Anda di halaman 1dari 4

TEORIONLINE PERSONAL PAPER

No. 01/ Feb-2014


1


Situational Leaderhip Model
Hersey and Blanchard

Hendryadi
www.teorionline.net
Phone : 021 9229 0445 / 0856 9752 3260
Email : hendry.basrah@gmail.com


Abstrak
Tidak jauh berbeda dengan model kepemimpinan situasional yang sudah
dijelaskan sebelumnya yaitu Path Goal Theory of Leadership (kepemimpinan jalur
tujuan) yang berusaha memprediksi keefektifan kepemimpinan dalam berbagai
situasi, Hersey dan Blachard mengembangkan model kepemimpinan situasional yang
lebih dikenal dengan istilah situational leaderhip model (SLM). Model kepemimpinan
situasional ketiga dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard. Robbins dan Judge
(2007) menyatakan bahwa pada dasarnya pendekatan kepemimpinan situasional
dari Hersey dan Blanchard mengidentifikasi empat perilaku kepemimpinan yang
khusus dari sangat direktif, partisipatif, supportif sampai laissez-faire. Perilaku mana
yang paling efektif tergantung pada kemampuan dan kesiapan pengikut. Sedangkan
kesiapan dalam konteks ini adalah merujuk pada sampai dimana pengikut memiliki
kemampuan dan kesediaan untuk menyelesaikan tugas tertentu.

Situasional Leadership
Pengembangan teori situasional merupakan penyempurnaan dan kekurangan
teori-teori sebelumnya dalam meramalkan kepemimpinan yang paling efektif. Dalam
situational leadership pemimpin yang efektif akan melakukan diagnose situasi,
memilih gaya kepemimpinan yang efektif dan menerapkannya secara tepat. Seorang
pemimpin yang efektif dalam teori ini harus bisa memahami dinamika situasi dan
menyesuaikan kemampuannya dengan dinamika situasi yang ada. Empat dimensi
situasi yakni kemampuan manajerial, karakter organisasi, karakter pekerjaan dan
karakter pekerja. Keempatnya secara dinamis akan memberikan pengaruh terhadap
efektivitas kepemimpinan seorang.

Situational Leadership Model (SLM)
SLM memberi penekanan pada lebih pada pengikut dan tingkat kematangan
mereka. Para pemimpin diharapkan dapat menilai dengan tepat atau menilai secara
intuitif tingkat kematangan dari pengikut mereka dan menggunakan gaya
kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kematangan tersebut (Ivancevich, dkk,
2007).
Ada dua tipe kesiapan yang dipandang penting : pekerjaan dan psikologis.
Seorang yang memiliki kesiapan kerja tinggi memiliki pengetahuan dan kemampuan
melakukan tugas mereka tanpa perlu arahan dari manajer. Seorang yang tingkat
kesiapan psikologis yang tinggi memiliki tingkat motivasi diri dan keinginan untuk
melakukan kerja berkualitas tinggi. Orang ini juga tidak membutuhkan supervise.


TEORIONLINE PERSONAL PAPER
No. 01/ Feb-2014
2

Hersey dan Blanchard mengggunakan penelitian OSU (Ohio State University)
untuk kemudian mengembangkan 4 gaya kepemimpinan yang bisa dipakai oleh para
pemimpin, antara lain :
Telling menyuruh, pemimpin menetapkan peran yang diperlukan untuk
melakukan suatu tugas dan memerintahkan para pengikutnya apa, dimana,
bagaimana dan kapan melakukan tugas tersebut.
Selling menjual, yaitu pemimpin memberikan intruksi terstruktur, tetapi
juga bersifat supportif.
Participating berpartisipasi, yaitu pemimpin dan para pengikutnya bersama-
sama memutuskan bagaimana cara terbaik menyelesaikan suatu pekerjaan.
Delegating delegasi, yaitu pemimpin tidak banyak memberikan arahan yang
jelas dan spesifik ataupun dukungan pribadi kepada para pengikutnya
Gaya kepemimpinan yang tepat akan tergantung pada orang atau kelompok yang
dipimpin. Teori Kepemimpinan Situasional Hersey-Blanchard mengidentifikasi
empat tingkat Kematangan M1 melalui M4:
M1 Adalah karyawan yang tidak memiliki keterampilan khusus yang
diperlukan untuk pekerjaan, tidak mampu dan tidak mau melakukan atau
mengambil tanggung jawab untuk pekerjaan atau tugas.
M2 Adalah bawahan yang tidak dapat mengambil tanggung jawab untuk
tugas yang dilakukan, namun mereka bersedia bekerja pada tugas. Mereka
adalah pemula tapi memiliki antusiasme dan motivasi.
M3 Adalah karyawan yang berpengalaman dan mampu melakukan tugas
tetapi tidak memiliki keyakinan atau kemauan untuk mengambil tanggung
jawab.
M4 Mereka berpengalaman pada tugas, dan nyaman dengan kemampuan
mereka sendiri untuk melakukannya dengan baik. Mereka mampu dan
bersedia untuk tidak hanya melakukan tugas, tetapi untuk mengambil
tanggung jawab untuk tugas tersebut.

