Anda di halaman 1dari 14

ANALISIS KALIMAT DALAM HARIAN KOMPAS

21.30 SULUH PENDIDIKAN No comments


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Secara umum kita mengenal dua jenis media penyajian informasi yaitu
media cetak dan media elektronik. Disebut sebagai media cetak karena
informasi yang diperoleh disajikan dalam bentuk tertulis pada suatu
kertas atau lembaran. Contohnya adalah, koran, majalah, brosur,
poster, dan lain sebagainya, sedangkan yang termasuk dalam media
elektronik antara lain, televisi, radio, internet.
Surat kabar sebagai media informasi dan publikasi, dan sebagai media
cetak selalu identik dengan tulisan dan gambar-gambar yang dicetak
pada lembaran-lembaran kertas yang berukuran besar dan dapat
dilipat-lipat. Persaingan surat kabar dan berbagai media cetak lainnya
denga media elektronik seperti televisi, menuntut media cetak yang
satu ini memiliki nilai lebih dalam penyajian berita. Nilai lebih yang
dimaksudkan ialah berbagai kelebihan yang dimiliki surat kabar dalam
menyajikan informasi dan berita yang tidak akan kita peroleh dari
media informasi lainnya. Sebagai contoh, koran memiliki nilai ekonomia
karena harganya yang relatif terjangkau dibandingkan dengan mdia
yang lain. Koran juga lebih fleksibel dalam pemakaiannya dibandingkan
dengan media informasi yang lain, misalnya kita bisa melipat-lipat
sambil membacanya, menggunakannya untuk memukul lalat, bahkan
kita tidak memerlikan penanganan khusus dalam penyimpanan koran,
apalagi kita bisa mendaur-ulang koran yang sudah bekas.
Harian KOMPAS sebagai salah satu harian nasional memiliki banyak
kelebihan dibanding dengan koran lainnya. Kompas dikenal sebagai
pemimpin pasar bagi koran-koran yang lain, dalam arti harga langganan
dan harga ecerannya tertinggi diantara koran lainnya sehingga koran
lain tidak berani melebihi harganya. Sebagai harian yang menjadi
pemimpin pasar, sudah semestinya kompas memiliki mutu yang sudah
tidak diragukan lagi. Baik dari isinya maupun dari unsur kebahasaannya.
Harian kompas selalu menyajikan berita-berita yang terkini, yang terjadi
selama satu hari sebelumnya. Diri segi kebahasaannya, kompas
memiliki suatu badan yang bertugas mengatur tentang kebahasaanya,
sehingga bahasa yang digunakan merupakan bahasa yang memang
benar-benar baik.
Sebagai pembaca, kita sering tidak menhiraukan bahkan tak perduli
tentang bagaimana penyusunan kalimat dalam berita tersebut. Kita
lebih mementingkan isi berita daripada penyusunnya. Hal ini mungkin
disebabkan karena kebiasaan kita atau juga karena tingkat penalaran
kita yang rendah. Kalimat dalam penyusun sebuah berita memiliki
posisi atau peran yang sangat strategis. Apabila terjadi kesalahan dalam
sebuah kaliamat, maka keseluruhan berita tersebut akan menjadai
kacau. Kalimat aktif dan pasif sebagai salah satu penyusun sebuah
berita memiliki andil yang besar. selain berfungsi sebagai variasi dari
kalimat-kalimat yang dihgunakan, kalimat aktif dan pasif juga dapat
berperan untuk menetukan tingkat kebaikan isi.




















1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah disampaikan di atas, ada beberapa
rumusan masalah yang ingin disampaikan :
1. Berapakah jumlah penggunaan kalimat aktif dan pasif dalam harian
KOMPAS ?
2. Berapakah jumlah penggunaan verba aktif dan pasif dalam harian
KOMPAS?
1.3 Tujuan
Dari latar belakang dan rumusan masalah yang telah disampaikan di
atas, ada beberapa tujuan yang ingin dicapai :
1. Mengetahui jumlah penggunaan kalimat aktif dan pasif dalam harian
KOMPAS.
2. Mengetahui jumlah penggunan verba aktif dan verba pasif dalam
harian KOMPAS.

