara arbitrase atau melalui APS."
Prasyarat ini dapat menjadi kendala utama bagi sengketa corporate governance untuk dapat diselesaikan melalui
arbitrase, mengingat anggaran dasar perseroan yang menjadi payung hukum dalam suatu perseroan, lazimnya tidak
mencantumkan klausul arbitrase.
Di samping itu, ketentuan hukum yang lebih generik, seperti UU PT tidak mencantumkan ketentuan yang membuka
peluang penyelesaian melalui arbitrase, melainkan melalui Pengadilan Negeri.
Dalam kerangka hukum perusahaan, kedudukan anggaran dasar perseroan memiliki fungsi strategis yang dapat
memuat ketentuan yang lebih luas dan rinci dibandingkan UU PT dan UU sektoral lainnya.
Dengan demikian, pada dasarnya perusahaan memiliki peluang untuk mencantumkan klausul arbitrase dalam
anggaran dasar perseroannya. Format anggaran dasar yang dikeluarkan oleh Menteri Kehakiman yang digunakan
notaris, merupakan model yang masih dapat disisipi klausul oleh para pihak sepanjang tidak bertentangan dengan
asas-asas hukum.
Oleh karenanya, apabila klausul arbitrase dapat dicantumkan dalam anggaran dasar perseroan, maka prasyarat
arbitrase sebagaimana dijelaskan sebelumnya, dapat dipenuhi terlebih dahulu. Misal pencantuman klausul arbitrase
dalam perjanjian kerja yang dibuat antara manajemen dan karyawan atau perjanjian dengan pemasok, mitra bisnis,
kreditur, dan debitur.
Dengan pencantuman pactum arbitrii dalam setiap dokumen hukum perusahaan, maka hal ini membuka pintu
dimungkinkannya penyelesaian masalah corporate governance melalui jalur arbitrase.
Mas Achmad Daniri
Ketua Komite Nasional
Kebijakan Governance
Ratna Januarita
Anggota Komite Nasional
Kebijakan Governance

Nama : Prof. Dr. H. Mustafa Abdullah, S.H.


Tempat/Tanggal Lahir : Jambi, 20 Oktober 1940
Agama : Islam
Apartemen Pejabat Negara Kemayoran
Alamat Rumah :
Tower II R. 204, Kemayoran - Jakarta
Anggota Komisi Yudisial RI
Jabatan : Koordinator Bidang Penilaian Prestasi Hakim
dan Seleksi Hakim Agung
Wisma ITC, Jl. Abdul Muis No.8 Lt 5
Alamat Kantor :
Jakarta Pusat 10110
Jambi, 20 Oktober 1940 adalah tempat, hari dan tanggal kelahiran peraih gelar Doktor Hukum dari
Fakultas Hukum Universitas Indonesia Jakarta di tahun 1992 serta peraih gelar sarjana hukum dari
Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang 20 tahun sebelumnya.

Prof. Dr. H. Mustafa Abdullah, S.H. telah menelurkan berbagai karya tulis di bidang hukum, antara lain
“Sosiologi Hukum dalam Masyarakat”, “Intisari Hukum Pidana”, serta “Beberapa Permasalahan
Pertanggungjawaban Pidana Pers (Studi Telaah menurut Hukum Positif Indonesia)”.

Peraih penghargaan “Karya Satya 30 Tahun” dari Presiden RI ini adalah sesosok pria yang
berpengalaman di bidang akademi hukum. Direktur Program Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya,
Pembantu Rektor I Universitas Sriwijaya, Pembantu Dekan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya,
Ketua Jurusan Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya sampai Jabatan sebagai Dekan
Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya pernah dilakoninya dengan sukses.

Penataran Universitas Indonesia (1974, 1975 dan 1989), LIPI (1976), Pengadilan Tinggi Bandung
(1976) adalah sebagian kecil dari berbagai macam pendidikan nonformal yang pernah didapat pria
yang hoby berdiskusi, membaca dan berolah raga ini.

