Anda di halaman 1dari 16

Distosia Kelainan Alat Kandungan

Pengertian Distosia
Yang dimaksud dengan distosia adalah persalinan yang sulit yang ditandai adanya
hambatan kemajuan dalam persalinan. Persalinan yang normal (Eutocia) ialah persalinan dengan
presentasi belakang kepala yang berlangsung spontan dalam 24 jam, tanpa menimbulkan
kerusakan yang berlebih.
Istilah distosia atau persalinan yang sulit kita pergunakan kalau tidak ada kemajuan dari
persalinan.
Distosia Alat Kandungan
Distosia alat kandungan adalah istilah yang digunakan pada kasus tidak adanya kemajuan
persalinan atau gangguan dalam proses persalinan yang disebabkan oleh adanya kelainan pada
alat kandungan. Alat kandungan yang akan dibahas yaitu vulva, vagina, portio dan uterus.

Macam Macam Alat Kandungan
1. VULVA
Vulva termasuk dalam bagian alat kandungan luar. Terdiri dari Labia mayora, labia minora,
orifisium uretra externa, introitus vagina , klitoris, perineum dan anus.
Labia Mayora
Bentuknya lonjong. Kedua bibir ini dibagian bawah bertemu membentuk perineum.
Permukaannya terdiri dari bagian liar dan bagian dalam. Bagian luar tertutup rambut yang
merupakan kelanjutan dari mons veneris. Bagian dalam tanpa rambut merupakan selaput yang
mengandung kelenjar sebasea (lemak).
Labia Minora
Berada di dalam lipatan L.mayora, tanpa rambut. Dibagian atas klitoris, L.minora
bertemu membentuk prepusium klitoris dan di bagian bawahnya bertemu membentuk frenulum
klitoris. L.minora mengelilingi orifisium vagina.
Klitoris
Merupakan bagian penting alat reproduksi yang bersifat erektil. Mengandung banyak
pembuluh darah dan serrat sarraf sensoris sehingga sangat sensitive dan merupakan analog dari
penis laki-laki.

Vestibulum
Alat reproduksi yang dibatasi oleh kedua L.minora, bagian atas klitoris, bagian bawah
pertemuan L.minora. pada vestibulum terdapat muara urethra, 2 lubang saluran kelenjar
bartholini, 2 lubang saluran kelenjar skene.
Kelenjar bartholini
Kelenjar ini dapat mengeluarkan lendir, dan pengeluaran lendir meningkat saat hubungan
seks.
Hymen
Jaringan yang menutupi vagina, bersifat rapuh dan mudah robek. Hymen ini berlubang
sehingga menjadi saluran dari lendir yang dikeluarkan uterus dan darah saat menstruasi. Bila
hymen tertutup akan menimbulkan gejala klinik setelah mendapat menstruasi.

