Anda di halaman 1dari 33

PEMBIMBING :

PROF. Dr. J. POSANGI, PhD



OLEH :
DEDI K. SAPUTRA
VICTOR SIAHAYA
BENNY WIBISONO
SALLY PALIT
LOGIKA
PENGERTIAN

Alexander Aphrodisias (abad III SM)
orang I menggunakan kata Logika
ilmu yg menyelidiki lurus tidaknya
pikiran kita.

Bepikir objek material logika
kegiatan pikiran, akal budi
manusia

Objek formal logika lurus & tepat
Aristoteles analitika & dialetika

Analitika menyelidiki argumentasi,
bertitik tolak dari putusan yg benar
Dialektika menyelidiki argumentasi,
bertitik tolak dari putusan yg tidak pasti
kebenarannya

Ilmu pengetahuan :
1. Praktis -> etika & politika
2. Produktif -> menghasilkan karya
3. Teoretis -> fisika, matematika & filsafat
Himpunan ajaran Aristoteles
organon

Categories -> cara menguraikan suatu
objek dalam pengertian umum
On Interpretation (penafsiran) ->
penyimpulan langsung & bujur sangkar
pertentangan
Prior Analyties -> teori silogisme
Posterior Analyties -> penalaran silogistik
Topics -> perbincangan berdasarkan
premis2 yg boleh jadi benar
Sophistical Refutations -> sifat dasar &
penggolongan sesat pikir.
PEMBAGIAN LOGIKA (The Liang Gie,
1980)
Makna sempit & Makna Luas
MAKNA SEMPIT LOGIKA DEDUKTIF / LOGIKA FORMAL
MAKNA LUAS KESIMPULAN BERBAGAI BUKTI, BAGAIMANA
SISTEM PENJELASAN DISUSUN, PEMBAHASAN MENGENAI
LOGIKA
Logika deduktif & induktif
LOGIKA DEDUKTIF PENALARAN YG MENURUNKAN SUATU
KESIMPULAN SEBAGAI KEMESTIAN DARI PANGKAL PIKIRAN
BERSIFAT BETUL MENURUT BENTUKNYA SAJA
Logika formal & material
LOGIKA FORMAL LOGIKA MINOR ILMU YG
MENGANDUNG KAIDAH CARA BERPIKIR UNTUK MENCAPAI
KEBENARAN
LOGIKA MATERIAL LOGIKA MAYOR MEMPELAJARI
SUMBER DAN ASAL PENGETAHUAN, ALAT PENGETAHUAN,
PROSES TERJADINYA & MERUMUSKAN METODE ILMU
PENGETAHUAN

Logika murni & terapan
LOGIKA MURNI PENGETAHUAN TENTANG ASAS &
ATURAN LOGIKA YG BERLAKU TANPA
MEMPERSOALKAN ARTI KHUSUS
LOGIKA TERAPAN PENGETAHUAN YG DITERAPKAN
DALAM CABANG ILMU, BIDANG FILSAFAT & DALAM
PEMBICARAAN YG MENGGUNAKAN BAHASA SEHARI-
HARI
Logika filsafati & matematik
LOGIKA FILSAFATI BERHUBUNGAN ERAT DENGAN
PEMBAHASAN BIDANG FILSAFAT. MIS : LOGIKA
KEWAJIBAN DENGAN ETIKA ATAU LOGIKA ARTI
DENGAN METAFISIKA
LOGIKA MATEMATIK MENELAAH PENALARAN
DENGAN METODE MATEMATIK & LAMBANG YG
KHUSUS & CERMAT MENGHINDARKAN MAKNA
GANDA ATAU KEKABURAN DALAM BAHASA BIASA

UNSUR UNSUR PENALARAN





Noor Ms Bakry (1983)


