Anda di halaman 1dari 26

CASE REPORT SESSION

STRUMA DIFUSA TOKSIK


Oleh:
Edwin Darmawan 1301-1212-0539
Reni Yudita Katherine 1301-1212-0619
IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. N
Usia : 44 tahun
Alamat : Lampung
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Tanggal Pemeriksaan : 21 Juli 2014
ANAMNESIS
Keluhan Utama: sering keluar keringat banyak

Sejak 3 bulan sebelum masuk rumah sakit,
pasien mengeluh keluar keringat banyak hampir
setiap hari, tidak dipengaruhi oleh cuaca dan
aktivitas, dan menjadi lebih nyaman berada di
tempat dingin. Keluhan muncul secara tiba-tiba
disertai dengan keluhan dada berdebar-debar,
mudah merasa lelah, dan tangan menjadi mudah
gemetar. Pasien merasakan dirinya menjadi
semakin cepat lebih cepat emosi dibandingkan
sebelumnya, juga mengeluhkan dirinya menjadi
cepat lapar dan nafsu makan menjadi bertambah
namun berat badannya justru menurun 5 kg
dalam 3 bulan.

Riwayat keluhan yang sama sebelumnya tidak
ada. Riwayat sesak nafas tidak ada. Riwayat
sulit menelan tidak ada. Riwayat gangguan
menstruasi tidak ada. Pasien sudah menikah
dan memiliki 3 orang anak, dan riwayat KB
yang digunakan adalah KB suntik 3 bulan.
Riwayat keluhan yang sama di keluarga tidak
ada. Riwayat darah tinggi tidak ada. Riwayat
sakit sebelum keluhan tidak ada. Riwayat
penggunaan obat-obatan atau jamu
sebelumnya tidak ada.
Karena keluhannya, pasien kemudian
berobat ke dokter spesialis penyakit dalam
dan setelah dilakukan pemeriksaan
laboratorium pasien didiagnosis menderita
hipertiroid dan diberi obat PTU yang
dikonsumsi pasien sampai 19 Juli 2014 (2
hari sebelum pemeriksaan). Meskipun
keluhan berkurang, pasien masih merasa
jantungnya berdebar, maka pasien datang
berobat ke Bagian Kedokteran Nuklir
RSHS untuk diperiksa sidik tiroid.
PEMERIKSAAN FISIK
Tanda vital:
Tekanan darah: 130/80 mmHg
Nadi : 104 x/m
Respirasi : 20 x/m
Suhu : afebris

Status Generalis:
Keadaan umum: compos mentis, sakit
sedang
Kepala: konjungtiva tidak anemis, sclera
tidak ikterik, eksophthalmos (-)
Leher:
Status Lokalis:
Inspeksi: terlihat pembesaran di regio
anterior colli, kulit tidak hiperemis.
Palpasi: teraba massa solid, kenyal, batas
tidak tegas, tidak terasa panas, tidak
terasa nyeri tekan, bergerak bersama
gerakan menelan, bruit (+). KGB tidak
teraba.
Ekstremitas: akral hangat, lembab,
hyperkinesia (+)
USULAN PEMERIKSAAN
Pemeriksaan Darah: TSHs, T3 total, T4
bebas
Pemeriksaan Sidik Kelenjar Gondok

HASIL PEMERIKSAAN (21 Juli
2014)
Pemeriksaan darah:
T3 total : 10,4 nmol/L (N: 1,0 3,3 nmol/L)
fT4 : 3,8 ng/dL (N: 0,8 1,7 ng/dL)
TSHs : < 0,01 uIu/mL (N: 0,3 3,8 uIu/mL)
SKG
SKG dengan Tc-99m
Pertechenetate
Deskripsi:
Kadar hormon tiroid
tinggi sedangkan
TSH sensitif rendah
Dari pencitraan,
tampak kedua lobi
membesar dengan
distribusi
radioaktivitas rata
Kesimpulan:
Struma difusa toksik
DIAGNOSIS
Struma difusa toksik
PENATALAKSANAAN
PTU 3x1
Propanolol 3 x 1

PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam
PEMBAHASAN
SIDIK KELENJAR TIROID
(Thyroid scintigraphy)
proses pencitraan kelenjar tiroid
berdasarkan prinsip radioisotop.
Berfungsi untuk menilai fungsi tiroid dan
gangguan fungsi akibat adanya kelainan
pada struktur tiroid.
Kemampuan kelenjar tiroid menangkap
(mengambil / uptake) iodida dan
pertechnetate akan menggambarkan
kinetika kedua senyawa tersebut dalam
kelenjar.
Indikasi
Evaluasi nodul tiroid.
Evaluasi pembesaran kelenjar tiroid tanpa
nodul yang jelas.
Evaluasi jaringan tiroid ektopik atau sisa
pasca-operasi.
Evaluasi fungsi tiroid.

Radiofarmaka
NaI-131, dosis 300 uCi , diberikan per oral
NaI-123, dosis 500 uCi , diberikan per oral
99m Tc - pertechnetate, dosis 2-3 mCi,
diberikan IV
Persiapan
Bila yang digunakan radiofarmaka NaI-131 atau
Na-123, pasien dipuasakan selama 6 jam. Obat-
obat yang mengandung iodium atau hormon
tiroid dihentikan selama beberapa waktu.