Kelainan Alat Kandungan dan Penanganannya

1. Kelainan Pada Vulva
Pada aplasia vagina tidak ada vagina dan ditempatnya introitus vagina dan terdapat cekungan
yang agak dangkal atau yang agak dalam.Terapi terdiri atas pembuatan vagina baru beberapa
metode sudah dikembangkan untuk keperluan itu, operasi ini sebaiknya pada saat wanita
Kelainan yang bisa menyebabkan distosia ialah oedema vulva, stenosis vulva, kelainan bawaan,
varises, hematoma, peradangan, kondiloma akuminata dan fistula.
1. Oedema Vulva
Bisa timbul pada waktu hamil, biasanya sebagai gejala pre eklamsia akan tetapi dapat pula
mempunyai sebab lain misalnya gangguan gizi. Pada persalinan lama dengan penderita dibiarkan
mengedan terus, dapat pula timbul oedema pada vulva. Kelainan ini umumnya jarang merupakan
rintangan bagi kelahiran per vaginam.
2. Stenosis Vulva
Biasanya terjadi sebagai akibat perlukaan dan radang yang menyebabkan ulkus-ulkus yang
sembuh dengan parut-parut yang dapat menimbulakan kesulitan. Walaupun umumnya dapat
diatasi dengan mengadakan episiotomi, yang cukup luas. Kelainan congenital pada vulva yang
menutup sama sekali hingga hanya orifisium utrethra eksternum tampak dapat pula, terjadi.
Penanganan ini ialah mengadakan sayatan median secukupnya untuk melahirkan kepala
3. Kelainan Bawaan
Atresia vulva dalam bentuk atresia hymenalis yang menyebabkan hematokolpos, hematimetra
dan atresia vagina dapat menghalangi konsepsi.
4. Varises
Wanita hamil sering mengeluh melebarnya pembuluh darah di tungkai, vagina, vulva dan wasir.
Serta dapat menghilang setelah kelahiran. Hal ini karena reaksi system vena pembuluh darah
seperti otot-otot di tempat lain melemah akibat hormone estroid.
Bahaya varises dalam kehamilan dan persalinan adalah bila pecah dapat mengakibatkan fatal dan
dapat terjadi pula emboli udara. Varises yang pecah harus dijahit baik dalam kehamilan maupun
setelah lahir.
5. Hematoma
Pembuluh darah pecah sehingga hematoma dijaringan ikat yang renggang divulva, sekitar vagina
atay ligamentum latum. Hematoma vulva dapat juga terjadi karena trauma misalnya jatuh
terduduk pada tempat yang keras atau koitus kasar. Bila hematoma kecil resorbsi sendiri, bila
besar harus insisi dan bekuan darah dikeluarkan.
6. Peradangan
Peradangan vulva sering bersamaan dengan peradangan vagina dan dapat terjadi akibat infeksi
spesifik, seperti sifilis, gonorea, trikomoniasisSifilis disebabkan oleh troponema palladium. Luka
primer di vulva sering tidak disadari penderita dalam stadium 2 dijumpai kondiloma akuminata
yaitu tonjolan kulit lebar-lebar dengan permukaan licin, basah, warna putih atau kelabu dan
sangat infeksius. Wanita hamil fluor albus harus diperiksa kemungkinan lues di samping
pemeriksaan gonorea, trikomoniasias dan kandidiasis. Gonorea dapat menyebabkan
vulvovaginitis dalam kehamilan dengan keluhan fluor albus dan disuria.Bayi yang lahir dengan
ibu yang menderita gonorea dapat mengalami blenora neonaturum.
Trikomoniasis vaginalis yang disebabkan parasit golongan protozoa menimbulkan gejala fluor
albus dan gatal. Pasangan pria dapat ditulari melalui persetubuhan dan sebaliknya dia dapat
menulari pasangan wanita. Penularan dapat terjadi juga melalui handuk.


7. Kondiloma Akuminata
Merupakan pertumbuhan pada kulit selaput lender yang menyerupai jengger ayam jago.
Berlainan dengan kondiloma latum permukaan kasar papiler, tonjolan lebih tinggi, warnaya lebih
gelap. Sebaiknya diobati sebelum bersalin, banyak penulis menganjurkan insisi dengan ele
8. Fistula
Fistula ktrocavteratau atau dengan tingtura podofilin. Kemungkinan residiv selalu ada penyebab
rangsangan tidak berantas lebih dahulu atau penyakit primernya kambuh.
vesikovaginal atau fistula rectovaginal biasanya terjadi pada waktu bersalin baik sebagai
tindakan operatif maupun akibat nekrosis tekanan. Tekanan lama antara kepala dan tulang
panggul gangguan sirkulasi sehingga terjadi kematian jaringan local dalam 5-10 hari lepas dan
terjadi lubang. Akibatnya terjadi inkotenensia alvi. Fistula kecil yang tidak disertai infeksi dapat
sembuh dengan sendirinya. Fistula yang sudah tertutup merupakan kontra indikasi per vaginam.

