Anda di halaman 1dari 11

3.

1 Domperidon
Komposisi : Domperidon 10 mg/tab, 5 mg/ml sirup
Kelas Terapi : Antiemetik
Mekanisme Kerja : Domperidon merupakan antagonis dopamin, yang memblok
reseptor D1 dan D2. Dopamin memfasilitasi aktivitas otot halus
gastrointestinal dengan menghambat dopamin pada reseptor D1
dan menghambat pelepasan asetilkolin netral dengan memblok
reseptor D2. Domperidon merangsang motilitas saluran cerna
bagian atas tanpa mempengaruhi sekresi gastrik, empedu dan
pankreas. Peristaltik lambung meningkat sehingga dapat
mempercepat pengosongan lambung
Dosis : Dosis dewasa dan anak-anak dengan berat badan lebih dari 35 kg :
Per Oral : 10-20 mg sehari 3-4 kali; maksimal 80 mg per hari. Per
rektal (supositoria) : 60 mg sehari 2 kali.
Dosis anak-anak dengan berat badan kurang dari 34 kg / 15 - 34 kg
(hanya untuk indikasi mual dan muntah)3 : Per Oral : 250-500
mikrogram/ kg sehari 3-4 kali; maksimal 2,4 mg/ kg per hari. Per
rektal (supositoria) : 30 mg sehari 2 kali.
Indikasi : Mual, muntah (pengobatan jangka pendek), dispepsia, refluks
esofageal.
Efek Samping : Gangguan gastrointestinal termasuk kram (jarang), efek
ekstrapiramidal (sangat jarang), dan kemerahan pada kulit.
Hiperprolaktinemia / terjadi peningkatan konsentrasi prolaktin
plasma, yang menyebabkan galactorrhoea atau gynaecomastia.
Interaksi Obat : Analgesik opioid dan antimuskarinik memberikan efek antagonis
terhadap efek prokinetik dari Domperidon. Domperidon
dimetabolisme melalui cytochrome P450 isoenzyme CYP3A4;
penggunaan bersama dengan Ketoconazole telah dilaporkan
meningkatkan kadar plasma Domperidon 3 kali lipat dan sedikit
penambahan panjang interval QT. Risiko aritmia pada
Domperidon juga meningkat jika digunakan bersama
Ketoconazol.3 Inhibitor CYP3A4 yang poten seperti
Erythromycin atau Ritonavir juga meningkatkan konsentrasi
Domperidon, sehingga sebaiknya kombinasi ini dihindari.
Absorpsi oral Domperidon menurun jika sebelumnya diberikan
Cimetidine 300 mg atau larutan Sodium bikarbonat.Domperidon
merupakan antagonis efek hipoprolaktinemia dari Bromkokriptin.
Kontraindikasi : Prolaktinoma, gangguan hati, dimana peningkatan motilitas gastro-
intestinal dapat berbahaya. Hipersensitif terhadap Domperidon.
Peringatan : Penyesuaian dosis diperlukan pada pasien yang mendapat
Domperidon bersama dengan Simetidine. Tidak dianjurkan
untuk pemakaian jangka panjang atau pencegahan rutin mual-
muntah pasca operasi.
Bentuk Sediaan : Tablet.

3.2 Candesartan
Komposisi : Candesartan cilexetil 8 mg; 16 mg
Kelas Terapi : Antagonis Angiotensin 2
Mekanisme Kerja : Domperidon merupakan antagonis dopamin, yang memblok
reseptor D1 dan D2. Dopamin memfasilitasi aktivitas otot halus
gastrointestinal dengan menghambat dopamin pada reseptor D1
dan menghambat pelepasan asetilkolin netral dengan memblok
reseptor D2. Domperidon merangsang moti
litas saluran cerna bagian atas tanpa mempengaruhi sekresi gastrik,
empedu dan pankreas. Peristaltik lambung meningkat sehingga
dapat mempercepat pengosongan lambung
Dosis : 8mg sekali setiap hari. Tingkatkan hingga 16mg/ hari bila
dibutuhkan. Maksimum 32 mg sekali setiap hari.
Indikasi : Hipertensi, Pengobatan pada pasien dengan gagal jantung dan
gangguan fungsi sistolik ventrikel kiri (LVEF =40%) ketika obat
penghambat ACE tidak ditoleransi.
Efek Samping : infeksi saluran pernafasan bagian atas, nyeri punggung, dan
pusing.
Kontraindikasi : Pasien yang hipersensitif terhadap candesartan atau komponen yang
terkandung dalam formulasinya.
Wanita hamil dan menyusui.
Gangguan hati yang berat dan/ ketoasidosis.
Peringatan : Jika candesartan digunakan pada pasien hipertensi dengan
gangguan ginjal, disarankan dilakukan pemantauan secara berkala
kadar kalium dan kadar kreatinin dalam serum.
Stenosis arteri renalis, intravascular volume depletion, kehamilan
dan menyusui.
Bentuk Sediaan : Tablet.