Selain itu, di bidang organisasi, Prof. Dr. H. Mustafa Abdullah, S.H. tercatat pernah menjadi anggota
Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, Himpunan Sarjana Sosial, Asosiasi Pengajar
Hukum Pidana dan Kriminologi Indonesia, KORPRI, serta Asean Law Association, hingga akhirnya
terpilih sebagai Anggota Komisi Yudisial Republik Indonesia dengan jabatan sebagai Koordinator
Bidang Penilaian Prestasi Hakim dan Seleksi Hakim Agung.
Pendahuluan
Ditengah maraknya praktek “mafi a peradilan” di BumiPertiwi ini, lahirlah sebuah lembaga Negara
baru yaitu KomisiYudisial. Walau menuai pro dan kontra serta mendapatkanresistensi dari Mahkamah
Agung (MA), tidaklah dapatdipungkiri bahwa lembaga ini ternyata memberikan secercahharapan bagi
para pencari keadilan. Hal ini terbukti beberapasaat setelah anggota Komisi Yudisial mengucapkan
sumpahdihadapan Presiden sebagai Kepala Negara, Komisi Yudisialsudah langsung menerima
pengaduan dari masyarakat. KandidatPilkada kota Depok (Nur Mahmudi Ismail) adalah orangpertama
yang datang untuk melaporkan buruknya kerja dankinerja lembaga pengadilan.Untuk sampai pada
pemahaman betapa pentingnya keberadaanKomisi Yudisial Republik Indonesia (KYRI)
besertakewenangannya dalam struktur ketatanegaraan NegaraKesatuan Republik Indonesia (NKRI)
dalam menjamin hakwarga Negara, haruslah dipahami arti dari defi nisi “Negara”serta tujuan
dibentuknya negara itu sendiri.Terbentuknya Komisi Yudisial RIPerjalanan Bangsa Indonesia
dimulai pada saat dikumandangkannyalagu Indonesia Raya serta berkibarnyaSang Saka Merah-Putih
pada tanggal 17 Agustus 1945 sertadengan disahkannya UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus1945 oleh
PPKI menjadi dasar Negara kita.Hari memang telah silih berganti sejak kemerdekaan,namun
nampaknya bangsa ini belum juga beranjak dewasadan menyadari arti dari kata merdeka itu sendiri.
Masih adadi antara kita yang secara sadar telah melakukan penjajahandalam bentuk yang lebih hina
“jual-beli putusan” dan mengingkarihak sesama anak bangsa.Hukum sebagai salah satu pilar
berbangsa dan bernegarayang mendasari UUD 1945 telah mereka abaikan demikepentingannya
sendiri.Terungkapnya kasus-kasus penyalahgunaan wewenang
(abuse of power) oleh hakim serta pejabat peradilan lainyang banyak dipublikasikan oleh berbagai
media massa seolah
menjadi cerminan dari lemahnya integritas moral danperilaku hakim serta pegawai lembaga peradilan.
Keadaan
SEJARAH TERBENTUKNYA PENGADILAN NEGERI DI INDONESIA
(Sebelum terbentuknya UU No 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman)
A. Latar belakang
Menurut Sudikno Mertokusumo peradilan adalah segala sesuatu yang bertalian dengan tugas hakim dalam memutus perkara, baik
perkara perdata maupun perkara pidana untuk mempertahankan atau atau menjamin ditaatinya hukum materil. Sedangkan hukum
materil merupakan pedoman bagi warga masyarakat tentang bagaimana orang selayaknya berbuat atau tidak berbuat dalam
masyarakat yang pada hakekatnya bertujuan untuk melindungai kepentingan orang lain. Berdasarkan hal tersebut dapat
disimpulkan bahwa fungsi pengadilan sangat penting sebagai tempat untuk menegakkan hukum.
Sejarah terbentuknya pengadilan di Indonesia sangat panjang dan banyak mengalami perubahan sebelum menjadi seperti yang
sekarang ini, dimulai dari masa sebelum pemerintahan Belanda sampai Indonesia merdeka. Hal tersebut membuat penulis
tertarik untuk meneliti dan menelusuri sejarah terbentuknya Pengadilan Negeri di Indonesia.
B. Pokok Permasalahan
Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan yang ingin penulis bahas
adalah bagaimanakah sejarah terbentuknya Pengadilan Negeri di Indonesia?
C. Metode Historis
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kepustakaan dimana data diperoleh dengan cara meneliti
bahan-bahan pustaka hukum, dengan menganalisa bahan-bahan yang menguraikan mengenai sejarah peradilan di Indonesia
terutama Pengadilan Negeri, menganalisa undang-undang yang berkaitan dengan hal tersebut yaitu undang-undang tentang
kekuasaan kehakiman dan tentang peradilan umum.
D. SEJARAH TERBENTUKNYA PENGADILAN NEGERI DI INDONESIA
i. Masa sebelum pemerintahan Hindia-Belanda.
