Anda di halaman 1dari 8

I.

PENGATURAN KEGIATAN PERTAMBANGAN MINERAL NON LOGAM


DAN BATUAN DAI KABUPATEN LAMONGAN.
Pengaturan kegiatan pertambangan mineral non logam dan
batuan (galian C) mengalami perubahan sejak diterbitkannya Undang-
Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batuan dan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2008 tentang Pajak dan
Retribusi Daerah. Sebelumnya pengaturan kegiatan pertambangan
diatur dengan Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2008 tentang
Retribusi Ijin Usaha Pertambangan Galian Golongan C di Kabupaten
Lamongan diganti dengan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2011
tentang Penyelenggaraan Usaha Pertambangan di Kabupaten
Lamongan.
Adapun pengaturan kegiatan pertambangan sesuai dengan
Perda Nomor 7 Tahun 2011 dan Peraturan Bupati Lamongan Nomor
32 Tahun 2012 tentang Petunjuk Pelaksanaannya adalah sebagai
berikut :
1. Mekanisme :
1). Penetapan Wilayah Pertambangan (WP) oleh Pemerintah
setelah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah dan
berkonsultasi dengan DPR RI ;
2). Penyiapan WP Kabupaten Lamongan diusulkan oleh Kepala
Daerah dengan tembusan kepada Gubernur Prov. Jatim melalui
Dinas ESDM Prop. Jatim ;
3). WP menjadi dasar penetepan WUP dan WPR
4). WUP mineral non logam dan batuan ditetapkan oleh Gubernur
Prop. Jatim setelah menerima usulan dari Bupati/Kepala
Daerah;
5). WUP menjadi pedoman penetapan Wilayah Ijin Usaha
Pertambangan (WIUP) ; Kriteria untuk menetapkan luas dan
batas WIUP sebagai berikut :
a. letak geografis;
b. kaidah konservasi;
c. daya dukung lindungan lingkungan;
d. optimalisasi sumber daya mineral;
e. tingkat kepadatan penduduk;
6). WIUP dapat diajukan oleh pemohon kepada Bupati/Kepala
Daerah dengan menyertakan titik koordinat yang dimohon ;
7). WIUP diberikan kepada pemohon oleh Bupati/Kepala Daerah
setelah mendapat pertimbangan dari Tim Pokja Pertambangan
Umum kabupaten ;
8). Setelah WIUP didapatkan pemohon, selanjutnya tahapan
pengajuan perijinan pertambangan mineral non logam dan
batuan melalui 2(Dua) tahapan yakni pengajuan IUP eksplorasi
dan IUP Operasi Produksi ;
9). WPR ditetapkan oleh Kepala Daerah setelah berkonsultasi
dengan DPRD.
10). WPR menjadi pedoman penerbitan perijinan pertambangan
rakyat (IPR) ;
2. Prosedure Perijinan kegiatan pertambangan mineral non logam
dan batuan (galian C) :
1). Setiap usaha pertambangan mineral bukan logam dan batuan
yang berada dalam wilayah Kabupaten Lamongan wajib memiliki
IUP dari Kepala Daerah.
2). Izin usaha pertambangan mineral bukan logam dan batuan
meliputi :
a. IUP eksplorasi adalah Izin usaha yang diberikan untuk
melakukan tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi
dan studi kelayakan.
b. IUP operasi produksi adalah Izin usaha yang diberikan setelah
selesai pelaksanaan IUP Eksplorasi untuk melakukan tahapan
kegiatan operasi produksi.
3). Kepala Daerah memberikan IPR (Ijin Pertambangan Rakyat)
kepada penduduk setempat, baik perseorangan maupun
kelompok masyarakat dan/atau koperasi.
4). Untuk memperoleh IPR, pemohon wajib menyampaikan surat
