Anda di halaman 1dari 62

Kromatografi lapis tipis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa


Pemisahanan tinta hitam dengan kromatografi lapis tipis
Kromatografi lapis tipis merupakan salah satu analisis
kualitatif dari suatu sampel yang ingin dideteksi dengan
memisahkan komponen-komponen sampel berdasarkan
perbedaan kepolaran.
[1]

Daftar isi
Prinsip
Prinsip kerjanya memisahkan sampel berdasarkan
perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang
digunakan.
[1]
Teknik ini biasanya menggunakan fase diam
dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan
dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan.
[1]
Larutan
atau campuran larutan yang digunakan dinamakan
eluen.
[1]
Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan
eluen maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak
tersebut.
[2]

[sunting] Visualisasi
Proses berikutnya dari kromatografi lapis tipis adalah
tahap visualisasi.
[1]
Tahapan ini sangat penting karena
diperlukan suatu keterampilan dalam memilih metode
yang tepat karena harus disesuaikan dengan jenis sampel
yang sedang di uji.
[1]
Salah satu yang dipakai adalah
penyemprotan dengan larutan ninhidrin.
[3]
Ninhidrin (2,2-
Dihydroxyindane-1,3-dione) adalah suatu larutan yang
akan digunakan untuk mendeteksi adanya gugus amina.
[3]

Apabila pada sampel terdapat gugus amina maka
ninhidrin akan bereaksi menjadi berwarna ungu.
[3]

Biasanya padatan ninhidirn ini dilarutkan dalam larutan
butanol.
[3]

[sunting] Nilai Rf
Jarak antara jalannya pelarut bersifat relatif.
[4]
Oleh
karena itu, diperlukan suatu perhitungan tertentu untuk
memastikan spot yang terbentuk memiliki jarak yang
sama walaupun ukuran jarak plat nya berbeda.
[4]
Nilai
perhitungan tersebut adalah nilai Rf, nilai ini digunakan
sebagai nilai perbandingan relatif antar sampel.
[4]
Nilai Rf
juga menyatakan derajat retensi suatu komponen dalam
fase diam sehingga nilai Rf sering juga disebut faktor
retensi.
[4]
Nilai Rf dapat dihitung dengan rumus
berikut
[4]
:
Rf = Jarak yang ditempuh substansi/Jarak yang ditempuh
oleh pelarut
Semakin besar nilai Rf dari sampel maka semakin besar
pula jarak bergeraknya senyawa tersebut pada plat
kromatografi lapis tipis.
[5]
Saat membandingkan dua
sampel yang berbeda di bawah kondisi kromatografi yang
sama, nilai Rf akan besar bila senyawa tersebut kurang
polar dan berinteraksi dengan adsorbent polar dari plat
kromatografi lapis tipis.
[5]

Nilai Rf dapat dijadikan bukti dalam mengidentifikasikan
senyawa.
[5]
Bila identifikasi nilai Rf memiliki nilai yang
sama maka senyawa tersebut dapat dikatakan memiliki
karakteristik yang sama atau mirip.
[5]
Sedangkan, bila
nilai Rfnya berbeda, senyawa tersebut dapat dikatakan
merupakan senyawa yang berbeda.
[5]

[sunting] Referensi
1. ^
a

b

c

d

e

f
(Inggris) Skoog DA, West DM, Holler FJ.
1996. Fundamentals of Analytical Chemistry. 7th
edition. New York: Saunders College Publishing.
Hal. 17-25.
2. ^ (Inggris) Clark J. 2007. Thin layer
chromatography [terhubung berkala].
http://www.chemguide.co.uk/analysis/chromatograph
y/thinlayer.html [3 Mar 2010].
3. ^
a

b

c

d
(Inggris) Kaiser E, Colescott RL, Bossinger
CD, Cook PI. 1970. Color test for detection of free
terminal amino groups in the solid-phase synthesis of
peptides. Anal Biochem 34:595-598.
4. ^
a

b

c

d

e
(Inggris) Feist P. 2010. TLC - Retention
Factor (Rf). [terhubung berkala]
http://orgchem.colorado.edu/hndbksupport/TLC/TLC
rf.html [15 Mei 2010].
5. ^
a

b

c

d

e
(Inggris) Lipsy P. 2010. Thin Layer
Chromatography Characterization of the Active
Ingredients in Excedrin and Anacin. USA:
Department of Chemistry and Chemical Biology,
Stevens Institute of Technology.




Kromatografi Lapis Tipis
Ditulis oleh Jim Clark pada 06-10-2007
Bagian ini merupakan pengantar ke topik kromatografi
lapis tipis. Meskipun anda adalah seorang pemula yang
mungkin lebih mengenal kromatografi kertas,
penjelasantentang kromatografi lapis tipis sama
mudahnya dengan kromatografi kertas.
Pelaksanaan kromatografi lapis tipis
Latar Belakang

Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi
campuran menjadi komponen-komponennya. Seluruh
bentuk kromatografi berkerja berdasarkan prinsip ini.

Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa
padatan, atau kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak
(berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase
diam dan membawa komponen-komponen yang terdapat
dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda
bergerak pada laju yang berbeda. Kita akan membahasnya
lebih lanjut.

Pelaksaanan kromatografi lapis tipis menggunakan
sebuah lapis tipis silika atau alumina yang seragam pada
sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik yang keras.

Jel silika (atau alumina) merupakan fase diam. Fase diam
untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga
mengandung substansi yang mana dapat berpendarflour
dalam sinar ultra violet, alasannya akan dibahas
selanjutnya. Fase gerak merupakan pelarut atau campuran
pelarut yang sesuai.

Kromatogram

Kita akan mulai membahas hal yang sederhana untuk
mencoba melihat bagaimana pewarna tertentu dalam
kenyataannya merupakan sebuah campuran sederhana
dari beberapa pewarna.

Sebuah garis menggunakan pinsil digambar dekat bagian
bawah lempengan dan setetes pelarut dari campuran
pewarna ditempatkan pada garis itu. Diberikan penandaan
pada garis di lempengan untuk menunjukkan posisi awal
dari tetesan. Jika ini dilakukan menggunakan tinta,
pewarna dari tinta akan bergerak selayaknya
kromatogram dibentuk.

Ketika bercak dari campuran itu mengering, lempengan
ditempatkan dalam sebuah gelas kimia bertutup berisi
pelarut dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Perlu
diperhatikan bahwa batas pelarut berada di bawah garis
dimana posisi bercak berada.

Alasan untuk menutup gelas kimia adalah untuk
meyakinkan bawah kondisi dalam gelas kimia
terjenuhkan oleh uap dari pelarut. Untuk mendapatkan
kondisi ini, dalam gelas kimia biasanya ditempatkan
beberapa kertas saring yang terbasahi oleh pelarut.
Kondisi jenuh dalam gelas kimia dengan uap mencegah
penguapan pelarut.

Karena pelarut bergerak lambat pada lempengan,
komponen-komponen yang berbeda dari campuran
pewarna akan bergerak pada kecepatan yang berbeda dan
akan tampak sebagai perbedaan bercak warna.

Gambar menunjukkan lempengan setalah pelarut bergerak
setengah dari lempengan.

Pelarut dapat mencapai sampai pada bagian atas dari
lempengan. Ini akan memberikan pemisahan maksimal
dari komponen-komponen yang berwarna untuk
kombinasi tertentu dari pelarut dan fase diam.

Perhitungan nilai R
f


Jika anda ingin mengetahui bagaimana jumlah perbedaan
warna yang telah terbentuk dari campuran, anda dapat
berhenti pada bahasan sebelumnya. Namun, sering kali
pengukuran diperoleh dari lempengan untuk memudahkan
identifikasi senyawa-senyawa yang muncul. Pengukuran
ini berdasarkan pada jarak yang ditempuh oleh pelarut
dan jarak yang tempuh oleh bercak warna masing-masing.

Ketika pelarut mendekati bagian atas lempengan,
lempengan dipindahkan dari gelas kimia dan posisi
pelarut ditandai dengan sebuah garis, sebelum mengalami
proses penguapan.

