Anda di halaman 1dari 15

Konjungtivitis Okulo Dextra Akibat

Kecelakaan Kerja
Deffina Widjanarko
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA

Alamat Korespondensi:
Deffina Widjanarko, Fakultas Kedokteran UKRIDA Jl.
Terusan Arjuna no. 6, Tanjung Duren, Jakarta Barat
11510. E-mail: deffin4@hotmail.com

PENDAHULUAN

Kecelakaan tidak terjadi kebetulan, melainkan ada sebabnya. Oleh karena itu, sebab
kecelakaan harus diteliti dan ditemukan agar untuk selanjutnya dapat dicegah dengan tindakan
korektif yang ditujukan kepada penyebab itu serta dengan upaya preventif lebih lanjut. Tiap
kecelakaan merupakan suatu kerugian, yang antara lain tergambar dari pengeluaran dan besarnya
biaya kecelakaan. Biaya yang dikeluarkan akibat terjadinya kecelakaan seringkali sangat besar,
padahal biaya tersebut bukan semata-mata beban suatu perusahaan, melainkan juga beban
masyarakat dan negara secara keseluruhan. Tidak hanya masalah biaya, kecelakaan juga
menimbulkan kerugian pada individu yang mengalaminya.
Makalah ini akan membahas tentang kecelakaan kerja, meliputi faktor yang
mempengaruhi kecelakaan kerja, diagnosis penyakit akibat kerja, tatalaksana, pencegahan dan
Sistem Manajemen Kesehatan Keselamatan Kerja.


Faktor Yang Mempengaruhi Kecelakaan Kerja
Penyakit akibat kerja adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau
lingkungan kerja. Penyakit akibat kerja dapat dicegah, dan berat ringannya penyakit yang
disebabkan pekerjaan tergantung dari jenis dan tingkat pencegahannya.
Ada lima golongan penyebab kecelakaan kerja, yaitu faktor lingkungan, faktor manusia,
biologis, faktor kimiawi, dan faktor ergonomis. Untuk menentukan sebab dari suatu kecelakaan
dilakukan analisis kecelakaan secara rinci.
1


Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan dapat dibagi menjadi 4:
2

1. Kebisingan
Kebisingan diartikan sebagai bunyi yang tidak dikehendaki dan bunyi-bunyian
tersebut dapat memberikan pengaruh yang buruk. Lingkungan kerja, khususnya di
pabrik dengan berbagai macam kegiatan sangat mempengaruhi tingkat kebisingan
yang ditimbulkan. Pada umumnya kebisingan sangat mengganggu dan mempengaruhi
kinerja operator (pekerja), yang mengakibatkan kurangnya pendengaran,
mengganggu tenaga kerja, dan menimbulkan kesalahan dalam berkomunikasi dan
bahkan pada taraf yang sangat buruk dapat menimbulkan ketulian, atau dapat
menimbulkan reaksi protes dari masyarakat sekitar pabrik.
2. Penerangan
Penerangan yang baik adalah penerangan yang memungkinkan tenaga kerja melihat
pekerjaannya dengan teliti, cepat, dan tanpa usaha yang keras, serta membantu
menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan. Sebaliknya penerangan yang
kurang baik akan menimbulkan kesalahan, kelelahan dan keterlambatan dalam
melakukan pekerjaan. Hal ini disebabkan karena pekerja harus bekerja keras untuk
memastikan hal yang dikerjakannya benar dalam kondisi penerangan yang kurang
baik. Bahkan mata yang bekerja keras terus-menerus dan kelelahan pada akhirnya
akan menimbulkan kelelahan. Gejala-gejala yang ditimbulkan antara lain adalah sakit
kepala, penurunan kemampuan intelektual, daya konsentrasi, dan kecepatan.
3. Suhu
Pengaturan suhu yang tepat akan dapat meningkatkan produktifitas dan efisiensi
kerja. Suhu udara yang terlalu tinggi akan mengurangi kelincahan, memperpanjang
waktu reaksi, mengganggu kecermatan kerja otak, dan mengganggu koordinasi syaraf
perasa dan motoris. Sedangkan suhu udara yang terlalu dingin akan mengurangi
efisiensi dengan keluhan kaku atau kurangnyakoordinasi otot.
4. Kelembaban (Humidity)
Kelembaban dalam hal ini adalah banyaknya air yang terkandung dalam udara
(dinyatakan dalam %). Kelembaban ini sangat berhubungan atau dipengaruhi oleh
temperatur udara sekitar. Suatu keadaan dimana udara sangat panas dan kelembaban
tinggi akan menimbulkan pengurangan panas dari tubuh secara besar-besaran karena
sistem penguapan. Pengaruh lainnya adalah semakin cepatnya denyut jantung karena
semakin aktif peredaran darah untuk memenuhi kebutuhan akan oksigen.
Faktor Manusia
Penelitian menunjukkan bahwa 85% penyebab kecelakaan bersumber dari faktor
manusia. Kecelakaan dapat disebabkan oleh keadaan emosi para pekerja, seperti rasa
ketidakadilan, persengketaan dengan sesama pekerja atau keributan di rumah tangga dengan
keluarga, atau peristiwa percintaan. Tanpa diduga dan benar-benar di luar perkiraan, seorang
pekerja dapat saja dengan sengaja mencelakakan diri sendiri atau merekayasa terjadinya suatu
kecelakaan, sehingga kata kecelakaan menjadi tidak tepat lagi. Dalam hal ini, faktor kejiwaan
memiliki peranan yang besar. Ada individu yang mempunyai dorongan kejiwaan untuk berbuat
nekat dan melakukan apa saja menurut gejolak batinnya. Sering pula kecelakaan disengaja guna
memperoleh kompensasi terhadap cacat yang diakibatkan kecelakaan yang disengajanya. Juga
terdapat berbagai hal unik lainnya yang berkaitan dengan faktor manusia sebagai penyebab
kecelakaan.
1

