Anda di halaman 1dari 7

TUGAS PUBLIC HEALTH

PEMBAHASAN ARTIKEL EPIDEMIOLOGI


Disusun oleh:
Rudita Citra Hapsari, S.Ked
0!"#0$00#
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MAS%ARAKAT
RUMAH SAKIT DR. MOHAMMAD HOESIN
&AKULTAS KEDOKTERAN UNI'ERSITAS SRI(I)A%A
"0!
PEMBAHASAN ARTIKEL
UNDER(EIGHT, O'ER(EIGHT DAN OBESITAS PADA DE(ASA
MUDA DI OTA, NIGERIA
S*a+,- N.,d, C*i/edu da/ Ope0e-i C*ristia/a E-i+,1u
PENDAHULUAN
Pengukuran antropometri merupakan alat sederhana dan secara umum digunakan untuk
menentukan perkembangan dan maturitas seseorang. Indeks massa tubuh (BMI)
mengindikasikan apakah berat badan sesorang menyimpang dari nilai normal, keadaan yang
sehat atau ideal dengan tinggi yang dimilikinya. Berat badan secara umum dklasifikasikan
sebagai berat badan normal, underweight, overweight atau obesitas berdasarkan klasifikasi
!". Underweight, overweight dan obesitas berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas
dan kemudian dipertimbangkan sebagai berat badan abnormal atau tidak sehat. "besitas dapat
menyebabkan ketidaknyamanan fisik, trauma psikologis dan merupakan predisposisi seseorang
terhadap suatu keadaan kesehatan yang disebut sindroma metabolik, yang ditandai dengan
diabetes, gangguan lipid, sleep apnea, gangguan respirasi, dan hipertensi yang akan
mempercepat penuaan dan penyakit kardio#askular. Disamping itu, underweight berhubungan
dengan malnutrisi, anemia, dan penyakit infeksi seperti malaria, pneumonia, dan !I$%&ID'
bahkan kematian.
(antangan nutrisi yang sedang dihadapi oleh negara berkembang menyebabkan
meningkatnya insiden obesitas, merupakan suatu fenomena yang disebut dengan transisi
nutrisi. 'ebagai hasil, banyak negara berkembang termasuk )igeria, mengalami kelebihan
berat karena kelebihan nutrisi dan kekurangan berat badan yang disebabkan oleh malnutrisi. Di
)igeria, dilaporkan keadaan underweight pada anak*anak dan obesitas pada orang de+asa.
"besitas merupakan penyebab kematian utama setara dengan malaria, !I$%&ID' dan
malnutrisi.
Penelitian ini bertu,uan untuk melihat kecenderungan abnormalitas berat badan penduduk
"ta, )igeria pada a+al masa de+asa mereka. Pengukuran antropometri dan klasifikasi !"
digunakan untuk menentukan angka ke,adian under+eight, o#er+eight, dan obesitas pada
populasi de+asa muda di "ta, )igeria 'elatan.
SUB)EK DAN METODE PENELITIAN
(otal -./ sub,ek sehat (.0/ laki*laki dan ./1 +anita tidak hamil), usia 23*-4 tahun ikut
serta dalam penelitian. 'eluuh sub,ek penelitian merupakan penduduk 5anaanland "ta,
)igeria. Indeks massa tubuh (BMI) dihitung dengan membagi berat badan dengan (tinggi
badan dalam meter)
2
. 6lasifikasi berat badan berdasarkan klasifikasi !" :
7nder+eight 8 BMI 9.:,/ kg%m
2
; normal 8 BMI <.:.4 92/,0 kg%m
2
; "#er+eight 8 BMI <
24,3 920,0 kg%m
2
; obesitas 8 BMI <-3,3 kg%m
2
. "besitas diklasifikasikan men,adi - yaitu
"besitas kelas I : BMI < -3,3 9 -/,0 ; "besitas kelas II BMI < -4,3 9-0,0 kg%m
2
dan "besitas
6elas III 8 BMI </3,3 kg%m
2
. BMI 9 .=,4 kg%m
2
diklasifikasikan sebagai under+eight berat.
&nalisis data menggunakan 'P''. (*test dan Pearson 5hi*'>uare digunakan untuk
menentukan perbedaan signifikan antara kedua ,enis kelamin. Perbedaan dikatakan signifikan
,ika nilai P93,34.
HASIL
?aki*laki secara signifikan (p93,34) memiliki tinggi badan, berat badan dan BMI yang
lebih tinggi daripada perempuan. Berat badan laki*laki 1..41 @ 3,:. kg dibandingkan
perempuan =-.1= @ .,11 kg. (inggi badan ..1: @ 3.334 m untuk laki*laki dan ..== @ 3,3: m
untuk perempuan. Aerata indeks massa tubuh untuk kedua ,enis kelamin dalam batas normal
22.11 @ 3.22 dan 22.43 @ 3.-3 kg.m
2
untuk laki*laki dan perempuan. 7,i sampel berpasangan
menun,ukan nilai signifikansi (2-tailed) .333 untuk berat badan, tinggi badan, dan BMI pada
laki*laki dan perempuan.