Pengukuran berlangsung sebagai berikut:

Nilai R
f
untuk setiap warna dihitung dengan rumus
sebagai berikut:
R
f
=jarak yang ditempuh oleh komponen
jarak yang ditempuh oleh pelarut

Sebagai contoh, jika komponen berwarna merah bergerak
dari 1.7 cm dari garis awal, sementara pelarut berjarak 5.0
cm, sehingga nilai R
f
untuk komponen berwarna merah
menjadi:

Jika anda dapat mengulang percobaan ini pada kondisi
yang tepat sama, nilai R
f
yang akan diperoleh untuk setiap
warna akan selalu sama. Sebagai contoh, nilai R
f
untuk
warna merah selalu adalah 0.34. Namun, jika terdapat
perubahan (suhu, komposisi pelarut dan sebagainya), nilai
tersebut akan berubah. Anda harus tetap mengingat teknik
ini jika anda ingin mengidentifikasi pewarna yang
tertentu. Mari kita lihat bagaimana menggunakan
kromatografi lapis tipis untuk menganalisis pada bagian
selanjutnya.
Bagaimana halnya jika substansi yang ingin anda
analisis tidak berwarna?

Ada dua cara untuk menyelesaikan analisis sampel yang
tidakberwarna.

Menggunakan pendarflour

Mungkin anda masih ingat apa yang telah saya sebutkan
bahwa fase diam pada sebuah lempengan lapis tipis
seringkali memiliki substansi yang ditambahkan
kedalamnya, supaya menghasilkan pendaran flour ketika
diberikan sinar ultraviolet (UV). Itu berarti jika anda
menyinarkannya dengan sinar UV, akan berpendar.

Pendaran ini ditutupi pada posisi dimana bercak pada
kromatogram berada, meskipun bercak-bercak itu tidak
tampak berwarna jika dilihat dengan mata. Itu berarti
bahwa jika anda menyinarkan sinar UV pada lempengan,
akan timbul pendaran dari posisi yang berbeda dengan
posisi bercak-bercak. Bercak tampak sebagai bidang kecil
yang gelap.

Sementara UV tetap disinarkan pada lempengan, anda
harus menandai posisi-posisi dari bercak-bercak dengan
menggunakan pinsil dan melingkari daerah bercak-bercak
itu. Seketika anda mematikan sinar UV, bercak-bercak
tersebut tidak tampak kembali.

Penunjukkan bercak secara kimia

Dalam beberapa kasus, dimungkinkan untuk membuat
bercak-bercak menjadi tampak dengan jalan
mereaksikannya dengan zat kimia sehingga menghasilkan
produk yang berwarna. Sebuah contoh yang baik adalah
kromatogram yang dihasilkan dari campuran asam amino.

Kromatogram dapat dikeringkan dan disemprotkan
dengan larutan ninhidrin. Ninhidrin bereaksi dengan
asam amino menghasilkan senyawa-senyawa berwarna,
umumnya coklat atau ungu.

Dalam metode lain, kromatogram dikeringkan kembali
dan kemudian ditempatkan pada wadah bertutup (seperti
gelas kimia dengan tutupan gelas arloji) bersama dengan
kristal iodium.

Uap iodium dalam wadah dapat berekasi dengan bercak
pada kromatogram, atau dapat dilekatkan lebih dekat pada
bercak daripada lempengan. Substansi yang dianalisis
tampak sebagai bercak-bercak kecoklatan.
Dalam metode lain, kromatogram dikeringkan kembali
dan kemudian ditempatkan pada wadah bertutup (seperti
gelas kimia dengan tutupan gelas arloji) bersama dengan
kristal iodium.

Uap iodium dalam wadah dapat berekasi dengan bercak
pada kromatogram, atau dapat dilekatkan lebih dekat pada
bercak daripada lempengan. Substansi yang dianalisis
tampak sebagai bercak-bercak kecoklatan.

Penggunaan kromatografi lapis tipis untuk
mengidentifikasi senyawa-senyawa

Anggaplah anda mempunyai campuran asam amino dan
ingin menemukan asam amino-asam amino tertentu yang
terkandung didalam campuran tersebut. Untuk
sederhananya, mari kira berasumsi bahwa anda
mengetahui bahwa campuran hanya mungkin
mengandung lima asam amino.

Setetes campuran ditempatkan pada garis dasar
lempengan lapis tipis dan bercak-bercak kecil yang serupa
dari asam amino yang telah diketahui juga ditempatkan
pada disamping tetesan yang akan diidentifikasi.
Lempengan lalu ditempatkan pada posisi berdiri dalam
pelarut yang sesuai dan dibiarkan seperti sebelumnya.
Dalam gambar, campuran adalah M dan asam amino yang
telah diketahui ditandai 1-5.

Bagian kiri gambar menunjukkan lempengan setelah
pelarut hampirmencapai bagian atas dari lempengan.
Bercak-bercak masih belum tampak. Gambar kedua
menunjukkan apa yang terjadi setelah lempengan
disemprotkan ninhidrin.
s
Tidak diperlukan menghitung nilai Rf karena anda dengan
mudah dapat membandingkan bercak-bercak pada
campuran dengan bercak dari asam amino yang telah
diketahui melalui posisi dan warnanya.

Dalam contoh ini, campuran mengandung asam amino 1,
4 dan 5.

Bagaimana jika campuran mengandung lebih banyak
asam amino daripada asam amino yang digunakan
sebagai perbandingan? Ini memungkinkan adanya bercak-
bercak dari campuran yang tidak sesuai dengan asam
amino yang dijadikan perbandingan itu. Anda sebaiknya
mengulangi eksperimen menggunakan asam amino lain
sebagai perbandingan.
Bagaimana kromatografi lapis tipis berkerja?

Fase diam-jel silika

Jel silika adalah bentuk dari silikon dioksida (silika).
Atom silikon dihubungkan oleh atom oksigen dalam
struktur kovalen yang besar. Namun, pada permukaan jel
silika, atom silikon berlekatan pada gugus -OH.
Jadi, pada permukaan jel silika terdapat ikatan Si-O-H
selain Si-O-Si. Gambar ini menunjukkan bagian kecil dari
permukaan silika.

Permukaan jel silika sangat polar dan karenanya gugus -
OH dapat membentuk ikatan hidrogen dengan senyawa-
senyawa yang sesuai disekitarnya, sebagaimana halnya
gaya van der Waals dan atraksi dipol-dipol..
Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah alumina-
aluminium oksida. Atom aluminium pada permukaan juga
memiliki gugus -OH. Apa yang kita sebutkan tentang jel
silika kemudian digunakan serupa untuk alumina.

Apa yang memisahkan senyawa-senyawa dalam
kromatogram?

Ketika pelarut mulai membasahi lempengan, pelarut
pertama akan melarutkan senyawa-senyawa dalam bercak
yang telah ditempatkan pada garis dasar. Senyawa-
senyawa akan cenderung bergerak pada lempengan
kromatografi sebagaimana halnya pergerakan pelarut.

Bagaimana cepatnya senyawa-senyawa dibawa bergerak
ke atas pada lempengan, tergantung pada:
Bagaimana kelarutan senyawa dalam pelarut. Hal ini
bergantung pada bagaimana besar atraksi antara
molekul-molekul senyawa dengan pelarut.
Bagaimana senyawa melekat pada fase diam,
misalnya jel silika. Hal ini tergantung pada
bagaimana besar atraksi antara senyawa dengan jel
silika.
Anggaplah bercak awal mengandung dua senyawa, yang
satu dapat membentuk ikatan hidrogen, dan yang lainnya
hanya dapat mengambilbagian interaksi van der Waals
yang lemah.

Senyawa yang dapat membentuk ikatan hidrogen akan
melekat pada jel silika lebih kuat dibanding senyawa
lainnya. Kita mengatakan bahwa senyawa ini terjerap
lebih kuat dari senyawa yang lainnya. Penjerapan
merupakan pembentukan suatu ikatan dari satu substansi
pada permukaan.

