Anda di halaman 1dari 37

1

BAB 1
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Nyeri tenggorokan adalah nyeri pada daerah tenggorokan. Hal ini
merupakan keluhan di bidang tenggorokan yang paling banyak disampaikan oleh
pasien saat datang berobat ke Poliklinik THT atau Dokter.
Nyeri tenggorokan dapat disebabkan oleh banyak hal, sebagian besar adalah
infeksi virus dan infeksi bakteri. Nyeri tenggorokan bukanlah suatu diagnosa,
melainkan sebuah gejala yang dapat merujuk ke beberapa penyakit, diantaranya
tonsilitis, epiglotitis akut, epiglotitis kronis, laringitis kronik, atau carsinoma
laring stadium lanjut.
Keluhan nyeri tenggorokan jarang sekali berdiri sendiri. Biasanya timbul
bersama keluhan yang lain seperti demam, pilek, atau gangguan menelan.
Prinsip penanggulangan nyeri tenggorokan adalah menghilangkan penyebab
nyeri tersebut. Tindakan pada pasien dengan tonsilitis, misalnya, bisa dengan
menggunakan antibiotik atau tindakan tonsilektomi bila tonsil berukuran besar
dan menurunkan kualitas hidup pasien.

1.2 Rumusan Masalah
Makalah ini membahas tentang nyeri tenggorokan dan penyakit-penyakit
yang memiliki gejala nyeri tenggorokan, meliputi definisi, fisiologi tenggorokan,
etiologi, manifestasi klinis, diagnosis, dan penatalaksanaan, serta komplikasi.

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memahami penyebab pada nyeri
tenggorokan, menegakkan diagnosis, dan melakukan penatalaksanaan sesuai
dengan diagnosis.

2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Tenggorokan
Tenggorokan (faring) terletak di belakang mulut, di bawah rongga hidung dan
diatas kerongkongan dan tabung udara (trakea). Tenggorokan merupakan kantong
fibromuskular dan berbentuk seperti corong. Dinding faring dibentuk oleh selaput
lendir, fasia faringo basiler dan sebagian fasia bukofaringeal. Unsur faring meliputi
mukosa, palut lendir, dan otot.
Tenggorokan merupakan saluran berotot tempat jalannya makanan ke
kerongkongan dan tempat jalannya udara ke paru-paru. Tenggorokan dilapisi oleh
selaput lendir yang terdiri dari sel-sel penghasil lendir dan silia. Kotoran yang masuk
ditangkap oleh lendir dan disapu oleh silia ke arah kerongkongan lalu ditelan.





3

Berdasarkan letak, faring dibagi atas:
1. Nasofaring
Berhubungan erat dengan beberapa struktur penting misalnya adenoid,
jaringan limfoid pada dinding lareral faring dengan resessus faring yang
disebut fosa rosenmuller, kantong rathke, yang merupakan invaginasi
struktur embrional hipofisis serebri, torus tubarius, suaturefleksi mukosa
faring diatas penonjolan kartilago tuba eustachius, konka foramen
jugulare,yang dilalui oleh nervus glosofaring, nervus vagus dan nervus
asesorius spinal saraf kranialdan vena jugularis interna bagian petrosus
os.tempolaris dan foramen laserum dan muara tubaeustachius.
2. Orofaring
Disebut juga mesofaring dengan batas atasnya adalah palatum mole,
batas bawahnya adalah tepi atas epiglotis kedepan adalah rongga mulut
sedangkan kebelakang adalah vertebraservikal. Struktur yang terdapat
dirongga orofaring adalah dinding posterior faring, tonsil palatina fosa
tonsil serta arkus faring anterior dan posterior, uvula, tonsil lingual dan
foramen sekum.
a. Dinding Posterior Faring
Secara klinik dinding posterior faring penting karena ikut
terlibat pada radang akut atau radang kronik faring, abses retrofaring,
serta gangguan otot bagian tersebut. Gangguan otot posterior faring
bersama-sama dengan otot palatum mole berhubungan dengan
gangguan n.vagus.
b. Fosa tonsil
Fosa tonsil dibatasi oleh arkus faring anterior dan posterior.
Batas lateralnya adalah m.konstriktor faring superior. Pada batas atas
yang disebut kutub atas (upper pole) terdapat suatu ruang kecil yang
dinamakan fossa supratonsil. Fosa ini berisi jaringan ikat jarang dan
biasanya merupakan tempat nanah memecah ke luar bila terjadi abses.
Fosa tonsil diliputioleh fasia yang merupakan bagian dari fasia
4

bukofaring dan disebu kapsul yang sebenar- benarnya bukan
merupakan kapsul yang sebenar-benarnya.
c. Tonsil
Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan
ditunjang oleh jaringan ikatdengan kriptus didalamnya. Terdapat
macam tonsil yaitu tonsil faringal (adenoid), tonsil palatina dan tonsil
lingual yang ketiga-tiganya membentuk lingkaran yang disebut cincin
waldeyer. Tonsil palatina yang biasanya disebut tonsil saja terletak di
dalam fosa tonsil. Pada kutub atas tonsil seringkali ditemukan celah
intratonsil yang merupakan sisa kantong faring yang kedua. Kutub
bawah tonsil biasanya melekat pada dasar lidah.



Permukaan medial tonsil bentuknya beraneka ragam dan
mempunyai celah yang disebut kriptus. Epitel yang melapisi tonsil
ialah epitel skuamosa yang juga meliputi kriptus.Di dalam kriptus
biasanya biasanya ditemukan leukosit, limfosit, epitel yang terlepas,
bakteri dan sisa makanan.
5

Permukaan lateral tonsil melekat pada fasia faring yang sering
juga disebut kapsultonsil. Kapsul ini tidak melekat erat pada otot
faring, sehingga mudah dilakukan diseksi pada tonsilektomi.Tonsil
mendapat darah dari a.palatina minor, a.palatina ascendens, cabang
tonsila. maksila eksterna, a.faring ascendens dan a.lingualis dorsal.
Tonsil lingual terletak di dasar lidah dan dibagi menjadi dua
oleh ligamentum glosoepiglotika. Di garis tengah, di sebelah anterior
massa ini terdapat foramen sekum padaapeks, yaitu sudut yang
terbentuk oleh papila sirkumvalata. Tempat ini kadang-kadang
menunjukkan penjalaran duktus tiroglosus dan secara klinik
merupakan tempat penting bilaada massa tiroid lingual (lingual
thyroid) atau kista duktus tiroglosus.
Infeksi dapat terjadi di antara kapsul tonsila dan ruangan
sekitar jaringan dan dapat meluas keatas pada dasar palatum mole
sebagai abses peritonsilar
3. Laringofaring (hipofaring)
Batas laringofaring di sebelah superior adalah tepi atas yaitu di bawah
valekulaepiglotis berfungsi untuk melindungi glotis ketika menelan
minuman atau bolus makanan pada saat bolus tersebut menuju ke sinus
piriformis (muara glotis bagian medial dan lateralterdapat ruangan) dan ke
esofagus, nervus laring superior berjalan dibawah dasar sinus piriformis
pada tiap sisi laringofaring.
Sinus piriformis terletak di antara lipatan ariepiglotikadan kartilago
tiroid. Batas anteriornya adalah laring, batas inferior adalah esofagus serta
batas posterior adalah vertebra servikal. Lebih ke bawah lagi terdapat otot-
otot dari lamina krikoiddan di bawahnya terdapat muara esofagus.
Bila laringofaring diperiksa dengan kaca tenggorok pada pemeriksaan
laring tidak langsung atau dengan laringoskop pada pemeriksaan laring
langsung, maka struktur pertamayang tampak di bawah dasar lidah ialah
valekula. Bagian ini merupakan dua buah cekungan yang dibentuk oleh
6

ligamentum glosoepiglotika medial dan ligamentum glosoepiglotika lateral
pada tiap sisi. Valekula disebut juga kantong pil ( pill pockets), sebab
pada beberapa orang, kadang-kadang bila menelan pil akan tersangkut
disitu.
Dibawah valekula terdapat epiglotis. Pada bayi epiglotis ini berbentuk
omega dan perkembangannya akan lebih melebar, meskipun kadang-
kadang bentuk infantil (bentuk omega) ini tetap sampai dewasa. Dalam
perkembangannya, epiglotis ini dapat menjadidemikian lebar dan tipisnya
sehingga pada pemeriksaan laringoskopi tidak langsung tampak menutupi
pita suara.
Epiglotis berfungsi juga untuk melindungi (proteksi) glotis ketika
menelan minuman atau bolus makanan, pada saat bolus tersebut menuju ke
sinus piriformisdan ke esofagus.
Nervus laring superior berjalan dibawah dasar sinus piriformis pada
tiap sisilaringofaring. Hal ini penting untuk diketahui pada pemberian
anestesia lokal di faring dan laring pada tindakan laringoskopi langsung

