Anda di halaman 1dari 11

Fisiologi Menstruasi

Fisiologi Menstruasi
Pada siklus menstruasi normal, terdapat produksi hormon-hormon yang paralel dengan
pertumbuhan lapisan rahim untuk mempersiapkan implantasi (perlekatan) dari janin (proses
kehamilan). Gangguan dari siklus menstruasi tersebut dapat berakibat gangguan kesuburan,
abortus berulang, atau keganasan. Gangguan dari sikluas menstruasi merupakan salah satu
alasan seorang wanita berobat ke dokter.
Siklus menstruasi normal berlangsung selama 21-35 hari, 2-8 hari adalah waktu keluarnya darah
haid yang berkisar 20-60 ml per hari. Penelitian menunjukkan wanita dengan siklus mentruasi
normal hanya terdapat pada 2/3 wanita dewasa, sedangkan pada usia reproduksi yang ekstrim
(setelah menarche <pertama kali terjadinya menstruasi> dan menopause) lebih banyak
mengalami siklus yang tidak teratur atau siklus yang tidak mengandung sel telur. Siklus
mentruasi ini melibatkan kompleks hipotalamus-hipofisis-ovarium.

Gambar 1. Kompleks Hipotalamus-Hipofisis-Ovarium
Siklus Menstruasi Normal
Sikuls menstruasi normal dapat dibagi menjadi 2 segmen yaitu, siklus ovarium (indung telur) dan
siklus uterus (rahim). Siklus indung telur terbagi lagi menjadi 2 bagian, yaitu siklus folikular dan
siklus luteal, sedangkan siklus uterus dibagi menjadi masa proliferasi (pertumbuhan) dan masa
sekresi.
Perubahan di dalam rahim merupakan respon terhadap perubahan hormonal. Rahim terdiri dari
3 lapisan yaitu perimetrium (lapisan terluar rahim), miometrium (lapisan otot rehim, terletak di
bagian tengah), dan endometrium (lapisan terdalam rahim). Endometrium adalah lapisan yangn
berperan di dalam siklus menstruasi. 2/3 bagian endometrium disebut desidua fungsionalis yang
terdiri dari kelenjar, dan 1/3 bagian terdalamnya disebut sebagai desidua basalis.
Sistem hormonal yang mempengaruhi siklus menstruasi adalah:
1. FSH-RH (follicle stimulating hormone releasing hormone) yang dikeluarkan hipotalamus
untuk merangsang hipofisis mengeluarkan FSH
2. LH-RH (luteinizing hormone releasing hormone) yang dikeluarkan hipotalamus untuk
merangsang hipofisis mengeluarkan LH
3. PIH (prolactine inhibiting hormone) yang menghambat hipofisis untuk mengeluarkan
prolaktin

