Anda di halaman 1dari 20

1

NASKAH AKADEMIK
RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI
TENTANG PENGAWASAN PEREDARAN MINUMAN BERALKOHOL

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
UUD 1945 Pasal 29 ayat 1 menyebutkan bahwa negara berdasar Ketuhanan
Yang Maha Esa. sebagai negara yang beragama, akan lebih mudah mengatur
perkembangan minuman beralkohol atau yang sering juga disebut minuman keras
(miras) yang setiap saat dapat mengancam jiwa manusia.
Keberadaan minuman beralkohol dapat mengancam jiwa manusia baik secara
langsung maupun tidak langsung. Namun kenyataan yang ada, negara kita sampai
sekarang belum dapat membuat payung hukum tentang peraturan pengawasan
peredaran minuman beralkohol.
Pulau Bali sebagai daerah pariwisata, tentunya banyak beredar minuman-
minuman beralkohol yang pengadaan dan peredarannya belum dapat diawasi
dengan baik. Hal ini dikarenakan belum adanya peraturan terkait pengawasan
peredaran minuman beralkohol.
Selain itu, perlunya dibentuk peraturan pengadaan minuman beralkohol adalah
untuk mengantisipasi terjadinya pelanggaran akibat ketidaktahuan akan aturan
jenis minuman yang harus dilengkapi dengan bea cukai yang sah. Sehingga para
pelaku usaha di Bali yang menyediakan minuman beralkohol tersebut, tidak ada
yang melakukan tindakan pelanggaran dengan mengedarkan minuman beralkohol
yang ilegal.
2

Untuk mengantisipasi dampak negatif yang mungkin timbul terhadap
peredaran minuman beralkohol di Bali, seyogyanya dibentuk suatu peraturan
daerah di provinsi Bali mengenai pengawasan peredaran minuman beralkohol.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang dan alasan tersebut, identifikasi masalah dirumuskan
sebagai berikut;
1. Pengawasan peredaran minuman beralkohol pada hakekatnya untuk
mengantisipasi terjadinya pelanggaran akibat ketidaktahuan akan aturan jenis
minuman beralkohol yang harus dilengkapi bea cukai yang sah.dan juga untuk
mengawasi dan menindak pelaku usaha yang melanggar.
2. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, diperlukan turut campur atau
pelibatan negara, dalam hal ini Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Bali,
sebagai penyelenggara negara yang berfungsi dalam bidang legislasi nasional,
memandang perlu untuk mengajukan usul inisiatif rancangan peraturan daerah
provinsi yang mengatur tentang pengawasan peredaran minuman beralkohol.
3. Landasan filosofis pembentukan rancangan peraturan daerah provinsi
yang mengatur tentang pengawasan peredaran minuman beralkohol ini adalah
demi mewujudkan kepedulian mengembangkan industri wisata di Bali, landasan
sosiologis merupakan kebutuhan masyarakat akan rasa keamanan, ketertiban, dan
kenyamanan, dan landasan yuridis dijamin oleh Konstitusi Negara Republik
Indonesia, dimana setiap warganegara berhak mendapatkan lingkungan hidup
yang baik, dan sehat.
4. Adapun sasaran yang akan diwujudkan, ruang lingkup pengaturan,
jangkauan, dan arah pengaturan tentang pengawasan peredaran minuman
beralkohol ini, akan tercermin dalam batang tubuh rancangan peraturan daerah
provinsi ini.
3