2.2. Persarafan, Perdarahan dan Drainage Limfatik
Pada mukosa dinding belakang faring terdapat dasar tulang oksiput inferior,
kemudian bagian depan tulang atas dan sumbu badan, dan vertebra servikalis lain.
Nasofaring membuka kearah depan hidung melalui koana posterior. Superior,
adenoid terletak padamukosa atap nasofaring. Disamping, muara tuba eustachius
kartilaginosa terdapat didepanlekukan yangdisebut fosa rosenmuller. Otot tensor
velipalatini, merupakan otot yang menegangkan palatum dan membuka tuba
eustachius masuk ke faring melalui ruangan ini.
Orofaring kearah depan berhubungan dengan rongga mulut. Tonsila faringeal
dalam kapsulnya terletak pada mukosa pada dinding lateral rongga mulut. Didepan
tonsila,arcus faring anterior disusun oleh otot palatoglossus, dan dibelakang dari
arkus faring posterior disusun oleh otot palatofaringeus, otot-otot ini membantu
menutupnya orofaring bagian posterior. Semua dipersarafi oleh pleksus faringeus.
7

a. Vaskularisasi
Berasal dari beberapa sumber dan kadang-kadang tidak beraturan.
Yang utama berasal dari cabang a. Karotis ekstern serta dari cabang
a.maksilaris interna yakni cabang palatine superior.
b. Persarafan
Persarafan motorik dan sensorik daerah faring berasal dari pleksus
faring yang ekstensif. Pleksus ini dibentuk oleh cabang dari n.vagus,
cabang dari n.glosofaringeus dan serabut simpatis. Cabang faring dari
n.vagus berisi serabut motorik. Dari pleksus faring yang ekstensif ini keluar
untuk otot-otot faring kecuali m. stilofaringeus yang dipersarafi langsung
oleh cabang n.glossofaringeus.
c. Kelenjar Getah Bening
Aliran limfe dari dinding faring dapat melalui 3 saluran yaitu superior,
media dan inferior. Saluran limfe superior mengalir ke kelenjar getah
bening retrofaring dan kelenjar getah bening servikal dalam atas. Saluran
limfe media mengalir ke kelenjar getah bening jugulodigastrik dan
kelenjar getah bening servikal dalam atas, sedangkan saluran limfe inferior
mengalir ke kelenjar getah bening servikal dalam bawah.

2. 3. Fisiologi Faring
Fungsi faring yang terutama ialah untuk respirasi, waktu menelan, resonasi
suara dan untuk artikulasi.
- Proses menelan
Proses penelanan dibagi menjadi tiga tahap. Pertama gerakan makanan
dari mulut kefaring secara volunter. Tahap kedua, transport makanan
melalui faring dan tahap ketiga yaitu jalannya bolus melalui esofagus,
keduanya secara involunter.
Langkah yang sebenarnyaadalah: pengunyahan makanan dilakukan
pada sepertiga tengah lidah. Elevasi lidah dan palatum mole mendorong
bolus ke orofaring. Otot suprahiod berkontraksi, elevasi tulanghioid dan
8

laring intrinsik berkontraksi dalam gerakan seperti sfingter untuk
mencegah aspirasi. Gerakan yang kuat dari lidah bagian belakang akan
mendorong makanankebawah melalui orofaring, gerakan dibantu oleh
kontraksi otot konstriktor faringis mediadan superior. Bolus dibawa
melalui introitus esofagus ketika otot konstriktor faringis inferior
berkontraksi dan otot krikofaringeus berelaksasi. Peristaltik dibantu oleh
gaya berat, menggerakkan makanan melalui esofagus dan masuk ke
lambung.
- Proses Berbicara
Pada saat berbicara dan menelan terjadi gerakan terpadu dari otot-otot
palatum dan faring.Gerakan ini antara lain berupa pendekatan palatum
mole kearah dinding belakang faring.Gerakan penutupan ini terjadi sangat
cepat dan melibatkan mula-mula m.salpingofaringdan m.palatofaring,
kemudian m.levator veli palatine bersama-sama m.konstriktor faring
superior. Pada gerakan penutupan nasofaring m.levator veli palatini
menarik palatum mole ke atas belakang hampir mengenai dinding
posterior faring.
Jarak yang tersisa inidiisi oleh tonjolan (fold of) Passavant pada
dinding belakang faring yang terjadi akibat dua macam mekanisme, yaitu
pengangkatan faring sebagai hasil gerakan m.palatofaring (bersama
m.salpingofaring) oleh kontraksi aktif m.konstriktor faring superior.
Mungkin kedua gerakan ini bekerja tidak pada waktu bersamaan. Ada
yang berpendapat bahwa tonjolan Passavant ini menetap pada periode
fonasi, tetapi ada pula pendapat yang mengatakan tonjolan ini timbul dan
hilang secara cepat bersamaan dengan gerakan palatum.

9

BAB III
PEMBAHASAN


3.1. Etiologi
Nyeri tenggorokan dapat disebabkan oleh :
1. Infeksi virus dan infeksi bakteri.
2. Infeksi dari daerah di dekat tenggorokan.
3. Iritasi tenggorokan oleh alergi terhadap debu atau binatang.
4. Iritasi oleh polutan dan lain-lain.
Berikut ini akan dijelaskan beberapa penyakit dan hal-hal yang dapat
menimbulkan nyeri pada tenggorokan.

3.1.1. Faringitis
Faringitis adalah suatu peradangan pada tenggorokan (faring). Faringitis bisa
disebabkan oleh virus maupun bakteri. Kebanyakan disebabkan oleh virus, termasuk
virus penyebab common cold, flu, adenovirus, mononukleosis atau HIV.
Bakteri yang menyebabkan faringitis adalah streptokokus grup A,
korinebakterium, arkanobakterium, Neisseria gonorrhoeae atau Chlamydia
pneumoniae. Baik pada infeksi virus maupun bakteri, gejalanya sama yaitu nyeri
tenggorokan dan nyeri menelan.
Selaput lendir yang melapisi faring mengalami peradangan berat atau ringan
dan tertutup oleh selaput yang berwarna keputihan atau mengeluarkan nanah.

10



Gejala lainnya adalah:
- demam
- pembesaran kelenjar getah bening di leher
- peningkatan jumlah sel darah putih.
Gejala tersebut bisa ditemukan pada infeksi karena virus maupun bakteri, tetapi lebih
merupakan gejala khas untuk infeksi karena bakteri.



Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Jika
diduga suatu strep throat, bisa dilakukan pemeriksaan terhadap apus tenggorokan.
11

Untuk mengurangi nyeri tenggorokan diberikan obat pereda nyeri (analgesik),
obat hisap atau berkumur dengan larutan garam hangat.
Aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak dan remaja yang berusia
dibawah 18 tahun karena bisa menyebabkan sindroma Reye.
Jika diduga penyebabnya adalah bakteri, diberikan antibiotik. Untuk
mengatasi infeksi dan mencegah komplikasi (misalnya demam rematik), jika
penyebabnya streptokokus, diberikan tablet penicillin. Jika penderita memiliki alergi
terhadap penicillin bisa diganti dengan erythromycin atau antibiotik lainnya.

3.1.2. Tonsilitis akut
Penyakit pada tonsil palatina (tonsil) merupakan permasalahan yang umum
ditemukan pada anak. Penderita tonsilitis merupakan pasien yang sering datang pada
praktek dokter ahli bagian telinga hidung tenggorokbedah kepala dan leher (THT-
KL), dokter anak, maupun tempat pelayanan kesehatan lainnya.
Tonsilitis dapat disebabkan oleh bakteri, virus,dan penyebab infeksi maupun
non infeksi lainnya. Penatalaksanaan medikamentosa tonsilitis memerlukan
pengetahuan yang baik terhadap organisme penyebab infeksi. Menurut Hascelik dkk
seperti dikutip Shaikh dkk, infeksi tonsilitis rekuren maupun tonsilitis kronis
kebanyakan berasal dari bakteri yang terdapat di parenkim tonsil dibanding dengan
permukaan tonsil, sehingga swab dari permukaan tonsil saja dapat menjadi keliru.
Bakteri patogen di permukaan tonsil dapat menyerang tonsil namun tidak dapat
memprediksi bakteri patogen yang menginfeksi di dalam inti tonsil.Walaupun sulit
dijelaskan peranan bakteri anaerob pada tonsilitis, namun perlu dipertimbangkan
dalam penatalaksanaan tonsilitis.

