Anda di halaman 1dari 16

1

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
limpahan rahmat serta karuniaNya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan kasus
dengan judul Anestesi Regional pada Pasien Sectio Caesarea G6P4A1 dengan Presentasi
Bokong. Dalam menyelesaikan laporan kasus ini, kami mendapat bantuan dan bimbingan,
untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. dr. Dublianus, Sp.An selaku kepala SMF dan sebagai pembimbing yang telah
memberikan kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu dan menjalani
Kepaniteraan Klinik Ilmu Anestesi di Rumah Sakit Umum Daerah Cilegon.
2. dr. Evita, SpAn dan dr. Tati, SpAn selaku pemimbing Kepaniteraan Klinik Ilmu
Anestesi di Rumah Sakit Umum Daerah Cilegon.
3. Staf dan paramedis yang bertugas di Kamar Operasi Rumah Sakit Umum Daerah
Cilegon, khususnya kepada seluruh penata anestesi yang telah membantu selama
kami menjalankan kepaniteraan.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih memiliki banyak kekurangan,
oleh karena kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan. Penulis berharap laporan
khusus ini dapat memberikan manfaat yaitu menambah ilmu pengetahuan bagi seluruh
pembaca, khususnya untuk mahasiswa kedokteran dan masyarakat pada umumnya.


Cilegon, Juni 2014

Penulis










2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI 2
BAB I PENDAHULUAN 3
BAB II LAPORAN KASUS 4
2.1 IDENTITAS PASIEN 4
2.2 ANAMNESIS 4
2.3 PEMERIKSAAN FISIK 4
2.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG 6
2.5 KESAN ANESTESI 6
2.6 PENATALAKSANAAN 6
2.7 KESIMPULAN 7
BAB III LAPORAN ANESTESI 8
3.1 PRE OPERATIF 8
3.2 PREMEDIKASI ANESTESI 8
3.3 TINDAKAN ANESTESI 8
3.4 PEMANTAUAN ANESTESI 9
BAB IV ANALISA KASUS 12
BAB V KESIMPULAN 15
DAFTAR PUSTAKA 16













3

BAB I
PENDAHULUAN

Ilmu Anestesi dan Reanimasi adalah cabang Ilmu Kedokteran yang mempelajari
tatalaksana untuk me matikan rasa, baik rasa nyeri, takut dan rasa tidak nyaman yang lain
sehingga pasien nyaman dan ilmu yang mempelajari tatalaksana untuk mempelajari
tatalaksana untuk menjaga/mempertahankan hidup dan kehidupan pasien selama mengalami
kematian akibat obat anesthesia.
1
Tindakan anestesi yang memadai, meliputi tiga komponen yaitu hipnotik (mati
ingatan), analgesia (mati rasa) dan relaksasi otot rangka (mati gerak). Untuk mencapai ke tiga
target tersebut, dapat digunakan hanya dengan satu jenis obat atau dengan memberikan
beberapa kombinasi obat yang mempunyai efek khusus seperti tersebut di atas. Ke tiga target
anesthesia tersebut popular disebut trias anesthesia.
1
Sectio caesarea adalah proses lahirnya janin, plasenta dan selaput ketuban melalui
irisan yang dibuat pada dinding perut dan rahim. Pilihan anestesi yang digunakan biasanya
adalah anestesi regional (spinal atau epidural) atau anesthesia umum melalui pipa endotrakea
dan nafas kendali apabila ada permintaan khusus dari pasien. Anestesi spinal lebih disukai
untuk bedah sesar dikarenakan onset cepat, teknik sederhana, relatif mudah dilakukan dan
menimbulkan relaksasi otot yang sempurna dibandingkan dengan anestesi epidural, dan profil
keselamatan ibu dan bayi lebih besar dibandingkan dengan anestesi umum.
2















4

BAB II
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. Puryani
Umur : 41 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Kampung Taman Cilegon, Desa Sukmajaya, Kecamatan
Jombang
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Status : Kawin
Tanggal masuk : 18 Juni 2014

B. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 19 Juni 2014,
pukul 07.00 WIB di bangsal Edelweis RSUD Cilegon.
Pasien merupakan pasien obsgyn dengan diagnosis G6P4A1 usia kehamilan 38
minggu, presentasi bokong.
Riwayat penyakit sekarang: Demam dan batuk disangkal.
Riwayat penyakit dahulu: Penyakit jantung, hipertensi, penyakit hati, penyakit ginjal,
penyakit paru, asma, dan diabetes mellitus disangkal. Alergi terhadap obat-obatan,
makanan dan udara dingin disangkal.
Riwayat kebiasaan dan pengobatan: Pasien tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan
tertentu maupun jamu-jamuan. Pasien tidak memiliki kebiasaan merokok dan minum
minuman beralkohol. Penggunaan gigi palsu, adanya gigi goyang maupun gigi
tanggal disangkal.

C. PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada 19 Juni 2014 pukul 07.15 WIB.
Keadaan umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos mentis
5

BB : 60 kg
TB : 155 cm
Tekanan darah : 120/80
Nadi : 82x/menit
Suhu : 36,60C
Pernapasan : 20x/menit
Status generalis :
a. Kulit : warna sawo matang, tidak ikterik, tidak sianosis, turgor
cukup, CRT < 2 detik, teraba hangat.
b. Kepala :
- Hidung : tidak ada polip, perdarahan, maupun deviasi septum.
- Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik.
- Mulut : tidak ada trismus. Jumlah gigi 32. Tidak ada gigi berlubang,
goyang, maupun tanggal. Uvula berada di tengah. Dinding posterior faring dan
palatum molle terlihat. Tidak ada kripta dan detritus. Tonsil T1-T1, tidak
hipertrofi tonsil.
c. Leher : leher panjang, tidak terdapat struma, sikatrik. Tidak
ditemukan kaku kuduk.
d. Toraks :
- jantung: tampak ictus cordis pada ICS V garis midklavikula sinistra. Ictus
cordis teraba kuat pada ICS V garis midklavikula sinistra. Batas atas kiri: ICS
II garis parasternal sinistra. Batas atas kanan: ICS II garis sernalis dekstra.
Batas bawah kiri: ICS V garis midklavikula sinistra. Batas bawah kanan: ICS
IV garis sternal dekstra. Auskultasi: BJ I-II regular, tidak ditemukan gallop
dan murmur.
- Paru: dinding dada simetris statis-dinamis, tidak ada retraksi maupun
ketertinggalan gerak. Vokal fremitus kanan kiri sama kuat. Sonor kedua
lapang paru. Suara napas vesikuler, tidak terdengar ronkhi maupun wheezing
di kedua lapang paru.
e. Abdomen : perut cembung, simetris, tidak terdpaat jejas, ditemukan striae,
terdapat pelebaran vena.
f. Ekstremitas : tidak terdapat jejas, sikatrik, sianosis, maupun edema di kedua
tungkai. Turgor kulit baik, akral hangat.
6

g. Punggung : tidak ditemukan tanda-tanda inflamasi maupun kelainan
bentuk vertebra.
h. Pemeriksaan Kehamilan:
- bunyi jantung janin: 146x/menit, teratur.
- Tinggi fundus uteri: 38 cm.
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Lab darah :
Jenis Pemeriksaan Nilai Pasien Nilai normal
Gula Darah Sewaktu 95 70-125 mg/dL
Hemoglobin 14 12-14 g/dL
Trombosit 415.000 150.000-450.000/L
Masa Perdarahan 2 menit 1-6 menit
Masa Pembekuan 11 menit 5-15 menit
HbsAg Negatif Negatif
Anti HIV Non reaktif Non reaktif
Golongan Darah 0 Rh (+)

E. KESAN ANESTESI
Diagnosis anestesia: ASA I.

F. PENATALAKSANAAN
Meliputi:
a. Intravena fluid drip RL 500 cc 20 tpm.
b. Informed consent tindakan operasi section caesaria.
c. Konsult ke bagian anestesi.
d. Informed consent pembiusan: dilakukan operasi pembedahan Sectio Caesaria
dengan regional anestesi klasifikasi ASA I.


7

G. KESIMPULAN
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, maka diagnosis preoperative: G6P4A1
usia kehamilan 38 minggu presentasi bokong. Diagnosis anestesia ASA I. Jenis
operasi section caesaria. Jenis anestesi regional anestesi (spinal anestesi)






























8

BAB III
LAPORAN ANESTESI

A. Preoperatif
Informed consent (+)
Puasa sekitar 6-8 jam
Tidak terdapat gigi goyang dan pemakaian gigi palsu
IV Line terpasang dengan infus RL 500 cc, mengalir lancar
Keadaan umum tampak sakit ringan
Kesadaran compos mentis
Tanda vital:
TD : 120/80
RR : 20X/menit
Nadi : 82x/menit
Suhu : 36
0
C

