Anda di halaman 1dari 8

"

I. Pendahuluan

Seperti yang telah dibahas dalam studi perkuliahan filsafat seni program
pasca sarjana selama hampir setengah semester lebih, penulis merenungkan lagi
sebuah pengertian tentang kesamaan pola yang terjadi/yang muncul, perihal cara
berfikir masyarakat indonesia, rasionalitas, pola berfikir, serta kecendrungan-
kecendrungan tindakan dengan substansi yang sama, khususnya bagi masyarakat
tradisi etnik yang terus menjaga dan melestarikan ke-otentik-kan cara berfikir
nenek moyang mereka tentang kehidupan, tentang keberadaan manusia, tentang
kosmos (mikro, makro dan metakosmos), tentang sebuah tujuan dari itu semua ,
yang adalah tentang bagaimana cara selamat dalam kehidupan di dunia alam
fana ini maupun dalam dunia alam baka nanti. tentunya dewasa ini telah banyak
juga pengaruh dari pola-pola pikir yang lainnya, hasil dari kontak budaya-
budaya asing, pada masa kolonial, masuknya pengaruh agama besar, dsb., itu
semua akan memadu menjadi bentuk-bentuk yang bermacam-macam secara
fisik dalam kebudayaan. namun meskipun telah mengalami perubahan/kontak
budaya yang akhirnya menciptakan produk-produk seni yang berbeda-beda,
namun tetap ada hal-hal yang dapat kita rasakan dan lihat, bahwa terdapat
kesamaan pola rasionalitas/pola berfikir yang sama pada setiap peradaban, yang
kemudian termanifestasikan, yang tidak lain itu adalah esensi dari cara berfikir
nenek moyang yang dipercaya dan dijaga secara turun temurun, maka pada
masyarakat tatar Sunda, sering diketemukan unsur Sunda Buhun, Sunda Hindu-
Budha dan Sunda Islam.
Masyarakat etnik pada zaman dulu pun berfikir bahwa dalam kehidupan
manusia di dunia ini terdapat dualisme yang berlawanan/oposisi namun hidup
berdampingan, saling mengisi, saling melengkapi dan semua itu kemudian
dipadukan, diharmonisasikan, disatukan dengan kreatifitas-kreatifitas
masyarakat primodialnya, tanpa menghilangkan nilai dari keduanya itu, dengan
tujuan mengembalikan segala sesuatunya kepada yang Tunggal/Yang Maha,
diluar manusia itu sendiri. ini dapat kita lihat, jika kita membaca produk-produk
hasil kreatifitas manusia, baik dari segi peralatan-peralatan mencari makan,
#
wadah-wadah/tempat-tempat, panganan tradisional, bentuk rumah tradisional,
senjata tradisional, pusaka, pakaian tradisional, sesajian, upacara-upacara adat
bahkan sesuatu yang lebih luas adalah tentang bagaimana membangun
organisasi kemasyarakatan, tentang hidup berkelompok, tentang wilayah teritori
kehidupan berkelompok (Pola Kampung, Pulau, Negara, dsb., semua itu
memiliki keterkaitan, memiliki prinsip harus seperti itu. Tentunya dengan
kepercayaan juga, ada nilai religius, jika tidak demikian atau mengikuti pakem
tertentu mereka mempercayai bahwa tidak akan selamat, atau semua akan
celaka. kesamaan pola berfikir ini menggambarkan tentang prinsip kosmologi,
bahwa ada nya peran dunia atas, dunia bawah dan kehidupan dalam dunia
tengah. yang dalam masyarakat sunda ini disebut dengan Tritangtu/Tripartit.
semua aspek-aspek tersebut memiliki prinsip tritangtu, tritangtu scara makro,
tritangtu secara mikro, dan tritangtu juga dalam keseluruhan kosmos. artinya
pola fikir tersebut termanifestasikan dalam segala atribut, kelengkapan, cara
mencari mata pencaharian, bentuk makanan, penyajiannya, ritualnya adalah
tritangtu.
Lalu bagaimana kita bisa dengan yakin menyetujui bahwa masyarakat
awal tersebut memiliki pola rasional tertentu atau kepercayaan tertentu ?, hal ini
dapat kita telusuri dengan membaca/menafsir bentuk produk-produk seni baik
tari, musik, teater tradisionalnya, bentuk seni rupa, bahkan dalam prinsip pola
kabuyutan, salah satu kegiatan kongkrit yang telah dilakukan dakam bentuk
kegiatan praktik perkuliahan, seperti yang sudah dilakukan penelitian singkat
pada 20 November 2013 oleh rombongan kami, para mahasiswa pascasarjana
STSI angkatan 3 yang dipandu langsung oleh bpk. Prof. Jacob Soemardjo
mengunjungi makom kabuyutan yang tepatnya berada di Kabuyutan pasir jambu
kec. ciwidey.