Atresia vulva dalam bentuk atresia himenalis yang menyebabkan hematokolpos,
hematometra dan atresia vagina dapat menghalangi konsepsi yang berakibat pada kemandulan.
Kelainan vagina yang cukup sering dijumpai dalam kehamilan dan persalinan adalah septum
vagina terutama vertika longitudinal.
Septum yang lengkap sangat jarang menyebabkan distosia karena separoh vagina yang
harus dilewati oleh janin biasanya cukup melebar sewaktu kepala lahir. Akan tetapi septum yang
tidak lengkap kadang kadang menghambat turunnya kepala.
Struktur vagina yang kongenital biasanya tidak menghalngi turunnya kepala, akan tetapi
yang disebabkan oleh parut akibat perlukaan dapat menyebabkan distosia.

2. Kelainan Pada Vagina
Pada vagina dapat terjadi atresia vagina, adanya sekat vagina, dan kista vagina. Pada
atresia vagina terdapat gangguan dalam kanalisasi, sehingga terbentuk suatu septum yang
horizontal. Septum itu dapat ditemukan pada bagian proksimal vagina, akan tetapi bisa juga pada
bagian bawah, diatas hymen (atresia retrohimenalis). Bila penutupan vagina itu menyeluruh,
menstruasi timbul tetapi darah haid tidak keluar. Terjadilah hematokolpos yang dapat
mengakibatkan hematometra dan hematosalpinks. Bila penutupan vagina tidak menyeluruh,
tidak akan timbul kesulitan, kecuali mungkin pada partus kala dua.
Kista vagina sebagian besar dijumpai secara kebetulan. Kista vagina berasal dari sisa duktus
Gartner atau duktus Muller. Pada kista vagina yang tidak terlalu besar tidak memerlukan
pengobatan dan dapat dibiarkan serta tidak akan mengganggu kehidupan rumah tangga. Bila
pada saat persalinan terjadi gangguan penurunan bagian terendah karena kista vagina, kista
tersebut dapat dipungsi sehingga cairannya keluar dan selanjutnya memperlancar proses
persalinannya.
Saluran yang menghubungkan vulva dengan uterus. Jaringan muskulusnya merupakan
kelanjutan dari mukulus sfingterani dan muskulus levatorani, sehingga dapat dikendalikan.
Vagina terletak diantara kandung kemih dan rectum. Panjang bagian depannya sekitar 9cm, dan
belakangnya 11cm. pada dinding terdapat lipatan-lipatan yang disebut ruggae dan terutama di
bagian bawah. Pada puncak vagina terdapat bagian menonjol ke dalam vagina disebut portio. PH
vagina sekitar 4,5 yang bersifat asam, keasaman vagina memberikan proteksi terhadap kuman.
Fungsi utamanya adalah untuk mengeluarkan lendir uterus dan darah menstruasi, alat hubungan
seks dan jalan lahir pada waktu persalinan

3. Kelainan pada uterus
Merupakan jaringan otot yang kuat, terletak di pelvis minor diantara kandung kemih dan
rectum. Dinding depan, belakang dan atas tertutup peritoneum, sedangkan bagian bawahnya
berhubungan dengan kandung kemih. Bentuknya seperti bola lampu dan gepeng. Untuk
menyangga posisinya uterus disangga beberapa ligament jaringan ikat dan parametrium.
Ukurannya tergantung dai usia wanita dan paritas. Ukuran anak-anak 2-3cm, nulipara 6-8cm,
multipara 8-9cm. dindingnya terdiri dari 3 lapisan; peritoneum, lapisan otot dan endometrium.
Secara embriologis uterus, vagina, servik dibentuk dari kedua duktus muller yang dalam
pertumbuhan mudigah mengalami proses penyatuan. Kelaina bawaan dapat terjadi akibat
gangguan dalam penyatuan, dalam berkembangnya kedua saluaran muller dan dalam kanalisasi.
Uterus didelfis atau uterus duplek terjadi apabila kedua saluaran muller berkembang
sendiri-sendiri tanpa penyatuan sedikitpun sehingga terdapat 2 saluran telur, 2 servik dan 2
vagina.
Uterus subseptus terdiri atas 1 korpus uteri dengan septum yang tidak lengkap, 1 servik, 1
vagina cavum uteri kanan dan kiri terpisah secara tidak lengkap.
Uterus arkuatus hanya mempunyai cekungan di fundus uteri, kelainan ini paling ringan
dan sering dijumpai. Uterus bikornis unilateral rudimentarius terdiri atas 1 uterus dan
disampingnya terdapat tanduk lain. Uterus unikornis terdiri atas 1 uterus, 1 servik yang
berkembang dari satu saluran kanan dan kiri. Kelainan ini dapat menyebabkan abortus,
kehamilan ektopik dan kelainan letak janin.