B. Premedikasi Anestesi
Sebelum dilakukan tindakan anestesi diberikan Ondansentron 4 mg secara bolus
IV.

C. Tindakan Anestesi
Pasien dalam posisi duduk, kepala menunduk, kemudian menentukan lokasi
penyuntikkan di L3-L4, yaitu di atas titik hasil perpotongan antara garis yang
menghubungkan crista iliaca dekstra dan sinistra dengan garis vertical tulang
vertebra yang berpotongan di vertebral lumbal IV. Kemudian dilakukan tindakan
asepsis dan antisepsis dengan kassa steril dan povidon iodine. Lalu dilakukan
penyuntikkan di titik L3-L4 paramediana yang sudah ditandai sebelumnya dengan
menggunakan jarum spinal no. 27 G, kemudian jarum spinal dilepaskan hingga
tersisa kanulnya, lalu dipastikan bahwa LCS yang berwarna jernih mengalir
melalui kanul (ruang subarachnoid), kemudian obat anestesi, yaitu Bupivakain 20
mg disuntikkan dengan terlebih dahulu melakukan aspirasi untuk memastikan
kanul spinal masih tetap di ruang subarachnoid. Setelah Bupivakain disuntikkan
setengah volumenya kembali dilakukan tindakan aspirasi LCS untuk memastikan
kanul tidak bergeser, lalu Bupivakain disuntikkan semua. Setelah itu luka bekas
9

suntian ditutup dengan kassa steril dan micropore. Kemudian pasien dibaringkan
di meja operasi.

D. Pemantauan Selama Tindakan Anestesi
Dilakukan pemantauan keadaan pasien terhadap tindakan anestesi yang telah
dilakukan. Yang dipantau adalah fungsi kardiovaskular dan fungsi respirasi, serta
cairan.
- Kardiovaskular : pemantauan terhadap tekanan darah dan frekuensi nadi
setiap 5 menit
- Respirasi : inspeksi pernapasan spontan kepada pasien dan
saturasi oksigen
- Cairan : monitoring input cairan infus

Lampiran Monitoring Tindakan Operasi
Pukul Tindakan TD Nadi Saturasi
11.00 Pasien masuk kamar operasi, dibaringkan
di meja operasi kemudian dilakukan
pemasangan manset di lengan kiri atas dan
pulse oxymetri di ibu jari tangan kanan.
Setelah itu dilakukan spinal anestesi.
136/88 83 99
11.05 Operasi dimulai 127/81 84 99
11.10 113/74 81 97
11.15 Diberikan ephedrine HCl 100 mg bolus 84/61 83 98
11.20 121/82 91 98
11.25 Diberikan induxin 10 IU drip dalam cairan
RL
Diberikan pospargin 0,2 mg bolus
135/85 88 99
11.30 124/81 86 99
11.35 111/83 81 98
10

11.40 104/86 79 98
11.45 106/83 82 99
11.50 106/78 85 100
11.55 105/76 84 99
12.00 Diberikan pronalges sup I
Diberikan Tramadol 100 mg
Operasi selesai
101/73 86 99

Laporan Anestesi
1. Diagnosis Pra Bedah
G6P4A1 usia kehamilan 38 minggu presentasi bokong
2. Diagnosis Pasca Bedah
G6P5A1 Post Sectio Caesaria
3. Penatalaksanaan Preoperasi
Infus RL 500 cc
4. Penatalaksaan Anestesi
a. Jenis pembedahan : section caesaria
b. Jenis anestesi : regional anestesi
c. Teknik anestesi : sub arachnoid block, L3-L4, LCS +, jarum spinal no.
27 G
d. Mulai anestesi : 11.00 WIB
e. Mulai operasi : 11.05 WIB
f. Premedikasi : Ondansentron 4 mg IV
g. Medikasi : Bupivakain 20 mg
h. Medikasi tambahan: Induxin 10 IU drip dalam 500 cc RL, pospargin 0,2
mg IV, ephedrine 10 mg IV, pronalges supp I
i. Maintainance : -
j. Respirasi : pernapasan spontan
k. Cairan durante op : RL 500 cc
l. Selesai operasi : 12.00 WIB

11

5. Post Operatif
a. Pasien masuk ke dalam ruang pemulihan kemudian dibawa kembali ke
ruang rawat inap.
b. Observasi tanda vital:
Keadaan umum : tampak sakit ringan
Kesadaran : compos mentis
TD : 103/74
Nadi : 75x/menit
Saturasi oksigen : 98%
Penilaian pemulihan kesadaran