Gambar 2. Siklus Hormonal
Pada setiap siklus menstruasi, FSH yang dikeluarkan oleh hipofisis merangsang perkembangan
folikel-folikel di dalam ovarium (indung telur). Pada umumnya hanya 1 folikel yang terangsang
namun dapat perkembangan dapat menjadi lebih dari 1, dan folikel tersebut berkembang
menjadi folikel de graaf yang membuat estrogen. Estrogen ini menekan produksi FSH, sehingga
hipofisis mengeluarkan hormon yang kedua yaitu LH. Produksi hormon LH maupun FSH berada
di bawah pengaruh releasing hormones yang disalurkan hipotalamus ke hipofisis. Penyaluran
RH dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik estrogen terhadap hipotalamus. Produksi hormon
gonadotropin (FSH dan LH) yang baik akan menyebabkan pematangan dari folikel de graaf yang
mengandung estrogen. Estrogen mempengaruhi pertumbuhan dari endometrium. Di bawah
pengaruh LH, folikel de graaf menjadi matang sampai terjadi ovulasi. Setelah ovulasi terjadi,
dibentuklah korpus rubrum yang akan menjadi korpus luteum, di bawah pengaruh hormon LH
dan LTH (luteotrophic hormones, suatu hormon gonadotropik). Korpus luteum menghasilkan
progesteron yang dapat mempengaruhi pertumbuhan kelenjar endometrium. Bila tidak ada
pembuahan maka korpus luteum berdegenerasi dan mengakibatkan penurunan kadar estrogen
dan progesteron. Penurunan kadar hormon ini menyebabkan degenerasi, perdarahan, dan
pelepasan dari endometrium. Proses ini disebut haid atau menstruasi. Apabila terdapat
pembuahan dalam masa ovulasi, maka korpus luteum tersebut dipertahankan.
Pada tiap siklus dikenal 3 masa utama yaitu:
1. Masa menstruasi yang berlangsung selama 2-8 hari. Pada saat itu endometrium (selaput
rahim) dilepaskan sehingga timbul perdarahan dan hormon-hormon ovarium berada
dalam kadar paling rendah
2. Masa proliferasi dari berhenti darah menstruasi sampai hari ke-14. Setelah menstruasi
berakhir, dimulailah fase proliferasi dimana terjadi pertumbuhan dari desidua fungsionalis
untuk mempersiapkan rahim untuk perlekatan janin. Pada fase ini endometrium tumbuh
kembali. Antara hari ke-12 sampai 14 dapat terjadi pelepasan sel telur dari indung telur
(disebut ovulasi)
3. Masa sekresi. Masa sekresi adalah masa sesudah terjadinya ovulasi. Hormon
progesteron dikeluarkan dan mempengaruhi pertumbuhan endometrium untuk membuat
kondisi rahim siap untuk implantasi (perlekatan janin ke rahim)
Siklus ovarium :
1. Fase folikular. Pada fase ini hormon reproduksi bekerja mematangkan sel telur yang
berasal dari 1 folikel kemudian matang pada pertengahan siklus dan siap untuk proses
ovulasi (pengeluaran sel telur dari indung telur). Waktu rata-rata fase folikular pada
manusia berkisar 10-14 hari, dan variabilitasnya mempengaruhi panjang siklus menstruasi
keseluruhan
2. Fase luteal. Fase luteal adalah fase dari ovulasi hingga menstruasi dengan jangka waktu
rata-rata 14 hari
Siklus hormonal dan hubungannya dengan siklus ovarium serta uterus di dalam siklus
menstruasi normal:
1. Setiap permulaan siklus menstruasi, kadar hormon gonadotropin (FSH, LH) berada pada
level yang rendah dan sudah menurun sejak akhir dari fase luteal siklus sebelumnya
2. Hormon FSH dari hipotalamus perlahan mengalami peningkatan setelah akhir dari korpus
luteum dan pertumbuhan folikel dimulai pada fase folikular. Hal ini merupakan pemicu
untuk pertumbuhan lapisan endometrium
3. Peningkatan level estrogen menyebabkan feedback negatif pada pengeluaran FSH
hipofisis. Hormon LH kemudian menurun sebagai akibat dari peningkatan level estradiol,
tetapi pada akhir dari fase folikular level hormon LH meningkat drastis (respon bifasik)
4. Pada akhir fase folikular, hormon FSH merangsang reseptor (penerima) hormon LH yang
terdapat pada sel granulosa, dan dengan rangsangan dari hormon LH, keluarlah hormon
progesteron
5. Setelah perangsangan oleh hormon estrogen, hipofisis LH terpicu yang menyebabkan
terjadinya ovulasi yang muncul 24-36 jam kemudian. Ovulasi adalah penanda fase transisi
dari fase proliferasi ke sekresi, dari folikular ke luteal
6. Kedar estrogen menurun pada awal fase luteal dari sesaat sebelum ovulasi sampai fase
pertengahan, dan kemudian meningkat kembali karena sekresi dari korpus luteum
7. Progesteron meningkat setelah ovulasi dan dapat merupakan penanda bahwa sudah
terjadi ovulasi
8. Kedua hormon estrogen dan progesteron meningkat selama masa hidup korpus luteum
dan kemuadian menurun untuk mempersiapkan siklus berikutnya


Diposkan oleh Cimobi Crew






Haid adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai
pelepasan(deskuamasi) endometrium. Sekarang diketahui bahwa dalam proses ovulasi,
yangmemegang peranan penting adalah hubungan hipotalamus, hipofisis, dan
ovarium(hypothalamic-pituitary-ovarium axis). Menurut teori neurohumoral yang dianut
sekarang, hipotalamus mengawasi sekresi hormon gonadotropin oleh adenohipofisis melalui
sekresi neurohormon yang disalurkan ke sel-sel adenohipofisis lewat sirkulasi portal yang
khusus. Hipotalamus menghasilkan faktor yang telah dapat diisolasi dan
disebutGonadotropin Releasing Hormone (GnRH) karena dapat merangsang
pelepasanLutenizing Hormone (LH) dan Follicle Stimulating Hormone (FSH) dari
hipofisis(Speroff, Glass and Kase,1994; Scherzer and McClamrock, 1996; Wiknjosastro,
Saifuddin dan Rachimhadhi, 1999).


