Anda di halaman 1dari 17

TUGASAN

FARMASI FISIKA II


DISUSUN OLEH :

SIVAJOTHI RAMU 260110113052




FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2014



ISI KANDUNGAN

1.0 Larutan 1
1.1 Sifat dasar larutan 1
1.2 Kelarutan 1
1.2.1 Larutan Ideal 2
1.2.2 Sifat koligatif larutan 3
1.3 Jenis-jenis larutan 3
1.3.1 Larutan elektrolit dan non elektrolit 4
1.3 Faktor-faktor mempengaruhi kelarutan 6
1.3.1 Pengaruh Jenis Zat pada Kelarutan 6
1.3.2 Pengaruh Temperatur pada Kelarutan 6
1.3.3 Konsentrasi Larutan 7
1.3.4 Tekanan Uap Larutan 8
1.3.5 Larutan lebih dari satu komponen volatile 9
1.3.6 Larutan ideal dan non-ideal 9
1.3.7 Destilasi terfraksinasi 10
1.3.8 Penurunan Titik Beku dan Kenaikan Titik Didih 10
1.3.9 Tekanan Osmose Larutan 13
Daftar Pustaka 15














1.0 Larutan
Larutan adalah campuran yang bersifat homogen antara molekul, atom ataupun
ion dari dua zat atau lebih. Disebut campuran karena susunannya atau komposisinya
dapat berubah. Disebut homogen karena susunanya begitu seragam sehingga tidak dapat
diamati adanya bagian-bagian yang berlainan, bahkan dengan mikroskop optis
sekalipun.
1.1 Sifat Dasar Larutan
Fase larutan dapat berwujud gas, padat ataupun cair. Larutan gas misalnya
udara. Larutan padat misalnya perunggu, amalgam dan paduan logam yang lain. Larutan
cair misalnya air laut, larutan gula dalam air, dan lain-lain. Komponen larutan terdiri
dari pelarut (solvent) dan zat terlarut (solute). Pada bagian ini dibahas larutan cair.
Pelarut cair umumnya adalah air. Pelarut cair yang lain misalnya bensena,
kloroform, eter, dan alkohol. Jika pelarutnya bukan air, maka nama pelarutnya
disebutkan. Misalnya larutan garam dalam alkohol disebut larutan garam dalam alkohol
(alkohol disebutkan), tetapi larutan garam dalam air disebut larutan garam (air tidak
disebutkan). Zat terlarut dapat berupa zat padat, gas atau cair. Zat padat terlarut dalam
air misalnya gula dan garam. Gas terlarut dalam air misalnya amonia, karbon dioksida,
dan oksigen. Zat cair terlarut dalam air misalnya alkohol dan cuka.
Umumnya komponen larutan yang jumlahnya lebih banyak disebut sebagai
pelarut. Larutan 40 % alkohol dengan 60 % air disebut larutan alkohol. Larutan 60 %
alkohol dengan 40 % air disebut larutan air dalam alkohol. Larutan 60 % gula dengan
40 % air disebut larutan gula karena dalam larutan itu air terlihat tidak berubah
sedangkan gula berubah dari padatan (kristal) menjadi terlarut (menyerupai air).
1.2 Kelarutan
Sebutir kristal gula pasir merupakan gabungan dari beberapa molekul gula. Jika
kristal gula itu dimasukkan ke dalam air, maka molekul-molekul gula akan memisah
dari permukaan kristal gula menuju ke dalam air (disebut melarut). Molekul gula itu
bergerak secara acak seperti gerakan molekul air, sehingga pada suatu saat dapat
menumbuk permukaan kristal gula atau molekul gula yang lain. Sebagian molekul gula
akan terikat kembali dengan kristalnya atau saling bergabung dengan molekul gula yang
lain sehingga kembali membentuk kristal (mengkristal ulang). Jika laju pelarutan gula