Ada pekerja tertentu yang cenderung mengalami kecelakaan (accident prone).
Kecelakaan bertubi-tubi terjadi pada yang bersangkutan. Frekuensi kecelakaan pada pekerja
tersebut jauh melebihi pekerja pada umurnya. Pada kasus seperti ini, sangat jelas bahwa faktor
manusia selaku individu pada kecelakaan kerja adalah faktor yang penting. Ada pekerja yang
bersifat ceroboh, berperilaku asal-asalan, berbuat semaunya, terlalu lamban mengambil sikap,
berlaku masa bodoh, suka melamun, terlalu berani, selalu bergegas, gemar bermain-main
terhadap resiko, dan yang lainnya. Sehingga pekerja tersebut berulang kali ditimpa kecelakaan
dan oleh karenanya ia dinyatakan mempunyai kecenderungan untuk celaka. Pekerja yang terlalu
lamban tentu tidak sesuai untuk melakukan pekerjaan yang memerlukan kegesitan. Apabila tetap
dipaksakan, cepat atau lambat pada akhirnya kecelakaan akan terjadi.
Kecenderungan untuk mengalami kecelakaan dapat juga bersumber kepada keadaan
kesehatan pekerja. Kelambanan yang menjadi ciri pekerja mungkin dapat disebabkan oleh
kurang gizi atau penyakit anemia, sedangkan ketergesaan seseorang dapat saja dikarenakan
kelainan jiwa yang impulsif. Kesehatan berpengaruh penting bagi terwujudnya keselamatan.
Sebaliknya gangguan kesehatan atau penyakit dapat menjadi sebab kecelakaan. Orang sakit tidak
boleh dipaksa bekerja karena akan sangat besar kemungkinan orang tersebut mengalami
kecelakaan. Bukan hanya penyakit keras saja, gangguan kesehatan ringan pun, seperti sakit
kepala, malaise atau sekadar hidung tersumbat dapat meningkatkan resiko terjadinya kecelakaan
kerja. Sekalipun ringan, kesehatan yang menurun atau terganggu dapat menurunkan konsentrasi
dan mengurangi kewaspadaan sehingga kecelakaan dapat terjadi.
1,3


Faktor Kimiawi
Sebagian besar faktor kimia dapat menyebabkan reaksi berbahaya pada manusia. Orang-
orang dalam fasilitas pelayanan kesehatan telah terjangkit dermatitis dan reaksi alergik lainnya
yang menyertai pajanan terhadap gluteraldehid dan lateks.
4