Penyelidikan pada hewan menunjukkan bahwa pada hipotalamus terdapat dua
pusat, yaitu pusat tonik dibagian belakang hipotalamus di daerah nukleus arkuatus, dan
pusat siklik di bagian depan hipotalamus di daerah suprakiasmatik. Pusat siklik mengawasi
lonjakan LH (LH-surge) pada pertengahan siklus haid yang menyebabkan terjadinyaovulasi.
Mekanisme kerjanya juga belum jelas benar (Wiknjosastro, Saifuddin dan Rachimhadhi,
1999).


Siklus haid normal dapat dipahami dengan baik dengan membaginya atas dua fase dan
satu saat, yaitu fase folikuler, saat ovulasi, dan fase luteal. Perubahan-perubahan
kadarhormon sepanjang siklus haid disebabkan oleh mekanisme umpan balik (feedback)
antara hormon steroid dan hormon gonadotropin. Estrogen menyebabkan umpan balik
negatifterhadap FSH, sedangkan terhadap LH, estrogen menyebabkan umpan balik negatif
jikakadarnya rendah, dan umpan balik positif jika kadarnya tinggi. Tempat utama umpan
balikterhadap hormon gonadotropin ini mungkin pada hipotalamus (Speroff,
Glass andKase,1994; Scherzer and McClamrock, 1996; Wiknjosastro, Saifuddin dan
Rachimhadhi, 1999).

Tidak lama setelah haid mulai, pada fase folikular dini, beberapa folikel berkembang
oleh pengaruh FSH yang meningkat. Meningkatnya FSH ini disebabkan oleh regresi korpus
luteum, sehingga hormon steroid berkurang. Dengan berkembangnya folikel, produksi
estrogen meningkat, dan ini menekan produksi FSH; folikel yang akan berovulasi melindungi
dirinya sendiri terhadap atresia, sedangkan folikel-folikel lain mengalami atresia. Pada waktu
ini LH juga meningkat, namun peranannya pada tingkat ini hanya membantu pembuatan
estrogen dalam folikel. Perkembangan folikel yang cepat pada fase folikel akhir ketika FSH
mulai menurun, menunjukkan bahwa folikel yang telah masak itu bertambah peka terhadap
FSH. Perkembangan folikel berakhir setelah kadar estrogen dalam plasma jelas meninggi.
Estrogen pada mulanya meninggi secara berangsur-angsur, kemudian dengan cepat mencapai
puncaknya. Ini memberikan umpan balik positif terhadap pusat siklik, dan dengan lonjakan
LH (LH-surge) pada pertengahan siklus, mengakibatkan terjadinya ovulasi. LH yang
meninggi itu menetap kira-kira 24 jam dan menurun pada fase luteal. Mekanisme turunnya
LH tersebut belum jelas. Dalam beberapa jam setelah LH meningkat, estrogen menurun dan
mungkin inilah yang menyebabkan LH itu menurun. Menurunnya estrogen mungkin
disebabkan oleh perubahan morfologik pada folikel. Mungkin pula menurunnya LH itu
disebabkan oleh umpan balik negatif yang pendek dari LH terhadap hipotalamus. Lonjakan
LH yang cukup saja tidak menjamin terjadinya ovulasi; folikel hendaknya pada tingkat yang
matang, agar ia dapat dirangsang untuk berovulasi. Pecahnya folikel terjadi 16 24 jam
setelah lonjakan LH. Pada manusia biasanya hanya satu folikel yang matang. Mekanisme
terjadinya ovulasi agaknya bukan oleh karena meningkatnya tekanan dalam folikel, tetapi
oleh perubahan-perubahan degeneratif kolagen pada dinding folikel, sehingga ia menjadi
tipis. Mungkin juga prostaglandin F2 memegang peranan dalam peristiwa itu (Speroff,
Glass and Kase,1994; Scherzer andMcClamrock, 1996; Wiknjosastro, Saifuddin dan
Rachimhadhi, 1999).