PENALARA
N
KONSEP UMUM PROSES
PEMIKIRAN
KESIMPULAN
DASAR SEMUA BENTUK PENALARAN
PENGERTIA
N
1. Pengertian & Term
PENGERTIAN KONSEP/IDE


HASIL TANGKAPAN AKAL MANUSIA MENGENAI SUATU OBJEK
KATEGORIMATIS
TERM
SINKATEGORIMATIS

PENGERTIAN DALAM BENTUK KATA ATAU
SIMBOL
2. KOMPREHENSI & EKSTENSI
Komprehensi
isi
keseluruhan arti yg dimaksudkan o/
suatu term

Ekstensi
cakupan
keseluruhan hal yg ditunjuk o/ term

3. Pelbagai Macam Term

a. Menurut Komprehensi


Lingkungan Hakikat Lingkungan
Sifat


Konkret Abstrak Konkret
Abstrak
b. Menurut Ekstensinya


Term Umum Term Khusus


Universal Kolektif Partikular
Singular
c. Menurut Predikabilia

2 ZAT 3 SIFAT

GENUS DIFERENSIA
(jenis) (pembeda)
SPESIES PROPRIUM
(golongan) (khusus)
AKSIDENS
(kebetulan)
4. Pembagian & Definisi
PEMBAGIAN -> MEMECAH BELAH ATAU
MENCERAIKAN SECARA JELAS
BERBEDA KE BAGIAN-BAGIAN
DARI
SUATU KESELURUHAN




PEMBAGIA
N
LOGIS
REALI
S
UNIVERSAL
DIKOTOMI
ESENSIAL
AKSIDENTAL
DEFINISI
-> DEFINIRE (LATIN) : MENANDAI BATAS
BATAS
MENENTUKAN BATAS
MEMBERI BATASAN ARTI
-> PERNYATAAN YG MEMUAT
PENJELASAN
TENTANG ARTI SUATU TERM
DEFINIENDUM (PANGKAL)->
YG
HARUS DIBERI PENJELASAN
2 BAGIAN
DEFINIENS (PEMBATAS) ->
URAIAN MENGENAI ARTI DARI
BAGIAN PANGKAL
MACAM-MACAM DEFINISI


SINONIM ESENSIAL
OPERASIONAL
SIMBOLIS - ANALITIS PERSUASIF
ETIMOLOGIS - KONOTATIF FUNGSIONAL
SEMANTIS DESKRIPTIF
STIPULATIF - AKSIDENTAL
DENOTATIF -KAUSAL
NOMINALIS REALIS
PRAKTI
S
KATEGORIS -> P
MENERANGKAN S
D. PROPORSI
MAJEMUK


KATEGORIS
KUANTI-
TAS
KUALITA
S
UNIVERSAL
PARTIKULAR
(+) ; BERSIFAT
MENGAKUI
(-) : BERSIFAT
MENGINGKARI
PROPORSI
MAJEMUK
P. HIPOTETIS
P.
DISJUNGTIF
P.
KONJUNGTIF
BIKONDISIO-
NAL /
EKUIVALEN
KONDISIONAL
/ IMPLIKASI
EKSKLUSIF
INKLUSIF
ALTERNATIF