Kecelakaan bahan kimia adalah kelompok utama kedua dan meliputi banyak variasi,
yang terpenting termasuk bahan kimia seperti asam, alkali, halide, pelarut, insektisida, fungisida,
herbisida, dan pupuk. Kemungkinan penyerapan bahan kimia harus selalu dipikirkan. Beberapa
bahan kimia dapat diserap dengan cepat ke dalam mata dan bila sangat beracun, dapat
menghasilkan efek sistemik.
Dalam semua kasus, irigasi segera sangat penting khususnya dalam kasus asam dan
alkali. Irigasi cepat dalam hitungan detik dapat mencegah kerusakan dan bahkan kebutaan dapat
terjadi. Pekerja dengan bahan-bahan itu harus diajarkan bagaimana melakukan irigasi mata
mereka sendiri atua mata teman kerja dengan cepat dan efisien.
Pencegahan pada dasarnya berupa menghindari pajanan terhadap bahan iritasi dengan
tindakan pengendalian lingkungan yang memadai atau alat pernapasan dengan penutup muka
yang penuh. Kacamata goggle tidak berguna malah dapat sebaliknya memperberat. Kacamata ini
sukar digunakan untuk jangka panjang dan jika kedap gas, akan menimbulkan hidrasi
konjungtiva dan kelopak mata yang memberi kecenderungan penyerapan sejumlah kecil bahan
penyerang.
4,5



Faktor biologis
Haemophilus influenza bio-group aegyptius di mana kemungkinan kontak dengan
kotoran dari orang yang terinfeksi, lalat mata (chiopropidae) adalah vektor yang dicurigai.
Campak melalyi udara; kontak langsung dengan sekresi pernapasan dari orang yang terinfeksi

Faktor Ergonomis
Kesalahan sikap tubuh, kelelahan yang menyebabkan trauma pada mata. Ergonomi
merupakan ilmu dan pengaturan situasi kerja demi keuntungan pekerja dan majikan. Ilmu ini
berupaya untuk menyerasikan mesin dengan pekerja, tidak menganggap bahwa pekerja harus
menyesuaikan diri dengan mesin dan lingkungan. Pengukuran keselaran antara pekerjaan dan
pekerja memerlukan pemeriksaan sejumlah faktor. Tujuan ergonomi adalah menyediakan
lingkungan yang memuaskan bagi pekerja untuk dapat melaksanakan tugas yang dituntutnya
tanpa mengalami gangguan fisik dan mental.

Pekerja Mesin Lingkungan
Usia Ukuran Suhu
Jenis kelamin Kegunaan Pencahayaan
Ras Alat pengendali: tombol,
gagang, meteran
kelembaban
Dimensi tubuh dan bentuk Frekuensi dan keruwetan
pengendalian
Tekanan
Penggunaan energi Ventilasi
Status kesehatan Kebisingan
Sikap tubuh Ruang kerja
Pergerakan Hubunhan dengan
pekerja lain dan
manajemen
Penglihatan
Tabel 1. Faktor Dalam Menilai Kondisi Kerja
6
Diagnosis Penyakit Akibat Kerja
Berdasarkan ketentuan undang-undang yang berlaku, kecelakaan kerja adalah kecelakaan
yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja, termasuk penyakit yang timbul karena hubungan
kerja. Demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju
tempat kerja, dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui (Pasal I, Undang-
Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja). Atas undang-undang
tentang Jamsostek tersebut, penyakit yang timbul karena hubungan kerja termasuk kecelakaan
kerja atau kecelakaan yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja.

Cara menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja mempunyai kekhususan apabila
dibandingkan terhadap penyakit pada umumnya. Untuk diagnosis penyakit akibat kerja,
anamnesis dan pemeriksaan klinis serta laboratorium yang biasa digunakan bagi diagnosis
penyakit pada umumnya belum cukup, melainkan harus juga dikumpulkan data dan dilakukan
pemeriksaan terhadap tempat kerja, aktivitas pekerjaan dan lingkungan kerja guna memastikan
bahwa pekerjaan atau lingkungan kerja adalah penyebab penyakit akibat kerja yang
bersangkutan. Selain itu, anamnesis terhadap pekerjaan, baik yang sekarang maupun pada masa
sebelumnya harus dibuat secara lengkap, termasuk kemungkinan terhadap terjadinya paparan
kepada faktor mekanis, fisis, kimiawi, biologis, fisiologis, dan mental-psikologis.
1

Secara umum, disajikan menurut urutan 5 langkah yang harus diambil guna menegakkan
diagnosis suatu penyakit akibat kerja:
1,3