permohonan kepada Kepala Daerah
5). Izin Usaha Pertambangan diberikan kepada :
a. badan usaha milik negara;
b. badan usaha milik daerah;
c. badan usaha milik swasta yang bergerak di bidang
pertambangan;
d. koperasi;
e. perorangan.
6). Izin Usaha Pertambangan meliputi konstruksi/operasi,
pengolahan dan pemurnian serta Pengangkutan/Penjualan.
3. Persyaratan bagi Pemohon :
Persyaratan Izin Usaha Pertambangan (IUP) eksplorasi dan Operasi
Produkusi meliputi Persyaratan administratif, teknis ;
lingkungan ; dan finansial.
1). IUP Eksplorasi
Persyarata Administratif :
a. untuk badan usaha
1. surat permohonan;
2. profil badan usaha;
3. akte pendirian badan usaha yang bergerak di bidang
usaha pertambangan yang telah disahkan oleh pejabat
yang berwenang;
4. nomor pokok wajib pajak;
5. susunan direksi dan daftar pemegang saham; dan
6. surat keterangan domisili usaha;
b. untuk koperasi
1. surat permohonan;
2. profil koperasi;
3. akte pendirian koperasi yang bergerak di bidang usaha
pertambangan yang telah disahkan oleh pejabat yang
berwenang;
4. nomor pokok wajib pajak;
5. susunan pengurus; dan
6. surat keterangan domisili usaha ;
c. untuk orang perseorangan
1. surat permohonan;
2. kartu tanda penduduk;
3. nomor pokok wajib pajak; dan
4. surat keterangan domisili usaha ;
d. untuk perusahaan firma dan perusahaan komanditer
1. surat permohonan;
2. profil perusahaan;
3. akte pendirian perusahaan yang bergerak di bidang
usaha pertambangan yang telah disahkan oleh pejabat
yang berwenang;
4. nomor pokok wajib pajak;
5. susunan pengurus dan daftar pemegang saham; dan
surat keterangan domisili usaha
Persyaratan Teknis :
1. daftar riwayat hidup dan surat pernyataan tenaga ahli
pertambangan dan/atau geologi yang berpengalaman
paling sedikit 3 (tiga) tahun;
2. peta WIUP yang dilengkapi dengan batas koordinat
geografis lintang dan bujur sesuai dengan ketentuan
sistem informasi geografi yang berlaku secara nasional.
Persyaratan Lingkungan :
untuk IUP Eksplorasi meliputi pernyataan untuk mematuhi
ketentuan peraturan perundang- undangan di bidang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Persyaratan Finansial
IUP Eksplorasi, meliputi:
1. bukti penempatan jaminan kesungguhan pelaksanaan
kegiatan eksplorasi; dan
2. bukti pembayaran biaya pencadangan wilayah dan
pembayaran pencetakan peta WIUP mineral bukan logam
dan/atau batuan atas permohonan wilayah.
2). IUP Operasi produksi
Untuk persyaratan administratif pada prinsipnya sama
dengan IUP Eksplorasi tetapi berbeda dalam persyaratan
teknis, lingkungan dan finansial.
Persyaratan Teknis.
1. peta wilayah dilengkapi dengan batas koordinat geografis
lintang dan bujur sesuai dengan ketentuan sistem
informasi geografi yang berlaku secara nasional;
2. laporan lengkap eksplorasi;
3. laporan studi kelayakan;
4. rencana reklamasi dan pascatambang;
5. rencana kerja dan anggaran biaya;
6. rencana pembangunan sarana dan prasarana penunjang
kegiatan operasi produksi; dan
7. tersedianya tenaga ahli pertambangan dan/atau geologi
yang berpengalaman paling sedikit 3 (tiga) tahun.


