Anda di halaman 1dari 5

Ulasan Lima Film Drama Komedi Terbaik

Menonton film drama komedi buat gw adalah rekreasi. Genre ini selalu menawarkan kisah
ringan, menghibur dan cocok ditonton di hari libur sambil makan siang. Drama mengingatkan
gw pada zaman kuliah dulu. Seingat gw drama terdiri dari tragedi, komedi dan satir.
Dua hal pertama tersebut digambarkan dengan topeng sedih dan tertawa dan kemudian
dipentaskan dalam bentuk drama oleh pemain yang memakai topeng. Kenapa pakai topeng?
Kalau dari yang gw baca, sih, salah satunya supaya penonton yang jauh bisa melihat ekspresi
mereka dengan jelas karena kalau liat muka terlalu samar ekspresinya. Ingat, dulu drama
dipentaskan di teater yang gede banget dan akustiknya sudah diperhitungkan dengan cermat
sehingga semua penonton bisa mendengar kata-kata yang diomongin pemainnya dengan jelas
(meski belum ada mikrofon). Tapi penglihatan tentu saja tidak bisa dibohongi. Ada batas
untuk itu, tidak bisa diakali dengan arsitektur yang dirancang sedemikian rupa.
Itu sedikit sejarah yang sama sekali tidak lengkap. Singkatnya, kini drama tidak lagi
membutuhkan topeng karena sudah bisa dikemas dalam bentuk film yang ekspresi pemainnya
bisa dijangkau oleh mata penonton. Ekspresi itulah yang membuat penonton ikut merasa
sedih dan senang ketika menontonnya. Nah sekarang langsung saja, berikut lima film drama
komedi terbaik menurut gw:
The Bucket List (2007)
Film ini dibintangi oleh Morgan Freeman dan J ack
Nicholson. Yap, terlalu banyak film bagus yang dimainkan
Morgan meski ada beberapa yang menurut gw jelek salah
satunya Transcendence (2014) tapi di film ini dia
tampil sesuai dengan dirinya. Maksudnya sesuai umurnya.
Di Bucket List dia berperan sebagai seorang lansia yang
divonis kanker paru-paru stadium lanjut.
Ketika dirawat di rumah sakit, dia satu ruangan sama J ack
Nicholson yang juga sakit parah. J ack juga salah satu
aktor favorit gw yang tampil keren di filmnya As Good
As It Gets (1997), tentang seorang pria tua yang antisosial
dan selalu membenci orang di sekelilingnya.
Dalam film ini dia juga memerankan karakteristik
kampiunnya: kakek-kakek sinis. J adi ketika karakter
Morgan yang playful dikawinkan dengan karakter J ack
yang selalu memandang sesuatu dari sisi negatif maka yang keluar adalah sebuah hubungan
yang familier dengan keseharian kita. Pasti banyak kan orang sinis di sekitar kita?
Bucket list di sini adalah daftar hal yang ingin mereka lakukan sebelum mati (kick the bucket
itu idiom dalam bahasa Inggris yang berarti meninggal, diambil dari arti harfiah ketika orang
yang gantung diri menendang ember yang menjadi tumpuannya). Mereka berpetualang
keliling dunia untuk mewujudkan semua hal yang ada di daftar keinginan tersebut. Dan salah
satu hal yang bikin film ini selalu terkenang buat gw adalah karena J ack menyebut bahwa dia
suka kopi luwak (bukan white coffee yang murah itu). Iya, gw nontonnya sampai diulang-
ulang demi mendengar aksen lucunya ketika ngomong itu. Seperti orang Indonesia
kebanyakan, gw selalu terharu kalau orang Barat menyebut sesuatu yang ada hubungannya
dengan kita, apalagi ketika mereka memujinya. Dasar, kolonis.
Hal-hal dalam daftar itu sebenarnya cukup sederhana: ketawa sampai nangis, naik motor di
Tembok Besar China (KePres sekarang mengharuskan diganti jadi Tiongkok tapi gw lebih
suka pakai China), sampai mencium cewek paling cantik di dunia. Tapi yang membuat
spesial adalah ketika daftar tersebut berusaha diwujudkan lewat perjalanan dua orang sahabat
yang berbeda karakter dan menjadi akrab karena penyakit yang mereka derita. Ada empati
tapi terkesan tidak dibuat-buat di antara mereka. Membantu mewujudkan keinginan yang ada
dalam daftar itu dengan tulus. Ringan tapi juga mengingatkan kita bahkan sebelum mati kita
masih punya banyak hal yang harus dilakukan. J adi ketika masih sehat seperti sekarang
jangan hanya berpangku tangan dan meninggalkan utang hal-hal yang belum sempat
dilakukan.