1. Anamnesis tentang riwayat penyakit dan riwayat pekerjaan. Dimaksudkan untuk
mengetahui kemungkinan salah satu faktor di tempat kerja, pada pekerjaan dan atau
lingkungan kerja menjadi penyebab penyakit akibat kerja. Riwayat penyakit meliputi:
a. Awal mula timbul gejala
b. Gejala pada tingkat dini penyakit
c. Perkembangan penyakit
Riwayat pekerjaan harus ditanyakan pada penderita dengan seteliti mungkin dari
permulaan sampai waktu terakhir kerja. Kumpulkan informasi tentang pekerjaannya
atau pekerjaan sebelumnya. Buatlah tabel yang secara kronologis memuat waktu,
perusahaan, tempat kerja, jenis pekerjaan, aktivitas pekerjaan, faktor dalam pekerjaan
atau lingkungan kerja yang mungkin menyebabkan penyakit akibat kerja.
Perhatian juga diberikan kepada hubungan antar bekerja dan tidak bekerja dengan
gejala dan tanda penyakit. Pada umumnya gejala dan tanda penyakit akibat kerja
berkurang, bahkan terkadang hilang sama sekali, apabila penderita tidak masuk
bekerja; gejala dan tanda itu timbul lagi atau menjadi lebih berat apabila ia kembali
bekerja. Fenomin seperti itu sangat jelas pada dermatosis akibat kerja atau pada
penyakit bissinosis.
Informasi dan data hasil pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja, pemeriksaan
kesehatan sebelum penempatan kerja, pemeriksaan kesehatan berkala dan
pemeriksaan kesehatan khusus sangat penting artinya bagi keperluan menegakkan
diagnosis penyakit akibat kerja. Akan lebih muda lagi apabila tersedia data kualitatif
dan kuantitatif faktor-faktor dalam pekerjaan dan lingkungan kerja yang dapat
menyebabkan gangguan kesehatan dan penyakit akibat kerja.
2. Pemeriksaan klinis. Dimaksudkan untuk menemukan gejala dan tanda yang sesuai
untuk suatu sindrom, yang khas untuk sebuah penyakit kerja.
3. Pemeriksaan laboratorium. Dimaksudkan untuk mencocokkan benar atau tidaknya
penyebab penyakit akibat kerja yang bersangkutan ada dalam tubuh tenaga kerja yang
menderita penyakit tersebut.
4. Pemeriksaan rontgen. Sering sangat membantu dalam menegakkan diagnosis
penyakit akibat kerja, terutama untuk penyakit yang disebabkan oleh penimbunan
debu dalam paru dan reaksi jaringan paru terhadapnya (pneumoconiosis). Hasil
pemeriksaan rontgen baru ada maknanya apabila dinilai dengan riwayat penyakit dan
pekerjaan serta hasil pemeriksaan lainnya dan juga data lingkungan kerja.
5. Pemeriksaan tempat dan ruang kerja. Dimaksudkan untuk memastikan adanya dan
mengukur kadar faktor penyebab penyakit di tempat atau ruang kerja.

Dalam keputusan Menteri Tenaga Kerja No. KEPTS. 333/MEN/1989 tentang Diagnosis
dan Pelaporan Penyakit Akibat Kerja, pelaporan dirinci sebagai berikut:
1

1. Identitas. Meliputi: nama penderita, nomor induk pokok, umur, jenis kelamin, jabatan,
unit atau bagian kerja, lama bekerja, nama perusahaan, jenis perusahaan dan alamat
perusahaan.
2. Anamnesis. Meliputi: keluhan yang diderita dan riwayat penyakit.
3. Hasil pemeriksaan mental dan fisik. Meliputi: pemeriksaan mental (kesadaran, sikap,
tingkah laku), pemeriksaan fisik, pemeriksaan rontgen, pemeriksaan laboratorium,
pemeriksaan tambahan atau monitoring biologis, pengukuran kadar bahan kimia
penyebab sakit dan sebagainya.
4. Hasil pemeriksaan lingkungan kerja dan cara kerja. Meliputi: faktor lingkungan kerja
yang dapat berpengaruh terhadap sakit penderita, faktor cara kerja yang dapat
berpengaruh terhadap sakit penderita (peralatan kerja, proses produksi, ergonomi), waktu
paparan nyata dan alat pelindung diri.
5. Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja. Meliputi: pemeriksaan kesehatan sebelum kerja,
sebelum penempatan kerja, pemeriksaan kesehatan berkala, dan pemeriksaan kesehatan
khusus.
6. Resume. Meliputi: faktor-faktor yang mendukung diagnosis penyakit akibat kerja dari
anamnesis, pemeriksaan medis, pemeriksaan lingkungan kerja dan cara kerja tenaga
kerja, dan waktu paparan nyata
7. Kesimpulan. Yaitu penderita atau tenaga kerja yang bersangkutan menderita atau tidak
menderita penyakit akibat kerja.