C. TUJUAN, KEGUNAAN, DAN SASARAN
Sesuai dengan ruang lingkup identifikasi masalah yang dikemukakan diatas, maka
penyusunan Naskah Akademik dirumuskan sebagai berikut:
1. Bertujuan untuk memberikan latar belakang, arahan dan dukungan
dalam perumusan pengaturan, dan pengendalian peredaran minuman beralkohol
dengan segala dimensinya secara menyeluruh, terpadu, dan berwawasan
lingkungan;
2. Berguna sebagai acuan atau referensi penyusunan dan pembahasan
Rancangan peraturan daerah provinsi tentang pengawasan peredaran Minuman
Beralkohol, dengan memberikan uraian tentang aspek pengaturan pengendalian
peredaran minuman beralkohol dengan segala dimensinya, di masa kini dan masa
yang akan datang;
3. Mempunyai sasaran agar terwujudnya tata pengaturan pengendalian
peredaran minuman beralkohol di provinsi Bali.
D. METODE
Penyusunan Naskah Akademik ini, menggunakan Metode Penelitian Hukum,
baik melalui metode yuridis normatif, maupun melalui metode empiris, dan
metode penelitian sosial, dengan Metode Survei, yaitu;
1. Metode Yuridis Normatif, dilakukan melalui Studi Pustaka, yang menelaah
(terutama) data sekunder yang berupa peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan Minuman beralkohol.
2. Metode Yuridis Empiris, atau sociolegal adalah penelitian yang diawali
dengan penelitian normatif, yang dilanjutkan dengan observasi yang mendalam
serta penyebarluasan quesioner, untuk mendapatkan data non hukum yang terkait
dan berpengaruh terhadap peraturan perundang-undangan yang diteliti.
4

BAB II
KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS
A. KAJIAN TEORITIS
1. Minuman beralkohol;
Adalah minuman yang mengandung ethanol yang diproses dari bahan hasil
pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilasi atau
fermentasi tanpa destilasi, baik dengan cara memberikan perlakuan terlebih
dahulu atau tidak, menambahkan bahan lain atau tidak, maupun yang diproses
dengan cara mencampur ethanol atau dengan cara pengenceran minuman
mengandung ethanol.
1

2. Fermentasi, dan Destilasi;
Fermentasi, adalah suatu cara untuk mengubah substrat menjadi produk
tertentu yang dikehendaki dengan menggunakan bantuan mikroba, sedangkan
Destilasi, adalah suatu proses pemisahan ethanol dari cairan termentasi. Adapun
alkohol adalah senyawa ethanol (ethyl alcohol), yaitu suatu jenis alkohol yang
paling populer digunakan dalam industri.
2

B. PRAKTIK EMPIRIS
Minuman beralkohol dalam kehidupan masyarakat di Indonesia sepertinya
sudah tidak asing lagi. Saat ini, minuman beralkohol dikonsumsi oleh remaja,
orang dewasa, hingga orangtua yang sudah berumur, kesadaran masyarakat kita
tentang bahaya minuman beralkohol masih sangat minim.

1
Http:// WWW.Wikipedia.com, Ensiklopedia Bebas, diakses tanggal 3 Pebruari 2012.
2
Ibid.
5

Dari segi kehidupan sosial, minuman beralkohol sangat
berpengaruh terhadap kehidupan sosial. Biasanya, seseorang mengonsumsi
minuman keras, cenderung didorong oleh keadaan ekonomi minim, kondisi
keluarga yang tidak harmonis, masalah yang dihadapi dan lain sebagainya.
Bali sebagai daerah pariwisata, tentunya banyak beredar minuman
beralkohol yang sangat diminati oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.
Hotel-hotel yang ada di Bali, seakan berlomba-lomba untuk menyajikan minuman
beralkohol yang tentunya dapat menarik banyak wisatawan untuk berkunjung.
Akibatnya banyak pelaku usaha yang mengedarkan minuman beralkohol
yang ilegal. Hal ini disebabkan karena belum adanya peraturan terkait
pengawasan peredaran minuman beralkohol di Bali.
C. KAJIAN TERHADAP ASAS YANG TERKAIT DENGAN NORMA
(KAIDAH)
Analisa terhadap asas yang terkait dengan norma tentang minuman
beralkohol antara lain:
1. Asas Keseimbangan Kesehatan dan Nilai-nilai Ekonomis
Sebagaimana diuraikan di Bab Pendahuluan, bahwa minuman beralkohol
sebenarnya adalah suatu bahan yang antara lain mengandung alkohol, dimana
didalamnya juga berisi ethanol, yang kalau penggunaannya tidak sesuai dengan
aturan yang tercantum dalam UU No. 23/1992 tentang Kesehatan, sangat
berbahaya untuk kesehatan manusia.
2. Asas Kemanfaatan Umum
Pengendalian peredaran minuman beralkohol dilaksanakan untuk
memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan kesehatan pribadi
maupun umum. Di samping itu pengendalian peredaran minuman beralkohol juga
6