12



Tonsilitis akut adalah radang akut yang disebabkan oleh kuman streptococcus
beta hemolyticus, streptococcus viridans dan streptococcus pyogenes, dapat juga
disebabkan oleh virus.
Tonsilitis bacterial supuratifa akut paling sering disebabkan oleh streptokokus
beta hemolitikus grup A, meskipun pneumokokus, stafilokokus dan Haemophilus
Influenzae juga virus pathogen yang dapat dilibatkan. Kadang-kadang streptokokus
non hemolitikus atau streptococcus viridans ditemukan dalam biakan, biasanya dalam
kasus-kasus berat. Streptokokus non hemolitikus dan streptococcus viridans mungkin
dibiakkan dari tenggorokan orang yang sehat, khususnya dalam bulan-bulan musim
dingin, dan pada saat epidemic infeksi pernapasan akut, streptokokus hemolitikus
dapat ditemukan dalam tenggorokan orang yang kelihatannya sehat
Bakteri atau virus memasuki tubuh melalui hidung atau mulut. Amandel atau
tonsil berperan sebagai filter, menyelimuti organisme yang berbahaya tersebut. Hal
ini akan memicu tubuh untuk membentuk antibody terhadap infeksi yang akan datang
akan tetapi kadang-kadang amandel sudah kelelahan menahan infeksi atau virus.

Kuman menginfiltrasi lapisan epitel, bila epitel terkikis maka jaringan limfoid
superficial mengadakan reaksi.Terdapat pembendungan radang dengan infiltrasi
leukosit poli morfonuklear.Proses ini secara klinik tampak pada korpus tonsil yang
13

berisi bercak kuning yang disebut detritus. Detritus merupakan kumpulan leukosit,
bakteri dan epitel yang terlepas, suatu tonsillitis akut dengan detritus disebut
tonsillitis falikularis, bila bercak detritus berdekatan menjadi satu maka terjadi
tonsillitis lakunaris.Tonsilitis dimulai dengan gejala sakit tenggorokan ringan hingga
menjadi parah.Pasien hanya mengeluh merasa sakit tenggorokannya sehingga
berhenti makan. Tonsilitis dapat menyebabkan kesukaran menelan, panas, bengkak,
dan kelenjar getahbening melemah didalam daerah sub mandibuler, sakit pada sendi
dan otot, kedinginan, seluruh tubuh sakit, sakit kepala dan biasanya sakit pada
telinga. Sekresi yang berlebih membuat pasien mengeluh sukar menelan, belakang
tenggorokan akan terasa mengental. Hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut
biasanya berakhir setelah 72 jam.

Bila bercak melebar, lebih besar lagi sehingga terbentuk membrane semu
(Pseudomembran), sedangkan pada tonsillitis kronik terjadi karena proses radang
berulang maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis. Sehingga pada proses
penyembuhan, jaringan limfoid diganti jaringan parut. Jaringan ini akanmengkerut
sehingga ruang antara kelompok melebar (kriptus) yang akan diisi oleh detritus,
proses inimeluas sehingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlengketan
dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris. Pada anak proses ini disertai dengan
pembesaran kelenjar limfe submandibula
Tonsilitis akut berdasarkan penyebab infeksi, yaitu:
1. Tonsilitis Viral
Tonsilitis yang disebabkan oleh virus.Gejala lebih menyerupai common
cold yang disertai rasa nyeri tenggorok.Penyebab yang sering Epstein Barr,
influenza, para influenza, coxasakie, echovirus, rhinovirus.Douglas seperti
dikutip Kornbult menemukan bahwa kebanyakan tonsilitis virus terjadi pada
usia prasekolah sedangkan infeksi bakteri terjadi pada anak yang lebih besar.
1
2. Tonsilitis Bakterial
Tonsilitis akut bakterial paling banyak disebabkan Streptococcus
hemoliticus. Lebih kurang 30%-40% tonsilitis akut disebabkan oleh
Streptococcus hemoliticus grup A. Brook menyatakan dalam mendiagnosis
14

tonsilitis keterlibatan Streptococcus hemoliticus grup A harus tetap
dipertimbangkan disamping bakteri lain yang juga dapat ditemukan pada
pemeriksaan bakteriologi.

Infiltrasi bakteri ke dalam jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang
berupa keluarnya leukosit polimorfonuklear sehingga terbentuk eksudat
dikenal dengan detritus.Eksudat yang terbentuk biasanya tidak melengket ke
jaringan di bawahnya.Bentuk tonsilitis akut dengan eksudat yang jelas disebut
dengan tonsilitis folikularis. Bila eksudat yangterbentuk membentuk alur-alur
maka akan terjadi tonsilitis lakunaris.Infeksi tonsil dapat juga melibatkan
faring, seluruh jaringan limfoid tenggorok. Terlihat lidah kotor dan juga
lapisan mukosa tipis di rongga mulut.

Penderita tonsilitis akut awalnya mengeluh rasa kering di tenggorokan.
Kemudian berubah menjadi rasa nyeri di tenggorok dan rasa nyeri saat
menelan.Makin lama rasa nyeri ini semakin bertambah nyeri sehingga anak
menjadi tidak mau makan. Nyeri hebat ini dapat menyebar sebagai referred
pain ke sendi-sendi dan telinga. Nyeri pada telinga (otalgia) tersebut tersebar
melalui nervus glossofaringeus (IX).

Keluhan lainnya berupa demam yang suhunya dapat sangat tinggi sampai
menimbulkan kejang pada bayi dan anak-anak.Rasa nyeri kepala, badan lesu
dan nafsu makan berkurang sering menyertai pasien tonsilitis akut.Suara pasien
terdengar seperti orang yang mulutnya penuh terisi makanan panas.Keadaan ini
disebut plummy voice. Mulut berbau busuk (foetor ex ore) dan ludah
menumpuk dalam kavum oris akibat nyeri telan yang hebat (ptialismus).
Pemeriksaan tonsilitis akut ditemukan tonsil yang udem, hiperemis dan
terdapat detritus yang memenuhi permukaan tonsil baik berbentuk folikel,
lakuna, atau pseudomembran. Ismus fausium tampak menyempit. Palatum
mole, arkus anterior dan arkus posterior juga tampak edema dan hiperemis.
Kelenjar submandibula yang terletak di belakang angulus mandibula terlihat
membesar dan ada nyeri tekan.
15

Pada umumnya, penderita dengan tonsillitis akut serta demam sebaiknya
tirah baring, pemberian cairan yang adekuat, dan diet ringan. Aplikasi local
seperti obat tenggorokan, dianggap mempunyai arti yang relative kecil.
Analgesic oral efektif dalam mengendalikan rasa tidak enak.
Terapi Antibiotik. Penisilin masih menjadi obat pilihan, kecuali kalau
organismenya resisten atau penderita sansitif terhadap penisilin.Pada kasus
tersebut, eritromisin atau antibiotic spesifik yang efektif melawan organisme
sebaiknya digunakan.Pengobatan sebaiknya dilanjutkan untuk seluruh
perjalanan klinis antara 5-10 hari. Suntikan dosis tunggal 1,2 juta unit
benzantine penisilin intramuscular juga efektif dan disukai jika terdapat
keraguan bahwa penderita telah menyelesaikan seluruh terapi antibiotic oral.
Antipiretik, dan obat kumur yang mengandung desinfektan juga bisa dipakai
untuk terapi.

3.1.3. Tonsilitis Kronik
Pada tonsilitis kronis, karena proses radang berulang maka epitel mukosa dan
jaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid diganti
dengan jaringan parut. Jaringan ini akan mengerut sehingga ruang antara kelompok
melebar yang akan diisi oleh detritus, proses ini meluas hingga menembus kapsul dan
akhirnya timbul perlekatan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris.
Secara klinis pada tonsilitis kronik didapatkan gejala berupa nyeri
tenggorokan atau nyeri telan ringan, mulut berbau, badan lesu, sering mengantuk,
nafsu makan menurun, ngorok saat tidur, nyeri kepala dan badan terasa meriang.Dari
pemeriksaan fisik ditemukan tonsil membesar dengan permukaan tidak rata, kripta
lebar berisi detritus, tonsil melekat ke jaringan sekitarnya. Pada bentuk atrofi, tonsil
kecil seperti terpendam dalam fosa tonsilaris.
Penatalaksanaan tonsilitis adalah jika penyebabnya adalah bakteri, diberikan
antibiotik per oral selama 10 hari. Jika anak mengalami kesulitan menelan bisa
diberikan dalam bentuk suntikan Penisilin V 1,5 juta IU 2 x sehari selama 5 hari atau
500 mg 3 x sehari.
16