Berikut ini adalah penyakit mata yang berasal dari pekerjaan:
7,8

- Konjungtivitis Alergi. Konjungtivitis adalah inflamasi konjungtiva. Gambaran klinisnya
berupa konjungtivis ringan sampai berat disertai edema kelopak mata dan jaringan
sekitar. Banyak allergen dapat terlibat, di antaranya bahan kimia industry, obat-obatan,
tumbuhan dan banyak hewan serta debu sayur.
Konjungtivitis alergi adalah salah satu dari penyakit mata eksternal yang paling sering
terjadi. Bentuk konjungtivitis ini mungkin musiman atau musim-musim tertentu saja dan
biasanya ada hubungannya dengan kesensitifan dengan serbuk sari, protein hewani, bulu-
bulu, debu, bahan makanan tertentu, gigitan serangga, obat-obatan. Konjungtivitis alergi
mungkin juga dapat terjadi setelah kontak dengan bahan kimia beracun seperti hair spray,
make up, asap, atau asap rokok. Asthma, gatal-gatal karena alergi tanaman dan eksim,
juga berhubungan dengan alergi konjungtivitis. Konjungtivitis alergi terjadi sebagai
bagian dari reaksi inflamasi terhadap allergen lingkungan. Stimulasi fisik oleh benda
asing di mata juga akan mengiritasi dan menginflamasi konjungtiva sehingga
menyebabkan inflamasi dan nyeri.
Kortikosteroid memegang peranan dalam pengobatan kelainan ini, tapi herpes simpleks
dapat menjadi lebih berat dan berbahaya akibat kortikosteroid dan mungkin ditimbulkan
oleh kortikosteroid.
- Infeksi. Sebagian besar keadaan infeksi mata akibat kerja timbul dari sumber pertanian.
Saprofit dari tanah bersifat pathogen untuk mata manusia. Beberapa dapat mengenai
kelopak mata atau kulit badan bagian lain. Apabila mengenai kelopak mata, biasanya
timbul edema yang berat.
- Keratitis. Dapat juga berasal dari jamur. Yang paling umum adalah Aspergillus fumigates
yang tumbuh di padi-padian. Beratnya lesi bervariasi mulai dari keratitis nodular sampai
ulkus bahkan panolfamitis.

Penatalaksanaan
Pada gangguan mata akibat kecelakaan kerja, pemeriksaan klinis harus selalu disertai
riwayat serinci dan setepat mungkin. Hal ini harus meliputi riwayat sebelumnya mengenai
kelainan mata dan keadaan lain yang berkaitan (misalnya diabetes). Riwayat harus meliputi
perincian setiap kecelakaan dan setiap kerusakan karena trauma seperti sesuatu masuk ke dalam
mata saya atau pajanan bahan kimia. Gejala harus dicatat dan harus mencakup hal seperti:
gangguan penglihatan, gangguan lapang pandang, kilatan cahaya, nyeri, fotofobia, dan halo di
sekitar cahaya.
5