Penjerapan bersifat tidak permanen, terdapat pergerakan
yang tetap dari molekul antara yang terjerap pada
permukaan jel silika dan yang kembali pada larutan dalam
pelarut.

Dengan jelas senyawa hanya dapat bergerak ke atas pada
lempengan selama waktu terlarut dalam pelarut. Ketika
senyawa dijerap pada jel silika-untuk sementara waktu
proses penjerapan berhenti-dimana pelarut bergerak tanpa
senyawa. Itu berarti bahwa semakin kuat senyawa dijerap,
semakin kurang jarak yang ditempuh ke atas lempengan.

Dalam contoh yang sudah kita bahas, senyawa yang dapat
membentuk ikatan hidrogen akan menjerap lebih kuat
daripada yang tergantung hanya pada interaksi van der
Waals, dan karenanya bergerak lebih jauh pada
lempengan.

Bagaimana jika komponen-komponen dalam campuran
dapat membentuk ikatan-ikatan hidrogen?

Terdapat perbedaan bahwa ikatan hidrogen pada tingkatan
yang sama dan dapat larut dalam pelarut pada tingkatan
yang sama pula. Ini tidak hanya merupakan atraksi antara
senyawa dengan jel silika. Atraksi antara senyawa dan
pelarut juga merupakan hal yang penting-hal ini akan
mempengaruhi bagaimana mudahnya senyawa ditarik
pada larutan keluar dari permukaan silika.

Bagaimanapun, hal ini memungkinkan senyawa-senyawa
tidak terpisahkan dengan baik ketika anda membuat
kromatogram. Dalam kasus itu, perubahan pelarut dapat
membantu dengan baik-termasukmemungkinkan
perubahan pH pelarut.

Ini merupakan tingkatan uji coba ? jika satu pelarut atau
campuran pelarut tidak berkerja dengan baik, anda
mencoba pelarut lainnya. (Berikan tingkatan dimana anda
dapat berkerja, seseorang telah berkerja keras untuk anda
dan anda hanya menggunakan campuran pelarut yang
telah anda berikan dan segala sesuatunya akan berkerja
dengan sempurna!)








Kromatografi Lapis Tipis (Thin
Layer Chromatography)
Posted by: rgmaisyah on: Oktober 10, 2009
In: Chemistry | PhytOcHemistrY
Comment!
Kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan oleh
Izmailoff dan Schraiber pada tahun 1938. KLT
merupakan bentuk kromatografi planar, selain
kromatografi kertas dan elektroforesis. Berbeda debgan
kromatografi kolom yang mana fase diamnya diisikan
atau dikemas di dalamnya, pada kromatografi lapis tipis,
fase diamnya berupa lapisan yang seragam (uniform) pada
permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng
kaca, pelat aluminium atau pelat plastik. Meskipun
demikian, kromatografi planar ini dapat dikatakan sebagai
bentuk terbuka dari kromatografi kolom.
(1)

Kromatografi digunakan sebagai untuk memisahkan
substansi campuran menjadi komponen-komponennya,
misalnya senyawa Flavonoida dan isoflavonoida yang
terdapat pada tahu, tempe, bubuk kedelai dan tauco serta
Scoparia dulcis, Lindernia anagalis, dan Torenia
violacea. Yang pada senyawa isoflavon memiliki banyak
manfaat. Beberapa kelebihan senyawa isoflavon yang
potensial bagi kesehatan manusia, di antaranya adalah
sebagai antioksidan, antitumor / antikanker,
antikolesterol, antivirus, antialergi, dan dapat mencegah
osteoporosis.
(2)

Fase gerak yang dikenal sebagai pelarut pengembang
akan bergerak sepanjang fase diam karena pengaruh
kapiler pada pengembangan secara menaik (ascending)
atau karena pengaruh gravitasi pada pengembangan
secara menurun (descending).
(1)

Kromatografi lapis tipis dalam pelaksanaannya lebih
mudah dan lebih murah dibandingkan dengan
kromatografi kolom. Demikian juga peralatan yang
digunakan. Dalam kromatografi lapis tipis, peralatan yang
digunakan lebih sederhana dan dapat dikatakan hampir
semua laboratorium dapat melaksanakan setiap saat
secara cepat.
(1)

Beberapa keuntungan dari kromatografi planar ini :
(1)

Kromatografi lapis tipis banyak digunakan untuk
tujuan analisis.
Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan
dengan pereaksi warna, fluorosensi atau dengan
radiasi menggunakan sinar ultraviolet.
Dapat dilakukan elusi secara menaik (ascending),
menurun (descending), atau dengan cara elusi 2
dimensi.
Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena
komponen yang akan ditentukan merupakan bercak
yang tidak bergerak.
Referensi :
1. Ibnu Gholib Gandjar. Abdul Rohman. 2007. Kimia
Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
2. Kromatografi Lapis Tipis. 2009.
http://greenhati.blogspot.com/2009/01/kromatografi-
lapis-tipis.html . diakses 1 Oktober 2009.
3. Roy J. Gritter, James M. Bobbit, Arthur E. S., 1991.
Pengantar Kromatografi. Penerbit ITB. Bandung.
4. Kromatografi Lapis Tipis. 2009. http://www.chem-is-
try.org/materi_kimia/instrumen_analisis/kromatografi
1/kromatografi_lapis_tipis/ . Diakses 3 Oktober 2009.







KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR PEMISAHAN
ANALITIK


PERCOBAAN

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS




NAMA : RADEN ALIP RAHARJO


STAMBUK : A1C4 08 027


KELOMPOK :




LABORATORIUM PENGEMBANGAN UNIT KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS HALUOLEO


KENDARI


2010
KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

I. Tujuan dan Prinsip Percobaan
A. Tujuan Praktikum
a. Dapat mengetahui dan memahami tehnik pemisahan
dengan metode kromatografi lapis tipis.
b. Dapat melakukan pemisahan logam logam Pb2+,
Ag+, Mn2+, Hg2 atau protein/ karbohidrat dalam
campuran larutan dengan tehnik kromatografi lapis tipis.
Dapat menentukan Rf komponen komponen yang
dipisahkan dan mengidentifikasi zat yang dipisahkan

B. Prinsip Percobaan
Pemisahan dengan tehnik kromatografi lapis tipis
didasarkan pada adsorpsi larutan (fase gerak atau
eluennya) terhadap adsorbens yang di gunakan, dimana
Adsorbens dilapiskan pada lempeng kaca yang bertindak
sebagai penunjang fase diamnya.

II. Teori
Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah suatu tehnik yang
sederhana dan banyak digunakan. Metode ini
menggunakan lempeng kaca atau lembaran plastik yang
ditutupi penyerap untuk lapisan tipis dan kering bentuk
silika gel, alomina, selulosa dan polianida. Untuk
menotolkan larutan cuplikan pada lempeng kaca, pada
dasarnya dgunakan mikro pipet/ pipa kapiler. Setelah itu,
bagian bawah dari lempeng dicelup dalam larutan
pengulsi di dalam wadah yang tertutup (Chamber) (Rudi,
2010)

Pemisahan campuran dengan cara kromatografi
didasarkan pada perbedaan kecepatan merambat antara
partikel-partikel zat yang bercampur pada medium
tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari pemisahan secara
kromatografi dapat kita temui pada rembesan air pada
dinding yang menghasilkan garis-garis dengan jarak
ternentu.