Pada fase luteal, setelah ovulasi, sel-sel granulose membesar, membentuk vakuola dan
bertumpuk pigmen kuning (lutein); folikel menjadi korpus luteum. Vaskularisasi dalam
lapisan granulosa juga bertambah dan mencapai puncaknya pada 89 hari setelah
ovulasi.4Luteinized granulose cell dalam korpus luteum itu membuat progesteron banyak,
danluteinized theca cell membuat pula estrogen yang banyak, sehingga kedua hormon itu
meningkat tinggi pada fase luteal. Mulai 1012 hari setelah ovulasi, korpus luteum
mengalami regresi berangsur-angsur disertai dengan berkurangnya kapiler-kapiler dan diikuti
oleh menurunnya sekresi progesteron dan estrogen. Masa hidup korpus luteum pada manusia
tidak bergantung pada hormon gonadotropin, dan sekali terbentuk ia berfungsisendiri
(autonom). Namun, akhir-akhir ini diketahui untuk berfungsinya korpus luteum, diperlukan
sedikit LH terus-menerus. Steroidegenesis pada ovarium tidak mungkin tanpa LH.
Mekanisme degenerasi korpus luteum jika tidak terjadi kehamilan belum diketahui.Empat
belas hari sesudah ovulasi, terjadi haid. Pada siklus haid normal umumnya terjadi variasi
dalam panjangnya siklus disebabkan oleh variasi dalam fase folikular (Wiknjosastro,
Saifuddin dan Rachimhadhi, 1999).


Pada kehamilan, hidupnya korpus luteum diperpanjang oleh adanya rangsangan
dari Human Chorionic Gonadothropin (HCG), yang dibuat oleh sinsisiotrofoblas.
Rangsangan ini dimulai pada puncak perkembangan korpus luteum (8 hari pasca ovulasi),
waktu yang tepat untuk mencegah terjadinya regresi luteal. HCG memelihara steroidogenesis
pada korpus luteum hingga 910 minggu kehamilan. Kemudian, fungsi itu diambil alih oleh
plasenta.4 Dari uraian di atas jelaslah bahwa kunci siklus haid tergantung dari perubahan-
perubahan kadar estrogen, pada permulaan siklus haid meningkatnya FSH disebabkan oleh
menurunnya estrogen pada fase luteal sebelumnya. Berhasilnya perkembangan folikel tanpa
terjadinya atresia tergantung pada cukupnya produksi estrogen oleh folikel yang berkembang.
Ovulasi terjadi oleh cepatnya estrogen meningkat pada pertengahan siklus yang
menyebabkan lonjakan LH. Hidupnya korpus luteum tergantung pula pada kadar minimum
LH yang terus-menerus. Jadi, hubungan antara folikel dan hipotalamus bergantung pada
fungsi estrogen, yang menyampaikan pesan-pesan berupa umpan balik positif atau negatif.
Segala keadaan yang menghambat produksi estrogen dengan sendirinya akan mempengaruhi
siklus reproduksi yang normal (Wiknjosastro, Saifuddin dan Rachimhadhi, 1999).