3.3 HCT
Komposisi : Hidroklorotiazid 25 dan 50 mg.
Kelas Terapi : Diuretik
Mekanisme Kerja : Menghambat reabsorpsi natrium dan klorida pada pars asendens
ansa henle tebal, yang menyebabkan diuresis ringan. Suplemen
kalium mungkin diperlukan karena efeknya yang boros kalium
Dosis : 50-200 mg / hari
Indikasi : Diuretika, edema, terapi tambahan pada hipertensi
Efek Samping : Gangguan metabolik, ketidakseimbangan elektrolit,
anoreksia, gangguan saluran cerna, sakit kepala, pusing,
hipotensi postural, arestesia, impotensi, reaksi hipersensitif
Interaksi Obat : Dapat meningkatkan toksisitas glikosida digitalis, efek hambatan
neuromuskuler dari pelemas otot. Peningkatan hipotensi postural
dengan alkohol, barbiturat, opioid, efek menekan K ditingkatkan
oleh kortikosteroid, ACTH dan karbenoksolon.
Kontraindikasi : Anuria, terapi bersama lithium, dekompensasi ginjal
Bentuk Sediaan : Tablet.

3.4 Betahistin
Komposisi : Betahistin mesilat 6 mg
Kelas Terapi : Antimigrain, antivertigo.
Mekanisme Kerja : Betahistine terutama bertindak sebagai histamin H1-agonis dengan
0,07 kali aktivitas histamin. Merangsang H1-reseptor di telinga
bagian dalam menyebabkan efek vasodilatasi dan peningkatan
permeabilitas dalam pembuluh darah yang mengakibatkan
berkurangnya tekanan endolymphatic.

Betahistine juga bertindak sebagai antagonis reseptor H3-histamin
yang menyebabkan output meningkat histamin dari ujung saraf
histaminergic yang selanjutnya dapat meningkatkan aktivitas H1-
agonis langsung. Selain itu, antagonisme reseptor H3-
meningkatkan kadar neurotransmitter seperti serotonin dalam otak,
yang menghambat aktivitas inti vestibular, membantu untuk
mengembalikan keseimbangan yang tepat dan penurunan gejala
vertigo.
Dosis : Sehari 3 kali 1-2 tablet
Indikasi : Vertigo, tinitus, kehilangan pendengaran sehubungan dengan
sindrom meniere
Efek Samping : Mual, muntah, gangguan saluran cerna, sakit kepala dan gatal
Kontraindikasi : Feokromositoma
Perhatian : Tukak lambung, tukak aktif pada saluran cerna, urtikaria, ruam
kulit, asma bronkial, uhamil
Bentuk Sediaan : Tablet.
3.5 ranitidin
Komposisi : Ranitidin 25mg/ml injeksi
Kelas Terapi : Antasida
Mekanisme Kerja : menghambat reseptor histamin 2 secara selektif dan reversibel
sehingga dapat menghambat sekresi cairan lambung.
Dosis : 50 mg/ 2ml setiap 6-8 jam tanpa pengeceran
Indikasi : Tukak duodenum akut, tukak lambung akut, hipersekresi patologik
Efek Samping : Konstipasi, diare, sakit kepala, pusing
Kontraindikasi : Hipersensitif
Bentuk Sediaan : Injeksi

3.6 capcam
Komposisi : Parasetamol 300 mg, tramadol 30 mg, amitriptilin 2,5 mg
Kelas Terapi : Analgetik, antipiretik, antiansietas
Mekanisme Kerja : parasetamol berefek menghambat prostaglandin (mediator nyeri)
di otak tetapi sedikit aktivitasnya sebagai penghambat postaglandin
perifer.
Tramadol: agonis opioid yang lemah dan penghambat pengambilan
kembali monoamin neurotransmitter
Amitriptilin bekerja dengan menghambat pengambilan
kembali neurotransmiter di otak. Amitriptilin mempunyai 2
gugus metil, termasuk amin tersier sehingga lebih resposif
terhadap depresi akibat kekurangan serotonin. Senyawa ini
juga mempunyaiaktivitas sedatif dan antikolinergik yang
cukup kuat.
Dosis : 2 kali/ hari, sesudah makan
Indikasi : Terapi nyeri ringan hingga sedang, ansietas
Efek Samping : Peningkatan sekresi asam lambung
Kontraindikasi : Tukak lambung
Bentuk Sediaan : Kapsul