Pada masa sebelum pemerintahan Hindia-belanda di Indonesia, tata hukum di Indonesia mendapatkan pengaruh dari hukum
agama yaitu Hindu dan Islam serta hukum adat. Pengaruh agama Hindu tersebut dapat dilihat pada sistem peradilannya dimana
dibedakan antara perkara Pradata dan perkara Padu. Perkara Pradata adalah perkara yang menjadi urusan peradilan raja yang
diadili oleh raja sendiri yaitu perkara yang membahayakan mahkota, kemanan dan ketertiban negara, hukum Pradata ini
bersumber dari hukum Hindu dimana Raja adalah pusat kekuasaan sedangkan perkara Padu adalah perkara mengenai
kepentingan rakyat perseorangan, perkara ini diadili oleh pejabat negara yang disebut jaksa.
ii. Masa pemerintahan Hindia-Belanda
Pada tahun 1602 Belanda mendirikan suatu perserikatan dagang untuk Timur-jauh yang dinamakan VOC (De Vereenigde
Oost-Indische Compagnie) dengan tujuannya untuk berniaga, maka melalui VOC tersebut Belanda masuk ke Indonesia.
Jan Pieterszoon Coen pada tanggal 30 Mei 1619 berhasil membuat Sultan Banten menyerahkan daerahnya kepada Kompeni.
Pada tanggal 26 Maret 1620 dibuat resolusi yang mengangkat seorang Baljuw sebagai opsir justisi dan kepala kepolisian lalu
pada tanggal 24 Juni 1620 dibentuk suatu mejelis pengadilan di bawah pimpinan Baljauw yang dinamakan College van
Schepennen disebut schepenbank untuk mengadili segala penduduk kota bangsa apapun kecuali pegawai dan serdadu Kompeni
yang akan diadili oleh Ordinaris luyden van den gerechte in het Casteel yang pada 1626 diubah menjadi Ordinaris Raad van
Justisie binnen het casteel Batavia, disebut sebagai Raad van Justisie.
Sejak tahun 1684 VOC banyak mengalami kemunduran ditambah dengan adanya pergeseran politik Eropa yang mengakibatkan
berubahnya situasi politik di Belanda, hal tersebut mengakibatkan dihentikannya VOC dan pada tahun 1806 Belanda menjadi
kerajaan di bawah Raja Lodewijk Napoleon yang kemudian mengangkat Mr. Herman Willem Daendels sebagai Gubernur
Jenderal yang menetapkan charter untuk daerah jajahan di Asia dimana dalam Pasal 86 charter tersebut berisi bahwa susunan
pengadilan untuk bangsa Bumiputera akan tetap berdasarkan hukum serta adat mereka.
a. Masa pemerintahan Inggris
Setelah kekuasaan Hindia-Belanda pada 1811 dipatahkan oleh Inggris maka Sir Thomass Stamford Raffles diangkat menjadi
Letnan Jenderal untuk P. Jawa dan wilayah di bawahnya (Palembang, Banjarmasin, Makasar, Madura dan kepulauan Sunda-
kecil). Ia mengeluarkan maklumat tanggal 27 Januari 1812 yang berisi bahwa susunan pengadilan untuk bangsa Eropa berlaku
juga untuk bangsa Indonesia yang tinggal di dalam lingkungan kekuasaan kehakiman kota-kota (Batavia, Semarang dan
Surabaya) dan sekitarnya jadi pada jaman rafles ini ada perbedaan antara susunan pengadilan untuk bangsa Indonesia yang
tinggal di kota-kota dan di pedalaman atau desa-desa.
b. Masa kembalinya pemerintahan Hindia-Belanda
Berakhirnya peperangan di Eropa mengakibatkan daerah jajahan Belanda yang dikuasai Inggris akan dikembalikan kepada
Belanda (Conventie London 1814).
Pada masa ini Pemerintah Hindia-Belanda berusaha untuk mengadakan peraturan-peraturan di lapangan peradilan sampai pada
akhirnya pada 1 Mei 1848 ditetapkan Reglement tentang susunan pengadilan dan kebijaksanaan kehakiman 1848 (R.O), dalam
R.O ada perbedaan keberlakuan pengadilan antara bangsa Indonesia dengan golongan bangsa Eropa diama dalam Pasal 1 RO
disebutkan ada 6 macam pengadilan:
1. districtsgerechtMengadili perkara perdata dengan orang Indonesia asli sebagai tergugat dengan nilai harga di bawah
f20-.2. regenschapgerecht
Mengadili perkara perdata untuk orang Indonesia asli dengan nilai harga f.20-f.50 dan sebagai pengadilan banding untuk
keputusan-keputusan districtsgerecht.3. landraad
merupakan pengadilan sehari-hari biasa untuk orang Indonesia asli dan dengan pengecualian perkara-perkara perdata dari orang-
orang Tionghoa - orang-orang yang dipersamakan hukumnya dengan bangsa Indonesia, juga di dalam perkara-perkara dimana
mereka ditarik perkara oleh orang-orang Eropa atau Tionghoa selain itu landraad juga berfungsi sebagai pengadilan banding
untuk perkara yang diputuskan oleh regenschapgerecht sepanjang dimungkinkan banding.4. rechtbank van omgang diubah
pada 1901 menjadi residentiegerecht dan pada 1914 menjadi landgerecht.