KEGIATAN MENYIMPULKAN SECARA LANGSUNG
DENGAN MEMBANDINGKAN ANTARA
PROPORSISI YG SATU DENGAN PROPORSISI YG
LAIN DALAM TERM YG SAMA UNTUK
MENENTUKAN KESAHIHAN SEBUAH PROPOSISI
E. PERLAWANAN /
OPOSISI
PERLAWANAN ADA 4 MACAM :
PERLAWANAN KONTRADIKSI (A-O DAN I-E)
JIKA YG 1 BENAR, YG LAIN TENTU SALAH
JIKA YG 1 SALAH, YG LAIN TENTU BENAR
TIDAK ADA KEMUNGKINAN KETIGA
PERLAWANAN KONTRARI (A-E)
JIKA YG 1 BENAR, YG LAIN TENTU SALAH
JIKA YG 1 SALAH, YG LAIN DAPAT BENAR, TAPI JUGA DAPAT
SALAH
KEDUA-DUANYA SAMA-SAMA SALAH
PERLAWANAN SUBKONTRARI (I-O)
TIDAK MUNGKIN KEDUA-DUANYA SALAH
BISA KEDUA-DUANYA BENAR
PERLAWANAN SUBALTERNASI (A-I DAN E-O)
JIKA A BENAR -> I BENAR
JIKA I BENAR -> BELUM TENTU A BENAR
JIKA E BENAR -> O BENAR
JIKA O BENAR -> BELUM TENTU E BENAR
F. KONVERSI, INVERSI &
KONTRAPOSISI
PENYIMPULAN LANGSUNG
DENGAN
MENUKAR KEDUDUKAN S & P
TANPA
MENGUBAH MAKNA


PENYIMPULAN LANGSUNG
DENGAN
MENGINGKARI S & P PADA
PROPOSISI



PENYIMPULAN LANGSUNG
DENGAN
MENUKAR KEDUDUKAN S & P
SERTA
MENGINGKARINYA
KONVERSI
INVERSI
KONTRA-
POSISI




ARGUMEN YG TERDIRI ATAS 3
PROPOSISI KATEGORIS YG SALING
BERKAITAN, 2 JADI DASAR PENYIMPULAN
(PREMIS) DAN 1 JADI KESIMPULAN
(KONKLUSI)
G. SILOGISME
KATEGORIS
H. SILOGISME MAJEMUK

KESIMPULAN DENGAN CARA
MENGINGKARI SALAH SATU BAGIAN
DISJUNGTIF INKLUSIF SEBAGAI
PREMIS
MAYOR MAKA KESIMPULANNYA
ADALAH MENGAKUI BAGIAN YG LAIN

KESIMPULAN DENGAN CARA
MENGAKUI SALAH SATU BAGIAN
DISJUNGTIF EKSKLUSIF SEBAGAI
PREMIS
MAYOR MAKA KEIMPULANNYA
ADALAH
MENGINGKARI BAGIAN YG LAIN
SILOGISME
DISJUNGTIF
INKLUSIF
SILOGISME
DISJUNGTIF
EKSKLUSIF


DAPAT BERBENTUK MPT ATAU
MTP



BISA BERBENTUK MPP DAN
MTT
SILOGISME
DISJUNGTIF
ALTERNATIF
SILOGISME
HIPOTETIS
BIKONDISIO-
NAL
MODUS PONENDO
PONEN(MPP)
-> KESIMPULAN DENGAN MENGAKUI
SALAH SATU BAGIAN PROPOSISI.
HIPOTETIS
SEBAGAI PREMIS MAYOR MAKA
KESIMPULANNYA ADALAH MENETAPKAN
BAGIAN YG LAIN

MODUS TOLENDO TOLEN (MT
T)
-> KESIMPULANNYA DENGAN
MENGINGKARI
SALAH SATU BAGIAN PROPOSISI HIPOTETIS
SEBAGAI PREMIS MAYOR, MAKA
KESIMPULANNYA ADALAH MENGINGKARI
BAGIAN YG LAIN

SILOGISME
HIPOTETIS
KONDISIONAL





TERJADI KETIKA MENYIMPULKAN SESUATU
LEBIG LUAS DARIPADA DASARNYA (Latius hos)
I. SESAT PIKIR
KESESATAN KARENA BAHASA

AKSEN ATAU TEKANAN
PERUBAHAN TEKANAN DAPAT MEMBAWA
PERUBAHAN ARTI. MIS : APEL -> BISA
BERARTI BUAH ATAU UPACARA

TERM EKUIVOK
MEMPUNYAI LEBIH DARI SATU ARTI. MIS :
SIFAT ABADI ADALAH SIFAT ILAHI. ADAM
ADALAH MAHASISWA ABADI -> ADAM
ADALAH MAHASISWA YG BERSIFAT ILAHI