sama dengan laju pengkristalan ulang, maka proses itu berada dalam kesetimbangan dan
larutannya disebut jenuh.
Kristal gula + air larutan gula
Larutan jenuh adalah larutan yang mengandung zat terlarut dalam jumlah yang
diperlukan untuk adanya kesetimbangan antara solute yang terlarut dan yang tak
terlarut. Banyaknya solute yang melarut dalam pelarut yang banyaknya tertentu untuk
menghasilkan suatu larutan jenuh disebut kelarutan (solubility) zat itu. Kelarutan
umumnya dinyatakan dalam gram zat terlarut per 100 mL pelarut, atau per 100 gram
pelarut pada temperatur yang tertentu. Jika kelarutan zat kurang dari 0,01 gram per 100
gram pelarut, maka zat itu dikatakan tak larut (insoluble). Jika jumlah solute yang
terlarut kurang dari kelarutannya, maka larutannya disebut tak jenuh (unsaturated).
Larutan tak jenuh lebih encer (kurang pekat) dibandingkan dengan larutan jenuh.
Jika jumlah solute yang terlarut lebih banyak dari kelarutannya, 2 maka
larutannya disebut lewat jenuh (supersaturated). Larutan lewat jenuh lebih pekat
daripada larutan jenuh. Larutan lewat jenuh biasanya dibuat dengan cara membuat
larutan jenuh pada temperatur yang lebih tinggi. Pada cara ini zat terlarut harus
mempunyai kelarutan yang lebih besar dalam pelarut panas daripada dalam pelarut
dingin. Jika dalam larutan yang panas itu masih tersisa zat terlarut yang sudah tak dapat
melarut lagi, maka sisa itu harus disingkirkan dan tidak boleh ada zat lain yang masuk.
Kemudian larutan itu didinginkan hati-hati dengan cara didiamkan untuk menghindari
pengkristalan. Jika tidak ada solute yang memisahkan diri (mengkristal kembali) selama
pendinginan, maka larutan dingin yang diperoleh bersifat lewat jenuh. Larutan lewat
jenuh yang dapat dibuat dengan cara ini misalnya larutan dari sukrosa, natrium asetat
dan natrium tiosulfat (hipo). Larutan lewat jenuh merupakan suatu sistem metastabil.
Larutan ini dapat diubah menjadi larutan jenuh dengan menambahkan kristal yang kecil
(kristal inti/bibit) umumnya kristal dari solute. Kelebihan molekul solute akan terikat
pada kristal inti dan akan mengkristal kembali.
1.2.1 Larutan ideal
Bila interaksi antarmolekul komponen-komponen larutan sama besar dengan
interaksi antarmolekul komponen-komponen tersebut pada keadaan murni, terbentuklah
suatu idealisasi yang disebut larutan ideal. Larutan ideal mematuhi hukum Raoult, yaitu


bahwa tekanan uap pelarut (cair) berbanding tepat lurus dengan fraksi mol pelarut
dalam larutan. Larutan yang benar-benar ideal tidak terdapat di alam, namun beberapa
larutan memenuhi hukum Raoult sampai batas-batas tertentu. Contoh larutan yang dapat
dianggap ideal adalah campuran benzena dan toluena.
Ciri lain larutan ideal adalah bahwa volumenya merupakan penjumlahan tepat
volume komponen-komponen penyusunnya. Pada larutan non-ideal, penjumlahan
volume zat terlarut murni dan pelarut murni tidaklah sama dengan volume larutan.
1.2.2 Sifat koligatif larutan
Larutan cair encer menunjukkan sifat-sifat yang bergantung pada efek kolektif
jumlah partikel terlarut, disebut sifat koligatif (dari kata Latin colligare, "mengumpul
bersama"). Sifat koligatif meliputi penurunan tekanan uap, peningkatan titik didih,
penurunan titik beku, dan gejala tekanan osmotik.
1.3 Jenis-jenis larutan
Larutan dapat diklasifikasikan misalnya berdasarkan fase zat terlarut dan
pelarutnya. Tabel berikut menunjukkan contoh-contoh larutan berdasarkan fase
komponen-komponennya.
Contoh larutan
Zat terlarut
Gas Cairan Padatan
Pelarut
Gas
Udara (oksigen
dan gas-gas lain
dalam nitrogen)
Uap air di udara
(kelembapan)
Bau suatu zat padat yang
timbul dari larutnya
molekul padatan tersebut
di udara
Cairan
Air terkarbonasi
(karbon dioksida
dalam air)
Etanol dalam air;
campuran berbagai
hidrokarbon (minyak
bumi)
Sukrosa (gula) dalam air;
natrium klorida (garam
dapur) dalam air;
amalgam emas dalam
raksa