Anteversio uteri
Kelainan letak pada uterus ke depan dijumpai pada perut gantung. Perut gantung terdapat
pada multipara karena melemahnya dinding perut, terutama multipara gemuk, hal ini
menghalangi masuknya kepala ke dalam panggul, pembukaan tidak lancar. Dalam persalinan
tidur telentang, setiap ada his fundus dorong ke atas.
Retrofleksio uteri
Kadang kadang menyebabkan kemandulan karena kedua tuba tertekuk. Uterus gravidus
yang bertumbuh terus bisa terkurung dalam rongga panggul disebut retrofleksio uteri gravidi
inkarserata. Nasib kehamilan pada retrofleksio uteri dapat koreksi spontan, abortus, koreksi tidak
lengkap, inkrserasi
Tumor uterus / Mioma uteri
Pengaruh mioma pada kehamilan dan persalinan
1. Mengurangi kemungkinan hamil
2. Kemungkinan abortus bertambah
3. Kelainan letak janin dalam rahim
4. Menghalangi jalan lahir
5. Inersia uteri dan atonia uteri
6. Sulit lepasnya plasenta

Pengaruh kehamilan dan persalinan pada mioma :
1. Tumor tumbuh lebih cepat akibat hipertensi dan edema terutama dalam bulan-bulan pertama,
mungkin karena pengaruh hormonal.
2. Tumor menjadi lebih lunak, dapat berubah bentuk dan mudah terjadi gangguan sirkulasi
didalamnya. Tumor tampak merah disebut degenerasi merah atau tampak seperti daging disebut
degenerasi daging
3. Torsi pada mioma subserosum yang bertangkai.Torsi ini dapat menyebabkan nekrosis dengan
gambaran akut abdomen.

Penanganan
Pada umumnya tidak dilakukan operasi untuk mengangkat mioma. Bila degenerasi merah
maka diambil sikap koservatif dengan istirahat baring dan kontrol yang ketat. Bila mioma
menghalangi jalan lahir harus dilakukan SC. Pengangkatan secepat-cepatnya setelah 3 bulan
postpartum

Karsinoma servisis uteri
Kanker leher rahim mempunyai pengaruh tidak baik terhadap kehamilan, persalinan dan
nifas. Selain kemandulan, abortus, perdarahan, hambatan pertumbuhan janin. Apabila penyakit
ini tidak diobati pada kira-kira 2/3 diantara penderita kehamilan dapat mencapai cukup
bulan. Kematian janin dapat juga terjadi.
Pada trisemester I penderita harus segera diobati baik dengan penyinaran maupun operasi
radikal. Pengaobatan dengan sinar rontgen sebanyak 2000 rad kepada pelvis menyebabkan hasil
konsepsi mati dengan akibat abortus.
Pada trisemester II harus segera dilakukan histerotomi untuk mengosongkan rahim
disusul dengan penyinaran dan operasi radikal. Trisemester III untuk kehamilan yang lebih 36
mg atau lebih segera melakukan seksio sesarea, bila kurang 36 minggu sedapat dapatnya ditunda
sampai janin ditaksir 2500 gram. Penundaan 1 atau 2 minggu masih dianggap aman.

Karsinoma korporis uteri
Hampir tidak memungkinkan hamil. Oleh karena itu kombinasi tumor ini dengan
kehamilan jarang. Terapi dalam kehamilan sama seperti yang tidak hamil yaitu histerektomi
dengan atau tanpa penyinaran sebelum atau sesudahnya.