1.4 Manfaat
Hasil dari penelitian ini bisa dimanfaatkan oleh beberapa pihak,
a. Mahasiswa
hasil dari penelitian ini bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa, yang ingin
membuat skripsi sebagai bahan perbandingan. Dengan penelitian ini,
mahasiswa bisa mendapat gambaran tentang frekuensi penggunaan
kalimat aktif dan pasif dalam harian kompas.
b. Dosen
bagi dosen, hasil penelitian ini bisa dijadikan sebagai bahan ajar untuk
sintaksis. Dengan penelitian ini, dosen bisa memberikan tugas kepada
mahasiswa untuk melakukan penelitian tentang perkalaimatan dalam
harian kompas.
c. Masyarakat pendidikan
penelitian ini bisa dijadikan bahan acuan oleh masyarakat pendidikan
untuk memperoleh informasi yang lengkap mengenai harian kompas.



BAB II
LANDASAN TEORI

Setiap orang baik secara sadar maupun tidak sadar pasti menggunakan
kalimat dalam kehidupan sehari-hari. Kalimat tersebut bisa diucapkan
secara lisan maupun secara tertulis. Tapi kita sering tidak menghiraukan
apakah kalimat yang kita gunakan baik atau tidak.
Dalam harian KOMPAS kita akan menemukan ratusan kalimat yang
membangun sebuah berita. Untuk mengetahui kalimat secara lebih
baik, kita akan menggunakan buku Tata Bahasa Baku Indonesia
karangan Hasan Alwi dkk, sebagai patokan.
2.1 Batasan dan Ciri-Ciri Kalimat

Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan,
yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan, kalimat
diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut, disela jeda, dan
diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang
mencegah terjadinya perpaduan ataupun asimilasi bunyi ataupun
proses fonologis lainnya. Dalam wujud tulisan berhuruf latin, kalimat
dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda
tanya (?), atau tanda seru (!); sementara itu, di dalamnya disertakan
pula berbagai tanda baca seperti koma (,), tanda tritik dua (:), tanda
pisah, dan apasi. Tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru sepadan
dengan intonasi akhir, sedangkan tanda baca lainnya sepadan dengan
jeda. Spasi yang mengikuti tanda titik, tanda tanya dan tanda seru
melambangkan kesenyapan.
Kalimat merupakan satuan dasar wacana. Artinya, wacana hanya akan
terbentuk jika ada dua kalimat, atau lebih, yang letaknya berurutan dan
berdasarkan kaidah kewacanaan. Dengan demikian, setiap tutur,
berupa kata ataupun untaian kata, yang memiliki ciri-ciri yang
disebutkan di atas pada satu wacana atau teks, berstatus kalimat.
Dilihat dari segi bentuknya, kalimat dapat dirumuskan sebagai
konstruksi sintaksis terbesar yang terdiri dari dua kata atau lebuh.
Hubungan struktural antara kata dengan kata, atau kelompok kata dan
kelompok kata yang lain, berbeda-beda. Sementara itu, kedudukan tiap
kata atau kelompok kata dalam kalimat itu berbeda pula. Ada kata atau
kelompok kata yang dapat dihilangkan dengan menghasilkan bentuk
yang tetap berupa kalimat dan ada pula yang tidak.
Yang dimaksud dengan kalimat dasar adalah kalimat yang terdiri dari
satu kalusa, unsur-unsurnya lengkap, susunan unsur-unsurnya menurut
urutan yang paling umum, dan tidak mengandung pertanyaan atau
pengingkaran. Dengan kata lain, kalimat dasar di sini identik dengan
kalimat tunggal deklaratif afirmatif yang urutan unsur-unsurnya paling
lazim. Dalam pemerian kalimat, perlu dibedakan katagori sintaksis,
fungsi sintaksis, dan peran semantis unsur-unsur kalimat. Setiap bentuk
kata, atau frasa, yang menjadi konstituen kalimat termasuk dalam
katagori kata atau frasa tertentu dan masing-masing mempunyai
funsgsi sintaksis serta peran semantis tertentu pula.