Pemeriksaan harus meliputi kelopak mata, seluruh konjungtiva, kornea, keberadaan
benda asing dari bagian luar kelopak dan jaringan sekitarnya (untuk melihat bukti adanya luka
bekas tembusan maupun lipatan kelopak mata atas atau bawah). Ketajaman penglihatan harus
diperiksa segera setelah prosedur gawat darurat selesai dikerjakan dan harus dicatat dengan atau
tanpa kacamata/kontak lens. Lapang penglihatan juga harus diperkirakan. Kornea harus diperiksa
setelah diberi obat tetes mata florescein, bila ada kemungkinan ulkus sebagaimanapun kecilnya.
Tekanan dalam bola mata harus dikaji dan pemeriksaan oftalmoskopi harus dilakukan.
Kecelakaan pada mata dapat disebabkan oleh trauma, bahan kimia atau radiasi.
Kecelakaan bahan kimia adalah kelompok utama kedua dan meliputi banyak variasi, yang
terpenting termasuk bahan kimia seperti asam, alkali, halide, pelarut, insektisida, fungisida,
herbisida dan pupuk. Beberapa bahan kimia dapat diserap dengan cepat ke dalam mata dan bila
sangat beracun dapat menghasilkan efek sistemik.
Dalam semua kasus, irigasi segera sangat penting, khususnya dalam kasus asam dan
alkali (misalnya soda kaustik). Irigasi cepat dalam hitungan detik dapat mencegah kerusakan
yang parah, tapi bila tidak dicapai dalam beberapa detik, kerusakan atau bahkan kebutaan dapat
terjadi. Pekerja dengan bahan-bahan itu harus diajarkan bagaimana melakukan irigasi mata
mereka sendiri atau mata teman kerja dengan cepat dan efisien. Cairan pencuci mata harus
tersedia, sebaiknya disimpan di tempat yang steril dan disegel; bila tidak tersedia, dapat diganti
dengan air ledeng bersih, dilanjutkan secepat mungkin dengan larutan steril. Kecepatan dalam
kecelakaan kerja yang menimpa mata merupakan hal yang penting. Apabila larutan steril tidak
segera didapatkan, ada kemungkinan terjadi kerusakan mata yang bermakna; selalu ada risiko
terjadi infeksi sekunder yang parah.
Mata harus diirigasi secara tuntas, baik di bawah kelopak mata atas dan bawah. Paling
baik dilakukan dengan menidurkan pasien dan penolong menjepit kepalanya di antara kedua
lutut. Penting untuk membuka kedua kelopak mata secara penuh. Irigasi harus diteruskan sampai
10 menit dan lebih bila dirasakan belum memuaskan sepenuhnya dalam jangka waktu tersebut.
Pasien harus diperintahkan menggerakkan bola mata secara berputar untuk menjamin irigasi
yang cukup di bawah kelopak mata.
Aspek terpenting tindakan pengobatan adalah menyingkir dari pajanan saat muncul gejala
pertama atau tanda iritasi. Fotofobia, iritasi atau halo sekitar cahaya adalah petunjuk untuk
menghentikan pekerjaan dan beristirahat di kamar yang digelapkan. Tindakan itu sering kali
menjadi hanya tindakan yang diperlukan dan keadaan akan membaik dalam 24-28 jam.
3,5


Pencegahan
Pencegahan kecelakaan berdasarkan pengetahuan tentang penyebab kecelakaan. Sebab-
sebab kecelakaan pada suatu perusahaan diketahui dengan mengadakan analisis setiap
kecelakaan yang terjadi. Metoda analisis penyebab kecelakaan harus betul-betul diketahui dan
diterapkan sebagaimana mestinya. Selain analisis mengenai penyebab terjadinya suatu peristiwa
kecelakaan, untuk pencegahan kecelakaan perlu dilakukan identifikasi bahaya yang terdapat dan
mungkin menimbulkan insiden kecelakaan di perusahaan serta mengases (assessment) besar
risiko bahaya.
5

Pencegahan ditujukan kepada lingkungan, mesin, peralatan kerja, perlengkapan kerja,
dan terutama faktor manusia. Lingkungan harus memenuhi syarat lingkungan kerja yang aman
serta memenuhi persyaratan keselamatan, penyelenggaraan ketatarumahtanggaan yang baik,
kondisi gedung dan tempat kerja yang memenuhi syarat keselamatan, dan perencanaan yang
sepenuhnya memperhatikan faktor keselamatan.
1

Syarat-syarat lingkungan kerja meliputi:
1

- Higiene umum
- Sanitasi
- Ventilasi udara
- Pencahayaan dan penerangan di tempat kerja
- Pengaturan suhu udara ruang kerja

Penyelenggaraan ketatarumahtanggaan perusahaan meliputi:
1

- Pengaturan penyimpanan barang
- Penempatan dan pemasangan mesin, serta perawatannya
- Penggunaan tempat dan ruangan
- Gedung harus memiliki alat pemadam kebakaran, pintu dan jalan keluar darurat, instalasi
ventilasi dan lantai yang terpelihara
- Alat pelindung diri (pakaian kerja, kaca mata, sarung tangan) harus cocok ukurannya
sehingga nyaman dalam penggunaannya