ADNEKSA
Tuba
Telah diketahui bersama bahwa patensi tuba mutlak untuk pembuahan. Kelainan pada
tuba seperti peradangan atau tumor hampir tidak memungkinkan hamil. Apabila terjadi
kehamilan juga akan menghasilkan kehamilan luar uterus, yang biasanya terganggu pada
kehamilan muda.
Ovarium
Tumor ovarium baik kecil maupun besar, kistik atau padat, jinak atau ganas mempunyai
arti obstetrik yang lebih penting daripada tumor tumor lain. Dalam kehamilan tumor ovarium
jarang dijumpai, yang paling sering kista dermoid.
Komplikasi yang paling sering dan berbahaya adalah torsi yang menyebabkan nekrosis
jaringan dan infeksi dengan gejala gejala sakit perut mendadak. Kista dapat pecah karena trauma
dan pengakhiran persalinan. Pada masa nifas juga berbahaya karena pengecilan rahim
memperbesar kemungkinan torsi.

Penanganan
Dalam kehamilan tumor ovarium yang lebih besar telor angsa harus dikeluarkan karena:
1. Kemungkinan keganasan
2. Kemungkinan torsi
3. Kemungkinan menimbulkan komplikasi obstetrik yang gawat
Triwulan pertama, pengangkatan tumor sebaiknya ditunda sampai 16 minggu. Operasi
paling baik antara 16-20 mg. Operasi pada kehamilan muda dapat disusul oleh abortus apabila
korpus luteum graviditatis yang menghasilkan prosgesteron ikut terangkat. Pada kehamilan lebih
16 minggu plasenta sudah terbentuk sehingga fungsi corpus luteum diambil alih plasenta dan
produksi progesteron berlangsung terus, pada kehamilan > 20 mg teknik lebih sulit sehingga
rangsangan mekanis pada uterus sulit dihindarkan sehingga dapat terjadi partus prematurus.
Bila tumor diketahui pada kehamilan tua dan tidak menyebabkan penyulit obstetrik atau
gejala gejala akut , atau tidak mencurigakan akan mengganas dapat ditunggu partus spontan.
Operasi dapat dilakukan dalam masa nifas. Lain halnya dengan tumor yang dianggap ganas atau
yang disertai gejala-gejala akut. Dalam hal ini operasi harus segera dilakukan tanpa
menghiraukan usia kehamilan.




PROLAPSUS UTERI
Prolapsus uteri adalah keadaan dimana turunnya uterus melalui hiatus genitalis yang
disebabkan kelemahan ligamen-ligamen, fasia endopelvik danotot dasar panggul yang
menyokong uterus.
Turunya uterus dari tempat biasa disebut desensus uteri atau prolap uteri. Terbagi dalam
3 tingkat:
1. Tingkat 1 bila servik belum keluar dari vulva
2. Tingkat 2 bila servik sudah keluar vulva tapi corpus belum
3. Tingkat 3 bila korpus uteri sudah berada di luar vulva
Kehamilan dapat terjadi pada prolaps tk 1 dan 2

Uterus dan vagina dipertahankan posisinya oleh :
1. Tonus otot uterus
2. Ligamen-ligamen yang memfiksasi uterus
Lig kardinale
Lig rotundum
Lig infundibulopelvikum
Lig sakrouterina
3. Fasia endopelvik
4. Otot-otot dasar panggul m levator ani

Etiologi Prolapsus Uteri :
1) Dasar panggul yang lemah, karena kerusakan dasar panggul pada persalinan yang terlampau
sering dengan penyulit seperti ruptura perineum atau oleh karena usia lanjut.
2) Tarikan pada janin pada pembukaan yang belum lengkap.
3) Ekspresi Crede yang berlebihan pada saat mengeluarkan plasenta.
4) Asites, tumor-tumor di daerah pelvis, batuk yang kronis dan pengejan (obslipasi atau striktura
pada traktus urinarius).
5) Relinakulum uteri yang lemah (asteni atau kelainan congenital berupa kelemahan jaringan
penyokong uterus yang sering pada nullipara.