Persyaratan Lingkungan
1. pernyataan kesanggupan untuk mematuhi ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup; dan
2. persetujuan dokumen lingkungan hidup sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Persyaratan Finansial
IUP Operasi Produksi, meliputi laporan keuangan tahun
terakhir yang telah diaudit.














































II. PENGELOLAAN AIR TANAH
Pengaturan pengelolaan air tanah berpedoman pada Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air di Kabupaten
Lamongan dan telah ditindaklanjuti dengan Peraturan Daerah
Nomor 5 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Air Bawah Tanah di
Kabupaten Lamongan dan Perbub Nomor 62 Tahun 2004 tentang
Petunjuk Pelaksanaannya.
Seiring dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor
43 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Air Tanah maka Perda Kabupaten
Lamongan akan disesuaikan lebih lanjut. Berkaitan dengan hal

BUPATI
GUBERNUR
PEMERINTAH
USULAN WP
KABUPATEN

PENETAPAN WP
KABUPATEN

PENETAPAN WUP
NON LOGAM DAN
BATUAN
KABUPATEN

USULAN WUP
MENERAL NON
LOGAM DAN BATUAN

Belum ditetapkan
WP, WUP


PEMOHON
TIM POKJA
PERTAMBANGAN
UMUM DAERAH
TIM POKJA
PERTAMBANGAN
UMUM DAERAH

BADAN
PENANAMAN
MODAL DAN
PERIJINAN
BAGIAN
PEREKONOMIAN
PENGAJUAN
WIUP
PENGAJUAN IPR,
IUP EKSPLORASI,
IUP OP
PENERBITAN
WIUP
PENERBITAN
IPR, IUP
EKSPLORASI
DAN IUP OP
1
1

2
1

3
1

4
1

5
1

6
1

7
1

8
9
Keterangan :
Saat ini Pemerintah Kabupaten Lamongan belum dapat mengeluarkan Ijin Usaha
Pertambangan yang baru karena WP belum ditetapak Pemerintah Pusat










BAGAN ALIR PROSEDUR PERIJINAN KEGIATAN PERTAMBANGAN MINERAL
BUKAN LOGAM DAN BATUAN DI KABUPATEN LAMONGAN
10
tersebut Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 12 Tahun
2011 tentang Pengelolnan Air Tanah Propinsi Jawa Timur telah
mengatur secara rinci secara teknis prosedur pengelolaan air tanah di
Propinsi Jawa Timur. Berikut contoh blanko dan persyaratan perijinan
pengambilan dan pemanfaatan air tanah sbb :

1. Contoh blanko permohonan

KOP SURAT PERUSAHAAN
. . . . . . . . . . ., . . . . . . . . . . . . . . 20 . .
Nomor : Kepada :
Lampiran : Yth. Bupati/Walikota
Perihal : Permohonan Surat Izin Pengeboran di
Air tanah (SIP)
Dengan hormat,
Yang bertandatangan di bawah ini :
N a m a : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Jabatan : .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Nama Perusahaan : .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Status Perusahaan : PMA/PMDN/Non Fasilitas/BUMN/BUMD/Inst.
Pemerintah*)
Alamat Perusahaan : .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
dengan ini mengajukan permohonan izin pengeboran air tanah sebagai berikut :
1. Pengeboran air tanah yang ke : . . . . . . . ( . . . . . . . .)
2. Air tanah yang dibutuhkan sebanyak : . . . . . ltr/det atau . . . . . . m
3
/hari.
3. Tujuan penggunaan air tanah untuk : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
4. Rencana lokasi sumur di :
Desa / Kelurahan*) : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ..
Kecamatan : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Kab. / Kota*) : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .......
Sebagai kelengkapan permohonan, bersama ini kami sertakan :
a. Peta situasi berskala 1:10.000 (atau lebih besar), dan peta topografi
berskala 1:50.000 yang memperlihatkan titik lokasi rencana pengeboran
air tanah;
b. Informasi Mengenai Rencana Pengeboran Air tanah;
c. Salinan atau fotocopy SIPPAT, STIB dan SIJB yang masih berlaku;
d. Dokumen UKL dan UPL (untuk permohonan dengan debit kurang dari 50
ltr/det); atau Dokumen AMDAL (untuk permohonan dengan debit sama
atau lebih besar dari 50 ltr/det);
e. Tanda bukti kepemilikan 1 (satu) buah sumur pantau yang dilengkapi
dengan Alat Perekam Otomatis Muka Air tanah (Automatic Water Level
Recorder-AWLR), bagi pemohon sumur kelima atau kelipatannya atau
jumlah pengambilan air tanah sama atau lebih besar dari 50 ltr/det dari
satu atau beberapa sumur pada kawasan kurang dari 10 (sepuluh) hektar;
f. Ijin HO ( jika diperlukan )
Demikian permohonan kami dan atas terkabulnya permohonan ini, diucapkan
terimakasih.
Pemohon,
t.t & stempel
Nama/Jabatan dalam perusahaan
Tembusan :
Yth. Kepala Dinas Energi Dan Sumber Daya Mineral
Propinsi Jawa Timur
di Surabaya