ARTI KIASAN (METAPHORA)
DISAMAKAN DENGAN ARTI SEBENARNYA
ATAU SEBALIKNYA

AMFIBOLI
KONSTRUKSI SEBUAH KALIMAT ITU
SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA ARTINYA
MENJADI BERCABANG. MIS : MAHASISWA YG
DUDUK DI ATAS MEJA YG PALING DEPAN..
APA YG PALING DEPAN MAHASISWA ATAU
MEJA???

KESESATAN KARENA RELEVANSI
ARGUMENTUM AD HOMINEM
TERJADI BILA KITA BERUSAHA AGAR ORANG MENERIMA
ATAU MENOLAK SESUATU USUL, TIDAK BERDASARKAN
DASAR PENALARAN, TAPI KARENA BERHUBUNGAN
DENGAN KEPENTINGAN ATAU KEADAAN ORANG YG
MENGUSULKAN ATAU YG DIUSULI
ARGUMENTUM AD VARECUNDIAM ATAU
ARGUMENTUM AUCTORITATIS
TIDAK BERDASARKAN PENALARAN, TAPI KARENA
ORANG YG MENGEMUKAKAN ADALAH ORANG YG
BERWIBAWA
ARGUMENTUM AD BACULUM
TERJADI KARENA ADANYA ANCAMAN HUKUM

ARGUMENTUM AD MISERICORDIAM
TERJADI KARENA ADANYA BELAS KASIHAN

ARGUMENTUM AD POPULUM
DITUJUKAN KEPADA RAKYAT, SUATU MASSA,
PENDENGAR ORANG BANYAK. PEMBUKTIAN
SECARA LOGIS TIDAK DIPENTINGKAN, YG
DIUTAMAKAN MENGGUGAH PERASAAN,
MEMBANGKITKAN SEMANGAT ATAU MEMBAKAR
EMOSI PENDENGAR. CONTOH : KAMPANYE
POLITIK, PIDATO, DEMONSTRASI, PROPAGANDA

KESESATAN NON CAUSA PRO CAUSA
BILA MENGANGGAP SESUATU SEBAGAI SEBAB, PADAHAL
BUKAN SEBAB ATAU BUKAN SEBAB YG LENGKAP

IGNORATIO ELENCHI
KONKLUSI YG DITURUNKAN DARI PREMIS TIDAK
RELEVAN DENGAN PREMIS ITU

ARGUMENTUM AD IGNORANTIAM
MENYIMPULKAN KONKLUSI ATAS DASAR BAHWA
NEGASINYA TIDAK TERBUKTI SALAH, ATAU SEBALIKNYA

KESESATAN AKSIDENSI
BILA MENERAPKAN PRINSIP ATAU PERNYATAAN
UMUM KEPADA PERISTIWA ATAU PERISTIWA-
PERISTIWA TERTENTU KARENA KONDISI YG
AKSIDENTAL, MENYEBABKAN PENERAPAN ITU TIDAK
COCOK

KESESATAN KARENA KOMPOSISI &
DIVISI
ADA PREDIKAT-PREDIKAT YG HANYA MENGENAI INDIVIDU-
INDIVIDU SUATU KELOMPOK KOLEKTIF. KALAU KITA
MENYIMPULKAN BAHWA PREDIKAT ITU JUGA BERLAKU
UNTUK KELOMPOK KOLEKTIF SELURUHNYA, PENALARAN
KITA SESAT KARENA KOMPOSISI
STRATEGI MENGHINDARI SESAT
PIKIR

KRITIS TERHADAP SETIAP
ARGUMEN


UPAYAKAN SETIAP KATA ATAU
KALIMAT MEMILIKI MAKNA YG
TEGAS
& JELAS
TERIMA KASIH