3.7 Amlodipin
Komposisi : Amlodipin besilat 5 mg; 10 mg
Kelas Terapi : Calcium channel blocker
Mekanisme Kerja : inhibitor influks kalsium (slow chanel blocker atau antagonis ion
kalsium), dan menghambat masuknya ion-ion kalsium
transmembran ke dalam jantung dan otot polos vaskular.
Dosis : dosis awal yang biasa digunakan adalah 5 mg satu kali sehari.
Dosis dapat ditingkatkan hingga maksimum 10 mg tergantung
respon pasien secara individual dan tingkat keparahan
penyakitnya. Untuk anak-anak, pasien lemah, dan usia lanjut atau
pasien dengan gangguan fungsi hati dapat dimulai dengan dosis
2,5 mg amlodipin satu kali sehari. Dosis ini juga dapat digunakan
ketika amlodipin diberikan bersama anti hipertansi lain.
Indikasi : Hipertensi, angina stabil, angina varian
Efek Samping : efek samping pada kardiovaskular: Palpitasi; peripheral edema;
syncope; takikardi, bradikardi, dan aritmia. Pada SSP: sakit kepala,
pusing, dan kelelahan. Pada kulit: dermatitis, rash, pruritus, dan
urtikaria. Efek pada Saluran pencernaan: mual, nyeri perut, kram,
dan tidak nafsu makan. Efek pada saluran pernafasan: nafas
menjadi pendek-pendek, dyspnea, dan wheezing. Efek samping
lain: Flushing, nyeri otot, dan nyeri atau inflamasi. Pada penelitian
klinis dengan kontrol plasebo yang mencakup penderita hipertensi
dan angina, efek samping yang umum terjadi adalah sakit kepala,
edema, lelah, flushing, dan pusing.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas
Bentuk Sediaan : Tablet


3.8 Sohobion
Komposisi : Vit b1 100mg, b6 100 mg, b12 5000 mcg
Kelas Terapi : Vitamin dan mineral
Dosis : Sehari 1 tablet, dapat diberikan bersama makanan
Indikasi : Terapi defisiensi vitamin b1, b6, b12
Efek Samping : Sindroma neuropati (bila penggunaan dalam dosis besar, jangka
panjang)
Kontraindikasi : Hipersensitivitas
perhatian : Pasien yang mendapat terapi levodopa
Bentuk Sediaan : Tablet





























1. Amlodipin
Komposisi : Amlodipin besilat 5 mg; 10 mg
Kelas Terapi : Calcium channel blocker
Mekanisme Kerja : inhibitor influks kalsium (slow chanel blocker atau antagonis ion
kalsium), dan menghambat masuknya ion-ion kalsium
transmembran ke dalam jantung dan otot polos vaskular.
Dosis : dosis awal yang biasa digunakan adalah 5 mg satu kali sehari.
Dosis dapat ditingkatkan hingga maksimum 10 mg tergantung
respon pasien secara individual dan tingkat keparahan
penyakitnya. Untuk anak-anak, pasien lemah, dan usia lanjut atau
pasien dengan gangguan fungsi hati dapat dimulai dengan dosis
2,5 mg amlodipin satu kali sehari. Dosis ini juga dapat digunakan
ketika amlodipin diberikan bersama anti hipertansi lain.
Indikasi : Hipertensi, angina stabil, angina varian
Efek Samping : efek samping pada kardiovaskular: Palpitasi; peripheral edema;
syncope; takikardi, bradikardi, dan aritmia. Pada SSP: sakit kepala,
pusing, dan kelelahan. Pada kulit: dermatitis, rash, pruritus, dan
urtikaria. Efek pada Saluran pencernaan: mual, nyeri perut, kram,
dan tidak nafsu makan. Efek pada saluran pernafasan: nafas
menjadi pendek-pendek, dyspnea, dan wheezing. Efek samping
lain: Flushing, nyeri otot, dan nyeri atau inflamasi. Pada penelitian
klinis dengan kontrol plasebo yang mencakup penderita hipertensi
dan angina, efek samping yang umum terjadi adalah sakit kepala,
edema, lelah, flushing, dan pusing.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas
Bentuk Sediaan : Tablet