Pilihan lain adalah eritromisin 500 mg 3 x sehari atau amoksisilin 500 mg 3 x
sehari yang diberikan selama 5 hari. Dosis pada anak : eritromisin 40 mg/kgBB/ hari,
amoksisilin 30 50 mg/kgBB/hari.
Tak perlu memulai antibiotik segera, penundaan 1 3 hari tidak
meningkatkan komplikasi atau menunda penyembuhan penyakit. Antibiotik hanya
sedikit memperpendek durasi gejala dan mengurangi risiko demam rematik.
Bila suhu badan tinggi, penderita harus tirah baring dan dianjurkan untuk
banyak minum. Makanan lunak diberikan selama penderita masih nyeri menelan.
Analgetik (parasetamol dan ibuprofen adalah yang paling aman) lebih efektif
daripada antibiotik dalam menghilangkan gejala. Nyeri faring bahkan dapat diterapi
dengan spray lidokain.
Pasien tidak lagi menularkan penyakit sesudah pemberian 1 hari antibiotik.
Bila dicurigai adanya tonsilitis difteri, penderita harus segera diberi serum anti difteri
(ADS), tetapi bila ada gejala sumbatan nafas, segera rujuk ke rumah sakit.
Pada tonsilitis kronik, penting untuk memberikan nasihat agar menjauhi
rangsangan yang dapat menimbulkan serangan tonsilitis akut, misalnya rokok,
minuman/makanan yang merangsang, higiene mulut yang buruk, atau penggunaan
obat kumur yang mengandung desinfektan.
Bila terapi medikamentosa tidak berhasil dianjurkan terapi radikal dengan
tonsilektomi. Indikasi tonsilektomi.

3.1.4. Epiglotitis Akut
Epiglottitis akut adalah suatu infeksi akut Haemophillus influenzae di
orofaring, hipofaring, dan laring supraglotik, dimulai dengan suatu sakit tenggorokan
dan cepat berlanjut ke disfagia, serta gawat pernapasan. Epiglottitis pada beberapa
referensi disebut juga dengan supraglottitis. Epiglottitis rnerupakan keadaan yang
mengancam jiwa, dimana epiglottis mengalami pembengkakan dan menutupi aliran
udara ke paru.
Epiglottis akut termasuk bagian dari penyakit Croup. Croup adalah suatu
infeksi laring yang berkembang cepat, menimbulkan stridor dan obstruksi jalan nafas.
17

Croup dapat dibedakan menjadi supraglottitis (epiglottitis) akut dan laringitis
subglottis akut.
Penyakit ini merupakan suatu keadaan gawat darurat, yang jika tidak
segera diatasi bisa berakibat fatal. Anak harus segera dibawa ke rumah sakit dan
biasanya ditempatkan di ruang perawatan intensif.
Epiglottitis akut dapat mengenai anak dan dewasa. Insidens pada anak
mencapai 1:17.000 dan pada dewasa 1:100.000. Menyerang terbanyak pada
kelompok usia 3-7 tahun. Insidensnya semakin menurun seiring dengan
ditemukannya vaksinasi Haemophillus B.
Kausanya belum diketahui dengan jelas. Seperti pada infeksi-infeksi lain
di faring, diduga penyebab primernya adalah virus, kemudian dapat terjadi infeksi
sekunder, terutama oleh Haemophilus influenzae type B (HiB). Juga bisa didapatkan
streptococcus, staphylococcus, pneumococcus dan kuman-kuman lain. Namun,
epiglottitis dapat juga timbul karena penyebab lain seperti luka bakar karena air
panas, cedera di tenggorokan, dan berbagai infeksi virus dan bakteri.



Haemophillus influenzae tidak menghasilkan eksotoksin dan peranan
antigen somatik toksiknya pada penyakit alamiah belum dimengerti dengan jelas.
Organisme yang tidak bersimpai adalah anggota tetap flora normal saluran
pernapasan manusia. Simpai bersifat antifagositik bila tidak ada antibodi antisimpai
khusus. Bentuk Haemophillus influenzae yang mempunyai simpai, khususnya tipe B,
18

menyebabkan infeksi pernapasan supuratif (sinusitis, laringotrakheitis, epiglotitis,
otitis) dan pada anak kecil, yaitu meningitis.
Pada epiglottitis akut, infeksi biasanya bermula di saluran pernafasan atas
sebagai peradangan hidung dan tenggorokan. Kemudian infeksi bergerak ke bawah,
ke epiglottis. Infeksi seringkali disertai dengan bakteremia (infeksi darah). Epiglotitis
bisa segera berakibat fatal karena pembengkakan jaringan yang terinfeksi bisa
menyumbat saluran udara dan menghentikan pernapasan. Infeksi biasanya dimulai
secara tiba-tiba dan berkembang dengan cepat.
Epiglottitis akut dapat menyerang ke lidah bagian posterior dan laring.
Keadaan ini menyebabkan terjadinya stridor (obstruksi jalan nafas) dan septikemia.
Pada faring terjadi inflamasi dan epiglottis menjadi hiperemis (seperti merah buah
cherry). Sering disebabkan oleh Haemophillus influenzae tipe B. Antigen ini
memiliki kapsul PRP (polyribose-ribitol-phosphate) dan menyebabkan inflamasi akut
non-spesifik yang berat. Kebanyakan penderita mempunyai antibodi terhadap antigen
ini. Hal ini kemungkinan ditemukan pada anak-anak yang terinfeksi Haemophillus
influenzae tipe B. Adapun Haemophillus influenzae tipe B yang tidak memiliki
kapsul biasanya ditemukan pada 50% anak-anak yang sehat.
Dalam mendiagnosa epiglottitis, harus dapat dibedakan dengan
laringotracheitis. Mulai dari anamnesis sampai pemeriksaan fisis. Pada anamnesis,
ditanyakan kepada pasien keluhan utama yang dirasakan. Pada epiglottitis biasanya
pasien datang dengan keluhan disfagi ataupun stridor. Pasien jarang mengeluhkan
gangguan suara. Sedangkan pada laringotracheitis pasien lebih sering mengeluhkan
kelainan suara.
Permukaan laringeal dari epiglottis dan daerah tepat di bawah plika
vokalis pada faring mengandung jaringan yang cenderung membengkak bila
meradang. Walaupun epiglottitis akut secara klinis terlihat sama dengan laringitis
subglottis akut, namun epiglottitis cenderung lebih hebat dan seringkali berakibat
fatal dalam beberapa jam tanpa terapi. Di mana pasien terlihat gelisah, cemas, dan
stridor inspiratoar. Anak dengan epiglottitis cenderung duduk dengan mulut terbuka
dan dagu mengarah ke depan, serak tidak khas selalu ada. Namun kemungkinan besar
19

mengalami disfagia. Karena nyeri menelan, maka anak cenderung mengiler. Disfagia
pada epiglottitis dapat pertanda kolaps. Kolaps merupakan akibat perluasan inflamasi
sepanjang mulut esofagus dan berarti proses inflamasi telah menyebabkan
pembengkakan epiglottis yang nyata.
Pada beberapa referensi disebutkan juga gejala lain dari epiglottitis akut
berupa anak tampak sakit berat, panas tinggi, air liur keluar berlebihan (drooling),
dyspnea bahkan dapat terjadi retraksi otot-otot bantu nafas sampai sianosis.
Untuk menentukan diagnosis, kita harus melihat keadaan laring. Beberapa
dokter menganjurkan supaya setiap anak dengan dyspnea dilihat epiglottisnya,
dengan cara menekan lidah bagian belakang, pelan-pelan dan hati-hati dengan spatel.
Cara ini mudah dan dapat dilakukan oleh setiap dokter umum, karena epiglottis pada
anak kecil relatif masih tinggi. Demikian juga bila ada keluhan disfagi dengan saliva
yang banyak. Kalau dengan cara ini epiglottis belum dapat dilihat, harus dilakukan
laringoskopi indirek atau direk.
Epiglottis terlihat merah, meradang, dan edematous, seperti gambaran
cherry-red. Plika ari-epiglottika juga ikut meradang. Biasanya plika vokalis dan
regio subglottika tidak terkena. Orofaring dapat tenang atau sedikit meradang.
Bahkan jika proses sudah lanjut dapat sangat meradang.
Diagnosis epiglottitis akut harus dipertimbangkan bila disfagi dan rasa
sakit di tenggorokan tidak sesuai dengan gejala-gejala faringitis yang terlihat. Pada
beberapa referensi yang didapat, dikatakan bahwa pada epiglottitis akut dapat
ditemukan limpadenopati.
Dalam menunjang diagnosis epiglottitis dapat dilakukan foto polos leher
lateral. Dimana dapat terlihat obstruksi supraglotis karena pembengkakan epiglottis
(thumb sign).
Pada prinsipnya penatalaksanaan epiglottitis sama dengan penatalaksaan
croup. Terapi harus segera diberikan. Pemberian cairan intravena dimulai untuk
mencegah dehidrasi dan pengeringan sekret. Udara dingin dan lembab perlu pula
diberikan, sebaiknya dengan uap air berukuran partikel terkecil. Terapi antibiotik
terhadap Haemophillus dan Staphylococcus dimulai sambil menunggu hasil biakan.
20