Marley & Me (2008)
J ennifer Aniston itu bidadari, matahari sumber kehidupan,
air yang diambil pertama kali di pegunungan saat fajar
untuk direguk kala haus, mawar di tumpukan jerami. Bagi
gw, semua tawa dan tangis dia dalam film terlihat begitu
natural seperti sudah mengenalnya seumur hidup gw.
Apalagi waktu dia nangis, gw selalu ingin masuk ke layar
buat mengelus rambut dan memeluk untuk
menenangkannya. Kalau kata J ohn Legend even when
[she's] crying [she's] beautiful too.
Ini film bercerita tentang sepasang suami istri baru, Owen
Wilson dan J en, yang mengadopsi anjing saat belum mau
mempunyai anak. Namun anjing yang menyenangkan dan
penurut seperti pada umumnya dimiliki keluarga lain
ternyata tidak mereka dapatkan. Marley, nama anjing yang
diambil dari Bob Marley, susah diatur. Tapi seiring berjalannya waktu Marley tidak menjadi
a mans best friend tapi a familys best friend. Iya, anak-anak Owen dan J en semuanya
sayang dia.
Marley bahkan jadi sumber inspirasi tulisan Owen di kolom surat kabar yang diasuhnya.
Semua ulah dan keterlibatan Marley dalam keluarga kecil itu diabadikan dalam artikel yang
ringan dan mempunyai basis penggemar setia.
Akhirnya seperti setiap pertemuan pasti selalu ada akhir. Marley mengakhiri keakraban
mereka dengan pergi di suatu malam yang dingin, setelah sebelumnya sakit. Dia pergi untuk
selamanya. Kata film itu anjing kalau mau mati akan menjauh ke tempat tersembunyi agar
sang pemilik tidak bersedih. Di film ini ada loyalitas, humor, kesedihan, konflik rumah
tangga, dan tentu saja bidadari.
Intouchables (2011)
Intouchables berkisah tentang seorang
caretaker (Omar Sy) dari seorang kaya yang
lumpuh (Franois Cluzet). Adegan pembuka
diawali dengan adegan kejar-kejaran dengan
polisi. Sama sekali tidak bisa mewakili
cerita film ini secara keseluruhan; ini bukan
film action. Sebenarnya ceritanya
sederhana; sang perawat bersikap slengekan
sementara sang majikan tidak ingin
dikasihani karena kekurangan fisiknya.
Hubungan mereka klop.
Kemudian mereka berbagi kesenangan dalam keseharian dengan tindakan-tindakan
menghibur si pengasuh. Sang pengasuh energik sementara majikan menggantungkan
hidupnya pada kursi roda. Lalu sikap mereka juga berbeda, yang satu aktif memulai
percakapan yang ringan sedangkan satunya lagi hanya gemar menanggapi, jika tidak bisa
disebut pasif, bahasan yang dimulai oleh sang pengasuh. Penggambaran karakter di sini
sangat kontras, yin dan yang, dan itu rasanya yang membuat film ini cukup kuat dan
menerima berbagai nominasi penghargaan film dan memenangi beberapa di antaranya.
Si majikan sangat bergantung hingga tiba saat sang pengasuh harus pergi. Terpukul karena
kepergiannya yang tiba-tiba, si majikan kemudian mulai tidak peduli pada hidupnya yang
dulu teratur dan berpenampilan rapi. Setelah dihubungi oleh kerabat sang majikan, si
pengasuh akhirnya kembali untuk mengucapkan selamat tinggal yang pantas: dengan
memberikan pasangan yang sejak lama diidamkan majikannya agar dapat merawatnya
dengan baik.
Oh iya, gw juga baru baca ternyata film ini diambil dari kisah nyata Philippe Pozzo di Borgo
dan pengasuhnya yang kelahiran Prancis-Aljazair Abdel Sellou.
The Terminal (2004)
Gw udah nonton film ini beberapa kali dan
gak pernah bosan sama sekali. Agak susah
sih untuk jelasin kenapa ini jadi drama
komedi terbaik versi gw karena keseluruhan
elemennya unik dan bisa dianggap biasa aja
sama sebagian orang tapi juga bisa dianggap
brilian bagi sebagian lainnya, termasuk gw.
Film ini buat gw menunjukkan etos kerja
yang gigih, ketulusan, kepolosan, kejujuran,
keberuntungan, kerendahan hati, dan
panjang akal dalam memecahkan masalah.