Tinta hitam merupakan campuran beberapa warna. Kita
dapat memisahkan campuran warna tersebut dengan
cara kromatografi. Pemisahan warna tinta dapat
dilakukan seperti pada Gambar 18, dengan tahap-tahap
sebagai berikut:
- Tinta diteteskan pada ujung kertas saring (1,5 cm dari
ujung)
- Tinta dibiarkan hingga mengering
- Ujung kertas saring dimasukkan dalam air sedalam 1 cm
dan kertas saring dipasang tegak
- Air akan merambat naik
- Tinta akan ikut merambat naik dan memisah menjadi
beberapa
Warna ( Sukarmin , 2004)

Kromatografi adalah Suatu metoda untuk separasi yang
menyangkut komponen suatu contoh di mana komponen
dibagi-bagikan antara dua tahap, salah satu yang mana
adalah keperluan selagi gerak yang lain . Di dalam gas
chromatography adalah gas mengangsur suatu cairan
atau tahap keperluan padat. Di dalam cairan
chromatography adalah campuran cairan pindah
gerakkan melalui cairan yang lain , suatu padat, atau
suatu 'gel' agar. Mekanisme separasi komponen mungkin
adalah adsorpsi, daya larut diferensial, ion-exchange,
penyebaran/perembesan, atau mekanisme lain (David.
2001)

adsorpsi Chromatography telah membantu untuk
menandai komposisi kelompok minyak mentah dan
produk hidrokarbon sejak permulaan abad ini. Jenis dan
sanak keluarga jumlah kelas hidrokarbon tertentu di
(dalam) acuan/matriks dapat telah a efek dalam pada
atas pencapaian dan mutu dari produk hidrokarbon dan
dua orang metoda test standard telah digunakan
sebagian besar dari tahun ke tahun ( ASTM D2007, ASTM
D4124). adsorpsi indikator Yang berpijar ( FIA) metoda (
ASTM D1319) telah melayani untuk di atas 30 tahun
sebagai metoda pejabat dari minyak tanah industri untuk
mengukur yang mengandung parafin, olefinic, dan isi
bahan bakar pancaran dan bensin berbau harum. Teknik
terdiri dari dalam pemindahan a mencicip di bawah iso-
propanol memaksa melalui suatu kolom tanah kerikil 'gel'
agar-agar ramai; sesak di (dalam) kehadiran tentang
indikator berpijar dikhususkan untuk masing-masing
keluarga hidrokarbon. Di samping penggunaan tersebar
luas nya, adsorpsi indikator berpijar mempunyai banyak (
Speight, 2006)

Penentuan jumlah komponen senyawa dapat dideteksi
dengan kromatografi lapis tipis (KLT) dengan
menggunakan plat KLT yang sudah siap pakai. Terjadinya
pemisahan komponen-komponen pada KLT dengan Rf
tertentu dapat dijadikan sebagai panduan untuk
memisahkan komponen kimia tersebut dengan
menggunakan kolom kromatografi dan sebagai fasa diam
dapat digunakan silika gel dan eluen yang digunakan
berdasarkan basil yang diperoleh dari KLT dan akan lebih
baik kalau kepolaraan eluen pada kolom kromatografi
sedikit dibawah kepolaran eluen pada KLT (Lenny, 2006)

Pada hakekatnya KLT merupakan metoda kromatografi
cair yang melibatkan dua fasa yaitu fasa diam dan fasa
gerak. Fasa geraknya berupa campuran pelarut
pengembang dan fasa diamnya dapat berupa serbuk
halus yang berfungsi sebagai permukaan penyerap
(kromatografi cair-padat) atau berfungsi sebagai
penyangga untuk lapisan zat cair (kromatografi cair-cair).
Fasa diam pada KLT sering disebut penyerap walaupun
berfungsi sebagai penyangga untuk zat cair di dalam
sistem kromatografi cair-cair. Hampir segala macam
serbuk dapat dipakai sebagai penyerap pada KLT,
contohnya silika gel (asam silikat), alumina (aluminium
oksida), kiselgur (tanah diatomae) dan selulosa. Silika gel
merupakan penyerap paling banyak dipakai dalam KLT
(Iskandar, 2007)


III. Metode Praktikum
A. Alat dan bahan yang digunakan
Alat alat yang digunakan pada praktikum ini adalah
a. Cahmber 2 buah
b. Plat KLT
c. Slinder Kaca
d. Pipet volume 25 mL
e. Pipet Tetes
f. Penotol 3 batang
g. Filler atau Sprayer
h. Mistar
i. Pensil
j. Benang

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah
a. Untuk Pemisahan ion Logam
Cuplikan yang mengandung ion ion Pb2+, Mn2+, Hg2+
Larutan standar dalam bentuk klorida: Pb2+, Ag+, Mn2+,
Hg2 (4 mg/mL)
Fase gerak (campuran Etil aseto asetat 10% + Butanol
75% + aquades 15% + asam asetat glacial sampai pH 3,5
5 atau Piridin + aquades (10:1).
Penampak noda larutan K2CrO4 1 M (dielusi ulang)
b. Untuk Pemisahan Karbohidrat
Cuplikan yang mengandung campuran karbohidrat
(glukosa, fruktosa, laktosa, dan sukrosa)
Larutan standar karbohidrat yang akan dipisahkan
masing masing dengan konsentrasi 4 mg/mL
Larutan penampak: asam sulfat 10% (disemprot)
Larutan eluen, campuran aseton + air (9:1)





C. Pembahasan

Analisis kuantitatif dengan KLT ada dua macam. Yang
pertama noda cuplikan setelah dikembangkan diukur
langsung luasnya atau kerapatannya (density). Secara
manual atau menggunakan alat alat yang disebut
densitometer. Tehnik ini disebut evaluasi in one. Luas
atau kerapatan noda dibandingkan dengan kerapatan
noda senyawa standar yang telah diketahui
konsentrasinya. Cara yang kedua, noda diambil dengan
cara dikerok atau diisap dengan suatu alat kemudian
dilarutkan dalam suatu pelarut dan larutan terakhir
diamati dengan spectrometer UV vis atau ditimbang
(gravimetric) setelah pelarut diuapkan. Cara gravimetric
hanya dapat dilakukan apabila jumlah cuplikan cukup
besar. Cara ini tidak membutuhkan standar pembanding.

Pada percobaan ini, tehnik kromatografi lapis tipis yang
digunakan adalah suatu plat tipis (aluminium) yang
berfungsinya untuk tempat berjalannya adsorbens
sehingga proses migrasi analit oleh solventnya bisa
berjalan. Hal ini Inilah yang membedakan antara
kromatografi kertas dengan kromatografi lapis tipis. Yang
dimana pada KLT menggunakan plat tipis sedangkan
pada KK menggunakan kertas (lapisan selulosa) sehingga
proses elusinya lebih lama (kira kira 10 20 menit lebih
lama dari KLT). Perbedaan lainnya dari kedua
kromatografi tersebut adalah pembentukan noda pada
adsorbensnya dimana pada KLT noda yang dihasilkan
lebih tajam dibandingkan noda yang nampak dalam KK.
Hal ini disebabkan pada KK penyusun dari adsorbens
berupa selulosa yang dapat mengikat air, sehingga ketika
dielusi dengan suatu pelarut atau fase gerak maka noda
yang dihasilkan mengalami penyebaran akibat
terdapatnya gugus OH dalam adsorbens yang masih
tertingal dalam fase diamnya sehingga penampakan
nodanya terlihat lebih pudar dan bentuk nodanya tidak
bulat. Sedangkan dalam KLT adsorbens yang digunakan
berupa slika gel (SiO2) yang tidak mengikat molekul air,
sehingga noda yang tercipta lebih terfokus dan tajam.

Pada percobaan ini, adsorbens yang digunakan bukan
slika gel tetapi justru selulosa yang dilapisi plat tipis
(aluminuium). Dimana sifat adsorbens selulosa pada KLT
mempunyai sifat sebagai penukar ion, sehingga keadaan
ini akan berdampak pada penampakan noda yang
nantinya akan diamati dalam KLT ini, dimana ion ion
dalam sample dipertukarkan sehingga penentuan
komponen yang terpisah akan sulit di tentukan. Hal inilah
yang menjadi salah satu penyebab sampai tidak
munculnya warna noda pada KLT dalam percobaan ini.
Sedangkan faktor penyebab lainnya disebut dengan
faktor yang mempengaruhi nilai Rf pada KLT seperti
kualitas adsorben, ketebalan lapisan, kejenuhan ruang
kromatografi, tehnik pengembangan (elusi), suhu, dan
kualitas pelarut.