Pencegahan kecelakaan terhadap faktor manusia harus memperhatikan tentang:
1,3

- Pentingnya peraturan kerja. Aturan kerja harus lengkap, jelas dan diterapkan dengan
penuh kepatuhan agar pekerja yang melaksanakannya dengan penuh kesungguhan.
- Mempertimbangkan batas kemampuan dan keterampilan pekerja. Ketidakmampuan
pekerja meliputi kurangnya pengalaman, tidak memadainya kecakapan, dan lambatnya
mengambil keputusan.
- Meniadakan hal-hal yang mengurangi konsentrasi kerja. Konsentasi biasanya berkurang
akibat melamun, kurangnya perhatian dan sikap tidak mau memperhatikan, pelupa.
- Menegakkan disiplin kerja. Disiplin yang kurang harus diatasi dengan peringatan
(warning) kepada pekerja yang melanggar peraturan, atau kepada sesama pekerja yang
menganggu pekerja lain, serta kepada pekerja yang main-main saat bekerja.
- Menghindari perbuatan yang mendatangkan kecelakaan. Perilaku yang mendatangkan
bahaya ialah berbuang iseng atau main coba-coba, mengambil jalan pintas atau cara
mudahnya, dan sifat tergesa-gesa.
- Menghilangkan ketidakcocokan fisik dan mental. Untuk mengatasi ketidakcocokan fisik
perlu diperhatikan kecacatan fisik, kelelahan dan penyakit. Ketidakcocokan mental yang
terutama perlu diatasi adalah kejemuan atas dasar konflik batin, sifat pemarah yang luar
biasa dan emosi mudah tersinggung.

Pemeriksaan kesehatan sebelum dan pada waktu-waktu kerja sangat berguna dalam
rangka upaya menemukan aspek faktor manusia yang potensial dapat mendatangkan kecelakaan.
Pengawasan yang kontinyu akan mempertahankan kualitas pelaksanaan keselamatan dan upaya
pencegahan kecelakaan. Teguran atau peringatan sangat perlu dan cukup berperan, bahkan
sampai kepada pemberhentian pekerja yang mengabaikan aturan-aturan pencegahan kecelakaan.

Sistem Manajemen Kesehatan Keselamatan Kerja
Alat Pelindung Diri (APD)
Perlindungan keselamatan pekerja melalui upaya teknik pengamanan tempat, mesin,
peralatan dan lingkungan kerja wajib diutamakan. Namun terkadang risiko terjadinya kecelakaan
masih belum sepenuhnya dapat dikendalikan sehingga digunakan alat pelindung diri (alat
proteksi diri). Penggunaan APD adalah alternative terakhir, yaitu kelengkapan dari segenap
upaya teknik pencegahan kecelakaan. APD harus memenuhi persyaratan:
1

1. Enak (nyaman) dipakai
2. Tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan
3. Memberikan perlindungan efektif terhadap macam bahaya yang dihadapi

Pakaian kerja harus dianggap suatu alat perlindungan terhadap bahaya kecelakaan. Alat
proteksi diri beraneka ragam. Jika digolongkan menurut bagian tubuh yang dilindunginya, maka
jenis alat proteksi diri dapat dilihat:
- Kepala. Pengikat rambut, penutup rambut, topi dari berbagai jenis yaitu topi pengaman
(safety helmet), topi atau tudung kepala, tutup kepala.
- Mata. Kacamata pelindung.
- Muka. Pelindung muka.
- Tangan dan jari. Sarung tangan.
- Kaki. Sepatu pengaman.
- Alat pernafasan. Respirator, masker, alat bantu pernafasan.
- Telinga. Sumbat telinga, tutup telinga.
- Tubuh. Pakaian kerja menurut keperluan, yaitu pakaian kerja tahan panas, pakaian kerja
tahan dingin, pakaian kerja lainnya.
- Lainnya. Sabuk pengaman.

Untuk perlindungan spesifik, yaitu perlindungan terhadap mata, dapat dibagi menjadi
dua: menjaga alat dan peralatan perlindungan perorangan. Perlindungan terhadap kerusakan mata
dalam semua kasus memerlukan pertimbangan utama mengenai kemungkinan penyebab.
Pemakaian perlindungan mata perorangan harus menjadi garis pertahanan kedua. Jika terciprat
bahan kimia atau terjadi kerusakan oleh benda asing yang terbang, desain yang tepat dan
pemberian tabir pada alat dengan mengaitkannya secara efisien akan menghilangkan semua
risiko kerusakan pada pekerja sehingga menghindari kebutuhan pemekaian perlingan
perorangan.
3