Antibiotik yang biasa digunakan antara lain ampisilin 100 mg/kgBB/hari atau
kloramfenikol: 50 mg/kgBB/hari intravena yang terbagi dalam 4 ataupun sefalosporin
generasi 3 (cefotaksim atau ceftriakson). Antibiotik seharusnya tidak boleh ditunda,
karena secara klinis sulit untuk membedakan jenis croup dan perjalanan penyakit
dapat berjalanan sangat cepat.
Steroid diberikan dalam dosis tinggi untuk mengurangi inflamasi. Steroid
yang biasa diberikan yaitu metilprednisolon sodium succinate 125-250 mg setiap 6
jam (selama 24 sampai 48 jam). Pasien perlu diamati secara cermat dan
dipertimbangkan untuk trakheostomi atau intubasi. Indikasi bantuan pernafasan
adalah Indikasi bantuan nafas apabila tidak ada perkembangan walaupun telah
diberikan antibiotik dan steroid. Pemantauan termasuk denyut nadi, frekuensi
pernafasan, derajat kegelisahan dan kecemasan, penggunaan otot-otot asesorius pada
pernafasan, derajat sianosis, derajat retraksi, dan kemunduran pasien secara
menyeluruh. Jika pasien dapat tidur, bantuan jalan nafas tidak diperlukan. Sebaliknya
frekuensi pernafasan diatas 40 denyut nadi diatas 160 dan kegelisahan serta retraksi
yang makin hebat mengindikasikan perlunya bantuan pernafasan.
Keadaan pasien sebaiknya diawasi setiap saat. Penyakit ini merupakan
salah satu dari beberapa penyakit yang memerlukan pengawasan langsung oleh
dokter secara terus-menerus. Jika anak kolaps, gunakan respiratoar ambu bertekanan
positif untuk memaksa oksigen melalui jalan nafas yang edematosa. Intubasi hidung
dapat dilakukan dan dapat dibiarkan selama beberapa hari. Laring anak membutuhkan
intubasi lebih panjang. Bila trakeostomi harus dilakukan, maka sebaiknya dengan
cara yang sistematik dalam kamar operasi dengan memakai tuba trakheal. Kasus-
kasus croup umumnya menyembuh dalam 48 sampai 72 jam kemudian dapat
dilakukan ekstubasi.

3.1.5. Laringitis
Laringitis adalah peradangan kotak suara (laring) karena terlalu banyak
digunakan, iritasi atau infeksi. Di dalam kotak suara terdapat pita suara dua lipatan
selaput lendir yang membungkus otot dan tulang rawan. Biasanya pita suara akan
21

membuka dan menutup dengan lancar, membentuk suara melalui pergerakan dan
getaran yang terbentuk. Tapi bila terjadi laringitis, pita suara akan meradang atau
terjadi iritasi pada pita suara. Pita suara tersebut akan membengkak, menyebabkan
terjadinya perubahan suara yang diproduksi oleh udara yang lewat melalui celah
diantara keduanya. Akibatnya, suara akan terdengar serak. Pada beberapa kasus
laringitis, suara akan menjadi sangat lemah sehingga tidak terdengar. Laringitis dapat
berlangsung dalam waktu singkat (akut) atau berlansung lama (kronis) lebih dari 3
minggu. Meskipun laringitis akut biasanya hanya karena terjadinya iritasi dan
peradagnan akibat virus, suara serak yang sering terjadi dapat menjadi tanda adanya
masalah yang lebih serius.
1. Pada laringitis akut biasanya penyebabnya oleh infeksi virus. Infeksi
bakteri seperti difteri juga dapat menjadi penyebabnya, tapi hal ini jarang
terjadi. Laringitis akut dapat juga terjadi saat anda menderita suatu
penyakit atau setelah anda sembuh dari suatu penyakit, seperti selesma, flu
atau radang paru-paru (pneumonia).


a. Laringitis akut ini dapat terjadi dari kelanjutan infeksi saluran nafas seperti
influenza atau common cold. infeksi virus influenza (tipe A dan B), parainfluenza
(tipe 1,2,3), rhinovirus dan adenovirus. Penyebab lain adalah Haemofilus influenzae,
Branhamella catarrhalis, Streptococcus pyogenes, Staphylococcus aureus dan
Streptococcus pneumoniae.
b. Penyakit ini dapat terjadi karena perubahan musim / cuaca
22

c. Pemakaian suara yang berlebihan
d. Trauma
e. Bahan kimia
f. Merokok dan minum-minum alkohol
g. Alergi
2. Laringitis Kronik
Kasus yang sering terjadi pada laringitis kronis termasuk juga
iritasi yang terus menerus terjadi karena penggunaan alkohol yang
berlebihan, banyak merokok atau asam dari perut yang mengalir
kembali ke dalam kerongkongan dan tenggorokan, suatu kondisi yang
disebut gastroesophageal reflux disease (GERD).
Laringitis kronis adalah inflamasi dari membran mukosa laring
yang berlokasi di saluran nafas atas, bila terjadi kurang dari 3 minggu
dinamakan akut dan disebut kronis bila terjadi lebih dari 3 minggu.
Beberapa pasien mungkin telah mengalami serangan laringitis
akut berulang, terpapar debu atau asap iritatif atau menggunakan suara
tidak tepat dalam konteks neuromuskular. Merokok dapat
menyebabkan edema dan eritema laring.
3. Laringitis Kronis Spesifik
Yang termasuk dalam laringitis kronis spesifik ialah laringitis
tuberkulosis dan laringitis luetika.
a. Laringitis tuberkulosis
Penyakit ini hampir selalu akibat tuberkulosis paru.
Biasanya pasca pengobatan, tuberkulosis paru sembun tetapi
laringitis tuberkulosis menetap. Hal ini terjadi karena struktur
mukosa laring yang melekat pada kartilago serta
vaskularisasinya yang tidak sebaik paru sehingga bila infeksi
sudah mengenai kartilago maka tatalaksananya dapat
berlangsung lama.
23

Secara klinis manifestasi laringitis tuberkulosis terdiri dari 4
stadium yaitu :
1) Stadium infiltrasi, mukosa laring posterior membengkak
dan hiperemis, dapat mengenai pita suara. Terbentuk
tuberkel pada submukosa sehingga tampak bintik berwarna
kebiruan. Tuberkel membesar dan beberapa tuberkel
berdekatan bersatu sehingga mukosa diatasnya meregang
sehingga suatu saat akan pecah dan terbentuk ulkus
2) Stadium ulserasi, ulkus yang timbul pada akhir stadium
infiltrasi membesar. Ulkus diangkat, dasarnya ditutupi
perkijuan dan dirasakan sangat nyeri.
3) Stadium perikondritis, ulkus makin dalam sehingga
mengenai kartuilago laring terutama kartilago aritenoid dan
epiglotis sehingga terjadi kerusakan tulang rawan.
4) Stadium pembentukan tumor, terbentuk fibrotuberkulosis
pada dinding posterior, pita suara dan subglotik.
b. Laringitis luetika
Radang menahun ini jarang dijumpai dalam 4 stadium lues
yang paling berhubungan dengan laringitis kronis ialah lues stadium
tersier dimana terjadi pembentukan gumma yang kadang menyerupai
keganasan laring. Apabila guma pecah akan timbul ulkus yang khas
yaitu ulkus sangat dalam, bertepi dengan dasar keras, merah tua
dengan eksudat kekuningan. Ulkus ini tidak nyeri tetapi menjalar
cepat. Inflamasi laring sering terjadi sebagai akibat terlalu banyak
menggunakan suara, pemajanan terhadap debu, bahan kimiawi , asap
rokok, dan polutan lainnya, atau sebagai bagian dari infeksi saluran
nafas atas.
Hampir semua penyebab inflamasi ini adalah virus. Invasi
bakteri mungkin sekunder. Laringitis biasanyan disertai rinitis atau
nasofaring. Awitan infeksi mungkin berkaitan dengan pemajanan
24