DAFTAR PUSTAKA
Albar, Erdjan. 2007. Ilmu Kandungan Kontrasepsi. Edisi kedua Cetakan Kelima. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Halaman 535-575
Anonim. 2006. Implantasi sel Atipik pada Abortus Spontan.
klinikmedis.com/archive/artikel/implantasi%20sel%20atipik%20pada%20abortus%20sponta
n.
Anonim. 2007. Kehamilan Di Luar
Kandungan.cakmoki86.files.wordpress.com/2007/02/hamildiluarkandungan.pdf
Baltzer, F.R., et al. 1983. Landmarks during the first forty-two days of gestation demonstrated by the
B-sub-unit of human chorionic gonadotropin and ultrasound. Am. J. Obstet.
Gynecol. 146(8):973-979
Datu, Abd. Razak. 2005. Cacat Lahir Disebabkan Oleh Faktor Lingkungan.
med.unhas.ac.id/DataJurnal/tahun2005vol26/Vol26No.3ok/TP-4-3-
%20Razak%20datu%20ok.pdf
Granger K, Pattison N. 1994. Vaginal Bleeding In Pregnancy J. Obstetri dan Gynekologi. 20:14-16
Hartanto, Hanafi. 1994. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Mansjoer,A., dkk, 2005. Kapita Selekta Kedokteran .Edisi ketiga Jilid 1 Cetakan Keenam., Jakarta :
Media Aesculapius Fakultas kedokteran UI. Hal 261, 265-266, 375-376, 379.
Moore, K. L. 1993. The Developing Human: Clinically Oriented Embryology, 5th ed. Philadelphia:
WB Saunders
Nardho, Gunawan. 1991. Kebijaksanaan Dep.Kes. RI, dalam upaya menurunkan kematian maternal.
Simposium Kemajuan Pelayanan Obstetri I. Semarang Penerbit UNDIP : 1-4
Prawirohardjo, S. &Wiknjosastro, H.. 2007. Ilmu Kandungan Mola Hidatidosa. Edisi kedua
Cetakan Kelima. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Scherzer WJ, McClamrock H. 1996. Amenorrhea. In: Berek JS, Adashi EY, Hillard PA. Novaks
gynecology. 12 th edition. Baltimore: Williams & Wilkins : 820-832
Sibuea, Daulat. 1992. Penanganan Kasus Perdarahan Hamil Muda.
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/20_PenangananKasusPerdarahanHamilMuda.pdf/20_P
enangananKasusPerdarahanHamilMuda.html
Soejoenoes, A.& Wibowo, B. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Halaman 275-280, 303-308
Speroff, L., et al. 1994. Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility. Baltimore: Williams and
Wilkins
Speroff L, Glass RH, Kase NG. 1994.Clinical gynecologic endocrynologi and infertility. Baltimore:
Williams & Wilkins : 401-456
Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T. 1999. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo : 203-223
Yuliatun, Laily. 2007. Hyperemesis Gravidarum. nursingeducate.com/artikel/morningsickness.pdf


Fisiologi Haid
haid merupakan
Tanda akhir baliq wanita, yang merupakan masuk masa subur baginya
Terdapat perubahan ovarium, endotarium (uterus)
Siklus haid wanita variasi lazimnya kurang lebih 28 hari plus minus 3 hari (siklus merupakan
hari 1 haid hingga datang lagi haid berikutnya)
dipengaruhi oleh hormon2 dan dihasilkan oleh organ (poros hipotalamus, hipofisis, dan
ovarium)
Hipotalamus menghasilkan FSH, RH yang fungsinya merangsang hipofisis, melepaskan FSH
LH - RH merangsang hipofisis melepaskan LH
Hipofisis
FSH, merangsang ovarium hingga terjadi pematangan folikel de graft di ovarium
LH : setelah terbentuk folikel de graft di ovarium folikel ini menghasilkan hormon estrogen, estrogen
memberikan efek negatig yang menekan FSH, dan mengaktifkan LH, maka akan matang folikel de
graft dan terjadi ovulasi
biasanya terjadi 14 hari sebelum haid.
Setelah ovulasi pada ovarium terbentuk korpus luteum (yang mengahsilkan hormpn progesteron),
disisni akan terjadi fase sekresi pada endoterium , liaht perubahan pada endoterium jika tidak ada
peruabahan maka akan berdegenerasi.
kadar estrogen memberikan efek pada arteri spralis di endoterium sehingga terjadi haid.
Poros hipotalamus dn hipofisis .

Perubahan Endoterium
1. Terjadi selama 2-7 hari pelepasan endoterium disertai darah dari dinding uterus (darah haid
tampak kehitaman)
2. Masa proliferasi (setelaha haid hingga hari ke-14) endoterium akan tumbuh lagi akibat dari
estrogen oleh folikel de graft antara 12-14 terjadi pelepasan ovum dan ovarium (ovulasi)
3. Masa Sekresi akibat hormon progesteron, pada masa ini terjaid sekresi dari kelenjar
endometrium sehingga mengeluarkan getah yang mengandung glikogen dan lemak.


Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan
pendarahan dan terjadi setiap bulannya kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi yang
terjadi terus menerus setiap bulannya disebut sebagai siklus menstruasi. menstruasi
biasanya terjadi pada usia 11 tahun dan berlangsung hingga anda menopause (biasanya
terjadi sekitar usia 45 55 tahun). Normalnya, menstruasi berlangsung selama 3 7 hari.
Siklus menstruasi bervariasi pada tiap wanita dan hampir 90% wanita memiliki siklus 25 35
hari dan hanya 10-15% yang memiliki panjang siklus 28 hari, namun beberapa wanita
memiliki siklus yang tidak teratur dan hal ini bisa menjadi indikasi adanya masalah
kesuburan.
Panjang siklus menstruasi dihitung dari hari pertama periode menstruasi hari dimana
pendarahan dimulai disebut sebagai hari pertama yang kemudian dihitung sampai dengan
hari terakhir yaitu 1 hari sebelum perdarahan menstruasi bulan berikutnya dimulai.
Fisiologi haid


Haid atau menstruasi adalah pelepasan lapisan fungsional endometrium secara siklik dan periodik yang diikuti
dengan terjadinyaperdarahan yang keluar dari alat kemaluan wanita akibat penurunan mendadak hormon
progesteron endometrium tidak menerima hasil fertilisasi atau tidak terjadinya kehamilan.

Haid pervaginam yang berlangsung secara periodik adalah perdarahan dan
siklik dari uterus disertai pelepasan endometrium. Haid normal adalah
perdarahan haid yang panjang, lama dan jumlah perdarahan dalam batas
normal. Panjang siklus haid normal adalah 28 7 hari (21-35 hari).

Jumlah 40-80 ml (2-5 pembalut/hari); dan lama haid antara 3-7 hari. Disebut
gangguan haid jika panjang, banyaknya dan lamanya perdarahan haid diluar
batas normal. Untuk lebih mendalam memahami gangguan haid dan siklusnya,
fisiologi dan siklus haid normal harus dipahami lebih dahulu.


Fase-fase Haid :
. Ovarium :
- Fase Folikulogenesis
- Fase Ovulasi
- Fase Luteal
Endometrium :
- Fase Proliferasi
- Fase Sekresi
- Fase menstruasi


Hipotalamus menghasilkan :
- Releasing hormone/Releasing factor (GnRH dan PIF) yang berfungsi
merangsang hipofisis mengeluarkan
gonadotropin dan menghambat
prolaktin.
Hipofisis menghasilkan :
gonadotropin (FSH dan LH) :
FSH berfungsi merangsang ovarium untuk menghasilkan folikel (folikulogenesis)
LH berfungsi memecahkan sel telur yang matang dan membentuk korpus luteum.

Ovarium menghasilkan :
- Estrogen yang berfungsi merangsang
merangsang endometrium untuk berproliferasi
- Progesteron yang berfungsi merangsang endometrium untuk bersekresi







Siklus menstruasi
Siklus menstruasi dibagi atas empat fase.
Fase menstruasi Yaitu, luruh dan dikeluarkannya dinding rahim dari tubuh. Hal ini
disebabkan berkurangnya kadar hormon seks. Hali ini secara bertahap terjadi pada hari ke-1
sampai 7.
Fase praovulasi Yaitu, masa pembentukan dan pematangan ovum dalam ovarium yang
dipicu oleh peningkatan kadar estrogen dalam tubuh. Hal ini terjadi secara bertahap
pada hari ke-7 sampai 13.
Fase ovulasi Yaitu, keluarnya ovum matang dari ovarium atau yang biasa disebut masa
subur. Bila siklusnya tepat waktu, maka akan terjadi pada hari ke-14
dari peristiwa menstruasi tersebut.
Fase pascaovulasi Yaitu, masa kemunduran ovum bila tidak terjadi fertilisasi. Pada tahap
ini, terjadi kenaikan produksi progesteron sehingga endometriummenjadi lebih tebal dan
siap menerima embrio untuk berkembang. Jika tidak terjadi fertilisasi, maka hormon
seks dalam tubuh akan berulang dan terjadi fase menstruasi kembali.

Anda mungkin juga menyukai