2.2 Kalimat Aktif dan Kalimat Pasif
Kalimat aktif adalah kalimat dimana subyeknya melakukan suatu
perbuatan atau aktivitas. Kalimat aktif biasanya predikat diawali oleh
awalan,
me-
me i
me kan
mem per i
mem per kan
ber-
ber kan
ber - an
Kalimat aktif dilihat dari ada atau tidaknya objek penderita, dapat
dibedakan menjadi dau macam,
a. kalimat aktif transitif, adalah kalimat yang memiliki obyek penderita.
Obyek penderita yang dimaksud adalah sasaran yang dikenai pekerjaan
oleh subyek.
Contoh :
- Ayah membeli daging di pasar tadi pagi
- Kadir merayu gadis desa yang lugu itu.
b. kalimat aktif intransitif adalah kalimat yang tidak memiliki obyek
penderita. Karena tidak memiliki obyek penderita, maka kalimat jenis
ini tidak dapat dipasifkan.
Contoh :
- Adik menangis
- Umar berantem tadi pagi

Kalimat pasif adalah kalimat yang subyeknya dikenai suatu pekerjaan
atau perbuatan. Untuk dapat mengubah kalimat aktif menjadi kalimat
pasif, maka kalimat aktif harus memiliki obyek penderita. Apabila
kalimat tersebt tidak memiliki obyek penderita, maka tidak akan dapat
diubah menjadi kalimat pasif. Kalimat pasif biasanya pada predikatnya
diawali oleh awalan
ter-
ter kan
ter i
di
di kan
di - i
Contoh :
- Pak Lurah dimintai pertanggung jawaban oleh Pak Camat
- Ayam dipukul Kucing
- Bunga anggrek hitam itu terinjak si lay










BAB III
METODE

Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan dokemen. Dokumen
yang dimaksud adalah harian KOMPAS. Metode pengumpulan
dokumen adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang
berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, dan sebagainya.
3.1 Metode Pengumpulan Data
Sesuai dengan rumusan masalah, maka data yang dicari adalah kalimat
aktif dan pasif, digunakan metode pengumpulan dokumen. Data
tentang kalimat aktif dan kalimat pasif diperoleh dari harian Kompas
dengan menggunakan sampel kolom 1, 2, dan 3 pada harian KOMPAS
edisi Senin, 12 Maret 2007 dari halaman 1 sampai dengan halaman 21
pada bendel 1 dan bendel ke 2. Dengan metode ini, semua kalimat aktif
dan pasif yang terdapat dalam harian KOMPAS dikumpulkan dengan
menggunakan sistem kartu. Kartu yang digunakan memuat tetang hal-
hal berikut,
1. verba
2. kutipan kalimat
3. sumber
Berikut ini adalah contoh kartu yang digunakan,








3.2 Metode Pengolahan Data
Setelah data terkumpul, tindakan selanjutnya ialah mengolah data.
Metode pengolahan data yang digunakan adalah pengklasifikasian data.
Data tersebut dipilah-pilah sesui dengan rumusan masalah, yaitu mana
yang termasuk kalimat aktif dan mana yang termasuk kalimat pasif
kemudian dihitung untuk ditentukan jumlah masing-masing.













































BAB IV
PENUTUP

4.1 TEMUAN DAN BAHASAN

Sesuai dengan permasalahan yang disampaikan dalam pendahuluan,
maka untuk pembahasannya digunakan data-data. Hasil ini merupakan
data-data tentang kalimat aktif dan pasif yang telah dikumpulkan
kemudian dilakukan analisis, menghasilkan data sebagai berikut.