Patologi Prolapsus Genitalis
1. Dengan adanya persalinan yang sulit, menyebabkan kelemahan pada ligamentum-ligamentum,
fasia endopelvik, otot-otot dan fasia dasar panggul ok peningkatan tekanan intra abdominal dan
faktor usia.
2. Karena servis uteri terletak diluar vagina akan menggeser celana dalam dan menjadi ulkus
dekubitus.
3. Dapat menjadi SISTOKEL karena kendornya fasia dinding depan vagina (mis : trauma
obstetrik) sehingga vesika urinaria terdorong ke belakang dan dinding depan vagian terdorong ke
belakang.
4. Dapat terjadi URETROKEL, karena uretra ikut dalam penurunan tersebut. Harus di DD/dengan
Difertikulum Uretra, pada Difertikulum Uretra, uretra dan vesika urinaria normal saja, hanya di
belakang uretra ada lobang yang menuju ke kantong antara uretra dan vagina.
5. Dapat terjadi REKTOKEL, karena kelemahan fasia di dinding belakang vagina, ok trauma
obstetric atau lainnya, sehingga rekrum turun ke depan dan menyebabkan dinding vagina atas
belakang menonjol ke depan.
6. Dapat terjadi ENTEROKEL, karena suatu hemia dari kavum dauglasi yang isinya usus halus
atau sigmoid dan dinding vagina atas belakang menonjol ke depan.
7. Sistokel, uretrokel, rektokel, enterokel dan kolpokel disebut prolaps vagina.
8. Prolaps uteri sering diikuti prolaps vagina, tetapi prolaps vagina dapat berdiri sendiri.

Gejala Klinis Prolapsus Uteri
Sangat individual dan berbeda-beda, kadang-kadang prolapsus uterinya cukup berat tapi
keluhannya (-) dan sebaliknya. Prolapsus uteri dapat mendadak seperti nyeri, muntah, kolaps dll
(jarang). Keluhan-keluhannnya adalah :
Terasa ada yang mengganjal/menonjol digenitalia ekstema (vagina atau perasaan berat pada perut
bagian bawah).
Riwayat nyeri dipinggang dan panggul yang berkurang atau hilang dengan berbaring.

Komplikasi Prolapsus Uteri :
1) Keratinisasi mukosa vagina dan portio uteri
2) Dekubitus
3) Hipertropi serviks uteri dan elongasioa koli
4) Gangguan miksi dan stress inkontinensia
5) Infeksi saluran kencing
6) Infertilitas
7) Gangguan partus
8) Hemoroid
9) Inkarserasi usus
Penanganan Prolapsus Uteri
Penanganan dibagi atas :
I. Pencegahan
Faktor-faktor yang mempermudah prolapsus uteri dan dengan anjuran :
a. Istirahat yang cukup, hindari kerja yang berat dan melelahkan gizi cukup
b. Pimpin yang benar waktu persalinan, seperti :
(1). Tidak mengedan sebelum waktunya
(2). Kala II jangan terlalu lama
(3). Kandung kemih kosongkan)
(4). episiotomi agar dijahit dengan baik
(5). Episiolomi jika ada indikasi
(6). Bantu kala II dengan FE atau VE
II. Pengobatan
A. Pengobatan Tanpa Operasi
Tidak memuaskan dan hanya bersifat sementara
pada prolapsus uteri ringan
ingin punya anak lagi
menolak untuk dioperasi
Keadaan umum pasien tak mengizinkan untuk dioperasi
Caranya :
Latihan otot dasar panggul
Stimulasi otot dasar panggul dengan alat listrik
Pemasangan pesarium

B. Pengobatan dengan Operasi
1. Operasi Manchester/Manchester-Fothergill
2. Histeraktomi vaginal
3. Kolpoklelsis (operasi Neugebauer-La fort)
4. Operasi-operasi lainnya :
Ventrofiksasi/hlsteropeksi