Penentuan nilai Rf suatu standar analit pada KLT pada
dasarnya sama dengan penentuan nilai Rf dalam KK,
dimana nilai Rf ditentukan dengan membandingkan jarak
noda yang dihasilkan dari migrasi solvent/ pelarutnya
dengan jarak sample/ standar. Nilai Rf menyatakan
ukuran daya pisah suatu zat dengan kromatografi planar
(KK mapun KLT), dimana jika nilai Rfnya besar berarti
daya pisah zat yang dilakukan solvent (eluenya)
maksimum sedangkan jika nilai Rfnya kecil berarti daya
pisah zat yang dilakukan solvent (eluenya) minimum.
Tidak munculnya noda dalam percobaan kali ini dapat
disebabkan oleh faktor faktor yang mempengaruhi nilai
Rf seperti diatas, akan tetapi ada juga kemungkinan lain
misalnya noda yang tidak nampak, sehingga untuk
menampakkan noda tersebut harus direaksikan dengan
reagen penampak warna berupa ion logam transisi untuk
membentuk kompleks, karena salah satu ciri senyawa
kompleks adalah berwarna akibat adanya bilangan
koordinasi dari atom pusatnya. Adapun untuk identifikasi
dan deteksi zat setelah terbentuknya noda dilakukan
dengan beberapa cara misalnya; planimetri,
densitometri, spektrofotometri, dan fluorensis, dimana
masing masing alat tersebut memeliki kelebihan dan
kekurangan yang jika dijabarkan akan lebih panjang dan
rumit karena dihubungkan dengan proses
penggunaanya.

Pada percobaan ini, didapatkan nilai Rf yang berbeda-
beda dari tiap analit. Pada penentuan nilai Rf pada ion
logam, secara berturut-turut nilai Rf dari Pb2+, Mn2+,
Hg2+, dan campuran adalah 0,87 , 0,84 , 0,82 , dan 0,88.
Sedangkan pada penentuan nilai Rf dari karbohidrat
yakni pada glukosa didapatkan nilai Rf sebesarm0,81


V. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dari
percobaan diatas, maka dapat disimpulkan sebagai
berikut yakni Tehnik pemisahan dengan kromatografi
lapis tipis merupakan tehnik pemisahan kromatografi
planar dimana zat zat dipisahkan berdasarkan
perbedaan migrasi solute/ zat terlarut antara dua fase
(fase gerak dan fase diamnya). Dimana fase diamnya/
adsorbensnya dilapisi dengan plat tipis (aluminium)
sebagai penunjang adsorbennya dan nilai Rf yang
didapatkan adalah nilai Rf dari Pb2+, Mn2+, Hg2+, dan
campuran adalah 0,87 , 0,84 , 0,82 , dan 0,88. Sedangkan
pada penentuan nilai Rf dari karbohidrat yakni pada
glukosa didapatkan nilai Rf sebesarm0,81.

Daftar Pustaka
Iskandar, Yusuf. 2007. Karakteristik Zat Metabolit
Sekunder Dalam Ekstrak Bunga Krisan (Chrysanthemum
cinerariaefolium) Sebagai Bahan Pembuatan
Biopestisida.FMIPA. Semarang
Lide, David. 2001. Handbook of Chemistry And Physic.
Copyright CRC Press LLC

Rudi,L. 2010. Penuntun Dasar-Dasar Pemisahan Analitik.
Universitas Haluoleo. Kendari

Sofia, Lenny. 2006. Isolasi dan Uji Bioaktifitas Kandungan
Kimia Utama Puding Merah dengan Metoda Uji Brine
Shrimp. USU Repository. Sumatera Utara

Speight, James. G. 2006. The Chemistry and Technology
of Petroleum. Taylor & Francis Group, LLC.

Sukarmin. 2004. Materi dan Perubahannya. Direktorat
Pendidikan Menegah Kejuruan. Direktorat Jendral Dasar
dan Menegah. Departemen Pendidik