Padatan
Hidrogen larut
dalam logam,
misalnya platina
Air dalam arang aktif;
uap air dalam kayu
Aloi logam seperti baja
dan duralumin
Berdasarkan kemampuannya menghantarkan listrik, larutan dapat dibedakan
sebagai larutan elektrolit dan larutan non-elektrolit. Larutan elektrolit mengandung zat
elektrolit sehingga dapat menghantarkan listrik, sementara larutan non-elektrolit tidak
dapat menghantarkan listrik.
1.3.1 Larutan elektrolit dan non elektrolit
Pada tahun 1884, Svante Arrhenius, ahli kimia terkenal dari Swedia
mengemukakan teori elektrolit yang sampai saat ini teori tersebut tetap bertahan padahal
ia hampir saja tidak diberikan gelar doktornya di Universitas Upsala, Swedia, karena
mengungkapkan teori ini. Menurut Arrhenius, larutan elektrolit dalam air terdisosiasi ke
dalam partikel-partikel bermuatan listrik positif dan negatif yang disebut ion (ion positif
dan ion negatif) Jumlah muatan ion positif akan sama dengan jumlah muatan ion
negatif, sehingga muatan ion-ion dalam larutan netral. Ion-ion inilah yang bertugas
mengahantarkan arus listrik. Larutan yang dapat menghantarkan arus listrik disebut
larutan elektrolit.
Larutan ini memberikan gejala berupa menyalanya lampu atau timbulnya
gelembung gas dalam larutan. Larutan elektrolit mengandung partikel-partikel yang
bermuatan (kation dan anion). Berdasarkan percobaan yang dilakukan oleh Michael
Faraday, diketahui bahwa jika arus listrik dialirkan ke dalam larutan elektrolit akan
terjadi proses elektrolisis yang menghasilkan gas. Gelembung gas ini terbentuk karena
ion positif mengalami reaksi reduksi dan ion negatif mengalami oksidasi. Contoh, pada
laruutan HCl terjadi reaksi elektrolisis yang menghasilkan gas hidrogen sebagai berikut.
HCl(aq) H
+
(aq) + Cl
-
(aq)
Reaksi reduksi : 2H
+
(aq) + 2e
-
H
2
(g)
Reaksi oksidasi : 2Cl
-
(aq) Cl
2
(g) + 2e
-

Pada larutan elektrolit kuat, seluruh molekulnya terurai menjadi ion-ion
(terionisasi sempurna). Karena banyak ion yang dapat menghantarkan arus listrik, maka