Bila memungkinkan untuk menghindari semua risiko kerusakan mata melalui tindakan
yang disebutkan di atas, pertimbangan harus diberikan kepada perlindungan perorangan.
Seseorang harus mempertimbangkan tidak hanya kerusakan yang diderita oleh bola mata, tapi
juga risiko terhadap jaringan di sekitarnya. Bila diperlukan perlindungan mata dari cipratan
bahan kimia dan butiran yang berterbangan, pertimbangan harus diberikan apakah kulit muka
memerlukan perlindungan, misalnya dengan perisai wajah.
Bila cipratan bahan kimia merupakan satu masalah, harus ada perlindungan memadai yang tidak
hanya untuk menghindari cipratan langsung ke kornea dan konjungtiva dari depan, tetapi juga
dari samping. Maka paling sedikit diperlukan adanya kacamata dengan penutup samping, namun
hal ini juga belum sepenuhnya memadai. Bila lebih banyak bahan berbahaya yang dipakai
(misalnya soda kaustik), diperlukan kacamata goggle terhadap bahan kimia. Kekurangan
kacamata ini adalah bahwa pemakaiannya yang rapat dapat menghasilkan kabut pada lensa
walaupun tersedia bahan yang dapat menghapus kabut tersebut dari kaca. Namun, kacamata ini
tidak bisa dipakai untuk jangka waktu yang lama tanpa masalah kabut dan terkumpul cairan di
dalamnya. Bila risiko bahan kimia relatif kecil, misalnya iritasi ringan, maka pemakaian
kacamata dengan penutup samping secara konstan, sekalipun dengan risiko kecil adanya
penembusan bahan kimia, lebih baik daripada memakai kacamata goggle secara terus menerus,
yang hampir selalu tidak praktis dan dapat mengakibatkan tidak dipakainya perlindungan sama
sekali untuk jangka waktu yang bermakna. Bila perlindungan mata diperlukan, hal ini harus
dijadikan perintah.
1,3,5


Kesimpulan
Saat ini, pekerja dihadapkan pada spektrum agens penyebab cedera mata yang jauh lebih
luas, baik secara mekanis maupun kimiawi. Di antara bahan kimia, kita tidak hanya menghadapi
bahan yang secara jelas berupa asam dan basa, tapi juga herbisida kimia, insektisida dan
fungisida, bahan kimia perantara yang reaktif, pelarut organik, perekat, dan masih banyak lagi
yang semuanya memiliki potensi risiko keracunan dan efek iritasi serta sensitisasi.
Pada saat yang bersamaan, terjadi peningkatan kesadaran mengenai tindakan dan alat
perlindungan yang dapat menghilangkan atau mengurangi bahaya ini. Dengan perhatian yang
memadai terhadap bahaya tersebut dan kelainan yang dapat ditimbulkan yang biasanya
dihiraukan, diharapkan cedera mata akibat kecelakaan kerja dapat dikendalikan dengan baik.
Kapasitas, beban, dan lingkungan kerja merupakan tiga komponen utama dalam
kesehatan kerja, di mana hubungan interaktif dan serasi antara ketiga komponen tersebut akan
menghasilkan kesehatan kerja yang baik dan optimal. kapasitas kerja yang baik seperti status
kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik serta kemampuan fisik yang prima diperlukan agar
seorang pekerja dapat melakukan pekerjaannya dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sumamur PK. Higiene perusahaan dan kesehatan kerja. Jakarta: Sagung Seto, 2009, h.
73-87, 405-17.
2. Keselamatan dan kesehatan kerja. Diunduh dari:
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/51326/Bab%20II%20Tipus%20F
10dwi-4.pdf?sequence=6, 5 Oktober 2013
3. Takahashi K, Koh D. Textbook of occupational medicine practice. Singapore: World
Scientific Publishing, 2011.
4. Arias KM. Investigasi dan pengendalian wabah di fasilitas pelayanan kesehatan. Jakarta:
EGC, 2009. h. 3-4
5. Jeyaratnam J, Koh D. Suryadi, ed. Buku ajar praktik kedokteran kerja. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC, 2010, h. 261-72.
6. Buku saku kesehatan kerja oleh (Harrington JM, Gill ES. Edisi ke-3. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC, 2003. h. 5-9.
7. Ilyas S. Penuntun ilmu penyakit mata. Edisi ke-3. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 2008.
8. Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Edisi ke-3. Jakarta: EGC, 2009. h. 379-81