Anda di halaman 1dari 3

TUGAS ILMU GIZI PANGAN

1. Metode Analisis Makanan


1.1 Metode Analitis Protein pada Makanan
Kandungan protein pada makanan ditentukan berdasarkan isi total nitrogen, Metode
Kjeldahl merupakan metode yang telah diterapkan secara universal untuk menentukan
kandungan nitrogen (AOAC, 2000). Kandungan nitrogen kemudian dikalikan dengan faktor
untuk sampai pada kadar protein. Atas dasar penentuan awal, nitrogen konten (N) rata-rata
protein ditemukan menjadi sekitar 16 persen, yang menyebabkan penggunaan perhitungan N x
6.25 (1/0.16 = 6,25) untuk mengubah konten nitrogen ke kandungan protein.
Akan tetapi penggunaan faktor tunggal, 6,25 ini tidak diterima dengan dua
pertimbangan. Pertama, tidak semua nitrogen di dalam makanan merupakan protein, karena
terdapat variabel senyawa lain, seperti asam amino bebas, nukleotida, creatine dan kolin, yang
merupakan non-protein nitrogen (NPN). Kedua, kandungan nitrogen dari asam amino tertentu
bervariasi sesuai dengan berat molekul asam amino dan jumlah atom nitrogen yang
dikandungnya. Faktor N x 6,25 ditinggalkan dan digantikan oleh faktor N khusus untuk
makanan tersebut. Faktor-faktor yang spesifik, sekarang disebut sebagai "faktor Jones", telah
diadopsi secara luas.

1.2 Metode Analitis Lemak pada Makanan
Sebagian besar lemak dalam makanan merupakan trigliserida. Ada juga non-gliserida
komponen seperti sterol, misalnya kolesterol. Walaupun non-gliserida dapat mempengaruhi
metabolisme, non-gliserida bukan merupakan sumber energi penting dalam makanan.
Komposisi lemak dapat dihitung dengan menggunakan metode gravimetri AOAC untuk
menghitung lemak mentah (crude fat), yang meliputi fosfolipid dan wax esters, dan sedikit non-
fatty material. Total lemak dapat dinyatakan setara dengan jumlah trigliserida. Metode ini
memuaskan untuk penentuan lemak dalam berbagai macam makanan.

1.3 Metode Analitis Karbohidrat pada Makanan
Karbohidrat total pada makanan biasanya dapat dihitung dengan cara selisih atau analisis
secara langsung. Biasanya karbohidrat dihitung dengan cara selisih, bukan dianalisis secara
langsung. Dalam pendekatan ini, konstituen lain dalam makanan (protein, lemak, air, alkohol,
abu) ditentukan secara individual, dijumlahkan dan dikurangkan dari berat total makanan. Hal
ini disebut sebagai karbohidrat total dari selisih dan dihitung dengan rumus berikut:
100 - (weight in grams [protein + fat + water + ash + alcohol] in 100 g of food)

1.4 Metode Analitis Abu pada Makanan
Prinsip analisis abu adalah membakar bahan dengan furnace dalam suhu 600 700
o
C
selama 3 8 jam sehingga seluruh unsur utama pembentuk senyawa organik (C, H, O, N) habis
terbakar dan berubah menjadi gas. Residunya, yang tidak terbakar, disebut dengan abu yang
merupakan kumpulan mineral-mineral yang terkandung dalam bahan (total mineral
dalam bahan).


Nama : Yohanes Rico
NIM : 13010097
1.5 Metode Analitis Air pada Makanan
Prinsip analisis air adalah menguapkan air yang terdapat dalam bahan menggunakan
oven dengan suhu 100 105
o
C selama 3-4 jam sehingga seluruh air yang terdapat dalam bahan
menguap yang ditandai dengan penyusutan berat bahan sampai tidak berubah lagi. Kemudian
massa bahan sebelum dan sesudah dikurangi sehingga didapatkan massa air dalam bahan.

2. Resep Tradisional : Madu
Ketika akan beraktivitas berat, seringkali kita disarankan untuk mengkonsumsi
madu sebelumnya, karena madu dipercaya memiliki khasiat untuk membuat kita lebih berenergi,
tidak mudah terserang penyakit. Bahkan madu juga sejak dulu dipercaya dapat memulihkan
keadaan tubuh yang sedang sakit.
Komponen utama penyusun madu
adalah karbohidrat. Komposisi karbohidrat sebesar
79.9 % terdiri dari fruktosa, glukosa, maltosa, dan
sukrosa. Komposisi yang paling besar adalah
fruktosa dan glukosa.
Dengan komposisi utama glukosa dan
fruktosa, madu memberikan 2 tahap energi.
Pertama dengan memanfaatkan sifat glukosa yang
mudah dicerna, sehingga langsung diserap ke
dalam aliran darah dan langsung dapat digunakan
sebagai energi dalam waktu singkat. Kedua,
fruktosa akan menyediakan energi yang
berkelanjutan karena proses penyerapannya yang
lebih lama dibandingkan dengan glukosa. Hal ini
juga membuat madu sebagai pemulih energi yang
cepat.
Madu juga bisa dijadikan sebagai
pemulih keadaan tubuh atau sebagai penguat sistem
kekebalan tubuh yang kuat dikarenakan sifat
antioksidan yang dimiliki oleh madu. Selain itu pH madu umumnya cukup asam berada pada
rentang 3,2-4,5 dan kadar gula pada madu cukup tinggi. Tingkat pH yang relatif asam dan
kondisi kadar gula yang tinggi dapat mencegah pertumbuhan bakteri, karena sebagian besar
bakteri tidak dapat hidup pada kondisi asam dan kadar gula yang tinggi akan memberikan efek
osmosis.
Dari komposisi nutrisi yang telah diuraikan diatas madu memang terbukti dapat
memberikan energi secara cepat dan terus menerus, serta dapat sebagai penguat sistem
kekebalan tubuh. Dapat disimpulkan resep tradisional ini terbukti baik untuk dikonsumsi
sehingga lebih berenergi, tidak mudah terserang penyakit.





DAFTAR PUSTAKA
FAO. 2003. Food energy : methods of analysis and conversion factors. FAO Food and Nutrition
Paper No. 77. Rome. Page 4
Doner, L.W., White, J.W. 1980. Honey Composition and Properties. Beekeeping In The United
States Agriculture Handbook Number 335. Philadelphia. Page 3,5,6