diarahkan untuk tidak merugikan kepentingan tenaga kerja, baik di
pertanian/perkebunan, maupun di industri minuman.
Oleh sebab itu, didalam rancangan peraturan daerah provinsi ini, salah satunya
memperhatikan dengan sungguh-sungguh asas kemanfaatan untuk publik (umum)
secara komprehensif.
3. Asas Keterpaduan dan Keserasian
Penyelenggaraan pengendalian dan keserasian dalam pengendalian Minuman
beralkohol, dilaksanakan secara seimbang dalam mewujudkan keserasian untuk
berbagai kepentingan baik kepentingan kesehatan, kepentingan ekonomis (pajak
dan cukai), maupun kepentingan ketenagakerjaan.
D. KAJIAN TERHADAP KONDISI YANG ADA
Konsumsi minuman beralkohol sudah menjadi masalah yang
kompleks, tidak saja menyangkut masalah di bidang kesehatan tetapi juga
menyangkut masalah-masalah yang berkaitan dengan ketenagakerjaan, dan
perpajakan, serta tidak jarang juga masalah yang berdampak psikologis.
Di Bali, konsumsi terhadap minuman beralkohol juga menjadi salah satu
masalah yang harus dihadapi. Industri pariwisata di Bali banyak mengedarkan
minuman beralkohol ilegal dipasaran. Banyak pelaku usaha yang mengedarkan
minuman tersebut secara ilegal dan tanpa dilengkapi cukai yang sah.
E. KAJIAN TERHADAP IMPLIKASI PENERAPAN SISTEM BARU
Kajian terhadap implikasi penerapan sistem baru yang akan diatur dalam
Rancangan peraturan daerah provinsi tentang pengawasan peredaran Minuman
Beralkohol, akan memiliki implikasi, baik terhadap aspek kehidupan masyarakat,
maupun terhadap aspek beban keuangan negara.
1. Aspek Kehidupan Masyarakat;
7

Penggunaan minuman beralkohol dalam kehidupan masyarakat, seringkali
didasari oleh motif-motif sosial, antara lain seperti untuk meningkatkan prestige,
atau adanya pengaruh pergaulan dan perubahan gaya hidup. Selain itu, aspek
sosial lainnya, seperti sistem norma dan nilai (keluarga dan masyarakat), juga
menjadi kunci dalam permasalahan penyalahgunaan alkohol. dan peredaran
minuman beralkohol khususnya didaerah Bali masih belum adanya pengawasan
secara komprehensif.
Oleh sebab itu, perlu dibentuknya suatu peraturan daerah provinsi yang
mengatur tentang pengawasan peredaran minuman beralkohol, akan berdampak
positif bagi kehidupan masyarakat.
2. Aspek Beban Keuangan;
Sebagaimana dimaklumi bersama, bahwa penerapan sistem baru, apalagi
yang berkaitan dengan diberlakukannya suatu peraturan perundang-undangan
dalam bentuk peraturan daerah provinsi yang mengatur tentang pengawasan
peredaran Minuman Beralkohol, dipastikan akan memiliki dampak terhadap aspek
beban keuangan pemerintah daerah provinsi Bali.
Pembuatan Naskah Akademik, dan draf rancangan Perda Provinsi tentang
pengawasan peredaran Minuman Beralkohol yang melibatkan banyak pihak
sebagai stake- holder, tentunya memerlukan dana, pengusul sangat yakin bahwa
beban keuangan ini sangat tidak berarti dengan manfaat yang akan diperoleh jika
RaPerda Provinsi tentang pengawasan peredaran Minuman Beralkohol ini,
menjadi peraturan daerah provinsi Bali dan mengikat seluruh warga Bali.