terhadap perubahan suhu mendadak, defisiensi diet, malnutrisi, dan
tidak ada immunitas. Laringitis umum terjadi pada musim dingin dan
mudah ditularkan. Ini terjadi seiring Dengan menurunnya daya tahan
tubuh dari host serta prevalensi virus yang meningkat. Laringitis
ini biasanya didahului oleh faringitis dan infeksi saluran nafas bagian
atas lainnya. Hal ini akan mengakibatkan iritasi mukosa saluran nafas
atas dan merangsang kelenjar mucus untuk memproduksi mucus
secara berlebihan sehingga menyumbat saluran nafas. Kondisi tersebut
akan merangsang terjadinya batuk hebat yang bisa menyebabkan
iritasi pada laring. Dan memacu terjadinya inflamasi pada laring
tersebut. Inflamasi ini akan menyebabkan nyeri akibat pengeluaran
mediator kimia darah yang jika berlebihan akan merangsang
peningkatan suhu tubuh.
Tanda dan gejala laringitis akut termasuk suara serak atau tidak
dapat mengeluarkan suara sama sekali dan batuk berat. Laringitis
kronis ditandai oleh suara serak yang persisten. Laringitis mungkin
sebagai komplikasi sinusitis kronis dan bronkhitis kronis.
a. Laringitis Akut : suara serak, tidak dapa mengeluarkan suara
(afonia), batuk berat, tenggorokan nyari dan Gatal.
b. Laringitis Kronis : suara serak yang persisten, Nyeri tenggorok
memburuk pada pagi dan malam hari, batuk kering dan keras.
1. Gejala lokal seperti suara parau dimana digambarkan pasien
sebagai suara yang kasar atau suara yang susah keluar atau suara
dengan nada lebih rendah dari suara yang biasa / normal dimana
terjadi gangguan getaran serta ketegangan dalam pendekatan kedua
pita suara kiri dan kanan sehingga menimbulkan suara menjadi
parau bahkan sampai tidak bersuara sama sekali (afoni).
2. Sesak nafas dan stridor
3. Nyeri tenggorokan seperti nyeri ketika menalan atau berbicara.
4. Gejala radang umum seperti demam, malaise
25

5. Batuk kering yang lama kelamaan disertai dengan dahak kental
6. Gejala common cold seperti bersin-bersin, nyeri tenggorok hingga
sulit menelan, sumbatan hidung (nasal congestion), nyeri kepala,
batuk dan demam dengan temperatur yang tidak mengalami
peningkatan dari 38 derajat celsius.
7. Gejala influenza seperti bersin-bersin, nyeri tenggorok hingga sulit
menelan, sumbatan hidung (nasal congestion), nyeri kepala, batuk,
peningkatan suhu yang sangat berarti yakni lebih dari 38 derajat
celsius, dan adanya rasa lemah, lemas yang disertai dengan nyeri
diseluruh tubuh .
8. Pada pemeriksaan fisik akan tampak mukosa laring yang
hiperemis, membengkak terutama dibagian atas dan bawah pita
suara dan juga didapatkan tanda radang akut dihidung atau sinus
paranasal atau paru
9. Obstruksi jalan nafas apabila ada udem laring diikuti udem
subglotis yang terjadi dalam beberapa jam dan biasanya sering
terjadi pada anak berupa anak menjadi gelisah, air hunger, sesak
semakin bertambah berat, pemeriksaan fisik akan ditemukan
retraksi suprasternal dan epigastrium yang dapat menyebabkan
keadaan darurat medik yang dapat mengancam jiwa anak.
b. Gejala Laringitis Akut
Demam, malaise, gelaja rinigaringitis, suara parau
sampai afoni, nyeri ketika menelan atau berbicara, rasa kering
ditenggorokan, batuk kering yang kelamaan disertau dahak
kental, gejala sumbatan laring sampai sianosis.
Pada pemeriksaan, tampak mukosa laring hiperemis,
membengkak, terutama di atas dan bahwa pita suara. Biasanya
tidak terbatas di laring, juga ada tanda radang akut dihitung
sinus peranasak, atau paru.

26

c. Gejala Laringitis Tuberkulosis
Terdapat gejala demam, keringat malam, penurunan
berat badan, rasa kering, panas, dan tertekan di daerah laring,
suara parau beriminggu-minggu dan pada stadium lanjut dapat
afoni, bentuk produktif, gemoptisis, nyeri menelan yang lebih
hebat bila gejala-gejala proses aktif pada paru. Dapat timbul
sumbatan jalan napas karena edema: tumberkuloma, atau
paralysis pita suara.
Pemeriksaan penunjang pada laringitis:
1. Foto rontgen leher AP : bisa tampak pembengkakan jaringan subglotis
(Steeple sign). Tanda ini ditemukan pada 50% kasus.
2. Pemeriksaan laboratorium : gambaran darah dapat normal. Jika disertai
infeksi sekunder, leukosit dapat meningkat.
3. Pada pemeriksaan laringoskopi indirek akan ditemukan mukosa laring
yang sangat sembab, hiperemis dan tanpa membran serta tampak
pembengkakan subglotis yaitu pembengkakan jaringan ikat pada konus
elastikus yang akan tampak dibawah pita suara.
Penatalaksanaan laringitis akut termasuk mengistirahatkan suara, menghindari
merokok, istirahat di tempat tidur, dan menghirup uap dingin atau aerosol. Jika
laringitis merupakan bagian dari infeksi pernafasan yang lebih luas akibat organisme
bakteri atau jika lebih parah, terapi antibiotik yang tepat perlu diberikan. Sebagian
besar pasien dapat sembuh dengan pengobatan konservatif, namun laringitis
cenderung lebih parah pada pasien lansia dan dapat diperburuk oleh pneumonia.
Untuk laringitis kronis, pengobatannya termasuk mengistirahatkan suara,
menghilangkan setiap infeksi traktus respiratorius primer yang mungkin ada, dan
membatasi merokok .
Terapi pada laringitis akut berupa mengistirahatkan pita suara, antibiotik,
menambah kelembaban, dan menekan batuk. Obat-obatan dengan efek samping yang
menyebabkan kekeringan harus dihindari. Penyanyi dan para profesional yang
mengandalkan suara perlu dinasehati agar membiarkan proses radang mereda
27

sebelum melanjutkan karier mereka. Usaha bernyayi selama proses radang
berlangsung dapat mengakibatkan perdarahan pada laring dan perkembangan nodul
korda vokalis selanjutnya. Terapi pada laringitis kronis terdiri dari menghilangkan
penyebab, koreksi gangguan yang dapat diatasi, dan latihan kembali kebiasaan
menggunakan vocal dengan terapi bicara. Antibiotik dan terapi singkat steroid dapat
mengurangi proses radang untuk sementara waktu, namun tidak bermanfaat untuk
rehabilitasi jangka panjang. Eliminasi obat-obat dengan efek samping juga dapat
membantu. Pada pasien dengan gastroenteriris refluks dapat diberikan reseptor H2
antagonis, pompa proton inhibitor. Juga diberikan hidrasi, meningkatkan kelembaban,
menghindari polutan. Terapi pembedahan bila terdapat sekuester dan trakeostomi bila
terjadi sumbatan laring.
Hindari iritasi pada laring dan faring. Untuk terapi mendikamentosa diberikan
antibiotic penisilin anak 3 x 0 kg BB dan dewasa 3 x 500 mg. bila alergi dapat diganti
eritromisin atau basitrasin. Dan diberikan kortikosteroid untuk mengatasi edema.
Dipasang pipa endotrakea atau trakeostomi bila terdapat sumbatan laring.
Untuk laringitis kronik, diminta untuk tidak banyak bicara dan mengonati
peradangan di hitung, faring, serta bronkus yang mungkin menjadi penyebab.
Diberikan antibiotik bila terdapat tanda infeksi dan ekspektoran. Untuk jangka
pendek dapat diberikan steroid.
Laringitis kronis yang berlangsung lebih dari beberapa minggu dan tidak
berhubungan dengan penyakit sistemik, sebagian besar berhubungan dengan
pemajanan rekuren dari iritan. Asap rokok merupakan iritan inhalasi yang paling
sering memicu laringitis kronis tetapi laringitis juga dapat terjadi akibat menghisap
kanabis atau inhalasi asap lainnya. Pada kasus ini, pasien sebaiknya dijauhkan dari
faktor pemicunya seperti dengan menghentikan kebiasaan merokok.