Tabel I. Jumlah Frekuensi Penggunaan Kalimat Aktif dan Kalimat Pasif

Kalimat Jumlah Persentase
Kalimat aktif 223 46 %
Kalimat pasif 257 54 %
JUMLAH 480 100 %

Setelah dilakukan penghitungan terhadap kalimat yang ditemukan
dalam harian kompas, ternyata terdapat 480 kalimat. Dari jumlah
tersebut, didapat data bahwa 223 (46 %) kalimat merupakan kalimat
aktif sedangkan sisanya yaitu 257 (54 %) kalimat adalah kalimatpasif.

Tabel 2. Klasifikasi Frekuensi Imbuhan pada Kalimat Aktif


imbuhan Jumlah persentase
me- 41 18,4 %
me i 32 14,3 %
me kan 30 13,5 %
mem per i 22 9,9 %
mem per kan 19 8,5 %
ber- 35 15,7 %
ber kan 21 9,4 %
ber an 23 10,3 %
JUMLAH 223 100 %

Kalimat aktif yang ditemukan sebagian besar predikatnya berawalan
me-, sisanya menggunakan imbuhan me i, me kan, mem per i,
mem per kan, ber-, ber kan, dan ber an.
Apabila kita bandingkan antara verba yang berawalan me, baik yang
menggunakan akhiran ataupun tidak , kita ketahui jumlahnya adalah
144 (64,6 %) kalimat, sedangkan yang menggunakan imbuhan ber 79
(35,4 %) kalimat.

Tabel 3. Klasifikasi Frekuensi Imbuhan pada Kalimat Pasif

di- 86 33,4 %
di kan 32 12,4 %
di i 34 13,2 %
ter- 45 17,5 %
ter kan 25 9,8 %
ter i 35 13,7 %
JUMLAH 257 100 %

Kalimat pasif yang ditemukan kebanyakan menggunakan awalan di-,
sedangkan sisanya menggunakan imbuhan ter- , ter kan, ter i, di
kan, dan di i.
Dari data tersebut apabila kita bandingkan jumlah penggunaan verba
yang berawalan di- baik yang diikuti akhiran maupun tidak, dengan
yang berawalan ter baik yang diikuti akhiran maupun tidak. Jumlah
kalimat yang predikatnya berawalan di- sebanyak 152 (59 %) kalimat.
Sedangkan verba yang berawalan ter- sebanyak 105 (41 %) kalimat.


4.2 SIMPULAN
Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan
bahwa frekuensi penggunaan kalimat pasif sangat tinggi dibandingkan
dengan kalimat aktif. Hal ini mungkin dikarenakan sebagai bentuk
untuk penghalusan kalimat atau sebagai salah satu bentuk variasi,
sehingga kalimat dalam harian KOMPAS tidak terkesan monoton.
Dengan adanya variasi kalimat, pembaca tidak akan merasa bosan dan
jenuh dengan gaya penulisannya.
Dari temuan tersebut, kita juga dapat mengetahui frekuensi
penggunaan imbuhan pada kalimat aktif. Dari data yang diperoleh,
diketahui bahwa frekuensi penggunaan verba yang berimbuhan me-
lebih tinggi daripada verba yang berimbuhan ber-.
Begitu juga dengan penggunaan verba pada kalimat pasif. Frekuensi
verba yang menggunakan imbuihan di- lebih tinggi daripada yang
menggunakan imbuhan ter-.

4.3 SARAN
Surat kabar sebagai penyalur informasi sangat penting perannya dalam
kehidupan sehari-hari. Berita yang dimuat dalam harian kompas bisa
menambah informasi tentang kejadian yang terjadi di Indonesia
maupun di seluruh dunia. Denngan membaca surat kabar wawasan kita
akan terbuka tentang informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan
yang terbaru. Penulis mengharapkan agar sitiap orang hendaknya
membaca koran setiap hari, sehingga informasi yang diperoleh tidak
terputus-putus.






























DAFTAR PUSTAKA


Alwi,hassan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia III. Jakarta :
Balai Pustaka.

. 2007. KOMPAS Senin 12 Maret 2007. JAKARTA