Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
ACTUATING DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN DAN HADITS

1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan yang merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan manusia
sudah semestinya mendapat perhatian penting dalam hal manejemennya. Pendidikan
yang baik merupakan tolok ukur bagi sebuah bangsa atau negara dalam hal kemajuan
yang dicapai tidak terkecuali dalam Islam
1
. Sedangkan manajemen pendidikan adalah
aktifitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai
tujuan pendidikan yang telah ditentukan.
Manajemen pendidikan merupakan suatu sistem pengelolaan dan penataan sumber
daya pendidikan, seperti tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat, kurikulum,
dana, sarana dan prasarana pendidikan, tata laksana, dan lingkungan. Pendapat yang lain
manajemen pendidikan dirumuskan sebagai mobilisasi segala sumber daya pendidikan
untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan
2
. Konteks masalah manajemen
pendidikan adalah manajemen yang diterapkan dalam pengembangan pendidikan. Dalam
arti, ia merupakan seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan Islam untuk
mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien.
Manajemen pendidikan lebih bersifat umum untuk semua aktifitas pendidikan
pada umumnya, sedangkan manajemen pendidikan Islam lebih khusus lagi mengarah
pada manajemen yang diterapkan dalam pengembangan pendidikan Islam. Pendidikan
Islam walaupun mengandung perincian terhadap manajemen pendidikan seperti yang
terkandung dalam manajemen pendidikan mutakhir, namun sudah pasti ia mengandung
berbagai prinsip umum yang menjadi dasar manajemen pendidikan Islam sehingga ia
sejalan dengan kemajuan dan perkembangan yang baik. Fokus manajemen sekolah
memfungsikan dan mengoptimalkan kemampuan menyusun rencana sekolah dan rencana
anggaran, mengelola sekolah berdasarkan rencana sekolah dan rencana anggaran, dan
memfungsikan masyarakat untuk berpartisipasi mengelola sekolah.
Peranan manajemen sangat ditentukan oleh fungsi-fungsi manajemen. Fungsi-
fungsi inilah yang menjadi inti dari manjemen itu sendiri. Fungsi-fungsi tersebut
merupakan poses yang harus dilaksanakan oleh semua pihak yang terlibat dalam sebuah

1
Sudjana, H.D Manajemen Program Pendidikan, Bandung: Falah Production, 2004, hlm.2
2
Puji Astutik, Makalah Pemikiran Filosofis Tentang manajemen Pendidikan Islam, 2007, hlm. 2

2

organisasi. Fungsi-fungsi ini pula yang menentukan berhasil dan tidaknya kinerja
manajemen. Mengenai fungsi manajemen ada empat macam yaitu: Perancanaan
(Planning), Pengorganisasian (Organizing), pelaksanaan (Actuating) dan pengawasan
( controlling).Dengan melihat paparan diatas, maka kami akan membahas tentang
actuating dalam perspektif Quran dan Hadis serta kaitannya dengan pendidikan.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan konteks masalah di atas, dapat diuraikan permasalahan-
permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana konsep actuating dalam Al-Quran dan Hadits ?
2. Bagaimana implementasi actuating dalam pendidikan?
























3

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ACTUATI NG ( Penggerakan/Pelaksanaan )