Diceritakan di sini Tom Hanks yang berasal
dari Krakozhia sebuah negara fiktif berkunjung ke New York. Dia tidak bisa masuk ke
Amerika Serikat karena paspornya ditolak akibat negaranya dilanda perang sipil sehingga
kedaulatannya tidak diakui. Sehingga dia terpaksa menunggu tanpa status yang pasti sama
sekali di bandara. Tidak bisa berbahasa Inggris, karakter Tom mulai bingung menghadapi
situasi. Tapi ternyata dia bisa dengan cepat beradaptasi. Memanfaatkan semua yang ada di
sekitarnya untuk tetap hidup di bandara.
Adegan paling berkesan buat gw yaitu ketika dia ngumpulin trolley barang yang tidak
dikembalikan ke tempatnya oleh para penumpang di bandara. Di bandara New York
diceritakan bahwa setiap trolley yang dipakai dianjurkan untuk dikembalikan ke tempatnya.
Nah untuk mendorong orang melakukan itu, bandara memberi reward beberapa sen bagi
setiap trolley yang dikembalikan. Tom melihat peluang itu, ia mengembalikan trolley yang
ditelantarkan orang ke tempatnya demi mengumpulkan uang untuk membeli makanan. Dia
memilih untuk tidak hidup dari belas kasih orang lain, terlebih karena dia tidak bisa
berbahasa Inggris saat itu.
Cerita itu mengingatkan gw sama berang-berang laut yang menggunakan batu di atas
dadanya untuk memecah kulit kerang yang keras demi daging lembut kaya protein yang
tersimpan di dalamnya. Selalu ada cara kalau kita menginginkan sesuatu. Bahkan binatang
pun tidak kehabisan akal. Gambaran perjuangan hidup kental di film ini. Ditambah dengan
kejujuran dan ketulusan Tom, dia berhasil menaklukan seluruh bandara, berteman dengan
hampir semua orang di dalamnya.
Tanpa bermaksud berlebihan, menurut gw berbagai pelajaran hidup bisa diambil dari film ini.
Tentang bagaimana kita mengakali nasib. Tabah mengikuti jalan yang ditentukan Tuhan,
yang kadang banyak kerikilnya, namun juga tidak berhenti berusaha mendapatkan yang
terbaik menggunakan kemampuan kita.
The Truman Show (1998)
Film ini bikin gw inget sama Tuhan. Tentang eksistensi
manusia di dunia. Ceritanya J im Carrey seperti kebanyakan
kita, menjalani hari-hari biasa tanpa ada yang istimewa.
Semua rutinitas berjalan seperti biasa, bersosialisasi,
bekerja, pokoknya semua normal hingga suatu saat dia
menemukan kejanggalan dalam hidupnya.
Setelah menyadari beberapa hal aneh tersebut dia
menemukan bahwa dia sebenarnya adalah aktor dalam
sebuah reality show besar. Dia lahir dan dibesarkan dalam
studio tersebut. Semua orang menonton perjalanan
hidupnya dari bayi hingga usia 30-an. Itu semua
ditayangkan 24/7, real-time! Semuanya artifisial: teman,
pekerjaan, kota yang ditinggalinya, laut bahkan nasibnya
pun sudah diarahkan oleh sang pembuat acara. Terdengar
familier? Iya memang ini seperti hidup kita sebenarnya. Di
atas sana, sang kreator sudah menciptakan, menyediakan
orang yang akan bergaul dengan kita, memutuskan pekerjaan apa yang akan kita lakukan, dan
tentu saja, nasib kita secara keseluruhan.
Lalu apa menariknya film ini kalau ternyata hidup kita sama seperti itu? Beda. Dia bisa
menggugat tuhan. Ketika J im sudah mengetahui bahwa dia hanyalah aktor dalam sebuah
acara tersebut dia berusaha untuk menghindar dari sang pencipta acara. Dia tidak terima
dijadikan aktor untuk ditonton. Dia ingin kehidupan yang bebas.
Tapi menurut gw, sih, momen ketika dia pergi dari studio itu agak blunder. Dia lolos dari
pencipta acara namun kemudian harus tetap mengikuti skenario dari tokoh yang lebih besar,
Sang Khalik. Seperti boneka kayu Matryoshka dari Rusia, yang jika dibuka boneka lebih
besar di luarnya kita akan menemukan boneka kecil di dalamnya terus begitu sampai kita
menemukan boneka terkecil. Sama saja, tidak berubah rupanya hanya berbeda skalanya.
Copyright: Imanuel Kristianto