8

BAB III
ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT
A. KONDISI HUKUM YANG ADA
Dalam UU No. 23/1992 tentang Kesehatan, masalah minuman beralkohol,
tidak diatur secara eksplisit. Dalam Pasal 44 UU No. 23/1992 berbunyi:
1) Pengamanan penggunaan bahan yang mengandung zat
adiktif,diarahkan agar tidak mengganggu dan membahayakan
kesehatan perorangan, keluarga, masyarakat, dan lingkungannya.
2) Produksi, peredaran, dan penggunaan bahan yang mengandung zat
adiktif, harus memenuhi standar dan/atau persyaratan yang ditentukan.
3) Ketentuan mengenai pengaman bahan yang mengandung zat adiktif,
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) ditetapkan dengan
Peraturan Pemerintah.
Dalam Penjelasan Pasal 44 tersebut dikatakan bahwa:
1) Bahan yang mengandung zat adiktif adalah bahan
yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya
atau masyarakat sekelilingnya;
2) Penetapan standar diarahkan agar zat adiktif yang dikandung oleh
bahan tersebut dapat ditekan dan untuk mencegah beredarnya bahan palsu.
Penetapan persyaratan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif
ditujukan untuk menekan dan mencegah penggunaan yang mengganggu
atau merugikan kesehatan orang lain;

9

B. KETERKAITAN UNDANG-UNDANG DAN PERATURAN DAERAH
Salah satu alasan yang sangat penting disusunnya Naskah Akademik
Rancangan peraturan daerah provinsi ini tentang pengawasan pengedaran
Minuman Beralkohol, karena hingga saat ini belum ada suatu peraturan daerah
provinsi yang mengatur secara khusus tentang peredaran Minuman Beralkohol.
Oleh sebab itu, untuk membahas keterkaitan undang-undang dengan RaPerda
tentang pengawasan peredaran Minuman Beralkohol ini, dapat disebutkan bahwa
Undang-Undang yang terkait adalah Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 tentang
Psikotropika, dan Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, yang
dampak negatifnya kurang lebih sama dengan Minuman beralkohol, dan telah
diatur dalam suatu Undang-Undang tersendiri.
Dibawah ini beberapa contoh, antara lain;
1. UU No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika;
a) Konsiderans Menimbang, huruf d, yaitu bahwa penyalahgunaan
psikotropika dapat merugikan kehidupan manusia dan kehidupan bangsa,
sehingga pada gilirannya, dapat mengancam ketahanan nasional
b) Ketentuan Umum, Pasal 1, point 1, sebagai berikut: Psikotropika, adalah zat
atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukari narkotika, yang berkhasiat
psikoaktif melalui pengaruh seloektif pada susunan saraf pusat, yang
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku
2. UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika:
a) Konsideran Menimbang, huruf e, yaitu bahwa tindak pidana Narkotika telah
bersifat transnasional yang dilakukan dengan menggunakan modus operandi yang
tinggi, teknologi canggih, didukungoleh jaringan organisasi yang luas, dan sudah
banyak menimbulkan korban, terutama di kalangan generasi muda bangsa yang
sangat membahayakan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara sehingga
10

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika sudah tidak sesuai lagi
dengan perkembangan situasi dan kondisi yang berkembang untuk menanggulangi
dan memberantas tindak pidana tersebut;
b) Ketentuan Umum, Pasal 1, point 1, sebagai berikut; Narkotika adalah zat atau
obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun
semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran,
hilangnya rasa, mengurangi sampaimenghilangkan rasa nyeri, dan dapat
menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam
golongangolongansebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini.
3. Perda Kab. Sleman No. 8 Tahun 2007, tentang Minuman Beralkohol;
Konsiderans Menimbang huruf a, bahwa dalam rangka menjaga dan
memelihara kesehatan jasmani dan rohani masyarakat, ketentraman danketertiban
masyarakat, tujuan pariwisata, adat istiadat, dan agama, maka perlu adanya
pengawasan dan pengendalian melalui pelarangan pengedaran, penjualan,
dan penggunaan minuman beralkohol.