Mengadili dalam tingkat pertama dan terahir dengan tidak membedakan bangsa apapun yang menjadi terdakwa.5. raad van
justisie
Terdapat di Jakarta, Semarang dan Surabaya untuk semua bangsa sesuai dengan ketentuan.6. hooggerechtshof
Merupakan pengadilan tingkat tertinggi dan berada di Jakarta untuk mengawasi jalannya peradilan di seluruh Indonesia.
iii. Masa pemerintahan Jepang
Masa pemerintahan Jepang di Indonesia dimulai pada 8 Maret 1942 dengan menyerahnya Jendral Ter Poorten, untuk sementara
Jepang mengeluarkan Undang-undang Balatentara Jepang tanggal 8 Maret No.1 yang menyatakan bahwa segala undang-undang
dan peraturan-peraturan dari pemerintah Hindia-Belanda dulu terus berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan-
peraturan Balatentara Jepang. Untuk proses peradilan Jepang menetapkan UU 1942 No. 14 tentang Peraturan Pengadilan
Pemerintah Balatentara Dai-Nippon, dimana dengan UU ini didirikan pengadilan-pengadilan yang sebenarnya merupakan
lanjutan dari pengadilan–pengadilan yang sudah ada:
1. Gun HoonPengadilan Kawedanan, merupakan lanjutan dari districtsgerecht.2. Ken HooinPengadilan kabupaten,
merupakan lanjutan dari regenschapsgerecht.3. Keizai HooinPengadilan kepolisian, merupakan lanjutan dati Landgerecht.4.
Tihoo HooinPengadilan Negeri, merupakan lanjutan dari Lanraad. 5. Kooto Hooin
Pengadilan Tinggi, merupakan lanjutan dari Raad van Justisie. 6. Saikoo Hooin
Mahkamah Agung, merupakan lanjutan dari Hooggerechtshof.
Masa pemerintahan Jepang ini menghapuskan dualisme di dalam peradilan dengan Osamu Seirei 1944 No.2 ditetapkan bahwa
Tihoo Hooin merupakan pengadilan buat segala golongan penduduk, dengan menggunakan hukum acara HIR.
iv. Masa Kemerdekaan Republik Indonesia
a. 1945-1949Pasal II Aturan Peralihan UUD’45 menetapkan bahwa: segala badan negara dan peraturan yang ada masih lansung
berlaku selama belum diadakan yang baru menurut UUD ini. Hal ini berarti bahwa semua ketentuan badan pengadilan yang
berlaku akan tetap berlaku sepanjang belum diadakan perubahan.
Dengan adanya Pemerintahan Pendudukan Belanda di sebagian wilayah Indonesia maka Belanda mengeluarkan peraturan
tentang kekuasaan kehakiman yaitu Verordening No. 11 tahun 1945 yang menetapkan kekuasaan kehakiman di lingkungan
peradilan umum dilakukan oleh Landgerecht dan Appelraad dengan menggunakan HIR sebagai hukum acaranya.
Pada masa ini juga dikeluarkan UU UU No.19 tahun 1948 tentang Peradilan Nasional yang ternyata belum pernah dilaksanakan.
b. 1949-1950Pasal 192 Konstitusi RIS menetapkan bahwa Landgerecht diubah menjadi Pengadilan Negeri dan Appelraad
diubah menjadi Pengadilan Tinggi
c. 1950-1959Adanya UU Darurat No.1 tahun 1951 yang mengadakan unifikasi susunan, kekuasaan, dan acara segala Pengadilan
Negeri dan segala Pengadilan Tinggi di Indonesia dan juga menghapuskan beberapa pengadilan termasuk pengadilan swapraja
dan pengadilan adat.
d. 1959 sampai sekarang terbitnya UU No. 14 Tahun 1970Pada masa ini terdapat adanya beberapa peradilan khusus di
lingkungan pengadilan Negeri yaitu adanya Peradilan Ekonomi (UU Darurat No. 7 tahun 1955), peradilan Landreform (UU No.
21 tahun 1964). Kemudian pada tahun 1970 ditetapkan UU No 14 Tahun 1970 yang dalam Pasal 10 menetapkan bahwa ada 4
lingkungan peradilan yaitu: peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer dan peradilan tata usaha negara.
E. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa:
- sejarah terbentuknya Pengadilan Nesgeri di Indonesia sangat panjang namun dalam makalah ini penulis membatasi
penelitian pada masa sebelum pemerintahan Belanda. Pada masa tersebut tata hukum di Indonesia mendapatkan pengaruh dari
hukum agama yaitu Hindu dan Islam serta hukum adat;
- Pada masa pemerintahan Belanda system pengadilan di Indonesia dibeda-bedakan berdasarkan pasal 163 IS (Indische
Staatsregeling),yaitu: golongan penduduk Eropa, golongan penduduk Timur Asing dan golongan penduduk Indonesia dengan
peradilan yang berbeda-beda pula. Pada masa Jepang menghapuskan dualisme di dalam peradilan dengan Osamu Seirei 1944
No.2;
- Setelah Indonesia merdeka barulah usaha-usaha untuk mengadakan unifikasi terhadap peradilan dapat terwujud dengan
adanya UU Darurat No.1 tahun 1951.