Interposisi
Jika Prolaps uteri terjadi pada wanita muda yang masih ingin mempertahankan fungsi
reproduksinya cara yang terbaik adalah dengan :
1. Pemasangan pesarium
2. Ventrofiksasi (bila tak berhasil dengan pemasangan pesarium)


















DAFTAR PUSTAKA
Manuaba, Ida Bagus Gde.1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana
Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta:EGC
Wiknjosastro, Hanifa.2008.Ilmu Kandungan. Jakarta: Bina Pustaka
Saifuddin, Abdul Bari.2008.Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka
Bagian Obsgyn FK UNPAD.1984.Obstetri Patologis. Bandung: Elstar Offset
http://obstetriginekologi.com/

Distosia Alat Kandungan dan Vulva. Endometriosis
Perineum
Walaupun bukan alat kelamin namun selalu terlibat dalam proses persalinan.
Apabila perineum cukup lunak dan elastis maka mudah untuk lahir kepala.
Biasanya perineum robek dan cukup sering terjadi ruptur perinei tingkat dua,
kadang-kadang tingkat tiga.
Perineum kaku menghambat persalian kala II yang meningkatkan risiko
kematian janin, menyebabkan kerusakan jalan lahir yang luas dapat diatasi dengan
episiotomi. Lebar perineum 4 cm dari komisura post ke anus akan tetapi kadang
ada yang sempit dan adapula yang lebar.

Vulva dan Vagina
Kelainan bawaan
Atresia vulva dalam bentuk atresia himenalis yang menyebabkan
hematokolpos, hematometra dan atresia vagina dapat menghalangi konsepsi.
Kelainan vagina yang cukup sering dijumpai dalam kehamilan dan persalinan
adalah septum vagina terutama vertika longitudinal.
Septum yang lengkap sangat jarang menyebabkan distosia karena separoh
vagina yang harus dilewati oleh janin biasanya cukup melebar sewaktu kepala
lahir. Akan tetapi septum yang tidak lengkap kadang kadang menghambat
turunnya kepala.
Striktur vagina yang kongenital biasanya tidak menghalngi turunnya kepala,
akan tetapi yang disebabkan oleh parut akibat perlukaan dapat menyebabkan
distosia.

Endometriosis
berarti tumbuhnya jaringan endometrium (lapisan dalam rahim yang biasanya menebal dan
keluar saat haid), tumbuh diluar rahim dan mengikuti pola haid seperti endometrium dalam
rahim. Artinya saat haid, enometrium yang ektopik ini juga ikut mengeluarkan darah. Karena
tidak memiliki akses keluar, maka darah yang muncul di jaringan ini akan menimbulkan rasa
sakit serta menjadi kista jika loaksinya di indung telur.
Endometriosis bisa memiliki derajat ringan, sedang dan berat. Yang ringan dan sedang cendrung
memberat jika tidak diobati. Bisa tidak bergejala bisa juga memiliki gejala2 yang khas dari
penyakit ini yaitu : dismenorea (nyeri saat haid), nyeri panggul lainnya saat pipis dan BAB,
darah haid yang berlebihan dan infertiliti (lihat espeogepedia: fertlitas)

Penyebabnya
dilakukan assisted reproduksi.

Pada beberapa kasus endometriosis tertentu terutama bagi yang sudh tidak menginginkan anak
dapt dilakukan operasi pengangkatan rahim serta kedua indung telurnya sekaligus. Dan tentunya
ini merupakan tindakan terakhir.
sampai sekarang masih belum jelas/pasti. Diduga faktor hormon dan sistem kekebalan (imunitas)
berperan sebagai penyebabnya. Salah satu teorinya : darah haid yang mengandung endometrium
keluar lewat saluran telur. masuk ke rongga perut dan tumbuh disana, sedangkan teori lain bilang
sel endometrium terbawa lewat aliran darah ubh lalu tumbuh pada tempat lain pada tubuh.