Keterangan : *) Coret yang tidak perlu.
- Perihal tergantung jenis permohonan
- Persyaratan disesuaikan dengan jenis permohonan



Materai
Rp. 6.000,-
2. Persayaratan :
1). SIP (Surat Ijin Pengeboran)
- Peta lokasi dengan skala 1;10.000 disertai koordinat titik
rencana pengeboran/penggalian;
- Peta Topografi skala 1:50 000;
- Surat Ijin Perusahaan Pengeboran Air Tanah (SIPPAT);
- Surat Tanda Instalasi Bor (STIB);
- Surat Ijin Juru Bor (SIJB);
- Dokumen UKL/UPL yang telah diketahui oleh Instansi
Lingkungan Hidup Kab/Kota
- Dokumen AMDAL dan kajian hidrogeologi apabila
pengambilan air tanah lebih dari 50 liter per detik.
2). SIPA (Surat Ijin Pengambilan Air) sumur bor, sumur pasak,
dan sumur gali harus dilengkapi persyaratan berupa :
- Surat Permohonan;
- Foto copy SIPA lama;
- Foto copy pajak air tanah minimal 3 bulan terakhir;
- Hasil Analisa uji pemompaan /pumping test (step draw down
continues test dan recovery test);
- Berita acara Pelaksanaan uji pemompaan /pumping test
- Foto copy Hasil Uji kualitas air tanah

3). SIPA sumur bor yang sudah beroperasi/dimanfaatkan:
- Peta lokasi dengan skala 1:10.000 disertai titik koordinat
sumur ;
- Peta topografi skala 1:50.000;
- Hasil Analisa uji pemompaan/pumping test ( step draw down,
continues test dan recovery test);
- Gambar konstruksi sumur atau Spesifikasi teknis/penampang
sumur dengan bore hole camera;
- Foto copy Hasil Uji kualitas air tanah ;
- Surat pernyataan kepemilikan sumur bor tersebut.

4). SIPA sumur pasak (sumur dangkal) :
- Surat Permohonan;
- Hasil analisa laboratorium uji air tanah.