11

BAB IV
LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS
A. LANDASAN FILOSOFIS;
Secara filosofis, pengawasan peredaran minuman beralkohol tersebut
sebagai wujud kepedulian mengembangkan industri khususnya industri pariwisata
di Bali. Minuman beralkohol pada dasarnya merupakan suatu bentuk gangguan
terhadap kehidupan dan penghidupan masyarakat.
Didalam UUD 1945, dikuatkan pula dengan hak setiap orang atas
perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang
dibawah kekuasaannya,serta berhak atas rasa aman dari ancaman ketakutan untuk
berbuat, atau tidak berbuat sesuatu, yang merupakan hak asasi, hak hidup
sejahtera lahir batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang
baik, dan sehat, serta berhak mernperoleh pelayanan kesehatan (Pasal 28 G, ayat
(1), dan Pasal 28 H, ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.
B. LANDASAN SOSIOLOGIS;
Pertimbangan sosiologis berkaitan dengan permasalahan empiris, dan
kebutuhan yang dialami oleh masyarakat, yang menyangkut tentang pengaturan
pengawasan peredaran minuman beralkohol. Oleh karena itu, secara sosiologis,
Perda Provinsi tentang pengawasan peredaran Minuman Beralkohol haruslah
memberikan jawaban atau solusi terhadap permasalahan yang berkaitan dengan
peredaran minuman beralkohol.
C. LANDASAN YURIDIS
Aspek yang berkaitan dengan hukum (yuridis) dalam pembentukan
Rancangan peraturan daerah provinsi Bali tentang pengawasan peredaran
Minuman Beralkohol ini, dikaitkan dengan peran hukum baik sebagai pengatur
12

perilaku (social control), maupun sebagai instrumen untuk penyelesaian suatu
masalah (dispute solution). Aspek yuridis ini sangat diperlukan, karena hukum,
atau peraturan perundang-undangan dapat menjamin adanya kepastian
(certainty), dan keadilan (fairness) dalam penanganan akibat minuman
beralkohol ini.
Dalam kaitannya dengan peran dan fungsi hukum tersebut, maka
persoalan hukum yang terkait dengan pengaturan, pengendalian, dan
pengawasan terhadap penggunaan minuman beralkohol masih bersifat sektoral,
dan parsial, sedangkan kebutuhan yang sangat mendesak adalah adanya peraturan
daerah provinsi yang mengatur tentang pengawasan peredaran minuman
beralkohol.

13

BAB V
JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN,
DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN
A. JANGKAUAN PENGATURAN
Lingkup atau Jangkauan pengaturan, dalam Rancangan Peraturan daerah
provinsi Bali tentang Pengawasan Peredaran Minuman Beralkohol ini, mencakup
hal-hal sebagai berikut:
Pencegahan
Pengawasan;
Penindakan
Pengadaan
Penyediaan
Peredaran
Kewenangan mengawasi
Jenis minuman beralkohol
Jumlah kuota yang diijinkan bagi masing-masing hotel di Bali
Mekanisme kerjasama
B. ARAH PENGATURAN
14