Situasional Leadership II
Hersey dan Blanchard terus bekerjasama dalam pengembangan teori sampai
dengan tahun 1977. Setelah keduanya sepakat untuk menjalankan masing-masing
perusahaannya, pada akhir tahun 1970, Hersey berubah nama dari Situational
Leadership Theory menadi Situational Leadership, sedangkan Blanchard
menawarkan Kepemimpinan Situasional menjadi Pendekatan Situasional untuk
Mengelola Orang / Situational Approach to Managing People. Blanchard dan rekan-
rekannya terus merevisi Pendekatan Situasional untuk Mengelola Orang, dan pada
tahun 1985 diperkenalkan Kepemimpinan Situasional II (SLII).
Figure 1. Model Kepemimpinan Situasional II dari Blanchard


TEORIONLINE PERSONAL PAPER
No. 01/ Feb-2014
3


Model Kepemimpinan Situasional
Picture from : leadershipvibe.net

Kritik terhadap Teori SLM
Ivancevich (2007) mencatat bahwa pengetesan terhadap model ini masih
sangat terbatas. Bahkan, Marshal Sashkin dan Molly G. Sashkin (2003)
mempertanyakan bagaimana pemimpin dapat mengubah atau mengadaptasi gaya
kepemimpinan mereka, dan memyesuaikan dengan pengikut atau kelompok. Apakah
orang-orang dalam posisi memimpin dapat sedemian adaptif?
Menurut Kreitner dan Kinicki (2005) teori ini tidak didukung secara kuat oleh
penelitian ilmiah, dan inkonsistensi hasil penelitian mengenai kepemimpinan
situasional ini dinyatakan oleh Kreitner dan Kinicki (2005) dalam berbagai penelitian
sehingga pendekatan ini tidaklah akurat dan sebaiknya hanya digunakan dengan
catatan-catatan khusus.
Blanchard merespon beberapa kritik terhadap SLT dengan merevisi model
awalnya dan mengubah beberapa istilah. Sebagai contoh, perilaku tugas, perilaku
direktif, dan relasi dirubah menjadi perilaku supportif. Keempat gaya kepemimpinan
tersebut sekarang disebut sebagai S1 =directing, S2 =Coaching, S3 =Supporting, dan
S4 =Delegating. Kesiapan (maturiry) selanjutnya disebut tingkat perkembangan dari
pengikut yang selanjutnya dimaknakan sebagai tingkat kompetensi dan komitmen
pengikut untuk melakukan tugas (Ivancevich, dkk, 2007).

Referensi :
Ivancevich, J.M. Konopaske, R., Matteson., M.T. 2007. Perilaku dan Manajemen
Organisasi. Jakarta : Erlangga.
Kreitner, R dan Kinicki, A. 2005. Perilaku Organsiasi. Jakarta : Salemba Empat
Robbins., S dan Judge. 2007. Perilaku Organsiasi. Jakarta : Salemba Empat
Yukl. 2005. Kepemimpinan dalam Organisasi. Jakarta : Index
http:/ / en.wikipedia.org/ wiki/ Situational_leadership_theory






TEORIONLINE PERSONAL PAPER
No. 01/ Feb-2014
4

Rekomenasi Paper
Colin Silverthorne, (2000) Situational leadership theory in Taiwan: a different
culture perspective, Leadership & Organization Development Journal, Vol. 21
Iss: 2, pp.68 74
Jui-Chen Chen, Colin Silverthorne, (2005) Leadership effectiveness, leadership style
and employee readiness, Leadership & Organization Development Journal, Vol.
26 Iss: 4, pp.280 288
Gayle C. Avery, Jan Ryan, (2002) Applying situational leadership in Australia,
Journal of Management Development, Vol. 21 Iss: 4, pp.242 262
Thomas D. Cairns, John Hollenback, Robert C. Preziosi, William A. Snow, (1998)
Technical note: a study of Hersey and Blanchards situational leadership
theory, Leadership & Organization Development Journal, Vol. 19 Iss: 2, pp.113
116