3.1.6. Karsinoma Laring
Etiologi karsinoma laring belum diketahui dengan pasti.Dikatakan oleh para
ahli bahwa perokok dan peminum alcohol merupakan kelompok orang-orang dengan
resiko tinggi karsinoma laring. Penelitian epidemiologic menggambarkan beberapa
28

hal yang diduga menyebabkan terjadinya karsinoma laring yang kuat adalah rokok,
alcohol dan terpajan oleh sinar radioaktif.

a. Karsinogen lingkungan
Arsen (pabrik, obat serangga), asbes (lingkungan, pabrik, tambang),
gas mustar (pabrik), serbuk nikel (pabrik, lingkungan), polisiklik hidrokarbon
(pabrik, lingkungan), vinil klorida (pabrik), dan nitrosamin (makanan yang
diawetkan, ikan asin).

b.
Infeksi laring kronis

Kuman, rangsangan terus menerus (asap) menyebabkan radang kronis
mukosa laring selanjutnya terjadi hiperplasia, hiperkeratosis, leukoplakia,
eritroplakia, sel atipik dan akhirnya menjadi sel kanker.

c.
Human papilloma virus (HPV)

Predileksi di korda vokalis.Awalnya tumbuh jaringan berupa papil-
papil (papiloma)kemudian terjadi perubahan maligna menjadi karsinoma
verukosa (verrucous carcinoma).

d.
Genetik

Interaksi faktor etiologi &host berbeda-beda tiap individu. Aktivasi
pra karsinogen & inaktivasi karsinogen amat bervariasi individual.

Klasifikasi Tumor Ganas Laring ( AJCC dan UICC 1988 ):
3
Tumor primer ( T )
Supraglotis
Tis : karsinoma insitu
T1 : tumor terdapat pada satu sisi suara / pita suara palsu ( gerakan
masih baik ).
T2 : Tumor sudah menjalar ke 1 dan 2 sisi daerah supraglotis dan glotis
masih bisa bergerak ( tidak terfiksir ).
T3 :tumor terbatas pada laring dan sudah terfiksir atau meluas ke daerah
ke krikod bagian belakang, dinding medial dari sinus piriformis, dan
kearah rongga preepiglotis.
29

T4 : Tumor sudah meluas keluar laring, menginfiltrasi orofaring
jaringan lunak pada leher atau sudah merusak tulang rawan tiroid.
Glotis
Tis : karsinoma insitu.
T1 : Tumor mengenai satu atau dua sisi pita suara, tetapi gerakan pita
suara masih baik, atau tumor sudah terdapat pada kommisura anterior
atau posterior.
T2 : Tumor meluas ke daerah supraglotis atau subglotis, pita suara
masih dapat bergerak atau sudah terfiksir ( impaired mobility ).
T3 : Tumor meliputi laring dan pita suara sudah terfiksir.
T4 : Tumor sangat luas dengan kerusakan tulang rawan tiroid atau sudah
keluar dari laring.
Subglotis
Tis : Karsinoma insitu.
T1 : Tumor terbatas pada daerah subglotis.
T2 : Tumor sudah meluas ke pita, pita suara masih dapat bergerak atau
sudah terfiksir.
T3 : Tumor sudah mengenai laring dan pita suara sudah terfiksir.
T4 : Tumor yang luas dengan destruksi tulang rawan atau perluasan ke
luar laring atau dua duanya.
Penjalaran ke kelenjar limfe ( N )
Nx : Kelenjar limfe tidak teraba.
N0 : Secara klinis kelenjar tidak teraba.
N1 : Secara klinis teraba satu kelenjar limfe dengan ukuran diameter 3
cm homolateral.
N2 : Teraba kelenjar limfe tunggal, ipsilateral dengan ukuran diameter
3-6 cm.
N2a : Satu kelenjar limfe ipsilateral, diameter lebih dari 3 cm tapi tidak
lebih dari 6 cm.
N2b : Multipel kelenjar limfe ipsilateral, diameter tidak lebih dari 6 cm.
30

N2c : Metastasis bilateral atau kontralateral, diameter tidak lebih dari 6
cm.
N3 : Metastasis kelenjar limfe lebih dari 6 cm.
Metastasis jauh ( M )
Mx : Tidak terdapat / terdeteksi.
M0 : Tidak ada metastasis jauh.
M1 : Terdapat metastasis jauh.
Staging (Stadium)
ST1 : T1 N0 M0
ST II : T2 N0 M0
ST III : T3 N0 M0 atau T1/T2/T3 N1 M0
ST IV : T4 N0/N1 M0
T1/T2/T3/T4 N2/N3
T1/T2T3/T4 N1/N2/N3 M1

Serak merupakan gejala utama Ca laring, merupakan gejala dini tumor pita
suara. Hal ini disebabkan karena gangguan fungsi fonasi laring. Kualitas nada sangat
dipengaruhi oleh besar celah glotik, besar pita suara, ketajaman tepi pita suara,
kecepatan getaran dan ketegangan pita suara. Pada tumor ganas laring, pita suara
gagal berfungsi secara baik disebabkan oleh ketidak teraturan pita suara, oklusi atau
penyempitan celah glotik, terserangnya otot-otot vokalis, sendi dan ligament
krikoaritenoid dan kadang-kadang menyerang saraf. Adanya tumor di pita suara akan
mengganggu gerak maupun getaran kedua pita suara tersebut. Serak menyebabkan
kualitas suara menjadi semakin kasar, mengganggu, sumbang dan nadanya lebih
rendah dari biasa. Kadang-kadang bisa afoni karena nyeri, sumbatan jalan nafas atau
paralisis komplit. Hubungan antara serak dengan tumor laring tergantung pada letak
tumor. Apabila tumor laring tumbuh pada pita suara asli, serak merupakan gejala dini
dan menetap. Apabila tumor tumbuh di daerah ventrikel laring, dibagian bawah plika
ventrikularis atau dibatas inferior pita suara, serak akan timbul kemudian. Pada tumor
supraglotis dan subglotis, serak dapat merupakan gejala akhir atau tidak timbul sama
31

sekali. Pada kelompok ini, gejala pertama tidak khas dan subjektif seperti perasaan
tidak nyaman, rasa ada yang mengganjal di tenggorok. Tumor hipofaring jarang
menimbulkan serak kecuali tumornya eksentif.
Suara bergumam (hot potato voice):fiksasi dan nyeri menimbulkan suara
bergumam.
Dispnea dan stridor: Gejala yang disebabkan sumbatan jalan nafas dan dapat
timbul pada tiap tumor laring. Gejala ini disebabkan oleh gangguan jalan nafas oleh
massa tumor, penumpukan kotoran atau secret maupun oleh fiksasi pita suara. Pada
tumor supraglotik dan transglotik terdapat kedua gejala tersebut. Sumbatan yang
terjadi perlahan-lahan dapat dikompensasi. Pada umunya dispnea dan stridor adalah
tanda prognosis yang kurang baik.
Nyeri tenggorok: keluhan ini dapat bervariasi dari rasa goresan sampai rasa
nyeri yang tajam.
Disfagia: Merupakan ciri khas tumor pangkal lidah, supraglotik, hipofaring
dan sinus piriformis. Keluhan ini merupakan keluhan yang paling sering pada tumor
ganas postkrikoid. Rasa nyeri ketika menelan (odinofagia): menandakan adanya
tumor ganas lanjut yang mengenai struktur ekstra laring.
Batuk dan hemoptisis: Batuk jarang ditemukan pada tumor ganas glotik,
biasanya timbul dengan tertekanya hipofaring disertai secret yang mengalir ke dalam
laring. Hemoptisis sering terjadi pada tumor glotik dan tumor supraglotik.


Nyeri tekan laring adalah gejala lanjut yang disebabkan oleh komplikasi
supurasi tumor yang menyerang kartilago tiroid dan perikondrium.
Pada anamnesis biasanya didapatkan keluhan suara parau yang diderita sudah
cukup lama, tidak bersifat hilang - timbul meskipun sudah diobati dan bertendens
makin lama menjadi berat. Penderita kebanyakan adalah seorang perokok berat yang
juga kadang kadang adalah seorang yang juga banyak memakai suara berlebihan
dan salah ( vocal abuse ), peminum alkohol atau seorang yang sering atau pernah
terpapar sinar radioaktif, misalnya pernah diradiasi didaerah lain. Pada anamnesis
kadang kadang didapatkan hemoptisis, yang bisa tersamar bersamaan dengan
32

adanya TBC paru, sebab banyak penderita menjelang tua dan dari sosial - ekonomi
yang lemah.
Sesuai pembagian anatomi, lokasi tumor laring dibagi menjadi 3 bagian yakni
supraglotis, glottis dan subglotis, dan gejala serta tanda tandanya sesuai dengan
lokasi tumor tersebut.
Dari pemeriksaan fisik sering didapatkan tidak adanya tanda yang khas dari
luar, terutama pada stadium dini / permulaan, tetapi bila tumor sudah menjalar ke
kelenjar limfe leher, terlihat perubahan kontur leher, dan hilangnya krepitasi tulang
rawan tulang rawan laring.