Dalam pengadaan dan pengawasan peredaran minuman beralkohol yang
legal dikalangan masyarakat diperlukan suatu peraturan yang menjadi payung
hukum dalam melaksanakan hal tersebut.
Peraturan pengadaan minuman beralkohol adalah untuk mengantisipasi
terjadinya pelanggaran akibat ketidaktahuan akan aturan jenis minuman yang
harus dilengkapi cukai yang sah. selain itu, juga untuk memberikan kewenangan
kepada aparat yang berwenang untuk mengawasi dan menindak pelaku usaha
yang melanggar peraturan tersebut. sehingga tidak ada yang melakukan tindakan
nakal dengan mengedarkan minuman yang ilegal.
Dan yang tidak kalah pentingnya untuk menjalin kerja sama dengan
seluruh pihak dalam pembinaan sebagai begian dari pencegahan peredaran
minuman beralkohol yang ilegal.
C. RUANG LINGKUP MATERI MUATAN
Berdasarkan ketentuan Pasal 10 UU No. 12 Tahun 2011, maka masalah
pengendalian peredaran minuman beralkohol, karena menyangkut hak-hak asasi
manusia untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, untuk mendapatkan
lingkungan hidup yang sehat, dan untuk berkreasi dan berekspresi, hak dan
kewajiban warga negara, keuangan negara, dan untuk mendapatkan perlindungan
terhadap hak-hak asasi manusia tersebut, maka pengendalian minuman
beralkohol, merupakan salah satu materi muatan undang-undang ini.
Selanjutnya, mengenai ruang lingkup Materi Muatan, pada dasarnya
mencakup:
1. Ketentuan Umum
Dalam ketentuan umum ini, memuat rumusan akademik mengenai
pengertian istilah, dan trasa, yaitu;
15

1. Istilah, adalah kata atau frasa yang dipakai sebagai nama/lambang, yang
mengungkapkan makna, konsep, proses, keadaan, atau sitat yang khas
dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
2. Frasa, adalah satuan linguistik yang lebih besar dari kata, dan lebih kecil
dari klausa, dan kalimat. Frasa berarti juga kumpulan kata non predikat.
2. Materi Muatan Yang Akan Diatur;
Sebagaimana diuraikan di atas, maka materi muatan atau substansi yang
berkaitan dengan RaPerda tentang pengawasan peredaran Minuman Beralkohol,
harus diatur sejak dari hulu sampai dengan hilir, atau sejak dari produksi
minuman keras sampai dengan penggunaannya (konsumsi), termasuk ekspor dan
impornya. Adapun materi muatan Rancangan Peraturan Daerah tentang
Pengawasan Peredaran Minuman Beralkohol, meliputi, antara lain:
a. Pencegahan;
Norma yang dapat dibuat :
1. pengkajian dan penyusunan kebijakan untuk mencegah terjadinya
peredaran, pengadaan dan penyediaan minuman beralkohol yang ilegal;
2. pencegahan terjadinya penyediaan minumal berarkohol berlebihan bagi
hotel-hotel yang ada di bali;
3. sosialisasi dan penyadaran larangan peredaran minuman beralkohol yang
ilegal kepada masyarakat dan Pelaku Usaha; dan
4. pembinaan kepada masyarakat dan Pelaku Usaha terhadap larangan
minuman beralkohol yang ilegal.
b. Pengawasan;
Norma yang dapat dibuat :
1. Produksi minuman beralkohol
2. Perdagangan minuman beralkohol
16

3. Pengedaran minuman beralkohol
4. Penyimpanan minuman beralkohol
5. Pengadaan minuman beralkohol
c. penindakan
Norma yang dapat dibuat antara lain:
1. Penindakan terhadap pelaku yang melanggar ketentuan perda ini.
d. Pengadaan
Norma yang dapat dibuat antara lain:
1. Pengadaan minuman berarkohol yang legal
2. jumlah pengadaan minuman beralkohol
3. ijin pengadaan minuman beralkohol
e. Penyediaan
Norma yang dapat dibuat antara lain;
1. Penyediaan minuman beralkohol yang legal
2. Kuota penyediaan bagi masing-masing retailman
3. ijin penyediaan minuman beralkohol
f. Peredaran
Norma yang dapat dibuat antara lain;
1. Siapa saja yang boleh mengedarkan minuman beralkohol legal
2. menjual dan membeli minuman beralkohol baik langsung ataupun tidak
langsung
3. mengedarkan minuman beralkohol baik secara langsung maupun tidak
langsung
17