Skor Aldrete
Variabel Skor Skor
pasien
Aktivitas Gerak ke-4 anggota gerak atas perintah
Gerak ke-2 anggota gerak atas perintah
Tidak merespon
2
1
0
1
Respirasi Dapat bernapas dalam dan batuk
Dispnoe, hipoventilasi
Apneu
2
1
0
2
Sirkulasi Perubahan <20% TD sistol preoperasi
Perubahan 20-50% sistol preoperasi
Perubahan >50% TD sistol preoperasi
2
1
0
2
Kesadaran Sadar penuh
Dapat dibangunkan
Tidak merespon
2
1
0
2
Warna
kulit
Merah
Pucat
Sianotik
2
1
0
2
Skor total 9


12

BAB IV
ANALISIS KASUS

Berdasarkan anamnesis dan riwayat pasien, maka pasien dapat diklasifikasikan
dengan ASA 1, yaitu pasien tanpa kelainan maupun penyakit sistemik. Persiapan yang
dilakukan sebelum operasi yaitu memastikan pasien dalam keadaan sehat, memasang infus,
dan dalam keadaan puasa selama 6-8 jam sebelum operasi. Menjelang operasi pasien dalam
keadaan tampak sakit ringan dan kesadaran compos mentis. Jenis anestesi yang akan
dilakukan adalah regional anestesi dengan teknik spinal anestesi subarachnoid block sit
position. Blok subarachnoid adalah blok regional yang dilakukan dengan jalan menyuntikkan
obat anestetik local ke dalam ruang sub arachnoid pada celah interspinosum L3-L4 atau L4-
L5 melalui tindakan pungsi lumbal.
1

Indikasi dilakukannya anestesi spinal sub arachnoid adalah untuk pembedahan daerah
tubuh yang dipersarafi cabang T4 ke bawah yaitu daerah abdominal dan inguinal,daerah
anorektal dan genitalia eksterna serta daerah ekstremitas inferior. Adapun beberapa kontra
indikasi pada penggunaan teknik anestesi spinal sub arachnoid yng terbagi menjadi kontra
indikasi absolut dan relative. Kontra indikasi absolut meliputi pasien yang menolak, infeksi di
daerah lumbal, syok hipovolemia, koagulopati atau mendapat terapi koagulan, tekanan
intracranial tinggi, fasilitas resusitasi minim, kurang pengalaman atau tanpa pendampingan
dari konsultan anesthesia. Sedangkan untuk kontra indikasi relative yaitu infeksi sistemik
(sepsis, bakteriemi), kelainan neurologis, kelainan psikis, bedah lama, penyakit jantung dan
nyeri punggung kronis.
2

Dari anamnesis didapatkan pasien G6P4A1 usia kehamilan 38 minggu presentasi
bokong, tidak ada riwayat SC sebelumnya. Pasien direncanakan untuk operasi sectio caesaria.
Sebelum operasi dimulai, pasien dipersiapkan terlebih dahulu dengan memastikan
infus berjalan lancar agar obat-obatan yang diberikan melalui jalur intravena dapat bekerja
secara efektif, lalu memasang alat-alat yang berhubungan dengan tanda vital yaitu tensimeter
dan saturasi O
2
agar dapat dimonitor selama operasi berlangsung, karena obat anestesi dapat
memengaruhi tekanan darah dan suplai oksigen pasien. Setelah itu dipastikan bahwa pasien
dalam keadaan tenang dan kooperatif.
Pasien diberikan obat premedikasi yaitu Ondansetron 4 mg secara bolus IV, agar
dapat mengurangi rangsang muntah pada pasien akibat obat-obat anestesi lainnya yang akan
diberikan.Ondansetron adalah suatu antagonis reseptor serotonin 5-HT3 selektif. Serotonin 5-
hydroxytriptamine merupakan zat yang akan dilepaskan jika terdapat toksin dalam saluran
13

cerna, berikatan dengan reseptornya dan akan merangsang saraf vagus menyampaikan
rangsangan ke CTZ (chemoreceptor trigger zone) dan pusat muntah, sehingga terjadi mual &
muntah.
3

Kemudian dilakukan anestesi terhadap pasien menggunakan obat Bupivacaine
5mg/ml, yaitu anestesi local yang bekerja memblok konduksi impuls saraf dengan
meningkatkan ambang eksitasi listrik pada saraf, dengan memperlambat penyebaran impuls,
juga mengurangi laju kenaikan potensial aksi. Bupivacaine mengikat bagian saluran
intraseluler natrium dan memblok masuknya natrium ke dalam sel saraf sehingga mencegah
depolarisasi, dengan sifat reversible. Bupivacaine memiliki onset cepat dan masa kerja
panjang.
4