daya hantarnya kuat. pada persamaan reaksi, ionisasi elektrolit kuat ditandai dengan
anak panah satu arah ke kanan.
Contoh larutan elektrolit kuat :
o Asam, contohnya asam sulfat (H2SO4), asam nitrat (HNO3), asam klorida
(HCl)
o Basa, contohnya natrium hidroksida (NaOH), kalium hidroksida (KOH),
barium hidroksida (Ba(OH)2)
o Garam, hampir semua senyawa kecuali garam merkuri
Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang dapat memberikan nyala redup
ataupun tidak menyala, tetapi masih terdapat gelembung gas pada elektrodanya. Hal ini
disebabkan tidak semua terurai menjadi ion-ion (ionisasi tidak sempurna) sehingga
dalam larutan hanya ada sedikit ion-ion yang dapat menghantarkan arus listrik. Dalam
persamaan reaksi, ionisasi elektrolit lemah ditandai dengan panah dua arah (bolak-
balik).
Contoh :
CH3COOH(aq) CH3COO- (aq) + H+ (aq)
Contoh senyawa yang termasuk elektrolit lemah :CH3COOH, HCOOH, HF,
H2CO3, dan NH4OH
Larutan elektrolit dapat bersumber dari senyawa ion (senyawa yang mempunyai
ikatan ion) atau senyawa kovalen polar (senyawa yang mempunyai ikatan
kovalen polar).
Sedangkan larutan non elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan
arus listrik dan tidak menimbulkan gelembung gas. Pada larutan non elektrolit, molekul-
molekulnya tidak terionisasi dalam larutan, sehingga tidak ada ion yang bermuatan yang
dapat menghantarkan arus listrik.



Contoh : larutan gula, urea

1.3 Faktor-faktor mempengaruhi kelarutan
1.3.1 Pengaruh Jenis Zat pada Kelarutan
Zat-zat dengan struktur kimia yang mirip umumnya dapat saling bercampur
dengan baik, sedangkan zat-zat yang struktur kimianya berbeda umumnya kurang dapat
saling bercampur (like dissolves like). Senyawa yang bersifat polar akan mudah larut
dalam pelarut polar, sedangkan senyawa nonpolar akan mudah larut dalam pelarut
nonpolar. Contohnya alkohol dan air bercampur sempurna (completely miscible), air
dan eter bercampur sebagian (partially miscible), sedangkan minyak dan air tidak
bercampur (completely immiscible).
1.3.2 Pengaruh Temperatur pada Kelarutan
Kelarutan gas umumnya berkurang pada temperatur yang lebih tinggi. Misalnya
jika air dipanaskan, maka timbul gelembung-gelembung gas yang keluar dari dalam air,
sehingga gas yang terlarut dalam air tersebut menjadi berkurang. Kebanyakan zat padat
kelarutannya lebih besar pada temperatur yang lebih tinggi. Ada beberapa zat padat
yang kelarutannya berkurang pada temperatur yang lebih tinggi, misalnya natrium sulfat
dan serium sulfat. Pada larutan jenuh terdapat kesetimbangan antara proses pelarutan
dan proses pengkristalan kembali. Jika salah satu proses bersifat endoterm, maka proses
sebaliknya bersifat eksoterm. Jika temperatur dinaikkan, maka sesuai dengan azas Le
Chatelier (Henri Louis Le Chatelier: 1850-1936) kesetimbangan itu bergeser ke arah
proses endoterm. Jadi jika proses pelarutan bersifat endoterm, maka kelarutannya


bertambah pada temperatur yang lebih tinggi. Sebaliknya jika proses pelarutan bersifat
eksoterm, maka kelarutannya berkurang pada suhu yang lebih tinggi.

Gambar 1. Kurva hubungan antara kelarutan beberapa garam dengan temperatur.

1.3.3 Konsentrasi Larutan
Konsentrasi larutan menyatakan banyaknya zat terlarut dalam sejumlah tertentu
larutan. Secara fisika konsentrasi dapat dinyatakan dalam % (persen) atau ppm (part per
million) = bpj (bagian per juta). Dalam kimia konsentrasi larutan dinyatakan dalam
molar (M), molal (m) atau normal (N).
a. Molaritas (M)
Molaritas menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam setiap liter larutan.

b. Molalitas (m)
Molalitas menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam setiap kilo gram (1 000
gram)
pelarut.

c. Normalitas (N)
Normalitas menyatakan jumlah ekuivalen zat terlarut dalam setiap liter larutan.