2. Betahistin
Komposisi : Betahistin mesilat 6 mg
Kelas Terapi : Antimigrain, antivertigo.
Mekanisme Kerja : Betahistine terutama bertindak sebagai histamin H1-agonis dengan
0,07 kali aktivitas histamin. Merangsang H1-reseptor di telinga
bagian dalam menyebabkan efek vasodilatasi dan peningkatan
permeabilitas dalam pembuluh darah yang mengakibatkan
berkurangnya tekanan endolymphatic.

Betahistine juga bertindak sebagai antagonis reseptor H3-histamin
yang menyebabkan output meningkat histamin dari ujung saraf
histaminergic yang selanjutnya dapat meningkatkan aktivitas H1-
agonis langsung. Selain itu, antagonisme reseptor H3-
meningkatkan kadar neurotransmitter seperti serotonin dalam otak,
yang menghambat aktivitas inti vestibular, membantu untuk
mengembalikan keseimbangan yang tepat dan penurunan gejala
vertigo.
Dosis : Sehari 3 kali 1-2 tablet
Indikasi : Vertigo, tinitus, kehilangan pendengaran sehubungan dengan
sindrom meniere
Efek Samping : Mual, muntah, gangguan saluran cerna, sakit kepala dan gatal
Kontraindikasi : Feokromositoma
Perhatian : Tukak lambung, tukak aktif pada saluran cerna, urtikaria, ruam
kulit, asma bronkial, uhamil
Bentuk Sediaan : Tablet.

3. Aspilet
Komposisi : Asam Asetilsalisilat 80 mg
Kelas Terapi : Antikoagulan, antiplatelet, trombolitik
Mekanisme Kerja : penghambatan aktivitas COX-1, yang berperan untuk metabolisme
enzim utama dari asam arakidonat yang merupakan prekursor
prostaglandin yang memainkan peran utama dalam patogenesis
peradangan, nyeri dan demam.

Pengurangan prostaglandin (terutama E1) di pusat termoregulasi
menyebabkan penurunan suhu tubuh akibat perluasan pembuluh
darah pada kulit dan sekresi keringat meningkat. Efek analgesik
yang baik karena memiliki efek sentral (pusat) dan perifer (tepi).

Mengurangi agregasi trombosit, adhesi platelet dan pembentukan
trombus melalui penekanan sintesis tromboksan A2 dalam
trombosit. Mengurangi risiko infark miokard pada stenocardia
yang tidak stabil.

Obat ini dapat meningkatkan aktivitas fibrinolitik dan mengurangi
plasma konsentrasi vitamin K dalam faktor-faktor koagulasi (II,
VII, IX, X). Meningkatkan tingkat komplikasi perdarahan dalam
pelaksanaan prosedur bedah.
Dosis : 1. Untuk antipiretik (penurun demam) dan analgesik (pereda nyeri)
Dewasa: 3 x 500-1000 mg/hari

2. Pencegahan primer dan sekunder infark miokard
1 x 40-325 mg/hari (biasanya 160 mg)

3. Sebagai inhibitor agregasi trombosit
300-325 mg/hari
Indikasi : 1. Rheumatoid arthritis
2. Demam selama penyakit menular dan inflamasi
3. Untuk mengatasi nyeri
4. Neuralgia
5. Mialgia
6. Sakit kepala
7. Pencegahan penyakit berbasis trombosis dan emboli
8. Pencegahan primer dan sekunder infark miokard
Efek Samping : Kadang-kadang dapat terjadi: iritasi lambung, mual, muntah.
Pemakaian jangka panjang dapat terjadi: perdarahan lambung,
tukak lambung.
Kontraindikasi : Penderita hipersensitif (termasuk asma). Penderita tukak lambung
(maag), pernah atau sering mengalami perdarahan di bawah kulit
(konsultasikan dengan dokter). Penderita hemofilia (kelainan
perdarahan) dan trombositopenia, karena dapat meningkatkan
risiko terjadinya perdarahan. Penderita yang sedang terapi dengan
antikoagulan (konsultasikan dengan dokter).
Bentuk Sediaan : tablet