TUBERKULOSIS MERUPAKAN PENYAKIT
INFEKSI YANG MASIH MENJADI MASALAH
KESEHATAN MASYARAKAT
Drh. Hiswani M.Kes
Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara
PENDAHULUAN
Penyakit tuberkulosis paru merupakan penyakit
infeksi yang masih menjadi masalah
kesehatan Masyarakat. Di Indonesia maupun
diberbagai belahan dunia. Penyakit tuberkulosis
merupakan penyakit menular yang kejadiannya
paling tinggi dijumpai di India sebanyak 1.5 juta
orang, urutan kedua dijumpai di Cina yang mencapai
2 juta orang dan Indonesia menduduki
urutan ketiga dengan penderita 583.000 orang.
Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang
disebabkan bakteri berbentuk batang
(basil) yang dikenal dengan nama Mycobacterium
tuberkulosis. Penularan penyakit ini melalui
perantaraan ludah atau dahak penderita yang
mengandung basil tuberkulosis paru. Pada waktu
penderita batuk butir-butir air ludah beterbangan
diudara dan terhisap oleh orang yang sehat dan
masuk kedalam parunya yang kemudian
menyebabkan penyakit tuberkulosis paru.
Menurut WHO (1999), di Indonesia setiap tahun
terjadi 583 kasus baru dengan kematian
130 penderita dengan tuberkulosis positif pada
dahaknya. Sedangkan menurut hasil penelitian
kusnindar 1990, Jumlah kematian yang disebabkan
karena tuberkulosis diperkirakan 105,952
orang pertahun. Kejadian kasus tuberkulosa paru
yang tinggi ini paling banyak terjadi pada
kelompok masyarakat dengan sosio ekonomi lemah.
Terjadinya peningkatan kasus ini disebabkan
dipengaruhi oleh daya tahan tubuh, status gizi dan
kebersihan diri individu dan kepadatan hunian
lingkungan tempat tinggal.
Pada tahun 1995 pemerintah telah memberikan
anggaran obat bagi penderita
tuberkulosis secara gratis ditingkat Puskesmas,
dengan sasaran utama adalah penderita
tuberkulosis dengan ekonomi lemah. Obat
tuberkulosis harus diminum oleh penderita secara
rutin
selama enam bulan berturut-turut tanpa henti.
Untuk kedisiplinan pasien dalam menjalankan
pengobatan juga perlu diawasi oleh
anggota keluarga terdekat yang tinggal serumah,
yang setiapa saat dapat mengingatkan
penderita untuk minum obat. Apabila pengobatan
terputus tidak sampai enam bulan, penderita
sewaktu-waktu akan kambuh kembali penyakitnya
dan kuman tuberkulosis menjadi resisten
sehingga membutuhkan biaya besar untuk
pengobatannya.
Penyakit tuberkulosis ini dijumpai disemua bagian
penjuru dunia. Dibeberapa negara
telah terjadi penurunan angka kesakitan dan
kematiannya. Angka kematian berkisar dari kurang
5 - 100 kematian per 100.000 penduduk pertahun.
Angka kesakitan dan kematian meningkat
menurut umur. Di Amirika serikat pada tahun 1974
dilaporkan angka insidensi sebesar 14,2 per
100.000 penduduk.
Di Sumatera Utara saat ini diperkiraka ada sekitar
1279 penderita denga BTA positif. Dari
hasil evaluasi kegiatan Program Pemberantasan
Tuberkulosa paru, kota Medan tahun 1999/2000
ditemukan 359 orang penderita dengan insiden
penderita tuberkulosis paru 0,18 per 1000 jumlah
penduduk. Dengan catatan dari balai pengobatan
penyakit paru-paru (BP4), di Medan dijumpai
545 kasus tuberkulosis paru setiap tahun.
Gambaran Penyakit Tuberkulosis Paru.
Penyakit tuberkulosis paru adalah penyakit menular
yang menyerang paru-paru, penyakit
ini disebabkan oleh Mycobacterium Tuberkulosis.
Miko bakteria adalah bakteri aerob, berbentuk
batang, yang tidak membentuk spora. Walaupun
tidak mudah diwarnai, jika telah diwarnai
bakteri ini tahan terhadap peluntur warna
(dekolarisasi) asam atau alkohol, oleh karena itu
dinamakan bakteri tahan asam atau basil tahan
asam.
Apabila seseorang sudah terpapar dengan bakteri
penyebab tuberkulosis akan berakibat
buruk seperti menurunkan daya kerja atau
produktivitas kerja, menularkan kepada orang lain
terutama pada keluarga yang bertempat tinggal
serumah, dan dapat menyebabkan kematian.
Pada penyakit tuberkulosis jaringan pang paling
sering diserang adalah paru-paru (95,9 %). Cara
penularan melalui ludah atau dahak penderita yang
mengandung basil tuberkulosis paru. Pada
waktu batuk butir-butir air ludah beterbangan
diudara dan terhisap oleh orang yang sehat dan
masuk kedalam parunya yang kemudian
menyebabkan penyakit tuberkulosis paru (TB Paru).
Mycobacterium Tuberkulosis dapat tahan hidup
diudara kering maupun dalam keadaan
dingin, atu dapat hidup bertahun-tahun dalam
lemari es. Ini dapat terjadi apabila kuman berada
dalam sifat dormant (tidur). Pada sifat dormant ini
kuman tuberkulosis suatu saat dimana
keadaan memungkinkan untuk dia berkembang,
kuman ini dapat bangkit kembali.
Pada penderita tuberkulosis paru apabila sudah
terpapar dengan agent penyebabnya
penyakit dapat memperlihatkan tanda-tanda seperti
dibawah ini:
Batuk-batuk berdahak lebih dari dua minggu.
Batuk-batuk mengeluarkan darah atau pernah
mengeluarkan darah.
Dada terasa sakit atau nyeri.
Terasa sesak pada waktu bernafas.
Adapun masa tunas(masa inkubasi) penyakit
tuberkulosis paru adalah mulai dari
terinfeksi sampai pada lesi primer muncul,
sedangkan waktunya berkisar antara 4 - 12 minggu
untuk tuberkulosis paru. Pada pulmonair progressif
dan extrapulmonair, tuberkulosis biasanya
memakan waktu yang lebih lama, sampai beberapa
tahun.
Perioda potensi penularan, selama basil tuberkel ada
pada sputum (dahak). Beberapa
kasus tanpa pengobatan atau dengan pengobatan
tidak adekwat mungkin akan kumat-kumatan
dengan sputum positif selama beberapa tahun.
Tingkat atau derajat penularan tergantung
kepada banyaknya basil tuberkulosis dalam sputum,
virulensi atas basil dan peluang adanya
pencemaran udara dari batuk, bersin dan berbicara
keras secara umum.
Kepekaan untuk terinfeksi penyakit ini adalah semua
penduduk, tidak ada perbedaan
antara laki-laki dan perempuan, tua muda, bayi dan
balita. Kepekaan tertinggi pada anak kurang
dari tiga tahun terendah pada anak akhir usia 12-13
tahun, dan dapat meningkat lagi pada umur
remaja dan awal tua.
MYCOBACTERIUM TUBERKULOSIS
A. Morfologi dan identifikasi Mycobacterium
Tuberkulosis
1. Bentuk.
Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang lurus
atau agak bengkok dengan ukuran 0,2-
0,4 x 1-4 um. Pewarnaan Ziehl-Neelsen
dipergunakan untuk identifikasi bakteri tahan asam.
2. Penanaman.
Kuman ini tumbuh lambat, koloni tampak setelah
lebih kurang 2 minggu bahkan kadangkadang
setelah 6-8 minggu. Suhu optimum 37C, tidak
tumbuh pada suhu 25C atau lebih
dari 40C. Medium padat yang biasa dipergunakan
adalah Lowenstein-Jensen. PH optimum
6,4-7,0.
3. Sifat-sifat.
Mycobacterium tidak tahan panas, akan mati pada
6C selama 15-20 menit. Biakan dapat
mati jika terkena sinar matahari lansung selama 2
jam. Dalam dahak dapat bertahan 20-30
jam. Basil yang berada dalam percikan bahan dapat
bertahan hidup 8-10 hari. Biakan basil ini
dalam suhu kamar dapat hidup 6-8 bulan dan dapat
disimpan dalam lemari dengan suhu
20C selama 2 tahun. Myko bakteri tahan terhadap
berbagai khemikalia dan disinfektan
antara lain phenol 5%, asam sulfat 15%, asam sitrat
3% dan NaOH 4%. Basil ini dihancurkan
oleh jodium tinctur dalam 5 minit, dengan alkohol 80
% akan hancur dalam 2-10 menit.
B. Pemeriksaan Laboratorium
1. Bahan pemeriksaan.
Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan perlu
diperhatikan waktu pengambilan, tempat
penampungan, waktu penyimpanan dan cara
pengiriman bahan pemeriksaan. Pada
pemeriksaan laboratorium tuberkulosis ada
beberapa macam bahan pemeriksaan yaitu:
Sputum(dahak), harus benar-benar dahak, bukan
ingus juga bukan ludah. Paling baik
adalah sputum pagi hari pertama kali keluar. Kalau
sukar dapat sputum yang
dikumpulkan selama 24 jam (tidak lebih 10 ml).
Tidak dianjurkan sputum yang
dikeluarkan ditempat pemeriksaan.
Air Kemih, Urin pagi hari, pertama kali keluar,
merupakan urin pancaran tengah.
Sebaiknya urin kateter.
Air kuras lambung, Umumnya anak-anak atau
penderita yang tidak dapat
mengeluarkan dahak. Tujuan dari kuras lambung
untuk mendapatkan dahak yang
tertelan. Dilakukan pagi hari sebelum makan dan
harus cepat dikerjakan.
Bahan-bahan lain, misalnya nanah, cairan
cerebrospinal, cairan pleura, dan usapan
tenggorokan.
2. Cara Pemeriksaan Laboratorium
a. Mikroskopik, dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen
dapat dilakukan identifikasi bakteri
tahan asam, dimana bakteri akan terbagi menjadi
dua golongan:
Bakteri tahan asam, adalah bakteri yang pada
pengecatan ZN tetap mengikat
warna pertama, tidak luntur oleh asam dan alkohol,
sehingga tidak mampu
mengikat warna kedua. Dibawah mikroskop tampak
bakteri berwarna merah
dengan warna dasar biru muda.
Bakteri tidak tahan asam, adalah bakteri yang
pada pewarnaan ZN, warna
pertama, yang diberikan dilunturkan oleh asam dan
alkohol, sehingga bakteri
akan mengikat warna kedua. Dibawah miskroskop
tampak bakteri berwarna biru
tua dengan warna dasar biru yang lebih muda.
b. Kultur (biakan), Media yang biasa dipakai adalah
media padat Lowenstein Jesen.
Dapat pula Middlebrook JH11, juga sutu media
padat. Untuk perbenihan kaldu dapat
dipakai Middlebrook JH9 dan JH 12.
c. Uji kepekaan kuman terhadap obat-obatan anti
tuberkulosis, tujuan dari pemeriksaan
ini, mencari obat-obatan yang poten untuk terapi
penyakit tuberkulosis.
PENULARAN KUMAN TUBERKULOSIS.
Penularan tuberkulosis dari seseorang penderita
ditentukan oleh banyaknya kuman yang
terdapat dalam paru-paru penderita, pesebaran
kuman tersebut diudara melalui dahak berupa
droplet. Penderita TB-Paru yang mengandung
banyak sekali kuman dapat terlihat lansung dengan
mikroskop pada pemeriksaan dahaknya (penderita
bta positif) adalah sangat menular.
Penderita TB Paru BTA positif mengeluarkan kuman-
kuman keudara dalam bentuk
droplet yang sangat kecil pada waktu batuk atau
bersin. Droplet yang sangat kecil ini mengering
dengan cepat dan menjadi droplet yang
mengandung kuman tuberkulosis. Dan dapat
bertahan
diudara selama beberapa jam.