$
II. Kabuyutan Makom Pasir Jambu Ciwidey
Di Ciwidey terdapat Makom
Kabuyutan Pasir Jambu, beralamat di
Kp. Kabuyutan RT 05/01 Ds. Kec. Pasir
Jambu Kab. Bandung, Kabuyutan ini
diapit oleh dua sungai yaitu sungai
Ciwidey dan sungai Cisondari yang
bermuara di Gunung Patuha. Secara
geografis kabuyutan ini dapat kita lihat pada pemetaan seperti di bawah ini :
Sebagaimana telah dipelajari bersama, dan sedikit mengulas tentang alam makro
adalah tempat tinggal mikro/manusia, sehingga makro tadi akan membentuk
pola pikir masyarakatnya secara kolektif, syarat terjadinya pulau/pulo adalah,
diapit oleh 2 sungai, juga harus ada unsur-unsur : Mata Air, Tanah/Hutan, Batu-
batu, maka kehidupan akan ada di sana. Sebuah pulau menjadi sebuah
manifestasi kepercayaan tentang prinsip kosmos masyarakat Sunda Buhun, Air
sebagai peran perempuan, Tanah sebagai Peran laki-laki, juga sungai ciwidey
%
sebagai peran sungai perempuan yang dianggap sungai yang lebih bersih, dan
sungai cisondari/cisonari lebih keruh adalah peran sungai laki-laki. Ini
merupakan pola rasionalitas masyarakat Sunda Buhun, bahwa segala sesuatu
dicipta berpasangan, sehingga yang satu ada karena suatu yang lainnya, maka
pada era Sunda Islam pun, pola pikir Buhun ini masih terlihat, walaupun dalam
artefak/produk yang lain. Jika kita lihat pada situs makom kabuyutan Pasir
Jambu ini, pola berpasangan ini dapat dilihat pada peletakan makam yang
berbeda, makam laki-laki dengan simbol batu panjang berdiri, dan makam
perempuan yang berbentuk batu bundar, kadang disimpan secara tidur. Pola
pikir Sunda Buhun juga meyakini adanya pengharmonisasian/pengESAan
dualitas yang berlawanan tersebut, seperti yang dapat kita lihat pada pemetaan
komplek kabuyutan di bawah ini :
Ket :

1. Sungai Besar
2. Makam Eyang Jagasatru
3. Hutan
4. Mata Air

5. Makam Eyang Dalem Mangkubumi & Dalem Danyadipa
Kertamanah

6. Batu Hawu/Kumis Beureum
7. Wilayah Tanah
8. Sungai Laki2 (Cisondari)
9. Sungai Perempuan (Ciwidey)



Pola Rasionalitas Sunda Buhun pada Kabuyutan Pasir Jambu ini juga
ditemukan pola Tripartit/Tritangtu yang hadir dalam kosmos yang juga bernilai
tritangtu. Yaitu adanya nilai tritangtu pada makrokosmos seperti syarat
terjadinya pulau tadi, yaitu adanya unsur Air (Sungai, mata air), ada nya unsur
Tanah/Hutan, juga unsur batu batuan. Mikrokosmos yang bernilai tritangtu juga
&
ditemukan pada pegaturan peletakan batu-batuan, makam perempuan, makam
laki-laki dan makam laki-laki dan perempuan.
Jika kita ingin memperkuat/meyakinkan kehadiran pola yang hampir
sama di sebagian wilayah dengan
menelusuri lebih detail tentang makam
kabuyutan pada pasir jambu, pada pintu
pertama kita akan melihat pintu pertama
yaitu Eyang Geleng Pangancingan, oleh
para peziarah pintu ini sering tidak
dianggap terlalu penting, bahkan kuncen
menyebutnya sebagai Jaga Lawang, atau
penjaga pintu.


Setelah itu kita akan melihat makam kabuyutan yang pertama
yaitu Makam Eyang JagaSatru. Telihat disini merupakan
peran laki-laki, yang mana batu nisan yang diletakan berdiri
tegak.