4. Forneuro
Komposisi : Vitamin B1:100mg, B6:50 mg, B12: 100 mcg, E: 200 Iu, asam
folat 400 mcg
Kelas Terapi : Vitamin B kompleks
Dosis : 1 kapsul/ hari
Indikasi : Mencegah dan mengobati defisiensi B1, B6, B12, E dan anemia
Kontraindikasi : Parkinson, epilepsi
Bentuk Sediaan : Kapsul lunak

5. Neurotam
Komposisi : Piracetam 1200 mg/kaplet
Kelas Terapi : Obat kardiovaskuler
Mekanisme Kerja : piracetam adalah suatu nootropic agent.
Dosis : Oral Sindroma psikoorganik yang berhubungan dengan penuaan
Awal 6 kapsul atau 3 kaplet/hari dalam 2-3 dosis terbagi untuk 6
minggu. Pemeliharaan : 1,2 g/hr. Sindroma pasca trauma Awal 2
kapsul atau 1 kapl 3x/hr s/d mencapai efek yang diinginkan, lalu 1
kapsul atau kaplet/hr. Inj IM atau IV 1 g 3x/hr.
Indikasi : Kemunduran daya pikir, astenia, gangguan adaptasi, gangguan
reaksi psikomotor. Alkoholisme kronik dan adiksi. Disfungsi
serebral sehubungan dengan akibat pasca trauma.
Efek Samping : Keguguran, lekas marah, sukar tidur, gelisah, gemetar, agitasi,
lelah, gangguan GI, mengantuk
Kontraindikasi : Kerusakan ginjal parah, hipersensitif.
Bentuk Sediaan : kaplet

6. Allopurinol
Komposisi : Allopurinol 100 mg
Kelas Terapi : antipirai.
Mekanisme Kerja : Menurunkan konsentrasi asam urat dalam serum & urine.
Menghambat xantin oksidase, yaitu enzim yang bertanggung
jawab perubahan bentuk hipoksantin menjadi xantin dan
kemudian asam urat
Dosis :
Pengendalian Gout / Hyperuricemia.
DEWASA: PO 100-800 mg / hari. Untuk jumlah> 300 mg,
memberikan dosis terbagi.
Hyperurisemia sekunder Terkait dengan keganasan
ANAK 6 sampai 10 tahun: PO 300 mg / hari.
ANAK <6 tahun: PO 150 mg / hari.
Pencegahan Urat nefropati Asam Kemoterapi gencar
Penyakit neoplastik
DEWASA: PO 600-800 mg / hari selama 2 sampai 3 hari.
Pengurangan Risiko Serangan gout akut
DEWASA: DOSIS AWAL: PO 100 mg / hari, meningkat
sebesar 100 mg pada interval
mingguan sampai respon yang
memadai dicapai atau max dosis yang
dianjurkan (800 mg / hari) tercapai.

Indikasi : Pirai primer & sekunder : Hyperuricemia karena penggunaan
chemoterapi "Recurrent Renal Calculi". Lain-lain :
Menurunkan hiperuricemia sekunder akibat ke-kurangan
glucose-6-phosphatedehydrogenase, "Lesch-Nyhan
syndrome", "Polycythemia vera", "Sarcoidosis", pemakaian
thiazid & ethambutol.
Efek Samping : SSP ; Mengantuk, kejang umum (injeksi), sakit kepala,
neuritis, parestesia, neuropati perifer. Derm: vaskulitis alergi,
alopecia, ecchymosis, ruam kulit. Reaksi alergi bisa berat dan
kadang-kadang fatal. EENT: Epistaksis, miopati, gangguan
rasa. GI: Nyeri perut, diare; dispepsia, gastritis, perubahan
granulomatosa, mual, muntah. GU: Gagal ginjal; uremia.
HEMA: depresi sumsum tulang, eosinofilia, leukositosis,
leukopenia, trombositopenia. HEPA: kolestasis jaundice,
enzim tinggi hati, nekrosis hati, hepatitis, reversibel
hepatomegali. LAIN: serangan gout akut, arthralgia, demam,
miopati, angiitis necrotizing.

Kontraindikasi : Hipersensitivitas
Bentuk Sediaan : Tablet.


7. Simvastatin
Komposisi : Simvastatin 10 mg
Kelas Terapi : Obat kardiovaskuler/ penurun kolesterol
Mekanisme Kerja :
Dosis :
Indikasi :
Efek Samping :
Kontraindikasi :
Bentuk Sediaan :