5). Perpanjangan SIPA sumur bor, sumur pasak, dan sumur gali
harus dilengkapi persyaratan berupa :
- Surat Permohonan;
- Foto copy SIPA lama;
- Foto copy pajak air tanah minimal 3 bulan terakhir;
- Hasil Analisa uji pemompaan /pumping test (step draw down
continues test dan recovery test);
- Berita acara Pelaksanaan uji pemompaan /pumping test
- Foto copy Hasil Uji kualitas air tanah
6). Pengajuan SIPA untuk peningkatan kuota debit :
- Surat Permohonan;
- Foto copy SIPA lama;
- Foto copy pajak air tanah minimal 3 bulan terakhir;
- Hasil Analisa uji pemompaan /pumping test (step draw down
continues test dan recovery test);
- Berita acara Pelaksanaan uji pemompaan /pumping test
III. PENGGUNAAN BBM PSO ATAU BERSUBSIDI
Berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Nomor : 01 Tahun 2013 tentang Penggunaan Bahan Bakar Minyak
bersubsidi maka pentahapan pembatasan penggunaan jenis BBM
tertentu sebagai berikut :
I. Kendaraan Dinas
1. Pada Wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah,
DI Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali dilarang menggunakan Jenis
BBM tertentu berupa Bensin (Gasoline) RON 88 sejak 1 Januari
2013
2. Pada Wilayah Propinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah,
DI Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali terhitung mulai tanggal 1
Maret 2013 dilarang menggunakan Jenis BBM tertentu berupa
Minyak Solar (Gas Oil) ;
3. Kendaraan Ambulance, Mobil Jenazah, Pemadam Kebakaran dan
Pengangkut Sampah diperbolehkan menggunakan Bensin
(Gas Oline) RON 88 dan Minyak Solar (Gas Oil).
II. Mobil Barang
1. Jumlah roda lebih dari 4 (empat) yang digunakan untuk
pengangkutan hasil kegiatan perkebunan dan pertambangan
dilarang menggunakan jenis BBM tertentu jenis Solar (Gas Oil)
sejak 1 Januari 2013 ;
2. Jumlah roda lebih dari 4 (empat) yang digunakan untuk
pengangkutan hasil kehutanan terhitung mulai tanggal 1 Maret
2013 dilarang menggunakan jenis BBM tertentu berupa minyak
solar (Gas Oil) ;
3. Sedangkan untuk pengangkutan hasil kegiatan usaha perkebunan
rakyat kurang dari 25 Ha, pertambangan rakyat dan komoditas
batuan serta hutan kemasyarakatan dan hutan rakyat
diperbolehkan menggunakan minyak solar (Gas Oil) ;
III. Transportasi Laut
1. Kapal barang non perintis dan non pelayaran rakyat terhitung
sejak tanggal 1 Pebruari 2013 dilarang menggunakan jenis BBM
tertentu (Minyak Solar) ;
2. Kapal barang non perintis dan non pelayaran rakyat dimaksud
berkewajiban menyediakan tempat penyimpanan BBM dengan
kapasitas sesuai kebutuhan ;
3. Apabila belum mampu menyediakan tempat penyimpanan BBM
dapat bekerjasama dengan :
a. Badan usaha pemegang ijin usaha niaga umum BBM
(SPBU/SPDN) ;
b. Memanfaatkan tempat penyimpanan secara bersama-sama
antara pelaksanaan kegiatan perkebunan, pertambangan,

kehutanan dan transportasi laut berupa kapal barang non
perintis dan non pelayaran rakyat;
c. Apabila pelaksanaan kegiatan perkebunan, pertambangan,
kehutanan dan transportasi laut berupa kapal barang non
perintis dan non pelayaran belum dapat
menyediakan/memanfaatkan sebagaimana tersebut dalam
poin a dan b diwajibkan mengisi BBM pada :
- Stasiun Pengisian BBM Non Subsidi ;
- Stasiun Pengisian BBM yang bergerak milik Badan Usaha
pemegang ijin usaha niaga urusan BBM.
Adapun pembatasan BBM Subsidi untuk pengguna
kegiatan usaha mikro, perikanan, pertanian dan pelayanan
umum harus melalui rekomendasi SKPD terkait sebagaimana
Surat Bupati Lamongan Nomor : 546/550/413.021/2012 dan
Peraturan BPH Migas Nomor : 5 Tahun 2012 tentang Surat
Rekomendasi Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk pembelian
BBM jenis tertentu (subsidi).
Demikian untuk menjadi pedoman dalam rangka
mengendalikan distribusi BBM PSO/bersubsidi sesuai dengan
kuota di Kabupaten Lamongan.

Lamongan, Pebruari 2013

an. SEKRETARIS DAERAH
ASISTEN EKONOMI DAN PEMBANGUNAN



Drs. LESTARIYONO, M.Si.

Pembina Tingkat I
NIP. 19661004 199503 1 002