Presiden : Kasus Soeharto Tetap Diselesaikan Lewat Hukum


Posted in Berita Utama by Redaksi on Januari 16th, 2008

Jakarta (SIB)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tetap menginginkan kasus mantan presiden Soeharto diselesaikan lewat jalur hukum.
“Semuanya harus diselesaikan dengan koridor hukum itu saja. Jadi harus kembali ke koridor hukum,” kata Juru Bicara
Kepresidenan Andi Mallarangeng di sela-sela rapat kabinet di Gedung Departemen Pertanian Jakarta, Selasa.
Menurut Andi, Presiden akan menghadapi polemik kasus Soeharto ini sesuai dengan konstitusi yang berlaku.
“Beliau adalah konstituen sejati. Ini kasus perdata dan bisa diselesaikan melalui dua kemungkinan, bisa penyelesaiannya di
pengadilan atau di luar pengadilan,” katanya.
Menurut Andi, jika saat ini banyak pihak yang menginginkan Presiden Yudhoyono memberikan maaf kepada Soeharto, maka
jawabannya harus dikembalikan kepada ketentuan yang berlaku.
Sedangkan berdasarkan konstitusi, kekuasaan presiden untuk mengampuni hanya ada empat yaitu, grasi, amnesti, abolisi, dan
rehabilitasi.
“Itu diberikan berdasarkan status atau keadaannya,” katanya sambil memberi contoh grasi dikeluarkan setelah ada putusan
tetap pengadilan”.
Andi menambahkan, dalam kasus Soeharto ini maka Presiden Yudhoyono berusaha agar semua yang menjadi hak milik negara
harus kembali ke negara dan itu dapat juga diselesaikan melalui luar pengadilan.
JIKA TAK SELESAI, KASUS HUKUM SOEHARTO JADI “SUMBER KETEGANGAN”
Indonesianis Universitas Nasional Australia (ANU), Greg Fealy, berpendapat, penolakan keluarga Soeharto terhadap tawaran
solusi Pemerintah atas kasus hukumnya akan menjadi sumber ketegangan setelah Soeharto meninggal nanti.
“Saya kira (masalah hukum Pak Harto-red.) bisa menjadi sumber ketegangan antara pihak Cendana dengan pemerintah
maupun masyarakat,” katanya menjawab pertanyaan ANTARA sehubungan dengan kondisi kesehatan Soeharto Selasa.
Penolakan keluarga Soeharto terhadap tawaran Pemerintah RI itu justru menunjukkan bahwa “masih ada miliaran dolar
Amerika Serikat yang disimpan di macam-macam tempat yang semestinya dikembalikan ke negara bagi kemanfaatan
masyarakat,” katanya.
Penolakan tersebut layak dikecam para tokoh politik dan masyarakat Indonesia, kata dosen dan peneliti senior pada Sekolah Riset
Studi-Studi Pasifik dan Asia (RSPAS) ANU ini.
Terlepas dari belum jelasnya solusi atas masalah hukum Pak Harto itu, Fealy mengatakan, banyaknya tokoh politik Indonesia,
termasuk mereka yang dulu berseberangan dengan Pak Harto”, beramai-ramai memaafkan penguasa Orde Baru ini sebagai
“hal yang sedikit mengherankan” dirinya.
Sebagai seorang peneliti, bagaimana sikap masyarakat dan pemerintah Indonesia terhadap presiden kedua yang berkuasa selama
32 tahun itu sangat menarik perhatiannya terlebih lagi tidak begitu banyak sejarawan yang bersedia membela periode Soeharto,
katanya.
Ditanya tentang isi buku Robert Edward Elson “ Soeharto, Political Biography (Oktober 2001)” yang terkesan membela
peran Soeharto dan bahkan menyebutnya sebagai “tokoh yang sangat penting selama abad ke-20 di Asia”, ia menilai buku
Bob Elson itu “cukup berimbang”.
Selama ini, tidak sedikit akademisi asing yang memberikan penilaian dengan “plus besar dan minus besar” tentang
pemerintahan Orde Baru dan Soeharto, katanya.
Sudah ada SKP3
Kembali ke masalah hukum Soeharto, Kejaksaan Agung RI telah mengeluarkan Surat Keputusan Penghentian Penuntutan
Perkara (SKP3).
Kasus dugaan korupsi pemimpin Orde Baru itu mulai terkuak pada 1 September 1998 ketika Tim Kejaksaan Agung menemukan
indikasi penyimpangan penggunaan dana yayasan-yayasan yang dikelola Soeharto dari anggaran dasar lembaga tersebut.
Pada 7 Desember 1998, di depan Komisi I DPR, jaksa agung (saat itu) mengungkapkan hasil pemeriksaan atas Yayasan
Dharmais, Dakab, Supersemar, Amal Bhakti Muslim Pancasila, Dana Mandiri, Gotong Royong, dan Trikora. Sejumlah yayasan
memiliki kekayaan senilai Rp 4,014 triliun.