Peralatan
Kamera gamma dan kolimator pinhole ; kalau
tidak ada dapat digunakan kolimator LEHR (low
energy high resolution) untuk 99m Tc-
pertechnetate dan 123 I atau high energy untuk
131 I. Pemilihan kolimator tergantung pada
energi radiasi gamma utama dari radionuklida
yang digunakan, yaitu 131I : 364 keV. 123 I :
159 keV, dan 99mTc-pertecnetate :140 keV
Tatalaksana
Pencitraan dilakukan:
10-15 menit setelah penyuntikan
penyutikan 99mTc-pectechnetate i.v
6 jam setelah minum NaI-123
24 jam setelah minum NaI-131
Pasien tidur terlentang di bawah kamera
gamma dengan leher dalam keadaan
ekstensi; pencitraan statik dilakukan pada
posisi AP (kalau perlu oblik kiri atau
kanan).
Penilaian
Normal: kelenjar tiroid tampak seperti gambaran kupu-
kupu, terdiri dari lobus kanan dan kiri masing-masing
sebesar ibu jari tangan orang dewasa, dengan istmus
menghubungkan keduanya. Distribusi radioaktivitas di
kedua lobi rata.
Bila kedua lobi membesar difus/homogen (distribusi
radioaktivitas rata) disebut sebagai struma difusa.
Bila ada nodul (tunggal atau ganda), disebut struma
nodosa atau multinodosa.
Nodul yang menangkap radioaktivitas lebih tinggi dari
jaringan sekitar disebut nodul panas (hot nodule) atau
nodul hiperfungsional identik dengan nodul tiroid otonom
Nodul yang kurang atau tidak menangkap radioaktivitas
disebut nodul dingin (cold nodule) atau nodul
hipofungsional sekitar 10-30% nodul dingin ditemukan
pada proses keganasan tiroid sedangkan sisanya kista
tiroid
Nodul yang menangkap radioaktivitas sama dengan
jaringan sekitarnya disebut nodul hangat (warm nodule)
tidak mempunyai arti klinis yang berarti.
Jenis Gambaran Sidik Kelenjar Gondok
STRUMA DIFUSA TOKSIK
Sering ditemukan pada orang muda dengan
gejala seperti berkeringat berlebihan, tremor
tangan, menurunnya toleransi terhafap panas,
penurunan berat badan, ketidakstabilan emosi,
gangguan menstruasi berupa amenorrhea, dan
polidefekasi (sering buang air besar).
Klinis sering ditemukan adanya pembesaran
kelenjar tiroid, kadang terdapat juga manifestasi
pada mata berupa exophthalmus
Etiologi tidak diketahui pasti diduga adanya
peran dari suatu antibodi yang dapat ditangkap
reseptor TSH menimbulkan stimulus terhadap
peningkatan hormon tiroid.
Penyakit ini ditandai dengan peningkatan
absorbsi iodium radiokatif oleh kelenjar tiroid.
Patofisiologi
Graves Disease disebabkan oleh
kelainan sistem imun dalam tubuh, di
mana terdapat suatu zat yang disebut
sebagai Thyroid Receptor Antibodies.
Thyroid Receptor Antibodies menempati
reseptor TSH di sel-sel tiroid
menstimulasinya secara berlebihan
kadar hormone tiroid dalam tubuh
menjadi meningkat.
Gejala Klinis
Gejala dan tanda yang timbul manifestasi dari peningkatan
metabolisme di semua sistem tubuh dan organ.
Peningkatan metabolisme peningkatan kebutuhan kalori, disertai
(intake) kalori tidak mencukupi kebutuhan penurunan berat badan
secara drastis
Peningkatan metabolisme pada sistem kardiovaskuler: peningkatan
cardiac output, takikardia dan palpitasi. Beban pada miokard, dan
rangsangan saraf autonom kekacauan irama jantung berupa
ektrasistol, fibrilasi atrium, dan fibrilasi ventrikel.
saluran cerna: sekresi maupun peristaltik meningkat polidefekasi
dan diare.
Hipermetabolisme susunan saraf tremor, penderita sulit tidur,
sering terbangun di waktu malam, ketidakstabilan emosi,
kegelisahan, kekacauan pikiran, dan ketakutan yang tidak beralasan
yang sangat menggangu.
Saluran napas: hipermetabolisme menimbulkan dispnea dan takipnea
yang tidak terlalu mengganggu.
Gangguan menstruasi dapat berupa amenorea sekunder atau
metrorhagia
Ikatan antibodi terhadap reseptor pada jaringan ikat dan otot
ekstrabulbi dalam rongga mata jaringan ikat dan jaringan lemak
hiperplastik bola mata terdorong ke luar dan otot mata terjepit
eksoftalmus dan strabismus.
Tatalaksana
pengendalian keadaan tirotoksisitas/
hipertiroidi dengan pemberian antitiroid,
seperti propil-tiourasil (PTU) atau
karbimazol
Terapi definitif dapat dipilih antara
pengobatan anti-tiroid jangka panjang,
ablasio dengan iodium radiokatif, atau
tiroidektomi


TERIMA KASIH