Droplet yang mengandung kuman ini dapat terhirup
oleh orang lain. Jika kuman tersebut
sudah menetap dalam paru dari orang yang
menghirupnya, maka kuman mulai membelah diri
(berkembang biak) dan terjadilah infeksi dari satu
orang keorang lain.
KLASIFIKASI PENYAKIT TUBERKULOSIS.
Pada penyakit tuberkulosis dapat diklasifikasikan
yaitu tuberkulosis paru dan tuberkulosis
ekstra paru. Tuberkulosis paru merupakan bentuk
yang paling sering dijumpai yaitu sekitar 80 %
dari semua penderita. Tuberkulosis yang menyerang
jaringan paru-paru ini merupakan satusatunya
bentuk dari TB yang mudah menular.
Tuberkulosis ekstra paru merupakan bentuk
penyakit TBC yang menyerang organ tubuh
lain, selain paru-paru seperti pleura, kelenjar limpe,
persendian tulang belakang, saluran kencing,
susunan syaraf pusat dan perut. Pada dasarnya
penyakit TBC ini tidak pandang bulu karena
kuman ini dapat menyerang semua organ-organ dari
tubuh.
DIAGNOSIS TBC
Penegakan diagnosis pada penyakit TB-paru dapat
dilakukan dengan melihat
keluhan/gejala klinis, pemeriksaan biakan,
pemeriksaan mikroskopis, radiologik dan tuberkulin
test. Pada pemeriksaan biakan hasilnya akan didapat
lebih baik, namun waktu pemeriksaannya
biasanya memakan waktu yang terlalu lama.
Sehingga pada saat ini pemeriksaan dahak secara
mikroskopis lebih banyak dilakukan karean
sensitivitas dan spesivitasnya tinggi disamping
biayanya rendah.
Seorang penderita tersangka dinyatakan sebagai
penderita paru menular berdasarkan
gejala batuk berdahak 3 kali. Kuman ini baru
kelihatan dibawah mikroskopis bila jumlah kuman
paling sedikit sekitar 5000 batang dalam 1 ml dahak.
Dalam pemeriksaan ini dahak yang baik
adalah dahak mukopurulen berwarna hijau
kekuningan dan jumlahnya harus 3 5 ml tiap
pengambilan. Untuk hasil yang baik spesimen dahak
sebaiknya sudah dapat dikumpulkan dalam 2
hari kunjungan berurutan. Dahak yang dikumpulkan
sebaiknya dahak yang keluar sewaktu pagi
hari.
BERDASARKAN FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI KEJADIAN PENYAKIT TBC.
Untuk terpapar penyakit TBC pada seseorang
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti :
status sosial ekonomi, status gizi, umur, jenis
kelamin, dan faktor toksis untuk lebih jelasnya
dapat kita jelaskan seperti uraian dibawah ini :
1. Faktor Sosial Ekonomi.
Disini sangat erat dengan keadaan rumah,
kepadatan hunian, lingkungan perumahan,
lingkungan dan sanitasi tempat bekerja yang buruk
dapat memudahkan penularan TBC.
Pendapatan keluarga sangat erat juga dengan
penularan TBC, karena pendapatan yang kecil
membuat orang tidak dapat hidup layak dengan
memenuhi syarat-syarat kesehatan.
2. Status Gizi.
Keadaan malnutrisi atau kekurangan kalori, protein,
vitamin, zat besi dan lain-lain, akan
mempengaruhi daya tahan tubuh sesoeranga
sehingga rentan terhadap penyakit termasuk
TB-Paru. Keadaan ini merupakan faktor penting
yang berpengaruh dinegara miskin, baik
pada orang dewasa maupun anak-anak.
3. Umur.
Penyakit TB-Paru paling sering ditemukan pada usia
muda atau usaia produktif (15 50)
tahun. Dewasa ini dengan terjaidnya transisi
demografi menyebabkan usia harapan hidup
lansia menjadi lebih tinggi. Pada usia lanjut lebih
dari 55 tahun sistem imunologis seseorang
menurun, sehingga sangat rentan terhadap berbagai
penyakit, termasuk penyakit TB-Paru.
4. Jenis Kelamin.
Penyakit TB-Paru cenderung lebih tinggi pada jenis
kelamin laki-laki dibandingkan
perempuan. Menurut WHO, sedikitnya dalam
periode setahun ada sekitar 1 juta perempuan
yang meninggal akibat TB-Paru, dapat disimpulkan
bahwa pada kaum perempuan lebih
banyak terjadi kematian yang disebabkan oleh TB-
Paru dibandingkan dengan akibat proses
kehamilan dan persalinan. Pada jenis kelamin laki-
laki penyakit ini lebih tinggi karena
merokok tembakau dan minum alkohol sehingga
dapat menurunkan sistem pertahanan
tubuh, sehingga lebih mudah terpapar dengan agent
penyebab TB-Paru.
PENCEGAHAN PENYAKIT TBC-PARU.
Tindakan pencegahan dapat dikerjakan oleh
penderita, masyarakat dan petugas
kesehatan.
A. Pengawasan Penderita, Kontak dan
Lingkungan.
1. Oleh penderita, dapat dilakukan dengan menutup
mulut sewaktu batuk dan membuang
dahak tidak disembarangan tempat.
2. Oleh masyarakat dapat dilakukan dengan
meningkatkan dengan terhadap bayi harus
harus diberikan vaksinasi BCG.
3. Oleh petugas kesehatan dengan memberikan
penyuluhan tentang penyakit TB yang
antara lain meliputi gejala bahaya dan akibat yang
ditimbulkannya.
4. Isolasi, pemeriksaan kepada orang-orang yang
terinfeksi, pengobatan khusus TBC.
Pengobatan mondok dirumah sakit hanya bagi
penderita yang kategori berat yang
memerlukan pengembangan program
pengobatannya yang karena alasan-alasan sosial
ekonomi dan medis untuk tidak dikehendaki
pengobatan jalan.
5. Des-Infeksi, Cuci tangan dan tata rumah tangga
kebersihan yang ketat, perlu perhatian
khusus terhadap muntahan dan ludah (piring,
hundry, tempat tidur, pakaian), ventilasi
rumah dan sinar matahari yang cukup.
6. Imunisasi orang-orang kontak. Tindakan
pencegahan bagi orang-orang sangat dekat
(keluarga, perawat, dokter, petugas kesehatan lain)
dan lainnya yang terindikasi dengan
vaksin BCG dan tindak lanjut bagi yang positif
tertular.
7. Penyelidikan orang-orang kontak. Tuberculin-test
bagi seluruh anggota keluarga dengan
foto rontgen yang bereaksi positif, apabila cara-cara
ini negatif, perlu diulang
pemeriksaan tiap bulan selama 3 bulan, perlu
penyelidikan intensif.
8. Pengobatan khusus. Penderita dengan TBC aktif
perlu pengobatan yang tepat. Obat-obat
kombinasi yang telah ditetapkan oleh dokter
diminum dengan tekun dan teratur, waktu
yang lama ( 6 atau 12 bulan). Diwaspadai adanya
kebal terhadap obat-obat, dengan
pemeriksaan penyelidikan oleh dokter.
B. Tindakan Pencegahan.
1. Status sosial ekonomi rendah yang merupakan
faktor menjadi sakit, seperti kepadatan
hunian, dengan meningkatkan pendidikan
kesehatan.
2. Tersedia sarana-sarana kedokteran, pemeriksaan
penderita, kontak atau suspect
gambas, sering dilaporkan, pemeriksaan dan
pengobatan dini bagi penderita, kontak,
suspect, perawatan.
3. Pengobatan preventif, diartikan sebagai tindakan
keperawatan terhadap penyakit inaktif
dengan pemberian pengobatan INH sebagai
pencegahan.
4. BCG, vaksinasi, diberikan pertama-tama kepada
bayi dengan perlindungan bagi ibunya
dan keluarhanya. Diulang 5 tahun kemudian pada
12 tahun ditingkat tersebut berupa
tempat pencegahan.
5. Memberantas penyakti TBC pada pemerah air
susu dan tukang potong sapi, dan
pasteurisasi air susu sapi.
6. Tindakan mencegah bahaya penyakit paru kronis
karean menghirup udara yang tercemar
debu para pekerja tambang, pekerja semen dan
sebagainya.
7. Pemeriksaan bakteriologis dahak pada orang
dengan gejala tbc paru.
8. Pemeriksaan screening dengan tubercullin test
pada kelompok beresiko tinggi, seperti
para emigrant, orang-orang kontak dengan
penderita, petugas dirumah sakit,
petugas/guru disekolah, petugas foto rontgen.
9. Pemeriksaan foto rontgen pada orang-orang yang
positif dari hasil pemeriksaan
tuberculin test.
PENGENDALIAN, PENGOBATAN DAN
PENYULUHAN YANG DILAK-SANAKAN PADA
PENDERITA TBC.
A. Pengendalian Penderita Tuberkulosis.
1. Petugas dari puskesmas harus mengetahui alamat
rumah dan tempat kerja penderita.
2. Petugas turut mengawasi pelaksanaan
pengobatan agar penderita tetap teratur
menjalankan
pengobatan dengan jalan mengingatkan penderita
yang lali. Disamping itu agar menunjak
seorang pengawas pengobatan dikalangan keluarga.
3. Petugas harus mengadakan kunjungan berkala
kerumah-rumah penderita dan menunjukkan
perhatian atas kemajuan pengobatan serta
mengamati kemungkinan terjadinya gejala
sampingan akibat pemberian obat.
B. Pengobatan Penderita Tuberkulosis.
1. Penderita yang dalam dahaknya mengandung
kuman dianjurkan untuk menjalani pengobatan
di puskesmas.
2. Petugas dapat memberikan pengobatan jangka
pendek di rumah bagi penderita secara
darurat atau karean jarak tempat tinggal penderita
dengan puskesmas cukup jauh untuk bisa
berobat secara teratur.
3. Melaporkan adanya gejala sampingan yang
terjadi, bila perlu penderita dibawa ke
puskesmas.
C. Penyuluhan Penderita Tuberkulosis
1. Petugas baik dalam masa persiapan maupun
dalam waktu berikutnya secara berkala
memberikan penyuluhan kepada masyarakat luas
melalui tatap muka, ceramah dan mass
media yang tersedia diwilayahnya, tentang cara
pencegahan TB-paru.
2. Memberikan penyuluhan kepada penderita dan
keluarganya pada waktu kunjungan rumah
dan memberi saran untuk terciptanya rumah sehat,
sebagai upaya mengurangi penyebaran
penyakit.
3. Memberikan penyuluhan perorangan secara
khusus kepada penderita agar penderita mau
berobat rajin teratur untuk mencegah penyebaran
penyakit kepada orang lain.
4. Menganjurkan, perubahan sikap hidup
masyarakat dan perbaikan lingkungan demi
tercapainya masyarakat yang sehat.
5. Menganjurkan masyarakat untuk melapor apabila
diantara warganya ada yang mempunyai
gejala-gejala penyakit TB paru.
6. Berusaha menghilangkan rasa malu pada
penderita oleh karena penyakit TB paru bukan bagi
penyakit yang memalukan, dapat dicegah dan
disembuhkan seperti halnya penyakit lain.
7. Petugas harus mencatat dan melaporkan hasil
kegiatannya kepada koordinatornya sesuai
formulir pencatatan dan pelaporan kegiatan kader.
DAFTAR PUSTAKA
Kusnindar, 1990. Masalah Penyakit tuberkulosis dan
pemberantasannya di Indonesia. Cermin
Dunia Kedokteran, No. 63 hal. 8 12.
Depkes RI, 2001. Faktor Budaya Malu Hambat
Pencegahan Penyakit Tuberkulosis, Media
Indonesia Jakarta.
Depkes RI, 1997. Pedoman Penyakit Tuberkulosis
dan Penanggulangannya. Dirjen P2M dan PLP,
Jakarta.
Arifin, N. 1990. Diagnostik Tuberkulosis Paru dan
Penanggulangannya, Universitas Indonesia,
Jakarta.
Tjandra Y.A, 1994. Masalah Tuberkulosis Paru dan
penanggulangannya, Universitas Indonesia.
Jakarta.