Pada penelusuran selanjutnya juga ditemukan adanya
wilayah mata air, yaitu merupakan tempat untuk mandi,
yang merupakan wilayah basah, wilayah perempuan,




Situs selanjutnya disebut Kumis Beureum dapat kita lihat
adanya batu-batu yang banyak dan besar-besar, ini diletakkkan
'
hampir mengumpul/diletakan bersama-sama, yang disebut oleh masyarakat
sebagai Batu Hawu.






Lalu sampai pada Makom yang
terakhir yaitu Eyang Dalem
Mangku Bumi dan Dalem
Sanyadipa Kertamanah. Pada
makom ini terdapat 2 makam
laki-laki dan perempuan.
Melalui salah satu penelusuran situs kabuyutan ini, meskipun telah
mengalami dinamisasi pada era Sunda Islam, karena masuknya Penyebaran

()*+ ,)*+ -)./ ,).-)0 1). 1234*)00). ,45043678609
:
Agama Islam di Pasir Jambu ini, namun tetap falsafah, dan cara berfikir Sunda
buhun masih diterapkan dalam peletakan prinsip Tripartit pada makam-makam
tersebut. dari ke 5 situs kabuyutan tersebut, karuhun/orang tua mereka yang telah
menyebarkan agama islam itu telah menyatu dengan pola pikir era Sunda buhun
hingga dewasa ini yang menjadi Sunda Islam. Dapat kita lihat ini merupakan
prinsip perhamonian, penyatuan tanpa menghilangkan ke-2 nilai tersebut.
Nilai tritangtu ini juga terlihat pada alam mikronya, yaitu peletakan
makam yang terpisah antara Eyang Jagasatru, Kumis Beureum, kemudian
adanya makam laki-laki perempuan, pada makom Eyang Dalem Mangku Bumi
dan Dalem Sanyadipa Kertamanah. ini merupakan prinsip penyatuan,
pengharmonian, kepada yang maha/Sang Hyang Tunggal, bahwa dipercaya oleh
sebagian besar masyarakat etnik, bahwa penciptaan/Genesis adalah berasal dari
yang tidak ada yaitu alam Metakosmos, yang memunculkan 3 Batara yaitu :
Batara Kersa/Kehendak, Batara Kawasa/Kuasa/Power, dan Batara
Mahakarana/Pikir/Mind. Sehingga metakosmos juga bernilai tritangtu, juga
ditemukan pada kabuyutan Pasir Jambu ini.















;
III. Kesimpulan
Setelah membaca artefak-artefak sebelumnya, dan diperkuat dengan
melakukan penelitian pada Kabuyutan Pasir Jambu ini, dapat kita peroleh hasil
pemikiran seperti yang telah juga sering disampaikan dalam perkuliahan selama
ini, tentang Filsafat Indonesia, yaitu pemikiran masyarakat etnik yang
terstruktur, tidak semata-mata melihat kehidupan menurut perspektif manusia,
namun pemikiran yang hadir akibat adanya sesuatu yang dipercayai secara
turun-temurun tentang adanya peran dualisme yang berlawanan namun hidup
berdampingan, adanya heterogenitas, adanya kreativitas yang memadu padankan
keduanya tanpa menghilangkan nilai dari keduanya itu, lalu kemudian
memunculkan sesuatu yang lain hasil dari perkawinan keduanya. Dari sinilah
kita dapat mengenal diri kita, ke-Indonesia-an kita, yang membedakan kita
secara substansial dari bangsa-bangsa yang lainnya, sehingga hal tersebut tidak
hanya berpengaruh pada pola pikir saja, namun berpengaruh pada sikap yang
mana kita sebagai yang spesifik telah terdefinisi, misalnya penulis sendiri
memilih sebagai creator, maka dari falsafah itulah dapat berangkat sebuah ide
penciptaan karya, yang terstruktur, tidak hanya semata-mata kekayaan teks saja,
namun memiliki konteks yang jelas dari yang sudah lama hadir dalam alam
pikiran masyarakat sejak dahulu ada, yang kemudian dihadirkan kembali pada
zaman modern dewasa ini. Sehingga dalam penciptaan, penulis berharap bahwa
konsep, inti dan substansi/kontekstual tersebut dapat dipakai kembali pada masa
sekarang, di zaman modern ini dengan wujud yang berbeda sesuai dengan era
kekinian.