1.3.4 Tekanan Uap Larutan
Efek pembuatan suatu larutan pada sifat kimia komponen-komponennya adalah
kecil. Contohnya, Na akan bereaksi dengan air menghasilkan Na+ bila dimasukkan ke
dalam larutan, dan akan memberikan hasil yang sama bila Na dimasukkan ke dalam air
destilasi. Tetapi sifat fisik zat sering berubah bila menjadi bagian dari larutan.
Contohnya, air akan membeku dan dapat meretakkan blok mesin mobil bila t=0C,
tetapi air yang sama tidak akan membeku pada t=0C bila ke dalamnya ditambahkan
etilen glikol, yang disebut zat anti beku.
Salah satu sifat fisik larutan yang dapat dipengaruhi oleh zat terlarut adalah
tekanan uap. Jika zat terlarut adalah non-volatile (zat yang tidak mudah menguap) maka
tekanan uap pelarut turun. Jika zat terlarut dikeluarkan maka tekanan kesetimbangan
yang disebabkan olen uap pelarut, Plarutan, berbanding lurus dengan fraksi mol pelarut,
Xpelarut, gambar 2, dan dikenal dengan hukum Raoult:

dengan Ppelarut adalah tekanan uap pelarut murni.

Gambar 2. Grafik hubungan tekanan uap dengan fraksi mol pelarut adalahberbanding
lurus





Contoh 1:
Suatu larutan mengandung 95% air dan 5% gula, tentukan tekanan uap larutan.
Tekanan uap air adalah 1 atm.
Penyelesaian:
Berdasarkan komposisi larutan maka fraksi mol pelarut, Xpelarut = 0,95. Pada
temperatur dimana tekanan uap air adalah l atm, tekanan larutan di atas adalah, P
larutan = 0,95 x l atm = 0,95 atm
Hukum Raoult dapat dijelaskan dengan mudah dari sudut pandang molekul.
Misalnya, kita membuat larutan dari zat terlarut non-volatile dengan fraksi mol
pelarut sebesar 0,6. Pada larutan terdapat 60% molekul pelarut, sehingga untuk
permukaan dengan luas tertentu terdapat 60% molekul pelarut dan 40% molekul
zat terlarut. Ini berarti hanya 60% molekul yang dapat menguap dibandingkan
dengan pelarut murninya, sehingga tekanan uap larutan turun hingga 60% dari
tekanan uap pelarut. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan hukum Raoult.
1.3.5 Larutan lebih dari satu komponen volatile
Pada beberapa larutan, seperti benzena dan CCl4, pelarut dan zat terlarut adalah
mudah menguap. Dalam hal ini uap mengandung kedua jenis zat dan tekanannya adalah
jumlah tekanan parsial masing-masing komponen. Tekanan parsial juga memenuhi
hukum Raoult, sehingga bila ada komponen A dan B maka tekanan parsial A dan B
masing-masing PA dan PB adalah


dan tekanan total adalah


1.3.6 Larutan ideal dan non-ideal
Bila digambarkan hubungan antara PA dengan XA, PB dengan XB, dan PT
yaitu penjumlahan PA dan PB, maka diperoleh garis lurus, gambar 3. Pasangan dua
komponen zat yang mudah menguap membentuk larutan dengan sifat seperti pada


gambar 3 disebut larutan ideal. Salah satu contoh larutan yang mendekati sifat demikian
adalah pasangan benzena-CCl4.

Gambar 3. Grafik tekanan uap sistem dua komponen larutan idea


Gambar 4. Grafik tekanan uap sistem dua komponen larutan non ideal: (a) deviasi
negatip, (b) deviasi positip.
Sifat non-ideal larutan disebabkan oleh kekuatan relatif tarik-manarik antara
molekul zat terlarut dan pelarut. Bila gaya tarik-menarik antara zat terlarutpelarut
lebih lemah dari gaya tarik-menarik antara zat terlarutzat terlarut atau antara
pelarutpelarut maka partikel zat terlarut atau pelarut lebih kuat terikat dalam keadaan
murni dari pada dalam larutan. Dengan demikian kecenderungan meninggalkan sistem
lebih besar pada larutan daripada zat terlarut murni atau pelarut murni. Akibatnya,
tekanan parsial lebih besar dari perkiraan hukum Raoult sehingga tekanan uap total
lebih besar dari yang diperkirakan. Sistem ini disebut memperlihatkan deviasi positip.
Hal sebaliknya akan dihasilkan bila tarik-menarik zat terlarutpelarut lebih besar
daripada tarik-menarik zat terlarutzat terlarut dan pelarutpelarut. Sistem ini disebut
memperlihatkan deviasi negatip.