Efedrin 100 mg secara bolus intravena diberikan kepada pasien karena pasien
mengalami hipotensi, yang dapat terjadi akibat obat anestesi bersifat vasodilator sehingga
menurunkan tekanan darah. Keadaan tersebut dapat membahayakan ibu maupun janin
sehingga harus segera diatasi. Ephedrine memiliki efek vasokonstriksi pembuluh darah.
5

Setelah bayi lahir, pasien diberikan Oxytocin 10 IU secara drip dalam ringer laktat
dan Metergin 0,2 mg lewat intravena agar membantu kontraksi uterus sehingga dapat
mencegah perdarahan pasca persalinan.
Setelah operasi selesai, pasien diberikan tramadol 100 mg dalam ringer laktat untuk
mengurangi rasa sakit pasca operasi. Pasien dipindahkan ke recovery room untuk dilakukan
pemantauan sebelum dibawa kembali ke ruangan.

Terapi Cairan Intra-Operatif

Kebutuhan Cairan Basal (M):
Kebutuhan cairan basal (rutin, rumatan) ialah:
4 ml/kgBB/jam tambahan untuk berat badan 10 kg pertama
2 ml/kgBB/jam untuk berat badan 10 kg kedua
1 ml/kgBB/jam tambahan untuk sisa berat badan
Pada pasien ini diperoleh kebutuhan cairan basal sebagai berikut:
BB pasien = 60 kg
(4x10) + (2x10) + (1x40) = 100 cc


14

Kebutuhan Cairan Operasi (O):
Pembedahan akan menyebabkan cairan pindah ke ruang peritoneum, ruang ketiga,
atau luar tubuh. Untuk menggantinya tergantung pada besar kecilnya pembedahan, 6-
8 ml/kg untuk operasi besar, 4-6 ml/kg untuk operasi sedang, dan 2-4 ml/kg untuk
operasi kecil.
Pada pasien ini diperoleh kebutuhan cairan operasinya adalah sebagian berikut:
Operasi sedang x berat badan = 6 ml x 60 kg = 360 cc

Kebutuhan Cairan Puasa (P)
Lama puasa x kebutuhan cairan basal
= 8 jam x 100 cc = 800 cc

Pemberian cairan jam pertama:
Kebutuhan cairan basal + kebutuhan cairan operasi + 50% kebutuhan cairan puasa
= 100 cc + 360 cc + 400 cc = 860 cc












15

BAB V
KESIMPULAN

Pasien merupakan pasien obstetri dan ginekologi dengan diagnosis G6P4A1 usia
kehamilan 38 minggu presentasi bokong. Dari anamnesis pasien tidak terdapat keluhan mual,
muntah dan tidak terdapat penyakit sistemik seperti hipertensi, diabetes mellitus, maupun
alergi. Pasien juga tidak menggunakan gigi palsu maupun gigi goyang. Pasien tidak sedang
demam maupun batuk. Dari pemeriksaan fisik maupun penunjang tidak terdapat kelainan
pada pasien. Berdasarkan klasifikasi status fisik pasien pra-anestesi menurut American
Society of Anesthesiologist, pasien digolongkan dalam ASA 1.
Pasien diberikan premedikasi berupa ondansetron dan dilakukan regional anestesi
dengan teknik subarachnoid block pada L3-L4 dengan menggunakan spinal needle dengan
ukuran diameter 27. Lalu dimasukkan obat bupivacaine. Obat-obat yang diberikan pada
pasien ini adalah efedrin, oxytocin, metergin, dan tramadol.













16


DAFTAR PUSTAKA

1. Mangku, Gde, dkk. 2010. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi. Jakarta : PT
Indeks.
2. Said A. Latief, Kartini A Suryadi, M. Ruswan Dachlan. Petunjuk
PraktisAnestesiologi. Edisi ke-2. Bagian Anstesiologi dan Terapi Intensif Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2001.
3. Ondansetron: Medscape reference. Ondansetron. [Online]. Updated January 2014.
Available at http://reference.medscape.com/drug/zofran-zuplenz-ondansetron-342052.
Accessed 19 June, 2014.
4. Bupivacaine: Medscape Reference. Bupivacaine. [Online]. Updated January 2014.
Available at http://reference.medscape.com/drug/marcaine-sensorcaine-bupivacaine-
343360. Accessed 19 June, 2014.
5. Efedrin: Medscape Reference. Ephedrin. [Online]. Updated January 2014. Available
at http://reference.medscape.com/drug/ephedrine-342436. Accessed 19 June, 2014