Perbedaan pre#alensi berat badan normal didapatkan 1=,- dan =/.3B untuk laki*laki
dan perempuan. Beberapa sub,ek perempuan (2.1B) mengalami underweight berat sedangkan
tidak satupun sub,ek laki*laki berada dalam kategori tersebut. Pre#alensi obesitas kelas I 2..
dan 2.1B untuk sub,ek laki*laki dan perempuan, obesitas kelas II 3.4 dan 3.1B untuk sub,ek
laki*laki dan perempuan. (idak ada satupun sub,ek termasuk kategori obesitas kelas III.
Pearson 5hi*'>uare menun,ukkan signifikansi .33: antara kedua ,enis kelamin.
Distribusi persentase berat badan abnormal didapatkan pre#alensi overweight sebesar
.:.=B , sedangkan underweight dan obesitas masing*masing 2.=B pada sub,ek laki*laki.
'edangkan pre#alensi underweight, overweight, dan obesitas pada sub,ek perempuan masing*
masing sebesar .2.0B, .0.1B dan -./B
DISKUSI DAN PEMBAHASAN
Pengukuran antropometri menun,ukkan sub,ek laki*laki secara signifikan (p93.34)
lebih besar ,ika dibandingkan perempuan. Perbedaan distribusi antaa kedua ,enis kelamin ,uga
berbeda secara signifikan pada p93.34. 'e,umlah besar sub,ek memiliki berat badan normal
dan mortalitas yang rendah, pre#alensi berat badan normal lebih tinggi pada sub,ek laki*laki
(1=.-B) ,ika dibandingkan dengan perempuan (=/.3B). &bnormalitas berat badan
(underweight, overweight, dan obesitas ter,adi lebih banyak pada perempuan dibandingkan
laki*laki. !al ini menun,ukkan bah+a ,enis kelamin mempengaruhi tinggi badan dan berat
badan setiap indi#idu. Perbedaan gaya hidup dan pola makan anatar kedua ,enis kelamin dapat
merupakan penyebab perbedaan antara laki*laki dan perempuan. (ingginya angka ke,adian
underweight pada perempuan mungkin dapat disebabkan oleh sindroma Cslim-fit pada
perempuan de+asa muda )igeria. 6ebanyakan perempuan memperhatikan penampilan bentuk
tubuh mereka dan berusaha untuk men,aga bentuk tubuh yang ideal. 6ebiasaan diet dan pola
makan pada banyak perempuan di )igeria ,uga sebagai salah satu faktor penyebabnya.
'ebagai hasil dari kebiasaan makan yang tidak baik, perempuan )igeria mengalami malnutrisi.
Pada akhirnya, berat badan yang rendah berhubungan dengan besarnya angka mortalitas,
indi#idu yang mengalami underweight tidak memiliki nutrisi yang cukup untuk penyembuhan
selama sakit. Perempuan dalam rentang usia ini kemudian sangat rentan terhadap penyakit
infeksi seperti malaria, pneumonia, diae dan !I$%&ID'.
"#er+eight men,adi pre#alensi yang paling besar pada ,enis kelamin baik laki*laki
maupun perempuan. Pre#alensi o#er+eight yang tinggi pada kedua ,enis kelamin sangat
signifikan. !al ini menun,ukkan berat badan yang bertambah yang signifikan pada a+al masa
de+asa dan dapat berkembang men,adi obesitas pada periode hidup selan,utnya saat usia tua
atau pola hidup yang tidak baik. Insiden obesitas dan overweight yang tinggi pada sub,ek
perempuan disebabkan oleh kecenderungan lebih banyak lemak yang terakumulasi pada
perempuan dibandingkan laki*laki. Pre#alensi obesitas pada de+asa muda sangat rendah. !al
ini dapat disebabkan oleh fakta bah+a sesorang dalam usia tesebut sangat aktif, sehat dan
fungsi biologis yang optimal. "besitas kelas I dan kelas II dialami ,uga oleh sub,ek laki*laki
dan perempuan dengan obesitas kelas I lebih banyak dibandingkan obesitas kelas II.