Jaksa agung saat itu juga mengungkapkan penemuan rekening atas nama Soeharto di 72 bank di dalam negeri dengan nilai
deposito Rp24 miliar, Rp23 miliar tersimpan di rekening BCA, dan tanah seluas 400 ribu hektare atas nama keluarga Cendana.
Pada 28 September 2000, majelis hakim PN Jakarta Selatan menetapkan penuntutan perkara pidana HM Soeharto tidak dapat
diterima dan sidang dihentikan.
Pada 12 Mei 2006, Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya telah mengeluarkan SK PPP
yang isinya menghentikan penuntutan dugaan korupsi Soeharto pada tujuh yayasan yang dipimpinnya dengan alasan kondisi fisik
dan mental terdakwa yang tidak layak diajukan ke persidangan.
Sesuai pasal 140 ayat 2 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), terdakwa yang dalam keadaan tidak sehat maka
tidak bisa diajukan ke persidangan.
Dengan terbitnya SK PPP itu, status proses hukum Soeharto dinyatakan final dan penguasa Orde Baru itu bebas dari status
“terdakwa” kecuali bila ditemukan alasan berupa kesembuhan penyakit Soeharto barulah dia dapat diajukan ke persidangan
lagi.
Terlepas dari telah keluarnya SKP3 itu, kasus hukum Soeharto ini kembali memicu pro-kontra di masyarakat setelah dia kembali
masuk Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) pada 4 Januari 2008 akibat kondisi kesehatannya yang terus menurun.
Sejak lengser dari jabatan presiden pada 21 Mei 1998, pemimpin yang lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921
ini telah beberapa kali dirawat di rumah sakit karena beragam penyakit, seperti pendarahan usus, jantung, dan paru-paru.
Dia pernah dirawat di RSPP pada 20 Juli 1999 karena stroke ringan. Setelah itu, ia kembali masuk rumah sakit yang sama pada
tahun 2000, 2001, 2002, 2004, 2005, 2006 dan 2008.
GOLKAR INGINKAN KASUS SOEHARTO DIDEPONIR
Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar HR Agung Laksono meminta pemerintah untuk mendeponir (menghentikan) kasus
mantan Presiden Soeharto.
“Partai Golkar menginginkan hal itu, karena Pak Harto berjasa terhadap republik ini dari kemerdekaan hingga sekarang, dan
kita menikmatinya,” katanya, di Bandarlampung, Selasa.
Mantan Presiden Soeharto menderita penyakit bersifat permanen sehingga tidak memungkinkan lagi untuk berkomunikasi, serta
tidak layak untuk diajukan ke pengadilan.
Selain itu, katanya, undang-undang memungkinkan pemerintah mendeponir suatu perkara jika dianggap mempunyai dampak
secara nasional.
“Harapan tersebut dari Partai Golkar yang juga merupakan komponen masyarakat dan semuanya diserahkan kepada
pemerintah. Terserah pemerintah untuk menyikapinya, kami sebagai perpanjangan rakyat menyampaikan hal itu,” kata dia.
Sebelumnya, Ketua DPD Partai Golkar Lampung M Alzier Dianis Thabranie, juga mendesak pemerintah untuk menghentikan
kasus mantan Presiden Soeharto dengan mengingat jasa-jasanya yang luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara.
Presiden sebenarnya bisa memberikan grasi dan rehabilitas — dengan memperhatikan pertimbangan MA— atau memberikan
amnesti dan abolisi — dengan memperhatikan pertimbangan DPR.
Menurut dia, sehubungan kondisi kesehatannya dilaporkan kritis maka pemerintah perlu secepatnya membuat terobosan baru
untuk memulihkan harkat dan martabat mantan Presiden Soeharto.
Banyak jasa yang telah diberikan Pak Harto, seperti membangun pendidikan dan kesehatan bagi rakyatnya, mengembangkan
sektor pertanian, membangun infrastruktur, menggalakkan program KB, membentuk yayasan untuk menolong orang banyak,
serta berbagai kegiatan lainnya yang dimaksudkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakatnya.
Alzier menjelaskan, selama kepemimpinannya, harus akui banyak kemajuan dan perbaikan kehidupan ke arah lebih baik yang
secara nyata terjadi.
“Dibawah kepemimpinannya, keutuhan NKRI tetap terjamin hingga sekarang. Karena itu, kita harus menghargai dan
menghormatinya,” kata dia, yang juga Ketua Kadinda Lampung. (Ant/y)
SEKOLAH TINGGI PERTANAHAN NASIONAL (STPN)
[ print data kampus | beritahu teman ]