g. Kewenangan mengawasi
Norma yang dapat dibuat antara lain:
1. Siapa saja yang berwenang mengawasi, pengadaan,penyediaaan, dan
peredaran minuman beralkohol

h. Jenis minuman beralkohol
Norma yang dapat dibuat antara lain:
1. Jenis minuman beralkohol apa saja yang termasuk legal
2. Jenis minuman beralkohol apa saja yang termasuk ilegal

i. Jumlah kuota yang diijinkan bagi masing-masing hotel di Bali
Norma yang dapat dibuat antara lain:
1. Jumlah kuota yang diijinkan bagi masing-masing hotel untuk penggunaan
minuman beralkohol

j. Mekanisme kerjasama
Norma yang dapat dibuat antara lain:
1. Aturan tentang mekanisme kerjasama dalam pencengahan dan pembinaan
terkait dengan minuman beralkohol.

18

D. Penegakkan Hukum dan Ketentuan Sanksi;
Norma-norma yang dapat dibuat antara lain adalah:
Sanksi pidana dikenakan kepada setiap orang yang melanggar ketentuan
dalam Perda ini.
E. Ketentuan Peralihan
Ketentuan Peralihan adalah salah satu ketentuan dalam peraturan perundang-
undangan yang rumusannya dapat didefinisikan ketika diperlukan atau jika
diperlukan. Definisi ini berarti bahwa tidak semua peraturan perundang-
undangan memiliki Ketentuan Peralihan (Transitional Provision). Substansinya
bahwa Ketentuan Peralihan diperlukan untuk mencegah kondisi kekosongan
hukum akibat perubahan ketentuan dalam perundang-undangan.










19

BAB VI
P E N U T U P
Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang ,
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, di Bab Penutup ini, diuraikan juga
tentang Sub Bab mengenai Kimpulan dan Sub Bab Saran.
A. KESIMPULAN
1. Pengawasan peredaran minuman beralkohol pada hakekatnya untuk
mengantisipasi terjadinya pelanggaran akibat ketidaktahuan akan aturan jenis
minuman beralkohol yang harus dilengkapi bea cukai yang sah.dan juga untuk
mengawasi dan menindak pelaku usaha yang melanggar..
2. Saat ini belum ada peraturan perundang-undangan dalam bentuk Peraturan
Daerah Provinsi yang khusus mengatur tentang Pengawasan Peredaran Minuman
Beralkohol.
B. SARAN
1. Untuk mengantisipasi terjadinya pelanggaran akibat ketidaktahuan akan
aturan jenis minuman beralkohol yang harus dilengkapi bea cukai yang sah.dan
juga untuk mengawasi dan menindak pelaku usaha yang melanggar, perlu
diterbitkannya Peraturan Daerah Provinsi yang khusus mengatur tentang
Pengawasan Peredaran Minuman Beralkohol.
2. Untuk melaksanakan amanah Pasal 28 H ayat (1) UUD Negara Republik
Indonesia 1945 yang intinya, bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir
batin, maka RaPerda tentang Pengawasan Peredaran Minuman Beralkohol,
hendaknya menjadi Prioritas dalam Program Legislasi Daerah tahun 2013, dan
dibahas serta diundangkan dalam Tahun 2013.

20

DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945:
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan;
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 tentang
Psikotropika;
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika;
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nornor 10 Tahun 2004 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, khususnya mengenai teknik
Penyusunan Peraturan Perundang-undangan di Indonesia;
6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, khususnya mengenai I teknik
Penyusunan Peraturan Perundang-undangan di Indonesia;
7. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1997 tentang
Pengawasan dan Pengendalian Minuman Beralkohol;
8. Perda Kab. Sleman No. 8 Tahun 2007, tentang Minuman Beralkohol
9. Http://WWW.Wikipedia.com, Ensiklopedia Bebas, diakses tanggal 23
oktober 2013.