Bila molekul tarik-menarik maka dapat membebaskan atau menyerap panas.
Dengan kata lain, terdapat korelasi antara panas larutan dan deviasi dari hukum Raoult.
1.3.7 Destilasi terfraksinasi
Sifat tekanan uap larutan dapat dimanfaatkan pada proses pemisahan, dan
disebut destilasi. Bila ingin memisahkan NaCl dari air untuk mendapatkan air murni
maka dapat dilakukan dangan menguapkan pelarut air dan kemudian dikondensasikan.
Proses ini disebut destilasi biasa. Bila pemisahan dilakukan pada campuran komponen
yang mudah menguap, cara yang digunakan agar dapat berhasil memisahkan semua
komponen-komponen campuran disebut destilasi terfraksi. Teori proses pemisahan
dengan cara destilasi dibahas lebih mendalam pada matakuliah kimia fisik, sedangkan
pengalaman pemisahan dangan cara destilasi dapat diperoleh pada matakuliah
praktikum kimia organik.
1.3.8 Penurunan Titik Beku dan Kenaikan Titik Didih
Zat tarlarut non-volatile dapat menurunkan tekanan uap larutan. Fenomena
penambahan zat terlarut non-volatile juga mempengaruhi sifat-sifat fisik larutan seperti
titik beku dan titik didih.
Gambar 4 memperlihatkan diagram fasa air. Dari grafik ini dapat dibaca titik
beku dan titik didih normal. Titik beku normal, Tb, adalah temperatur dimana garis
kesetimbangan padat-cair memotong garis tekanan 1 atmosfer, sedangkan titik didih
normal adalah temperatur dimana garis kesetimbangan gas-cair memotong garis tekanan
1 atmosfer.

Gambar 4. Diagram fasa air: (a) grafik garis () pelarut murni, (b) grafik titik-
titik () larutan.


Pada gambar 4 dapat juga diplot kurva tekanan uap larutan yang mengandung
zat terlarut non-volatile. Pada temperatur berapa pun, tekanan uap larutan lebih rendah
dari pelarut murni. Pada larutan, temperatur untuk mencapai tekanan 1 atmosfer lebih
besar daripada pelarut murni. Dengan kata lain, titik didih larutan, Td-l, lebih tinggi
daripada pelarutnya, Td-p. Pada gambar terlihat bahwa besarnya kenaikan titik didih
didefinisikan dengan Td, yaitu Td-l dikurangi Td-p.
Pada gambar 4 juga ditemukan titik tripel baru, Tr, yang terjadi pada
perpotongan kurva tekanan uap larutan dengan kurva tekanan uap padatan untuk pelarut
murni. Biasanya, partikel zat terlarut tidak dapat masuk ke kisi yang terbentuk karena
pembekuan pelarut, sehingga padatan yang terbntuk adalah pelarut murni. Akibatnya,
kurva tekanan uap bagian padatan untuk larutan dan pelarut adalah berimpitan. Garis
kesetimbangan padat-cair, yang menyatakan titik beku sebagai fungsi tekanan,
diperoleh dari titik tripel. Karena titik tripel baru untuk larutan berada di kiri pelarut
murni maka titik beku larutan lebih rendah daripada pelarut murni. Besarnya penurunan
titik beku ini didefinisikan dengan Tb, yaitu Tb-l dikurangi Tb-p.
Jadi, adanya zat terlarut akan memperbesar daerah cairan diagram fasa larutan
dengan cara kenaikan titik didih dan penurunan titik beku. Salah satu penggunaan
paling umum fenomena ini adalah pemakaian larutan anti beku (antifroezo) di dalam
radiator mobil. Zat terlarut yang biasa digunakan adalah etilen glikol, C2H4(OH)2,
yang larut sempurna dalam air dan mempunyai tekanan uap sangat rendah. Pada musim
dingin, etilen glikol melindungi mobil melalui poncegahan pembekuan air dalam
radiator. Pada musim panas, zat anti beku juga melindungi radiator dari pendidihan
yang lebih mudah bila diisi dengan air murni. Pada larutan encer, besarnya kenaikan
titik didih dan penurunan titik beku tergantung pada molalitas zat terlarut dalam larutan,
dengan Kd dan Kb masing-masing adalah konstanta kenaikan titik didih dan penurunan
titik beku molal, dan khas untuk setiap pelarut.