KESIMPULAN
Pre#alensi o#er+eight paling banyak pada de+asa muda di "ta, )igeria. Denis kelamin
dan faktor sosial lainnya secara umum memperngaruhi tinggi badan dan berat badan setiap
indi#idu dalam rentang usia tersebut. Perempuan memiliki kecenderungan memiliki
abnormalitas berat badan lebih dibandingkan laki*laki. "#er+eight dan under+eight teseba
diantara sub,ek perempuan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, laki*laki secara signifikan (p93,34)
memiliki tinggi badan, berat badan dan BMI yang lebih tinggi daripada perempuan. Berat
badan laki*laki 1..41 @ 3,:. kg dibandingkan perempuan =-.1= @ .,11 kg. (inggi badan ..1: @
3.334 m untuk laki*laki dan ..== @ 3,3: m untuk perempuan. Aerata indeks massa tubuh untuk
kedua ,enis kelamin dalam batas normal 22.11 @ 3.22 dan 22.43 @ 3.-3 kg.m
2
untuk laki*laki
dan perempuan. 7,i sampel berpasangan menun,ukan nilai signifikansi (2-tailed) .333 untuk
berat badan, tinggi badan, dan BMI pada laki*laki dan perempuan.
Perbedaan pre#alensi berat badan normal didapatkan 1=,- dan =/.3B untuk laki*laki
dan perempuan. Beberapa sub,ek perempuan (2.1B) mengalami underweight berat sedangkan
tidak satupun sub,ek laki*laki berada dalam kategori tersebut. Pre#alensi obesitas kelas I 2..
dan 2.1B untuk sub,ek laki*laki dan perempuan, obesitas kelas II 3.4 dan 3.1B untuk sub,ek
laki*laki dan perempuan. (idak ada satupun sub,ek termasuk kategori obesitas kelas III.
Pearson 5hi*'>uare menun,ukkan signifikansi .33: antara kedua ,enis kelamin.
Distribusi persentase berat badan abnormal didapatkan pre#alensi overweight sebesar
.:.=B , sedangkan underweight dan obesitas masing*masing 2.=B pada sub,ek laki*laki.
'edangkan pre#alensi underweight, overweight, dan obesitas pada sub,ek perempuan masing*
masing sebesar .2.0B, .0.1B dan -./B
Pengukuran antropometri menun,ukkan sub,ek laki*laki secara signifikan (p93.34)
lebih besar ,ika dibandingkan perempuan. Perbedaan distribusi antaa kedua ,enis kelamin ,uga
berbeda secara signifikan pada p93.34. 'e,umlah besar sub,ek memiliki berat badan normal
dan mortalitas yang rendah, pre#alensi berat badan normal lebih tinggi pada sub,ek laki*laki
(1=.-B) ,ika dibandingkan dengan perempuan (=/.3B). &bnormalitas berat badan
(underweight, overweight, dan obesitas ter,adi lebih banyak pada perempuan dibandingkan
laki*laki. !al ini menun,ukkan bah+a ,enis kelamin mempengaruhi tinggi badan dan berat
badan setiap indi#idu. Perbedaan gaya hidup dan pola makan anatar kedua ,enis kelamin dapat
merupakan penyebab perbedaan antara laki*laki dan perempuan. (ingginya angka ke,adian
underweight pada perempuan mungkin dapat disebabkan oleh sindroma Cslim-fit pada
perempuan de+asa muda )igeria. 6ebanyakan perempuan memperhatikan penampilan bentuk
tubuh mereka dan berusaha untuk men,aga bentuk tubuh yang ideal. 6ebiasaan diet dan pola
makan pada banyak perempuan di )igeria ,uga sebagai salah satu faktor penyebabnya.
'ebagai hasil dari kebiasaan makan yang tidak baik, perempuan )igeria mengalami malnutrisi.
Pada akhirnya, berat badan yang rendah berhubungan dengan besarnya angka mortalitas,
indi#idu yang mengalami underweight tidak memiliki nutrisi yang cukup untuk penyembuhan
selama sakit. Perempuan dalam rentang usia ini kemudian sangat rentan terhadap penyakit
infeksi seperti malaria, pneumonia, diae dan !I$%&ID'.
"#er+eight men,adi pre#alensi yang paling besar pada ,enis kelamin baik laki*laki
maupun perempuan. Pre#alensi o#er+eight yang tinggi pada kedua ,enis kelamin sangat
signifikan. !al ini menun,ukkan berat badan yang bertambah yang signifikan pada a+al masa
de+asa dan dapat berkembang men,adi obesitas pada periode hidup selan,utnya saat usia tua
atau pola hidup yang tidak baik. Insiden obesitas dan overweight yang tinggi pada sub,ek
perempuan disebabkan oleh kecenderungan lebih banyak lemak yang terakumulasi pada
perempuan dibandingkan laki*laki. Pre#alensi obesitas pada de+asa muda sangat rendah. !al
ini dapat disebabkan oleh fakta bah+a sesorang dalam usia tesebut sangat aktif, sehat dan
fungsi biologis yang optimal. "besitas kelas I dan kelas II dialami ,uga oleh sub,ek laki*laki
dan perempuan dengan obesitas kelas I lebih banyak dibandingkan obesitas kelas II.