Jenis Perguruan Tinggi : Kedinasan


A l a m a t : Jl. Tata Bumi No.5, Banyuraden, Gampingan, Sleman, 55293, Yogyakarta
Telepon : 0274 - 587239, 587138
F a x : 0274 - 587138
Nama Rektor : Dr. Ir. Ruslan, MS
Sejarah Singkat

Tanggal Berdiri : 1963

Awalnya adalah Akademi Agraria yang didirikan di Yogyakarta pada 1963, kemudian di Semarang
1964. Yang di Yogya dengan Jurusan Agraria, di Semarang Pendaftaran Tanah. Tujuh tahun kemudian
dibuka pula jurusan Tata Guna Tanah di Yogyakarta. Lalu, pada 1983 kedua akademi agraria tersebut
digabung dan dipusatkan di Yogyakarta dengan empat jurusan: Pemberian Hak Atas Tanah, Tata Guna
Tanah, Landreform, dan Pendaftaran Tanah. Ketika program sarjana muda dihapuskan dan diganti
pendidikan Diploma Tiga (D3), semua jurusan di akademi ini ditiadakan. Pada tahun 1989, pembinaan
Akademi Agraria dialihkan dari Departemen Dalam Negeri ke Badan Pertanahan Nasional, lembaga
nondepartemen yang dibentuk pada 1988. Nama Akademi Agraria pun diganti menjadi Akademi
Pertanahan Nasional. Lima tahun kemudian jenjang pendidikannya ditingkatkan menjadi D4, nama
akademi pun diubah: Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional.

Profil

Jumlah Mahasiswa : 731


Jumlah Alumni : 5.194
Jumlah Lulusan 2000/01 : 269
Jumlah Dosen Tetap : 62
Jumlah Dosen Lulusan S2 : 18
Jumlah Dosen Lulusan S3 : 1
Luas Kampus : 7.397 m2
Koleksi Perpustakaan : 37.361 eksemplar
Laboratorium : 1.620 m2
-Laboratorium Ilmu Ukur Tanah, dilengkapi dengan Modern Electronics Total Stations with Data
Recorders dan GPS Receiver
-Laboratorium Photometry
-Laboratorium Orthography
-Laboratorium Kartografi
-Laboratorium hukum Tanah
-Laboratorium Komputer, dilengkapi Geographic Information System Software
-Di luar itu, STPN memiliki 15 laboratorium desa yang tersebar di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Fasilitas Lain : Gedung kuliah (4.015 m2), gedung administrasi (1.020 m2), gedung asrama (6.880
m2), rumah dinas (214 m2), wisma dosen (170 m2), masjid (441 m2), pendopo (1.560 m2), posko (20
m2), garasi (36 m2), kantin (48 m2), lapangan tenis (1.549 m2), lapangan sepak bola (10.000 m2),
tanah perluasan kampus (26.000 m2)

Program Studi
1.Jurusan Manajemen Pertanahan
Program Studi Manajemen Pertanahan (D4, D1)

2.Jurusan Perpetaan
Program Studi Perpetaan (D4)

3.Jurusan Pengukuran dan Pemetaan Kadastral (D1)

Pendaftaran Mahasiswa Baru

T e s : D4 (Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pengetahuan Pertanahan, Pengetahuan


Umum, Logika, UUD.45 dan Pancasila)

Persyaratan : Lulusan SMU Jurusan IPA, SMK Jurusan Bangunan, SMK Pengukuran, Sehat Jasmani dan
Rohani