Beberapa pemeriksaan perlu dilakukan untuk menetapkan diagnosis endometriosis. Pemeriksaan
panggul dilakukan dengan palpasi dengan dua tangan (bimanual) satu tangan di dinding perut
dan satunya lagi didalam rongga vagina, untuk memeriksa kista serta jaringan endometriosis yg
ada di belakang rahim. Hasil ini selanjutnya dikonfirmasi dengan USG (terutama transvaginal).

Satu-satunya cara mengetahui dengan pasti adanya endometriosis adalah dengan melihat
/visualisasi langsung) jaringan endometrial dengan laparoskopi. Dengan prosedur ini bisa dilihat
lokasi serta ukuran lesi endometriosis dan selanjutnya akan ditentukan grade atau derajat
endometriosisnya ringan, sedang atau berat.

Cancer antigen 125 (CA 125) adalah tes darah sering digunakan untuk mendeteksi tanda-tanda
Tumor tertentu untuk kanker, tetapi juga dapat digunakan untuk mendeteksi suatu protein yang
ditemukan dalam darah perempuan dengan endometriosis. CA 125 paling sensitif ketika
endometriosis dalam tahap awal.

Pengobatan untuk endometriosis biasanya dengan obat atau operasi. Pada umumnya, dokter
menyarankan mencoba pendekatan konservatif sebagai pilihan pertama apalagi jika ingin hamil,
pilihan untuk operasi merupakan pilihan terakhir.

Obat -obatan yang dibserikan berupa obat anti nyeri seperti ibuprofen (Advil, Motrin IB, dan
lainnya), untuk membantu mengatasi nyeri haid. Tetapi jika dengan dosis optimal nyeri masih
belum teratasi maka harus dilakukan dengan cara lain.

Tambahan terapi hormon efektif dalam mengurangi atau menghilangkan rasa sakit
endometriosis. Hormonal terapi digunakan untuk mengobati endometriosis termasuk: kontrasepsi
hormonal. Penggunakan kontrasepsi hormonal dapat mengurangi atau menghilangkan rasa sakit
yang ringan hingga sedang dari endometriosis.

Gonadotropin-Releasing Hormone (Gn-RH) agonists dan antagonists dipakai untuk memblokir
hormon ovarium yang merangsang endometriosis. Pemberian obat ini akan menghentikan
menstruasi sehingga akan mengecilkan lesi endometriosisnya. Efek samping berupa hot flashes
dan vagina kering dpt diatasi dengan pemberian estrogen dosis rendah.

Danazol adalah obat lainny yang bisa dipakai, tetapi bukan pilihan utama karena dapat
menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan, seperti jerawat dan pertumbuhan rambut.
Obat lainnya seperti injeksi Medroxyprogesterone (Depo-Provera) juga dapat dipakai untuk
mengurangi gejala endometriosis Efek samping dapat berupa penambhan berat badan, tulang
keropos dan depresi.

Jika ibu memiliki endometriosis dan mencoba untuk menjadi hamil, operasi untuk
menghilangkan lesi mungkin akan meningkatkan peluang tersebut. Pembedahan ini berujuan
membuang lesi endometriosis, jaringan parut dan perlengketan tanpa harus mengangkat organ
reproduksi. Bisa dilakukan dengan laparoskpi ataupun dengan pembedahan biasa jika lesinya
sangat luas banyak. Jika ternyata hasil operasi konservatif tidak efektif maka sebaiknya

















KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil alamin kami ucapkan atas limpahan rahmat dan hidayah dari Allah SWT
yang diberikan kepada penulis sehingga mampu menyelesaikan makalah ini sebagai bahan
untuk Askeb IV Patologi dengan judul Distosia Alat Kandunngan
Dalam penyelesaian makalah ini penulis mendapat bantuan dari teman-teman sehingga dapat
menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaaan baik dari segi isi maupun
susunan bahasanya. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan bimbingan dari pembaca yang
dapat membangun ksempurnaan dari makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembaca terutama bagi penulis.


Lubuk Alung, 01 Januari 2014


penulis