Contoh 2:
Tentukan titik didih dan titik beku larutan 1 mol gula dalam 1000 g air.
Konstanta Kd dan Kb masing-masing adalah 0,51 dan 1,86.




Penyelesaian:
Berdasarkan komposisi larutan maka konsentrasi molal larutan, m = 1. Pada
tekanan l atm, titik didih dan titik beku air masing-masing adalah 100
o
C dan 0
o
C. Kenaikan titik didih dan penurunan titik beku masing-masing adalah:
Titik beku turun 1,86 C dan titik didih naik 0,51C. Larutan membeku pada -
0,86 C dan mendidih pada 100,51 C bila tekanan udara 1 atm.

1.3.9 Tekanan Osmose Larutan
Peristiwa lewatnya molekul pelarut menembus membran semipermeabel dan
masuk ke dalam larutan disebut osmose. Tekanan osmose larutan adalah tekanan yang
harus diberikan pada larutan untuk mencegah terjadinya osmose (pada tekanan 1 atm)
ke dalam larutan tersebut. Hampir mirip dengan tekanan pada gas ideal, pada larutan
ideal, besarnya tekanan osmose berbanding lurus dengan konsentrasi zat terlarut.

= tekanan osmose (atm).
n = jumlah mol zat terlarut (mol).
R = tetapan gas ideal = 0,08206 L.atm/mol.K
T = suhu larutan (K).
V = volume larutan (L).
M = molaritas (M = mol/L).
Jika tekanan yang diberikan pada larutan lebih besar dari tekanan osmose, maka
pelarut murni akan keluar dari larutan melewati membran semipermeabel. Peristiwa ini
disebut osmose balik (reverse osmosis), misalnya pada proses pengolahan untuk
memperoleh air tawar dari air laut.
Contoh soal:
Hitunglah berapa tekanan osmose yang harus diberikan pada 1 liter larutan gula
0,1 M pada suhu 27 C supaya air tidak dapat menembus membran
semipermeabel masuk ke dalam larutan tersebut !




Jawab:
= (n.R.T) : V = M.R.T
= 0,1 M x 0,08206 L.atm/mol.K x (27 + 273) K
= 2,46 atm






























DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, E.F., Heraldy, E., dan Ainurofiq, A., 2011. Sintesis, Karakterisasi dan Uji Sifat
Fisika-Kimia Mg/Al-Hydrotalcite Sebagai Bahan Baku Antasida. Prosiding
Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan 2011. ISBN: 978-979-19215-1-0, 103-
108.
Ambrogi, V., Fardella, G., Grandolini, G., Nocchetti, M., and Perioli, L., 2003. Effect of
hydrotalcite-like compounds on the aqueous solubility of some poorly water
soluble drugs. Journal of Pharmaceutical Sciences . 92, 1407 1418.
Martin, A. 1990. Farmasi Fisika jilid II. Jakarta : Universitas Indonesia Press
Moechtar. 1990. Farmasi Fisika. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada Press
Tungadi, Robert. (2009).Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. Jurusan Farmasi
Universitas Negeri Gorontalo. Gorontalo