Pemeriksaan untuk melihat kedalam laring dapat dilakukan dengan cara tak langsung
maupun langsung dengan menggunakan laringoskop unutk menilai lokasi tumor,
penyebaran tumor yang terlihat ( field of cancerisation ), dan kemudian melakukan
biopsi.
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan selain pemeriksaan laboratorium
darah, juga pemeriksaan radiologik. Foto toraks diperlukan untuk menilai keadaan
paru , ada atau tidaknya proses spesifik dan metastasis diparu. Foto jaringan lunak (
soft tissue ) leher dari lateral kadang kadang dapat menilai besarnya dan letak
tumor, bila tumornya cukup besar. Apabila memungkinkan, CT scan laring dapat
memperlihatkan keadaan tumor dan laring lebih seksama, misalnya penjalaran tumor
pada tulang rawan tiroid dan daerah pre-epiglotis serta metastase kelenjar getah
bening leher.

Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan patologi-anatomik dari bahan
biopsi laring, dan biosi jarum-halus pada pembesaran kelenjar limf dileher. Dari hasil
patologi anatomik yang terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa.
Secara umum ada 3 jenis penanggulangan karsinoma laring yaitu
pembedahan, radiasi dan sitostatika, ataupun kombinasi, tergantung pada stadium
penyakit dan keadaan umum pasien.
1. PEMBEDAHAN
Tindakan operasi untuk keganasan laring terdiri dari:
A. LARINGEKTOMI

33

Laringektomi parsial
Laringektomi parsial diindikasikan untuk karsinoma laring stadium I yang
tidak memungkinkan dilakukan radiasi, dan tumor stadium II.
Laringektomi total
Adalah tindakan pengangkatan seluruh struktur laring mulai dari batas atas
(epiglotis dan os hioid) sampai batas bawah cincin trakea.
B. DISEKSI LEHER RADIKAL
Tidak dilakukan pada tumor glotis stadium dini (T1 T2) karena
kemungkinan metastase ke kelenjar limfe leher sangat rendah. Sedangkan
tumor supraglotis, subglotis dan tumor glotis stadium lanjut sering kali
mengadakan metastase ke kelenjar limfe leher sehingga perlu dilakukan
tindakan diseksi leher. Pembedahan ini tidak disarankan bila telah terdapat
metastase jauh.

2. RADIOTERAPI
Radioterapi digunakan untuk mengobati tumor glotis dan supraglotis T1 dan
T2 dengan hasil yang baik (angka kesembuhannya 90%). Keuntungan dengan
caraini adalah laring tidak cedera sehingga suara masih dapat dipertahankan.
Dosis yang dianjurkan adalah 200 rad perhari sampai dosis total 6000 7000
rad.

3. KEMOTERAPI
Diberikan pada tumor stadium lanjut, sebagai terapi adjuvant ataupun paliatif.
Obat yang diberikan adalah cisplatinum 80120 mg/m
2
dan 5 FU 8001000
mg/m
2
Laringektomi total yang dikerjakan untuk mengobati karsinoma laring
menyebabkan cacat pada penderita. Dengan dilakukannya pengangkatan laring
beserta pita-suara yang ada dalamnya, maka penderita akan menjadi afonia dan
bernafas melalui stoma permanent di leher.

Untuk itu diperlukan rehabilitasi terhadap pasien, baik yang bersifat umum,
yakni agar pasien dapat memasyarakat dan mandiri kembali, maupun rehabilitasi
khusus yakni rehabilitasi suara (voice rehabilitation), agar penderita dapat berbicara
34

(bersuara), sehingga berkomunikasi verbal. Rehabilitasi suara dapat dilakukan dengan
pertolongan alat bantu suara, yakni semacam vibrator yang ditempelkan di daerah
submandibula, ataupun dengan suara yang dihasilkan dari esophagus (eso-phageal
speech) melalui proses belajar. Banyak faktor yang mempengaruhi suksesnya proses
rehabilitasi suara ini, tetapi dapat disimpulkan menjadi 2 faktor utama, ialah faktor
fisik dan faktor psiko-sosial.

Suatu hal yang sangat membantu adalah pembentukan wadah perkumpulan
guna menghimpun pasien-pasien tuna-laring guna menyokong aspek psikis dalam
lingkup yang luas dari pasien, baik sebelum maupun sesudah operasi.
Tergantung dari stadium tumor, pilihan pengobatan, lokasi tumor dan
kecakapan tenaga ahli.Secara umum dikatakan five years survival pada karsinoma
laring stadium I 90 98% stadium II 75 85%, stadium III 60 70% dan stadium IV
40 50%. Adanya metastase ke kelenjar limfe regional akan menurunkan 5 year
survival rate sebesar 50%.

3.2. Infeksi dari daerah di dekat tenggorokan
Rhinitis alergika dan sinusitis juga dapat menyebabkan nyeri tenggorokan.
Cairan yang mengalir dari hidung melewati tenggorokan membawa infeksi tersebut
bersamanya.

3.3. Iritasi tenggorokan oleh alergi terhadap debu atau binatang.
Alergi yang umum seperti debu di rumah, serbuk sari dan jamur juga dapat
membuat iritasi tenggorokan. Jika penyebabnya alergi, umumnya nyeri tenggorok
tidak hebat dan tidak mendadak tetapi sering menyebabkan peradangan menahun.
Penderita yang alergi terhadap bulu kucing atau anjing dapat pula mengalami radang
tenggorok jika mereka berdekatan dengan binatang tersebut. Penyebab tersering
penyakit alergi hidung dan saluran nafas adalah debu rumah yang mengandung
tungau (kutu debu).


35

3.4. Iritasi oleh polutan dan lain-lain.
Kebiasaan bernafas melalui mulut karena hidung tersumbat menyebabkan
udara yang kita hirup terlalu kering dan mengiritasi tenggorokan.
Polusi udara, asap rokok, alkohol, makanan yang terlalu pedas atau asam,
goreng-gorengan atau minuman yang terlalu dingin atau panas juga faktor penyebab
timbulnya radang tenggorok pada penderita yang sensitif. Hal lain yang sering luput
diperhatikan adalah adanya produksi asam lambung berlebihan yang dapat naik ke
tenggorok pada penderita yang mempunyai riwayat gangguan pencernaan.






36

BAB IV
PENUTUP


4.1 Kesimpulan
Nyeri tenggorokan merupakan keluhan terbanyak pada pasien yang datang ke
poliklinik atau ke dokter. Nyeri tenggorokan merupakan rasa nyeri di daerah
tenggorokan. Hal ini bukanlah suatu diagnosis, melainkan gejala yang dapat merujuk
ke beberapa penyakit. Misalnya faringitis, tonsilitis, epiglotitis, dan lain-lain.
Penyebab nyeri tenggorokan tersering adalah infeksi bakteri dan virus, alergi,
dan iritasi.
Prinsip penanganan pada nyeri tenggorokan adalah menghilangkan kausanya.
Jika disebabkan oleh virus maka diberikan antivirus, jika disebabkan oleh bakteri,
maka diberikan antibiotik. Analgesik juga perlu diberikan sebagai penatalaksanaan
simptomatis untuk menghilangkan rasa nyeri pada pasien.


4.2 Saran
Setelah membaca dan memahami makalah Nyeri Tenggorokan, diharapkan
kepada Dokter Muda khususnya dapat melakukan dan melaksanakan perencanaan
dengan profesional pada pasien dengan nyeri tenggorokan dan juga bagi setiap orang
dapat menghindari kausa yang dapat menimbulkan nyeri tenggorokan dengan selalu
menjaga dan membiasakan pola hidup sehat.


37

BAB V
DAFTAR PUSTAKA


1. Boies A, Goerge LA, Lawrence RB, Peter HH. Boies Buku Ajar Penyakit THT.
Edisi 6. Jakarta: EGC. 1997.
2. Mansjoer Arif, Triyanti Kuspuji, et al. editor. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1.
Edisi 3. Jakarta : balai penerbit media Aesculapius Fakultas kedoktera Universitas
Indonesia 2001.
3. Iskandar Nurbaiti. Prof.Dr. H. SP.THT, Soepardi arsyad efiaty. Dr.H. SP.THT, et
al, editor. Telinga Hidung Tenggorokan, buku ajar Ilmu Kesehatan, balai
penerbit buku fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.1989
4. http://www.dokterirga.com/epiglotittis-akut/ Diakses pada hari Kamis 11 April
2013 pukul 18.30
5. http://www.slideshare.net/iantaparama/savedfiles?s_title=karsinoma-
laring&user_login=lnathanial Diakses pada hari kamis, 11 April 2013, pukul
18.30
6. http://tht-medis.blogspot.com/2012/11/penyakit-tenggorokan.html Diakses pada
hari Kamis, 11 April 2013 pukul 18.30