Penghijauan
Jadikan Teman | Kirim Pesan
Dadang Setiawan
Manusia biasa-biasa saja yang berusaha menjadi suami yang baik dari satu istri, ayah yang
sempurna dari dua orang anak, dan mahluk yang patuh.
Mengenal Tumbuhan Cemara
REP | 18 October 2010 | 15:08 2001 1 Nihil

Tumbuhan cemara termasuk dalam klasifikasi tumbuhan berbiji. Tumbuhan berbiji atau
Spermatophyta (Yunani, sperma=biji , phyton=tumbuhan) merupakan kelompok tumbuhan yang
memiliki ciri khas, yaitu adanya suatu organ yang berupa biji. Biji merupakan bagian yang
berasal dari bakal biji dan di dalamnya mengandung calon individu baru, yaitu lembaga.
Lembaga akan terjadi setelah terjadi penyer bukan atau persarian yang diikuti oleh pembuahan.
Ukuran dan bentuk tubuh Tumbuhan berbiji berukuran makroskopik dengan ketinggian yang
sangat bervariasi. Tumbuhan biji tertinggi berupa pohon dengan tinggi melebihi 100 m, misalnya
pohon konifer sequoiadendron giganteum di Taman Nasional Yosemite, California, AS dengan
tinggi sekitar 115 m dan diameter batang sekitar 14 m. Habitus atau perawakan tumbuhan berbiji
sangat bervariasi berupa pohon, misalnya jati, duku, kelapa, beringin, cemara; perdu, misalnya
mawar, kembang merak, kembang sepatu; semak, misalnya arbei; dan Herba, misalnya sayur-
sayuran, bunga lili, serta bunga krokot.
Jenis tumbuhan berbiji yang dimanfaatkan bagi kepentingan manusia antara lain sebagai berikut:
1. Gandum, padi, jagung dan sagu merupakan makanan utama sebagian besar penduduk di dunia.
2. Kacang, tomat, kol, kentang, dan wortel merupakan makanan sayuran sebagai sumber serat,
protein, dan vitamin.
3. Kapas dan rami sebagai bahan sandang.
4. Kayu sebagai bahan papan dan perabotan.
5. Kumis kucing, jati, mahoni, dan pinus sebagai peneduh, penyimpan air, penyerap karbon
dioksida, dan sumber oksigen.
6. Berbagai jenis bunga untuk dekorasi, upacara adat dan agama, serta kosmetik
b. Macam-Macam Cemara
Suku cemara-cemaraan atau Casuarinaceae meliputi sekitar 70 jenis tetumbuhan. Sebagian besar
suku ini terdapat di Belahan Bumi Selatan, terutama di wilayah tropis Dunia Lama, termasuk
Indo-Malaysia, Australia, dan Kepulauan Pasifik.
Klasifikasi ilmiah dari tanaman cemara adalah sebagai berikut:
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan : Tumbuhan
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Fagales
Famili : Casuarinaceae
R.Br. dalam Flinders
Dari sekitar 70 jenis tetumbuhan yang pernah dikenal di dunia, hanya sebagian kecil saja yang
tumbuh di Indonesia. Selain tumbuh di hutan, cemara kini menjadi tanaman hias. Bentuk cemara
yang sangat artistik untuk penataan sebuah taman. Dibentuk sedemikian rupa dalam gaya seni
jepang yang bernama bonsai. Jenis cemara asli Indonesia untuk dibuat bonsai yang paling bagus
adalah cemara udang, berasal dari daerah Madura, Jawa Timur.
Macam-macam cemara yang dikenal dan tumbuh di Indonesia, yaitu:
No Nama Indonesia Nama Latin
1 Cemara angin Casuarina equisetifolia
2 Cemara Duri Juniperus rigida
3 Cemara Embun Casuarina equisetifolia
4 Cemara Kipas Casuarina equisetifolia
5 Cemara Laut Casuarina equisetifolia
6 Cemara Norfolk Araucaria heterophylla
7 Cemara Pinus Casuarina cunninghamiana
8 Cemara Pua Pua Juniperus chinensis
9 Cemara Putih Casuarina equisetifolia
10 Cemara Udang Casuarina equisetifolia

Share 6
Laporkan
Tanggapi
Beri Nilai
o
o
o
o