Menggerakkan (actuating) menurut Tery berarti merangsang anggota-anggota
kelompok melaksanakan tugas-tugas dengan antusias dan kemauan yang baik. Tugas
menggerakkan dilakukan oleh pemimpin. Oleh karena itu kepemimpinan kepala sekolah
mempunyai peranan penting dalam menggerakkan personal sekolah melaksanakan
program kerjanya.
Menurut Keith Davis, actuating adalah kemampuan membujuk orang-orang
mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dengan penuh semangat. Menggerakkan
dalam organisasi sekolah adalah merangsang guru dan personal sekolah lainnya
melaksanakan tugas dengan antusias dan kemauan yang baik untuk mencapai tujuan
dengan penuh semangat. Pemimpin yang efektif cenderung mempunyai hubungan dengan
bawahan yang sifatnya mendukung (suportif) dan meningkatkan rasa percaya diri
menggunakan kelompok membuat keputusan. Keefektifan kepemimpinan menunjukkan
pencapaian tugas pada rata-rata kemajuan, keputusan kerja, moral kerja, dan kontribusi
wujud kerja. Prinsip utama dalam penggerakan adalah bahwa perilaku dapat diatur,
dibentuk, atau diubah dengan sistem imbalan yang positif yang dikendalikan dengan
cermat.
Dalam melaksanakan tugas penggerakan kepala sekolah merencanakan cara untuk
memungkinkan guru, tenaga kependidikan dan personal sekolah lainnya secara teratur
mempelajari seberapa baik ia telah memenuhi tujuan sekolah yang spesifik dapat
meningkatkan mutu sekolah. Penggerakan yang dilakukan kepala sekolah ini dengan
pengakuan dan pujian atas prestasi kerja personal tersebut, karena ancaman atas
kesalahan yang dilakukan oleh para personalnya hanya akan berdampak buruk dan
negatif terhadap manajemen sekolah. Sanksi hanya akan diberikan, jika betul-betul ada
bukti dan tidak mungkin lagi untuk dibina,jauh efisien membentuk perilaku guru, tenaga
kependidikan, dan personal sekolah lainnya dengan menghargai hasil yang positif dan
member motivasi kearah yang positif pula.



4

B. ACTUATING DALAM PERSPEKTIF QURAN

1. Surat Al Kahfi 2


a. Arti Mufradat

: Bimbingan yang lurus


: Untuk memperingatkan

: Memberikan kabar gembira



b. Terjemah Ayat
Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih
dari sisi-Nya danmemberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang
mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik. (Q.S. Al
Kahfi 2).
3


c. Asbabun Nuzul

Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa ketika pertentangan pemikiran antara
Rasulullah saw. dan kaum Quraisy di Mekah semakin memanas, kaum Quraisy
meminta bantuan kepada orang Yahudi di Madinah. Kaum Quraisy mengutus Nadhir
bin Haritsah dan Uqbah bin Abi Mu'aith kepada para rabbi Yahudi untuk bertanya
pada mereka tentang kenabian Rasulullah SAW.
Sampai keduanya di sana kemudian berkata, "Kalian adalah Ahli Kitab
(Taurat), kami datang kepadamu agar kamu mengabarkan kami tentang sahabat kami
ini!" Para rabbi itu menjawab, "Tanyakan padanya tiga hal yang kami perintahkan,
jika ia mengetahui dua yang pertama dan tidak mengetahui yang ketiga, maka ia benar
seorang Nabi yang diutus, tetapi jika ia tidak dapat menjawabnya, berarti ia mengada-
ada, kemudian terserah kalian
Pertama, tanyakan tentang para pemuda yang pergi di masa lalu, apa yang
mereka lakukan, sesungguhnya mereka mengalami peristiwa yang menakjubkan.

3
Al-Quran surat Al Kahfi 2, Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahnya, tp.
tt. hlm. 443.
5

Kedua, tanyakan padanya tentang lelaki yang sering berkelana, ia telah
mengunjungi seluruh penjuru bumi.
Ketiga, tanyakan padanya tentang apa itu roh."
Keduanya lalu kembali kepada kaum Quraisy dan berkata, "Wahai
penduduk Quraisy, kami datang kepadamu dengan membawa pembeda antara kamu
dan Muhammad. Para rabbi Yahudi itu menyuruh kita agar menanyakannya tentang
hal-hal yang mereka perintahkan."
Mereka lalu datang kepada Rasulullah dan berkata, "Hai Muhammad, beri
tahukan kami tentang pemuda yang pergi pada masa lalu, mereka mempunyai kisah
yang menakjubkan, tentang laki-laki yang berkeliling ke seluruh penjuru dunia, dan
beritahukan kami tentang roh."
Maka Rasulullah menjawab, "Akan kujawab apa yang kamu tanyakan
besok."
Esok pun tiba, tetapi Jibril tidak datang memberi jawaban, lalu Rasulullah
SAW berdiam diri selama lima belas hari, tetapi wahyu Allah tidak kunjung datang.
Penduduk Mekah terguncang, terujilah keimanan mereka, dan mereka berkata,
"Muhammad telah berjanji kepada kita satu hari, dan hari ini telah lima belas hari,
tetapi Muhammad belum juga memberi tahu kita tentang hal itu." Sedihlah hati
Rasulullah saw. karena wahyu Allah belum juga sampai padanya. Beliau juga merasa
gelisah atas apa yang dikatakan oleh penduduk Mekah.
Rasa malu, takut dan sedih bercampur aduk menjadi satu. Penundaan
selama 15 hari turunnya ayat-ayat di maksud sudah cukup menjadi pelajaran yang
berharga bagi Rasulullah dan sekaligus menjadi pelajaran bagi umatnya.
Setelah 15 hari barulah surah Al Kahfi turun terdiri dari 110 ayat. Seluruh
pertanyaan-pertanyaan kaum Quraisy dan orang Yahudi ketika itu terjawab oleh surah
tersebut.
Banyak kaum yang mengatakan bahwa Al Quran itu adalah karangan
Muhammad. Entah tujuan apa mereka berkata demikan, apakah mereka bertujuan
untuk melemahkan iman kaum muslim ataukah untuk mengkritisi Al Quran.
Penundaan turunnya surah Al Kahfi adalah salah satu bukti jika Al Quran itu
bukan karangan Rasulullah.




6

d. Tafsir Ayat

Ayat kedua, kata qayyiman terambil dari kata qama yang berarti lurus, namun
biasa diterjemahkan berdiri. Di pangkal ayat ini, Sebagai bimbingan yang
lurus, merupakan penegasan dari ujung ayat pertama. Ingatlah bahwasanya surah Al-
Fatihah ayat 6 Tunjukilah kami jalan yang lurus, maka kita dalam shalat selalu
membaca dan memohon kepada Allah untuk ditunjukkan jalan yang lurus. Kandungan
Al-Qur'an yang mengandung al-Huda (petunjuk) sehingga tujuan kitab untuk
memperingatkan hamba-Nya yang menyeleweng, membengkok atau menempuh jalan
yang tidak qayyim. Ketika peringatan itu tidak disambut dengan baik (dilupakan),
maka Allah akan mengancam siksaan yang lebih pedih. Dan siksaan ini tidak main-
main artinya siksaan itu langsung datang dari Allah., sebagaimana siksaan umat-umat
terdahulu.

Demikianlah sifat-sifat Al-Quran itu. Dia diturunkan kepada Muhammad
SAW. agar beliau memperingatkan orang-orang kafir kepada azab yang besar dari
Tuhan, atas keingkaran mereka kepada Al-Quran. Dan supaya Rasul juga memberikan
kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal saleh bahwa
mereka akan memperoleh pahala yang besar dari pada Nya, atas keimanan mereka
kepada Allah dan Rasul Nya itu, serta amal kebajikannya selama hidup di dunia.
4

Dalam tafsir jalalain Imam Jalaluddin Al-Mahalli memberikan penafsiran
sebagai berikut, (Sebagai jalan yang lurus) bimbingan yang lurus; lafal Qayyiman
menjadi Hal yang kedua dari lafal Al-Kitab di atas tadi dan sekaligus mengukuhkan
makna yang pertama (untuk memperingatkan) menakut-nakuti orang-orang kafir
dengan Alquran itu (akan siksaan) akan adanya azab (yang sangat keras dari sisi-Nya)
dari sisi Allah (dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang
mengadakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik).
5

Pada ayat tersebut di atas ada beberapa kalimat yang merupakan
subtansi actuating, yaitu qoyyiman, yundiro, dan yubasyyiru. Memberikan bimbingan
merupakan hal pokok yang harus dilaksanakan oleh pimpinan dalam menciptakan
iklim kerjasama dalam sebuah tim untuk mencapai tujuan organisasi, selain itu
memberikan apresiasi atas keberhasilan dan peringatan akan potensi kegagalan apabila

4
http://sepenggalpengetahuan.blogspot.com/2011/08/hayati-10-ayat-surah-al-kahfi.html

5
Jalaludin al Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi, Tafsir Jalalain, Usaha Keluarga, Semarang,tt, hlm. 240
Juz 2.
7

tidak melaksanakan kegiatan sebagaimana yang telah direncanakan sebelumnya juga
tidak boleh dilupakan oleh seorang pimpinan. Tiga hal itulah yang merupakan isyarat
pelaksanaan actuating yang termaktub dalam surat al-Kahfi sebagai bagian dari
manajemen.

2. Surat Ali Imran 104


a. Arti Mufradat

: Golongan
: Menyeru, mengajak

: Menyuruh

: Mencegah

b. Tarjemah Ayat
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar .
merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Ali Imron 104).
6

Ma'ruf : segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar
ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

c. Asbabun Nuzul
Pada zaman jahiliyah sebelum Islam ada dua suku yaitu; Suku Aus dan
Khazraj yang selalu bermusuhan turun-temurun selama 120 tahun, permusuhan kedua
suku tersebut berakhir setelah Nabi Muhammad SAW mendakwahkan Islam kepada
mereka, pada akhirnya Suku Aus; yakni kaum Anshar dan Suku Khazraj hidup
berdampingan, secara damai dan penuh keakraban.
Suatu ketika Syas Ibn Qais seorang Yahudi melihat Suku Aus dengan Suku
Khazraj duduk bersama dengan santai dan penuh keakraban, padahal sebelumnya
mereka bermusuhan, Qais tidak suka melihat keakraban dan kedamaian mereka, lalu
dia menyuruh seorang pemuda Yahudi duduk bersama Suku Aus dan Khazraj untuk

6
Al-Quran surat Ali Imron ayat 104, Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan
Terjemahnya, tt.tp. hlm. 93.

8

menyinggung perang Buast yang pernah terjadi antara Aus dengan Khazraj lalu
masing-masing suku terpancing dan mengagungkan sukunya masing-masing, saling
caci maki dan mengangkat senjata, dan untung Rasulullah SAW yang mendengar
peristiwa tersebut segera datang dan menasehati mereka: Apakah kalian termakan
fitnah jahiliyah itu, bukankah Allah telah mengangkat derajat kamu semua dengan
agama Islam, dan menghilangkan dari kalian semua yang berkaitan dengan jahiliyah?.
Setelah mendengar nasehat Rasul, mereka sadar, menangis dan saling berpelukan.
Sungguh peristiwa itu adalah seburuk-buruk sekaligus sebaik-baik peristiwa
7
.

d. Tafsir Ayat

Jika min dalam ayat di atas (minkum) adalah min bayaniyah, maka dakwah
menjadi kewajiban setiap orang (individual), tapi jika min itu adalah min tabidhiyyah
(menyatakan sebagian) maka dakwah menjadi kewajiban secara kolektif atau secara
organisatoris.
Kedua perngertian itu dapat digunakan sekaligus. Untuk hal-hal yang mampu
dilakukan secara individual, dakwah menjadi kewajiban individual (fardhu ain),
sedangkan untuk hal-hal yang bisa dilakukan secara kolektif, maka dakwah menjadi
kewajiban kolektif atau secara organisatoris. Setiap orang wajib berdakwah, baik
secara aktif maupun secara pasif. Secara pasif dalam arti diri dan kehidupannya dapat
menjadi contoh hidup dari keluhuran dan keutamaan ajaran Islam.
Untuk mencapai maksud tersebut perlu adanya segolongan umat Islam yang
bergerak dalam bidang dakwah yang selalu memberi peringatan, bilamana nampak
gejala-gejala perpecahan dan penyelewengan. Karena itu pada ayat ini diperintahkan
agar supaya di antara umat Islam ada segolongan umat yang terlatih di bidang dakwah
yang dengan tegas menyerukan kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf
(baik) dan mencegah dari yang mungkar (keji).
Dengan demikian umat Islam akan terpelihara daripada perpecahan dan
infiltrasi pihak manapun. Menganjurkan berbuat kebaikan saja tidaklah cukup tetapi
harus dibarengi dengan menghilangkan sifat-sifat yang buruk. Siapa saja yang ingin
mencapai kemenangan. maka ia terlebih dahulu harus mengetahui persyaratan dan
taktik perjuangan untuk mencapainya, yaitu: kemenangan tidak akan tercapai

7
http://dyanz-kneights.blogspot.com/p/al-quran-surat-ali-imran-ayat-102-104.html

9

melainkan dengan kekuatan, dan kekuatan tidak akan terwujud melainkan dengan
persatuan.
Persatuan yang kokoh dan kuat tidak akan tercapai kecuali dengan sifat-sifat
keutamaan. Tidak terpelihara keutamaan itu melainkan dengan terpeliharanya agama
dan akhirnya tidak mungkin agama terpelihara melainkan dengan adanya dakwah.
Maka kewajiban pertama umat Islam itu ialah menggiatkan dakwah agar agama dapat
berkembang baik dan sempurna sehingga banyak pemeluk-pemeluknya.
Dengan dorongan agama akan tercapailah bermacam-macam kebaikan
sehingga terwujud persatuan yang kokoh kuat. Dari persatuan yang kokoh tersebut
akan timbullah kemampuan yang besar untuk mencapai kemenangan dalam setiap
perjuangan. Mereka yang memenuhi syarat-syarat perjuangan itulah orang-orang yang
sukses dan beruntung.
Kewajiban setiap individu berdakwah, disamping dinyatakan oleh ayat di atas
juga ditegaskan oleh Rasulullah SAW. Setelah menyampaikan pesan-pesan penting
dan mendasar dalam Haji Wada, Rasulullah bersabda:
Artinya: Maka hendaklah yang menyaksikan diantara kamu menyampaikan
kepada yang tidak hadir, karena boleh jadi yang hadir itu menyampaikannya kepada
orang yang lebih dalam mempertahatikannya daripada sebagian yang
mendengarkannya. (H.R. Bukhari)
Dalam kesempatan lain Rasulullah SAW menegaskan:
Artinya: Sampaikanlah yang (kamu terima) dariku, walaupun satu ayat
(H.R. Bukhari)
8


Abi Jafar Muhammad bin Jarir dalam tafsir al-thobari mentafsirkan ayat ini
sebagai berikut, yang dimaksud minkum dalam ayat ini adalah sebagian orang-orang
beriman. Hendaklah ada sebagian dari orang-orang yang beriman kelompok yang
mengajak manusia melaksanakan syariat yang diperintahkan Allah kepada hamba-
hambanya, mengajak manusia mengikuti nabi Muhammad SAW. dan agama yang
telah dibawanya dan mencegah dari kufur kepada Allah SWT. dan mendustakan nabi
Muhammad SAW. dan agama yang telah dibawanya dengan berjihad menggunakan
kekuatan sehingga mereka taat kepada Allah dan rasul-Nya.
9


8
http://tafsir-ali-imran.blogspot.com/2013/05/tafsir-surah-ali-imran-104.html
9
http://damanikblok.blogspot.com/2011/10/tafsir-alimran.html
10

Kemudian M. Quraisy Shihab mendefenisikan dakwah dalam ayat ini sebagai
seruan atau ajakan kepada keinsafan, atau usaha mengubah situasi kepada yang lebih
baik dan sempurna, baik terhadap pribadi maupun masyarakat.
10

Kaitannya dengan actuating surat Ali Imron ayat 104 mengandung beberapa
term yang termasuk dalam isu-isu manajemen.
Pertama adalah kataummatun, kata ummah merujuk pada teamwork atau
kelompok yang terorganisir yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
manajemen.
Kedua adalah kata yaduu yang berarti mengajak, dalam hal ini adalah
mengajak pada sebuah tujuan yang akan dicapai bersama.
Ketiga adalah kata yamuruuna, memberikan dan menjelaskan perintah untuk
melaksanakan tujuan-tujuan organisasi yang telah dituangkan dalam sebuah
perencanaan.
Keempat adalah katayanhauna, selain memberikan perintah actuating juga
mencakup pada koreksi atau memberikan rambu-rambu mengenai hal-hal yang harus
dicegah sebagaimana dalam kata yanhauna.


3. Surat An Nahl 125


a. Arti Mufradat
: Serulah (manusia)

: Hikmah

: Pelajaran yang baik

: Bantahlah mereka





10
M. Quraisy Shihab, Membumikan al-Quran, Bandung: Mizan, 1997, hlm. 194.

11

b. Terjemahan Ayat
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran
yang baik danbantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu
Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah
yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (Q.S. An Nahl 125).
11


c. Asbabun-nuzul
Para mufasir berbeda pendapat seputar sabab an-nuzul (latar belakang
turunnya) ayat ini. Al-Wahidi menerangkan bahwa ayat ini turun setelah Rasulullah
SAW. menyaksikan jenazah 70 sahabat yang syahid dalam Perang Uhud, termasuk
Hamzah, paman Rasulullah.
12
Al-Qurthubi menyatakan bahwa ayat ini turun di
Makkah ketika adanya perintah kepada Rasulullah SAW, untuk melakukan gencatan
senjata (muhadanah) dengan pihak Quraisy. Akan tetapi, Ibn Katsir tidak menjelaskan
adanya riwayat yang menjadi sebab turunnya ayat tersebut
13
.

Meskipun demikian,
ayat ini tetap berlaku umum untuk sasaran dakwah siapa saja, Muslim ataupun kafir,
dan tidak hanya berlaku khusus sesuai dengan sabab an- nuzul-nya (andaikata
ada sabab an-nuzul-nya). Sebab, ungkapan yang ada memberikan pengertian umum
14
.

Ini berdasarkan kaidah ushul :


Yang menjadi patokan adalah keumuman ungkapan, bukan kekhususan
sebab.
15


d. Tafsir Ayat
Pada ayat ini, Allah SWT. memberikan petunjuk tentang cara-cara melakuakn
dakwah serta sikap orang Islam terhadap orang-orang di luar Islam. Sebagian ulama
memahami bahwa ayat ini memberikan metode atau langkah dalam berdakwah.

11
Al-Quran surat An-Nahl ayat , Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan
Terjemahnya, tp. tt. hlm. 421.
12
Al-Wahidi, Al Wajid fi Tafsir Kitab Al Ajizi, Mawaqi At-Tafasir ,Mesir, tt, hal. 440.
13
Abu Al-Fida Ibn Umar Ibn Katsir, Tafsir Al-Quran Al Adzim, Tahqiq oleh Samy bin Muhammad
Salamah, Dar at-Thoyyibah Linasyri Wa Tawji, Madinah , 1420 H, Hal.613/IV.
14
Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Zubdah al-Itqn f Ulm al-Qurn, tp, tt, t-tp, hlm. 12;
15
As Sarkhasy, Ushul As Sarkhasy, Mawaqiu yasub, tt, t-tp, Hal.164/I.
12

Metode dakwah harus disesuaikan dengan sasaran dakwah
16
.

Dalam ayat ini ada tiga
kata kunci yang harus diperhatikan dalam melakukan dakwah.
Pertama kata al-hikmah yang sering diartikan bijaksana, yakni mengajak
dengan bijak.
Kedua kata al-mauidhoh al-hasanah yang secara umum diartikan sebagai
pengajaran atau pesan-pesan baik yang disampaikan sebagai nasihat.
Ketiga kata jaadil kata ini berasal dari kata jidaal yang bermakna diskusi atau
bukti-bukti yang mematahkan alas an dari orang lain dalam berdiskusi.
Dalam konteks actuating pada manajemen pendidikan Islam, ayat ini
menjelaskan makna pokok dari actuating itu sendiri yakni seruan atau ajakan untuk
mencapai sebuah tujuan, visi dan misi yang telah direncanakan dan dirumuskan
sebelumnya. Kemudian secara apik ayat ini memberikan gambaran teknis kepada
seorang manajer atau pimpinan dalam mengajak atau menggerakkan segenap
komponen dengan tiga metode pendekatan yaitu bil hikmah, al-mauidhoh al-hasanah
dan al-mujaadalah al-hasanah disesuaikan dengan kondisi dan tingkat intelektualitas
objek.


C. ACTUATI NG DALAM PERSPEKTIF HADIS

1. Hadist (Shahih Muslim 2585-66)


a. Arti Mufrodat

: saling kasih

: saling menyayang

: saling cinta

16
Lilis Fauziyah, dkk. Kebenaran Al-Quran dan Hadis, PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo,
2009, hlm. 3.

13

b. Terjemah Hadits
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Perumpamaan orang-orang
mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti
sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh
yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam
17
.

c. Makna Hadits
Perumpamaan rasulullah dalam menjelaskan tentang kasih sayang sesama
muslim sebagaimana sebuah tubuh, apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit
maka akan mempengaruhi kinerja dan fungsi anggota tubuh yang lain.
Kata

dan

apabila kita kaji dari segi kebasaan merupakan kata


yang mengandung arti musyarokah (melibatkan lebih dari satu
orang). Actuating adalah aktifitas yang melibatkan teamwork yang saling berhubungan
dan berkaitan untuk mencapai tujuan yang sama, apabila terjadi kegagalan dalam satu
tim maka akan berpengaruh pula pada tim yang lain. Tanggungjawab pimpinan adalah
untuk memberikan arahan, motivasi dan bimbingan dengan penuh kasih sayang dan
rasa cinta sedangkan anggota tim bertanggun jawab atas tugasnya masing-masing
untuk mencapai tujuan besar yang telah dirumuskan.

2. Hadist (Shahih Bukhori)



a. Arti Mufrodat

: orang yang mematuhi


: segolongan orang

17
http://takafullife.blogspot.com/2012/02/etimologi-pengertian-takaful.html

14

b. Terjemah Hadits
Perumpamaan orang yang mematuhi peraturan-peraturan Allah dengan
orang-orang yang melanggarnya adalah seperti segolongan orang yang berebutan
naik kapal/ perahu. Sebagian orang memperoleh tempat di bagian atas, dan sebagian
lagi dibagian bawah. Orang-orang yang menempati bagian bawah itu, jika hendak
mengambil air terpaksa melewati orang-orang yang diatas. Kata mereka, Bagaimana
kalau kita tembus saja lobang air di tempat kita sehingga kita tidak perlu
menyusahkan orang-oang diatas. Jika orang-orang yang berada diatas tadi
menyetujui rencana tadi, celakalah mereka. Dan jika mereka melarang, mereka akan
tertolong, dan semua isi kapal akan selamat.(HR. Al-Bukhori)

c. Makna Hadits
Hadits di atas menerangkan tentang sesuatu yang di terima bagi orang orang
yang menaati segala perintah dan larangan Allah serta orang yang mengingkarinya.
Yang mana orang yang menaati perintah dan larangan Allah ia akan selamat dan bagi
orang-orang yang mengingkarinya ia akan mengalami kerugian bagi dirinya. Dalam
firman-Nya di sebutkan Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah Allah,
maka sesungguhnya ia telah berbuat untuk keselamatan dirinya , dan barang siapa
yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi kerugian dirinya sendiri. Aspek
tarbawi dan actuating dalam hadits di atas adalah pentingnya saling menghormati dan
mengingatkan antara satu dengan yang lainnya dalam melaksanakan tugas agar
terlaksana dengan efektif dan efisien, karena actuating semua komponen sangat
berpengaruh dan saling mempengaruhi dalam pencapian tujuan


. D. IMPLEMENTASI ACTUATI NG DALAM PENDIDIKAN

Fungsi actuating merupakan bagian dari proses kelompok atau organisasi yang
tidak dapat dipisahkan. Adapun istilah yang dapat dikelompokkan ke dalam fungsi ini
adalah directing commanding, leading dan coordinating
18
.
Karena tindakan actuating sebagaimana tersebut di atas, maka proses ini juga
memberikan motivating, untuk memberikan penggerakan dan kesadaran terhadap dasar
dari pada pekerjaan yang mereka lakukan, yaitu menuju tujuan yang telah ditetapkan,

18
Jawahir Tanthowi, Unsur-unsur Manajemen Menurut Ajaran Al-Quran, Pustaka al-Husna, Jakarta:
1983, hlm. 71
15

disertai dengan memberi motivasi-motivasi baru, bimbingan atau pengarahan, sehingga
mereka bisa menyadari dan timbul kemauan untuk bekerja dengan tekun dan baik
19
.

Al-Quran dan hadist telah memberikan pedoman dasar yang jelas
mengenai actuating dalam manajemen pendidikan Islam yakni proses pembimbingan,
pengarahan ataupun memberikan peringatan dalam bentuk actuatingsebagaimana dalam
ayat dan hadits yang telah kami bahas dan sajikan secara sederhana di atas. Bimbingan
menurut Hadari Nawawi berarti memelihara, menjaga dan memajukan organisasi melalui
setiap personal, baik secara struktural maupun fungsional, agar setiap kegiatannya tidak
terlepas dari usaha mencapai tujuan
20
.
Dalam realitasnya, kegiatan bimbingan (actuating) dapat berbentuk sebagai
berikut :
1. Memberikan dan menjelaskan perintah
2. Memberikan petunjuk melaksanakan kegiatan
3. Memberikan kesempatan meningkatkan pengetahuan, keterampilan atau kecakapan dan
keahlian agar lebih efektif dalam melaksanakan berbagai kegiatan organisasi
4. Memberikan kesempatan ikut serta menyumbangkan tenaga dan fikiran untuk
memajukan organisasi berdasarkan inisiatif dan kreativitas masing-masing
5. Memberikan koreksi agar setiap personal melakukan tugas-tugasnya secara efisien.

Uraian di atas mengenai bimbingan actuating merupakan konsep yang
diberikan oleh Al-Quran dan Hadits dalam pelaksanaan manajemen pendidikan yang
siap untuk diimplementasikan dalam pelaksanaan pendidikan Islam untuk mencapai
tujuan pendidikan Islam yaitu saadah al daroin. Disinilah peran manajer atau kepala
sekolah sangat jelas dalam melaksanakan fungsinya, yakni selalu memberikan
bimbingan, arahan, koreksi serta memberikan kesempatan kepada semua organ yang
masuk didalamnya untuk mencapai tujuan dengan efektif dan efisien.






19
Muhammad Asrori Ardiansyah, Makalah Konsep Manajemen dalam Perspektif Al-Quran, UIN Malang,
hlm. 5
20
Hadari Nawawi, Administrasi Pendidikan, PT Gunung Agung, Jakarta: 1983, hlm.l. 36.

16

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Actuating merupakan usaha untuk menciptakan iklim kerja sama di antara staf
pelaksana program sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Fungsi aktuasi tidak terlepas dari fungsi manajemen lainnya. Fungsi penggerak dan
pelaksanaan dalam al-Quran dan Hadits di atas diistilahkan dengan member bimbingan,
motivating (membangkitkan motivasi), directing (memberikan arah),
influencing (mempengaruhi), commanding(memberikan komando atau perintah), dan
mengingatkan.
Implementasi actuating dalam manajemen pendidikan Islam dapat berbentuk
kegiatan memberikan dan menjelaskan perintah, memberikan petunjuk melaksanakan
kegiatan, memberikan kesempatan meningkatkan pengetahuan, keterampilan atau
kecakapan dan keahlian agar lebih efektif dalam melaksanakan berbagai kegiatan
organisasi, memberikan kesempatan ikut serta menyumbangkan tenaga dan fikiran untuk
memajukan organisasi berdasarkan inisiatif dan kreativitas masing-masing dan
memberikan koreksi agar setiap personal melakukan tugas-tugasnya secara efisien.

B. Penutup

Demikianlah makalah yang kami buat semoga ada manfaatnya bagi kami
terutama, dan umumnya kepada semuanya. Masukan dan saran sangat kami harapkan
demi perbaikan tulisan ini.











17

DAFTAR PUSTAKA

Abu Al-Fida Ibn Umar Ibn Katsir, Tafsir Al-Quran Al Adzim, Tahqiq oleh Samy
bin Muhammad Salamah, Dar at-Thoyyibah Linasyri Wa Tawji, Madinah , 1420 H.
Al-Wahidi, Al Wajid fi Tafsir Kitab Al Ajizi, Mawaqi At-Tafasir ,Mesir, tt.
As Sarkhasy, Ushul As Sarkhasy, Mawaqiu yasub, tt, t-tp.
http://sepenggalpengetahuan.blogspot.com/2011/08/hayati-10-ayat-surah-al-
kahfi.html
http://takafullife.blogspot.com/2012/02/etimologi-pengertian-takaful.html
Jalaludin al Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi, Tafsir Jalalain, Usaha Keluarga,
Semarang,tt.
Lilis Fauziyah, dkk. Kebenaran Al-Quran dan Hadis, PT Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri, Solo, 2009.
M. Quraisy Shihab, Membumikan al-Quran, Bandung: Mizan, 1997.
Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Zubdah al-Itqn f Ulm al-Qurn, tp, tt, t-tp.
Puji Astutik, Makalah Pemikiran Filosofis Tentang manajemen Pendidikan Islam,
2007. http://damanikblok.blogspot.com/2011/10/tafsir-alimran.html
Sudjana, H.D., Manajemen Program Pendidikan, Bandung: Falah Production, 2004.