Biaya Kuliah :
- D4 bebas biaya
- D1 Rp 4.750 ribu per tahun

Program Pendidikan
1. PROGRAM DIPLOMA IV PERTANAHAN
Program Diploma IV Pertanahan merupakan satu-satunya Program Pendidikan Kedinasan yang diselenggarakan oleh Badan
Pertanahan Nasional RI. Mahasiswa Diploma IV adalah PNS utusan dari kantor-kantor pertanahan atau instansi pertanahan
pemerintah daerah dengan status mahasiswa tugas belajar
Program Pendidikan Diploma IV Pertanahan terdiri dari 2 jurusan:
A. Jurusan Manajemen Pertanahan
B. Jurusan Perpetaan
Karena STPN merupakan lembaga pendidikan tinggi yang menghasilkan tenaga terampil sengan gelar sarjana sain terapan maka
porsi pendidikan dan pengajaran dilaksanakan dengan proporsi 40% teori dan 60% praktek. Mata kuliah yang harus ditempuh
dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu : (1) Mata Kuliah Umum (MKU); (2) Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK); (3)
Mata Kuliah Keahlian (MKK)
Materi perkuliahan yang diberikan dibuat sedekat mungkin dengan aplikasi kebutuhan di lapangan baik yang bersifat
perencanaan, teknik kegiatan, administrasi pertanahan, maupun penyelesian sengketa pertanahan
materi perkuliahan diberikan selama 4 tahun dengan sistem kredit semester sebanyak 147 dengan penajaman materi sesuai
dengan konsentrasi atau jurusan masing-masing. Guna mengingkatkan kemampuan palikatif tersebut selain diwajibkan mengikuti
kuliah-kuliah praktiek baik yang dilaksanakan di ruang laboratorium maupun di Laboratorium Desa melalui Kuliah Praktek Kerja
Lapangan (PKL), mahasiswa juga harus mengikuti Kuliah Kerja Praktek Pertanahan Terpadu (KKPPT) yang diselenggarakan
bekerjasama dengan kantor-kantor pertanahan di lingkungan BPN RI. Melalui kegiatan KKPPT ini mahasiswa dapat mengenal
lebih dekat ruang lingkup profesi dan pekerjaan yang akan mereka hadapi setelah lulus dari pendidikan.
2. PROGRAM DIPLOMA I PENGUKURAN DAN PEMETAAN KADASTRAL(PPK)
Pembangunan dibidang pertanahan yang didasarkan pada hukum tanah nasional telah dimulai sejak ditetapkannya Undang-
undang Pokok Agraria (UU Nomor 5 Tahun 1960). Undang-undang tersebut mewajibkan pemerintah untuk melaksanakan
pendaftaran tanah, yang tujuannya antara lain memberikan jaminan kepastian hukum hak atas tanah bagi pemilik tanah terhadap
obyek hak berupa bidang tanah yang dimiliki. Dalam perkembangannya saat ini, selain tujuan untuk kepastian hukum,
pendaftaran tanah juga bertujuan untuk menyajikan informasi pertanahan, baik bagi pemerintah maupun masyarakat.
Untuk menyelenggarakan pendaftaran tanah sebagaimana yang diamanatkan oleh UUPA, Pemerintah terakhir menerbitkan
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendafatran Tanah sebagai bentuk reformasi dibidang pertanahan dalam
rangka mewujudkan keadilan sosial dan kemakmuran rakyat yang sebesar-besarnya. Salah satu kegiatan yang mutlak dilakukan
untuk melakukan pendataran tanah tersebut adalah dilakukannya kegiatan pengukuran dan pemetaan kadastral.
Sebagai perguruan tinggi dibidang pertanahan, STPN memiliki komitmen untuk menyiapkan sumber daya manusia dibidang
pertanahan, termasuk didalamnya bidang pengukuran dan pemetaan kadastral. Mengingat kebutuhan tenaga dibidang tersebut
semakin meningkat baik untuk pendaftaran tanah pertama kali maupun seiring dengan semakin tinggi intensitas perubahan
kepemilikan tanah karena peralihan, pemecahan maupun penggabungan bidang-bidang tanah, maka sebagai akuntabilitas kepada
pemerintah dan masyarakat, STPN ikut menyiapkan tenaga yang handal dibidang pengukuran dan pemetaan kadastral.
Penyelenggaraan pendidikan tersebut didasarkan pada SK Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 12 tahun 1996 jo
Keputusan Kepala BPN Nomor 12 tahun 2004 dan Surat Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Nomor 1924/D/T/1997 tentang
Penyelenggaraan Pendidikan Program Diploma I Pengukuran dan Pemetaan Kadastral pada Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional.