Anda di halaman 1dari 3

Perang antara dari Dua Negara Eropa dan Rakyat Maluku: Sejarah Kolonial Awal

Kepulauan Banda dan Pulau Ambon


Scott Abel
Kepulauan Banda dan Pulau Ambon di Maluku, Indonesia sangat penting untuk
sejarah dunia. Kepulauan Maluku juga disebut kepulauan rempah-rempah karena bunga
pala, pala, dan cengkeh berasal dari Maluku. Kepulauan Banda adalah sepuluh pulau
kecil di Laut Banda. Sampai abad sembilan belas, Kepulauan Banda adalah satu-satunya
tempat yang menghasilkan bunga pala dan pala di dunia. Orang Portugis datang ke
Kepulauan Banda pada sekitar tahun 1512 dipimpin oleh Antonia dAbru. Mereka
menyebarkan agama Katholik kepada orang Banda dan mau membangun benteng di
Pulau Neira karena tentara bisa menembakkan meriam ke pulau lain dari pulau itu.
Orang Portugis dan orang Banda saling berperang untuk merebut daerah itu. Akan tetapi,
tidak ada yang berhasil. Pelaut Belanda mendatangi Banda pada tahun 1599 dan
membantu orang Banda. Mereka mengalahkan tentara Portugis. Orang Belanda tidak
keluar dari kepulauan Banda. Tetapi, orang Belanda membangun benteng dan pos
perdagangan di Pulau Neira. Orang Belanda lebih sulit dan lebih kuat daripada orang
Portugis di kepulauan Banda.
Serikat Hindia Belanda Timur melakukan perjanjian dengan orang kaya di
Kepulauan Banda untuk melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah. Meskipun
orang kaya menandatangani perjanjian, mereka masih melakukan perdagangan dengan
orang lain karena mereka perlu melakukan perdagangan untuk kehidupan. Orang Banda
membunuh empat puluh enam orang Belanda pada tahun 1609 ketika mereka mau
melakukan diplomasi untuk berbicara tentang perdagangan. Pedagang Inggris dari
Serikat Hindia Timur Inggris datang ke Kepulauan Banda untuk membeli rempah-rempah
dan membuat orang Belanda marah. Sampai pada tahun 1614, direktur-direktur di
Negara Belanda yang tergabung dalam Heeren XVII diperintahkan untuk menduduki
Kepulauan Banda. Sebelum tahun 1614, ada perang kecil, tetapi sesudah tahun itu ada
perang besar. Pada serangan ketiga, 240 tentara Belanda dan 23 tentara Jepang
menaklukkan Pulau Ai dan 400 orang Banda tewas atau tenggelam ketika berusaha
berenang ke Pulau Run.
Orang Inggris menduduki Pulau Run dan Nailaka dan melakukan perdagangan
dengan orang Lonthoir dan membangun kubu di Pulau Run utara. Gubernur jenderal
Belanda Jan Pieterzoon Coen mau menaklukkan Kepulauan Banda sehingga dia
mengirim 19 kapal, 1.655 tentara Eropa dan 286 tentara Asia ke tempat itu pada tahun
1620. Di Banda, 36 perahu menyertai armada kapal Belanda. Mereka menyerang
Kepulauan Banda dan orang kaya di Banda serta menawarkan perjanjian baru yang
memberikan Coen apa yang dia mau. Tetapi, orang Jepang diperintah oleh pemimpin-
pemimpin Belanda untuk membunuh 48 orang kaya dan menjadikan keluarga mereka,
yang berjumlah 789, budak dan mengirim mereka ke tempat lain. Orang Lonthoir
melarikan diri dari kejaran tentara Belanda ke gunung-gunung, tetapi mereka dikepung
oleh tentara dan banyak yang tewas. Banyak orang Banda memilih untuk bunuh diri dan
kelaparan daripada menyerah kepada pasukan Belanda. Setelah itu, mereka sedikit demi
sedikit membuat sampan dan keluar ke pulau lain. Dari jumlah 15.000 penduduk di
Kepulauan Banda, hanya ada 1.000 orang hidup dalam perang itu.
Orang Inggris menjaga beberapa orang Banda di Pulau Run, tetapi Coen memaksa
orang Banda di pulau itu untuk menandatangani perjanjian baru. Walaupun orang Inggris
mempunyai Pulau Run, orang Belanda menebang pohon pala di pulau itu karena mereka
mau melakukan monopoli dengan pala. Juga, orang Belanda membunuh pemimpin
Inggris. Serikat Hindia Inggris Timur tidak bisa menggunakan Pulau Run dan menukar
pulau itu dan tempat lain dengan Amsterdam Baru yang disebut modern New York pada
tahun 1667 melalui Perjanjian Breda.
Di Pulau Ambon, ada pos perdagangan dengan orang dari banyak negara.
Herman van Speult memerintah daerah itu dan menjabat sebagai gubernur Belanda.
Negara Inggris dan Negara Belanda mempunyai kerja sama dan boleh melakukan
perdagangan di Hindia Timur. Tetapi, ketika tentara Jepang bertanya tentang Benteng
Victoria di Ambon, dia disiksa oleh pemerintah VOC dan mengaku kalau tentara Jepang
dan Inggris merencanakan untuk menyerang benteng Belanda. Pemerintah Belanda
menyiksa kebanyakan orang Inggris di pos perdagangan di pulau itu dan mereka
mengaku. Walaupun empat orang Inggris dan dua orang Jepang diampuni, pemerintah
VOC menghukum mati sepuluh orang Inggris, termasuk pemimpinnya, sembilan orang
Jepang, dan satu orang Portugal atas tuduhan melakukan kudeta pada tanggal 9 Maret
1623.

Vincent Loth, Pioneers and Perkeniers: The Banda Islands in the 17
th
Century,
Cakalele 6 (1996).

D. K. Bassett, The Amboyna Massacre of 1623, Journal of Southeast Asian History,
1 (1960 Sept.).